Disclaimer : Vocaloid - Yamaha & Crypton
Perhatian! Cerita ini mengandung typo(s), sedikit gore, OOC, EYD yang salah, alur yang berantakan dan lain lain.
LET THERE BE LIGHT
Chapter 10 – Closer
.
.
Len mengacungkan pedangnya kepada iblis iblis yang menggeram marah di hadapannya. Genggaman pada tangannya menguat bersamaan dengan kuda kuda siap tempur saat para iblis itu mulai melangkah maju perlahan. Len melihat ke balik bahunya, nampak si wanita sedang menyembuhkan luka luka si pria. Kondisi si wanita juga tak kalah buruknya, keringat sudah membanjiri tubuhnya, nafsnya sudah tidak teratur, terlihat jelas jika ia sudah kehabisan tenaga.
Len kembali fokus pada iblis iblis yang menggemertakan paruh kehadapannya. Len mengamati sekitarnya, masih ada delapan dari mereka yang tersisa sedangkan ia dan Neru harus melindungi kedua orang dibelakangnya sembari menunggu Kaito dan Mikuo sampai ke sini. Beberapa iblis menerjang cepat, sebisa mungkin Len menghalang mereka, tembakan kedua dan seterusnya diluncurkan Neru yang tepat mengenai sasaran, namun sayangnya iblis iblis ini lebih tangguh dari pada yang mereka duga. Beberapa dari mereka mampu berdiri lagi meskipun sudah dilubangi peluru, sedangkan sisanya yang sudah terkena serangan bola api Yuuma berhasil ditaklukan.
Len menebas secara horizontal, tetapi Chima adalah iblis yang lincah, mereka dengan mudah menghindar dengan satu lompatan kebelakang. Len menahan serangan serangan yang di arahkan kepadanya membuatnya fokus bertahan tanpa ada kesempatan menyerang. Beberapa Chima melompat menghindari peluru peluru Neru, kondisi mereka sedang tidak beruntung, Chima itu sudah mengetahui keberadaan Neru dan mulai terbiasa menghindari tembakannya. Sementara Len sedang kesulitan, masih ada enam dari mereka yang sedang membuka paruh bersiap menyantap manusia di hadapannya.
Len mencoba mengeluarkan kemampuan teleportasinya, tapi sekali lagi iblis iblis itu kembali membuatnya terkejut. Mereka bereaksi terhadap lintasan sihir yang Len buat dengan menghindarinya, Len terpaksa menghilangkan lintasan sihirnya, nampak jelas bahwa kemampuannya tidak cukup berguna.
'Mereka bisa melihatnya? Apa mungkin setiap iblis bisa melihat lintasan sihir yang kubuat? Nocrs rabun saat siang hari jadi mereka tidak bisa melihat lintasan sihirku. Maka dari itu, sepertinya teori akan iblis yang bisa melihat lintasan sihirku itu benar.'
Len semakin tersudut, sementara ia bertahan dan melindungi kedua orang di belakangnya, Neru mencoba menyerang sembari melindungi titik yang tidak bisa dilihat oleh Len. Bertahan dan menghindar, Len tidak pernah punya kesempatan untuk menyerang, satu lawan enam bukanlah kondisi yang bagus. Dalam keadaan yang terdesak, seseorang melesat memukul mundur iblis iblis dalam kepulan asap.
"Kau terlalu cepat, Mikuo. Setidaknya biarkan ketua dari tim ini mendapatkan adegan yang keren." Ucap seorang yang lain yang datang menyusul.
"Kalian datang tepat waktu, aku dan Neru cukup kesulitan."
"Kau bisa bernafas lega jagoan. Kini bala bantuan telah datang." Ucap Kaito yang berhasil menyusul mereka. "Len, kau dan Mikuo yang akan menghajar mereka. Jangan khawatirkan dua orang itu, kalian bisa mengandalkanku untuk melindunginya."
Len dan Mikuo menyanggupi perintah ketuanya, keduanya melesat maju ke kumpulan iblis yang tersisa. Dengan bantuan Mikuo, kini pertempuran lebih mudah bagi Len, ia mempunyai rekan yang melindunginya saat fokus menyerang. Hal itu juga berlaku kepada Mikuo. Len dan Mikuo, dua prajurit yang selaras dalam satu simphoni menjadikan mereka tim yang solid.
"Serangan dari arah kiri, Len." Kaito memperingatkan. Kemampuannya sangat berguna untuk mengetahui rencana musuh. "Mikuo, mereka menggunakan serangan tipuan, mundur saat serangan berikutnya."
Mikuo dan Len sebagai penyerang, Kaito sebagai pembaca taktik musuh, dan Neru yang melancarkan serangan bantuan. Mereka memilliki peran masing masing. Dengan kekompakan mereka para iblis itu dengan mudah dikalahkan. Mereka tersenyum puas melihat mayat iblis yang bergelimpangan dihadapan mereka. Gleipnir adalah tim yang hebat.
.
.
Setelah berhasil menyelamatkan pria dan wanita itu. Gleipnir membawa mereka segera ke tempat aman untuk pengobatan. Jam makan siang sudah lama terlewat mengingat hari kini sudah beranjak sore, mereka semua menatap buas kepada mangkuk berisi makanan yang baru disajikan. Len tersenyum hangat mengingat kejadian hebat yang dialaminya hari ini.
"Len…" Panggilan seseorang membuyarkan memori yang menyeruak ke dalam benaknya. Neru duduk di hadapannya tengah menatapnya menunggu perhatian yang ia berikan. "Aneh sekali… kenapa kau tidak menggunakan kemampuanmu melawan mereka?"
"Aku rasa itu tidak akan berguna… mereka bisa melihat lintasan sihir yang kubuat."
"Yang benar?! Kalau begitu kemampuanmu memiliki kelemahan lebih dari membebani tubuhmu?!" Seru Neru tak percaya.
"Lintasan sihir itu… sebuah benda yang berbentuk garis dan mengeluarkan cahaya?"
"Kenapa kau bisa mengetahuinya, Kaito?" Len terkejut.
"Aku bisa melihatnya. Tapi melihat reaksi kalian aku tidak yakin kalau semua orang bisa melihatnya."
"Aku juga tidak bisa melihatnya. Ini sungguh mengejutkan sekali." Ucap Mikuo di sela pembicaraan.
"Jangan terlalu terkejut begitu. Aku juga berasal dari Tempat Awal, tak aneh jika aku bisa melihatnya. Kurasa semua orang di Tempat Awalbisa melihatnya."
"Tempat Awal?" Tanya Mikuo bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
"Oh kau belum tahu ya… itu adalah tempat di mana aku dan Len menghabiskan waktu sebelum bergabung dengan Kaum Domba. Tempat yang menjadi awal segalanya bagi kami berdua dan teman teman kami. Tempat Awal merupakan sebuah penampungan terhadap anak anak yang memiliki kemampuan unik."
"Lalu… di mana orang orang dari Tempat Awal selain kalian?"
"Mereka tewas saat serangan iblis ke Tempat Awal. Aku dan Len berhasil menyelamatkan diri. Tetapi aku yakin ada beberapa yang berhasil juga, entah siapa dan di mana mereka sekarang."
Mikuo menutup mulutnya rapat. Ia merasa bersalah telah membuka kembali kenangan buruk seseorang. Segera ia fokus kepada makanannya, menarik jauh keinginan untuk bertanya lebih jauh lagi. Keheningan melanda sejenak, Neru mengasingkan dirinya memberikan makanan kepada dua orang yang telah mereka selamatkan.
"Terima kasih…" Ucap si wanita terisak.
"Tidak masalah." Neru tersenyum ramah. "Bisa kalian ceritakan siapa kalian dan apa yang telah terjadi kepada kami?"
"Namaku Miku, dan dia Yuuma." Miku menyantap sedikit makanannya sebelum melanjutkan bercerita. "Kami adalah penyihir dari Akademi Sihir di daerah selatan. Kami sedang menjalankan tugas untuk dipromosikan menjadi Laskar Magisi Edenia."
"Sebuah misi?" Tanya Neru.
"Membebaskan para penyihir tawanan Kaum Serigala yang berada di utara Cathair."
"Miku! Kau tidak seharusnya mengatakan itu kepada mereka berdua! Ini sebuah misi rahasia!" Protes Yuuma
"Tidak apa, mereka telah menyelamatkan kita. Aku percaya kepada mereka."
"Akademi hanya mengirimkan kalian berdua saja?" Neru mengerutkan keningnya melihat heran kepada mereka berdua.
"Tentu saja tidak, kami memiliki sepuluh orang dalam menjalankan misi ini. Tapi kami berdua terpisah cukup jauh dengan mereka akibat serangan iblis yang sangat banyak." Ucap Miku dengan nada murung. Ia menaruh mangkuk makanannya, menatap lekat pada setiap anggota Gleipnir "Maka dari itu… aku memohon kepada Gleipnir untuk mempertemukan kami dengan teman teman kami! Aku akan melakukan apapun sebagai bayarannya!" Neru dan yang lainnya sangat terkejut ketika melihat Miku yang bersujud tanpa ragu.
"Hentikan Miku!" Seru Yuuma mencoba menghentikan kelakuan rekannya namun Miku tak bergeming.
Matahari sudah bergerak menenggelamkan dirinya. Cahaya senja perlahan tergantikan dengan kegelapan pekat yang menyelimuti. Perasaan berkecamuk menyeruak dalam benak setiap orang seiring kegelapan menelan seluruh pengelihatan, sungguh tak diduga gadis yang telah mereka tolong meminta mereka ikut campur dalam misi yang berbahaya.
"Apa yang harus kita lakukan, ketua?" Tanya Mikuo bingung menanggapi kondisi ini.
"Siapa yang tega mengabaikan permohonan seorang gadis yang berlutut tanpa ragu?"
TO BE CONTINUED
.
.
Pojok Author :
Maaf telat, saya sedikit buntu.
Sampai bertemu di chapter depan!
