Our Wedding

Chapter 10

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Our Wedding by Sora Hinase

Pairing : NaruSaku, SasuHina

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OC, OOC, Typo, ide pasaran, no edit, dsb.

Don't like? Don't read!

Selamat menikmati~

.

.

.

.

.

-Sasuke-

"Sebentar aku ambil undangannya dulu," ujarku sebelum berdiri dan berjalan ke arah kamarku dan Hinata.

Niatnya aku cuma akan mengambil undangan yang ada di dalam tas kerjaku tapi saat aku akan keluar kamar aku mendengar handphone Hinata berbunyi, aku melangkah kembali ke arah nakas dan mengambil handphone Hinata, tercantum '1 pesan dari ' yang membuat aku menyernyitkan dahiku, untuk apa dr. Shizune menghubungi Hinata? Setahuku dr. Shizune adalah adik dr. Tsunade, dokter yang menangani kehamilan Hinata dari Hinata mengandung Hikari sampai Hoshi. Beberapa kali kami sempat bertemu di tempat praktik dr. Tsunade di Suna sedangkan dr. Shizune sendiri membuka praktik di Konoha.

Hinata, aku sudah berbicara dengan dr. Tsunade dan beliau akan datang ke sini minggu depan, kamu sudah berbicara dengan Sasuke bukan?

Itu adalah pesan yang tercantum dari dr. Shizune, tapi apa yang harus Hinata bicarakan denganku? Bahkan Hinata tak bercerita kepadaku bahwa dia menemui dr. Shizune. Jika Hinata sudah menemui dr. Shizune pasti ada surat hasil pemeriksaan dari klinik oleh karena itu aku membuka laci meja rias Hinata dan benar di dalam laci itu ada amplop putih dengan lambang klinik dimana dr. Shizune bekerja, aku buka amplop itu dengan jatung yang berdebar semakin kencang takut akan apa yang ada di dalam amplop tersebut. Ada beberapa lembar isi amplop itu tapi begitu aku membaca tulisan di kertas teratasnya seketika itu kemarahan langsung menguasaiku. Bahkan hanya membaca judulnya saja sudah cukup membuatku terasa mati rasa.

'Formulir Persetujuan Aborsi.'

"Papah, kenapa lama sekali?" aku tersadar dari rasa terkejutku saat mendengar suara Ko dan saat aku melihat ke arah pintu aku melihat Ko yang sedang berjalan ke arahku, sebisa mungkin aku berusaha menahan amarahku.

"Mama tanya dimana acaranya di adakan? Dimana Papah?"

"Bilang ke Mama acaranya di adakan di tempat klan Nara, Ko langsung tidur bersama Kak Hika dan adik Hoshi lalu suruh Mama ke kamar," aku berusaha berbicara sehalus mungkin dengan Ko.

"Papah keluar, yang lain nunggu di luar," ujar Ko sambil menarik tanganku terpaksa aku letakan kertas yang sedang aku pegang tadi dan mengikuti langkah Ko.

"Mama kata Papah acaranya di kediaman klan Nara," ujar Ko saat kami tiba di ruang keluarga masih dengan menggandeng tanganku. Hinata langsung menatapku dan aku bisa menebak jika Hinata pasti sudah menyadari jika ada sesuatu yang salah.

"Anak-anak tidur sekarang," aku terkejut dengan suara yang aku keluarkan aku tak pernah berbicara dengan nada dingin seperti ini dengan keluargaku, aku merasakan Ko yang langsung melepaskan genggaman tangannya padaku, pasti dia terkejut. Maafkan Papah karena tak bisa menahan emosi ini. Aku lihat Hika yang langsung berdiri dan menggandeng tangan Ko, sedangkan Hinata masih menatapku, "temui aku setelah anak-anak tidur," ujarku sebelum kembali ke kamar.

#

#

#

#

#

Tak berapa lama Hinata masuk ke kamar kami, aku tak yakin anak-anak bisa tidur secepat itu tapi aku tak ada keinginan untuk menanyakan hal itu.

"Ada apa, Sasuke? Apa aku membuat kesalahan yang membuatmu marah?" ujar Hinata saat sudah berada di depanku yang tengah duduk di tepi tempat tidur.

"Katakan Hinata kenapa kamu tak ingin kita memiliki anak lagi?" aku sudah menyembunyikan amplop itu dibawah bantal sebelum Hinata datang.

"Aku hanya takut tak bisa menjadi Ibu yang baik bagi mereka, aku takut mereka akan kekurangan kasih sayang jika kita mempunyai anak lagi," ujar Hinata sambil menatap Sasuke.

"Berapa usia kandunganmu?"

"Apa maksudmu, Sasuke?" dari raut wajahnya aku sudah bisa melihat kebingungan dan kecemasan yang mulai menghampiri Hinata.

"Bisa tolong jelaskan padaku apa ini, Hinata?" ujarku sambil menunjukan amplop yang aku temukan, aku bisa melihat jika Hinata terkejut melihatnya.

"Kamu sudah membacanya?"

"Untuk apa aku membacanya! Melihat judulnya saja aku sudah muak," amarah mulai menguasai diriku lagi hilang aku tak berniat menanyakan reaksi Hinata yang justru tersenyum tipis sambil menunduk tapi walaupun tersenyum air mata mulai menuruni pipinya, tapi aku tak perduli Hinata benar-benar keterlaluan, "bagaimana mungkin seorang ibu yang telah tiga kali mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya justru memiliki pemikiran untuk melakukan aborsi? Kau tahu aku menginginkan anak itu, tapi kau justru terus membujukku dan sekarang tanpa memberi tahuku jika kau telah hamil aku justru menemukan surat pernyataan terkutuk ini," aku masih berusaha menjaga nada suaraku bagaimanapun juga aku tak ingin membuat anak-anak takut. Aku diam menunggu Hinata untuk berbicara tapi Hinata hanya diam tak coba untuk menenangkanku atau memberi penjelasan jika semua ini tak benar adanya. Hinata yang hanya diam aku artikan jika memang Hinata ingin membunuh anak kami dan itu benar-benar membuat kesabaranku habis tanpa bisa mengontrol emosiku aku berteriak, "aku kecewa padamu!"

Aku meninggalkan kamar, aku harus pergi dari rumah untuk menenangkan diriku sebelum aku benar-benar lepas kendali. Aku terus berjalan menuju pintu depan sebelum suara Hika menghentikanku.

"Papah hiks jangan pergi," aku membalikan badanku dan melihat Hika yang sedang menangis, kedua pipinya telah dialiri air mata.

"Papah hanya pergi sebentar, jangan menangis," ujarku sambil menyamakan tinggi badan kami dan menghapus air matanya, "saat besok pagi Hika bangun pasti Papah sudah di rumah, sekarang Hika kembali ke kamar dan jaga adik-adik," ujarku sebelum mencium keningnya dan kembali melanjutkan langkahku untuk pergi ke luar.

.

.

.

.

.

-Sakura-

Sudah lama sekali kami tidak seperti ini, tidur berhadapan sambil berbincang-bincang.

"Ngomong-ngomong tadi ada undangan yang datang," ujarku masih dengan posisi tidur menghadap Naruto.

"Undangan apa?" tanya Naruto sambil memainkan rambutku dengan jari-jarinya.

"Undangan pertemuan antar klan, acaranya diadakan di kediaman Shikamaru."

"Kapan acaranya dan apa Shina mau ikut? Dia tak suka memakai kimono bukan?" tanya Naruto masih dengan memainkan rambutku, memang Shina selalu cemberut jika disiruh memakai kimono tapi dia tak pernah mengucapkannya secara langsung, ya Shina tak pernah mengeluh apapun yang kami lakukan dia akan menerimanya tanpa mengeluh sedikitpun tapi mungkin yang paling membuat Shina tak suka bukan karena menggunakan kimono dengan lambang klan kami, pakaian yang selalu digunakan disaat-saat tertentu termasuk acara tahunan seperti pertemuan antar klan, yang paling tak disukai Shina adalah berada ditempat ramai. Sejak pertama kami membawanya ke acara-acara tertentu dia memang selalu menangis dan meminta pulang hanya sejak mulai masuk sekolah dasar Shina hanya akan duduk manis atau justru tertidur.

"Dua hari lagi, Shina sudah bertambah besar lagi pula dia pasti akan menuruti semua keinginan kita apa lagi jika itu membawa nama keluarga kita."

"Ya, kita sangat beruntung memiliki anak sepenurut dia, sudah malam, tidurlah," ujar Naruto sebelum mencium keningku dan aku hanya bisa tersenyum sebelum ikut memejamkan kedua mataku. Mencoba tidur sebelum kata-kata Shina melintas kembali, "Ayah suka menelpon seseorang saat tengah malam."

Mungkin aku perlu memastikan hal ini. Aku pura-pura tertidur menunggu waktu sampai Naruto terbangun tapi cukup lama aku menunggu sepertinya Naruto tak beranjak dari tidurnya jadi aku putuskan untuk mulai tidur, sebelum aku merasakan ranjang kami sedikit berderik, aku tetap memejamkan mataku sampai mendengar pintu yang tertutup. Setelah itu aku keluar perlahan mengikuti Naruto, aku melihat Naruto yang sedang membuat minuman sementara telepon genggam sudah menempel ditelinganya.

"Apa Hana marah?"

"..."

"Maafkan aku, mungkin aku tidak bisa ke sana dalam waktu dekat."

"..."

"Ya, Shina sudah sehat."

"..."

"Baiklah aku akan menelpon lagi besok, sampaikan pada Hana jika aku sangat menyayanginya."

Hatiku sakit mendengar semua ini, air mataku mengalir tanpa bisa aku cegah. Benarkah ini keputusan yang tepat? Bolehkah aku egois, jika aku mempertahankan Naruto akan ada seorang anak yang kehilangan sosok ayahnya dan bagaimana jika ternyata Naruto sudah tak mencintaiku lagi? Tapi jika aku melepaskan Naruto adilkah ini bagi Shinachiku? Bisakah kamu juga menyayangi Shinachiku, Naruto? Bukankah kamu yang paling menginginkah kelahiran Shina? Tuhan kenapa putraku harus menanggung penderitaan seperti ini padahal aku selalu bergelimang kasih sayang saat aku kecil, berilah aku kesempatan untuk bisa membahagiakan putra kecilku.

.

.

.

.

.

-Hinata-

Aku terduduk di tepi tempat tidur setelah Sasuke pergi meninggalkanku, apa yang aku pikirkan? Bukankah sudah sewajarnya seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya? Perlahan aku belai perutku yang masih rata, di dalam sana ada nyawa baru yang dinantikan oleh Sasuke, air mataku mengalir semakin deras, Sasuke menginginkan anak ini begitupun janin ini yang sedang berjuang untuk hidup jadi kenapa aku mempunyai pemikiran gila ini? Kenapa aku bisa memiliki pemikiran gila ini?

"Maaf kan Mama, Sayang. Maaf."

"Mama hiks," aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara dan di sana ada Ko yang sedang menggandeng tangan Hoshi, ada air mata yang mengalir di kedua pipi mereka, aku buru-buru menghapus air mataku dan berjalan ke arah mereka.

"Kenapa Kakak Ko dan Hoshi menangis?" tanyaku sambil menghapus air mata mereka sebelum membawa Hoshi kedalam gendonganku, Hoshi masih sesenggukan tapi langsung menyandarkan kepalanya di bahuku lalu aku menuntun Ko supaya kami bisa duduk di atas tempat tidur.

"Papah teriak hiks Ko sama adik jadi kaget," ujar Ko sambil mengusap matanya yang berair aku mengusap rambut Ko dengan tangan kananku sementara tangan kiriku memegangi Hoshi yang saat ini berada di pangkuanku.

"Apa Ko nakal jadi Papah marah?"

"Papah tidak marah sama Ko-"

"Mama, Papah pergi," ujar Hika yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar memotong ucapanku sambil menangis membuat Ko semakin keras menangis dan Hoshi yang sudah tenang juga ikut menangis lagi.

"Mama hiks Papah mana?"

"Ssttt sekarang kalian tidur, ya? Ini sudah malam, besok pagi saat kalian bangun pasti Papah sudah ada di sini," aku berusaha membujuk anak-anak untuk tidur, walaupun sulit karena mereka terus menanyakan ayah mereka.

Setelah memastikan anak-anak sudah tertidur aku melangkahkan kakiku menuju ke ruang tamu untuk menunggu Sasuke, berharap Sasuke akan segera kembali ke rumah. Pikiran negatif mulai menghantuiku, bagaimana jika Sasuke tidak kembali? Bagaimana jika Sasuke tak memaafkanku? Sasuke, aku mohon cepatlah pulang. Tak lama setelah itu aku sangat bersyukur karena Sasuke benar-benar pulang hanya saja dia bahkan tak memandangku, segera saja aku menyusulnya dan memeluknya dari belakang sebelum Sasuke masuk ke kamar kami.

"Aku mohon jangan seperti ini Sasuke, aku akan menjaga anak ini, aku juga menyayangi anak ini sama seperti aku menyayangi ketiga anak kita," air mataku kembali mengalir.

"Jika kamu menyayanginya kenapa kamu berfikiran untuk membunuhnya, Hinata?" Sasuke tak pernah sedingin ini saat berbicara kepadaku.

"Anak-anak masih kecil aku hanya tak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan dulu."

"Kita sudah sering membicarakannya, Hinata. Anak-anak tidak akan merasakan apa yang aku alami karena aku tidak akan memaksakan kehendakku kepada mereka dan aku akan selalu ada untuk mereka. Mereka juga tidak akan merasakan apa yang pernah kamu rasakan, karena ada kamu di sini, kita selalu ada untuk mereka dan kita tak akan membeda-bedakan mereka. Kita akan bekerja sama, jadi apa yang kamu takutkan? Bukankah kamu yang berkata seperti itu?" ujar Sasuke sambil membalikan badan dan memelukku, "jadi sudah berapa usianya?"

"Sekarang sudah 6 minggu," jawabku sambil balas memeluknya. Ya, Tuhan berikan aku kekuatan setidaknya sampai anak ini lahir.

.

.

.

.

.

-Naruto-

Aku terbangun saat mencium aroma yang sangat menggugah napsu makanku, aku langsung bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju aroma ini berasal. Saat aku sampai di dapur aku melihat Sakura yang sedang berkutat di depan kompor.

"Ramen untuk sarapan? Apa tidak masalah Sakura-sensei?" ujarku sambil memeluk pinggang Sakura dari belakang, aku bisa merasakan tubuh Sakura menegang untuk sesaat.

"Sesekali tidak apa-apakan? Karena ke dua jagoanku sangat menyukai ramen," ujar Sakura sambil melepaskan dekapanku, "bisa tolong bangunkan Shina sementara aku akan menyiapkan sarapan untuk kita?" lanjutnya saat sudah menghadapku.

"Baiklah, tapi sebelum itu-"

Cup~

"Kamu bahkan belum cuci muka dan menggosok gig!"

Aku hanya tersenyum mendengar teriakan Sakura sesaat setelah aku mencium bibirnya. Aku melangkahkan kakiku ke kamar Shina, aku buka pintunya dan berjalan ke arah tempat tidur Shina.

"Shina bangun," aku tepuk kakinya pelan, seketika Shina langsung membuka matanya, Shina memang anak yang mudah dibangunkan.

"Coba tebak Ibu masak apa untuk sarapan?" ujarku sambil membuka gorden di kamar Shina. Shina tak menjawab hanya bahkan seperti enggan menatapku.

"Mau mandi sama Ayah? Ayah juga belum mandi," ujarku mendekati Shina yang saat ini sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil menundukan kepalanya.

"Aku sudah besar," ujar Shina tanpa menatapku.

"Baiklah jagoan Ayah memang sudah besar, kalau begitu cepat bersiap-siap, Ibu sudah menunggu kita," ujarku sebelum mengacak rambut Shina dan keluar dari kamarnya. Aku tersenyum kecut karena sepertinya Shina masih enggan berdekatan denganku entah apa yang membuat Shina bisa bersikap seperti itu. Tapi aku tak akan menyerah, Sakura telah memberikan lampu hijau dalam pernikahan kami dan aku takka menyia-nyiakannya. Impianku untuk memiliki keluarga yang sempurna bersama Sakura dan anak kami pasti akan terwujud dan memang harus terwujud.

.

.

.

.

.

Acara Pertemuan Antar Klan

Author POV

Ruangan aula di mension Nara sudah hampir penuh dengan para undangan yang menggunakan pakaian kimono khas masing-masing klan, diujung ruangan ada sebuah panggung yang tak terlalu tinggi sedangkan di depan panggung itu telah tersusun rapi meja-meja bundar berserta kursinya di tepinya terjejer rapi hidangan yang bisa dinikmati para tamu. Kain-kain di atas dibentuk sedemikian rupa menbuat langit-langit aula itu tambak makin cantik dengan kombinasi warna biru dan putih, juga rangkaian bunga mawar biru dan butih yang tersebar di ruangan itu dengan berbagai variasi makin mempercantik ruangan itu. Di salah satu meja Sakura dan Naruto sudah duduk bersama dengan perwakilan dari Klan Yamanaka, Ino sudah duduk di sana sedang mengobrol bersama dengan Sakura hanya saja suami Ino, Sai tak terlihat di manapun sedangkan Naruto sedang berbincang dengan Shikamaru yang sedang menyapanya. Shinachiku? Dia sedang merebahkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang di tumpukan sebagai bantalan.

"Bukankah itu Sasuke dan Hinata?" tiba-tiba ada suara tak jauh dari mereka yang membuat mereka menghentikan pembicaraan mereka.

"Dulu aku kira Sasuke dan Hinata tak akan bahagia karena mereka dijodohkan tapi lihat sekarang," ujar orang lainya membuat mereka melihat ke arah pintu utama dimana orang yang sedang mereka bicarakan sedang berjalan masuk. Terlihat Sasuke yang sedang menggendong seorang balita dan di sebelahnya ada Hinata, di depan mereka ada dua anak laki-laki dan perempuan yang berjalan sambil bergandengan tangan. Melihat mereka senyum Shina merekah dan lansung beranjak dari duduknya tanpa menyadari kedua orang tuanya yang sedang membeku di tempat. Mereka cukup terkejut bertemu Sasuke di sini bagaimanapun Sakura pernah hampir menikah dengan Sasuke dan Naruto juga tahu jika Sakura mencintai Sasuke dan mereka semakin terkejut saat melihat senyum Shina juga tindakan Shina yang langsung mendekati keluarga Uchiha tersebut.

"Paman Sasuke, Bibi Hinata apa kabar?" tanya Shina saat sudah ada di depan mereka.

"Kami baik Shina, kamu sudah sembuh?" ujar Hinata sambil menyentuh pipi Shina.

"Sudah Bi," jawab Shina sambil tersenyum, "hallo, Ko," sapanya sambil mengajak Ko untuk melakukan tos, "dan hallo Hoshi," ujar Shina sambil mencium pipi Hoshi.

"Kamu tidak menyapaku?" tanya Hika sambil menatap Shina sambil berkacak pinggang.

"Untuk apa aku menyapamu? Kita sudah bertemu setiap hari," jawab Shina sambil menyeringai.

"Ish kenapa sih kamu mesti ada di acara seperti ini," ujar Hika sambil cemberut.

"Aku juga sebetulnya tidak mau hadir."

"Kenapa tidak mau hadir?" tanya Sasuke sambil mengusap rambut Shina.

"Bukan apa-apa Paman," ujar Shina sambil tersenyum, "ayo aku kenalkan kepada orang tuaku yang ada di sana," lanjut Shina sambil menunjuk meja dimana kedua orang tuanya berada. Terkejut? Sejujurnya baik Sasuke maupun Hinata sudah menduga jika mereka akan bertemu Naruto dan Sakura di acara ini, mereka juga sudah menebak jika kemungkinan Shina adalah anak Naruto dan Sakura meskipun mereka tak menanyakan marga Shina tapi sudah terlihat kemiripan Shina dengan kedua orang tuanya hanya saja bertemu dengan orang yang pernah mengisi hati istrimu bukanlah hal yang mudah, bagaimana jika Hinata masih mencintai Naruto? Itulah ketakutan Sasuke sedangkan Hinata bagaimanapun di depan sana ada perempuan yang pernah hampir menjadi istri suamimu dan orang itu kini telah menikah dengan laki-laki yang pernah kamu cintai. Bagaimana jika kalian berada di posisi mereka?

.

.

.

.

.

TBC

Sora ucapkan terima kasih buat yang udah baca, review, fav dan follow fic ini. Kalian adalah penyemangat Sora.

Balas review :

Ana, sasuhina always, Uchiha Cullen783 : Eerr adanya ide cuma segitu, udah tau sasu kenapa kan? Ini udah lanjut... Terima kasih :)

.29, Guest (1), Aldrin952, NurmalaPrieska, balay67, SR not AUTHOR, ade854 II, keta, Manasye, kori, Guest (2) : Ini udah lanjut, terima kasih :)

IkaS18 : Kita lihat aja nanti, terima kasih :)

Silent : Wah kamu sepemikiran ama Sora betul-betul emang itu yang terjadi ya ngga mungkin ada asap kalo ngga ada api, bagaimana dengan SHnya? Ini udah lanjut, terima kasih :)

Rapita azzalia, Sabaku No Mei : Disini mereka ketemu :D ini uda lanjut terima kasih :)

Nami-Aika71 : Eerr ini belum puncak konfliknya jadi jelas masih ada yg lebih menyakitkan untuk Saku dan Shina tapi pasti ada saatnya mereka bahagia ko :) Terima kasih :)

Garnetta : Yup kamu sedikit nebak hubungan sakunarukarin itu benar tapi ntar Sora emang ada cerita sendiri :D Terima kasih :)

YogaVioletta10 : Sora belum ada bayangan sih jadi tergantung mood Sora apa mau panjang apa mau tiba2 dibikin end wkwk terima kasih :)

NorioNakagawa : Ini udah lanjut, nanti ada saatnya mereka bahagia, terima kasih :)

Review adalah bahan bakar buat Sora jadi ada yang bersedia mereview fic Sora? ^^

Purwokerto, 17 April 2016

Salam hagat,

Sora H.