Sasuke POV

Aku berjalan melewati lorong-lorong asrama yang penuh dengan anak laki-laki yang sedang bercanda ria. Kuabaikan beberapa orang yang menyapaku. Mereka benar-benar mengesalkan. Tidak lihat apa kalau orang lagi kesal.

Kulangkahkan kakiku ke tempat favoritku jika sedang ingin menyepi. Ini adalah tempat rahasia yang kutemukan saat hari pertama aku masuk ke sekolah ini.

Sebenarnya tempat ini tak bisa dibilang rahasia juga sih, semua penghuni asrama tahu tempat ini. Hanya saja mereka enggan untuk menyinggahinya karena gosip tak berdasar yang mengatakan tempat ini angker.

Menurut legenda sekolah, dulu di tempat itu ada seorang gadis yang bunuh diri karena cintanya tak dibalas dan sampai sekarang arwah gadis itu masih terus menghantui tempat itu.

Lucu.

Sekolah ini kan sekolah putra, semua isinya mulai dari kepala sekolah, guru, murid sampai petugas pembersihannya memiliki jenis kelamin yang sama, dan ini adalah tempat yang benar-benar 'terlarang' bagi perempuan.

Alasannya tak jelas.

Menurut gosip, dulu kepala sekolah kami, Orochimaru-sama pernah sakit hati karena ditolak oleh gadis yang disukainya sampai-sampai dia bersumpah akan membuat sekolah yang tak ada perempuan di dalamnya. Dari sumpahnya itulah lahir sekolah ini, Konoha Gakuen.

Aku berjalan ke taman belakang asrama yang benar-benar tak terawat sampai-sampai membuatku mengernyitkan dahi.

Tempat ini benar-benar berbeda dengan taman depan asrama yang indah dan tertata rapi. Tempat ini benar-benar berantakan. Pohon-pohon besar yang tak terawat, semak-semak yang dibiarkan tumbuh liar dan danau buatan yang sebenarnya indah hanya saja di permukaannya banyak ditemukan sampah organik yang mulai membusuk.

Namun tetap saja, tempat ini indah di mataku.

Aku berbaring di rerumputan di tepian danau dan memejamkan mataku, pikiranku melayang ke saat-saat dulu...

MEONG! Seekor kucing dengan bulu berwarna orange berjalan ke arahku dengan ekor bergoyang pada setiap langkahnya. Tubuhnya yang gempal membuat semua orang yang melihatnya menjadi gemas ingin memeluk kucing itu.

"Ternyata kau ya," kataku sambil mengangkat kucing itu dan mendekapnya di dadaku. Kubiarkan saja kucing itu menjilati leherku membuat pikiranku kembali melayang.

'Yah tempat ini memang sangat berantakan.' Pikirku 'Namun di sinilah aku pertama kali aku jatuh cinta dengannya.'

"Ini tempat yang indah." Gumamku entah pada siapa.

...so love with two...

Naruto POV

"AKH!" teriak Kiba frustasi, "Kau akan menginap di sini lagi?!" tanyanyadengan setengah menjerit padaku yang saat ini sedang duduk di ranjangnya sambil memeluk bantal orange kesayanganku.

"Please, Kiba." Kataku memelas sambil membulatkan kedua mataku memohon.

"Tidak." Jawab cowok itu keras kepala, sambil melipat kedua tangannya di dada dan mengalihkan pandangannya dariku. "Kau ingin membuat koper di bawah mataku jadi sebesar apa hah?"

Aku memanyunkan bibirku.

"Dia akan tidur seranjang denganku." Shikamaru menengahi sambil memberikan sebuah penutup telinga pada Kiba. "Kau pakai ini, setidaknya itu akan membuatmu tak mendengar suara Naruto."

Kiba menerima benda itu sambil mengernyitkan alisnya. Dari ekspresi mukanya aku bisa menebak kalau dalam hati dia berkata. 'Aku harus pakai benda ini di musim panas?! Kau pasti sudah gila!'. Namun dia tak mengatakan apapun dan hanya menatap Shikamaru meminta penjelasan.

"Naruto harus menginap malam ini." Dia berkata. "Namun dia tak bisa menceritakan alasannya pada kalian."

Aku menatap Shikamaru dengan pandangan berterima kasih. Aku ingin memeluknya lagi dan berkata 'Aku sayang Shikamaru!' namun maaf saja ya, aku tak mau dikira homo lagi. Walau mungkin kenyataannya aku ungkin memang homo, entahlah.

"Namun kau sudah tahu alasannya kan?" timpal Choji masih sambil mengunyah keripik kesukaannya.

"Ya."

"Jika sudah tahu kenapa kau tak ceitakan saja pada kami?!" protes Kiba sambil menarik kerah Shikamaru sampai membuat cowok itu sedikit terangkat karena saat ini posisi Shikamaru memang sedang duduk di kasurnya. "Kau mau membuat rahasia yang hanya diketahui kalian berdua saja kan?! Kau ingin menyembunyikan sesuatu dariku?!" teriaknya marah.

"Kau cemburu." Timpal Shikamaru tenang.

Kiba melepas cengkramannya pada kerah Shikamaru. "Brengsek! Sialan kau!" katanya sambil memukul dinding kamar itu. "Jangan permainkan aku, Shika!"

"Soalnya kau manis sih." Katanya sambil menarik lengan Kiba sehingga membuat pria itu menunduk ke arahnya lau...

Menciumnya!

Ya Tuhan!

Aku melongo, dengan wajah seperti orang linglung aku berdiri dan berjalan ke pintu kamar tiga orang itu. "Aku harus menenangkan diri sebentar." Pamitku tak jelas sambil terhuyung-huyung keluar kamar itu.

Kubiarkan kakiku berjalan sesuka hatinya ke arah yang dia inginkan sementara pikiranku mengembara jauh dari tubuhku.

Oh Tuhan, ternyata Shikamaru dan Kiba... mereka... oh, Tuhan...

Yah, aku memang tahu kalau mereka sangat akrab. Kupikir itu karena mereka memang sudah berteman sejak kecil, bertiga dengan Choji. Aku sama sekali tak pernah mengira kalau ternyata selama ini hubungan mereka seperti itu. Maksudku, aku memang tahu kalau hampir dua pertiga murid KG (Konoha Gakuen) memang menyimpang, dan aku juga tahu ada beberapa pasangan yang memang melakukan hubungan seperti itu tapi jika itu terjadi pada teman baikmu sendiri rasanya... rasanya WOW, begitulah.

Anehnya aku sama sekali tak merasa ada yang salah dengan hubungan itu. Rasanya begitu... natural? Seakan aku paham pada pilihan semacam itu.

Yah, saat kau tak punya akses untuk bertemu lawan jenis, kau juga pasti akan mulai mencari dan menerima keadaan yang ada di sekitarmu kan? Walau mungkin dengan cara mencari kepuasan dengan sesama jenis.

Kurasa aku bisa menerimanya.

'Lalu bagaimana denganmu?' kudengar hati kecilku mengejek. 'Kau juga akan menerima dirimu yang jatuh cinta pada Sasuke atau malah memungkirinya?'

"Aku tidak jatuh cinta pada Teme." Jawabku.

'Kalau begitu kenapa kau masih terus memikirkan ciumannya sampai saat ini? Dan kenapa kau terus-terusan melirik dan merona pada dia saat pelajaran tadi.' Kembali hati kecilku berkata dengan nada sinis yang membuatku kesal.

"Aku... tak tahu."

Tiba-tiba saja aku sudah berada di sebuah taman yang sangat tak terawat yang kukenali sebagai taman belakang asrama. Jangan tanya kenapa tiba-tiba aku sudah ada di sini. Mungkin aku melamun, atau aku ditransport alien ke sini. Hahaha bercanda.

Kutatap air di danau buatan yang memantulkan cahaya bulan purnama yang bersinar terang di langit. Udara terasa dingin namun juga nyaman seakan ini bukan malam musim panas namun malam musim semi. Ya... rasanya aku mengingat perasaan ini...

Dulu...

...so love with two...

FLASH BACK ( Normal POV)

"UAAAAAA!" teriak seorang pemuda manis berambut honeyblond di tepi sebuah danau buatan dengan frustasi. "Aku benar-benar sial masuk ke sini. Sudah isinya cowok semua, aneh-aneh lagi. Dapat temen sekamarpun prangnya super dingin! Sial! Sial! Sial!" gerutunya dengan suara keras.

Tersebutlah, pemuda bernama Uzumaki Naruto itu sedang mengasihani dirinya sendiri yang tak bisa membaur di sekolah barunya itu. Dia menggelembungkan pipinya kesal. "Ah... harusnya aku masuk ke SMA dekat rumah saja..." dia kembali berandai-andai.

MEONG!

Ia tersentak kaget saat mendengar suara seekor kucing yang tak jauh dari tempatnya. Dia langsung menoleh kesana kemari mencari sosok kucing yang mengeong tadi, maklumlah... pemuda ini memang sangat menyukai kucing karena sejak kecil tetangganya punya anak kucing yang manis sekali. Atau mungkin karena tiga garis di pipi tannya yang membuat pemuda itu tampak seperti kucing juga.

MEONG! MEONG!

Kembali dia mendengar suara kucing itu, namun kali ini lebih keras. Arahnya dari balik semak-semak di sebelah kanan pemuda itu.

Naruto merangkak memcoba menerobos semak-semak itu dan betapa kagetnya dia begitu melihat pemandangan yang tersaji di depannya.

Teman sekamarnya yang berambut raven dengan tubuh atletis berkulit pucat itu, yang terkenal sombong, dingin, menyebalkan, arogan dan sinis tengah berbaring di rerumputan sambil mendekap seekor kucing di dadanya.

Konstan Naruto melongo.

"Ini pasti mimpi." Gumamnya pada diri sendiri.

Sementara itu pemuda raven yang tengah berbaring itu mengangkat kucing orange di pelukannya ke arah wajah dan mencium bulu-bulu di puncak kepala si kucing. Sebuah senyum terkembang di wajahnya.

Senyum yang sangat lembut yang tak dia tunjukkan pada siapapun.

"Kau berhenti mengintip di sana!" katanya dengan nada dingin sambil melirik sedikit pada sesemakan tempat Naruto bersembunyi untuk mengintipnya.

Pemuda blonde itu melongo, 'bagaimana mungkin aku bisa ketahuan?!' teriaknya dalam hati. Namun dia akhirnya berdiri dan menerobos sesemakan itu secara terang-terangan. 'Yah, sudahlah. Toh sudah ketahuan.' Pikirnya sambil berjalan mendekati teman sekamarnya itu.

"Itu kucingngmu?' tanyanya.

"Bukan ini kucing asrama." Jawab pemuda raven itu dingin.

Naruto ber-oh ria. Lalu dia memutuskan untuk duduk di samping pemuda yang tengah berbaring itu dan ikut membelai kucing orange yang masih dipeluk oleh si raven. "Kau tahu siapa namanya?"

"Menma. Namanya Menma."

"Menma? Nama yang aneh untuk seekor kucing?" gumam Naruto untuk dirinya sendiri. "Hei... e... kamu..."

"Namaku Sasuke Uchiha." Pemuda itu memperkenalkan dirinya begitu menyadari bahwa Naruto kebingungan memanggilnya apa.

"Oh, kalau namaku..."

"Uzumaki Naruto."

Naruto mengernyit saat pemuda itu mengetahui namanya. "Kok kamu bisa tahu namaku sih?" tanyanya dengan nada bingung.

"Kita sekelas." Jawab Sasuke singkat.

"Oh, maaf." Naruto merasa bersalah saat sadar kalau ternyata cowok itu sekelas dengan dirinya namun dia tak tahu nama pemuda itu. "Aku kurang pandai menghafal nama orang sih."

"Hn."

Naruto mengambil kesimpulan kalau pemuda disampingnya ini sebenarnya bukannya dingin. Dia hanya kurang suka bicara dan mungkin juga pemalu. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Naruto.

"Sama seperti yang kau lakukan."

"Memangnya kau tahu apa yang kulakukan?" protes Naruto mendengar jawaban Sasuke.

"Aku dengar teriakanmu tadi."

Wajah Naruto memerah. 'Harusnya aku tidak berteriak-teriak tadi!' sesalnya dalam hati. "Memangnya kau tidak bisa bergaul dengan baik ya? Eh... tapi mungkin juga sih. Soalnya kan orang pendiam seperti kamu kan memang sering jadi sasaran salah paham dari orang lain kan?" tanya Naruto cerewet.

"Hn."

"Kau suka kucing ya?" tanya Naruto meruah pembicaraan. Cowok di sebelahnya hanya mengangguk membenarkan. "Wah, sama dong. Aku juga sangat suka kucing soalnya tetanggaku... bla bla bla." Oceh Naruto mulai menyukai teman sekamarnya yang pendiam ini. Yah orang cerewet kan memang suka orang pendiam kan? Tapi bukan Cuma itu, Naruto merasa dia bisa berteman baik dengan seorang Uchiha Sasuke ini.

Di sisi lain Sang Uchiha bungsu hanya tersenyum tipis. Ini pertama kali baginya ada orang yang tak kaget atau mengomentari nama belakangnya saat berkenalan. Malah dia sempat dilupakan (Dasar Naruto!). Habis dia memang pewaris sebuah perusahaan internasional raksasa kan? Pipinya sedikit memerah saat mendengarkan cowok tan itu bicara. 'Dia manis.' Pikirnya.

FLASH BACK END ( Normal POV)

...so love with two...

Normal POV

Meong!

Naruto tersentak dari lamunan masa lalunya saat mendengar suara seekor kucing. 'Wah... rasanya mirip!'

Dia menoleh ke kanan kiri mencari asal suara kucing itu. "Menma! Pus!" panggilnya pada sang kucing.

MEONG! MEONG! Seakan menjawab panggilan Naruto, kucing itu mengeong lebih keras. Naruto merangkak menembus sesemakan untuk menemukan kucing asrama berbulu orange itu. 'Sekarang benar-benar mirip!' teriaknya dalam hati kegirangan, namun tiba-tiba sebuah pikiran buruk menghantuinya. 'Tapi... keluar dari sini-pun tak akan ada Sasuke di sana.'

Dia keluar sesemakan itu, dia melihat pemandangan yang sama dengan yang dulu pernah dia lihat sebelumnya. Pemuda raven yang tengahberbaring, menggendong seekor kucing di dadanya.

"Sa... Sasuke?" panggilnya tak percaya.

... Chap 9 End...

Rasanya... kaya habis nguras isi otak. Saya kehabisan IDE!

Bukan! Tepatnya saya kebanyakan ide sampe-sampe bingung mau pake yang mana. Hahahaha...

Daripada Author curhat mending kita balas reviewnya

devilojoshi : lebih HOT? (Author mimisan bacanya.) huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... author belum pernah ciuman di bibir nih... (Kalau pipi, kening, puncak kepala sama tangan sih pernah. Jadi belum tahu rasanya... hiks-hiks yah nanti deh author bayangin yang lebih hot, tapi kalau author belum mati karena kebanyakan mimisan ya hahaha.

NiMin Shippers: iya juga sih. Author juga sebenarnya pingin coba buat FF yang ratenya M setelah FF ini selesai tapi itupun kalau Author bisa menguatkan hati ya... Akhir ceritanya hampir lho, tinggal tunggu aja sekitar 6 chapter lagi (Itu mah masih lama ya?)

nasusay: eh cepat ya? Author sih mikirnya lama update lho... hahaha. Naru nggak Straight kok, Cuma belum sadar kalau dia G**. Di Chapter selanjutnya Sai bakal lebih menggoda Naru lho sampai-sampai... yah baca aja deh lanjutannya. Dan... MAKASSIIIIHHHHHHHHHHH BANYAKKKKKK! Aku terharu lho atas pujiannya. Hiks hiks hiks.

NamikazeNoah: bukannya memilih. Itu pengorbanan namanya. (Author cemburu sama naru nih hahaha). Kenapa Fugaku menolak sasu jadi gay? Yah... kupikir semua orang tua pasti ingin anaknya hidup dengan normal, begitu juga Fugaku. Dia pasti berfikir inilah yang terbaik buat si Sasuke, semua orang tua baik di FF atau kehidupan nyata juga pasti kaya gitu kan? Itulah yang disebut 'parent ego'. Tapi belum tentu semua parent ego itu buruk lho ya? Makanya patuhlah pada ortu (Padahal author sendiri tukang membangkang)

Yap segini aja dari Author, makasih buat

HyuuShiina-san, NamikazeNoah, Son Sazanami, Uchy-san, dan kkhukhukhukhudattebayo yang udah memfavorikannya. Kalian bagaikan matahari yang menyinariku.

NiMin Shippers, Son Sazanami, , kkhukhukhukhudattebayo dan yennz yang udah nge follow. Kalian bagaikan bulan yang menginspirasikanku

dan semua yang sudah me review FF ini yang tak dapat kusebutkan satu persatu. Kalian adalah komet yang menjadi penyemangat bagiku.

Serta para pembaca semua, kalian adalah bintang. Begitu menyilaukan.