Title [ Second Chance ]
Author [ Takii_yuuki]
Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]
Main cast :
Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris
Kim Jaejoong,Jung Yunho
Shim Changmin,Cho Kyuhyun
Lee Donghae, Lee Hyukjae
Zhoumi
New Cast : SMRookies - Taeyong, Yuta, Jaehyun, Johnny, Jeno
And other character..
Rating : M
Length : Chaptered
Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.
bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F
Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, don't like don't read, typo bertebaran.
Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai.
author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.
sebenarnya aku tu gak pede sama chapter ini, kesannya membosankan dan kepanjangannya, tapi berhubung udah banyak yang buat cepet-cepet update jadi ya buru-buru aku kalau ceritanya jelek, hehehe, author sudah berusaha keras. terima kasih atas perhatiannya
SECOND CHANCE
Taeyong menatap Johnny dengan tatapan datar. Ia berjalan dan berhenti disamping Johnny."Sudah puas melihat hidupku seperti ini? Masih kurang huh? tidak usah khawatir, aku tidak akan menunjukkan wajahku di depan kalian lagi." Taeyong menggigit bibirnya menahan tangis kemudian ia melewati Johnny begitu saja.
Johnny hanya terdiam sedangkan Yuta menatap sendu kepergian Taeyong, ia yakin saat ini Taeyong pasti membencinya, 'Taeyong maafkan aku.' Gumam Yuta sedih.
.
.
Yixing sedang menyiapkan makan malam saat Taeyong sampai dirumah, "Sudah pulang sayang? Mana Yuta dan Jaehyun, bukankah mereka tadi menyusulmu?" sapa Yixing pada Taeyong.
"Aku tidak tahu Umma. Aku pulang naik bus!" ucap Taeyong. "Umma aku tidak ikut makan malam. Aku lelah dan mau tidur."
"Tapi baby, kau dari tadi siang tidak makan?"
"Aku benar-benar tidak lapar Umma. Selamat malam."Taeyong langsung masuk kamar.
"Baby-baby."Panggil Yixing namun Taeyong tak menyahut yang terakhir Yixing dengar adalah suara pintu kamar Taeyong yang ditutup agak kasar oleh Taeyong. 'Ada apa dengannya?' bathin Yixing bingung.
Taeyong jongkok bersandar di pintu kamarnya. Ia menatap kalung pemberian Jeno. "Maafkan aku Jeno, aku tidak bisa melindungimu." lagi-lagi ia menangis. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Jeno sudah pergi meninggalkannya.
.
.
Yun-Jae, Chang-Kyu, Jae-Yu dan Yixing sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam. Saat makan Jaejoong merasa ada yang kurang, ia tak melihat Taeyong. "Taeyong dimana Xing?" Tanya Jaejoong tiba-tiba, Yixing menghentikan makannya sejenak.
"Dia bilang dia lelah dan ingin langsung tidur. Aku sudah membujuknya tapi dia tetap bersikeras tidak mau makan." Jawab Yixing. Yuta menelan makanannya dengan gugup.
"Bawakan makanan ke kamarnya, dia harus makan kan baru saja sembuh dari sakit." Saran Jaejoong.
"Ne Umma,nanti aku siapkan untuk Taeyong." Yixing mengangguk. Mereka pun melanjutkan makannnya. 'Taeyong, maafkan aku.' Gumam Yuta.
.
.
CKLEK! Pintu kamar Taeyong terbuka. Yixing datang membawa makan malam untuk putranya. Yixing melihat Taeyong sedang berkemas, ia memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Baby, kau mau kemana sayang?" Tanya Yixing keheranan, ia menaruh makan malam Taeyong ke meja dan berjalan menghampirinya.
"Aku ingin tinggal dirumah Appa."
"Nde? Kau ingin tinggal di rumah Appa?"
"Ne, aku ingin tinggal bersama Appa, sekarang aku kan sudah memiliki keluarga yang utuh, aku punya Appa dan Umma. Aku seperti keluarga yang lain, tinggal bersama Appa dan Umma-nya. Bagaimana, Umma mau ikut atau tetap disini?"
"Taeyong, hal ini harus dibicarakan dengan Halmeoni dan Harabeoji dulu."
"Umma, mansion ini sudah ditempati Kyu Imo dan Changmin Samchon, Halmeoni dan Harabeoji juga disini. Mereka butuh privasi Umma. Sudah saatnya kita tinggal sendiri, Appa memiliki apartemen, kenapa kita tidak tinggal disana saja. aku akan bilang pada Halmeoni besok."
"Tapi sayang…"
"Kalau Umma ingin tetap disini, itu terserah Umma, aku akan sering mengunjungi Umma saat aku sudah tinggal dengan Appa."
"Baiklah kalau itu maumu, Umma akan bicara dengan Halmeoni. Kau makan dulu, Umma suapi ya. Umma tidak mau kau sakit sayang." Taeyong mengangguk. Yixing mengambil makanan yang dia bawa dan kemudian menyuapi Taeyong dengan sayang.
SECOND CHANCE
Pagi hari saat sarapan, Taeyong mengutarakan keinginannya untuk tinggal dengan Kris. "Halmeoni, Harabeoji, aku ingin tinggal dengan Appa Kris." ucapnya tiba-tiba, hal itu membuat Jaejoong terkejut begitu juga dengan yang lain. Yixing pun tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Taeyong. Ia bahkan belum bilang pada Jaejoong mengenai hal ini.
"Taeyong, kau ingin tinggal dengan Appa-mu? Kenapa mendadak, apa yang kurang dengan rumah ini sehingga kau memutuskan untuk tinggal dengan Appa-mu?"
"Tidak ada yang kurang Halmeoni tapi aku kan sekarang memiliki Appa dan Umma, aku ingin seperti keluarga yang lain tinggal dengan orang tuanya. Lagipula disini sudah ada Changmin samchon, Kyu Imo, Jaehyun hyung dan Yuta hyung yang menemani kalian, aku akan sering-sering main kesini Halmeoni."
"Tapi Umma mu belum menikah dengan Appa-mu, mereka tidak bisa tinggal bersama Taeyong."
"Kalau Umma ingin tinggal disini itu terserah Umma, tapi aku ingin tinggal dengan Appa. Kalau Halmeoni melarangku tinggal dengan Appa, itu sama saja Halmeoni memisahkan anak dari orang tuanya. Aku juga ingin seperti Hansol yang tinggal dengan kedua orangtuanya, seperti Jaehyun dan Yuta hyung yang tinggal dengan Kyu Imo dan Changmin samchon." Mata Taeyong mulai berkaca-kaca, Ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya. Jaejoong menghela nafas, ia ingin membalas ucapan Taeyong tapi Yunho menahannya. Yunho menggeleng.
Yuta meremas sendoknya, ia tak tahan dengan keadaan keluarganya saat ini. Taeyong menjauhinya dan menjaga jarak dengan keluarganya karena masalah Jeno.
"Sayang…" Yixing mengelus punggung Taeyong. Taeyong tersenyum, "K-kalau begitu aku berangkat dulu. Maafkan kelancanganku." Taeyong berdiri kemudian membungkuk pamit. Setelah kepergian Taeyong keadaan pun berubah hening.
"Ikutlah dengan Taeyong, temani dia tinggal dirumah Kris." ucap Yunho bijak.
"Yun.." Jaejoong melayangkan protesnya pada Yunho.
"Mereka sudah dewasa Jae, ini saatnya mereka mereka menentukan jalan hidupnya sendiri." Yixing menunduk sedangkan Jaejoong,ia sebenarnya tidak rela tapi ia tidak mau egois. Mereka berhak mencari kebahagian mereka sendiri.
"Baiklah kalau begitu. Temani dia tinggal di rumah Kris dan kalian juga harus segera mengambil keputusan untuk menikah. Kasihan Taeyong, dia belum memiliki akta kelahiran. Setelah kalian menikah, segera daftarkan kelahiran Taeyong di catatan sipil."
"Ne Umma, terima kasih."
"Kyu tolong bantu Yixing mengurus surat-surat Taeyong."
"Ne Umma, aku akan membantu Yixing." jawab Kyu. Mereka melanjutkan sarapannya.
SECOND CHANCE
Taeyong duduk dibawah pohon maple sambil menunggu jam masuk, ia sudah sampai di sekolah sekitar ½ jam yang lalu namun ia malas untuk masuk, jadi ia memutuskan untuk menunggu saja. Taeyong memainkan kalung pemberian Jeno padanya. Ia tersenyum kecil mengingat kebersamaannya yang sebentar dengan Jeno tapi tiba-tiba mendadak murung saat ia mengingat ia tak bisa melihat Jeno untuk yang terakhir kalinya.
TENG-TENG-TENG bunyi lonceng tanda masuk sudah berbunyi, Taeyong meraih tasnya kemudian berlari ke kelas.
Di dalam kelas, Yuta menunggu Taeyong dengan cemas, bukankah Taeyong berangkat lebih dulu kenapa sampai sekarang dia belum datang. Bel masuk sudah berbunyi tapi tak ada tanda-tanda Taeyong masuk.
Tak berapa lama kemudian Guru Minho datang dan disusul dibelakangnya Taeyong. Taeyong mengusir Youngdoo yang duduk didepan untuk pindah ke belakang, Youngdoo pun pindah duduk di sebelah Yuta. Yuta menatap punggung Taeyong dengan sedih, Taeyong benar-benar menjauhinya. Johnny meremas tangan Yuta dan menguatkannya. Yuta tersenyum tipis tapi Johnny masih bisa melihat aura kesedihan di mata Yuta.
Selama pelajaran Taeyong tak sedikitpun menoleh ke belakang. Masuk pelajaran kedua, Guru Yura meminta kerja kelompok, biasanya Taeyong satu kelompok dengan Yuta kali ini dia memilih dengan orang lain.
Jam istirahat Taeyong keluar lebih dahulu, ia membawa bekal yang sudah disiapkan oleh Yixing sebelumnya dan memilih memakannya di bawah pohon maple.
Yuta, Johnny dan Jaehyun tiba di kantin, Jaehyun memesan makanan sedangkan Johnny mencari tempat duduk. Yuta, ia mencari keberadaan Taeyong tapi tidak ia temukan. "Tunggu sebentar, aku ke toilet dulu." Ucapnya sambil berlalu, Johnny mengerutkan dahi, ia tahu kalau Yuta tidak mungkin ke toilet karena Yuta berjalan kearah yang berlawanan dengan toilet, ia menebak pasti Yuta mencari Taeyong. Johnny hanya menghela nafas.
Yuta berjalan menuju pohon maple, entah kenapa feelingnya mengatakan kalau Taeyong ada disana, dan benar Yuta menemukan Taeyong sedang makan siang dibawah pohon maple sendirian. Yuta menghampirinya.
"Taeyong!" panggil Yuta. Taeyong yang hendak memakan telur buatan Yixing kemudian menghentikan makannya. Ia menaruh kembali telurnya ke dalam kotak hanya menghela nafas tak menjawab sapaan Yuta.
"K-kau disini? K-kenapa kau tidak ikut makan dikantin?"
"Pergilah, aku ingin sendiri." Ucap Taeyong tanpa menoleh kearah Yuta.
"T-Taeyong aku minta maaf, aku memang salah, tolong maafkan aku." Ucap Yuta dengan nada bergetar menahan tangis. Matanya memerah, airmata berkumpul di pelupuk matanya.
"Aku ingin sendiri, pergi atau aku yang pergi." Ancam Taeyong.
"Taeyong…"
"Kalau begitu aku yang pergi." Taeyong berdiri dan berbalik. Ia berjalan melewati Yuta baru beberapa langkah ia berjalan. Tiba-tiba GREP! Yuta memeluk pinggang Taeyong dari belakang dan membuat Taeyong berhenti.
"Kumohon jangan begini, jangan menjauhiku. Aku benci keadaan seperti." Ucap Yuta sambil menangis.
"Lepaskan!"
"Tidak mau! Kalau aku melepaskanmu, kau akan benar-benar pergi dariku dan aku tidak mau itu terjadi. kumohon jangan pergi. Aku tahu kau tidak mencintaiku, dan aku tidak peduli hal itu, tetaplah jadi Taeyong dongsaengku yang menyayangiku sebagai hyungnya. Tetaplah jadi Taeyong-ku yang dulu. Jangan begini Taeyong. Kumohon."
"Lepaskan aku." Yuta menggeleng. Taeyong menghempaskan tangan Yuta dan berlari meninggalkannya. "Taeyong-Taeyong!" panggil Yuta namun Taeyong tak mengacuhkannya ia terus berlari meninggalkan Yuta. Yuta menangis, tubuhnya merosot ke lantai, ia memegang dadanya yang sakit.
Jangan dikira hanya Yuta yang sedih dengan keadaan ini, Taeyong pun juga sama. Ia bersembunyi dibawah tangga. Rasa sayangnya kepada Yuta tertutupi rasa benci sejak kejadian yang menimpa Jeno, andai saja Yuta mau bertindak lebih cepat, mungkin Jeno masih hidup. Ia rela buta asal Jeno ada disampingnya, tapi saat ini, ia bisa melihat tapi Jeno sudah tidak ada disampingnya lagi. Baginya itu percuma.
.
.
Sepulang sekolah, Taeyong langsung pulang ke rumah. Ia langsung ke kamar dan mengambil koper miliknya. Ia tak bisa berlama-lama di rumah akan melihat dan bertemu Yuta setiap takut kebenciannya akan semakin bertambah jika melihat Yuta dan ia tak mau itu terjadi. jadi ia memutuskan untuk pergi dan tinggal di rumah Appa-nya untuk menata hatinya lagi.
"Baby, kenapa terburu-buru sayang? Umma bahkan belum berkemas. Halmeoni juga sedang pergi. Appa-mu pasti masih di kantor sayang." Tanya Yixing saat melihat Taeyong buru-buru mengemasi buku pelajarannya.
"Umma berangkatnya menyusul saja. Aku tahu password apartemen Appa, nanti sampai rumah Appa aku juga langsung pergi karena harus latihan."
"Ya sudah kalau begitu Umma barangmu,Umma tunggu dibawah."Yixing lebih dulu turun dan menyiapkan mobil. Setelah selesai Taeyong menyeret kopernya dan menggendong tas yang berisi buku pelajarannya keluar. Di halaman Yixing sudah menunggunya. Taeyong membuka bagasi mobil dan memasukkan kopernya berserta tasnya kemudian naik di depan dekat dengan Yixing.
"Sudah siap?" Tanya Yixing, Taeyong memakai seatbelt dan menguncinya. "Ne Umma." Yixing menstarter mobilnya dan berangkat ke apartemen Yixing.
Saat mereka keluar dari halaman mansion, Yuta baru saja turun dari mobil Johnny, ia diantar Johnny karena Jaehyun sedang mengikuti bimbingan untuk lomba. Yuta melihat mobil Yixing melaju pelan sebelum berbelok di gang, Yuta berlari mengejarnya. "Taeyong-Taeyong." Panggil Yuta namun mobil itu tak kelihatan lagi setelah berbelok di gang. Yuta berhenti, ia tak percaya Taeyong benar-benar pergi meninggalkan rumah. Johny menyusul Yuta dan memeluknya, ia menenangkan Yuta yang menangis lagi. 'Apa dia sungguh berarti bagimu hingga kau menangisi dia sampai seperti ini?'gumam Johnny.
SECOND CHANCE
"Baby, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau mendadak ingin pindah kerumah Appa?" Tanya Yxing tiba-tiba. Taeyong tak menjawab pandangannya kosong, ia sedang memikirkan sesuatu. "Baby? Taeyong baby!" Yixing mengagetkan Taeyong yang sedang melamun.
"Huh? Apa Umma? Umma Tanya apa?" Tanya Taeyong gelagapan.
"Kau kenapa? Kenapa kau mendadak ingin pindah ke rumah Appa-mu? Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa Umma, aku kan ingin tinggal dengan Appa, apa itu tidak boleh?"
"Apa ini karena Yuta? apa karena masalah itu kau ingin meninggalkan rumah?" Taeyong hanya terdiam. "Umma tahu kau sedih tapi…"
"Umma aku sedang tidak ingin membicarakan masalah itu. Kepalaku sakit." Taeyong mengalihkan pandangannya ke samping. Yixing hanya bisa menghela nafas.
"Baiklah kalau itu maumu. Istirahatlah." Taeyong memilih memejamkan matanya. 30 menit kemudian mereka sampai di apartemen Kris. Mereka bersama menuju apartement Kris di lantai 5 dengan lift.
Lantai 5, mereka menuju kamar 502 milik Kris. sampai depan kamar. "Haruskan Umma menelpon Appa-mu?"
"Tadi aku sms Appa, Appa bilang ada di apartement Umma." Taeyong memencet bel apartement Kris. Tak berapa lama kemudian Kris membuka pintu dan ia melihat Taeyong dan Yixing datang ke rumahnya. Kris menyambut kedatangan mereka berdua."Kalian sudah datang, ayo masuk."Kris menyuruh mereka berdua masuk.
"Appa kira kau datang nanti malam, kenapa mendadak sekali. Appa belum menyiapkan kamarmu."
"Aku merindukan Appa. Tapi sepertinya Appa harus membeli bed baru."
"Kenapa?"
"Umma juga akan tinggal disini." Taeyong mengedipkan matanya menggoda Kris. Kris membelalak tak percaya, ia melrik Yixing. "Benarkah? Kau akan tinggal disini Xing?"
"Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa." Ucap Yixing mengalihkan perhatiannya kearah lain.
"Eh, kau itu bilang apa? Tentu saja aku mau. Tae baby ikut Appa, Appa akan menunjukkan kamarmu. Yixing tunggu disini, aku ingin bicara denganmu." Kris menunjukan letak setiap bagian rumahnya pada Kris. Ia meminta Taeyong menganggap Apartemennya seperti rumah Jaejoong. Taeyong juga bisa membaca buku-buku yang ada disana.
Ia menunjukkan kamar mana yang akan ditempati Taeyong. Taeyong mengamati ruangan yang akan menjadi kamarnya. "Apa kau suka dengan tatanan kamar barunya?"
"Ne, aku suka sekali Appa."
"Kalau kau tidak suka, kau bisa mengubahnya sesuka hatimu." Taeyong mengangguk, "Taeyong, kau bereskan bajumu dulu, Appa ingin bicara dengan Umma-mu."
"Ne Appa." Setelah mengantar Taeyong ke kamarnya, Kris mengajak Yixing ke kamarnya sendiri.
.
.
"Benar kau ingin ikut tinggal disini? Apa Umma Jae mengizinkanmu ikut denganku?" Tanya Kris memastikan.
"Ne, Umma Jae memintaku ikut tinggal disini bersama Taeyong. Meskipun agak tidak rela tapi akhirnya Umma mengizinkan."
"Terima kasih, kau mau tinggal disini sayang. Ini awal yang baik untuk kita."
"Umma juga meminta kita untuk segera menikah."
"Benarkah? Aku dengan senang hati akan menikah denganmu. Kau mau kan menikah denganku?"Tanya Kris senang namun Yixing hanya melihat perubahan raut wajah Yixing yang mendadak murung, "Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?"
"Aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan Gong Min dulu, baru setelah itu kita membicarakan pernikahan kita. Bagaimanapun juga dia masih tunanganku Kris" Kris tersenyum.
"Aku menyerahkan semua keputusan padamu. Aku akan menemanimu menyelesaikan urusanmu dengan Gong Min baru setelah itu kita menikah."
"Terima kasih Kris, terima kasih kau mau mengerti keadaanku." Yixing secepat kilat langsung memeluk dan membuat Kris diam tertegun. "Secepatnya aku akan menyelesaikan urusanku dan kita akan segera bersama."KataYixing. Kemudian ia melepas pelukannya, Kris mengangguk. Ia menggenggam tangan Yixing.
"Aku tidak akan melepasmu lagi Xing, sudah cukup 16 tahun aku merasakan kesepian karena kesalahpahaman kita. Maafkan aku atas semua sikapku yang pernah menyakitimu."
"Aku sudah memaafkanmu Kris."
"Nanti malam kau menginap disini?"
"AKu harus pulang, aku kan harus mengurus keperluanku dulu dan berpamitan dengan Umma Jae. Mungkin besok baru kemari." Tiba-tiba Kris langsung mencium bibir Yixing, Yixing yang awalnya terkejut akhirnya ikut mengimbangi bibir Kris. mereka berpagut mesra hingga Kris perlahan merebahkan tubuh Yixing di bednya. Kris mulai menggerayangi tubuh Yixing, ia juga menciumi leher Yixing. Yixing meremas rambut Kris untuk menyalurkan nikmatnya. Saat Kris sedang menghisap leher Yixng tiba-tiba, "Appa, Umma, aku lapar." Panggil Taeyong dari luar. Kris menghentikan cumbuannya, mereka bertatapan kemudian saling tertawa.
"Uri baby lapar, lebih baik kita buatkan dia makan malam. Sebelum dia mendobrak pntu ini dan menedangmu keluar." Kris mengecup kilat bibir Yixing. ia bangkit dari tubuh Yixing dan merapikan kmejanya, Yixing pun juga begitu. Mereka keluar bersama dan melihat Taeyong berdiri di depan kamar Kris dengan mempoutkan bibirnya."Kalian lama? Memangnya Umma dan Appa sedang melakukan apa?"
"Maaf baby, tadi…"
"Aku sedang tidak ingin punya adik baru. Aku kan baru bertemu kalian, nanti kalau aku punya adik baru pasti perhatian kalian ke adikku bukan ke aku." Ujar Taeyong sebal. Yixing dan Kris cengo mendengar pernyataan Taeyong.
"Iya sayang, memang siapa yang sedang membuat adik untukmu?" Tanya Yixing sabar.
"Itu, tanda merah di leher Umma, pasti tadi Appa dan Umma berniat akan membuat adik baru kan untukku, aku tidak mau." Yixing tergagap kemudian ia menutup lehernya dengan mengangkat kerah kemejanya lebih tinggi.
"Eh, anak kecil tidak boleh ikut campur dengan urusan orang tua." Kris menegur Taeyong.
"Pokoknya besok, Umma harus tidur denganku. Biarkan saja punya Appa karatan,pokoknya aku tidak mau punya adik baru." Taeyong mehrong pada Kris kemudian ia berlari.
"Anak nakal." Kris berlari mengejar Taeyong, Yixing tersenyum geli melihat tingkah laku kekasihnya dan juga anaknya.
SECOND CHANCE
At School
"Pindah kelas? Tapi ini belum masuk semester 4, kau baru bisa pindah kelas besok saat semester 4 Taeyong. Lagipula semester 4 hanya tinggal beberapa bulan lagi. Tunggulah sampai semester 4 depan, kau baru bisa pindah kelas."
"Ne Konselor. Kalau begitu saya permisi."Taeyong membungkuk dan kemudian meninggalkan ruang TU. Saat dia baru saja keluar tiba-tiba Hansol memanggilnya, "Hoi Taeyong!"Taeyong berbalik, ia melihat Hansol berlari ke arahnya. "Sedang ada urusan apa kau ke ruang TU? Tidak biasanya kau kesana?"
"Aku mengurus kepindahan kelasku untuk semester depan."
"Kau ingin pindah kelas? Kau serius?ke kelas mana? Kelasku saja, kan kita bisa duduk bersebelahan."
"Kelas C, ku dengar disana yeoja nya cantik-cantik."
"MWO! Hanya karena alasan itu kau mau pindah kelas? Orang tuamu sudah tahu kau pindah kelas?" Taeyong mengedikkan bahunya. "Ah kau gila, kalau sampai mereka tahu bagaimana?"
"Aku kan tidak pindah sekolah, jadi aku sih tenang-tenang saja."
"Yuta tahu kau akan pindah? Beberapa hari ini aku sering melihatnya menangis." Taeyong menggeleng.
"Sudah ya, aku mau ke kantin, kau ikut tidak, nanti aku yang traktir." Ajak Taeyong. Hansol mengangguk cepat dan kemudian mereka pergi ke kantin.
.
.
Beberapa minggu ini Taeyong benar-benar menjauhi Yuta. Yuta benar-benar merasa frustasi akan hal itu. Rumah juga menjadi lebih sepi sejak kepindahan Taeyong. Yixing juga sudah pindah ke apartement Kris. Dia juga mendengar rumor kepindahan Taeyong ke kelas C dan itu membuat Yuta semakin sedih. Yuta bertekad akan meminta maaf pada Taeyong hingga Taeyong memaafkannya.
"Taeyong!" panggil Yuta. Taeyong yang saat itu sedang tidur-tiduran dibawah pohon maple favoritnya segera terbangun. "Aku minta maaf Taeyong, aku minta maaf. Aku tahu aku salah dan aku akan melakukan apa saja asal kau tidak menjauhiku dan memaafkanku. Apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku?"
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bicara denganmu."
"Aku tidak akan pergi, kita harus selesaikan urusan kita. Aku memang bersalah dalam hal ini, aku lah penyebab kematian Jeno tapi aku juga berhak mendapat maaf darimu."
"Aku tidak ingn membicarakan tentang Jeno saat ini denganmu. Meskipun aku memaafkanmu Jeno juga tidak akan kembali, percuma, semua sudah terjadi." Taeyong bangun dari tidurnya, lagi-lagi ia meninggalkan Yuta tanpa menatapnya.
"Kau ingin aku menyusulnya? Kau ingin aku menyusul Jeno?" Taeyong hanya mendengus, ia meneruskan jalannya. Yuta terisak, "B-baiklah j-jika itu maumu. A-aku akan menyusul Jeno." Namun suaranya tidak di dengar Taeyong.
.
.
Taeyong melangkahkan kakinya dengan lesu, ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya. Taeyong berjalan melewati pinggir lapangan basket karena ia menghindari panas. Saat akan keluar, ia melihat banyak anak-anak berlarian menuju lapangan parkir. Taeyong heran dan menghentikan salah satu siswa yang akan menuju lapangan parkir, "Ada apa, kenapa kau berlari seperti orang kesetanan begitu?"
"Kau tidak tahu, ada orang yang mau bunuh diri."
"Siapa yang mau bunuh diri?"
"Yuta anak kelas 2A, dia berdiri di pinggir balkon."
"MWO!" mata Taeyong terbelalak, ia langsung berlari menuju balkon.
Dibawah para siswa berteriak dan memohon pada Yuta untuk tidak melompat. Yuta melihat mereka dengan tatapan kosong. Tangisnya tak berhenti mengalir. "Taeyong, jika ini bisa membuatmu memaafkanku, aku akan melakukannya." Yuta merentangkan tangannya. Semilir angin membelai wajahnya. Para siswa menjerit terutama siswa putri. Ada yang menangis takut ada yang menutup matanya tak tega.
"Selamat tinggal semua.." Yuta memejamkan matanya, saat Yuta akan melompat tiba-tiba seseorang menariknya dan keduanya jatuh bergulingan di lantai. Tubuh Yuta menindih tangan si penolong."Akhh.." tangan si penolong yang tak lain dan tak bukan adalah Taeyong sepertinya terkilir.
Yuta terkejut melihat Taeyong yang menolongnya. Taeyong memarahi Yuta, "Apa kau sudah gila? Kau ingin mengakhiri hidupmu begitu saja? kau ingin menyusul Jeno dan meninggalkanku sendirian disini? Pernahkah kau berpikir bagaimana nanti perasaan Halmeoni, Harabeoji, Kyu Imo, Changmin Samchon dan Jae hyung saat kau memilih jalan bunuh diri sebagai jalan keluarnya, mereka akan membenciku. Mereka akan menyalahkanku dan mungkin mereka akan membunuhku juga."
"A-ku hanya ingin kau memaafkan ku Taeyong, aku ingin kau kembali seperti Taeyong yang dulu."
"Tidak semudah yang kau bayangkan, melihat orang yang kau percaya ternyata menjadi penyebab kematian orang yang kau cintai. Kalau kau jadi aku,kau akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan."
"Taeyong…"
"Bangun, aku tidak mau berlama-lama denganmu disini." Taeyong meminta Yuta bangun tapi saat ia akan bangun juga, Taeyong menjerit kesakitan. "Akh.." sambil memegang tangannya yang terkilir.
"Taeyong, apa yang terjadi? mana yang sakit? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Yuta panic.
"Jangan sentuh aku." Taeyong menepis tangan Yuta.
"Taeyong, kumohon maafkan aku. Jangan jauhi aku seperti ini. Kau sudah meninggalkan rumah, belum lagi aku dengar kau juga akan pindah kelas, seburuk itukah aku dimatamu. Aku tahu aku salah tapi tak seharusnya kau memperlakukan aku seperti ini."
"Aku takut rasa benciku akan semakin menjadi jika aku terus melihatmu, setiap kali aku melihatmu, aku selalu merasakan jerit kesakitan Jeno saat ia diperkosa. Aku sudah berusaha menghilangkan perasaan itu tapi bukannya hilang justru semakin menjadi, aku menyayangimu, sangat menyayangimu tapi rasa itu hilang entah kemana, hilang begitu saja. Saat aku mulai menyukai Jeno dan mulai melupakan perasaanku padamu, Jeno malah pergi lebih dulu dan itu karena dirimu. Seandainya waktu itu kau bertindak lebih cepat dengan mencari bantuan, Jeno mungkin masih disini."
"Jadi kau ingin aku melakukan apa?" Tanya Yuta dengan suara bergetar.
"Aku ingin kau pergi dari hadapanku." Air mata mengalir deras di pipi Yuta.
"Tapi…kenapa aku merasa….kau sedang berbohong saat ini," katanya pelan. Taeyong diam,"Aku menyukaimu, dengan sepenuh hatiku."
"Jangan menyukaiku, kau hanya akan semakin terluka. Rasaku ini sudah hilang untukmu. Dulu aku memang menyukaimu tapi sekarang aku tidak tahu kemana rasa itu pergi. Maafkan aku. Lupakan aku, jauhi aku, aku ingin kau mendapat kebahagiaan dengan orang yang lebih menyayangimu. Bencilah diriku. Aku tidak akan menunjukkan diriku lagi padamu. Jika aku berubah pikiran dan meneleponmu atau mengunjungimu, maka tolaklah aku dengan dingin. Dan jika kita saling berpapasan, pura-puralah tak mengenalku. Jangan pernah membuka pintu hatimu untukku."
"A-aku tidak bisa membencimu, aku tak akan pernah bisa membencimu Taeyong."
"Kau akan menyesal karena tidak membenciku." Taeyong menghampiri Yuta dan langsung mencumbui Yuta, lama kelamaan Taeyong semakin buas, Yuta melepas ciuman Taeyong, "A-Apa yang akan kau l-lakukan T-Taeyong?"
"Aku akan membuatmu membenciku." Dengan menahan rasa sakit di tangannya yang terkilir tadi, Taeyong mendorong Yuta hingga menabrak dinding. Taeyong menciumnya lagi, Yuta meronta meminta dilepaskan tapi Taeyong menulikan pendengarannya. Ia menjatuhkan Yuta dan menindihnya kemudian dengan kasar ia merobek seragam Yuta.
"Taeyong jangan, aku mohon, jangan.." Yuta menangis ketakutan. Taeyong mulai bergerak di leher Yuta dan menghisapnya hingga menimbulkan bercak kemerahan. Yuta menjerit histeris, Taeyong mulai menggerayangi tubuh Yuta dan tiba-tiba seseorang menariknya kebelakang hingga ia jatuh terjungkal.
Johnny menyeret Taeyong dan menghajarnya berkali-kali. Darah mengucur dari hidung dan mulut Taeyong. Beruntung Hansol dan Jehyun segera datang dan melerai mereka.
"Apa yang terjadi? kenapa kau menghajar Taeyong sampai seperti ini?" Tanya Hansol penuh emosi pada Johnny.
"Tanyakan saja pada sahabat cabulmu ini, dia hampir memperkosa Yuta." Hansol dan Jaehyun membelalakan matanya. Jaehyun melihat adiknya meringkuk ketakutan. "Bawa Taeyong pergi dari sini, aku dan Johnny akan mengurus Yuta. Cepat pergi." Hansol membawa Taeyong meninggalkan balkon sedangkan Johnny dan Jaehyun menolong Yuta. Johnny membuka jas-nya dan diberikan pada Yuta.
"J-jangan ceritakan hal ini pada Umma, Appa dan siapapun tentang hal ini." Pinta Yuta.
"Ne, lebih baik kita pergi ke rumahku dulu, biarkan Yuta tenang dulu baru aku antar kalian pulang." Ajak Johnny. Jaehyun mengangguk, mereka pun meninggalkan balkon.
SECOND CHANCE
"Kau sudah gila ya, apa yang kau lakukan pada hyungmu hah? Kau benar-benar ingin dibunuh Changmin ahjussi atau Yunho harabeoji ya?" Hansol menekan-nekan kapas yang berisi cairan alcohol ke luka Taeyong.
"Aw..aw.."
"Sakit? Sakit? Rasakan itu.. nanti lebih sakit lagi kalau sampai Paman dan kakekmu menghajarmu. Dasar bodoh. Nanti kalau Umma mu tahu, bisa menangis 3 hari 3 malam dan Appa mu akan mengurungmu dirumah. Kita hampir debut, bodoh. Jangan macam-macam atau pelatih Kangta akan mengeluarkanmu. Aku tidak mau orang Amerika itu jadi leader, aku lebih memilihmu jadi leader daripada dia."
"Tanganku sepertinya terkilir." Hansol menghentikan kegiatannya dan beralih ke tangan Taeyong. Ia mengangkat tangan Taeyong dan melihatnya. Terlihat tangan Taeyong memerah. "Aw pelan-pelan bodoh, sakit ini." Taeyong merengek kesakitan.
"Habis ini kita kerumah sakit. Kau harus mendapat pengobatan yang lebih baik. Jangan membantah. Kalau perlu kau dirawat di rumah sakit sekalian."
"Terserah kau saja. kepalaku sakit Hansol, bisakah kau lebih cepat mengobati luka ku dan kita pergi ke rumah sakit sekarang?"
"Iya sabar," Hansol merapikan kotak P3K-nya dan mengantar Taeyong ke rumah sakit.
.
.
Sampai di rumah sakit, Taeyong segera mendapat pertolongan untuk tangannya yang terluka dan juga wajahnya. Sebenarnya luka Taeyong tidak terlalu parah namun ia meminta untuk dirawat disana. Hansol hanya menggelengkan kepalanya.
"Tunggu aku disini ya."
"What? Kau gila, nanti aku harus bilang apa pada orang tuamu. Jangan merepotkanku terus Jung Taeyong. Aku tidak mau."
"Kalau begitu aku saja yang bunuh diri."
"WHAT! YA-YA kau gila. Sebelum kau bunuh diri, aku yang akan membunuhmu lebih dulu." Hansol mendengus kesal, meskipun Taeyong itu sedikit jahil dan seenaknya sendiri tapi Hansol nyaman bersahabat dengannya.
Taeyong pun dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih pribadi. Hansol menatap frustasi handphone Taeyong yang terus berbunyi dari Yixing dan Kris. "Aku harus bilang apa? Bilang dia menginap dirumahku? Aishh anak ini merepotkan saja." Hansol menghembuskan nafas kemudian mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo Ahjumma.."
"Hansol, Taeyong dirumahmu kah? Sejak sore tadi dia tidak pulang. Apa dia bersamamu?"
"Ah-ah ne ahjumma,d-dia denganku tapi sedang tidur. Mungkin dia kelelahan karena pelajarannya begitu banyak."
"Oh kalau begitu titip dia ya, jangan sampai dia lupa makan."
"N-ne ahjumma, aku akan mengingatkannya untuk makan." PIP! Hansol mengakhiri panggilannya. Dia menatap Taeyong yang sedang tertidur pulas karena pengaruh obat tidur.
"Kau ini kenapa sih? Kenapa kau melakukan hal yang merugikan dirimu dan menyakiti hatimu sendiri. Dasar bodoh!" Hansol menyentil kepala Taeyong dan memilih tidur di sofa.
.
.
'Lihatlah aku sekali saja, aku selalu bersamamu, aku selalu ada untukmu, apa kau tidak bisa sekali saja memberiku kesempatan untuk bersamamu. Taeyong tidak mencintaimu, dia bahkan hampir memperkosamu, jika dia menyayangimu seharusnya dia tidak melakukan perbuatan biadab itu.'
'Yuta, beri aku kesempatan, izinkan aku memiliki hatimu, aku janji aku akan selalu menjagamu dan selalu menyayangimu.'
Yuta meringkuk dibawah selimut tebalnya. Ia teringat kata-kata Johnny saat Johnny mengungkapkan perasaannya padanya. Apakah ia harus memberi kesempatan pada Johnny untuk mengisi hatinya yang dulu ditempati Taeyong.
'Kita bahkan pernah berciuman, ku kira kau sudah menerimaku sebagai orang yang penting dalam hidupmu tapi kau tidak bisa lepas dari bayang-bayang Taeyong. Apakah semua hal yang kita lalui itu tidak berarti untukmu?'
Yuta mengusap airmatanya, selama ini Johnny selalu ada untuknya tapi ia tak pernah bisa menyingkirkan bayangan Taeyong dari dirinya sedangkan Taeyong, memikirkan kejadian tadi siang saat Taeyong hendak memperkosanya. Ia tak menyangka Taeyong akan melakukan hal iu padanya. Ia benar-benar ketakutan. Kejadian itu mengingatkannya pada Jeno. Dia sudah begitu takutnya saat hendak diperkosa Taeyong yang notabene hanya satu orang, bagaimana dengan Jeno yang dipaksa melayani 5 orang hingga meregang nyawa. Jika ia menjadi Taeyong, pasti dia juga akan membenci orang yang sudah menyebabkan Jeno mengalami kejadian memilukan itu.
"Apa yang harus ku lakukan?"
SECOND CHANCE
Pagi ini di sekolah, adalah hari dimana mereka akan melaksanakan ujian tengah semester. Anak-anak kelas 2 A sudah bersiap di tempatnya masing-masing. 5 menit lagi bel masuk, Youngdoo yang kemarin tempatnya dipakai Taeyong sekarang sudah kembali ditempati Youngdoo. Yuta melirik tempat duduk Taeyong yang masih kosong. 'Mungkinkah Taeyong akan datang terlambat seperti sebelumnya. Yuta sedikit khawatir, jujur ia masih takut jika ingin bertemu Taeyong.
Bel masuk sudah berbunyi, Guru Cha sudah masuk sambil membawa kertas ujian dan membagikannya. Mereka mulai mengerjakan ujiannya. Yuta kembali melirik bangku Taeyong dan sudah hampir 15 menit tidak ada tanda-tanda kedatangan Taeyong. Hari ini Taeyong tidak masuk dan ia tidak tahu kenapa.
15 menit sebelum ujian selesai, Hansol masuk ke kelas Taeyong sambil membawa surat dan diserahkan pada Guru Cha. "Anak itu, dia minta ujian di rumah sakit." Hansol mengangguk.
"Dia kan tidak ingin ketinggalan ujian Saem."
"Ya sudah nanti kita kesana, kau juga ikut."
"Baik Saem, kalau begitu saya permisi." Hansol membungkuk dan meninggalkan kelas Taeyong. Yuta masih bertanya-tanya tentang kedatangan Hansol ke kelasnya, ia tak mendengar percakapan Guru Cha dan Hansol karena mereka bicara pelan.
"Ada urusan apa Hansol kemari?" Tanya Johnny. Yuta menggeleng, ia masih bertanya apa mungkin Hansol kemari karena ada hubungannya dengan Taeyong? Yuta juga tidak tahu.
.
.
Sudah 3 hari Taeyong menginap di rumah sakit, dia juga memilih ujian disana dan dia juga belajar. Jangan dikira Taeyong hanya bermalas-malasan di rumah sakit, dia juga tak lupa dengan kewajibannya belajar tapi ia harus berbohong pada Yixing dan Kris kalau dia menginap di rumah Hansol.
CKLEK Pintu kamar perawatan Taeyong terbuka. Taeyong yang saat itu sedang sibuk berkutat dengan bukunya menoleh kearah pintu dan melihat Hansol masuk.
"Kau bawa buku yang aku minta?" Tanya Taeyong, Hansol tak menjawab tapi tangannya mengisyaratkan sesuatu. "Kau kenapa?"
Tiba-tiba seseorang masuk dan mengejutkan Taeyong. "A-a-appa?"
"Jung Taeyong kau harus menjelaskan semua ini pada Appa." Hansol menelan ludahnya gugup sedangkan Taeyong dia hanya bisa menghela nafas.
Flashback on
Kris melajukan mobilnya setelah selesai meeting dengan klien penting di sebuah hotel berbintang di Seoul. Karena dia tak ada pekerjaan lagi, jadi ia memutuskan untuk pulang. Saat perjalanan pulang ia melihat beberapa anak berseragam SM C-Jes berjalan melewati trotoar, ia teringat pada Taeyong dan memutuskan untuk menjemput Taeyong.
Sampai di sekolah, ia memarkirkan mobilnya dan bertanya pada salah satu siswa yang lewat.
"Permisi, apa kau kenal Taeyong? Dia anak kelas 2 A." Tanya Kris pada salah satu siswa yang lewat.
"Taeyong? Oh saya kenal, saya teman dari temannya Taeyong. Kami beda kelas Ahjussi."
"Oh, kau teman dari temannya Taeyong?"
"Hansol, saya teman sekelasnya Hansol."
"Oh, kau lihat Taeyong?"
"Bukankah dia ada dirumah sakit. Hansol bilang Taeyong ada dirumah sakit, sudah 3 hari ini dan dia juga ujian disana ahjussi."
"Rumah sakit? Hansol dimana dia? kau lihat dia dimana sekarang?" siswa itu celingukan mencari Hansol dan menemukan Hansol sedang ngobrol dengan tim basket. "Itu dia ahjussi, Hansol bersama team basket." Kris melihat kearah yang ditunjukkan siswa itu. "Terima kasih."
"Nde." Kemudian siswa itu berlalu. Kris menghampiri Hansol.
Saat Hansol sedang membahas jadwal latihan tiba-tiba, "Hansol.." panggil Kris. Hansol menghentikan pembicaraannya dan berbalik. Ia terkejut melihat Kris sudah berada di belakangnya dengan tangan terlipat di dadanya.
"Jin Hansol, kita harus bicara." Hansol menelan ludah gugup, "Dimana Taeyong?"
"I-Itu ahjussi, d-dia.."
Flashback off
Disinilah Kris sekarang, ia berada di kamar perawatan Taeyong dengan seribu tanda Tanya dikepalanya. "Taeyong jelaskan pada Appa, apa yang sebenarnya terjadi?"
.
.
Disisi lain, seorang namja berperawakan tinggi dan cukup berwibawa baru saja turun dari mobil dan memandang apartement yang berada di depannya. "Baby Lay, kita akan bertemu lagi." ucapnya sambil memakai kaca mata hitam armani.
TBC
Maaf ceritanya semakin blank aku buat ff ini.
Butuh review buat perbaikan. Jangan bash author ya, author juga kerja keras lo buat cerita ini.
terima kasih untuk selalu menunggu update'an cerita ini.
maaf kalo banyak typo bertebaran. buat para pembaca setia ff ku terima kasih banyak
