I'M 28
An EXO fanfiction
HunKai
Rating: T-M
Pairing: Sehun X Kai, Choi Minho X Kai
Warning: BL, YAOI, M-preg
Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Krystal Jung, Lee Sungmin
Halo ini chapter sebelas selamat membaca maaf atas segala kesalahan, dan maaf updatenya lumayan lama. Happy reading all….
Previous
"Benarkah?!"
"Ya."
"Sepertinya aku mendengar sesuatu."
"Kau yang salah dengar, sudah pesan saja makanan aku lapar." Sehun berdiri dari sofa dan melangkah cepat meninggalkan Sehun.
"Kemana?!" pekik Sehun.
"Mengambil biskuit cokelat, kau mau?!"
"Tidak! Makan saja di ruang makan jangan membawanya ke sini!" Sehun berteriak kencang karena apapun yang berbau cokelat membuatnya mual. Sehun menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. "Semoga anakku yang lahir nanti adalah anak yang manis dan menyayangiku, ya ampun, aku tidak bisa makan dengan bebas sekarang. Sehun jangan mengeluh, kau menginginkan ini." Sehun memperingatkan dirinya sendiri seperti orang linglung.
BAB SEBELAS
"Ada masalah dengan cokelat?" Jongin menatap lekat-lekat bungkus cokelat batangan di tangan kanannya. "Apa dia mual mencium aroma cokelat, berarti setelah ini aku harus menggosok gigiku." Jongin kembali mengigit dan mengunyah cokelat di dalam mulutnya. "Merepotkan sekali." Gerutunya di tengah kesibukan mengunyah cokelat.
Jongin meminum segelas air setelah memakan cokelat, dia tidak menghabiskan semua cokelatnya ia simpan sisa cokelat ke dalam lemari pendingin. Kemudian bergegas menemui Sehun di ruang keluarga. "Pesanlah makan malam aku pergi ke kamar mandi dulu." Sehun mengangguk menurut.
Sehun menyandarkan kepalanya pada sofa, ia mengamati setiap sudut ruangan, tidak ada yang berubah. "Sebenarnya yang dipindahkan barang-barang yang mana?" Sehun bertanya pada dirinya sendiri. "Ah aku hampir lupa!" Sehun memekik pelan, ia raih ponselnya dan mulai mengetik pesan.
"Kau sudah memesan?" Jongin langsung bertanya sekembalinya dari kamar mandi.
"Sudah."
"Kau bisa tidur di kamarku di lantai dua jika kau bermaksud menginap."
"Aku memang ingin menginap."
Jongin mengangguk canggung, ia tidak tahu kenapa harus merasa canggung. Sehun masih tujuh belas tahun. Dan ini adalah sesuatu yang menyebalkan. "Hmm, benarkah aroma cokelat membuatmu mual?"
"Ya."
"Tapi susu yang kau buatkan waktu itu adalah susu cokelat."
"Masalah itu aku juga tidak tahu."
"Ah." Jongin benar-benar tidak tahu harus membalas apalagi.
"Duduklah Jongin hyung, jangan berdiri terus." Sehun menepuk sofa kosong di sampingnya. Jongin melangkah canggung ia tidak duduk di samping Sehun, dia memilih duduk di sofa lain, di sisi kanan Sehun.
"Jadi—apa yang kau lakukan seharian ini?"
"Hanya berlatih menari kemudian pergi untuk melihat kontrak kerja terbaru. Ah ya, aku menandatangani kontrak iklan parfum, aku harus beradegan mesra dengan partner kerjaku."
"Ya."
"Jongin hyung tidak keberatan?"
"Tidak, kau harus bersikap professional."
"Jongin hyung tidak cemburu?" Kening Jongin hanya bertaut mendengar pertanyaan Sehun. "Ehm!" Sehun berdeham pelan. "Baiklah kalau begitu—Jongin hyung punya film bagus untuk ditonton?"
"Tidak, aku tidak pernah mengoleksi film. Aku lebih suka pergi ke bioskop atau meminjam kaset film dari Chanyeol hyung."
"Ah, dengan siapa Jongin hyung pergi ke bioskop?"
Sehun yang terlalu terobsesi padanya sudah kembali, Jongin tahu harus berhati-hati dalam bicara. "Seringnya sendiri, terkadang Chanyeol hyung ikut dengan kekasihnya."
"Kekasih Jongin hyung?"
"Aku tidak memiliki kekasih, kau tahu hal itu dengan jelas jangan bertanya lagi." Sehun terkikik pelan. "Diam!" dengus Jongin. Sehun justru tertawa semakin keras karena Sehun menganggap hal itu sangat lucu.
Kesal, Jongin menerjang tubuh Sehun, membuat anak laki-laki berusia tujuh belas tahun itu terbaring di atas sofa. Dia masih tertawa cekikikan rasanya Jongin ingin sekali meninju wajah Sehun. Jongin mengepalkan tangan kanannya bersiap mendaratkan pukulan itu ke wajah Sehun. Sehun menangkap kepalan tangan kanan Jongin, menarik lengan kanan Jongin ke bawah.
Tubuh Jongin menunduk ke bawah, dan Sehun meraih bibir penuh Jongin dengan cepat. Jongin terperanjat, namun tubuhnya menikmati perlakuan Sehun. Jongin menegakkan tubuhnya dengan tergesa kemudian berdiri dari tubuh Sehun dan duduk kembali di sofanya. "Aku suka mencium bibir Jongin hyung."
"Diam kau bocah mesum!"
"Jongin hyung suka kan?" Sehun menggoda Jongin, ekspresi Jongin benar-benar lucu dan wajahnya bertambah manis saat sebal seperti sekarang. Jongin ingin membalas perlakuan menyebalkan Sehun saat suara bel pintu pagar berbunyi, Jongin bergegas pergi dari ruang tamu. Sehun memilih untuk pergi ke dapur untuk menyiapkan susu, ia tahu Jongin belum meminum susunya tadi.
Sekembalinya Jongin sempat bingung karena tidak menemukan Sehun di ruang keluarga. "Sehun!" Jongin mencoba memanggil nama Sehun.
"Aku ada di dapur Jongin hyung!" Mendengar jawaban Sehun, Jongin langsung pergi ke dapur.
"Apa kau memesan banyak sayuran?" Sehun tidak menjawab. "Baunya seperti banyak sayuran di dalam." Jongin meletakkan tas plastik di atas meja, kemudian membukanya. "Wah! Kau memesan ayam!" Jongin memekik girang.
"Aku ingin makan ayam." Balas Sehun.
"Kurasa kita bisa menjadi teman." Ucap Jongin kekanakan, Sehun hanya tertawa pelan. "Minum susu dulu, biar aku yang menyiapkan makanannya."
"Hmm." Jongin menggumam pelan. Ia menerima gelas susu yang Sehun berikan.
Makan malam yang Sehun pesan berupa ayam yang ditumis dengan aneka macam sayuran. Firasat Jongin benar, ia tidak terlalu suka dengan sayuran. Kecuali tomat, tapi tomat juga bisa dikategorikan buah bukan? Sudahlah. Sekarang Jongin memperhatikan potongan selada, wortel, kecambah, dan jagung dalam piringnya
"Makan sayurnya." Ucap Sehun melihat Jongin yang terus memakan daging ayam.
"Akan aku makan, nanti." Jongin membalas santai.
"Jongin hyung." Sehun memperingati Jongin.
"Astaga, kau benar-benar menyebalkan Sehun." Meski menggerutu Jongin akhirnya memakan sayurannya. Dan hei, ternyata selada dan wortel tak seburuk dulu.
"Sepertinya Jongin hyung menyukai sayur sekarang?" Jongin tidak membalas pertanyaan Sehun dengan nada mengejek itu. Ia terus memakan sayurannya. "Pipi Jongin hyung bertambah tembam." Sehun langsung menelan ludah kasar, usai mengatakan kalimat itu. Bukankah berat badan adalah isu sensitif.
"Aku hamil, berat badan naik sudah wajar." Balas Jongin santai. "Yang penting aku sehat."
"Jongin hyung tidak cemas dengan perubahan bentuk badan nanti?"
"Tentu saja aku cemas, tapi kau pasti akan membantaiku jika aku memilih menggugurkan bayi ini."
"Bayi kita." Sehun membenarkan kalimat Jongin. "Dan aku tidak akan membantaimu Jongin hyung. Aku yang akan pergi dari Negara ini."
"Sudah jangan membahas hal itu lagi, suasananya jadi suram." Ucap Jongin ia meraih gelas berisi air putih dan meminumnya sedikit. "Kau membawa peralatan mandi atau tidak?" Sehun mengangguk pelan. "Sebelum tidur jangan lupa menggosok gigi, mencuci muka, mencuci kaki dan tangan."
"Iya Sayang."
"Astaga panggilan apa itu?! Jangan memanggilku seperti itu."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka."
"Jika aku bersikeras bagaimana?"
"Jangan marah jika ada piring melayang ke wajahmu."
"Oooo, sensitif." Sehun justru menggoda Jongin bukannya menurut.
Jongin menarik napas dalam-dalam, menekan amarah. Ia sadar meski sangat menyebalkan Sehun adalah manusia, manusia yang memiliki keluarga, memiliki ayah, memiliki ibu, kakak laki-laki, kakek, nenek, dan kerabat lainnya jika Sehun celaka. Dirinya harus memberi keterangan di kantor polisi. Urusan yang runyam. "Selesaikan makan malammu, biar aku yang membereskan meja." Putus Jongin.
"Baiklah, Jongin hyung ingin belajar menjad istri yang baik?"
"Sehun hentikan, kau membuatku pusing."
"Maaf." Gumam Sehun sambil melempar tatapan polos minta belas kasihan.
Ternyata menunggu Sehun makan itu adalah kegiatan yang membuang waktu, Sehun makan sangat lama. Jongin bahkan hampir menyuapi Sehun, jika anak laki-laki itu tidak menghabiskan makanannya dalam waktu tambahan lima menit. "Aku selesai." Ucap Sehun.
"Apa kau selalu lama jika makan?"
"Tidak juga. Menurutku tidak lama."
"Itukan menurutmu," Jongin menggerutu sambil berdiri dari kursinya. "Pergilah ke kamarku, dan lakukan apa yang aku katakan tadi. Cepat tidur aku tahu besok kau pasti ada kegiatan."
"Ya." Sehun membalas singkat disertai senyuman lebar.
Setelah Sehun pergi, Jongin mulai mencuci peralatan makan kotor tadi Sehun membantunya dengan memindahkan peralatan makan kotor dari meja ke bak cucian. Jongin bisa membereskan pekerjaan itu dengan cepat karena memang tidak banyak yang harus dicuci.
"Jongin hyung."
"Ya?" Jongin memutar tubuhnya menatap Sehun yang tampak segar dengan wajah yang masih basah. "Kau tidak membawa handuk?" Sehun menggeleng pelan. Jongin berjalan mendekati Sehun dan mengajak Sehun ke kamar barunya.
"Kamar ini lebih kecil." Sehun memberi komentar sembari mendudukkan dirinya di pinggir ranjang tempat tidur. Jongin tidak menjawab dia menyerahkan handuk bersih yang diambilnya dari lemari pakaian kepada Sehun. "Terimakasih." Ucap Sehun.
Jongin cukup terkejut, kenapa setelah mencuci muka wajah Sehun terlihat semakin putih. "Wajahmu lebih putih atau mataku yang bermasalah?"
"Ya, wajahku memang sangat putih saat melakukan pemotretan atau saat keluar rumah aku membuat kulitku tampak lebih gelap."
"Ah seperti itu rupanya."
"Pergilah tidur."
Sehun menggeleng pelan. "Aku baru saja makan, tidur setelah makan tidak baik untuk lambung."
"Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan."
"Jongin hyung mau kemana?"
"Kamar mandi."
"Aku tunggu di ruang keluarga."
"Ya." Jongin membalas singkat sebelum pergi.
.
.
.
Sehun duduk di depan televisi tanpa antusias, ia terus mengganti-ganti saluran dengan ekspresi bosan. Dan Jongin lama sekali keluar dari kamar mandi, itu membuatnya hampir berteriak frustasi. "Sebenarnya apa yang ingin kau tonton?" Sehun mendongak menatap Jongin dengan ekspresi datar.
"Aku juga tidak tahu."
"Lihat saja acara musik atau saluran pendidikan."
"Itu membosankan."
"Aku suka acara musik."
"Lihat saja yang Jongin hyung inginkan." Sehun menatap Jongin dengan tatapan malas, Jongin lantas duduk di samping Sehun tentu dengan berjarak. Ia menerima remot dari tangan Sehun dan mencari saluran yang menayangkan acara musik.
"Wah!" Jongin berteriak senang kala meliha Shinee di televisi. "Aku suka mereka." Ucapnya kemudian mulai menaikkan volume televisi.
"Aku tidak suka mereka."
"Kau bilang aku bisa melihat apapun yang aku inginkan." Jongin membalas tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.
"Aku tidak suka Jongin hyung."
"Kenapa kau jadi merengek?" Jongin akhirnya menatap Sehun. Dan apa itu?! Kedua mata Sehun berkaca-kaca, demi apapun. Sehun si bocah keturunan setan itu tidak pantas menangis. Dengan berat hati Jongin menyerahkan remot di tangannya. "Ganti dengan apapun yang kau inginkan."
"Tentu." Balas Sehun sembari menyambar remot dari tangan Jongin.
"Aku ingin tidur sekarang." Ucap Jongin sambil berdiri dari duduknya.
"Jongin hyung boleh menonton Shinee lagi." Sehun berpikir jika Jongin kesal padanya.
"Tidak, kau tonton saja aku memang ingin tidur."
"Ya sudah kalau begitu."
"Jika kau lapar ada camilan di kabinet atas di dapur, kau cari saja sendiri dan pilih sesukamu."
"Ya."
"Selamat malam—Sehun." Ucap Jongin dengan nada ragu-ragu.
"Selamat malam Jongin hyung." Jongin tersenyum simpul sebelum berlalu dari ruang keluarga dan masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Dua jam dan Jongin belum bisa memejamkan kedua matanya. Punggungnya terasa pegal karena terus berbaring dan tidak juga tertidur. Menyerah, Jongin memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Saat pintu terbuka suara televisi terdengar jelas. Jongin berjalan pelan menuju ruang keluarga, ia berpikir mungkin Sehun tidur namun televisi masih menyala. Itu yang biasa dilakukan anak remaja malas seperti Sehun.
Ternya Sehun masih terjaga menikmati acara komedi malam hari. "Kau belum tidur?"
"Besok masih libur."
"Jangan sering begadang." Sehun tidak menjawab nasihat Jongin. "Besok aku akan melihat apartemen jka semuanya sudah siap aku akan menghubungimu."
"Sebelum itu kirimkan alamat apartemen Hyung yang baru padaku."
"Hmm, mana ponselmu?" Sehun menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil pnselnya yang ia letakkan di atas meja kopi. Jongin menerima ponsel Sehun, mengetikkan alamat apartemen barunya pada catatan ponsel Sehun. "Sudah."
Sehun menerima ponselnya kembali, meneliti catatan yang Jongin tulis. "Baiklah, besok setelah semua kegiatanku selesai aku akan langsung berkunjung jika Jongin hyung berbohong….,"
"Kau mengancamku?!" pekik Jongin memotong kalimat Sehun.
Sehun mengangguk cepat. "Tentu saja aku mengancam."
"Memang ancaman seperti apa yang bisa kau berikan padaku?"
"Banyak hal dan aku tidak akan menyebutkannya, yang jelas lebih mengerikan dibanding menghamilimu Hyung."
"Bocah gila…," desis Jongin sambil melangkah pergi menuju dapur untuk mengambil air minum. "Jongin hyung tidak bisa tidur?" pertanyaan Sehun membuat langkah Jongin terhenti.
"Hmm." Jongin hanya menggumam.
"Kenapa tidak bisa tidur?"
"Aku haus." Dusta Jongin kemudian berlalu dari ruang keluarga. Saat dirinya membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral, Jongin merasa benar-benar bodoh karena dia tidak merasa haus dan pergi ke dapur sebagai alibi.
Pada akhirnya Jongin kembali ke ruang keluarga dengan dua botol air mineral di tangannya. Ia letakkan dua botol air mineral itu di atas meja kopi kemudian duduk di samping Sehun. "Kau tidak mengambil camilan atau makanan apapun?"
"Tidak, aku tidak lapar."
"Hmmm."
"Kenapa Jongin hyung tidak bisa tidur?"
"Aku juga tidak tahu."
"Apa karena aku ada di rumah ini?"
"Tidak!" Jongin menjawab cepat sehingga terdengar seperti teriakkan, padahal dia tidak bermaksud untuk berteriak. "Maaf, tidak, kau tidak mengganggu, aku juga tidak tahu kenapa tidak bisa tidur."
"Jongin hyung merasa lelah?"
"Sangat lelah."
"Mengantuk?"
"Ya."
"Hmmm." Sehun bergumam pelan.
"Kau tahu masalahku dan bagaimana mengatasinya?"
"Tidak tahu." Balas Sehun kemudian tersenyum lebar, Jongin langsung melempar tatapan malas. Ia tidak mengatakan apapun dan lebih memilih menyandarkan punggung dan kepalanya pada sofa. Sehun melirik Jongin, ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Sehun menggeser tubuhnya membuat dirinya berhimpitan dengan Jongin tanpa sadar Jongin menyandarkan kepalanya pada dada Sehun. Sehun memeluk sisi kanan tubuh Jongin. Irama detak jantung Sehun, dengan cara yang aneh membuat kedua kelopak mata Jongin terasa berat. Berulang kali Jongin melawan rasa kantuknya, memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Namun, ia tidak berhasil dan pada akhirnya jatuh tertidur.
"Belum lima menit Jongin hyung, kenapa kau tidak mengakui jika kau membutuhkan aku Jongin hyung." gumam Sehun sambil menunduk untuk mengamati wajah Jongin yang tengah tertidur. Sehun mematikan televisi agar Jongin tidak terganggu.
Setelah yakin jika Jongin benar-benar terlelap, perlahan Sehun memindahkan kepala Jongin dari dadanya pada sandaran sofa. Ia berdiri dan mengangkat tubuh Jongin. Hal itu membuat Sehun cukup terkejut dengan perubahan berat badan Jongin, namun Sehun justru tersenyum ia tahu karena apa berat badan Jongin bertmbah. Dan itu membuatnya merasa bahagia.
Perlahan Sehun membaringkan tubuh Jongin ke atas ranjang tempat tidur, menyelimutinya dan entah mengapa Sehun ingin berbaring di samping Jongin. Perasaan ini, rasa nyaman berada di samping Jongin memang telah Sehun rasakan sejak dulu, tapi sekarang terasa sangat kuat. Ia ingin berada dekat dengan Jongin. Perlahan Sehun naik ke atas ranjang tempat tidur setelah menutup pintu kamar, ia berbaring menyamping ke kanan dan memeluk tubuh Jongin dengan lembut.
Jongin terjaga dari tidurnya, ia pikir sekarang sudah terang namun saat ia memeriksa jam duduk di atas nakas, dilihatnya waktu masih menunjukkan pukul dua pagi. "Sehun." Gumamnya pelan saat menoleh ke kanan dan melihat Sehun yang tengah lelap tertidur.
Tiba-tiba kedua kelopak mata Sehun terbuka, seolah dia tahu sedang diperhatikan. "Kenapa Jongin hyung bangun?"
"Entahlah."
"Jika tidak haus atau lainnya tidurlah lagi."
"Hmm." Gumam Jongin ia mengubah posisi berbaringnya memunggungi Sehun. "Aku—aku bermimpi buruk tentang keluargaku, aku merindukan mereka tapi mereka benar-benar membenciku hanya dengan satu kesalahan ini."
"Sssttt…., jangan memikirkan hal itu lagi. Aku keluargamu, Jongin hyung tidak sendiri, sekarang tidur lagi." Ucap Sehun lantas memeluk perut Jongin. "Sebentar lagi genap dua bulan kan?"
"Hmmm."
"Tepatnya saat aku mengikuti kompetisi menari, aku akan menang demi bayi kita Jongin hyung."
"Kau terlalu banyak bicara Sehun, tidurlah." Sehun tertawa pelan, membuat napas hangatnya menyapu tengkuk Jongin. Jongin menahan tawa karena hal itu membuatnya geli. "Jangan terlalu dekat dengan tengkukku, membuatku geli."
Sehun tidak berhenti setelah mendengar kalimat Jongin. Saat Jongin mencubit lengannya barulah Sehun berhenti tertawa dan menjauhkan kepalanya dari tengkuk Jongin. "Tidur atau aku akan membuat Jongin hyung semakin geli."
"Baiklah." Jongin berucap pelan.
"Aku mencintaimu Jongin hyung."
"Aku juga." Sehun yang hampir menutup kedua kelopak matanya seketika terjaga, ia menarik pelan bahu kiri Jongin. Membuat Jongin kini berbaring miring menghadapnya. "Bukannya kau menyuruhku untuk tidur?"
"Ya, tapi aku ingin mendengar ulang kalimat Jongin hyung."
"Kalimat yang mana?"
"Setelah aku mengatakan cinta tadi." Sehun menatap lekat-lekat kedua mata bulat Jongin.
"Aku tidak mengatakan apa-apa." Jongin seperti biasa adalah Jongin yang keras kepala.
"Jongin hyung." Dan Sehun bukanlah seorang yang mudah putus asa.
"AkumencintaimuSehun." Jongin mengucapkan kalimatnya dengan cepat tanpa jeda, Sehun sempat bingung namun ia dengan cepat memahami kalimat Jongin.
"Sejak kapan?"
"Aku—tidak tahu." Balas Jongin ragu-ragu.
Sehun tertawa pelan kemudian mengecup lembut kening Jongin. "Sudahlah, itu tidak penting kapan Jongin hyung mulai mencintaiku. Tidurlah sekarang."
"Hmmm."
"Tapi aku benar-benar penasaran, apa Jongin hyung mencintaiku setelah hamil? Langkahku benar-benar tepat untuk menghamilimu Jongin hyung."
"Diam bocah!" dengus Jongin Sehun tertawa pelan namun hal itu hanya sesaat ketika dirinya merasakan pelukan Jongin pada pinggangnya dan wajah Jongin yang ditelusupkan pada dada bidangnya.
"Selamat tidur, beruang manisku." Bisik Sehun sambil mengusap-usap pelan punggung Jongin.
.
.
.
Jongin terjaga karena mendengar suara yang terdengar seperti suara muntah. Ia bergegas turun dari ranjang tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi. Sehun, tentu saja Sehun. Jongin ingin pergi tapi ia merasa iba, pada akhirnya Jongin berjalan mendekat dan meletakkan tangan kanannya pada tengkuk Sehun, memijitnya pelan. Setelah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnya, Sehun berkumur dan menggosok giginya.
Jongin menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Sehun untuk mengeringkan wajah dan mulutnya. "Apa sudah lama?"
"Sejak aku tahu Jongin hyung hamil." Jongin tak menjawab, Sehun menoleh dan bertatapan langsung dengan kedua mata bulat Jongin. "Ada apa?"
"Kenapa aku merasa bersalah ya?" ucap Jongin kemudian tersenyum miring. Sehun hanya mengendikkan kedua bahunya singkat. "Ah aku tahu." Ucap Jongin tanpa sadar ia menggenggam pergelangan tangan kanan Sehun dan menarik Sehun keluar dari kamar mandi. Sehun cukup terperanjat dengan tindakan Jongin, namun ia tak bisa mencegah perasaan bahagia yang kini memenuhi rongga dadanya.
Jongin meminta Sehun untuk duduk di belakang meja makan sementara dirinya sibuk di dapur. Sehun mengerutkan dahinya. "Setahuku Jongin hyung tidak bisa memasak."
"Aku tidak memasak."
"Lalu apa yang Jongin hyung lakukan?"
"Membuat air jahe, aku pernah membaca artikel jika jahe bisa meredakan mual karena kau sudah terlalu banyak mengkonsumsi jeruk."
"Ah seperti itu rupanya kalau begitu aku akan memesan makanan untuk kita berdua."
"Ya." Jongin membalas singkat karena perhatiannya tertuju pada air mendidih dengan potongan jahe di dalamnya. "Jahenya cukup atau tidak ya?" Jongin bertanya dengan nada bingung kepada dirinya sendiri. "Sehun." Jongin menoleh ke belakang menatap Sehun, pada akhirnya menyerah dengan kemampuan di dapurnya.
"Ya?"
"Aku tidak tahu apa jumlah jahenya sesuai atau tidak?"
"Apa airnya sudah beraroma jahe? Apa warna airnya berubah?" pertanyaan Sehun otomatis membuat Jongin menoleh mengamati panci di hadapannya. Jongin menggeleng pelan. Sehun mendesis pelan kemudian berjalan mendekati Jongin.
Sehun tidak tahu harus tertawa, mengejek, atau memarahi Jongin, sepanci air dengan potongan jahe yang panjangnya tak sampai seruas jari. Benar-benar cara membuat air jahe yang sangat jenius. Bahkan Sehun masih layak membanggakan kemampuan memasak mie instan dan menggoreng telurnya. Jongin benar-benar parah. "Masih kurang banyak Jongin hyung, mana sisa jahenya?
"Itu." Jongin menunjuk sekilas sisa jahe di samping kanannya. Sehun mengambil sisa potongan jahe dan memasukkan semuanya ke dalam air panas.
"Ah dimasukkan semua." Jongin menggumam tidak penting.
"Sepertinya sudah siap, matikan apinya Jongin hyung." Jongin menuruti perintah Sehun. "Biar aku yang menuangnya sendiri ke dalam gelas."
"Jangan! Maksudku—yang berniat membuat aku kenapa kau yang jadi repot?"
"Sudahlah." Balas Sehun tidak ada bantahan.
"Ya, ya, terserah kau saja." Ucap Jongin kemudian memutuskan untuk pergi ke meja makan. "Kau pesan apa untuk sarapan?"
"Makanan sehat."
"Tentu saja, itu satu-satunya hal yang ada di dalam otakmu." Jongin menggerutu pelan.
"Apa? Jongin hyung mengatakan sesuatu?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Kau salah dengar." Kilah Jongin.
Tak lama kemudian Sehun membawa dua cangkir ke meja makan. "Aku sudah menambahkan gula." Ucap Sehun sembari meletakkan satu cangkir ke hadapan Jongin.
"Aku tidak ingin minum."
"Aku tidak bisa meminumnya sendiri, terlalu banyak."
"Nanti saja, terlalu panas." Ucap Jongin sambil mendorong cangkir air jahenya sedikit menjauh.
"Sampai saat ini Jongin hyung masih memikirkan tentang masalah keluarga Jongin hyung?"
"Tentu saja."
"Hmmm."
"Aku tidak tahu apa suatu hari nanti aku mendapat maaf dari orangtuaku atau tidak." Ucap Jongin lantas menatap wajah Sehun selama beberapa detik.
"Kita bicara kemungkinan terburuk, bagaimana jika Jongin hyung tidak mendapatkan maaf?"
"Setidaknya aku tak jadi pembunuh."
"Untuk saat ini tidak usah dipikirkan saja." Ucap Sehun kemudian menyesap air jahenya. "Tapi aku yakin Jongin hyung sedang berpikir sekarang, entah itu tentang keluarga Jongin hyung atau tentang hal lainnya."
"Kau tahu darimana?"
"Wajah Jongin hyung itu terlihat jelas sekali sedang berpikir, terlalu tegang."
"Hanya memikirkan persoalan yang menyebalkan."
"Sebaiknya tidak usah dibahas?"
"Ya, sebaiknya tidak usah dibahas."
"Baiklah kalau begitu—Jongin hyung harus tahu jika aku selalu ada untuk Jongin hyung."
Jongin tersenyum miring selama beberapa detik. "Habiskan air jahemu." Ucapnya singkat.
TBC
Terimakasih atas kesediaan waktu seluruh pembaca, terimakasih sudah membaca cerita aneh saya dan setia dengan update lambat saya. Terimakasih untuk widiantini9, Hunna94, Miranty Arinka, Hun94Kai88, laxyvords, VampireDPS, BabyWolf Jonginnie Kim, vipbigbang74, Athiyyah417, ariska, youngimongi, mimi, Calum'sNoona, kimkai88, Rey16, elferani, Ranhy, Grey378, jumeeeeeeee, cute, MooN48, whitechrysan, youngihan, melizwufan, typo's hickeys, utsukushii02, LulluBee, saya sayya, ucinaze, WyfZooey, diannurmayasari15, kanzujacksonjk, vivikim406, fitrysukma39, sejin kimkai, chanzhr, novisaputri09, Seraphine Rin, milkylove0000170000, dhadhiaa, exoldkspcybxcs1, Jung NaeRa, SparkyuELF137, NisrinaHunkai99, ulfahcuittybeams, kaerinkartika, Kim Jongin Kai, KaiNieris, jjong86, geash, ohkim9488, tobanga garry, Baegy0408, sekali lagi terimakasih atas review kalian sampai jumpa di chapter selanjutnya.
