A/N: Whew, akhirnya bisa apdet juga. Udah berapa bulan yah...? TT. Well, nggak usah kelamaan basa-basi deh. Para pembaca sudah lama menunggu sih, ya? Ok, selamat menikmati chapter terbaru dari cerita ini!

Disclaimer: Naruto dan semua karakternya punya Kishimoto-sensei. Nah, kalau ada Luna, itu baru karakter ori.

Warning: …kayaknya nggak ada yang bahaya di sini…. Paling implikasi shonen ai, oya, bahasa kasar, dan oOC-ness.



Chapter 10

Busted! A New Partner in Crime

Ledakan besar terjadi. Naruto merentangkan tanganya dan meraih Sasuke yang berteriak panik. Semua landasan di bawah mereka runtuh dan jeritan kaget ketakutan yang menyayat hati itu terbenam di antara kerasnya suara ledakan dan reruntuhan bangunan yang berjatuhan.

"Pierot!" Naruto hendak mencari bayangan sang Pierot di tengah keributan itu. Apa pun…apa saja. Asal dia bisa melihat sedikit saja bayanganya, dia bisa…

Sang Pierot merentangkan tanganya, topengnya terlepas akibat getaran keras di sekelilingnya. Ekspresi ketakutan seolah akan dijemput kematian menghiasi wajah cantiknya. Kemudian dengan suara sedih dan menyesal pun ia berteriak, "Kyuubiiiiii!"

Kyuubi berusaha meraih tanganya, tangan gadis yang meminta pertolongan itu, tapi…tangan pendeknya tak mampu meraihnya.

Naruto mengutuk tanganya yang pendek. Waktu seolah berhenti sesaat, ketika expresi horor menampakan wujudnya di wajah sang pencuri. "INOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!" kemudian ia menghilang dari pandanganya, tertutup batu-batu besar yang berjatuhan….

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!" Naruto tersentak kaget ketika membuka mata. Seluruh bagian tubuhnya kontan terserang rasa nyeri yang luar biasa, membuatnya memejamkan mata lagi dengan panik. Jeritan kesakitan dan pilu itu mengejutkan dirinya sendiri dan membuatnya tersadar dari mimpi buruk.

Nafas bocah bermbut pirang itu tersengal-sengal, bagaimanapun ia coba bernafas, solah udara nggak masuk ke paru-parunya. Air matanya mengalir tanpa henti seolah olah glandula lakrimalis-nya rusak hingga nggak mampu menghentikan produksi cairan mata itu. Erangan kesakitanya yang dalam dan menyakitkan terus terdengar dari suaranya.

Naruto masih belum bisa berpikir.

Aaah, sakit…! Badanku sakit—! Seseorang…tolong aku—!

Naruto nggak bisa menggerakan tubuhnya. Rasa nyeri yang seolah merantainya itu nggak membiarkanya bergerak. Tubuhnya yang lengket dan basah oleh keringat dingin membuatnya sangat tak nyaman.

Sakit…? Tunggu…. Aku…masih hidup…?

Seluruh otot tubuhnya yang tadinya menegang karena panik dan bingung serta kesakitan, kini mengendur sedikit setelah menyadari hal itu. Naruto mencoba menenangkan nafasnya juga, dirinya, pikiranya. Kepanikan dan kebingungan yang membuatnya terantai kesakitan sedikit demi sedikit makin berkurang dan kemudian hanya menyisakan rasa nyeri pada tubuhnya yang mungkin memang terluka. Ia kembali bisa bergerak.

Naruto melepas nafas panjang. Air matanya berhenti menglalir dan perlahan-lahan, ia membuka mata. "Di mana…ini…?"

Naruto sampai kaget sendiri. Ia sama sekali nggak mengenali suaranya. Suaranya terlalu lirih dan kering, kasar dan…pokoknya nggak seperti suaranya. Dengan bayangan di sekitarnya masih kabur, ia sama sekali nggak mengenali tempat itu. Ia belum bisa melihat dengan jelas. Rasa pusing dan mual pun mulai menyerangnya.

"Oh, sudah sadar ya?" Tiba-tiba muncul suara entah dari mana, membuat Naruto sedikit panik dan penasaran, tapi lagi-lagi ia nggak bisa melihat siapa yang ada di sana. Bayanganya terlalu kabur.

"Siapa…?" tanya Naruto dengan pikiran kosong.

"Rupanya obat biusnya masih bekerja sedikit," kata orang misterius itu dari samping tempat Naruto berbaring. "Tidurlah sebentar lagi. Nanti kalau pengaruh obatnya sudah hilang, baru kita ngobrol," kata oarang itu perlahan dan lembut. Ia mengelus kepala Naruto dengan sayang dan memaksa Naruto menutup matanya sekali lagi.

Tangan yang…hangat…. Seperti tangan…ibu….

Akhirnya rasa kantuk kembali menyerang Naruto dan kesadaranya mulai menghilang lagi. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali tertidur, tapi kali ini, dia bisa tidur dengan ekspresi tenang.

Sasori tersenyum di sampingnya. "Mimpi yang indah, Naruto…."

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Naruto merasakan sesuatu di sekelilingnya, kehangatan dan rasa nyaman, tapi ada juga rasa perih dan nyeri ringan yang menambah variasi rasa itu. Perlahan-lahan si bocah pirang itu membuka matanya, dan melihat langit-langit berwarna biru.

Naruto menghela nafas panjang, mencoba bergerak. Ia mengangkat tanganya dan membawanya ke hadapan wajahnya. Lenganya sudah diperban sampai ke pergelangan. Saat ia mencoba bangun, badanya langsung memprotes.

Ow—!

Naruto mengerang sedikit dan berusaha, tapi usahanya nggak membuahnkan hasil, jadi dia menyerah dan kembali berbaring ke posisi yang paling nyaman. Ia menghela nafas lagi.

Rupanya aku benar-benar masih hidup…. Dengan luka macam itu? Apa aku ini monster juga, ya?—pikirnya rada ngeri. Lagian…ini di mana sih?

Bagaimanapun Naruto coba mengingat, ia nggak ingat masuk ke rumah sakit, jadi tempat itu pasti bukan. Kalau dipikir-pikir…kamar itu sama sekali nggak familiar di mata Naruto. Mungkin seseorang menemukanya dan mengobatinya, tapi…sudah berapa hari dia nggak sadarkan diri?

Begitu banyak pertanyaan berputar di kepala Naruto, membuatnya pusing. Lagi pula keadaanya masih belum baik, jadi dia belum bisa berpikir terlalu jernih.

Lalu ketika Naruto menghela nafas putus asa, pintu kamarnya terbuka. Kontan bocah bermata biru itu terpancing suara pintu dan menoleh ke samping. Seseorang masuk ke kamar.

"Sudah sadar lagi, Naruto?" seseorang bicara dan Naruto langsung mengenali suara dan perawakan orang itu.

"Saso…ri…!?" Naruto memasang wajah horor. Kalau Sasori yang menemukan dan merawatnya berarti…dia ketahuan. Seratus persen…pasti ketahuan!

"Jangan berwajah seperti melihat dewa kematian begitu dong! Nggak sopan banget, sih?" protes Sasori seraya membawa baskom yang berisi air hangat di tanganya. Ia berjalan mendekati Naruto dan meletakan baskom itu di meja. "Gimana keadaan badanmu? Demamnya? Mengkhawatirkan juga kau terus tidur selama seminggu. Kupikir nggak akan bangun lagi…." Si bocah berambut merah itu mengulurkan tangan kananya, mengecek suhu di dahi Naruto dan membandingkanya dengan dirinya sendiri.

Naruto Cuma bisa bengong dengan mulut terbuka saat Sasori megecek kesehatanya. "Hmm…suhunya sudah turn, baguslah. Gimana perasaanmu? Pusing? Mual?" tanya Sasori lebih lanjut.

Naruto nggak ngerti musti ngomong apa padanya. Apa dia jawab saja dengan wajah tanpa dosa dan pura-pura nggak tahu? Tapi dengan keadaan begitu, nggak mungkin Sasori nggak sadar. Keculai kalau dia orang bodoh yang nggak pedulian dengan kejadian di sekitarnya.

"Oi, jawab dong. Kalau nggak jawab, aku nggak ngerti gimana harus merawat lukamu kan?" lanjut Sasori membawa Naruto kembali ke dunia nyata dari dunia perdebatan kecil di batinya.

"Eh…," Naruto terbata-bata, "pu…, tinggal pusing sedikit…," jawabnya pelan.

"Mual?" Naruto menggeleng pelan. "Nyeri masih ada?" si pirang mengangguk ringan, lemah. Sasori menghela nafas lega. "Syukurlah, aku bisa menolongmu," katanya ringan sambil tersenyum.

Naruto melebarkan matanya dengan heran. "Kenapa…?" tanyanya pelan.

"Kenapa? Sudah jelas karena kita teman kan? Kau harus berterima kasih pada nasibmu, Naruto. Untung aku punya pengetahuan dan lsensi kedokteran. Kalau nggak, Kau pasti sudah di alam sana," canda Sasori sambil tertawa kecil.

Naruto terdiam sesaat sampai Sasori duduk di sampingnya dan mulai mengutak-atik perbanya. "Kenapa…?" tanya anak itu lagi, nggak mengerti. Sasori mengangkat wajahnya dan melihat ekspresi Naruto yang bingung. Ia menghela nafas.

"Hei, aku nggak ngerti apa yang terjadi dan kenapa Kau bisa terluka sampai begitu parah, tapi aku nggak akan bertanya kalau Kau nggak ingin membicarakanya," kata Sasori pelan sambil tersenyum lembut. "Kalau suatu saat Kau bisa mempercayaiku, pasti Kau akan mengatakanya sendiri," lanjutnya sambil mengutak-atik perbanya lagi. Perlahan-lahan mengurai dan membuka luka di baliknya.

Naruto melihatnya dengan pandangan takjub. Tadinya dia sama sekali nggak menyukai orang ini, tapi entah kenapa…baru saja Naruto merasa bersyukur punya teman seperti dia. "Sasori," panggil Naruto pelan.

"Hm?" tanggap si rambut merah tanpa melepas pandangan dari luka Naruto.

"Apa Kau…bisa menyimpan rahasia?" tanya Naruto lirih.

Sasori terdiam sesaat sebelum melihat ke arah Naruto dalam. "Aku nggak bisa menjanjikanya. Tergantung apa yang akan Kau katakan dan rahasia apa itu," kata Sasori pelan, tapi penuh keyakinan. "Kalau rahasia itu bertentangan dengan prinsipku, aku nggak akan ragu menyebarkanya," lanjutnya lagi serius.

Naruto tersenyum mendengarnya. "Kau orang yang jujur ya. Entah kenapa itu mebuatku jadi jauh lebih lega," kata Naruto ringan. "Aku nggak bisa cerita seluruhnya, tapi…aku ingin Kau mendengarkanya."

Sesaat Sasori tanpak terkejut, tapi lalau ia tersenyum juga. "Tentu," katanya lembut dengan tatapan hangat.

Kemudian Naruto pun mulai bercerita tentang apa yang ia lakukan dan apa yang terjadi padanya. Namun, ia hanya meringkas saja, nggak membeberkan siapa klienya dan hubunganya dengan penjahat yang memalsu namanya. Sasori mendengarkan dengan seksama sambil membersihkan luka dan tubuhnya serta mengoleskan krim sebelum memerban lukanya lagi. Kemudian ia pun tersenyum.

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Naruto heran.

"Karena Kau begitu mirip dengan Kyuubi generasi sebelumnya," kata Sasori senang.

"Eh?" tanya Naruto heran.

"Aku juga punya banyak cerita untukmu, Naruto."

"Cerita?"

"Iya. Cerita tentang Kyuubi generasi sebelum kau," kata Sasori lagi. "Cerita tentang ibumu."

Eh?—Naruto benar-benar tak menyangka ia akan mendengar berita semacam itu.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Sasuke masih di rumah sakit. Tentu saja Itachi nggak berhenti mengomelinya semenjak kejadian itu. Sudah seminggu lewat sejak peristiwa peledakan bom oleh Ookami, dan meskipun Sasuke hanya luka memar dan bakar ringan, Itachi memaksanya beristirahat di rumah sakit, sama sekali nggak mengizinkanya pulang meskipun dokter sudah mengizinkan.

Intinya, Itachi mengurung adiknya di rumah sakit sampai hiruk-pikuk peristiwa itu mereda dan dia nggak lagi dikerumuni para wartawan dan keluarga korban yang menuntut pertangungjawaban polisi atas peristiwa tersebut. Meskipun nggak ada korban jiwa, korban luka yang terlibat peristiwa itu cukup banyak, dan Itachi nggak ingin adiknya terlibat itu semua. Makanya ia mengurungnya di rumah sakit.

Sasuke nggak berniat protes, sih. Ia malah merasa bersalah pada kakaknya karena sudah membuatnya hampir gila mengkhawatirkan kondisinya dan bersyukur di waktu yang sama karena Itachi melindunginya dari media massa. Dia nggak tau mesti ngomong apa kalau wartawan sampai tahu dia bersama Kyuubi saat itu, terlibat langsung dan melihat pertempuran kedua pencuri legendaris tersebut. Lalu tentang cewek misterius yang dipanggil Pierot oleh Kyuubi…, menurut asumsi Itachi dan Sasuke setelah berdiskusi, cewek itu mungkin adalah klien yang menyewa Kyuubi.

Itachi bercerita pada Sasuke bagaimana ia dikurung oleh cewek itu dalam mobil patroli khusus dan bagaimana pistolnya dicuri darinya, sebaliknya Sasuke bercerita pada Itachi apa yang terjadi saat Kyuubi dan Ookami bertempur. Masih banyak teka-teki yang tertinggal dan mereka berdua nggak terlalu memahami keseluruhan kasus. Ookami, Pink Puma, dan Pierrot nggak pernah ditemukan dimana pun setelah pencarian di puing-puing. Padahal Sasuke yakin Ookami seharusnya nggak bisa bergerak dan pasti mati dalam ledakan. Sedangkan Pierrot…Kyuubi berkata ia nggak berhasil menyelamatkan Pierot. Kalau begitu, di mana si Pierot dan dan jasad Ookami?

Terlalu banyak teka-teki di sana, dan kasus itu akhirnya tetap menjadi misteri. Mungkin Ookami berhasil lari dengan Pink Puma-nya, dan entah apa yang terjadi dengan Pierrot. Kyuubi mundur dengan kekalahan di pihaknya.

Kalah….

Kata-kata itu begitu menyakitkan. Sasuke merasa sangat sebal dan marah, kecewa sekaligus sedih. Padahal dia nggak mau Kyuubi kalah dari perampok gila sadis itu. Mengingat ekspresi Kyuubi yang begitu terluka setelah menolongnya…Sasuke nggak tahan untuk nggak membanting sesuatu ke lantai atau melempar sesuatu ke pintu. Mungkin itu yang disebut krisis emosional ya?

Kalau saja dia diberi kesempatan untuk sekali lagi bertemu Kyuubi, dia pasti bakal menonjok pencuri genit itu. Lalu mungkin akan memeluknya dan berkata itu bukan kesalahanya. Sasuke merasa lemah. Baru kali ini ia merasa begitu nggak berguna. Tapi…bukan berarti dia bakal terus terpuruk. Setelah ini dia akan berlatih lagi. Mengulang latihan bela dirinya dari dasar. Kalau suatu saat dia terlibat lagi hal seperti saat itu, pasti…kali itu dialah yang akan melindungi Kyuubi.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

SMAN Konoha; seminggu pasca peristiwa—

"Aaah, Sasuke nggak masuk lagi hari ini—," Tenten, si cewek manis keturunan Cina mengeluh dari kursinya di samping kursi Haruno Sakura.

"Padahal sudah seminggu, apa yang terjadi, ya?" Karin, si cewek genit berkaca mata dan seorang Sasuke-stalker jenius menimpali.

Sakura nggak berkata apa-apa. Ia hanya mendesah ringan, khawatir. Namun, subjek kekhawatiranya bukanlah Sasuke, melainkan kursi kosong di tiga bangku setelahnya. Itu adalah bangku Ino.

Ino…kamu di mana?—pikir gadis cantik berambut pink dan bermata hijau itu.

"Eh, kamu perhatikan nggak? Seminggu ini banyak yang absen di kelas kita, ya?" Kiba nyeletuk tiba-tiba. Shikamaru melirik ke arahnya dari kursinya. "Sasuke, Ino, lalu Naruto…bahkan Sasori juga nggak ada," lanjut Kiba. "Apa yang terjadi, ya?" Ia kelihatan penasaran.

"Sudah telpon rumahnya?" tanya Shino yang tiba-tiba nongol entah dari mana dan menyela.

"Bikin kaget saja, kau…," dengus Kiba kesal. "Aku sudah telpon rumah Sasuke, sih. Tapi mesin penjawab telpon yang terima dan itu suara kakaknya pula. Dia nggak di rumah. Terus waktu aku ke rumah Naruto, nggak ada orang di rumahnya. Aku telpon ponsel Ino, tapi nggak nyambung. Kalau Sasori…aku belum tahu nomor telpon rumahnya dan alamatnya," lanjutnya.

Shikamaru mengangkat alis matanya dengan heran. "Tumben, baru kali ini kau bilang nggak tahu nomor telpon dan alamat orang. Padahal kau itu sudah kaya' buku kuning buat lingkungan sekolah ini. Data base informasimu eror ya?" tanya Shikamaru.

"Itulah…. Waktu aku cek di data base komputer sekolah soal profil Sasori…ada pasword yang menghalangi," kata Kiba merasa aneh. "Padahal itu kan info umum, tapi pihak sekolah memagari informasi soal dia dengan pasword."

Mendengar itu Shikamaru jadi paham satu hal. "Ah, begitu…," katanya ringan.

"Shikamaru, bukanya Kau sudah ke rumah si anak baru itu?" kata Shino.

"Oya! Kalau Shikamaru bisa ke sana dan cari tahu!" kata Kiba senang.

"Anu, soal itu…," Shikamaru terdiam sesaat. Sedang mempertimbangkan apa sebaiknya dia menceritakanya atau tidak.

"Apa?" tanya Kiba penasaran.

"Si Sasori itu…dia tinggal di hotel," lanjut Shikamaru memutuskan untuk memberi informasi seperlunya.

"Eh…? HOTEL!?" seru Kiba kaget, Shino juga menaikan alis matanya dengan heran.

"Aneh, kan? Lalu, meski aku juga sudah masuk ke sana dan memeriksa kamar hotelnya sebentar, tapi entah kenapa aku nggak ingat apa saja yang sudah kulakukan di sana setelah mengantar pamflet dari Kakashi," kata Shikamaru pelan.

"Kok bisa? Bukanya Kau menginap di rumahnya?" tanya Shino tenang lebih jauh.

"Menginap…lebih tepatnya, aku nggak tahu bagaimana aku bisa ketiduran di sana," kata Shikamaru sembari mengingat-ingat.

Shino berpikir sejenak sebelum bertanya, "Kau makan atau minum di sana?" Shikamaru mengangguk, sedangkan Kiba cuma bisa meliha dua orang yang ayik diskusi itu dengan tampang bingung. "Obat tidur?" tanya Shino curiga.

"Tadinya kupikir juga begitu, tapi…gelas dan piringnya bersih," sahut Shikamaru.

"Mungkin sudah dicuci," tebak si kaca mata hitam.

"Sidik jari Sasori dan miliku masih ada di sana," lanjut Shikamaru lagi.

"Salah ya…mungkin dia melakukan sesuatu," kata Shino kehabisan ide.

"Bukanya mungkin, dia memang melakukan sesuatu," tegas Shikamaru yakin. "Aku bukan orang bodoh. Aku bisa mencium gelagat anehnya. Dia melakukan sesuatu dan dia nggak mau orng lain tau. Entah gimana caranya membuatku tidur, tapi aku nggak suka caranya yang nggak sopan," lanjut Shikamaru kesal.

"Mau kembali ke sana? Biar kutemani," kata Shino.

"Boleh juga. Mungkin kali ini kita bakal tau orang macam apa teman sekelas kita itu," Shikamaru setuju.

"Eh, anu…," tiba-tiba Kiba yang kebingungan menyela. Shino dan Shikamaru menoleh ke arahnya. "Apa kalian keberatan kalau menjelaskanya padaku? Aku sama sekali nggak paham kalian tengah ngomongin apa…."

Shino dan Shikamaru saling pandang, lalu menghela nafas panjang.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Aku Akasuna Sasori, teman seperjuangan Kyuubi generasi sebelumnya," kata Sasori dengan wajah bangga.

"Eh?" Naruto membelalakan matanya dengan wajah kaget yang komikal.

"Cuma tiga tahun, sebetulnya, tapi aku adalah partner ibumu sampai tiga tahun lalu," lanjut Sasori pelan.

"Bohong, ah! Nggak mungkin! Kau masih anak kecil gitu!" protes Naruto nggak percaya.

"Biar anak kecil, aku ini jenius loh," kata Sasori dengan hidung memanjang.

"Lagian ibuku berhenti mencuri 17 tahun yang lalu! Jangan sembarangan!" lanjut Naruto protes.

"Di Jepang iya, tapi tidak di luar negeri," sanggah Sasori lagi. Naruto sangat terkejut mendengarnya. Memang benar, ibunya sangat sering pergi bermain ke luar negeri (sebetulnya buat kabur dari Fugaku yang sudah melihat wajah Kyuubi di balik topengnya) sampai Naruto jarang bertemu denganya. Bahkan saat dia berada pada masa pelatihan untuk jadi Kyuubi yang berikutnya, bukan ibunya sendiri yang melatihnya jadi pencuri. Naruto nggak pernah tanya kenapa ibunya sangat jarang ada di rumah meski rada penasaran, tapi masa' sih saat itu dia aktif mencuri di luar negeri?

"Tujuh belas tahun lalu, ibumu memang mundur, pensiun jadi pencuri ulung (yang mencuri untuk hobi dan ketegangan saja), tapi dia nggak berhenti menolong orang," lanjut Sasori sambil memejamkan matanya, membayangkan sosok wanita berambut merah api bertopeng rubah dengan baju ketat merah darah yang sangat elegan. "Dia wanita terbaik dan tercantik yang pernah aku temui," katanya terpesona. "Uzumaki Kushina…Kyuubi, wanita tanpa tanding. Tadinya aku hanya fans dari pencuri misterius itu dan bertekad menangkapnya dengan tanganku sendiri. Dia selalu menjadi obsesiku, tapi enam tahun lalu aku diselamatkan olehnya dan bersumpah akan membantunya dalam menjalankan misinya menolong orang,"

"Enam tahun lalu…berarti saat itu Kau baru 11 tahun?" tanya Naruto masih belum bisa percaya sambil mengrenyitkan dahinya.

"Yep, tapi waktu itu aku sudah lulus S1 bidang psikologi di Cambridge, dan terlibat kasus penculikan dan pencurian yang melibatkan Kyuubi. Saat itu Kyuubi hendak mencuri barang dari seorang penculik (benda yang akan dicuri itu milik korban penculikan yang jadi klien Kyuubi) dan kasusnya makin rumit karena waktu itu si penculik menganggap aku targetnya (saat itu aku masih 11 tahun, dan dikira target yang akan diculiknya). Waktu itu kasunya betul-betul bahaya dan memusingkan. Waktu si penculik sadar aku bukan targetnya, ia hendak membungkam mulutku. Untung Kyuubi datang dan menolongku (dengan asumsi aku adalah korban) dan mengembalikan aku ke rumah. Lalu tanpa sengaja aku melihat wajahnya dan seketika itu pula aku jatuh hati," kata Sasori bercerita dengan ekspresi berbunga-bunga.

Naruto melihatnya dengan wajah pucat yang aneh. Ketemu lagi sama penggila ibunya. Entah kenapa ia merasa bahwa ayahnya juga sejenis dengan orang ini.

"Aku mengejar-ngejarnya terus, memaksanya menerimaku jadi partnernya sampai ia menyerah. Setelah berbulan-bulan mencampuri misinya, akhirnya dia menerimaku dengan syarat aku nggak boleh membahayakan diriku sendiri. Betapa baiknya dia…. Aku sih senang saja karena akhirnya bisa beguna untuk dewi penyelamatku. Aku punya akses ke kepolisian dan universitas, jadi aku bisa membantunya mencari informasi, dan membantunya kabur dengan memusingkan polisi dengan info palsu. Lalu membuat kasus tentangnya nggak pernah diberitakan secara luas," jelas Sasori ringan.

"Begitu…," Naruto mendengarkan dengan seksama. Meskipun dia masih ragu dan belum bisa percaya sepenuhnya, Sasori sepertinya nggak bohong. Naruto diajarkan cara membaca air muka dan suara orang, dan ekspresi Sasori serta suaranya…sama sekali nggak dibuat-buat.

"Tapi…yang membuatku begitu terpikat oleh ibumu itu…bukan sesuatu yang berhubungan dengan curi-mencuri," lanjut Sasori dengan suara pelan dan tenang. Ekspresinya sangat lembut, membuat Naruto sedikit terpesona. "Kushina-san…, ibumu…, dia sangat menyayangiku seperti menyayangi anaknya sendiri," kata Sasori pelan.

"Eh…?" Naruto agak kaget mendengarnya.

"Aku…kurang bisa mengingat orang tuaku karena mereka sudah meninggal saat aku masih bayi. Lalu sosok ibumu…entah sejak kapan mengisi kekosongan itu. Dia sering bercerita kalau dia punya putra yang sebaya denganku di Jepang," kata Sasori menjelaskan, "Lalu dia juga sering bilang kalau aku mirip dengan putranya dan dia selalu teringat tentangnya saat melihatku. Dia juga bilang kalau dia sangat menyayangiku dan menganggapku seperti puteranya sendiri," lanjutnya pelan. "Saat itu aku berjanji, kalau aku bisa bertemu dengan puteranya, aku akan membantunya juga. Aku akan jadi temanya dan selalu ada di sisinya sampai kapanpun," Sasori tersenyum pada Naruto, membuat wajah bocah berambut pirang itu memerah, entah karena malu atau karena sengang, atau mungkin keduanya.

Ibunya…tak sekalipun melupakanya meskipun mereka jarang bersama. Bahkan, ia mempersiapkan seorang sahabat yang kelak akan membantunya menyelesaikan masalah yang telah dibebankan kepadanya. Kalau saja saat ini ibunya masih hidup, dan Naruto bisa bertemu denganya sekali lagi saja, dia ingin berterima kasih padanya. Ia ingin berkata bahwa dia bersyukur dilahirkan olehnya dan berkata…bahwa diapun sangat menyayanginya.

Kenangan tentang ibunya sangat sedikit bagi Naruto, tapi sekarang ia mengerti kenapa ia begitu sayang padanya. Ah…tangan Sasori yang kini ada di tanganya terasa begitu hangat seperti tangan ibunya. Ya, dia ingat…saat dia setengah sadar, ia merasa ibunya ada di dekatnya. Melalui kehangatan tangan Sasori, ia bisa merasakan kehangatan cinta ibunya yang diwariskan kepadanya.

Naruto tersenyum hangat dan menggengam tangan Sasori erat-erat. "Terima kasih, sudah bercerita tentang ibu, Sasori," kata Naruto senang.

"Karena itu, mulai sekarang, biarkan aku mendukungmu juga," kata Sasori ceria.

"Tentu, ah, tapi…aku harus mengabari Iruka dulu. Dia pasti khawatir karena aku nggak pulang beberapa…eh…seminggu?" Naruto coba mengingat-ingat yang dikatakan Sasori tadi.

"Ah, kalau soal Iruka tenang saja. Aku sudah menghubunginya, kok," kata Sasori kalem.

"Eh?" Tanya Naruto heran.

"Segera setelah menemukanmu dalam keadaan sekarat, aku menghubungi Iruka untuk membantuku merawatmu," lanjut Sasori. "Habis…kan nggak mungkin aku bisa menyiapkan ruang operasi sendirian. Aku butuh asisten untuk itu aku panggil dia."

"Tunggu…dari mana Kau tahu Iruka punya lisensi kedokteran…? Lagian, Kau kenal Iruka?" tanya Naruto making kaget.

"Naruto-sama," tiba-tiba seseorang masuk dari pintu, mengejukan Naruto. Sasori cuma tersenyum kecil.

"Iruka!?" seru Naruto kaget.

"Oh…syukurlah, Anda sudah sadar!" Iruka segera berlari ke sisinya dan mengecek keadaanya. "Bagaimana lukanya? Apa sakit sekali? Demamnya? Apa Anda pusing? Mual? Apa Anda perlu sesuatu?" dan dia terus mengoceh dengan wajah sangat khawatir.

Bulir-bulir keringat langsung berjatuhan dari kepala Naruto. "A…aku sudah nggak apa-apa, kok…sungguh," katanya mencoba menengakan Iruka yang sudah berubah ke mode ibu itu.

"Benarkah? Anda yakin?" tanya Iruka cemas.

"Benar…," kata Naruto sambil tersenyum manis.

"Naruto-sama…! Syukurlah, syukurlah Anda masih hidup—!" dan Iruka pun menangis karena lega sambil menggenggam tangan Naruto erat-erat dan menempelkanya di dahinya. Naruto hanya tersenyum hangat sembari menunggu Iruka menenangkan diri.

"Sudah tenang, Iruka?" Sasori menepuk punggung Iruka pelan dan membuatnya mengangkat wajah.

"Sasori-san…," Sasori mengeringkan air mata Iruka dan perlahan Iruka mengendurkan genggamanya dari tangan Naruto. "Terima kasih, sudah menolong Naruto-sama," kata Iruka sangat terharu.

"Kau juga banyak membantuku saat mengoperasinya. Jadi aku juga berterima kasih," kata Sasori. "Lagipula, sudah lama kita nggak ketemu, kan?" Sasori tersenyum.

"Jadi kalian memang saling kenal?" tanya Naruto heran.

"Kami pernah bertemu beberapa kali. Terutama saat saya berkunjung ke Inggris untuk menemui ibu," kata Iruka.

"Kalau begitu seharusnya Kau berkata sesuatu padaku, Iruka. Jadinya aku nggak perlu kaget begini," kata Naruto agak sebal.

"Maaf, ini karena masalah misi ibu, dan beliau meminta saya merahasiakanya dari Anda yang saat itu masih kecil," kata Iruka pelan dengan wajah agak merasa bersalah.

"Ya, sudahlah…yang penting semuanya jadi cepat. Aku ingin Sasori masuk ke tim kita," kata Naruto. "Aku harus cepat-cepat sembuh, lalu sekali lagi—!" tiba-tiba Naruto teringat dan tersadar. "Ino…? Bagaimana dengan Ino!?" teriaknya tiba-tiba terlihat panik. "Aku—dia—! Aku harus segera mencarinya!" Naruto memaksa badanya untuk bangun dengan panik dan konan rasa nyeri yang luar biasa kemabli menyerangnya. "OW!"

"Hei, jangan bangun tiba-tiba!" cegah Sasori berusaha menahan Naruto. "Lukanya bisa terbuka lagi!"

'Tapi Ino—! Aku harus menolongnya! Dia—pink puma—!"

'Tenaglah, Ino masih hidup!" sela Sasori, mencoba menenangkan Naruto—yang berontak dan memperburuk keadaanya. Naruto tersentak ketika mendengarnya.

"Apa—?" tanya Naruto tak percaya.

"Ino masih hidup. Dia selamat dan sekarang saat ini ada di rumah sakit," lanjut Sasori pelan.

"Sungguh…? Sungguhkah?" tanya Naruto lagi dengan mata berkaca-kaca.

"Serius. Dia selamat Naruto. Dia baik-baik saja," Sasori tersenyum. Saat itu Naruto nggak tahu harus menangis atau berteriak girang dan melompat, tapi yang ia tau sedetik kemudian dia sudah menangis, meraung-raung karena lega di lengan Sasori yang memeluknya dengan lembut.

"Syukurlah…, syukurlah dia selamat…! Dia hidup…!" desah Naruto di tengah isak tangisnya.

Sasori tersenyum dan mengelus-elus kepalanya. "Iya…syukurlah dia masih hidup…." Air mata Iruka menetes lagi. Baru kali ini dia melihat tuanya menangis lagi sekeras itu, tapi untunglah dia menangis karena lega dan senang. Sebab…terakhir kali ia menangis sekeras itu adalah ketika ibunya pulang…dalam keadaan telah berpulang ke sisi-Nya.

Naruto butuh waktu beberapa saat sampai ia tenang kembali, dan begitu tenang, mukanya langsung terbakar merah karena malu. Sudah lama dia nggak menangis seperti itu dan saat menangis begitu, dia harus dilihat oleh teman yang baru saja menjadi sahabat baiknya. Rasanya malu sekali sampai dia nggak berani menatap wajah Sasori. Sasori sih cuma tersenyum-senyum senang karena bisa melihat wajah imut Naruto ketika menangis dan malu-malu seperti sekarang.

Iruka tersenyum salah tingkah dan menawarkan untuk membuat minum. Nggak enak juga, sih, meninggalkan majikanya saat dia tengah malu setengah mati, tapi dia nggak mau merusak suasana antara dua orang itu, jadi dia undeur diri untuk memberi kesempatan mereka berdiskusi lagi.

Keheningan menyelimuti ruangan setelah Iruka meninggalkan mereka, dan karena Naruto nggak senang situasi seperti itu, ia memberankan diri buka mulut lagi meski wajahnya masih memerah dan matanya masih agak sembab. "Jadi Ino selamat…," katanya ringan sembari tersenyum. "Keajaiban ternyata ada juga…."

"Sebetulnya, Naruto, itu bukan keajaiban," kata Sasori pelan. Naruto menoleh ke arahnya dengan tatapan heran. "Sejak awal, aku punya firasat bakal ada kejadian buruk (karena kita berurusan dengan Ookami), jadi aku ada di sana atas permintaan seseorang," lanjutnya.

"Seseorang…?" tanya Naruto nggak paham.

"Aku nggak bisa memberitahumu siapa orang itu, tapi percayalah dia bukan orang jahat. Dia memintaku mengawasi Ino dan membantunya kalau terjadi sesuatu," kata Sasori ringan. "Aku ada di sana ketika ledakan terjadi dan menolong Ino tepat sebelum dia terhantam reruntuhan. Aku sempat khawatir juga padamu, tapi kalau itu Kyuubi, aku percaya Kau akan selamat," kata Sasori lagi.

"Jadi sejak awal Kau udah nyadar kalau aku adalah Kyuubi?" tanya Naruto memucat dengan pandangan nggak percaya.

"Maaf, aku nggak langsung bilang. Habis…aku mau menggodamu sedikit. Kau lucu banget sih, kalau digoda," kata Sasori mencoba menahan tawa.

"Dasar…, tapi kok Kau bisa tau?" tanya Naruto lagi.

"Ah…soalnya Kau nggak berubah. Aku punya fotomu waktu masih kecil. Ibumu memberikanya padaku dan kusimpan terus. Jadi aku langsung tau Kau Kyuubi begitu melihatmu di kelas," jawab Sasori sambil meringis.

"Dasar genit," kata Naruto pelan dengan wajah memerah. Sasori tertawa mendengarnya.

"Lalu…Ino di rumah sakit, tapi gimana dengan orang tua angkatnya?" tanya Naruto cemas.

"Aku sudah menghubungi mereka dan pihak kepolisian, dan menjelaskan bahwa dia terlibat kasus peledkan itu secara tak sengaja dan jadi salah satu korban. Banyak korban luka soalnya, jadi nggak ada yang curiga. Aku juga sudah menghapus jejak kalau dia terlibat langsung, jadi Kau nggak usah khawatir," lanjut Sasori.

Naruto menghela nafas lega mendengarnya. "Tunggu, menghapus jejak…? Jangan-jangan…Pink Puma-nya…?" Naruto sadar.

"Betul, Pink-Puma sudah diselamatkan dan sudah dipegang oleh orang yang seharusnya memegangnya," kata Sasori sambil tersenyum.

"Jadi…!" Naruto benar-benar kaget.

"Pink Puma sudah sampai ke tempat Sakura-hime dengan selamat," lanjut si rambut merah agak bangga.

"Jadi Sakura…sudah tahu, ya, tentang semuanya?" tanya Naruto betul-betul nggak sangka. Sasori mengagguk. "Tentang In dan tentang dirinya?" Sasori mengagguk lagi. "Kau memberi tahunya?"

Sasori menggeleng pelan. "Kak Luna yang memberi tahu Sakura," katanya, "dan dia yang menyerahkan permata itu padanya secara langsung."

"Kak Luna…?! Kok—!" Naruto tambah kaget dengan hal itu.

"Kau terlalu meremehkan cewek itu, Naruto. Dia tahu segala hal tentang Kyuubi dan sejarah benda-benda kuno. Untung saja dia penggemarmu, kalau nggak, Kau bakal sudah ada di penjara sekarang," lanjut Sasori salah tingkah.

"Jadi Kak Luna tahu aku ini Kyuubi!?" Naruto memasang wajah horor yang shok dan pucat.

"Kurasa dia tahu, karena waktu aku mau membawa Ino ke rumah sakit, dia tanya apa aku melihatmu," lanjut Sasori.

"Gawat deh…kalau sebanyak ini orang yang tau identitas Kyuubi, nggak guna dia jadi pencuri misterius, dong!" protes Naruto. Sasori cuma tertawa mendengarnya. Naruto melihat ke arah Sasori dengan pandangan berterima kasih. "Terima kasih banyak," kata Naruto tiba-tiba, membuat Sasori kaget. "Tanpa sadar aku banyak merepotkan Sasori. Aku nggak tau mesti gimana kalau Kau nggak menyokongku diam-diam," lanjutnya lagi. "Terima kasih banyak…."

Sasori tersenyum. "Kan kita partner," katanya senang.

"Yeah, partner," lanjut Naruto makin senang.

"Lalu…soal Ookami…," kata Sasori tiba-tiba teringat dan mendadak dia jadi serius. "Kabarnya…jasadnya nggak ditemukan."

"Eh?"

"Ada yang mengambilnya…atau…dia masih hidup dan melarikan diri…."

End of Chapter 10

Bersambung…



A/N: Maaf, ya, lama sekali baru apdet, tapi akhirnya bisa diapdet juga. Nah, luna udah membuka rahasia Sasori di capter ini dan senang juga kalau Sasori jadi teman. Tapi sayang, Ookami juga menghilang? Entah gimana nasibnya. Yang jelas Ino masih hidup dan Sakura sadar tentang siapa dirinya. Setelah ini luna bakal mencoba mengungkap rahasia hubungan Ookami dan Kyuubi generasi sebelumnya dan rahasia besar di balik kematian Ibu Naruto! Jangan lewatkan edisi selanjutnya, ya! Oya, jangan lupa komen kalian ya! Soalnya kalau nggak dipaksa, luna nggak bisa mikir ide selanjutnya, ni! Jadi paksa luna apdet lewat review kalian, ok!?

Jaa, sampai jumpa di chapter lanjut, para pembaca tersayang,

Lunaryu~~~