Selamat pagi.
Saya berharap saat kalian bangun pagi ini, kalian akan tersenyum karena mendapat notifikasi bahwa cerita ini sudah di update. Itulah harapan sederhanaku saat menulis cerita ini.
Have a nice day. Good luck for whatever you will do today.
-oOo-
Don't read and run, leave a review.
-oOo-
Lihatlah! Dia tumbuh dengan sangat baik kan? Menjadi pria yang sangat cantik. Ah, aku hanya bercanda. Mungkin saja dia akan marah jika aku mengatakannya, karena nyatanya dia adalah seorang pria. Pria yang sangat tampan. Rambutnya yang dicat coklat sangat pas dengan kulit putihnya. Bahkan beberapa kali kulihat gadis-gadis menggodanya dengan senyuman genit. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak tertarik. Dia bahkan enggan tersenyum pada mereka.
Dia adikku. Namanya Byun Baekhyun. Kenapa marga kami berbeda? Karena dia adik yang kudapatkan dari orang lain yang bukan ibuku dan ayahku tidak menikahi ibunya. Kenapa aku hanya berdiri di sini dan tidak menyapanya? Ah, rasanya aku ingin sekali menemuinya dan memeluknya. Tapi sepertinya aku harus berpikir ulang ribuan kali. Aku telah meninggalkannya dulu. Meninggalkannya sendirian bersama seorang ayah brengsek yang selalu memukul keluarganya. Alih-alih menerima kehadiranku, kurasa dia akan sangat membenciku.
Dan juga, aku bukan lagi orang yang baik sekarang. Aku bagian dari sekelompok orang-orang yang mengerjakan hal-hal gila demi uang. Dia mungkin akan semakin membenciku jika dia tahu itu. Lagian, kurasa itu akan sangat berbahaya jika sampai dia terlibat dengan orang sepertiku.
Ini sudah hampir satu bulan aku mengikutinya. Dan kurasa dia tidak memiliki hubungan baik dengan orang lain. Dia tidak pernah terlihat berbicara dengan siapapun. Dia juga tidak pernah mengerjakan tugas bersama teman-temannya di gazebo kampus seperti mahasiswa pada umumnya. Apa orang-orang membulinya?
Selain itu, kurasa dia menyembunyikan sesuatu. Dia selalu pergi ke taman dengan hoddie yang menutupi kepalanya padahal cuaca sedang panas. Dia sering menolah-noleh seperti sedang mencari seseorang padahal dia hanya akan membuang sampah. Lalu setelahnya dia selalu ke ATM. Entah apa yang dilakukannya. Dia selalu tampak misterius pada saat-saat seperti itu. Tapi dia akan tampak normal setelahnya. Seperti mahasiswa pada umumnya.
Melihat penampilannya. Orang-orang akan mengira dia berasal dari keluarga kaya dengan orang tua yang memanjakannya hingga dia berubah menjadi pribadi yang arogan. Begitupun aku jika saja aku tak mendgetahui latar belakangnya. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan di kota kecil. Dan setelah lulus sekolah, memutuskan pergi untuk kuliah dan menghidupi dirinya sendiri. Sekarang dia hanya tinggal seorang diri di sebuah apartemen yang tidak pernah terbuka tirainya. Aku tidak pernah melihat seorangpun masuk ke apartemen itu. Apa dia tidak memiliki siapapun? Mungkin seorang kekasih?
Baekhyun-ah, kau kenapa?
-oOo-
Don't read and run, leave a review.
-oOo-
Title:
The Hacker
Main Cast:
Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre:
Drama, Crime
Rate:
17+
Writer:
Hyun Ji Soo
-oOo-
Don't read and run, leave a review.
-oOo-
Aku berjalan dengan cepat menembus cuaca dingin yang semakin menusuk tulang. Ditambah lagi, sekarang ini aku sedang berjalan di jalanan tanah dengan semak-semak di kedua sisinya. Jalan raya dan halte bus sepertinya juga masih jauh. Aku mengenakan tudung hoddieku dan menggosok-gosokkan tanganku pada lengan untuk mengurangi hawa dingin yang menyerang seluruh tubuhku. Aku mempercepat langkahku untuk segera sampai.
Tapi yang membuatku kesal adalah kejadian yang kualami barusan. Rasanya aku baru saja terseret dalam sebuah drama bergenre action kriminal. Ahhhh. Aku mengacak rambutku yang tertutup hoddie dengan kasar. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Betapa aku sangat menyesali keputusanku yang telah membuka pintu rumahku waktu itu. Hingga aku harus terlibat dengan masalah seperti ini. Aku harus bagaimana sekarang? Semahal inikah harga yang harus kubayar karena telah mempercayai seseorang?
=Flashback=
"Bunuh saja dia."
Aku berbalik dan melangkah menuju pintu. Setelah berpikir panjang, sepertinya itulah keputusan terbaik yang harus aku ambil. Bagaimanapun, aku harus melepaskan diri dari 5second sebelum mereka benar-benar menjerat leherku. Selain itu, aku juga ingin mengembalikan hidupku seperti dulu. Seperti saat sebelum penipu bernama Park Chanyeol itu datang dan mengacaukannya.
Dia mungkin saja kakakku. Lalu kenapa memangnya? Dulu dia tidak peduli padaku dan meninggalkanku, lalu sekarang dia membawaku pada orang-orang kejam yang menyebut diri mereka 5second. Begitukah seseorang yang harus kupanggil kakak? Tidak, aku tidak menginginkan seorang kakak sepertinya.
Apakah tidak apa-apa jika dia benar-benar mati? Sebenarnya sebagai sesama manusia aku juga sedikit khawatir. Tapi aku segera mengesampingkannya. Mereka sepertinya sudah saling mengenal sejak lama, jadi tidak mungkin juga mereka saling menyakiti. Lagi pula memangnya membunuh semudah itu?
"Kau lihat Loey Park. Dia tidak menginginkanmu. Jadi, selamat tinggal." -Kris
Klekkkk
Sekali lagi aku mendengar suara pelatuk ditarik, dan saat itu tiba-tiba sebuah kalimat dari ingatanku yang dulu pernah kuucapkan bagai mantra muncul kembali.
"Aku akan menjagamu hyung. Aku berjanji padamu."
Aku menggeleng pelan. Aku mencoba mengabaikannya dan terus melangkah. Tapi suara-suara itu tak juga menghilang. Bahkan sekarang muncul bayangan bocah kecil yang tersenyum sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Dan sepertinya bocah itu adalah aku.
"Aku akan menjagamu hyung. Aku berjanji padamu."
Aku tak dapat menahannya lagi. Bayangan itu menarikku terlalu kuat hingga tepat pada saat tanganku meraih gagang pintu, aku memutuskan berbalik. Mungkin itu adalah hal yang sangat konyol. Tapi hatiku merasa aku harus memenuhi janji bocah kecil itu pada hyungnya.
"Aku punya syarat tambahan." -Baekhyun
"Katakan." -Kris
"Bersihkan namanya dari kasus itu." -Baekhyun
"Deal." -Kris
"Dan juga. . . jika kau menginginkan sesuatu dariku, katakan saja. Jangan pernah mencuri dariku." -Baekhyun
"Baiklah. Selamat bergabung dengan 5second Bacon-ah. Aku akan segera menghubungimu untuk pekerjaan pertamamu." -Kris
"Sudah? Begitu saja? Kris hyung, aku ingin mencoba pistol ini." -Kai
"Kau bisa mencobanya lain kali Kai-ya." -Kris
Kai merengut kesal, tapi Kris mengabaikannya. Pria tinggi itu turun dari kap mobilnya dan masuk lalu duduk di kursi kemudi. Kulihat dia menurunkan rooftop mobil itu. Sedangkan aku memilih berbalik dan segera keluar. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi setelahnya. Yang penting aku sudah menepati janji bocah itu pada Chanyeol. Janji yang baru saja kuingat. Janji bahwa aku akan menjaganya.
Bukannya aku tak khawatir pada diriku sendiri. Ini adalah keputusan yang sangat berat. Aku tidak benar-benar tahu aku bergabung dengan kelompok seperti apa dan tugas macam apa yang akan mereka berikan padaku nanti.
=Flashback End=
Tiba-tiba sorot lampu mobil menyinariku dari belakang, membuyarkanku semua pikiran-pikiranku tentang kejadian tadi. Akupun berbalik. Kulihat mobil sport merah tadi berjalan ke arahku dan melewatiku begitu saja. Tampak mobil itu dikemudikan oleh Kris dan Zitao berada di sampingnya. Di belakang mobil itu, sebuah motor gede yang dikemudikan oleh Kai tampak berjalan mengikuti. Mereka sama sekalitidakmenoleh padaku, benar-benar sombong. Cih, apa aku benar-benar akan bergabung dengan mereka?
Lalu tidak lama kemudian sebuah mobil yang kukenal berhenti tepat di depanku. Pengemudinya tak lain adalah Chanyeol. Dia keluar dari mobil, membuka pintu penumpang dan menarik tanganku agar aku masuk. Akupun menepisnya dengan kasar lalu melayangkan tinjuku padanya.
Tapi sungguh sial. Mengapa aku sangat lemah? Sepertinya tinjuku tidak meninggalkan luka luka padanya. Akupun mencengkeram kerah jaketnya dengan keras dan berteriak.
"KAU BENAR-BENAR PENIPU PARK CHANYEOL. BERANINYA KAU MENIPUKU SELAMA INI?"
"Baekhyun-ah. Aku minta maaf karena tidak mengatakan yang sebenarnya padamu."
"DASAR BRENGSEK."
Aku mendorong tubuh tinggi Chanyeol dengan semua kekuatanku hingga tubuh tinggi itu jatuh ke tanah. Aku menindihnya dan melayangkan beberapa pukulan lagi padanya. Meskipun dia sama sekali tidak melawan ataupun menghindar, aku sama sekali tidak peduli. Berharap semua rasa kesalku menghilang, aku terus memukulnya dengan membabi-buta. Aku bahkan tidakpeduli saat tanganku terasa sakit. Tapi tanpa kuduga, dia menahan tanganku saat aku meringis kesakitan.
"Cukup Baekhyun-ah. Tanganmu terluka. Bagaimana jika kau tidak bisa menggunakannya lagi. Kau sangat suka meretas kan? Kau butuh semua jari-jari tanganmu."
Akupun menepis tangannya dan menjatuhkan tubuhku untuk duduk di samping tubuh yang terlentang itu. Kuatur kembali napasku yang tersengal karena kelelahan setelah berkali-kali memukulnya.
"Kau berhutang penjelasan padaku brengsek."
"Tidak sekarang Baekhyun-ah. Kau terluka. Mari obati lukamu dulu."
Kulihat Chanyeol bangkit. Dia mengulurkan tangannya padaku. Lagi-lagi aku kembali menepisnya dan berdiri dengan kekuatanku sendiri. Diapun membuka pintu penumpang bagian depan untukku.
"Masuklah, tidak ada bus di sini. Menunggu taksi akan sangat lama."
Memang benar, sepertinya aku harus berjalan sangat jauh untuk sampai ke halte bus. Akupun mengesampingkan egoku dan masuk mobilnya. Diapun masuk mobil dan dengan cepat melajukan mobilnya menembus jalanan dingin di tempat terpencil ini.
-oOo-
Don't read and run, leave a review.
-oOo-
Setelah sempat berhenti sebentar di apotek, mobil kami berhenti tepat di tepi sungai dekat apartemenku. Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku.
"Akan kujawab semua pertanyaanmu Baekhyun-ah. Sambil mengobati lukamu. Di sini saja. Di rumahmu sangat pengap. Kau butuh udara segar."
Akupun keluar dan melangkah menuju rerumputan di tepi sungai. Chanyeol mendekat padaku dan duduk tepat di sampingku. Dia melepaskan jubahnya dan mengenakannya di punggungku. Dia juga mengeluarkan beberapa obat yang dibelinya tadi. Lalu dengan sangat hati-hati dia mengusap leherku yang berdarah dengan sapu tangannya.
"Apa ini sakit?"
"Kau menganggapku anak kecil hah? Aku hanya tergores."
Chanyeol hanya terkekeh kecil. Dia lalu melanjutkannya dengan mengoles salep dan menempelkan plester luka di leherku. Lalu dia beralih ke tanganku yang berdarah karena memukulnya tadi.
Aku sungguh malu saat ini. Aku yang memukulnya. Tapi itu hanya menimbulkan sedikit memar di wajahnya. Lalu mengapa malah tanganku yang berdarah? Benar-benar sial. Dia pasti menertawakanku dalam hati.
"Tanganmu seperti milik perempuan saja. Lentik. Mengapa kau menggunakannya untuk memukul?"
Benar kan? Dia menertawakanku, brengsek. Akupun segera menarik tanganku darinya. Di tanganku, dia telah memasang perban dengan sangat rapi. Mengapa dia seperti sudah terbiasa mengobati luka seperti ini? Apa dia juga sering dipukul seperti aku dulu?
Aku mengambil sebungkus rokok dari saku hoddieku. Aku butuh menenangkan diri dan menghisap tembakau adalah satu-satunya cara yang aku tahu. Tapi setelah membuka bungkus rokok itu, aku tidak menemukan satu batangpun di sana. Sial, habis. Aku meremas bungkus rokok itu dan melemparkannya begitu saja. Sepertinya Chanyeol menyadari apa yang kulakukan dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu menyerahkannya padaku. Sebuah lolipop rasa susu strawberri.
"Permen? Kau pikir aku anak kecil hah?"
"Kenapa memangnya? Aku menyukainya sampai sekarang."
Aku memandang permen itu cukup lama. Sebelum aku memutuskan untuk menerimanya dan memakannya. Dan anehnya, permen itu terasa pas dimuutku. Seolah itu lebih manjur untukmenenangkan diri dari pada rokok yang biasa kuhisap.
"Katakan sekarang. Apa benar yang mereka katakan bahwa kau adalah kakakku? Sedangkan aku tak mengingat apapun tentangmu."
"Bagaimana dengan sakit kepalamu?"
"Itu tidak seberapa. Aku bisa menahannya."
Aku terdiam sebentar, lalu kembauli merogoh kantong hoddieku untuk mengambil botol obat penenangku di sana. Setelah aku menelan satu butir, Chanyeol mengangsurkan botol air mineral padaku. Akupun segera mengenggaknya agar obat itu segera masuk ke tubuhku. Melihat dia tidak menanyakan sesuatu tentang obat itu, aku menduka dia mngetahui segalanya. Bahwa aku pergi ke psikiater hari setelah malam itu.
Chanyeol merebahkan dirinya di atas rumput dan menggunakan kedua telapak tangannya untuk menopang kepalanya. Kulihat dia memandang langit yang gelap dengan wajah sendu. Dia diam untuk sesaat sebelum mulai berbicara padaku tentang masa lalunya.
"Aku tidak pernah berbohong tentang adikku. Adik yang kuceritakan padamu itu, memang kau. Kau datang ke rumah kami saat berusia 7 tahun. Kau orang pertama yang tersenyum padaku seperti malaikat. Kau juga selalu bilang bahwa kau menyukaiku dan akan menjagaku."
"Aku tidak membencimu sama sekali pada awalnya. Bahkan aku sangat suka memiliki seorang adik sepertimu. Tapi ibuku tidak menyukaimu. Dia bilang kau yang sudah membuat kami dipukuli. Dan pada kenyataannya mereka bertengkar lebih sering setelah kau datang. Lalu akupun berubah menjadi jahat dan selalu membencimu."
"Lalu. . .kau sudah tahu bagaimana kelanjutan ceritanya."
"Omong kosong. Jika kau menyesal dan merindukanku, mengapa kau tidak mencariku?
Chanyeol bangkit dengan cepat dan memegang kedua bahuku lalu menatapku dalam-dalam.
"Mengapa kau berpikir aku tidak melakukannya? Aku melakukannya Baekhyun-ah. Aku mencarimu. Aku pulang ke rumah dan bertanya pada ayah di mana dirimu. Lalu dia bilang kau kabur dari rumah saat berusia 10 tahun. Dan dia tidak tahu kau masih hidup atau sudah mati. Aku bahkan mencarimu di panti asuhan, rumah sakit, dan tempat anak-anak jalanan berkumpul. Tapi kau tidak ada."
Chanyeol melepaskan bahuku. Aku menatap permen lolipop warna pink itu sambil mendengarkan ceritanya. Entah kenapa mendengar seseorang merindukanku dan mencariku, aku sedikit lega. Setidaknya aku bukan orang yang tidak berarti untuk siapapun di dunia ini.
"Semua karena kau mengganti namamu."
"Aku mengganti namaku? Tidak, aku tidak melakukannya."
"Ya, kau melakukannya. Kau menggunakan marga Park saat tinggal bersama ayah."
"Aku tidak mengingatnya."
Chanyeol kembali berwajah sendu dan menatapku dalam-dalam.
"Kau tahu Baekhyun-ah? Sebenarnya aku sangat terluka saat kau melupakanku bahkan saat kau tahu namaku. Sebegitu burukkah kenangan bersamaku hingga kau melupakannya? Apa aku lebih buruk daripada ayah brengsek itu? Tapi setelah aku melihat sendiri bagaimana traumamu malam itu, kupikir itu semacam metode pertahananmu dari rasa sakit. Karena itulah aku memutuskan tidak mengatakan sejujurnya padamu. Aku terlalu merasa bersalah karena telah meninggalkanmu. Kumohon maafkan aku dan juga ibuku."
"Lalu mengapa kau sampai terlibat dengan kelompok penjahat seperti 5second? Kau bilang kau bahagia dengan kehidupan barumu?"
"Karena aku merindukanmu. Karena aku merasa harus menebus semua kesalahanku padamu. Aku merasa putus asa karena tidak juga menemukanmu. Kau tahu betapa frustasinya aku?"
"Lalu?"
"Orang bernama Kris itu menawarkanku untuk bergabung dengan 5second dengan iming-iming mereka akan menemukan keberadaanmu untukku. Tanpa berpikir panjang, akupun bergabung jika itu bisa membawaku padamu. Banyak yang telah kulakukan untuk mereka. Menipu, mencuri, menculik, memeras. Hanya saja sampai saat ini aku menolak untuk membunuh. Tapi mereka menipuku. Mereka tidak pernah memberikan informasi tentangmu. Lalu aku marah dan mencuri informasi tentangmu dan menghilang."
"Foto itu? Kau menguntitku selama ini?"
"Sebenarnya aku ingin segera menemuimu. Aku ingin memelukmu dan meminta maaf. Tapi rasa bersalah itu membuatku tidak sanggup. Aku takut mendengar dari mulutmu bahwa kau membenciku. 'Aku menyukaimu hyung' karena itu yang biasa aku dengar dulu. Jadi aku memutuskan hanya akan mengamatimu dari jauh. Seperti seorang penguntit."
Aku mengeratkan jubah Chanyeol pada tubuhku. Malam semakin dingin saat larut.
"Kau kedinginan. Kita bicara di mobil saja."
"Tidak perlu. Pengap sekali di dalam mobil. Lanjutkan saja."
"Lalu mereka menemukanku dan memaksaku kembali. Tentu saja aku menolak karena takut kau akan semakin membenciku jika kau tahu siapa aku sebenarnya. Lalu mereka mengancam akan melukaimu."
"Kasus pembunuhan itu? Benar bukan kau?"
"Aku jujur tentang hal itu Baekhyun-ah. Aku mempunyai kebiasaan buruk saat mabuk. Ingatanku buruk dan aku bersikap impulsif. Jadi aku sendiri tidak yakin. Tapi stelah mendengarmu, aku yakin pada diriku sendiri bahwa aku bukan pelakunya. Mereka mungkin sengaja menjebakku."
"Kau yakin?"
"Aku berani bersumpah untuk itu. Lalu pada saat itu aku bersembunyi di sekitar apartemenmu, aku melihat Zitao di sana. Di sekitar apartemenmu. Akupun panik dan langsung menghampirimu di apartemen itu dengan menjadikan kasus itu sebagai alasan."
"Kau? Berani-beraninya melakukan itu padaku?"
"Tapi itulah kesalahan terbesarku padamu. Saat itu mereka belum mengetahui identitasmu sebagai Bacon. Tapi pada saat kau menghapus cctv apartemen itu, mereka menemukanmu dan mulai mengincarmu untuk dijadikan anggota tanpa sepengetahuanku. Selain itu mereka juga masih mengancamku untuk kembali menjadi anggota mereka atau mereka akan menyakitimu. Karena khawatir aku memasang alat pelacak itu padamu. Maafkan aku Baekhyun-ah karena sudah menyeretmu dalam bahaya. Kau boleh membenciku."
"Biarakan aku memikirkannya. Lalu aku akan memutuskan apa aku harus membencimu atau memaafkanmu karena telah menipuku selama ini. Kali ini aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk kabur."
Aku bangkit dan melangkah pergi. Aku harus pulang dan memikirkan apa yang seharusnya kulakukan pada Chanyeol setelah mengetahui kenyataan ini. Tapi lagi-lagi dia mencekal tanganku dengan erat.
"Biarkan aku menanyakan satu hal padamu. Kenapa kau melakukannya? Bukankah kau bilang kau membenciku? Mereka berbahaya Baekhyun-ah. Mereka bukan hanya sekumpulan hacker genius seperti yang kau katakan. Mereka menerima pekerjaan apapun termasuk membunuh."
"Aku. . . Aku mungkin sudah gila."
-oOo-
Don't read and run, leave a review.
-oOo-
To Be Continue
-oOo-
Ini terlalu singkat? Memang iya. Aku kehilangan moodku pada cerita ini beberapa hari ini. Aku tidak menulis dan hanya bermain instagram saat waktu senggangku. Aku banyak berkomentar tentang momen-momen lucu EXO di sana, karena itulah kemarin aku sempat membuat lapak baru dengan genre komedi. Aku juga sudah lama tidak menonton drama korea yang biasanya menjadi inspirasiku untuk menulis. Tapi malam ini aku terbangun dan mengingat janjiku untuk mengupdate cerita ini. Jadi aku kembali menulis. Aku berharap cerita ini tidak kehilangan jiwanya. Karena aku sudah memasukkan seuruh hatikudi sini. Semoga kalian menyukainya.
Terimakasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.
