"Aku tidak suka kau begitu padanya." Omel Kibum. Siwon acuh. Setelah Jaejoong dan Yunho pergi, Kibum tidak berhenti mengomel.
"Aku pun tidak suka kau membahas keluarganya." Ujar Siwon kesal.
"Mereka yang membantuku ketika diusir dari rumah." Kibum berkata dengan suara yang agak keras.
"Itu salah mu sendiri kenapa kabur."
"Bagaimana tidak. Kau menyekapku di apartemen. Dasar gila!" Maki Kibum. Ia kesal bukan main. Siwon langsung bisu. Ia mengingat kegilaannya dulu. Menyekap Kibum di apartemennya selama dua bulan lebih. Kibum yang terlihat sudah mulai lunak padanya saat itu dan terlihat hanya pasrah membuatnya tertipu. Pria itu menghilang entah kemana. Kalau bukan karena sibuk mencari Kibum, ia tidak akan lalai mengurus visa dan akhirnya ia pun harus kembali ke luar Korea beberapa hari.
"Apa kau menyesal?" Tanya Kibum, sinis. Ia melihat Siwon yang hanya diam tak membantah. "Kalau merasa bersalah harusnya kau mengabdi padaku. Perlu pengorbanan yang banyak karena harus menikah dengan pria sepertimu."
Siwon hanya mendecih. 'Pria sepertimu, katanya.' Batin Siwon. "Aku pun berkorban banyak untuk menikah dengan pria galak sepertimu."
"Galak, heh? Siapa yang tergoda pada pria galak ini sampai-sampai harus onani di kamar mandi, heh?"
Lidah Siwon kembali kelu. Kibum memang pandai dalam perang lidah. Karena malu, Siwon pun langsung keluar. Pria itu keluar dengan wajah merah padam.
Dahulu setelah Kibum diusir dari rumah dimalam hari, pria itu langsung menuju pelabuhan untuk kembali ke Seoul tetapi sayangnya malam sudah terlalu larut untuk kapal penyebrangan beroprasi. Belasan tahun lalu, pelabuhan belumlah ramai. Kampung halamannya hanya pemukiman kecil yang kebanyakan penduduknya mencari nafkah dengan menjadi nelayan.
Kibum yang lapar, membeli makanan di toserba Hanggeg yang saat itu masih buka. Karena terlalu larut, Hanggeg menawari pria itu menginap sampai kapal feri kembali beroprasi dipagi hari. Kibum menyetujuinya. Sayang kondisinya yang hamil muda membuatnya tak bisa bangun dari tempat tidur. Heechul yang menjaga Kibum sambil mengurus anaknya. Karena tidak ingin merepotkan, Kibum pun memaksa pergi walau kondisinya tidak stabil. Heechul yang khawatir, menemani pria itu ke Seoul. Di Seoul, kondisi pria itu tidak kunjung membaik. Wanita itu curiga ketika Kibum enggan berobat ke rumah sakit dan memaksa Kibum bercerita. Dari situlah Heechul tahu bahwa Kibum hamil dan apartemen mewah yang ditinggali mereka adalah apartemen milik Siwon. Heechul kembali ketika Kibum berkata akan pergi ke Jepang untuk bertemu dengan Siwon.
...
Ini adalah hari terakhir Kibum di rumah sakit. Setelah seminggu terbaring di ranjang rumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Siwon sudah membereskan pakaian Kibum dan dirinya. Sekarang pria itu sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan pengacara. Nada suaranya terdengar marah. Mungkin ada sedikit salah paham diantara mereka yang pasti mood Siwon semakin hari semakin memburuk begitupun kesehatannya. Pria itu terkadang terbatuk dan lebih sering tidur.
Siwon kembali merebahkan dirinya di sofa panjang sambil memijat keningnya yang terasa berat.
"Sesuatu terjadi padamu?" Tanya Kibum. Pria itu berjalan mendekati Siwon dan memeriksa kening pria itu. Hangat. Itulah yang dirasakan Kibum.
"Semuanya baik-baik saja." Ujar Siwon. Ia berbohong hanya ingin Kibum tidak terlalu cemas. Ada beberapa masalah tentang hak cipta pada perusahaan software yang ia kelola di Amerika. Kalau kondisinya sedang stabil ia pasti bisa mengatasinya dalam sekejap hanya saja akhir-akhir ini kondisi kesehatannya memburuk. Otaknya seakan beku untuk mencari jalan keluar.
"Kurasa kau sakit."
"Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu berbaring di rumah. Tidur di sofa membuat leherku sakit." Ujar Siwon sambil mengeluh meminta perhatian Kibum.
Kibum mencibir. "Biasanya juga kau tidur di kantor."
Siwon mendesis. "Kalau aku sakit setidaknya berikan aku perhatian lebih. Akukan sudah mengurusmu selama kau sakit!" Omel pria itu. Ia melempar ponselnya di atas tumpukan dokumen di meja. "Aku sangat berharap kau akan berkata 'Sini, tidur dipangkuanku.'" Gumamnya menyindir.
"Terserahlah. Ayo cepat! Mumpung aku sedang baik." Ujar Kibum. Ia menepuk-nepuk pangkuannya seraya menggoda pria spanyol itu.
Siwon kembali mendesis. Ia tidak suka Kibum menggodanya.
"Tidak mau?"
"Aku tidak suka jika kau hanya menggodaku." Peringat Siwon.
"Tidak akan. Aku janji."
Siwonpun perlahan berbaring dipangkuan Kibum dan menyamankan dirinya disana.
"Apa dikantor kau sering begini? Bersama James?"
"Jangan membuatku membayangkan hal yang menggelikan." Ujar Siwon. James bukan tipenya. Pria pucat dengan tubuh tinggi dan kurus membuatnya merasa seperti melihat batang korek api. Untung saja pria itu pintar.
Kibum hanya mengangguk pelan. Beberapa saat dengkuran halus keluar dari mulut Siwon. Ia langsung mengambil ponsel disaku celananya dengan perlahan. Bunyi nada sambungpun terdengar kemudian diikuti oleh sapaan dari line di ujung sana.
"Aku ingin berinvestasi pada agensi Golden Gate. Bisa kau mengurusnya agar kami bisa bertemu?"
"..."
"Besok. Aku ingin bertemu dengannya besok."
Kibum mematikan ponselnya. Ia melihat Siwon yang tertidur pulas dipangkuannya. Pria ini kaya, wajahnya bisa dibilang tampan walau sudah agak berkerut karena usia, berpenampilan rapih dan wangi. Siapa sih yang tidak ingin dekat-dekat dengan pria ini?
...
Ini lebih dari seminggu setelah Jaejoong bertemu Changmin terakhir, Changmin sudah masuk sekolah lagi dengan gaya yang masih tetap sama, angkuh padanya. Kehadiran Changmin disambut oleh teman-temannya dengan penuh perhatian. Changmin bagai idola di kelas. Menyebalkan!, pikir Jaejoong. Remaja blasteran itu iri khas anak remaja tetapi mau bagaimana lagi. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Di perpustakaan tempat Changmin menghabiskan masa istirahatnya, Jaejoong menghampiri diam-diam dan bertanya kelanjutan bagaimana dia bisa sekolah lagi tetapi reaksi remaja angkuh itu malah negatif dan menganggapnya tidak senang jika remaja itu kembali bersekolah dan tidak lagi mengamen dijalan. Jaejoong hanya cemberut. Ia ditinggalkan begitu saja.
...
Kibum berharap Siwon pergi bekerja pagi ini. Sejak Kibum keluar dari rumah sakit, Siwon tidak pernah sekali pun berangkat kerja. Semua pekerjaan pria itu dibawa kerumah beserta para sekertarisnya yang sibuk bulak-balik keluar rumah mereka. Kibum merasa risih. Risih karena gerak-geriknya seakan terawasi secara langsung oleh pria spanyol itu.
"Aku kira kau akan berangkat ke luar negri mengurusi pekerjaanmu." Ujar Kibum sambil memakan sarapan buburnya beserta steak di halaman belakang rumah. Siwon ada di sana, dia duduk di depan Kibum sambil sibuk dengan tablet silver miliknya.
Siwon tersenyum. "Berkat pangkuanmu. Otakku kembali jernih." Gombalnya. Memang benar, masalah itu sudah ia selesaikan hanya tinggal menunggu respon apakah kontrak kerja samanya diterima atau berurusan dengan meja hijau. Lebih baik menjadikan musuh sebagai kawan, pikirnya. Pria itu langsung mengekspresikan rasa senangnya dengan menggumamkan 'yes' ketika ada email masuk yang menyatakannya tawaran kerja samanya diterima.
Kibum mendesis. "Lalu kenapa kau tidak berangkat kerja?"
Siwon meletakkan tabletnya di meja. "Kenapa kau tidak suka? Aku tahu niatmu yang ingin bertemu dengan Heechul kembalikan? Karena ada aku semenjak dirumah sakit kau tidak bisa bertemu dengan wanita tua itu." Protes Siwon jengkel.
"Jangan memulai. Diotakku masih mengingat kau yang merawatku saat sakit. Jangan buat aku melupakan itu semua." Ujar Kibum.
"Aku tidak suka kau bersamanya. Kau diam-diam bertemu dibelakangku bersama wanita itu. Entah apa yang kalian lakukan diluar sana. Wanita tua. Matre. Tidak tahu diri. Suka menggoda suami orang." Cerca Siwon.
Kibum merasa muak. Ia meletakkan alat makannya dimeja. "Lalu kau sendiri apa? Bermain dengan Kim Junsu kau pikir kau suci?!" Teriak Kibum. Harusnya kemarin kemarin Kibum bertemu Junsu tetapi terhalang karena Siwon yang selalu dirumah. Ia jadi kesal sendiri mengingat hal itu.
Siwon langsung melotot kaget. Wajahnya mudah sekali dibaca oleh Kibum.
"Kenapa?! Kau kaget aku tahu hal ini?! Kau pikir aku tidak tahu berapa uang yang kau berikan untuknya? Kau terlihat peduli sekali yah padanya?" Ini diluar rencana Kibum. Harusnya ia diam-diam berteman dengan Junsu dan kemudian menunjukkan hal itu pada Siwon agar pria itu tersiksa nantinya. Sayangnya ia sudah terlanjur mengatakan isi dari pikirannya karena kesal.
Tentu saja Siwon tidak terima jika dipojokkan. Setidaknya ia ingin membela diri. "Iya. Kenapa kalau memang benar? Kau mau apa? Kalau bukan karena kau yang angkuh padaku semua tidak akan terjadi. Kau selalu memikirkan segalanya. Memikirkan dunia yang menganggapmu hubungan kita aneh. Memikirkan Jaejoong. Masa depannya. Pandangan negatif orang dan segala hal kau pikirkan tetapi apa kau pernah memikirkanku?!" Tuntut Siwon tidak terima. Ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk Kibum. "Kau ingat saat aku yang meminta bercerai siapa yang menolak?! Kau!" Tunjuknya pada Kibum.
Kibum tersentak. Baru kali ini ia merasa kalah. Siwon terus mengomelinya tanpa henti. Biasanya Kibum yang selalu menang dengan sikap angkuh dan arogannya dengan membanting ini dan itu tetapi sekarang ia merasa Siwon tidak ingin mengalah padanya. "Tentu saja. Jangan harap kita bercerai. Aku tidak sudi kau bebas dan bisa bersama Kim Junsumu itu!" Maki Kibum.
"Kau! Dasar angkuh! Apa kau tidak bisa sedikit baik padaku! Aku muak! Menjadi satu-satunya yang posesif membuatku gila!" Ujar Siwon. Ia pun masuk kedalam rumah sambil berteriak menyuruh Butler Park memanggil pengacaranya.
Kibum memaki diluar sana. Sekarang ia merasa terpojok. Pria Korea itu menggigit bibirnya. Tak terbayang ketika mereka benar-benar bercerai. Rumah ini dan setengah harta Siwon pasti menjadi miliknya sementara Jaejoong akan memilih sendiri kemana dia akan berpihak. Sudah hampir delapan belas tahun mereka menikah dan semua berakhir begitu saja membuatnya tidak rela. Si bodoh itu-Siwon- pasti bebas dan akan bersenang-senang dengan banyak pria atau mungkin langsung menikah dengan Junsu setelah bercerai. Sementara Kibum, pria itu mungkin hanya menggigit jari dengan kesal sampai tua nanti. Sendirian. Kibum tidak terima dan tidak mau.
Kibum buru-buru naik kekamarnya. Siwon sudah sibuk mengemasi pakaian favoritnya. Melihat pandangan Siwon yang sengit padanya membuat Kibum sedikit enggan mendekat. Akhirnya ia membuka kulkas kecil dikamarnya dan meminum beberapa teguk alkohol untuk menenangkan pikiran.
Seperti kucing, ia menggesekkan kepalanya di punggung Siwon. Lengannya melingkar kuat didada pria Spanyol itu.
"Lepas!" Perintah Siwon galak.
Kibum menggeram tidak mau. Ia percis seperti anak kucing.
Siwon memberontak. Kemudian melepaskan tangan Kibum dengan kasar. "Apa-apaan sih?!" Kesalnya sambil menatap Kibum.
Kibum menunduk dan buru-buru kembali memeluk Siwon dari depan. Membenamkan wajahnya didada suaminya itu. "Jangan pergi." Larang Kibum memelas.
Siwon mendecak. Ini pasti aksi Kibum lainnya.
"Lepas!" Ujar Siwon sambil berusaha melepaskan tubuh mereka.
Kibum semakin kuat menahan tubuhnya agar mereka tetap berpelukan. "Aku tidak ada apa-apa dengan Heechul. Mian..."
Aish, hanya mendengar kata maaf dari Kibum membuat hati Siwon langsung luluh. Suara Kibum yang lembut mampu mencairkan hatinya. Selama ini Kibum terlalu angkuh untuk mengatakan kata maaf. Hal itu terasa seperti hujan digurun pasir. Hanya saja Siwon harus bersikap tegas kali ini walau didalam hatinya berkata lain.
"Kau kira maaf saja cukup!"
"A-aku tidak akan bertemu Heechul lagi tanpa izinmu. Aku janji tidak akan angkuh dan arogan padamu. Aku janji akan memperbaiki sifat burukku." Suara Kibum parau.
"Sudah? Itu saja? Berbicara memang mudah tetapi tidak ada tindakan sama saja omong kosong."
Kibum langsung menatap Siwon dengan mata yang memelas. Siwon terlihat ketus dan galak. Masih terlihat marah. Kibum melepaskan pelukannya. Siwon langsung melipat tangan didada menunggu apa yang akan dilakukan Kibum untuk meraih maafnya.
Akhirnya, Kibum dengan tangan bergetar menariuk ujung kaos milik Siwon dan membawa suaminya menuju ranjang. Siwon dalam hati berteriak kegirangan. Mungkin nanti dia akan meminta felatino dari Kibum.
...
Jaejoong sudah pulang dari tadi. Ia sudah les piano bersama Miss Rey yang diam-diam kecewa karena tidak melihat Siwon tadi. Dalam hati, perasaan was-was itu pun terjadi mendengar Butler Park mengatakan bahwa pagi tadi mereka bertengkar hebat sampai membawa-bawa pengacara berniat bercerai. Jaejoong jadi ngeri mendengarnya. Kedua orang tuanya sampai saat ini masih betah dikamar mereka. Jaejoong takut jika nanti Kibum bertengkar sampai melukai Siwon atau sebaliknya. Akhirnya, ia pun mengetuk kamar orang tuanya setelah menempelkan telinga di depan pintu.
"Mom, dad kalian ada didalamkan?" Tanya Jaejoong sambil mengetuk pintu. Tidak ada respon. Ia pun kembali mengetuk dan memanggil Kibum dan Siwon. Ia pun jadi panik ketika tak ada balasan sedikitpun. Akhirnya ia menggedor pintu seperti orang gila.
Pintu pun terbuka. Siwon keluar dengan penampilannya yang seperti baru saja bangun tidur, acak-acakan. Ia bahkan hanya menggunakan celana panjamanya. "Apa sih, mengganggu saja?!" Ketus Siwon.
"Mom mana?" Tanya Jaejoong.
"Dia sedang tidur. Kau istirahatlah. Kerjakan pr mu." Siwon buru-buru menutup pintunya tetepi Jaejoong langsung saja menahan pintu itu untuk tertutup.
"Bohong. Kata Butler Park kalian bertengkar. Mana mau mom tidur denganmu, dad? Kau tidak mencelakainya, kan?" Tanya Jaejoong terkesan menuduh. Jaejoong sangat khawatir pada Kibum makanya dia berkata seperti itu apalagi Kibum baru saja pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu.
"Memang tampang dad seperti kriminal apa? Sudah tidur sana." Usir Siwon sambil menyibas-ngibaskan tangan.
Remaja itu tidak perduli. "Mom!" Ia berteriak memanggil sambil berusaha masuk.
Siwon jengah. Ia pun menggiring anaknya keluar kemudian menutup pintu dibelakang tubuhnya. "Dengar, Choi Jaejoong, kalau kau terus berteriak seperti itu. Jangan harap mommy-mu tidak tahu motor baru yang kau sembunyikan di-ga-ra-si. Dengar itu? sekarang pergi tidur!" Perintah Siwon sambil mengancam. Jaejoong mengaku, kemudian langsung pergi sambil mengerucutkan bibirnya. Dikejauhan, remaja itu berbalikdan melihat Siwon memandangnya sengit seakan berkata 'Mendekat artinya mati.'
Jaejoong mendesis. Ia lupa kalau visa Kibum berasal dari rekening milik Siwon. Remaja itu tidak sampai berfikir bahwa daddy-nya akan mengancam dengan hal ini.
...
Malam sudah larut tetapi kedua pria itu masih ada di dalam sebuah gedung kantor. Mereka masih mendiskusikan proyek mereka dua tahun kedepan. Ditemani ramen instant mereka pun mendiskusikannya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Yunho, nama pria berkemeja hitam itu sambil memakan ramennya.
"Ada beberapa nama investor yang mungkin akan berkerja sama. Choi Siwon, Park Jungsoo, Il Sinwoo."
"Taruh Choi Siwon dinomor tiga." Cetus Yunho langsung.
"Park Jungsoo sangat menyukai bermain golf. Setiap selasa dan Jum'at, ia akan bermain golf dengan putrinya. Kalau kau bi-"
Lagi-lagi Yunho memotong perkataannya. "Aish, kenapa harus putrinya. Il Sinwoo bagaimana?"
"Il Sinwoo, pria dengan banyak skandal. Bulan lalu ia baru saja bercerai. Ini adalah perceraian ketujuhnya. Semua orang tahu ia gemar bermain perempuan. Setiap hari Jum`at dia sering terlihat di Souna dengan membawa wanita muda yang berbeda. Kemudian, Choi Siwon. Aku tahu kau pasti mengenalnya. Dia suka berpesta. Akan lebih baik kau menemui Choi Siwon terlebih dahulu."
"Lalu untuk enginer dan masalah merger?"
"Ada sebuah perusahaan mobil di China dan Jerman yang berminat. Untuk enginer, ada seorang pria asal Jepang yang menarik perhatian. Dia disebut-sebut sebagai pembuat desain dan enginer mobil ferarri saat berumur tujuh belas tahun. Sayangnya dia sedikit aneh, selain kabar bahwa dia jenius. Kabarnya sekarang dia tinggal dipinggir kota Kobe bersama putri angkatnya yang berusia 5 tahun. Sepuluh tahun belakangan dia tidak bekerja, atau menolak bekerja lebih tepatnya. Laporannya akan aku siapkan."
Yunho menyelesaikan makan ramennya. Ia pun mengambil jas. "Aku pulang dulu. Jangan lupa datang pagi-pagi untuk rapat pemegang saham."
Yoochun mengangguk. Sesaat ketika bosnya menjauh ia memanggil, "Siapkan jawaban yang bagus untuk besok. Hati-hati dijalan." Ujarnya sambil menatap senyum bos mudanya itu.
Yoochun menghembuskan nafas. Kacamatanya sudah ia lepas. Dari jendela terlihat embun-embun yang menempel. Diluar mulai turun hujan. Sudah hampir lima tahun ia tinggal di Korea. Visanya pun sudah hampir habis tetapi tujuannya berada di negara ini belumlah tercapai. Ia kembali bimbang, ingin tetap tinggal atau kembali dan melupakan semuanya.
...
Diruangannya, Junsu berdiri di depan jendela sambil menikmati hujan yang turun diluar. Agensinya telah sepi dari aktivitas manusia. Junsu kembali merenung sambil menggosok cincin yang ada di telunjuknya dengan ibu jari.
