Who is Your Love?
Naruto © Mashashi Kisimoto
Warning! : AU, OOC, typo's dll (hanya kalian yang dapat menilai)
Pairing : 'SasuSaku' Slight : SasuHina, SasoSaku, NejiSaku dll
.
.
.
Summary :
Sakura yang memang telah lama memendam rasa pada sang Uchiha, bahkan tak menutupi rasa sukanya sama sekali-sama seperti para fans Sasuke yang lainnya- terkaget saat Sasuke 'menembak'nya. "Yang benar saja? Tak mungkin! Aku yakin ini hanya mimpi!"
.
.
.
Sakura mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dari cahaya di sekelilingnya yang kini mencoba untuk menembus kornea matanya.
Dia kini telah sampai di Suna, kota gurun pasir yang tak pernah turun hujan ini begitu terasa menyengat panasnya di kulit mulus Sakura.
Sakura yang sudah terbiasa dengan dinginnya Konoha tentu tidak akan dengan mudah menyesuaikan diri di kota barunya ini. Yah, walau kota ini hanya untuk sementara baginya, namun tetap saja kan?
"Ayo Saku," suara selembut beludru yang berasal dari bibir ibu Sakura pun akhirnya menghancurkan khayalan Sakura dan digantikan oleh menyiapkan barang bawaannya untuk di angkut ke taksi.
Tidak seperti saat di luar tadi, Sakura kini merasakan hawa sejuk ketika berada di dalam taksi, mungkin ini ada hubungannya dengan AC di sini yang menyala -10 yang mampu membuat Sakura bukan merasakan sejuk lagi, tetapi kedinginan.
"Hai," sapa sang supir taksi pada Sakura.
Sakura mendongakkan kepalanya, dan dia terlonjak kaget saat melihat seorang manusia yang kini sedang duduk dengan kepala yang Ia tolehkan kearah Sakura. "Sasori-senpai?"
"Oh ayolah Sakura, bisakah kau berhenti memanggilku 'senpai'? Kita tidak sedang berada di sekolah," tegur Sasori dengan nada bosannya yang tentu terdengar dibuat-buat.
"Un, gomen Sasori-nii," ucap Sakura rada canggung. "Ne, begitukah panggilanmu kepada sang calon suamimu ini Saku?" goda Sasori dengan kerlingan nakalnya.
"Sasori-nii~" rengek Sakura sebal sambil memukul pelan bahu tegap Sasori. Sementara itu Sasori hanya dapat terkekeh geli saat mendapati semburat merah tipis di wajah Sakura.
Akhirnya, perjalanan mereka di lewati dengan canda tawa yang tentu saja di provokasikan oleh Sasori dengan acting lucunya menurut Sakura namun sebenarnya bodoh itu.
xxxxx
Sasuke berjalan dengan cepat kearah kelasnya. Dia harus menemui Naruto. Harus.
Sasuke mengedarkan pandangannya pada seisi kelas, mencoba menemukan rambut jabrik berwarna kuning yang seperti durian itu. Namun, hasilnya nihil.
Tak ada tanda-tanda ada keberadaan Naruto di sana. Oh, dimanakah si bodoh itu sekarang? Sasuke menggeram kesal.
Di carinya Naruto hampir keseluruh penjuru sekolah, namun hasilnya tetap nihil.
Naruto itu setan atau apa sih? Bagaimana dia bisa menghilang begini?
Seakan teringat sesuatu, Sasuke dengan bodohnya memasukan tangannya pada saku celana dan mengambil sebuah benda berwarna hitam yang kita sebut saja dengan kata handphone.
Segera Sasuke cari di kontak atas nama Dobe, setelah nomornya tertera di layar handphone kesayangannya itu, segera Sasuke tekan tombol dengan gambar telpon berwarna hijau dan segera mendekatkan speaker handphonenya itu pada telinga.
Oh Uchiha Sasuke yang jenius, mengapa tak dari awal kau melakukan hal itu agar tak perlu bersusah payah dengan membuat kakimu pegal untuk berkeliling hampir seluruh sekolah demi menemui satu orang yang sepertinya hari ini menjadi lebih pintar darimu itu, heh?
Terdengar suara baritone dari handphone Sasuke setelah sebelumnya terdengar nada tunggu yang menurut Sasuke begitu menyebalkan.
"Yo, Teme?" ucap Naruto di sebrang sana. "Kutunggu kau di atap sekolah." kata Sasuke dan langsung memutuskan sambungan tanpa menunggu sahutan dari teman bicaranya itu.
Segera Sasuke berjalan menuju atap sekolah dengan gaya cool-nya seperti biasa. Walau begitu, ada kesan seakan dia sedang terburu-buru jika kita melihat kedalam bola mata sekelam malamnya itu.
Hei, sudah tidak sabar ya Sasuke?
Sasuke mengeratkan genggamannya pada handphone-nya yang kini telah kembali tenggelam pada saku celana hitam Sasuke bersama pergelangan tangan Sasuke sendiri.
xxxxx
Naruto berjalan masuk melalui satu-satunya pintu di tempat itu.
Dapat Ia lihat seorang pemuda tampan yang sangat Ia kenal sedang duduk di beton dengan kepala mendongak ke atas seolah menantang sang angin untuk mengacak rambutnya.
Matanya menatap sayu kepada awan putih yang berarak dan jalan dengan tenangnya mengikuti arah angin.
Kedua tangannya, Naruto taruh di belakang kepala, bersikap santai seperti biasa. "Yo, teme," sapanya, mengagetkan sang lawan bicara.
Sasuke segera bangkit dari tempatnya setelah mengetahui orang yang ditunggu-tunggunya sedari tadi ternyata telah datang. "Naruto."
Tentu dengan cara bicara Sasuke, Naruto sudah mengetahui akan ada pembicaraan serius di antara mereka.
"Sakura," Sasuke menarik nafas. "Sakura… dimana Sakura?"
"Aa," Naruto agaknya canggung juga, entah kenapa, ada aura berbeda disini. "Sakura berada di Su-"
"Aku tahu Sakura di Suna. Tapi, alamat, Naruto!" potong Sasuke cepat, seolah dia sedang di kejar setan sekarang ini. Dia terlihat kacau di mata Naruto, pandangannya sedikit kurang fokus.
"Oh, e-eto," Naruto segera mengambil ponsel-nya dan mengetik sesuatu yang Sasuke tak tahu apa itu. "Nah, aku telah mengirimkannya pada nomormu."
Sasuke segera mengambil handphone-nya yang kini sedang bergetar dan membuka pesan barunya yang tentu tak lain pasti dari Naruto.
"Hn," Sasuke mengangguk dan melangkahkan kaki menuju pintu, berniat untuk pergi. "Ah Sasuke!" Sasuke kembali membalikan badannya kembali saat mendengar suara cempreng Naruto menyeruakan namanya.
"Jadi… kau memilih Sakura-chan, eh?" tanya Naruto dengan cengiran lebarnya, walau tak terlalu kentara, namun terdengar nada kelegaan di sana.
Tak ada jawaban berarti dari Sasuke, dia hanya kembali memandang awan dengan kedua tangan yang Ia masukan ke saku celana.
Merasa Sasuke tak akan memberi jawaban, Naruto kembali mengeluarkan suaranya. "Baik , baik~ Aku mengerti kok, lebih baik kau cepatlah. Kau tentu tak mau ketinggalan pesawat, kan?" ujar Naruto dengan nada bersemangatnya.
Ada raut kebingungan di wajah Sasuke. Pesawat? Dari kapan dari Konoha ke Suna perlu memakai pesawat? Naruto sedang bergurau atau bagaimana, sih?
"Pesawat?" merasa tak akan mendapat jawaban pasti bila hanya bertanya-tanya dalam hati, akhirnya Sasuke menyeruakan pertanyaannya pada Naruto.
"Ah!" Naruto menepuk jidatnya. "Aku lupa memberi tahumu ya Sasuke," Naruto berjalan mendekat kearah Sasuke, mengurangi jarak antara keduanya.
"Sakura-chan akan bertunangan besok, dan setelah pertunangan itu selesai, Sakura-chan dan Sasori-nii akan berangkat menuju entah kemana." jelas Naruto pada Sasuke.
"Entah kemana?" tanya Sasuke lagi.
"Ya. Keluarga kami sepakat akan mengirim Sasori-nii dan Sakura-chan ke luar negeri setelah acara pertunangan selesai dengan alasan agar mereka berdua dapat hidup mandiri." Naruto memotong perkataannya sebentar sekedar untuk mengambil nafas.
"Tapi, tempatnya akan Sasori-nii dan Sakura-chan sendiri yang memilihnya, dan mereka baru akan memilih saat nanti, yang aku pun tak tahu kapan." papar Naruto.
"Dan sepertinya kita akan tahu di acara pertunangan mereka besok," lanjutnya dengan panjang lebar tanpa berhenti mengingat Sasuke sama sekali tidak mengintrupsi kalimat panjangnya itu dan memilih mengelola setiap perkatannya dalam otak Uchiha yang pastinya sangat canggih itu.
Kalimat penutup Naruto itu membuat Sasuke sudah tak sabar untuk kembali ke kelasnya sekedar untuk mengambil semua barang bawaannya dan segera pergi dari tempat yang kini Ia merasa seperti penjara ruang bawah tanah bagi dirinya.
Sasuke segera pergi tanpa berkata apapun yang sanggup membuat Naruto menggelengkan kepalanya maklum. "Semoga berhasil, teme." ucapnya sambil tersenyum lembut. Senyuman untuk sahabatnya.
Yah, setidaknya kini Naruto lega bisa melihat sang sahabat yang dari dulu cuek dan sangat egois itu kini bisa merasakan dan mengerti arti cinta walau hanya sedikit dan perlahan.
xxxxx
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari luar kamar Sakura yang baru. Sakura sedikit menyisir rambutnya agar setidaknya dapat lebih rapi dan segera membukakan pintu kepada siapapun yang mengetuk pintunya.
"Sasori-nii?" Sakura membuka pintunya lebih lebar agar Sasori dapat masuk ke dalam kamarnya.
Sasori dan Sakura duduk di sofa yang memang telah di sediakan di kamar Sakura itu. "Ada apa?" tanya Sakura membuka perbincangannya dengan Sasori.
"Aa, ini Sakura." Sasori menyodorkan sebuah kartu pada Sakura. Ah, tampaknya Sakura tahu apa itu, itu adalah kartu undangan pertunangannya dengan Sasori.
"Kau tentu tahu bukan jika hari pertunangan kita di majukan dan akan di adakan besok?" ujar Sasori. "Maka dari itu, kita harus cepat memilih kemana tempat kita akan pindah." ucapnya.
"Ah, itu! Memangnya, kalau Sasori-nii sendiri memiiki berapa pilihan?" sahut Sakura kembali bertanya.
"Aku sih ingin antara ke Korea, Taiwan, atau Hongkong." celetuk Sasori sambil tersenyum girang.
"Ah!" Sakura menjentikan jarinya. "Bagaimana kalau kita ke Hongkong? Aku ingin sekali ke Disney Land-nya~" kata Sakura dengan nada manja.
"Pilihan yang bagus!" puji Sasori sambil mengacak rambut indah Sakura.
"Sasori-nii!" Sakura segera merapikan rambutnya yang awut-awutan.
"Jadi? Ke Hongkong, eh?" tanya Sasori memastikan setelah sebelumnya terkekeh kecil terlebihdahulu.
"Hu'um!" gumam Sakura sambil menganggukan kepalanya.
Keputusan yang kini mereka buat, angan-angan yang kini mulai mereka impikan. Hey, hey, memangnya menurut kalian, apa yang akan selanjutnya terjadi, eh?
xxxxx
Pergi? Luar negri?
Bagaimana jika Sakura benar-benar meninggalkannya? Bagaimana jika Ia sudah tak memiliki waktu bersama Sakura? Bagaimana jika Ia telah terlambat?
Kami-sama, tidakkah satu hari pun sudah cukup tanpa kehadiran Sakura di hari Sasuke?
Jika… jika Sakura benar-benar akan pergi darinya. Pergi jauh dari hidupnya, lalu apa yang akan dia lakukan?
Jika biasanya saat istirahat dia tak perlu ditempat keramaian dan hanya perlu bersama Sakura di atap sekolah agar tak kesepian saat istirahat, lalu, bagaimana dengan sekarang? Apa dia harus kembali duduk diam di atap dengan dirinya sendiri saja nanti?
Kembali merasa kosong disaat istirahat dan hanya dapat memandangi awan dari kejauhan?
Jika biasanya selalu ada penganggu telinganya dimana pun dia berada, apa sekarang itu pun akan pergi?
Memang, Sasuke tak bodoh jika yang akan berceloteh panjang lebar di depannya bukan hanya Sakura. Fansgirl-nya yang lain pun pasti akan banyak yang melakukan hal itu.
Tapi… mengapa tiap Sasuke memikirkan hal itu dia menjadi marah? Kenapa dia tak bisa jika bukan Sakura?
Kami-sama… Sasuke rela jika pun telinganya akan copot dari kepalanya karena meleleh sebab suara cempreng Sakura itu, tapi Sasuke mohon, biarkan Sasuke dapat kembali bertemu dengan Sakura.
Berikan satu kesempatan lagi untuk Sasuke agar memperbaiki segala hal yang entah bagaimana bisa menjadi begitu sulit ini.
Ah, kenapa yah semenjak dekat dengan Sakura, Sasuke menjadi lebih sering berdo'a dan memohon pada Kami-sama? Sementara dulu, dia berdo'a sebulan sekalipun terkadang masih diragukan.
Pikiran-pikiran di otak Sasuke kini sedang berkecamuk. Merasa resah gelisah yang sama sekali tak disukai oleh Sasuke.
Dan semua ini karena Sakura.
Tapi… mengapa Sasuke tak bisa lepas daari Sakura?
Padahal Sasuke tahu bahwa Sakura selalu membawanya dalam masalah, tapi mengapa Ia malah menjadi bergantung pada Sakura?
Dia 'berpacaran' dengan Sakura pun tak lebih dari seminggu, tapi mengapa dia merasa begitu kehilangan?
Ah, ini semua benar-benar menyebalkan!
.
.
.
.
.
Sasuke masuk ke dalam kelasnya lalu dengan cepat menuju bangkunya. Memasukan seluruh barang bawaannya ke dalam tas hitamnya lalu segera menggendong tasnya itu dan segera beranjak dari kelas itu.
Namun, belum sempat Sasuke melangkahkan kakinya keluar kelas, Ino telah menghadangnya di depan pintu.
Ino diam di depan Sasuke, menatapnya dengan tajam namun sarat akan kebencian. Matanya terlihat berkilat marah walau mata aquamarine-nya itu sembab.
"Minggir." perintah Sasuke pada Ino yang menutup jalannya.
Sasuke menerobos dengan sedikit paksa untuk melewati Ino, namun dia merasakan tangannya di tahan oleh tangan seseorang yang tentu saja adalah milik Ino.
"Kau!" Ino menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya tepat di depan wajahnya.
Plak!
Sasuke dapat merasakan pipinya terasa perih dan segera rasa panas menjalar di pipi sebelah kirinya itu.
Ino mengepalkan tangannya erat-erat, seolah dalam kepalan tangannya itu terdapat berbagai macam emosi yang tak dapat Ia salurkan.
"Maaf, tapi, lelaki brengsek seperti dirimu pantas untuk mendapatkannya." dan Ino pun beranjak pergi dari sana.
Jika Ia tak ingat tentang permintaan terakhir dari gadis pink-nya itu, tentu Ino tak akan segan-segan membuat perhitungan pada lelaki sialan seperti Sasuke.
Sasuke meraba pipinya yang kini telah sedikit memerah. Sasuke tentu tahu apa yang membawa Ino kehadapannya dan melakukan semua ini padanya.
Dia tak merasa marah atas tindakan Ino ini. Dia merasa perkataan Ino adalah benar, bahwa lelaki brengsek seperti dirinya pantas mendapatkan tamparan ini bahkan lebih.
Ya, lelaki brengsek yang egois dan tak memikirkan perasaan seorang gadis yang kini malah sangat Ia rindukan setelah gadis itu pergi dari hidupnya.
Oh ayolah, padahal Ia hanya tak bertemu Sakura baru beberapa jam saja, namun mengapa rasanya Ia tak bertemu gadis gulali itu selama berbulan-bulan?
Baiklah, jadi, dari kapan Uchiha Sasuke yang terkenal begitu dingin ini dapat menjadi orang yang sangat melankolis begini Kami-sama?
Ne, apakah ini ada hubungannya karena akhir-akhir ini dia selalu berdekatan dengan Sakura yang memang memiliki syndrome melankolis jadi dia pun tertular? Aa, bisa jadi bukan?
Tanpa berpikir apa-apa lagi, Sasuke segera pergi dari sekolahnya dan menjalankan mobilnya menuju arah rumahnya.
xxxxx
Sasuke segera berangkat menuju tempat perjanjiannya setelah membawa barang-barang yang dirasanya penting.
Setelah berganti baju, makan, dan menelpon orang suruhannya untuk menyiapkan helicopter, kini Sasuke sudah siap untuk berangkat menuju tempat perjanjiannya.
Sasuke segeran tancap gas dengan kecepatan yang bisa dibilang terlalu cepat untuk ukuran motor besar, karena jika sampai focus-nya pada jalanan hilang, maka tamat lah riwayatnya.
Sasuke berkali-kali menyalip kendaraan lain tanpa adanya rasa takut, pikirannya terasa kosong, dia hanya mengikuti keinginan hatinya yang sudah sangat tak sabar dan meraung-raung untuk ingin segera bertemu Sakura.
Sasuke tak jarang membuat keributan dengan cara hampir menabrak orang yang menyebrang dan hampir bertabrakan dengan kendaraan lain atau hanya sekedar mengklakson dan di klakson.
Sasuke turun dari motornya dan segera melepas helm yang menutupi seluruh bagian wajahnya.
Dapat Ia lihat lelaki bertubuh gempal yang kini berjalan dengan agak tergesa kearahnya.
"Sasuke-sama," ucapnya sambil ber-ojigi.
"Hn, apa semua sudah siap, Akatsuchi?" tanya Sasuke.
"Ya, semuanya sudah saya selsaikan, Sasuke-sama." jawab orang yang di panggil Sasuke dengan nama Akatsuchi itu dengan sopan.
"Aa, kalau begitu, aku brangkat." kata Sasuke sambil mengambil tas yang berisi barang bawaan yang tadi telah Ia pilah. "Bawa ini kembali kerumah." suruh Sasuke sambil menunjuk motornya dam memberikan kuncinya pada Akatsuchi.
"Ha'i!" patuh Akatsuchi.
Sasuke segera berjalan kearah helicopter-nya dan akhirnya, dimulai lah perjalanannya itu.
.
.
.
.
.
Ino menaiki tangga yang akan membawanya ke atap sekolah. Segera Ia buka pintu atap itu dan Ia tutup kembali.
Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru atap, dan menemui Naruto yang kini sedang memeluk Hinata. Samar-samar dapat Ia dengar perkataan Naruto yang sepertinya ditujukan untuk Hinata.
"Sudahlah, sebentar lagi ini kan akan segera berakhir. Tenang ya Hinata-chan," ucapnya berusaha menenangkan.
"Ehem!" Ino berpura-pura terbatuk.
"Eh, Ino-chan!" sapa Naruto sembari nyengir lebar. Tangannya melepas pelukannya pada Hinata, namun tetap merangkulnya.
Hinata menuduk dalam dengan wajah yang telah berubah sewarna kepiting rebus.
Ino melirik ke belakang Naruto dan Hinata, dan dapat Ia lihat pemuda berambut nanas yang kini sedang tertidur dengan wajah yang ditutupi oleh tangannya sendiri.
"Oh, jadi Shikamaru sudah ada di sini. Lalu, Gaara dan Neji ada dimana?" tanya Ino pada Naruto.
"Aa, Neji dan Gaara tadi pergi untuk memastikan tak ada perubahan rencana lagi." jawab Naruto sekenanya.
Setelah Naruto berbicara seperti itu, pintu atap kembali terbuka dan menampakkan wajah kedua orang yang tadi baru saja dibicarakan.
"Hei!" sapa Ino. "Bagaimana?" tanya Ino lagi tanpa berbasa-basi.
"Sesuai rencana." sahut Gaara singkat.
"Aa," Ino mengangguk. "Eh! Tahu dari mana kau?" Ino mengkerutkan dahinya.
Bukankah harusnya Naruto yang mencari tahu, mengingat Naruto lah yang bersaudara dengan Sasori, tapi, mengapa malah Gaara yang mencari tahu?
"Kaa-san," jawab Gaara lagi.
"Hah?" apa hubungannya masalah ini dengan ibunya Gaara? Ah, ini membingungkan.
"Err, begini Ino-chan," seolah mengereti apa yang sedang ada dalam pikiran Ino, Naruto ber-inisiatif untuk menjelaskannya pada Ino.
"Jadi, nenekku, Chiyo-baasan memiliki tiga anak. Dua wanita dan satu pria." jelas Naruto. "Yang lelaki adalah ayah Sakura dan yang wanita adalah ibuku dan-"
"Ibuku." potong Gaara.
"Nah," Naruto menunjuk Gaara sambil nyengir, seolah membenarkan apa yang baru saja Gaara katakan.
Ino cengo.
"Hei, jangan bercanda!" Ino masih tak dapat percaya.
Mana mungkin Ino tak mengetahui semua ini sementara dia merupakan miss gossip di sekolah?
"L-lagi pula, warna rambut ibunya Gaara kan tidak berwarna merah." Ino masih mencoba menepis semua perkataan Naruto dan Gaara itu, sungguh, egonya sebagai miss gossip masih tak mau menerima fakta bahwa Ia telah tertinggal berita.
Perkataan Ino mampu untuk membuat sudut perempatan mampir di dahi Gaara.
"Warna rambut Kaa-san mengikuti Chiyo-baasan, apa ada masalah?" ujar Gaara dengan aura gelapnya.
Merasa tiba-tiba suasana menjadi tidak enak, Hinata segera angkat bicara. "S-sudah lah Ino-chan,"
Hinata tentu tahu apa yang sebenarnya dipermasalahkan oleh Ino, dia sudah mengenal Ino sejak lama, ingat?
"Iya, lagipula ini memang tak menyebar karena kita semua kan berbeda marga. Jadi wajar saja jika banyak yang tak tahu, aku saja baru tahu seminggu yang lalu kok." dukung Naruto ikut-ikutan dengan cengiran lebarnya.
Heh, tak tahukah kau Naruto, bahwa perkataanmu itu sanggup membuat orang-orang yang mendengarnya menepuk dahi dan mengetahui bagaimana bodohnya dirimu? Bahkan Hinata sekalipun.
Ino pun hanya diam walau wajahnya masih menggambarkan kekesalan.
"Lalu, apa Sasori sudah dihubungi?" tanya Neji yang sedari tadi hanya diam.
"Sudah," Naruto dan Hinata berbalik ke belakang karena mendengar suara orang bicara di belakangnya.
"Hey, kau tak tidur?" Ino berjalan kearah Shikamaru.
Shikamaru segera bangkit dari tidurnya sambil menguap lalu mengendikkan bahu singkat.
Neji menyeringai jenaka sebelum berkata, "Yak, waktunya menjalankan step two."
Naruto nyengir lebar dan Hinata tersenyum lega.
Shikamaru menguap bosan dan Ino tersenyum senang.
Gaara mengerutkan dahi, "Kau kenapa?"
Gaara menunjuk kearah jari tengah Ino yang terluka kecil.
"Oh ini," Ino mengangkat tangannya. "Aku tadi terluka saat 'memberi semangat' pada seseorang tadi di depan kelas." katanya sambil tersenyum manis.
Senyum manis yang menakutkan sebenarnya.
"Yasudahlah, ayo!" Naruto dengan semangat bergegas pergi dari atap dengan air muka girang dan diikuti oleh yang lainnya.
xxxxx
Sakura keluar dari kamarnya. Dilihatnya keadaan sekeliling yang terasa sepi.
Pada dimana ya?pikirnya.
Sakura berjalan menuju tangga dan menapaki tangga itu, berniat untuk turun ke bawah.
Sakura duduk di sofa yang berada di ruang tengah dan mulai menyalakan television 20inci yang ada di sana.
Ah, tak ada yang menarik. Sakura hanya memindah-mindahkan saluran TV-nya tanpa ada yang Ia nikmati satu pun.
Merasa bosan, apalagi tak ada siapa pun dirumah ini.
Sasori sudah jelas sedang pergi, sementara dia masih tak tahu ada dimana kedua orang tuanya.
Sakura menghela napas, tiba-tiba Ia merasa sedikit lapar. Segera Sakura bergegas kekamarnya untuk mengambil uang lalu keluar dari rumah barunya itu.
Ia berniat mencari minimarket sekedar untuk membeli beberapa cemilan.
Sakura memandang langit, ah, sudah sore. Mungkin beberapa puluh menit lagi matahari pun sudah akan menghilang dari pandangannya.
Sakura bergegas pergi menuju mini market yang dia ingat pernah Ia lewati saat menuju kerumahnya ini.
Mengandalkan ingatan dan sedikit insting-nya, Sakura berjalan dengan yakin.
.
.
.
Baiklah, mungkin memang Sakura merupakan murid yang cukup pintar di sekolahnya, apalagi dibantu dengan daya ingatnya yang dapat dikatakan tinggi itu.
Dan sebenarnya tak masalah bila Ia ingin melatih daya ingatnya itu di Konoha.
Ya, di Konoha.
Tapi Sakura, satu pelajaran yang dapat kau ambil sekarang, jangan pernah bermain-main di kota Suna yang semua bagiannya saling menyerupai satu sama lain.
Suna yang isinya ditutupi oleh pasir, begitu sama di mata Sakura sekarang. Seolah tak ada petunjuk apa pun yang menjadi pembeda antara rumah dan jalanan satu dan yang lainnya.
Hari kini telah gelap, ah, malam sudah mulai tiba ternyata. Bintang pun kini sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Sakura seharusnya tak menjadi orang bodoh yang terus saja berjalan sementara di sekelilingnya terdapat banyak rumah yang seolah menarinya gar dia mau mengetuk pintunya lalu bertanya jalan arah pulang.
Namun, Sakura menolak mentah-mentah pemikirannya tadi.
Dia belum begitu mengenal kota ini, dan pasti belum ada yang mengenal atau bahkan sekedar mengetahui dirinya.
Dan, kesan pertama Sakura tentang kota dan penduduk di sini tidak begitu baik.
Bukan hanya karena cuaca di sini yang amat panas saja, tetapi penduduk yang berada di sini pun menjadi masalah bagi Sakura.
Mata mereka yang semuanya berwarna merah dan berkantung, menurut Sakura seperti srigala yang siap memangsanya.
Apalagi tatapan mereka yang tajam saat Sakura melewati mereka, membuat Sakura merasa risih dan takut secara bersamaan.
Untung saja ini bukan di Konoha, jadi dia tak perlu menggigil kedinginan walah hari sudah menjadi malam penuh sekali pun.
Tapi tetap saja, Sakura takut.
Apalagi saat malam hari seperti ini, penduduk Suna selalu lebih memilih mendekam di rumah mereka masing-masing sehingga menyebabkan seluruh jalanan yang di lewati Sakura begitu sepi.
Ya, sepi. Sebelum Sakura mendengar suara orang berjalan di belakangnya namun tak dapat Ia lihat saat Ia menoleh ke belakang.
Sakura mulai berimajinasi sendiri, wajahnya mulai kaku. Sakura mempercepat langkahnya, begitu juga dengan orang di belakangnya.
Keringat dingin mulai menjalari wajah cantiknya. Dalam hatinya, Sakura hanya dapat berdo'a dengan pasrah dan mata yang terpejam rapat.
Dan saat dia merasakan suatu genggaman di bahunya, Sakura hanya dapat-
"KYAAAAAAAAAA!"
-berteriak dengan suara yang tak dapat dikatakan pelan.
xxxxx
Sasuke mengernyit sebal sembari kedua tangannya yang Ia pakai untuk menutup telinganya yang mulai berdengung.
Sakura berbalik kearahnya lalu memukul-mukulnya dengan brutal tanpa membuka matanya.
"Pergi kau, pergi! Dasar setan bodoh! Jelek! Banci!" baiklah, kata-kata terakhir Sakura mampu membuat Sasuke kehilangan ke sabaran dan menangkap kedua tangan Sakura ke dalam genggamannya.
"Hn, sudah selsai nona?"
Suara ini…
Segera saja Sakura membuka matanya, dan betapa kagetnya dia melihat sesosok lelaki bertubuh tegap di depannya itu.
"Uwaaaaaaa!" sekarang apalagi?
Sasuke sudah membuat sebuah perempatan bermain di dahinya.
Sakura kembali menutup matanya rapat-rapat, dengan keringat dingin yang membanjiri sebagian dari wajahnya kemudian bergumam, "Baiklah Kami-sama, aku memang merindukannya dan ingin bertemu dengannya. Tapi kan aku tidak mau terobsesi sepperti ini jugaaaa!"
Sasuke menyeringai senang mendengar ucapan Sakura itu. Jadi, Sakura ingin bertemu dengannya, eh?
Sakura menghentakkan tangannya sehingga genggaman Sasuke pun terlepas. Lalu Sakura membuat pola melingkar di kedua samping kepalanya.
"Baiklah, kosongkan pikiranmu Sakura. Jangan berimajinasi terlalu tinggi," perintahnya lalu meniarik nafas. "Dan yah, dalam hitungan ke tiga, kau tak akan melihat sosoknya lagi."
Sakura berhitung dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sakura sedikit mengintip dari sela matanya.
"Uwaaah! Kenapa kau masih di sini juga, hantu bodoh?!" hardik Sakura kesal.
Ah~ Mungkinkah dia sudah gila?
"Cukup," Sasuke menggeram kesal lalu menarik Sakura pergi mengikutinya.
"E-eh, mau keman-" sebelum Sakura menyelesaikan perkataannya, dengan cepat Sasuke menoleh padanya dan dalam hitungan detik Sakura merasakan sesuatu yang basah dan kenyal mengenai bibirnya selama lima detik.
"Diamlah," gumam Sasuke dengan kalem lalu kembali berbalik dan menyeret Sakura bersamanya.
Blush
TBC
A/N
Hahaha, gmana? Aku sama chap ini gatau kenapa bingung sendiri ^^'a chap besok bakal ada adegan SasuSaku-nya, ditunggu ya? :D
Masalah kenapa aku telat nge-up itu ada masalah pribadi, jadi maaaaaf banget #sujud *ditendang xD
well, aku ngarep kalian ngasih tahu perasaan kalian di kotak ripiu dibawah itu ya :p
wktunya bales review non login dari chap 9~
Chintya hatake-chan males login ; Aa, ini pas chap 9 yaa :D chap 11 juga sekarang udah up ko xD err konflik? mnurutmu ini termasuk konflik bukan yah? -,-a #authorpayah *Dor xD
aya-chan ; ini balesan reviewmu yang chap 9 yaa~ ini udah up, maaf gabisa cepet T^T aa, untung ganangis beneran, nnti aku dimarahin lagi karna bikin nangis anak orang :p bhahah, bcanda yaa x3 mnurutmu chap ini gmana? :D
kyuhyun cho ; ini balesan reviewmu yang chap 9 yaa~ iya, disini Sakura udah nyampe lagi xD gmna? :3
iez ashiya ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ eh? Sankyu~ iya nih, tapi disni mereka udah ketemu lagi kan? :p hahaha :D masih sedih kah? ^^
Mikyo ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ iya dong full :3 iya nih jadi, Sasu gapentes di kesianin ah #kicked xD maaf ya, chap 11 skrg ini gaada nyesek-nyeseknya kan? x_x
Fishy ELF ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ oh iya dooong SasuSaku gituuu~ xD ah, chap 11 ini maaf yaa jadi mendekin lagi? T^T
hellbeck ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ aa, smoga ga kelamaan yaa aku, apalagi yang chap 11 ini~ daaaan, mksih yaa udah nunggu :3 menurutmu, gimana chap ini? :D
Sakusasu 4ever ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ aduh kesindir deh, aku kan up-nya ngaret mulu :p bhahaha :D aa, Sasu nyeselnya dikit aja yaa? Gatega ah#alesan xD tapi, chap 11 ini nyesek ga sih? :/
hanaetara ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ hahhaha yaiya romantic, genrenya kn emang romance :p #plak xD Masalah itu, chap 11 ini feelnya kerasa ga sih? masalahnya aku gaterlalu bisa nyiksa Sasu niiih, knapa yak? -,- ah~ maaf deh aku up-nya lelet mulu, ampun yah? bener deh, gaenak banget sama kmu T^T iya dimaafin, asal review lgi dooong :p wkwk xD
yukino sakura ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ ah, mksih~ ^^ ini udah up lagi loooh, baca yaa, hehehe :3
aya-chan ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ oh, hai kamu~ :D k-kurang p-p-panjaaaang? ;A; #tepar udahlah~ masalh up, harusnya kmu tau saya itu selalu ngaret #pundungdipojokan xD
Fishy ELF ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ hey, ketemu lgi :D iyaa, dan sekarang saya bikin dia 'agak' kesiksa~ gimana? :D ah, ini udh up nih, komenin lgi yaaa :3
Mikyo ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ hai hai, aku liat review kmu dan langsung diem. Aaaaaah, seneng deh feelnya dapet~ xDD t-tapi… merinding? Ini genre-nya romance ko bukan horror :p bhahaha xD
Alisya-chan ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ eh? mksih banget loooh x3 wah, jangan manggil senpai, aku masih newbie dan masih banyak kesalahan ko :3 ah msaalah up kilat, maaf ya yang ada aku malah telat T^T jangan marah yaa? u,u ah! Salam kenaaaaal xD
hanartara ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ #ikutanngegarukin *geplak xD chap 9 tuh panjang karena special, jadi chap selanjutnya ya kaya biasa lagi, cuman ampe 3000an wordsnya :p maaf yaaa :3 ini udah up ko~ gmana menurutmu un? oh Saso, ini udah ada kooo :p hehehe :D ganbatte mo (?)! xD
Tralalalala ; ini balesan reviewmu yang chap 9 ya~ hai, jangan panggil aku senpai dooong, aku masih newbie juga kaaan xD kmu pengen jadi Saku? Samaaaaa x3 aku juga pengen banget~ Hohohoho #geplak xDD
Tralalalalala ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ ah, begitukah? :o dan mengapakah bisa begitu nak? :p oh, kaya udah berpengalaman yah? padahal aku udah ngejomblo 13 tahun loooh sementara umurku sekarang 13tahun juga O.O #intinyaakubelompernahpacaran xD masalah up, yaa, tapi saya telat, gomen ne? TAT
Itachi's First Love lol ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ ah, mungkin jadi 13 chap -^- hei jangan panggil aku kaka loh, aku masih 13taun soalnya TvT eh? 15? panjang sekaleh ;A; brrti nnti chap 11 ini juga kmu harus review loh :P hehehe :D aku sih pasti mempertimbangkan, tapi yang jadi kendalanya tuh ini udah nyampe comfort-nya, jadi aku takutnya ganyampe~ tapi aku usahain kooo, klo ternyata gabisa, jangan marah yaa? u,u
SuntQ ; ini balesan reviewmu yang chap 10 ya~ Akupun nyesek sendiri nih #plak xD eh? ukiran indah? emg kata-kataku ngena ya? :o maaf yaa, chap ini kualitasnya kayanya nurun nih T^T
Siiiiip beres! xD well, cuman satuhal lagi yang mau aku omongin~ REVIEW PLEASE~ #teriakpaketoa xDD
