This story belong to Purpleskies, and I just translate it.
Please don't reupload this story!
This is MY BELOVED KAISOO STORY LINE
NOCTURNA SUPPRESSIO
11
Summary :
Do Kyungsoo sangat menyukai tinggal di alam mimpinya. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermimpi, menemukan sebuah kehidupan yang lebih baik dari pada kenyataan.
Tapi apa yang membuat Kyungsoo gagal untuk menyadari bahwa tidak semua mimpi indah akan terjadi seperti apa yang mereka—mimpi itu—tampakkan.
Foreword :
"Apakah kau lelaki yang ada di mimpiku?"
"Wow. Itu adalah hal paling murahan yang pernah aku dengar."
FOR SERIOUSLY
please readthe special note from me at the end of this story
NOCTURNA SUPPRESSIO
Kyungsoo tak pernah menyangka bahwa menggenggam sebutir pil kecil mampu membuat jantungnya berdebar keras dari balik rusuk dan meningkatkan seluruh inderanya sekaligus. Ia benar-benar bisa mendengar segala sesuatu di dalam kamarnya. Bagamana jam di samping tempat tidurnya berdetik. Bagaimana Baekhyun membalik halaman dari buku catatannya. Ia juga bisa merasakan keringat mengalir di punggungnya dan pahitnya rasa bersalah serta kegugupan dalam mulutnya. Begitu banyak perasaan. Begitu banyak kegugupan. Semua hanya karena sebutir pil.
"Aku tak bisa menemukan semua sumberku." Baekhyun mulai memeriksa berkas-berkasnya dan Kyungsoo meletakkan kembali pil itu, mendorong botol pil tidur yang baru saja dia beli lebih jauh ke bawah bantalnya.
"Kau bisa mencoba mencari di perpustakaan." Ucap Kyungsoo, berharap Baekhyun tak menyadari hal aneh apapun darinya.
"Kau benar." Baekhyun berkata, melirik jam. Baru pukul enam sore. Perpustakaan tutup pukul delapan dan Baekhyun melompat bangun dari tempat tidurnya untuk bersiap. "Aku kembali nanti."
Bagus. Pikir Kyungsoo. Aku tak mau kau melihatku seperti ini.
"Tapi kau akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Baekhyun, dan Kyungsoo melihat kekhawatiran yang langsung menusuk tepat di dadanya.
"Ya, aku akan baik-baik saja." Sahut Kyungsoo, berpaling. Maafkan aku Baek...
"Apa kau sudah membeli obat untuk sakit kepalamu tadi?"
Kuharap.
"Ya," jawab Kyungsoo, memberinya senyum kecil. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."
"Baiklah," ucap Baekhyun dan menatapnya sejenak lagi sebelum melangkah pergi dari Kyungsoo yang merasa bersalah untuk apa yang akan ia lakukan. "Kau yakin kau baik-baik saja?"
Tidak, Kyungsoo ingin menjerit padanya. Aku tidak baik-baik saja. Aku butuh bicara dengan seseorang.
"Ya," angguk Kyungsoo dan Baekhyun tersenyum sebelum menutup pintu dan meninggalkan Kyungsoo sendirian dalam pikirannya.
Ia butuh bicara dengan seseorang. Baekhyun. Luhan. Siapapun. Namun lagi... mereka tak akan mengerti, pikir Kyungsoo sembari gemetaran meraih botol pil tidur di bawah bantalnya. Tak ada seorangpun yang mengerti.
Kecuali Kai.
Ia butuh bicara dengannya tanpa harus terbangun dalam waktu singkat. Ia butuh untuk tetap berada di dunia mimpi lebih lama, meyakinkannya bahwa ia membutuhkan untuk tetap di sana.
Kyungsoo menelan satu pil dalam mulutnya, tangan bergetar saat ia menyusul dengan tegukan air. Ia seharusnya tak melakukannya. Ia tahu tak seharusnya ia seperti ini. Namun ia hanya ingin bertemu dengan Kai. Bicara dengannya. Ia ingin melihat petualang mimpinya.
Satu pil tak cukup untuk membuatnya linglung atau mengantuk dan Kyungsoo kembali menenggak tiga butir ke dalam tubuhnya. Ia gemetar menyadari apa yang baru saja ia lakukan dan tahu akan resikonya, hal ini tak akan berakhir baik. Ia sadar betapa banyak yang ia sia-siakan dengan melakukan hal ini. Hidupnya, sebagai contoh. Namun ketika kepalanya menyentuh bantal, benda empuk itu memberikan kenyamanan sesaat, ia telah lama terlelap. Berbagai pikiran akan ketenangan diri sendiri terlupakan saat ia menyadari dirinya tiba-tiba tenggelam, kepalanya berada di ambang air dan ia berjuang mengais udara.
Paru-parunya seolah akan meledak dan ia menelan terlalu banyak air. Ia tersengal, mencoba mencari suatu pegangan sembari berpikir tentang bagaimana ia baru saja tertidur dan kini ia berusaha untuk terjaga dan tetap hidup saat sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. Berpegang erat, Kyungsoo merasa seseorang menariknya naik dan ia terbatuk, tersedak dan memuntahkan air yang tertelan saat ia berhadapan dengan Kai.
"Mengaislah udara." Tuntun Kai sembari membaringkannya di atas pasir, menepuk-nepuk punggungnya. "Bernafas, Kyungsoo."
Kyungsoo masih terbatuk, satu tangan mencengkeram tenggorokannya sementara tangan lainnya berpegang pada Kai, takut untuk melepasnya.
"Muntahkan semua bila itu memang perlu."
Kyungsoo memuntahkan air lebih banyak lagi dan berbaring kehabisan nafas.
Butuh beberapa detik atau menit baginya untuk kembali tenang, paru-parunya masih menyesuaikan diri. Kyungsoo segera beranjak sedikit setelah ia merasa lebih baik untuk melihat sekelilingnya dan sadar bahwa tempat ini adalah sebuah pulau. Dia baru saja akan melihat lebih dekat saat Kai menariknya berdiri untuk menatapnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Kai menggeram, memberinya pandangan menusuk.
"A-aku ingin melihatmu." Jawab Kyungsoo, suaranya masih serak dan ia berdeham. "Aku ingin bicara denganmu."
"Sikapmu benar-benar harus berhenti." Ucap Kai sembari melepaskannya. "Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Kyungsoo menatap balik pada mata Kai yang gelap, menunggu tarikan kenyataan menghampirinya. Dia menunggu tanah berguncang sembari memikirkan bagaimana caranya ia bisa tenggelam. Ia mengerling sekelilingnya untuk menunggu langit mulai berputar, pasir melarut, cakrawala memudar hingga dia kembali ke kamarnya atau di manapun ia tertidur—ia tak ingat—ketika tak ada apapun yang terjadi. Tanah tak bergetar dan begitu juga langit dan satu-satunya yang ia lihat hanyalah Kai, tatapan marahnya tergantikan oleh kebingungan di wajahnya.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Kai lagi, masih bingung mengapa Kyungsoo masih berdiri di hadapannya.
"Wow," hela Kyungsoo, "Pilnya bekerja."
Mata Kai melebar mendengar jawabannya. "Pil apa?"
"Pil tidur yang kubeli di apotek." Ucap Kyungsoo perlahan dan Kai menatap ngeri padanya. "Aku minum cukup banyak. Aku pasti sudah terbujur kaku."
"Apa?!"
Kyungsoo membuka mulut untuk menjelaskan lebih jauh ketika Kai tiba-tiba menggenggam lengannya dan menariknya ke semak-semak. Kyungsoo tak melihat apapun saat semuanya bergerak cepat secara tiba-tiba, semak berubah menjadi pepohonan tinggi dan pasir menjadi lumpur dan segalanya hanya samar-samar baginya.
Ada sebuah pintu di tengah-tengah tempat yang kini kelihatannya adalah hutan. Mengapa hal itu di sana, Kyungsoo tak tahu namun Kai membukanya dan menyeret Kyungsoo masuk. Ia masih basah kuyup, pakaiannya basah dan dia amat kedinginan namun sesaat ia lupa bahwa dia gemetaran saat ia didorong masuk ke balik pintu dan ia kini berada di kamarnya sendiri. Bukan kamar di asrama, namun miliknya di rumah.
"Ganti pakaianmu." Kai berujar, masih menggeram sembari menunjuk lemarinya dan Kyungsoo mengedik saat ia mengerling pakaiannya yang basah.
"Untuk apa? Ini hanya mimpi, aku tak akan sakit."
"Ya? Hal itu juga berlaku padaku. Aku hanyalah mimpi. Aku tak nyata." Timpal Kai balik padanya, matanya memelototi Kyungsoo dan lelaki itu menghela nafas.
Ia tahu bahwa akan sia-sia saja berdebat dengannya saat ini. Bicara pada Kai yang marah hanya berarti ia akan menjauh darinya selama ia bermimpi dan ia tak menginginkan hal itu. Mereka butuh bicara. Dia butuh lebih banyak penjelasan. Lebih banyak jawaban.
Kyungsoo menarik lepas kaus basahnya sembari mencari kaus kering. Rasanya aneh untuk berada dalam kamarnya setelah lama tak pulang. Dan bertanya-tanya bagaimana kabar orangtuanya. Ia belum berbicara pada ayah dan ibunya selama berminggu-minggu. Apa mereka masih bertengkar? Barangkali, Kyungsoo mengernyit saat ia mengambil satu kaus dari tumpukan pakaian miliknya. Lebih banyak lagi alasanku untuk tinggal disini...
Di mimpiku, semuanya sunyi.
Kyungsoo menengadah saat ia menyadari betapa sunyinya suasana. Ia memeriksa untuk melihat apakah Kai masih berada di sana karena ia tak bisa membiarkannya hilang begitu saja dari pandangan saat ia tahu kini mereka berdua sendirian. Ia telah melewati banyak hal gila hanya untuk jatuh terlelap dan bila Kai melarikan diri...
Namun ia masih di sana. Kyungsoo melihat Kai berdiri di ambang pintunya, menatap Kyungsoo. Tatapan itu berbeda dari tatapan yang ia beri sebelumnya. Tatapan yang membuat hati Kyungsoo berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya. Karena mata Kai begitu kelam dan terselubung. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya dan ia memandangi perut Kyungsoo yang telanjang.
Dia terlihat... lapar.
Udara di sekitar mereka entah sejak kapan menebal dan Kyungsoo tak bergerak, bahkan tak menutupi tubuhnya. Cara Kai memandangnya membuat kepalanya berputar dan tubuhnya memanas.
Kyungsoo baru akan memakai kaus untuk meringankan tensi di sekitar mereka saat Kai menghampirinya dan merenggut lepas kausnya. Kyungsoo tak menengadah padanya, takut melihatnya marah kembali. ia tak mau berdebat dengannya dan baru akan melangkah mundur namun jemari menopang dagunya dan sebelum ia sadar, ia telah menatap ke dalam mata seorang monster yang kelaparan.
Bukan, bukan monster. Pikir Kyungsoo sembari menatap balik mata Kai. Manusia. Inilah bagaimana manusia terlihat. Saat mereka lapar akan...
Sepasang bibir merangkul miliknya sebelum ia mampu berpikir lebih jauh dan Kyungsoo mengizinkannya, mencium balik Kai dengan lapar. Rasanya telah begitu lama semenjak terakhir mereka bersentuhan selain dari pergelangan lengannya yang digenggam Kai saat ia menyeretnya ke mana-mana dan ia merindukan hal ini. Ini, Kai menciumnya, Kai bersuara tertahan saat ia mendorong Kyungsoo hingga ke dinding tanpa melepaskan bibir darinya adalah sesuatu yang begitu Kyungsoo inginkan.
Rasa dari tangan Kai pada kulitnya, telapak tangan menekan datar pada perutnya membuat Kyungsoo tak mampu bernafas dan gemetar. Cara Kai menyentuhnya membuat ia merasa dibutuhkan dan ia menyongsong sentuhan itu, menyerahkan diri pada makhluk tak tertolakkan ini. Gairahnya naik oleh cara Kai menyentuh setiap inci dirinya, menarik pelan bibir bawahnya dan membiarkan lidahnya bermain lebih jauh di dalam mulutnya. Kyungsoo menghisapnya masuk dengan serakah, merasa sedikit berani dan ia menariknya mendekat, menyentaknya lebih keras. Karena menilai dari tonjolan di antara celana Kai, dia yakin sepenuhnya bahwa Kai juga merasakan hal yang sama.
Mengangkatnya naik, Kai menggendong Kyungsoo sebelum menjatuhkannya dengan kasar di tempat tidur, matanya tak pernah berpaling sementara ia melepaskan kausnya.
Kyungsoo tak berpaling saat ia mengaitkan jari pada celananya dan menariknya maju, membuat Kai terjatuh pada punggungnya dan Kyungsoo merayap di atasnya. Ekspresi pada wajah Kai merupakan campuran antara nafsu dan keterkejutan melihat Kyungsoo memimpin keadaan. Dia mendengar tarikan nafas tajam dari Kai saat ia menarik turun celananya dan menyingkirkannya seperti pakaiannya yang lain.
Kai duduk dan meraih tangan Kyungsoo yang masih mencengkram pakaiannya dengan gugup saat Kai memiringkan kepalanya ke samping dan menjilat kulitnya. ia merasakan dirinya memperlihatkan giginya, membawanya turun sampai ke lehernya dan ia memejamkan matanya sembari menikmati tiap sensasi yang ia berikan.
Ia memunggunginya dalam hitungan detik, Kai memutar badannya saat ia melepaskan celananya dan Kyungsoo mendongak menatapnya, sebuah tangan menangkup wajah Kai saat ia mencoba untuk meringankan kerutan yang terlukis di keningnya. Semuanya tak lagi terasa kasar. semuanya terasa lembut dan berani serta yang Kyungsoo hanya bisa pikirkan adalah tentang bagaimana bodohnya mereka bisa masuk ke dalam kekacauan ini sampai-sampai menginginkannya lebih.
Ia melihat bibir Kai bergetar saat ia menekuk tubuhnya agar bisa melihat dirinya lebih dekat dan Kyungsoo menempelkan kening mereka bersamaan. Mereka berdua egois. Kai menginginkan Kyungsoo ketika ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya dan Kyungsoo hanya menginginkan Kai untuk menahan segala sesuatu tentangnya walaupun hanya untuk semenit. Mereka telah berpisah terlalu lama dan Kyungsoo ingin harus diingatkan tentang bagaimana Kai membuat bagian dalam dirinya terasa teradukkan dan bagaimana rasanya mendapati laki-laki itu berada di dalam dirinya.
Mengulurkan tangannya di antara mereka, ia menangkupkan tangannya di sekitar batangnya dan menyadari betapa tegangnya ia di telapak tangannya. Kai mendesis di telinganya, sebuah suara sensual yang membuat Kyungsoo menutup ujung batangnya dan menggerakkan tangannya karena ia ingin mendengar lebih.
Kai menaruh tangannya di kasur saat Kyungsoo mulai memompanya lebih cepat. Dan saat Kyungsoo menatapnya, keringat mendekorasi wajah dan lehernya, ia bersumpah ia tidak pernah melihat sosok manusia seindah ini.
Ia tidak mengerti bagaimana seorang incubus bisa digambarkan sebagai seorang makhluk yang mengerikan dengan gigi yang sangat tajam dan kuku yang panjang, mata mereka yang menyeramkan menatap tepat padamu ketika di satu sisi mereka terlihat begitu indah, melenguh tidak sopan yang tampak seperti pujian di telingannya.
Kai bukanlah seorang monster. Ia tidak akan pernah menjadi monster di matanya.
Kai menarik diri dari genggamannya dan Kyungsoo mendongak menatapnya untuk melihat apakah lelaki itu marah lagi tetapi ia tidak dapat melihat apapun dengan jelas saat Kai menenggelamkan kepalanya untuk mengambil kecupan di bibirnya sekali lagi, semuanya terjadi saat ia mendorongnya lebih dalam.
Kyungsoo melenguh saat Kai menyodoknya lebih dalam, kuku menancap di belakang bahunya saat ia mencengkeramnya. Hanya seperti terakhir kali, Kyungsoo tidak merasakan sakit sedikitpun. Semua yang ia rasakan adalah kesenangan dan fiksi inilah yang membuat semua bayangannya kabur. Tetapi tidak seperti terakhir kali, ia tidak merasa takut. Ia sekarang yakin bahwa inilah yang ia inginkan.
Engahannya berubah menjadi lenguhan saat Kai menyodoknya sedikit lebih cepat. Ia merasa perlu untuk melepaskan diri tetapi juga ia ingin menikmati perasaan terbakar dan intesitas rasa Kai yang mengisinya.
Tangan ini adalah tangan Kai yang merengkuhnya saat ini. Tangan hangat Kai melilit panjang tubuhnya yang membuat Kyungsoo mengepalkan tangan di sekitar kemaluannya dan mereka bertua klimaks, saling berpelukan erat saat mereka berpindah dengan gelagapan.
Tersengal dan terpuaskan, Kai bertekuk lutut di atasnya dan sebelum Kyungsoo menutup mata, sebelum ia jatuh terlelap ia mendengar detikan jantung Kai di dekatnya, ia memutuskan bahwa ya, di sinilah ia ingin berada. Di sinilah tempatnya.
Meski harga yang harus ia bayar adalah nyawanya.
Nocturna Suppressio
Seprai yang terasa lembut membuat Kyungsoo tersenyum dalam tidurnya sementara ia mengusap wajah pada bantal. Ia tak mendengar para siswa mengobrol di luar ataupun Baekhyun menggumamkan isi catatannya. Ia hanya mendengar kesunyian, pertama kalinya semenjak ia pindah ke asrama kampus dan senyumnya mengembang memikirkan bahwa ini adalah tidur terbaiknya belakangan ini.
Namun saat ia membuka mata, ia tak melihat dinding yang familiar ataupun barang-barang yang ia miliki di asrama kampus. Apa yang ia lihat adalah kamar miliknya di rumah orangtuanya lengkap dengan meja di samping jendela yang membuat ia bertanya-tanya apa yang dilakukannya semalam karena apa yang ia ingat hanyalah Kai dan—
Kai!
Kyungsoo beranjak duduk dan mencarinya ketika ia melihatnya telah berpakaian dan duduk di kaki tempat tidurnya, menatap tajam pada Kyungsoo. Tangannya terkepal erat di samping dan Kyungsoo mengernyit pada seberapa jauh ia dari jangkauannya.
"Ada apa?" tanya Kyungsoo dan Kai hanya mengertakkan gigi sebelum menjawab.
"Kita harus berhenti melakukan ini."
Kyungsoo menghela nafas, menyingkirkan selimut darinya. Dia baru saja bangun dan sekarang sudah harus berurusan lagi dengan Kai yang marah. Kyungsoo beringsut mendekat ketika dilihatnya ia juga telah berpakaian, sesuatu yang tak ia ingat telah melakukannya semalam.
"Lagi-lagi kau membahasnya. Harus berapa kali kukatakan bahwa aku tidak peduli."
"Kau tak peduli dengan resikonya?"
Kyungsoo menggeleng. "Aku terhisap ke sini. Lalu kenapa?"
"Kenapa," Kai dengan marah menyahut, "Adalah saat kau terhisap ke sini, aku terlempar keluar. Aku menggantikanmu."
Kyungsoo memandangnya, terkejut oleh informasi baru ini.
"Apa?"
"Ini adalah sebuah siklus." Kai memulai. "Inilah kami. Petualang mimpi dulunya adalah manusia nyata."
Kyungsoo menatapnya sementara Kai mengacak-acak rambut dengan frustasi.
"Mula-mula semuanya hanya permainan tapi ini," Kai menunjuknya. "Menarikmu masuk, adalah cara bagi kami untuk keluar."
Dia berbohong...
"Aku menghisap emosimu. Rasa gugupmu... apapun yang membuatmu putus asa. Hanya agar aku bisa utuh kembali sementara kau terjebak dalam dunia yang kau kira hebat ini." Kai melanjutkan. "Kau akan menyukai berada di sini sampai kau merasa kesepian dan mencoba menemukan orang lain untuk menggantikanmu. Orang lain untuk dihisap."
Kini Kyungsoo menyadari kenyataan dalam hal ini. Aku tertarik masuk. Dia terlempar keluar.
Kasur melesak saat Kai bergerak mendekatinya dan Kyungsoo menengadah menatap mata kelam penuh kemarahannya.
"Kau menyukainya," Kai menariknya mendekat, membuat Kyungsoo merasakan otot dadanya yang menegang, merasakan tangan di pinggangnya yang berusaha untuk tak menghancurkan dirinya. "Inilah yang akan membuatmu menghilang."
Kai melepaskannya sembari menjauh. "Jadi hentikan."
Kyungsoo tak tahu harus berpikir apa saat ia melihat Kai beranjak bangun dan membalikkan punggung. Jadi inilah mengapa ia terus-menerus menjauhiku?
Hal itu masuk akal namun juga tidak, karena bila Kai ingin keluar mengapa ia tak memanfaatkan Kyungsoo? Mengapa ia menolak sentuhannya, keinginannya untuk menemuinya?
Bila ini semua adalah siklus dan Kai menginginkan giliran untuk hidup maka mengapa ia tak menghisap jiwa Kyungsoo seutuhnya?
Dia takut. Pikir Kyungsoo sembari beranjak menuju sang pemuda.
Atau mungkin... Tidak, Kyungsoo menyingkirkan jauh-jauh pikiran akan Kai balik menyukainya. Jatuh cinta padanya... Tidak, mustahil.
Sosok Kai yang tertunduk lesu dengan punggung berbalik padanya membuat Kyungsoo melihatnya sebagai seorang pemuda kembali. Pemuda yang mengisi mimpinya dan hadir dalam tidurnya.
Perlahan, Kyungsoo melingkarkan lengan pada pinggangnya dan memeluknya. Ia merasakan betapa tegang dan kakunya pemuda itu namun Kyungsoo tak peduli. Ia menyandarkan pipi pada punggungnya dan mengeratkan pelukannya, membuat ia merasa bahwa tidak, ia tak takut padanya ataupun marah karena telah memanfaatkannya.
Karena ia melakukan hal yang sama. Kyungsoo memanfaatkannya untuk melarikan diri.
"Lepaskan."
Kyungsoo melonggarkan pegangannya namun tak melepasnya. Cukup untuk Kai menyingkirkan lengannya dan berbalik menghadapnya. Kai tak lagi marah namun terlihat amat frustasi dan kesakitan hingga Kyungsoo hanya mampu menatap balik, berharap dapat melakukan apapun untuk menghapus semua perasaan itu dan menggantinya dengan yang dulu ia miliki saat mereka berkelana di antara mimpi.
"Jangan berpura-pura seolah kau tak takut padaku." Kai berbisik dan Kyungsoo menggeleng.
"Aku tak berpura-pura."
"Mengapa?" tanya Kai. "Mengapa kau tak takut padaku?"
"Mengapa aku harus takut? Kau bukanlah monster." Jawab Kyungsoo.
Kai memberinya senyum muram. "Dengan apa yang kulakukan, kurasa aku memang monster."
Kyungsoo meraih menyentuhnya, menunjukkannya seberapa mudah untuk menyentuh wajahnya. Ia tak takut pada Kai. Tak akan.
"Aku tak mau kau menjadi seperti itu." Kai menghela nafas dalam. "Awalnya hal itu mudah. Kau begitu mudah ditipu untuk bersenang-senang. Berkelana ke tempat yang ingin kau tuju..."
Kai menatapnya, matanya dipenuhi oleh penyesalan hingga Kyungsoo tahu ia tak perlu mengatakan apapun lagi.
"Namun kemudian kau mulai bertanya tentangku. Kau memilih untuk menghabiskan waktu bersamaku daripada bermimpi." Kai tersenyum sedih lagi. "Tahukah kau bahwa kau mampu melakukan apapun dalam mimpimu... apapun namun kau masih mencariku?"
Mimpiku tak berarti tanpamu.
"Kau mampu memiliki seluruh uang di dunia dalam mimpimu." Kai menelan kembali tawa yang tersendat. "Kau mampu memiliki semua wanita yang kau inginkan. Pergi ke tempat yang pernah kau impikan."
Kai hanya menunduk sembari melanjutkan. "Namun kau... kau selalu mencariku. Bahkan membahayakan nyawamu untukku."
Malam di mana hujan mengguyur di mana ia hampir tertabrak di jalanan. Keterkejutan di wajahnya saat ia mendorongnya ke pinggir jalan.
"Bahkan sejauh menyukaiku." Kai menggeleng. "Aku benar-benar bersalah Kyungsoo."
"Tidak." Bisik Kyungsoo. "Jangan merasa bersalah."
"Namun aku memang bersalah." Kai menatapnya kembali dengan ekspresi pedih. "Karena aku menyukaimu lebih dari seharusnya."
Ada sebuah perasaan hangat dalam dada Kyungsoo, sesuatu yang Kyungsoo tak mampu memutuskan apakah itu kebahagiaan atau bukan karena di satu sisi, ia senang Kai juga menyukainya namun di sisi lain... Kai akan terus menjauhinya.
"Mungkin..." ucap Kai. "Bila kita di tempat yang berbeda... Bila kau terbangun dan aku nyata... Mungkin kita bisa bersama."
Kyungsoo merasakan Kai melangkah pergi darinya.
Jangan, kumohon jangan.
"Bangunlah, Kyungsoo." Kai berkata. "Kumohon bangunlah."
Kyungsoo menghela nafas. Mungkin dia harus bangun sekarang. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan sekarang saat ia tahu kenyataannya. Ini bukan lagi tentangnya. Ini bukan lagi tentang menghilng selamanya.
Kai nyata! Yah, pernah nyata. Namun pikiran bahwa dia pernah nyata berbekas sesuatu dalam dirinya. Ia telah menghabiskan berjam-jam terbangun dan tertidur memikirkan hal ini, bagaimana Kai tak cukup nyata untuk ia sukai dan pedulikan namun kini, semua telah berubah.
Semua ini juga adalah tentang mengembalikan hidup Kai.
Kyungsoo mengangguk padanya, memilih untuk bangun sekarang dan ia melihat Kai terkejut. Mungkin karena aku begitu mudah setuju untuk terbangun.
"Bantu aku terbangun?" pinta Kyungsoo dan Kai menatapnya sebelum mengangguk perlahan.
Kyngsoo menahan diri untuk tak menariknya mendekat saat Kai mendekatinya dan mengusap pipinya, menciumnya lembut. Ciuman itu singkat dan cepat, hanya sentuhan ringan antara bibir dan yang Kyungsoo tahu Kai sedang berhati-hati.
Kai kemudian menjauh saat Kyungsoo baru saja merasakan sentuhan itu. Membungkuk untuk meraih teling Kyungsoo, ia membisikkan kata-kata yang membawa Kyungsoo kembali ke kenyataan. Pada kehidupan tanpa dirinya.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Dia melihat dinding kamarnya perlahan runtuh di sekelilingnya saat ia merasakan dirinya terbangun. Ia menatap Kai berdiri di sana memperhatikannya menghilang dan ia menatapnya dengan sebuah janji.
Aku akan membantumu keluar dari sini.
Ia merasakan kenyataan meresap masuk ke kepalanya lebih cepat dan ia baru akan memberi Kai satu senyuman terakhir ketika tiba-tiba ia melihat kepulan asap hitam di belakangnya.
Asap itu. Asap hitam tebal itu.
Namun entah bagaimana, asap itu seolah berbeda. Terlihat berbeda dan bahkan terasa berbeda dan saat hal itu mulai mengudara di balik Kai, Kyungsoo dapat melihat sebuah wajah.
"Kai!" jerit Kyungsoo, suaranya samar saat ia kini mulai terbangun dan Kai berbalik untuk melihat hal itu.
"Tidak," Dia mendengar Kai terkesiap dan ia berbalik dengan cepat untuk menghadap Kyungsoo.
"Pergi! Bangunlah!"
Kyungsoo menuruti kata-katanya dan ia membuka mata untuk melihat kamarnya di asrama. Jantungnya berdetak kencang melihat wajah di antara asap itu namun sebelum ia mampu berpikir lebih jauh, Kyungsoo mencengkeram perutnya dengan dorongan dan rasa sakit.
To be Continue
Well special thanks to~! Purpleskies who is gave me a permission to translate this story, and don't forget to author Redkimchi and Yaoi-fanboy—who is help me to translate this chapter.. Thanks a lot for all.. And, once again.. i do not own this story. this story belongs to Purpleskies.And our translator just translate this fic..
Hai… hai… hai… kembali lagi dengan saya Raein kkk~ pertama-tama saya lagi seneng banget nih, karena trans fic yang Manhattan's Ellite yang saya bantuin translatetin udah selesai heheh XD dan anyway… ini nih part 11 udah kelar… pas bagian detik-detik mau nc dan selepasnya nc itu saya loh yang ngetranslate dengan beberapa yang dibantu oleh Redkimchi Eonni hehehe… dan untuk Yaoi-Fanboy… makasih kakak hehehe…
Aku yakin pertanyaan kalian yang Kai itu nyata atau enggaknya udah kejawabkan di sini? Hehehehe yang sabar ya nunggu nih ff lanjut XD saya masih nungguin yang mau ngerequest ff KaiSoo looh di twitter~ mention di NamRaein_1106 ya kalau ada ide ff hehehe :D ada satu request yang lagi saya pikirin.
Typo? maaf yaaw hehehhe :D typo itu manusiawi kawan~~
Terimakasih untuk semuanya^^
Review or Favorite?
