oOo
Main Cast : Luhan, Sehun.
Rate : M
Gendre : Hurt, Drama, Romance.
Length : Chapter
PS : FF ini adalah GS untuk para UKE dan seperti sebelumnya, main cast lain akan muncul dengan bertambahnya Chapter. FF ini hasil inspirasiku sendiri. Jadi aku mohon dukungan reviewnya^^ menerima saran ataupun keritikan tapi menolak bash! Happy reading^^
.
.
.
.
.
Luhan mengambil aneka buah dari dalam kulkas, menatanya di piring besar dan menaruhnya di atas meja makan. Sekarang sudah pukul tujuh pagi dan Luhan sedang bersiap membuat sarapan untuk Chris. Asisten rumah tangga yang Baekhyun carikan belum datang untuk bekerja, jadi walaupun Luhan merasakan kalau tubuhnya lemas, Luhan tetap harus beraktifitas. Tidak mungkin ia bisa beristirahat dengan tenang jika Chris bahkan belum mendapatkan sarapannya.
Mata Luhan menangkap benda kecil yang tergeletak di atas meja, mengambilnya dan menatap ragu pada plester luka bergambar beruang yang ia temukan. Kening Luhan mengkerut. Berpikir, siapa kiranya yang meletakan ini? Namun setelahnya Luhan hanya menggedikkan bahu, dan memakai plester luka itu pada jarinya yang terkena pisau semalam.
"Apa yang akan Ibu masak?"
Luhan menoleh kepada Chris yang berjinjit di samping meja makan untuk bisa melihat jelas apa yang Luhan kerjakan. Luhan tersenyum, mengusak rambut Chris membuat mata Chris mengarah kepadanya.
"Nasi goreng keju?"
Chris mengangguk dengan mata berbinar. Itu adalah salah satu makanan kesukaan Chris.
"Baiklah.. tunggu Ibu di ruang tengah bersama mainanmu.."
"Baik Bu.." Chris menurut dan berlari kecil menuju ruang tengah sesuai perintah Luhan.
Begitu melihat Chris sudah tidak ada disekitarnya, Luhan pun menjatukan tubuhnya di kursi dengan lemas. Luhan menghela nafasnya cukup berat. Perutnya masih sering terasa seperti diaduk-aduk, hingga Luhan kesulitan memasukan makanan untuk anak keduanya. Semua yang Luhan santap hanya akan berakhir menjijikan di toilet, dan kehamilannya kali ini membuat Luhan tidak menyukai aroma keju, tapi sekarang ia justru harus memasak nasi goreng keju.
.
.
"Ya, Baek.. aku sudah bangun." Sehun mendengus kesal kepada Baekhyun yang entah berada di mana. Baekhyun menelpon Sehun, meneriaki Sehun untuk segera bangun tapi saat Sehun sudah bangun Baekhyun justru tedengar tidak mempercayai ucapannya.
"Baik, dua jam lagi aku berangkat." Sehun mematikan sambungan telponnya, tepat saat kaki panjangnya menapaki anak tangga terakhir.
Menatap lekat, kepada sosok kecil yang duduk di atas carpet sedang menggerak-gerakkan mainan kesayangannya seorang diri. Jelas sosok itu adalah Chris, dan Sehun mulai menerka, bahwa sejak kapan ruang tengahnya berubah menjadi ruang bermian?
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sehun mengambil tempat di atas sofa, tepat menghadap punggung Chris yang masih terfokus pada mainannya.
Chris menoleh sejenak kepada Sehun, mengerjabkan mata beningnya yang sangat terlihat mirip Luhan. Mencoba untuk mengingat, siapa seseorang yang ada di depannya.
"Paman jahat.." Ingatan Chris mengarah kepada kejadian saat Sehun membentaknya di rumah sakit, dan panggilan itu secara sendirinya lolos dari bibir kecil Chris.
Sehun mendengus tidak suka, mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dan menatap Chris dengan tatapan mengancam. Namuan Chris hanyalah anak berusia tiga tahun lebih, dia tidak memahami maksud tatapan Sehun, yang Chris tangkap adalah tatapan itu terlihat seperti monster.
"Namaku, Oh Sehun. Panggil aku Paman Sehun.."
Chris menatap Sehun sebentar tanpa menjawab, dan kembali tenggelam dengan dunia mainannya. Dengan malas Sehun menyender pada punggung sofa, bersedakap tangan dan hanya terus memperhatikan Chris yang tengah berbicara sendiri dengan robot Iron mannya. Hanya ada dua robot Iron man, satu berukuran kecil dan satu berukuran sedang. Dari sini Sehun bisa mengambil kesimpulan kalau anak Luhan menyukai Iron man.
"Namamu Chris-kan?"
Chris kembali menatap Sehun dan memberi anggukan dua kali.
"Apa kau tahu dimana Ayahmu?"
"Ayah?"
Sehun menatap tidak percaya saat Chris mengulang kata Ayah dengan raut wajah kebingungan, Chris terlihat seperti tidak pernah mendengar kalimat itu. Jadi apa yang Baekhyun ucapkan benar, kalau Luhan tidak pernah menemui Ayah, Chris? Astaga, kejam sekali wanita itu.
Merasa iba karena Chris seolah buta tentang apa itu ayah. Sehun pun berpindah duduk di bawah, tepat berada di samping Chris.
"Ayah.. kau tidak tahu Ayah?"
Chris menggeleng. Naluri anak kecil, saat mendengar hal baru ia akan merasa penasaran.
"Ayah itu siapa?"
Sehun memutar otaknya untuk memberikan jawaban yang tepat dan baik. Mata sipitnya melirik pada situasi sekitar dan tepat berhenti pada robot Iron man milik Chris yang tergeletak. Dengan sigap Sehun mengambilnya dan sedikit menggerak-gerakan dua mainan itu agar perhatian Chris terfokus sepenuhnya pada mainan yang ia pegang.
"Iron man lahir karena ada seorang Ayah dan Ibu.."
Chris menatap lekat mata Sehun dengan wajah berpikir. Sehun mendengus, menyadari caranya tidak ampuh.
"Chris ada karena Chris memiliki seorang Ibu dan Ayah. Ibu tidak bisa mengandungmu seorang diri."
Chris tidak mengerti dengan apa itu mengandung, tapi Chris mengerti dengan kalimat pertama Sehun. 'Chris ada karena Chris memiliki seorang Ibu dan Ayah'. Dan Chris mulai berpikir, bagaiaman rupa seorang Ayah.
"Apa Ayah itu seperti Ibu? Ibu cantik, Chris suka."
Sehun terkekeh kecil mendengar penilaian jujur Chris untuk Luhan.
"Ya, Ibu mu cantik, Paman tahu itu." Mendecih geli dan berdiri tepat di depan Chris, membuat Chris harus mendongakan kepala agar bisa melihat wajah Sehun.
"Tapi Ayah berbeda. Ibu adalah seperti Ibumu, Ibu tidak bisa menjadi Ayah. Seorang Ayah terlihat seperti ini." Sehun menunjuk dirinya sendiri –bermaksud memberitahu Chris kalau Ayah adalah seseorang yang memiliki fisik seperti dirinya-, dan Chris mengamatinya dengan cermat. Menyimpannya dalam otak, kalau seorang Ayah adalah sosok seperti Sehun.
"Chris, nasi gorengmu sudah matang.."
Dua perhatian lelaki berbeda usia itu terarah kepada Luhan yang datang. Luhan menatap Sehun curiga, Luhan merasa takut kalau Sehun melakukan hal yang tidak-tidak kepada Chris.
"Chris, kau tidak apa-apa?"
Sehun menatap jengah, saat melihat bagaimana Luhan mencek seluruh tubuh Chris dari atas sampai bawah dengan tatapan hawatir. Itu berlebihan menurut Sehun.
"Kau pikir aku sejahat itu?" Perhatian Sehun terarah kepada lilitan plester luka di jari Luhan. Itu adalah plester yang sengaja ia letakan di atas meja dan Sehun sedikit merasa lega karena Luhan menggunakan plester itu.
"Ayo kita makan.." Tidak menghiraukan Sehun, Luhan justru meraih tangan mungil Chris dan berjalan beriringan menuju ruang makan. Meninggalkan Sehun yang mendengus kesal di tempatnya. Luhan benar-benar hidup dengan nyaman rupanya.
"Kau bahkan tidak menghormati tuan rumah, Luhan.."
Perkataan Sehun membuat langkah Luhan terhenti. Luhan dengan enggan berbalik untuk menatap Sehun.
"Aku hanya tidak yakin, kalau kau tidak akan membuang masakanku.." Berucap ketus dan menyambung langkahnya yang sempat terhenti.
"Cih. Dia menyindirku.. MASAKANMU MEMANG TIDAK ENAK! KAU DENGAR ITU?" Sehun sedikit meninggikan suaranya, agar Luhan yang sudah berbelok menuju jalan ke dapur masih bisa mendengar jelas perkataannya.
"Sial! Rumah ini jadi bukan seperti rumahku.." Bergumam sebal dan berjalan menuju lantai dua. Perut Sehun terasa lepar, ia terbiasa menyantap sarapan. Tapi lihat, sekarang ia bahkan merasa sungkan hanya untuk membuat roti ataupun sarapan di dalam rumahnya sendiri. Sehun terbiasa tinggal sendirian tapi sekarang di rumahnya ada penghuni lain dan itu terasa asing sekaligus mengganggu bagi Sehun. Kemunculan Luhan membuat Sehun tidak leluasa untuk berkeliaran di kediamannya, itu terasa sulit saat kita harus tinggal bersama seseorang yang kita sukai tapi juga harus kita hindari dalam waktu bersamaan.
.
.
"Kau yakin, dengan menempatkan Luhan di rumah Sehun adalah hal yang baik?" Chanyeol bertanya kepada Baekhyun yang tengah megikat sampul dasinya.
"Tentu aku yakin" Dengan kalem tanpa keraguan, Baekhyun memberikan jawaban untuk Chanyeol.
"Kenapa memang?" Baekhyun menatap Chanyeol penasaran, setelah daftar terakhir pekerjaan paginya selesai dengan rapi.
"Entahlah.. tapi aku merasa tidak yakin." Dengan ragu Chanyeol menggedikan bahunya. Ia memang tidak memiliki alasan yang pasti sebagai dasar ketidakyakinannya sendiri, tapi memang itu yang Chanyeol rasakan.
"Jangan seperti Luhan, Yeol.. Ini keputusan yang tepat. Sehun harus bertanggung jawab kepada Luhan! Memang apa yang salah di sini?"
"Mereka tidak menikah Baek.."
Baekhyun mendengus geli setelah mendengar jawaban Chanyeol.
"Kita pun belum menikah , tapi setiap malam kau sering tidur di atas ranjangku. Lalu apa yang berbeda?"
"Kita saling mencintai, tapi mereka? Aku bahkan tidak yakin kalau Sehun akan memperlakukan Luhan dengan baik.."
Baekhyun berlalu dari hadapan Chanyeol. Memungut majalah-majalah yang berserakan di carpet sebelum akhirnya kembali menatap kekasihnya.
"Sehun akan memperlakukan Luhan dengan baik, kau tidak perlu hawatir. Satu luka tergores di lengan Luhan ataupun Chris, karir Sehun akan aku hancurkan dalam sekejap!"
Chanyeol menyeringit ngeri melihat senyum lebar penuh mekna jahat terukir di bibir tipis wanitanya. Chanyeol baru mengetahui kalau Baekhyun memiliki bakat dalam hal mengancam. Dengan malas, Chanyeol pun mengiyakan ucapan Baekhyun.
"Baiklah.. aku akan bersiap-siap. Sehun ada jadwal tiga hari di Singapore jadi hiduplah dengan baik selama aku tidak ada Yeol.." Baekhyun berjalan riang menuju kamar mandi dengan mood yang baik. Ia tidak menyangka kalau akhirnya ia menemukan sesuatu yang menguntungkan sebagai manager Sehun. Yaitu, selain mengelola keuangan Sehun, Baekhyun pun menyadari kalau ia memegang semua kartu AS milik Sehun. Sekali ia mengeluarkannya maka buusssss! Karir Sehun akan jatuh dalam sekejap. Terdengar jahat memang, tapi siapa peduli? Sudah ia tekankan bukan, kalau Baekhyun adalah Haters Oh Sehun. Dan Baekhyun pun tidak menyangka kalau kebusukan Sehun bisa sedikit membantunya untuk menyelamatkan Luhan saat ini.
Baekhyun bersenandung ria. Ia sangat yakin tentang keputusannya.
.
.
Luhan membuat lingkaran di tanggal pertama musim panas yang sudah tiba menggeser musim semi. Luhan menatap tanggal satu dibulan April itu dengan tatapan menerawang. Kehidupannya di April tahun lalu buruk, sangat buruk Karena kondisi Chris yang sering menurun dan Luhan hanya tidak menyangka kalau ia sudah berhasil melewati masa itu. Tapi Luhan pun tidak menyangka kalau April tahun ini ia harus dihadapkan pada kenyataan lain. Dalam perutnya ada seorang bayi lagi dan ini benar-benar tidak bisa Luhan percayai sampai sekarang walaupun pada kenyatannya ia merasakan pertumbuhan itu ada di dalam perutnya. Musim panas tahun ini terasa memiliki dua arti bagi Luhan. Baik karena Chris telah sembuh dan buruk karena ia tinggal satu rumah bersama Sehun.
"Ibu sebentar lagi ulang tahun.."
Luhan menoleh kepada Chris yang menunjuk angka dua puluh pada kalender meja yang ada di atas meja belejar Chris. Luhan memang sudah mengajarkan tentang bulan dan tanggal, walaupun Chris masih tidak bisa menghafal urutannya, belum sepenuhnya bisa berhitung dan tidak tahu pastinya hari apa dan kapan ulang tahunnya jatuh, tapi Chris sudah cukup paham dengan jawaban apa yang harus ia beri jika ditanyai tanggal lahir Luhan ataupun tanggal lahirnya sendiri.
"Hemmm.. Ibu sebentar lagi ulang tahun."
"Apa yang Ibu mau? Chris akan belikan."
Luhan tertawa kecil, melihat Chris dengan senyum lebarnya bertanya hal semacam itu. Anaknya benar-benar menggemaskan.
"Ciuman?" Luhan menunjuk pipinya sendiri. Dengan cepat, Chris yang memang duduk di atas pangkuan Luhan memberi pipi Luhan kecupan bertubi-tubi, membuat Luhan tertawa senang dan mambalas menciumi pipi chubby Chris.
"Nyonya.. Tuan Sehun sudah datang.."
Keduanya menoleh ketika mendengar suara Bibi Gong. Wanita setengah baya yang memang menjabat sebagai asisten rumah tangga sejak beberapa hari lalu. Luhan tersenyum, menurunkan Chris dari atas pangkuannya dan berjalan beriringan mendekati Bibi Gong.
"Sudah aku katakan, panggil aku Luhan saja." Luhan terkekeh melihat Bibi Gong masih sangat canggung kepada dirinya. "Aku bukan tuan rumah di sini, jadi anggap aku teman.."
"Ayo Bu, kita keluar.." Chris menarik-narik jari Luhan dengan tidak sabar.
Luhan membungkuk sekilas kepada Bibi Gong dan mengikuti kemana Chris menarik jarinya. Bibi Gong hanya tersenyum tipis melihat Luhan dan Chris berlalu dari hadapannya. Di mata Bibi Gong, Luhan adalah wanita yang baik, cantik dan ramah. Hanya saja Bibi Gong sedikit merutuk atas kebaikan berlebihan Luhan –Yang sebenarnya Bibi gong nilai sebagai kebodohan- karena tidak membeberkan saja kalau Sehun sudah menghamilinya. Jika itu dirinya, ia tidak akan ragu untuk mengancan Sehun agar menikahi dirinya.
"Astaga.. apa yang aku pikirkan." Bibi Gong menepuk keningnya sendiri saat pemikirannya mulai melantur. Ia memang sudah mengetahui semuanya dari Baekhyun, dan tentu dengan permintaan untuk tidak membocorkannya.
.
.
"Hai Chris.."
"B Baek!" Chris berseru girang dan segera berhambur dalam gendongan Baekhyun yang menyambutnya dengan kecupan rindu.
"Ini apa Baek?"
Baekhyun menoleh kepada Luhan dan ikut duduk di kursi samping Luhan yang tengah mengamati kotak kardus di atas meja.
"Mainan yang aku beli di Singapore untuk Chris.."
"Ini untuk Chris?" Chris menatap penuh binar bahagia setelah mendengar perkataan Baekhyun.
"Ya, sayang. Itu untuk Chris."
"Horeee!" Chris bersorak gembira. Tanpa rasa sabar, Chris mengambil mainan barunya dan duduk di atas carpet, tempatnya biasa menghabiskan waktu untuk bermain.
Luhan tersnyum melihat Chris yang dengan cekatan membuka kotak kardus maianannya. Senyuman lebar Chris terukir begitu mendapati sebuah mainana pesawat berwarna merah yang Baekhyun belikan.
"Terimkasih Baek.." Luhan berucap dengan perasaannya yang sedikit lega.
"Bukan masalah Lu.. aku memiliki waktu luang untuk berbelanja jadi aku belikan Chris itu."
"Chris terlihat menyukainya. Sudah beberapa hari ini dia terlihat murung, dia ingin bersekolah dan aku tidak tahu harus menjawab apa." Dengan lesu, Luhan menceritakan mesalah yang tengah ia hadapai kepada Baekhyun. Berharap ia bisa menemukan solusinya.
"Ini minumannya nyonya.." Bibi Gong menaruh satu cangkir berisi teh untuk Baekhyun dan Baekhyun hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Ia terlihat lebih focus kepada perkataan Luhan.
"Kenapa tidak tahu? Tentu kau harus menjawab 'Iya'. Memang sudah waktunya Chris memasuki sekolah kanak-kanak."
"Aku tidak memiliki pekerjaan Baek.. Aku sudah mencarinya beberapa hari lalu tapi mereka menolak mempekerjakan Ibu hamil." Luhan mengatakannya dengan wajah muram. Memang beberapa hari ini ia sibuk menghubungi tempat-tempat yang sekiranya membutuhkan pelayan ataupun pekerja paruh waktu, tapi sialnya tidak ada yang menerimanya walaupun Luhan sudah berusaha untuk meyakinkan mereka.
"Kau mencari pekerjaan?"
"Aku menggunakan telpon rumah di sini, kau tidak usah hawatir.." Luhan menjelaskan lebih rinci saat Baekhyun menatapnya dengan mata yang hampir keluar. Baekhyun pasti berpikir kalau Luhan kembali mengelilingi Seoul seperti yang sering ia lakukan.
Baekhyun menghembuskan nafasnya begitu mengetahui apa yang ia pikirkan tidak terjadi.
"Untuk apa kau mencari pekerjaan Lu?" Bertanya kelam sembari menyesap teh hangatnya agar tubuh lelahnya bisa sedikit teratasi.
"Kebutuhan Chris banyak Baek, dan tidak mungkin aku hanya diam seperti ini. Chris harus segera memulai masa sekolahnya dan aku membutuhkan uang untuk pendaftaran.. Baek, apa aku tidak bisa kembali bekerja menjadi asisten Sehun?"
Baekhyun menjauhkan cangkir tehnya dan kembali menatap Luhan yang tengah memasang wajah memohon.
"Lalu untuk apa aku menyuruhmu tinggal di sini jika kau masih harus bekerja Lu? Sehun yang akan menanggung semuanya, kau tidak usah memikirkan apapun."
"Baek.. jangan libatkan Sehun di sini." Luhan menatap kesal kepada Baekhyun yang lagi-lagi mengaitkan Sehun dengan kehidupannya. Luhan benar-benar tidak mengharapkan apapun dari Sehun dan ia membicarakan hal ini kepada Baekhyun, bukan untuk ini tapi agar ia bisa kembali bekerja dan menghasilkan uang.
"Sehun sudah bertanggung jawab sepenuhnya kepadamu Lu." Baekhyun menanggapi kekesalan Luhan dengan desahan malas.
"Sehun hanya bertanggung jawab pada kelangsungan hidup anak dalam kandunganku, tidak dengan diriku ataupun Chris." Dengan keras kepala, Luhan membantah ucapan Baekhyun.
"Astaga, kau ini keras kepala sekali Luhan! Baiklah, dengarkan aku. Sehun bertanggung jawab kepada anak dalam kandunganmu, dan agar anak keduamu selamat, mau tidak mau Sehun harus menjagamu, dan untuk menjaga kondisimu, Sehun harus menanggung biaya sekolah Chris agar kau tidak kelelahan untuk mencari uang. Bagiamana apa sudah cukup dimengerti?" Baekhyun menjelaskannya dengan mimic wajah jengkel.
"Tapi Baek.."
"Apa lagi Lu? Kau merasa sungkan? Atau takut Sehun jatuh miskin? Kau jangan memikirkan hal-hal seperti ini, selama ini Sehun tidak banyak memiliki tanggungan. Ia hanya memiliki satu nenek dan uang tabungan Sehun itu bermilyar won Luhan! Dia menggunakan ketampanannya dengan cukup baik.."
"Sehun memiliki seorang nenek?" Luhan melupakan tentang biaya sekolah Chris. Ia merasa lebih tertarik saat mendengar kalau Sehun memiliki seorang nenek. Diseluruh Korea pun tahu kalau Sehun adalah anak yatim piatu tanpa saudara, dan mendengar Baekhyun mengatakan Sehun memiliki keluarga lain membuat Luhan merasa cukup terkejut.
"Heumm.. Sehun memiliki seorang nenek, Ibu dari mendiang Ayahnya. Tapi ini rahasia Luhan. Nenek, Sehun menolak untuk diexpose."
"Apa kau pernah bertemu dengannya?"
"Jangankan bertemu, tahu di mana ia tinggalpun tidak. Sehun sangat tertutup tentang neneknya dan aku dengar akhir musim panas nanti Sehun akan mengunjungi neneknya.."
Luhan terdiam. Ia hanya tidak menyangka kalau Sehun memiliki rahasia seperti ini.
"Dan tentang Chris, kau menyetujuinya bukan?" Baekhyun bangkit dari kursinya. Hari sudah hampir malam dan ia berniat untuk pulang sebelum Chanyeol mengamuk di apartementnya.
"Aku tidak setuju Baek!"
"Aku akan mengurusnya besok, dan aku pastikan lusa Chris sudah bisa bersekolah."
"Baek!"
"Aku tidak mendengarnya, sampai jumpa Lu.." Baekhyun berjalan untuk keluar, sembari melambaikan tangannya sekilas. Mengacuhkan Luhan yang hanya bisa mendengus saat lagi-lagi Baekhyun memutuskan sesuatu dengan senaknya sendiri.
Luhan mengalihkan perhatiannya kepada Chris yang masih tenggelam dengan dunia mainannya. Menatap Chris dengan sendu karena belum bisa memenuhi keinginan putranya. Sedih memang, tetapi ia tidak mungkin menuruti kemauan Baekhyun kali ini dan Luhan berniat untuk membicarakannya nanti dengan Sehun agar Sehun tidak menyetuji usulan Baekhyun.
Memikirkan Sehun membuat Luhan teringat kalau sejak tadi ia tidak melihat pria itu.
"Bi, dimana Sehun?"
Bibi Gong menoleh kepada Luhan yang menghampirinya.
"Setelah sampai, tuan Sehun langsung naik ke lantai dua.."
Luhan mengangguk mengerti. Sehun pasti merasa lelah karena jadwalnya di Singapore selama beberapa hari ini. Dengan senyuman Luhan menghampiri Chris untuk ikut bermain bersama putranya. Chris menyambut kedatangan Luhan dengan senyuman lebar, memberikan Luhan satu robot Iron mannya, meminta Luhan untuk ikut menggerak-gerakan robotnya. Luhan terkekeh pelan, dengan sayang Luhan mengusap puncak kepala Chris.
"Ibu akan mengusahakannya.." Berbicara seorang diri dan mengikuti arah jalan cerita yang Chris inginkan.
.
.
Gundukan selimut itu tersingkab, menampilkan Sehun dengan mata mengantuknya. Sehun mendudukan diri dengan malas, mencek ponselnya dan mendapati sudah pukul sembilan malam. Ada lima pesan dari Irene juga empat pesan dari Baekhyun yang belum Sehun baca. Ia tidur lumayan lama dan sekarang, Sehun merasakan tenggorokannya mengering.
Sehun beranjak dari ranjangnya sembari membaca pesan yang ia terima. Langkah Sehun terarah menuju satu tempat, yaitu dapur. Dan lagi-lagi Sehun mendapati Luhan di sana tengah mengupas buah-buahan.
Luhan mendongak, begitu mendengar suara kursi berderit. Cukup terkejut saat mendapati Sehun duduk di depannya dengan satu gelas berisi air putih yang ia bawa.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Makan.." Luhan menjawab jujur karena ia memang tengah mengisi perutnya. Kehamilannya yang sekarang sedikit berbeda saat ia mengandung Chris dulu. Kehamilannya yang sekarang terasa sedikit manja karena hampir semua makanan tidak bisa Luhan telan sampai masuk kedalam perutnya. Luhan merasa mudah mual pada bau-bauan yang menyengat dan Luhan hanya bisa mengkonsumsi buah, beberapa jenis sayuran yang dimasak menjadi soup dan kentang yang digoreng ataupun direbus.
"Hanya itu?"
Luhan mengangguk, membuat Sehun mendecak tidak suka.
"Kau harus makan daging dan ikan. Aku tidak ingin keturunanku bodoh sepertimu."
Luhan mendecak dan melirik Sehun dengan kesal. Sedikit berucap doa, semoga anaknya tidak memiliki sifat seperti Sehun.
"Lebih baik bodoh, dibanding menjadi seperti ayahnya." Bisik-kan kesal Luhan dapat Sehun dengar dengan sangat jelas, sehingga membuat Sehun mendecih dengan pelan.
Hening beberapa detik terasa diantara keduanya. Sehun hanya diam sembari memainkan ponselnya, sementara Luhan mulai menyiapkan dirinya untuk mengutarakan apa yang ingin ia bicarakan kepada Sehun. Sekarang adalah waktu yang tepat dan tidak boleh Luhan lewatkan.
"Kau sudah mendengar sesuatu dari Baekhyun?"
"Hemmmm…" Sehun hanya menjawab dengan gumaman tidak peduli.
"Jangan hiraukan apa yang Baekhyun bilang, aku tidak memintamu untuk ikut campur tentang kebutuhan Chris."
"Sekolahnya hanya berjarak beberapa meter dari sini. Anakmu sudah bisa memulai sekolahnya beberapa hari kedepan."
"Tidak! Batalkan itu, aku bisa mengurusnya sendiri."
"Baekhyun sudah membayar uang satu paket untuk lima bulan, dan kau ingin membatalkannya?"
Luhan menganga. Telinganya tidak rusak bukan? Luhan tidak menyangka, kalau Baekhyun bisa berkeja dengan begitu cepat.
"Jika kau membatalkannya, kau sama saja membuang sepuluh juta wonku.."
"Sepuluh juta won?" Luhan mengulang dengan nada terkejut. Sepuluh juta won untuk lima bulan? Luhan mulai menerka, bagaimana kiranya sekolah yang akan Chris tempati nanti.
Sehun mengangguk kecil, dan meminum airputihnya sampai habis. Dengan malas, Sehun beranjak dari duduknya.
"Sehun!" Luhan ikut berdiri, dan Sehun hanya menatapnya dengan bingung.
"Anggap kau hanya memberi pinjaman kepadaku. Setelah aku melahirkan nanti, aku akan menyicilnya sampai lunas." Hanya ini yang bisa Luhan pilih sebagai jalan keluar. Ia tidak bisa membuang uang sebanyak itu, sementara ia tidak bisa berkerja sekarang. Luhan masih ingin selamat dari bentakan Baekhyun, dan jalan itu adalah jalan yang tepat bagi Luhan.
"Terserah.." Tanpa rasa peduli sama sekali, Sehun menjawab perkataan Luhan. Sepuluh juta won bisa ia dapatkan dengan mudah, dan Sehun tidak ingin terlalu ambil pusing untuk soal ini.
Luhan menduduk-kan dirinya selepas Sehun menghilang dari pandangannya. Bukan ingin dinilai seperti orang yang memiliki harga diri tinggi hingga menolak saran Baekhyun. Tapi memang sejak melahirkan Chris, Luhan tidak pernah lagi bergantung pada seseorang. Dan ini hanya terasa aneh bagi Luhan, saat melihat Sehun membiayai kebutuhan Chris, sementara Sehun bukanlah ayah, Chris.
Dengan lembut, Luhan mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Jangan merepotkan ayahmu hemm.. ibu tidak suka kepada ayahmu." Luhan terkekeh kecil saat mengucapkan kata itu kepada si jabang bayi didalam perutnya. Sebuah kata yang memilik arti kebalikannya, yang hanya bisa Luhan pendam seorang diri.
Sehun yang masih berdiri dibalik tembok, mendecih. Langkah lebarnya terarah untuk menuju kamarnya. Dalam benak Sehun, penuh berbagai umpatan yang ia layangkan untuk Luhan. Memang Luhan pikir dia menyukai dirinya apa?
Tapi memang kau menyukai Luhan, Sehun.
"Sialan!" Satu makian ia layangkan untuk dirinya sendiri, saat hatinya menjawab pasti pemikiran dari benaknya. Seolah seperti menyentil Sehun, kalau sekeras apapun Sehun mengelak itu hanya akan menjadi percuma.
.
.
Mengenakan flat shoes, dress pendek berwarna ungu yang dipadu cardigan berwarna putih. Luhan berjalan menyusuri mall yang ia datangi sejak lima belas menit lalu. Luhan berniat membeli perlengkapan sekolah yang belum Chris miliki, seperti sepatu, buku, pensil dan lain-lain. Mata rusa Luhan dengan jeli melirik setiap toko yang ada di mall. Mencari toko mana kiranya yang menjual perlengkapan sekolah untuk anak-anak.
"Sedang apa kau di sini?"
Sedikit tersentak, Luhan menoleh saat mendengar suara seseorang dibelakangnya.
"Sehun, sedang apa kau di sini?"
Sehun mendesah malas. Dia yang bertanya lebih dulu jadi kenapa sekarang Luhan yang terlihat terkejut.
"Bukan urusanmu. Jadi apa yang kau lakukan di sini?"
Luhan tidak tahu harus bagaimana jika menghadapai Sehun. Ingin rasanya Luhan melilit leher Sehun dan menggangtungkannya di lantai teratas mall ini.
"Aku ingin membeli perlengkapan sekolah Chris." Dengan ketus, Luhan menjawab dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Kau sedang hamil, tidak aman untukmu berpergian sendirian!"
Luhan mengabaikan seruan Sehun di belakang, hingga membuat Sehun merasa kebingungan di tempatnya berdiri. Rasa hawatir menyergapi Sehun, tapi Sehun merasa enggan untuk mengejar Luhan. Sehun masih mencoba bertahan dengan keegoisannya, namun keegoisan Sehun luntur saat melihat Luhan yang hampir terjatuh karena tertabrak seorang anak kecil yang berlarian disekitarnya. Dengan kesal, Sehun mengejar langkah kaki Luhan, sembari memberi tatapan tajam kepada anak kecil yang hampir membuat Luhan terjatuh.
"Biar aku temani." Secara tiba-tiba, Sehun menggenggam tangan Luhan dan mengambil langkah di depan Luhan.
Dengan bingung, Luhan menatapi punggung tegap Sehun. Sehun terlihat seperti melindunginya dan itu membuat Luhan merasa tenang. Pipi Luhan tanpa bisa Luhan cegah memerah dengan sendirinya. Tidak banyak membatah atas perlakuan Sehun dan Luhan pun hanya mengikuti langkah kaki Sehun.
.
.
"Bawa ini.." Sehun menyerahkan semua paper bag yang beberapa menit lalu ia tenteng kepada Luhan. Semua isi dari paper bag itu adalah keperluan Chris yang sudah Luhan dapatkan.
Luhan mendecih, beberapa menit lalu Sehun tanpa Luhan minta mengambil alih semua paper bag belanjaan Luhan. Tapi sekarang ia justru mengembalikannya ketika mereka sudah berada di luar toko.
"Penipuan image yang bagus tuan Oh.."
Sehun menoleh kepada Luhan begitu telinganya menangkap cibiran dari Luhan.
"Bodoh. Semua orang akan mengira kalau kau adalah kekasihku jika aku membawa semua barang belanjaanmu. Bersikaplah seperti kau asistenku jika kau tidak ingin mati di sini.."
Tubuh Luhan menegang, bulu kuduknya bahkan meremang. Luhan baru menyadari, kalau Sehun tidak mengenakan masker sama sekali. Terlintas kata BAHAYA di dalam benak Luhan.
"Kenapa kau tidak menutupi wajahmu?"
"Hanya ikuti aku dan jangan membuat jarak terlalu jauh." Sehun tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Luhan.
Luhan yang memang tidak ingin menjadi korban keganasan fans Sehun pun, hanya bisa mematuhi saran Sehun.
"Itu Sehun oppa!"
Baru beberapa langkah, dan Luhan sudah dibuat waspada saat mendengar seruan dari seorang gadis. Dalam sekejap, semua orang yang semula hanya sibuk dengan kegiatannya masing-masingpun mulai berbondong, mendekati Sehun yang hanya berdiri dengan tenangnya. Sehun terlihat sangat santai, seperti ia tidak sedang menghadapi mara bahaya. Astaga, Luhan masih jelas mengingat bagaimana agresifnya seorang fans.
"Sehun oppa, aku minta tanda tanganmu."
"Sehun oppa, boleh kah aku berfoto denganmu?"
"Sehun aku mencintaimu.."
"Aku fansmu Sehun!"
Keadaan mulai terlihat ricuh, beberapa orang saling mendorong agar bisa lebih dulu mendapatkan tanda tangan Sehun. Sehun menerima setiap benda yang orang-orong sodorkan kepada dirinya dan menandatanganinya dengan cepat. Sesekali mata Sehun akan melirik kepada Luhan yang terlihat kesulitan keluar dari kerumunan para fansnya. Mendecak sebal, ketika melihat Luhan ikut terdorong keberbagai arah karena terjebak di belakang tubuhnya.
Keparat! Sehun mengumpat di dalam hatinya. Jika saja ia tidak mengingat betapa pentingnya seorang fans, mungkin Sehun akan dengan sangat senangnya memukul mereka semua.
"Mundur kebelakang.." Sehun memperingatkan. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Luhan.
Namun seorang fans tetaplah seorang fans, yang bahkan bisa melupakan hari kiamat jika bertemu dengan idolanya. Sehun menggertakan giginya, cukup dibuat kesal kepada seorang fans yang terus mendesak hingga membuat Luhan hampir terjatuh jika saja Luhan tidak berpegangan kemeja milik Sehun.
"AKU BILANG MUNDUR!" Dan pada akhirnya, kekesalan Sehun tidak bisa Sehun bendung.
Kerumunan fansnya mulai menjauh dengan tatapan tidak menyangka setelah mendengar Sehun membentak mereka semua. Sudah ada berbagai macam pemikiran buruk yang bersarang di benak mereka, namun bukan Oh Sehun jika ia tidak bisa memutar balikkan keadaan.
"Aku bersama asistenku, dan dia sedang hamil.." Sehun menarik Luhan kedepan, menunjukan Luhan kepada para fansnya. "Dan aku wajib melindunginya sebagai asistenku, karena itu jangan berdesakan. Itu bisa membahayakan kandungannya.." Mengakhiri kalimatnya dengan senyuman manis.
Luhan menatap Sehun dengan pandangan takjub. Sehun memang benar-benar berbakat untuk menjadi seorang actor. Luhan bahkan bisa melihat lelehan hati para wanita yang termakan ucapan Sehun. Menjijikan! Jadi Sehun hanya memanfaatkan dirinya untuk mengamankan diri? Dengan malas, Luhan hanya tersenyum kecil dan memberikan bungkuk-kan kepada para fans Sehun.
.
.
"Apa aku harus membayar atas actingmu?" Luhan memberi Sehun sindiran, seusia fanmeet dadakan Sehun berakhir.
Tidak berniat menjawab ejekan Luhan. Langkah Sehun justru terhenti tepat di depan sebuah toko baju.
"Kau tidak ingin membeli itu?"
Luhan menatap sebuah toko baju untuk wanita hamil yang Sehun tunjuk menggunakan dagunya. Dengan cepat, Luhan menggeleng sabagai jawaban.
"Aku masih menyimpan semua baju hamil milikku.." Luhan menolak dengan pasti. Dia memang tidak membutuhkan itu semua.
Sehun menatap Luhan yang masih terus melanjutkan langkahnya. Namun tatapan Sehun kembali terarah kepada toko baju yang berada di samping kanannya. Dengan acuh, Sehun menggedikkan bahunya dan berjalan memasuki toko baju khusus wanita hamil yang cukup menari perhatiaan Sehun.
.
.
"Ibu pulang.."
"Ibuuuu!" Chrs menyambut seruan Luhan dengan sangat girangnya. Kaki kecilnya dengan cepat menapaki lantai untuk memeluk Luhan.
"Ibu sangat lama.."
Luhan tertawa kecil begitu disuguhkan wajah merajuk Chris. Ia memang melupakan waktu. Berangkat siang dan pulang saat hari sudah petang.
"Maaf, Ibu terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Tapi lihat ini Chris, Ibu membelikannya untukmu.." Luhan mengangkat paper bag di tangannya dengan senyuman lebar.
"Ibu membelikan Chris hadiah seperti paman Sehun?"
Luhan menyeringit. Dia jelas tidak mengerti dengan arah pertanyaan Chris.
Hadiah dari Sehun?
"Apa maksudmu Chris?"
"Tuan Sehun, membawa banyak paper bag dan menaruhnya di kamarmu.." Bibi gong datang dan menjawab kebingungan yang bersarang di benak Luhan.
Chris menarik tangan Luhan tidak sabar. Membawa Luhan menuju kamar mereka untuk menunjuk-kan hadiah yang ia maksudkan.
"Paman Sehun membelikan banyak Chris baju.." Chris menaiki ranjang tidurnya, dan menunjukan beberapa potong baju kepada Luhan.
Dengan cepat Luhan mendekat. Mengeluarkan semua isi paper bag yang masih tertata rapi di atas ranjangnya dengan terburu. Semuanya berisi pakaian untuk sehari-hari, baju tidur, dress dan juga baju untuk wanita hamil. Luhan mendengus ketika menyadari kalau Sehun pastilah membelinya saat mereka ada di mall beberapa jam lalu. Pantas, saat itu Sehun menghilang tanpa jejak hingga ia harus pulang larut untuk menunggu bus yang datang dijam sore hari.
"Chirs suka bu.."
Luhan melirik kepada Chris yang terlihat senang dengan pakaian yang Sehun berikan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan baju-baju ini. Membuangnya? Tapi ia tidak cukup tega saat melihat mata berbinar Chris. Bohong memang jika Luhan mengatakan tidak menyukai semua baju yang Sehun belikan. Baju-baju itu terlihat bagus, cantik dan mahal. Semuanya kebalikan dari pakaian yang ia simpan di lemari. Tapi jika ia menerimanya, Luhan merasa tidak memiliki hak untuk ini semua.
"Apa ibu suka?"
Luhan tersenyum, dan memberi anggunkan.
"Ucapkan terimakasih kepada paman Sehun.."
Dengan segera Chris turun dari atas ranjangnya dan berlari keluar kamar untuk mengucapkan terimakasih kepada Sehun. Luhan menghela nafasnya sembari menata semua baju yang berserakan di atas ranjang. Luhan memutuskan, kalau ia hanya akan menyimpan semua baju pemberian Sehun.
.
.
Chris melangkah dengan amat berhati-hati untuk menaiki tangga –menuju kamar Sehun-. Chris sudah mencari Sehun disemua tempat yang ada di lanatai bawah tapi tidak kunjung menemukan keberadaan Sehun. Dengan instingnya sendiri, Chris menebak kalau Sehun ada di dalam kamarnya.
Kaki kecil Chris dengan cepat berlari -setelah ia samapai di lantai dua- menuju kamar Sehun dan mengetuk pintunya dengan keras.
"Paman Sehun!"
Sehun yang ada di dalam kamar pun langsung terperanjat karena mendengar suara Chris di depan kamarnya. Sehun beranjak dari atas ranjang, menaruh kotak kardus ponsel di atas meja nakasnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Sedang apa kau di sini?"
Chris menunjukkan senyumannya setelah berhasil menemukan Sehun.
"Ibu bilang, Chris harus mengucapkan terimakasih kepada paman Sehun.."
Sehun mengabaikan ucapan Chris, matanya terlihat melirik kesegala arah. Mencari dengan siapa kiranya Chris menaiki tangga menuju kamarnya.
"Dengan siapa kau naik ke atas?" Memutuskan bertanya karena ia tidak menemukan siapapun di sekitar mereka.
"Sendiri.."
"Sendiri!" Sehun mengulang jawaban Chris dengan suara yang meninggi.
Dengan polosnya Chris mengangguk, tanpa tahu kalau Sehun hampir kehabisan nafas karena terkejut. Sehun bertumpu di lututnya. Mensejajarkan tingginya dengan Chirs, dan mencek seluruh tubuh Chris dengan perasaan hawatir.
Helaan nafas lega Sehun keluarkan, begitu tidak menemukan satupun luka ditubuh Chris.
"Siapa yang menyuruhmu naik keatas sendirian?"
"Ibu.. Ibu bilang, Chris harus bilang terimakasih kepada paman Sehun."
Sehun mendengus dan meraih Chris dalam gendongannya.
"Tapi bukan berarti kau harus naik ke atas sendirian. Itu berbahaya dan kau bisa jatuh, apa kau mengerti?"
Chris mengangguk dalam gendongan Sehun yang tengah membawanya menuruni tangga. Mata Chris dengan jeli menelisik setiap jengkal wajah Sehun dari sampaing.
"Paman Sehun tampan.. apa ayah, Chris seperti paman Sehun?"
Sehun terkekeh kecil mendengar pujian yang amat terdengar jujur dari Chris.
"Apa kau menyukai baju pemberian paman?"
Chris mengangguk dengan antusias, saat ingatannya kembali tertuju pada semua baju pemberian Sehun.
"Belikan Chris sepatu Iron man.." Dengan keluguaannya, Chris mengungkapkan keinginannya sendiri hingga membuat tawa Sehun pecah mengisi ruang tengah.
"Paman akan belikan nanti.."
"Yeeeeyyy!"
"Chris.." Luhan yang mendengar suara Chris segera berjalan menghampiri Chris.
Sehun menurunkan Chris dari gendongannya dan menatap tajam kepada Luhan yang sudah ia anggap lalai.
"Chris naik ke atas sendirian.."
"Benarkah? Chris, kenapa kau tidak memanggil Ibu?"
"Ibu bilang Chris harus mengucapkan terimakasih kepada paman Sehun.."
"Tapi jangan naik ke lantai dua sendirian Chris!"
Mata Chris yang semua berbinar berubah menjadi berkaca-kaca setelah mendengar Luhan meninggikan suaranya. Melihat Chris yang memundurkan langkahnya membuat Luhan sadar kalau ia sudah terbawa emosinya sendiri. Akhir-akhri ini memang Luhan tengah kesulitan untuk mengendalikan emosinya yang seperti meningkat. Mungkin itu disebabkan kehamilannya, dan mendengar Chris menaiki tangga sendirian menimbulkan rasa cemas berlebihan hingga membuatnya kelepasan kendali.
"Kenapa kau membentaknya?"
Luhan mendengus sabagai tanggapan pertanyaan Sehun. Dengan cepat, Luhan meraih Chris dalam gedongannya.
"Maafkan Ibu.. Ibu tidak bermaksud membentak Chris. Ibu terlalu hawatir karena Ibu takut kau terluka Chris.. Ibu tidak akan mengulanginya, Ibu janji.."
Chris merangkul leher Luhan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luhan, dengan lembut Luhan mengucap punggung Chris.
"Apa Chris memaafkan Ibu?"
Chris mengangguk dalam dekapan Luhan.
"Tapi Chris harus berjanji, tidak akan mengulanginya.."
Dan satu anggunakan kembali Luhan dapatkan.
"Ibu menyayangi Chris.."
"Chris menyayangi Ibu.."
Luhan tersenyum puas setelah mendengar jawaban Chris.
"Kau pun tidak boleh lagi lalai sebagai seorang Ibu.."
Luhan menyeringit saat Sehun menegurnya dengan tatapan kesal. Luhan bahkan baru mengingat kalau tadi Sehun menggendong Chris dengan tatapan hawatir. Luhan menatap Sehun dengan pendangan menelisik. Apa yang terjadi kepada Sehun? tidak biasanya Sehun peduli kepada Chris.
"Apa?" Merasa ditatap dengan pandangan menyelidik, Sehun pun bertanya dengan heran.
"Tidak ada.. kau hanya terlihat aneh jika menghawatirkan Chris seperti tadi." Luhan menjawab pelan, dan membawa Chris menuju kamarnya. Meninggalkan Sehun yang terdiam seorang diri di tempatnya.
Otak Sehun mulai memutar kejadian yang ia alami beberapa menit lalu. Kehawatirannya muncul secara tiba-tiba saat melihat Chris yang mungkin bisa saja terluka karena menaiki tangga seorang diri. Merasa bingung sebenarnya, kenapa ia bisa merasa tergugah? Ini memang tidak seperti biasanya. Sehun mengedikkan bahunya acuh. Berpikir kalau itu wajar untuknya menghawatirkan Chris, mengingat Chris adalah anak kecil. Itu adalah perasaan naluri yang dimiliki setiap orang.
Sehun mengusak belakang rambutnya, dan berjalan menuju lantai dua.
.
.
"Namuku Kim Sarang.. Ayah ku bernama Kim Yunho dan Ibu ku bernama Kim Jaejong. Cita-cita ku ingin menjadi seperti Ibu."
Tepukan meriah terdengar di dalam ruangan bernuansa warna-warni yang dihuni oleh sekerumpunan anak kecil. Sarang, salah satu gadis kecil cantik dan manis kembali duduk di kursi yang sudah disediakan begitu ia menyelesaikan sesi perkenalannya.
Chris yang mendapatkan tempat disebelah Sarang hanya diam, mengamati teman-teman lainnya yang satu persatu mendapat giliran maju kedepan. Hari ini adalah hari pertama untuk Chris masuk ke sekolah kanak-kanak dan Chris hanya tengah beradaptasi dengan suasana baru yang ia dapatkan.
"Chris, ayo maju kedepan." Seorang gadis cantik yang menjabat sebagai guru, memanggil nama Chris dengan senyuman tipis. Tanpa ragu, malu atau takut, Chris segera melangkah menuju Yoona yang menyambutnya dengan decakan kagum.
Diantara anak lainnya hanya Chris yang tidak merengek saat akan ditinggal keluar oleh ibunya, dan melihat Chris maju dengan begitu percaya dirinya membuat Yoona semakin terkagum akan pesatnya perkembangan Chris.
"Hallo.." Chris membungkuk, mengikuti apa yang Luhan ajarkan semalam. "Namaku Chris, ulang tahunku 06 november, Ibu bilang itu saat musim dingin tapi Chris tidak suka musim dingin karena Ibu tidak suka dingin.."
Yoona terkekeh kecil, mendengar bagaimana lucunya Chris saat bercerita.
"Nama Ibu, Chris adalah Luhan.. ulang tahun Ibu 20 april, dan Chris ingin menjadi doctor seperti paman Suho."
"Chlis, siapa nama Ayahmu? Apa Chlis tidak punya Ayah sepelti Leo?" Seorang lelaki kecil, dengan rambut berponinya mengajukan pertanyaan kepada Chris. Ia merasa kalau Chris mungkin sama seperti dirinya yang tidak memiliki seorang Ayah, karena diantara teman-teman lainnya semuanya menyebutkan nama orang tua mereka dengan lengkap.
Chris terdiam, matanya lurus menatap kepada Leo. Sekelebat ucapan Sehun beberapa hari lalu melintas di dalam benak Chris.
(Tapi Ayah berbeda. Ibu adalah seperti Ibumu, Ibu tidak bisa menjadi Ayah.. Seorang Ayah terlihat seperti ini.)
Seorang Ayah terlihat seperti ini, seperti paman Sehun.
Chris menggeleng kepada Leo, saat otaknya menyimpulkan maksud lain dari ucapan Sehun.
"Chris punya Ayah.. Ayah, Chris adalah paman Sehun." Chris tersenyum lebar, begitu menyebutkan nama Sehun. Dan seketika ruangan kembeli riuh oleh tepukan tangan dari Yoona dan anak-anak lainnya.
-Seorang Ayah terlihat seperti ini, seperti paman Sehun. Sehun adalah Ayahku- Chris.
.
.
.
.
.
To be continue..
Memasuki kepala dua.. chap sebelas up? Lama ga hahaha maaf ya.. halaaaahhh FF buat lomba ku belum kelar, jadi baru bisa ini dulu ya. TW nanti. /Bow/
Ada yang ngerespon baik dengan tanggung jawab ala Sehun tapi ada juga yang ga suka. Heeemmmm, gimana dong? Kalo tanggung jawab yang dinikahin itu udah umum, ya mentok(?) nanti enak di Sehun, dia bebas ena enain Luhan juga cewe lain, kalo ginikan Luhannya juga bisa SEDIKIT lebih aman hahaha dan nantinya Luhan malah bisa lebih tersakiti atau mungkin akunya bakal susah bikin Sehun menderita kalo mereka nikah hohoho pada nungguin Sehun menderitakan? Segini aja aku udah banyak di protes sama para anak-anak Ayah, Bunda /Tunjuk kalian/ karena bikin Luhannya menderita lagi lol
FF ini udah ada ditahap tengah. Manis, pahit hubungan HunHan bakal dimulai. Tapi ga bisa NC dulu ya.. Flashback apa lagi. Nanti pelan-pelan asal kesampaian, biar kesannya ga terburu-buru.
Terimakasih untuk kalian yang udah doain aku^^ Alhamdulillah tanggal 27 kemarin lancar.. dan makasih juga udah kasih semangat buat lomba april nanti.. I love you lah buat kalian semua.
Moment Chris sama Sehunnya udah mulai aku masukin juga. Gimana suka? Yang pada takut Chris diapa apain Sehun, Sehun ga sejahat itu ko hahaha
Buat yang masih belum paham sama pemikiran atau perasaan Sehun. Sini aku jelasin^^ Sehun itu udah demen Luhan aslinya, dia udah sadar malah kalo dia suka Luhan /Baca chap kemarin/ Cuma, why dia ga mau tanggung jawab? Alasannya balik ke karir dia dan sebenernya Sehun masih ada perasaan GA MAU buat cinta sama Luhan, jadi dia masih labil. Masih berusaha buat ga lebih cinta ke Luhan. Begitupun dengan Luhan! Luhan juga lagi usaha buat ga semakin cinta ke Sehun, dua-duanya lagi usaha buat nepis perasaan masing-masing. Kalo Luhan kenapa dia kaya gitu? Karena dia udah sakit hati dan mikir juga kalo semua perhatian Sehun kedia cuma tipuan termasuk saat Sehun ngelindungin Luhan dari kerumunan fans /Tunjuk atas/ dipemikiran Luhan, Sehun cuma mau gunain dia supaya ga dikerubuti(?) para fans. Udah jelas belum?
Babyteuk57 : Nanti manis-manisnya. Boleh, sok aja di inpit.
Osehn : Hai, Hai, Hai jawaban review kemarin emang buat kamu ko hahaha aku typo lol
Lulucristalflower55 : Aduh, aku terharus loh baca review kamu TT padahal di FF ku masih banyak kekurangannya ko, but terimakasih ya.. alhamdulillah, tanggal kemarin lancar ko. Aku tunggu review untuk chap ini dan thanks karena udah baca FFku.
MissPark92 : Makasih^^ ini juga berkat review mu..
Oh Stella : HunHan Shipper.
HHS : Okeh..
Semua permintaan di BBM yang masuk udah aku acc loh ya.. chat aja kalo ada pertanyaan^^
Thanks to :
babyteuk57 | joohyunkies | GHanChan | deermykrishan | IndahOlidLee | Reechan07 | yume | dichanbaek | SNF | Husnul28 | gefi | Hinomiya | Sherli898 | Hyuuga L | lulucristalflower55 | laabaikands | BB137 | Kim124 | SyiSehun | osehn | karinaalysia2047 | luharawr | choikim1310 | Luu | SNF | KKKimsu614 | chooco | anisaberliana94 | MissPark92 | Rusa Beijing LH7 | Lu | zie | Cho Luxxi | deva94bubbletea | Guest | sanmayy88 | Cici | Oh Stella | Pcywife | hunnaxxx | Flowerinyou | NopwillineKaiSoo | hunhanssi | yukime uzumaki namikaze | TKsit | anna27 | melizwufan | heeli | chrimsonRED96 | Laranolara | sweettaeminee | Anisa16 | molly a.k.a syf17 | Sanshaini Hikari | Name NoonaAery | BiEl025 | Sarrah HunHan | Juna Oh | 7wulanm | Light-B | KimRyan2124 | Okta HunHan | HunHanCherry1220 | Oh Grace | Cherry EXOL | Novey | channie27 | Seravin509 | cho min ah | OhXiSeLu | noVi | Rikailu | selulu7 | My name's Apple | nosa | nik4nik | SNAmaliia | Kim YeHyun | eva | MeMei04 | baekchu | Arifahohse | fakkpark | HHS | SeReineOh | SeoulrYoung | igineeer | Vianna Cho | Lissa Oh | Xxian | ramyoon | ElisYe Het | CUCUNYA HUNHAN | xieluharn | Yessi94esy | KaSHunHan | Nurul999 | DBSJYJ | daebaektaeluv | Angel Deer | vietrona chan | Richjoonmoney | Noni | Mrohxigen | yellowfishh14 | ChagiLu | Luge | khalidasalsa | Selenia Oh | deerhanhunnie | LisnaOhLu120 | Eghaa Jung | pry90004 | yehethun | Oh Hunnie94 | hunexohan | ohandeer | Princess Xiao | R | Eunbi12 | rly | deerwinds947 | Houran Wu | luluhunhun | pinkupinku | kyungsoo's wife | xiotia | - The secret past chap 10.
Thanks untuk semua review dan juga pollow, beserta paporitnya. Ga ada kalian FF inipun pasti ga ada^^ untuk semuanya terimakasih, dan aku tunggu review untuk chap ini. Maaf-maaf kalo ada salah penulisan nama FFn atau yang belum kesebut FFnnya. Aku baca review kalian semua ko..
DAN CEK MY STORY! ADA NEW FF BUAT KALIAN YANG BELUM BACA. BESIDE YOU JUDULNYA.. Review ya kalo misal sempat baca hahaha.
Siipp lah.. terimkasih untuk kalian semua! Sampai ketemu di next chap! Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS^^
