Chapter 10 – The Morning
Aku terbangun dikelilingi oleh udara panas, sebuah benda besar menjepitku ke tempat tidur. Aku bergeser, dan sesuatu mendengus ke rambutku, dan aku menyadari bahwa aku berada di tempat tidur Edward.
Well, fuck.
Ya, itulah apa yang kau lakukan tadi malam, batinku sinis. Aku bergeser lagi, mencoba untuk keluar dari tempat tidur, tapi lengan Edward melingkar di pinggangku.
"Edward," bisikku, mendorongnya. "Lepaskan aku."
Dia mendengus, membawaku lebih dekat lagi ke tubuhnya. Tubuhnya meringkuk di tubuhku, dan dia membenamkan kepalanya di leherku, dengkurannya mengacak-acak rambutku.
Aku merasa perasaan familiar di kandung kemihku, dan aku tahu kalau aku tidak segera bangun, Edward benar-benar akan menyesal.
"Aku harus pipis," aku merengek, dan aku melihat seringai kecil di bibirnya. Si brengsek ini sudah bangun.
Aku menggoyangkannya lagi, melepaskan lengannya dari pinggangku. "Sialan Edward, jika kau tidak melepaskanku, aku akan pipis di tempat tidur!"
Dia membuka satu matanya, dan menyengir. "Kau begitu manis ketika kau sedang kesal."
"Kalau begitu, aku pasti sangat menggemaskan sekarang, karena aku harus pergi ke kamar mandi!"
"Baik, pergilah," katanya sambil tertawa, menarik lengannya dari tubuhku. Aku turun dari tempat tidur, melesat ke kamar mandi, dan mendesah. Akhirnya.
Tadi malam agak sedikit kabur. Bukan karena aku mabuk atau apapun – atau mungkin aku saja yang sudah tidak tahan disentuh Edward. Yang kutahu, aku sama sekali tidak bisa melepaskan tanganku dari Edward selama perjalanan ke rumahnya – dia bilang dengan terus terang bahwa dia tidak mau mengalami kecelakaan dan bila perlu, dia akan mengikat tanganku. Ya, seperti hal itu akan menenangkanku.
Aku cukup yakin kami menjatuhkan rak atau sesuatu. Kami akhirnya berhasil sampai ke tempat tidurnya, tapi pakaianku mungkin tersebar di seluruh rumah. Ini adalah rumah modern berlantai dua, dekorasinya sangat bagus untuk seorang pria berusia dua puluh lima tahun.
"Hei, siapa yang melakukan dekorasi?" tanyaku setelah meninggalkan kamar mandi.
"Hmm?" Suara Edward teredam oleh bantal yang menutupi wajahnya.
"Um, aku bertanya siapa yang melakukan dekorasi di sini, tapi aku pikir pertanyaan yang lebih tepat adalah mengapa ada bantal di wajahmu?"
"Karena aku tahu kau telanjang dan jika aku melihatmu, aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkan tempat ini lagi."
Aku menelan ludah. "Oh." Melihat sekeliling, aku melihat celana dalamku di lantai, dan memakainya. "Keberatan kalau aku meminjam baju?" tanyaku.
"Silakan," jawabnya. "Katakan padaku ketika aku bisa membuka mataku. Dan omong-omong, ibuku yang melakukan semua dekorasi. Katanya dia tidak ingin rumah ini berubah menjadi rumah untuk seorang bujangan. Bisakah aku membuka mataku sekarang?"
"Yah, ini bukan sesuatu yang belum kau lihat sebelumnya," godaku.
"Apakah kau ingin menjadi ditawan di sini selamanya?"
Aku terdiam, berpura-pura untuk mempertimbangkannya. "Kau tahu-"
"Jangan menggodaku!"
Aku tertawa, memilih kaos di lemarinya dan mengenakannya. "Kau boleh buka mata."
Dia memindahkan bantal dari wajahnya, mengintip sekitarnya dengan ragu-ragu. "Kau sama sekali tidak berpakaian yang pantas!"
"Hei, ini lebih baik dibanding kau!" Aku membalas.
Merengut, dia memakai celana pendeknya tanpa melepas selimut. "Sudah lebih baik?"
"Aku lebih suka ketika-"
Dia menampar tangannya di mulutku. "Jangan menyelesaikan kalimat itu."
Aku terkikik. "Baik. Bolehkah aku membuat sarapan? Aku agak lapar."
"Silakan saja," kata Edward. "Kau tahu di mana dapur. Aku mau mandi dulu."
Aku menciumnya dengan cepat sebelum menari menuruni tangga. Aku tidak bisa menahannya, aku benar-benar sangat bahagia. Aku tahu pasti bahwa aku suka Edward...sangat suka. Di suatu tempat di masa depan, aku bisa melihat diriku jatuh cinta padanya. Itu adalah pikiran menakutkan, tapi aku tahu apa yang yang kurasakan. Menjadi muda tidak berarti menjadi bodoh tentang perasaanku.
Dapur Edward cukup sempurna, dan aku menemukan diriku mempertanyakan berapa banyak waktu yang dia habiskan di sini. Aku menemukan beberapa campuran pancake dan mulai mempersiapkan itu. Dalam lima belas menit, aku punya tiga pancake.
"Mmm, tampaknya lezat." Sepasang lengan melilit di pinggangku dari belakangku.
Aku mengangkat bahu. "Ini hanya campuran pancake."
"Aku tidak bicara tentang makanan."
Aku tertawa. "Kau sudah punya aku di tempat tidurmu, jadi simpan rayuanmu itu."
"Aww, kau tidak menyukainya?" Ia cemberut, mencium sisi leherku.
"Makanlah," aku mendorong pancake padanya, bersama dengan garpu. Aku kembali ke kompor, membuat tiga untuk diriku sendiri.
"Jadi, apa yang ayahmu akan katakan tentang ini?" Tanya Edward, setelah aku duduk dan makan dengannya.
"Tentang apa?"
"Ini," dia menunjuk antara kami. "Kita."
Aku mengangkat bahu. "Aku legal. Aku waras. Selama aku tidak melakukan sesuatu yang ilegal, dia tidak bisa melarangku dari melakukan sesuatu. "
"Apakah dia tahu kalau kau bekerja untukku sekarang?"
"Yup," jawabku. "Dia tidak senang, tapi dia senang aku bekerja di suatu tempat."
"Aku punya perasaan dia tidak akan begitu senang kalau gadis kecilnya berkencan bosnya."
"Aku bukan anak kecil lagi."
"Kau jelas tidak tahu bagaimana orang tua berpikir. Mereka tidak pernah berhenti melihatmu sebagai bocah kecil yang membuat hidup mereka seperti neraka."
Aku mendengus. "Kembar jauh lebih buruk. Tidak heran orangtuaku tidak pernah punya anak lagi."
"Ah, ayolah, kalian berdua mungkin malaikat."
"Aku meragukan hal itu," kataku. "Dengar ini, ada suatu kali..."
~xoxo~
Karena ini adalah hari Sabtu, aku punya tempat khusus untuk didatangi, dan Alec sudah tahu di mana aku berada. Aku bebas untuk menghabiskan hari ini dengan Edward. Saat ini, kami sedang meringkuk di sofa, menonton beberapa acara komedi sore. Aku harus mengakui, aku tidak pernah merasa begitu nyaman dengan siapa pun dalam hidupku – kecuali Alec. Aku meringkuk erat pada Edward dan lengannya merangkul bahuku. Bagi siapa pun, kita akan terlihat seperti pasangan muda yang menikmati sore bersama-sama. Bagiku, aku yakin bahwa aku mungkin sudah mencintainya.
Aku tersentak dari lamunan tentang percintaanku oleh ketukan di pintu.
"Menunggu seseorang?" tanyaku pada Edward.
Dia menggelengkan kepalanya, bingung. "Aku akan pergi melihat siapa itu." Untungnya, dia memakai baju sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Nadanya terdengar terkejut, membuatku duduk dan bersyukur karena sadar dan sudah mengenakan celana pendek sebelumnya.
"Well, ini bukan caranya menyambut saudaramu!" kata suara asing.
Edward punya saudara?
Terdengar mereka berjalan ke arahku, dan aku berdiri tegak dan gugup. Apakah aku siap untuk bertemu dengan saudaranya? Seorang anggota keluarganya?
"Well, lihat siapa ini?" kata suara asing itu. Suara itu milik orang yang paling menakutkan yang pernah kulihat. Dia jelas mirip dengan James – dia, Edward, dan orang ini tampaknya memiliki bentuk wajah yang sama. Wajahnya tidak begitu asing, dan aku ingat pernah melihatnya di klub minggu lalu.
"Jangan menakut-nakutinya, Demetri," kata Edward, duduk di sampingku lagi. "Jane, pria yang di sana adalah saudaraku, Demetri. Demetri, ini adalah Jane. Pacarku."
Aku menatap Edward kaget, belum yakin akan terbiasa disebut pacar olehnya. Kami bahkan belum membahas apa kita pacaran.
"Hei, bukankah kau yang di klub Jumat minggu lalu?" Rupanya Demetri mengingatku.
"Ya," kataku. "Aku bekerja dengan Edward."
Demetri mengangkat alis melihat ke arah Edward, matanya berbinar.
"Diam, Dem," gerutu Edward, merangkulku lagi. "Sana kembali ke rumahmu sendiri. Kau punya istri yang menunggumu di sana. "
"Ya, itu sebabnya aku datang ke sini," kata Demetri, tiba-tiba terlihat malu.
"Apakah ada yang salah?" tanya Edward segera. Sudah jelas dia peduli pada saudaranya.
"Yah, aku pikir dia hamil, tapi aku tidak tahu bagaimana untuk memberitahu hal itu padanya. Dia hanya akan berpikir aku menganggapnya gemuk dan sebagainya."
Aku mendengus, menarik perhatian kepadaku. "Maaf. Tipikal wanita, ya? "
Dia menyeringai. "Aku suka dia, Eddie. Keep her."
"Jangan panggil aku itu," Edward menggeram. "Dan aku sudah berencana untuk melakukannya."
Aku mencium pipinya dan tersenyum padanya.
"Ya ya, aku tahu itu romantis, imut, dan lain-lain, tapi apa yang harus kulakukan?"
"Beli alat tes kehamilan, cari beberapa pamflet tentang keluarga berencana, dan beli juga cokelat yang banyak, dan katakan kau punya kejutan untuknya," usulku. "Kemudian, kalau seandainya dia tidak hamil. Bilang saja kalau kau menjadi bersemangat ketika melihat gejala-gejala itu."
"Terima kasih!" Serunya, meraihku dalam pelukan. "Kau yang terbaik!"
"Lepaskan gadisku, Dem," kata Edward, masih tergeletak malas di sofa.
"Kupikir aku akan mengadopsimu sebagai adik baruku," kata Demetri. "Kau sangat membantu jauh lebih baik daripada pria cantik di sana."
"Tunggu sampai kau harus pergi keluar pada tengah malam berjalan untuk mencari makanan untuk istrimu yang mengidam," kata Edward. "Aku masih ingat bagaimana lelahnya Ayah ketika Ibu sedang mengandungmu."
"Kau hanya cemburu, bro," dia menyeringai. "Sampai jumpa. Semoga kita bertemu lagi, Jane!"
"Senang bertemu denganmu juga!" teriakku sambil mendengar pintu tertutup.
"Jadi, itu adikku," kata Edward, nyengir. "Siapa yang paling kau suka?"
"Hmm, yah, itu pertanyaan yang sulit," godaku. "Kurasa aku akan memilih...Demetri, tentu saja!"
"Oh, gadis kecil, kau akan menyesal." Katanya sambil menggelitikku.
