Sepasang kaki mungil berlarian menginjak pasir pantai. Anak perempuan itu tampak begitu riang, gaun selutut yang ia kenakan telah basah di bagian bawah. Hanya sedikit saja, tapi tetap saja basah. Ia membiarkan rambut hitamnya berantakan ditiup angin laut, hembusan ombak menggelitik telapak kaki mungilnya lalu butir-butir pasir tersangkut di sela kukunya. Langkah kaki mungil yang tak berhenti berlari, membuat sepasang telapak kaki dewasa itu mengejar.

"Kyungsoo! Sudah lima belas menit. Kita pulang. Tepati janjimu oke!"

Mendadak dia berhenti berlari. Wajahnya ditekuk ke bawah dengan bibir hati yang mengerucut lucu. Lima belas menit yang berharga. Ahh tidak, dia tidak boleh berpikir demikian. Bukankah jika dia pulang ada yang lebih berharga lagi untuk ditemui.

"Apa tidak masalah Kyungsoo membawa pasir dan air dari pantai?"

"Untuk hadiah? Tentu saja boleh nona muda


Lady Rose

(11th Chapter)

Present by RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! Cerita ini ditujukan untuk dewasa. No Children -21. SMUT.

Responsible. GS. Chaptered.


Perempuan itu tersentak. Kepalanya pening seketika, rasa pusing mendera namun tangannya tak dapat menyentuh bagian kepala. Ia mendesah kesal. Setelah di kursi roda kini ia terikat di atas kasur. Dengan posisi terduduk, Kyungsoo menatap sekeliling ruangan. Entahlah kenapa pandangannya tiba-tiba mengarah pada botol kaca berisikan pasir di sela-sela dinding dengan rak. Tidak ada air disana. Sudah mengering?


~ RoséBear~


Tak henti-hentinya Kai merutuki dirinya. Ya Tuhan. Seharusnya dia lebih waspada lagi. Orang pertama yang Kai hubungi adalah Baekhyun. Suara serak wanita itu tertahan kala Kai bertanya cepat padanya.

"Apa Sehun bersamamu?"

Ya.

Satu-satunya yang terpikir oleh Kai adalah Sehun. Sayangnya jawaban Baekhyun membuatnya merasa lemas. Bahkan dalam waktu kurang satu menit dia mendengar suara lantang Sehun dari seberang sana.

"Aku baru saja dari tenda pengungsian. Ada apa Kai?"

"Tidak ada. Apa Ravi menghubungimu?"

"Ayah? Kau menghubunginya? Ponselnya kubawa kemari."

Alis Kai berkerut. Oke! Kebiasaan Sehun sejak lama. Dia tahu itu. "Baiklah. Kumatikan panggilannya."

"Kai... Tolong katakan pada Ayah aku akan kembali lebih lama dari rencana."

"He um."

Dia mematikan panggilannya. Sekarang Kai telah berada di dalam kereta express. Ya Tuhan. Tidak bisakah membuat perjalanan kali ini lebih cepat. Dia benar-benar membutuhkan kendaraan pribadinya untuk mencari Kyungsoo.

"Jongdae! Aku kehilangan seseorang. Bisa kau bantu aku mencarinya? Dua jam lagi aku akan tiba di rumah."

Hanya itu yang Kai bisa lakukan. Ia tak bisa menahannya lagi, air mata tumpah seketika.

"Kyungsoo kenapa kau tidak kembali? Kau di mana sayang?"

.~oOo~.

Dua jam di dalam kereta express. Selama itu juga Kai merasa tubuhnya terus menerus di hujani paku tajam. Sekarang paku-paku itu memenuhi tubuh membuat kaku dan kesulitan bergerak.

Supir pribadi telah siap menjemput di stasiun kereta. Bukan segera masuk ke dalam mobil.

Bugh

Kai melayangkan tinjunya pada pemuda yang lebih tua itu. "BRENGSEK!" teriakan kencangnya berhasil mengundang perhatian orang-orang sekitar. Sementara Taeyong, pria itu menahan perih di wajahnya. Pukulan telak Kai berhasil membuat tersungkur. Tapi dia menyadari kesalahan kali ini. Nona muda mereka menghilang karena kelalaiannya. Sudah tentu tuan besar mereka akan sangat murka.

Tidak ada percakapan selama beberapa detik. Kai terlalu sibuk mengatur napasnya yang memburu. Dengan segera pria itu masuk ke mobil. Menguasai kemudi dan meninggalkan Taeyong di stasiun.


~ RoséBear~


PRANG!

Kali ini vase setinggi satu meter itu pecah setelah Kai mendorong Ravi menghantam benda keramik itu. "Bagaimana kalian bisa kehilangan Kyungsoo!? Kau!" Ia bangkit dan menunjuk wajah Jenny membuat gadis muda itu gemetaran. Tidak pernah mereka melihat Kai semarah ini. "Bukankah sudah kukatakan untuk menemaninya! Aku membayarmu untuk menjaganya!"

"Kai! Biar aku yang bicara dengan mereka. Bisa kau tunggu aku?"

Pria tan itu memutar bola mata kesal. Ia berdecih pada pemilik senyum lebar yang tiba lebih dulu darinya di mension mewah ini.

Kim Jongdae.

Ia sudah mendengar setengah cerita pelayan di rumah Kai. Namun interogasinya berhenti karena kedatangan pria tan itu.

Jongdae yang memiliki wajah tenang berjalan lebih dekat. Ia menepuk pelan pundak Kai. "Kita akan temukan dia. Percayalah padaku."

"Aku percaya padamu hyung. Kau detektif terbaik yang aku kenal."

Menghempaskan tubuh ke atas sofa. Mengusap kasar wajah lelah dengan telapak tangan lebar itu. Dadanya sungguh terasa sesak saat ini.

'Nona berkata ingin ke panti asuhan tanpa sepengetahuan tuan.'

Interogasi itu berlanjut, bahkan ketika Taeyong kembali ke mension Kai beberapa saat kemudian dia juga diberikan pertanyaan.

"Nona sedang beristirahat di panti. Aku hanya pergi ke ujung jalan mencari makan siang karena kami berangkat sejak pagi. Aku sudah berpesan pada penghuni panti untuk meminta Nona menghubungiku jika dia sudah akan pulang. Namun kemudian saat kembali aku pergi lagi."

"Kenapa kau meninggalkannya lagi Taeyong?" suara Jongdae terdengar lembut namun juga tegas ketika dia bertanya pada pria itu.

"Itu... Aku kasihan pada Nyona Kang yang tampak akan pergi. Jadi aku mengantarnya ke sebuah kafe. Dia ingin bertemu seseorang. Saat kembali ke panti mereka bilang Nona Kyungsoo telah menghubungi seseorang untuk menjemputnya. Maaf, mereka tidak mengingat plat mobil itu. Kupikir Jin yang menjemputnya, namun saat kembali ke rumah aku melihatnya bercakap dengan pengawal lain. Saat itulah aku bertanya pada Jenny dan mulai mencarinya seorang diri."

Bugh

Jongdae mengeram kesal karena tiba-tiba Kai bagaikan angin melewatinya dan memukul Taeyong untuk kedua kalinya. Sementara korban terpelanting cukup jauh, dia hanya meringis membuat takut para pelayan yang berkumpul di sana.

"Kita bicara berdua Kai!" Jongdae yang mengambil keputusan. Ia mengangkat tangan menginstrupsikan yang lain meninggalkan mereka. Pria itu sangat menawan. Dia seorang detektif kepolisian dengan pembawaan santai. Lihatlah penampilannya hanya dengan celana dasar yang sangat nyaman dan kaos polos di balik jas hitam itu. Siapa yang bisa menyangka dia ketua Tim satu di kepolisian? Kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai kasus apalagi pengejaran sangatlah luar biasa.

"Jadi? Ada yang ingin kau sampaikan Kai? Bahkan ini belum 24 jam istrimu menghilang. Dalam beberapa jam aku hanya bisa menyelidikinya secara pribadi. Besok siang aku baru bisa menggunakan Timku."

Pria tan itu tak memberikan jawaban apapun atas perkataan Jongdae.

"Baik. Kita mulai pencarian malam ini," Ia mengeluarkan ponselnya dan baru saja akan menghubungi seseorang saat tangan Kai menahannya.

"Aku akan sangat berterima kasih jika kau bisa menemukannya Jongdae-ah."

"Hummm... Aku akan berusaha Kai. Kau pernah menyelematkanku dari bahaya. Aku akan membalas itu."


~ RoséBear~


24 jam Kyungsoo tanpa kabar. Perempuan itu dinyatakan hilang dan dalam pencarian. Jongdae bekerja bersama empat anggota timnya mulai menyelidiki. Ia bahkan membuat ibu panti pingsan mendengar kabar hilangnya Kyungsoo.

Dua malam sudah Kai mengikuti kemana Jongdae membawanya berkeliling kota mencari keberadaan Kyungsoo.

Mobil milik Kai yang Jongdae kendarai berhenti di depan sebuah minimarket. "Setidaknya minumlah." Kai menerima penawaran Jongdae yang berupa sebotol air mineral. Pria dengan senyum lebar itu kembali ke balik kemudi.

Ia memutar tutup botol dan mengambil beberapa teguk. "Aku sudah mendengar ceritanya dari Chanyeol. Kau sangat mencintainya hum? Pantas saja kau menempel padaku dan mengabaikan pekerjaanmu untuk menemukannya."

"Dia... Banyak mengubahku hyung."

Kini suara pria tan itu sangat serak. Dia hanya tidur beberapa menit. Lebih banyak terjaganya.

"Yeah... Aku sangat ingin bertemu wanita ini. Mengucapkan terima kasih. Chanyeol juga berkata kau menjadi lebih tenang saat mulai tinggal bersamanya. Tidak searogan pertemuan pertama kalian."

Jongdae trus saja bicara. "Lalu mengenai Sehun, biarkan..." ia menoleh dan mendapati Kai terlelap. Bahkan menjatuhkan botol minum yang tadi ia berikan. Pria itu tersenyum. Menghela napas dan menyelesaikan waktu istirahat singkatnya. "Aku akan menyelidikinya. Sangat aneh dia tidak segera kembali. Baekhyun pasti sudah bercerita. Sehun, dia terlalu tenang Kai. Sejak awal aku sudah merasa aneh pada pria itu."


~ RoséBear~


Mobil yang Jongdae gunakan kini memasuki mension mewah Kai. Ia mengangguk pada dua pengawal yang berjaga dan meminta bantuan mereka memindahkan tuan besarnya. "Aku memberinya obat tidur. Bawa di ke kamarnya."

Dengan tenang ia meninggalkan Kai bersama para pengawalnya. Sebelum pergi Jongdae juga menukar mobilnya, menggunakan mobil Kai dalam pencarian. Itu terdengar tidak bagus.

Kyungsoo sudah dinyatakan menghilang.

Pagi ini Jongdae memulai penyelidikan kembali dari panti asuhan. Tidak banyak kabar tambahan yang ia terima. Ibu panti masih sangat khawatir bahkan kesehatan wanita tua itu menurun. Jongdae harus menempatkan satu orang timnya berjaga di sana. Mengenai orang yang dihubungi Kyungsoo. Nyonya Kang berpikir telah terjadi sebuah konspirasi, sesuatu tentang kecelakaan tempo hari di mana mobil milik Kai di sabotase, mereka pikir Kyungsoo di culik orang luar yang membenci Kai karena mengetahui status Kyungsoo sebagai istrinya. Tapi Jongdae bukanlah detektif bodoh yang membuat kesimpulan seaneh itu. Jika benar, mereka pasti sudah mengancam Kai. Lagipula, lelaki itu seakan tidak memiliki musuh dalam bisnis.

"Ketua, aku sudah mendapatkan laporannya. Daftar nomer yang dihubungi. Bahkan selama menggunakan ponsel hanya ada tiga nomer saja."

Tidak berapa kemudian seorang wanita juga menghampiri Jongdae.

"Ketua... Aku mendapatkan laporannya," Jongdae meraih segera berkas-berkas dari anggota timnya yang lain.

Hanya perlu beberapa menit dalam otak pintarnya untuk bekerja. "Woaghh! Bajingan itu!" Ia menyeringai. Semua pencarian lebih mudah saat Kai tidak menguntitnya. Pria itu tiba-tiba saja menjadi begitu tempramental mengacaukan semua konsentrasi Tim Jongdae.

Ia mencoba menarik kesimpulan. Berkas-berkas yang diberikan Tim wanitanya adalah laporan kehadiran milik Sehun di area pengungsian. Ada saat di mana pria itu mendapatkan waktu istirahat yang panjang.

Empat jam? Tidakkah ini keterlaluan saat mereka sedang bekerja di area bencana? Jarak tempuh dari pengungsian ke panti asuhan lalu membawa Kyungsoo sejauh mungkin.

Wanita itu masih ada di Kota ini. Seharusnya.


~ RoséBear~


Brugh

"Yaishhh!" Jongdae mendesis kesal setelah mendapat pukulan telak Kai. Rupanya pria itu sudah terbangun dan dia berhasil memindahkan amarahnya pada Jongdae.

Kai terlalu berantakan. "YAK! Kau bisa di tahan karena melukai anggota kepolisian!" Suara itu. Jongdae mengintip ke balik punggung Kai. Ada Chanyeol di sana, sudah pasti mereka berteman baik. Bukankah mereka bekerja untuk menegakkan hukum Negara sebelum Chanyeol kemudian terikat pada pekerjaan Kai untuk beberapa bulan ini?

"Tidak apa Chan. Aku membawa kabar baik," Jongdae bangkit. Dia sedikit sempoyongan namun mencoba mengabaikan keberadaan Kai. "Kemarilah bocah. Lihat apa yang kudapatkan pagi ini, tanpa gangguanmu."

Jongdae dan Chanyeol baru saja akan duduk di sofa ruang tamu. Pria yang paling tinggi benar-benar ingin duduk, namun ia urungkan kala mendengar perkataan Kai. Tenang, namun penuh perintah. "Ke ruang kerjaku hyung."

Keduanya hanya bertatapan beberapa detik lalu mengikuti langkah Kai. Mereka melewati koridor yang agak sempit, bagian yang benar-benar menyebalkan di bangunan ini. Melewati beberapa lukisan yang mana masing-masing sedikit berwarna kekuningan akibat cahaya lampu pijar yang menyala. Tidak ada suara langkah kaki arogan karena sepatu mereka menginjak karpet yang berhasil meredamkan suara bising. Kai membuka pintu kecoklatan di ujung lorong. Sudah cukup lama dia tidak ke ruangan ini.

"Duduklah."

Semarah apapun Kai, ia masih punya tutur sopan santun pada kedua orang yang lebih tua darinya. Jongdae yang pertama duduk. Bagi Chanyeol, ini kedua kalinya dia masuk ke ruangan ini. Tidak banyak yang berubah, hanya penambahan sebuah rak kayu. Chanyeol mengernyit membaca judul-judul buku di rak kayu itu. Benar-benar bukan gaya seorang Kai.

"Itu milik Kyungsoo."

Pria tan itu berkata seolah mengerti arti tatapan Chanyeol. Ia yang kedua duduk dan diikuti oleh Chanyeol.

"Jadi? Apa yang kau temukan setelah memasukkan obat tidur dalam minumanku?"

"Oke! Setidaknya kau lebih baik. Tidak seperti zombie yang berkeliaran di jalan raya," cibir Jongdae cepat. Ia yakin Kai akan menahan emosinya. Pria dengan senyum lebar itu menarik napasnya pelan. Ia melirik Chanyeol dan Kai bergantian.

"Hanya penarikan kesimpulan sementara yang sangat memaksa setelah mendengarnya cerita kalian."

"Sehun?" Celetuk Kai.

"Apa? Jadi benar-benar dia?" Terdengar sekali keterkejutan Chanyeol. Dia terlalu sibuk menggantikan Kai di Kantor hingga pemberitaan tentang Kyungsoo hanya di dapat sepotong-sepotong.

Jongdae menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa menyetujui langsung. Tapi kalian memaksaku menjadikannya tersangka utama. Jadi aku menyelidiki kehadiran Sehun di pengungsian. Dan lihat apa yang anggotaku temukan," Jongdae meletakkan berkas-berkas di atas meja. Ia mensejejerkan lembaran kertas-kertas itu. "Sehun punya waktu istirahat empat jam di siang hari. Lalu dua jam di malam hari. Pikirkan tentang profesi seorang dokter, apalagi dia yang sedang bekerja di area bencana. Empat jam terlalu banyak."

"Maksudmu?"

"Kau bilang Sehun bicara denganmu melalui ponsel Baekhyun hari itu. Malam itu dia memang harus ada di sana. Tapi bagaimana dengan siang hari? Jarak pelabuhan ke panti asuhan bisa di tempuh dalam dua jam. Jika berhasil menghindar macet maka itu bisa dikurangi. Hanya saja..."

Kai menatap tajam Jongdae. Ia benar-benar menunggu penjelasan Jongdae. "Ini seperti kita bermain pinbal. Hanya sebuah keberuntungan jika benar dia yang menjemput Kyungsoo. Atau sebaliknya, Istrimu memang menghubunginya. Ini daftar panggilan di ponsel istrimu. Hanya ada tiga nomer saja."

Kai meraih kertas-kertas itu. Jongdae telah melingkari satu-satunya nomer yang tidak ia kenali.

"Ini nomer Ravi."

"Ponsel Ravi ada di tangan Sehun!" Lengkingan Kai mengerutkan mereka semua.

Tidak.

Semuanya terlalu mudah. Mereka tidak punya alasan untuk menuduh Sehun secepat ini.

"BAJINGAN!" Tubuhnya reflek berdiri namun tahanan Jongdae pada pergelangan tangan Kai membuatnya berhenti.

"Semua tuduhan itu terbantahkan saat anggota Sehun yang bekerja di pengungsian mengatakan Sehun terus berada di sana walaupun jam istirahatnya. Anggota Timku telah menanyakan itu secara rahasia, tapi mereka juga memberi informasi jika Sehun benar-benar di sana." Jongdae berusaha meyakinkan Kai.

"APA?" Kali ini Kai benar-benar tidak bisa berpikir jernih. "Untuk apa kau menjelaskannya jika kau sendiri tak memiliki bukti yang jelas!" Pria tan berdecih kesal.

"Sebagai pengacara entah kenapa aku tidak percaya pada saksi sebelum mengetahui hubungan mereka dengan tersangka." Kali ini Chanyeol memberanikan diri mengeluarkan pendapatnya.

"Dan lagi Kyungsoo menghubungi nomor ini. Apa sebuah kebetulan atau memang direncanakan? Aku tidak berani menyentuh Sehun secara langsung. Jika tuduhanmu benar, bukankah kau bilang Kyungsoo takut pada Sehun?"

Kai mengangguk atas perkataan Jongdae barusan. Pria itu beranjak dari sofa. Ia berjalan pelan menuju meja kerjanya.

"ARRGGGGHHHH!"

Jongdae dan Chanyeol memalingkan muka mereka melihat pemandangan ini. Bagaimana Kai mendorong semua barang di atas meja kerjanya. Membanting laptop itu ke lantai. Semua figura dan barang di atasnya berantakan di lantai. Beberapa pecah begitu saja. Pria itu terjatuh di atas lantai.

"Hanya kau yang bisa bertanya pada Sehun mengenai hubungan mereka," Suara Chanyeol sedikit merendah. Ia tahu Kai pasti mendengar sarannya.

"Maksudmu mereka berselingkuh di belakangku? Huh!"

Chanyeol memejamkan matanya. Ia mendongak menatap langit-langit ruangan. Walau dalam situasi seperti ini entah kenapa ruangan ini begitu nyaman. Pandangannya beralih ke bawah. Pria itu berpikir sangat keras lalu menemukan kotak di bawah meja. Ia mengambilnya pelan. Berisikan salinan perjanjian Kyungsoo dan Kai. Hubungan mereka akan berakhir satu bulan lagi dan Kai terlihat sekali tidak mau melepaskan Kyungsoo.

'Apa wanita itu berniat meninggalkan Kai karena dia menyukai Sehun? Ahh tidak! Tidak!' Chanyeol berdebat dengan pikirannya sendiri. "Tapi kemana perginya?" Tanpa sadar Chanyeol mengatakan pikirannya membuat Jongdae memajukan pendengarannya. "Katakan apa yang kau pikirkan pengacara Park."

Ia memutar mata bosan saat sadar dua pasang mata kini menatapnya garang. Hanya hembusan napas kasar saja. Chanyeol menghempas punggungnya ke senderan sofa. "Hanya sebuah pikiran naifku saja. Jika Kyungsoo menyukai Sehun maka dia harus meninggalkan Kai."

Jongdae mengernyit mendengar pengakuan Chanyeol. "Yakkk! Kai! Tenangkan dirimu!" Detektif muda itu dengan gesit menghentikan gerakan Kai yang baru saja akan memukul Chanyeol.

"Woaghhhh! " Chanyeol berseru karena terkejut. Sontak pria itu berjingkat menaikkan kedua kakinya ke sofa. Menghindari Kai sejauh mungkin. Dia bersyukur Jongdae berhasil menahan Kai. Mau bilang apa dia nanti pada Baekhyun mengenai wajahnya yang lebam karena dipukul Kai.

"Tenangkan dirimu Kai. Oke! Maafkan pikiran burukku," Chanyeol sedikit beringsut menurunkan kakinya lagi untuk menapak lantai. "Aku akan membantumu mencarinya."

"Kapan Sehun kembali?"

Pria tan dan pria paling tinggi menatap Jongdae bingung. Ia melepaskan Kai dan membuat pria tan itu duduk di sebelahnya. "Apapun yang terjadi. Kita..." Dia menjeda kalimatnya. Berhati-hati dalam mengungkapkan pikirannya daripada pria yang kini di sebelahnya berbalik arah dan melayangkan tinjunya. Cukup sekali Jongdae merasakan pukulan Kai, itu saja masih meninggalkan nyeri di wajahnya. "Jangan memberitahunya jika kita mencurigainya. Biarkan dia pulang. Jika dia ada hubungannya, pasti ada hari di mana Sehun akan mengunjungi Kyungsoo. Entah kenapa aku percaya wanitamu masih di kota ini, " kata-kata terakhir ia tujukan pada Kai.

"Baekhyun pulang hari ini," Chanyeol memberitahu. "Oh astaga! Aku harus pulang. Rumah sangat berantakan. Dia bisa sangat marah nanti!" Ia berseru mengejutkan keduanya. Pandangan Chanyeol bergantian menatap Jongdae dan Kai.

"Aku pasti akan membantumu Kai," Dia berusaha meyakinkan saudara jauh istrinya itu sebelum pergi.

"Itulah kenapa sejak dulu kubilang mereka harus memiliki pelayan di rumah," gumam Jongdae menatap kepergian Chanyeol.

Kai menghela napasnya, "Apa yang akan kau lakukan sekarang Jongdae?"

Pria itu tersentak dengan pertanyaan Kai. Pertama kalinya ia mendengar Kai yang biasanya berkoar tampak begitu kehilangan tenaganya. "Satu anggota Timku ada di panti asuhan. Tidak hanya menjaga kondisi nyonya Kang. Dia juga menyelidiki Kyungsoo. Aku tidak akan berhenti mencarinya. Jadi jangan menguntitku Kai. Kau membuat anggota timku kesulitan bekerja karena kemarahamu."

Jongdae benar. Kai mengacaukan mereka.


~ RoséBear~


Hari itu, pertama kalinya Kai melihat Kyungsoo. Dia yang tergesa-gesa tidak sengaja melukai jari telunjuknya pada besi yang mencuat keluar dari tiang parkir para tamu. Hari di mana Kyungsoo akan melakukan wawancara kerja di Kantornya. Gadis manis itu yang memberikan plester di tangan Kai dengan telaten di pertemuan pertama mereka.

"Jangan panik. Aku sudah menghentikan pendarahannya," Kata-katanya sederhana. Lebih ditujukan untuk menenangkan seorang bocah.

Kai menggigit bibir bawahnya sementara air mata masih saja menetes, wajah polos Kyungsoo yang tersenyum sungguh menenangkan. Sudah berapa malam dia berkeliaran di kota mencari keberadaan Kyungsoo.

Belum ada kabar terbaru dari Jongdae maupun Chanyeol. Penyesalan terbesar Kai tidak mengikuti firasatnya hari itu. Atau andai saja dia lebih cepat meminta Kyungsoo menyusul ke Busan. Tapi semua hanya perandaian saja.

Pria itu, bagaikan zombie yang berkeliaran di jalanan kota. Rambutnya sedikit panjang dan berantakan bahkan beberapa bulu kasar tumbuh di sekitar mulutnya dan semakin panjang. Tubuhnya terlalu bau.

"Tuan," Ravi menyapa dengan hati-hati saat Kai kembali. Ia telah menyiapkan sarapan namun Kai melewatkannya begitu saja. Pria tua itu merasa sangat buruk melihat kondisi tuan besarnya saat ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tuduhan Kai terhadap Sehun, sebenarnya Ravi mengetahui itu sekuat apapun mereka bertiga menyembunyikan itu. Dia menguping pembicaraan tuannya. Tidak, Ravi masih percaya Sehun tidak akan merebut Nona mereka. Dia tahu Sehun sangat dekat dengan Kai. Mereka berdua seperti saudara yang amat dekat.


~ RoséBear~


Kai memasuki kamarnya, beberapa ingatan tentang Kyungsoo memenuhi otaknya. Ia tersenyum, sangat miris karena bayangan itu nampak sangat nyata. Kaki panjangnya melangkah memasuki kamar mandi. Tiap kali Kyungsoo yang mengajukan diri, percintaan mereka dimulai di kamar mandi.

Ia keluar dari kamar mandi, setidaknya menghilangkan aroma tidak menyenangkan dari tubuhnya. Walau itu tidak menghilangkan kondisi mengerikan Kai. Chanyeol memberinya pesan, besok dia harus menghadiri pertemuan dengan beberapa orang.

Kabar hilangnya Kyungsoo, masih sangat dirahasiakan karena sesuai pesan Jongdae. Akan membahayakan jika benar dia di culik dan Kai bersikeras Kyungsoo di culik.

Kai, dia sadar mencintai Kyungsoo. Amat sagat mencintai gadis manis bermata bulat itu. Jika itu adalah kekasih ranjang Kai di masa lalu sebelum bertemu Kyungsoo. Dia akan mengabaikan pemberitaan seperti ini. Kai tidak akan merasa kehilangan. Namun jika gadis yang telah melayanimu, memberikan penutup pada lubang-lubang kecil yang ada pada dirinya. Kai semakin merasa lubang-lubang itu membesar dan akan membuatnya menghilang.


~ RoséBear~


Pria itu kehilangan banyak konsentrasinya. Orang-orang yang mendampingi Kai menunjukkan tanda tanya pada Chanyeol. Pria itu seperti instruksi Jongdae. Dia hanya tersenyum dengan wajah mengabaikan agar tidak ada pertanyaan lanjutan mengenai kehidupan pribadi Kai.

"Pulanglah... Ravi melapor padaku kau selalu berkeliaran di malam hari. Baekhyun bilang hari ini Sehun akan ke rumah sakit. Dia punya janji pembedahan seorang anak. Kurasa dia akan menyempatkan diri pulang ke mensionmu. Setidaknya menemui Ayah angkatnya."

"Benarkah?" Wajah Kai tiba-tiba menegang.

"Ingat untuk tidak melakukan kekerasan. Jika tuduhan kita benar dia yang melakukannya. Kau bisa saja kehilangan istrimu," Chanyeol mengingatkan Kai. Pria tan hanya mengangguk paham.


Dia hanya terlambat setengah jam saja. Sehun baru meninggalkan mension Kai setelah bertemu dengan Ravi. Rahang pria ini mengeram mendengar laporan Ravi.

"Hanya karena dia anak angkatmu kau berusaha membuatnya dia tidak bersalah?"

Kai bohong jika dia berkata bisa menahan emosinya. Dia bahkan dengan tega mendorong tubuh pria tua beruban itu. Membuat Jenny terpekik karena menyaksikannya. Pelayan muda itu hanya menundukkan kepala takut pada tatapan Kai.

"Tuan, kepala pelayan berkata benar, tuan Sehun kemari hanya mengambil berkas-berkas medis. Dia hanya menyapa sebentar." Suara Jenny yang memberitahu Kai terdengar begitu ketakutan.

"Kapan dia akan kembali lagi?" Kai setengah berteriak. Tentu saja pertanyaan itu untuk Ravi. Emosi pria tan ini sudah mencapai titik didihnya. "Aku akan memintanya kembali saat makan malam."

Kai menyeringai. Ravi harus membawa Sehun kembali ke rumah ini. Dia tidak akan memukul Sehun. Tidak juga akan menyentuh pria itu. Hanya saja, dia punya pertanyaan.


Kai berjalan ke ruang pribadinya ia membuka jendela dan nampaklah letak taman milik Kyungsoo. Tidak terlalu terawat lagi. Kai menghubungi Jenny, meminta gadis muda itu membersihkan ruang pribadinya. Dia juga ingin agar Jenny merawat tanaman Kyungsoo. Mengembalikannya seperti semula, mereka harus bertahan sampai Kyungsoo kembali, itu yang Kai pikirkan.

Pria itu duduk bersama Jongdae yang baru tiba beberapa menit lalu. Jongdae membawa kabar mengenai kehidupan Kyungsoo.

"Orang tuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Menewaskan serta supir pribadi mereka. Dan... Kyungsoo pernah di rawat di rumah sakit bertahun-tahun lamanya. Kau akan terkejut mengenai Departemen yang merawatnya."

Kai mendongak, ia mengabaikan berkas-berkas yang Jongdae berikan dan memilih mendengarkan cerita pria ini. "Hari dimana Taeyong..."

Ahh pria itu, dia juga masih berusaha mencari Kyungsoo. Dia benar-benar merasa bersalah pada tuannya.

"Mengantar Nona Kang, wanita itu menemui professor Im. Salah satu pengajar di bidang psikologi. Dia dulu bekerja di rumah sakit pemerintah. Dia juga yang menjadi dokter Kyungsoo. Tadinya setelah mendengar cerita ibu panti, kupikir sepantasnya Kyungsoo mendapat perawatan dari dr. Im. Tapi... Kai... Kyungsoo tidak memiliki catatan perawatan fisik. Just psikis.. Tidakkah Menurutmu aneh? Bukankah itu adalah sebuah kecelakaan? Mobil itu menewaskan semuanya kecuali Kyungsoo. Walaupun Kyungsoo selamat, seharusnya dia juga menerima beberapa luka fisik, bukan?"

"Darimana kau mendapatkan cerita itu?" Kai menatap Jongdae tajam. "Kang Seulgi yang mengatakan pada anggota Timku. Namun anehnya aku tidak menemukan catatan kecelakaan itu di kantor." Jongdae menarik napas panjang setelah penjelasaanya pada Kai.

"Kemarin pak Shin bilang, Kyungsoo pernah bercerita jika dia memiliki seorang paman. Seorang Detektif kepolisian tempatmu bekerja. Kurasa kau mengenalnya Jongdae. Detektif Han Kyung." Kai berusaha memberitahu tentang apa yang ia ketahui pada Jongdae.

"Hah? Tentu saja. Pria itu yang mengajariku di masa awal aku bekerja. Lima tahun yang lalu dia meninggal. Tapi yang aku tahu dia tidak memiliki keluarga. Dia keturuan China-Korea. Keluarganya sepenuhnya berada di China."

Kai membanting kepalanya. Ia benar-benar frustasi. Tiap kali menemukan titik terang. Tiba-tiba saja batu besar menutup kembali lorong yang akan mereka lewati. Semua benar-benar rumit. Di luar logika yang ia pahami.

"Apa menurutmu detektif Han menutupi kasus kecelakaan itu? Tapi bukankah tidak ada untungnya?"

Jongdae berdiri dari sofa. Dia merasa lelah hanya duduk dan otaknya menjadi sulit bekerja. Pria itu memilih membantu Jenny membereskan kekacauan di ruangan Kai yang tinggal sedikit lagi.

"Kai! Milikmu?"

Kai menoleh menatap Jongdae. Pria itu mengangkat amplop cokelat dan beberapa berkas. Seingat Kai, dia tidak pernah memiliki amplop cokelat itu.

"Tidak."

Rasa penasaran muncul, pria itu berjalan mendekati.

"Itu... Milik Nona Kyungsoo." Kedua pria itu menoleh menatap Jenny. Wajah gadis muda itu langsung menunduk karena tatapan tajam Kai.

"Jenny... Katakan..."

"Biar aku saja." Jongdae dengan sikapnya yang lembut segera tersenyum pada Jenny. Meminta gadis itu duduk di sofa. Dia sudah membaca judul artikel-artikel di dalam amplop itu.

"Jenny? Kau sudah membaca kliping ini?" Suara Jongdae yang tenang memimpin percakapan. Jarak dua meter Kai mengawasi percakapan mereka. Jongdae melarangnya mendekat karena ia takut emosi Kai begitu besar.

Gadis itu menggeleng pelan. "Tapi aku melihat Nona Kyungsoo membacanya. Nona... Setelah membaca itu dia bilang ingin ke panti asuhan. Kupikir... Itu urusan pribadinya. Makanya hari itu aku setuju tidak memberitahu tuan."

"Jadi? Dia ke panti setelah membaca ini?"

"Pembunuhan satu keluarga.

"Keluarga Do, pengusaha properti..." Jongdae membaca tiap judul artikel-artikel yang telah di susun rapi. Dari tanggal penerbitan dia bisa melihat tanggal kejadiannya. Dua puluh tahun yang lalu. Sudah sangat lama.

"Tunggu! Apa ibu panti mengetahui kasus ini? Kurasa keluarga Do yang dimaksud..."

Pria itu menatap Kai dengan pandangan horor. "Kai! Akan kubuat salinan kliping ini. Kau bawa salinannya ke panti asuhan. Kurasa Nyonya Kang akan bicara sesuatu nanti. Sementara aku menyelidiki kasus ini di Kantor. Akan kucari informasi lainnya dan kau Jenny... Bisa aku percaya padamu?" Dia menatap gadis itu dalam. Perlahan Jenny mengangguk pelan.

"Aku ingin kau bicara dengan Ravi..."

Jongdae sudah menjelaskannya pada Jenny. Kini ia membawa Kai pergi dari mensionnya setelah menyalin artikel-artikel itu.


Kai membawa mobil melaju ke panti asuhan. Perjalanan panjang, jantungnya berpacu sangat cepat.

Tentang masa lalu Kyungsoo.

Langkah mendapatkan Kyungsoo kembali pasti akan sangat sulit. Ia menghubungi Baekhyun. Meminta dengan memohon.

"Professor Im. Kau mengenalnya?"

"Yeah. Dia menjadi mentor pertamaku. Tapi lima tahun lalu dia tidak bekerja di rumah sakit lagi. Lebih memilih mengabdi di dunia pendidikan. Ada apa Kai?"

"Aku mau kau menemuinya. Cari tahu informasi mengenai perawatan Kyungsoo. Wanita itu pernah menjadi dokter Kyungsoo di masa kecilnya. Kumohon Baek."

Di seberang sana, Baekhyun tercekat. Suara segukan? Kai menangis?

"Baek?"

"Aku akan menghubunginya. Kutemui kau jika mendapatkan informasi berguna."

"Terima kasih. Terima kasih banyak noona!"

Seumur hidupnya sampai bertemu Kyungsoo. Kai tidak pernah merasa takut kehilangan. Kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan dunia bisnis. Sayangnya sifat itu menurun pada Kai. Dia hampir saja tenggelam dalam kesibukan pekerjaan hingga Kyungsoo datang dalam hidupnya.

Ia datang sebagai gadis polos yang begitu baik. Bodoh sekali hari itu Kai menganggap Kyungsoo sama dengan pelacur. Kyungsoo bahkan bisa tertawa lepas karena menonton sebuah kartun. Tidak perlu hal yang sulit, semua sangat mudah bagi Kyungsoo.

Setiap pulang bekerja, Kyungsoo menyambut Kai dengan senyumannya. Bahkan pria itu tak bisa memikirkan apa yang sedang Kyungsoo pikirkan. Semua membawa aura positif. Nyatanya wanita itu kini menghilang. Begitu saja seperti embun yang hilang oleh panas matahari.


To Be Continue...


Well, it's a long time. Sorry for everything^^ jika kalian mengalami kebingungan, katakan saja. aku akan mencoba menjelaskannya karena bagian ini memang membingukan untuk beberapa orang. hanya jika tidak ada jawaban pada chapter selanjutnya.

oke, good night and sleep well guys.

-No Preview for chapter 12-

Terima kasih,

RoséBear


[171025. Bahkan pria ini tak bisa memikirkan apa yang sedang wanita itu pikirkan, Lady Rose]