Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

The Guardian of Sacred Book

By Hikari Syarahmia

Senin, 24 Agustus 2015

Terinspirasi dari lagu Menjadi Pangeranmu by Dadali

.

.

.

THE GUARDIAN OF SACRED BOOK

Chapter 11: Di antara nekomata bersaudara

.

.

.

"APA? PARA OBAKE MENYERANGMU SAAT PELAJARAN BERLANGSUNG?" seru Kushina kaget setengah mati setelah mendengar cerita dari Naruto.

Naruto mengangguk cepat sambil memakan habis mie ramennya.

"Iya, itu benar Kaasan. Untung saja ada teman-teman yang juga ahli dalam supranatural lalu membantuku membasmi para hantu jahat itu," Naruto berwajah serius sambil berhadapan dengan Ibunya."Tapi, semua hantu itu berhasil aku musnahkan dengan kekuatan elemen api."

Minato mengacungkan jempol buat Naruto.

"Kamu hebat, nak," puji Minato tersenyum lebar.

"Terima kasih, Tousan," Naruto menyengir lebar sambil mengacungkan jempolnya.

Kushina terdiam setelah mendengar cerita dari Naruto tadi. Sepertinya dia sedang berpikir keras.

Lalu dua kucing jadi-jadian itu, Koneko dan Kuroka sedang makan malam dengan tenang tak jauh dari mereka berada. Koneko memasang telinganya dengan tajam untuk mendengarkan percakapan Naruto dan kedua orang tuanya itu.

"Sepertinya keadaan semakin gawat sekarang. Kaasan tidak menduga para obake malah menyerang pada waktu siang hari dan melibatkan semua orang dalam urusan ini. Ini tidak bisa dibiarkan," Kushina menggeram kesal.

"Lalu kita harus bagaimana, Kaasan?" tanya Naruto.

Kushina menatap Naruto dengan kusut.

"Kita harus menemui Nenekmu besok. Mungkin dia mempunyai solusi untuk mengatasi semua masalah ini. Tapi, kamu harus tetap waspada, Naruto-chan. Kemungkinan mereka akan menyerangmu lagi. Kaasan juga akan segera membuat energi pelindung gaib untuk melindungi Uzuka Gakuen agar tidak diterobos oleh para hantu jahat itu lagi."

"Ya, aku mengerti, Kaasan."

Naruto mengangguk sambil menyengir lebar. Kushina juga sedikit tersenyum. Minato memperhatikan istri dan anaknya itu secara bergantian.

"Naruto-chan, kamu sudah selesai makan apa belum?" tanya Minato sambil menyesap teh hijaunya sampai tandas.

Naruto menoleh ke arah Minato. Ia sedang meneguk segelas air.

"Aku sudah selesai makan, Tousan," Naruto meletakkan gelas di atas meja.

"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang."

"Iya."

Minato meletakkan secangkir teh tadi di atas meja. Lalu ia bangkit berdiri dari duduknya. Naruto juga bangkit berdiri dari duduknya.

"Kaasan, aku pergi dulu sama Tousan ya," Naruto menoleh ke arah Kushina yang mengambil beberapa piring kotor di atas meja."Sampai nanti, Kaasan."

Kushina tersenyum lebar.

"Ya, selamat bertugas, Naruto-chan."

Naruto mengangguk cepat sambil mengambil kucing putih yang merupakan jelmaan Koneko. Lantas Koneko digendong oleh Naruto dengan erat.

Sementara Kuroka si kucing hitam mendengus kesal karena Naruto selalu membawa Koneko kemanapun itu. Ia iri. Ia cemburu.

'Cih, Naruto selalu membawa Koneko bukannya aku. Aku benar-benar sangat kesal sekarang. Aku tidak tahan lagi kalau harus seperti itu terus keadaannya,' batin Kuroka menyipitkan matanya dengan tajam.'Aku harus cepat melakukan sesuatu agar Naruto menjadi milikku.'

Saat itu juga, Kuroka menggeram kesal. Terlihat dari bulu-bulu tubuh kucingnya yang berdiri dengan sorot mata kuning yang tajam. Seperti kucing yang mengamuk.

Kushina pun menyadari keanehan pada diri kucing hitam itu. Kushina hanya memperhatikannya dengan heran.

"Ada apa dengan Shadow ya?" gumam Kushina pelan.

Shadow adalah nama panggilan ketika Kuroka berwujud kucing hitam. Nama yang diberikan oleh Kushina padanya.

.

.

.

Dalam perjalanan menuju Uzuka Gakuen, anak dan Ayah sedang berjalan santai menyusuri trotoar yang sepi. Di mana terdapat jalan raya yang lengang. Hanya ada dua dan tiga kendaraan yang lewat di tempat itu.

Malam ini adalah malam yang indah. Di mana muncul ribuan bintang menghiasi angkasa. Bulan sabit pun ikut serta bersama bintang untuk menemani manusia. Ditambah malam ini adalah malam minggu. Malam di mana para kekasih sedang menjalin cinta.

Naruto dan Minato berjalan dalam diam. Lalu Minato melirik ke arah kucing yang dipeluk oleh Naruto itu. Kucing putih itu tengah meletakkan kepalanya tepat di dada Naruto. Wajahnya merona merah.

Minato memperhatikan dengan lama kucing jadi-jadian itu. Lantas ia tersenyum simpul.

'Ternyata dia memang bukan kucing biasa. Aku sudah tahu kalau Shinju adalah jelmaan seorang yokai nekomata yang berwujud separuh manusia. Aku sudah melihat wujud asli Shinju ini dengan mata gaib yang tidak pernah kupakai selama ini. Dia adalah seorang gadis manis yang bertelinga kucing. Lalu tampaknya dia benar-benar menyukai Naruto,' batin Minato sambil melirik ke arah Naruto.'Tapi, aku tidak tahu apa maksudnya menjadi kucing seperti ini. Namun, yang anehnya kenapa Naruto tidak menyadari bahwa kucing ini adalah gadis nekomata. Aku harus berbicara pada Naruto sekarang.'

Lalu Minato menarik pandangannya ke depan.

"Naruto-chan."

"Ya, Tousan. Ada apa?"

Naruto menoleh ke arah Minato.

"Tousan mau menanyakan sesuatu hal padamu."

"Apa itu?"

Minato melirik Naruto.

"Apa kamu sudah mempunyai pacar sekarang?"

DEG!

Jantung Naruto kaget mendengarnya. Sejenak ia menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Minato.

Naruto terdiam sebentar. Minato menunggu jawaban Naruto dengan sabar.

Sementara itu, Koneko juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Naruto. Hatinya berdebar-debar menanti kelanjutan percakapan anak dan Ayah ini.

Hening.

Lalu Naruto memecahkan kesunyian itu dengan cengirannya yang lebar.

"Tentu saja. Aku belum pernah mempunyai pacar, Tousan."

POOONG!

Minato tercengang. Sedetik kemudian, ia tersenyum kikuk.

"Hahaha, pasti karena larangan Kaasan-mu. Pasti sampai saat ini kamu pasti belum pernah jatuh cinta ataupun mempunyai seorang gadis yang disukai. Iya, kan?"

Minato berniat memancing Naruto agar Naruto bercerita tentang siapa gadis yang disukainya. Minato ingin mengetahui apakah Naruto mencintai gadis dunia nyata ataukah gadis dunia gaib. Dia berharap Naruto tidak terjebak dalam cinta terlarang seperti dirinya. Karena cinta terlarang antara manusia dan alam gaib itu akan mendatangkan bencana yang sangat besar.

"Iya, memang Kaasan melarangku berpacaran ataupun jatuh cinta. Tapi, Tousan, aku ini tetaplah manusia yang bisa saja akan jatuh cinta," Naruto berwajah serius."Aku memang sudah jatuh cinta pada seorang gadis sekarang."

Minato mendengarkannya dengan seksama. Naruto selalu mencurahkan segala perasaannya pada sang Ayah dengan jujur. Karena hanya pada Ayahnya, Naruto dapat bercerita tentang apa saja yang ia rasakan. Naruto menganggap sang Ayah adalah seorang sahabat yang sangat dekat daripada sang Ibu.

"Siapa gadis yang kamu sukai itu, Naruto-chan?"

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menutup matanya sebentar.

"Entahlah, Tousan. Aku tidak mengenalinya. Karena aku bertemu dengannya saat kecil dulu. Pada saat umurku tujuh tahun, aku pernah menolongnya dari serangan manusia serigala. Dia adalah anak perempuan yang tersesat di hutan dekat Uzuka Gakuen. Anak perempuan berambut perak dan bermata kuning seperti mata kucing. Aku masih mengingat ciri-cirinya seperti itu."

DEG!

Darah Koneko berdesir kencang setelah mendengarnya. Matanya membulat sempurna. Mata kuningnya melembut.

'Naruto-kun masih mengingatnya. Ternyata kamu masih mengingatku,' seru Koneko yang sedikit senang. Ia pun menajamkan telinganya baik-baik untuk mendengarkan kelanjutan cerita Naruto.

"Tapi, aku tidak tahu namanya siapa, Tousan. Karena dia menghilang begitu saja ketika Kaasan menjemputku pulang waktu itu. Ya, sekali itu aku bertemu dengannya."

Naruto membuka matanya. Ia berwajah kusut.

"Oh, jadi kamu menyukai anak perempuan itu sejak kecil. Sampai sekarang pun kamu masih menyukainya ya?"

Naruto mengangguk. Wajahnya sedikit merona merah.

"Ya, aku jatuh cinta padanya saat melihatnya pertama kali. Sampai sekarang aku masih mengingatnya," Naruto tersenyum lembut."Dialah cinta pertamaku. Memang sejak kecil aku menyukainya. Tapi, jika sekali lagi aku bertemu dengannya, aku akan mengatakan perasaanku padanya. Bahwa aku mencintainya. Aku mencintainya sejak kecil."

DEG!

Jantung Koneko berdetak kencang mendengarnya. Bola mata kuningnya bergoyang-goyang. Hatinya merasa sangat senang mendengarnya. Kedua pipinya merona merah.

'Naruto-kun, ternyata kamu mencintaiku. Kamu mencintaiku sejak kecil. Ya, aku juga mencintaimu,' Koneko semakin mendekap pada tubuh Naruto. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan.

Minato tertegun melihat wajah Naruto yang amat berseri-seri. Ada pancaran rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sang Ayah tersenyum simpul. Lantas ia memegang bahu Naruto.

"Naruto-chan, kamu memang harus jatuh cinta. Karena cinta itu adalah anugerah yang sangat indah. Kamu harus menyampaikan perasaanmu itu pada gadis yang kamu cintai. Jangan dipendam, nanti itu akan menyiksa batinmu," Minato menatap Naruto dengan erat."Tousan akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Tousan akan merestuimu. Semoga kamu bertemu lagi dengan gadis itu."

Naruto terpana. Sedetik kemudian ia mengangguk.

"Ya, Tousan. Semoga saja. Tapi..."

"Tapi, apa?"

"Bagaimana kalau gadis itu adalah makhluk gaib?"

Minato tersentak. Ia membulatkan matanya. Ia menjauhkan tangannya dari bahu Naruto. Wajahnya sedikit kusut.

"Kalau itu, namanya cinta terlarang, Naruto-chan. Kamu tidak boleh menjalin cinta dengan gadis dunia gaib."

"Kenapa Ayah?"

Naruto sangat penasaran. Minato menatap tajam wajah Naruto.

"Karena resikonya sangat besar, Naruto-chan. Banyak halangan yang harus kamu hadapi. Mulai dari kecaman dari penduduk dunia gaib dan orang tua masing-masing. Seperti Tousan alami bersama Kaasanmu. Kami hampir mati saat mempertahankan hubungan ini karena Kakekmu yang seorang vampire sangat membenci yang namanya manusia. Tapi, karena kekuatan cinta dan kemunculan Kurama yang membawakan buku bertuah itu. Kurama mendamaikan hubungan kami ini dengan Kakekmu. Ia memberikan nasehat pada Kakekmu agar merestui hubungan kami dan menghentikan penyerangan ke dunia manusia. Sungguh saat itu adalah saat yang sangat membahayakan bagi kami."

Naruto mendengarkan dengan baik cerita Ayahnya itu. Begitu juga dengan Koneko.

"Begitu ya rupanya. Tapi, kata Tousan, Tousan akan mendukung apapun keputusanku. Tousan akan merestui aku. Jadi, jika gadis itu adalah gadis dunia gaib, aku akan tetap menyampaikan perasaanku padanya. Apapun resikonya, akan aku hadapi semuanya sampai aku mati sekalipun. Karena aku sudah terlanjur mencintainya."

Minato terpana mendengar kalimat lantang yang diungkapkan oleh Naruto itu. Koneko juga terpana mendengarnya.

'Naruto-kun... kamu memang laki-laki yang berbeda dari laki-laki lain. Kamu memang laki-laki yang sangat pemberani,' Koneko menatap wajah Naruto yang terlihat serius.'Aku ingin bertemu denganmu dalam wujud manusia. Sebagai manusia yang bernama Koneko.'

Minato bungkam. Ia masih memasang wajah kusutnya. Tapi, melihat keseriusan yang tercetak di wajah Naruto, membuat Minato mengalah. Minato menghembuskan napasnya.

"Ya, sudah. Tousan akan mendukungmu jika gadis yang kamu cintai itu adalah gadis dunia gaib. Tapi, apapun resikonya. Nanti kamu harus menanggungnya sendiri bersama gadismu. Oke?"

Minato memajukan kepalan tinjunya sambil menyengir lebar sebagai tanda persetujuan sebagai seorang laki-laki sejati.

Naruto mengangguk. Lalu membenturkan kepalan tinjunya pada kepalan tangan Minato.

"Iya, Tousan. Aku mengerti."

Naruto tertawa lebar bersama sang Ayah. Sang Ayah menatap ke arah Naruto dengan erat.

'Naruto-chan, siapapun gadis yang kamu cintai itu. Pastilah dia yang terbaik untukmu. Dialah yang berhasil mendapatkan hatimu, dia sungguh beruntung. Lalu Tousan penasaran siapa gadis yang kamu maksud itu. Entahlah. Sepertinya kamu akan mengalami hal yang sama dengan Tousan alami dulu. Terjebak dalam cinta terlarang.'

Malam minggu yang indah. Malam yang panjang buat Naruto dan Ayahnya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Uzuka Gakuen.

Diam-diam ada sosok gadis berambut hitam dan bertelinga kucing sedang mengikuti mereka. Gadis itu menyipitkan kedua matanya dengan sinis.

"Koneko, akan aku habisi kau sekarang juga."

SYAAAAT!

Gadis itu melompat ke udara dan menghilang begitu saja.

.

.

.

Malam yang penuh dengan bintang bertaburan. Malam yang penuh dengan bulan sabit. Malam yang begitu lain. Malam yang mencekam. Mendadak angin berdesir dan menerpa sekolah besar seperti kastil yaitu Uzuka Gakuen.

Di depan sekolah, pohon-pohon pun bergoyang-goyang tidak beraturan. Suasana sangat berkabut dan tidak biasa. Karena Naruto dan Ayahnya kedatangan tamu yang tak diundang.

Naruto dan Ayahnya sedang berdiri menghadap seorang pria berambut hitam. Pria dengan mata yang tajam dan ada tato segitiga merah terbalik di dua pipinya. Dia berpakaian serba hitam. Dari mulutnya muncul dua gigi taring yang meruncing.

Naruto menatap tajam musuh yang datang tiba-tiba ini. Musuh yang bukan hantu. Kali ini atmosfirnya sangat berbeda.

"Siapa kau?" tanya Naruto dengan keras. Sementara sang Ayah sudah bersiap-siap jika musuh itu akan menyerang. Lalu Shinju atau Koneko berdiri tepat di belakang Naruto. Ia menjaga Naruto dan Ayahnya dari belakang.

Laki-laki berambut hitam itu menyeringai lebar. Rambut hitamnya melambai-lambai ditiup angin. Juga pakaiannya ikut berkibar-kibar dimainkan angin yang bertiup cukup kencang.

"Namaku Inuzuka Kiba," laki-laki itu mengangkat dua tangannya ke depan."Aku adalah pengawal Rias Princess yang berasal dari kerajaan vampire hitam."

Naruto kaget mendengarnya. Ia membulatkan matanya. Begitu juga dengan Minato dan Koneko.

"Vampire hitam ...," Minato menyipitkan kedua matanya."Vampire yang suka menghisap kekuatan lawannya."

"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Rias? Vampire hitam?" Naruto menggaruk-garukkan kepalanya. Banyak tanda tanya besar hinggap di kepala Naruto.

Koneko sweatdrop sendiri melihat kebodohan Naruto yang mendadak muncul.

'Dasar baka, apa Naruto tidak tahu kalau gadis yang duduk di sampingnya itu yang bernama Rias. Seorang gadis vampire hitam,' batin Koneko sewot di dalam hatinya.

Minato menatap sang anak dengan bingung.

"Apa kamu kenal dengan Rias itu, Naruto-chan?" tanya sang Ayah.

Naruto melirik Ayahnya.

"Entahlah, Tousan. Aku pernah mendengar namanya. Tapi, aku tidak tahu bagaimana wujud orangnya."

Minato dan Kiba sweatdrop di tempat. Naruto masih saja menggaruk-garuk kepalanya. Koneko menepuk jidatnya.

Lalu Kiba berdehem keras.

"Ehem, cukup basa-basinya, Namikaze Naruto."

Naruto dan Minato menoleh ke arah Kiba. Kiba mengeluarkan cakar-cakar panjang dari sepuluh jari tangannya. Gigi-gigi taringnya juga semakin meruncing. Kedua mata Kiba semakin menajam.

"Hei, kau juga tahu siapa namaku yang sebenarnya. Padahal aku belum memperkenalkan namaku padamu," tukas Naruto mengerutkan keningnya.

"Tentu saja. Karena kau sangat terkenal di dunia gaib. Semua makhluk sangat mengagumimu. Termasuk para gadis."

"Hah, sudah kuduga. Ternyata aku memang dikejar-kejar oleh para gadis dua dunia. Sangat merepotkan jika harus mempunyai kekuatan pemikat hati itu, huh...," gumam Naruto sewot."Rasanya aku ingin cepat-cepat mempunyai pacar sekarang. Agar tidak ada lagi yang mengejarku."

Kiba menunjuk ke arah Naruto dengan sikap yang tegas.

"Aku datang untuk menantangmu bertarung, Namikaze Naruto," kata Kiba berwajah serius."Jika kau berani, satu lawan satu. Itu saja permintaanku."

Naruto menurunkan alisnya. Wajahnya berubah sangat serius. Lalu ia melirik Minato. Minato mengangguk. Kemudian Naruto menarik pandangannya ke arah Kiba.

"Baiklah, aku menerima tantanganmu."

Kiba menyeringai senang setelah mendengar perkataan Naruto tadi. Ia pun bersiap untuk melakukan serangan.

Naruto juga mulai bersiap dan mengeluarkan sebuah pedang putih yang terbentuk dari kalung yang melingkari lehernya yaitu Yukianesa.

Pedang Yukianesa berputar-putar tatkala mendarat di tangan Naruto. Naruto mengambil ancang-ancang.

"Ayo, kita bertarung sekarang!" sahut Kiba menyilangkan tangannya di dada.

Wajah Naruto menajam. Ia memegang erat pedangnya.

SYAAAAT!

Keduanya melompat bersama dan saling menyerang. Naruto melayangkan pedang Yukianesa-nya ke arah kanan Kiba. Kiba mengelak dengan cara mencondongkan badannya ke belakang. Lalu Kiba menghantamkan cakar ke arah kiri Naruto, tepatnya hendak menyerang dada kiri Naruto.

Naruto menghindar ke arah kanan dengan cepat.

PAAATS!

Pedang Yukianesa mengeluarkan semacam energi putih yaitu elemen es. Lalu pedang itu dilayangkan membentuk seperti cakram ke arah Kiba.

BLAAAR! BLAAAAR!

Terjadi ledakan kecil saat es berbentuk cakram mengenai tanah. Kiba menghindari serangan itu dengan cara melompat salto ke belakang sebanyak dua kali.

SRAT! SRAT! SRAT!

Langkah Kiba terseret beberapa meter. Ia berlutut dan menancapkan dua cakarnya ke tanah. Kiba menunjukkan wajah garangnya ketika Naruto datang lagi ke arahnya sambil melompat.

WHUUUSH!

Pedang terayun cepat ke arah Kiba. Kiba menyadarinya. Ia pun menghentakkan dua tangannya ke tanah.

DRAAAAK!

Mendadak tanah menjulang ke atas dan melindungi diri Kiba dari serangan pedang Naruto.

DRAAAK!

Tanah itu berubah menjadi es setelah terkena pedang Yukianesa. Lalu hancur berkeping-keping.

PRAAANG!

Kiba mendadak menghilang. Naruto terperanjat.

"Heh, hilang?!" Naruto memperhatikan keadaan sekitar."Kemana dia pergi?"

Naruto mengedarkan pandangan ke segala arah. Ia tetap menajamkan matanya.

SET!

Tak jauh dari Naruto berdiri, sesuatu muncul dan menggumpal di atas permukaan tanah. Minato menyadarinya.

"NARUTO, AWAAAAS DI BELAKANGMUUUU!" teriak Minato sekeras mungkin.

Naruto tersentak. Dengan cepat, ia menoleh ke arah belakang.

ZREEEEEK!

Sesuatu bergerak sangat cepat di permukaan tanah. Naruto menyadarinya.

PRAAAK!

Dari dalam tanah, muncullah satu tangan raksasa seperti sayap kelelawar meluncur tepat ke arah Naruto.

Wajah Naruto berubah sangat serius. Ia memutar pedangnya dengan cepat dan melayangkan pedang itu ke arah tangan raksasa berselaput itu.

DRAAAK!

Tangan raksasa berselaput itu menjadi es balok. Lalu hancur berkeping-keping.

PRAAANG!

Naruto menajamkan matanya sekali lagi ketika mendadak muncul dua tangan raksasa berselaput dari arah dua sisinya yaitu kanan dan kiri.

Pedang Yukianesa mengeluarkan energi putih. Naruto melemparkan pedangnya ke udara. Lalu pedang itu berputar-putar cepat dan menembakkan dua duri es ke arah dua tangan berselaput itu.

DRAK! DRAK!

Dua tangan berselaput membeku dan pecah berkeping-keping.

POOOF!

Muncul dari atas, dua tangan raksasa berselaput yang turun dengan cepat bagaikan kilat.

Naruto tidak dapat menghindarinya. Dua tangan itu menghujam Naruto dengan cepat.

"WAAAAAAH!" Naruto berteriak kaget. Dirinya terhantam oleh serangan itu.

BRAAAAAK!

Timbul guncangan kuat disertai kepulan debu yang berasap.

Minato dan Koneko membelalakkan kedua matanya.

"NARUTOOOO!"

Di antara kepulan debu yang banyak dan tebal menerpa Minato dan Koneko, apalagi angin terus bertiup kencang dan menambah suasana semakin memanas. Membuat Minato terbatuk-batuk akibat menghirup kepulan debu berasap itu.

Diam-diam sesuatu bergerak ke arah Koneko yang masih berwujud kucing. Koneko yang lengah tidak menyadarinya.

DUUUK!

Sesuatu mendorong tubuh Koneko hingga Koneko terpental cukup jauh.

BRUUUK!

Koneko terseret beberapa meter di tanah. Ia mendarat tepat di dekat sebuah pohon beringin.

POOOF!

Koneko berubah wujud menjadi manusia bertelinga kucing putih dan memakai Yukata berwarna putih. Koneko tergeletak dalam keadaan miring ke kanan.

"Aduuuh," keluh Koneko meringis kesakitan. Lalu ia mengerling ke arah orang yang telah menyeruduknya tadi.

TAP! TAP! TAP!

Seseorang berjalan ke arah Koneko. Koneko mengenalinya.

Rupanya Kuroka. Kuroka sudah berwujud manusia bertelinga kucing hitam dan memakai Yukata hitam. Ia melipat tangan di dada dengan sikap yang angkuh.

"Kuroka-nee," sahut Koneko agak kaget."Kenapa kamu menyerangku?"

Kuroka menatap sinis ke arah Koneko. Ia melepaskan lipatan tangannya dari dadanya. Seketika di tangan kanannya mendadak muncul sebuah rantai.

Koneko kaget setengah mati melihat sang kakak mengeluarkan senjata andalannya itu.

"Kuroka-nee, kamu...," Koneko bangkit berdiri secara perlahan-lahan.

Kedua alis Kuroka menurun tajam.

"Koneko, kau harus kulenyapkan dari dunia ini. RASAKAN SERANGANKU INI!"

Koneko membelalakkan matanya ketika Kuroka melayangkan rantai itu ke arahnya.

SYAAAT!

Koneko melompat tinggi untuk menghindarinya. Rantai itu mengenai pohon beringin.

DHUAAAR!

Pohon beringin itu meledak kecil. Kuroka memperhatikan arah kemana Koneko melompat tadi.

SYAAAT!

Kuroka melompat untuk mengejar Koneko yang melayang-layang di udara.

Koneko kaget lagi setelah Kuroka berada tepat di depannya. Kuroka melemparkan rantai pemusnahnya itu ke arah Koneko sekali lagi.

SYAAAT!

Koneko menghindarinya dengan cepat. Lalu ia memilih untuk melompat ke arah atap sekolah. Kemudian ia mendarat mulus di atap sekolah. Sebuah rantai meluncur lagi ke arahnya secara gerakan zip-zap.

SYAAT! SYAAAT! SYAAAT!

Koneko menghindarinya dengan gerakan yang sangat cepat. Kuroka masih tetap melayang-layang di udara.

Muncul serangan yang tidak terduga, sebuah rantai dari arah belakang Koneko.

SET!

Dengan wajah garang, Koneko menoleh ke arah belakang. Lalu melompat salto untuk menghindari serangan Kuroka itu.

HUP!

Koneko mendarat mulus lalu kabur cepat ke arah belakang sekolah. Kuroka terperanjat.

"KONEKO, KAU MAU LARI KEMANA, HAH?" Kuroka terbang mengejar Koneko yang berlari dan melompat tinggi ke arah hutan gelap yang berada di belakang sekolah.

Koneko bermaksud memancing Kuroka untuk bertarung di belakang sekolah agar tidak mengganggu perhatian Naruto dan Minato. Karena saat ini Naruto juga tengah bertarung dengan seorang vampire. Koneko tidak ingin melibatkan siapapun dalam urusannya dengan kakaknya.

Beralih ke arah pertarungan di halaman depan sekolah, di mana Naruto tertimbun oleh dua tangan yang berselaput. Minato sangat panik dan cemas dengan keadaan Naruto sekarang.

Minato yang masih berdiri tak jauh dari Naruto. Ia sangat cemas dengan keadaan Naruto sekarang. Tidak ada tanda-tanda Naruto bereaksi setelah terkubur hidup-hidup.

Lalu Minato memutuskan untuk menghampiri Naruto. Ia hendak mengayunkan langkahnya. Namun, tiba-tiba muncul secercah cahaya di tempat Naruto tertimbun.

DHUUUAAAAR!

Dua tangan berselaput yang menindih Naruto tadi meledak hebat akibat terkena hantaman tinju berapi dari Naruto. Naruto menggunakan elemen api untuk menghancurkan dua tangan yang terbentuk dari tanah.

SRAT!

Di antara kepulan asap bekas ledakan, Naruto keluar dari bongkahan tanah yang menimbunnya serta membuatnya terperosok dalam lubang akibat dihimpit oleh dua tangan raksasa berselaput tadi.

Minato senang melihatnya. Syukurlah, Naruto tidak apa-apa.

"NARUTO!" Minato berlari cepat menuju ke arah Naruto.

Tiba-tiba...

WHUUUUUSH!

Muncul satu tangan yang berselaput dan menimpa Minato. Minato kaget setengah mati. Ia tidak bisa menghindar karena gerakan tangan itu sangat kencang.

PRAAAK!

Timbul guncangan kuat dan kepulan debu yang berasap. Suasana semakin menegangkan tatkala Naruto menatap nanar semua kejadian itu. Ia kaget setengah mati.

"TOUSAAAAAN!" Naruto segera bangkit berdiri untuk menyelamatkan Ayahnya. Namun, tiba-tiba Kiba datang menghadangnya sambil melayangkan tinju ke arahnya.

SET!

Naruto menghindarinya. Tangan kanan Naruto menguarkan cahaya merah yang berubah menjadi api.

WHUUUSH!

Gerakan tinju berapi melesat cepat ke arah Kiba. Kiba tidak sempat menghindarinya. Karena gerakan Naruto sangat cepat dibanding Kiba.

BUAAAAK! BRUUUUAAAAAK!

Kiba terpelanting jauh ke belakang dan terseret beberapa meter. Ia mendarat ke tanah dengan keras.

"Ukh," Kiba meringis kesakitan pada perutnya yang telah melepuh dan berasap akibat tinju api Naruto yang terbilang mengerikan.

Efek tinju api ini jika mengenai seorang vampire akan membuat kulit vampire itu akan melepuh dan mendidih.

Sebaliknya jika roh atau hantu, jika mengenai tinju api dapat menyebabkan hantu itu terbakar dan meledak sekejap mata.

SRET!

Naruto datang ke arahnya dengan cepat. Kiba menyadarinya. Ia membelalakkan matanya ketika Naruto melayangkan tinju berapi sekali lagi ke arahnya.

"RASAKAN INI, VAMPIRE SIALAAAAN!"

WHUUUSH!

Tiba-tiba datang seseorang bersayap kelelawar dan menyambar cepat tubuh Kiba itu.

GREP!

Kiba dibawa kabur. Serangan tinju berapi Naruto tadi sukses mengenai tanah. Secara refleks, Naruto melihat ke arah mana Kiba tadi dibawa terbang oleh seseorang.

Tapi, mereka sudah menghilang. Membuat Naruto menggeretakkan gigi-giginya.

"Sialan, dia kabur!" Naruto mengepalkan dua tangannya kuat-kuat. Api yang berkobar menghilang dari tangan Naruto.

Mendadak timbul ledakan yang cukup keras.

DHUAAAAR!

Naruto kaget dan melihat ke arah suara ledakan itu.

Rupanya tangan raksasa berselaput yang menimpa sang Ayah sudah terbakar hebat dan lenyap tanpa tersisa. Minato pun muncul dari bekas-bekas kepulan asap ledakan.

Naruto segera berlari menuju ke arah Minato.

"TOUSAAAAN!"

Minato menoleh tatkala Naruto datang menghampirinya. Naruto segera memegang dua bahu Ayahnya sambil berlutut.

"Tousan tidak apa-apa?" tanya Naruto berwajah cemas."Vampire sialan itu malah menyerang Tousan. Dia sungguh licik."

"Hehehe, Tousan tidak apa-apa, nak," jawab Minato tersenyum kecil.

"Syukurlah, kalau begitu, hah ... hah ... hah ...," Naruto ikut tersenyum walaupun saat ini napasnya sangat tersengal-sengal akibat mengeluarkan elemen api tadi. Karena efek elemen api ini sangat membuat tenaga dalam Naruto terkuras habis.

Lalu Naruto membantu Ayahnya berdiri. Mereka pun memperhatikan keadaan halaman depan yang sangat kacau akibat pertarungan tadi.

"Halaman menjadi kacau begini, Tousan," Naruto berwajah kusut."Musuh tadi menggunakan elemen tanah. Jadinya, membuat tanah menjadi bergelombang dan berlubang begini."

Minato tertawa kikuk.

"Hahaha, nanti kita bereskan tempat ini bersama-sama agar orang-orang tidak curiga kalau di malam ini telah terjadi pertarungan. Tapi, ngomong-ngomong Shinju mana ya?"

Minato menyadari Shinju atau Koneko tidak ada di mana-mana. Naruto juga menyadarinya. Ia tersentak.

"Benar, Tousan. Shinju mana ya?" Naruto celingak-celinguk."SHINJU, KAMU DI MANA?"

Minato juga ikut memanggil Shinju.

"SHINJU! SHINJU!"

Mereka pun berpencar. Minato pergi ke arah kiri. Sementara Naruto pergi ke arah pohon beringin yang telah hancur lebur. Ia pun keheranan melihat pohon beringin yang hancur itu.

"Lho, pohon ini kok bisa hancur begini seperti habis dibakar?"

Lantas Naruto menajamkan matanya di tengah desiran angin yang semakin kencang. Ia merasakan keberadaan hawa makhluk tak biasa. Hawa makhluk halus yang berkekuatan sangat gelap.

'Aku merasakan kekuatan negatif kegelapan yang sangat pekat. Asalnya tak jauh dari sini.'

Naruto menutup matanya sebentar. Ia merasakan hawa kegelapan yang berasal dari hutan lebat di belakang sekolah. Lalu di pandangan alam bawah sadarnya, Naruto melihat ada dua gadis bertelinga kucing dalam wujud gambaran negatif. Mereka sedang bertarung antara satu sama lain.

'Koneko-chan rupanya. Tapi, siapa yang melawan Koneko-chan itu? Dia mirip sekali dengan Koneko-chan,' batin Naruto yang menggunakan kekuatan ultrasonik kelelawar.

Kemudian Naruto membuka matanya.

"Aku harus menyelamatkan Koneko-chan. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa."

Tanpa aba-aba lagi, Naruto memutuskan untuk pergi menuju asal kekuatan kegelapan itu.

.

.

.

Sementara itu, di tepi hutan lebat dan sangat gelap di belakang Uzuka Gakuen. Tampak dua nekomata bersaudara sedang bertempur dengan sengit.

Di antara angin yang terus berdesir kencang, Koneko menembakkan bola cahaya hitam beruntun ke arah Kuroka. Kuroka dapat menghindarinya dengan cepat.

SYAAAT! SYAAAT! SYAAAT!

Kuroka terbang secara melingkar. Lalu dia mengatupkan dua tangannya. Kemudian dua tangannya melebar dan membentuk bola cahaya hitam yang sangat besar.

Bola cahaya hitam itu ditembakkan menuju Koneko. Koneko segera membentuk sebuah cakram cekung di depan tubuhnya. Serangan bola cahaya hitam Kuroka terhisap ke dalam cakram cekung yang merupakan dimensi penyimpanan kekuatan bagi Koneko.

Koneko mempunyai kemampuan untuk membuka portal dimensi dan digunakan untuk menyerap kekuatan serangan lawan. Hal tersebut dapat digunakan oleh Koneko untuk meningkatkan kekuatan kegelapan yang dimilikinya. Hingga Koneko dapat membuat tekanan energi kekuatan kegelapan semakin negatif dan membuat musuh akan merasa sesak napas atau terhantam jika terkena aura tekanan energi kegelapannya. Karena itulah Koneko menjadi yokai yang paling berbahaya di dunia gaib. Koneko dapat menyerap kekuatan lawannya lewat portal dimensi dan bisa mengeluarkan aura negatif kekuatan kegelapan yang dapat menyesakkan dada para musuh.

Kuroka menggeram kesal karena Koneko menyerap kekuatannya lagi. Sudah beberapa kali ia coba untuk menyerang Koneko. Tapi, serangannya tidak dapat melukai Koneko.

Koneko menghilangkan portal cakram cekungnya. Ia berwajah datar.

"Kau tidak dapat membunuhku, Kuroka-nee," Koneko berdiri di atas rerumputan yang bergoyang-goyang karena ditiup angin."Karena itu hentikan rasa dengkimu. Itu akan membuatmu semakin tersiksa. Aku ingin kau mengerti bahwa sesungguhnya Ayah sangat menyayangimu. Aku pun juga sayang padamu, Nee-sama."

Kuroka sedikit membulatkan kedua matanya. Mulutnya ternganga sedikit.

"ITU TIDAK BENAR!" teriak Kuroka."AYAH LEBIH SAYANG PADAMU, KONEKO. AYAH TIDAK PERNAH MENYAYANGIKU. AYAH LEBIH MEMENTINGKAN KAU DARIPADA AKU. SEMUANYA DIBERIKAN UNTUKMU. AKU DILUPAKAN BEGITU SAJA. TERMASUK PANGERAN YUUTO. AYAH MENJODOHKAN KAU DENGAN PANGERAN YUUTO. BUKAN DIRIKU. KAU TELAH MERAMPAS SEMUANYA DARIKU. KAU TELAH MEREBUT SEMUA KEBAHAGIAANKU!"

Kuroka melampiaskan semua yang dirasakannya. Ia benar-benar tidak tahan lagi. Ia kesal. Ia kecewa. Ia benar-benar merasa tertekan.

Koneko mendengarkannya dengan iba. Kedua matanya kuningnya meredup.

WHUUUUSH!

Angin terus bertiup kencang dan membuat rambut dua nekomata itu berkibar-kibar. Mereka terdiam sebentar. Hingga suara Koneko memecahkan keheningan malam itu.

"Nee-sama, dengarkan aku. Ayah memang menjodohkan aku dengan pangeran Yuuto. Tapi, aku tidak mau dijodohkan dengan Pangeran Yuuto. Karena aku tidak menyukainya. Namun, Ayah tetap memaksaku bertunangan dengan Pangeran Yuuto. Aku tidak mau bertunangan dengannya. Makanya aku kabur dari kerajaan."

Kuroka mendengarkannya dengan hati yang panas. Meskipun begitu, ia tetap ingin mendengarkannya.

"Jika kau tidak mau bertunangan dengan Pangeran Yuuto, lalu kenapa kau juga merebut Naruto juga dariku?"

DEG!

Koneko kaget mendengarnya. Matanya membulat sempurna.

"Maksudmu Nee-sama?"

Kuroka menurunkan alisnya dengan tajam.

"Karena aku juga menyukai Naruto!"

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Chapter 11 update!

Hm, bingung juga nih gimana mengarahkan cerita ini pada sebuah misteri. Entahlah rasanya saya ingin menamatkan cerita ini dengan cepat. Entah ini jadi genre harem atau bukan. Saya merasa bingung menempatkannya harus gimana. Hehehe...

Oke, untuk chapter selanjutnya, belum ada bocoran. Saya lagi bingung mikirin adegan selanjutnya gimana. Apakah penyamaran Koneko sebagai kucing putih diketahui oleh Naruto? Terus gimana reaksi Naruto setelah mengetahui bahwa kucing putih yang selama ini ia pelihara adalah jelmaan Koneko? Lihat saja di chapter yang akan datang.

Saya bingung apakah pertarungannya seru atau nggak ya? Saya udah berusaha menampilkan adegan battle yang berdasarkan dari gambaran otak saya. Jadi, mohon maaf jika pertarungannya kurang memuaskan. Sebab saya paling lemah di bagian ini. Suer, tapi yang lebih penting adalah saya sudah berusaha menulis adegannya dengan baik.

Terima kasih banyak dan sampai jumpa di chapter 12.

Dari Hikari Syarahmia.