GOMENASAI MINNA-SAN!
PENYAKIT TYPO KU MASIH TERUS BERLANGSUNG & JADI BIKIN MATA MINNA-SAN SAKIT, GOMEN, GOMEN, GOMEN! *SUJUD SERIBU KALI*
Aku berusaha semaksimal mungkin mengurangi karena menghilangkan sepertinya agak susah. Berulang kali aku baca, tetapi saja masih ada typo(s), sepertinya mataku susah diajak kerjasama nih *BLETAK!*
Aku masih banyak sekali kekurangan, terutama masalah typo, minta maaf karena Readers harus menderita karena author gaje sepertiku.
Terima kasih atas review, masukan, dukungan, tebakan plot, perasaan deg2an, penasaran, pokoknya semua yang sudah bersedia memberi review dan juga bersedia mampir untuk membaca fict ini ^_^ ===== LOVE U GUYS! =====
Mengenai Chapter ini ….banyak sekali emosi yang aku tuangkan,*terlalu banyak malah* habisnya mau aku penggal setengahnya, sepertinya tidak tepat, karena itu chap ini panjang sekali.
Kalau kata Linkin Park (In The End) *apa maksudnya?* ENJOY READING GUYS!
.
.
Disclaimer : I do want own Bleach, but… u know whats next
.
.
.
Tittle : THE IRIS
By : Nakki Desinta
.
.
Chapter 10
.
.
Ketegangan yang amat sangat menghantui kami, terlebih saat Rukia meraih ponselnya dan mengubungi seseorang, wajahnya terlihat tidak sepanik aku yang merasakan tanganku berkeringat hebat hingga hampir licin saat memegang setir mobil.
"Kakak, apakah ada pengawal mu di rumah?"
Hah? Byakuya menggunakan pengawal di rumahnya sendiri? Pengusaha macam apa dia? Apakah seorang pengusaha yang sekaligus keluarga bangsawan itu tengah mengalami terror juga?
"Siapkan mereka, kami diikuti mobil sedan putih, aku mohon blokir jalan mereka, kami akan sampai lima menit lagi. Cepatlah, Kak!"
Pertama kalinya aku mendengar kata perintah untuk Byakuya dari mulut Rukia, ini sungguh aneh. Mungkinkah nyawa kami menjadi taruhan dari semua kekacauan dan ketakutan yang tengah mengintai kami sekarang.
Hatiku tidak tenang, sangat tidak tenang, jantungku jauh lebih bergenderam setiap kali aku mencoba meredakan debaran jantungku yang berkali-kali menghantam rusuk, hingga aku tidak mampu menarik napas panjang untuk melegakan hati.
"Akh!" Rukia meringis sambil memegangi perutnya, kontan aku mengurangi kecepatan mobil.
"Jangan pikirkan aku, Ichigo. Terus saja!" pintanya dengan wajah merengut menahan sakit.
"Apakah perutmu sakit?" tanyaku sesekali meliriknya.
"A-aku tidak apa-apa," bisik Rukia diantara katupan giginya yang berusaha menahan sakit, sakit yang aku tidak tau dari mana datangnya, mungkinkah karena emosinya yang terguncang?
Tidak ada gunanya jika kami berdua sampai tertangkap sedan putih itu, karena itu aku harus sekuat mungkin menginjak gas mobil hingga kami mencapai rumah, atau setidaknya hingga tim penyelamat yang notabene adalah pengawal Byakuya datang untuk membantu kami. Tidak akan bisa aku membiarkan kami berdua ditangkap dan menjadi tahanan tanpa perlawanan bagi mereka, para peneror yang membuatku hampir muak menghadapi mereka yang tiada henti menghantui kami.
"Itu pengawal Kakak!" Rukia menunjuk dua mobil sport warna hitam, melaju kearah kami dengan kecepatan tinggi. Mengingat kondisi kami yang tidak bisa dengan mudah mempercayai orang lain, aku jadi balik ragu ingin mengurangi kecepatan mobilku.
"Kita akan terus hingga mencapai rumah, biarkan mereka dan para pengawal yang menghadang sedan putih," kataku seraya membanting setir untuk mengindari tabrakan saat kedua mobil itu melintas di jalur tengah, tidak mau mengalah.
Aku melihat sedan putih berhasil mengejar kami, sedangkan para pengawal Rukia berusaha menyusul di belakangnya, kewalahan berusaha memperpendek jarak. Cepat sekali mobil sedan putih itu bisa mengejar kami. Apakah orang yang mengendarai mobil itu tidak berpikir resiko yang terlalu besar jika terus mengejar kami seperti ini, karena pengawal Byakuya pasti tidak akan berbaik hati pada mereka.
Mobil hitam yang sudah melewatiku langsung berhenti tepat beberapa meter di belakang mobilku, menutup jalan untuk sedan putih, aku mengurangi kecepatan mobil setelah yakin mereka memang berpihak pada kami. Aku melihat lewat kaca spionku saat sedan putih berhenti dan pengendaranya keluar dari sana, bersamaan dengan pengawal yang keluar dari mobil hitam.
Dua orang pengawal yang sedari tadi berusaha mengejar kami pun ikut dalam pengepungan, mengelilingi mobil sedan putih.
Rukia membatu di tempat saat melihat ke belakang, melihat dua orang yang keluar dari sedan putih. Salah satu diantaranya berambut pink menyala, aku ingat betul pemilik rambut dengan warna mencolok itu hanya satu, Syazel Apporo, dia menggunakan kacamata yang membingkai wajahnya, jacket hitam yang sangat familiar di mataku, dan di sebelahnya berdiri seorang yang aku kenal sebagai Ggio Vega, ekspresi wajahnya monoton.
Syazel menyeringai, seringai bukan pada para pengawal Byakuya yang menyelamatkan kami, tapi seringainnya ia tujukan langsung padaku dan Rukia, matanya berkilat licik melihat mobil kami, dan di sebelahnya, Ggio Vega hanya memberikan tatapan malas pada para pengawal Byakuya, menganggap remeh semua pengawal yang siap menghajar mereka.
"Mereka sungguh-sungguh," bisik Rukia dalam nada ketakutan yang jauh membangunkan bulu kudukku.
Aku memutuskan untuk menggas mobil lagi, mengejar kecepatan yang telah aku tinggal, membuat kami secepat kilat mencapai rumah keluarga Kuchiki, dan aku pun tidak ingin membiarkan Rukia lebih ketakutan lagi karena melihat dua orang mantan tahanan yang merupakan pembunuh berdarah dingin itu.
"Apakah mereka orang yang ingin menghabisi-"
"Bukan, mereka hanya suruhan, bukan otak dari semua ini. Masuk, Ichigo!"
Rukia keluar dari mobil setelah kami parkir dengan mulus, dan tiga orang penjaga langsung mengamankan kami, mengawasi sekitar dan menjadi perisai saat kami melangkah masuk ke rumah. Betapa langkah Rukia sangat tegas dan tegap, dia memberi komando dengan mata menggeliat melihat sekitar penuh kecurigaan. Aku tidak pernah melihat sisi Rukia yang ini, dia sangat berbeda, bukan Rukia yang arogan dan egois, yang sering aku lihat, Rukia yang ini seperti tentara atau polisi yang biasa berada dalam suasana perang penuh dengan misil yang melintas di atas kepala.
Aku sangat cemas melihat gerakannya yang terlalu cepat, tidakkah dia berpikir akan membuat kandungannya akan terganggu dengan cara jalannya yang seperti itu.
Tidak ada yang mampu meredakan ketegangan dalam diriku, sekalipun kami sudah berada di tempat yang aman.
Kami langsung menuju kamar kami, aku membuka kulkas dan meneguk sebanyak mungkin yang mampu aku tampung dalam perutku, aku melakukannya hanya untuk meredakan deburan jantung yang terus saja memburu. Kebalikan dariku, Rukia malah duduk dengan kaki terulur dari atas tempat tidur hingga jari-jari kakinya bersandar lunglai di lantai, matanya membelalak dengan tangan terkepal kuat, hingga hampir semua buku-buku jarinya memutih.
"Kita sudah aman, Rukia."
Aku mendekat, memberikan senyum sebaik mungkin yang aku miliki, karena akhir-akhir ini aku merasa senyumku cukup ampuh untuk mengubah suasana hati Rukia.
"Mereka tidak pernah memandang siapa lawan mereka, mereka akan terus mengejar hingga mendapatkan apa yang mereka inginkan," gumam Rukia, seperti tengah bicara pada dirinya sendiri, karena dia terus melihat tangannya yang pucat pasi.
Pelahan aku menjulurkan tangan dan menggosok kedua tangannya, berusaha membuatnya sedikit rileks, namun Rukia malah berjengit kaget, seperti tidak pernah menyadari kehadiranku di hadapannya sedari tadi.
"Kau harus tenang, kasihan dia," bisikku dengan satu tangan terulur mengelus perutnya.
Rukia menghela napas berat dan memberikanku senyum tipis yang sangat terpaksa namun tetap saja terlihat manis, memberikanku kelegaan karena dia telah meyakinkanku dia baik-baik saja.
"Masih sakit?" tanyaku yang tidak sadar semakin mendekatkan wajah kami. Rukia tampak tidak keberatan dan hanya menggeleng cepat, aku gemas melihatnya yang bersikap seperti anak kecil seperti ini.
Aku mengusap pipinya dengan sangat hati-hati, dan Rukia sedikit menegakkan diri karena tindakanku kali ini, aku kecewa karena wajah Rukia langsung menjauh, padahal aku berharap, sangat berharap bisa menyapukan bibirku di bibirnya yang agak kering, membasahinya dengan bibirku, dan hah, aku harus berhenti memikirkan hal seperti itu disaat genting seperti ini. Namun melihat Rukia yang seperti ini tertekannya, aku merasa harus mencairkan suasana.
"Kau mandilah, aku akan minta pelayan siapkan makan malam," bisikku di telinganya, sekuat mungkin menahan keinginan dalam diriku untuk membawa bibirku masuk dalam lekuk lehernya, merasakan kulitnya yang lembut.
"Ichigo," seru Rukia yang tiba-tiba menubrukku, membuatku kehilangan keseimbangan tubuh dan kami berdua jatuh di lantai, sebisa mungkin aku mengurangi benturan perut Rukia dengan perutku, aku menahannya, menahan pinggangnya.
"Berjanjilah untuk tetap menjaga dirimu," bisiknya seraya mengangkat wajahnya dan menatapku, wajah kami hanya berjarak beberapa senti, membuatku berharap Rukia tidak akan marah jika aku sedikit saja menyentuh bibirnya dengan bibirku. Disaat aku berpikir sudah cukup hebat bisa menahan diri, kenapa sekarang kami berada dalam posisi yang sangat membahayakan ini?
Tubuh Rukia menekan tepat di atas tubuhku, membuatku menggeliat merasakan tekanan dalam diriku. Argh! Aku tidak ingin menjadi pria mesum pada istriku sendiri, dan hamil pula. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik, tidak akan ku biarkan nafsu yang mendesak dalam diriku membuatku kehilangan pertahanan diri lebih dari ini.
"Aku akan menjaga diriku, Rukia," jawabku yang terus menatap matanya dalam-dalam, merasakan tidak ada satu pun yang aku inginkan lagi selain selamanya memeluk Rukia seperti ini.
"Boleh aku menciummu?" suara Rukia terdengar gemetar dan penuh keraguan, dan semburat merah mewarnai pipinya.
Aku ternganga sekejap, merasa gayung bersambut, dan tidak perlu aku melontarkan jawaban apapun. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan sejak kecelakaan Rukia, setelah mendapati mata Rukia yang selalu bersuara permusuhan, setelah merasakan sakit karena mendapatinya telah melupakanku, aku merasa semua itu terhapus karena kebahagiaan ini, Rukia meminta izin untuk menciumku, dan itu berarti dia sudah menerimaku sepenuhnya.
Ku tangkup wajahnya dengan kedua tanganku, membenamkan jemariku di rambutnya, dan membawa wajahnya mendekat padaku, dan aku merasakan perutku yang menggeliat saat bibir kami bertemu, membagi kegelisahan hati kami satu sama lain, melepaskan emosi dan segala ketakutan dalam hati kami, membuatku merasa sangat butuh menyentuhnya seperti ini, untuk meng-klaim dirinya hanya untukku.
Ciuman kami semakin dalam saat aku mendengar Rukia mengerang, tapi saat kami sama-sama kehabisan napas, aku melepaskan bibirnya, penuh sesal, namun jejak manis bibir Rukia masih terasa di bibirku.
"Apakah kau jatuh cinta padaku?" tanyaku dengan mata jahil, dan menghela napas lega karena ketegangan di wajah Rukia sudah benar-benar musnah, ternyata ciuman ini tidak hanya efektif padaku, tapi juga padanya.
"Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya," jawab Rukia santai, dan detik kemudian aku menemukan jejak kesedihan dan penyesalan di matanya. Kenapa?
Namun aku tidak sempat bertanya karena Rukia langsung berdiri, membuatku kecewa karena tidak lagi merasakan kehangatan tubuhnya di dekatku.
"Kau harus bertahan, Ichigo," bisiknya purau.
"Aku mandi, dan kumohon pastikan pengawal Kakak baik-baik saja, Ichigo," ucap Rukia sebelum bergerak cepat menuju kamar mandi, dan menguncinya rapat. Dia takut sekali aku akan mengintipnya.
Aku masih terduduk santai di lantai, melihat ruang kosong di sudut ruangan, dan wajah Rukia yang diliputi kesedihan membuatku tidak mampu berpikir sedikit lebih tenang. Tiba-tiba aku mendengar suara dering ponsel, suara ponsel Rukia, segera saja aku beranjak dari lantai dan meraih tas Rukia untuk mengambil ponselnya.
Aku ragu untuk menjawab telepon karena yang tertera di sana adalah sebaris nama Byakuya, Rukia menyimpan nomornya dengan sebutan Kakak, aku sedikit merasa iri, karena Rukia masih menyimpan nomor ponselku dengan sebutan Kepala Aneh. Aku benci sekali Rukia memberi jarak yang sangat jauh dalam menempatkan aku dan Byakuya, padahal dia sendiri sudah bilang jatuh cinta padaku.
Ponsel terus saja berdering, dan akhirnya aku menerimanya, mungkin ada sesuatu yang penting mengenai para pengawalnya.
"Rukia."
"Ini aku," jawabku untuk memperjelas suaraku, ku harap dia tidak kena amnesia juga hingga tidak mengenali suaraku.
"Kurosaki Ichigo, dimana Rukia?" tanyanya dengan suara sangat datar.
Aku menarik napas panjang sebelum menjawabnya.
"Dia sedang mandi, dan baik-baik saja, bagaimana dengan para pengawalmu? Apakah mereka berhasil menangkap orang itu?"
"Aku ingin memastikannya sendiri, tapi aku sedang berada diluar negeri dan jadwal penerbangan sudah habis, aku bisa kembali paling cepat besok pagi." Aku mendengar Byakuya menghela napas berat, "Jaga Rukia baik-baik, Ichigo. Aku percayakan Adikku sejak aku melihat kalian berdua mengikat janji di pelaminan, aku tidak ingin dia terluka, dan jaga calon keponakanku," ucapnya lagi.
Aku terkesiap dan tidak percaya telah mendengar suara nelangsa Kuchiki Byakuya, suara yang sarat dengan nada memohon, dan penuh ketakutan. Ternyata, sekeras apapun dia, sedingin apapun dia kelihatannya, seorang Kuchiki Byakuya tetaplah manusia, sebatu apapun dia terlihat dari luar, tetap saja dia memiliki sisi lemah, dan kelemahannya sama dengan kelemahanku, Rukia.
Aku tidak perlu menjawabnya karena Byakuya pasti sudah tau aku tidak akan pernah membiarkan Rukia terluka, aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku.
"Dua orang itu menumbangkan para pengawalku, dan dua diantaranya harus meregang nyawa saat dibawa ke rumah sakit," seloroh Byakuya, membuatku lebih menahan napas dan kembali merasa ketakutan yang sudah menguap kembali mengepungku, kedua residivis itu sungguh-sungguh telah membuat teror yang mencekam hingga aku tidak pernah bisa tidur dalam ketenangan barang sedetikpun.
Dua orang pengawal Byakuya telah menjadi korban, dan mereka tidak akan membiarkan kami lolos.
"Mereka menggunakan senapan, polisi menemukan peluru di tempat kejadian, dan dengan mudah mereka kabur."
Jeda sejenak antara aku dan Byakuya.
"Aku tidak menyangka, tinggal di rumah keluarga Kuchiki pun bukan jaminan kalian aman. Ku kira pengawal keluarga Kuchiki cukup untuk menjaga kalian, ternyata aku salah besar," tutur Byakuya dengan hembusan napas penuh sesal.
"Jadi itu alasan utama Rukia meminta tinggal di rumah keluarga Kuchiki? Dia tetap ingin tinggal disini sekalipun tidak ada yang bisa menerima kami dengan tangan terbuka?" jawabku dengan gigi gemeletuk menahan amarah, betapa Rukia tidak pernah mau membuka sedikit saja rahasianya padaku, setidaknya aku bisa menyewa pengawal yang lebih banyak untuknya.
"Syazel Apporo dan Ggio Vega, kau harus bisa menangkap mereka, dan mencari semua kebenaran da-"
Aku kontan kehilangan napas yang aku hembuskan ketika mengingat kembali dari mana mereka berasal, kedua orang itu baru saja keluar dari penjara, dan bukankah Jendral Ichimaru pernah bilang mereka masih berada di bawah pengawasannya? Seharusnya dia tau dimana mereka berada, harus!
"Jendral Ichimaru! Aku harus menelepon Jendral Ichimaru!"
Byakuya tidak sempat membalasku, karena aku langsung mengakhiri sambungan telepon, dan meraih ponselku sendiri, menghubungi Jendral Ichimaru.
Dalam nada tunggu, aku memerhatikan pintu kamar mandi, dan mendengar suara kucuran air shower. Membayangkan Rukia tengah berdiri di bawah shower sama sekali tidak membangunkan hasrat dalam diriku, semua hasrat itu telah hilang bersama ketegangan yang datang tanpa akhir. Setiap kali sedikit ketenangan hadir diantara kami, maka kejutan lain akan datang, menguji keteguhan hati kami. Andaikan Rukia bisa mengatakan sedikit saja kebenaran tentang semua ini, mungkin aku tidak akan terus ketakutan seperti ini dan berbalik mengejar pelaku utamanya.
"Selamat malam, Mr. Kurosaki," jawab Jendral Ichimaru.
"Apakah kau mendengar apa yang menimpa kami beberapa menit lalu?" tanyaku tanpa mengubah sedikitpun nada penuh penekanan dalam setiap kata.
"Tentu saja, tapi mohon maaf, jika Anda bertanya mengenai Syazel ataupun Ggio, mereka murni warga sipil sejak dua hari lalu, dan sudah bukan dibawah pengawasan kepolisian lagi. Sekarang kami sedang melacak keberadaan mereka," jelasnya dengan sangat lancar, aku mengira dia sedang membaca naskah yang ia hapal berulang kali. Bagaimana mungkin dia tau apa yang hendak aku tanyakan, padahal sedikitpun aku belum menyebut kedua residivis itu. Namun mendengar jawabannya pun bahuku ikut merosot, bukan lega tapi kebalikannya, karena itu artinya pencarian kami akan semakin sulit.
"Pastikan kau menangkap mereka, Jendral. Aku tidak ingin kecewa karena sudah terlalu tinggi menilai prestasimu," selorohku, yang tidak aku duga sarat sekali dengan kebencian. Aku tidak bisa menahan gelenyar kemarahan setiap kali mengingat dia menyeringai lebar padaku setiap kali bicara, dia bahkan bisa menjadi orang lain saat bicara dengan Rukia. Orang ini memiliki kepribadian yang tidak mudah aku baca.
"Anda tidak perlu khawatir, semua ini akan segera berakhir."
"Kenapa kau begitu yakin?" tanyaku curiga. Mungkinkah dia sudah mengetahui pelaku sesungguhnya?
"Bukankah itu yang Anda inginkan?" ucapnya lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, sebuah tanda seseorang sedang menghindari menjawab langsung pertanyaanku.
"Baiklah," kataku mengakhiri pembicaraan, aku tidak ingin memperpanjang debat yang mungkin hanya akan berarti omong kosong.
Aku melihat sekeliling kamar, berpikir bagaimana mengakhiri teror ini, tapi jika aku berpikir kembali tidak akan bisa aku sendiri yang menyelesaikannya, kunci dari semua ini adalah Rukia. Rukia terlalu penuh rahasia.
Terdengar ketukan di pintu kamar kami, dan suara seorang pelayan terdengar dari luar.
"Tuan Kurosaki."
Aku segera berjalan ke pintu dan menggesernya hingga terbuka, seorang wanita hampir mencapai umur 45 tahun berdiri di hadapanku dengan kepala tertunduk dalam, dia lah pelayan sopan yang selama ini melayani kami. Hanya dia yang mampu bersikap sopan sementara pelayan lain mencibir setiap kali kami melintas di koridor sepanjang rumah besar Keluarga Kuchiki.
"Makan malam sudah siap, Tuan," ucapnya dengan kepala agak terangkat untuk melihatku.
"Bawa ke sini saja, dan aku minta kau bawakan lilin, meja dan puding, segera. Aku ingin makan malam sudah tertata sebelum Rukia keluar dari kamar mandi," kataku menegaskan.
"Baik, Tuan," jawabnya seraya undur diri.
Tapi baru saja pelayan melangkah pergi dan aku menutup pintu, Rukia keluar dari kamar mandi, menggunakan dress warna putih dengan lengan spagetti, melangkah lunglai kearahku. Mata ungu gelapnya berpendar di bawah cahaya lampu kamar yang benderang, warna kulitnya berkilau indah dan memberikan kesan cantik pada pemiliknya.
"Kau tidak mandi?" ucapnya mengagetkanku hingga terhempas dari kekagumanku sendiri.
"Sebentar," kataku seraya menarik selimut dari tempat tidur, melipatnya hingga ukurannya cukup dan aku menggelar selimut itu di lantai, menjadi alas yang akan kugunakan saat makan malam kami.
"Untuk apa kau-"
"Lihat saja kejutan ku nanti, ok?" kataku dengan satu kerlingan mata, dan semburat merah langsung mewarnai wajah Rukia.
"Aku mandi, dan tidak akan lama, lima menit!" seruku seraya berlari meraih handuk, Rukia tersenyum melihat sikapku yang sembrono berlari ke lemari dan mengambil piyama, kembali berlari ke kamar mandi seperti sedang dikejar kepolisian karena sudah mencuri pakaian dalam seseorang.
"Tidak perlu buru-buru," sahutnya saat aku hampir menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
Aku mandi secepat mungkin, membasuh badanku dengan sabun keseluruhan, hanya cukup memastikan jejak wangi sabun tersisa di tubuhku. Aku tidak tenang jika meninggalkan Rukia lama-lama di luar pandanganku, aku takut seseorang atau sesuatu datang menyerang kami lagi.
Ku ambil handuk dan segera saja aku memakai piyama, rambut hanya ku keringkan sekedarnya dan langsung berlari keluar kamar mandi.
"Cepat sekali," komentar Rukia yang sedang memegang ponselnya, dia pasti tau baru saja ada panggilan dari Byakuya, aku lupa bilang padanya.
Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya, duduk berdampingan di tempat tidur. Aura wajahnya sudah berubah lagi, saat aku meninggalkannya sebelum masuk ke kamar mandi, dia masih bisa memberikan wajah tersenyum, namun sekarang dia kembali murung, wajahnya menggelap, mungkinkah dia marah karena aku tidak mengatakan Byakuya sudah menelepon?
"Rukia, apa yang sedang kau pikirkan? Katakan pa-"
Lagi-lagi saat intens kami terganggu, kali ini suara ketukan di pintu kamar. Aku benci mendapati hal ini terus terjadi dan berulang-ulang, aku tidak bisa melapangkan dadaku lagi jika ini terjadi lagi.
"Tuan, makan malamnya."
"Masuk saja, letakkan di atas sana" jawabku, malas beranjak dari tempat tidur, sementara tanganku mengarah pada selimut yang sudah ku bentangkan di lantai.
Perlahan aku menghela napas berat, dan Rukia menyadari hal itu. Dia meraih tanganku dan meremasnya perlahan, yang perlu dikuatkan bukan aku, tapi Rukia sendiri. Bayi kami dalam kandungannya pasti merasakan takut yang sama seperti yang Rukia rasakan, dan aku tidak ingin dia ketakutan seperti ini bahkan sebelum dia lahir ke dunia ini. Dia hanyalah jiwa baru yang masih sangat bersih, dan polos, tidak seharusnya menerima kekejaman dunia ini bahkan sebelum ia tau mana yang baik dan jahat.
Aku mengusap perut Rukia, membiarkan kata-kataku untuk bayi dalam kandungannya mengalir dalam benakku, berharap dia dapat mendengarnya.
"Ayah ada untukmu, Sayang. Ayah berjanji akan menjadikan kita bertiga hidup dalam ketentraman, menjadi keluarga yang harmonis, dan kami akan melihatmu tumbuh menjadi anak yang baik," kataku dalam hati.
Pelayan meletakkan sebuah meja pendek lengkap dengan isinya, dan dia meletakkan sebuah lilin beserta wadahnya dan pematik di sudut meja, makan malam kami sudah siap dalam sekejap.
"Terima kasih," ucap Rukia saat pelayan menunduk untuk mohon izin keluar dari kamar.
Rukia selalu berbicara dengan sopan, dan tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih, sekalipun pelayan itu masih saja bersikap tidak ramah padanya, aku tersenyum melihat betapa rendah hati dirinya.
Aku meraih tangan Rukia dan mengarahkannya untuk mengikutiku. Kutarik bantal dari tempat tidur, dua sekaligus, dan saat kami sama-sama duduk di atas selimut yang terasa sangat hangat itu, aku meletakkan bantal di sisiku.
Rukia nyaris berteriak saat aku menekan stop kontak lampu, hingga ruangan berubah gelap gulita.
"Ichigo!" serunya tegang.
"Ssst!"
Aku meraih tangan Rukia dan membasuhnya dengan tanganku, sementara tanganku yang lain meraih pematik dan menyalakan lilin, yang akhirnya menjadi satu-satunya penerangan di kamar kami.
"Untuk apa semua ini, Mr. Kurosaki?" bisik Rukia yang sudah berubah tenang, dia sepertinya membaca niatku melakukan semua tindakan konyol ini, aku hanya ingin merubah suasana hatinya dan juga suasana hatiku. Tidak mungkin aku mengajaknya makan malam di luar lagi, sementara pembunuh tengah mengejar kami, jadi aku ciptakan makan malam romantis di kamar kami sendiri.
"Tidak penting tujuannya, sekarang kita makan, kau pasti sangat lapar."
Rukia mengangguk dan membiarkanku mengisi piringnya, satu porsi penuh, dan aku harus siap untuk mengisinya lagi jika sudah habis, Rukia makan lebih banyak sejak ia hamil dan aku tidak sungkan membiarkannya makan sebanyak yang ia mau, padahal dia sering kali protes takut kegendutan, tapi Rukia ya Rukia, badannya saja sudah kecil begitu, bagaimana mungkin ia bisa dibilang gendut?
"Kau benar-benar mengira aku kena busung lapas, Mr. Kurosaki?" katanya dengan mata menatapku tajam, dan cahaya lilin membuatnya terlihat sangat menggoda dengan piyama tipis itu, dan matanya menantang ku.
Aku tertawa, dia ternyata masih sangat sakit hati dengan sebutanku padanya.
"Sudah, aku tidak ingin berdebat," jawabku seraya mengambil sendok dan memberikannya pada Rukia. Awalnya dia ragu, tapi akhirnya dia tetap meraih sendok yang aku tawarkan dan mulai melahap makanannya.
Aku pun makan bersamanya, memerhatikan tangan Rukia yang bergerak memasukkan makanan ke mulutnya menit demi menit, dan akhirnya dia menghabiskan makanannya jauh lebih cepat dariku. Ibu hamil benar-benar aneh, mereka bisa menjadi sangat berbeda dengan sebelum hamil.
"Tambah?" tanyaku, namun Rukia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan dia membuka mulut hendak bicara, tapi yang keluar malah suara sendawa panjang.
Kontan Rukia menutup mulutnya dan terlihat sangat malu, susah payah aku menahan tawaku karena tindakan lucunya ini. Baru aku lihat seorang bangsawan bersendawa sekeras itu.
"Jangan tertawa!" protesnya seketika, membuatku menahan senyum di wajahku, karena pipi Rukia sudah memerah malu.
"Iya, aku tidak tertawa," kataku seraya menggeser piringku dan piringnya, menggantinya dengan puding.
"Ini dessert untuk Nyonya Kurosaki," ucapku riang. Kami sama-sama sudah mencair dalam suasana makan malam buatan yang menurutku belum romantis namun cukup untuk membuat kami melupakan ketakutan kami sendiri.
Rukia mengangkat tangannya tinggi, merenggangkan tubuhnya, mungkin dia pegal karena duduk tanpa sandaran. Segera saja aku menggeser posisi duduk ku dan memeluk pinggangnya, hingga aku bisa merasakan hangat tubuhnya yang bersandar di bahuku.
"Ichigo."
"Mmm?" jawabku. Seketika aku merasakan tubuhnya gemetar, mungkinkah aku terdengar sangat seksi saat ini?
Sengaja aku mempererat lingkaran tanganku di pinggangnya, dan mengusap perutnya berkali-kali seraya mengecup puncak kepalanya.
"Ja-Jangan bersikap terlalu baik padaku," gumamnya tergagap. Jadi dia grogi saat aku terlalu romantis seperti ini? Aku mendenguskan tawaku, takut tawa ku akan terlalu mencolok.
"Kau kan istriku, tidak ada salahnya aku memanjakanmu," desisku seraya memotong puding dan mengarahkan potongannnya ke mulut Rukia, Rukia terdiam sejenak, menengadahkan kepalanya untuk melihat wajahku, membiarkan tanganku menggantung menunggunya.
"Apakah kau kekasih yang selalu seperti ini sebelum aku melupakanmu?" ucapnya dengan mata menyelidik, menatapku sangat dalam.
"Tentu saja, karena aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu."
"Kapan kita pertama bertemu?"
"Saat kau pindah ke sekolah ku, aku melihat kesendirian dalam dirimu saat itu, namun aku tau takdir sudah memilihmu untukku, hingga akhirnya aku bisa bersabar, dan memintamu menikah sekalipun tanpa cinta," bisikku yang kembali menegaskan tanganku agar Rukia membuka mulutnya.
Rukia tersenyum simpul dan membuka mulutnya, membiarkan potongan puding melesat ke mulutnya dan dia mengunyahnya dengan perlahan.
"Jadi aku menikahimu tanpa cinta? Lalu bagaimana akhirnya aku bisa tinggal dan membiarkanmu menyentuhku, bahkan hingga hamil seperti ini?" tanyanya lagi setelah menelan puding.
Aku mengingat kembali saat-saat berat itu, dan kami berhasil melewatinya, semoga kali ini pun akan menjadi saat yang sama seperti saat itu, kami bisa melewatinya dengan baik, hingga keteguhan cinta kami bisa bertahan.
"Kau jatuh cinta padaku, dan menjawab perasaanku, itu saja, dan kita menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya," jawabku.
Tanganku kembali menyuapi puding ke Rukia, dan memasukkan potongan lain ke mulutku, rasa puding meleleh di mulutku, rasanya sangat segar dan menenangkan.
"Lalu kenapa aku bisa melupakanmu?"
Pertanyaan ini tidak bisa aku jawab dengan tepat, karena Rukia sendiri yang memutuskan untuk melupakanku, dan aku sendiri tidak tau apa yang membuatnya melupakanku.
Aku memandang wajahnya, melihat matanya yang bulat sempurna, mengagumi setiap sudut di wajahnya, dan rasa takut kehilangan dalam diriku membengkak hingga sulit aku kendalikan.
"Rukia ku," gumamku seraya memeluknya erat, dan membawanya rebahan di atas selimut, ku sandarkan kepalaku di atas bantal, sementara kepala Rukia bersandar di dadaku.
"Jawab dulu satu pertanyaanku."
Rukia mendongak dan menunggu lanjutan kalimatku.
"Kenapa kau terlihat sangat membenciku saat baru bangun di rumah sakit?"
"Mmm…" Rukia tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan yang menurutku jawabannya akan sanagt menyakitkanku, karena pada kenyataannya Rukia tetap saja melupakanku, menghapusku dari memorinya yang terdalam, bukankah cinta kami sangat kuat, tapi Rukia bisa menghapusnya dalam sekejap.
"Mungkin karena warna rambutmu, aku sangat sebal saat melihat rambutmu!" jawabnya tanpa ragu.
"Berarti itu karena bayi dalam kandunganmu, dia sangat membenci rambutku," kataku menyimpulkan dan mengusap perut Rukia lagi dengan telapak tanganku.
"Kau anak nakal, belum-belum sudah membenci rambut Ayahmu!" bisikku, dan Rukia tertawa.
Kedua tanganku kembali memeluk Rukia, membagi kehangatan diantara kami, merasakan kehadiran satu sama lain yang menenangkan, aku senang berada dalam ketenangan seperti ini. Andaikan ini untuk selamanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Aku terkesiap dan berpikir lagi apa yang membuat Rukia melupakanku. Seperti kata dokter ini karena pengaruh emosi yang labil dan juga trauma. Aku masih mengingat dengan baik saat Rukia memergoki ku di club Keigo dan seorang wanita bernama Sunsun tengah memelukku, sebelum jatuh dia mengatakan kalimat yang membuat hatiku sendiri sakit saat mendengarnya.
"Aku mencintaimu, Ichigo. Haruskah aku teriakkan itu pada dunia? Haruskah aku membuktikannya agar kau percaya bahwa aku tidak akan pergi dari sisimu? Haruskah aku terluka dulu untuk meyakinkanmu?"
Rukia membenciku dengan segenap hatinya saat itu, dia terluka sangat dalam, dan secara tidak sadar Tuhan mendengar do'anya dan Rukia membalasku dengan cara seperti ini. Semua karena aku yang terlalu posesif dan takut kehilangan, aku tidak ingin dia pergi dari sisiku sekalipun hanya sekejap, Rukia adalah cahaya yang aku miliki untuk menerangi jalan yang aku jejak, kehilangan dirinya sama saja dengan kehilangan separuh dari eksistensi ku.
"Kau membenciku karena aku terlalu posesif dan tidak sengaja melihat aku sedang bersama wanita lain di klub, kau salah paham, dan kecelakaan itu terjadi. Mungkin kau merasa takut kehilanganku, dan akhirnya menghapusku begitu saja karena tidak ingin merasa kehilanganku," jelasku lagi.
Rukia terdiam, tidak menjawabku, seperti tengah mengingat apakah yang aku sampaikan benar telah terjadi padanya.
"Cukup bertanya tentangku, sekarang kau harus jujur padaku," kataku dengan jemari meraih dagunya, membawanya untuk kembali menatapku.
"Jadi sekarang sesi sharing?" tanyanya dengan mata berkilat nakal.
"Iya, karena aku sudah cukup bersabar menunggu penjelasanmu tentang masa lalumu. Aku suamimu, dan aku akan melapangkan tangan untuk menerimamu seutuhnya, Rukia. Masa lalu, sekarang dan masa depan, kita akan membaginya bersama." Aku mengusap pipinya perlahan, Rukia berkedip dan melihat tempat lain, mencoba menghindari tatapanku lagi, dia selalu begini setiap kali aku memintanya untuk jujur, tapi kali ini tidak akan aku biarkan dia lolos lagi.
"Kau harus jujur padaku, Rukia."
Rukia menghela napas berat dan mengembalikan matanya padaku, kami sangat dekat, hingga aku bisa merasakan debaran jantungnya yang tak menentu di dadaku sendiri.
"Kenapa kau sangat mengerti aku, Ichigo. Kau bahkan memaksaku tepat disaat aku baru saja bisa mengingat semua masa laluku, apakah kau memiliki kemampuan untuk membaca hatiku?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaannya, aku tidak pernah berpikir seperti itu, aku hanya merasa harus membuatnya bicara jujur saat ini.
"Sejak kapan kau mengingat masa lalumu?" tanyaku serius, namun berusaha agar terdengar tetap lembut seperti biasa.
Rukia kembali menyembunyikan wajahnya di dadaku, menggesekkan pipinya di piyamaku, sementara tangannya bertengger di dadaku, merasakan debaran jantungku yang sama tidak teraturnya dengannya.
"Tadi, saat kita berusaha kabur dari Syazel dan Ggio," bisiknya sangat hati-hati.
Dari nadanya menyebut nama kedua residivis itu aku membaca nyata bahwa ia mengingat mereka, dan sangat mengenal keduanya, aku menahan napas dan menyiapkan diri mendengar semuanya, karena aku yakin Rukia akan jujur kali ini.
"Saat aku merasakan ketakutan yang sama dengan ketakutan yang aku rasakan saat berusaha kabur dari AS," gumam Rukia perlahan, jari telunjuknya bergerak perlahan, membentuk pola lingkaran di dadaku.
"Apakah kau tidak merasa sakit lagi?" Aku mengingat lagi saat Rukia kesakitan dalam mobil tadi, aku takut terjadi sesuatu padanya.
"Ehm, sudah tidak sakit," jawabnya meyakinkan, "jika aku runut kembali masa laluku, aku merasa jijik dengan diriku sendiri, Ichigo. Kau pun pasti akan begitu," lanjutnya.
Aku menjadi pendengar yang baik, membiarkan dia melanjutkan kalimatnya tanpa interupsi. Inilah saat yang tidak pernah aku peroleh dari Rukia, saat dimana Rukia akan membuka dirinya, jujur padaku.
"Aku masih berumur 8 tahun saat bertemu dengan Aizen, seorang yang aku anggap dewa karena telah mengangkatku dari neraka, menawarkan hidup yang lebih baik padaku. Aku hidup di jalanan tanpa tau siapa diriku, dan siapa keluargaku, yang aku tau hanya aku harus bertahan hidup sendirian di jalan, hingga Aizen datang, aku tidak pernah berpikir dia memiliki senyum ramah dengan hati sejahat iblis."
Aku merasakan piyamaku basah, dan baru aku saadari Rukia menangis.
"Sst," aku membelai kepala Rukia.
"Saat itulah aku mengenal Syazel, Ggio, Kaien dan Gin."
"Gin?" ulangku, karena aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Ya, anak laki-laki dengan rambut hitam legam selurus jarum, mata berwarna merah cerah, mata yang menggambarkan keteguhan hati dan kekosongan jiwanya, dia mengalami keterbelakangan mental dan menjauh dari semua orang. Aizen mendidiknya dengan kejam, ya, dia kejam pada siapapun, tidak terkecuali aku. Saat itu aku berpikir Gin menjadi seorang yang memiliki kelainan karena tangan tiran Aizen. Dia akan mencambuk kami, sekecil apapun kesalahan kami. Dia iblis yang pantas terbakar di neraka paling dasar."
Jeda sejenak hingga Rukia menghapus air matanya.
"Aizen Sousuke, kebanyakan orang mengira AS adalah singkatan dari namanya, tapi salah besar, itu adalah organisasi yang hanya berisi para pembunuh tanpa hati yang kekejaman hatinya lahir dari tangan Aizen sendiri. 'AS' dan kami menyebutnya Aizen's Slaves, karena kami adalah budaknya yang bisa ia suruh untuk menghabisi nyawa siapa saja yang menghalangi jalannya. Kami masih sangat kecil saat itu, kami tidak mengenal masa kecil kami, yang kami tau hanya menuruti Aizen."
Aku merasakan kebencianku bangun seketika, membenci orang yang sama sekali belum aku kenal itu.
"Aizen yang menciptakan kami, mengikuti semua perintahnya. Aku hanya ingin tetap hidup, hingga mau tidak mau mengikuti semua perintahnya. Aku menjadi seseorang tanpa hati, membantu setiap aksi mereka, menyembunyikan semua bukti, bahkan potongan tubuh yang telah mereka ciptakan dari tiap korban mereka. Tanganku, seluruh tubuhku sangat kotor, Ichigo."
Rukia tersedu dan sekujur tubuhnya terguncang hebat. Aku tidak pernah menyangka ada kisah sekelam ini dari masa lalu Rukia, ini bukan sekedar mimpi buruk, tidak salah jika Rukia selalu ketakutan setiap kali kami dikejar teror.
"Itu bukan salahmu, Rukia. Kau hanya anak kecil yang takut padanya," bisikku yang berkali-kali mengusap punggungnya, dan aku merasakan dia semakin gemetar.
"Dua tahun hidup di bawah AS, membunuh puluhan orang, hidup dalam neraka, dididik menjadi pembunuh tanpa hati. Aku diajari cara bertarung dengan pedang, Gin yang mengajariku. Kami dekat saat itu, menghabiskan banyak waktu bersama untuk berlatih, dan aku sedikit demi sedikit mengenal sosoknya yang sangat pendiam. Sedangkan Syazel, Ggio dan Kaien telah menjadi anggota tetap, mereka lebih lihai dariku dan Gin, karena itu mereka yang selalu diturunkan Aizen untuk melakukan tiap tugas tanpa perikemanusiaan itu." Rukia menarik napas berat, "Hingga akhirnya aku merasa begitu muak dengan semuanya, aku tidak ingin lagi hidup dengan mata terbuka sepanjang malam, karena setiap kali aku memejamkan mata aku akan mendengar suara teriakan para korban yang memohon belas kasih kami, teriakan mereka mencekikku hingga sulit bernapas."
Rukia terdiam, membuatku merasa harus mengatakan sesuatu.
"Syazel dan Ggio telah keluar dari penjara, sedangkan Kaien meninggal saat menyelamatkanmu, lalu bagaimana dengan Gin?" tanyaku, karena aku tidak membaca satu pun potongan kliping tentangnya dari amplop yang aku curi dari kamar Rukia.
"Aku tidak tau, dia menghilang, dan aku tidak bisa mengetahui keberadaannya, tidak ada satu pun berita tentangnya," jawab Rukia.
Sunyi turun diantara kami saat Rukia terdiam, dia sedang menguatkan diri untuk mengungkapkan semua kenyataan yang pastilah sangat berat untuk dia paparkan padaku.
Sekilas cahaya menyinari kamar kami, aku tersentak dan seketika suara guntur menggelegar, Rukia berjengit ketakutan. Sungguh suasana itu sangat mendukung, sekarang kami harus bicara dengan hujan mengguyur atap, serta petir, dan guntur yang bersahutan.
"Aku bicara pada Kaien, memintanya untuk membantuku kabur dari AS, dan kami berhasil kabur, kembali hidup di jalan, tapi juga berusaha agar AS tidak menemukan keberadaan kami, hingga akhirnya mereka menemukan kami, Kaien dihajar hingga tidak bernyawa lagi, orang suruhan AS tidak pernah berbelas kasih sekalipun Kaien sudah memohon agar mereka berhenti memukulnya," tutur Rukia, dan suaranya menghilang dalam isak tangis keras, dia merintih dengan tangan mengggengam erat piyamaku.
"Dia menyuruhku kabur, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku. Aku kabur, berlari secepat aku bisa, namun AS tidak pernah bisa membiarkanku lolos, aku tertabrak mobil dan terluka parah, mungkin mereka mengira aku sudah mati, dan membiarkanku, tapi Tuhan masih terlalu baik padaku. Aku masuk rumah sakit, dan berhasil selamat, sejak saat itu ingatanku kabur, hanya sedikit masa laluku yang bisa aku ingat. Ketakutanku telah membuatku menghapus ingatan mengerikan itu.
"Aku masuk rumah asuh, tiga tahun kemudian Kakak mengadopsiku, dan selama lima belas tahun ini aku hidup dalam ketenangan hingga aku kembali bertemu Syazel di club Keigo, dan itulah yang membuatku seketika jatuh dari tangga. Dia menyebutkan sebaris kalimat yang merupakan mantra kutukan bagi kami para anggota AS, seperti apapun ingatanku telah terhapus, ketakutan setiap kali aku mendengar kalimat itu, hanya akan membawaku kembali pada neraka itu."
Petir dan guntur kembali menggelegar, namun tidak sedikitpun mengurangi kekuatan Rukia untuk menyampaikan masa lalunya padaku. Aku merasakan hati dan jantungku mengkerut mendengar kisah hidupnya, Rukia adalah wanita paling tegar dan penuh dengan kekuatan, dia mempertahankan dirinya dengan segala kemampuan yang ia miliki, melawan orang sekejam Aizen.
"Kau hanyalah kucing jalan, dan aku Tuhan yang mengangkatmu, patuhlah, karena aku yang akan memberikanmu surga dan neraka disaat yang sama," ucap Rukia, mengulang kalimat dalam benakknya seperti tengah membaca kertas hapalan.
"Bagi semua anggota AS, Aizen adalah Tuhan, dan karena Tuhan punya rencana, tapi kami hanya boneka bagi dia."
Aku tersentak dan merasakan bulu tengkukku berdiri, dingin yang amat sangat mengalir di sepanjang tulang belakangku, karena aku mengingat dengan jelas, kalimat ini pernah diucapkan oleh Jendral Ichimaru, jadi benar orang itu ada hubungannya dengan Rukia.
"Apakah kau mengenal Jendral Ichimaru, bukankah dia pernah mengatakan kalimat seperti sebelumnya?"
"Aku tidak mengenalnya," jawab Rukia cepat, dan aku tidak mendapatkan nada ragu dalam suaranya.
Ini aneh, lalu kenapa Jendral Ichimaru bisa mengucapkan kalimat yang sama persis dengan yang Rukia katakan, dan tepat setelah Jendral Ichimaru mengatakan kalimat itu, saat itu Rukia juga melafalkan AS dengan nada penuh ketakutan.
"Aku baru mengenali Syazel dan Ggio setelah aku terbangun di rumah sakit, ingatan masa laluku satu demi satu kembali, dan mereka mengejarku, ingin membalas dendam pada pengkhianat sepertiku. Ggio datang dan kembali memberiku peringatan, kau melihatnya keluar dari kantor. Saat itu aku berbohong, aku tidak ingin membuka masa laluku yang terlalu hitam ini padamu, Ichigo.
"Aku tidak pernah menyangka mereka akan kembali memburuku setelah lima belas tahun, dendam itu tidak pernah padam. Mereka akan terus mengejarku hingga mereka berhasil menangkapku, Ichigo. Karena itu aku sangat takut bayi ini tidak akan bertahan, semua karena aku, karena ibu yang buruk seperti aku!"
Rukia menangis sejadi-jadinya, entah apa yang bisa aku lakukan untuk menenangkannya, aku hanya bisa memeluknya erat, mengecup puncak kepalanya. Haruskah aku bilang padanya aku akan mengorbankan nyawaku untuk menjaganya dan bayi kami? Mungkinkah aku bisa melindunginya jika orang-orang kejam itu datang dan ingin mengambilnya dariku?
"Aizen telah mati, tapi mereka tidak pernah mau menyerah mengejarku, aku pengkhianat, pengkhianat yang mereka harap bisa mereka tangkap dan disiksa hingga tak bernyawa lagi."
"Sst, sudah, jangan terus menyalahkan dirimu, kasihan bayinya. Kau tidak pantas mendapatkan balasan macam apapun, kau baik, ibu yang baik, dan istri yang baik. Kau hanya ingin mendapatkan hidup yang lebih baik, mereka yang telah menyiksamu yang pantas mendapatkan balasan," bisikku.
"Aku tidak ingin kehilangan lagi, Ichigo," rintihnya.
"Aku tau. Kau tidak akan kehilangan apapun dan siapapun, hmm?"
Rukia menangguk lemah, menyatakan betapa tidak berdayanya dia sekarang.
Tangis Rukia sedikit reda, sengaja aku terdiam, mendengarkan desah napasnya yang teratur dan berirama tetap. Ku biarkan petir dan guntur yang terus menggelegar, bercampur dengan deras hujan yang jatuh di atap, memberikan sedikit ketenangan bagi hati kami.
Sekarang aku sudah mengetahui semua masa lalu Rukia, betapa kelam masa lalunya, persis seperti yang pernah dikatakan oleh dokter aneh Kurotsuchi, aku tidak ingin mengabaikan lagi.
Rukia, apapun yang mengejar dari masa lalunya adalah bagian dari diriku.
Teror itu tidak akan berhenti hingga Rukia kembali ke tangan mereka, aku tidak bisa membayangkan apa yang mungkin mereka lakukan pada Rukia dan kandungannya, dan aku pun tidak bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan pada mereka jika berani menyentuh keduanya, apalagi hingga melukai mereka.
Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal itu.
Beberapa saat berlalu dan tangan Rukia tidak lagi mencengkram piyamaku, tubuhnya pun tidak lagi tegang dan gemetar, napasnya perlahan dan tenang, takut-takut aku menengok wajahnya. Aku tersenyum sendiri, ternyata dia sudah terlelap, aku bersyukur dia mampu tidur dalam pelukanku. Aku pun menarik selimut hingga menutupi tubuh kami berdua, hangat dan nyaman.
Aku mengikuti jejak Rukia, terlelap saat merasakan mataku berat, karena cahaya lilin sudah mati sama sekali, membawaku ditelan alam bawah sadar seketika.
.
.
"Tidur nyenyak, Mr. Kurosaki?"
Aku tersentak, dan membuka mataku seketika, kantuk masih menggelayut di mata ku, tapi seluruh syaraf dalam diriku mendesakku agar waspada seluruhnya, karena suara yang baru saja bicara penuh dengan nada mengancam, membuatku bergidik saat melihat si pemilik suara, saat penglihatanku buta karena cahaya lampu yang tiba-tiba menerangi ruangan.
Rukia berdiri kaku dengan tangan terkunci ke belakang, matanya basah oleh air mata, aku sontak berdiri dari lantai, terhuyung kehilangan keseimbangan karena memaksa diriku bergerak cepat padanya.
"Mau kemana, buru-buru sekali?" ucap suara yang sama yang telah membangunkanku, dan aku menoleh padanya, merasakan sebuah benda dingin menempel di dahiku, mataku yang belum terbiasa dengan cahaya lampu berkunang saat aku memaksa diri melihat apa yang tengah menempel di dahiku.
"Belum bangun sepenuhnya, heh?" katanya lagi, suara mencemooh penuh kebencian.
"Grimmjow?" bisikku, dan menyesali nada ketakutan dalam suaraku.
Senapan di tangannya menempel di dahiku, jarinya sudah siap menarik pelatuk jika aku seketika bergerak untuk menyerangnya.
Aku menghitung keadaan sekitar, rasanya baru beberapa menit lalu aku dan Rukia terlelap dengan damai di lantai, setelah melewati saat-saat intens kami saling berbagi, saling jujur, dan sekarang kami berada dalam ruangan yang sama, masih dalam hujan dan guntur menggelegar yang sama, namun dalam ruangan ini bukan hanya aku dan Rukia lagi, ada dua orang lain yang tidak diundang dan membawa kengerian pada kami.
Grimmjow dan Syazel, entah kapan mereka masuk ke kamar ini, dan bagaimana melewati pengawal yang menjaga rumah ini? Tapi sekarang itu tidaklah penting, karena mereka sudah berada di kamar ini, dan mendapatkan apa yang mereka incar sejak lama, yaitu Rukia.
Rukia berdiri berjarak beberapa meter dariku, sekujur tubuhnya gemetar menatapku, sementara Syazel berdiri di sebelahnya, tangannya menggenggam senapan yang sama dengan milik Grimmjow, tapi tidak dia arahkan pada Rukia.
Bagaimana kami bisa membuat diri kami lolos dari mereka?
Jantungku kembali berderam keras, menghantam rusuk tanpa henti, membuatku sulit bernapas dan sulit berpikir. Kami sama sekali tidak memiliki pertahanan, tidak bisa melawan, karena jika kami berteriak maka peluru dari senapan akan melesat padaku. Sekalipun aku berakhir di sini, bagaimana dengan Rukia? Aku tidak bisa membiarkan keadaan berlangsung seperti ini.
"Berpikir untuk kabur?" gumam Grimmjow dengan mata berkilat jahat, dan melirik Rukia yang menggeleng lemah padaku, memberi isyarat agar aku tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa membahayakan nyawa.
"Apa yang kau inginkan?" ucapku dengan suara keras, berharap ada seseorang yang mungkin mendengar kami dan membawa bala bantuan untuk menolong kami.
"Apa yang aku inginkan? Kau salah bertanya, yang benar apa yang AS inginkan, karena aku sudah bergabung dengan AS setelah mengenal Syazel dan Ggio, setelah aku tau bukan hanya aku yang menyimpan dendam padamu, Kuchiki Rukia."
"Bawa saja aku, jangan libatkan dia!" pekik Rukia, wajahnya merah, semerah hidungnya karena sudah terlalu banyak menangis, aku merasakan hatiku telah pergi dari diriku sendiri, terluka karena melihat Rukia yang memohon untuk keselamatanku, seharusnya dia yang selamat, dia harus hidup bersama satu nyawa lainnya yang berada dalam dirinya.
"Kau tau itu tidak mungkin, Rukia." Kali ini Syazel bicara dengan tangan mencengkram bahu Rukia.
Aku memerhatikan Rukia, bersyukur karena tidak ada luka padanya, mereka tidak ingin melukai Rukia, mungkinkah mereka benar ingin membawa Rukia dan menyiksanya hingga tidak bernyawa lagi?
"Berani kau menyentuh Rukia, kalian akan menyesalinya," ancamku berusaha menahan amarah dalam diriku.
"Kau tidak dalam posisi bisa mengancam, Mr. Kurosaki," cemooh Syazel.
Syazel bergerak mendekatiku, menghalangi pandanganku dari Rukia.
"Sulit sekali untuk menangkap Rukia, karena kau selalu bergentayangan di sisinya, kau benar-benar kekasih dan suami yang baik untuk wanita selicik Rukia." Syazel menarik kerah piyamaku hingga ku tercekik kerah piyama yang membebat leherku.
"Kau pantas mati, Mr. Kurosaki."
"JANGAN!" pekik Rukia hingga suaranya bergema di seluruh ruangan, baik Syazel maupun Grimmjow sama-sama kaget mendengar suara Rukia. Kedua orang itu menyeringai lebar, menunjukkan kemenangan yang sudah berhasil mereka genggam. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk bisa keluar dari sini.
"Kau merasa dirimu hebat?" tiba-tiba tangan Grimmjow melayang dan menghantam rahangku, aku pun jatuh tersungkur tanpa pertahanan, merasakan denyut sakit dari rahangku dan seketika darah mengalir dari sudut bibirku.
"Ichigo," rengek Rukia yang kembali meneteskan air mata.
Aku berdiri tegak, ingin membalas tapi aku tau itu tidak mungkin, aku tidak bisa menaruhkan nyawa Rukia jika aku melawan mereka. Mataku memicing melihat Grimmjow yang mengelus senapannya penuh kasih, tapi aku tau dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuat isi senapannya bersarang di kepalaku.
"Ayo lawan aku!" tantang Grimmjow. Langkahnya mendekat padaku, dan tangannya sudah mengepal siap kembali meninjuku. Aku tidak bisa menghindar saat tiba-tiba Grimmjow mengangkat kakinya, dan menghantam perutku dengan lututnya, seketika aku tersedak napasku sendiri, dan merasakan sakit yang amat sangat dari perutku.
"Kau sampah!" sekali lagi dia menendangku, hingga aku kehilangan semua tenagaku untuk melawan, aku terkapar di lantai, merasakan sakit dari perutku.
"Jangan, jangan pukul dia lagi!" pinta Rukia dalam isak tangisnya. Betapa tidak bergunanya aku, aku hanya mampu melihat Rukia menangis di sana, menangisi ku yang bahkan tidak mampu mempertahankan diri sendiri.
"Kau benar mencintainya, Rukia?" suara Syazel terdengar sangat jijik saat ia mengucapkan kata cinta.
Rukia tidak menjawab, terus gemetar di tempatnya dengan mata tak beralih dariku. Dari tempatku berdiri, aku hanya mampu terdiam, mengulur waktu hingga aku mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyerang mereka, setidaknya aku harus merebut salah satu senapan dari mereka.
"Kau seharusnya tau apa konsekuensi yang akan kau terima karena telah bergabung dengan AS," kata Syazel lagi, "Tidak akan ada kebahagiaan untuk aku, kau atau kita semua. Karena kita diciptakan untuk mengikuti perintah Aizen, Rukia. Kau terlalu banyak bermimpi!"
Rukia menengadah dan matanya diliputi kemarahan yang menyala-nyala, dia menatap Syazel penuh kebencian, bukan lagi tatapan memelas meminta, tapi keteguhan tekad yang sangat kuat. Rukia akan melawan, aku tau dari sorot matanya yang keras itu.
"Aku tau hal itu, Syazel. Karena itu jangan pernah menyentuh orang yang aku sayangi, jika tidak aku akan membuatmu merasakan neraka yang lebih kejam dari pada neraka yang pernah Aizen ciptakan!" ancam Rukia, matanya kukuh menegaskan keseriusan kata-katanya, aku bergidik melihatnya, ini bukan Rukia yang aku kenal, sama sekali berbeda.
"Wah, wah, wah, ini baru Rukia yang aku kenal. Tidak punya hati dan siap mencincang siapapun dengan pedangnya," sahut Syazel dengan tepuk tangan keras berulang kali. Grimmjow menyeringai melihat mereka berdua.
Aku melihat kelemahannya, dia lengah karena memerhatikan Rukia dan Syazel, dan mengira aku sudah cukup lemah karena telah menerima beberapa pukulan darinya. Aku menggeser tubuhku perlahan mendekat padanya, dan melirik lampu meja tepat di atas meja dekat kakiku, aku bisa menghantamnya dengan lampu itu dan merebut senapan darinya, sementara Syazel sibuk dengan Rukia.
Rukia menegakkan tubuhnya seraya melangkah mendekati Syazel, menantang si rambut pink dengan tatapannya yang mematikan, Rukia sangat berani mempertaruhkan nyawanya untuk melawan pria ini.
"Aku Rukia, bertahun-tahun aku belajar bagaimana hidup dalam neraka, dan aku yang paling tau bagaimana aku harus menghadapi tikus-tikus busuk seperti kalian. Aku tidak mengerti bagaimana kalian begitu patuh sementara Aizen sudah menjadi abu bersama bangkai mobilnya!"
Aku terus bergerak tanpa suara, dan lampu sudah berada di tanganku, aku menggenggamnya erat, ku kumpulkan tenagaku di tanganku, aku harap satu kali pukulan bisa membuat Grimmjow tumbang, dan aku cukup melawan Syazel saja.
"Kau!" Syazel mengangkat senapannya dan menghunuskannya tepat ke kepala Rukia, telunjuknya bersiap menarik pelatuk.
"Tembak saja, bukankah kau ingin sekali membalas dendam padaku?" ucap Rukia dengan tetap dengan nada sombong menantang, aku terkesiap melihat keberaniannya.
"Kau akan menyesali ucapanmu, Rukia." Syazel menggemeretukkan giginya, menahan kemarahan dan yang aku yakin keinginan untuk menembak Rukia, siapapun yang memerintahnya, sangat tidak ingin Rukia terluka karena itu dia masih kuat menahan diri untuk tidak melukai Rukia.
"Oh ya?" Rukia kembali menantang, kali ini menegakkan kepala hingga matanya mampu menatap mata Syazel sepenuhnya.
"Sudah, Syazel, habisi saja dia. Gin akan mengerti," sahut Grimmjow kegirangan, matanya membulat lebar menunggu peluru melintas dari senapan Syazel dan membuat Rukia bersimbah darah.
"Gin?" ulang Rukia yang kembali gemetar, keberanian dalam dirinya sedikit pudar saat ia mendengar nama itu.
"Kau kira siapa yang meminta kami menangkapmu? Kau pikir dia akan berbaik hati padamu, hanya karena kau begitu dekat dengannya selama berada di AS? Jika aku, dengan senang hati aku akan menembakmu sekarang," kata Grimmjow.
Rukia menatap Gwimmjow dan Syazel bergantian, mundur selangkah dan berusaha keras menguatkan diri, karena tubuhnya kembali gemetar.
"Kenapa?" gumamnya dengan mata kembali basah.
"Setelah Aizen mati, Gin-lah yang memimpin kami, dan berusaha menangkapmu. Cih! Sayang aku masuk penjara, tapi sekarang aku bebas dan bisa menangkapmu, Wanita Pengkhianat!"
Syazel bergerak mendekati Rukia, mencengkram rambut Rukia begitu kuat hingga Rukia berteriak kesakitan, baik Grimmjow maupun Syazel sama-sama menikmati rintihan Rukia, aku merasa begitu marah, seketika aku mengayunkan lampu meja di tanganku, mengarahkan badan lampu hingga beradu dengan kepala Grimmjow.
Seketika teriakan kesakitan membahana dari mulut Grimmjow yang terkapar di lantai, dia mengerang kesakitan, namun aku bergerak cepat meraih senapan dari tangannya.
"Ap-"
Syazel berbalik dan hendak menembakku, tapi aku sudah berdiri dengan senapan menempel di belakang kepalanya, ku dorong moncong senapan ke kepalanya, dia lengah dengan menoleh padaku, dan aku kaget bukan main saat Rukia mengangkat kakinya hingga hampir sejajar dengan kepalanya dan menendang tangan Syazel hingga senapan jatuh dari tangannya, dengan sigap Rukia menendang senapan jauh ke pojok ruangan.
"Kau tidak bisa melawan lagi," kataku seraya mendorongnya agar bergerak jauh dari Rukia.
Grimmjow tak bergerak di lantai dan segera saja darah dari kepalanya menggenang di selimut yang bergumul di lantai.
"Keluar!" suruhku, seraya mendorongnya kearah pintu.
"Rukia ambil ponsel, telepon Byakuya!"
"Aku tidak bisa, tanganku diikat!" seru Rukia penuh kemarahan. Bodohnya aku tidak sadar kalau tangan Rukia sedang terikat. Aku terlalu panik dan ingin membawa Syazel keluar kamar, membawanya pada penghuni lain rumah ini, agar mereka bisa menolongku.
Syazel yang terus melangkah maju ke luar kamar. Rukia mengekorku, berdiri cukup aman di belakangku. Namun yang aku takutkan justru diriku sendiri, aku tidak pernah memegang senapan sebelumnya dan tanganku gemetar saat memegangnya, aku takut akan membuat kesalahan fatal yang mungkin bisa membahayakan nyawa Rukia.
Aku mendapati beberapa orang terkapar di lantai tepat saat aku dan Syazel mencapai koridor. Tiga orang pengawal tergeletak dengan mata tertutup rapat, bersama dua orang pelayan, mereka berjarak beberapa langkah dariku, dan tidak jauh dari tubuh dua orang pelayan itu, aku melihat tubuh Kakek Rukia, tidak ada darah, syukurlah, aku berharap mereka semua masih bernapas, masih hidup dan tidak terluka.
Apa yang telah mereka lakukan pada seluruh penghuni rumah ini, hingga semuanya terkapar di lantai?
"Aku memberikan gas beracun pada mereka, jadi kau tidak perlu heran seperti itu," jelas Syazel yang menjawab pertanyaan dalam benakku.
"Ck, ck, ck, Rukia - Rukia," Syazel berdecak merendahkan, "kau kira kau bisa lolos? Sekalipun aku tidak bisa menangkapmu hari ini, masih ada hari lain untuk menangkapmu, sekalipun tidak ada aku, masih ada Ggio dan mungkin Gin sendiri yang akan turun tangan," cemooh Syazel seraya bergerak perlahan saat Rukia mendekat dan mendorong tangannya agar ikatan di tangannya dibuka.
Syazel bergerak malas membuka ikatan tangan Rukia, dia masih saja mendengus merendahkan saat Rukia benar-benar lepas dari ikatan, dan berdiri di sampingku, mata ungu gelapnya menatapku lemah, dia sudah lelah.
"Apa yang kau tertawakan?" hardikku, sekali lagi mendorong senapan ke kepalanya, meyakinkan bahwa aku tidak akan segan menghancurkan kepalanya.
"Permainan ini jadi tidak seru, iya kan, Grimmjow?"
Seketika aku tersentak saat mendengar jerit dari Rukia, semuanya begitu cepat.
Grimmjow tiba-tiba saja berdiri di belakang Rukia, dan memukul Rukia hingga Rukia terjatuh di lantai, berdebam sangat keras di lantai, kontan aku berbalik dan tanpa pikir panjang lagi aku menarik pelatuk senapan, seketika Grimmjow terlempar beberapa meter dariku, mengerang dan meneriakkan kesakitan, dan tak bergerak lagi.
"Bangsat!"
Syazel mengumpat dan menyikut perutku, dan menghantam kepalaku dengan tinjunya, aku mundur beberapa langkah, namun tidak mampu mempertahankan keseimbangan diriku sendiri, dan jatuh ke lantai, kepalaku berdenyut sakit, sebisa mungkin aku tetap memegang senapan di tanganku, dan pandanganku kabur karena denyut sakit di kepalaku yang terus mendera.
Rukia, Rukia… hatiku meneriakkan namanya.
"Wanita jalang, aku tidak peduli lagi dengan perintah Gin, habis kau!"
"Argh!"
"Rukia!" seruku, bergerak limbung ke arahnya, berusaha menghentikan Syazel yang menampar pipi Rukia, dia menarik tangan Rukia dan menyeretnya mengikuti Syazel, menarik tangan Rukia dengan paksa.
"Lepaskan! Arrgh!" pekik Rukia sambil memegangi perutnya.
"Rukia!" aku berlari, menguatkan diri, dan mengabaikan sakit serta pusing di kepalaku, pandanganku kabur saat aku mengangkat senapan, aku takut salah menembak bagai mana jika aku salah menembak dan malah mengenai Rukia? Ku tampar diriku kuat-kuat, mengembalikan sorot mataku, dan aku langsung bergerak mengejar Syazel.
"Lepaskan dia, Brengsek!" Aku menarik pelatuk tanpa ragu lagi, suara letusan senapan begitu keras, bersamaan dengan Syazel yang jatuh ke lantai, entah bagian mana yang telah aku tembak, aku tidak peduli.
Aku bergerak cepat, melempar senapan dari tanganku ke lantai, meraih Rukia yang tergeletak di lantai, ku bawa kepalanya dalam sandaran tanganku, Rukia terus merintih dan menangis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Bayinya, Ichigo, bayiku…" rintih Rukia yang tidak memindahkan pandangannya dari kakinya. Darah mengalir dari sana, dan dia menangis hebat, melihat darah yang menggenang di kakinya.
"Tuhan, jangan…" bisikku seraya meraih Rukia dalam gendonganku.
"Bertahanlah, Rukia! Kau akan baik-baik saja," gumamku sementara Rukia meringkuk dalam gendonganku, gemetar ketakutan.
Tuhan, Engkau tau bahwa kami sangat mencintai anugerah yang Kau berikan, jangan biarkan dia pergi dari sisi kami, jangan Kau ambil dia dari kami.
Aku berlari keluar rumah, merasa jarak yang sepertinya sangat jauh untuk mencapai garasi rumah, aku tidak bisa membiarkan waktu banyak terbuang, bayi kami harus segera diselamatkan. Aku mencapai mobil dan langsung menginjak gas kuat-kuat, Rukia terbaring di jok belakang, terus memegangi perutnya, dan merintih, mengiba, memohon.
Kepedihan dalam suaranya, tangisnya yang menggema, kesedihan yang kami rasakan, karena kami sama-sama mencintai bayi kami. Apa yang akan kami lakukan jika dia benar-benar hilang dari kami?
Jangan pergi anakku, bukankah Ayah pernah bilang dan berulang kali bilang, Ayah akan menjagamu, Ayah akan menjadi Ayah yang baik untukmu, dan kau juga memiliki Ibu yang sangat baik, jangan pergi.
Aku merasakan air mataku mengalir membasahi pipi, membuat pandanganku kabur saat melihat jalan dan melintas melewati kendaraan lain menuju rumah sakit.
"Tahan, Rukia. Kau akan baik-baik saja, bayi kita akan baik-baik saja. Kau dengar aku, Rukia?" seruku, menguatkan diri, sementara Rukia terus meringis kesakitan.
"Rukia?" panggilku saat tidak lagi mendengar suara isak tangisnya, aku menoleh dan mendapati tangan Rukia terkulai di pinggir jok.
"Rukia, bangun! Bangun, Rukia, aku mohon, bertahanlah. Dia akan baik-baik saja, kau pun akan baik-baik saja. Bertahanlah Rukia, aku mohon, AKU MOHON!"
Aku berteriak keras terus memanggil Rukia, tapi Rukia tidak juga menjawab. Sesak dan rasa takut itu menggrogotiku, membuat sekujur tubuhku lemas, dan merasa kehilangan harapanku.
Aku berhenti di depan rumah sakit, membuka pintu belakang dan menggendong Rukia masuk ke rumah sakit, dua orang perawat datang, membukakan pintu untukku dan membawa sebuah ranjang bersama mereka, Rukia langsung di bawa ke ruang ICU.
"Anda tunggu di sini," kata perawat saat aku memaksa masuk ruangan.
"Tapi dia istri ku. ISTRI KU!" seruku penuh kemarahan, tidak tau kah mereka aku sangat cemas dan takut terjadi apa-apa padanya?
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, mohon tunggu disini," katanya berkeras, dan menutup pintu tepat di depan wajahku.
Lututku lemas, dan seketika saja aku merosot turun di lantai, kehilangan semua sisa tenagaku. Jantungku sudah kebas, tidak ada lagi denyut yang aku harapkan, yang aku rasakan sekarang hanya kepasrahan yang melayang dalam benakku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Rukia, pada bayi kami, dia harus baik-baik saja.
"Mr. Kurosaki?"
Aku menengadah dan melihat dokter Unohana di hadapanku, dia berlutut dan memandangku penuh tanya. Aku tidak peduli lagi, luka di badanku bukan apa-apa, darah yang mengering di baju dan tanganku bukan apa-apa, aku hanya cemas pada Rukia.
"Dokter…" rintihku tanpa sadar, aku tersungkur dan dokter Unohana meraih bahuku dalam rangkulan tangannya, untuk sekejap aku merasakan pelukan seorang ibu yang sudah sangat lama tidak aku rasakan, perasaan aman dalam lindungannya.
"Rukia…" kataku dalam isak tangis, "Bayi kami, ku mohon selamatkan mereka. Aku mohon…" pintaku mengiba padanya, merasakan dadaku sesak, dan tidak bisa lagi bernapas, air mataku menetes dan aku menangis sejadinya. Seumur hidup aku tidak pernah sesedih ini, setakut ini, secemas ini, aku tidak pernah menangisi diriku sendiri saat aku berada dalam kesulitan macam apapun, aku tidak pernah memohon akan diselamatkan, tapi aku mohon, kali ini saja, selamatkan Rukia dan bayi kami.
"Kau harus tenang, dan berdo'a, serahkan semuanya pada Tuhan. Kau Ayah yang baik, bayi itu akan mendengarmu, percayalah," bisik dokter Unohana seraya merangkul bahuku dan mengusap punggungku lambat-lambat.
Rukia, kau selalu melawan apa yang aku minta, namun kali ini aku mohon dengarkan aku. Bertahanlah…
Kurasakan gelap jatuh dalam pandanganku, semua gelap, kepalaku sakit bukan main, membuatku tidak mampu tetap membuka mata.
"Mr. Kurosaki?" mataku terlalu berat, aku semakin ditelan kegelapan, dan tidak lagi merasakan keberadaan diriku sendiri.
.
.
To Be Continue
.
.
A/N :
Bagaimana dengan chapter ini Minna-san?
Aku hanya bisa mengatakan=== aku menunggu review, karena aku ingin memperbaikinya, agar lebih nyaman dibaca.
Terima kasih sudah membaca.
PS. Terima kasihku sebesar-besarnya untuk Anda yang telah memasukkan THE IRIS dalam daftar fave story, story alert, bahkan menjadikanku fave author, MAKE ME LOVE U MORE, GUYS!
Keep the Spirit On ^_^
