BTS – Big Hit Entertainment

berdasar video pendek bertagar Jimin selesai Wings Tour Final hari pertama

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita

.


.

.

"Kenapa kau tenang sekali?"

Taehyung meringkuk, kaki kiri dijulurkan dengan sengaja ke arah bangku depan tempat Jimin bersenandung tanpa dosa, ponsel teracung terbalik—gestur umum yang tak perlu dipertanyakan, "Oi Jiminnie."

"Apa?"

"Pakai jaketmu."

"Sebentar lagi, ah, tidak bagus, tidak bagus," Jimin masih berkutat dengan video pendek solo yang entah berapa kali direkam ulang dalam suasana remang mobil yang membawa mereka kembali ke hotel. Sepertinya ujaran hiperbolis tentang bagaimana dia nyaris tewas kehabisan tenaga selesai pertunjukan tadi langsung dimentahkan oleh perbuatannya sendiri.

Jimin dan kamera ponsel, sahabat sehidup semati.

"Pakai jaketmu, Jiminnie."

"Aku akan terlihat gendut, Tae."

Taehyung melengos, membiarkan Jungkook menggantikan dirinya menendang pelan bagian belakang bangku Jimin, "Hish! Videonya goyang nih! Kulaporkan pada Yoongi-hyung lho! Aku sudah berbaik hati menemani kalian dan mengorbankan mata suciku yang harus menyaksikan drama sabun di dalam mobil. Kiiiih. Cium kening, cium pipi. Dasar anak muda jaman sekarang. Tiba di kamar nanti aku harus bebersih otak. Minimal pakai Goblin."

"Pamrih."

"Jaga bicaramu, susu pisang berjalan. Kau pikir berkat siapa kau bisa mendapatkan seluruh set kartu Taehyungie dari konser hari ini?"

"Aku tidak minta."

Jimin melempar kantong gula dari paket kopi pesanannya ke kepala Jungkook, "Hobi-hyung! Bantu aku!"

Yang dipanggil balas mendengkur di sisi jendela mobil. Tak terusik. Sementara manajer yang berjaga di sebelah sopir hanya mengelus dada melihat perdebatan mereka dari kaca tengah, meski sesekali berpaling untuk memeriksa kondisi sepasang anak asuhnya yang sedari tadi bergerak-gerak sembari mengusapkan telapak tangan dengan gelisah. Jimin masih fokus membidik wajah mulusnya, berpaling ke kanan, memamerkan rahang hasil diet kalori yang kini berlekuk rapi, menyertakan tagar namanya, kemudian menyentuh opsi kirim diiringi keluh berdengung dari sosok-sosok yang bergelut mengeratkan luaran.

"Pemanasnya tidak bekerja," Jungkook bergelung mengangkat kaki ke atas bangku, memeluk tubuhnya sendiri sambil menyandarkan pelipis di lekuk leher Taehyung yang ikut mendesis, "Dingin."

"Kalian betulan sakit?" seloroh Jimin heran, kiranya beranggapan bahwa dua juniornya hanya berkelakar saat mereka mendadak bersin-bersin di belakang panggung. Taehyung terbatuk, kencang dan keras, sukses membangunkan Hoseok yang reflek terduduk bercampur kantuk. Kepala pemuda itu bahkan terbentur jendela karena terlalu terkejut, membuat Taehyung buru-buru menyembunyikan wajah seraya menyusut hidung, "Maaf, hyung."

"Apa kita perlu mampir ke toko obat? Sejin-hyung, bisa hubungi Namjoon? Kurasa kita butuh vitamin dan minuman hangat," Hoseok menggosok-gosok mata seraya meneguk sisa kopi milik Jimin yang kini sibuk menyodorkan jaketnya untuk tambahan selimut, "Jungkook-ah, menjauh sedikit. Kau bisa tertular."

"Aku juga flu," Jungkook menyahut ketus, tak mau beringsut barang sejengkal dari posisinya. Pun makin membulat kala Hoseok memaksa lengannya lepas dari pinggang Taehyung yang terkekeh lemah, "Tidak mau! Dingin!"

"Batukmu masih belum separah Taehyung. Dan kau bisa pakai mantelku kalau mau. Jangan menambah masalah seenaknya, kita masih punya dua hari sampai konsernya selesai. Geser!"

Pipi Jungkook melembung. Matanya yang masih mengenakan lensa kontak keabuan terlihat cukup menakutkan di bawah temaram lampu mobil. Beruntung tubuh besarnya tertutup berlapis-lapis pakaian atau Hoseok akan dibuat berjengit horor melihat bagaimana otot lengan Jungkook mencuat seram karena diusir dari zona nyaman yang diputuskan secara sepihak. Menyuruh Jungkook pindah dari sebelah Taehyung, kecuali diperintah oleh Yoongi, sama halnya dengan mengambil daging jatah dari mulut macan lapar.

"Turuti saja nasehat Hobi-hyung, Jungkook-ah. Aku tak mau suaramu hilang waktu menyanyi besok," sergah Taehyung, menerima botol air dari manajernya selagi menunggu yang bersangkutan menelepon seseorang di mobil depan. Mungkin Namjoon, mungkin pula salah satu asisten. Jungkook dapat menangkap kata 'obat' dan 'pemanas' diucapkan beberapa kali. Namun kepalanya bersikeras menggeleng, mengabaikan mata minimalis Jimin yang turut melotot menyuruhnya minggir ke bagian sudut. Lebih-lebih saat bunyi bersin Taehyung memecah keheningan, Hoseok sampai harus merapat ke jendela agar tak tersembur ingus.

"Besok tak usah ikut menari, hyung," saran Jungkook, menyeka pucuk hidung seniornya yang susah payah menghela napas, "Kalau perlu, aku akan menyanyikan bagianmu juga. Jadi hyung cuma duduk diam dan mengikuti musik perlahan-lahan."

"Aku masih cukup sehat untuk tampil seperti biasa, Jungkook-ah. Terima kasih."

"Tapi kita harus berlari-lari tiap jeda konser. Aku bersedia menggendongmu di punggung kok, hyung! Jangan sungkan! Aku sangat terlatih untuk ini!"

Taehyung terbahak pelan, dielusnya rambut pemuda itu dengan sayang, "Nanti pinggangmu cedera."

"Persetan dengan pinggang. Daripada hyung memaksakan diri."

"Kau juga butuh istirahat kan?"

"Kalau demi hyung sih, aku..."

"Bisa hentikan rayuan gombalnya? Perutku mual," Hoseok menirukan aksi pura-pura muntah diikuti Jimin yang mengabadikan percakapan itu dalam fitur rekaman video, investasi berwujud digital yang bisa dilelang untuk para penggemar jika ada kesempatan, "Aku hanya tak ingin Namjoon marah besar karena mendapati kalian terserang flu bersamaan. Setidaknya ada yang masih sanggup berdiri dengan baik tanpa harus digantikan oleh siapapun atau terhuyung di atas panggung. Ini penghabisan lho? Konser terakhir sebelum ganti tahun. Masa kalian masih bandel juga?"

Jungkook merengut lagi, lebih bebal kali ini. Jimin memilih mengirim pesan pada anggota lain agar tak perlu terlibat argumen. Bukan gilirannya melerai jika Hoseok sudah angkat bicara.

"Namjoon memintamu tukar tempat, Yoongi yang akan kemari," manajer mereka memotong percakapan sambil tetap menelepon. Mendengar nama junjungannya disebut begitu jelas, ditambah kenyataan bahwa kendaraan yang membawa sisa anggota di depan sana telah berhenti di tepi jalan, Jungkook bergegas bangkit dari sandaran dan sigap mencengkeram pegangan bangku. Satu lengan lainnya kokoh memegangi pergelangan tangan Taehyung.

"Aku tak mau pindah mobil."

Hoseok mengerenyit, telunjuknya tertuding tegas, "Jeon Jungkook, kuingatkan sekali lagi..."

"Namjoon-hyung pasti akan melarangmu berdekatan dengan Taehyungie besok malam. Atau paling buruk, mengubah nomor kamarmu dan Taehyungie detik ini juga," celetuk Jimin, mengingatkan teguran yang menjadi andalan pimpinan timnya untuk meredam siklus hormon dua pemuda tersebut. Kening Jungkook berkerut kesal, melirik Taehyung yang kembali bersin-bersin dengan tak manusiawi, lalu melempar pandang keluar jendela, memergoki dua sosok pria yang berjalan menghampiri mobil mereka dan air muka Namjoon yang sepertinya sudah tak sabar untuk menyeret juniornya keluar dari sana.

"Aku benci kalian."

"Dan aku sayang padamu," kepala Yoongi menyembul dari pintu yang dibuka dari luar. Mata mengantuk penuh intimidasi bercampur nada rendah yang justru membuat kuduk berderik, "Jin-hyung sudah repot-repot melatih sisa suaranya demi menghapal nina bobo, jadi sebaiknya kau segera pergi dan menemaninya bernyanyi. Ayo cepat, jangan buang waktu."

Kaki Jungkook bergeming, mata besarnya melipir pada Namjoon yang melipat tangan di dada.

"Apa?"

"Aku berjanji tak akan terlalu menempel pada V-hyung di konser nanti," gumamnya, mencoba memberi penawaran, "Tidak bertingkah, tidak jalan-jalan dan berangkulan seenaknya. Apapun akan kukerjakan. Asal jangan menyuruhku tukar kamar dengan Yoongi-hyung."

"Memangnya siapa yang mau tidur di bekas kasurmu, bocah?" gerutu Yoongi tak terima, siku kurusnya menyenggol rusuk kiri Namjoon yang membisu di celah pintu, "Dan apa maksudnya dengan larangan barusan? Apa kau menakut-nakutinya lagi?"

Namjoon mengangkat alis, "Aku hanya—"

"Jangan memaksakan kekhawatiranmu dengan berlebihan," sepasang mata tajamnya melirik sosok yang tengah terbatuk pelan di pojok bangku, kening terlipat tak senang, lalu beralih mengamati Jungkook yang tampak belum ingin meninggalkan mobil, "Aku bukan Jin-hyung yang bisa membujuk dengan lembut, tapi jujur saja, saat ini tak ada seorang pun diantara kita yang berpikir dengan kepala dingin. Aku tak mau tahu tentang penilaian penggemar atau segala jenis omongan sampah yang bisa mengurai nilai profesionalitas tim di mata mereka, soal kedekatan yang berlebihan, servis murahan, atau apa saja. Yang kuinginkan cuma satu. Jungkook, pergi ke mobil depan. Sekarang. Aku tak akan memakan Taehyung atau menyumbat hidungnya dengan jepitan baju. Hanya dua puluh menit sampai hotel, dan kalian bisa tidur dengan tenang setelah Taehyung meminum obatnya."

"Tapi hyung, flunya bisa menu..."

"Tutup mulut, Jung Hoseok."

"Siap."

Lengan Namjoon terjulur membantu Jungkook turun, sementara Yoongi menepuk kepalanya sekilas sebelum menaiki bangku di sebelah Taehyung. Senyum langkanya tersungging samar ketika pemuda itu menoleh dengan raut merajuk, "Aku tak peduli kalau kalian sama-sama terkena flu besok pagi. Setidaknya ada hal yang bisa membuat seseorang berhenti mengoceh tentang anak-anak nakal yang tak mau duduk terpisah."

Pelipis Namjoon berkedut, "Jadi ini salahku?"

"Selalu, Namjoon. Selalu."

"Kau tak paham kecemasanku, hyung."

"Tentu, dan aku tak akan pernah mau," Yoongi menyeringai bosan, digesuhnya dua junior itu supaya bergegas menemani Seokjin di seberang. Jungkook tak punya pilihan selain mengekor meski harus melangkah menekuk muka di dekapan Namjoon yang merangkulnya menuju mobil. Jimin balas melambaikan tangan dengan bibir maju sedikit kecewa, walau mengaku sering diisengi dan diganggu oleh dua pemuda jahil tersebut, riuhnya obrolan Jungkook dan Taehyung sepanjang perjalanan selalu berhasil menerbitkan tawa geli yang disukai Jimin. Karena alasan itu pula dia tak pernah menolak bila Namjoon memintanya duduk bersama mereka.

"Jadi sepi ya," tukas Hoseok mencoba menghibur, pun cengirnya langsung lenyap mendapati Yoongi yang sudah terpejam bahkan sebelum mesin mobil dinyalakan, "Astaga, hyung. Apa kau tak berkenan melucu atau semacamnya? Taehyung butuh teman ngobrol."

"Dia butuh tidur, bukan lelucon," sahut Yoongi acuh, sejenak berkutat dengan jaketnya untuk disampirkan menjadi lapis ketiga di atas tubuh Taehyung, "Padahal kurasa tak ada gunanya disuruh-suruh. Toh mereka akan tetap sakit walau tak harus dibawa ke klinik."

"Kok negatif begitu?" Jimin mencibir tak suka, "Siapa tahu dengan diberi jarak, flu Jungkookie tidak bertambah parah karena tak harus berdekatan dengan Taehyungie yang sudah terlanjur bersin-bersin."

Yoongi melengos, "Kau pikir aku buta? Memang siapa yang terserang flu lebih dulu di konser pertama?"

Dibentak seperti itu, Hoseok dan Jimin malah berpandangan penuh tanda tanya.

"Taehyung kan?"

Yang disebut justru terbahak lirih walau sambil terbatuk. Yoongi menopang pelipisnya di kisi jendela dan menghembuskan napas berat bak kakek tua yang sudah terlalu lelah mengamati tingkah cucu-cucunya.

"Jungkook," jawabnya datar, "Dia sempat demam dua hari sebelum kembali ke Korea karena terlalu banyak minum air dingin dan keluar hotel tanpa pelindung leher. Seharusnya dia sudah nyaris sembuh menjelang persiapan konser kemarin lusa, tapi dua bocah ini, dua bocah sialan iniiiii," tangan Yoongi terkepal berang dibarengi tawa rendah Taehyung yang tenggelam di balik rerimbunan mantel, "Mereka malah berciuman di ruang ganti. Dan...haish! Lihat akibatnya sekarang. Kalau tak ingat adik sendiri, sudah kuhaluskan kalian jadi gumpalan daging lalu kuberikan pada Holly."

Jimin terperangah. Ponselnya diremas dalam genggaman, dan Taehyung bersiaga menutup telinga sambil menghitung mundur dalam hati.

Tiga. Dua. Satu.

"KAU TAHU KAN KALAU JUNGKOOK SEDANG SAKIT WAKTU ITU?"

"Tahu, Jiminnie."

"LALU KENAPA TETAP DILAKUKAN?!"

"Maaf, Jiminnie."

"AKU MERASA RUGI SUDAH KHAWATIR TADI!"

Hoseok melempar tutup gelas kopinya ke gundukan berisi manusia tampan tersebut sembari mengumpat, dan Yoongi tak ambil pusing untuk sekedar membantu pemuda itu mengatasi teriakan-teriakan Jimin yang semakin melengking. Yang dilakukannya hanya meraih ponsel yang hampir jatuh di bangku Jimin, mencari fitur catatan, dan menulis pesan singkat pada Seokjin sambil menahan kuap.

- Baik-baik saja di sana, Jimin-ah?

- Ini Yoongi.

.

.

Pria itu menatap Taehyung yang terus berusaha meringkuk diantara sumpah serapah Jimin dan tendangan Hoseok. Ibu jarinya masih berada di atas tombol pesan, seringai kembali menyembul diantara gigi putih yang berbaris rapi. Mungkin dia tak perlu memaksakan diri untuk terlelap dan pura-pura tak mendengar keributan di mobil yang sama sekali tak bisa dibilang hening.

Yoongi berdecak lagi. Lebih pasrah kali ini.

- Tak perlu khawatir. Hyung.

- Semuanya baik-baik saja.

.


.

.