Chapter 11

My Higschool My Love

.

.

.

.

.

Xiumin berjalan tergesa–gesa, menatap nyalang pada seluruh sudut rumah Luhan yang _kosong. Dia segera berlari menuju kamar Luhan yang pintunya sedikit terbuka, memanggil–manggil Luhan menyerupai orang gila. Kemudian berbalik pada lemari pakaian, buru–buru membukanya dan tersentak ketika baju Luhan telah raib.

Tanpa sadar, kaki Xiumin melangkah ke belakang. Air matanya menetes. Napasnya tersengal. Teringat kembali tentang percakapannya dengan Luhan beberapa hari lalu ketika kebenaran nama Jongin terungkap dimuka publik.

"inikah maksud Jongin mendekatiku selama ini ? ternyata dia menyembunyikan identitasnya dariku demi menutupi siapa ayahnya" Luhan tertawa sumbang "aku benci hidup disini"

"tidak ! Luhan"

Air mata Xiumin mengalir semakin deras. Mata basahnya berputar ke segala ruangan, hatinya hancur berantakan ketika koper dan ransel Luhan tidak ada ditempatnya. Dengan air mata masih bercucuran, dia berlari keluar.

"LUHAN PERGI !" jeritnya ketika sudah berada diluar "BAJU DILEMARINYA TIDAK ADA. LUHAN HILANG !"

Kyungsoo terperanjat "Xiumin, apa maksudmu_" Kyungsoo berhenti bicara ketika melihat Xumin menghampiri Jongin lalu menampar wajah pemuda itu hingga memerah "YA ! Xiumin !"

"semua salahmu ! sialan !" maki Xiumin dihadapan Jongin yang menunduk "semua salahmu hingga Luhan pergi. Tidak cukupkah ayahmu merusak keluarganya ? sekarang kau juga merusak hidup Luhan Jongin sialan ! aku sudah cukup bersabar padamu, membiarkan kalian menyelesaikan semua masalah dengan aku berpura–pura tidak tahu. Tapi kau lihat apa yang terjadi sekarang ?" tangan Xiumin mengusap kasar air matanya, bibirnya terus bergetar menahan emosi agar tidak meledak lebih parah. Tapi menghadapi Jongin, untuk apa dia menahan amarah sekarang ? tidak berguna "Luhan tidak punya siapapun Jongin! kau pikir pergi kemana dia sekarang huh ? dia tidak punya Ibu dia tidak punya ayah. Lalu kau pikir Luhan pergi kemana sekarang ?! pergi dari sini kau sialan ! aku muak padamu"

"aku akan mencari Luhan" jawab Jongin lalu berbalik. Si pemuda mendadak berhenti ketika Kyungsoo mencengkeram lengannya.

Jongin menengadah, menatap Kyungsoo dimana banyak tersimpan kesedihan dan kemarahan disana. Dia membuang muka.

"kita tidak tahu siapa kerabat Luhan yang tinggal di Korea" kata Kyungsoo tenang meski air mata diwajahnya tidak bisa berbohong jika dia panik setengah mati "kau pikir kemana kau akan mencari Luhan tanpa tahu kemana dia pergi sekarang ? jangan berbuat sesuka hatimu Jongin, mencari Luhan tidak akan semudah yang kau pikirkan terutama kau adalah orang yang paling dia hindari untuk sekarang"

"aku tahu teman Ibu Luhan yang tinggal di pinggiran Seoul. Luhan tinggal disana ketika kecil jadi lepaskan tanganku dan biarkan aku mencari Luhan kesana"

Kyungsoo menggeleng sedih "jangan keras kepala !" bentak Kyungsoo kasar.

"kau yang keras kepala !" Jongin membentak balik "lepaskan tanganku Kyungsoo !"

"aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan keadaan emosi" Kyungsoo melirik teman–temannya "kita cari Luhan sama–sama"

Semua yang disana mengangguk. Jongin mengangkat tangan kalah, merogoh ponsel didalam sakunya untuk menghubungi entah siapa. 5 menit kemudian sebuah mobil merah terang muncul dari ujung jalan. Jongin mengisyaratkan semua yang ada disana untuk memasuki mobilnya. Baekhyun, Xiumin dan Tao duduk dikursi belakang sementara Kyungsoo duduk didepan bersama Jongin.

Jongin buru–buru memasang sabuk pengaman lalu membuka jendela mobilnya untuk bicara sejenak pada orang yang tadi mengantar mobil Jongin.

"katakan pada Appa, aku tidak bisa mengikuti rapat perusahaan hari ini" pesan Jongin pada pria lainnya yang dibalas anggukan sopan.

Baekhyun mengerutkan mata sipitnya tanpa sadar ketika menangkap mobil lain menepi di ujung jalan. Tapi well, dia tidak seharusnya mengambil pusing hal tersebut karena mobil manapun boleh menepi disisi jalan bukan ?

Namun, ketajaman mata Baekhyun menghianatinya secara telak. Ia mampu melihat siluet seorang pria dengan tatapan tajam duduk diam dibalik kemudi. Jarak membuat Baekhyun tidak mampu membaca ekspresi seseorang disana tetapi dia dapat menyimpulkan satu hal bahwa wajah mengerikan disana mengingatkannya dengan seseorang yang terlibat dalam insiden kematian ibunya.

13 tahun silam.

Baekhyun menelan ludah. Raut wajahnya mengeras diikuti dengan bulir keringat bermunculan disekitar dahi.

Sesekali Baekhyun mengalihkan sorot mata tajamnya pada Jongin kemudian kembali lagi pada mobil di ujung sana.

Melihat gelagat aneh dari mimik muka yang Baekhyun tampilkan, Xiumin yang duduk tepat disamping Baekhyun menepuk bahunya.

"ada apa ?"

Ludahnya seakan menjadi kerikil karena tersentak kaget. Baekhyun nyaris mematahkan lehernya ketika menoleh kepada Xiumin kemudian mengulas senyum palsu terbaik yang sudah dia latih selama berkecimpung didunia acting.

Itu adalah alasannya memasuki dunia mengerikan penuh blitz kamera karena sebenarnya Baekhyun tengah mencari koneksi guna mengungkap kasus kematian ibunya yang bahkan tidak bisa dipecahkan oleh ratusan penyelidik atau mereka memang telah menerima gosokan agar tidak menyelidiki kasus tersebut.

"aku tidak bisa pergi bersama kalian untuk mecari Luhan karena aku lupa jika aku memliki sesuatu untuk diurus" ungkapnya sangat lancar, tapi Baekhyun tidak membutuhkan tepuk tangan karena demi Tuhan dia adalah seorang actress. Dia bahkan bisa dengan mudah membakar semua suara gugupnya tanpa kesulitan yang berarti.

Ketika pintu mobil tertutup pelan, Xiumin mengedipkan mata bingung. Diiikuti dengan kerutan dahi dari Tao dan Kyungsoo sementara Jongin tidak terpengaruh dengan kepergian Baekhyun.

Jika boleh jujur, Jongin merasa tidak nyaman karena Baekhyun seperti seseorang yang tengah mengawasinya.

Apalagi ditambah dengan tatapan tajam Baekhyun yang terpantul melalui kaca dimana Jongin bisa melihatnya dengan sangat jelas mengingat kedua matanya masih berfungsi dengan sangat baik, Jongin tidak mau mengakuinya tapi dia melihat sebuah…. Kebencian dan dendam.

Jongin tertalu paranoid ? benar.

Baekhyun yang artis kenapa Jongin yang harus diawasi. Dan kenapa harus benci serta dendam ?

"dia terlihat mencurigai sesuatu" cerca Tao dengan nada acuh tak acuh seperti biasa, kepala menggeleng malas. Jongin rasa sekujur tubuhnya membeku seolah tengah berada di Kutub Utara akibat kalimat Tao barusan.

Tapi kenapa ?

Kenapa dia harus merasa panik ketika Baekhyun melangkah pergi membawa serta semua penyamaran artisnya dan kenapa dia merasa tak nyaman ketika Baekhyun berada disekitarnya ?

.

.

.

My Higschool My Love

Juliana Hwang

Rate : T+

Genre : Drama, friendship, family, hurt/comfort(maybe), fluff (maybe)

Chapter : 11/?

Warning : GS, School Life, Typo(s)

DON'T LIKE, DON'T READ

I LOVE READER, I HATE SILENT READER

Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.

Happy Reading

Chapter 11

.

.

.

Sekitar lebih dari 2 jam berlalu dengan Tao yang memanjatkan doa tanpa henti semoga nyawa mereka tidak melayang akibat Jongin yang mengemudi secara brutal bak pembalap internasional, mereka segera melompat turun ketika Jongin menghentikan mobilnya.

Tao menghirup napas dalam seserakah yang dia bisa seolah 1 detik lagi oksigen akan segera lenyap dari bumi. Diantara tarikan napasnya, dia merasakan perasaan sesak turut memasuki rongga dadanya dimana sesungguhnya perasaan tersebut memang telah berada disana sejak lama.

Hanya saja, dia berusaha mengubur rasa sakit dan semua kekecewaan tersebut sedalam inti bumi. Selamanya.

Entah kenapa Xiumin merasa jika atmosfer diantara mereka berubah menyesakkan semenjak Luhan tidak ditemukan dirumahnya.

Jongin lebih banyak membuang napas berat lebih daripada orang lain, Kyungsoo sungguh menjadi seseorang yang berbeda, Tao menunduk seolah seluruh tingkah anarkisnya terserap ke dalam galaxy sementara dirinya sendiri tidak tahu menahu sekarang mereka berada dibelahan bumi bagian mana.

Atau masing-masing mereka memang memiliki masalah pribadi atau memang benar mereka seperti ini karena kepergian Luhan atau STOP !

Xiumin melirik Jongin yang masih terduduk dibalik kemudi. Pemuda tersebut terlihat menatap kedepan sementara jari tangannya mengetuk roda kemudi dengan gerakan gundah serta resah. Xiumin mengatupkan bibirnya ketika rasa benci serta amarah merangkak kembali akibat teringat dengan tujuan utama mengapa mereka datang kemari.

"jadi" mulai Xiumin sembari mengikuti kemana Jongin menjatuhkan pandangan matanya. Rumah minimalis bercat ungu tua dengan tembok sedikit lapuk berdiri didepan mereka. Pekarangan rumah tersebut terlihat sedikit kotor akibat daun kering yang berjatuhan dari ranting pohon besar yang berdiri kokoh disisi pagar besi, Xiumin sempat berpikir jika mungkin saja pemilik rumah terlalu malas untuk menyapu halaman karena daun akan terus berjatuhan mengingat sebentar lagi musim gugur akan segera datang menyapa menggantikan posisi penghujung musim panas. "turun dari mobilmu dan katakan dimana aku bisa menemukan Luhan" perintahnya bernada sinis dibuat-buat, Xiumin tidak terlalu ahli dalam memerankan tokoh dengan watak antagonis.

Jongin melirik Xiumin sekilas kemudian mengangguk tanpa berkata-kata. Dia turun dari mobilnya tanpa gairah seolah telah menyiapkan diri bahwa dia akan menghadapi kenyataan mengerikan dan mereka semua mendapatkannya ketika Jongin mengguncang pagar besi kesetanan. Pria paruh baya bertopi rajut hangat menghampiri mereka serta mengatakan bahwa pemiliknya telah pergi ke China.

Dan bagian terburuknya adalah, tidak akan pernah kembali.

Tercengang horror, Kyungsoo meneguk ludahnya susah payah dan tiba-tiba ia merasa tenggorokannya ditumbuhi duri.

"M-mereka.. pergi ke… C-China ?" suara Kyungsoo terdengar retak serta menyedihkan, Jongin membuang muka ke arah lain. Berharap apa yang dia dengar hanyalah suatu candaan karena 'untuk apa Luhan pergi ke China bersama keluarga teman Ibunya ? untuk apa dia pergi ke China ?' sementara dirinya belum mampu bersujud memohon ampunan kepada Luhan karena ayahnya telah membunuh ayah gadis tersebut.

Jongin merasa bahwa dirinya menjadi sampah atau bahkan lebih kotor dari sampah. Seharusnya dia mengurus Sehun terlebih dulu sebelum mencari Luhan karena_ dia tidak tahu kenapa tapi relung hatinya menyimpan jutaan kosakata bersalah untuk 2 nama tersebut.

Sebersit bayangan masalalu menarik ulur hati terlukanya secara paksa. Jongin menggeram ketika sebuah kalimat seakan menggema begitu keras menghujam jantungnya hingga tembus serta berdarah-darah.

"Sehun, ingat janjiku. Hyung akan segera kembali"

Tapi dirinya yang brengsek tidak pernah kembali.

Dia malah dengan ceroboh berkelahi dengan adiknya sendiri.

Dan melukai Luhan.

Lalu inilah yang sudah sepantasnya dia dapatkan.

Sangat pantas dimana dia mampu melihat titik awal kehancuran hidupnya akan segera dimulai.

"ya, mereka tidak hanya pergi ke China tapi ku kira pulang ke China dan rumah ini sudah dijual" pria bertopi rajut menunjuk papan kayu bertuliskan 'dijual' yang entah sejak kapan tergantung sangat jelas pada panggar. Kyungsoo menahan napas, melirik pria didepannya seolah memohon bahwa pria tersebut membicarakan kebohongan "apa kalian teman Luhan ?" tanya pria tersebut setelah hening menguasai suasana.

Xiumin serta Tao membulatkan mata karena seingatnya mereka belum mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk mencari Luhan namun, gelagat pria paruh baya tersebut seolah telah memprediksikan kedatangan mereka terbukti dari pria tersebut tersenyum serta memberikan amplop kertas pada genggaman Kyungsoo "apa kau mengenal seseorang bernama Kim Jongin ?" tanya pria paruh baya tersebut pada Kyungsoo yang wajahnya telah memerah menahan tangis sementara Jongin berdiri kaku beberapa meter dari mereka. Kyungsoo mengangguk ragu kemudian segera mendongak agar buliran air matanya tidak terjatuh.

"Luhan menitipkan ini padaku sebelum mengikuti keluarga Goubin pergi ke China. Sebenarnya, kakek dan nenek Luhan tinggal di China karena memang mendiang ayahnya berasal dari sana. Dia memintaku untuk memberikan ini pada Kim Jongin karena dia yakin bahwa seseorang itu akan datang mencarinya kemari" jelas pria tersebut tanpa tahu jika Kim Jongin mematung dibelakangnya "karena kalian datang kemari jadi kukira dugaan Luhan adalah benar adanya dan tolong berikan ini pada Kim Jongin" putusnya kemudian berlalu sementara Kyungsoo sedikir meremas amplop putih digenggamannya. Dia gemetar hebat.

Xiumin rasa, dunia mencekiknya.

Dunia menginjaknya.

Dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menangis karena dia hanyalah perempuan cengeng yang tidak bisa menjaga sahabatnya. Dia yang tahu seperti apa cerita kelam antara Luhan serta Jongin namun dia bahkan tidak berbuat apapun untuk mendukung sahabatnya.

Dia hanya mendengarkan Luhan sambil memijit pelipisnya karena permasalahan yang Luhan alami terlalu sulit diterima nalar serta belum sepatutnya dialami oleh remaja berusia 17 tahun.

Yang benar saja, bagaimana mungkin remaja usia belasan tahun harus dihadapkan dengan masalah runyam menyangkut pembunuhan.

Dunia pasti mengutuknya.

Atau dunia sedang bertindak tidak adil dengan memberi nasib seburuk ini untuk sahabatnya.

Xiumin merasa bahwa dirinya adalah bentuk dari kegagalan dari semua kegagalan yang ada didunia.

Sekarang disaat Luhan telah benar-benar menyerah dengan hidupnya, Xiumin baru menyadari jika dia belum melakukan apapun untuk membantu Luhan.

Dia merasa terbunuh.

Terbunuh atas kebodohannya sendiri.

"apa yang sudah aku lakukan ?!" pekiknya terisak dengan jeritan keras serta memilukan telinga "kenapa aku membiarkan Luhan hidup seperti ini ? aku sahabatnya tapi aku pengecut ! kenapa aku tidak bisa membantunya ? kenapa aku terkesan menutup mata dan bertingkah buta ! maafkan aku, kumohon maafkan aku" Tao sadar dari tercenungnya ketika Xiumin merosot ke tanah, meninju permukaan keras berkerikil tersebut dengan ujung tinjunya. Linangan air mata mengalir bagai arus deras aliran sungai abadi. Dia dengan segera menghampiri Xiumin serta mencoba merengkuhnya namun kekeras-kepalan Xiumin menghancurkan usahanya.

"Luhan akan kembali, kita bisa mencarinya. Tenanglah" hibur Tao lembut.

"tidak ! dia tidak akan kembali terutama karena sahabat bodoh sepertiku"

"bukan hanya sepertimu" sahut Kyungsoo dari samping, air matanya mengeras "aku juga sahabat bodoh yang selalu mengatainya setiap waktu. Aku bahkan tidak layak menyebut diriku sebagai sahabatnya"

"berhenti menyalahkan diri kalian !" Tao menatap nyalang pada Kyungsoo serta Xiumin secara bergantian "kita bisa menemukan Luhan. Okay ! sekarang tenanglah atau aku akan menampar wajah kalian sebanyak 10 kali"

"tampar saja !" Kyungsoo menjerit kasar "atau bunuh saja aku karena aku juga bodoh"

"kubilang berhenti menyalahkan diri sendiri !" Tao masih setia memekik "Jongin ! kau mau jadi pecundang selamanya dengan berdiri bodoh disana atau kau akan membantuku menyeret mereka ke dalam mobilmu. Demi neraka ! kita harus pergi dari sini sebelum semua air mata bodoh ini membunuh mereka" nyatanya Tao juga menitikkan air mata sambil berteriak.

Jongin mengumpulkan seperempat akal sehatnya ketika memapah Kyungsoo yang menangis keras. Pemuda tersebut membiarkan lengan bajunya basah oleh air mata, Kyungsoo masih terisak pedih.

Bahkan sangat pedih.

Mampukah Jongin memakai otak cerdasnya sekarang untuk mencerna keadaan bahwa dia tidak hanya menghancurkan keluarga Luhan tapi sekarang dia menghancurkan persahabatannya.

Sangat, sangat hancur sampai-sampai Jongin merasakan hantaman sakit bertalu-talu dijantungnya.

Entah dia harus sakit karena apa.

Karena Luhan hancur atau karena Kyungsoo hancur ?

Bagaimana mungkin manusia bisa hidup senaif Jongin ?

Dia hidup dengan mencintai Kyungsoo tapi disisi lain dia juga hidup dengan mencintai Luhan ?

Payah.

Xiumin akhirnya berhasil sedikit tenang dalam dekapan Tao. Dia merasa aneh, bukan karena dia dipeluk oleh perempuan tapi sesuatu yang berdetak berirama didalam sana terdengar familiar.

Detakan jantung Tao terasa menenangkan dan Xiumin bersumpah bahwa detakan jantung ini sangat mirip dengan detak jantung milik….

Ayahnya.

Kim Jeseok.

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

"Ya Tuhan, biarkan aku menjadi jamur atau rubahlah aku menjadi akar terkuat didunia untuk melilit manusia gila didepanku ini"

Suho mendengus ketika lagi-lagi Chanyeol mengeluh seperti bayi. Besar keinginan didalam hatinya untuk melempari Chanyeol dengan batu atau kursi saja karena dicafe tidak ada batu.

"Hyung, aku mau pulang saja. lagipula aku tidak memiliki kepentingan apapun disini"

Suho memicingkan mata sinis pada Chanyeol "begitu caramu membalas semua kue dan kopi yang masuk kedalam perut rakusmu itu huh ?"

"terimakasih atas traktirannya. Tapi sungguh, kita harus pulang sekarang karena demi bulan dan bintang kita sudah duduk disini berdua, selama 1 jam seperti pasangan kencan saja. Aku bukan gay"

"aku tidak mengatakan jika kau adalah gay. Jadi ayo kita pulang" Suho putus asa.

Chanyeol bersorak lalu merangkul bahu sepupunya "kau yang terbaik" puji Chanyeol kemudian dibalas makian kesal oleh Suho.

Kedua pemuda dengan tinggi tubuh berbeda itu berdiri didepan kasir. Dengan Chanyeol yang masih merangkul bahu Suho membuat pemiliknya naik darah karena tinggi Chanyeol sangat menghina tinggi tubuhnya.

"bisakah kau menyingkir. Kau membuatku terlihat pendek" sungut Suho sebal setelah menyerahkan sejumlah uang kepada penjaga kasir.

"dimana Luhan dan Xiumin ?" tanya Chanyeol ketika dia tidak melihat teman sekelasnya itu sejak tadi. Padahal dia sangat yakin jika Xiumin dan Luhan bekerja disini. Dicafe Lay.

Kenapa Chanyeol tidak bertanya dimana Lay ? batin Suho agak erosi.

"Yixing Eonni mengatakan pada kami jika Luhan mengambil cuti dan kelihatannya hari ini Xiumin absen. Dia tidak datang. Ini kembaliannya. Datanglah lagi di Happy Café"

"terimakasih" jawab Suho mengambil uang kembaliannya. Dia terlonjak kaget ketika seseorang menepuk bahunya dan dia sangat yakin jika pelakunya bukan Chanyeol. karena adik sepupunya itu terlihat sedang berpikir, Suho mengendikkan bahu cuek. Nyaris tersedak udara setelah berbalik akibat Jongdae tersenyum lebar padanya.

"apa yang kau lakukan disini ?" tanya Jongdae dengan cengiran membuat Suho berpikir jika Jongdae membutuhkan dokter atau rumah sakit jiwa.

"membawa bayi besar ini" Suho menunjuk Chanyeol "dia merengek meminta kopi seperti bocah memuakkan"

Alis Chanyeol naik sebelah. Bersungut kesal pada perkataan Suho yang menghina dirinya "bukankah kau yang menyeretku kesini karena kau ingin melihat_ Aww Tuhan ! kakiku !" jerit Chanyeol melompat-lompat kesakitan akibat sepatu Suho menendang tulang keringnya.

Jongdae memandangi 2 saudara sepupu itu dengan menggeleng maklum "kalian hanya bisa akur ketika dunia sudah berhenti berputar. Hai Sohee !" panggil Jongdae pada penjaga kasir dibelakang Suho "dimana Lay ?" tanya Jongdae sambil mencomot permen cokelat dari dalam toples disamping Chanyeol. Dia sudah terbiasa melakukan itu jadi pegawai café membiarkannya.

Sementara itu, Suho mendesah lega. Dia ingin memeluk Jongdae sekarang karena akhirnya ada manusia peka didunia ini yang mau bertanya dimana Lay. Tapi dia tidak mau memeluk Jongdae karena dia bukan gay.

"Lay Eonni sudah pulang jam 6 sore tadi"

"benarkah ?"

Sohee mengangguk.

"Kris menjemputnya ?"

"tidak. Eonni pulang sendiri. Dia agak pucat hari ini. Jadi aku memberinya saran untuk pulang"

"apa dia sakit ?" tolong siapapun ingatkan Suho untuk menampar wajahnya karena dia terlihat sangat khawatir. Jongdae memandangi Suho dengan tanda tanya setinggi gunung Fuji di atas kepala.

"semoga tidak" jawab Sohee tersenyum tipis. Wajahnya menampilkan kelelahan akibat adanya 2 tugas kosong secara mendadak hari ini. Sontak semua pegawai yang tersisa harus bekerja ekstra karena pemilik café juga memutuskan untuk pulang "maaf tidak bisa menemani kalian mengobrol karena aku masih banyak pekerjaan. Xiumin dan Luhan tidak masuk hari ini" kata Sohee sopan kemudian berbalik ke meja lain tempat dimana Luhan biasanya menghitung keuangan harian café.

2 wajah pemuda disana runtuh menyerupai tanah longsor. Chanyeol memandangi wajah sunbaenya dan juga wajah sepupunya jenuh. Raut patah hati. Cibirnya dalam hati.

"kenapa kau tiba-tiba muncul disini ?" tanya Jongdae ketika ia berhasil menyuruh Suho dan Chanyeol duduk kembali meskipun diwarnai insiden Chanyeol meronta karena dia ingin pulang. Dia harus menonton Baekhyun di TV. Itu alasan utamanya dan 2 orang yang lebih tua darinya ini sungguh tidak pengertian.

Untungya, keganasan Chanyeol bisa diatasi setelah Jongdae mengambil remote TV dari laci meja counter kemudian memutar acara musik dimana Baekhyun tengah menyanyi dengan cantiknya. Otomatis Chanyeol tertawa bahagia dan dengan senang hati membiarkan 2 orang lainnya berbicara. Dia sudah cukup dengan melihat Baekhyun.

Ya Tuhan, Baekhyun sungguh memikat hati seorang Park Chanyeol.

"kenapa kau tiba-tiba muncul disini ?" tanya Jongdae setelah menelan macaron warna cokelat.

"hanya ingin kopi" jawab Suho santai sementara Jongdae memicingkan mata curiga. Kepalanya dipenuhi oleh secret admirer dan kenyataan bahwa Suho muncul di café Lay malam ini sungguh mencurigakan.

"tapi kau tidak biasanya kemari. Apa kau sedang ingin melihat seseorang atau semacamnya ?" pertanyaan telak. Jongdae sungguh berbakat dalam memilih pertanyaan yang mampu membunuh lawan bicara. Mungkin Suho akan menobatkan Jongdae sebagai hakim atau jaksa terbaik sekarang juga mengingat Jongdae adalah putra dari hakim terbaik Korea.

Senyum Jongdae semakin lebar sampai telinga ketika menemukan ekspresi kaku diwajah Suho. Dugaannya semakin kuat tapi sekarang masih terlalu awal untuk menyimpulkan siapa si secret admirer jadi dia memutuskan untuk bertanya dimana pertanyaan itu sukses membuat Suho tersedak parah.

"kau tidak sedang menyukai Lay'kan ?"

Tembak Suho sekarang juga !

.

.

.

Kris memasang kedua telinganya, menyiapkan otaknya yang sebenarnya sudah jenius tapi dia sedang mencoba untuk menjadi seorang pemuda keren sekarang. Berbekal kacamata ala Harry Potter bertengger di hidung mancungnya dan setumpuk buku setebal lapisan bumi akhirnya dia memutuskan untuk menyandarkan kepala pada sofa. Melepas kacamata kemudian memijit sudut matanya.

"kenapa aku harus mempelajari bisnis memuakkan ini" protesnya pada sang tutor kemudian mendengus karena tutornya sangat cuek "baiklah kau tutor pendosa" kata Kris meraih buku paling tebal "ajari aku kurva bisnis, kinerja karyawan dan apapun"

"tumben dia mau belajar dan tidak menendang pantat tutornya" komentar Kang In menutup pintu ruang belajar putranya. Bibirnya tersenyum-senyum ketika mengintip kegiatan belajar putranya dimana banyak dipenuhi oleh berbagai macam umpatan dan yang terbaik adalah tutor pilihannya kini benar-benar bermental baja. Kang In suka kenyataan itu.

"apa aku memberimu kopi beracun hari ini ? senyummu seperti kau baru saja dicium oleh Perdana Menteri" Leeteuk mengejek suaminya dengan senyuman tipis.

Kang In menggelengkan kepala "bahkan dicium Perdana Menteri sekalipun tidak akan pernah bisa membuatku sebahagia ini. Kau tahu Yifan itu_" bel pintu utama berbunyi nyaring. Membuat Kang In terpaksa berhenti bicara lalu berpandangan dengan istrinya.

"siapa yang bertamu di jam 9.30 malam ?"

.

.

"Yixing ?" panggil Kang In heran ketika tamu malam harinya muncul dari balik pintu.

"selamat malam Baba" sambut Lay mengulum senyumnya. Membungkuk 90 derajat ketika calon Ibu mertuanya berdiri disamping Kang In.

"naiklah ke atas" kata Leeteuk lembut "kau pasti terkejut karena calon suamimu tengah memikirkan masa depan. Dia mempelajari bisnis ayahnya" tambah Leeteuk ketika Lay nampak bingung.

"YA ! sedang apa kau disini ?" teriak Kris dari ujung tangga atas. Sebelumnya dia berniat mengambil minum karena sungguh tenggorokannya sakit akibat terlalu banyak berdebat dengan tutor sialan diruang belajarnya. Bahkan ingin minum saja diberi batasan waktu 1 menit dimana waktu itu sangat sedikit dan Kris harus naik turun tangga untuk kembali ke ruang belajarnya kemudian disinilah dia sekarang ketika tahu Lay muncul dirumahnya. Hampir jam 10 malam.

Apa yang dia lakukan disini ? Batin Kris bertanya-tanya sembari menghampiri Lay di ruang bawah. Kris menganggukkan kepala ketika menerima isyarat dari ayah kandung dan Ibu tirinya untuk memperlakukan Lay dengan baik. Kemudian ingin bersujud syukur karena orang tuanya yang menyebalkan sudah lenyap dari ruang tamu.

"kenapa kau tidak menelpon ? aku bisa menjemputmu setiap waktu"

Lay tersenyum tipis "ada yang ingin aku bicarakan"

"katakan saja !" perintah Kris santai "aku punya 28 detik" sambung Kris lagi setelah mengecek waktu. Dia masih terbayang dengan tutor sialannya.

"apa ? 28 detik ? YA ! tidak bisakah kau memberi 5 menit atau sebagainya karena yang kubicarakan ini nanti akan_"

"baiklah. Kau punya waktu seumur hidupku. Jadi apa yang ingin kau bicarakan ?"

"pertunangan kita"

Mata Kris membulat. Lay itu sulit ditebak. Serius. Kemarin bisu seperti tidak punya mulut kemudian sekarang tiba-tiba muncul dirumahnya dan ingin membicarakan pertunangan ? Kris menelan ludah ketika teringat pelukannya dengan Lay disekolah. Dia memandangi Lay horror.

"pelukanku tidak membuat otakmu kacaukan ?" candanya yang dibalas injakan kaki oleh Lay. Seketika Kris membungkuk mengelus ujung kakinya.

Aku benar-benar menolak kau untuk menjadi istriku.

"aku ingin kita memutuskan pertunangan ini"

Sakit dikakinya sudah hilang secara total. Kris tidak peduli lagi dengan tutor sialannya karena…"kita bicara diluar" Lay pasrah ketika Kris menarik lengannya. Mereka berhenti di pekarangan luas milik mansion keluarga Kris. Keduanya diam untuk beberapa menit sebelum akhirnya Lay memecah suasana aneh itu dengan desahan napas berat. Kris memandanginya.

"aku tidak mencintaimu" ungkap Lay dengan nada pecah. Kris menghembuskan napas beberapa kali. Neuron otaknya sudah nyaris meletus akibat pelajaran bisnis dan sekarang dia punya masalah baru yang pasti menyita waktu, tenaga, pikiran, emosi, kekecewaan, dan semua hal buruk didunia ini pasti mencekiknya.

"aku tidak mencintaimu" ulang Lay sekali lagi ketika Kris tidak merespon perkataannya.

"aku dengar yang pertama" jawab Kris tanpa gairah. Wajahnya pucat tapi untungnya, sekarang adalah malam hari jadi dia tidak harus mencemaskan ekspresi yang muncul diwajahnya. Lagipula, keduanya sudah saling mengenal sejak lama. Mungkin sejak dalam kandungan saja mereka sudah saling mengenal tapi sungguh, dia sangat kacau sekarang bukan karena Lay tidak mencintainya tapi karena kata 'aku ingin kita memutuskan pertunangan ini' sungguh menyita seluruh perhatian Kris.

Dia juga tahu bahwa Lay adalah gadis cerdas yang penuh perhitungan. Jadi, tidak mungkin jika Lay melakukan ini tanpa alasan. Kepalanya mulai sakit.

"kenapa kau tidak mengatakan apapun jika kau mendengar yang pertama ? aku tidak menginginkan pertunangan ini"

"aku juga sudah dengar kalimat itu" jawab Kris datar. Lay menghirup napas dalam jumlah banyak kemudian membuangnya sekali hentakan.

"bukankah ini yang kau inginkan sejak lama ? aku tidak mencintaimu dan kau tidak mencintaiku. Aku menyadari itu, apalagi kita telah terbiasa hidup bersama sejak kecil. Kita bersahabat. Aku menyayangimu sebagai sahabatku dan aku tidak bisa memberikan perasaan yang lebih daripada itu"

"kenapa kau tidak mengatakannya sejak dulu ? ku kira kau menyukaiku" Kris tertawa paksa untuk menutupi raut keruh yang menumpuk-numpuk diwajahnya.

"aku ingin orang tuaku bahagia Yifan. Karena itu aku menerima pertunangan ini. Tapi sekarang, aku sungguh tidak bisa"

"kau perempuan bodoh" sahut Kris dingin "seharusnya kau memikirkan kebahagiaanmu lebih dulu sebelum kau menerima omong kosong orang tuamu. Semua tidak akan serumit ini jika dulu kita menolaknya bersama-sama. Kau pikir ini adil untukku ? kau pikir ini adil untuk kita ?"

Lay menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat "maaf" bisiknya terlampau lirih. Bahu Lay menegang ketika Kris menggenggam tangannya "kau tidak perlu minta maaf. Karena ini keinginan kita, maka kita harus menyelesaikan ini bersama-sama"

"seharusnya aku mencintaimu" gumam Lay sendu, air mata yang semula ia tahan akhirnya terjun bebas. Menelusuri tulang pipinya kemudian menetes pada genggaman tangannya dengan Kris.

"kau tak perlu mencintaiku. Apa kau sudah mencintai seseorang ?" tanya Kris bergetar. Siapapun pasti mengatakan jika itu tadi bukan suara Kris karena nada pertanyaan itu sungguh aneh dan terkesan menyedihkan.

Lay mengangguk. Kris membalasnya dengan senyuman tenang kemudian melepaskan genggaman tangannya dengan Lay. Pemuda berambut pirang itu diam dalam waktu lama. Ekspresi diwajahnya semakin mencemaskan, terlihat seperti ditimpa beban seberat 10.000 pounds.

"aku hanya sedang menghitung seberapa banyak masalah dan kekacauan yang akan kita timbulkan nanti. Tapi, ayo kita lakukan !" kata pemuda itu mantap. Lay menghapus air matanya kemudian tersenyum lembut pada pemuda berhati baik ini.

"terimakasih, Wu Yifan".

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

Kyungsoo melangkah gontai memasuki pekarangan rumahnya. Pipinya masih basah dan kedua matanya bengkak. Setidaknya, Kyungsoo bersyukur karena Tao pulang ke rumahnya sendiri hari ini. Jadi dia memiliki waktu untuk menangis seorang diri serta memecahkan benda apapun didalam kamarnya nanti tapi dia tidak mungkin melakukan itu terutama dia tumbuh dalam keluarga yang bermartabat. Melupakan fakta bahwa dia memiliki sifat abstrak ketika berkeliaran di sekolah.

Hanya untuk membuat Sehun jengkel dan membuat Jongin melihatnya. Itu saja.

Jam 10 malam adalah waktu keterlaluan bagi dirinya karena dia selalu ada dirumah di jam itu. Entahlah, Kyungsoo sendiri merasa bahwa dia berubah menjadi orang lain hari ini. Pikirannya terpecah-belah antara Jongin, Sehun dan juga Luhan.

Kyungsoo mengambil napas panjang sebelum menyiapkan diri membuka pintu rumahnya, mentalnya telah siap meskipun tidak sempurna tapi omelan adalah hal utama yang harus dia dengarkan dengan senang hati ketika berhasil menginjak lantai rumah.

Bola mata Kyungsoo bergulir ke sekeliling rumah. Dia bernapas lega ketika ayah dan ibunya tidak duduk diruang tamu jadi sekarang adalah saat yang tepat untuk segera berlari ke lantai 2 kemudian mengunci pintu rapat-rapat.

Napas Kyungsoo tercekat hebat ketika berhasil memasuki kamarnya dan melihat ibunya melipat tangan dengan pandangan menyelidik.

"kau pergi bersama Jongin" tebak Ibunya cepat, Kyungsoo mengangguk pasrah. Membuang tasnya ke atas ranjang. Kyungsoo tidak perlu bertanya bagaimana Ibunya bisa tahu jika dia baru saja keluar bersama Jongin karena yeah, jendela kamar Kyungsoo menghadap langsung ke rumah Jongin dan Ibunya bisa melihat mobil Jongin baru saja memasuki garasi. Tentu saja Ibunya juga melihat Kyungsoo keluar dari mobil Jongin tadi. Dia sungguh tidak perlu bertanya.

"akhirnya kalian mulai serius" Nyonya Do bertepuk tangan senang.

Kyungsoo hanya mendengus sementara matanya masih terus memandang keluar jendela "kapan kalian akan membicarakan lagi perihal pertunanganku dengan Jongin ?" tanya Kyungsoo tanpa perlu menoleh pada Ibunya yang sibuk menyiapkan baju tidur untuk Kyungsoo. Ibunya berjalan santai, meletakkan 1 stel piyama warna biru di atas ranjang.

"mungkin 1 bulan lagi dan 3 bulan setelahnya kalian akan bertunangan ketika kelas 3"

"bagaimana jika Jongin tidak mencintaiku dan mencintai orang lain ?" kepala Kyungsoo dipenuhi oleh Luhan ketika mengatakan ini sementara hatinya teriris sakit.

"itu tidak akan mempengaruhi rencana pertunangan kalian" sahut Ibunya terlampau santai, membuat Kyungsoo bernapas jengah dan bertanya-tanya sudah seberapa sering dia mendesah berat dalam 1 hari "lagipula rencana pertunangan ini sudah kami bicarakan sekitar 5 tahun yang lalu, mungkin" tambah Ibunya masih dengan nada santai.

Bibir Kyungsoo tersenyum payah, melarang keras dirinya agar tidak membentak Ibunya karena nada bicara wanita itu sungguh mengganggu pendengaran "kalian membicarakannya tanpa persetujuan Jongin. Bagaimana jika Jongin menolak pertunangan ini ? dia tidak tahu apapun lalu tiba-tiba kalian berkata padanya 'Jongin kau akan bertunangan dengan Kyungsoo ketika kelas 3' Ibu pikir Jongin tidak akan lebih membenciku lagi setelah mendengar itu ?"

"siapa bilang Jongin membencimu ?"

Kyungsoo memilih bungkam daripada mulutnya berteriak marah.

"kalian akan saling mencintai ketika pertunangan itu sudah terjadi. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena kami sudah mengaturnya untukmu"

"tidak" sergah Kyungsoo dingin "kalian justru menghancurkan semuanya" Kyungsoo berbalik "Ibu, Jongin mencintai sahabatku dan aku mencintai orang lain"

Bohong !

Mata Ibunya menyipit "siapa yang kau cintai ?"

"Oh Sehun"

Bohong !

"aku sangat mencintai Oh Sehun dan yang ku tahu Jongin mencintai Luhan. Jadi, batalkan saja rencana pertunanganku dengan Jongin karena aku tidak akan pernah bisa mencintainya"

Bohong ! bohong ! bohong ! siapapun tolong berikan 100 acungan jempol untuk kelihaian Kyungsoo membohongi Ibunya dengan ekspresi sebagus itu. Seharusnya akting Kyungsoo mampu mengalahkan ketenaran Baekhyun dalam dunia perfilm-an.

Nyonya Do menggelengkan kepala "Oh Sehun putra Oh Kyuhyun ?" tanya Ibunya dengan sebelah alis terangkat "apa kau sedang berusaha menyalakan api untuk membuat 2 keluarga itu kembali berperang ? sadarlah dan buang saja cinta tidak bergunamu itu pada putra keluarga Oh. Dia tidak ada apa-apanya dibanding Jongin"

"benar" setuju Kyungsoo dengan senyum paksa "Sehun memang tidak ada apa-apanya dibanding Jongin. Tapi aku mencintainya dan batalkan saja pertunangan ini. Biarkan Jongin bersama dengan orang yang dia cintai"

"kau bilang Luhan ?" selidik Ibunya sambil meneliti wajah Kyungsoo. Seketika Kyungsoo berdehem ringan kemudian membuang muka.

"putri siapa dia ? Apa ayahnya berada dalam bidang politik atau pebisnis sama seperti keluarga kita ? jika ya, kenapa Ibu merasa tidak pernah mendengar nama itu"

"dia orang biasa" jawab Kyungsoo ringan. Setelahnya dia sangat menyesali 3 kata itu karena sudah pasti Ibunya akan merendahkan Luhan dengan kata-kata panas.

Nyonya Do tertawa mengejek "bagaimana mungkin Jongin mencintai seseorang dari keluarga yang samasekali tidak berpengaruh. Jadi dia hanya orang biasa, pantas saja Ibu tidak pernah mendengar namanya"

"Luhan memang orang biasa Ibu" jawab Kyungsoo mencoba sabar menghadapi sifat menjengkelkan Ibunya "tapi kepribadian dan kejujurannya jauh lebih berkelas melebihi keluarga Wu sekalipun. Luhan sahabatku dan aku akan melakukan apapun untuknya, termasuk merelakan Jongin" tambah Kyungsoo dalam hati setelah berhasil menutup pintu kamar mandinya dan berjongkok menahan sesak disana.

Samar-samar Kyungsoo mendengar dengusan marah Ibunya, dia bahkan tidak mau peduli ketika pintu kamarnya tertutup dengan suara bantingan lirih. Akhirnya Kyungsoo memiliki waktunya sendiri untuk menjerit. Dia tidak menyukai perasaan sesak ini, Kyungsoo ingin bernapas tanpa bayang-bayang Jongin serta Luhan dalam hidupnya.

Hatinya sudah cukup merasakan kepedihan.

Merasa bahwa berendam dalam air hangat selama kurang lebih 60 menit tidak cukup untuk membunuh sakit yang mendarah daging didalam hatinya, Kyungsoo berjalan gontai menuju ranjang mewahnya kemudian merebahkan diri disana.

Manik mata bulat gadis tersebut menatap nanar pada langit-langit kamarnya, dia nyaris menangis lagi ketika yang dilihatnya hanyalah sosok Jongin dan hanya Jongin. Tidak ada yang lain dan Kyungsoo berani bersumpah dengan pedang ditenggorokan bahwa tidak pernah ada Oh Sehun dalam hidupnya.

Sehun hanyalah bayangan, atau lebih mudahnya Kyungsoo menyebut pemuda tanpa ekspresi tersebut sebagai kabut yang sebenarnya ingin dia tiup sejauh mungkin agar tidak menghalanginya demi memandangi Jongin.

Namun, Sehun membawa kabut terlalu pekat serta sehitam seduhan kopi hitam hingga Kyungsoo menyadari jika bukan angin sembarangan yang mampu menyingkirkan pemuda tersebut. Kyungsoo membutuhkan deru angin yang lebih kuat, tapi sampai sekarang dia tidak tahu adakah angin seperti itu yang mampu meyingkirkan kegelapan dalam hati Sehun, Jongin serta Luhan.

Cerita mereka terlalu rumit bahkan jika harus menulisnya ulang atau sekedar mengedit, Kyungsoo tidak memiliki kecakapan keculi dia sekarang ternyata telah terlibat. Meskipun tidak terlibat dalam inti pertikaian antar tokoh, tapi dia terlibat karena dia hanyalah figuran yang sengaja dimunculkan agar perjalanan hidup sang toko utama berjalan dramatis.

Dia tidak seharusnya ada disini.

Dan dia seharusnya pergi setelah dia berhasil menyikirkan 1 saja sisi kelam dalam hati salah satu tokoh pemegang cerita suram dan yang menjadi incarannya sejak lama adalah Oh Sehun.

Sehun juga figuran seperti dirinya dan tokoh utama dalam kisah ini adalah Jongin dan Luhan.

Kyungsoo memilih Sehun karena menurutnya, Sehun tidak terlalu membenci hidupnya. Sehun tidak menyalahkan siapapun kecuali Jongin atas kematian ayah Luhan, dia juga tidak berusaha mendekati Luhan untuk meminta maaf bahkan terkesan menghindari kontak sekecil apapun dengan sahabatnya.

Mereka tidak pernah berbicara. Mereka tidak pernah saling memandang. Mereka tidak pernah saling melihat dan itulah yang membuat Kyungsoo terlonjak dari kasurnya.

"kenapa Sehun menghindari Luhan dan baru memulai masalah ketika identitas asli Jongin terungkap dimuka publik ? bukankah Sehun sudah tahu siapa Jongin sejak lama jadi kenapa baru sekarang ?"

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

"Zitao, sarapan dulu sebelum berangkat !"

Tao yang ketika itu berjalan menuruni tangga menjawab perintah ibunya dengan anggukan malas. Matanya bertemu pandang sekilas dengan mata sang ayah kemudian Tao membuang muka sebal.

Tidak ada percakapan hangat dimeja makan keluarga Huang pagi itu bahkan pagi sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya juga selalu sedingin itu. Ayah Tao yang sibuk dengan kopi dan koran paginya, Ibu Tao yang melahap sarapan dalam diam dan Tao yang memasang muka keruh, sekeruh kopi hitam milik ayahnya.

"kenapa kalian pulang kemarin ?" tanya Tao sinis "kukira kalian sudah lupa jika punya anak terlantar disini"

"kami hanya sibuk. Apalagi 3 hari lalu terjadi kecelakaan dan kebetulan ayahmu adalah kepala IGD jadi kami harus menyelamatkan nyawa mereka"

Tao tertawa miris "kalian sangat hebat karena menyelamatkan nyawa orang lain sementara kalian tidak bisa menyelamatkan perasaan anak kalian sendiri" Tao menghempaskan sumpit serta sendoknya ke atas meja dengan bunyi keras "jika seperti ini akhirnya" ucap Tao bergetar "lebih baik aku mati karena penyakit jantung ketika kecil, setidaknya saat itu kalian menyayangiku dan peduli padaku. Tidak seperti sekarang !" jeritnya putus asa "kenapa aku harus sembuh dan kehilangan perhatian dari kalian ?! aku lelah"

"Zitao ! dimana sopan santunmu ?"

"aku tidak punya sopan santun" sergah Tao kasar "tidak ada orang tua yang mengajariku sopan santun jadi jangan memarahiku karena aku tidak bisa sopan didepan kalian terutama Ayah" mata Tao menajam ketika menatap ayahnya yang bahkan tidak bergeming sedikitpun. Membuat emosi Tao terus berkobar dan berkobar semakin besar. Dia tidak mau terus-menerus menjadi anak durhaka jadi lebih baik keluar sekarang dan banting pintunya hingga hancur.

"anak itu" desah Nyonya Huang pasrah "Lihat !" pekiknya keras pada sang suami "jika kau memang merasa sangat berdosa akibat perbuatanmu ketika itu, seharusnya kau menyapa Tao bukannya membencinya. Bencilah dirimu sendiri sebelum kau membenci anakmu. Jantung itu memang ditakdirkan untuk putri kita. Tapi, caramu mengambilnya adalah kesalahan besar"

"jangan mencoba untuk membahas ini lagi" sahut Tuan Huang dengan suara tak kalah keras.

Nyonya Huang membuang sendoknya ke meja lalu menatap suaminya "kita harus membahas ini sekarang karena kau sudah keterlaluan. Zitao anak kita, tidak bisakah kau membaca apa yang dia inginkan ?"

"dia hanya ingin hidup" sahut Tuan Huang kelewat santai. Sesekali membalik Koran paginya meskipun perhatiannya tidak terfokus samasekali pada berita-berita yang tertulis disana sementara kedua tangannya bergetar serta mengeluarkan keringat dingin.

"ya, dan kau telah mengotori hidup anakmu dengan dosa"

"aku memang berdosa" sahut Tuan Huang tidak membantah pernyataan istrinya "jika aku tidak memasukkan obat kimia pada cairan infus Kim Jeseok waktu itu, kau pikir Tao bisa hidup sampai sekarang ?" Tuan Huang menggeleng angkuh "Kim Jeseok akan terus hidup bersama jantung yang sudah dia donorkan sementara kita hanya bisa mengambil jantung itu ketika dia mati. Kita akan terus menunggunya entah sampai kapan lalu yang kita dapatkan adalah kematian Tao karena terlalu lama menunggu donor jantung"

"caramu sangat salah Yeobo !"

"aku tidak peduli" teriak Tuan Huang emosi "meskipun waktu itu diulang kembali bahkan sampai jutaan kali, aku akan tetap membunuh Kim Jeseok dengan tanganku agar anak kita tetap hidup"

.

.

.

Jika kalian ingin tahu seperti apa suasana kematian maka duduklah dikelas ini dan rasakan aura gelap yang menguar dari seluruh penghuni kelas.

Luhan terbang ke China dan itu adalah kenyataan buruk yang harus mereka hadapi dengan mata terbuka lebar.

Kyungsoo mendesah keras. Membanting kepalanya pada permukaan meja, kedua matanya sembab parah.

"Xiumin" panggil Kyungsoo tanpa menoleh "apa Luhan tidak menghubungimu ?"

"tidak" jawab Xiumin dingin dengan mata melotot tajam pada Jongin yang berdiri diambang pintu "aku tidak akan memafkan KIM JONGIN jika sesuatu yang buruk terjadi pada Luhan" tegas Xiumin mengerikan dengan menekankan ancaman pada nama Jongin.

Jongin hanya mendesah pasrah. Berjalan lurus kebangkunya setelah melirik Kyungsoo sekilas. Dia membuang napas lagi ketika semua hal rumit tersangkut dikepalanya. Pening, pening, pening membuat Jongin menginginkan pistol untuk menembak kepalanya.

Suara pintu dibanting terbuka membuat penghuni kelas terperanjat kaget. Beberapa dari mereka mengumpat kesal pada tindakan brutal Tao yang malah bersikap cuek bebek tanpa meminta maaf kemudian melempar tasnya secara asal kearah bangku lalu menelungkupkan wajahnya diatas meja.

Satu lagi orang depresi ternyata muncul disini.

Tidak lama kemudian, bel tanda jam pelajaran berbunyi nyaring mengalahkan suara melengking Baekhyun ketika meneriaki Kyungsoo ketika pertama kali bertemu. Kyungsoo membongkar buku ditasnya secara ogah-ogahan. Jongin memperhatikannya dari belakang, Sehun memasang smirk pada kakaknya lalu membuang muka ke jendela ketika Jongin menoleh padanya.

Chanyeol muncul dari balik pintu mengiringi wali kelasnya dengan setumpuk buku pelajaran dikedua tangan. Beberapa murid mendesah karena yang mereka hadapi adalah guru matematika. Ada kalanya mereka berdoa agar secara ajaib otak jenius Jongin berpindah ke kepala mereka tapi itu tidak mungkin.

Jadi, mari kita menuntut ilmu dengan cara yang masuk akal anak-anak.

Xiumin penasaran dengan apa yang membuat wajah jahil Tao berubah cemberut. Agak aneh ketika Tao sanggup bertahan untuk tidak membully Kyungsoo diawal hari mereka. Well, perubahan yang baik. Sambut Xiumin tersenyum kecil. Namun dia segera menyesal dengan pemikirannya tentang Tao yang berubah baik karena lagi-lagi bocah Panda itu membuat keributan diambang pintu. Bersama Sehun ?

Apa-apaan mereka.

"minggir ! kau menghalangi jalanku" perintah Sehun dingin lalu menerobos keluar kelas.

Sementara Tao menghentakkan kaki jengkel kemudian membanting pintu seenak jidat setelah berhasil melarikan diri dari pelajaran matematika serta amukan bar-bar guru mereka yang matanya nyaris keluar akibat ulah 2 bocah macam Sehun dan Tao.

"aku ingin menghajar semuanyaaaaa !" teriak Tao sambil berlarian menaiki tangga menuju atap. Dia terkejut setengah mati ketika pintu besi menuju atap terbuka secara tiba-tiba bahkan saat tangan Tao belum membukanya. Ekspresinya berubah jengah ketika berhadapan dengan si pelaku pembuka pintu.

"Hey Kungfu Panda. Wah, sepertinya takdir berpihak pada permusuhan kita" sapa Kris riang "dimana Luhan si bocah Rusa ? seharusnya kita bertemu bertiga agar kebencianku pada kalian bisa terlaksana hari ini"

"ya, ya, teruslah berbicara. Aku Panda, Luhan Rusa dan kau Naga" sungut Tao jengkel "minggir dari jalanku Raksasa naïf !" kaki Tao menendang tulang kering Kris, membuat pemiliknya terhuyung kebelakang secara tidak elit sementara Tao yang tidak memiliki perikeKrisan memilih berdecih kemudian mendorong punggung Kris untuk keluar dari area atap kemudian membanting pintu besi tepat didepan wajah kesakitan pemuda pirang jagung jelek bodoh itu.

Kris meringis horror karena hidung mancungnya nyaris menjadi korban kebengisan Tao.

"kau perempuan mengerikan !" teriak Kris jengkel kemudian mendorong pintu didepan wajahnya. Berjalan cepat guna mencari Tao lalu menghajar hobae tukang bolos. Plak ! kau juga bolos Kris ! tidak ! Kris tidak bolos, dia tadi bermaksud ke kelas tapi Tao menghalangi jalannya dan menendang kakinya. Kris tidak terima.

Tangan Kris sudah terangkat diudara, menunggu timing paling tepat demi memberikan jeweran terbaik untuk telinga Panda itu.

"Hiks !" Tao yang berjongkok didepan Kris terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kris menghentikan pergerakannya secara mendadak lalu menurunkan tangannya untuk menyentuh bahu Tao yang bergetar.

"YA ! aku belum melakukan apapun padamu kenapa kau menangis ?" tanya Kris panik. Dia hanya takut jika ada yang melihat mereka kemudian menuduh Kris melakukan yang iya-iya pada bocah polos tapi tidak polos seperti Tao si Kungfu Panda jadi-jadian ini.

"Hiks, kalian jahat ! kalian jahat telah melakukan ini padaku. Aku benci" jerit Tao dengan isakan lebih keras. Kris yang notabenenya sudah panik menjadi semakin panik. Keparanoid-an diotaknya berlarian secara liar dan itu sungguh tidak membantu malah membuatnya semakin buruk.

"aku tidak melakukan apa-apa padamu Dasar Panda !" Kris gagal paham.

Tao semakin menangis. Punggungnya bergerak naik turun akibat isakan. Kris menjambak rambutnya. Bisa gila dia nanti kalau sampai dituduh melakukan sesuatu pada Tao. Lay saja belum dia sentuh, masa dia mau menyentuh Tao sih. Huwaaa ! diam kau otak !

"kenapa kalian tidak membiarkanku mati saja ?!" jerit Tao putus asa kemudian berdiri cepat. Kris yang panik dengan apa yang akan dilakukan Tao dan apa maksud dari kata 'mati saja' membuat dia tanpa sadar mengejar Tao yang berlari menuju pagar di ujung lantai atap.

"Jangan bunuh diri disekolahku !" sanggah Kris menarik lengan Tao dengan kekuatan penuh, alhasil Kris jatuh telentang dilantai dengan Tao diatas tubuhnya dan bibir mereka menempel.

Mata Tao membulat, mata Kris melebar.

Tidak ada yang bergerak sementara sesuatu yang dinamakan jantung terus berdentum-dentum kurang ajar. Pipi Tao memerah mengalahkan warna cabai termerah diseluruh dunia sementara pipi Kris terbakar akibat kobaran api yang berasal dari hatinya yang bergejolak parah. Kupu-kupu tidak tahu diri juga semakin menambah aneh suasana karena terus berterbangan disekitar perut dimana kupu-kupu tersebut hanyalah sebuah ilusi.

Konyol.

Tao yang sadar lebih dulu menarik dirinya dengan canggung. Berdiri cepat-cepat bahkan nyaris terjungkal dan menindih Kris kembali jika saja dia tidak cukup pandai mengontrol tubuhnya. Ini sangat ackward, jadi Tao memutuskan untuk berlari tanpa membantu Kris berdiri.

Sementara Tao lari pontang-panting meninggalkan atap, Kris akhirnya kembali dari dimensi lain. Terduduk linglung diatas permukaan lantai dengan jantung masih berdegup tidak karuan. Dia merasa menggigil ketika perasaan aneh itu terus menerus menyerang hatinya. Ingatkan Kris untuk menghubungi dokter jantung setelah ini.

Kris menyentuh bibirnya.

Sementara ditempat lain, tepatnya diujung tangga terbawah. Tao bersandar pada tembok dengan jari menyentuh bibirnya.

"ciuman pertamaku" bisik mereka secara bersamaan.

.

.

.

-My High School, My Love-

.

.

.

Yang namanya siswa sudah seharusnya duduk di kelas dengan tenang, memasang telinga baik-baik serta mata terfokus pada penjelasan guru atau pelototi saja gurunya karena cara mengajarnya sungguh tidak menarik.

Suho mendengus mungkin sudah lebih dari 100 kali kepalanya sedikit pusing dan dia tahu alasannya apa, lagipula Suho tidak mau memikirkan alasannya karea dia mulai terbiasa dia rasa sakit yang menyerang syaraf otaknya.

Sementara rasa sakit tak tertahankan yang tidak bisa dia usir, Suho menoleh pada Lay dengan mata serta otak tidak fokus. Tentu saja, tidak bisa fokus karena Lay yang biasanya sangat aktif didalam kelas mendadak menjadi manusia paling diam dan yang membuat Suho gagal fokus adalah liontin kompas yang Lay pandangi tanpa henti. Jika saja pandangan Lay mampu menghancurkan sudah pasti liontin itu telah pecah berantakan sekarang.

Liontin itu dari Suho. Kenyataan yang bahkan tidak diketahui oleh siapapun bahkan oleh Lay sendiri.

Sama-sama menyukai tapi sama-sama diam seperti pecundang.

Jika saja mereka punya sebuah kaca besar yang bisa digunakan untuk becermin bersama, sudah dipastikan didahi keduanya akan tertulis 'aku adalah pengecut yang mencintaimu dari belakang'.

Idiot !

Penjelasan guru sangat tidak penting dan Lay juga tidak peduli dengan Kris yang bolos pelajaran meskipun itu agak aneh karena meskipun Kris adalah berandal produk gagal, pemuda itu tidak pernah bolos pelajaran sekalipun. Bahkan ketika demam parah, Kris tetap memaksakan diri untuk mengikuti pelajaran meskipun pada akhirnya dia tertidur di dalam kelas.

Ia pandangi liontin yang sedari tadi digenggamnya, ada perasaan kacau menghancurkan otaknya akibat benda kecil ini.

Siapa pengirimnya ?

Pertanyaan tidak berguna yang tidak pernah mendapat jawaban.

Lay menghirup napas berat, menoleh kesamping dan terpaku pada Suho yang menatap lurus padanya. Hati Lay bergetar nyaman ketika pemuda diseberang tersenyum manis, tapi senyum itu membuatnya ingin menangis karena sungguh dia menginginkan pemuda itu setengah mati. Dia mencintainya sepenuh hati, dan parahnya perasaan merah muda bodoh itu tidak pernah terucap sekalipun. Siapapun pasti tahu mengapa, yeah karena dia sudah memiliki tunangan yang bernama Wu Yifan dimana hal itu akan mengubahnya menjadi Wu Yixing beberapa tahun kedepan.

Kepala Lay menggeleng frustasi, memikirkan pertunangannya saja sudah membuat kepalanya berputar apalagi setelah ditambah liontin kompas ini. Dia ingin seseorang menembak kepalanya atau dia butuh orang baik untuk menjelaskan kepada orang tuanya bahwa dia ingin memutuskan pertunangannya dengan Kris.

Memutuskan pertunangan bukan perkara yang mudah. Kepercayaan, perjanjian, dan banyak hal pasti akan kacau nantinya. Emosi serta kemarahan pasti tidak akan pernah bisa diatasi tapi Lay yakin jika dia dan Kris mampu melewati itu.

Bicara soal Kris, wajah Lay mendadak cemas karena dia harus membebankan semua ini kepada pemuda itu. Jika dipikir lagi, dirinya bahkan belum melakukan usaha apapun untuk memutuskan pertunangan ini sementara Kris sudah menentangnya sejak pertama kali ide gila itu dicetuskan. Kris membantah pertunangan habis-habisan dan apa yang dilakukan Lay adalah sesuatu yang membuat darah Kris mendidih. Lay menerimanya karena dia ingin orang tuanya bahagia, dan yang direncanakannya sekarang akan menghancurkan kebahagiaan orang tuanya. Lay merasa durhaka.

"jangan melamun" Lay terperanjat ketika Suho duduk disampingnya dengan menarik sebuah kursi. Sementara kelas mereka telah kosong dan hanya menyisakan dirinya, Suho serta Jongdae yang berjalan menghampiri keduanya. Pertanyaannya adalah, sudah seberapa lama dia merenung ?

"kau memikirkan sesuatu ?" tanya Suho sementara matanya melirik pada liontin dalam genggaman Lay, yang mana membuat gadis tersebut buru-buru menyembunyikan liontinya ke dalam tas.

'ternyata kau tidak memakainya' batin Suho kecewa tapi dia tetap tersenyum.

"hanya aku merasa bersalah pada seseorang Oppa" jawab Lay menyibukkan dirinya dengan membereskan buku pelajaran dimana dia tidak menyentuhnya selama pelajaran berlangsung "apa Kris sudah menerima Chanyeol di club Basket ?" tanya Lay mengalihkan pembicaran dan dia berhasil atau mungkin karena Suho yang tidak mau ikut campur masalah orang lain.

Suho menggeleng pelan sembari tertawa renyah, Lay tertegun untuk beberapa saat ketika melihat tawa itu dan kegundahan dihatinya terbang entah kemana "ku kira Chanyeol tidak akan masuk club Basket. Dia masih sangat labil dan akhir-akhir ini dia belajar gitar di kamarnya atau terkadang pergi ke kelas musik disekitar Gangnam"

"selabil itu ?" Suho mengangguk "Chanyeol sungguh unik. Nyaris 2 tahun dia bersujud pada Kris memohon untuk masuk club basket dan sekarang belajar gitar"

"tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran anak itu. Dia menyukai basket dan bersujud pada Kris karena tahu bahwa Kris mendapat panggilan terhormat dari pihak NBA. Sekarang dia putar haluan dalam dunia musik setelah melihat Baekhyun si anak pindahan itu di acara TV"

Lay mengangguk sementara dalam kepalanya terisi Baekhyun "aku masih tidak percaya bahkan ketika semua ini nyata. Kau tahu, banyak artis Korea bersekolah disini tapi mereka terkesan menjaga jarak sementara Baekhyun tidak seperti itu. Yang ku tahu adalah dia berteman dengan Xiumin, Luhan dan geng anak rusuh itu"

"ternyata kau mengawasi Baekhyun selama ini" sahut Jongdae yang ikut duduk diantara mereka.

"tentu saja aku harus mengawasi karena aku adalah ketua OSIS selama 2 tahun disini. Yeah, sekarang mantan karena Chanyeol merebut posisiku "

Jongdae terkekeh "kau terkesan menyombongkan diri dan memaki Chanyeol dalam hatimu"

"aku tidak menyombongkan diri. Itu kenyataan" sahut Lay cemberut "omong-omong, terkadang mata Baekhyun membuatku takut"

"kenapa ?" tanya Suho berusaha terlihat tertarik. Jongdae juga memberi isyarat agar Lay melanjutkan pembicaraan.

"jika bertemu Baekhyun, lihatlah matanya maka kalian akan tahu jika Baekhyun menyimpan sesuatu"

"mungkin dia hanya stress" kata Suho mengomentari "menjadi artis bukan perkara mudah karena mereka harus rela diikuti oleh paparazzi, itu lebih mengerikan daripada yang kau bayangkan"

Jongdae mengangguk setuju. Lay berpikir selama beberapa saat lalu ikut mengangguk.

"di mana Kris, aku tidak melihatnya sejak pagi" tanya Jongdae pada 2 temannya. Suho menggeleng sementara Lay memandangi Suho.

Merasa dipandangi, Suho balik menatap Lay membuat satu-satunya gadis disana nyaris terjengkang. Dia menarik napas beberapa kali lalu kembali menoleh pada Suho "aku sudah sangat lama ingin menanyakan ini padamu" Jongdae memandangi Suho dan Lay bergantian "sudah hampir atau entah lebih dari 1 tahun. Kenapa kau tidak pernah berbicara pada Kris ?"

Suho mendadak bungkam apalagi pernyataan tambahan Jongdae sungguh membuatnya panik, dalam hati.

"ya, kau sudah sangat lama tidak berbicara pada Kris. Dia bahkan juga tidak tahu kenapa kau mendiamkannya selama itu dan bukankah ini ajaib, dulu kau dan Kris sudah seperti bakpao dengan isi kacang yang saling melengkapi. Kalian duo sahabat yang keren kukira, tapi kalian tidak pernah saling menyapa sekarang"

Kenapa harus bakpao dengan isi kacang ?

Lay dan Jongdae menanti jawaban Suho dengan harap-harap cemas. Sementara Suho menerawang jauh kedepan, nampak berpikir sangat dalam. Yeah, alasan utama mengapa dia tidak berbicara pada Kris adalah Lay. Suho sudah menyukai Lay sejak lama dan kenyataan menamparnya ketika dia mendengar bahwa Lay bertunangan dengan Kris. Jelas saja hal itu membuat Suho membenci 3 hal dalam hidupnya.

Pertama, kenapa Lay harus bertunangan.

Kedua, kenapa harus Kris.

Dan ketiga, kenapa Lay harus bertunangan dengan Kris sementara Suho mencintai gadis itu hingga membuatnya kesulitan untuk menyapa Kris setelah itu.

Dia membenci Kris ? tidak ! Suho tidak membenci Kris. Dia hanya membenci dirinya sendiri karena terlalu kekanakan serta melimpahkan semua kebencian pada Kris sementara sahabat tingginya itu tidak bersalah. Yang bersalah adalah dirinya sendiri karena tidak berani mengakui perasaannya kepada Lay.

Melihat Suho yang terus melamun sambil menatap Lay membuat Jongdae memikirkan sesuatu dan dia adalah type orang yang mengatakan apapun yang muncul dalam otaknya.

Jongdae memandangi Suho yang matanya terpaku pada Lay sementara Lay juga memperhatikan Suho dengan wajah sedih dan Jongdae tidak sebodoh itu untuk tidak bisa membaca arti dari tatapan seseorang.

"kau mendiamkan Kris karena Lay ?" mata Lay membola atas pertanyaan Jongdae sementara bahu Suho menegang kaku.

'Ekspresi mencurigakan'

Apalagi ditambah kenyataan bahwa Suho muncul dicafe Lay semalam membuat Jongdae tidak bisa mengampuni rasa penasarannya dan Jongdae memiliki banyak waktu untuk memperhatikan Suho dan Lay yang saling berpandangan berulangkali selama pelajaran berlangsung.

Suho menyukai Lay.

Ya, itu adalah alasan terkuat mengapa Suho mendiamkan Kris dan jika dihitung secara cermat maka Jongdae menemukan fakta mengejutkan bahwa kerenggangan Kris dan Suho terjadi sekitar 1 bulan setelah pemuda pirang itu bertunangan dengan Lay.

Siapapun yang mengatakan Jongdae adalah manusia abstrak dan tidak peka maka menyesalah untuk sekarang karena Jongdae adalah manusia terpeka yang pernah ada meskipun dia tidak bisa peka dengan perasaan Xiumin padanya. Jongdae cukup bodoh untuk menyadari itu jadi mari berfokus pada kesimpulan yang menelusup ke otaknya.

Jongdae menatap Lay beberapa saat kemudian menoleh pada Suho "kau menyukai Lay karena itulah kau mendiamkan Kris" itu hanya dugaan.

Suara pintu berderit terbuka membuat ketiga pasang mata menoleh ke asal suara, ketiganya terlonjak kaget mendapati Kris berdiri kaku dengan raut masam sementara Sehun menyandar pada pintu. Nampak acuh tak acuh seperti biasa dan mereka tidak harus mengkhawatirkan Sehun melainkan Kris yang berjalan menghampiri ketiganya dengan ekspresi masam masih terpatri jelas dipermukaan wajahnya.

Suho sontak bangkit berdiri memandang lurus pada Kris yang kini mengulas sebuah seringai padanya. Kris berdecih beberapa saat sementara kedua kepalan tinjunya bersembunyi didalam saku celana.

"rendah sekali" mulai Kris dingin kemudian tertawa paksa "jadi kau mendiamkanku karena aku bertunangan dengan orang yang kau sukai. Dau kau !" Kris menatap nyalang pada Lay yang gemetar ditempat duduknya sementara Jongdae masih sibuk mencerna keadaan yang tiba-tiba saja menegang.

"kau ingin memutuskan pertunangan kita karena kau juga menyukai Suho" Kris tertawa lagi namun terkesan begitu dingin dan mengerikan "hidupku terlalu banyak kejutan. Pertama ayahku menikah tanpa persetujuanku kemudian memaksaku bertunangan dengan Lay. Kedua, sahabatku menjauhiku dan ketiga tunanganku berkhianat padaku. Aku tidak sabar menanti kejutan keempat, mungkin saja ibu tiriku hamil sekarang dan aku akan punya adik. Hey, jangan tegang begitu ! aku hanya ingin memuji betapa hebatnya kalian karena telah berhasil membodohiku. Brengsek !"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Gue kembali guys… gue kembali setelah masa hiatus. Aduh seneng deh karena pikiran gue udah cukup fresh sekarang. Tapi, gue juga gak yakin kalo gue udah hiatus. Rasanya kok kaya gak hiatus ya.

Ini adalah chapter panjang sebagai permohonan maaf gue.

Sorry ya karena gue udah ninggalin kalian dengan 3 ff yang belum gue tamatin 1-pun. Semoga kalian memaafkan keegoisan gue.

Well, kenapa banyak banget yang benci sama KaiLu ?

Heheheeee, gue juga gak suka sama Crack pair. Hati gue ikutan hancur but, siapa Kyungsoo sudah terkuak disini Guys meskipun Jongin belum tahu menahu..

Suho yang pecundang juga mulai bergerak dan akan segera disusul oleh tokoh lainnya. Gue lagi ceria aja nih karena akhirnya si Lay sama Kris merencanakan sebuah pemberontakan. Ketawa evil #plak.

Dan lagi, gue nyelipin KrisTao moment disini. Aww.. mereka berdua.

Yeah, silakan menikmati ketegangan antara Kris, Lay dan Suho…!

Notice :

Back to December chapter 2 udah update but sorry Within Living Memory belum bisa menyusul.

THANKS TO

READER-NIM

Fanfiction ini tidak akan pernah ada tanpa kalian.

Sampai Jumpa di Chapter 12.

Salam pramuka ! Juliana Hwang #gubrak