Hai, everyone!
Anne sudah siap dengan chapter penutup, nih. Oh ya, terima kasih buat yang sudah menuliskan review kalian dan memberikan requestnya. Semoga Anne bisa tulis secepatnya. Thank you so much! ^_^
Kiru Kirua : Request Al yang romance, ya? Boleh. Kalau aku buat di fic crossover bagaimana? Setuju? Thanks banget ya :)
Namesyarazein : hai.. terima kasih sudah request. Requestan kamu masuk dalam list. Semoga Romione segera terealisasikan. Thanks :)
La31 : sipp, memang nanggung chapter kemarin soalnya inilanjutannya. Bagaimana ya? Kayak jawaban aku sebelumnya, misalnya Al aku buat crossover mau? Scorp nanti akan masuk juga, kok, bagaimana? Thanks banget atas supportnya :)
Oke deh, sekali lagi Anne ucapin terima kasih banyak atas semangat kalian selama ini. Anne sampai terharu.
Langsung saja yuk,
Happy reading!
"Bloody hell!"
"Diamlah. Jangan buat pagi ini tercemar polusi dari umpatan kalian berdua!" Hermione memulai pertemuan dengan keluarga Potter di bandara Heathrow pagi ini. Kedua Ron akhirnya bertemu dan saling berhadapan. Tidak ada sapaan saat keduanya saling beradu pandang. Melainkan umpatan khas mereka berdua.
Lily dan Rose sudah saling berpelukan melepas rindu. "Kapan-kapan kau harus ke sana juga, Lils!" kata Rose tentang pengalamannya di Australia pada Lily.
James sendiri lebih sibuk memalak Hugo tentang oleh-oleh yang ia pesan jauh sebelum sepupunya itu berangkat. "Tenang, James. Tak perlu sampai mengutukku," Hugo menyerahkan sekotak berbungkus karton coklat dengan tulisan sebuah toko oleh-oleh di Australia.
"Coklat, miniatur kanguru dan gantungan kunci sesuai pesananmu,"
"Thank you, my little Hugo," kata James senang hati.
Sementara di sisi lain, Al dan Harry muda lebih memilih menyendiri berdiri di salah satu pilar sambil mengamati sekeliling bandara. Harry muda terkesima dengan apa yang sedang ia lihat. Ia sendiri sudah pernah datang ke bandara itu namun tak sehebat apa yang ia lihat saat ini.
"Kenapa, Dad? Dad baru datang kemari, ya? Apa dulu bandara ini belum ada?" Al mengamati langit-langit yang melengkung gagah berarsitekturkan gaya modern.
"Sudah, aku pernah datang ke sini saat usaiaku 10 tahun dengan Uncle Vernon. Masih biasa tak sehebat sekarang,"
Al tertawa mendengar cerita ayahnya, "tentu saja, Dad. Itu sudah lama sekali!" jawab Al.
"Oh ya, kau bawa mobilku, kan, Harry?" tanya Ron. Ia mengecek barang-barangnya takut tertinggal.
"Ya, tadi Ginny membawa mobil kami sendiri sementara aku membawa mobilmu. Aku tak mungkin hanya membawa mobilmu sementara mereka semua ikut," Harry menunjuk beberapa orang yang tak mungkin muat dalam satu mobil bersama keluarga Ron.
Setelah semua dirasa cukup, mereka sepekat untuk segera pulang. "Langsung ke rumahmu saja, Harry, bukankah kau mau memulai memulangkan mereka? Rencana kalian pagi ini, kan?" tanya Hermione sebelum masuk ke mobil.
Seperti biasa, area parkir bandara tersibuk di London itu sudah penuh dengan mobil-mobil lain. Mobil Harry dan Ron diparkir berdampingan di dekat pintu keluar, lumayan memudahkan mereka untuk cepat keluar dari area bandara.
"Apa kalian tak lelah?"
"Harry, aku masih penasaran dengan bagaimana jadinya ini. Aku sudah tak tahu bagaimana hari-hari kalian saat membuat dreamcatcher itu. Paling tidak aku bisa menjadi saksi nyawamu dan Ron bisa selamat," Hermione menunggu persetujuan Harry. Berharap adik iparnya itu mengijinkannya untuk ikut pulang ke rumahnya untuk ikut.
"Baiklah," seru Harry.
Dua mobil masuk ke area halaman kediaman Potter dan menepi di dekat taman. Ginny keluar lebih dulu diikuti para anak. Dilanjutkan Hermione muncul dari pintu depan mobil Ron, Hugo dan Rose ikut turun sambil menenteng tas ransel mereka.
"Aku tak pernah menyangka ternyata dulu kita nyasar ke rumahmu. Aku hanya ingat aku dan kau seperti bermimpi tinggal di rumah keluarga yang punya banyak anak yang.. ribut!"
"Aku menyadari ketiga anakku selalu ribut, Ron." Gerutu Harry dewasa. Ia dan Ron terakhir keluar dari mobil setelah menepikan mobil masing-masing di halaman. "Aku juga, tapi aku tak pernah menceritakan masalah ini pada Ginny. Tapi untungnya kita tak ingat kalau keluarga itu adalah keluargaku sendiri, dan kenyataan masa depan yang sama sekali tak kita ingat setelah bangun waktu itu," tutur Harry seperti berbisik.
Ya, Harry dan Ron mengingat jika dulu mereka bermimpi sama akibat pengaruh dreamcatcher itu. Mereka bermimpi tinggal bersama dengan keluarga yang hangat dengan anak-anak yang selalu ribut. Namun nyatanya, saat keduanya bangun tidak ada hal lain yang bisa diingat selain sebuah keluarga yang tak pernah mereka ingat detailnya.
Di dalam rumah, rupanya telah ada Draco, Astoria, Scorpius dan Teddy. Mereka sedang duduk di ruang tamu yang kosong tanpa penghuni. "Hai, maaf kami masuk dengan floo. Tapi rupanya tak ada orang di sini, hanya ada Teddy saat kami sampai," Astoria menjabat tangan Ginny sang pemilik rumah.
"Oh, maaf. Kami tak memberi tahu kalau kami semua menjemput keluarga Ron ke bandara." Ujar Ginny dan Hermione tampak mengangguk sambil berkata, "aku meminta mereka membawakan mobil kami," tutur Hermione.
"Apa kalian sudah lama menunggu? Kau, Ted?"
"Aku sampai lebih awal sebelum keluarga Uncle Draco sampai, Mom. Kira-kira 10 menit yang lalu," kata Teddy membantu Ginny membawakan barang-barangnya.
Dua pria dewasa tampak masuk dan terheran melihat rumah sudah ramai dengan kedatangan Teddy dan para Malfoy. "Hai, rupanya kalian sudah datang," sapa Harry sambil menjabat tangan Draco ramah.
Para anak sendiri sudah sibuk di ruang keluarga saat Rose dan Hubo membongkar barang oleh-oleh mereka untuk para Potter dan Malfoy.
"Terima kasih, Rosie!" Lily menerima boneka kanguru dengan tulisan I Love Australia.
Rose senang para sepupunya senang dengan oleh-oleh yang ia pilih sendiri untuk mereka. Ia hampir lupa dengan kehadiran Scorpius yang sejak awal hanya diam, mempersilakan para Potter junior senang dengan barang-barang yang mereka dapatkan.
"Hei, Scorp. Kau diam saja, aku punya sesuatu untukmu," Rosie merogoh tas ranselnya. Tidak seperti sebelumnya, ia mengeluarkan oleh-oleh khusus untuk Scorpius bukan dari kantung oleh-oleh, melainkan dari ransel pribadinya.
Rosie menyerahkan sebuah buku agenda tebal berlapis rajutan jerami yang dirangkai indah memberikan kesan vintage pada covernya. Dihiasi dengan pengunci sederhana berupa tali elastis berwarna senada di sisi buku.
"S?" tanya Scorpius menemukan inisial huruf S di cover depan.
"Inisial namamu, kan? Aku melihat sebuah toko seni di sana. Mereka menerima costum cover buku catatan sesuai keinginan kita. Ya, aku coba iseng-iseng memesan untukku sendiri, tapi.. aku ingat kau juga suka mencatat. Aku pesankan juga. Semoga kau suka dengan desainku," kata Rose malu-malu.
Remaja itu terkejut mendengar penuturan Rose. Scorpius rupanya baru menyadari jika Rose masih mengingat dirinya untuk urusan oleh-oleh. Padahal ia bukanlah sepupu ataupun teman satu asrama.
"Terima kasih, Rose. Aku se—"
"Ehem ehem..,"
"Kalian kesanalah dulu, nanti aku menyusul. Kau dengar, Hugo," perintah Rose pada orang yang salah. Ia mengira suara deheman itu adalah adiknya. Namun suara itu adalah dari,
"Dia ayahmu, Rose," bisik Scorpius. Rupanya hanya tinggal mereka berdua di ruang keluarga. James, Al, Lily dan Hugo sudah lebih dulu keluar menuju tempat orang tua mereka.
Ron muda tampak berdiri di dekat partisi sambil melipat tangannya, "Dad kecil?" panggil Rose.
"Sedang apa, manis? Kalian ditunggu yang lain di perpustakaan," perintah Ron dengan nada meninggi. Rose bergegas menuju perpustakaan dengan wajah jemberut menahan kesal.
"Muda begini aku tetap ayahmu, Rose!" bisik Ron muda tepat di telinga Rose sesaat setelah melintasinya. Gadis itu salah tingkah.
Tinggal Scorpius dan Ron berdua. Mereka saling pandang, Ron tetap dengan pose awalnya sedangkan Scorpius memeluk buku catatan pemberian Rose erat. "Kau juga cepat ke sana," perintah Ron langsung dijalankan Scorpius.
"Hei—" Ron tiba-tiba menahan lengan Scorpius sebelum kakinya menjejak anak tangga.
"Jangan macam-macam dengan Rose. Aku tak tahu bagaimana sikap Ron di sini terhadap kau dan Rose, tapi aku harap.. kau jadi laki-laki yang baik. Jaga Rose!" pesan Ron.
Scorpius hanya tersenyum pada Ron. "Terima kasih, Uncle Ron," kata Scorpius sebelum berlari menjauhi Ron yang tampak tersenyum di belakanya.
Harry dan Ron muda, didudukan pada kursi dengan sandaran dicondongkan ke belakang. Kepala mereka bersandar nyaman pada sandaran kursi yang cukup tinggi. Kembali, Ginny dan Lily diberikan tugas untuk mengantarkan dua orang dari masa lalu itu untuk kembali ke masa mereka.
Astoria menyerahkan dreamcatcher yang telah dibuat Ginny dan Lily untuk segera di pegang. "Berdirilah di belakang masing-masing pasangan kalian," pinta Draco dengan buku rune di tangannya.
Seperti pasangan sebelumnya, Lily siap di belakang Harry muda dan Ginny ada di belakang Ron muda. Mereka telah siap sembari menunggu Draco membaca apa yang bisa mereka lakukan.
"Rasanya aneh bukan melihat ada diri kita ada di depan sana?" bisik Ron dewasa. Ia dan Harry berdiri berdampingan tepat di depan tubuh muda mereka. Harry hanya menghela napas berat sebagai jawabannya.
Dengan arahan Draco, Lily dan Ginny mengangkat dreamcatcher di tangan kanan mereka dan mengangkatnya tepat di atas kepala pasangan mereka. Sejenak Lily mengamati manik hijau ayahnya. Harry muda menyunggingkan senyum saat menatap Lily yang tampak serius mendengarkan arahan Draco.
"Terima kasih, Lily," ucap Harry muda pelan.
"Sama-sama, Dad. Aku senang bertemu denganmu, walaupun aku hampir bertengkar dengan Mom karena aku mengatakan padanya aku jatuh cinta sejak kau datang pagi itu," jawab Lily dengan kikikan pelan membuat Harry muda melotot tak percaya. Anak masa depannya mengatakan jatuh cinta padanya.
"Konsentrasi pada pusat jaring dreamcatcher kalian, Ginny, Lily. Pandang tepat di tengah. Dan ucapkan dalam hati.. 'reditum mutatio'" Draco mengucapkan mantra dengan aksen latin yang khas. Selesai. Tugas Draco menuntun telah berakhir.
Bersamaan Lily dan Ginny merapalkan mantra itu dalam hati mereka dan seketika itu.. tubuh Harry dan Ron muda lenyap ditelan sorotan cahaya keemasan dari tengah jaring yang membawa keduanya masuk. Tiga bulu yang tergantung bergerak-gerak tak tentu walaupun tak ada angin yang menerpa ketiganya.
Wuss! Tidak hanya dua tubuh yang menghilang, melainkan dua dreamcatcher yang dipegang Ginny dan Lily ikut menghilang dari genggaman tangan mereka.
Bersama dengan hilangnya dreamcatcher dari tangan Ginny dan Lily, sesuatu yang aneh dirasakan oleh Ron dan Harry dewasa. "Hukk hukk!" mereka terbatuk sambil mencengkeram dada kiri mereka kesakitan.
Cepat-cepat Hermione memegang tubuh Ron yang hampir terjatuh. "Ron, kau tak apa?" Hermione panik.
"Dad?" teriak Teddy berusaha mendudukkan Harry dewasa di sisi Ron yang sama kesakitannya.
"Dada kiriku sa-sakit sekali," suara Harry terbata-bata. Napasnya ikut sesak.
Ronpun merasakan yang sama. "Tak apa, itu hanya efek sementara saat jiwa kalian kembali," kata Draco ikut mendekat. Hermione memegang sebelah tangan Ron dan Harry lantas menggenggamnya erat.
"Maafkan aku, ya! Ini salahku," kata Hermione hampir menangis.
"Ini juga salah kami, tak mengikuti penjelasanmu dengan baik waktu itu," Harry tersenyum lega. Semuanya sudah berakhir, kembali dengan selamat.
- FIN -
#
Waaaahhhh rasanya pengen teriak! Lega akhirnya bisa menuntaskan ff ini.
Untuk mantra pemulangan itu Anne ngarang sendiri lagi, dari kombinasi bahasa latin yang artinya 'kembali berubah'. Semoga terkesan keren, ya!
Terakhir Anne mau ucapkan sekali lagi terima kasih sebesar-besarnya utnuk para pembaca Anne yang setia sejak chapter pertama sampai akhir ini. Begitupula yang review, tenaga kalian untuk mengetik review membuat Anne terharu dan ingin memeluk kalian. Huhuhu! :')
Terima kasih banyak, dan tunggu sesuatu yang baru dari Anne. Tinggalkan review kalian juga di chapter ini, ya! :)
Thanks,
Anne x
