I am back...

Bitc***s!


Heroes

The Eleventh Chapter
"Telephone."

Lets start from zero.


Yamanaka Ino mengangkat kelopak matanya yang terasa berat, terpicing setengah sudah terasa perih, ia kembali memejamkan mata. Entah kenapa seluruh sendinya terasa tak enak, indera pendengarnya mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengannya.

Tangan nan lembut menyinggahi keningnya yang entah tertutup apa, lalu sensasi dingin kembali sedikit menggigit area wajahnya. Ino berusaha kembali membuka mata dalam geliat, "Bibi Yoshino?"

Dengan mata setengah terpejam, Ino memandang wanita berambut coklat berponi tiga helai membingkai wajah sang ibunda Shikamaru. "Kenapa bibi disini?"

"Kenapa aku disini? Menantuku sakit dan aku tidak perduli begitu?" nada tajam Yoshino menyambut bersamaan tangannya yang menempelkan plester khusus untuk penurun demam di kening Ino.

"Ukh.." Ino berusaha duduk namun dicegah oleh Yoshino."Sakit?"

"Badanmu demam sejak semalam..." ujar Yoshino lembut.

"Aku demam?" Ino mencoba mengingat kondisi terakhirnya, matanya seketika melebar. Tubuhnya menggigil dan ia menarik selimut menyembunyikan muka.

"Tenanglah, Ino-chan..." Yoshino menenangkan Ino yang ketakutan.

"Aku-aku tak berniat melakukannya, aku menyerang hanya ingin menggores sebagian wajahnya... hiks..." Ino tersedu di balik selimut. "Tapi.. tapi.. aku tak menyangka kalau dia muncul menghalangiku..."

"Ino-chan..." Yoshino menarik selimut Ino ke bawah, dengan kelembutan seorang ibu ia menghapus airmata yang mengotori wajah cantik nan pucat milik Yamanaka barbie itu. "Kau tak perlu menyalahkan dirimu sendiri..."

"Aku.. hiks... membunuh." Ino terisak dalam pelukan Yoshino.

"Kau tidak membunuh siapapun, Ino-chan... kau bukan pembunuh... kau menantuku yang cantik..." Nada Yoshino hangat menenangkan. "Shikamaru tahu kejadian pastinya, dia yang akan menceritakannya nanti."

Ino terdiam dari tangis, menatap Yoshino, "Bibi yakin?"

"Ya..." Yoshino mengangguk sambil membelai mahkota pirang Ino yang berantakan, "Bukan kau yang membunuh dia atau siapapun yang kau maksud itu, ada orang lain yang datang sesaat setelah kau pingsan. Aku juga takkan percaya jika perempuan feminim selembut dirimu bisa menyakiti orang lain apalagi membunuh."

"Orang lain?" Ino tertegun, "Sasuke atau Naruto? Apakah mereka membaca SMS yang kukirim?"

Yoshino memberikan sekotak tisu, "Hapus airmatamu, nanti kau ditertawakan bocah pemalas itu..."

Ino bersandar pada kepala ranjang dan menghapus airmatanya. Yoshino meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Terdengar decihan tak suka dari ibu Shikamaru.

"Kenapa nomor ayahmu sibuk terus?! Inoichi sialan! Aku akan menghajarnya nanti!"

Ino tersenyum melihat Yoshino yang masih berusaha menghubungi ayahnya. "Sudahlah, Bi, aku hanya demam, ayah pasti sedang sibuk."

"Laki-laki memang suka seenaknya!" kesal Yoshino. "Oh ya, karena kau sudah bangun, aku akan memasakkan sesuatu yang lembut agar bisa kau cerna dengan mudah, tidurlah lagi sementara aku memasak..."

"Terima kasih, Bi..."

"Terima kasih untuk apa? Sudah kewajibanku menjaga menantuku ini untuk tetap sehat, cantik dan bugar."

"Ya ampun..." suara bariton terdengar mengeluh, "Berapa kali ibu mengatakan kata menantu dalam satu hari ini?"

Shikamaru masuk ke kamar bersama Chouji.

"Kenapa memangnya?" bantah ibu Shikamaru.

"Apanya yang kenapa memangnya? Ino bukan menantumu, bu..." Shikamaru berdiri dihadapan ibunya.

Chouji duduk disisi ranjang Ino.

"Kalian baru pulang sekolah?" tanya Ino pelan.

"Ya dan kami langsung kesini..." Chouji menyodorkan keripik bungkus ukuran jumbo pada Ino yang dibalas gelengan dari sahabat pirangnya itu.

"Bukan? Ya, akan!" balas Yoshino sengit.

"Akan? Apa maksudnya akan? Dia bukan istriku jadi Ibu tak cocok memanggilnya menantu. Setiap hari kau selalu memanggilnya begitu."

"Dia memang akan menjadi istrimu."

"Hoaam... Itu kan keinginanmu, bu..." tukas Shikamaru sambil menguap.

"Jadi itu bukan keinginanmu juga?!" bentak Yoshino.

"Kenapa kita membicarakan hal merepotkan begitu sekarang? Aku saja belum lulus SMA..." elak Shikamaru.

"Ino menantuku. Titik." Yoshino memberikan satu kalimat pasti yang tak lagi bisa disanggah dan berlalu kedapur.

"Perempuan memang makhluk merepotkan..." ujar Shikamaru malas. "Bagaimana keadaanmu?" ia mengalihkan wajah ke arah Ino.

Ino menghela nafas berat dan kembali berbaring. "Kau masih bertanya padahal aku seperti ini? Aku bahkan belum menyisir rambut."

"Menyisir rambut?" tanya Chouji.

"Ck! Dasar kalian kaum perempuan, seberapa pentingnya penampilan bahkan disaat kalian sakit?"

"Shika..." lirih Ino memanggil, "Aku... apakah aku..." Ino kembali sendu.

"Bukan kau." Jawab Shikamaru cepat karena mengetahui maksud pertanyaan Ino. "Aku akan menjelaskannya nanti di SMS, aku benar-benar ingin pulang tidur, Chouji, ayo pulang, istri dari ayahku akan menjaga Ino disini..."

"Baiklah, GWS Ino..." ujar Chouji mengikuti langkah Shikamaru.

Ino memejamkan mata, berusaha menghapus sosok Haku yang menangis di ujung ajal, sepertinya keberadaan Yoshino disini akan sangat membantunya.

Nada dering pertanda pesan masuk terdengar dari balik bantal, Ino meraih ponselnya dan membaca pesan dari Shikamaru sambil berbaring.

'Mereka membaca pesanmu. Sasuke datang terlebih dahulu. Hero itu memiliki kemampuan seperti air, jadi saat belati itu menancap di kepalanya, dia masih bisa bertahan, saat kau pingsan Sasuke menghabisnya dengan mengalirkan petir ke sekujur tubuh hero itu, dan Naruto datang... kau tahu bagaimana sadisnya eksekusi Naruto, kan... jadi aku tak perlu menceritakannya lagi padamu bagaimana sadisnya mereka berdua.'

"Jadi, Sasuke dan Naruto..." gumam Ino.

Nada dering kembali berbunyi dan Ino membaca pesan yang baru.

"Beristirahatlah dan jangan berpikir yang macam-macam, jadi..." Ino menggeser layarnya ke bawah karena Shikamaru memberi spasi baris yang cukup banyak, '... cepat sembuh, Menantu Ibuku.'

Ino tak bisa menyembunyikan senyumnya,"Dasar..."

.

"Hmm.. Shikamaru, kenapa kau tak katakan langsung tadi, bukan tipemu mengetik pesan dengan jumlah huruf sebanyak itu..." tanya Chouji saat sudah jauh dari rumah Ino.

"Mengatakannya secara langsung?" Shikamaru memasukan ponselnya ke saku, "Hoaam... itu tindakan sembrono, Chouji..." sambung Shikamaru seraya menguap.

"Maksudmu?"

"Ino akan mudah mengetahui kalau aku berbohong.. dia akan diam-diam membaca pikiranku saat aku menjelaskan kenapa malah Sasuke dan Naruto yang membunuh hero itu..."

"Bagaimana kalau dia nanti bertanya pada mereka berdua?"

"Melihat hubungan Ino dan Sasuke yang tidak akur, aku ragu Ino akan bertanya padanya... kalau Naruto..." Shikamaru menautkan sepuluh jemarinya dan diojadikan sandaran kepala.

"Naruto... dia bahkan tidak masuk sekolah sampai sekarang.." ujar Shikamaru menatap iringan awan di langit, "Uzumaki Naruto... aku benar-benar tak mengerti tentang dirinya..."

.

.

"Hatsii!"

Naruto menyedot ingusnya dengan sekali hirup dan menimbilkan bunyi khas 'sluurp' sangat panjang.

"Siapa yang sedang membicarakanku?" tanya Naruto pada diri sendiri. Ia duduk di sofa dengan jaket tebal berwarna putih merah beraksen bulu-bulu di leher. Setelah diguyur hujan semalaman dan berduka nestapa karena galau akan kisah percintaannya yang kandas dengan Sakura bahkan sebelum dimulai, kini Naruto berdiam diri dirumah karena tidak enak badan.

Ia membungkus tubuhnya dengan pakaian hangat dan tiduran disofa panjang, matanya menatap ke TV tapi pikirannya kembali menjelajah ke malam tadi saat berada di ruangan kamar inap Kizashi.

"Bukan seperti ini akhir yang kunginkan, Sakura-chan..."

"Kita bahkan belum memulainya sama sekali..."

"Aku membencimu."

"Aku membencimu."

Naruto memukul sisi kepalanya, "Ah sudahlah... ini sangat mengganggu!" tukas entah pada siapa. Naruto kini mengalihkan perhatian pada televisi yang sedang menampilkan talkshow berita yang sedang mengangkat tajuk seorang hero ditangkap pagi tadi.

"Tapi, apakah tindakan S.A.C termasuk kategori berlebihan jika kita melihat tayangan video yang menunjukkan bahwa S.A.C menyeret hero itu dari rumah, lalu menembaknya di depan istri dan anaknya?" tanya newsanchor.

"Sangat. Sangat berlebihan" jawab sang narasumber. "Hero itu tidak menunjukan tanda-tanda perlawanan, dia bersikap kooperatif tapi sepertinya tindakan S.A.C diluar wewenang dan batas HAM."

"HAM? Apakah Hak Asasi Manusia bisa diterapkan untuk hero?" tanya newsanchor lagi.

"Tentu, tentu, HAM berlaku bagi manusia. Seorang hero yang tidak tahu kalau dirinya hero maka dikatakan dia adalah manusia. Hero itu terbagi beberapa tingkatan seperti yang telah kita ketahui selama ini."

Narasumber kembali menjelaskan, "Kapasitas dan itensitas chakra pada DNA setiap hero berbeda-beda, ada yang lemah, dan ada yang kuat. Lalu, saat seseorang sadar dia memiliki chakra, belum serta merta dia bisa menggunakan kekuatannya. Banyak diantara korban S.A.C merupakan hero yang sama sekali tak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatannya sendiri, itu karena berbagai faktor, contohnya lingkungan, ia sudah terjun di masyarakat biasa sejak lahir dan belum pernah melihat hero lainnya secara langsung, maka ia akan buta terhadap kekuatannya sendiri. Bahkan jika ia melihat hero lain sekalipun, apakah pasti jenis kekuatan mereka? Kekuatan mereka pasti di pelajari lalu dilatih sedemikian rupa, sudah banyak contoh bahwa korban S.A.C adalah para hero berjenis kekuatan tidak berbahaya atau malah sama sekali tak mengerti cara menggunakan kekuatannya."

Naruto terlihat serius mengikuti pemberitaan tersebut.

"Jadi, tindakan S.A.C benar-benar tidak pantas dilakukan pada hero yang tidak berbahaya, begitu menurut Anda?" newsanchor mencoba memastikan.

"Kepantasan harus diletakkan pada kesesuaian tempatnya, jika berbahaya, maka tak masalah S.A.C menyerang frontal, jangan mentang-mentang sebagai polisi khusus mereka bisa seenaknya, menghancurkan kota, merusak bangunan dimana-mana, setiap kali mereka menyergap atau bertempur maka lalu lintas macet, warga ketakutan, aktifitas ekonomi juga ikut terganggu. Sadarkah S.A.C bahwa dalam setiap operasi mereka semua warga sembunyi di dalam rumah? Mereka yang seharusnya bekerja juga tak jadi bekerja? Harga saham pada pasar saham juga tergangu setiap mereka beraksi di kota."

"Kalimat Anda mengarah seolah-olah bahwa yang menganggu disini malah S.A.C bukan hero?"

"Saya tidak bilang begitu, masyarakatlah yang akan menilai, siapa teroris yang sebenarnya? Mereka yang memakai seragam dan melakukan tindakan semena-mena atau orang di yang dianggap sebagai pelaku peganggu keamanan selama ini? Beberapa bulan lalu, seorang hero ditembak saat sedang sujud melakukan ibadah, masyarakat akan tahu, siapa yang teroris sebenarnya, hero atau detasemen khusus 88?!"

Newsanchor kini melempar tanya pada S.A.C yang turut di undang, "Pak, sepertinya gara-gara aksi beberapa anak buah bapak yang dibilang sadis dan tidak pantas tadi pagi, citra polisi khusus pemburu hero menjadi benar-benar tercoreng di masyarakat, apa tanggapan Anda?"

"Tanggapan masyarakat? Kami tidak akan perdulikan hal-hal semacam itu." Jawab perwakilan S.A.C, "Apakah mereka tidak sadar bahwa kamilah yang memberikan keamanan dan kenyamanan pada mereka dari gangguan makhluk buas bernama hero, tidak peduli apakah hero tersebut sadar akan kekuatannya atau tidak, racun tetaplah racun dimanapun mereka berada."

Naruto mematikan TV.

"Jadi, jika kalian tak peduli opini masyarakat, kalian memburu kami atas dasar apa?" gumam Naruto.

.

.

"Atas dasar kebencian! Kalian memburu kami atas dasar kebencian, seandainya semua elemen masyarakat mengatakan bahwa mereka aman hidup bersama hero, kalian akan tetap memburu kami..." Ujar Sasuke yang juga menonton tayangan yang sama.

Sasuke mematikan televisi dan merebahkan diri di ranjang empuknya.

"Dunia ideal yang pernah di katakan Naruto... hal itu sepertinya tidak akan terjadi jika manusia busuk seperti S.A.C masih bercokol di muka bumi." Gumam Sasuke menatap langit-langit kamar.

"Dunia ideal..." Sasuke memikirkan ketidak adilan yang diterima oleh dirinya sendiri dan semua hero di dunia,"Dunia yang ideal menurutku adalah... aku harus-"

Sasuke tersentak duduk.

"Pikiran macam apa yang barusan terllintas di benakku." Sasuke menggelengkan kepala. "Aku tidak sejahat itu... dunia idealku sama dengan dunia ideal versi Naruto, dimana hero dan manusia bisa hidup selaras."

"Pikiranku tadi, itu salah!" Sasuke meyakinkan dirinya sendiri.

Dunia ideal macam apa yang sebenarnya di inginkan Sasuke?

...

Naruto mendudukan diri saat mendengar pintu rumahnya dibuka. Ia tak perlu menoleh pada suara langkah yang terdengar berat karena menggunakan sepatu boot, ia hendak beranjak ke kamar, namun orang tersebut menahannya.

"Ada yang ingin kuberitahu."

Naruto duduk kembali, "Apa?"

"Setelah ujian kau bisa pindah ke Amerika, itu sudah dipastikan." Ujar Orochimaru.

"Aku tak punya waktu untuk ke sekolah, banyak hal penting yang harus ku lakukan." Jawab Naruto.

"Tidak ada yang harus kau lakukan hingga ujian, cukup sekolah dan tunda misi balas dendammu."

Naruto mengerutkan kening.

"Temanku di Amerika akan menerimamu dengan senang hati dan kau akan berada dalam kumpulan hero terbaik dari yang terbaik."

"Aku tak berminat ke Amerika." Enggan Naruto.

"Masihkah kau tak berminat jika kukatakan bahwa temanku, Charles Francis Xavier, menerima dengan tangan terbuka?" Orochimaru menatam tajam Naruto yang kini terkejut.

"Professor X?" Naruto tahu nama itu, semua hero berpendidikan pasti tahu nama itu, hero legenda yang berusaha mengantarkan kedamaian dengan hidup selaras bersama manusia. Tidak ada satu hero pun yang akan menolak jika ditawari bergabung dengan X-men, dimana hero dari berbagai penjuru dunia bersatu dibawah satu bendera.

"Trikmu ketahuan jelas, yah..." Naruto tiba-tiba menyeringai. "Sangat terlihat sekali bahwa kau ingin memisahkanku dari target ke empat dan ke lima."

Orochimaru diam tak menanggapi.

"Atau sebenarnya kau ingin memisahkanku dari kebenaran yang sebenarnya?" sambung Naruto.

Naruto bangkit dan beranjak ke kamar, "Sudah kukatakan aku akan bergerak dengan caraku sendiri, aku akan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan caraku dan mengeksekusi target juga dengan caraku..."

"Dia... benar-benar menentangku." Desis Orochimaru yang juga beranjak ke ruangan pribadinya.

.

.

Saat di ruangan pribadi yang lebih mirip laboratorium, Orochimaru menarik beberapa mili darahnya dengan sebuah injektor, ia kemudian mencampurkan darahnya sendiri dengan senyawa kimia di meja kerjanya. Beberapa gelas berisi zat kimia lainnya juga berada di hadapannya.

Orochimaru meracik semua itu dalam diam, lalu hasil akhirnya ia dapatkan satu gelas besar zat kimia yang sudah dicampuri darahnya, lalu dimasukkan kedalam sebuah tabung elektronik. Orochimaru menekan beberapa angka dan mengatur suhu serta hal lainnya di dalam tabung seukuran gas LPG dua belas kilogram.

Tabung itu berbunyi pelan pertanda sedang bekerja. Dibawah bagian tabung, terlihat ujung pipa kecil seukuran sedotan meneteskan suatu cairan hasil pengekstrakan semua senyawa kimia tadi.

Butuh jeda cukup lama dari satu tetes ke tetes lainnya. Orochimaru dengan sabar duduk menunggu.

Mesin masih bekerja pada suhu yang ditentukan, tetes demi tetes yang sangat lama itu akhirnya terhenti saat terdengar nada khusus dari mesin itu. Orochimaru meraih tabung kaca kecil berukuran sepuluh mili yang ada didalam tabung.

Mata ularnya menatap tajam cairan berwarna kuning yang terisi pada garis delapan mili. Ia mengambil satu jarum dan menancapkannya ke ujung jarinya. Satu tetes darah segera ia tempelkan di kaca kecil.

Orochimaru masih belum usai, kini ia meneliti cairan yang baru keluar dari mesin itu dengan sampel darahnya dibawah mikroskop.

"Berhasil... tak percuma aku membeli alat-alat mahal ini..."

Orochimaru menyeringai menatap cairan tersebut. "Masalahnya, ini akan menjadi racun jika sitem imun dan darah asli penerimanya tak bisa bersatu."

Injektor berisi racun delapan mililiter itu adalah,

serum ekstra DNA Orcohimaru.

...

Terlihat asap mengepul dari mulut seorang petugas S.A.C yang memakai rompi dan memiliki lencana bintang berwarna kuning di dadanya. Di depannya, duduk seorang petugas berambut bob style dengan emblem yang sama di dada meski dengan baju spandex berwarna hijau.

Di sudut lobi kantor S.A.C, sengaja disusun beberapa meja dan kursi empuk untuk bersantai para petugas sambil menyaksikan pemandangan diluar kantor. Menonton kemacetan kota dan segala hingar-bingarnya.

Mungkin, bagi para petugas polisi khusus, menyaksikan pemadangan alam sudah mainstream, apalagi menyaksikan panorama dari puncak gunung sambil foto selfie dengan kertas bertuliskan kata cinta yang tak berguna. Lalu menuh-menuhin gunung dengan sampah!

Dan disudut lobi itulah, dua petugas S.A.C tadi bercengkrama.

Pria berjanggut tipis di dagu dengan rokok yang terselip di sela bibirnya itu menggaruk kepala, "Aduh, bagaimana ya aku membantumu... jika Komandan Kizashi mungkin masih bisa memaklumi sih..."

"Masalahnya..." keluh Guy, "Komandan Kizashi masih terbaring koma, bukannya malah menunjuk salah seorang dari para kapten menjadi petugas pelaksana jabatan Komandan, strategos malah turun tangan langsung saat ini..."

Strategos yang dimaksud oleh Maito Guy adalah jabatan setingkat Komisaris Jenderal di kepolisian biasa.

"Lagipula, kau benar-benar keterlaluan, pedang itu kan jelas-jelas kau bawa, Guy..." Sarutobi Asuma menatap iba rekannya.

"Aku benar-benar tak habis pikir, Asuma..." Guy kembali mengeluh, "Mobil kami beriringan, mobil yang membawa pedang milik Zabuza itu berada di urutan terakhir, saat tiba dimarkas, pedang yang di letakan di bagian belakang mobil raib dengan bekas genangan air di dalam mobil."

"Genangan air? Bukankah malam tadi memang hujan?"

"Hujan tak mungkin bisa menembus atap mobil."

"Haah..." Asuma menghempas satu nafas berat, ia melirik laporan Guy di meja, "Mau bagaimana lagi, mau tak mau apapun resikonya kau harus berikan laporanmu pada strategos."

"Aku tak takut dihukum, Asuma..." jelas Guy, "Pedang itu menghilang secara gaib, itu yang membuatku sedikit... merinding."

"Spekulasiku, ada hero yang memiliki kemampuan tak terlihat mengambil pedang itu atau pedang itu musnah sendiri saat pemiliknya mati."

"Tapi pecahan pedang yang pertama berhasil di amankan hingga sekarang."

"Itulah misterinya, Guy, bisa saja dua pedang itu berbeda... eh tapi bukankah kali ini terasa berlebihan?"

"Apanya yang berlebihan?" alis tebal Guy terangkat.

"Strategos yang seharusnya duduk di belakang meja sekarang turun tangan langsung memimpin divisi penyerang..." Asuma memelankan suaranya. "Seorang perwira tidak boleh merangkap jabatannya, seperti katamu tadi, salah seorang dari para kapten seharusnya menjadi pelaksana tugas Komandan."

Guy juga menurunkan nada suaranya, "Strategos berambisi menyelesaikan kasus killer hunter yang menjadi wewenang tugas komandan Kizashi karena strategos adalah," Guy melirik ke kanan dan ke kiri, lalu mencodongkan badan melewati Asuma dan membisikan sesuatu.

"A-apa?"

Guy kembali duduk sempurna di tempatnya.

"Ya, aku diberitahu tentang itu oleh Sasori beberapa hari sebelum ia tewas..." Guy memastikan bahwa info yang diterimanya sangat valid.

"Akasuna-san?" Asuma mengerutkan kening.

"Ya..." Guy berkata sangat pelan, lebih mirip desisan, "Strategos dulunya adalah..."

"Orang yang memimpin misi rahasia delapan belas tahun lalu."

...

Sakura terpaku mendengar cerita dari Yamato. Ia duduk di sofa dengan Yamato yang berdiri dihadapannya.

"Jadi, ayahku terlibat dalam misi delapan belas tahun yang lalu?"

"Benar, saat itu, komandan masih berpangkat sebagai Investigator senior, setelah misi itu beliau dilantik menjadi kapten." Tukas Yamato.

"Dan killer hunter adalah anak dari dua target yang menempati dua peringkat teratas buruan S.A.C pada masa itu..."Yamato kembali menjelaskan. "Masih menjadi misteri kenapa killer hunter selamat pada saat itu..."

Sakura menunduk, "Naruto..."

"Kedua buronan itu, Yellow Flash dan Red Hanabero, tewas. Keberhasilan misi itulah yang membuat ayah Anda dilantik menjadi kapten divisi tiga pada saat itu."

Sakura terus menyimak.

"Divisi yang sama dengan pria dengan pedang besar yang tadi malam menyerang ayah Anda." Jelas Yamato lagi, "Dan divisi yang sama dengan Yagura serta Sasori." Batin Yamato.

Sakura membekap mulutnya.

"Ba-bagaimana mungkin, anak buah ayah ingin membunuh ayahku sendiri?"

"Terjadi sebuah kesalahpahaman pada sepuluh tahun yang lalu."

"Tapi apakah, saat itu..." Sakura memandang ke ayahnya yang terbaring, "Ayah memang yang membunuh orang tua dari killer hunter?"

"Itu tidak penting, Nona, siapa yang membunuh mereka tidak penting, sudah tugas S.A.C menghabisi semua makhluk rendah dan tak beradab seperti mereka..."

"Jadi, Nona Sakura, kami sangat mengharapkan bantuanmu dalam mengingat wajah asli killer hunter, kami akan datangkan ahli sketsa wajah dari kantor..." sambung Yamato.

"Makhluk rendah dan tak beradab?" ulang Sakura.

Gadis itu tercenung sesaat, berpikir ribuan kali akan silabel yang tercetus berikutnya. Yamato dengan sabar menunggu Sakura berbicara.

"Kapten Yamato, aku benar-benar ingin membantumu, membantu kalian menangkap hero yang mencelakakan ayahku." Tukas Sakura.

"Benarkah? Aku akan telepon ahli sketsa wajah sekarang!" semangat Yamato kembali muncul.

"Tapi..." potong Sakura dengan tatapan bersalah, "Saat itu dia memakai masker."

Yamato kembali loyo, "Masker?"

"Benar, dia menutupi setengah wajahnya dengan masker..." Sakura mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Dia sengaja melakukan itu untuk antisipasi jika topengnya hancur dalam pertarungan?" tebak Yamato.

"Maafkan aku..." Sakura kembali menunduk. "Aku sama sekali tak bisa membantu."

Yamato menatap Sakura yang mengetukkan jari berkali-kali di atas lutut.

"Baiklah, Nona, aku akan kembali dulu ke markas, ada dua petugas di depan pintu serta dua petugas di setiap lorong, di lantai bawah juga beberapa petugas di tempatkan. Keselamatan Komandan tidak perlu Anda takutkan jika seandainya ada hero yang menyerang kemari."

Yamato keluar ruangan, dua petugas yang menjaga pintu memberi hormat padanya, lalu ia melenggang pergi.

"Sial! dia berbohong!" umpat Yamato pelan sambil menunggu pintu lift terbuka. Ia kembali mengingat gestur Sakura saat memberikan pengakuan tadi, Sakura tak mau beradu pandang dengannya, Sakura juga mengetukan jari di atas paha selama berbicara.

"Jika memang killer hunter memakai pelindung wajah berlapis, maka dia akan langsung bicara kemarin saat di tanya Anko."

Dering ponsel disakunya menjerit dan Yamato menerima panggilan telepon dari seseorang.

"Bagaimana?"

"Maaf, saya belum bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa killer hunter."

"Kau memang tak berguna, goblok!"

Yamato mendecih mendengar makian tersebut. Namun ia masih seksama mendengarkan instruksi demi instruksi dari seberang sana.

"A-pa?" Yamato terkejut alang kepalang, "Kenapa?"

"Dengan penjagaan S.A.C seperti itu, aku tidak yakin killer hunter akan muncul di Rumah Sakit."

"Tapi kenapa kita harus menyingkirkannya? Anda melakukan ini semua hanya agar nama Anda tak diketahui oleh killer hunter? Haruskan kita melakukan hal yang Anda perintahkan barusan?" Yamato menunjukan keengganan.

"Yamato..."

Orang tersebut menggantung kalimatnya.

"Jabatannya... akan kuberikan untukmu."

Tuut~

Sambungan telepon terputus.

"Jabatannya untukku?" Yamato mencoba menjaga ketenangannya saat pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar.

Yamato melangkah masuk dan berdiri di tengah sendirian karena tak ada siapapun di dalam lift. Saat pintu lift hampir tertutup, terlihat seringai horor pada wajah Yamato.

.

.

Gadis musim semi termenung di sisi ranjang dimana ayahnya berbaring koma. Ia menggigit bibir bagian dalamnya.

"Ayah... apa mungkin kau seorang pembunuh?" Sakura menahan getir. "Kau bahkan ketakutan seperti kucing disiram air saat dimarahi ibu, tidak mungkin... kau tidak mungkin membunuh siapapun."

Sakura berusaha menahan buncah tangisnya. Ia sudah letih selama dua hari kemarin menagis terus tanpa henti. Kembali ucapan Yamato tadi bergema di telinganya.

"Itu tidak penting, Nona, siapa yang membunuh mereka tidak penting, sudah tugas S.A.C menghabisi semua makhluk rendah dan tak beradab seperti mereka..."

"Tidak penting?" Sakura mengepalkan tangan, "Naruto... selama ini hidup sebagai yatim piatu karena orang tuanya terbunuh, kau bilang tidak penting?"

"Apa kau tidak tahu rasanya kehilangan?!" teriak Sakura entah pada siapa.

"Aku... aku lima tahun ditinggal ibuku, rasanya sudah gila." Sakura menjambak surai merah mudanya, "Delapan belas tahun... Naruto hidup tanpa mengenal orang tuanya selama delapan belas tahun!"

Sakura berkali-kali menghirup nafas dalam, mencoba menangkan diri.

"Kemarahan... dendan... kebencian..." gumam Sakura. "Naruto tumbuh besar dengan semua hal mengerikan itu..."

Sakura berjalan ke jendela, membiarkan angin membasuh hatinya.

Hatinya yang gundah karena memikirkan Naruto.

"Sejak kematian ibuku, ayah menjadi gila kerja. Mungkin itu adalah cara mengobati kesedihannya, tapi tanpa sadar ayah telah menambah dalam lukaku, aku seperti anak yatim piatu saja. Ayah bahkan sudah dua minggu tidak pulang dan menghabiskan waktunya di kantor."

Naruto menghela nafas panjang, meletakkan lebar telapak tangannya di punggung Sakura.

"Aku baru tahu, kalau kau tak punya ibu." Dusta Naruto, "Jadi, itukah kabar buruk yang membuatmu saat itu tak jadi berangkat ke bandara untuk menuju olimpiade London?"

"Ibuku adalah pengacara, dia dibunuh oleh kliennya sendiri yang belakangan di ketahui sebagai hero." Sakura menatap sendu ke bawah.

Naruto terdiam menatap sendu yang membingkai wajah Sakura.

"Kau membencinya?" Naruto melempar pandang ke arah lain, ke anak-anak yang bermain bola tak jauh di hadapannya. "Kau membenci hero?"

Sakura meremas jemarinya sendiri, "Jika aku bertanya hal itu padamu, apa jawabmu, Naruto? Apakah kau tidak akan membenci pembunuh orangtuamu?"

Naruto kembali tak bersuara.

"Jika ibumu dibunuh, apakah kau tidak akan membenci pembunuhnya?"

Naruto sejenak menatap iringan awan di atas sana. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Kau tidak tahu, Naruto.. karena kau tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kau sayangi.. kau tidak tahu..." Nada suara Sakura makin bergetar.

"Sakura-chan..."

Namun sang bidadari musim semi tak menggubris panggilan Naruto.

"Sakura-chan, tatap aku..."

Sakura mengangkat kepala dan menoleh pada Naruto.

Naruto tiba-tiba meletakkan telunjuknya tepat di bawah garis mata Sakura, menahan agar tetesan bening dari emerald yang tergenang basah siap jatuh itu tak merusak kosmetik yang telah menghabiskan dua jam penantian Naruto.

Sakura terkejut dengan tindakan naruto, ia memegang kedua tangan Naruto yang singgah di wajahnya.

"Kita kan mau pergi kencan, bukan untuk berbagi kisah sedih. Iyakan? Hehehe..."

Sakura tersenyum saat melihat cengiran lebar di pampang di wajah konyol Naruto.

"Jadi, seberat apapun lara yang kau pikul, bisakah untuk hari ini saja, aku mohon... tertawalah bersamaku..."

Cengiran konyol Naruto menjadi sosok klise dalam imaji Haruno Sakura.

"Naruto... aku tahu bagaimana kau membenci ayahku... perasaan itu... aku juga pernah merasakannya sebelum pak Tazuna datang membawa pelita kebenaran."

Sakura meraih ponselnya di meja dan duduk sambil menelpon seseorang.

"Ya jidat... ada apa? Apa kau mau bersitirahat? Aku belum bisa kesana? Aku akan telpon Shikamaru dan Chouji agar bisa menggantikanmu."

Yamanaka Ino langsung mencecar Sakura dengan pertanyaan bertubi-tubi. Sakura tersenyum simpul atas perhatian temannya.

"Bagaimana keadaanmu, Pig?"

"Sudah mendingan sih... tapi tenagaku belum terlalu pulih untuk beraktifitas."

"Aku mau menjengukmu... aku kesana ya?"

"Eh? Mana bisa? Kau kan menunggu ayahmu sadar?"

Sakura sekilas menatap ayahnya. "Sebentar saja, ada yang ingin kubicarakan padamu... aku yakin ayah pasti akan mengizinkanku."

"Tentang apa? Di telepon saja..."

"Tidak bisa..." Sakura meletakan ponsel tepat di depan mulutnya lalu berbisik, "Ada dua petugas S.A.C berjaga di depan pintu, aku tak mau mereka mencuri dengar."

"Ah... apa kau yakin meninggalkan ayahmu kepada penjagaan S.A.C saja?"

Sakura berpikir sejenak sembari melempar pandang ke sosok ayahnya. "Ya... aku rasa tak apa meninggalkan ayah..."

"Baiklah..."

"Bisakah aku meminta bantuan..." tanya Sakura ragu-ragu.

"Apa?"

"Aku minta tolong untuk..."

...

"Bagaimananya caranya mengungkap kebenaran semua ini..." Naruto berkeluh kesah di meja belajarnya yang juga menempel ke sisi jendela.

"Bagimana? Aduuh..." Naruto menggaruk kepalanya, "Aku susah sekali kalau berpikir rumit seperti ini..." Naruto melempar pandang keluar jendela.

"Tunggu dulu..." Naruto memikirkan sesuatu yang cemerlang, "Sepertinya aku kenal seseorang dengan daya pikir yang handal."

Naruto segera menelusuri kontak ponselnya. "Rias, Sabo, Sakura, Sanji, Sasuke, Shikamaru, Sun go kong... aha! Shikamaru!"

Naruto segera menekan nama Shikamaru pada layar ponselnya, tanpa ia tahu kalau jempolnya kepleset dan menekan nomor diatas nama Shikamaru.

"Arrghh.. bedebah jahanam! Siapa yang berani menganggu tidur siangku?!"

Naruto terkekeh mendengar umpatan diseberang sana. "Oi pemalas, bantu aku sebentar..."

"Suara jelek ini...? Aku tahu... Oi dobe! Aku tak punya urusan denganmu!"

"Kenapa kau kasar sekali.. eh dianya manggil dobe?" Naruto mengecek layar ponselnya, "Wue? Kenapa aku malah menelpon si buntut ayam?"

Naruto kembali menempelkan ponselnya ke telinga, "Oi teme, aku salah pencet, sorry..."

"Sudahlah, kumatikan!"

"Oi tunggu!"

"Hn."

"Bantu aku, terlanjur sudah aku menelpon sekalian saja aku minta tolong..."

"Apa untungnya aku membantumu?"

"Hey, jangan gitu, coeg, kau bisa membangun kerajaan bisnismu disini?"

"Kalau begitu, aku minta kuota penempatan tenaga kerja asing sebanyak sepuluh juta orang, tahap awal kukirim satu juta dulu."

"Sepuluh juta, itu terlalu banyak, aku harus mengurangi kuota tenaga kerja di sini ini dulu, bos..."

"Anda kan presiden, Anda punya wewenang sebagai superior, Anda bisa naikkan harga BBM dulu, maka otomatis harga kebutuhan lainnya akan melonjak tajam,"

"Dan itu akan berimbas pada sektor ekonomi... benarkan?" Naruto berspekulasi.

"Ya, maka sektor usaha secara satu persatu akan mem- PHK -kan karyawannya, dan satu hal penting, aku ingin semua pekerja yang kukirim kesana mendapat gaji sepuluh kali lipat dari UMR dimana mereka ditempatkan."

"Bagimana jika rakyat mengeluh karena PHK besar-besaran terjadi? Dan kenapa gaji mereka sebesar itu sementara buruh yang menuntut kenaikan UMR saja terabaikan disini?"

"Pak presiden, kenapa cara berpikir Anda lamban? Anda tinggal bilang 'Itu bukan urusan saya' lagipula, Anda kan punya banyak pendukung fanatik yang siap pasang badan, lagipula partai pendukung Anda pasti memblokade serangan untuk Anda."

"Baiklah, tapi apakah sepuluh juta orang dari negaramu itu akan menetap lama disini?" Naruto menyetujui.

"Entahlah, disini lonjakan pendudut terlalu padat, kami negara terpadat nomor satu di dunia... untuk berjaga-jaga apakah mereka bisa lama disana bagaimana Anda buat Keppres agar orang asing bisa membeli properti disana? Jadi kami bisa beli tanah Anda."

"Nah kalau masalah itu, aku bicarakan dulu dengan wakilku, wakilku lah itu kalau urusan bisnis macam itu... tapi bagaimana kalau partaiku tidak setuju?"

"Bungkam mereka dengan uang."

"Uang lagi? Aku bisa di demo mahasiswa nanti?"

"Anda kan ahlinya mengatasi demo... tinggal ajak makan malam, kelar deh..."

"Superb sekali... situ emang pinter banget ya, pantas daerah situ cepet maju.. oke permintaan kuota sepuluh juta tak terima, sekarang bantu masalahku.."

"Hn."

"Berbagai kalangan masyarakat menolak dana aspirasi yang di ajukan parlemen, satu orang dua puluh miliar, partaiku sendiri menolak dana aspirasi, tapi malah minta dana sepuluh kali lipat dengan nama yang berbeda... gimana ini?" Naruto memijit pelipis nya.

"Melalui juru bicaraku sudah kusampaikan bahwa dana aspirasi kutolak karena akan bersinggungan dengan program pemerintah yang lain, tapi partaiku meminta dana dengan nama lain tapi nominal lebih besar, dua ratus miliar per orang, coba kamu kali kan berapa banyak anggota parlemen di seluruh negara ini? HITUNG LALU BAYANGKAN!" Naruto menggebu-gebu bak komentator sepakbola. "Kalau masyarakat minta dana segar itu di alihkan untuk tunjangan kesehatan bagaimana? Untuk pendidikan agar semua masyarakat tak mampu bisa bersekolah hingga SMA bahkan bangku kuliah? Kalau masyarakat minta uang itu untuk memperbaiki jalan yang rusak, kalau masyarakat minta ini... kalau masyarakat minta itu...?"

Naruto menghela nafas berat,"Beri aku saran bagaimana caraku mengatasi ini? Kau tahu kan aku takut sama Ibu Suri."

"Oi dobe, aku tidak punya waktu meladeni pembicaraan tidak jelas ini?"

"Ah..." Naruto menggaruk kepalanya, "Sepertinya aku lupa kalau kita di ffn, ku kira tadi di forum koran kompas..."

"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"

"Aku lupa mau ngomong apa... hehe... sory teme, kamu ngajak bicara melenceng sih..."

"Kau yang duluan mulai, dobe... dan ingat, penulis fanfik ini dulu golput, jangan buat dia seolah-olah menyudutkan satu pihak."

"Teme... yang tersudut itu sekarang kita, bukan mereka yang dulu kita pilih, baik salah satu atau kedua kandidat... mereka sudah hidup aman, nyaman, dan bahagia, nah mereka dulu yang saling melontarkan makian, adu urat syaraf dan perang otot demi membela kandidatnya masing-masing hidupnya masih sama, yang kaya tetap kaya, toh yang miskin makin bertambah, survey mana yang bilang masyarakat miskin kita berkurang? Survey mana? Apa gegara kartu sakti itu?""

"Kau tahu resiko membicarakan ini? Apa kau berpikir, hah? Gara-gara pembicaraan ini, penulis fanfik ini nantinya bisa di bully readers..."

"Eh? Aku nggak mikir kondisi si penulis?"

"Kau tahu apa yang akan di katakan mereka? mereka akan bilang, 'Situ belum bisa move on ya?' atau 'Situ kalau mau hidup senang ya kerja dong?' atau 'Mas bisa matematika?subsidi bbm dihapus agar dananya bisa untuk keperluan lain, untuk anak-anak yang putus sekolah!" dan 'Eh mas, sok tau banget masalah politik, tau nggak kalau Tarif Dasar Listrik dan Air PDAM naik biar rakyat makin jadi kerja keras cari uang, nggak tidur-tiduran aja sambil baca fanfic!"

'Wue? Teme? Beneran nih? Bagaimana kalau mereka benar-benar membully?"

"Itu salahmu, dobe..."

"Aku keceplosan, sekali lagi, maaf..."

"Sudahlah, yang minta maaf seharusnya klub yang tidak membayar gaji pemainnya hingga sepuluh bulan, juga PSSI yang tidak mau tahu tuntutan para pemain yang demo di depan kantor mereka, tapi toh nanti Menpora kita akan bikin FIFA sendiri. Pembicaraan ini makin ngawur, kututup!"

Tuut~

Naruto memasang wajah kesal karena Sasuke main putus telepon. "Saatnya kembali ke jalan yang benar, keabsurdan fiksi ini sudah semakin akut, pantas aja animo pembacanya kurang..." Naruto kali ini menekan nama Shikamaru sembari menggerutu, "Lha wong aslinya fiksi ini murni adventure romance kok sekarang makin lama makin nggak jelas."

"Yo Naruto..."

"Oi Shikamaru, ada yang ingin kutanyakan?"

"Nanti saja, aku sedang dalam perjalanan ke sekol-"

"Sebentar saja..." potong Naruto mengacuhkan kalimat Shikamaru.

"Ada apa?"

...

"Menemui... Naruto?" Ino memastikan pedengarannya.

"Ya... aku harus berbicara dengannya..." Sakura duduk disisi ranjang.

Ino yang tengah bersandar memikirkan kembali semua cerita yang disampaikan oleh Sakura hasil dengar dari Yamato di Rumah Sakit tadi. "Aku sedikit ragu akan keselamatanmu... Sakura.."

"Tapi ini menyangkut hidup ayahku, juga menyangkut... mendiang orangtua Naruto..." ujar Sakura pelan.

"Haah... kau yakin, Sakura? Apa tidak lebih baik menungguku sehat total dan kami bertiga menemanimu bertemu Naruto?"

Sakura menggeleng. "Ini tak ada hubungannya dengan kalian... ini masalah Naruto dan masalah ayahku, kami yang terlibatlah yang akan menyelesaikan masalah ini..."

"Sakura..." panggil Ino, "Ini bukan main detektif detektifan... mengikuti pusaran permasalahan Naruto, berarti kau siap bertaruh nyawa..."

Sakura menunduk.

"Aku... hanya ingin membantu Naruto keluar dari kebencian tak berdasar.. karena aku juga seperti dia selama ini."

Sejenak mereka berdua dipasung diam. Kebenaran akan kematian Haruno Mebuki yang disembunyikan oleh S.A.C selama ini membuat persepsi Sakura menjadi berbeda atas kasus Naruto.

"Haah..." Ino kembali mendesah, "Kenapa nomor Shikamaru sibuk terus? Siapa sih yang di telponnya?" Ino mengetik pesan di ponsel, "Mudah-mudahan ia bisa mendapatkan apa yang kau minta..."

.

"Hoaam... pertanyaan macam apa itu?" Shikamaru menguap sambil membongkar lemari bersusun di hadapannya dengan satu tangannya yang tak memengang ponsel.

"Bagaimana cara mengetahui kebenaran sejarah?" Shikamaru mengulang tanya.

Shikamaru sedang berada di salah satu ruangan di sekolahnya, sementara Chouji berdiri di dekat pintu mengawasi kedatangan orang. Sore yang sebentar lagi membasahi bumi dengan warna orange membuat sekolah sudah sepi dari aktifitas meski terkadang beberapa guru atau penjaga sekolah masih berada di sekolah.

"Ya.. bagaimana caranya?" tanya Naruto tak sabaran.

"Kebenaran sejarah..." Shikamaru berpikir sambil menutup laci bagian tengah lalu ia berjongkok dan membuka laci bawah.

"Hm... kau harus bertanya pada pelaku dan saksi sejarah serta korban dari sejarah itu sendiri, meski kadang sebuah sejarah akan memiliki banyak versi, baik versi si pelaku, versi saksi, atau jika masih ada korban, ya akan muncul sejarah versi korban."

"Pelaku, saksi, dan korban?"

Naruto cukup lama terdiam seolah memikirkan sesuatu.

"Ah ini dia! Data angkatan tahun ini di kelasku!" batin Shikamaru. "Oi Naruto? Kau masih disana?"

"Ah ya... aku hanya sedang memikirkan sesuatu..."

"Tentang apa? Apa ini berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh Zabuza tadi malam?"

"Ya, aku sedang berusaha memastikan sesuatu..."

"Naruto..." tangan Shikamaru menarik dua map dan di letakkan di lantai. Ia membuka map pertama. "Jika kau ingin memastikan pembunuh orangtuamu, kau harus bertanya pada para pelaku, tapi itu juga bukan alasan mengapa kau harus membunuh mereka..."

"Kau sudah terlalu jauh berbicara, Shikamaru, itu bukan area pembicaraanmu..." ujar Narutodengan sedikit ketegasan pada kalimatnya.

"Aku hanya memberi saran, Naruto... kau harus benar-benar mendapatkan informasi yang akurat dari sejarah pembunuhan orangtuamu..."

"Terima kasih atas bantuanmu, Shikamaru..."

"Ho-oh... no problem... cepatlah kembali ke sekolah, Iruka-sensei bertanya padaku kau kemana?"

"Aku belum berminat kembali sekarang.. katakan saja aku sedang di tahan KPK."

"Kau menghindari Sakura.. iya kan?"

"Sudahlah, Shikamaru, kututup."

Shikamaru membaca dengan teliti berkas di hadapannya setelah panggilan telepon terputus. "Apa ini.. apakah data ini benar? Aku bahkan hampir tak percaya melihat tingkah bodohnya selama ini..."

Shikamaru beralih ke map ke dua.

"Asu! Data macam apa lagi ini? Kenapa semua ini berkaitan ke satu titik yang sama." Shikamaru menutup map dan mengembalikan ke tempatnya. "... semua data ini menuju satu titik... Special Army Commando"

.

.

"Pesan dari Shikamaru masuk..." Ino segera membuka pesan dari Shikamaru. "Dia sudah mendapatkan alamat Naruto, Sakura."

Sakura berdiri tegak, "Forward ke nomorku."

Ia meraih ponselnya dan membuka pesan dari Ino. "Aku pergi dulu, Ino..."

Sakura bergegas pergi namun Ino menahan, "Jidat... berhati-hatilah..."

"Uhum!" Sakura mengangguk mantap.

.

.

Shikamaru dan Chouji berjalan di trotoar dan mengarah menjauh dari sekolah. Shikamaru sedang terlihat memikirkan sesuatu.

"Shikamaru, kau diam sedari tadi, ada apa?"

"Profil Naruto, itu mengejutkanku..." Shikamaru menoleh pada sahabat gembulnya.

"Kenapa dengan profilnya?"

"Menakjubkan." Ujar Shikamaru. "Dia sekolah dasar di inggris, Sekolah Menengah Pertama di Singapura dan Sekolah Menengah Atas di Prancis selama satu tahun, lalu pindah ke kelas dua di sini, tapi di kota sebelah, ia pindah kesekolah kita saat semester akhir tingkat tiga.."

"Na-naruto? Benarkah?"

"Belum cukup, di dalam keterangan lebih lanjut, Naruto ikut beberapa kali ajang perlombaan nasional dan internasional, dia juga menguasai bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Kanto, Arab, Jerman, Catala, Melayu dan Spanyol."

"Naruto sepintar itu?"

"Data itu palsu." Shikamaru menunjukkan ponselnya, "Aku browsing di internet barusan, pemenang Olimpiade Sains asal inggris tingkat sekolah dasar bukan Naruto, orang tersebut sekarang masih sekolah di SMA inggris. Naruto juga mendapatkan penghargaan robotik se-Asia Tenggara saat ia bersekolah di Singapura, saat ku cek di mbah gugel, pemenangnya seorang mahasiswa berasal dari Indonesia."

"Mungkin Naruto memalsukan data itu agar bisa masuk ke Konohagakuen? sekolah kita kan hanya menerima anak-anak orang kaya dan berprestasi." terka Chouji.

Shikamaru menautkan sepuluh jemarinya sebagai sandaran kepala.

"Bukan itu yang paling mengejutkanku... tadi malam saat melawan Zabuza, Naruto bilang kedua orangtuanya terbunuh oleh S.A.C, tapi di dalam profilnya... ia memiliki seorang ayah dan bekerja di S.A.C dengan pangkat kapten."

Kening Shikamaru makin berlipat. "Apakah ayahnya tokoh fiktif? Jika tokoh fiktif, Naruto tidak mungkin membuat tokoh dari S.A.C... tapi jika tokoh nyata... siapa dia? Kapten S.A.C adalah ayah Naruto sementara Naruto adalah killer hunter? Aku tak mengerti point-point berhamburaan seperti ini... ditambah lagi kenapa Naruto memalsukan semua riwayat pendidikannya."

"Cih!" Shikamaru mendecih kesal. "Misteri tentang Naruto maupun ayahnya itu seperti puzzle yang berserakan... ditambah lagi map kedua yang kubaca..."

"Kenapa dengan map yang kedua? Siapa?"

"Uchiha Sasuke, kita semua tahu dia anak pengusaha ternama, keluarganya secara turun temurun dikenal sebagai pengusaha murni, nama mereka juga harum karena keluarga mereka tak pernah terjun ke dunia perpolitikan, tapi..."

Shikamaru menggantung kalimatnya. "Kakaknya ditulis bekerja sebagai Anggota Kepolisian Khusus, ya, kakaknya bekerja di S.A.C tapi tak dituliskan apa jabatannya disana. Sangat aneh keluarga melimpah harta masuk ke militer. Kedua data dari orang itu mengarah ke S.A.C, kebetulankah?"

...

Seorang wanita cantik dengan payudara menggoda selera menatap kertas-kertas yang di lempar tepat di mejanya. Wanita berambut pirang dengan tanda di dahi seperti khas orang India itu mengerutkan kening melihat sosok yang berdiri di hadapan meja kerjanya.

"Sialan! Orochimaru itu super sialan!" Sosok tinggi dan tampak masih gagah di usia melewati setengah abad mencak-mencak tak jelas.

"Jadi, dia ada di negara ini? kau malah melanglang buana ke seluruh negara di dunia selama ini?" tanya wanita montok yang ukuran dadanya lebih perfecto dari Hitomi Tanaka, seorang artis baik-baik dari Negeri matahari terbit.

"Ya... begitulah asumsiku." Sosok pria tinggi berambut putih itu mengendikan bahu.

"Asumsi? Kau bahkan belum yakin, Jiraiya?"

Jiraiya, nama sosok berambut putih panjang itu berjalan ke sisi jendala, lalu duduk di bingkainya sambil menatap keluar. Pemandangan hutan yang membentengi sekeliling desa nan tentram kala sore menenangkan jiwa.

"Bukankah kita mengenal baik sifatnya, Tsunade. Jika kita menganggap tempat itu berbahaya dan membahayakan sekitarnya, maka sebenarnya tempat itu adalah tempat teraman untuk berlindung, itulah cara pikir Orochimaru."

"Mengenal baik sifatnya?" Tsunade menggeram, "Jangan bercanda, bodoh!"

Jiraiya melirik sesaat ke arah Tsunade lalu kembali berpaling.

Tsunade menatap marah punggung Jiraiya, "Kita tak mengenal dia dengan baik meski telah bersama sejak lahir!"

"Ya... kita memang tak pernah tahu mengapa dia melakukan hal 'itu.' Karena itu aku memburunya selama delapan belas tahun ini... dialah kunci dari permasalahan yang selama ini kita juga tak tahu mengapa..." ujar Jiraiya tenang.

Nafas Tsunade terenagh-engah menahan amarah. "Seharusnya kau yang paling marah, Jiraiya!"

"Bukankah sudah kubilang, kita bersahabat selama berpuluh-puluh tahun, hime... kau tahu kalau aku marah dan caraku menyikapi kemarahanku sendiri juga berbeda denganmu..."

Tsunade mendecih kesal lalu mengalihkan perhatian pada tumpukan kertas di depannya. Ia membaca satu persatu.

"James Cloe dan Edward Cloe... menghabiskan masa lima tahun di inggris... mereka merubah nama menjadi Eddie Aguayo dan Rickie Aguayo di Meksiko..." Tsunade membaca dengan keras laporan dari Jiraiya.

"James Cloe menjadi ahli botani selama di inggris... lalu saat menjadi Eddie Aguayo, dia menjalankan bisnis narkoba bersama kartel yang berpengaruh disana, dia disebut-sebut peracik bubuk narkotika terbaik yang pernah ada." Sambung Jiraiya.

"Lalu mereka hijrah ke pedalaman Thailand dan merubah nama menjadi A-Wut Channarong dan anak itu menjadi Phanumas Niran, di pedalaman yang benar-benar hampir tak tersentuh oleh jangkauan pemerintah negara itu, ia melatih anak tersebut untuk mengembangkan kekuatannya, begitu pengakuan beberapa saksi yang menjadi pelayan mereka selama disana..."

"Ya, salah satu pelayan mereka adalah ketua kelompok pemberontak, aku menghabiskan banyak cara untuk membuat dia berbicara..." Jelas Jiraiya sambil tetap memandang keluar, "Namanya sendiri, A-Wut Channarong, berarti senjata yang kuat dan berpengalaman, sedangkan anak itu, Phanumas Niran, berarti matahari yang kekal."

Tsunade kembali memeriksa laporan Jiraiya, "Mereka pindah ke Indonesia dan mengganti nama menjadi Jaya Saputra dan Rifandi Saputra. Jaya Saputra menjadi guru biologi selama disana."

"Masih dalam tingkatan sekolah SMP, anak itu melanjutkan jenjang pendidikan di Australia hingga tamat. Lalu memulai sekolah SMA di Paraguay." Jiraiya menyambung laporannya dengan lisan.

"Dan Orochimaru menjadi dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit disana." Tsunade kembali menelisik halaman demi halaman pada laporan itu, "Hanya enam bulan di Paraguay, mereka pindah ke New York. Kenapa laporanmu terhenti sampai disini? Delapan belas tahun kau melanglang buana dan laporanmu hanya ini?! Sangat jelas bahwa James Cloe, Eddia Aguayo, Wut Channarong alias si ular licik Orochimaru ini menghindari kejaranmu?!"

"Haah... mulai dari New York aku mengalami kebuntuan, aku sudah mencoba bertanya diam-diam pada Logan, apakah ada sosok dengan ciri-ciri seperti Orochimaru pernah singgah beberapa bulan di X-Mansion, dia bilang tidak ada sosok seperti itu." Tukas Jiraiya santai. "Dan aku juga mencoba bertanya pada professor X, jawabannya juga tidak pernah Orochimaru bertandang ke X-Mansion..."

Jiraiya mencoba mengingat pertemuannya dengan professor X, "Tapi entah kenapa professer X seperti sedang menyembunyikan sesuatu... atu hanya perasaanku saja..."

"Dan kini kau berasumsi mereka ada di negara ini?"

"Entahlah... aku merasa yakin mereka ada disekitar kita karena dia pasti mengetahui cara berpikir kita yang menganggapnya sedang di luar negri.. aku akan memulai pencarian Orochimaru dari nol lagi." Ujar Jiraiya.

"Dimulai dari nol lagi?" keluh Tsunade memijit pelipisnya, "Kapan kita akan bertemu dengan anak itu jadinya..."

Sosok yang sedikit memiliki kerutan di wajah pertanda usianya udzur itu menatap hamparan alam asri yang mengelilingi desa kecil tempatnya kini berada, lalu bergumam pelan pada angin "Putra baptisku, dimana dirimu sekarang? Kau pasti sudah remaja.. apakah kau tumbuh menjadi bijak dan lembut seperti Minato atau garang dan nakal tapi penuh cinta seperti Kushina?

Jiraiya menunduk. "Aku berharap, kau tak tumbuh besar seperti teman baikku itu..."

Suara ketukan pintu menginterupsi lamunan Jiraiya. Dua sosok remaja masuk dan membungkukan badan di depan Tsunade.

"Anda memanggil saya, Tsunade-sama?" Shino bertanya.

"Itu..." tunjuk Tsunade dengan dagu pada sebuah kotak kecil di meja, "Oleh-oleh dari Jiraiya untukmu..."

Shino meraih kotak kecil itu dan terkejut melihat isinya.

"A-apa ini, Jiraiya-sama?" Kiba membuka suara.

"Kacamata..." jawab Jiraiya mendekati kedua remaja itu. "Sepertinya kacamata berlensa khusus anti laser yang kubikinkan bertahun-tahun silam tak lagi cocok untukmu yg sudah remaja."

Shino dan Kiba menatap benda di dalam kotak yang kini berpindah ke tangan Jiraiya. "Kacamata ini sama dengan yang dipakai Cyclops, ketua X-men, hanya saja aku sengaja buat tingkat lensanya bertingkat tiga."

"Arigatou, Jiraiya-sama."Shino menerima kacamata anti laser dan radiasi dari Jiraiya. "Dengan kacamata keren ini... aku takkan diacuhkan lagi. Aku akan jadi beken! Aku akan jadi ganteng!"

...

Naruto menuliskan nama Mizuki, Sasori, Zabuza, Kizashi dan mr. X di sebuah halaman pada buku tulisnya. Ia menuliskan kelima nama itu dengan bersusun ke bawah. Naruto melingkari semua nama dalam satu lingkaran besar.

Disisi sebelahnya, Naruto menulis nama Minato dan Kushina lalu melingkarinya juga.

Diatas lingkaran yang berisi kelima nama anggota S.A.C, Naruto menulis 'Tersangka,' lalu menulis 'korban' pada bagian atas lingkaran yang berisi kedua nama orangtuanya. Lalu satu garis lurus menghubungkan kedua lingkaran itu.

Naruto terdiam sesaat dengan ekspresi serius.

Lalu nama Orochimaru tepat diatas garis yang menghubungkan kedua lingkaran tersebut. Naruto menyematkan kata 'Saksi' diatas nama Orochimaru.

"Aku akan membuang A dan B sebagai densetsu no sannin karena aku tak tahu siapa mereka... ayah merahasiakan point kehadiran mereka dalam ceritanya... itu jika aku berkaca pada cerita Zabuza."

Naruto berpikir keras.

"Maka aku akan mengeliminasi..." Naruto mencoret nama Mizuki, Sasori, dan Zabuza.

Ia terlihat ragu hendak mencoret nama Kizashi, Naruto kini menatap tajam nama mr.X sebagai orang kelima yang belum ia ketahui. Ia menuliskan kata pelaku dengan huruf yang lebih besar di bagian paling bawah.

Semuanya sudah tereliminasi, menyisakan dua nama, mr. X dan Orochimaru. Naruto memberikan tanda tanya di samping nama Orochimaru.

"Apakah mungkin..." Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak! Ini tidak mungkin!"

Naruto menyadarkan bahunya ke sandaran kursi dan menghela nafas panjang. Safirnya menatap langit-langit kamar. "Tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal... jika nama ditengah adalah pelakunya, kenapa aku dibesarkannya? Kenapa aku harus memburu kelima nama tersangka jika dia sendiri adalah tersangka?"

Naruto menghantamkan dahinya ke meja belajar. "Aku mohon... aku mohon... jangan nama yang ditengah yang menjadi pelakunya..."

Naruto menjambak rambutnya sendiri, "Tapi bagaimana jika itu benar?! Kenapa?"

Cengkraman tangannya makin kuat saat Naruto benar-benar memutar otak.

Dan memeras semua hatinya yang remuk memikirkan kemungkinan nama yang berada diatas garis lurus penghubung nama anggota S.A.C dan orangtuanya. "Aku tidak bisa memikirkan semua ini!"

"Bertanya pada pelaku sejarah? Aku bahkan tidak tahu harus mempercayai cerita Zabuza atau ayah sekarang..." Naruto mendesah berat, "Aku benar-benar tak bisa berpikir sekarang..."

Naruto menegakkan punggung saat mendengar bunyi bel di pintu depan. Ia segera bangkit berdiri namun ia mendengar jelas bahwa ayahnya sudah terlebih dahulu berjalan ke arah ruang tamu. "Kenapa ayah belum juga pergi ke kantor?"

.

.

Orochimaru berjalan menuju pintu depan dengan berbicara pada seseorang di ponselnya. "Baiklah, Anko, aku akan segera kesana, suruh mereka memulai rapat tanpa menungguku..."

Orochimaru memasukan ponsel ke dalam saku mantelnya. Kini ia tak mengenakan seragam S.A.C, Orochimaru memakai kemeja putih dan celana hitam biasa. Tubuh kurus tinggi itu dibalut mantel coklat dengan kerah tinggi.

Orochimaru membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.

.

Sakura menekan bel sekali lagi. Sesekali ia melongok ke sisi lain halaman yang kosong tanpa tumbuhan ataupun tali jemuran. Namun ia sedikit heran melihat mobil yang terpakir disamping rumah. Mobil itu sangat familiar olehnya.

Mobil SUV keluaran Chevrolet™ dengan bentuk bodi yang kokoh menyerupai jeep dengan penggerak empat roda khas mobil off-road dan memiliki kemampuan setara pick-up meski berdesain mobil penumpang manusia.

Tak banyak orang memakai SUV jenis tersebut, hanya anggota militer yang memakai mobil berspesifikasi lengkap itu, dan mobil jenis itu adalah mobil dinas yang juga di pakai oleh ayahnya.

Sakura menoleh ke arah pintu saat terdengar seseorang sedang membuka kunci dari seberang. Ia memasang wajah tegang. "Naru-"

Pintu terbuka dan sosok Orochimaru berdiri dengan kedua alis bertaut.

"Nona Sakura… ah.. karena disini akulah tuan rumah, maka aku akan memanggilmu… Sakura-chan…"

"A-anda… ka-kapten yang waktu itu…" Sakura ingat jelas sosok atasan Anko ini, dialah yang paling sedikit bicara saat Anko dan Yamato menanyainya tentang killer hunter kemarin.

Sosok ini juga yang mengejutkannya karena mengetahui bahwa ia pergi ke Taman Bermain pada hari minggu lalu.

"Ada perlu apa mencariku, Sakura-chan?" Orochimaru menjilat bibirnya.

Sakura terpaku dengan mimik kaget yang belum luntur dari wajahnya. "A-aku men-mencari…"

"Kenapa kau tegang begitu? Silahkan masuk." Orochimaru mempersilahkan.

Kaki Sakura terasa kaku dan sulit di gerakkan. "Shikamaru… bukannya dia memberikanku alamat Naruto? Kenapa aku malah ke rumah orang ini? Melihat wajahnyanya saja aku ketakutan…"

"Sakura-chan?"

"Ah…" Sakura berusaha menenangkan diri,"Maaf, Sepertinya aku salah alamat."

Orochimaru menaikkan alis.

"Aku sedang mencari alamat temanku."

"Begitukah?"

Terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka berdua.

Remaja berambut hitam berantakan menghentikan langkah.

Semua otot dan urat syaraf di bagian wajahnya seakan ditarik paksa, otaknya segera memberi perintah tenang dan tak menunjukan gelagat aneh.

Orochimaru yang menyadari kehadiran Naruto beberapa langkah dibelakangnya memiringkan badan agar Sakura bisa melihat jelas kedalam.

"Apakah kau yakin jika kau salah alamat?" Tanya Orochimaru lagi.

Sakura benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya kali ini. "Apa-apaan ini?! Kenapa Naruto bisa serumah dengan manusia menyeramkan ini?!"

"Sakura-chan… ada apa?" Tanya Naruto dengan nada yang dibuat biasa-biasa saja.

Inner Sakura muncul. "Tenang, Sakura! Tenang! Tunjukan bakat aktingmu! Chaa... action!"

"Oh... hai Naruto… aku datang melihat kondisimu karena sudah tidak masuk sekolah berhari-hari... apakah kau baik-baik saja?" Sakura berusaha keras agar tak gelagapan.

"Ah? Hahaha…." Naruto menggaruk kepala belakangnya dan melempar tawa sebagai jawaban.

Orochimaru memberikan gestur agar Sakura masuk ke dalam rumah.

Sakura melangkah masuk dengan diikuti Orochimaru dari belakang. Naruto sendiri berdiri santai di sisi sofa.

"Ah, aku masih kurang enak badan…" Naruto meneruskan jawaban atas pertanyaan Sakura tadi. "Ayah…" Naruto berpaling pada ayahnya, "Bolehkah aku mengajak Sakura-chan ke kamarku?"

"Ayah? Apalagi ini? Bukankah dari cerita Kapten Yamato bahwa orangtua Naruto telah…."

"Hm? Asalkan kalian tidak melakukan hal yang aneh-aneh…" Orochimaru duduk di sofa.

Dan dengan nada bicara yang sangat bersahabat.

"Sakura-chan… ayo bicara dikamarku."

Sakura sejenak menoleh pada Orochimaru.

Orchimaru memberikan senyum tipis namun terlihat mengerikan bagi Sakura.

"Omong-omong, darimana kau tahu kalau Naruto tidak masuk sekolah berhari-hari sementara kau sendiri juga tidak hadir disekolah?" Tanya Orochimaru ramah.

"Mati aku!" rutuk Sakura yang kehilangan kemampuan berbicara sejak bertemu dengan Orochimaru.

"Aku membuat status di facebook." Potong Naruto, "Kau membaca statusku kan, Sakura-chan?" Kini Naruto memandang Sakura dengan wajah riang.

"Ah… iya.. iya… aku membaca statusmu di facebook… haha…" Sakura mengikuti alur permainan kata dari Naruto.

"Masbuk?" Tanya Orochimaru.

"Bukan ayah.. fesbuk, tulisannya Pa-ce-bok.""

"Pak cebok?" Orochimaru menaikkan alis keheranan.

"Haah… ayah takkan mengerti hal itu… itu internet…"

"Ah…" Orochimaru mengangguk paham, "Internet…."

"Ayahku memang kolot, hehe…" Naruto nyengir pada Sakura, "Aku bahkan cukup lama mengajari ayahku menggunakan ponsel layar sentuh."

Sakura melempar tawa renyah, "Sama… orangtuaku sama kunonya… haha…"

"Aku akan buatkan minum untuk kalian." Orochimaru berdiri dari kursi empuk.

"Tidak usah!" Naruto mencegah Orochimaru, "Tidak usah ayah.. kami ingin berbicara masalah pribadi dikamar… semacam…"

"Semacam?" tuntut Orochimaru.

"Semacam.. yaa.. itulah.. ayah dulu kan pacaran dengan ibu… dan aku tak menganggu kalian kan dengan mengantrakan minuman?"

"Itu karena kau belum lahir, Naruto…"

"Hahaha…." Naruto tertawa.

"Hahaha…" Orochimaru ikut tertawa.

Sementara Sakura berjuang keras menarik otot gerahamnya dan ikut tertawa dengan suara yang akhirnya terdengar aneh. "Drama macam apa yang sedang dimainkan kedua orang ini?!"

"Ayo… Sakura-chan…"

"Ah.." Sakura tersentak, "Oke..." dan mengikuti langkah Naruto ke kamarnya.

"Ingat, jangan macam-macam, nak…"

"Ah ayah cerewet!" Naruto berteriak berpura-pura kesal dan berlalu ke kamarnya.

.

.

Sakura melangkah pelan pada kamar Naruto, sekilas ia memendarkan pandang pada kamar yang terlihat bersih tersebut. Naruto berdiri di sisi jendela dan menatap jalan keluar. Ia sama sekali tak berminat pada Sakura.

Putri Haruno berjalan mendekati meja belajar dan melihat goresan-goresan yang dibuat Naruto tadi di buku, ia termangu melihat skema sederhana berisi beberapa nama yang ia kenal disana.

Nama ayahnya.

Sakura mendekati Naruto, menatap punggung remaja itu, "Naruto... aku.."

"Tidak aman berbicara disini... ikuti aku..." ujar Naruto dingin memotong perkataan Sakura, "Ikuti aku."

.

.

Orochimaru tak lagi terlihat diruang tamu saat mereka berdua sampai di luar kamar Naruto. Naruto terus saja keluar diikuti Sakura. Gadis itu tak tahu Naruto akan membawanya kemana. Ia masih setia dengan bungkam saat mereka keluar dari komplek perumahan kediaman Naruto.

Sakura ditarik paksa di trotoar yang mulai ramai sore ini dari pejalan kaki. Ia meringis kesakitan karena Naruto terlalu kuat mencengkram pergelangan tangannya. "Naruto, lepaskan! Ada yang ingin ku bicarakan denganmu..."

Naruto tak menjawab ataupun memberi respon melalui bahasa tubuh. Ia berbelok ke lorong sepi dan gelap di sela-sela pertokoan yang memenuhi jalan utama.

"Naruto... kenapa kita kesini?"

Naruto berhenti saat ia rasa kini mereka berdua sudah jauh dari pengamatan para pejalan kaki di trotoar.

"Aw!" Sakura menjerti karena Naruto menyentakan tangannya dengan kasar. Sakura meringis melihat bekas memerah pada tangannya yang tadi digenggam kuat oleh Naruto.

Sakura takut-takut melihat Naruto yang kini berbalik dan menatap tajam ke arahnya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Naruto merapatkan jarak mereka berdua.

"Naruto... orang tadi siapamu?" tanya Sakura dengan suara pelan. Matanya terus menatap mata Naruto yang semakin berkilat dalam temaram. "Aku mendengar... kalau kau kehilangan-"

"Kuperingatkan padamu, Haruno Sakura..." wajah Naruto berubah sangar dengan suara yang terdengar gahar. "Jangan campuri urusanku. Mulai dari sekarang dan untuk selamanya. Mengerti?"

Naruto melewati Sakura dan meninggalkannya. Sakura dengan cepat menyusul Naruto dan berjalan disampingnya. "Aku tahu kenapa kau menyerang ayahku? Aku tahu bagaimana perasaan di tinggalkan oleh orangtua? Aku tahu bagaiman sakitnya saat merindukan-"

Graap!

Naruto mendorong Sakura hingga punggung gadis itu membentur dinding dengan lengannya yang melintang di leher Sakura.

"Berapa nyawa yang kau punya, hah?" gertak Naruto. "Aku sudah memperingatkanmu, jangan campuri urusanku. Inilah wajah asliku!"

Sakura terdiam namun matanya terus menatap safir Naruto yang berubah garang. Nafasnya sedikit sesak karena himpitan lengan Naruto di lehernya.

"Mencabut nyawa orang sepertimu, atau seperti ayahmu, adalah hal yang sangat mudah bagiku. Jika kau tak ingin mati, tinggalkan semua yang kau ketahui tentang aku dan hapus semua itu dari ingatanmu." Ancam Naruto. "Kembalilah ke waktu disaat kau tidak mengenalku dan tidak bertemu denganku."

Naruto berlalu pergi dengan langkah cepat meninggalkan Sakura yang kini terengah-engah berusaha menghirup oksigen yang tadi tersendat.

Emerald kini tergetar gegar menatap punggung pemuda yang semakin menjauh itu.

.

.

Orochimaru menunda niatnya yang ingin pergi ke markas saat ia mendengar Naruto dan Sakura keluar rumah tadi, kini ia berdiri di depan meja belajar Naruto dan membaca nama-nama anggota S.A.C serta nama kedua orangtua kandung Naruto yang ditulis pada sebuah halaman buku tulis.

Orochimaru mengetukkan pena tepat dinamanya sendiri yang terletak diatas garis yang menghubungkan dua lingkaran nama tersangka dan korban. Entah apa maksud Naruto memberikan tanda tanya disamping nama Orochimaru. Di bagian terbawah tulisan 'Pelaku' mencolok karena ditulis dengan huruf yang cukup besar.

Ujung pena menyentuh kertas. Satu garis lurus ditarik oleh Orochimaru dari garis penghubung dua lingkaran. Ia menuliskan sebuah nama disamping namanya.

Lalu ia menyeringai sadis.

Orochimaru menutup buku tersebut, yang tadinya terbuka. Ia keluar kamar Naruto dengan kekehan mengerikan. "Kau sudah terlalu jauh...Naruto..."

Sosok yang baru disebut namanya baru saja memasuki rumah.

"Sepertinya, kau cukup dekat dengan putri dari Kizashi..." sambut Orochimaru menatap putranya yang terpaku di ambang pintu.

Naruto hanya memasang wajah datar menanggapi Orochimaru. "Karena kami bersekolah disekolah yang sama."

"Apakah itu alasan kau tidak menghabisi Kizashi pada saat itu?"

"Bukan... dia menyerangku, topengku pecah terkena tinjunya, spontan aku berbalik dan berlari menjauh agar wajahku tak diketahui..."

"Jadi, dia belum tahu kalau kau killer hunter?" Orochimaru menjilat bibirnya.

"Aku tidak akan mudah ketahuan." Jawab Naruto dingin namun dengan nada tegas dan pasti.

"Jika idenditasmu terungkap." Orochimaru mendekati dan berdiri disamping naruto yang masih berdiri diambang pintu. "Dia akan mati."

Orochimaru sedikit menoleh pada wajah tembok Naruto dan berkata di sisi telinganya. "Kita disini untuk balas dendam. Jangan biarkan perasaanmu ikut di dalamnya."

Orochimaru menjauh dan memasuki mobil yang ia parkir dihalaman rumah. Naruto melangkah masuk dengan pikiran berkecamuk.

...

Sakura mencuci muka di wastafel. Ia menatap pantulan wajahnya yang basah di kaca. Maniknya kembali menampilkan bayang atas apa yang di lakukan dan diucapkan Naruto tadi sore.

"Berapa nyawa yang kau punya, hah?"

"Aku sudah memperingatkanmu, jangan campuri urusanku. Inilah wajah asliku!"

"Mencabut nyawa orang sepertimu, atau seperti ayahmu, adalah hal yang sangat mudah bagiku. Jika kau tak ingin mati, tinggalkan semua yang kau ketahui tentang aku dan hapus semua itu dari ingatanmu." Ancam Naruto. "Kembalilah ke waktu disaat kau tidak mengenalku dan tidak bertemu denganku."

Sakura hanya terdiam semenjak itu. Sakura keluar dari kamar mandi sambil mengelap mukanya dengan handuk. Ia bersandar senyaman mungkin di sofa sembari sekilas melihat ayahnya yang tak juga menunjukan tanda-tanda akan terbangun. Setelah menemui Naruto dan mendapat ultimatum seperti itu, Sakura kembali ke Rumah Sakit dengan perasaan yang bercampur aduk.

Sakura menghela nafas berat, "Melupakanmu?"

.

"Ya... lupakan aku, Sakura-chan..." Naruto bermonolog sambil merebahkan diri di ranjang. "Itu demi kebaikan kita bersama."

Remaja itu terduduk di tepi ranjang, "Ada hal yang jauh lebih penting untuk kuselesaikan sekarang, Sakura-chan... maafkan aku."

Naruto bangkit dan mendekati meja belajarnya, buku dimana ia menuliskan semua skema terhadap kasus delapan belas tahun lalu itu tertutup. Naruto hendak membuka kembali buku itu, namun ketika jemarinya hampir saja menyentuh sampul buku, ia mengurungkan niatnya.

"Sial! Kenapa jadi rumit begini?"

Dan kunci dari semua kerumitan masalah yang dimulai sejak delapan belas tahun yang lalu itu telah ditulis Orochimaru di buku tersebut. Sayangnya, sungguh sayang, Naruto tak membuka buku itu dan membaca jawabannya.

.

Sakura yang masih termenung sedikit tersentak mendengar suara ganjil di depan pintu. Ia berdiri dari sofa, berjalan pelan mendekati pintu.

"Apakah diluar baik-baik saja?" tanya Sakura dari balik pintu pada dua anggota S.A.C yang berjaga di depan.

"Halo... apakah diluar baik-baik saja?" tanya Sakura memastikan.

Gadis itu makin mengerutkan kening saat dari celah bawah pintu menguar asap pekat. "I-ini?!" Sakura dengan sigap mengunci pintu. Terdengar hantaman demi hantaman yang mencoba menerobos masuk secara paksa.

Braaak!

Pintu terlepas dari tempatnya dengan sentakan kuat dan melayang hingga menghimpit Sakura yang langsung terjatuh terhimpit pintu. Sesosok orang berjubah hitam dengan topeng bercorak rubah masuk perlahan ke dalam kamar.

Mengacuhkan hal lainnya, ia berjalan mendekati posisi dimana Kizashi terbaring.

Braaak!

Sosok itu terjungkal saat satu buah pintu yang masih berbentuk utuh menghantam tubuhnya. Ia bangkit berdiri dan melihat siapa penyerangnya.

Di kedua tangan Sakura masih menggenggam pintu yang tinggal seperempat. Angkara tergerus pada tiap jengkal wajahnya. "Lagi? Ada yang mengincar nyawa ayahku lagi?"

Sosok bertopeng rubah itu berdiri tenang. Ia menyorongkan tanganya kedepan, dari telapak tangannya muncul kayu kecil sebesar puplen, lalu makin lama makin membesar dan menjadi tombak lalu terlepas sempurna dari tangannya.

"Siapa kau?" geram Sakura.

"Kenapa kau bertanya seperti itu? bukankah kau memecahkan topengku tempo hari?"

"Kau... bukan killer hunter!" bentak Sakura.

"Oh... seperti yang kuduga, jadi kau mengetahui siapa killer hunter sebenarnya."

Killer hunter kw berlari menyerang Sakura. Sakura mengeratkan kedua genggaman tanggan nya pada pintu patah.

"Hyiaaat!"

.

Orochimaru berkonsentrasi mengendarai mobil. Gemerisik dari radio mobilnya semakin meribut dan menghasilkan satu nada tertata berupa laporan dari markas.

"Semua anggota yang berpatroli, ada serangan killer hunter di Rumah Sakit!"

Orochimaru sedikit mengerutkan kening mendengar laporan itu. "Bukankah Naruto tadi di rumah?" Orochimaru mengetukkan jari di setir mobil. "Naruto... dia akan mengeksekusi Kizashi? Apa karena Haruno Sakura menemuinya tadi?"

Satu kesimpulan didapat dari otak encer Orochimaru.

"Sial! siapa orang itu?!" Orochimaru menarik tuas rem depan dan membanting setir ke kanan. Kepala mobil langsung berputar dari arah depan ke belakang dengan meninggalkan goresan ban yang tergerus pada aspal membentuk setengah lingkaran seratus delapan puluh derajat.

Tuas rem diturunkan dan Orochimaru menginjak pedal gas sedalam mungkin setelah melompatkan perseneling dua ke empat sekaligus. Mobil S.U.V yang berbalik arah itu kini melesat cepat menuju Rumah Sakit.

.

Killer hunter menggunakan satu lengannya melindungi kepala saat Sakura melompat dan menghantam pecahan pintu kepadanya. Pintu itu langsung remuk dan kini Sakura tak punya lagi pertahanan atau alat penyerang.

Kiler hunter menusukan tombak kayunya ke arah dada Sakura, gadis itu memiringkan badannya sedikit dan mengangkat lengan setinggi mungkin.

"A-apa?" killer hunter terkejut dengan fleksibilitas respon dari gadis didepannya.

Tombak kayu yang seharusnya menembus dada Sakura kini terjepit tepat di ketiak Sakura. Gadis itu menendang dada killer hunter kw dengan kedua kakinya di awali lompatan penuh tenaga dan membuat kedua orang itu sama-sama terlempar kebelakang.

Karena tombak kayu tadi terjepit di ketiak Sakura, kini tombak itu lepas dari tangan killer hunter saat ditendang Sakura tadi.

Gadis itu memainkan tombak dengan berbagai putaran akrobatik. Ia kini siap bertarung demi menjaga ayahnya.

Killer hunter berlari ke arahnya, memberikan satu tendangan berputar. Sakura merentangkan kaki kebelakang cukup lebar dan merunduk. Tombak kayu itu sukses menghantam satu kaki killer hunter yang menjejak lantai. Killer hunter melompat mundur menghindari Sakura namun Sakura malah kini maju sebagai penyerang.

"Hyiaaat!"

Killer hunter menyilangkan kedua tangannya untuk memblok satu pukulan keras dari tombak yang ada digadis itu. Sakura dengan cepat menarik tombaknya lalu menusukkan ke perut killer hunter.

Sosok bertopeng rubah itu mundur selangkah agar tombak tak menembus perutnya, Sakura dengan lihai kembali melebarkan arah serangan tombak dan kini menghantam sisi kepala killer hunter dari samping.

Killer hunter terlempar keluar pintu yang los tanpa penghalang akibar kuatnya Sakura menghantam sisi kepalanya dengan kayu. Ia terjatuh diantara dua petugas S.A.C penjaga ruangan Kizashi yang tergelatak pingsan dilantai.

"Jangan coba macam-macam dengan orang yang menyandang marga Haruno!" gertak Sakura.

Killer hunter berdiri sambil menempelkan tangan ke telinganya. Ia melihat darah menempel pada tangannya. "Bocah setan!'

Sakura yang berada didalam kamar kembali bersiaga dengan tombaknya.

Killer hunter mengarahkan kedua telapak tangannya pada Sakura. Perlahan, telapak tanganya muncul kayu seukuran pena dalam jumlah banyak hingga memenuhi telapak tangannya.

"Matilah kau, sialan!"

Killer hunter siap melepaskan tembakan peluru kayunya namun tubuhnya terlebih dahulu kembali terlempar ke sisi jauh koridor karena sebuah ranjang beroda khas ranjang Rumah Sakit menghantamnya.

Kerasnya hantaman bisa terlihat dari bagaimana ringseknya ranjang itu dan killer hunter kembali mencoba berdiri setelah terjungkal untuk yang kedua kalinya.

Orochimaru berdiri di sisi jauh sebagai pelaku pelempar ranjang. Ia berlari kencang dengan menarik senjatanya diri balik pinggang.

Senjata tajam berbentuk pedang namun jauh lebih pendek dari pedang tapi lebih panjang dari belati.

Killer hunter melopat mundur dari serangan Orochimaru. Bagian dadanya robek dengan luka vertikal akibat tebasan Orochimaru.

"Jadi, si penccuri file menampakan diri sekarang?" seringai orochimaru.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Jangan pura-pura bodoh, kau mengincar Kizashi agar suau saat jika dia sadar dia tidak akan membocorkan nama kelima pada killer hunter."

"Ka-kau?" sosok bertopeng rubah itu terperanjat kaget. "Sial! kenapa Sakura dan Orochimaru bisa mengetahui dengan mudah kalau aku bukan killer hunter yang asli?"

Sakura keluar dari kamar dan memasang wajah tegang saat tahu Orochimaru datang.

Orochimaru melirik kebelakang sesaat. "Tetap di belakang, ini berbahaya!"

Sakura berdiri mematung melihat kedua sosok yang siap bertarung itu.

Killer hunter gadungan memasang pose bertarung sementara Orochimaru masih berdiri dengan tenang.

"Aku adalah killer hunter! Aku kemari untuk memburu Kizashi!"

"Bodoh sekali..." cibir Orochimaru. "Killer hunter memiliki gen chakra angin dan menggunakan rantai sebagai alat serangnya. Senjata pamungkasnya adalah bola spiral bertekanan tinggi bernama rasengan."

"Dan..." tunjuk Orochimaru ke arah killer hunter palsu, "Dia tak pernah memakai hoodie untuk menutupi rambutnya."

"Keparat! Aku harus kabur!"

"Katakan padaku, dimana file itu? kau belum memusnahkannya kan?"

"Bagaimana dia tahu tentang file itu? sial! aku harus kabur sebelum yang lainnya berkumpul kesini."

Killer hunter berbalik dan berlari kencang ke ujung lorong. Orochimaru mengejar bersama Sakura yang ikut berlari dibelakangnya. Killer hunter gadungan terus berlari hingga ke sisi pinggir lantai tersebut.

Praankk!

Killer hunter menerjang kaca dan terjun bebas.

Orochimaru berhenti berlari dan berdiri disisi jendela yang baru saja diterobos oleh killer hunter gadungan. Sakura juga berdiri dsampignya dengan ekspresi kaget. "Bagaimana dia bisa terjun dari ketinggian seperti ini?"

Killer hunter gadungan yang melayang menyatukan kedua telapak tangannya. Lalu dari dalam tanah pelataran Rumah Sakit muncul bunyi gemuruh, sesaat sesudahnya, muncul beberapa pohon besar yang memiliki banyak ranting berdiri saling berdekatan, ranting ranting itu seperti memiliki nyawa karena bergerak sendiri, saling membelit dengan ranting - ranting dari pohon lain dan membentuk seperti jaring raksasa untuk menangkap sosok killer hunter.

"Elemen yang sangat langka... Mokuton." Orochimaru hanya memasang wajah datar melihat bagaimana killer hunter palsu berhasil melarikan diri setelah pohon besar tersebut kembali masuk kedalam tanah. "Kau tak apa?"

"Ya, aku tak apa." Sakura mengangguk.

"Kapten!" Anko serta beberapa petugas S.A.C yang baru datang berlari dan mendekati mereka. "Apakah killer hunter kabur lagi?"

"Ya..." jawab Orochimaru.

"Semua petugas yang berjaga pingsan karena bom asap bius..." ujar Anko. "Killer hunter sialan!"

"Kirim lebih banyak petugas dari markas untuk menjaga Komandan. Tempatkan leih banyak pada lantai satu, lantai paling atas, dan koridor ruang VIP. Pastikan mereka semua juga mengawasi jendela, ventilasi udara, saluran blower, atau apapun yang bisa menjadi akses keluar masuk killer hunter kemari." Perintah Orochimaru tegas.

"Siap, Kapten!" jawab Anko.

Sakura terdiam melihat cara Orochimaru memimpin.

"Kembalilah ke kamarmu, Nona." Perintah Orochimaru.

"I-iya." Sakura tersentak.

Semuanya bubar meninggalkan Orochimaru seorang diri. Ia menatap keluar dimana dibawah tanah bekas tumbuhnya pohon yang menangkap sosok killer hunter palsu tadi.

"Orang tadi, dari cara bertarungnya dia sangat amatir meski memiliki elemen langka. Dia tak melatihnya atau memang tak punya mentor dengan keahlian yang sama?" Ia mengeluarkan serum DNA-nya, menatap lekat cairan tersebut. "Sepertinya, aku tak bisa bersantai lagi. Aku harus dapatkan nama orang kelima secepat mungkin dan menuntaskan semua ini."

...

"Jadi, kau gagal membunuhnya?" sesosok perwira yang berada di ruangan kerjanya yang temaram sedang menelpon seseorang. Terlihat banyak medali dan penghargaan militer di ruangan minim pencahayaan itu

"Satu tugas mudah begini saja kau tak bisa lakukan, apalagi kau ingin merebut jabatannya?! Apa kau tak tahu bagaimana beratnya tugas Komandan, tolol?!" bentak orang tersebut.

"Maafkan aku, tapi ada orang yang menggagalkan aksiku tadi. Orang yang sama kujadikan sebagai saksi saat aku menghilangkan file itu."

"Aku tidak perduli. Jabatan kapten non lapangan sudah cukup untukmu." Orang tersebut mematikan ponselnya.

"Killer hunter..." suaranya besar dan berat. "Kau mencoba memburuku? Kau salah. Akulah pemburu sebenarnya. Aku akan memburumu dan membelah tubuhmu."

Ia menarik laci di sisi kanan bawah meja kerjanya, sebuah file berwarna merah dengan kode SM160492 ia ambil dan di letakkan ke atas meja. "Aku akan memancingmu dengan ini."

Orang kelima menyatakan diri siap memburu killer hunter!

Pertarungan besar semakin dekat!

To be continue.


Next Chapter ! The Twelfth Chapter : "MR. X" Hati yang berbelok.

Chapter 12 "Mr. X" -Hati yang berbelok- akan di publish saat jumlah Review melewati angka 237.

Sekian.