A/N: Maaf sebelumnya karena saya telah menelantarkan fict ini. Bukannya saya sibuk atau apa, saya hanya malas menulis saja. Alasannya? Mungkin karena semua author favorit saya sudah jarang nulis dan hiatus sehingga membuat saya sedikit malas untuk mampir di fanfiction. Sebenarnya banyak waktu luang saya yang bisa saya gunakan untuk menulis, tapi seperti yang saya katakan tadi 'saya malas' dan pula saya baru bisa buka akun ini kembali karena saya lupa kata sandinya. Saya bahkan harus membaca fict ini dari awal lagi karena saya sendiri juga lupa alur ceritanya, begitupun dengan fict NJH. Saya bahkan membutuhkan waktu selama empat hari untuk menyelesaikan membaca kedua fict saya ini dan juga harus memahami setiap alur cerita yang telah saya buat. Saya sendiri binggung harus memulai dari mana lagi, semua folder di dokumen yang kusimpan diFFN juga sudah hilang semua karena sudah melebihi tiga bulan. Dan pada akhirnya saya harus memulainya dari awal lagi. Sekali lagi saya minta maaf telah menelantarkan fict ini dan membuat pembaca menunggu lama. Saya hanya manusia biasa yang pastinya tak sempurna. Sekali lagi maafkan saya.
.
.
.
Disclaimer: Naruto dan HS DxD bukan kepunyaanku.
Genre: Adventure and Hurt/comfrot.
Rate: M
Warning: mungkin aneh, mungkin gaje, alur melenceng jauh, penulisan berubah 180° dan mungkin sudah tak menarik.
Bacalah dulu, jika tidak suka silahkan komentar.
Enjoy it.
.
.
.
.
Putih.
Dimana aku? Kenapa aku bisa berada disini? Bukannya tadi aku bersama Moka?
"Akhirnya kau datang juga."
Apa? Siapa? Suara siapa itu?
"Hihihi.. Jangan bingung seperti itu."
Hei! Ini tidak lucu! Tunjukkan dirimu.
"Ahahaha... maaf-maaf, aku terlalu senang sampai lupa menampakkan wujudku."
Dasar bod-, tunggu dulu. Dia bisa membaca pikiranku?
"Tentu saja aku bisa membaca pikiranmu, kita sudah menyatu."
Menyatu? Apa maksudmu?
"Begini, emm... harus mulai dari mana ya?"
Bisakah kau menunjukkan wujudmu terlebih dahulu.
"Hehehe... aku lupa."
Sring!
Aku menutup mataku saat cahaya yang begitu menyilaukan memenuhi tempat ini. Setelah cahaya tadi meredup kini terlihat seorang gadis berambut putih panjang, memiliki mata berwarna emas dan berpupil vertikal. Sepuluh ekor berwarna putih melambai pelan di belakang tubuhnya. Senyum lebar menempel di wajah cantiknya. Heh, dia memang cantik.
"Aku tau kalau aku ini memang cantik."
Dia tersenyum lebar kearahku. Dia berjalan mengelilingi tubuhku. Dia berhenti tepat di depan wajahku dan menyondongkan wajahnya ke wajahku. Tau kah kau, kau membuatku risih.
"Maaf sudah membuatmu tidak nyaman."
Dan bisakah kau tidak membaca pikiranku terus menerus.
"Huh, kan sudah kubilang kalau kita ini sudah menyatu."
"Apa maksudmu kita sudah menyatu?"
"Ah! Akhirnya kau bicara juga!"
Dia bertepuk tangan senang. Apa hal sekecil itu bisa membuatmu senang?
"Tidak-tidak, itu bukan hal kecil. Kau tau, tersegel selama puluhan tahun sendirian tanpa ada teman bisa membuatku gila dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun akhirnya ada seseorang untuk aku ajak bicara."
Dia tersenyum lebar.
"Ini luar biasa tau!"
Lanjutnya dengan semangat.
"Kau bilang kau tersegel? Lalu kenapa kau berada disini dan juga dimana ini?"
"Ini berada di alam bawah sadarmu."
Bukannya alam bawah sadarku berwarna hitam?
"Aku benci warna itu makanya aku merubahnya menjadi putih saja."
"Bisakah kau tidak membaca isi pikiranku terus menerus."
"Kau ini bebal ya, kan sudah ku bilang kalau kita ini sudah menyatu."
"Kau terus berkata kalau kita ini menyatu, sebenarnya kau ini mahluk apa?"
Dia kembali tersenyum lebar.
"Aku seorang Youkai!" Ucapnya semangat.
"Dan bagaimana mungkin seorang Youkai bisa sampai di alam bawah sadarku?"
"Emm... Bagaimana menjelaskannya ya?"
Dia tampak berpikir. Kalau kulihat-lihat dia imut juga apa lagi ditambah dengan ekornya itu.
"Hei, apa kau mulai tertarik padaku Na-ru-to-kyun~"
Apa-apaan wajah genitmu itu.
"Bisakah kita bahas topik tadi."
"Oke oke, jangan kaku gitu. Aku kan hanya bercanda saja."
Kau menghabiskan waktuku saja.
"Mou... kau sama sekali tidak seru!"
Dia menggembungkan pipi tembemnya. Dia terlalu berlebihan dalam berekspresi.
"Itu lebih baik dari pada dirimu yang berekspresi datar seperti itu."
Astaga dia mulai menyebalkan. Dia sama sekali tak memberiku privasi untuk berpikir.
"Ck, kembali ke topik sebelumnya. Kenapa kau bisa berada disini?"
"Ah, bagaimana kalau kita mulai dari perkenalan terlebih dahulu."
Bukan kah kau sudah mengetahui namaku.
"Bukankah kau belum mengenalku?"
"Tentu saja belum gadis cerewet."
"Ugh, jangan memanggilku seperti itu! Ah sudahlah. Namaku adalah Shineju adik dari pemimpin kaum Youkai terdahulu yaitu Kyubi Nii-sama."
"Lalu kenapa kau bisa berada disini."
"Emm, kau tau pedang yang Tengu tunjukkan padamu?"
Pedang? Ah iya, pedang usang sudah karatan itu bukan.
"Yap! Aku tersegel didalam pedang tersebut."
Tersegel? Pantas saja aku tidak asing dengan aksara yang berada di pedang tersebut, itu seperti aksara fuin penyegel. Tapi pertanyaannya adalah...
"Bagaimana kau bisa tersegel di dalam pedang tersebut?"
Diam.
Kenapa kau diam saja, padahal kau tadi begitu cerewet. Apa pertanyaanku terlalu sensitif untuknya?
"Hah..."
Dia menghela napas, sepertinya dia berat untuk menceritakannya. Jika tidak mau ya sudah, aku juga tidak terlalu peduli.
"Tidak tidak tidak, aku akan menceritakannya padamu."
Oh, aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku.
"Ah, begini saja biar mudah."
Dia mengayunkan tangannya kedepan dan semuanya menjadi blur. Setelah blur menghilang kini tempat yang tadinya hanya dipenuhi warna putih kini berubah menjadi sebuah istana. Tunggu! Aku merasa tidak asing dengan istana ini, bukankah ini...
"Ya, ini istana Youkai."
Aku menoleh dan mendapati Shineju memandang sendu istana ilusi ini. Seperti ada sebuah kerinduan dimatanya.
"Itu Kyubi Nii-sama."
Dia menunjuk seorang remaja laki-laki berambut orange yang tengah berjalan terburu-buru. Langkah Kyubi terhenti di depan sebuah ruangan atau mungkin kamar yang cukup besar dan disekeliling pintu kamar tersebut terdapat aksara-aksara fuin penyegel. Apa yang berada didalamnya hingga banyak sekali fuin penyegel? Kyubi lalu mengeluarkan kuku tajam di tangan kirinya dan menggoreskannya pada telapak tangan kanannya hingga mengeluarkan darah. Dia lalu menempelkan tangan kanannya yang berdarah pada pintu kamar tersebut. Aksara fuin yang tadi mengelilingi pintu bersinar lalu menghilang. Kyubi lalu membuka pintu kamar tersebut.
"Dan itu aku."
Ucap Shineju pelan menunjuk seorang gadis yang terikat banyak rantai tubuhnya juga dililit oleh sebuah kertas besar dengan fuin penyegel. Kenapa... kenapa dia diperlakukan seperti itu?
"Kita harus segera pergi." Kyubi mengambil sebuah pedang yang berada dipunggungnya.
Trankk!
Dia lalu menebas semua rantai yang mengekang tubuh Shineju. Kyubi juga membuka kertas penyegel yang melilit tubuh Shineju.
"Ni-Nii-sama." Ucap Shineju lemah.
"Diamlah, kita harus segera pergi dari sini." Kyubi berdiri dan menatap sekelilingnya. Pandangannya lalu kembali pada Shineju yang masih duduk. "Apa kau masih bisa berjalan?"
Shineju menggeleng lemah. "Semua kekuatanku terasa terserap habis oleh kertas penyegel tadi. " dia lalu mendongak menatap sang kakak yang juga masih menatapnya. "Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Ekspresi Kyubi tiba-tiba mengeras. "Para tetua telah mengambil keputusan." Dia menjeda ucapannya dan berbalik membelakangi Shineju. "Dan keputusannya adalah mengeksekusi dirimu."
"Bukankah kau bilang kau adik Kyubi?"
Shineju mengangguk.
"Tapi kenapa kau diperlakukan seperti itu?" Ya, kenapa kau diperlakukan sekejam itu.
"Nanti kamu juga tau sendiri setelah ilusi ini selesai."
.
.
Diluar alam bawah sadar Naruto...
Moka menatap khawatir pada Naruto yang kini tengah terbaring tak sadarkan diri. Dia mengangkat kepala Naruto dan meletakkannya pada pahanya.
"Naruto-kun bangunlah." Ucapnya benar-benar Khawatir.
Moka tak tau apa yang terjadi pada Naruto. Setelah dia mencium Naruto, Naruto tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri. Ingin dia memanggil bantuan, tapi melihat keadaan sekitar Moka harus dikejutkan dengan perubahan tempat itu. Bagaimana tidak, tempat yang tadinya hancur luluh lantah karena pertarung besar tadi kini kembali kesemula seolah-olah tidak ada bekas pertarungan besar tadi. Hal itu juga dialami oleh hampir semua Youkai, mereka juga terkejut dan sekaligus senang, senang karena tempat mereka ternyata tidak hancur.
Swush... tap!
"Tengu-sama!" Ucap Moka terkejut dengan kedatangan Tengu yang tiba-tiba. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Moka yang masih memperhatikan sekitarnya.
"Aku tidak tau." Jawab Tengu singkat. "Tapi sepertinya saat terjadi peperangan tadi, kita dipindahkan kedimensi lain oleh seseorang." Tengu lalu melihat Naruto yang masih belum sadarkan diri. "Kenapa dengannya?"
"A-aku tidak tau, Naruto-kun tiba-tiba saja terjatuh dan langsung tak sadarkan diri." Jelas Moka.
Tengu hanya diam, dia lalu melirik pada pedang yang tergeletak disebelah Naruto. Dia tadi terlalu gegabah hingga menyerahkan pedang tersebut pada Naruto, padahal sebelum Kyubi wafat dulu dia sudah diamanahkan untuk menjaga pedang tersebut jangan sampai hilang. Untung saja pedang tersebut tadi tidak hilang dalam pertempuran. Tengu berniat mengambil pedang tersebut, tapi niatnya terhenti ketika pedang tersebut mengeluarkan cahaya.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Moka kaget saat melihat tubuh Naruto yang juga ikut bersinar.
Tengu yang melihat hal tersebut malah tersenyum tipis. "Rupanya aku tidak salah." Tengu menutup matanya sejenak. "Sudah saatnya kau bebas...
Shineju-Sama."
.
.
.
.
Tap.. tap.. tap.
Langkah kaki yang terbalut oleh sepatu standart anak sekolah itu menggema dalam lorong rumah kediaman Gremory yang mewah itu. Saat dia melewati para Maid, mereka menunduk hormat.
Tap.
Langkah kaki itu terhenti didepan sebuah pintu yang cukup besar. Tanpa ragu dia membuka pintu tersebut.
Cklek.
Dia lalu menghampiri seseorang yang kini tengah duduk membelakanginya. "Ada perlu apa Nii-sama memanggilku?"
Sirzech memutar kursinya dan menatap kedatangan adiknya. "Ah, kau sudah tiba rupanya Rias-chan." Dia lalu berdiri dan berjalan menuju sofa yang berada di ruangan tersebut.
Melihat hal tersebut Rias juga mengikuti sang kakak. Setelah duduk di hadapan sang kakak. Rias lalu menanyakan pertanyaannya yang tadi belum dijawab kakaknya. "Sebenarnya ada perlu apa sampai Nii-sama memanggilku kemari?"
"Salahkah seorang kakak jika rindu pada adik manisnya ini?" Sirzech memasang mimik sedih untuk melengkapi akting amatirannya itu.
"Hah..." Rias menghela napasnya, bukannya dia sebal atau marah pada kakaknya ini hanya saja saat ini dia tengah banyak pikiran. Tadi waktu disekolah ada tamu yang tak diundang dan tamu itu adalah dua orang dari utusan fraksi malaikat yang tengah menjalankan misi untuk mencari pedang excalibur. Apalagi misi yang mereka lakukan berada di wilayah kekuasaannya. Oh bukan hanya itu saja yang membebani pikiran Rias, masih ada satu hal lagi yang membebaninya yaitu pion barunya. Sudah hampir seminggu ini pion barunya menghilang, Rias sudah mencari di Apatermennya tapi yang dia dapatkan hanyalah ruangan kosong saja.
"Hah..." Sirzech menghela napas sejenak, ia lalu memandang adiknya yang tengah melamun. "Rias-chan?"
Tersadar namanya dipanggil Rias lalu menatap sang kakak.
"Apa ada masalah?" Tanya Sirzech.
Rias menggeleng pelan. "Tidak ada Nii-sama."
"Tapi kau terlihat banyak pikiran." Hanya sekali lihat Sirzech tau kalau adiknya sedang ada masalah.
Rias hanya diam, dia sedang berpikir apakah dia harus menceritakannya pada kakaknya. Tapi tak ada salahnya jika dia bercerita pada kakaknya. "Sebenarnya aku sedang bingung dengan keberadaan pion baruku."
"Maksudmu Naruto?" Tanya Sirzech.
Rias mengangguk. "Sudah seminggu ini dia menghilang tanpa ada kabar dan saat ku datangi apartementnya dia juga tidak ada disana." Jelas Rias.
Sirzech mendengarkan keluh kesah Rias mengenai pion barunya itu. "Rias-chan." Panggil Sirzech setelah cukup lama terdiam. "Apa Naruto sering membangkang perintahmu?"
Rias menggeleng. "Dia bahkan tak pernah mau menuruti perintahku, dia seperti... membenciku." Ucapan Rias yang terakhir begitu pelan, namun masih dapat didengar oleh Sirzech.
Sirzech menutup matanya, ia nampak sedang berpikir dan mencoba memecahkan masalah adiknya ini. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Sirzech menemukan jawabannya. "Tak ada jalan lain." Sirzech menjeda ucapannya dan menatap Rias. "Keluarkan saja dia dari anggota bidakmu."
Mata Rias membulat terkejut. "Ta- tapi.."
"Aku tau dia kuat dan kau pasti menginginkannya tetap berada dalam anggotamu agar nantinya kamu bisa menjuarai rating game." Potong Sirzech sebelum Rias menyelesaikan ucapannya. "Tapi itu percuma saja jika dia tidak mau menuruti perintahmu, dia sudah membangkang dan tak urungnya sama dengan iblis liar."
Rias hanya diam, ia memikirkan apa yang diucapkan kakaknya. Memang benar, maksud Rias mempertahankan Naruto itu karena dia memiliki kemampuan yang hebat dan juga kuat. Dengan adanya Naruto dalam tim Gremory, dapat dipastikan mereka -tim Rias- tidak akan mengalami hambatan yang cukup berat untuk menjuarai rating game. Apa lagi masih banyak misteri yang tersimpan pada Naruto. Padahal ia dan para bidaknya sudah mencoba bersikap baik pada Naruto, namun Naruto seperti tak mau membuka kesempatan untuk tim Rias. Dia begitu dingin dan selalu menebarkan hawa yang kurang bersahabat pada semua orang, seolah-olah dia ingin dijauhi dan dianggap tidak ada. Ah, memikirkan Naruto hanya malah menambah pusing kepala Rias.
"Mungkin yang Nii-sama katakan benar." Rias mengurut pelipisnya berharap rasa pusing dikepalanya dapat berkurang. "Sepertinya aku memang harus melepaskan Naruto, dia begitu liar dan susah untuk dijinakan." Sudah Rias putuskan, ia akan melepaskan Naruto.
"Nah, begitu lebih baik." Ucap Sirzech sambil tersenyum.
"Lalu selanjutnya apa yang aku harus lakukan padanya Nii-sama?"
"Seperti aturan yang telah ada, setiap iblis liar harus dimusnahkan."
"Ja-jadi aku harus membun-"
"Tidak." Potong Sirzech cepat. "Masalah itu biar aku yang mengurusnya." Sirzech tak mau adik manisnya ini dalam bahaya, ia tahu bahwa Naruto itu bukanlah orang yang sembarangan. Dalam sekali lihat Sirzech tau, Naruto bukanlah lawannya Rias dan kelompoknya.
"Ta-tapi apa kita harus membunuhnya. Dia sudah membatalkan pertunanganku dengan Raizer waktu itu."
"Rias, kau harus tau dia melakukan itu karena ada imbalannya bukan karena keinginannya. Dan lagi pula, aturan harus tetap ditaati. Jika kita melanggar aturan hanya untuk hal seperti itu maka akan banyak iblis reingkarnasi yang membangkang." Jelas Sirzech.
"A-aku tau itu." Ucap Rias pelan.
"Bagus." Sirzech tersenyum. "Kau tau kenapa aku memanggilmu kemari?"
"Umm.. tidak tau?"
"Aku ingin jalan-jalan dan Nii-san maunya ditemani oleh Rias-chan." Ucap Sirzech semangat.
Rias sweatdrop, keringat sebesar biji jagung menempel di belakang kepalanya. 'Ja-jadi aku dipanggil kesini cuma untuk menemaninya jalan-jalan.'
"Nii-sama bukannya aku menolak tapi, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Sirzech memasang mimik wajah sedih. "Padahal aku sudah mdmpersiapkan semuanya."
Tak tega dengan sang kakak akhirnya Rias menyerah. "Baiklah, hanya untuk kali ini saja."
"Nah begitu lebih baik!" Ucap Sirzech semangat. Ia dan Rias lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut, sesekali terdengar tawa disela mereka berjalan semakin jauh.
Tak taukah mereka, bahwa maut telah menghampiri salah satu dari mereka?
.
.
.
.
"Berhenti, aku sudah tidak kuat." Ucap Shineju lemah, kini dia digendong oleh Kyubi.
"Bertahanlah, kita harus cepat keluar dari dunia Youkai ini sebelum mereka menangkap kita." Ucap Kyubi disela larinya sambil menggendong Shineju di punggungnya.
Shineju memandang rambut orange sang kakak, ia menarik napas pelan. "Mungkin memang lebih baik aku mati dari pada membahayakan kaum Youkai."
"Apa yang kau ucapkan itu HAH!" Bentak Kyubi. "Hanya kau satu-satunya keluarga yang saat ini aku miliki! Aku tak akan membiarkan mereka membunuhmu!"
"Tapi mereka benar, dengan kekuatanku yang tak terkendali ini, aku hanyalah ancaman bagi kaumku sendiri. Aku... aku tak ingin jatuh korban lagi gara-gara kesalahanku ini." Shineju menatap pundak kakaknya sendu. "Kaa-san meninggal gara-gara melahirkanku. Tou-san meninggal gara-gara aku yang lepas kendali dan menyerangnya. Lalu-"
"Cukup!" Potong Kyubi cepat. "Itu bukan salahmu, lagi pula itu juga bukan ke inginanmu."
"Tapi tetap saja akulah yang telah membuat mereka meninggal!"
Swush~ tap!
Kyubi menghentikan larinya saat tiba-tiba ada yang menghalangi jalannya. Mata merah vertikalnya menatap tajam sosok di depannya. "Tengu, apa kau kesini untuk menghalangi aku pergi." Kyubi lalu menurunkan Shineju dari gendongan, ia mengambil pedang yang terselip di pinggangnya. "Jika iya, maaf saja aku tak akan segan-segan untuk melukaimu."
"Tidak, aku kesini bukan bermaksud untuk menghalangimu." Tengu berjalan mendekati Kyubi. "Aku kesini untuk membantumu." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Kau-"
"Kita adalah sahabat dan sudah seharusnya kita saling membantu."
Kyubi terdiam, beberapa detik kemudian dia tersenyum. "Kau mem-"
"Arkh!"
Ucapan Kyubi terpotong saat ia mendengar teriakan Shineju. Dapat ia lihat tubuh Shineju yang tengah mengeliat diatas tanah disertai aura berwarna putih yang mulai memasuki tubuh Shineju.
"Gawat!" Ucap Kyubi. Ia lalu menghampiri Shineju.
"Jangan mandekat!" Ucap Shineju memperingati kakaknya. Dua ekor berwarna putih mulai keluar dari belakang tubuh Shineju. "Arkhh! Seharusnya aku tetap berada dalam segel itu." Racau Shineju sambil menahan rasa sakit.
"Aku dapat merasakan ada beberapa kelompok Youkai sedang menuju kemari." Ucap Tengu pada Kyubi.
"Sial!" Umpat Kyubi. "Bertahanlah Shineju!"
"A-aku sudah tidak ku- arkhh!" Kini muncul lagi empat ekor dari belakang tubuh Shineju, sekarang jumlah ekor yang sudah muncul ada enam. "Ka-kalian cepatlah menjauh! A-aku sudah tidak mampu mengontrolnya lagi." Satu ekor kembali muncul dibelakang tubuh Shineju.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Tengu yang melihat Shineju semakin tidak terkontrol.
Swush! Boom!
Tubuh Kyubi dan Tengu terlempar cukup jauh saat ledakan energi yang begitu besar keluar dari tubuh Shineju, asap menutupi tempat Shineju.
"Groar!" Terdengar auman yang begitu keras berasal dari tempat Shineju. Setelah asap menghilang kini terlihatlah Rubah putih raksasa dengan sepuluh ekor yang melambai ganas di belakang tubuhnya.
"Sial! Dia lepas kendali lagi!" Umpat Kyubi yang melihat adiknya sudah masuk dalam mode Youkainya. "Tak ada cara lain." Kyubi menutup matanya, tiba-tiba aura berwarna merah keluar dari tubuhnya, aura itu semakin meluap-luap dan dalam hitungan detik ledakan energi terjadi dengan Kyubi sebagai pusatnya.
"Groarr!" Muncullah sosok Kyubi dalam mode Youkainya yang berbentuk rubah berwarna orange gelap dengan sembilan ekor yang melambai ganas dibelakang tubuhnya.
Tunggu dulu, kenapa wujudnya sangat mirip dengan Kurama? Dan, namanya juga sama yaitu Kyubi?
"Apa maksudmu sama?"
"Dulu aku pernah punya teman seperti kakakmu itu."
Aku jadi rindu pada bola bulu itu.
"Hmm, dia pasti teman yang sangat berarti bagimu sampai kau benar-benar merindukannya."
"Ya, dia sangat berarti bagiku. Dia sudah seperti saudaraku."
"Lalu sekarang dia berada dimana?"
Diam.
Aku hanya diam, bahkan pikiranku pun diam.
"Hei! Kenapa kau diam saja!"
"Lupakan itu."
Ucapku singkat, aku lalu kembali melihat gambaran ingatan Shineju.
"Huh! Kau tak asik!"
"Tengu, kau pergilah dari sini. Disini sangat berbahaya bagimu." Ucap Kyubi dalam mode Youkainya.
"Tidak, aku tetap akan disini. Aku akan membantumu." Ucap Tengu tegas. Ia lalu mengeluarkan sepasang sayap gagaknya dan terbang disisi kepala rubah Kyubi.
"Dia bukan lawanmu jika sudah lepas kendali." Ucap Kyubi memperingati Tengu.
"Dia juga bukan lawanmu saat dia dalam kondisi seperti itu." Ucap Tengu tak mau mengalah. "Tapi jika kita melawannya bersama mungkin kita bisa mengatasinya."
"Bukankah kekuatanmu tadi sudah terserap habis oleh kertas penyegel?"
"Yap!"
"Lalu kenapa kau bisa mengeluarkan kekuatan sebesar itu." Ya, bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu dalam sekejap?
"Emm... begini, sebenarnya inti kekuatanku berasal dari energi alam yang masih mentah dan semakin banyak aku menyerapnya maka semakin sulit pula aku mengontrolnya makanya aku sering lepas kendali. Tapi itu dulu, sekarang aku sudah dapat mengatur dan menyaring setiap energi alam yang masuk dalam tubuhku."
Begitu rupanya, ini sama dengan mode Senninku hanya saja energi alam yang kuserap sudah positif dan juga jumlahnya terbatas.
"Groarr~!" Raungan keras kembali menggema. Tiba-tiba energi berwarna biru dan merah mulai terkumpul didepan moncong Shineju, kedua energi itu lalu bergabung membentuk sebuah bola sebesar 15 meter dan ukuran terus bertambah setiap detiknya.
"Gawat." Ucap Kyubi saat melihat kumpulan energi Ying dan Yang yang semakin banyak mulai membentuk ukuran bola yang semakin besar. Ia lalu melesat kearah Shineju.
Tengu yang melihat hal tersebut juga tak tinggal diam. Ia lalu terbang mendekati Shineju dan menembakkan energi senjutsu yang berbentuk bola-bola kecil.
Blar! Blar! Blar!
Ledakan tercipta saat bola-bola Senjutsu dari Tengu mengenai tubuh Youkai Shineju, namun hal itu sama sekali tak berpengaruh pada Shineju.
"Sial!" Umpat Tengu. Ia lalu menciptakan bola energi Senjutsu sebesar lima meter. "Terima in-"
Swush~ brakk!
"Groar!"
Kyubi muncul di belakang tubuh Shineju dan mengigit leher Shineju.
Swush!
Bola energi gabungan Ying dan Yang yang diciptakan Shineju terlempar ke udara.
Booomm!
Ledakan dahsyat menghiasi langit dunia Youkai itu, angin besar tecipta dan mempora-porandakan pepohonan di hutan itu.
Tengu menggunakan kedua tangannya untuk menghalangi wajahnya agar tak terkena pohon-pohon dan batu yang ikut berterbangan. Energi Senjutsu yang dia ciptakan tadi juga sudah menghilang.
"Percuma saja jika aku harus ikut bertarung." Gumam Tengu yang melihat pertarungan dua Youkai yang terkuat saat ini. "Hanya satu yang dapat kulakukan." Tengu lalu terbang menjauhi pertarungan.
"Shineju, sadarlah!" Geram Kyubi yang kini masih mengigit leher Shineju.
"Groar!" Shineju mencoba melepaskan gigitan Kyubi.
Masih dalam posisi menggigit, Kyubi lalu melemparkan tubuh Shineju.
Brakk!
Tubuh Shineju terseret cukup jauh, pohon-pohon yang dia lewati menjadi porak poranda. Shineju lalu kembali berdiri mata emas vertikalnya menatap Kyubi tajam. Air liur menetes disela-sela mulutnya, ia saat ini benar-benar lepas kendali.
"Kumohon, sadarlah Shineju. Aku yakin kau mendengarku!' Teriak Kyubi.
Untuk sesaat Shineju memandang Kyubi. "Groar~!" Raungan keras kembali keluar dari mulut Shineju, ia lalu bergerak menyerang Kyubi.
"Sial." Umpat Kyubi saat melihat Shineju menuju kearahnya. Ia lalu juga menyambut kedatang Shineju dengan menembakkan bola-bola energi sebesar satu meter kepada Shineju.
Shineju juga tak mau kalah, ia juga menciptakan bola-bola energi dan menembakkannya pada Kyubi disela larinya.
Boom! Boom! Boom!
Ledakan-ledakan besar terjadi saat bola-bola energi itu saling bertabrakan dan menghantam tanah.
Crass!
Brakk!
Tubuh Kyubi terlempar saat cakar tajam Shineju menghujam wajahnya. Darah segar menetes dari bekas luka cakaran diwajahnya.
"Groar~!" Shineju meraung keras tanda ia senang karena telah memberikan luka pada musuhnya. Mata emas vertikalnya menatap Kyubi yang kembali berdiri, tak mau memberi kesempatan pada Kyubi, Shineju kembali menciptakan bola energi yang lebih besar dari tadi dan langsung menembakkannya pada Kyubi yang baru berdiri.
Kyubi yang baru saja berdiri harus dikagetkan dengan kemunculan bola energi yang menuju kearahnya, ingin menghindar tapi sudah tak sempat karena bola energi itu sudah terlalu dekat dan yang bisa Kyubi lakukan hanyalah pasrah saat bola energi itu menghantam tubuhnya.
BOOM!
Tiba-tiba semua ilusi ingatan Shineju mengabur dan tempat ini kembali menjadi putih. Apa hanya sampai disini saja?
"Sebenarnya belum selesai sih, tapi aku tak mau kau melihat bagian yang sangat menyedihkan dari diriku."
Oh, privasi ya.. aku bisa menerimanya. Setiap orang memang punya privasi sendiri.
"Lalu, bagaimana kau bisa tersegel dalam pedang?" Tanyaku.
"Emm... Setelah pertarungan itu pada akhirnya aku sadar kembali. Aku langsung menyesali perbuatanku itu. Lalu Tengu datang dan membawa kertas penyegel yang cukup besar. Atas dasar inisiatif diriku sendiri, aku meminta Kyubi-niisama menyegelku. Yah... walau dia menolak keras, tapi pada akhirnya dia menyerah karena aku lebih keras kepala dari dirinya. Karena Kyubi-niisama tak mau jauh dariku jadi dia menyegelku dalam pedangnya yang selalu dia bawa. Kurang lebih seperti itulah akhirnya."
Hmm, jadi seperti itu. Ah, tapi buat apa aku memikirkannya toh itu tidak ada untungnya bagiku.
"Dasar! Apa kau tak bersimpati atas apa yang telah menimpaku." Ucap Shineju.
"Kau masih beruntung." Ucapku.
"Beruntung kau bilang! Itu bencana tau!" Ucapnya dengan sebal.
"Seharusnya kau harus bersyukur karena masih ada keluargamu yang sangat sayang pada dirimu." Berbeda dengan diriku yang sudah sendirian sejak kecil.
"Apa maksudmu?" Shineju menatapku bingung.
Ingatkan aku bahwa dia bisa membaca pikiranku.
"Apakah ada cara untuk membebaskanmu dari segel itu?"
Shineju nampak berpikir, dia lalu menatapku dari atas sampai bawah.
"Ada sih, tapi aku tak yakin kau bisa melakukannya." Ucapnya.
Dan aku merasa sebal karena berkataannya. Apa dia meremehkanku?
"Tidak tidak, aku tidak meremehkanmu hanya saja ini sulit bahkan Kyubi-niisama tak bisa melakukannya."
"Ck, katakanlah bagaimana caranya." Aku benar-benar kesal sekarang.
"Hah... baiklah. Tapi, sebelum itu aku mau bertanya padamu." Shineju menatapku. "Apa kau berniat membebaskanku?'
"Ya." Jawabku singkat.
"Dan apa alasanmu membebaskanku?" Lanjutnya.
"Supaya kau tidak mengganggu pikiranku dan aku lebih senang jika alam bawah sadarku kosong dari pada diisi oleh gadis cerewet sepertimu."
"Mou~ seharusnya kau senang alam bawah sadarmu ada gadis youkai cantik dan kuat." Ucapnya sambil memasang wajah cemberutnya.
Tidak, aku sama sekali tidak senang.
"Ugh! Kau menyebalkan Naruto-kun."
"Sudahlah cepat katakan saja." Aku sudah tidak sabar untuk menendangnya keluar dari alam bawah sadarku ini.
"Jika kau ingin membebaskanku kau harus melawanku dan mengalahkanku."
Itu merepotkan.
"Jika itu merepotkan maka biarkan saja aku tinggal disini."
Itu pilihan yang buruk.
"Baiklah aku akan melawanmu." Ucapku.
"Kau yakin?" Tanyanya memastikan.
Aku mengangguk. "Ku rasa itu cukup mudah." Ucapku.
"Oh, benarkah?"
Aku mendongak dan melihat Shineju yang sudah masuk mode Youkainya. Oh, aku tarik kembali kata-kataku tadi...
...ini akan sangat merepotkan.
.
.
.
TBC
.
.
Ah, selesai juga ini chap. Semoga cukup menghibur. Jika kalian bingung dengan percakapan antara Shineju dan Naruto akan saya jelaskan, disini Shineju dapat membaca pikiran Naruto makanya tanpa berbicarapun Shineju tau.
Menurut kalian gimana penulisanku, empat bulan gak nulis membuatku kaku *salah sendiri malas nulis* jadi jika ada kesalahan harap di maklumi. Untuk UPnya masih gak nentu saya gak bisa janji. Jadi maaf jika UPnya akan lama lagi.
Sampai jumpa lagi...
.
.
.
"Bagaima tugas kalian?" Sosok gadis bertubuh loli itu menatap beberapa sosok yang kini duduk dihadapannya.
"Sepertinya rencana kita berhasil." Ucap sosok laki-laki yang memakai armor berwarna putih. "Besok akan diadakan pertemuan tiga fraksi. Profokasi yang di lakukan Lucifer dan Arakiel membuahkan hasil. Ketiga kubu kini semakin memanas."
"Tentu saja usahaku berhasil. Aku harus kehilangan banyak pasukanku karena dibunuh oleh pendeta-pendeta vatikan, juga para malaikat jatuh."
"Lucifer, bukan kau saja yang kehilangan banyak pasukan, aku juga." Ucap Arakiel.
"Cukup." Nada datar dan dingin itu cukup untuk membungkam para mahluk yang berkumpul disitu. Gadis loli jelmaan naga tanpa batas itu berdiri dari singgasananya.
"Vali, kau tetaplah berada disisi Azazel dan beri kabar terbaru mengenai underword." Ucap Ophis.
"Aku mengerti." Ucap sosok laki-laki berarmor putih yang bernama Vali itu.
"Dan Kokabiel, semua tergantung pada rencanamu. Jika kau bisa melakukannya dengan benar maka semua rencana kita akan berjalan lancar." Ucap Ophis menatap datar sosok malaikat jatuh yang bernama Kokabiel.
"Kau bisa mengandalkanku." Ucap Kokabiel, seringai lebar mengghiasi wajahnya.
"Bagus." Ucap Ophis singkat. "Dengan begitu...
..Great War akan pecah lagi."
