"Apa kau Baekhyun sunbae?"

"I-iya, kau siapa?"

"Perkenalkan, aku Do Kyungsoo. Teman sekelas Chanyeol dan calon pacarnya."

Seperti ada sebuah petir yang tiba-tiba menggelapkan setiap jengkal kesadaran Baekhyun siang itu. Seharusnya Baekhyun berbahagia dengan dering bel istirahat karena angannya menikmati makan siang bisa segera terlaksana. Tapi kenyataannya ketika selangkah ia keluar dari pintu kelas, seseorang dengan tubuh lebih kecil darinya menyodorkan tangan dengan senyum melebar.

Fokus Baekhyun mendadak lenyap dalam waktu beberapa detik, tapi dia bisa mengendalikan hal itu ketika lelaki di hadapannya mengayunkan tangan di depan matanya.

"Sunbae pasti belum mengenalku. Aku anak baru di sini dan suatu keberuntungan karena aku berada di kelas yang sama dengan Chanyeol. Saat pertama melihat aku langsung suka dengan Chanyeol, dia tipe idamanku. Tapi kata teman-teman, Chanyeol sedang dekat dengan seorang kakak kelas. Aku penasaran seperti apa seseorang yang sedang didekati Chanyeol, dan ternyata sunbae sangat luar biasa."

Rentetan kalimat itu hanya Baekhyun tanggapi dengan kedipan mata. Dia tidak memiliki reaksi yang cukup pantas ketika di dalam sana ada jeritan kesakitan yang tidak jelas asal-usulnya. Pikiran Baekhyun melanglang buana dalam buai kebingungan, dia menjadi tak mengerti mengapa dalam keadaan ini dia ingin segera enyah dan melupakan apa yang sudah dikatakan anak bernama Do Kyungsoo itu.

"Sunbae, sepertinya kita akan menjadi saingan. Aku juga ingin dekat dan jadi pacarnya Chanyeol."

"Y-ya?"

"Tapi sepertinya bersaing dengan sunbae sedikit sulit karena sunbae memiliki banyak kelebihan. Yang jelas aku tidak akan menyerah, aku juga akan mencoba mendekati Chanyeol. Fighting, sunbae!"

Apa itu tadi? Saingan? Bagian apa yang perlu dijadikan sebuah saingan?

Lebih jelasnya Baekhyun merasa tersinggung dalam tutur Do Kyungsoo yang membuat satu kompetisi tanpa kesepakatan. Mereka baru pertama bertatap muka tapi kesan yang terjadi sungguh buruk.

Dan memperebutkan Chanyeol? Kenapa semua itu membuat Baekhyun muak hingga ingin meneriakki Do Kyungsoo yang sudah bersikap tidak sopan padanya. Rasa laparnya mendadak hilang dan Baekhyun ingin sekali mencaci orang-orang yang nampak di matanya; entah kenapa.

"Baekhyun-ee," Sumber dari semua kemuakan ini sedang menampakkan diri, dengan senyum lebar dan telinga yang mengembang merah. "Menungguku, ya? Sudah lapar? Ayo kita makan bersama."

"Tidak perlu!"

"Kenapa?"

"Aku mau makan sendiri!"

"Baekhyun-ee kenapa? Apa aku membuat salah? Maaf kalau begitu.."

"Katakan pada anak itu jika aku tidak sedang ingin bersaing!"

"S-siapa?"

.

Buruk, semua begitu buruk. Baekhyun tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki suasana hatinya meski dia sudah memakan banyak stok coklat di kulkas. Sejak kejadian di sekolah tadi mendadak Baekhyun hanya bisa memikirkan semua hal tentang si adik kelas. Otaknya menerka apa sebenarnya yang membuat keadaan ini gusar, terlebih ada seseorang yang terang-terangan mengajak Baekhyun bersaing untuk memperebutkan Chanyeol.

Dalam hal ini Baekhyun juga memiliki sisi ketakutan, yang mana jika benar-benar ada sebuah persaingan dan Chanyeol mendadak berputar arah dari semua yang ia lakukan selama ini, Baekhyun seperti hilang sebelah sayap untuk bertahan dari kejamnya dunia single. Selama ini Chanyeol selalu datang dengan segala hal tak terduka. Menangkup rahang Baekhyun untuk memberi kehangatan, memeluknya tiba-tiba, menyeka setiap kebosanan, bahkan Chanyeol juga yang datang dan mengambil ciuman pertama Baekhyun tanpa pernah tau apa itu sopan santun pada kakak kelas.

Seharusnya Baekhyun marah, tapi dia menjadi tak berkutik kala kegigihan Chanyeol selalu mendikte pikirannya 'Tidak apa asalkan Chanyeol'. Baekhyun bahkan mulai terbiasa dalam setiap kehadiran Chanyeol yang cukup ajaib. Dia tak lagi peduli apa itu sopan-santun ketika Chanyeol memberikan banyak hal baru dalam lembar hidup Baekhyun yang sedikit membosanakan.

Dan Do Kyungsoo, mendadak merubah semua itu menjadi lembah ketakutan yang menghantui Baekhyun hingga di sepertiga malam.

.

Paginya Baekhyun harus rela berangkat ke sekolah dengan kepala pening. Dia hanya mendapat tidur selama 3 jam dan denyutan di kepala menandakan jika seharusnya Baekhyun memperpanjang waktu tidur. Sayangnya Baekhyun terjebak dalam tugas seorang siswa dan tidak ada opsi lain selain memaksa kaki untuk pergi ke sekolah.

"Chanyeol?!" dan sipit yang terbingkai kelopak sedikit hitam itu membola kala seseorang sedang bersandar di pintu pagar.

"Baekhyun-ee.."

"Ada apa?"

"Baekhyun-ee masih marah denganku, ya?" dua telunjuknya Chanyeol buat saling bersentuhan seperti yang selalu menjadi maskot sebuah film, "Apa aku membuat kesalahan? Kenapa tidak mau berbicara denganku?"

Satu hela napas sedikit besar Baekhyun berikan. Beruntung pagi ini dia memiliki suasana hati tidak seburuk kemarin, jadi dia bisa menanggapi semua tutur manja Chanyeol dengan kesabaran penuh. "Tidak. Aku tidak marah denganmu."

"Kau...sedikit dingin kemarin."

"Aku hanya lelah. Kau tahu, kan, ujian semakin dekat."

"Syukurlah kalau begitu."

Segera ketika pagar itu Baekhyun buka, Chanyeol menyeruak untuk memeluk sang kakak kelas dan mengusak lembut punggung yang lebih kecil. "Aku tidak bisa tidur jika diabaikan olehmu. Sepanjang malam aku berpikir, apa yang sudah ku perbuat hingga kau sebegitu marahnya denganku." Pelukan itu lalu Chanyeol jauhkan sedikit. Ia ingin melihat wajah Baekhyun yang selalu membuatnya memiliki detak jantuk berlebih. "Ya sudah, berangkat ke sekolah denganku, ya?"

"Eh, emm... bagaimana jika hari ini kita..emm.."

"Kita apa?"

"Em..m-membolos? Hari ini saja, aku sedang tidak ingin datang ke sekolah. Itu jika kau mau. Jika tidak mau aku tidak masalah, kita pergi ke sekolah."

"Baekhyun-ee pasti jenuh dengan pelajaran di sekolah, ya?"

Mengangguk.

"Baiklah, demi Baekhyun -ee aku siap menemani bolos kemana saja."

.

Bersama skuter pink yang Chanyeol kemudikan, Baekhyun bisa melihat keadaan kota ketika manusia sedang menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Mereka berhenti di salah satu kedai dumpling, menikmati 2 porsi dumpling sebagai menu makan pagi yang terlewat. Setelah itu mereka mampir ke kios internet untuk memainkan beberapa permainan yang belakangan sedang di gandrungi. Dari sana Chanyeol baru mengetahui satu hal jika Baekhyun bahkan lebih lihai dari seorang master. Jarinya bergerak cepat untuk merebut kemenangan pionnya, lalu dia akan berteriak penuh kebahagiaan kala berhasil merebut poin penuh dan beranjak ke level selanjutnya.

Baekhyun seperti tersihir oleh keadaan yang selama ini ia tentang. Dia melupakan banyak hal dan hanya berfokus dengan apa yang tergenggam di tangan ini sebagai kebebasan dalam sehari. Rasa terima kasih yang besar Baekhyun berikan pada Chanyeol yang seperti sangat mengerti kesenangan Baekhyun. Tentu saja anak itu tahu, selamaini dia menyelediki setiap hal yang Baekhyun sukai sebagai jalan pemulus proses pendekatan yang dia lakukan. Tapi Baekhyun sendiri tak masalah, dia merasa cukup terhibur meski terkadang Chanyeol sedikit berlebihan.

Seperti sekarang, setelah bosan bermain game, mereka pergi ke rumah sauna untuk melepas lelah dan Chanyeol memaksa Baekhyun untuk menyediakan kaki sebagai bantal.

"Aku seharian ini sudah memboncengmu kemana-mana, anggap saja ini bayaran dari semua itu."

"Jadi kau sekarang mulai perhitungan."

"Bukan perhitungan, tapi mencari untung dalam kelelahan." Chanyeol menang dengan kekehannya yang lebar. Tidak adanya larangan dari mulut Baekhyun menandakan Chanyeol bebas melakukannya. "Baekhyun-ee,"

"Hm?"

"Coba pejamkan matamu."

"Tidak mau. Nanti kau menggombal lagi."

"Tidak. Aku sedang tidak memiliki stok."

"Ada apa memangnya?"

"Pejamkan dulu matamu."

"Ini, sudah."

"Dua-duanya! Bukan yang sebelah."

"Kau ini merepotkan saja."

"Jangan dibuka jika belum ku suruh."

"Iya, iya."

"Sekarang buka mata."

Kiranya Baekhyun akan menemukan satu kekonyolan baru yang Chanyeol lakukan seperti hari-hari sebelumnya. Tapi yang bisa Baekhyun tangkap dari kinerja indera penglihatnya adalah sebuah kertas dengan pita putih melilit cantik. Kerutan di dahi Baekhyun wajar terjadi karena dia tidak begitu paham kertas berpita ini apa.

"Apa ini?"

"Undangan."

"Untukku?"

"Ya, minggu depan Yoora noona akan bertunangan. Dan kau mendapat undangan spesial dari keluargaku."

"Aku?"

"Iya, kau, Baekhyun-ee sayangku cintaku kekasih hatiku. Mau siapa lagi yang spesial jika bukan kau?"

"Wow. Terima kasih."

"Ada satu lagi."

"Undangan lagi?"

"Yup!"

Picingan mata Baekhyun hanya ia tujukan pada kertas lainnya yang berpita merah hati. Ukurannya sama seperti milik Yoora noona, tapi yang ini sedikit lebih kosong dan di bagian waktu pelaksanaan masih belum terisi.

"Chanyeol dan Baekhyun akan menikah karena mereka—Yak! Park Chanyeol!"

Chanyeol lebih dulu melarikan diri ketika Baekhyun sadar jika yang berpita merah hati bertuliskan namanya dengan nama Chanyeol. Lihat, kan, Chanyeol memulai lagi semua kekonyolan ini dengan ide-idenya yang ajaib. Dia membuat satu undangan bertuliskan namanya dengan nama Baekhyun tapi bagian waktu pelaksanaan masih belum tertulis apapun.

"Kita sudah memiliki undangan jadi kau sudah akan terikat denganku. Jangan coba-coba lari dariku, ya?"

"Bodoh!"

"Eits," Chanyeol mengulurkan tangan pada bibir Baekhyun dan menggelengka kecil kepalanya seolah dia sedang mencoba menasehati anaknya, "Baekhyun -ee tidak boleh berkata seperti itu pada suaminya."

"Seperti aku mau saja menikah denganmu."

"Kalau tidak mau aku tinggal menghamilimu terlebih dahulu, dengan begitu aku bisa bertanggungjawab dan menikahimu!"

"Aku mana bisa hamil, Chanyeol!"

"Dibuat saja bisa apa susahnya. Kita tinggal menyumpal perutmu dengan bantal dan kau sudah terlihat seperti orang hamil!"

"Aku tidak mau keturunanku sepertimu!"

"Eh jangan salah. Aku ini produk berkualitas, sekali tancap kau akan ketagihan seumur hidup."

"Dasar mesuuuummmmm!"

"Baekhyun! Jangan injak keperkasaanku! AAAHHHHH!"

.

TBC

Basyot : HEMMMM...