-SILENCE-

Tittle : SILENCE

Author : Madam Reddo

Remake (hunhan ver)

Genre : Drama,Angst,Romance,Etc.

Cast : EXO and Others

Main Pair : HunHan

Rated : M

Lenght : Chaptered

.
.

A/N : Hai Hai Hai... Hanna bawa ff punya author yg ampe sekarang bener2 memberi kesan dalam dan karena ff inilah Hanna terjun pada yg Yaoi kkk Hanna pernah nge remake ini menjadi HunHong di facebook tentu dengan idzin madam sendiri,dan kali ini mau bkin versi HunHan di ffn kkk Ini bukan milik hanna oke! Ini punya madam dan ff ini aslinya 2Min,dah udah pernah di post di page mereka kkk

Sebelumnya hanna berterima kasih sama madam Red a.k.a Reddo Pisang Stroberi yang udah ngasih izin buat ngeremake ulang kemaren plus dah ngasih hanna semangat buat nulis aaaa madam I Love U FULL! 😘

Happy Readinnnggg...

.

-EPILOGUE-

-SMILE FOR THE FUTURE-

~HunHan~

~ Apa yang salah? kenapa senyuman mu semakin memudar?

Apa yang harus aku lakukan agar kau tersenyum seperti dulu lagi?

Aku hanya ingin mencintai mu dan memperlakukan mu dengan baik

Aku hanya ingin mencintai mu setiap hari dan setiap malam ~

Pov Luhan

Dua Tahun Kemudian…

Sehun menyibak tirai jendela kamar dan membiarkan sinar matahari masuk untuk menghangati ruangan. kemudian membuka pintu teras dan hawa segar nan sejuk pagi hari menyeruak ke dalam kamar. Sehun berpaling dan mendekati tempat tidur dimana Luhan masih tertidur lelap. Sehun duduk di samping tempat tidur, lalu menyapu helaian rambut di dahi Luhan. Kemudian mengecupnya.

"Selamat pagi yeobo"

Aku membuka mata ku saat suaranya yang berat dan lembut itu memanggil ku. Ku lihat mata hitam pekatnya yang menatap ku penuh arti, juga senyuman kecilnya yang selalu membuat ku merasa bersalah.

Aku membalas senyumnya sekilas, dan mengucapkan selamat pagi dengan menulisnya dengan telunjuk ku di dadanya yang bidang dengan salah satu tangan ku.

"Maaf harus selalu membangunkan mu setiap pagi, padahal kau sepertinya sedang enak tidur" Ucap Sehun sambil mengusap-ngusap kepala ku lembut. Aku menggelengkan kepala segera. Bahwa aku tidak keberatan dengan semua itu.

Sehun pun dengan sigap menyingkirkan selimut dari tubuh ku kemudian menggendong ku. Membawa ku ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi hawa hangat dari air panas dalam bathtub memenuhi ruangan. Sehun mendudukan ku di kursi kayu ukir dan membuka baju ku perlahan.

Inilah hal rutin yang setiap pagi Sehun lakukan pada ku sebelum dia pergi bekerja. Memandikan ku. Karena aku tidak bisa melakukannya sendiri. Sudah hampir dua tahun berlalu sejak aku tersadar dari koma, tapi aku masih belum bisa berjalan juga, aku masih lumpuh. Dan ini membuat ku tidak bahagia.

Awalnya semua berjalan sesuai rencana, kami menikah, kami bahagia, tapi aku pun mulai tersadar. Aku telah menjadi beban untuk Sehun. Dia mengurus ku di pagi hari dan malam hari padahal dia juga sibuk dengan pekerjaannya di siang hari hingga sore hari. Aku sudah meminta padanya agar pelayan saja yang mengurus ku, tapi Sehun tidak ingin siapa pun menyentuh ku. Dan saat itu ku lihat Sehun menangis. Dan sejak itu aku tidak pernah membantah lagi.

Setelah tubuh ku telanjang, Sehun membopong ku lagi dan dengan perlahan juga hati-hati memasukan tubuh ku ke dalam bathtub yang terisi penuh oleh air hangat. Dan mulai memandikan ku, seperti memandikan seorang anak kecil. Dia duduk di pinggiran bathtub di belakang ku dengan memasukkan kedua kakinya ke dalamnya di samping tubuh ku. Dan mulai mengeramasi rambut ku. Sedangkan aku sibuk menggosok gigi ku. Sehun mengambil keran shower di sampingnya dan mulai membasuh kepala ku, membersihkan sabun-sabun dari shampoo di kepala ku. Setelah bersih dia beranjak berdiri dan berlutut di samping bathtub dan mulai menggosok seluruh badan ku.

Setelah semuanya selesai, Sehun membopong ku dan membawa ku keluar kamar mandi lalu mendudukkan aku di kursi sofa di kamar. Sehun mulai mengeringkan rambut ku, wajah ku dan badan ku. Kemudian ke kamar mandi lagi dan keluar dari kamar mandi sambil membawa piringan keramik besar berisi air hangat dan menaruhnya di depan kaki ku. Lalu memasukkan satu persatu kaki ku kedalam piring keramik tersebut, merendamnya dan menekan-nekan kaki ku.

Salah satu kegiatan rutin lainnya yang Sehun lakukan pada ku. Saat bangun pagi dan sebelum tidur, yaitu memijat kaki ku, agar peredaran darah di kaki lancar dan mungkin akan membantu ku berjalan lagi. Itulah yang dokter ajarkan, semacam pengobatan alternatif. Sehun belajar dari ahlinya tentang titik mana saja yang harus dia pijat.

Aku hanya memandanginya. Memandangnya yang sedang bersikap baik pada ku. Kenapa dia harus melakukan hal semacam ini, hingga seperti ini pada ku?. Kenapa dia tidak meninggalkan ku?.

Ku rasakan Sehun membasuh kaki ku hingga lutut dengan air hangat. Kemudian memijat perlahan ke bagian paha dan aku sedikit meringis karena merasa sakit.

"Ah, maaf"

Aku menggelengkan kepala ku.

"Jika sakit katakan pada ku,oke?"

Jika ku katakan bahwa hati ku sakit melihat mu yang seperti ini, bagaimana reaksi mu? .

Sehun beranjak berdiri, duduk di samping ku. Merangkul leher ku dengan tangan sebelahnya. Dan aku memegang tangan tersebut dengan kedua tangan ku. Dan Sehun mulai memijat bagian belakang punggung ku dan pinggang ku dengan salah satu tangannya yang lain. Aku meringis sakit. Saat jari-jarinya menyentuh titik yang sensitif di punggung ku. Aku ingin menangis. Tapi bukan karena sakit oleh pijatan Sehun. Aku ingin menangis karena ketidak berdayaan ku.

Aku tidak sanggup, aku tidak mau menjadi beban mu Sehun.

.

Aku duduk di pinggiran jendela, dengan berbalut selimut tipis dikaki ku, sambil membaca buku dan di temani dengan beberapa anak kucing dari Chuncu dan Red. Menunggu dirinya pulang.

"Yeobo" Aku langsung memalingkan wajah ku ke arah suara itu. dan ku lihat Sehun tersenyum pada ku di ambang pintu. Aku membalas senyumnya dengan paksa. Sehun masuk dan di susul di belakangnya seorang wanita yang tidak aku kenal.

"Bagaimana kabar mu hari ini?" Tanya Sehun sambil mengecup kening ku. Dan duduk di samping ku merangkul pinggang ku.

'Baik' Balas ku dengan gerakan tangan ku. Lalu aku memandang wanita yang tadi masuk bersama Sehun. Dan sepertinya Sehun terkesiap, menyadari bahwa dia datang bersama wanita itu dan belum memperkenalkannya pada ku.

"Ah maaf, ini Song Hanna, dia sekretaris ku dia akan bermalam di sini malam ini karena harus membantu ku mengerjakan beberapa proyek yang sudah deadline"

"Dan ini Luhan istri ku" Seru Sehun sambil merengkuh kepala ku dan mencium kepala ku lembut. Membuat wajah ku memerah panas karena malu dengan tindakannya yang tidak sungkan-sungkan di depan sekretarisnya. Yah, status ku adalah istri walau aku ini adalah seorang pria dan Sehun adalah suami. Aku tidak membantah dan tidak keberatan, aku tidak peduli dengan istilah suami-istri, asalkan bisa berada di samping Sehun dan kami hidup bahagia, itu cukup bagi ku.

"Salam kenal, maaf sepertinya hari ini saya akan merepotkan anda" Sapa Song Hanna sambil membungkuk ke arah ku. Aku menggelengkan kepala ku dan tersenyum. Dan dia membalas senyum ku, sepertinya dia paham dengan kondisi ku dari Sehun, jadi dia tidak menunggu jawaban dari ku.

"Aku pergi sebentar untuk mengantar Hanna ke kamarnya" Kata Sehun sambil beranjak pergi bersama sekretarisnya, meninggalkan ku sendiri di ruangan itu. Aku menekap pipi ku, meredakan rasa malu yang sedari tadi ku rasakan.

.

Aku melihat Kepala pelayan Jung membawa nampan berisi teko dan gelas minuman.

'Apakah itu untuk Sehun?' Tanya ku dengan bahasa isyarat pada kepala pelayan Jung yang lewat di depan ku.

"Yah Tuan Luhan, ini untuk Tuan Oh"

'Biar aku saja yang mengantarnya' Pinta ku. Kepala pelayan Jung agak ragu tapi aku memandangnya memaksa. Dan kepala pelayan Jung pun akhirnya menyerah dan menaruh pelan nampan itu di kaki ku yang sedang terduduk di kursi roda.

"Hati-hati Tuan Luhan" Seru Kepala pelayan Jung, saat aku dengan semangatnya mengayuh roda kursi roda ku dan menuju ruang kantor Sehun.

Aku berusaha meraih knop pintu ruang kerja Sehun dan membukanya.

"Kau hamil?"

Aku terdiam saat mendengar suara Sehun yang sedikit memekik.

"Yah, aku hamil, aku senang sekali Tuan Oh, tapi bisakah kau merahasiakannya pada suami ku, aku ingin memberinya surprise di hari ulang tahunnya tiga hari lagi" Seru wanita itu riang.

"Bukan itu masalahnya, kenapa kau tidak bilang pada ku? kalau begitu aku tidak akan menyuruh mu membantu ku.."

"Tuan Oh tenang saja, aku tidak apa-apa" Sela wanita itu.

"Tapi.."

"Tuan Oh, pekerjaan ini tidak berat kok, aku sudah terbiasa, kalau aku capek aku akan bilang pada anda, anda tidak perlu mengkhawatirkan saya"

Lalu mereka terdiam sejenak.

"Oh, iyah, apa kalian tidak berencana punya anak Tuan Oh?" Tanya wanita itu tiba-tiba.

"Luhan itu pria, dia tidak bisa hamil"

Hati ku mencelos mendengarnya. Aku memegang dada ku. Sakit.

"Eoh? Bukankah bisa adopsi?"

"Tapi kondisi Luhan tidak memungkinkan untuk kami memiliki anak"

"Ah, iya ya, ah.. maafkan saya Tuan Oh, saya tidak bermaksud…"

"Tidak apa-apa, oh iya selamat yah atas kehamilan mu, suami mu pasti bahagia, sebuah keluarga memang akan lebih lengkap kebahagiaannya bila ada anak di antaranya"

"Yah betul, kami sudah menikah hampir enam tahun dan belum memiliki anak, menyebabkan hidup ku terkadang hampa, dan sesekali menyebabkan pertengkaran kecil, menyalahkan siapa dan kenapa kami belum memiliki anak"

"Syukurlah sekarang kau akan menjadi seorang ibu"

.

.
.

Aku menjauh dari ruangan itu. dan tidak ingin mendengar lebih lanjut pembicaraan itu. aku segera mencari tempat yang sepi dan gelap. Di lorong rumah itu. Dan aku pun mulai menangis.

Ternyata Sehun, bagaimana pun pastinya menginginkan seorang anak, tapi aku tidak bisa memberikannya. Dan kondisi ku tidak memungkinkan dirinya mengadopsi anak. Karena merawat ku saja dia sudah kerepotan apalagi harus mengurus anak.

"Sebuah keluarga memang akan lebih lengkap kebahagiaannya bila ada anak di antaranya"…

Kata-kata Sehun tadi, terus menerus terngiang di kepala ku. Maafkan aku, maafkan aku Sehun, maafkan aku yang tidak berguna ini. Isak ku dalam hati. Seharusnya aku mati saja waktu itu, dan mungkin Sehun akan menemukan seseorang yang bisa membahagiakannya.

.

.
.

Pagi itu...

Sehun mengecup kening ku saat hendak pergi kekantor.

"Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, mengerti"

Aku mengangguk pelan. Dan Sehun pun beranjak pergi. Menutup pintu kamar dan masih tersenyum pada ku saat menutup pintu.

"Maafkan aku Sehun, semoga kau bahagia"

.

Luhan segera menuju kamar mandi, memenuhi bathtub dengan air. Kemudian dia turun dari kursi rodanya. Sambil menangis dia mengiris perlahan pergelangan tangannya dengan pisau untuk pisau cukur milik Sehun dan memasukan lengannya yang terluka kedalam bathtub dan membuat bathtub tersebut berubah warna dalam sekejap menjadi merah oleh darah Luhan yang keluar deras dari pergelangan tangannya.

.

.
.

~ Bukan jalan ini yang ku inginkan

Bukan cara seperti ini yang ku inginkan

Tapi lebih baik mati daripada membuat hidup mu terkekang

Dan terperangkap oleh kekurangan ku~

***Pov Sehun***

~ Setiap hari adalah awal baru

Itulah yang aku pegang

Aku mencari keajaiban

Berharap senyumnya kembali mewarnai wajahnya ~

Padahal hari ini ada rapat sangat penting, tapi kenapa perasaan ku tidak tenang. Apakah karena rapat?.

"Tuan Oh, anda tidak apa-apa? wajah anda pucat sekali" Tanya sekretaris ku yang duduk di samping ku di dalam mobil.

"Aku tidak apa-apa" Jawab ku setenang mungkin.

Tiba-tiba handphone ku bergetar. Dan ku lihat nama yang terpampang di layar. Kepala pelayan Jung.

"Yah, Hallo" Jawab ku.

"Tuan Muda Oh, gawat! Tuan Luhan…."

Aku mencengkram handphone dengan keras. Dada ku sesak tidak sanggup bernapas.

Kenapa? Kenapa kau lakukan hal ini Luhan?

Dengan segera aku menyuruh Pak Kim memutarkan mobilnya dan menuju ke rumah sakit.

.

.

Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit, dan ku lihat sosok kepala pelayan Jung yang menunggu ku dengan tatapan cemas. Saat aku mendekat dia membukakan pintu kamar di belakangnya. Dan ku lihat di dalam Luhan yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Aku pun mendekatinya. Ku rasakan gigi ku bergemeretak keras, dan tangan ku mengepal karena menahan marah.

"Kenapa?"

Aku tahu, aku sangat tahu, bahwa kau tampak tidak bahagia, senyum mu memudar dengan seiring berjalannya waktu. Tapi aku terus dan terus berusaha melakukan apapun agar kau bahagia, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? karena kau hanya diam dan membisu.

"Kenapa kau lakukan ini pada ku? Kenapa kau ingin meninggalkan ku Luhan?" Tanya ku tercekat. Aku mendekati samping tempat tidurnya. Menatapnya kesal, sedih dan kecewa. Lalu aku mencengkram kedua bahunya.

"Bangunlah!" Bentak ku. Membuat dokter, suster dan Kepala pelayan Jung terkesiap karena bentakan ku pada Luhan.

"Katakan pada ku, apa yang salah? apa yang harus aku lakukan? Apa yang kau inginkan Luhan?" Pekik ku. Sambil menggoncang-goncangkan tubuhnya yang terbaring lemah di tempat tidur. Membuat dokter menarik lengan ku, mencegah ku untuk bertindak lebih lanjut. Tapi aku segera menepisnya. Aku menatap marah pada Luhan, aku menangis, aku kesal sekali padanya.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku dengan cara seperti ini, katakan pada ku, marahlah pada ku bila kau tak bahagia bersama ku" Tubuh ku pun merosot ke lantai.

Aku. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa mu.

.

~ Mengapa cinta begitu sangat sulit?

Mengapa kebahagiaan sangat jauh?

Mengapa aku tidak bisa membuatnya? ~

.

.
.

Keesokan harinya…

Aku mendapatkan telepon dari rumah sakit bahwa Luhan telah sadar. Dan aku pun segera menuju rumah sakit.

Aku membuka pintu kamarnya dan ku lihat dirinya yang sedang terduduk di tempat tidur tampak berbincang-bincang dengan Baekhyun. Luhan terkesiap memandang ku, menatap ku dengan pandangan kosong. Aku tersenyum padanya tapi dia tidak membalasnya.

"Yeobo" Sapa ku sambil mengelus pipi Luhan. Tapi Luhan menepisnya. Membuat ku dan Baekhyun terkejut dengan sikapnya.

"Kenapa, Yeobo?" Tanya ku gugup.

Dengan segera Luhan mengambil sebuah buku yang sepertinya sudah di siapkannya. Dia membuka buku itu dan menulis dengan cepat, merobeknya dan memberikannya pada ku.

"Mohon ceraikan aku?" Tanya ku saat membaca kertas itu.

"Ini.. Apa maksud mu, Luhan?" Sambil mengarahkan kertas itu di hadapannya. Sedangkan Baekhyun menatap Luhan bingung. Luhan segera menulis lagi. Dan merobeknya lalu memberikannya pada ku.

"Maafkan aku telah menjadi beban mu selama ini?" Aku meremas kertas itu. dan melemparnya kelantai.

"Jangan konyol Luhan! Apa kau bunuh diri karena kau merasa membebani ku?" Aku mencengkram bahunya. Dan Luhan hendak menulis lagi tapi aku segera mengambil buku itu dari tangannya dan melemparnya ke lantai.

"Tatap aku Luhan, TATAP AKU!" Bentak ku, tapi Luhan tidak mau menatap ku dan meronta agar aku melepaskan cengkraman ku.

"Mengapa kau lakukan ini,Luhan? Katakanlah pada ku, apa yang kau inginkan? Aku akan lakukan apapun agar…"

Luhan mendorong ku keras. Dia menatap ku sambil menangis.

'Aku ini bisu, aku lumpuh, aku cacat, bahkan aku tidak bisa memberi mu anak, aku mana mungkin menjadi istri mu, aku hanya membebani mu dengan semua kekurangan ku, aku ini tidak berguna, orang seperti ku seharusnya mati saja' Luhan menggerakkan tangannya dengan sangat cepat tapi aku bisa membaca gerakan itu. Dan aku sangat terkejut dengan perkataannya.

"Aku tidak pernah menganggap mu beban, aku menikah dengan mu bukan karena menginginkan anak, aku menikahi mu karena aku mencintai mu, aku ingin berada di samping mu tidak perduli kau bisu, kau tidak bisa berjalan, kau tidak bisa memberi ku anak, aku hanya menginginkan mu Xi Luhan"

'Jangan bohong, jangan munafik, kau sendiri yang mengatakan bahwa sebuah keluarga akan lebih lengkap kebahagiaannya bila ada anak di antaranya, dan selama aku dalam keadaan kondisi seperti ini kita tidak akan hidup bahagia, aku sangat menderita melihat mu yang bersikap begitu baik pada ku, aku tidak tahan' Luhan pun menekap wajahnya menangis keras.

Apa? Apakah dia mendengar pembicaraan ku dengan sekretaris ku? Dan ternyata selama ini sikap peduli ku padanya justru telah membuatnya menderita?.

"Sepertinya apa yang aku lakukan, aku katakan dimata mu semuanya hanya membuatnya jadi serba salah" Ucap ku.

Aku lelah, kalau seperti ini aku pun akhirnya merasa lelah. Lelah karena apa yang ku lakukan untuknya tidak ada gunanya. Bahkan dia memilih untuk mati setelah apa yang sudah aku lakukan, demi dirinya aku siap berkorban banyak. Tapi dia lebih memilih menghabisi nyawanya sendiri karena dia pikir apa yang aku lakukan untuknya adalah beban. Aku kecewa. Aku sedih.

"Padahal aku melakukan semua ini agar kau bahagia, hanya ingin kau tersenyum pada ku, tapi bahkan kau sudah tidak pernah tersenyum lagi pada ku, dan sekarang kau lebih memilih mati daripada sekedar tersenyum pada ku, padahal aku rela mengorbankan apapun agar kau hidup bahagia, kenapa kau malah melakukan sesuatu yang…, " Kata-kata ku tercekat aku terdiam sejenak lalu menatapnya "Mengorbankan nyawa mu untuk membuat ku menderita Luhan"

Luhan menengadah menatap ku. Aku berpaling dan meninggalkan kamar.

.

.
.

~ Aku berusaha sebaik mungkin

Aku memperbaiki hal-hal yang rusak

Memperbaiki sayap mu yang patah

Dan membuat semuanya baik kembali ~

Tapi sesuatu yang hanya di perbaiki, hanya di tambal tidak akan pernah kembali seutuhnya dan baik seperti semula. Tetap saja ada luka di hatinya, di tubuhnya, di jiwanya yang tidak bisa aku sembuhkan bahkan dengan cinta sekalipun.

***Pov Luhan***

"Padahal aku melakukan semua ini agar kau bahagia, hanya ingin kau tersenyum pada ku, tapi bahkan kau sudah tidak pernah tersenyum lagi pada ku, dan sekarang kau memilih mati daripada sekedar tersenyum pada ku barang sedikit saja, padahal aku rela mengorbankan apapun agar kau hidup bahagia, kenapa kau malah melakukan sesuatu, mengorbankan nyawa mu untuk membuat ku menderita Luhan?"

Aku menengadah saat mendengar ucapannya. Dia menatap ku dengan tatapan bahwa aku sudah begitu menyakiti hatinya dan mengecewakannya. Dan berpaling ke arah pintu. Dan pergi meninggalkan kamar. Aku terdiam memandang pintu yang tertutup itu.

"Luhan kau keterlaluan" Aku berpaling ke arah suara itu dan tersadar bahwa sedari tadi Baekhyun ada di sana menyimak apa yang terjadi antara aku dan Sehun.

"Sehun sering mencurahkan hatinya pada ku, dia begitu menderita tapi bukan karena dia mengurus mu, Sehun begitu senang dan merasa tidak keberatan untuk melakukan semua itu, sejak kau koma Sehun sudah memantapkan hatinya bahkan menanggung segala resikonya. Tapi kau malah tidak pernah tersenyum lagi padanya, dia menderita karena segala cara yang dia lakukan tidak bisa membuat mu bahagia, kau tidak seperti Luhan yang dulu lagi"

Baekhyun menyentuh dan mengusap air mata di pipi ku.

"Kalau kau pikir kau adalah beban, asal kau tahu saja, bila saat itu kau koma hingga bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, Sehun akan tetap bersama mu, merawat mu, dia tidak akan meninggalkan mu apa pun yang terjadi. Dia merawat mu sepenuh hati hingga akhirnya kau sadar. Saat itu dia bahagia sekali. Dia hanya ingin hidup bersama mu, aku selalu bertanya dalam hati apa yang akan terjadi bila saat itu kau mati? Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Dan kau, setelah apa yang telah Sehun lakukan untuk mu, kau malah lebih memilih bunuh diri? Kau kejam Luhan, kau egois"

Baekhyun menekap pipi ku. Dan mendekatkan wajahnya pada ku.

"Kau bisu, kau tidak bisa berjalan, kau tidak bisa memberinya anak, tapi kau hidup, kau bisa hidup untuknya, kau bisa tersenyum untuknya, dan selalu berada di sampingnya, itulah kebahagiaan Sehun. Kebahagiaannya adalah kau Luhan. Jadi kalau kau mati, Sehun akan hancur" Baekhyun menatap ku dalam-dalam. Kata-katanya menusuk-nusuk hati ku. Meyakinkan ku. Dan yang dia katakan itu benar adanya.

Aku bodoh. Aku memang sangat bodoh, apa yang telah ku lakukan? Padahal Sehun melakukan apapun agar aku bahagia tapi apa yang ku lakukan untuknya? Aku malah memperlihatkan bahwa aku tidak bahagia bersamanya, bahkan aku lebih memilih mati daripada melakukan sesuatu agar Sehun bahagia. Ternyata aku begitu jahat.

'Aku ingin bertemu Sehun' Isak ku pada Baekhyun dengan bahasa isyarat ku. Dan Baekhyun tersenyum pada ku.

.

.
.

~ Hidup membawa perubahan tak terduga

Tetapi kita harus terus berjuang

Apakah kita akan mencoba?

Apakah kita akan membuat perubahan?

Bila tidak mencobanya kita tidak akan tahu ~

.

Ternyata Sehun tidak ada di rumahnya, maupun di kantornya. Dan kami tidak bisa menghubungi Sehun sama sekali. Handphonenya sepertinya di matikan dengan sengaja. Dalam perjalanan, di dalam mobil, aku menggenggam handphone ku dan berharap Sehun mengaktifkan handphonenya.

"Aaah Si bocah albino itu kemana sih?" Pekik Baekhyun jengah.

Aku hanya diam, aku sendiri tidak punya bayangan dimana Sehun berada. Hingga kami melewati sebuah taman. Taman tempat pertama kali kami bertemu. Dan saat itu ku lihat sosoknya.

Aku menarik-narik lengan Baekhyun, dan menunjuk-nunjuk taman itu, dan sepertinya Baekhyun juga melihat sosok Sehun. Kami pun segera memakirkan Mobil. Baekhyun menyiapkan Kursi roda ku di luar dan membopong ku di dalam mobil dan mendudukan ku di kursi roda.

Hari itu adalah hari minggu, suasana di taman itu ramai bukan main karena ada acara festival yang di selenggarakan di taman itu. Membuat ku dan Baekhyun susah payah untuk menerobos kerumunan orang banyak dan menuju tempat Sehun. Baekhyun pun dengan sekuat tenaga menerobos kerumunan orang-orang dengan menjadikan kursi roda ku sebagai tameng. Hingga akhirnya kami hampir mendekati Sehun.

"Sehun!" Teriak Baekhyun. Tapi sepertinya Sehun tidak mendengarnya. Dia hanya terduduk diam di bangku taman itu. Menatap kosong kerumunan manusia yang beralu-lalang dihadapannya.

Aku pun ingin memanggilnya, berlari ke arahnya, memeluknya. Tapi mulut ini, tubuh ini diam tidak bisa bergerak.

Kemudian Sehun beranjak berdiri, dan melangkah ke arah yang berlawanan.

" Gawaattt" Seru Baekhyun dan semakin ganas menerobos kerumunan di taman itu. "MINGGIR!" Teriak Baekhyun.

Sedangkan aku berusaha keras membuka mulut ku, memanggil namanya. Akhirnya Baekhyun berhasil menerobos kerumunan dan terus mengejar Sehun sambil mendorong kursi roda ku dengan cepat.

"Sehun!" Teriak Baekhyun. Tapi Sehun terus melangkah.

Sehun. Sehun. Sehun. Sehun. Aku terus memanggil namanya dalam hati.

Kemudian sebuah arak-arakan dari arah kanan Sehun akan melewati Sehun dan Sehun pun melihatnya dan dengan segera melangkah cepat agar langkahnya tidak terpotong arak-arakan tersebut.

"Gawat, kalau begini tidak akan terkejar, kita tidak bisa menerobos arak-arakan itu dengan mudah"

Saat itu Sehun berada di tengah-tengah perempatan jalan taman. Kalau dia berhasil menyebrangi dan arak-arakan itu lewat, aku tidak bisa mengejarnya.

"Se…"

Aku Mohon Tuhan, berikan aku kekuatan, berikanlah aku suara mu.

"Se… SEHUN!" Teriak ku sekeras mungkin, membuat semua orang yang ada di sekitar ku bahkan dia. Sehun. Berpaling dan menatap ku.

"Luhan kau, kau" Baekhyun terkejut menatap ku. Sedangkan pandangan ku lurus ke depan, memandang Sehun yang berlari ke arah ku dengan tatapan shock. Tiba-tiba sebuah arak-arakan itu muncul dan kepala patung yang bertengger di samping kendaraan yang melewati Sehun tidak sengaja menyenggol Sehun, membuat Sehun terdorong dan terjatuh ke samping.

Karena panik dan khawatir melihat Sehun yang terjatuh, tanpa sadar aku pun beranjak dari kursi roda ku. Tapi hanya beberapa langkah aku lalu terjatuh, membuat Sehun yang terkaget-kaget melihat ku tiba-tiba berjalan, segera bangkit dan berlari ke arah ku.

"Luhan" Panggilnya, sambil merangkul meraih lengan ku.

"Se.. Sehun" Ucap ku terbata-bata.

"Luhan kau bicara" Seru Sehun sambil menekap wajah ku dan menangis. Tapi dia menangis sambil tertawa bahagia.

"Se.. Sehun, ma.. maafkan aku" Aku merengkuh kemejanya sambil menangis, membenamkan kepala ku di dadanya "Maafkan aku"

"Luhan" Sehun memeluk ku dengan erat.

"Sehun" Aku sepertinya mulai lancar menyebut namanya. Nama yang selalu tertanam di dalam hati ku. Salah satu kata yang sangat ingin aku ucapkan di banding apapun juga. Aku ingin sekali memanggil namanya dengan suara ku.

"Yah" Guman Sehun.

Aku mendorong pelan dan menengadah menatapnya. Menekap wajahnya. Dan dengan segenap perasaan ku. Aku akan memberikan apa yang paling membahagiakan Sehun.

Aku tersenyum, sebuah senyuman yang paling lebar dan tulus untuknya. Sehun menekap mulutnya dengan salah satu tangannya dan air mata lagi-lagi mengalir deras ke pipinya.

Mulai sekarang aku akan memberikan apa yang paling membahagiakan Sehun. Yaitu, kebahagiaan ku. Aku akan hidup bahagia untuk mu, tersenyum untuk mu dan selalu berada di samping mu selamanya.

.

.
.

~ Kita tidak bisa mengendalikan dunia

Tidak bisa memilih ingin hidup seperti apa dan sebahagia apa

Karena ada yang lebih berkuasa yang mengendalikan kehidupan

Jadi kenapa tidak kita coba untuk mengendalikan diri kita

Untuk membuat lebih banyak wajah tersenyum

Karena ternyata ada seseorang yang begitu bahagia di dunia ini hanya karena sebuah senyuman~

.

"Ssehunh.." Desah ku.

Desahan pertama kali selama hidup ku sambil memanggil namanya. Dan berlanjut seterusnya, selama kami bercinta, setiap desahan, erangan, aku terus menyebut namanya.

"Sseehhuhnhh.. Ah.. Sehunh" Erang ku.

Sehun menatap ku mencium lembut bibir ku. Kemudian mengecup leher ku dan aku merangkulnya dengan erat saat dia dengan cepat menerobos ku kembali.

"Aah, uunhh, Ssehhunh"

Sehun mencium ku lagi membungkam erangan ku dengan ciumannya "Luhan, aku mencintai mu" Bisiknya di sela-sela ciuman kami.

Beberapa menit kemudian Sehun menjerit tertahan dan di susul oleh ku beberapa detik kemudian. Sehun tidak segera menjatuhkan tubuhnya dia hanya terus memandang ku, dapat ku rasakan napas hangat di wajah ku. Napas ku dan napasnya bertukar di udara antara mulut kami yang hanya berjarak beberapa inci.

"Luhan, aku sangat bahagia, hari ini aku benar-benar bahagia"

Aku meraih wajahnya, menariknya "Sehun" Aku mengecup bibirnya singkat lalu melepasnya "A..aku ju..ga me..men..cintai..mu" Ucap ku pelan sambil tersenyum padanya.

Akhirnya aku bisa mengatakan kata-kata itu padanya walau masih terbata-bata. Sehun menatap ku dengan lembut dan membalas tersenyum pada ku. kemudian mencium leher ku, pipi ku, mata ku, menatap ku sesaat lalu mencium bibir ku. Melumatnya. Dan bergumul kembali.

10 tahun kemudian…

Pov Sehun

Aku segera turun dari mobil ku tanpa menunggu supir ku membukakannya. Aku segera berlari ke dalam rumah. Sambil sesekali menghindari beberapa anak kucing yang berkeliaran dan berlari-lari di sekitar rumah. Mereka adalah cicit-cicit dari kucing pertama kami Chuncu dan Red yang sudah mati beberapa tahun yang lalu, pertama chuncu kemudian di susul setahun kemudian oleh Red, keduanya mati karena sudah tua.

"Dimana istri ku?" Tanya ku pada kepala pelayan Jung.

"Dia ada di taman belakang, Tuan Oh" Jawabnya sambil membungkuk pada ku.

"Bagaimana persiapannya?" Tanya ku lagi.

"Semua sudah kami persiapkan, undangan juga sudah kami sebarkan untuk beberapa keluarga dan teman dekat anda Tuan Oh" Jelas kepala pelayan Jung.

"Baiklah, terima kasih, maaf sudah merepotkan mu"

"Ini sudah kewajiban saya Tuan Oh, anda tidak perlu sampai berterima kasih"

Aku menepuk-nepuk bahunya " Anda pantas mendapatkannya kepala pelayan Jung" Aku tersenyum padanya dan beranjak pergi hendak menemui Luhan.

"Ah! Tuan Oh" Aku menghentikan langkah ku dan berpaling pada kepala pelayan Jung yang memanggil ku.

"Yah?"Tanya ku singkat.

"Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 12, Tuan Oh" Dia tersenyum dan membungkuk lagi pada ku.

"Terima kasih" Balas ku tersenyum tulus.

Aku pun segera berlari. Meneruskan mencari dan menemui Luhan.

Yah hari ini adalah hari pernikahan kami yang ke 12, dan aku berniat merayakannya. Dan mengundang beberapa keluarga dan teman dekat ku. Sebuah perayaan kecil. Karena aku dan Luhan tidak pernah merayakannya bersama orang lain, biasanya kami hanya merayakan berdua.

Aku berlari ke taman belakang, menerobos kebun mawar dan melewati jembatan kecil yang di bawahnya terdapat sebuah sungai kecil buatan yang airnya mengalir pelan menuju kolam ikan besar di bagian utara sebelah rumah ini. Dan akhirnya aku pun tiba di sebuah lapangan rumput nan luas di kelilingin rerumputan yang memiliki bunga warna-warni yang menghiasi lapangan rumput ini seperti permadani alam yang indah. di sanalah aku melihat Luhan sedang terbaring di bawah pohon, satu-satunya pohon di lahan rumput ini.

Selama sepuluh tahun ini kami mengalami banyak rintangan tapi aku dan Luhan berusaha untuk menghadapinya, bahkan Luhan berusaha keras untuk bisa berbicara lancar, dan menjadikannya sangat cerewet dan juga mulai sering belajar berjalan. Hingga akhirnya dia pun bisa berjalan kembali Sembilan tahun yang lalu karena usaha kerasnya.

Aku melihatnya yang tertidur. Aku pun ikut berbaring di sampingnya di antara kedua makam kecil kucing kesayangan kami berdua. Luhan selalu datang kesini setiap kali dia merasa rindu pada kedua kucing pertamanya itu. Aku mengelus kepalanya. Membuatnya terkesiap membuka matanya perlahan menatap ku.

"Aku pulang" Sapa ku. Saat dia menatap ku.

Dia hanya tersenyum pada ku.

"Aku merindukan mereka" Bisiknya.

"Aku juga"Sahut ku.

"Yeobo" Panggil ku.

"Yah" Gumamnya.

Aku memberikannya sebuah kado padanya. dia pun beranjak duduk. "Apa ini?"

"Hadiah pernikahan kita"

"Eh? Pernikahan? Ah maafkan aku, aku lupa, ah bagaimana ini, aku tidak memberi mu apa-apa" Seru Luhan panik.

Itulah Luhan, ketika semua orang sibuk hendak merayakan pesta entah itu pesta ulang tahun, pesta kesuksesan perusahaan ku atau pesta lainnya, dia malah sibuk dengan dunianya sendiri. Dia lebih memilih berdiam di ruangan tempat anak-anak kucing dari chuncu dan Red berada. Dan bermain bersama mereka. Kami memutuskan untuk tidak memiliki anak dan memelihara semua kucing-kucing tersebut seperti anak kami. Dan aku memutuskan bila aku mati setelah Luhan, semua harta ini akan aku wariskan pada anak keluarga paman ku dan anak Baekhyun. Yah, Baekhyun dan Chanyeol memutuskan mengadopsi seorang anak perempuan, oh iya mereka juga telah menikah dan memutuskan untuk tinggal di luar negeri, karena pekerjaan Chanyeol. Karena itulah Luhan sedikit merasa kesepian dan kehilangan seorang teman, walau mereka sering berhubungan lewat telepon. Tapi bila aku mati terlebih dahulu, harta ini ku serahkan semuanya pada Luhan, dan terserah Luhan ingin menggunakan harta ku untuk apa.

"Sudahlah, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, buka sajalah"

Luhan pun segera membukanya. Dan sebuah kotak merah cerah ada di dalam bungkusan itu, Luhan segera membukanya. Dan sebuah liontin perak berbentuk persegi, terdapat di dalam kotak merah tersebut. sejak kejadian waktu itu, Luhan tidak pernah memakai liontin pemberian orangtuanya. Aku tidak tahu kenapa tapi aku tidak akan bertanya. Ku lihat ekspresinya yang senang saat dia membuka liontin itu.

"Wah indah sekali, semua orang-orang yang ku sayangi ada di dalamnya" Saat dia membuka lembaran-lembaran plastik mini yang terdapat di dalam liontin tersebut. dimana liontin itu tidak sengaja aku temukan di pasar barang antik dan ternyata liontin itu berupa super mini foto album.

"Terima kasih" Ucapnya tersenyum senang pada ku.

Aku mengelus pipinya lembut.

"Selamat ulang tahun pernikahan" Ucap ku.

Dalam hati aku berdoa. Semoga kami bisa hidup bahagia bersama selama mungkin hingga kami menjadi kakek-kakek nanti.

~ Di dunia masa depan

Kita semua suatu hari akan hidup dalam kebahagiaan

Dengan hati yang penuh dengan suka cita

Kami akan mengatakan pada dunia esok, tanpa rasa takut

Rasa kebersamaan ada

Karena aku akan selalu berada di sisi mu

Sebab kita semua hidup di dunia untuk masa depan

Sebuah dunia yang penuh cinta

Masa-masa kita yang sangat mulia

Kau berkata ingin tinggal bersama ku

Untuk dunia di masa depan

Saat itu kau akan berkata kau bersyukur kau hidup di dunia

Dan kau akan tahu mengapa ~

Karena itu tersenyumlah untuk masa depan agar hidup kita lebih baik.

~The End~

OKEYYYY! Ini Sequel/Epilogue nyaaaaaa...(?)
Maaf, karena Hanna telat pke bget updatenya ada beberapa alasan kenapa lama update. Hanna di suruh eomma buat periksa darah dan mengejutkan hanna punya penyakit yang jika di biarkan itu bisa fatal. Hanna istirahat di rumah jarang megang hp ap ge buka fb. Trus setelah sembuh baru hanna aktif ge di sosmed dan nerusin eneh.. Kekekee

Banyak yg salah paham tentang treaser chap kmaren nee.. Mungkin ini kesalahan Hanna yg dari awal gak ngasih tau ini shounen-ai,Yaoi full jdi gak ada Mpreg saey.. Jdi Luhan gak bisa hamil di sini :)
Hanna bisa az bkin Luhan hamil di sini tetapi Hanna takut merusak cerita yang telah ada. Jadi maaf sekali jika ini mengecewakan readers sekalian.

Karena Hanna buru2 ngetik ini.. Jadi maaf sekali lagi hanna gak bisa bales review kalian satu2.. Tapi tenang review kalian udah Hanna baca kok.. ^^

BIG THANKS:
Kolor Jongin | ramyoon | luhannieka | younlaycious88 | ruixi1 | psw7 | SFA30 | deerlaxy | mpiet lee | PlayerJEJ | JoKykio | delphiaa elf | sehunhan | tetsuya kurosaki | sukhyu | princess hangul | IndahOliedLee | Nurfadillah | kiutemy | junia angel 58 | Guest | kimura shiba | Chie Atsuko | Silver Orange | deerhunnie99 | rikha-chan | Uchiharuno Rozu | HUNsayHAN | arvita kim | Luhan Oh | Widiyasari | Guest2 | Guest3 | viiyoung | luwinaa | Guest4 | KikyKikuk | egatoti | niaexolu | Oh Sera Land | bulubilu |

Hanna sangaaattt berterima kasih... Maaf jika ada yang gak ke sebut. Tapi semoga kalian puas ma ini ff hahhahaaa

Hmmm... Oh iya... Hanna lagi progress ff baru oneshoot Yaoi,tpi masih setengahnya.. Dan Yaoi Chap udah ada chap 1 tpi belum kelar editing kekekeee

Oke... Untuk Epilogue ini... Dapat review? #Puppyeyes