Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback
Chapter 11
Beritahu Aku Kebenaran
Itachi berlari cepat tanpa arah dan tujuan, dia tidak tahu ingin pergi ke mana, dia ingin lari dari semua kenyataan yang baru saja didengarnya.
'Ibu…. Apa kau membenciku?' Kata-kata itu terus saja berulang dibenak Itachi, saat ini otaknya bahkan tidak bisa memikirkan apapun lagi selain hal itu. Rasa sakit di hatinya seperti benar-benar nyata, terasa panas dan perih, dadanya sesak, kepalanya berdenyut-denyut, namun di antara itu semua kekecewaan pada ayahnya adalah yang paling menyiksa. Ayahnya telah menyakiti wanita yang menjadi ibunya, dan kehadirannya di dunia ini pun mungkin tidak dikehendaki, hidup Hinata Hyuga, ibunya, hancur karena kehadirannya.
"Ibu…..!" Itachi merasa lebih baik dia mati saja sekarang juga dari pada harus menanggung luka ini.
"I… I… Itachi-kun tunggu!" Eri berlari terpontang-panting mengejar Itachi, tersengal hampir kehabisan napas.
"Pergi Eri!" Suara bergetar yang terdengar marah datang dari Itachi yang berlari di depannya. Eri terkejut, dia tidak pernah mendengar suara seperti itu datang dari seorang Itachi. Tidak menuruti perintah itu, Eri terus berlari sekuat tenaga untuk mengejar Itachi yang terkenal sebagai genin paling cepat diangkatan mereka. Suara isakan pilu Itachi yang samar-samar terdengar sangat menyedihkan di telinga Eri.
"Itachi-kun!" Eri merasa tulang-tulang di kakinya sudah bergeser semua sekarang, Itachi sangat cepat. Tapi dia tidak mau menyerah, Itachi memerlukan teman di saat seperti ini.
"Tolong tinggalkan aku sendiri Eri!" Sosok pemuda yang selalu dikagumi Eri itu terdegar mengiba dan kesal di saat bersamaan.
"Aku tidak mau!" Eri berujar keras kepala, dia tidak akan pergi, dia ingin menghibur Itachi. Saat sedih Eri tidak ingin sendirian. Ketika dirinya sedih dia ingin dipeluk dan didengar segala keluh kesah dan kemarahannya. Sehingga saat ini dia tidak ingin meninggalkan Itachi sendirian karena jika itu adalah dia, kesendirian akan membuatnya merasa tercekik.
"Pergi!" Itachi berhenti tiba-tiba, ia berteriak nyaring dan kasar ke arah Eri. Eri terduduk jatuh karena kaget. Wajah Itachi kini menatap Eri garang dengan mata merah menyala. Eri terdiam dengan mulut terbuka, selama 6 tahun hidupnya mengenal Itachi tidak pernah sekalipun dia pernah melihat Itachi seperti ini.
"Itachi-kun, apa yang dikatakan Hanabi-sama tadi….." Eri berusaha untuk menghibur Itachi dengan mengatakan kalau mungkin saja yang dikatakan oleh Hanabi tadi tidak sepenuhnya benar, dia ingin Itachi melihat ini semua dari sudut pandang yang lain dari pada langsung menelan bulat-bulat perkataan Hanabi, tapi belum sempat gadis itu mengungkapkan apa yang ada dibenaknya teriakan geram Itachi kembali terdengar.
"Pergi…!" Sekali lagi Itachi berteriak pada Eri, membuat gadis malang itu tersentak tubuhnya. Saat ini Itachi tidak ingin Eri melihatnya seperti ini. Di samping itu dia tahu kalau gadis ini juga telah mendengar semua kebenaran tentang dirinya, dia tidak ingin siapapun mengasihaninya.
Meski tidak ingin Eri akhirnya putus asa, dia beringsut menjauh dari Itachi yang masih memandangnya sengit, sang gadis Yamanaka itu menangis tanpa suara saat berlari menjauh dari Itachi. Derap langkah Eri yang terburu-buru berlari pergi seolah menyadarkan Itachi atas perlakuannya pada gadis malang itu. Dia akhirnya bisa menyadari Eri bermaksud baik, gadis itu hanya ingin menemani dan mengiburnya, tidak seharusnya Itachi melampiaskan rasa sedih dan ketidak berdayaannya ini dengan berteriak-teriak padanya. Suasana hati Itachi menjadi semakin buruk, dia tidak bisa menerima semua kenyataan ini, semua ini terasa begitu menyakitkan, dia tidak ingin menerimanya.
Eri berlari menjauh sambil mengangis, dia kecewa pada dirinya yang sempat merasa takut pada Itachi, harusnya dia tidak boleh takut, harusnya saat ini dia memeluk Itachi dan menenangkannya bukan malah berlari pergi. Tapi Eri hanyalah seorang gadis kecil , meski tidak ingin, nyalinya ciut saat Itachi mulai menggeram marah padanya. Langkah Eri terhenti tiba-tiba saat sepasang tangan besar dengan sigap menangkap bahu Eri, Eri yang terkejut segera ingin berontak namun bisikan 'Stttttt' membuatnya diam dan menatap pemilik tangan besar itu.
"Hokage-sama?" Eri terkejut melihat sang pahlawan Konoha tengah memandanginya dengan mata sebiru langit. Naruto mengangguk pelan kemudian membungkukkan badannya agar bisa sejajar menatap mata Eri, perlahan Naruto mengusap air mata yang mengalir di pipi Eri dengan lembut.
"Tolong maafkan Itachi!" Naruto berujar pelan, sejak tadi dia sudah berlari membuntuti, berusaha mencari tahu sumber dari kekacauan yang telah terjadi.
"Aku yakin dia tidak bermaksud memarahimu Eri-chan!" Naruto mengusap lembut puncak kepala gadis Yamanaka itu. Eri mengangguk-angguk mengerti, dia paham betul keadaan Itachi saat ini, dia sama sekali tidak marah padanya, hanya sedih saja, dan kecewa pada dirinya yang penakut.
"Sebenarnya apa yang dikatakan Hanabi pada Itachi?" Naruto bertanya pelan, gadis ini tadi mengucapkan sesuatu tentang perkataan Hanabi, meski sedikit banyak Naruto sudah bisa menebak tapi dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Sejenak Eri terlihat ragu-ragu memandang Naruto, namun dia merasa kalau sebaiknya dia katakan saja yang sebenarnya.
.
.
.
Naruto menggeram kesal setelah mendengar cerita Eri, tega-teganya Hanabi mengatakan hal seperti itu pada Itachi. Demi tuhan Hanabi, terbuat dari apa hatinya itu?. Naruto tidak habis pikir, Hanabi lah orangnya yang menyuruh Sasuke dan dirinya untuk bersumpah merahasiakan semua ini dari Itachi, tapi sekarang justru dia sendirilah yang membongkarnya.
"Apa semua itu benar Hokage-sama?" Eri bertanya pelan pada Naruto.
"Tentu saja tidak Eri-chan!" Naruto menjawab lembut.
"Bukan begitu kebenarannya." Beberapa mungkin adalah kebenaran hanya saja tidak benar-benar 'benar'. Eri bernapas lega , sekali lagi Naruto menepuk puncak kepala Eri.
"Sekarang kau pulang lah, hari sudah menjelang senja!" Naruto berkata sambil berdiri tegak memandang ke arah cakra Itachi dikejauhan.
"Itachi akan baik-baik saja, serahkan dia padaku!" Naruto berkata yakin sambil kembali mengarahkan pandangannya pada Eri. Eri mengangguk-angguk mengerti, setelah tersenyum kecil ke arahnya Naruto segera menghilang dari pandangan Eri.
Itachi mungkin adalah genin paling cepat seangkatannya, tapi dibandingkan dengan Naruto, sudah pasti bocah itu tidak ada apa-apanya. Hanya perlu beberapa detik, sekarang ini Itachi sudah membelalak kaget memandangi Naruto yang sedang mencengkram erat kedua bahunya. Naruto merasa seperti dihujani kunai di jantungnya ketika melihat wajah bocah kesayangannya itu sedih, marah, tidak berdaya, kecewa, dan mata itu terlihat begitu terluka. Itachi menggeliat-geliatkan tubuhnya ingin lepas dari cengkraman Naruto tapi dia justru hilang terkungkung dalam pelukan hangat tubuh besar paman Hokagenya itu. Merasa hancur, Itachi hanya bisa membenamkan wajahnya di dada Naruto, kemudian menangis sekencang-kencangnya, berharap itu bisa meringankan rasa sakit di hatinya. Kening Naruto berkerut, ditepuk-tepuknya pelan pungggung Itachi yang tengah berguncang karena tangisan. Mereka bertahan seperti itu sampai tangisan Itachi mulai mereda. Setelah Itachi mulai tenang, perlahan Naruto mengendurkan pelukannya, Itachi mengangkat wajah dan menatap Naruto dengan matanya yang merah dan bengkak.
"Apa semua ini adalah kebenarannya paman?" Itachi bertanya menuntut pada Naruto, Naruto terdiam.
"Apa benar ayah telah memperkosa ibu?" Mengucapkan itu leher Itachi seakan tergorok dengan kunai yang tumpul, rasa sakitnya tidak kunjung berakhir.
"Itachi…ayahmu mungkin melakukan kesalahan, tapi dia tidak pernah bermaksud menyakiti ibumu!, itu sama sekali tidak benar!" Naruto berkata sambil mengguncang perlahan pundak Itachi. Itachi mengamini di dalam hati, meski setengah tidak percaya dia memaksa untuk percaya. Itu tidak benar, iya, semuanya pasti kebohongan, dia tidak ingin itu semua benar.
"Sasuke bukan pria seperti itu, kau harusnya kenal betul seperti apa ayahmu!" Naruto mengusap rambut panjang Itachi yang berantakan. Mendengar itu Itachi merasa tersengat listrik, bagaimana mungkin dia bisa berpikiran buruk tetang ayahnya tanpa mendengarkan lebih dulu pejelasan darinya?. Ayahnya pasti kecewa padanya, perasaan berdosa mulai muncul, tapi ingatan tentang tatapan kebencian Hanabi membuat Itachi kembali meringis.
"Apa karena aku ibu menderita?" Air mata perlahan mulai mengalir lagi, Naruto menyekanya hati-hati dengan jari-jarinya.
"Apa ibu tersiksa karena mengandungku?" Itachi menatap Naruto berharap pamannya itu juga mengatakan itu adalah kebohongan. Itachi menutup mata dan kembali terisak ketika didapatinya Naruto menatapnya dengan tatapan membenarkan. Tatapan yang seolah mengatakan itu semua adalah kebenaran, dia tidak bisa menyangkalnya, dan merasa ikut berduka untuk itu. Naruto kembali memeluk Itachi yang sekali lagi mulai menangis. Naruto tidak ingin berbohong lagi pada Itachi, karena mungkin itu akan semakin membuatnya terluka jika tahu kebenarannya.
"Apa ibu membenciku?" Cicitan kecil Itachi hampir tidak terdengar, dia tidak berani mendengar jawabannya, tapi juga sangat ingin mengetahuinya.
"Justru sebaliknya!, dia sangat mencintaimu Itachi!" Naruto mengelus punggung Itachi, dibenaknya dia bisa mengingat Hinata yang berlinangan air mata menolak untuk menggugurkan bayinya.
"Hinata sangat menyayangimu!" Itachi mengangkat wajahnya untuk menatap Naruto, wajah Naruto berhias kesedihan dan haru. Mata birunya menatap mantap mata onix Itachi, mata itu seakan bercerita pada Itachi, membuat sakit di dada bocah itu sedikit berkurang.
"Rasa sakit sebesar apapun tidak bisa mengalahkan cintanya padamu!" Naruto mengelus wajah Itachi. Sosok Hinata di ingatannya telihat sangat sumbang, tidak sesuai dan berseberangan. Tubuh Hinata kurus ringkih dan amat pucat, namun senyum di bibir wanita itu menunjukkan seakan-akan dia adalah wanita yang paling bahagia di dunia.
"Dia selalu berkata kalau kau adalah hartanya yang paling berharga!" Itachi menangis, bayangan wajah Hinata yang menatapnya benci perlahan-lahan berubah menjadi bayangan seorang ibu yang tengah tersenyum sayang padanya. Hati Itachi seketika menghangat, kelegaan dan kebahagiaan serta kepiluan bergelung bersamaan bagai ombak yang menyapunya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Apa yang tejadi pada ibuku paman?, dimana dia sekarang? Apa benar dia sudah meninggal?" Itachi menatap Naruto penuh harap. Ibunya sudah meninggal, Itachi tahu itu, sejak kecil ayahnya sudah mengatakannya padanya, tapi tetap saja, siapa tahu itu tidak benar, dia berharap itu juga tidak benar, kebohongan lainnya.
"Dia meninggal ketika melahirkanmu Itachi!" Naruto memohon maaf dengan tatapan pada Itachi.
"Di mana makamnya paman?" Itachi ingin pergi menemuinya, meski itu hanya berupa makam, dia ingin menyapa ibunya.
"Aku tidak tahu!" jawaban Naruto yang terdengar kecewa membuat Itachi mengerutkan kening, bingung. Menyadari kebingungan Itachi Naruto membimbing Itachi kesebuah batu besar dan mendudukkannya disana.
"Banyak hal rumit yang terjadi ketika kau lahir Itachi!, Aku tidak tahu dimana ibumu dimakamkan. Hanya Hiasi-sama yang mengetahuinya."
"Hiashi-sama?", 'Siapa?' Itachi mengernyit.
"Kakekmu, Hiashi Hyuga." Naruto menatap Itachi lekat, sibuk menimbang-nimbang sampai mana Itachi boleh mengetahui semua kebenaran ini?. Itachi terdiam, benaknya masih rancu tidak berarah, tidak ada ujung pangkal yang bisa dia susuri, segala sesuatunya masih tidak pas dan banyak yang hilang. Dia bingung ingin memulai dari mana, apa yang lebih dulu ingin dia ketahui?.
"Kenapa selama ini aku tidak boleh mengetahui siapa ibuku?, Kenapa kalian semua merahasiakannya dariku?" Setelah terdiam sesaat, Itachi akhirnya menanyakan pertanyaan yang selama ini mengganggunya.
"Hanabi tidak ingin nama Hinata dikait-kaitkan denganmu atau ayahmu!" Naruto menjawab, pelan, sedikit ragu.
"Kami telah bersumpah Itachi, aku dan ayahmu telah bersumpah pada Hanabi agar menjauhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Hinata dari mu dan ayahmu, Hanabi tidak ingin mengakui kalian sebagai bagian dari hidup Hinata." Dengan berat hati, Naruto terpaksa mengatakan kebenarannya pada Itachi.
"Dan kalau kami berani melanggarnya, kami harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal Itachi, yaitu nyawamu!" Naruto mengelus dahi sempit Itachi, mengalirinya dengan sedikit cakra sehingga Itachi kini bisa merasakan guratan-guratan segel yang selama ini tidak pernah dia rasakan ada di keningnya.
"Kenapa begitu?, Kenapa kalian harus bersumpah?" Itachi kebingungan, hampir saja dia menangis lagi karena terlalu bingung dan kecewa. Naruto sendiri juga kebingungan harus memulai dari mana, dia takut terlalu banyak bicara hingga melanggar sumpahnya dan membuat geram Hanabi.
"Agar dia bersedia menyegelmu Itachi, 10 tahun yang lalu saat kau berusia 3 tahun ketika ayahmu membawamu kembali ke Konoha. segel dikeningmu ini…, kami lah yang memintanya pada Hanabi!" Naruto berkata hati-hati, berusaha mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Itachi semakin kebingungan, bukankah segel ini bisa untuk membunuhnya?, kenapa paman dan ayahnya justru memintanya diberi segel ini.
"Segalanya begitu rumit Itachi, perang mungkin saja tercetus saat itu. Memberimu segel ini adalah satu-satunya yang bisa membuat dewan tetua persatuan lima negara bersedia menerimamu!" Itachi merasa ingin muntah, perang apa? Kenapa? otaknya dia paksa berpikir keras hingga terasa berdenyut-denyut.
"Kau terlahir dengan memiliki kekkai genkai 2 clan terkuat Konoha. Byakugan dan Sharinggan, Dewan tetua persatuan lima negara menganggap Konoha mencoba untuk menciptakan sebuah kekkai genkai baru tanpa persetujuan sebelumnya dari 4 negara lainnya, mereka keberatan dan menganggap itu sebagai ancaman. Kesalah pahaman ini berawal ketika ibumu mengandungmu, saat itu nenek Tsunade dan Hiashi-sama memutuskan untuk mengatasi hal ini dengan diam-diam mengingat ibu dan ayahmu waktu itu…." Naruto berhenti bicara, dia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
"Ada apa dengan ayah dan ibuku?" Itachi berkata setengah berteriak menuntut penjelasan.
"Mereka bukan pasangan suami istri, mereka tidak menikah." Kata-kata pelan Naruto membuat Itachi terdiam. Itachi tahu itu adalah cara halus Naruto untuk mengatakan kalau ibunya telah mengandung di luar nikah, dan itu merupakan aib besar bagi ibunya.
"Awalnya semua dirahasiakan untuk menjaga nama baik ibumu, namun berubah menjadi sebuah kesalah pahaman besar ketika dewan tetua lima negara mengetahuinya entah dari mana. Mereka menganggap Konoha ingin memicu perang dengan mencoba 'mempersenjatai diri' di belakang mereka. Kekacauan yang terjadi ketika kelahiranmu berlanjut hingga ketika kau kembali muncul di Konoha setelah 3 tahun menghilang, mereka menuntut kami untuk mengeksekusimu, jika kami menolak maka itu sama saja dengan Konoha menabuh genderang perang pada 4 negara besar lain!" Naruto menarik napas dalam setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, bernostalgia dengan kenangan buruk diawal-awal masa kepemimpinannya sebagai Hokage. Mungkin ini berat untuk diterima oleh anak berumur 13 tahun, tapi saat inilah Itachi harus mengetahui semuanya, agar dia tidak salah menduga hingga berasumsi yang bukan-bukan pada segalanya. Sekarang lah saatnya untuk menunjukkan cahaya pada Itachi yang selama ini dibiarkan buta dan tuli dari semua ini.
"Segel ini satu-satunya yang bisa kami lakukan agar kau bisa hidup di tengah Konoha yang aman tanpa perang Itachi!, Dengan tersegelnya kekkai genkai Byakugan mu maka kau hanya akan menjadi pengguna Sharinggan saja, seorang anak biasa keturunan Uchiha. Dan Hanabi bersedia memberikanmu segel hanya jika kami bersedia menyetujui syarat yang ditentukannya, yaitu dengan menjauhkanmu dari nama ibumu, kau tidak boleh mengetahui kalau Hinata adalah ibumu. Hanya segelintir orang yang tahu tentang ini semua, tetua Konoha, beberapa rookie 12 dan dewan tetua persatuan lima negara, selebihnya orang-orang tidak mengetahui sama sekali tentang ini dan itulah yang ingin dijaga Hanabi, dia ingin semua orang tetap tidak menegetahuinya. Maafkan kami Itachi, kami terpaksa melakukannya untuk melindungimu!" Naruto berlutut di depan Itachi yang masih membeku.
"Itachi, dengan sangat berat hati aku ingin memohon padamu!, Menjauh lah dari Hanabi dan Hyuga!, Rahasiakan lah tentang identitas siapa ibumu sebenarnya!" Naruto berlutut memegang kedua belah tangan Itachi, dia memohon dengan sangat. Naruto tidak ingin mengambil resiko membuat Hanabi marah hingga mengaktifkan segel itu atau mencabutnya, kedua-duanya merupakan hal yang tidak boleh sampai terjadi.
"Kenapa aku tidak boleh memanggil ibuku sendiri 'ibu'?" Itachi berkata dengan suara bergetar, air mata belum jua teduh mengalir di pipinya. Pertanyaan itu membuat hati Naruto sakit. Naruto menatap mata Itachi lekat-lekat, rasa sakit yang dirasakan bocah ini seakan menular padanya, ingin dia mengulang segalanya, membuat semuanya bergulir di jalan yang berlawanan dari jalan yang sudah ada di hadapannya kini.
"Meskipun kau tidak bisa mengatakannya dengan lantang, Hinata tetap adalah ibumu, selamanya begitu, tidak ada yang bisa merubahnya ataupun menyangkalnya. Kau adalah putra kesayangan Hinata Hyuga, begitulah kebenarannya!" perkataan Naruto membuat Itachi sedikit berbesar hati.
"Bersabarlah….mungkin Hanabi kelak akan berubah dan membuka matanya Itachi!, Suatu hari nanti akan datang saat kau akan bisa berteriak pada dunia kalau kau adalah putra Hinata Hyuga!" Naruto berkata lembut, menenangkan Itachi, berharap Itachi akan mau menuruti permintaannya agar bocah kesayangannya itu terhindar dari bahaya.
Di dalam hatinya, Itachi mengetahui kalau itu tidak perlu, sebenarnya dia tidak perlu pengakuan siapapun, asalkan dia tahu siapa ibunya itu sudah cukup untuknya, yang terpenting sekarang dia sudah tahu siapa ibunya. Yang terpenting adalah sekarang dia sudah tahu kalau Hinata Hyuga adalah ibu yang sangat menyayanginya.
"Setidaknya lakukanlah untuk ayahmu, Itachi!." Itachi yang masih terdiam membuat Naruto khawatir kalau bocah ini tidak mau menuruti permohonannya.
"Dia sangat menyayangimu!" Naruto mengerti betul seperti apa perasaaan Sasuke yang sangat mencintai anaknya.
"Dia rela melakukan apa saja agar kau tidak terluka! Itachi…!" Itachi diam, menghayati setiap kata yang diucapkan oleh Naruto, kemudian benaknya mencocokkannya dengan ingatan yang dimilikinya. Bagaimana ayahnya menyayanginya, memeluknya, mendongengkannya cerita sebelum tidur, mencium keningnya, mengusap kepalanya dengan senyum bangga, duduk tertidur menungguinya yang demam. Ingatan yang sejenak hilang karena kata-kata Hanabi kembali pulang dengan membawa rasa sedih penyesalan.
"Syarat lain yang diajukan oleh Hanabi ketika itu adalah agar ayahmu bersedia menerima hukuman dari clan Hyuga, diadili berdasarkan aturan Hyuga atas apa yang telah dilakukannya pada Hinata. Dia terluka parah akibat serangan-serangan Hanabi, saat itu ku pikir ayahmu akan mati, tapi rupanya dia sangat ingin hidup dan melindungimu!, Itachi... kau adalah semangat hidup Sasuke, kau adalah segalanya baginya, kau dunianya!, oleh karena itu kau tidak boleh terluka!, kau harus selalu ada di sisinya!" perkataan Naruto membuat sengatan rasa bersalah menyerang Itachi, rasa bersalah karena telah meragukan dan berpikiran buruk pada ayah yang begitu mencintainya terasa menghakiminya dengan keras. Itachi tidak mampu berkata-kata hatinya terasa sakit membayangkan apa yang sudah dilalui ayahnya untuknya, dan sekarang anak yang begitu disayanginya berani-beraninya berteriak dan menghakiminya, Itachi merasa durhaka pada ayahnya.
"Kenapa ayah harus di hukum?, paman bilang ayah tidak menyakiti ibu, lalu kenapa dia harus menerima hukuman?" Satu lagi kecacatan di benak Itachi yang perlu penjelasan. Kalau ayahnya tidak memperkosa ibunya, kenapa Hanabi menghukumnya?.
"Apa ayah tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan ibu?, harusnya kalau mereka menikah mungkin semuanya tidak akan menjadi rumit kan paman? Tidak perlu sembunyi-sembunyi hingga akhirnya menimbulkan kesalah pahaman! Ada apa sebenarnya?" Itachi mengiba, berharap mendapat penjelasan. Semua informasi yang baru diterimanya sangat sulit dicerna oleh Itachi, semu, membingungkan, pertanyaan kadang timbul dan tenggelam, tubuhnya sekarang sudah berkeringat dingin karena kepala yang semakin berdenyut-denyut.
"Ayahmu tidak tahu, saat itu dia tidak ada di Konoha" Naruto meremas-remas pelan tangan Itachi digenggamannya, wajah bocah itu luar biasa kebingungan. Dia ingin sekali menceritakan semuanya, menjawab semua pertanyaan dari Itachi, tapi dia sudah bersumpah sebagai seorang Shinobi dan sebagai seorang laki-laki pada Hanabi, sumpah yang harus dijaganya untuk nyawa bocah ini.
"Ayah ada di mana?, kenapa Hanabi-sama bilang aku menyiksa ibu?, lalu bagaimana aku bisa bersama ayah dan menghilang selama 3 tahun kalau ayah tidak tahu?, apa yang terjadi sebenarnya?" Itachi berbicara cepat, menanyakan pertanyaan acak yang timbul diotaknya.
"Maaf Itachi, paman tidak bisa menjawab pertanyaanmu lagi! Paman sudah terlalu banyak bicara." Itachi menatap Naruto dengan tatapan kecewa, keningnya mengernyit, bocah itu sudah berada diujung tangis lagi.
"Kami sudah bersumpah Itachi!, sebagai seorang Shinobi kau pasti tahu apa artinya itu!" Naruto membujuk, Itachi akhirnya mengangguk, tidak tega melihat Naruto yang juga ikut memelas memandangnya. Sumpah bagi seorang Shinobi sama harganya dengan kepala, Itachi juga tahu itu, sumpah harus dijaga dengan kehormatan dan nyawa.
"Lagi pula…!" Naruto akhirnya tidak tega melihat wajah kecewa dan tidak berdaya Itachi.
"Ada orang yang mengetahui segala detailnya jauh lebih jelas dibandingkan aku. Selain itu dia juga tidak mengucapkan sumpah pada Hanabi, sehingga dia tentu bisa leluasa bercerita!" Naruto tersenyum kecil sambil mengerlingkan mata pada Itachi.
"Waktu itu, aku belum menjabat sebagai Hokage Itachi!"
'Hokage seabelumnya?' Itachi bergumam dibenaknya menyadari maksud Naruto. Seolah bisa membaca pikiran Itachi, Naruto mengangguk-angguk mengiyakan meskipun Itachi tidak mengucapkan apapun.
"Itachi, sebaiknya kita pulang! Ayahmu pasti sangat mengkhawatirkanmu!" Naruto berdiri dari posisinya yang sedang berlutut di depan Itachi.
"Aku sudah jahat pada ayah paman!" Itachi menyuarakan isi hatinya, dia sudah mengecewakan ayahnya, bagaimana caranya dia bisa memandang wajah ayahnya lagi setelah dia bertingkah kurang ajar pada ayahnya itu. Seenaknya menuduh dan berprasangka, juga beteriak tidak sopan, Itachi mengernyit mengingat kelakuannya sendiri.
"Minta maaflah padanya!, peluk dia!, dia tidak akan pernah marah padamu Itachi, dia sangat menyanyangimu!" Naruto menepuk-nepuk pundak Itachi, tersenyum memandang Itachi yang menghapus air matanya dengan punggung tangannya sendiri. Itachi ingin segera memohon ampun pada ayahnya.
"Ayo kita pulang!, ayahmu pasti sudah menunggu!" Naruto mengulurkan tangan pada Itachi, Itachi mengangguk perlahan meraih uluran tangan Naruto. Sang Hokage menepuk-nepuk tangan digenggamannya pelan, mengatakan semangat pada Itachi dengan bahasa tubuhnya. Itachi tersenyum kecil, sedikit cahaya terang memberinya kekuatan, dan dia akan menjadikan sedikit cahaya itu menjadi matahari yang akan menerangi masa lalunya, Itachi berdiri dikakinya melangkah disisi Naruto sebagai Itachi yang baru. Sebagai Itachi Uchiha, putra kesayangan Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga. Melihat kilatan dimata Itachi, Naruto tahu semuanya akan baik-baik saja, karena Itachi adalah pemuda yang tangguh dan kuat, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Langkah kaki Itachi dan Naruto terhenti ketika melihat sesosok Shinobi berwajah malas sedang berlutut memandang ke arah pangkal pohon tidak jauh dari tempat mereka berbincang tadi.
"Shikamaru….? Sedang apa kau disini?" Naruto bertanya kebingungan pada penasehatnya itu.
"Naruto…, maaf aku tidak bermaksud mengganggumu!" Wajah malas itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari arah pangkal pohon. Berjalan semakin dekat, akhirnya Naruto dan Itachi mengetahui apa yang tengah diperhatikan oleh Shikamaru.
"Aku sedang mencari gadis ini ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian tadi!" Shikamaru juga termasuk ke dalam segelintir orang yang tahu masa lalu Itachi, sehingga Naruto tidak takut akan terbongkar atau didengarkan. Shikamaru mengangkat tubuh gadis kecil yang bersandar tertidur di batang pohon itu, pelan-pelan dia rengkuh tubuh Eri yang tertidur kehadapannya, sepanjang waktu terus memandangi wajah tenang keponakannya.
"Oh…astaga?, Jadi sejak tadi dia masih ada disini?. Shikamaru maaf! Padahal tadi dia sudah kusuruh pulang!" Naruto merasa tidak enak pada Shikamaru yang terang sekali sedang khawatir. Itachi terdiam memandang wajah tertidur Eri di pelukan Shikamaru, gadis ini tadi dia teriak-teriaki dengan kasar, Itachi mengernyit, sepertinya dia juga berhutang maaf pada Eri.
"Tapi sepertinya dia sangat mengkhawatirkan Itachi, jadinya dia menunggu disini!. Maaf Shikamaru telah membuatmu Khawatir!" Itachi menggigit bibir mendengar perkataan Naruto, dia berhutang maaf besar sepertinya. Eri sangat mengkhawatirkannya, dia juga harus berterimakasih pada gadis itu.
"Tidak apa Naruto, gadis ini memang keras kepala!. Dasar merepotkan!" Shikamaru berkata seolah kesal, namun wajahnya menatap wajah keponakan kesayangannya itu dengan tatapan sedih. Hal itu tidak luput dari pandangan Naruto.
"Ada apa Shikamaru?" Naruto bertanya serius.
"Tubuh orang tua Eri sudah ditemukan!" Shikamaru memberikan informasi yang memang ingin dia sampaikan pada sang Hokage, lupa akan keberadaan sepasang telinga kecil di sisi mereka. Kata 'tubuh' membuat Itachi terbelalak ngeri, apa maksudnya? Jangan-jangan?. Menyadari kesalahannya Shikamaru tersentak memandang Itachi, lewat tatapan Itachi tahu hal ini masih rahasia. Kening Itachi mengernyit, oh tuhan.
'Eri….' Benak Itachi mengkhawatirkan Eri, merasa takut untuk Eri, bagaimana dengan Eri?. Naruto dan Shikamaru bertukar pandangan, kemudian saling mengangguk, sepakat menunda pembicaraan tentang ini.
"Baiklah Naruto, aku pulang dulu!" Shikamaru beranjak pergi, tidak ingin membuat Ino semakin khawatir menunggu. Melangkah beberapa langkah, dia berhenti kemudian berkata dari balik bahunya.
"Itachi…!" Shikamaru memanggil pelan, mendengar pembicaraan Naruto dan Itachi tadi dia ingin Itachi mengetahui pemikirannya.
"Sebagai seorang anak, memang akan tiba saatnya ketika kita menyadari bahwa orang tua kita tidaklah sesempurna pemikiran kita selama ini. Tidak semua yang mereka katakan adalah kebenaran seperti yang selalu kita percayai. Namun hal itu bisa membantu kita untuk mengingat, selain sebagai seorang ayah dan ibu mereka juga adalah manusia, bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Dan satu hal yang harus selalu kau ingat, hanya merekalah manusia yang memberimu cinta tanpa pamrih. Mereka tidak meminta banyak sebagai imbalan, mungkin hanya sekedar senyuman sudah cukup, mungkin kebahagian kita adalah hadiah terindah yang bisa mereka dapatkan. Jadi berikanlah hadiah kecil mereka itu sebelum kau tidak bisa lagi memberikannya meski kau ingin dan memohon." Nasehat itu meluncur masuk kedalam relung hati, membawa kesadaran yang memilukan.
Sasuke menepuk-nepuk pelan punggung Itachi kecil yang memeluk bantal. Setelah memastikan kalau jagoan kecilnya itu telah tertidur pulas, pelan-pelan Sasuke beringsut turun menuruni tempat tidur. Bergerak perlahan tanpa suara melintasi ruangan sempit itu menuju pintu. Tanpa menimbulkan suara di pintu tua itu Sasuke membuka kemudian menutupnya pelan di belakangnya.
"Apa Itachi sudah tidur?" Suara lemah Hinata menyapa telinganya.
"Ya…!" Sasuke mendekat dan duduk di sisi Hinata yang terbaring lemah di tempat tidur cadangan mereka yang tipis. Hinata berbaring di luar kamar agar dia tidak menularkan flu pada Itachi.
"Bagaimana keadaanmu?" Sasuke bertanya pelan, memandangi wajah Hinata yang pucat, wajah itu memang tidak pernah kembali seperti dulu lagi, tidak lagi merona dan bersemu. Setelah dia memiliki Itachi sepertinya rona itu menghilang dan menolak untuk kembali.
"Sudah baikan!" Hinata menjawab menenangkan Sasuke. Namun tubuhnya segera menyangkalnya.
"Kau tidak baik-baik saja!" Sasuke menggeram sambil mengusap pelan lelehan darah yang mengalir keluar dari hidung Hinata. Sasuke perlahan mendudukan Hinata, mendongakkan kepala wanita itu dengan lembut, berusaha menghentikan darah yang mengalir.
"Ini karena panas!" Hinata menjelaskan kondisinya pada Sasuke yang terlihat mengernyitkan kening memandanginya, laki-laki itu sangat khawatir meskipun tidak benar-benar diperlihatkannya.
"Sudah berhenti!" Hinata berhenti mendongak dan memandang Sasuke.
"Aku sudah meminum ramuan dari Miko-san!, sebentar lagi panasnya pasti turun." Hinata berusaha menenangkan Sasuke yang masih mengernyit. Di desa ini tidak ada medic nin ataupun cakra penyembuh, hanya ada seorang tabib wanita tua yang mengobati dengan ramuan dari tanaman. Sedangkan Hinata tidak bisa lagi membuat cakra penyembuh karena susunan cakranya yang kacau sejak melahirkan Itachi. Sasuke menarik Hinata kepelukannya, dipeluknya wanita itu hati-hati, dia ketakutan dalam diam.
"Jangan…" Sasuke tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tenggorokannya tercekat hanya dengan memikirkannya.
"Aku hanya demam, Sasuke!" Hinata mengelus pelan punggung lebar Sasuke, berusaha menenangkannya.
"Aku hanya demam!" Hinata berucap sekali lagi sambil menarik diri dari pelukan itu untuk menatap mata sang Uchiha. Dia tersenyum kecil pada Sasuke yang menatapnya lekat. Menghela napas panjang Sasuke mendorong pelan tubuh Hinata agar kembali berbaring.
Mereka terus saling menatap dalam diam, Hinata bisa melihat ketakutan di mata Hitam itu, Sasuke merasa tidak berdaya ketika menatap Hinata yang terlihat begitu lemah dipembaringan. Hinata meraih tangan Sasuke dan mengelusnya lembut, menjelajahi ruas tangan Sasuke yang terlihat lecet dan melepuh. Menjadi petani ternyata jauh lebih sulit dibandingkan menjadi seorang Shinobi ataupun ninja bayaran, terbukti tangan Sasuke yang dulu kasar kini bisa dikatakan hancur.
"Terimakasih untuk hari ini!, Kau sudah berkerja keras!" Hinata mengecup lembut luka-luka ditangan itu sambil mengucapkan kata-kata yang selalu diucapkannya setiap hari pada Sasuke. Menghargai jerih payah yang sudah dilakukan Sasuke untuknya dan Itachi.
Sasuke masih setia memandangi Hinata, sampai sekarang masih tidak percaya dia bisa memiliki hidup seperti ini bersama dengan Hinata dan putra mereka. Meski tinggal di gubuk sempit, meski memakai pakaian yang tidak nyaman, meski memakan makanan seadanya, meski harus berhenti jadi shinobi dan menjadi petani, Sasuke sangat bahagia. Dia sangat bahagia dan bersyukur bisa memiliki hidup seperti ini bersama keluarga kecilnya. Namun di dalam hatinya dia juga selalu digeluti rasa takut, ketakutan kalau semua ini entah bagaimana suatu saat akan berakhir, lenyap menghilang. Sasuke tidak bisa menghilangkan ketakutan itu, karena memang selalu begitu, segala sesuatu yang indah tidak pernah bertahan lama dikehidupannya. Dia tidak pernah bisa merasa bahagia tanpa merasa was-was disaat yang bersamaan. Dan Hinata menyadari kegelisahan Sasuke itu, setiap saat sebisanya dia akan selalu menenangkan Sasuke dengan kata-kata, senyuman, dan sentuhan ringan. Sasuke terkesan takut dan ragu dalam menyampaikan emosinya, hingga Hinatalah yang akan mengulurkan tangan padanya, wanita itulah yang akan meraihnya yang terkesan menahan diri.
Hinata tahu kalau Sasuke selalu dirundung rasa takut, seperti sekarang ini, dia bisa mengetahui ketakutan apa yang sedang menguasai Sasuke ketika memandangnya. Jika sebelumnya dia akan selalu menenangkan dengan kata-kata 'tidak apa-apa', 'tenang saja', 'semua akan baik-baik saja', tidak untuk kali ini. Kali ini dia harus menguatkan Sasuke, karena segala sesuatunya bisa terjadi, manusia adalah fana, itu tidak bisa dipungkiri. Kalau tidak sekarang suatu saat nanti pasti akan terjadi, dia tidak ingin Sasuke seperti layangan putus jika itu benar-benar terjadi nanti, jika dia benar-benar harus pergi.
"Sasuke….!" Hinata memanggil pelan, ingin seluruh perhatian Sasuke tertuju padanya. Dan itulah yang didapatnya, Sasuke memperhatikannya dengan seksama, siap menerima perintah apapun juga darinya.
"Kalau aku meninggal lebih dulu darimu apa yang akan kau lakukan?" Hinata bertanya hati-hati pada Sasuke.
"Jangan katakan itu!, Kau tidak…." Kalimat Sasuke terpotong oleh sebuah kalimat dari bibir Hinata.
"Jika suatu hari nanti kau meninggal lebih dulu dariku, aku akan terus hidup dengan baik dan merawat Itachi." Hinata berkata sambil meremas tangan Sasuke dengan lembut. Sasuke membelalak kaget memandang Hinata, terkejut dengan kata-kata yang baru saja didengarnya, benarkah begitu?, apa Hinata akan bisa seperti itu kalau dia yang pergi terlebih dahulu?.
"Aku akan merelakan kepergianmu dan melanjutkan hidup dengan kenangan indah tentangmu. Aku akan terus berjalan dan berjuang mendampingi Itachi hingga dia dewasa, aku akan terus hidup untuk menceritakan cerita tentangmu padanya…! Karena dia akan memerlukan itu Sasuke!" Sasuke memandang Hinata tidak berkedip.
"Kau pun juga harus begitu, kalau aku pergi lebih dulu, kau juga harus seperti itu!"
'Tentu saja begitu!' Sasuke sudah bisa menebak, semua ini bukan untuk Hinata, semua ini untuknya. Hinata tidak akan bisa berkata seperti itu jika dialah yang sedang berbaring dipembaringan saat ini. Sasuke yakin kalau dia tidak akan mati dengan mudah, tuhan pasti tidak akan membiarkanya, tuhan masih ingin menghukumnya lebih lama lagi di dunia ini.
"Aku tidak akan bisa!" Sasuke meringis, keningnya berkerut mengiba pada Hinata, seolah dialah yang bisa memutuskan segalanya.
"Kau bisa! kau pasti bisa! Demi Itachi, kita akan bisa!" Hinata menatap yakin mata Sasuke.
"Aku tidak akan bisa mendidik Itachi sendirian!, Dia tidak akan bahagia bersamaku!, Aku tidak tahu cara menyayanginya!, Dia…dia akan menjadi sepertiku! Aku tidak bisa!" Sasuke berkata cepat, meracau mengeluarkan unek-unek di dadanya. Hinata tersenyum lembut, dia tahu betul kalau Sasuke sangat menyayangi Itachi, dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Menurut Hinata Sasuke sama seperti ayahnya, Hiashi Hyuga, Sasuke adalah sosok ayah yang sama persis dengan ayahnya itu.
"Kau akan bisa mendidiknya dengan baik!, aku yakin itu. Karena kau adalah orang yang sangat hebat!" Hinata berkata pelan namun yakin.
"Dia akan bahagia bersamamu!, Karena kau lah ayahnya!" Pelan-pelan Hinata berusaha membuat Sasuke mengerti dan memahami maksudnya.
"Peluklah dia kalau kau ingin memeluknya, ucapkan pujian jika kau ingin memujinya, ciumlah dia kalau kau ingin menciumnya, hukumlah dia jika itu memang perlu, jangan menahan diri, ungkapkan saja apa yang ada dihatimu. Begitulah caranya untuk menyayangi seorang anak, tidak perlu ragu dan takut, karena dia darah dagingmu!"
"Mungkin nanti akan ada saat kau marah dan berteriak, akan ada saat dimana dia membangkang dan berlari pergi darimu!. Namun jangan khawatir, dia pasti akan kembali kedalam pelukanmu, karena cintamu akan memanggilnya kembali padamu."
"Dan Sasuke….!, Menjadi sepertimu tidaklah buruk!" Hinata mengelus lembut pipi Sasuke.
"Aku tahu betul itu!, Kau adalah orang yang luar biasa!" Hinata menangkat tubuhnya untuk memeluk Sasuke. Sasuke segera menyambut pelukan Hinata dengan dekapan erat.
'Aku menjadi jauh lebih luar biasa ketika bersamamu! Hinata…' benak Sasuke bergumam lirih.
"Jangan kau berani-berani meninggalkanku!" Sasuke megeratkan pelukannya.
Sasuke terpaku di ambang pintu, tidak bergerak sedikitpun dari posisi berlututnya ketika Itachi pergi berlari meninggalkannya. Mata hitamnya kosong, keningnya berkerut, rahangnya terkatup rapat, dadanya bernapas berat, rasa sakit yang menusuk datang terus menerus membuatnya merasa tidak berdaya.
'Itachi membenciku Hinata!' Sasuke mengadu sedih, sesaat Sasuke kehilangan kemampuan untuk berpikir rasional.
'Apa yang harus kulakukan?' Sasuke meratap di dalam hati.
Samar-samar di ujung jalan Sasuke bisa melihat Itachi yang digandeng oleh Naruto berjalan kearahnya. Sasuke seketika berdiri, kemudian berjalan pelan menyongsong sosok kecil itu. Langkah Sasuke kecil-kecil, rasa takut akan tatapan kekecewaan dari Itachi menghalanginya berlari menuju putranya itu. Wajah Itachi yang masih buram dikejauhan adalah satu-satunya hal yang memenuhi penglihatannya. Sosok Itachi dikejauhan terlihat mendekat semakin cepat, berlari, perlu beberapa detik untuk Sasuke menyadari kalau anaknya itu tengah berlari menyongsongnya. Seketika rasa berat dan sakit didadanya lenyap terangkat, kakinya yang bergerak ragu-ragu kini bergerak cepat dengan langkah panjang-panjang menuju Itachi yang berlari kencang menujunya dengan wajah yang belinang air mata. Seruan 'ayah' yang keluar dari bibir Itachi membuat hati Sasuke bernyanyi dalam kelegaan.
'Cintamu akan memanggilnya kembali padamu!' Kata-kata Hinata kembali ternginang ditelinga Sasuke.
"Ayah…..! Ayah….!" Itachi berlari sesenggukan menuju ayahnya, bocah itu segera berlari menghambur ke dalam pelukan hangat Sasuke.
Memiliki Itachi di dalam dekapannya Sasuke merasa damai, tidak ada yang dia perlukan lagi selain bocah kecil yang tengah memeluknya sangat erat ini. Sasuke menggendong Itachi ringan, mendekapnya erat sambil mengelus-elus punggung bergetar itu.
"Maafkan aku ayah!... Maafkan Aku!" Itachi berbisik sambil menangis. Sasuke mengelus kepala kecil yang bersembunyi dibahunya, mengelusnya lembut.
"Ayahlah yang harus minta maaf Itachi!... Maafkan ayah!" Sasuke berkata lembut sambil mengecup ringan pipi putranya. Itachi mengangguk pelan, terus menangis dipundak Sasuke.
"Aku menyayangimu ayah!..." Itachi mengangkat wajahnya menatap mata Sasuke, Sasuke tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk, matanya terasa panas, lega haru dan senang menghangatkan hatinya.
"Ayah tahu..!" Sasuke mengecup kening Itachi.
'Jangan menahan diri, ungkapkan saja apa yang ada dihatimu.' Suara Hinata yang lembut terdengar.
"Ayah juga sangat menyayangimu Itachi!" Sasuke berkata lembut menatap Itachi.
"Sangat menyayangimu!"
"Aku akan pergi membawanya!" Sasuke berkata menggeram pada lelaki yang lebih tua didepannya.
"Dia sudah tiada! Uchiha!" Laki-laki paruh baya itu berkata tenang, tidak ada yang bisa menerka hatinya yang tengah berdarah dalam duka.
"Diam!" Sasuke membentak kasar, menahan rasa sakit dan pedih ketakutan di dadanya, jantung itu berdetak sangat lemah, tubuh ringkih didekapannya semakin mendingin.
"Dia sudah mati! Pergilah bawa anakmu sekarang juga sebelum mereka sampai disini!" Ayah yang berduka itu berkata dingin. Jantung itu berdetak hanya dengan bantuan cakra Sasuke sekarang ini, sesaat lalu jantung itu sudah tidak lagi berdetak.
"Aku tidak akan pergi kemanapun tanpanya!" Sasuke menatap pedih pada mata terbuka yang menerawang kosong digendongannya. Membuat mantan pemimpin Hyuga itu menutup matanya perlahan, berusaha menahan rasa sakit dan gelisah di dadanya.
"Pergilah! Bawa dia!" Akhirnya dia mengalah. Tidak ada waktu untuk berdebat, mereka akan segera sampai dalam beberapa menit.
"Dengarkan aku baik-baik! Untuk Hyuga dan Konoha Hinata dan cucuku sudah mati! Apa kau mengerti?" Biar segala akibat berada dipundaknya, Hinata dan cucunya akan baik-baik saja.
"Pergi dan bersembunyilah!, Jaga cucuku baik-baik!" Hiashi menatap cucunya yang tergendong tenang tertidur di dada ayahnya.
"Dan jika dia bisa bertahan…." ,'meskipun tidak mungkin' hatinya menangis saat menatap wajah pucat putrinya di gendongan sang Uchiha.
"Aku titipkan dia padamu!" Sekelumit emosi akhirnya terdengar dari nada bicara dingin seorang ayah yang baru saja kehilangan putrinya.
Haruko mengendap perlahan masuk di celah sempit yang dibuatnya dengan cakra di jeruji besi jalan masuk menuju sel gelap itu. Anak ini memang tidak mau diam dan membiarkan rasa penasarannya, Haruko Hyuga tidak akan pernah diam dan duduk menunggu saat sesuatu terus berkelabatan di kepalanya. Kakinya berjingkat pelan di lantai dingin ruangan bawah tanah itu, tengah malam udara di bawah sini semaki dingin dan lembab. Tangan kanannya memegang erat sebuah potret tua berisi sesosok laki-laki paruh baya yang berdiri tegak berwibawa. Dalam diam Haruko terus berjalan pelan sampai kakinya membawanya kesebuah sel yang terlihat cukup terang dan hangat, berbeda dengan sel lain, sel ini justru lebih mirip kamar yang diberi jeruji besi dibandingkan sebuah tempat . Di atas sebuah tempat tidur kecil, sosok laki-laki tua yang tadi disebut ibunya 'ayah' itu duduk bersila gagah.
Dari balik pilar-pilar besi itu Haruko memicingkan mata berusaha mengamati wajah kakek tua di atas tempat tidur dari jarak yang lumayan jauh, dia tercekat saat matanya bisa menangkap sosok itu. Sentakan napas terkejut Haruko sepertinya menarik perhatian lelaki tua itu. Perlahan dia berjalan mendekat pada Haruko, berhenti tepat di depan Haruko di balik pilar yang memenjaranya. Dari jarak sedekat ini sekarang Haruko semakin yakin, ditatapnya bergantian sosok di depannya dengan sosok di dalam potret di tangannya. Mereka adalah orang yang sama, hanya saja sosok dibalik jeruji besi itu terlihat lebih tua. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian dan matanya, oh astaga Haruko baru menyadari kalau mata kakek ini tertutup, kelopaknya menghitam dan cekung kedalam. Haruko meneguk air liur ngeri, ketika menyadari mata itu tidak memiliki bola mata lagi.
"Sedang apa kau di sini nona kecil?" Suara berat khas terdengar berwibawa di telinga Haruko.
"Anda siapa?" Haruko melotot memandangi kakek yang baru saja memanggilnya nona kecil, benaknya bertanya-tanya bagaimana kakek buta ini bisa tahu kalau dia adalah 'nona kecil?'. Kenapa di tidak mengiranya pelayan atau penjaga atau ibunya?, kenapa dia tahu kalau Haruko adalah seorang gadis kecil?. Senyum tipis terbentuk dibibir kakek itu.
"Aku hanya orang tua buta di penjara bawah tanah!" Kakek itu berkata pelan sambil beranjak berpaling dari Haruko, ingin kembali duduk ke tempat tidurnya.
"Hiashi Hyuga….!" Kata-kata Haruko membuat langkah Hiashi terhenti.
"Saya tahu siapa anda!, anda adalah Hiashi Hyuga…..!", 'Kakekku!' Haruko bergumam dibenaknya.
Senyum mengembang di bibir Hiashi ketika mendengar nada berharap dikata-kata itu, dia berbalik untuk menampakkan wajahnya pada cucunya.
"Haruko…! Segeralah kembali ke kamarmu, ibumu tengah menuju kesana!" Hiashi berkata ringan mengingatkan.
'Astaga….!' Haruko menutup mulutnya, dia benar, kakek ini adalah kakeknya, kakek ini bahkan juga tahu namanya padahal dia bahkan belum memperkenalkan diri.
'Ini benar-benar gila!' Haruko berteriak didalam kepalanya ketika ia berlari pergi menjauh menuju kamarnya, dan yang lebih gilanya lagi kakek itu benar, Haruko bisa merasakan cakra ibunya sedang menyeberangi koridor menuju ke kamarnya.
'Aku harus kembali kesini lagi nanti!, harus….!' Haruko bertekat.
Fyi :
Eri Yamanaka : Putri pasangan Oda dan Souko Yamanaka ( ceritanya mereka sepupu Ino Yamanaka ). Umur 11 tahun
Shikaku Nara : Putra pasangan Shikamaru Nara dan Ino Yamanaka. Umur 5 bulan lebih tua dari Itachi.
Chizo Akamichi : Putra pasangan Chozi Akamichi dan unknown mother. Umur 12 tahun
Haruko Hyuga : Putri pasangan Hanabi Hyuga dan unknown father. Umur 11 tahun
Fuyu Hatake : Putri pasangan Kakashi Hatake dan unknown mother. Umur 12 tahun.
Toya Inuzuka : Putra Pasangan Hana Inuzuka ( kaka Kiba ) dan unknown father. Usia 12 Tahun
Rio Aburame : Putra pasangan unknown mother dan unknown father ( ceritanya kerabat Shino Aburame). Umur 13 tahun.
Usia Itachi sekarang ini 13 tahun. 3 Tahun awal hidupnya Itachi tinggal diluar Konoha sama Sasuhina, trus karena sesuatu (masalah yang masih belum terungkap) Itachi dibawa sama Sasuke pulang ke Konoha, mereka berdua hidup di Konoha sampai sekarang ( 10 tahun ).
Ulala-laaaaa'laa – Ulili-liiiiii'li
Hyuri senang sekali…
Unana-naaaa'na – Unini-niiiiiiiiiii'ni
Readernya nambah lagi!...#Nari2 + nyanyi2 gaje…..
Semuanya Terimakasih banyak!... #Peluk2kin + cium2min reade rsemua….
Buat temen-temen yang udah ngasih masukan juga terimakasih banyak ya…. Hyuri ngehargain banget itu…..
Untuk segala kekurangan dan kekeliruan Hehe…..harap maklumi… author baru belajar…. #Hyurimalututupmuka..ha..ha..
Pokoknya kritik saran jangan sungkan-sungkan buat ngasih tau, biar fic ini semakin enak dibaca kedepannya…
(Aindri-chan… PM kamu baru kebaca!...Kya….thankz ya… udah nungguin fic ini, you are my first reader and smoga terus setia ya ampe nich fic tamat!...")
(Lavender hime-chan …..uaaaah hatiku berbunga-bunga baca PM kamu yang panjang itu….hehe…kamu nangkep semua apa yang pengen kusampaikan dicerita ini….., dan masukannya makasih banyak ya… sangat berharga buat hyuri….! Keep reading please….)
Duh maaf blum bisa bales review satu-satu….., pokoknya reader-san semua….terimakasih banyak….!
Nyanyi lagi ah….
Syalala-laaaa'la – Syalili-liiiii'li
SasuHina ending nya nanti heppi….
Syanana-naaaa'na – Syanini-niiiii'ni….
Hyuri yakin sekali….*Bugggh* #Hyuriditimpuktetangga…..
Read and Review Please…..
Bye…. Bye… ( ",)
