.
.
Ini aku. Orang yang mengenalmu dan pernah menyimpan rasa untukmu. Apa kabar? Doaku, kau baik-baik saja, seperti halnya aku di sini.
Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa dan berbicara? Kau menghitungnya kah, atau hanya aku saja? Ah, mungkin aku terlalu berharap kau dapat mengingatnya, hahaha...
Ada banyak hal yang berubah di sini. Terlalu banyak hingga aku tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Seharusnya kau. Ya, kau. Sosok rupawan yang selalu memasang telinga untuk mendengar celotehku. Sosok ceria yang mampu menghiburku, dan sosok istimewa yang secara perlahan masuk ke hatiku.
Ini terlalu konyol. Bahkan aku masih mengingatmu di saat kau mungkin sudah melupakanku. Huh, mungkin itu kebodohanku.
Ya. Itu memang kebodohanku, sebab sampai saat ini kau masih berhasil memenangkan hatiku.
.
.
D. K. S
Aku menghembuskan napas berat seraya melipat surat yang ada di tanganku kemudian memasukkannya kembali ke saku jaketku. Aku menggigit bibir bawahku dengan cemas. Ini sudah surat kelima yang kutulis namun surat tersebut tidak pernah terbaca oleh orang yang kumaksud sebab ketakutan dalam diriku menahan surat ini untuk berada di loker seseorang. Sekali lagi aku menghembuskan napas berat sebelum akhirnya kakiku melangkah, menjauhi tempat di mana loker para mahasiswa berada.
Ah, mungkin kalian belum mengenalku. Kalau begitu aku akan mengenalkan diriku secara singkat saja. Aku Do Kyungsoo, dan aku mencintai teman masa kecilku.
Kenapa? Apa kalian bertanya-tanya mengenai surat yang aku tulis itu?
Kalian penasaran? Haruskah aku menceritakannya kepada kalian?
Ya, baiklah. Aku akan menceritakannya, meski hanya sedikit.
Ini kisahku.
Lelaki itu bernama Kim Jongin. Tubuhnya yang proporsional serta wajahnya yang tampan menjadi daya tarik lelaki itu untuk memikat siapapun yang melihatnya, termasuk aku. Aku mengenalnya sejak kecil, ketika ia dan keluarganya pindah rumah enambelas tahun silam. Ketika kecil Jongin merupakan sosok yang ceria dan mudah berteman dengan siapa saja. Kebanyakan dari mereka yang mengenal Jongin selalu mengatakan jika Jongin adalah sosok teman yang tidak membosankan ketika diajak bermain, dan aku menyetujui itu. Namun lambat laun, seiring bertambahnya usiaku, juga usia Jongin, mulai terjadi beberapa perubahan dalam dirinya. Jongin bukan lagi sosok yang ceria meski memang bibirnya masih sering mengulas senyum pada siapapun yang menyapanya. Jongin pun cenderung membatasi dengan siapa dia berteman. Aku heran, tentu saja. Namun aku tidak mampu menanyakan penyebab perubahan dirinya karena kupikir aku tidak memiliki hak untuk melakukan itu. Meski demikian, aku tetap mencoba menjalin pertemanan baik dengannya, mengabaikan orang-orang yang mulai menggunjingnya karena sikap dinginnya.
Setelah satu tahun, aku bersyukur karena usahaku membuahkan hasil. Pertemanan yang kurajut bersamanya membawaku pada satu fakta yang mengejutkan, fakta yang menjadi penyebab berubahnya sosok ceria Kim Jongin. Perceraian orang tuanya.
Orang tua Jongin bercerai karena beralasan tidak ada lagi kesamaan dalam komitmen yang mereka miliki. Berdasarkan cerita Jongin, orang tuanya selalu ribut, menyalahkan satu sama lain perihal kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya. Sebagai anak, Jongin hanya bisa diam karena ketika itu ia tidak tahu hal apa yang harus dilakukan. Ia hanya mampu menahan sesak pada dadanya, panas pada matanya, juga rasa takut pada hatinya. Hingga usianya memasuki tahap remaja serta pola pikirnya semakin berkembang, ia tahu, bahwa harus ada 'topeng' yang terpakai di wajahnya demi menutupi aib keluarganya.
Mungkin aku seseorang yang picik, karena dengan alasan itu, aku berusaha masuk semakin dalam ke kehidupan Jongin dan berusaha mengalihkan seluruh perhatiannya dari rasa sakit yang ada.
Aku berhasil. Aku mampu membuat Jongin perlahan-lahan kembali menjadi dirinya sendiri. Namun sayangnya, kedekatanku dengan Jongin membawa petaka untukku.
Aku. Jatuh. Cinta.
Tiga kata itu mungkin akan menjadi mudah jika saja hal yang kurasakan ini berada pada garis seharusnya. Aku tidak mungkin mengacaukan garis itu meski aku ingin, karena pada akhirnya, kenyataan pahitlah yang tetap aku dapatkan.
Aku dan Jongin berbeda.
Aku menyukai pria, sedangkan ia menyukai wanita.
Konyol, bukan?
Lantas, apa yang mendasariku menulis surat seperti itu?
Itu karena Jongin mengetahui orientasi seksualku, dan ia menjauhiku.
Miris.
Mungkin ia jijik berdekatan dengan orang yang sebagian besar dianggap tidak normal oleh orang-orang di luar sana. Atau mungkin ia marah karena telah dicintai oleh orang bergender sama dengan dirinya. Entahlah. Aku tidak pernah menanyakan alasannya sebab aku terlalu malu hanya untuk bertatap muka dengan Jongin.
Lelaki itu terlalu sempurna untukku, dan aku tidak mau menjadi penyebab kekacauan dalam hidupnya.
Ini sudah berlangsung selama satu setengah tahun Jongin menjauhiku. Banyak hal yang berubah dalam keseharianku, salah satunya yaitu tidak ada lagi sosok tampan yang selalu bersamaku setiap harinya. Sosok itu telah pergi bersama kehidupan damainya di luar sana. Aku hanya mampu memandangnya dari jarak jauh. Menyimpan baik-baik paras tampannya dalam ingatanku serta melantunkan doa akan kebahagiaan yang menyertainya.
Aku tidak bisa menuntut apapun padanya, termasuk perasaanku terhadapnya, karena sekali lagi, aku berbeda.
Ah, rasanya aku mau menangis saja. Kenapa hidupku harus semiris ini? Adakah yang bisa kusalahkan atas orientasi seksualku?
Tidak. Tidak ada yang harus disalahkan untuk itu sebab Tuhan sudah menuliskan semua skenarionya untukku. Ya, itu menurutku.
Hanya saja, pandangan jijik mereka terhadapku terkadang menggangguku, membuatku malu dengan apa yang kurasa. Haruskah aku berusaha untuk menyukai wanita, atau tetap membiarkan diriku seperti ini hingga akhirnya Tuhan memberikan jawabannya untukku?
Aku... bimbang.
Menyukai wanita atau membiarkan diriku apa adanya bukanlah hal mudah untuk kulakukan. Itu sama saja menyuruhku melakukan hal yang mustahil. Namun aku akan mencoba. Yeah, mencoba menjalani keduanya. Setidaknya aku harus membuat keputusan yang akan menentukan masa depanku.
Tetapi, aku tidak bisa menjanjikan jika diriku akan sama dengan orang normal lainnya karena perasaanku terhadap Jongin bukanlah hal main-main.
Aku mencintai Kim Jongin.
Lelaki tampan yang mampu memenangkan hatiku dengan sejuta pesona yang dimilikinya.
Jika di kehidupan ini aku tidak bisa memilikinya, aku akan berdoa pada Tuhan untuk menyatukanku dengan Jongin dalam sebuah ikatan pernikahan di kehidupan selanjutnya, sebab cinta bukanlah hal yang salah, meski itu dirasakan oleh dua manusia berjenis kelamin sama.
...karena cinta ada untuk semua, tanpa membedakan wanita atau pria.
.
.
.
End
.
.
.
Lima bulan tidak update, sekalinya update bawa tulisan gak jelas kaya gitu/tunjukatas/. Ya, itulah aku. Maafkan sudah menghilang berbulan-bulan, ya. Kuliah menuju semester tua itu makin menyita waktu santai, huwaaaaaaa. Semester ini aja sudah banyak daftar tugas, padahal baru dua minggu masuk. Ditambah kesehatanku sedang terganggu, makin-makin deh rasanya.
Oh, tulisan di atas entah masuk akal atau tidak, aku menulisnya berdasarkan kalimat-kalimat yang mengalir di otakku. Surat itu juga buatanku, dan aku sempat mempublishnya di IGku semalam :D Berdasarkan isi suratnya, adakah yang merasakan hal seperti itu?
Info penting. Untuk drabble ini aku tidak tahu mau membuatnya sampai chapter berapa. Aku benar-benar kesulitan mendapatkan ide karena kesibukan di kampus. Kalau sudah tidak ada ide, terpaksa drabble ini akan tamat di chapter ini atau mungkin chapter depan. Tetapi, sekali pun aku tetap melanjutkan drabble-drabble ini, aku tidak bisa menjanjikan untuk mempublish dalam waktu cepat. Aku akan mempublish chapter baru kalau ada ide dan waktu untuk mengetiknya. Mohon maaf ya. Kuharap kalian tidak kecewa dan terima kasih sudah membaca semua karyaku. Aku menyayangi kalian/pelukerat/
Mohon maaf aku tidak bisa membalas review kalian maupun menuliskan nama kalian di sini karena aku pun mengetik ini sambil mengerjakan tugas. Meski begitu, aku sangat berterima kasih karena kalian selalu mengapresiasi karyaku yang engga seberapa ini. Kalian hebat! Kalian mampu mengantarkan rasa bahagia padaku hanya dengan kalimat-kalimat yang kalian tulis di review. Sekali aku mengucapkan terima kasih untuk kalian ^^
.
.
.
Yang berkenan dan ikhlas...
Bisa memberikan reviewnya untukku?
Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*
.
.
.
Terima kasih ^^
