Disclaimer © Tite kubo
(Saya hanya pinjam karakter-karakter yang ada di dalamnya saja)
…
Dandelion
By
Ann
…
Warning : Au, Ooc, typo(s).
Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.
and
Selamat membaca!
…
Bab XI
Love Like Fairytail(?)
...
Bagiku cinta itu seperti dongeng... Tidak nyata tetapi ada.
...
Ketika bersiap-siap membuka kliniknya setelah makan siang, Rukia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ichigo tadi serta tatapan yang ia lihat di mata pria itu.
Pria itu serius dengan ucapannya, Rukia bisa merasakannya. Tetapi bijakkah jika ia menerima Ichigo? Lalu untuk berapa lama hubungan mereka bertahan?
Aku terlalu banyak berpikir, renungnya.
Santai dan nikmati.
Kata-kata Saya Izanami kembali terngiang dalam benaknya. Mungkin itu yang harus kulakukan.
Ia tidak sempat merenung lagi sebab pasien pertamanya sudah datang. Ternyata Hirota Oda yang kembali datang untuk pemeriksaan spirometri-nya.
"Aku sudah tidak batuk-batuk lagi," ujarnya kepada Rukia seraya tersenyum, "jadi mungkin kali ini kita akan berhasil. Omong-omong aku sudah mencatat skala embusan napas maksimumku."
Ia menyerahkan selembar kertas kepada Rukia yang lalu membacanya sekilas.
"Baiklah, aku ingin mengukur dengan spirometri sekarang." Rukia menyerahkan spirometri kepada Hirota dan kali ini pria itu berhasil meniup tanpa terbatuk-batuk.
"Itu sangat bagus, Oda-san." Rukia mencatat hasilnya lalu meminta Hiroto menghisap obat yang bisa melegakan jalan pernapasan. "Hasil yang kita dapatkan setelah Anda menggunakan obat ini akan membantu kami memutuskan apakah Anda menderita PPOK atau asma."
Tetapi sebenarnya bukan hasil itu yang Rukia tunggu-tunggu, yang ia tunggu adalah alasan untuk menemui Ichigo. Ia ingin berbicara dengan pria itu terlebih dahulu sebelum memutuskan jawaban apa yang akan ia berikan untuk pernyataan cinta Ichigo beberapa hari lalu.
...
Suara ketukan di pintu membuat Ichigo mengangkat matanya dari layar komputer dan menoleh ke pintu.
"Kau punya waktu Ichigo?" Ukitake melangkah masuk ke dalam ruangan setelah mendapat anggukan kepala dari Ichigo.
"Ada yang bisa kubantu, Ukitake-san?" Ichigo menggeser kursinya sehingga ia tak lagi berada di depan layar monitor melainkan berhadapan langsung dengan dokter berambut perak yang merupakan seniornya itu.
Ukitake menempati kursi di depan meja Ichigo, menyamankan diri di sana sebelum berkata, "Sebenarnya aku memang butuh bantuanmu."
"Katakan saja, Ukitake-san. Kalau aku sanggup pasti akan kubantu," ujar Ichigo. Kini ia mengalihkan seluruh perhatian kepada dokter senior itu.
Ukitake meletakkan sebuah brosur di meja Ichigo.
"Konferensi di Healthy Hospital." Ichigo membaca brosur itu.
"Kurasa kau tahu tentang konferensi itu sebab sebelum ini kau bekerja di sana."
Tentu saja ia tahu. Bahkan dahulu sebelum ia mengundurkan diri, ia adalah bagian panitia pelaksana. "Ya. Kudengar tahun ini mereka akan mengadakan konferensi yang lebih besar, dengan mengundang beberapa rumah sakit dan klinik dari luar kota, biasanya mereka hanya menyebar undangan di dalam kota. Apakah kita mendapat undangan untuk menghadiri konferensi itu?"
Ukitake mengangguk. "Dan kurasa kau kandidat yang cocok untuk mewakili klinik."
Ichigo menggeleng. "Aku tidak yakin, Ukitake-san," ujarnya, "aku baru bergabung di klinik ini beberapa bulan. Kurasa akan lebih baik kalau kau atau Gin yang pergi." Ia meletakkan kembali brosur ke atas meja.
"Gin jelas tidak bisa pergi karena waktu konferensi yang sangat berdekatan dengan tanggal upacara pernikahannya, sedang aku ... yah, aku merasa terlalu tua untuk ikut," Ukitake memaparkan alasannya.
"Omong kosong." Ichigo melambaikan tangan. "Kau tidak setua itu, Ukitake-san."
"Tapi jelas sudah berumur."
"Itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan," sahut Ichigo.
Ukitake tertawa. "Baiklah," ujarnya, "aku akan mengatakan alasan sebenarnya." Dokter senior itu menyandarkan tubuhnya di kursi. "Jujur saja, aku tidak mau pergi, dan Isshin juga tidak. Kandidatnya tinggal kau dan Gin. Dan karena Gin berhalangan—"
"Maka aku yang harus pergi," potong Ichigo cepat.
Ukitake mengangguk. "Lagipula akan baik jika kau pergi ke sana, kau lebih muda jadi otakmu akan menyerap informasi lebih baik dan kami yang sudah berumur ini, dan kau juga bisa sekaligus menemui beberapa temanmu di sana."
Ichigo menelengkan kepala, keningnya berkerut memikirkan keharusannya pergi selama akhir pekan untuk menghadiri konferensi, sedang ia sudah membuat rencana untuk mengajak Rukia dan Nao jalan-jalan akhir minggu ini. Tiba-tiba sebuah ide menyusup ke dalam kepalanya. Sebuah ide cemerlang yang melibatkan Rukia Kuchiki.
"Siapa yang akan menemaniku pergi?"
Senyum senang terukir di wajah Ukitake. "Kau bisa memilih seorang perawat untuk menemanimu, tetapi yang kaupilih harus yang benar-benar kompeten."
Ichigo menyeringai. "Yah, kurasa aku punya calon kuat."
Tepat setelah Ichigo menyelesaikan kalimatnya terdengar suara ketukan. Kedua pria di ruangan itu menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka dan menampilkan sosok mungil Rukia.
"Maaf, kupikir..."
"Tidak apa-apa, Rukia. Kau tidak menyela apa pun, malah kau datang di saat yang tepat."
Sebelah alis Rukia terangkat mendengar kata-kata Ichigo. Sebelum ia sempat bertanya Ichigo sudah berdiri, melangkah ke sisinya, dan menariknya masuk ke dalam ruang praktek pria itu.
"Ini dia calon kuat yang kubicarakan tadi," ujar Ichigo pada Ukitake.
"Kurasa—" Kalimat Ukitake terpotong oleh pertanyaan Rukia.
"Calon kuat untuk apa? Jangan bilang kau mau menjebakku lagi, Ichigo." Mata violet Rukia menyorot tajam pada Ichigo, dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. "Yang tadi siang sudah lebih dari cukup. Jangan pikir kau bisa mengulanginya lagi," omelnya.
Ichigo mengangkat tangannya tanda menyerah. "Oke, aku minta maaf, yang tadi itu memang salahku tapi aku juga terjebak. Kita sama-sama korban Rangiku. Lagipula tadi kau lumayan menikmati pergi ke butik, jadi kau tidak punya alasan untuk marah padaku."
"Siapa bilang aku—" Rukia menggantung kalimatnya saat menyadari jika Ukitake tengah memandangi mereka sambil tersenyum geli.
"Ukitake-san..." Kepala Rukia tertunduk, dalam hati ia merutuki Ichigo. "Maaf..."
"Aku hampir tidak pernah melihatmu marah apalagi sampai mengomel Rukia," ujar Ukitake setengah tak percaya.
"A—aku..." Wajah Rukia memerah karena malu.
"Itu hal yang bagus, Rukia." Ukitake menepuk bahunya pelan. "Sesekali kita memang perlu meluapkan emosi."
"Tetapi untukku dia memang selalu meluapkan emosi, Ukitake-san," sahut Ichigo.
Tatapan Ukitake beralih ke Ichigo. "Benarkah?"
Ichigo mengangguk. Lalu matanya mengarah ke Rukia. "Dia seringkali marah padaku," ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata.
Kelakuan Ichigo membuat Rukia ingin memukul kepala pria itu keras-keras. Bagaimana bisa pria itu menggodanya di depan dokter senior?
"Wah, aku tidak tahu kalian sudah sedekat itu," ujar Ukitake sembari menatap Ichigo dengan sorot menuduh.
Ichigo tak mengacuhkan pandangan penuh curiga Ukitake, dengan santai ia mengendikkan bahu dan kembali duduk di belakang meja kerjanya. "Duduklah, Rukia. Ada sesuatu yang perlu kami bicarakan denganmu," ujarnya. Dengan cepat pembicaraan kembali ke masalah pekerjaan dan konferensi Healthy Hospital.
Rukia tampak gelisah saat Ichigo mengutarakan tentang rencananya memilih Rukia sebagai pathnernya ke konferensi. Dan saat mengemukakan pendapatnya wanita itu terdengar sangat hati-hati. "Kurasa ... aku bukan orang yang tepat."
"Kami tidak meragukan kemampuanmu, Rukia," ujar Ichigo.
Ukitake mengangguk. "Tentu saja. Menurutku kau orang yang tepat," ujarnya pada Rukia. "Akan sangat membantu jika kau mau pergi." Dokter senior itu menatap Rukia penuh pengharapan.
Rukia menggigit bibir, kegelisahannya semakin nyata sebab ia merasa tidak nyaman harus menolak permintaan yang datang dari atasannya. "Tidak ada yang menjaga Nao," ujarnya.
"Tak masalah. Aku dan Kiyone akan menjaganya selama kau pergi," ujar Ukitake.
Rukia langsung menggeleng, berusaha mencari alasan. "Aku tidak mau merepotkan."
Ukitake tersenyum. "Aku senang menghabiskan waktu dengan Nao, dia anak yang manis."
Rukia berusaha mencari dalih lain agar bisa menghindar. "Kurasa ada orang lain yang lebih tepat untuk pergi."
"Menurutku kaulah yang paling tepat." Ukitake belum mau menyerah.
"Tapi—"
"Sebaiknya kita biarkan Rukia memikirkannya dulu, Ukitake-san," sela Ichigo. "Dan dia perlu bicara dengan Nao juga tentang hal ini. Omong-omong apa yang membawamu datang menemuiku, Rukia?"
Menyadari Ichigo telah mengalihkan pembicaraan demi dirinya, Rukia memandang pria itu dengan sorot penuh rasa terima kasih dan segera menjawab pertanyaan pria itu mengenai tujuan kedatangannya.
Tak berapa lama Ukitake berpamitan, sebelum pergi tak lupa ia mengingatkan Rukia untuk memikirkan permintaannya. Rukia mengangguk dan berjanji akan memberi jawaban secepatnya.
"Terima kasih," ucap Rukia setelah pintu ruang praktek Ichigo tertutup.
"Untuk?"
"Menyelamatkanku tadi, Ukitake-san bersikeras agar aku yang pergi."
Ichigo beralih ke layar komputernya, menutup browser dan semua aplikasi yang ia buka, lalu mengarahkan kursor ke sudut kiri bawah untuk mematikan komputer. "Sebenarnya aku yang menyarankanmu pada Ukitake-san."
Kening Rukia berkerut mendengar perkataan Ichigo. "Kenapa?"
"Apanya?" Ichigo balik bertanya.
"Kenapa memilihku masih banyak perawat yang lebih senior dan kompeten daripada aku?"
Ichigo mengedikkan bahu. "Ketika disuruh memilih perawat untuk menemaniku ke konferensi, aku langsung terpikir kau."
"Bagaimana bisa kau memilihku hanya karena alasan remeh begitu?!" Rukia tercengang.
Ichigo bertumpu di meja dengan kedua tangan, mata madunya menatap lurus ke Rukia, perlahan bibirnya melengkung membentuk senyum menggoda. "Mungkin karena kau selalu berada di pikiranku."
Wajah Rukia seketika diselimuti semu merah. "Berhenti menggodaku, dokter Kurosaki!" serunya sembari membuang muka.
Ichigo terkekeh. "Sebenarnya kau senang kan kugoda," ujarnya dengan nada merayu.
"Hentikan, atau—"
"Atau apa?" Ichigo menantang.
Bug!
Tinju Rukia mendarat tepat di tengah kepala oranye Ichigo.
"Addaaawww!" Ichigo menjerit kesakitan. "Tanganmu kecil tapi kuat sekali." Ia meringis.
Rukia melipat tangan di depan dada sambil membuang muka. "Salah sendiri menggodaku," sahutnya.
"Maaf, lain kali akan kulakukan lagi," sahut Ichigo sambil mengusap kepalanya yang sakit. Seketika mata Violet Rukia memincing ke arahnya. Tetapi ia hanya mengalihkan pandangannya dan berpura-pura merapikan berkas-berkas di mejanya.
"Apa alasanmu menolak pergi denganku hanya karena Nao?" Ia bertanya
Pandangan Rukia langsung tertuju ke arah Ichigo dan jantungnya berdetak cepat. "Memangnya ada alasan lain?"
"Mungkin kau tidak ingin pergi berdua denganku," ujar Ichigo mencoba menerka.
Perkataan Ichigo membuat Rukia gelagapan. "Ah, itu ... a-aku..."
Ichigo meraih tangannya, menghentikan ucapan tak jelas dari mulutnya. Rukia hanya diam sembari memandangi tangan mereka yang tertaut. "Apa yang membuatmu keberatan pergi berdua saja denganku? Apa kau takut jatuh cinta padaku?" Kalimat terakhir diucapkan Ichigo dengan setengah bercanda.
"Aku..." Rukia menggigit bibir, meragu sesaat sebelum akhirnya mengangkat matanya dan bertatapan dengan mata madu Ichigo. "Menurutmu cinta itu apa?"
Kening Ichigo berkerut mendengar pertanyaan Rukia yang tiba-tiba. Lalu ia menyadari bahwa jawaban yang nanti ia berikan akan memengaruhi hubungan mereka di masa depan. Ia pun berdeham, dan memberikan jawaban jujur pada Rukia. "Aku memang bukan ahlinya, meski aku bisa dibilang pernah punya banyak kekasih tetapi aku sama sekali tidak mengerti definisi cinta. Yah, cinta memang bukan sesuatu yang mudah didefinisikan, bukan?" Jeda sesaat sebelum ia melanjutkan. "Sebenarnya bagiku cinta itu seperti dongeng..."
Rukia tersenyum kecut. "Tidak nyata, huh?"
Ichigo menggeleng pelan, genggaman tangannya di tangan Rukia mengerat. "Tidak nyata tetapi ada. Cinta itu tidak dapat dilihat dengan pandangan sekilas, tetapi jika kau mengamati dengan jeli kau akan bisa melihatnya. Orangtuaku memiliki cinta itu, kau cuma perlu mengamati mereka dengan saksama untuk bisa melihat bahwa mereka berbagi sesuatu yang istimewa."
"Apa itu yang kaurasakan padaku? Sesuatu yang istimewa?"
Bibir Ichigo membentuk senyum lembut. "Ya. Sekilas ini mungkin terdengar seperti kebohongan. Seorang playboy sepertiku jatuh cinta, itu hampir tidak mungkin. Tetapi jika kau memandangku, mendengarkanku dengan hatimu, maka kau akan tahu, ini bukanlah sebuah kebohongan. Aku mencintaimu..."
Rukia kehilangan kata-kata, untuk sesaat ia terhipnotis oleh tatapan Ichigo padanya. Bagaimana ia bisa meragukannya lagi? Bagaimana ia bisa menghindar untuk memberi jawaban jika jawabannya sudah jelas berada di depan matanya. Ia hanya tinggal mengucapkannya, mendeklarasikannya kepada Ichigo.
"Aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi, tetapi nyatanya inilah yang terjadi." Ia tersenyum pada Ichigo. "Kau membuatku jatuh cinta."
Tiga detik pertama dihabiskan Ichigo dengan melongo, detik keempat ia berdiri, dan detik berikutnya hingga bermenit-menit kemudian ia habiskan dengan mendekap erat Rukia dalam pelukannya.
Rukia menyandarkan pipinya di dada Ichigo, menikmati rasa lega dan kebahagian yang mulai tumbuh dalam dirinya. "Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan?" Ia bertanya tanpa melepaskan diri dari lengan kuat Ichigo yang melingkari tubuhnya.
Pandangan Ichigo tertuju pada jam berbentuk lingkaran yang menggantung tinggi di dinding ruangannya. "Hm... Menurutku...," ujarnya lambat-lambat. "Kau harus segera kembali ke ruanganmu."
Rukia memandang bingung pada Ichigo. "Ambil mantel dan syalmu, kita harus pergi menjemput Nao," pria itu berbisik di telinganya. Ia segera menoleh ke jam dinding, dan segera melepaskan diri dari Ichigo saat menyadari jika sudah hampir jam tiga. "Oh, tidak! Aku harus..."
"Pergilah, kutunggu di pintu depan," ujar Ichigo sembari melepas jas dokter dan menggantinya dengan mantel tebal.
Rukia berhenti tepat sebelum ia membuka pintu dan berbalik ke arah Ichigo. "Memangnya kau tidak ada pasien lagi?"
"Tidak. Tapi aku dapat giliran jaga nanti malam," jawab Ichigo. "Cepatlah pergi, kalau tidak kita bisa benar-benar terlambat. Kau tidak mau itu terjadi kan?"
Rukia segera membuka pintu dan meninggalkan ruangan Ichigo.
...
Mereka sampai di sekolah pukul tiga lewat lima menit. Nao yang memang sudah menunggu langsung berlari ke arah mereka dan memeluk erat Ichigo.
"Lihat, sekarang aku jadi pilihan kedua." Rukia terdengar kesal, tetapi senyum lembut di wajahnya melunturkan kesan itu. Yah, bagaimana mungkin ia tidak bahagia saat melihat kedua lelaki terkasih dalam hidupnya begitu dekat.
Semoga ini bukan mimpi, Rukia bergumam dalam hati, dan kalaupun ini mimpi, semoga aku tidak terbangun selamanya.
"Jangan mulai iri padaku ya," ujar Ichigo sambil menggiring Nao masuk ke mobil.
"Tidak akan." Rukia mengekor di belakang mereka dan mengambil tempat di kursi belakang, karena sepertinya Nao sudah mengklaim kursi depan di samping Ichigo adalah miliknya.
"Kita mau ke mana, Ichigo-ji?" Nao bertanya dengan manis setelah duduk dan memasang sabuk pengamannya.
"Kita akan langsung pulang, Nao." Rukia segera menjawab. "Ichigo-ji masih harus pergi bekerja nanti malam."
"Oh, begitu." Nao tampak kecewa untuk beberapa saat. "Tapi Ichigo-ji akan makan bersama kita kan malam ini?" Ia menatap penuh harap pada Ichigo.
"Tentu. Kau mau makan apa?"
Nao bertopang dagu, tampak berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia menoleh pada ibunya. "Kaa-san mau makan apa?"
Rukia menelengkan kepala, berpikir sejenak. "Kaa-san pikir makan masakan rumah akan menyenangkan."
Ichigo mengangguk-angguk. "Ide yang bagus."
"Tapi kita harus pergi belanja dulu karena isi kulkasku kosong," ujar Rukia memberitahu.
"Tidak perlu belanja, bahkan kau tidak perlu memasak," sahut Ichigo sembari membelokkan mobil keluar dari area sekolah.
Rukia menatap bingung lewat spion atas. "Kupikir kita mau makan masakan rumah."
"Memang." Ichigo hanya menjawab singkat, sengaja membuat Rukia merasa penasaran.
...
Rukia baru mengetahui tujuan mereka saat Ichigo mengemudikan mobil memasuki area perumahan elit di bagian barat Karakura. Mereka berhenti di depan sebuah rumah lantai dua bercat putih. Di depan pintu Masaki Kurosaki menunggu mereka dengan senyum ramah. Awalnya wanita paruh baya itu agak terkejut melihat Rukia dan Nao, tetapi ia segera menyembunyikan keterkejutannya, dan menyambut mereka dengan bersahabat.
"Nah, aku tidak tahu apa yang membuatku begitu beruntung mendapat kunjungan dari malaikat kecil ini," ujar Masaki pada Nao dengan wajah berseri-seri.
"Selamat sore, Nyonya Kurosaki." Nao menyapa dengan sopan.
"Kemari Sayang, aku punya puding yang enak untukmu. Kau suka puding kan?" Masaki membimbing Nao masuk ke dalam rumah.
"Sangat suka. Apalagi yang rasa mangga."
"Benarkah? Syukurlah tadi aku membuat puding mangga."
Pasangan berbeda usia itu menghilang ke dalam rumah, meninggalkan Ichigo dan Rukia yang masih di beranda.
"Nah, sekarang aku yang jadi pilihan kedua." Ichigo mencoba berkelakar, tetapi hal itu sama sekali tidak melunturkan raut tak setuju dari wajah Rukia.
"Kenapa kita ke rumah orangtuamu?"
"Untuk makan masakan rumah yang enak dan gratis," sahut Ichigo enteng sembari Ichigo sambil membuka pintu dan mempersilakan Rukia masuk. Karena wanita itu tak kunjung beranjak, ia terpaksa meraih tangannya dan menariknya masuk. Setelah mereka di dalam, ia mengeluarkan dua pasang sandal rumah dari lemari sepatu. Ia memasang satu, dan meletakkan sepasang lagi di depan Rukia yang masih belum melepas sepatunya.
"Sebaiknya aku pulang." Rukia memutar badan, dan meraih kenop pintu tepat saat pintu dibuka dari luar.
"Rukia-nee!"
Ternyata yang membuka pintu adalah Yuzu, gadis dua puluh dua tahun itu langsung berseru girang dan memeluk Rukia. "Rukia-nee datang dengan siapa? Dengan Ichi-nii kah? Tadi kulihat mobil Ichi-nii ada di halaman."
"Orangnya bahkan ada di sini," sahut Ichigo yang sedikit sebal karena tidak diperhatikan.
"Ah, Ichi-nii juga ada. Selamat datang, Ichi-nii." Yuzu menoleh sekilas pada Ichigo sebelum perhatiannya kembali tercurah pada Rukia, padahal biasanya ia menyambut kedatangan kakak sulungnya dengan lebih heboh tetapi hari ini ia menganggap kakaknya seperti angin lalu.
"Apa Rukia-nee membawa Nao? Aku kangen dengan jagoan kecil itu."
Belum sempat Rukia menjawab Yuzu sudah menariknya ke dalam rumah. Ia mencoba memprotes tetapi gadis muda itu lebih memaksanya, bahkan sampai membantunya melepas mantel dan syal.
"Rukia-nee makan malam dengan kami ya, aku dan kaa-san berencana memasak ayam bakar madu, Rukia-nee harus mencicipinya."
"Hei, hei, kau tidak menawariku?" ujar Ichigo yang ditinggalkan di pintu depan.
"Kalau Ichi-nii mau ikuti saja mereka ke dapur."
Ichigo menoleh ke arah suara, dan mendapati Karin, adiknya yang seorang lagi berdiri di ambang pintu.
"Tadaima*." Karin mengucap salam sambil melangkah ke dalam rumah.
"Okaeri**." Ichigo menjawab salam Karin sembari mengikuti langkah adiknya menuju dapur.
Di dapur Nao duduk di meja makan diapit Yuzu dan Masaki, kedua wanita dewasa itu menyediakan berbagai camilan untuk Nao, hingga Ichigo pikir anak itu akan kekenyangan sebelum menyantap makan malam. Sementara Rukia mengawasi mereka sambil menyeruput teh hangat beraroma vanila. Ichigo menarik kursi di sebelah Rukia dan duduk.
"Ichi-nii mau teh atau kopi?" Karin menawari.
"Aku mau coklat hangat seperti punya Nao," sahut Ichigo.
Karin memutar bola matanya tetapi tetap membuatkan minuman yang diinginkan kakaknya.
"Ichigo, kau tidak boleh iri pada anak kecil," ujar Masaki sambil meletakkan satu biskuit mentega di piring Nao.
"Aku sama sekali tidak iri," sahut Ichigo. Dan saat Masaki hendak menambahkan satu lagi biskuit di piring Nao, ia menarik toples berisi biskuit mentega dari ibunya. "Kaa-san kau bisa membuat Nao gemuk."
Masaki melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa yang dikatakan Ichigo hanyalah omong-kosong. "Dua-tiga kue mentega tidak akan membuatnya gemuk. Benarkan Nao?" Nao mengangguk senang, karena anak itu memang sangat menyukai makanan manis. Masaki berdiri, dan beranjak ke lemari, mengeluarkan toples berisi permen buah, dan membawanya kembali ke meja. Ia mengeluarkan kue berbagai rasa itu ke mangkuk kecil dan memberikannya ke Nao.
"Kaa-san, kau bisa membuat gigi Nao rontok," protes Ichigo lagi.
Masaki memelototi putra sulungnya. "Kau ini cerewet sekali," ujarnya dengan nada sebal.
Ichigo berdecak kesal lalu berbalik ke Rukia. "Bantu aku," pintanya.
Rukia hanya mengedikkan bahu sembari mengambil biskuit dari toples yang dipegang Ichigo.
"Sudah biarkan saja, Ichi-nii, kan kaa-san jarang bertemu dengan Nao." Karin menghampiri meja dan meletakkan gelas mengepul berisi coklat hangat di depan Ichigo. "Lagipula kenapa Ichi-nii cerewet sih, bahkan Rukia-nee yang ibunya Nao tidak protes sama sekali," ia menambahkan.
"Aku hanya—"
"Ichi-nii hanya iri, Karin-chan. Kan biasanya dia yang jadi pusat perhatian," ujar Yuzu.
"Aku tidak iri." Ichigo mendengus sebal. "Aku hanya tidak mau kalian membuat anakku gemuk dan ompong," ia menambahkan.
Ketiga wanita Kurosaki langsung menoleh ke arah Ichigo, begitupula Rukia dan Nao. Ketiganya memandang heran pada sulung Kurosaki itu.
"Anakmu?" Sebelah alis berukir Masaki terangkat.
"M-Maksudku—"
"Wah, ada tamu rupanya." Suara Isshin yang menggelegar memotong ucapan Ichigo.
Nao segera turun dari kursi dan menyapa Isshin. "Selamat sore, dr. Kurosaki."
"Selamat sore, Nao-kun." Isshin mengacak pelan rambut Nao. Ia langsung bisa merasakan atmosfer canggung di ruangan itu. Ia memandangi anggota keluarganya satu per satu. "Apa aku menyela sesuatu?" tanyanya bingung, tetapi tak satu pun menjawab. Lalu ia pun beralih pada Rukia dan menyapanya. "Halo, Rukia-chan. Bisakah kau membantu menjawab pertanyaanku?"
"Halo, Kurosaki-san." Rukia membalas sapaan itu dan membungkuk hormat. "Tidak ada apa-apa, kami hanya sedang mengobrol tadi," jawabnya.
"Ya, tadi kami hanya mengobrol." Masaki menambahkan. Karin dan Yuzu mengangguk mengiyakan.
Isshin menerima jawaban mereka, lalu berkata, "Jangan terlalu formal begitu, Rukia-chan, santai saja. Dan kau, Anak muda." Ia beralih ke Ichigo. "Kenapa tidak mengangkat teleponku?"
"Eh? Tou-san meneleponku ya?" Ichigo langsung mencari-cari ponsel di saku celananya. "Sepertinya aku meninggalkan ponselku di mobil." Ia berkata setelah tak menemukan ponsel di pakaian yang dikenakannya sekarang. "Ada apa Tou-san mencariku?"
"Aku hanya ingin membicarakan mengenai konferensi di Healthy Hospital," Isshin menjawab sembari duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong, tepat di sebelah Rukia.
Ichigo sempat melirik Rukia sebelum menyahut. "Ukitake-san sudah memberitahuku tentang hal itu."
"Ya, dia memberitahuku kalau kau sudah bersedia untuk pergi, masalahnya tinggal siapa yang menjadi pathnermu." Isshin menoleh ke arah Rukia. "Kuharap kau memberi kabar baik, Rukia-chan."
Rukia langsung menggeleng pelan. "Pasti ada perawat lain yang bisa menggantikanku."
Isshin mendesah. "Aku sudah membicarakannya dengan Rangiku dan bagian keperawatan, dan kami berkesimpulan kaulah yang paling sesuai."
"Tapi—"
"Kalau kau khawatir soal Nao, kurasa kami sekeluarga siap menjaganya untukmu selama akhir pekan," ujar Isshin. "Kau lihat sendiri kan bagaimana istriku mencurahkan seluruh perhatiannya kepada putramu sampai-sampai dia lupa membuatkan minuman untuk suaminya ini."
"Astaga!" Masaki menutup mulutnya dengan tangan. "Maafkan aku..." Ia segera berdiri dan membuatkan segelas ocha*** untuk suaminya.
"Entahlah..." Rukia menggeleng ragu. "Menurutku Nao belum bisa ditinggalkan."
"Hanya dua hari satu malam, Rukia." Ichigo mencoba meyakinkan. "Kalau ada apa-apa pada Nao kita bisa langsung pulang. Kita hanya berjarak dua jam perjalanan dari sini."
Rukia masih tampak belum yakin dengan ide itu.
"Nao-kun, maukah kau tinggal di sini selama akhir pekan?" tanya Isshin pada bocah cilik itu. Mata Nao langsung beralih pada lelaki paruh baya itu.
"Aku dan Yuzu akan membawamu ke Sea Park di hari Sabtu, kita bisa melihat ikan hiu dan pari raksasa," ujar Karin untuk membujuk Nao.
"Ikan hiu?" Nao terlihat senang dengan ide itu.
"Ya, ikan hiu bergigi tajam," jawab Karin sambil menunjukkan gambar ikan hiu di layar ponselnya pada Nao.
"Ada juga penyu dan ikan badut," Yuzu menambahkan.
Wajah Nao berubah cerah. "Wah~"
Masaki melangkah mendekati meja makan, meletakkan gelas berisi ocha bersama sepiring kue mochi di depan suaminya, lalu kembali ke tempatnya semula. "Bagaimana Nao-kun, mau tinggal bersama kami selama akhir pekan?" tanyanya sambil membawakan sepiring kue mochi berbentuk kelinci untuk Nao. "Akan kubuatkan kue untukmu."
"Kuharap Kaa-san tidak terus-terusan mencekoki Nao dengan makanan manis," ujar Ichigo. "Dia bisa kena diabetes."
Nao memandang ngeri pada Ichigo, sepertinya bocah cilik itu mengerti bahwa diabetes adalah penyakit yang berbahaya.
Masaki langsung memberi Ichigo tatapan menegur, sekaligus isyarat agar Ichigo memperbaiki kesalahannya.
"Itu hanya akan terjadi kalau kau makan makanan manis setiap hari, dan tidak makan makanan lainnya," ujar Ichigo.
Nao mengangguk tanda mengerti. "Aku juga suka makan ikan dan sayur, jadi tidak apa-apa kan Ichigo-ji?"
"Pastinya."
Nao tersenyum hingga gigi-giginya yang putih dah rapi terlihat. Lalu dengan gerakan cepat ia turun dari kursi dan berlari ke samping ibunya. "Kaa-san, bolehkan aku menginap di sini akhir minggu ini?" pintanya dengan wajah memelas.
Melihat wajah putranya Rukia merasa tidak tega untuk berkata tidak. Jadi ia hanya bisa mengangguk dan memberi izin pada Nao. "Asal kau berjanji jadi anak baik dan penurut."
"Aku berjanji, Kaa-san," jawab Nao nyaring dan langsung memeluk ibunya untuk mengekspresikan kebahagiaannya. "Terima kasih, Kaa-san."
Rukia mengarahkan pandangannya ke anggota keluarga Kurosaki satu persatu, dan saat matanya berhenti pada Ichigo, mau tak mau dirinya mulai membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka selama dua hari satu malam di akhir minggu ini.
...
Bersambung...
...
Catatan kaki:
*Aku pulang.
**Selamat datang.
***teh khas Jepang.
...
Review's review:
Damai
Halo Damai, makasih ya untuk dukungannya. Saya nggak tahu mesti berkata apa, yang jelas saya sangat bersyukur dapat dukungan sebesar ini. Meski kadang terpikir mau ninggalin ffn karena dramanya, tetapi orang-orang seperti kamu yang menyeret saya untuk kembali melanjutkan apa yang saya mulai di sini.
Kalau kamu punya akun facebook tolong add saya (Ann Soe Marni), biar kita bisa ngobrol. :3
Kurosaki2241
Hola~ makasih ya udah RnR. Nao ada kok di chap 11.
Huum, apalagi di chap ini jelas banget tuh. Hehehe...
Harus dums, kalo Ichigo nyerah ntar mereka nggak bakal sama-sama. :3
Okeh, udah dilanjutin nih.
Makasih semangatnya.
D
Makasih dah RnR.
Udah saya lanjutin nih.
...
Chap 11 up! Adakah yang menantikan kelanjutan fanfik ini? Yah, tentu saja ada. Karena saya beberapa kali dapat permintan dari teman-teman untuk segera mengupdate fanfik ini. *plak!kepedean* Makasih ya buat kalian yang nggak bosan-bosannya ngingetin saya untuk mengupdate fanfik ini. Hehehe...
Chapter ini bisa dibilang aman dan happy ya, jadi yang baca nyantai aja. Well, chapter depan saya rasa nggak bakal bisa sesantai ini, soalnya ada sedikit konflik yang "menyengat", tapi bakal ada yang manis-manisnya. O ya, saya berubah pikiran soal Renji. Sepertinya Abang satu itu memang harus muncul, supaya Rukia bisa benar-benar move on dari masa lalunya. Hehe...
Akhir kata, terima kasih ya, untuk kalian yang sudah menyempatkan diri membaca fanfik ini, mereview, mengklik fav dan follow.
See ya,
Ann *-*
...
