Chapt. 11.

Baekhyun tiba didepan rumah Kim tepat jam 07:00 pagi dan ia bisa melihat mobil lamborghini Kai terparkir didalam garasi. Ini adalah kedua kalinya ia datang kerumah saingannya. Semua berkat Kyungsoo. Kim dan Byuns tidak pernah memiliki hubungan yang baik dalam bisnis. Meskipun Kim selalu dipuncak peringkat, Byuns tidak pernah menahan iri dan dendam.

Baekhyun bisa melihat Kyungsoo sedang menunggunya sambil duduk diantara kolam dan air mancur. Dia telah memandangi Kyungsoo selama 5 menit tapi Kyungsoo belum menyadari kehadirannya. Baekhyun menghela napas. Lalu, ia membunyikan klakson mobilnya sekali untuk menyadarkan Kyungsoo kerealitas.

Kyungsoo tersentak oleh suara klakson dan dia mencari sumber suaranya. Dibutuhkan kurang dari satu menit untuk Kyungsoo menemukan Baekhyun yang sedang menunggunya di mobil Audi R8-nya.

"Hei, Baek ... .." sapa Kyungsoo untuk sahabatnya dengan senyuman diwajahnya.

"Soo ... di mana Kai?" Kyungsoo kehilangan minat ketika ia mendengar nama Kai disebut.

"Baek, dibagian apa aku akan bekerja? Apa aku perlu melakukan wawancara terlebih dahulu?"

Baekhyun hanya bisa tersenyum sambil mengerling kearah sahabatnya yang duduk di kursi penumpang disampingnya. Kyungsoo hanya mengenakan kemeja abu-abu sederhana yang cocok dengan celana jeans abu-abu gelap, namun kelucuan dan kecantikannya adalah sesuatu yang tidak bisa disingkirkan dari penampilan Kyungsoo.

Setelah 30 menit, mereka tiba ditoko dua lantai. Baekhyun memarkirkan mobilnya dan lalu menyeret Kyungsoo kesalah satu toko yang memiliki papan yang tertulis, 'Pusat Belajar BBH'.

Kyungsoo mulai merasa aneh setelah ia memasuki gedung. Ada 3 ruangan yang benar-benar tampak sama persis seperti kelas pada umumnya disekolahan. Baekhyun menyeret Kyungsoo lagi keruangan disebelah dapur. Ruangan itu gelap dan kemudian Baekhyun menyalakan lampu, Kyungsoo terkagum. Ada 2 komputer disiapkan pada masing-masing meja.

"Ini adalah ruang staff sekaligus kantor," jelas Baekhyun tanpa Kyungsoo bertanya.

"Karena aku menggunakan hampir semua tabunganku, jadi mungkin ada suatu kekurangan disuatu tempat tapi, secara keseluruhan aku memiliki 50 siswa yang mengambil kelas pembelajaran mereka dipusat belajarku."

Kyungsoo hanya bisa berdiam diri. Dia masih ingat mimpi ambisius Baekhyun untuk membuka pusat pendidikan sendiri sejak mereka mulai studi mereka di Inggris sebelumnya.

"Congrats Baek, aku sangat bangga padamu. kau telah berusaha keras untuk salah satu impianmu."

Kyungsoo duduk di kursi yang berada di belakang Baekhyun. Sebenarnya, Kyungsoo tidak bisa menahan perasaan sedihnya yang keluar tiba-tiba. Jika membandingkan perjalanan hidupnya dengan Baekhyun, ada banyak perbedaan dalam banyak cara, kehidupan Baekhyun lebih cerah dibandingkan dengannya.

"Soo, kita tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah fakta yang sudah tertulis tetapi itu tidak berarti bahwa kehidupan seseorang telah berakhir. Kau masih memiliki hari esok, sehari setelah besok, minggu depan, dan dalam waktu dekat kau dapat mewarnai hidupmu yang membosankan. Ini adalah hidupmu Soo, dirimu, tidak ada yang bisa mengubah kearah mana perjalanan hidupmu berjalan, bahkan Kai tidak bisa mengendalikan hidupmu. Ini bukan akhir dari dunia."

Bagaimanapun, Kyungsoo menyeka air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir di pipinya. Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca.

"Bangkitlah, Soo. Jadilah kuat, dan jangan pernah biarkan Kai menghancurkan hidupmu. Hidup ini cukup adil. Setelah karma menampar keras pada nasib Kai, ia akan merasakan hal yang kau rasakan, Soo. Kita masih memiliki hukum, Soo. Jika Kai tidak mengambil tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan kau masih menderita di bawah sumpah pernikahan, pengadilan akan setuju dengan perceraian. Siapa yang memberinya hak untuk menggunakan istrinya sendiri sebagai budak? Di dunia mana ia belajar tentang hukum omong kosong itu?"

Sepertinya Baekhyun benar-benar marah terhadap Kai dan ia mencoba yang terbaik untuk memberikan banyak nasihat agar Kyungsoo bisa bangkit dan mengumpulkan semua kekuatannya untuk pertahanan dirinya. Dia ingin Kyungsoo kuat menghadapi semua kekacauan tersebut. waktu untuk menangisi masa lalu harus diselesaikan dan Kyungsoo harus bangkit dan berusaha keras untuk semua impiannya untuk masa depan.

"Terima kasih Baek, terima kasih. Hanya, beri aku waktu. Sejauh ini aku masih bisa menghadapi kesulitan ini. Hey, Baek, apa kau secara tidak langsung mengusulkanku untuk menjadi guru?" Tanya Kyungsoo, gembira.

"Lebih baik menjadi guru. Jika kau memiliki lebih banyak waktu luang, datanglah untuk membantuku menangani perusahaan. Kadang-kadang, aku butuh seorang lady tea untuk melayaniku juga." Goda Baekhyun.

"Hei, kau menghinaku!"

Baekhyun tertawa setelah Kyungsoo berpura-pura mencekik lehernya.

"Aku hanya bercanda okey."

Ruangan itu penuh dengan tawa dan teriakan mereka.

"Yah, aku benar-benar tidak keberatan untuk menjadi seorang lady tea, setidaknya aku punya uang untuk membayar pengeluaranku."

Baekhyun hanya menganggukan kepalanya sementara tangan kanannya mengusap bahu Kyungsoo, setuju dengan apa pun yang Kyungsoo katakan.

.

Sementara itu, di KJ Corporation, suasana terasa sangat dingin dan tegang. Setiap staf fokus pada kerjaan dan tugas mereka sejak bos mereka benar-benar tidak dalam suasana hati yang baik hari ini. Siapa pun yang memasuki ruangan Kai baik untuk mengirimkan proposal, atau menyerahkan perjanjian untuk Kai tanda tangani, atau memberitahukan untuk pertemuan berikutnya, semua yang mereka terima hanya teriakan dari suara yang serak dan dalam.

Kai mengambil napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya di kursi yang nyaman di kantornya. Dia benar-benar tidak bisa fokus dengan tugas-tugasnya sejak pagi ini, setelah pelayan mengatakan padanya bahwa Kyungsoo telah pergi keluar saat dia masih tidur. Dia mendidih dalam kemarahan.

Dia mulai mengutuk Kyungsoo karena lelaki itu mulai menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Kyungsoo sebagai seorang istri seharusnya memberitahukan kemanapun dia ingin pergi dan bahkan meminta izin sebelum ia pergi ke suatu tempat. Namun kemudian didalam dirinya ia berdebat dengan dirinya sendiri karena dialah yang mengatakan pada Kyungsoo bahwa pernikahan mereka hanya berlaku pada selembar kertas tidak dalam kehidupan nyata.

Dia tidak peduli tentang apa pun kecuali fakta bahwa Kyungsoo seharusnya menjadi budaknya. Dia telah merencanakan sesuatu untuk bermain dengan nasib Kyungsoo. Dia bangkit dari kursinya dan berdiri di samping jendela yang terbuka lebar dan melihat pemandangan kota Seoul yang sibuk. Kemudian, dia tersenyum karena ia tahu sebuah rencana to bring Kyungsoo down will work.

Larut malam, segera setelah Kyungsoo turun dari taksi, ia bisa melihat Kai sedang duduk ditaman kecil dengan pemandangan yang dirancang oleh botani terkenal di dunia. Kai saat ini tengan minum teh saat Kyungsoo masuk ke garasi rumah itu. Kyungsoo harus lewat didepan Kai karena taman kecil dimana Kai duduk adalah satu-satunya tempat yang membawanya kepintu utama rumah ini. Kyungsoo bisa melihat Kai menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Kyungsoo bertaruh it must be something dengan melihat wajah tanpa ekspresi Kai.

"Hi ..." Sapa Kyungsoo. Well, sebenarnya ia berusaha bersikap baik dengan Kai tapi Kai hanya diam dan tampak seperti dia tidak memiliki kepentingan untuk membalas sapaan Kyungsoo.

Kyungsoo berusaha bersikap baik tapi ia tidak mendapat respon dari Kai, jadi ia berjalan lebih cepat ke rumah tapi suara Kai telah menghentikannya.

"Hei, datang ke sini!" Kyungsoo menghentikan langkahnya. Dia melihat kesekitarnya, kekanan dan kirinya.

"Apa Kai sshi berbicara denganku?" Tanya Kyungsoo sebagai konfirmasi.

"Lalu, siapa lagi yang berdiri di sini? pelacur buta!" Jawab Kai, kasar.

"Namaku Kyungsoo dan bagaimana mungkin aku tahu kalau kata 'Hey' merujuk padaku," jawab Kyungsoo, dengan sengaja.

mata kai melebar setelah ia mendengar jawaban Kyungsoo. Dia menahan dirinya untuk tidak menampar keras pipi tembem Kyungsoo karena akan merusak rencana berikutnya. Kyungsoo berdiri dekat dengan suaminya, Kai. Dia bertekad setelah Baekhyun meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja jika ia tidak pernah membiarkan Kai untuk membuang haknya untuk bahagia, juga.

Kyungsoo tahu, Kai tidak pernah tulus untuk menerima dia sebagai istrinya. Dia berdoa setiap malam untuk membiarkan hati Kai melembut dan siap untuk menerimanya sebagai istri yang secara sah dan mulai mencintainya sepenuh hati. Kyungsoo benar-benar berharap bahwa suatu hari di masa depan, dia akan duduk dekat disebelah Kai dan tersenyum dalam kebahagiaan karena pernikahan mereka.

"Aku ingin kau bersiap-siap tepat jam 07:00 malam ini. Aku ingin membawamu untuk bertemu dengan teman-temanku," perintah Kai sambil meminum teh hijaunya tanpa repot-repot menawarkan Kyungsoo untuk minum dengannya.

"Jam 08:00 malam harusnya tak apa."

Jawaban Kyungsoo benar-benar mendidihkan Kai dalam amarah, lagi.

"APA?"

Kai telah berdiri dari kursinya dan secepat dia bisa, dia meraih pergelangan tangan Kyungsoo dan menariknya dengan kasar.

"Aku bilang jam 08:00 malam harusnya tak apa." Dengan keras Kyungsoo menjawab kembali.

Kyungsoo terluka dengan melihat sikap aneh Kai yang mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi.

"lepaskan aku!"

Kyungsoo menarik kembali pergelangan tangannya sekeras yang ia bisa sampai Kai melepaskan pergelangannya yang memar.

"Kau pikir negara ini tidak memiliki hukum, bukan? Aku masih memiliki orang tuaku dan kau tidak memiliki hak untuk memperlakukanku seperti seorang budak!"

Kyungsoo berbalik mendidih dalam kemarahan dan Kai speechless melihat Kyungsoo berani untuk berdebat kembali.

"Ingat Kai sshi, jika kau mencoba untuk menyakitiku lagi, aku tidak ragu-ragu untuk menuntutmu dengan hukum," jawab Kyungsoo dan ia berjalan pergi.

.

Kyungsoo sibuk melihat keluar dari jendela di kamarnya dan memandangi bintang-bintang dilangit. Dia sendirian tapi bintang-bintang selalu menemaninya. Dia lelah setelah hari pertamanya bekerja sebagai seorang guru pengajar, sehingga ia memutuskan untuk menghirup udara segar dimalam ini.

Tiba-tiba, pintu kamar nya terbuka oleh seseorang.

"Kyungsoo sshi, Tuan Kai menunggumu di luar. Dia memintamu untuk bergegas." Dengan lembut, Kang jibsa berkata pada Kyungsoo tentang perintah tuannya.

Kyungsoo tahu Kai telah merencanakan sesuatu untuknya malam ini. Kai tidak akan pernah membiarkannya pergi sampai orang itu, yang ia sebut sebagai suaminya cukup puas dan bahkan ingin membuat Kyungsoo berlutut di depannya, memohon maaf.

Harga diri Kyungsoo tidak berharga layaknya sampah.

Kyungsoo mengambil handuk dan mulai melucuti pakaiannya setelah Kang jibsa meninggalkan ruangan. Ini adalah satu-satunya cara untuk Kyungsoo menenangkan dirinya, berendam air panas dengan aroma lavender.

Kai sedang berjalan mondar-mandir diluar rumah, disamping lamborghini-nya. Kadang-kadang, ia menyelinap untuk melihat kedalam rumah, tapi dia tidak melihat Kyungsoo bahkan bayangannya. Kai lalu kehilangan kesabaran dan akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kekamar Kyungsoo.

Begitu tiba di depan kamar Kyungsoo, ia memutar kenop dan membuka pintu tapi tidak menemukan apapun. Karena kamar Kyungsoo terletak di sebelah dapur dan gudang, Kai mulai bertanya-tanya kemana Kyungsoo pergi. Kemudian, ia mendengar seseorang bersenandung lagu selagi mandi dikamar mandi yang terletak di antara kamar Kyungsoo dan kamar baru pelayannya.

Kai memutuskan untuk tidak mengganggu Kyungsoo dan berjalan kembali ke tempat ia memarkir mobilnya di garasi dan berencana pergi kemana ia berjanji untuk bertemu dengan teman-temannya sebelumnya.

Kai tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya. Ia marah saat mendengar suara lembut Kyungsoo bersenandung lagu dikamar mandi tadi. Sekarang, dia sedang menunggu Kyungsoo untuk keluar dari kamar mandi karena Kai telah merencanakan sesuatu dengan teman-temannya karena Kyungsoo masalah utama mereka. Jika Kyungsoo tidak datang dengannya, semua rencana yang mereka kerjakan akan hancur dalam satu detik.

Kyungsoo adalah seseorang yang selalu baik dalam berakting sebagai lelaki yang baik pikir Kai. Jika dia tidak bisa membawa Kyungsoo jatuh hari ini, tak apa, karena ia masih memiliki hari lain. 24 jam bukanlah perbedaan yang besar selama Kyungsoo akan sangat menderita.

Kai mengemudikan mobilnya ke tujuan yang mereka janjikan untuk bertemu.


Chapt. 12.

Ini hampir tengah malam dan disana masih ada beberapa mobil lewat dijalan dan salah satunya adalah lamborghini milik Kai. Terasa tegang dibagian dalam mobil sport mahal tersebut karena keduanya Kai dan Kyungsoo tidak berkata apa-apa sejak mereka memulai perjalanan mereka. Lagu-lagu slow yang berasal dari radio menemani keduanya mengisi situasi yang dingin. Kai memilih untuk fokus pada jalanan dan ia tidak menunjukkan petunjuk apapun untuk membuat percakapan dengan Kyungsoo.

Setelah Kyungsoo mandi, Kai masih menunggunya dan bahkan meminta Kyungsoo untuk menemaninya keapartemen untuk mengambil sesuatu yang dia ditinggalkan. Kyungsoo merasa semakin aneh dengan melihat sikap Kai yang entah bagaimana suaminya berpura-pura telah berubah.

Kai mengatakan pada Kyungsoo bahwa ia ingin membangun kembali pernikahan mereka dan memulai hubungan mereka yang semakin dingin dari hari kehari. Kyungsoo mengakuinya sejak mereka berdebat ditaman keduanya telah mengabaikan satu sama lain dan memilih cara mereka sendiri sebagai gantinya.

Jika saat Kai kehilangan kewarasannya dan bahkan mencoba untuk memperlakukannya seperti budak, Kyungsoo tidak pernah ragu untuk pergi dari kediaman Kim dan akhirnya pergi dari kehidupan Kai.

Nyonya dan tuan Kim telah kembali dari liburan mereka di Inggris, tetapi kehadiran mereka tidak berarti apa-apa untuk Kyungsoo karena tidak ada peningkatan antara dia dan keluarga Kim. orang tua Kai tidak pernah marah dengan kelakuan anak mereka yang membiarkan Kyungsoo, menantunya tidur dikamar bekas pembantu sebaliknya mereka berbicara tentang niat mereka untuk menikahkan Kai dan Krystal satu sama lain.

Kyungsoo berdiri di samping dinding bersembunyi agar ia tak telihat oleh nyonya Kim yang sibuk berbincang dengan Kai. Nyonya Kim benar-benar bersikeras ingin Kai menceraikan Kyungsoo dan mulai membangun keluarga baru dengan Krystal sebagai gantinya. Kyungsoo tidak menangis sungai tetapi ia telah menerima hal ini akan datang dalam waktu berikutnya jika ia masih ingin tinggal di sebelah Kai.

"Soo, kita sampai," suara serak yang dalam yang selalu berteriak sekarang berbicara dengan lembut kepada Kyungsoo.

Kyungsoo melihat sikap aneh Kai dan ia tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa Kai sebenarnya bicara dengan baik dengannya sekarang. Kyungsoo membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Kai keapartemennya.

Pemandangan disekitar sangat tenang dan serenade dan bangunan apartemen ini benar-benar dibuat untuk orang yang membutuhkan privasi untuk dirinya sendiri. Begitu sampai dipintu apartemen, Kyungsoo tersentak untuk melangkah masuk ke apartemen karena ini adalah dimana sejarah gelapnya dimulai. Dia masih bisa mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya terakhir kali.

Apartemen ini telah merubah nasibnya dalam sekejap mata. Jika awalnya dia tidak datang keapartemen ini, segala sesuatunya tidak akan pernah berubah menjadi berantakan seperti ini dan dia pasti sedang tertawa dengan keluarganya yang duduk mengelilinginya.

Kyungsoo sedang berdebat didalam hatinya, tapi senyuman manis Kai telah menghapuskan keraguannya. Lalu, Kai menarik lengan Kyungsoo dan menyeretnya masuk ke apartemen.

"Kenapa berdiri di sana?"

Begitu langkah Kyungsoo melewati kusen pintu apartemen Kai.

"Surprise!"

Kyungsoo speechless melihat hampir semua teman Kai berada di apartemen, memenuhi ruang kosong diruang tamunya.

"Guys, ini Kyungsoo, istri Kai. Ah, kalian mungkin tidak mengenalnya dengan baik, mereka sebenarnya dipaksa untuk menikah setelah sebuah insiden terjadi ..." Yongguk mencoba untuk menyelesaikan kata-katanya tapi sorak-sorai dan tawa dari teman Kai bergema di ruang tamu.

"Hello, bagian mana dari dirinya yang seorang istri?" Tanya Kai dan kemudian berjalan keluar dari ruang tamu menuju dapur, mengambil sesuatu untuk teman-temannya.

"Ups! Bukan seorang istri tapi pembantu atau budak mungkin. Well, seorang budak dengan gelar Guys." Kata Yongguk yang dijawab dengan banyak tawa yang datang dari semua orang kecuali Kyungsoo.

Pipi chubby Kyungsoo menyala merah saat ia menahan kemarahannya hanya dengan melihat wajah Kai. Dia marah karena tidak pernah didalam hidupnya ia mengejek tanpa rasa malu seperti ini.

"Ada apa ini?" Tanya Kyungsoo, melotot langsung ke mata Kai.

Semua teman-teman Kai ia tahu dan kenal karena mereka juga belajar di universitas yang sama di Inggris.

"Tidak ada, aku hanya ingin memperkenalkanmu kepada teman-temanku. Mereka berencana untuk memberikan pesta ini, untuk merayakan pernikahan kita, setidaknya kau harus menunjukkan beberapa Apresiasi," Jawab Kai kembali.

"Ini bukan pesta tapi sebaliknya ini penghinaan. Kau berpikir apa aku ini? Kau hanya mengutukku dengan lelucon sederhanamu dan lalu apa Kai? Aku pikir kau telah cukup memperlakukanku sebagai budak? Kau tidak berpikir bahwa kau akan hidup dengan baik seperti sebelumnya karena ketika karma menampar keras pada wajahmu, aku hanya akan melihatmu dari jauh."

Kyungsoo melebarkan matanya memandang semua orang yang datang ketempat yang disebut sebagai pesta dan entah bagaimana apartemen yang bising berubah hening.

"Abaikan pelacur ini, oke? Dia hanya berusaha untuk menunjukkan kebaikannya dan nanti ia akan mulai melawan. Hei pelacur! Jika kau berpikir aku takut dengan ancaman sialanmu itu salah!"

Kemudian, Kai mencengkeram lehernya dan mulai mencekik istrinya sampai mati. Kyungsoo begitu terkejut dengan serangan tiba-tiba Kai tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia bahkan tidak bisa bernapas. Kyungsoo melambaikan tangannya, memohon ampun atau bantuan karena dia tidak bisa berdiri lagi.

"Kai, lepaskan dia!" Pinta Taemin.

Sehun membantu menarik kembali tangan Kai yang terus mencekik Kyungsoo yang memucat.

"Sekarang kau mendaftar untuk menjadi seorang pembunuh?" Tanya Tao, sementara Sehun mencoba untuk menenangkan Kai.

"Kau benar, aku tidak ingin ditangkap dan dituduh bergabung sebagai komplotan," sela Taemin, marah.

"Pelacur ini harus diberikan lebih banyak pelajaran." Yongguk memotong percakapan mereka sambil matanya tidak pernah meninggalkan Kyungsoo. Dia benar-benar membenci Kyungsoo.

Sebenarnya, Yongguk marah karena Kyungsoo telah menghina dia sebelumnya.

"Apa kalian tahu, Kai dijebak untuk menikahi pelacur ini dan bos terbaik kita sudah cukup menderita. Aku, yang kebetulan bekerja dibawah perusahaan yang sama dengan Kai, tahu berapa banyak rasa sakit yang harus ditanggung oleh temanku yang dibuat oleh jalang ini!"

Yongguk menunjuk lurus kearah Kyungsoo. Kyungsoo yang masih bisa merasakan rasa sakit dari lehernya hanya mampu menampar pergi jari menjijikkan yang menunjuknya dekat dengan pipinya. Dia benar-benar marah terhadap Yongguk tapi dia benar-benar membenci suaminya sendiri. Seorang suami yang tidak tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya dengan lembut.

Kyungsoo benar-benar bertekad untuk membiarkan Kai menceraikannya karena dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi untuk menjadi istri dari seseorang yang selalu menyakitinya secara fisik dan mental. Kyungsoo juga lelaki, ia tidak akan menangis.

"Aku telah mencekikmu, apa sakit? Bagaimana tentang keluhanmu untuk merengek kepada orangtuamu sendiri, kau bilang kau masih memiliki satu, kan?" Kata Kai mengejek.

"Atau mungkin ... kau ingin melapor polisi bukan? Well, kantor polisi hanya disebrang jalan. Kau pikir aku akan takut, huh, pelacur!" Kata Kai sambil memukul kepala Kyungsoo ke dinding.

Kemudian, Kai tertawa keras melihat wajah menderita Kyungsoo dan dia pikir dia cukup puas. Kyungsoo tidak tahan dengan situasi ini, sehingga ia mengumpulkan semua kekuatannya, ia menantang Kai.

"Dengan asumsi temanmu sebagai saksi, jika kau benar-benar pria maka tunjukan dirimu yang sebenarnya. Jika kau benar-benar membenciku dan kau tidak ragu-ragu bahkan untuk membunuhku, aku menantangmu Kai, aku menantangmu untuk menceraikanku di depan mereka!"

Teriakan Kyungsoo bergema didalam apartemen tersebut karena ia telah kehilangan kesabarannya untuk menghadapi Kai sibocah sombong. Begitu Kyungsoo menyelesaikan kata-katanya, Kai memberinya tamparan keras dan Kyungsoo bisa merasakan sakit menyengat di pipi kanannya. Kyungsoo jatuh ke lantai yang dingin dan tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Semua teman Kai panik.

"Tidak apa-apa. Kalian boleh pulang lebih dulu. Dia selalu seperti ini, pura-pura pingsan. Aku telah melihat ini banyak sekali," kata Kai tanpa menunjukkan belas kasihannya untuk Kyungsoo.

"Apakah kau yakin dia akan baik-baik saja?" Tanya Sehun untuk konfirmasi.

Kai tersenyum sambil menepuk ringan bahu temannya meyakinkan bahwa semuanya masih di bawah kontrol. Sebelum Kai bisa menutup pintu, Yongguk membisikkan sesuatu ke Kai dan kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.

Kai membawa Kyungsoo di lengannya dengan gaya bridal dan menempatkan istrinya di tempat tidur berukuran besar. mata Kyungsoo tertutup rapat dan Kai mulai bertanya-tanya mengapa Kyungsoo begitu mudah pingsan.

Kai berjalan kedapur dan menuangkan air dingin ke dalam gelas. Dia mengambil pil dari saku celana jinsnya dan memasukkannya kedalam minuman. Sementara Kai berjalan kekamar tidur, ia bisa melihat Kyungsoo telah bangun dari pingsannya. Istrinya memegang kepala sambil matanya melirik kesetiap sudut di sekitarnya.

Kai cepat memperlihatkan senyum palsu sambil duduk di sebelah Kyungsoo tapi Kyungsoo dengan cepat turun dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu. Kyungsoo hanya bisa berpikir satu hal sederhana dan itu adalah, pergi meninggalkan rumah secepat yang ia bisa.

Kali ini Kyungsoo benar-benar bertekad untuk tidak hidup dengan Kai lagi tapi sebelum ia bisa mulai mengambil langkahnya untuk pergi, tangannya ditarik oleh Kai. Jantung Kyungsoo berdetak begitu cepat.

"Soo, aku minta maaf dengan apa yang telah terjadi. Aku kehilangan kendaliku tadi. Aku tahu aku tidak seharusnya memperlakukanmu seperti itu, benarkan?" sekarang ini suara Kai sangat lembut dan dengan spontan ia meraih punggung tangan Kyungsoo dan dia mulai menciuminya beberapa kali.

Perubahan drastis dari Kai membuat Kyungsoo tercengang.

"Sebenarnya apa ini? Kau berubah menjadi baik padaku secara tiba-tiba. Aku merasa cukup dengan permainanmu. Kai biarkan aku pergi. Aku berjanji, aku tidak akan pernah muncul di dekatmu lagi dan aku tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi." Kyungsoo terisak.

"Apa yang kau bicarakan, Soo? Tidak apa-apa, kita akan membahas tentang hal ini nanti. Sekarang, minumlah ini dan tenangkan dirimu."

Kai menyempatkan waktunya untuk melihat sudut bibir Kyungsoo yang memar dan luka. Sayangnya, ia cukup tak berperasaan bahkan hanya untuk mengurus rasa sakit Kyungsoo.

Kyungsoo membisukan dirinya sendiri untuk waktu yang lama. Dia mencoba untuk mencari tahu mengapa Kai berubah secara tiba-tiba dan dia tidak menemukan alasan apapun yang masuk akal. Dia juga tidak tahu saat ini Kai benar-benar tulus memperlakukannya dengan baik atau tidak.

"Minumlah Soo. Setelah kau minum ini, kita akan membahas tentang diri kita," rayu Kai sambil menyerahkan segelas air untuk Kyungsoo.

Kyungsoo tidak memiliki pilihan. Dia tahu, semakin cepat ia minum, semakin cepat masalah antara dia dan Kai terselesaikan. Begitu dia menghabiskannya sampai tetes terakhir, Kyungsoo lalu berdiri dan mencoba untuk berjalan keruang tamu dan Kai mengikuti dari belakang.

Kyungsoo berhasil duduk di sofa dengan nyaman sebelum ia merasakan sesuatu yang aneh didalam tubuhnya. Dia mulai merasa pusing dan tubuhnya terasa dingin dan panas. Kyungsoo tidak bisa mengendalikan dirinya sekarang.

"Apa yang telah kau lakukan, Kai?"

Kai menyeringai melihat Kyungsoo yang telah kehilangan keseimbangannya.

"Kau tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku tidak bodoh seperti yang kau pikirkan, untuk menceraikanmu. Setidaknya aku akan meninggalkan tanda pada tubuhmu sebelum perceraian terjadi."

Kai membawa Kyungsoo dipelukannya dan pergi kekamar tidurnya lagi. Kyungsoo bisa melihat Kai membuka kancing kemejanya, melepaskan sabuk dan bahkan membuka ritsleting celananya. Setelah Kai telanjang sepenuhnya, ia lalu beralih menelanjangi Kyungsoo dan meninggalkan istrinya telanjang dengan lemas di tempat tidur. Kyungsoo ingin lari namun ia kehilangan kekuatannya bahkan untuk melawan. Ia menangis lagi.

Kai terkagum hanya dengan melihat tubuh Kyungsoo terutama S-line-nya yang tidak semua orang memilikinya. Dia mulai menjilati setiap bagian yang bisa ia capai dan menciumnya dengan penuh nafsu. Dia telah menunggu untuk waktu yang lama untuk meninggalkan tanda ditubuh istrinya dan karena Kyungsoo telah kehilangan kekuatan untuk melawan, nafsunya telah mengendalikan dirinya sendiri.

Ini adalah sesuatu yang layak untuk tidak dibiarkannya dan dia harus memenuhi hasratnya setelah ia tahan untuk waktu yang cukup lama. Kyungsoo membiarkan Kai menyalahgunakan tubuhnya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis.

Kai mendorong masuk dan keluar dari lubang Kyungsoo tanpa persiapan apapun. Dia melakukannya dengan kasar dan liar. Akhirnya, Kyungsoo kehilangan keperjakaan lubangnya kepada suaminya sendiri yang tidak pernah mencintainya bahkan hanya untuk sedikit.

Untuk pertama kalinya dikehidupan Kai ia merasa puas, puas. Dia telah meninggalkan tanda ditubuh Kyungsoo dan bahkan ia telah mencuri harga diri Kyungsoo sebagai lelaki. Kemudian, ia tidak akan pernah ragu untuk melepaskan Kyungsoo dari hidupnya. Ya, ia tidak akan pernah membutuhkan Kyungsoo lagi.

Sementara itu, Kyungsoo sedang berdoa didalam hatinya bahwa ini bukanlah bagaimana ia melakukannya dengan suaminya. Dia ingin cinta Kai, belaian lembut Kai, ciuman dalam Kai, tapi bukan apa yang tengah terjadi sekarang. Kyungsoo memohon bantuan dalam doanya dan ia bisa melihat wajah ayahnya, wajah ibunya dan bahkan wajah Baekhyun sebelum kegelapan datang, dan Kyungsoo tak sadarkan diri lagi.

Kyungsoo merasa seperti tubuhnya berguncang keras dan ia mencoba untuk membuka matanya.

"Turun dari tempat tidurku, pelacur!" Teriak Kai dan lalu ia pergi menuju ke kamar mandi.

Kyungsoo bangun dengan cepat dan melihat sekelilingnya. Ya, adegan kemarin itu bukanlah mimpi. Kyungsoo menarik selimut tebal dan menutupi tubuhnya yang telanjang. Dia menangis lagi. Dia bisa melihat masa depannya masih dalam kegelapan dan dia tidak percaya bahwa suaminya sendiri telah memperkosanya bukan bercinta dengannya. Dia ingin berteriak keras karena ia membenci dirinya yang menjijikkan.

Kyungsoo bingung dan kemudian wajahnya berubah pucat. Bagaimana jika insiden kemarin meninggalkan sesuatu dalam dirinya dan apa yang akan terjadi di masa depan jika ia membawa gen Kai didalam dirinya? Tubuhnya mulai terguncang, menggigil dan kemudian ia menangis seperti tidak ada hari esok.

Semenit kemudian, pintu kamar mandi dibuka dan memperlihatkan Kai dengan wajah tanpa bersalahnya. Dia mengambil pakaian dari lemari dengan tenang.

"Cepat bersiap-siaplah! Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus dikerjakan diperusahaan. Aku tidak punya waktu untuk melihat air matamu yang menjijikkan."

"Bagaimanapun Soo Sayang, ini bukan sesuatu yang patut kau tangisi. Kita suami dan istri, ingat? Aku hanya mengambil tanggung jawab dan peranku sebagai seorang suami. Ini bukanlah pelanggaran hukum, benarkan?" Kata Kai dan dia tertawa sepenuh hati.

"Aku membencimu Kai! Kau tidak berada diposisi yang tepat untuk berbicara tentang tanggung jawab. Kau masih tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang suami dan aku ragu apa kau juga manusia." Balas Kyungsoo mengatakan apa yang telah ia susun didalam pikiran sejak kemarin.

Kai hendak menampar Kyungsoo, "Tampar aku kai! Aku tidak peduli lagi. Seorang pria pengecut sepertimu yang hanya menampar seseorang yang tidak melawan benar-benar cocok untukmu!"

Kyungsoo tidak tahu bagaimana berkata lebih banyak lagi. Dia benar-benar ingin mencakar wajah Kai, membunuhnya atau sesuatu tapi ia menahan dirinya.

"Kata-katamu tidak meninggalkan bekas luka apapun padaku Kyungsoo, dan aku telah mengambil sesuatu yang berharga darimu dan sekarang, kau tidak berguna layaknya sampah Kyungsoo."

Kai terus tertawa dan pergi meninggalkan Kyungsoo dikamar tidur. Kyungsoo melemparkan semua bantal ditempat tidur dan segala sesuatu didalam kamar tidur menuju kearah Kai sambil berteriak keras, mengutuk suaminya sendiri.

"Aku benci padamu Kai! Aku membencimu!"

Kyungsoo masih menangis sambil memeluk lututnya dan lalu ia menemukan sebuah cincin melingkar dijarinya. Kai memasangkan cincin kejarinya setelah mereka bertukar sumpah mereka dan sekarang Kyungsoo melepasnya dari jarinya dan membuangnya kemana pun ia mau.

Kyungsoo mulai merasa seluruh tubuhnya terasa sakit terutama pantat dan punggungnya. Sementara ia membasuh dirinya, ia bisa melihat darah mengalir turun diantara pahanya. Dia merasa kesakitan dan jika ia ingin check-up kepada dokter, pasti dokter akan menganggap ini adalah kasus pemerkosaan. Tapi suaminya sendiri yang memperkosa dia.

.

"Turun!"

Kyungsoo tersentak dari lamunannya secepat Kai menyuruhnya untuk turun dari lamborghini-nya.

"Aku menawarkanmu tumpangan sampai di sini hanya untuk membayar kembali apa yang terjadi tadi malam." Telinga Kyungsoo tersakiti hanya dengan mendengarkan kata-kata Kai.

Kyungsoo masih diam seperti orang bisu dan menatap wajah Kai tanpa mengedipkan matanya. Kai turun dari mobil dan dengan kasar membuka pintu kursi penumpang dan menarik keluar Kyungsoo dari mobilnya. Kyungsoo membiarkan Kai melakukan apapun yang ia inginkan karena ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Lalu, Kai masuk ke mobilnya lagi, dan melaju ke suatu tempat, meninggalkan Kyungsoo ditengah jalan.

Kyungsoo hanya mengenakan t-shirt putih dan celana jins hitam saat ia ditinggalkan sendirian dipinggir jalan. Dia merasa tak bernyawa entah bagaimana. Setiap orang yang lewat hanya menatap aneh kepada Kyungsoo yang duduk lemah di atas rumput hijau. Mereka beranggapan bahwa Kyungsoo gila.

Tiba-tiba sebuah Ferrari berhenti di sebelah Kyungsoo tapi ia mengabaikannya. Dia masih menatap kosong kejalanan yang sibuk, tidak menunjukkan minat untuk tahu siapa yang telah menghentikan mobilnya dan menawarkan bantuan.

"Soo, kau baik-baik saja?"

Kyungsoo memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah yang memanggil namanya.

"Mengapa kau masih duduk di sini? Dimana Kai? Apa ada yang merampokmu?"

Tapi Kyungsoo hanya diam tanpa menjawab apa pun. Chanyeol berusaha menelepon nomor Kai tapi selalu voicemail yang menjawab.

Chanyeol merasa bersalah melihat kondisi Kyungsoo. Sementara pikirannya masih dalam kebingungan, ia ingat tentang Baekhyun. Dia memiliki nomor telepon Baekhyun karena keponakannya belajar dipusat belajar BBH. 20 menit kemudian, Baekhyun tiba.

"Soo ..." Baekhyun menangis sambil memanggil nama Kyungsoo dengan lembut.

Kyungsoo memutar kepalanya untuk melihat Baekhyun dan sedetik kemudian ia meneteskan air mata setetes demi setetes mengalir di pipi putihnya. Kyungsoo menarik Baekhyun kepelukannya karena dia benar-benar membutuhkan kehangatan dari teman terbaiknya untuk menenangkannya.

"Ayo kita pulang Soo." Baekhyun berkata saat ia membantu Kyungsoo untuk berdiri. Chanyeol ada di sana.

"Terima kasih Chanyeol, tanpamu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Kyungsoo" kata Baekhyun ke Chanyeol.

"Bagaimana dia?"

"Buruk. Dia berada disebuah trauma yang dalam dan aku percaya ini dilakukan oleh Kim Jongin."

"Wow, kau menuduh seseorang tanpa bukti. Ini adalah tuduhan yang serius, kau tahu?" Jelas Chanyeol. Setelah semuanya, dia juga seorang pengacara.

"Aku tahu siapa Kai sebenarnya. Aku tahu dia dengan baik."