Cast : Lee HyukJae, Lee Donghae, other member SuJu and member f(x)

Pairing : HaeHyuk

Genre : Drama/ Romance

Rate : T

Disclaimer : HaeHyuk saling memiliki XD

Warning: Genderswitch, gaje, abal, miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD

Point of View disini seluruhnya aku berikan pada Lee Hyukjae aka Lee Monkey *dilempar*

Don't Like Don't Read

.

.

.

-/-

Adakah hal yang bisa kuperbaiki saat ini? Aku merasa seperti gadis jahat yang menghancurkan perasaan tulus didepan mataaku. Keping-keping yang tak mungkin bisa kurekatkan kembali walau dengan kata maaf. Hangeng oppa masih mematung di tempatnya berdiri, memandang lekat ke arah genggamanku dan Donghae. Meski aku bahagia tapi aku tak bisa tersenyum, ini bahkan melebihi rasa bersalahku dibanding meminjam uang Teukki eonni di bawah bantal tanpa mengembalikannya.

Kurasakan genggaman Donghae kian erat, kedua kakak adik ini beradu pandang. Kemungkinan terburuk semoga tak terjadi.

"Kau kemana saja Hae? Taemin menginap dirumah, dia terus-terusan mencarimu!"

Siapa itu Taemin, ikan baru peliharaan Donghae kah?

"Taemin terus meraung ingin kau menggajaknya ke malam festival, tapi ponselmu malah tak bisa dihubungi," lanjut Hangeng oppa yang kini menatapku dengan senyumannya.

Dia mengelus belakang kepalaku. "Chagi bagaimana liburanmu, kenapa begitu kebetulan kau bertemu anak ini!"

Donghae menatapku tajam.

Wae? Harusnya yang bilang pada Hangeng oppa adalah dia bulan aku. Ish!

"Hyukkie, wajahmu pucat chagi!"

Yang kulakukan hanya menggaruk tengkuk dengan tanganku yang bebas sambil meringis aneh. "Gwaenchana. Liburanku menyenangkan oppa. Ne, aku dan Donghae tadi kebetulan bertemu di gerbong pengambilan tas."

Set.

Donghae melepas genggamannya, membiarkan jemariku bebas dari kungkungan jemari besar miliknya. Helaan nafas panjang bisa kudengar darinya

Salahkah aku? Aku tahu aku berbohong lagi. Sementara aku tak mau melukai perasaan Hangeng oppa, lagipula Donghae juga tak berucap apapun.

Hangeng oppa berganti memandang Donghae. "Kenapa masih disini? Taemin menunggumu di taman biasa, dia pasti menangis lagi hari ini."

Tanpa menoleh padaku Donghae mengangguk dan pergi. Jika saja disini tak ada Hangeng oppa ingin kulempar Donghae dengan sendal yang kupakai ini. Menyebalkan.

Taemin? Gadis jenis apa lagi?

Hangeng oppa mengambil alih posisi genggaman Donghae sebelumnya. Dadaku tak lagi bergejolak. "Aku tahu kau lelah! Langsung oppa antar pulang ne," ujar Hangeng oppa sebelum menuntun langkahku pergi dari stasiun.

Semua bisa dipastikan gagal. Rencanaku mengungkap kejujuran sejujur jujurnya jujur. Jangan-jangan aku memang tak bisa lepas dari Hangeng oppa. Dan mengingat hal tadi! Nama Taemin yang begitu berarti sepertinya untuk Lee Donghae, bahkan tanpa ia menjelaskan apapun padaku.

Kutengok ponsel yang ada dalam tas slempangku. Tak ada 1 pun pesan atau panggilan. Donghae! Bagaimana aku jujur jika kau sendiri tak bisa jujur?

.

-()()()()()-

.

"Silahkan masuk oppa."

Sedikit banyak kusesali kepulanganku ke Seoul, kalau aku masih di Chunan pasti lebih mengasyikkan. Gara-gara menuruti permintaan bodoh Donghae, dan nyatanya orang itu tak ada disini. Tahukah aku sangat kesal?!

Tap.. Tap..

"Jadi seminggu kau sendirian dirumah?"

Kuperhatikan Hangeng oppa masih menelisik keadaan rumahku yang lenggang. Kuikuti saat ia berjalan ke ujung ruang tamu, tempat lemari hias. Hangeng oppa tersenyum sambil mengelus dagunya. Foto lawas yang dipajang dari balik lemari kaca sangat menarik perhatiannya ternyata. Foto saat aku berusia lima tahun, pose cubit-cubitanku dengan Teukki eonni yang sengaja diambil appa. Dari kecil aku memang sering ribut dengan kakakku sampai sekarang masih sih walau jarang. Dibingkai samping ada fotoku yang berdiri di bangku taman usia 7 tahun, menggembungkan pipi membentuk tanda 'V' dengan jari tangan. Hangeng oppa terkikik melihat yang itu, terpesona mungkin ya. Sisa dari foto lainnya adalah foto eonniku dan beberapa foto keluarga jadul lain. Sebenarnya masih banyak koleksi fotoku dan keluargaku. Dari yang telanjang -waktu bayi- sampai yang ingusan hingga aku menjadi gadis tercantik se-Korea seperti sekarang.

Hangeng oppa berbalik dan masih tersenyum. "Kau imut juga waktu kecil."

Aku tersipu. Tuh kan apa kubilang dia pasti terpesona. Susah ya jadi orang imut. No protes!

"Oppa duduklah dulu, akan kubuatkan minuman. " Kutinggalkan Hangeng oppa yang mengangguk namun tetap berjalan mengitari isi rumahku.

Sebelumnya, memang ini bukan untuk pertama kali Hangeng oppa ke rumahku. Tapi tempo hari dia hanya memilih duduk disofa bukan jalan-jalan seperti sekarang, mungkin juga alasan malu ada kakak dan umma.

Mulai kubuatlah air es sirup, ah aku lupa Hangeng oppa suka tidak ya air sirup? Kebiasaanku membuatkan minuman tanpa bertanya dulu kambuh. Karena menurutku apa yang aku doyan orang lain juga akan suka. Ah, malas sih kalau harus kembali ke ruang tengah dan bertanya.

Kuangkat kedua bahuku, biar kubuat air sirup saja.

Setelah selesai berkutat di dapur selama setengah jam, selain malas juga karena rasa tak enak lainnya saat aku berhadapan dengan Hangeng oppa. Kuletakkan cangkir minuman di atas meja dan tamuku itu tak ada ditempatnya. Jangan bilang dia diculik.

Tap tap tap

Kuhela nafas lega saat melihat Hangeng oppa ternyata duduk di teras rumah. Tapi apa yang dilakukannya membuat sepenuhnya urat keningku mengkerut. Dengan posisi menyamping Hangeng oppa mengelus tembok rumahku warna putih kucel dengan beberapa tempelan tato mainan hadiah permen karet bertebaran disana sini.

Aku melotot setelah menyadari satu hal. "Oppa kenapa disini, ayo kita masuk."

Hangeng oppa hanya melirik sekilas seolah ucapanku adalah nyamuk yang numpang lewat di depan hidungnya.

"Aku sudah membuat minuman, oppa pasti haus," bujukku lagi.

Telunjuk Hangeng oppa menoel tembok rumahku tadi. Bergantian menatapku dan tembok itu. "Ini apa ya Hyukkie, kenapa banyak nama Donghae!"

Mati aku!

Kukerjapkan mata beberapa kali mencoba mencari akal untuk beralasan. Mengarang sesuatu yang masuk akal untuk hasil karyaku waktu SMP itu. Dulu setiap aku kesal dengan Lee Donghae, atau dibuat kesal dengan disengaja. Bentuk kesalku kuapresiasikan melalui tembok disamping Hangeng oppa. Entah dengan spidol, tip ex, pulpen, pencil atau gergaji mulai kubentuk nama Donghae dengan ketebalan dan zoom berbeda-beda. Biasa, labil. Nah saat aku dan Donghae sedang akur-akurnya atau mungkin kita bisa ngobrol dalam waktu maksimal 1 menit. Pulang kerumah aku akan melonjak dan mulai mengambil spidol, mengukir nama Donghae lebih lembut di tembok itu dan menambah sign love di sekelilingnya. Meski difikir sikapku norak, tapi aku suka melakukannya.

Dan sekarang semua terbongkar dengan cara tidak elit akibat kelalaianku oleh namjachinguku emm maksudnya namjachingu pertamaku. Bingungnya punya dua pacar.

"Itu aku..."

Hangeng oppa berdiri dan loading otakku mencari alasan baru mencapai 5%

Tatapan curiga yang kudapat sekarang. "Kau menyukai Donghae?"

"Tulisan di dinding itu hanya iseng-iseng oppa."

"Jadi kau tak menyukai Donghae? Kau hanya menyukaiku kan?"

Aku diam. Demi apa aku ingin masuk ke kamar sekarang dan menonton tom&jerry ketimbang menjawab pertanyaan yang terus kulengkapi dengan embel dusta.

Aku menunduk saat Hangeng oppa berjalan mendekat lalu memelukku. Sayup kudengar suara dari bibirnya, "Jadi dugaanku salah kan? Syukurlah."

Perasaanku kian berat semakin aku menutupi kenyataan sebenarnya. Aku hanya membiarkan semua berjalan dalam kesalahan.

"Hyung, kumohon lepaskan gadisku!"

Aku mengenal suara ini, suaranya sangat jelas dan dekat. Begitu Hangeng oppa melepas pelukan kami terlihat dengan gamblang Donghae berdiri, jarak 1 meter membuatku yakin jika ia marah. Donghae datang tiba-tiba dan muncul didepanku bersama anak laki-laki usia 5 tahun yang digandengnya. Anak itu nyengir padaku.

Hangeng oppa memandangku sekilas. "Gadismu?"

"Aku sudah bilang tempo hari hyung, aku menyukai yeojachingumu. Maaf aku harus mengulangi lagi."

"Kau mungkin menyukainya tapi kau tak bisa memaksanya Hae. Hyukkie tidak menyukaimu."

Donghae beralih menatapku kecewa. "Kau belum bilang?"

Rasanya bibirku terkatup rapat, hingga tangan Hangeng oppa mencengkeram pergelanganku, membuat tubuhku menempel padanya. Donghae menatap tautan tangan kami seolah tak rela.

"Kau bisa mencari gadis lain kan? Jangan membuat Hyukkie tertekan karena sifat pemaksamu Hae!"

Hangeng oppa masih bersikap sedewasa mungkin. Kenapa aku diam saja?

Jadi Donghae sudah bilang sebelumnya pada Hangeng oppa?

"Tapi perasaan kita sama-sama berbalas Hyung. Kau yang memaksakan dia untuk menyukaimu!" balas Donghae tak mau kalah. Wajahku memanas. Aku membuat 2 orang kakak beradik ini ribut.

Kugigit bibir bawahku cukup keras saat Hangeng oppa menatapku tajam. "Katakan yang sebenarnya? Ada yang kau tutupi selama ini?"

Aku tak menjawab, juga tak menggeleng ataupun mengangguk. Lagi-lagi hanya tangisan yang keluar. Mianhe. Mianhe.

Kurasakan cengkeraman Hangeng oppa mengendur, perlahan ia menjauh dari tempatku berdiri. Pandanganku kabur saat melihatnya karena air mata ini. ia tersenyum dan mengacak rambut

"Aku benar-benar kecewa!"

Hangeng oppa berjalan cepat meninggalkan rumahku menuju mobilnya tanpa menoleh lagi.

Aku masih berusaha menggigit bibir mendengar suara derum mesin mobil yang kian jauh. Kutolak tangan Donghae yang mengusap pipiku, namja itu sedikit terkejut. Tapi ia segera memelukku.

"Semua sudah berakhir, tak perlu pura-pura lagi!"

Kusentak keras dada Donghae membuatnya terhuyung kebelakang dan jatuh. Anak 5 tahun yang tadi dibawa Donghae terkikik dibalik 5 jari yang menutupi mulutnya sambil menunjuk Donghae.

"Bukan seperti ini. Hubungan kita menyakiti orang lain. Hangeng oppa orang baik dan aku mengecewakannya. Hiks," ucapku disela-sela isakan.

Donghae menatapku tak percaya. Ia mencoba berdiri lagi. "Jangan mendekat! Aku tak mau menjadi orang egois Hae. Mengertilah."

"Apa yang harus kumengerti? Kita saling mencintai!"

"Tapi kita menyakiti orang lain!" Kupejamkan mataku erat dan melanjutkan ucapanku, "Hubunganmu dengan Hangeng oppa akan hancur karena aku. Hanya karena cinta bodoh, kau merusak semuanya!"

Donghae tersenyum heran. "Kau tahu, kau yang mendorongku berbuat seperti ini? Apa aku salah jika memperjuangkan cinta yang kaau anggap bodoh itu? Karena aku mencintaimu kau menganggapnya kesalahan?"

"Hyung ayo kita pergi jalan-jalan." Anak laki-laki yang sedari tadi diacuhkan menarik-narik ujung baju Donghae. Yang ditarik hanya mengangguk sekilas. "Sebentar ya Taemin, hyung masih ada urusan." Dan yang dipanggil Taemin menatapku cemberut.

Kuhela nafasku berat. "Kurasa memang salah. Untuk kebaikan semuanya, kita hentikan saja sekarang."

"Maksudmu?" tanya Donghae lebih terkejut dari yang tadi.

"Anggap saja kau dan aku.. antara kita tak pernah terjadi apa-apa. Begitu pula aku dan Hangeng oppa!" ucapku perlahan dengan separuh keyakinan.

"Kau bercanda kan? Mana mungkin kau melakukan itu? Kau lupa rencana-rencana kencan kita setelah ini. Kau lupa rencanaku untuk mengenalkanmu pada appa dan umma, kau lupa..."

"Iya aku lupa!" potongku.

"Karena aku melupakan semua itu, jangan berharap padaku lagi!"

BLAM!

Kututup pintu rumah rapat tanpa mendengar protes dari Donghae lagi.

Duk duk duk

"Hyukkie, chagi! Kita masih harus bicara. Kau tak bisa memutuskan sepihak begini! Aku tak terima. Keluar sekarang! Keluar!"

Masih membelakangi pintu kudengar rentetan ungkapan tak terima di luar sana. Yang kulakukan ini benar kan? Wajah kecewa Hangeng oppa muncul lagi di ingatanku.

"Lupakan aku Hae!" lirihku.

Duk duk

"Hyukkie buka pintunya. Kau tak kasihan padaku. Kita bisa memikirkan hal yang lebih baik untuk selanjutnya. Buka pintunya atau kupanggil tetangga-tetanggamu memaksa kau untuk keluar. Buka sekarang karena aku tak main-main."

'Bodoh' batinku.

"Hyung! Ayo kita pergi! Kita pergi hyung." Kini rengekkan Taemin yang terdengar.

"Cepat buka pintunya. Aku tahu kau mendengarku, jangan pura-pura tuli. Kuhitung sampai tiga. Hana!"

Lakukan saja, percuma! Tetanggaku pergi mudik semua. Lee Donghae bodoh!

"Dul!"

"Huehueeeeeeeee.. huaaaa."

"Yak! Taemin jangan menangis dulu. Iya nanti kita jalan-jalan, tapi sebentar lagi ne."

"Hueeeee!"

"Baik! Kita pergi sekarang, jangan menangis."

Raungan Taemin rupanya membuat tindakan gila Donghae terhenti. Huh! Padahal aku ingin mendengarnya berteriak memanggil tetanggaku dan sampai suaranya serak tak akan ada yang datang!

"Oke Hyukkie! Aku akan datang lagi nanti! Satu yang terakhir, aku mencintaimu!"

Aku masih mematung, mendengar ucapan terakhirnya hatiku menghangat.

Aku menggeleng keras. Sepertinya aku harus menginap di rumah Ryeowook dalam sisa liburan ini.

.

-()()()()()-

.

Mataku mengamati seksama hidangan di atas meja belajar

2 burger ukuran jumbo, 2 gelas es jeruk, semangkuk penuh buah stowberry dan 1 tandan buah pisang. Jangan menduga aku akan memakan semua ini, dan pisang itu bukan untukku-meski kerap dijuluki monkey- tapi untuk teman cerewetku, Ryeowook. Yah, meskipun kalau ditawari aku juga tak akan menolaknya.

Tapi jika dilihat-lihat dengan rinci dan dikaji lebih cermat ada yang kurang disini. "Wookie-ah! Mana susu stowberry untukku!"

Pletak!

Sebuah kipas tangan melayang dan mendarat pada jidat mulusku. Dari arah pintu kamar Ryeowook mendelik berjalan membawa secangkir gelas dan meletakkannya disamping makanan awal.

"Kau itu jangan teriak-teriak Hyukkie. Bisa mengganggu yang sedang tidur!"

Keningku mengkerut. Aku mulai menumpang di rumah sahabatku siang tadi. Dan sepengetahuanku tak ada siapa-siapa disini selain kita berdua. Ryeowook memang anak tunggal dan orang tuanya sedang pergi bulan madu tanpa mengajak sang anak. Meski Ryeowook berdalih orang tuanya itu sebatas menghadiri acara pernikahan dan menginap 1 hari diluar kota, tapi kufikir ulang ungkapan tersebut lebih keren dibilang bulan madu. Jarang-jarang orangtua pergi berdua keluar kota tanpa mengajak anak. Umma dan appa jika pergi aku dan eonniku juga ikut. Mereka baru bisa berdua saat di kamar saja. Entah apa yang dilakukan 2 orang dewasa itu selanjutnya, melepas rindu mungkin. Hayoh! Kenapa aku memikirkan urusan orang lain.

"Memang ada yang tidur?" tanyaku setengah berbisik dan Ryeowook mengangguk.

"Kau menyembunyikan siapa? Hayoo! Laki-laki atau perempuan?" selidikku.

Ryeowook memutar bola mata dan mengetukkan jemarinya pada dagu. "Emm, sepertinya sih laki-laki," gumamnya

Aku melihat keadaan sekeliling kamar, lalu beranjak keluar, ke dapur, ruang tamu lalu kembali lagi ke kamar. "Kau bohong! Tak ada orang lain disini," tudingku pada Ryeowook yang menatapku heran.

Ryeowook mengedikkan bahu lalu terkikik. "Kau tak akan menemukannya diluar. Ddangkoma kan tidurnya dikamar ini."

Ddangkoma? Nama yang aneh. Selingkuhan Ryeowook kah?

Kuikuti Ryeowook yang berjalan ke arah pojok jendela beranda, ia berlutut dihadapan sebuah aquarium kecil.

"Tuh kan Ddangkoma terbangun."

Ryeowook mengangkat sebuah kura-kura seukuran helm dari dalam aquarium, menunjukkannya padaku.

Oh, ternyata Ddangkoma itu binatang. Saat pertama masuk kamar kufikir dia adalah belahan buah melon.

"Kau memelihara kura-kura? Aneh sekali!" Kuberi tanggapan sekilas sebelum duduk di depan meja belajar. Ryeowook pun menyusul setelah meletakkan Ddangkoma pada tempatnya.

"Bukan aku. Itu milik Yesungie oppa, dia menitipkannya selama liburan!"

Kuputar kepala menatap Ryeowook. "Dan kau mau saja dititipi binatang membosankan itu?"

"Jangankan kura-kura, semut pun akan kurawat jika Yesung oppa memintanya."

Kuberi tatapan degan arti 'emang bisa?' dan Ryeowook hanya nyengir lebar. Aneh.

"MARI MAKANN!"

.

Selesai membereskan sisa remah-remah makanan, pergi ke kamar mandi cuci tangan, kaki dan sikat gigi. Ternyata Ryeowook masih terobsesi pada keinginannya mempunyai anak, aku merasa jadi anaknya.

Kuangkat satu selimut yang sama dengan Ryeowook sampai sebatas dagu. Malam-malam terkena air membuatku mengginggil.

"Sudah gosok gigi?" tanya Ryeowook disampingku.

"Cudah mommy!" kujawab pertanyaan sahabatku sebal, Ryeowook tertawa dan mencubit pipiku. "Ah, coba saja kau benar menjadi anakku Hyukkie!"

Oke! Aku benar-benar bergidik mendengarnya.

"Ya! Wookie appo. Jangan dicubit keras-keras."

Kubalas mencubit pipinya, hingga beberapa menit kami lewatkan dengan cubit-cubitan sampai kedua pipi merah.

"Huh, apa kau tak mau berfikir ulang untuk keputusanmu Hyukkie. Sayang kan kalau kau dan Donghae harus putus. Kalian baru pacaran berapa hari?"

Ryeowook memasang satu persatu jari tangannya masih dengan bergumam. Berhenti saat ibu jari masih ditekuk.

"Aigo! Baru empat hari Hyukkie. Apa yang kalian lakukan selama empat hari? Apa cukup memuaskan?" Ryeowook membawa empat jarinya di depan hidungku dan langsung kutepis kesal.

"Em, mungkin kita memang tak berjodoh," ujarku memandang atap kamar Ryeowook

Sahabatku ini mendengus. "Kalau memang tak berjodoh kenapa kau masih mencintainya selama 5 tahun ini. Dan saat ia sudah membalas perasaanmu, kau ingin melepaskannya begitu saja? Jangan mengeluh padaku kalau kau menyesal nanti."

Aku cukup tertegun mendengar komentar Ryeowook. Tahun-tahun sulit mencintai Lee Donghae kembali terlintas. "Aku cuma melakukan yang terbaik untuk semuanya."

"Benarkah yang terbaik. Masalah yang kau alami melibatkan 3 perasaan. Jika kau tetap bersama Donghae mungkin hanya Hangeng oppa yang terluka. Tapi jika tak memilih keduanya 3 perasaan sekaligus akan sakit termasuk kau!"

Kugembungkan pipi sebal untuk ceramah Ryeowook. Ya, aku sudah memikirkan hal itu sebelumnya.

"Apa kau tak merasa takut?"

Aku menoleh. "Takut apa?"

"Yah. Takut kalau setelah ini kau tak bisa melupakan Donghae. Dan sampai tua kau akan jadi perawan ting ting. Ahahaahaha."

Kugerakkan telunjukku kekanan kiri tanda tak setuju. "Anio. Kalau aku tak bisa dengan Donghae aku akan menikah dengan Wonbin."

Ryeowook makin menaikkan volume terbahaknya, tak takut jika Ddangkoma bangun apa? Padahal dia sendiri yang bilang jangan berisik.

"Wonbin keburu tua kaleee, kau itu kalau terbang jangan terlalu tinggi. Kalau Wonbin mau melamarmu, kurasa ia harus berfikir sepuluh ribu kali lagi muehehehe," ucap Ryeowook menyindir dengan tawa laknat. Aku tahu ia pasti iri jika hal itu benar-benar terjadi, ia hanya malu mengakui.

"Huh menyebalkan!"

"Ahaha, tapi benar lho Hyukkie. Apa nanti kau tak menyesal melepas Donghae? Yah kau tahu kan. Dia termasuk species namja kualitas tinggi. Banyak yeoja yang mengejar dan mengaguminya, mengantri untuk jadi yeojahingunya. Tapi kenyataannya dia hanya mengejar cintamu! Setelah semua ini dia pasti bisa mendapat penggantimu dengan mudah. Tinggal cap cip cup semua beres. Begitu pula dengan Hangeng oppa yang tampan itu. Dan kau akan ditinggal sendiri dalam sebuah penyesalan, diam-diam masih mencintai Lee Donghae seumur hidup. Miris sekali nasibmu." Ryeowook geleng-geleng kepala menatapku setelah kalimat-kalimat panjangnya. Apa nasibku akan mengenaskan seperti pengandaian Ryeowook?

"Eh! Tapi Hyukkie aku punya satu solusi. Bagaimana kalau kita ikut kopi darat lagi?"

Aku cukup mendelik mendengar kata 'kopi darat'. Awal dari bencana!

"ANDWAE!"

.

-()()()()()-

.

Cit Cit Cit

Sahutan para burung berlomba-lomba menyambut datangnya sang surya naik ke peraduan. Mengiring tetesan embun pertama dari ranting pohon. Langit yang awalnya gelap berangsur-angsur cerah, bahkan tak nampak awan bergantung di atas sana membuat rombongan sinar mengganggu tidur nyenyakku begitu gorden jendela disingkap. Mataku mengerjap beberapa kali dengaan sedikit uapan. Aigo! Sudah cukup siang ternyata.

"Sudah bangun tuan putri?"

Di ujung kamar, sesosok manusia yang paling ingin kulupakan berdiri tersenyum padaku sembari mengencangkan ikatan pada pengait gorden. Aku bangkit duduk dan melongo.

Semalam kuakui aku memang memimpikannya. Tapi apa ini termasuk lanjutan mimpiku yang tadi?

Kutengok sekelilingku. Aku masih di kamar Ryeowook tapi kenapa jadi Donghae disini? Ah jangan-jangan karena masih ngantuk aku jadi menghayal.

Kukucek mata berulang kali, tapi wajah didepanku tak kunjung berubah wujud menjadi wajah mungil cengengesan Ryeowook. Bahkan semakin mendekat wajah itu semakin tampan.

"Mencari Ryeowook? Dia hanya meninggalkan ini."

Donghae menunjuk dirinya sendiri seolah dia adalah kado. "Dan ini!" Namja itu mengulurkan sebuah amlpop padaku. Segera kubuka isi amplop bercorak jerapah ini.

.

To: Hyukkie anak angkatku ~

Pagi! Good morning! *tebar pisang* :p

Hyukkie, bagaimana dengan kadoku pagi ini. Kau pasti terkejut, aku tahu itu.

Padahal kau belum ulang tahun tapi aku sudah mengadomu, awas saja kalau kau bilang aku jahat! Hehe

Hyukkie-ah, selesaikan masalahmu dengan baik jangan sampai kau menyesal seperti kata-kataku kemarin.

Aku tahu aku sahabat yang menyebalkan, tapi aku tak bisa melihatmu sedih lagi untuk itu aku memberitahu Donghae kau menginap dirumahku. Mianhe Hyukkie-ya

Pagi-pagi sekali aku harus mengajak Ddangkoma jalan-jalan dan langsung menjemput Yesung oppa di bandara. Mungkin aku akan pulang sore.

Sebagai permintaan maaf aku akan membelikanmu sekeranjang besar strowberry. Kau pasti mau kan?

PS: Tolong bersihkan rumahku juga. Kalau bersama Donghae pasti akan cepat selesai. Selamat bersenang senang. Muehehe.

Dengan sayang, Kim Ryeowook.

.

Ryeowook! Mengumpankanku di depan kandang buaya. Kutatap takut-takut Donghae yang berdiri di depaanku lengkap dengan senyumannya. Detik berikutnya bibir Donghae mengerucut. "Kau tega sekali menghindariku baby. Kau tahu semalaman aku tidur didepan rumahmu, menggedor pintu dan tak ada yang membukakan. Kedinginan dan digigit nyamuk."

Donghae mulai merajuk sebelum duduk dipinggiran ranjang, dengan gerakan merangkak ia naik ke tengah. Aku refleks mundur hingga punggungku terbentur kepala ranjang.

"Mau apa?" Kulempar satu bantal terdekat kearah Donghae, namja itu berkelit hingga bantal tadi terlewat dan jatuh dilantai.

"Melakukan apa yang kufikirkan."

Terimakasih untuk Kim Ryeowook, entah setelah ini aku masih utuh atauu tidak. kali ini kubekap wajah Donghae dengan guling. Jangan bayangkan ini tindak kriminal karena aku melakukannya dengan halus. Saking halusnya Donghae malah giliran mendorongku hingga punggungku kembali terkantuk kepala ranjang.

"Yak! Apa yang hmmpt."

Sesuatu yang menyumbat mulutku menghentikan pekikanku tadi. Mataku terbuka lebar saat Donghae menciumku tanpa aba-aba. Ia merengkuh dan menarik tengkukku membuatku tak bisa memberontak karena tubuhku terkunci lengan besarnya, bahkan kedua tangaanku didadanya tak bisa digerakkan.

Donghae melesakkan lidahnya begitu aku mencoba mengambil nafas lewat mulut, aku memang belum begitu mahir berciuman.

Perlahan mataku ikut tertutup, meski terkesan tiba-tiba Donghae menciumku dengan lembut. Meski dalam kungkungan possesif, Donghae seolah menunjukkan ketulusan disana.

Tanpa kusadari wajah Donghae menjauh, kubuka mataku dan seulas senyum melebar dibibirnya.

Setelah cukup sadar kudorong keras dada Donghae dan beranjak turun dari ranjang. "Kuminta kau pergi dari sini Hae," ucapku lirih.

Donghae ikut turun, menghambur dan memelukku. "Kau fikir aku bodoh mau menurutinya. Aku tak akan pergi."

"Tapi..."

"Kalau melawan lagi, akan kulempar kau kekasur."

"Hmmmptt." Untuk ketiga kali Donghae menciumku lagi.

Tok tok tok

"Wookie, chagiya? Apa kau di dalam?"

Kurasa aku mengenali suara itu.

Kapan orang tua Wookie pulang?

Bibirku masih sepenuhnya menempel pada bibir donghae, mataku mengekor gagang pintu yang perlahan bergerak turun

Cklek

Mampus!

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N

Annyeong!

Bagaimana chapter ini?

Aku tahu membosankan 11 chapter tapi konflik ga selesai#dibakar

Mian kalau apdet lama, selain keasyikan mudik, modem juga baru dikembaliin temen.

Tapi ini mungkin jadi klimaks nya. Mianhe yang mengharap ada pertarungan ala indosiar di sini dan tak terkabulkan.

Readers: ga ada yang ngarep. Ga ada!

Dan pembetulan untuk chapter kemarin ada 1 kata yang tertinggal pas bagian Hyukkie mau bilang cinta.

Yang tadinya "Aku ,.," harusnya "Aku membencimu."

Oke, silahkan baca ulang!

All: ga mau!

Dan untuk A/N yang ending kemarin maksud aku Hangeng oppa, kok malah nulis mimi gege ya*otak error* *keingetan sama2 china* sampai geli ada yang ikutan nyebut mimi ge di kolom riview. Ah, mianhe!

For anchofishy, myfishychovy, SSungMine, RieHaeHyuk, Bunnyminimi Cloudsomnia, , minmi arakida, Jong Aeolia, Kazuma B'tomat, kyukyu, Anchovy, Fina lie veronica, IamCloudFishy, Jo Kyuzha, cherrizka980826, Cho Miku, ck mendokusei, Anonymouss, amandhharu0522, Dyna, Kim Jung Min, Fine7, stephanie choi, Rilianda Abelira, erryeoo, Lovers Couple SJ, AranciaChru, nadiafslayer, yantiheenim, LadyHaeHae, Ayano, monkMonk, SaranghaeSuju, saymyname, ressijewelll, Grisssha, yELFmyeolchi98

Terimakasih sudah riview chapter sebelumnya. ^^

Chap berapa ending ini ff? mungkin 1 atau 2 chapter lagi, atau mungkin 10 chapter lagi #ditelen

TAHAL? Haha iya, aku juga sempet kepikiran singkatan ni epep *judul kepanjangan*, engga masalah sih disingkat TAHAL

Untuk terakhir

RIVIEW PLEASE