a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : M

Sorry for typos

.

.


Pt.11 Pieces Of You

.

Taehyung ingat di tahun ketiga sekolah menengah, diumurnya yang kelima belas, ayahnya memukul dirinya sangat keras untuk pertama kali.

Merah meradang, pada pipi yang lepas ditapak, pada bola matanya yang memandang nyalang, pada ujung bibir yang luka. Taehyung masih berani menjawab.

"Aku sudah dewasa, buat aku mengerti!"

"Tolong jangan pukul,Tae lagi, appa."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. toh, tidak ada lagi yang tersisa. Kalian bukan anak , appa lagi mulai sekarang."

Seokjin menggigit bibirnya kencang, dia sudah tau akan seperti ini skenarionya. Yang bisa si sulung Kim lakukan hanyalah memeluk Taehyung erat saat adiknya itu berontak ingin mengejar ayah yang mendorong ibu mereka diatas kursi roda.

Ibu mereka tersenyum dengan raut sedih. Mengangkat lengan lalu memberi isyarat jempol, telunjuk dan kelingking, dengan jari lainnya menekuk.

Ibu menyayangi kalian, sampai kapanpun.

Satu kedipan mata, menyusul rembesan tetes air mata.

Buram dan Taehyung tidak akan pernah lagi bisa bertemu kedua orang tuanya.

Karena;

Keesokan harinya, suami istri Kim ditemukan tewas. Polisi menemukan indikasi adanya pembunuhan berencana. Namun, usutan kasus ditutup selamanya, karena raga tak bernyawa, dan para kerabat yang bersembunyi di kabut keruh masa lalu mereka, sudah tidak ada artinya.

"Jemput mereka, ayah akan menunggu di dalam mobil. Seokjin paham alasan kau menjemputnya."

Dipusara kedua orang tuanya, lutut basah Taehyung goyah. Masih tidak bisa mengerti.

Semua terjadi begitu cepat, bagaimana dia menyesali segala keegoisan dan semua sikap manjanya. Bagaimana dia masih terbayang segala suatu mereka direngut satu persatu secara perlahan. Ayahnya benar, tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan kasih sayang kedua orang tua mereka pun pada akhirnya lenyap.

Tepukan pelan dipunggung Seokjin yang menyaksikan adiknya menangis tanpa suara.

Seokjin menghapus air matanya cepat, menoleh dan mendapati jantungnya berdegup kencang. Inilah saat nya.

"Tunggu, aku akan bujuk Taehyung.."

"Aku saja."

Dua tepukan lain didaratkan di punggung Seokjin. Sulung Kim menekan dada yang melapisi jantungnya kian perih karena dentumannya menyakiti rusuknya, menyaksikan dalam bisu si surai cokelat gelap mengambil beberapa langkah mendekati pusara yang masih basah.

Kerah turtle neck yang memeluk tubuh dinaikan sekilas, masih mengambil langkah untuk mempersempit jarak dengan laki-laki surai karamel yang termenung sambil meremat rumput disekitarnya jemari dari lengan yang terkulai.

"Hei, melamun. Pulang, ayo ikut Hyung."

"Hoseok-Hyung?..."

.

.

.

.

.

.

"H-Hoseok-Hyung?..."

Taehyung bergidik tipis saat nafas hangat Hoseok menerpa lehernya. Otaknya arus pendek, dia kesulitan untuk berpikir dengan benar, padahal dia harus cepat.

Cepat.

Katakan sesuatu.

Bahu Taehyung dibalik, mereka berhadapan. Hoseok pandangi plester besar-besar ditubuhnya. Lalu naik pandangi manik mata cokelat merah tak fokus Taehyung.

"Bagaimana bisa ini terluka?"

Lengan yang menyentuhnya ditepis. Taehyung mundur, terkejut sendiri dengan gerakan yang dibuatnya tapi tetap memaksakan senyum.

"Hei—"

"Ini baik-baik saja, Hyung." Taehyung menelengkan kepala, tersenyum lebih lebar untuk meyakinkan.

"Tentu tidak,"

"Serius, berhenti memanjakanku. Oke? Ini tak apa, tak perlu khawatir."

"Paling tidak katakan, Apa penyebabnya?" Hoseok menyerngit.

Taehyung menghela nafas tipis, tangan naik usap salah satu plester di perpotongan lehernya. Mengirimkan kerlingan sengaja bercanda. "Ada pelanggan, nakal."

"Kenapa Seokjin membiarkannya?" Hoseok meninggikan nada bicaranya, laki-laki ini bisa lebih ribut dari ini, jadi Taehyung mengambil nada bicara lebih pelan untuk menekan ritme debat mereka.

"Memangnya aku berduaan dengan pelanggan bersama kakak sekalian?"

Kedua alis Hoseok menukik tajam, mengangkat bahu, mengedik perlahan dan dimata Taehyung itu cara merajuk yang sangat bukan Hoseok sekali.

"Uh, posesif." Taehyung memajukan wajahnya mencoba mensejajarkan dan mengunci pasang mata mereka berdua. Mundur dan Hoseok mengikuti. Bagus.

"Tidak boleh?"

"Tidak boleh." Taehyung tersenyum sebelum memberikan desakan lain agar Hoseok makin mundur dari tempat terakhirnya berdiri.

Satu kecupan dipipi, Taehyung harus melakukan ini karena sejak dulu itu cukup untuk melenyapkan kerutan resah dan cemburu di dahi Hoseok. Senyum kecil dari laki-laki yang memiliki temperatur lebih hangat dari Taehyung itu terbit. Oh baiklah, mari keluarkan dia dari sini sebelum angkara lain terpicu.

"Sudah, mau ikut sarapan?" Taehyung sekarang mulai agak mendorong tubuh Hoseok ke arah pintu, mereka terhuyung sedikit, dan tengkuk Taehyung makin meremang menangkap 'tuk' tipis dari pintu kamar mandi jauh di belakang mereka.

Hoseok menggeleng. "Tidak.."

"Tidak mau?" Taehyung berhasil mengeluarkan keduanya hingga lorong sebelum keduanya tersentak bersamaan;

"Tidak untuk tidak berlama-lama. Jung Hoseok untuk apa kau disana."

Taehyung otomatis menurunkan lengan yang tadi bersentuhan bahu Hoseok.

"Kudengar kau penyebab kebakaran semalam? Jangan kau ulangi lagi."

"Ayah.." Yang dipanggil Ayah oleh Hoseok tidak memindahkan tatapan dari Taehyung, tetap melanjutkan.

"—dan berhenti buat kakakmu berbohong untuk selalu melindungimu. Aku akan tau."

Kalimat yang cukup pedas itu diucapkan dengan ekspresi kelewat datar. Suara tuan Jung tidak menuntut namun cukup untuk membuat Taehyung secara literal bertekuk lutut. Dia harus, agar tidak ada orang yang perlu disakiti.

"...Baik, saya tidak akan mengacaukannya lagi."

"Ayo kita pergi."

Hoseok menyayangkan timingnya pagi ini ternyata kurang tepat. Tujuannya kemari bukan untuk diseret ayahnya untuk pergi begitu saja seperti ini.

"Taehyung, paling tidak balas pesan-pesanku, oke?" anggukan Taehyung cukup jelas untuk mengabulkan permintaan Hoseok.

.

.

.

.

Jungkook duduk diam, tidak angkuh, tidak canggung, dia hanya banyak melamun. Taehyung memaksanya untuk ikut sarapan di meja bundar diantara sup miso, Ikan panggang, tsukemono dan kobachi bersama dengan Seokjin.

Kakaknya tidak terlalu banyak bicara juga, karena pikir Seokjin tidak perlu ada yang dibicarakan. Seokjin sudah lama resah, dan yang memenuhi pikirannya sekarang adalah Ia terlalu takut bagaimana Taehyung terlihat nyaman bersama Jungkook.

Seokjin meninggalkan mereka bersamaan dengan pelayan yang membantunya membereskan sisa makanan di meja. Taehyung berdiri untuk ikut membawa beberapa gelas. Menutup fusuma dibelakangnya dan menyekat Jungkook didalam.

"Hyung, apa yang tuan Jung katakan?" Taehyung mensejajarkan langkah dengan Seokjin.

"Dia menengok kau juga, ya?"

"Hanya katakan saja, please?"

"Tidak ada, tenang saja. Hanya hal biasa yang selalu dia tanyakan, tentang tempat ini, tentang bagaimana nyonya Jung mengejek mengkaitkannya dengan hutang keluarga kita melulu." Seokjin tertawa kecil, dan Taehyung tau itu bukan hal yang mereka berdua anggap lucu.

"Aku tidak akan mengacau lagi, aku janji. Kalau sampai ada terulang kembali. Aku sudah dewasa, aku kuat menahan sakit, aku bisa menerima cercaan. Jangan menanggungnya sendiri."

"Hei, Tae-ya. Hyung melakukan ini karena Hyung mempedulikanmu, dan Hyung pikir sungguh konyol masalah ini dibesar-besarkan setelah ada yang mengadu. Hanya berapa perabot yang rusak, kamar yang terbakar itu sudah didatangi untuk diperbaiki mulai pagi ini. Apalagi yang salah, profit tempat kotor ini masih tinggi, mereka hanya terus berusaha menyakiti kita perlahan. Hyung mulai terbiasa."

"Aku mengerti, tapi untuk selanjutnya aku ingin kau berjanji jangan melindungiku sebegitu banyak."

"Hyung hanya minta padamu, jangan dekati api, jangan masuk dalam ilusi, Tae. Hyung tidak yakin bisa ada disana untuk lindungimu, kuharap kau paham maksud Hyung. Mari kita hentikan ini."

Taehyung membaca maksud kakaknya itu, tapi tidak. Taehyung belum memutuskan mana yang benar. Kakaknya terlalu takut mengenai hal ini. Taehyung yakin itu lah yang membuat hubungan Namjoon-Hyung dan Seokjin-Hyung tak pernah berhasil.

Kalau terus seperti ini, apa yang pada akhirnya mereka miliki?

Taehyung tidak ingin mengacau, meletakkan mereka berdua di titik teraman jauh dari jurang penderitaan. Turus waktu berjajar, dan harusnya mereka menyadari bahwa ini tidaklah cukup. Mereka berhak akan kebebasan, dan Taehyung ingin kakak ikut berlari bersamanya. Pasti ada cara.

.

.

.

.

"Sudah ada rencana pulang?" Taehyung membuka pintu geser lebih lebar.
"Sebentar lagi supir akan menjemput." Jungkook berdiri setelah meraih beberapa barang pribadinya. Mendekati Taehyung lalu mereka berjalan bersisian menuju lorong ruang tamu paling depan.

Sofa beludru bulat cukup luas untuk menenggelamkan kedua tubuh mereka. Taehyung duduk tenang.

Saat Jungkook menatap Taehyung, ada luapan gelisah yang dia rasakan diantara kebahagiaan bisa memiliki Taehyung dalam jarak sedekat ini tanpa canggung.

Ya, bayangan kekacauan semalam masih ada. Dan sesungguhnya Jungkook ingin lebih banyak kejelasan.

"Tae, apakah Jimin, benar-benar pernah merayumu? Pernah melakukan sesuatu dengan mu.."

Taehyung agak terkejut mendengarnya. "Iya, dia tidak merayu, karena orang yang seharusnya merayu di kamar saat itu adalah aku. Dan kami tidak, tidak sejauh yang kau pikirkan."

"Sungguh?"

"Aku mulai menyesali perkataanku semalam, tentang mencoba berjuang." Taehyung terkekeh kecil.

"Tidak, aku tidak bermaksud meragukan jawabanmu."

"Kau butuh kepastian, itu sama sama Jungkook. Bagaimanapun, terima kasih untuk ketenangan yang kau berikan semalam." Itu Taehyung.

"Oke, aku percaya."

"Bukankah itu adalah sesuatu yang pasti menjadi resikomu?" resiko kita, dilanjutkan di batin Taehyung.

"Aku tau, aku hanya penasaran, dan kau sepertinya tidak suka dengan ide menceritakan kehidupan sex mu. Semakin memikirkannya semakin aku ingin hal semacam ini segera berakhir."

Hah? sex?

Taehyung bahkan tidak pernah menjajakan dirinya untuk itu. Hanya Jungkook, dan itu pun terjadi karena racun yang Jungkook bawa malam itu.

Taehyung terdiam. Alih-alih mengatakan hal jujur dia hanya bersandar makin menekan busa beludru dibelakangnya, alihkan pandangan.

"Baiklah, karena kau sudah mengijinkanku, aku berjanji membuat ini benar kembali. Lalu akan ku jemput kau."

"Kau sehebat itu? Punya rencana luar biasa?"

Apakah mereka akan berhasil?

Jungkook mengerutkan kening sekilas, lalu tersenyum tipis. "Cukup yakin untuk jadi pahlawanmu."

"Cobalah, jagoan. Kutunggu di tower kastil paling atas. Aku tidak bisa menghentikanmu, aku tau itu."

Suara derum mobil yang sudah Jungkook hafal mengalihkan. Jungkook melirik keluar dan disana sudah datang trensportasi untuknya. Dia harus kembali ke kantor, walau sangat besar keinginannya untuk tetap bersisian dengan Taehyung.

"Itu salah satu milikmu?"

"Yeah, aku akan pergi sekarang." Jungkook berdiri diikuti anggukan Taehyung yang tak bergeming dan masih dipeluk sofa bulat.

Jungkook menggigit bibir tipis, dia membalikan kembali punggungnya yang menghadap Taehyung. Taehyung menaikan alis dan tersenyum lucu.

"Ada yang tertinggal?"

"Uh, Aku ingin memelukmu."

Taehyung gemas melihat tingkah manis Jungkook, dia berniat memberikan kesempatan itu dan berdiri berhadapan cukup dekat dengan sang penguasa Jeon Corp, itu akan membantu ini lebih mudah. "Kau sekarang cukup sopan padaku, menanyakan ijin segala."

"Bolehkah?"

Taehyung mengangkat bahunya main-main, dan membuka bentang lengannya. "Kemari."

Tangan Jungkook terselip diantara pinggangnya, dan Taehyung mengangkat lengan mengungkung melewati leher. Ini Hangat, Taehyung suka dipeluk.

Dagu runcing Jungkook sedikit menggelitik bahu Taehyung saat berujar dekat dengan telinganya. "Katakan padaku, apapun yang kau butuhkan, apapun yang kau inginkan, hal-hal.. uh basic? aku mencoba menjadi gentleman, semoga ini tidak terdengar payah."

"Aku tidak tahu kapan aku siap diperlakukan seperti ini." Taehyung memainkan jemarinya diantara kerah kemeja Jungkook yang baru saja dicuci dan keluar dari pengering.

"Kalau kau belum bisa disebut pacarku, aku cukup oke dengan itu. karena kau akan."

Gila, rasanya seperti gula-gula dirayu sedemikian. Taehyung membalasnya dengan dengusan, dan Jungkook menarik wajahnya memperhatikan Taehyung dengan mata mendamba. Cara Jungkook mengkaitkan jemarinya dibalik pinggang Taehyung membuat merinding sepanjang tulang belakangnya, namun mereka tak bisa banyak mengambil waktu saat ini.

"Pulanglah."

Jungkook melambai, dan Taehyung tersenyum sambil mengangkat tangannya singkat.

Apabila sesuatu akan menghentikan Jungkook nanti, saat ia tak cukup kuat, kala ia mulai jera, atau mungkin ia tersadar dan menyesalinya, Taehyung rasa dirinya tak cukup rela untuk mengucapkan selamat tinggal pada laki-laki ini.

Apakah ini bagian dari siklus jatuh cinta?

.

.

.

Turun dari bus, satu helai daun kering terselip di saku jaketnya. Taehyung menepuknya jatuh lalu menginjaknya setelah itu mendarat di atas aspal. Tak lupa memberi salam dan terima kasih pada pengemudi bus dalam kota, Taehyung kemudian membawa tapak kaki dalam sepatu ketsnya jauhi halte bus.

Siang ini cuaca cerah, tidak ada angin kering berhembus karena pergantian musim sudah dekat. Taehyung memiliki hodie yang sangat membantu jagai tubuhnya agar tetap nyaman.

Lehernya agak pegal tapi itu bukan masalah besar. Taehyung mengulum senyum sebentar lalu menggelengkan kepala. Tadi dalam bus dia sempat mengecek ponselnya dan disana dia menemukan dua mail paling menarik perhatian diantara tumpukan chat ads. Satu milik Hoseok satu milik Jungkook.

Taehyung mengabulkan keinginan Hoseok untuk membalas pesan-pesan darinya. Dan ya, klarifikasi pendek sudah Taehyung ketik dan kirim padanya, semoga itu cukup membuat Hoseok mereda.

Satu lainnya milik Jungkook dan itu cukup konyol, terlalu cheese. Taehyung menebak Jungkook menyalin pesan itu dari situs percintaan atau web yang memuat tips pendekatan dan semacamnya. Taehyung kehilangan akal untuk membalas dengan hal serupa dan berakhir menertawainya.

Seratus meter lagi sampai di minimarket tempat shift siang nya bekerja. Taehyung berjalan pelan sambil melamun.

.

.

Taehyung tidak merasa besar kepala memiliki mereka yang memperebutkan atensinya. Tidak. Awalnya dia hanya mencoba bersikap adil pada siapapun, itu yang Seokjin-Hyung katakan padanya, dan Taehyung mengikuti sarannya. Nyatanya, hal ini hanya menjadi bomerang bagi mereka.

Taehyung tidak bodoh untuk mengetahui Hoseok menginginkannya, tapi tidak ada jalan bagi mereka, tidak ada juga muara untuk perasaan yang dimiliki si tuan muda.

Sejujurnya, Taehyung lebih menganggap Hoseok sebagai kakak lain untuknya. Mengingat dirinya pernah bersama Hoseok untuk beberapa waktu silam.

Kala itu,

Hoseok lah yang mengajari banyak hal padanya untuk pertama kali. Selepas mereka dibawa ke rumah terpisah di kediaman Jung, saat Seokjin pontang-panting mengikuti tuan besar Jung dan Taehyung hanya ditinggalkan sendirian karena sikap manjanya belum terlepas dari benaknya. Ada Hoseok disana.

Hoseok mengajari beberapa pelajaran yang ditinggalkannya, mengajarinya tata krama baru yang harus dilakukan di lingkungan Jung, mengajari Taehyung untuk berhenti menjadi anak manja dan memaklumi setiap waktu dimana dia kehilangan atensi dari Seokjin.

Mereka memang sempat membuat beberapa kesalahan. Pada akhirnya kesalahan terbesar datang dan menjadi penyebab kakak beradik Kim harus tinggal terpisah dari keluarga Jung. Kesalahan terbesar itu adalah pada saat Taehyung terbiasa mendapatkan ciuman dan cumbuan nakal diatas tilam.

Hoseok mengajari Taehyung untuk menjadi dewasa dalam bersikap, juga dewasa diatas ranjang.

Taehyung awalnya tidak mengerti, namun hal-hal yang dilakukan Hoseok menjadi sebuah kebiasaan. Hoseok sering menyentuhnya dengan gemas lalu merambati kulitnya panas. Dan kenyataan dimana Taehyung menikmati salam hangat 'kakak' barunya itu semakin membuat ini terasa memalukan.

Mereka tidak sampai melakukan hubungan badan namun Taehyung gemetar setengah mati saat tertangkap basah kepala pelayan ketika Hoseok menciumnya dengan beberapa kuluman dan jilatan lidah.

Setelah peringatan dan pengusiran itu, mereka tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama. Bertahun tinggal di apartemen lusuh, Seokjin banyak berubah dan Taehyung semakin gusar diselimuti rasa bersalah. Seokjin diturunkan derajatnya yang sebelumnya menjadi salah satu staff di kantor menjadi salah satu bagian dari House of Card milik Jung Corp. Taehyung tidak pernah meminta tapi kakaknya akan selalu ada pada garis terdepan merelakan apapun untuk menjaganya.

Itulah mengapa, Taehyung akan menjadi monster paling jahat apabila mengabaikan perkataan dan ingin kakaknya.

Saat cukup umur, dan Taehyung sudah tidak tahan melihat kakaknya 'babak belur'. Taehyung memutuskan ikut bekerja di House of Card, Tuan Jung menatapnya tak bergeming dan Nyonya Jung sangat menikmati wajah menahan tangis Taehyung di malam pengakuannya.

Taehyung belajar macam-macam hal baru kembali. Tempat favoritnya adalah berada dalam dapur, diantara koki ramah, dan diantara tumpukan herbal. Namun bukan disana waktunya banyak dihabiskan.

Kendatipun, Taehyung tidak pernah mengharapkan skenario cerita semenyedihkan dan menjijikan ini. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang selama ini kakaknya dan mereka lakukan di dalam sana. Mereka seperti boneka, dan Taehyung menjadi salah satunya. Dilukis diwajah, diwarnai bibir, dipakaikan baju menawan, pasang senyum sensual.

Taehyung jalani ini demi semua utang budi yang mencengkram dia dan Seokjin. Taehyung sudah terbiasa disentuh Hoseok jadi ini akan lebih mudah.

Ditengah proses dia menjadi makin profesional, lihai dan ramah menyapa tamu memuakan, Hoseok datang menjadi salah satu pelanggannya. Ada rindu disana, seperti bertemu kembali dengan kakak yang menghilang bertahun lamanya.

Tapi beberapa hal berubah, Hoseok masih sehangat dan sebaik yang dia ingat, namun raut sedih Hoseok diterima Taehyung sebagai sinyal kasihan padanya. Taehyung menyadari, dibawah sadar laki-laki itu memperlakukan dirinya sama seperti salah satu dari mereka, juga dengan begitu posesif.

Kata cinta tidak ada artinya lagi saat Taehyung harus jatuh dibawah Hoseok di malam pertama mereka di salah satu kotak ruangan beraroma musk, karena Taehyung tau laki-laki ini juga bagian dari penyebab dirinya terdampar disini. Genggaman tangan dan senyum yang di sajikan Hoseok dia terima, namun tidak dengan perasaannya.

.

.

Mata Taehyung agak memicing saat berhenti di perempatan jalan menunggu tanda nyala menyebrang menjadi warna hijau. Memori-memori itu masih berputar di kepalanya. Namun kali ini Taehyung memutuskan untuk menghadapi nasib nya dari sudut pandang yang berbeda.

Bunyi gear sepeda mendekat kearah Taehyung yang menapaki trotoar. Ada Minjae disana menyapa.

"Taehyung-ah! Bagaimana kencan kemarin?"

"Apanya yang kencan."

.

.

.

.

.

Sejak pagi mood Jungkook sangat bagus. Sejauh ini tidak ada bentakan atau kalimat tajam yang ia lontarkan untuk membalas laporan para staf dan manager nya. Hingga Jungkook tau kalau sore nanti dia ada rapat dengan Jimin dan Hoseok.

Jungkook menumpuk map hitam terakhir yang harus ditanda tanganinya, menyandarkan tengkuk di sandaran lalu mutar kursinya pelan. Pandangan Jungkook tertuju pada foto Taehyung kecil, Jungkook tersenyum mengelus permukaan foto itu sekilas.

Jungkook membawa tungkai nya menopang langkah menuju jajaran kabinet yang menyimpan kontrak, surat perjanjian, dan beberapa klausul. Memasukan tangan ke kedua saku celana, Jungkook menelengkan kepala membaca deretan tulisan beberapa cover map tebal. Satu gumaman mengudara, Jungkook sudah final dengan keputusan miliknya dengan dukungan kepercayaan ayahnya.

Aku akan membebaskan dia, apapun cara dan hadapi resikonya.

.

.

.

"Kau pasti bercanda." Itu Hoseok, setelah beberapa direksi dan konsultan bubar dari meja rapat. Mereka bertiga mendapatkan waktu pribadi.

"Jungkook?" Jimin berujar heran setelah penuturan Jungkook, laki-laki itu masih belum mau menatap sepenuhnya dirinya setelah situasi keruh kemarin, dua teman itu belum memiliki kesempatan untuk penjelasan.

"Aku serius, kita memang ada dalam proyek yang sama tapi bagaimanapun kita ini corp yang berbeda. Kontrak kita akan habis masa berlakunya sebentar lagi karena jasa produksi vendor yang non unlimited. Kita akan membuat yang baru, aku meminta hak ku dalam salah satu klausul, saat tender selanjutnya aku akan ingin exchange beberapa saham milikmu."

Hoseok menaruh kecurigaan padaJungkook. "Kita sudah mendapat untung sangat besar tanpa permainan tender dan pasal di kontrak lagi. Kita masih bisa perpanjang dan melakukan ini dengan lebih mudah. Apa lagi yang kau inginkan?"

"Aku barusan meneliti perjanjian kita, sebagian milik kalian itu milikku, kalau kontrak lama terputus dan kita membuat kontrak dengan beberapa pasal baru, aku ingin di addendum selanjutnya ada pembagian saham dengan klasifikasi yang memuaskan."

"Untuk apa kau ingin melakukan itu?" Jimin menengahi lagi, merasa kalau pembicaraan ini tidak beres mengingat Jungkook selalu emosional ketika berhadapan dengan Hoseok.

Jungkook melirik Jimin sekilas, lalu menggulirkan kelereng mata sewarna jelaganya lagi ke Hoseok. "Aku hanya ingin exchange, dan yang kupilih House of Card dari Hope Corp menjadi milikku. Aku tidak perlu menjelaskan dan kalian tidak perlu menganggap ini suatu keegoisan karena kita sama-sama tau, ini sebagai balasan atas apa yang pernah kukorbankan di awal perencanaan bill quantity tambang kita. win-win."

"Kita sedang membicarakan saham dan cabang perusahaan, untuk apa kau melirik investasi yang tertanam disana."

"Sebagian milikmu adalah milikku. Profit dari proyek ini mengalir ke usaha itu, kau pasti kenal Kim Namjoon, dia pengolah sumber daya dari tambang kita lewat jalur perusahaan fashion Jimin, perhiasan yang dikenakan pelayan malam disana, sematan di hakama, hiasan ruangan. Aku tau bagaimana alurnya."

Jimin diam, sejak House of Card disebutkan, seperti ada yang sesuatu yang menahan di tenggorokannya. Kepalanya mulai pusing memikirkan bagaimana kemarin malam Jungkook tetap tinggal dan meraih Taehyung yang penuh luka dengan khawatir.

"Ini tidak masuk akal, aku yakin kau memiliki sesuatu lain yang kau cari. Katakan disini sekarang." Hoseok mulai melepas kancing teratas kemejanya. Tensi dalam ruangan ini makin memberat untuk dirinya.

"Ya, yang aku inginkan saham milik Kim, aku tidak akan melaporkan ini ke kepolisian mengenai koin gelap itu, kau tau dan aku tau kemana arah bicaraku," Bola mata Hoseok melebar, rahang mengeras siap mengumpat dan sebelum itu terjadi, Jungkook melanjutkan "Itu tidak terdengar seperti aku mencuri sesuatu darimu, kan?"

"Kau mengancamku?!" Peduli setan, darimana anak ini tau soal saham gelap taking over dari keluarga Kim. "Park Jimin, lihat, juniormu ternyata dia seorang yang tamak dan licik."

"Ini terdengar seperti kau akan menusuk rekanmu dari belakang, kau tahu." itu Jimin, dia ikut terkejut mengenai hal yang bertahun silam cukup tabu dibicarakan diangkat oleh Jungkook. Mengenai runtuhnya salah satu platform bisnis menengah atas yang berkaitan dengan kematian pemiliknya.

"Aku tidak ingin mengusik lagi mengenai koin hitam. Hanya berikan apa yang aku mau, rasanya tak terlalu sulit."

Hoseok menggebrak meja, berdiri diatas kedua kakinya, mata menatap tepat ke Jungkook. Dia tidak bisa mengatasi tempernya apabila dihadapkan dengan konteks ini. "Apa. Yang. Kau. Rencanakan. Bocah."

Jungkook ikut berdiri, berucap sombong. Inilah yang dia nantikan. "Aku ingin mengambil, Taehyung-ku."

Dua orang lain dalam ruangan itu terkejut setelah nama itu disebut. Sekarang Jimin benar tahu alasannnya, begitu pula dengan Hoseok yang serta merta terbakar emosinya. Hoseok mengambil seribu langkah menerjang Jungkook dan mencekal kerah kemeja armani miliknya.

"Dia bukan barang yang bisa kau beli, brengsek!"

Jungkook ikut balas geramannya; "Dia juga bukan boneka yang harus kau simpan selamanya, bangsat!"

"Apa urusanmu dengan kehidupannya?! Apa yang kau tahu tentang dia?!"

"Kau tidak akan senang mendengarnya, jadi tak perlu kukatakan."

"Bajingan! Katakan-"

"Tuan muda Jung menggertak dua kali, ini sangat mengejutkan bagaimana dia mengacaukan kontrol akan dirimu sendiri." Jungkook kembali dengan api di lidahnya.

Hoseok mengerang, melepas salah satu cekalan tangannya.

Sebelum Hoseok menghantamkan tinjunya ke rahang Jungkook, Jimin meneriaki mereka, mendekat dan memisahkan cengkraman satu sama lain dengan dorongan kuat. Jungkook mendecih, Hoseok masih terengah.

"Baiklah teman-teman, kalian harus menapak kembali ke bumi. CCTV merekam kalian, dan Hoseok-ssi ini bukan daerah kekuasaanmu, aku mencoba menyelamatkanmu dari masalah lainnya."

"Harusnya aku menyadari ini sejak awal." Hoseok terkekeh, "Kukatakan padamu, kalau bukan karena proyek ini telah didukung segenap platform ayahku, kupastikan aku akan muak berhadapan denganmu lagi. Lihat dan perhatikan jalan mainnya, kid. Aku tidak akan semudah itu membiarkan apa yang kau inginkan terjadi. Kontrak ini masih hidup, dan sebaiknya kau perhatikan lagi strategimu. Dia tidak akan ikut denganmu!"

"Biarkan dia memilih."

"Memilih kau bilang? Kau berhalusinasi apabila membayangkan semudah itu mendapatkan perasaannya."

"Kau tidak tahu apa yang telah aku lalui."

Pikiran Hoseok berantakan, selengah itukah dirinya sampai membiarkan Taehyung benar-benar mencoba berpaling darinya. Tidak, taehyung harus tetap disana, disisinya. Melihat wajah sombong Jungkook sungguh sangat memuakan, Hoseok butuh melunturkan keangkuhan itu.

Hoseok masih menggerit berbahaya, mendekatkan wajahnya kembali ke sisi kepala Jungkook, lalu sebuah dusta mengudara.

"Aku sudah ratusan kali tidur dengannya, seorang Jeon Jungkook menginginkan barang bekas? Itu menggelikan."

.

.

.

.

Dibelahan lain distrik Gangnam. Bukan sore, tidak, ini senja menggelap. Jarum pendek jam tangan nyaris mengarah enam.

Taehyung terpekur diatas kursi, dibawah payung-payung teduh yang digelar di depan minimarket, diantara milkis dan kopi susu dingin, Ia duduk bersandar dengan Yoongi disisinya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

.

.

.

TBC

.


.

LMAO gue kenapa sih jadi bertele-tele gini, Maafin ya lagi suntuk akutuh sama hectic nya rl, semoga emosi aku engga menambah acakan-acakan tulisan ini ((mental breakdown))

mic, mic, bungee.

Berhubung masih bulan puasa, tadinya ini mau ada nganu nya... tapi yha.. yha udah aku rombak ulang lagi. demi kemaslahatan ibadah kita lol. Selamat beribadah yaa love!

Oiya, Aku mau komitmen sama diriku sendiri. Mulai minggu depan tiap minggunya aku akan update satu cerita, entah lanjutan atau story baru. semoga benar-benar bisa terlaksana. hihi.

Eiy Terima kasih udah baca dan menantikan ini, semoga chapter ini engga mengecewakan. Hit me on review box! Let me know, your though;)

Eh ayuk mutualan di Twitter sama Wattpad yuk? Cek cek yaa di akun sugarunning95 , nanti aku followback ini hihi. See you.