.

Absorbed

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: AU/Typo/OOC/Bahasa yang lebay/Mengarah ke reverse harem/Humor yang mungkin tidak cocok ke semua lapisan masyarakat.

SasoSaku a.k.a Flaming cherry blossom

.

.

.

Haruno Sakura untuk lima detik sempat merenung, jangan-jangan rasa sukanya ke Akasuna Sasori sudah mencapai puncak, sudah mencapai level paling dewa karena dalam situasi genting dimana tangan kanan dan kiri susah dibedakan pun ia masih sempat berhalusinasi. Tentang Sasori yang ikut bermain alat musik di atas panggung, pakaian dan auranya yang sungguh berbeda. Keren sekali. Dengan yang pernah mengajaknya makan rumput, benarkah mereka orang yang sama?.

Tapi ternyata bukan (Halusinasi).

Ternyata memang iya (Benar itu Sasori).

Buktinya sekarang dia dibawa kesana, ke lorong yang menghubungkan tangga-tangga gedung. Dan iris coklat itu menikamnya, seolah baru ketahuan mencuri sesuatu. Ampun, baru lolos dari kandang buaya langsung masuk kandang singa.

"Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang?!"

Akasuna Sasori masih meletakkan kedua tangannya di bahu gadis berambut merah jambu. Kalau kukunya panjang permukaan kulit perempuan itu pasti sudah bergores. Dia tidak ingat punya sifat penyabar dan ini ujian yang cukup berat.

"Iya tapi aku..."

Lama Sakura memberi jeda tapi tidak kunjung dilanjutkan. Rusuknya mengembang dan mengempis cepat, masih ngos-ngosan. Kalau sedang tidak dalam kondisi serba salah, dia sebenarnya ingin memuji penampilan Sasori. Setidaknya ada yang bisa disyukuri dari datang kesana, walau 10%. Selain menderita terhimpit-himpit, kapan lagi bisa lihat Sasori yang seperti itu.

"HEI!" Sasori mengguncang bahu Sakura kuat, lalu menarik jauh-jauh tangannya. Apa sih. Bukannya menjawab malah melirik-lirik badannya dari atas sampai bawah. Memangnya ini lucu? Apa baru sebentar sudah lupa bagaimana sadisnya situasi konser tadi?. Sampai di sini saja suara keriuhan masih terdengar jelas.

"Pikiranmu kemana? Aku kan sudah bilang—"

"—Jangan datang, iya aku tahu."

"Lalu kenapa masih datang juga! Kau ini bodoh atau apa!" Tubuh Sasori yang dibasahi keringat seakan menambah amarahnya, gerah dan lengket, ia terus berbicara dengan suara tinggi. Kepalan tangannya menguat, tanda tengah menahan emosi.

"Maaf..." Dihujani suara semi-bentak Sakura baru seakan tersadar. Emeraldnya tak berani memandang yang lain selain lantai tempat mereka berpijak. Sudah tidak mau lagi berkomentar tentang apa yang dipakai laki-laki itu, takut. Terhitung sudah dua kali dia memejamkan mata, kalau-kalau Sasori benar memukulnya.

"Apa Orangtuamu tahu kau pergi kesini?" Suara Sasori dipelankan sedikit, pertanyaannya hanya dibalas gelengan kepala, itu pun sebentar sekali. "Dengar ya Sakura, pergi kemanapun harus dengan izin Orangtua. Kalau terjadi sesuatu padamu siapa yang akan bertanggung jawab?" lanjutnya.

"…"

"Ini bukan tempat yang pantas untuk anak kecil sepertimu."

"Kau juga masih kecil! Kita seumuran kalau kau lupa!." Agaknya dikatai belum dewasa oleh orang yang juga kelihatan belum dewasa menyulut api emosi Sakura.

"Tapi aku bukan perempuan. Jika aku bisa membawamu ke ruangan ini, maka sekumpulan laki-laki yang tadi juga bisa!" Sasori melemparkan telunjuknya kearah pintu dadurat venue. "Mereka bisa membawamu ke tempat yang aku bahkan tidak tahu,..sisanya bayangkan sendiri."

"Mmng..."

Kalau benar-benar diresapi semua omongan Sasori tidak ada yang tidak tepat. Mata Sakura penuh dengan bulir-bulir air, tetapi masih kuat ditahan. Dia menolak untuk memvisualkan dalam kepala, apa-apa saja yang mungkin terjadi kalau sampai dibawa pulang oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. Terlalu seram.

"Untuk satu kali. Untuk sekali saja tidak mau menurut. Padahal bukan untuk siapa-siapa, untuk dirimu sendiri." Lurus tatapan Sasori, seolah hanya Sakura seorang yang bisa dilihatnya. Tiga kali staff konser lewat tidak mempan untuk mengalihkan perhatiannya.

Namun bagi Sakura, sorotan mata itu bagai suntikan satu botol rasa risau cair, yang masuk kedalam tubuh dan mengalir bersama darah, ginjal pun tak sanggup menyaringnya.

"...Ya-yang penting aku minta maaf."

"Minta maaf ke Ayah dan Ibumu sana, dasar anak tak tahu aturan."

"…"

Perut Sakura panas, sebelum pergi memang tidak sempat makan malam. Tetapi sekarang dada dan kepalanya ikut panas, wajah kedua Orangtuanya yang tersenyum hangat terus terbayang. Kalau malam ini benar-benar terjadi sesuatu, dia tidak pulang ke rumah sementara Ayah dan Ibunya cemas menanti. Jahat. betul-betul anak yang jahat.

Yang ini kenapa tidak terlintas, tidak terselip digembiranya dia mengganti pakaian, atau di jalan sewaktu naik kereta?. Benar, Sakura bukan anak yang baik.

"Apa aku ini hanya lelucon untukmu?" Sasori melipat tangan di dada.

Yang masih menjadi persoalan di sini adalah, gadis itu terus diam dan tidak mau menjelaskan. A sampai Z seperti yang diharapkan.

"Haha, kata-kataku tidak pantas dihiraukan, aku cuma orang aneh kan.." Senyuman miring di bibir Sasori jelas bukan pertanda baik. Senyum itu sama pedihnya dengan seseorang yang tak sengaja mengiris jari dengan pisau. Ah, dia paham sekarang.

"...Sasori," Gadis itu tersedak ludah. Tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Bukannya selama ini Kau hanya menganggapku orang aneh? Kau cuma ikut-ikut menghabiskan waktu denganku untuk memuaskan diri sendiri. Kau yang kelewat polos baru tahu di dunia ini ternyata bisa melakukan apa saja asalkan senang. Untuk apa repot-repot mendengar kata-kata dari seorang freak sepertiku, percumakan?. Ha? Begitu menurutmu?"

"JANGAN SOK TAHU!" Tanpa sela waktu berpikir Sakura langsung teriak. Cukup. Mentang-mentang tahu lebih banyak soal ini dan itu jadi bisa seenaknya menarik kesimpulan? Mesin secanggih apapun tak akan bisa membaca pikirannya, apalagi manusia. Apalagi Sasori.

"TERUS KENAPA! SUDAH KUBILANG JANGAN PERGI! HGH—"

Tidak ada perkiraan letak dan posisi. Karena dijawab dengan nada yang jauh dari kata pelan Sasori bertambah gerah, dia reflek mendorong kasar Sakura ke belakang.

Tanpa tahu ada tangga menuju basement di sana.

Semua terjadi seperti kilat, sebelum sempat ditarik, gadis itu terjatuh dengan keras ke lantai bawah. Tahu-tahu sudah duduk memegangi lengan kirinya kesakitan.

"Akh..."

Biru, abu-abu, putih dan kilasan warna hijau. Kemudian hitam karena menutup mata. Serasa ada yang tercabut di dalam tubuh Sakura. Dia melihat percikan kembang api dan tangannya tidak bisa digerakkan, ngilu, sakit sekali. Mungkin karena terbentur anak tangga dan tumpukan properti konser.

Dengan jantung yang terpacu Sakura membuka matanya. Kabur. Pusing. Mungkin tulangnya lepas atau entahlah. Apapun itu, badannya mati rasa dan kilasan warna monokrom terus bermunculan.

Ia lemas dan agak bimbang apa harus menidurkan badan atau tetap duduk. Kepalanya berdenyut namun masih bisa membedakan benda dan warna. Terlebih warna merah yang mendekat kearahnya saat ini.

Tapi Sakura buru-buru mengangkat telapak tangannya tinggi. Memberikan tanda bagi si sumber warna merah untuk berhenti. Jangan harap bisa mendekatinya.

"Hh...memangnya aku tahu akan jadi seperti ini? Kalau dari awal tahu pasti tidak akan pergi." Suara gadis bermata hijau mengecil, seiring tenaganya mulai berkurang.

Sasori menurut tanpa kata, berdiri membatu di pertengahan anak tangga. Pasang telinga untuk setiap kata yang akan didengarnya.

"Aku mengikutimu karena aku suka," air mata yang susahnya minta ampun untuk ditahan akhirnya jatuh juga, Sakura tidak sanggup lagi. "dan siapa bilang aku tidak pernah mendengarkanmu? Sampai detik ini pun aku masih ingat...waktu kau bilang, sapi suka lagu-lagu yang diputar di radio, hiks...kuda nil jantan bisa hamil, dan tertawa 100 kali sama dengan mendayung perahu..10 menit...uuh, hiks hiks." Antara bicara dan menangis keduanya beriringan. Sebenarnya untuk apa juga ditahan-tahan.

Masih terus sesenggukan, Sakura balik menatap tajam wajah Laki-laki itu. "Kau aneh lalu apa masalahnya?" Dengan beringas Sakura menyapu habis air mata.

Disaat tidak tepat begini baru akhirnya dia sadar. Keanehan Sasori bukan masalah karena justru itulah daya tariknya. Itulah yang membuatnya suka. Sangat suka. Itulah yang selalu membuatnya penasaran. Cara berpikir juga cara melakukan sesuatu, dia...dia juga mau ikut, juga mau bisa melakukan hal yang sama.

"Ah, sudahlah, sekarang sudah tidak penting lagi. Aku benci kau Sasori. Aku menyesal sudah menghabiskan waktu denganmu."

Haruno itu meremat tangan kirinya, mencoba untuk berdiri. Sesuatu di dalam tubuhnya berpindah, copot mungkin.

"Aku menyesal pernah kenal denganmu."

Sudah. Sakura tidak khawatir lagi. Dia sudah mengungkapkan segalanya. Dia memang salah, tapi tidak sepenuhnya. Kesalahan ini bukan hanya berasal dari dalam dirinya. Karena hidup saling berkaitan, faktor eksternal di mana-mana selalu ada. Dan si sombong di depannya itu pun ikut ambil bagian.

"Baguslah. Aku pun muak lihat mukamu itu."

Akasuna Sasori memastikan itu adalah kalimat terakhirnya dan pergi. Meninggalkan gadis yang kesakitan, dan susah untuk berdiri itu sendirian di basement. Ada kerjaan lain yang lebih penting daripada mengurusi anak orang.

"Sial.."

Belum pernah dalam hidupnya Sakura semenyesal ini. Waktu SD dulu saja dia pernah ranking 29 dari 35 anak, dan penyesalannya tidak terlampau parah, walau Ibunya mengurangi uang jajan, walau Ayahnya tidak jadi membelikan yoyo.

Air matanya seperti keran, tidak mau berhenti. Dia marah dan bertambah panas.

'Aah, terkutuklah aku dan pencapaian bodoh itu.'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

06.37 AM

Aroma maskulin dari parfum yang biasa dipakai laki-laki dewasa memenuhi rongga hidung Haruno Sakura. Pagi itu ia dibangunkan oleh belaian di kepala, lembut dan hangat.

Ayahnya merespons semua permintaan maaf yang bisa dia buat dengan beberapa anggukan. Sebenarnya itu tidak mengurangi apa-apa, hanya seperti; ya sudah. Masih, dada Sakura terasa dicubit-cubit.

"Tou-san berangkat ya."

Sambil berjalan Kizashi mengancing satu persatu kemejanya, melewati sang istri yang berada di samping pintu.

"Iterasshai.." ucap Sakura pelan.

Masih sejernih air hujan yang ditampung, tadi malam itu. Bantuan datang padanya tidak lama setelah jatuh. Ada seseorang yang bersedia menuntun dan membawanya keluar gedung, memanggilkan taksi lalu mengantarnya ke rumah sakit tuntuk perawatan luka dalam.

Setengah jam kemudian Ayah dan Ibunya datang dengan wajah…ah lewatkan bagian itu Sakura tidak mau mengingatnya.

"Sarapanmu, habiskan." Haruno Mebuki mengikuti jejak suaminya, keluar dari kamar Sakura. Makan pagi paling sederhana, cepat tapi bergizi sudah dibuatnya, jadi dia tidak mau berlama-lama berada di sana.

'Masih kesal mungkin..' Sakura membatin. Ayah dan Ibu memang berbeda, kalimat 'aku memaafkanmu' samasekali belum terlihat dari gestur Ibunya.

Sakura ingin menutup suara hati karena lapar. Sumpah dia lapar sekali, dan setelah nampan putih berisi nasi dan sup ditaruh didekatnya, rasanya seperti korban bencana baru dapat bala bantuan dari helikopter.

"Ah,.ssh."

Terlalu cepat mengambil sendok, dia lupa. Kata dokter, sendi engsel di siku kirinya bergeser. Sakura sempat perhatikan bagaimana bentuk tangannya yang berubah aneh tadi malam, menonjol di sana-sini. Tapi syukurnya tidak patah atau berdarah yang serius. Jadi hanya perlu diperban kuat, tidak perlu penyangga. Sembuhnya juga cepat, paling lama (katanya) tiga minggu.

Tetap saja tidak boleh banyak bergerak tapi.

"Tsk.." Nafsu makannya jadi berkurang meskipun benar-benar lapar.

Drrt drrt.

Getar ponsel tanda notifikasi menambah hambatan rasa lapar Sakura. Layar ponsel yang berada persis di sampingnya itu bercahaya, mengundang untuk segera diperiksa.

Ternyata itu sebuah e-mail. Sebuah komentar.

[New comment has been posted to your website.

In : Catatan harian mahkluk peninggalan jaman purba, langka dan hampir punah (dilindungi pemerintah)Part 12/unknown

From : Rumput laut

Sakiiiiiiii, kapan mau posting catatan harian Komori lagi? T.T aku nungguin, tapi udah lebih dari satu bulan nggak ada update-an. Aah, gelisahhh. Biasanya setiap senin ada yang baru. Tapi sekarang nggak ada lagi. Padahal agenda kegiatan aneh Komori itu udah mencerahkan dan mengangkat sel-sel kulit mati(?) di wajahku, udah memberikan secercah harapan untuk hidupku yang penuh ketidakpastian ini T.T, tulisan Saki lucu, aku suka, posting ya, onegaiii.

salam, Nori.]

Selama dua menit Sakura terdiam. Alisnya naik sebelah.

Misinya untuk melakukan hal baru dan menjadi orang berguna sudah terwujud. Tanpa tujuan komersil dia bisa membuat orang lain yang bahkan tidak dikenalnya merasa senang. Tidak seberapa sih, tapi lumayan keren kan?.

Kalau begitu, bolehkah dia berhenti sekarang?

Payah memegang ponsel dengan sebelah tangan memang, tetapi Sakura berusaha melawan. Ibu jarinya berupaya mengetik, beberapa huruf menjadi kata, beberapa kata menjadi kalimat.

Penuh kesabaran dia menulis balasan untuk sebuah komentar yang mengusik ketenangan hatinya.

[Nori maaf, mungkin nggak bakalan ada lagi tentang Komori yang bisa kuceritakan. Untuk hari ini, besok dan seterusnya. Jadi jangan ditunggu-tunggu.

Dia udah mati]

.

.

.

.

.

.

.

"Guy Sensei menulis lirik kemarin, aku yang jenius keturunan beethoven menjadikannya sebuah lagu, dengarkan ya. Ekhm. OHH ~ mentari pagi menyilaukan~ berikanku semangat lewat limpahan vitamin D~!"

"Aduh, anak siapa ini."

"Masaaa~ mudakuu~ penuh gejolak dan tekanan batin~ tapi aku takkan menyerah sampai iklim negara ini berubah tropis~heyaah!"

"—Berisik woy!, karung mana karung, ini orang kita jual online aja bisa nggak?."

"Bakar kalori, tingkatkan optimisme dan staminaa—eh"

Rock Lee langsung berhenti menari perut sambil menyanyikan lirik dari secarik kertas yang ditulis tangan oleh sang guru favorit di depan kelas, ketika kakinya tak sengaja mengijak sepasang uwabaki bercorak biru. Maklum, sudah terbakar kobaran api semangat masa muda.

"Uoh! Sakura-chaan maaf—ah! Haa?, ada apa dengan tanganmu?"

Lee tercengang, mulutnya tidak bisa dikatupkan. Gadis pujaannya hari ini datang dengan aura suram dan sebelah tangan dibalut perban putih. Ada apa? Apa selama ini banyak yang cemburu karena dia mendekati Sakura? Apa Sakura begini karena dilukai oleh fans-fansnya? Ya ampun, ternyata ini resiko menjadi extra cool. Tahu begini Lee tidak akan pakai facial wash for men lagi.

"Hmm…itu"

Grep.

Lee menangkup kedua pipi Sakura. "Sayang, kenapa bisa jadi begini? Katakan padaku!."

Aksi mengundang radikal bebas Lee ternyata tidak disukai pihak-pihak bergender sama di dalam kelas. Mengingat posisi Lee sebagai aktivis perserikatan 'Peduli, kasihani dan selamatkan jomblo'. Itu tindakan yang kurang ajar, menabur garam dan jeruk nipis di atas luka. Ibu-ibu, bisa juga dilumurkan ke ikan supaya tidak amis #random fakta memasak (abaikan).

"Oi oi, jangan asal pegang, Sakura bukan punyamu, beli sendiri." Pahlawan bertato segitiga di pipi datang lalu memisahkan Lee dari Sakura, seolah gadis itu kalkulator, makanan ringan atau kantong teh celup yang tidak bernyawa."Eh tapi iya, kenapa tanganmu?" tanya Kiba penasaran. Heh, ternyata sama aja.

"Itu, aku…keserempet.."

Jujur otak Sakura tidak bisa dipaksa berpikir kritis dalam berbohong. Dia adalah tipe orang yang gelisah kalu tiba-tiba jumpa dompet di jalan dan tidak ada kantor polisi terdekat supaya bisa diserahkan. Yang waktu kecilnya akan benar-benar mengaku pipis di celana kalau ditanya. Istimewa sekali.

Pipi Sakura serasa ditumbuhi kumis, badannya berubah abu-abu dan licin bersinar. Belasan pasang mata perhatikan bagaimana mulutnya berbicara, seperti menunggu atraksi anjing laut di kebun binatang. Tidak tanggung, beberapa sampai mendekat, dari jauh terlihat seperti mengelilinginya.

'Lah, kenapa jadi diliatin gini..' Apa sepenting itu perlu tahu alasan tangannya sakit?.

Gluk

'Tenang jangan gugup, akumulasikan rasa percaya diri, ingat kekuatan spiritual dari dalam.'

Tiba-tiba jiwa ahli kungfu yang sering bermeditasi di gua Sakura muncul. Entah atau dia berubah menjadi avatar Aang, tapi lama-kelamaan ini tidak seburuk pidato bahasa arab di depan khalayak ramai, tidak menyeramkan ternyata dipelototi banyak laki-laki.

"Keserempet..badak liar." Sakura berujar setelah otaknya teracak-acak memilih jawaban.

(Sound effect: hembusan angin kencang)

"…..."

Masing-masing pemilik belasan pasang mata speechless. Apa yang barusan telinga mereka dengar?

'Eh, kok aku bilang gitu—' Lancar sekali mengarang bebas, Sakura pun berpikir dua kali sambil menepuk-nepuk bibirnya. Kesaktian ini dapat darimana sebenarnya. Ah, pasti karena terlalu banyak mengetik postingan-postingan aneh di web.

"—Haaaah?"

"Badak dari Hongkong."

"Hahaha kau ini yang benar.."

"Teruslah begini, lima tahun lagi kau akan jadi komedian."

"Sejak kapan..padahal kita sekelas...kenapa aku baru tahu kalau Haruno sedikit miring kepalanya."

Hal negatif yang hendak disesali seketika tidak jadi. Responden memberikan reaksi lain, sepertinya secara tak sengaja Sakura menunjukkan bakat alami sebagai pelawak—yang samasekali tidak diketahui sebelumnya. Mereka menepuk-nepuk pundak gadis itu, ketawa-ketawa gak jelas.

'Emangnya lucu apa..' dalam alam bawah sadar, Sakura membuat banyak hipotesis. Supaya makin intens ia mengangkat kedua sudut bibir keatas, hidungnya otomatis berkerut.

"Sakura, mukamu jangan dikebabi-babian-nin gitulah.." dengan satu tangan Kiba mengusap wajah gadis berambut merah jambu cepat, dari atas dahi sampai kebawah dagu.

Hei, sang korban pun tak kalah cepat menagkis, "Aah, babi apanya, maju cantik mundur cantik gini kok." Tidak terima diperlakukan seperti bayi yang dimandikan secara brutal dengan waslap.

"Maju nyungsep mundur kena tubruk baru benar."

"Rrghh, Kibaa!"

"Buatku kau ekstrak kulit manggis yang paling oke Saku—hkk!"

Pasti, Lee akan kembali menunjukkan betapa kreatif cinta yang ia miliki kalau Kiba tidak menahan kuat lehernya dengan siku. Pencegahan sebelum terlambat.

'Haah,' Sakura berbalik dan berjalan menjauh. Pagi ini belum apa-apa sudah diinterogasi. Ya, sebenarnya dia tahu akan jadi begini, tapi setidaknya berikan waktu untuk duduk dulu. Lama-lama berdiri tangannya mulai ngilu lagi.

"Mau kemana? Biasanya barang contoh siswi teladan selalu di depan.."

Gaara menangkap pergelangan tangan kanan Sakura. Dari semenjak pertama masuk kelas pagi ini, Gaara terus memperhatikan gadis itu. Ingin bertanya banyak hal, namun bel masuk pasti berbunyi sebentar lagi.

"Hh, aku bosan duduk di sana." Emerald Sakura perlahan tapi pasti digulirkan ke bangku paling depan di barisan kanan dekat tembok. Tempatnya biasa duduk. Bersama Orang itu.

Hari ini tampak berbeda, Laki-laki itu memakai jaket hoodie hitam. Kontras dengan warna rambutnya yang tenggelam diantara lipatan tangan. Tak acuh dengan lingkungan sekitar.

Ah, geramnya. Tanpa sadar telapak dan jari-jari Sakura dikepalkan. Kulitnya yang putih membuat pembuluh darah semakin menonjol.

'Hentikan. Jangan coba merusak mood sendiri.' Buru-buru pemandangan itu dialihkan ke warna hijau pudar yang melekat di bola mata Gaara. Entah kenapa hari ini kelihatan lebih sejuk, lebih indah, dan membawa ketenangan. Dibanding warna coklat yang memuakkan.

"Duduk bersamaku saja." Gaara memberi tawaran. Soal Lee yang sebangku dengannya gampang, bisa diusir nanti. Kalau nggak mempan dalam tas Gaara ada obat nyamuk semprot.

"Tidak, terimakasih." Halus tolakan Sakura, sehingga kekecewaan di raut wajah Laki-laki berambut merah menyala tidak terlalu kentara. Tanpa menunggu apapun, ia lanjut berjalan.

Bangku kurang pergaulan di sudut paling belakang adalah tujuannya. Ayolah, siapa yang mau duduk disana?. Biarkan untuk minggu-minggu terakhir sebagai anak kelas satu dilewatinya bersama debu dan sarang laba-laba. Tanpa teman dan popularitas. (Lah emang sejak kapan dia jadi artis?)

"Kau? ck, mau apa kemari."

Eii, tunggu, karena susunan meja ditakdirkan berpasangan, bangku kurang pergaulan tidak sendiri. Ada Nara Shikamaru selaku penunggu angker di sebelah bangku itu. Tengah menatap malas pengganggu tidur paginya.

"Err, a-aku duduk di sini bolehkan?" Tanya Sakura agak ragu, khawatir diam-diam begitu Shikamaru ternyata menyimpan golok lalu menusuknya.

"Mendokusai na,..lakukan semaumu." Bagai beruang, Shikamaru lanjut tidur lagi.

Sakura memilin ujung kumis transparannya. Langsung saja di dalam kepala dia menelurkan teori 'Jangan-jangan Shikamaru anak malam, atau raja dugem'. Ya pagi tidur, siang tidur, udah agak sore mau pulang juga tidur, apa itu namanya kalau bukan raja dugem? Pasti Shikamaru hanya beraktivitas di malam hari, nocturnal. Eh, maling ayam kan juga beraksi di malam hari ya.

Baru tiga menit Sakura beradaptasi di meja baru, Yamato Sensei masuk. Pria itu datang dengan membawa kotak kardus yang punya lubang di atasnya.

"Selamat pagi minna. Hari ini akan dilaksanakan ujian semester. Untuk menghindari 'Serikat tolong menolong', silahkan ambil kertas dari kotak cantik yang telah disediakan."

Yamato tersenyum bahagia karena bagian depan kotak itu sudah ditempelinya stiker Princess Elsa.

.

.

.

.

.

.

'Demi naga terbang di iklan susu kalengan, kenapa aku harus sebelahan sama mahkluk dari pluto ini lagi sih.'

Bagai ibu dari anak durhaka, Sakura terus mengutuk. Sudah bagus-bagus memilih tempat ujian, ada undian 'berhadiah' yang mengubah segalanya. Dia dapat nomor 11 dan Sasori 12, hasilnya? Sebangku lagi. Ya ada renggang sedikit karena ujian memang, tapi tetap saja kan.

Sakura terus bergeser kekanan kekiri tidak nyaman. Ujung bibirnya berkedut konstan ketika warna merah tertangkap ekor mata. Duduk dan mengerjakan ujian di sini membuat Mood pagi harinya hancur berantakan.

'Fokus Sakura, fokus. Baca soalnya baik-baik.'

[4. Dari titik A Sasori berjalan menuju arah timur sejauh 5 km sampai titik B, lalu lanjut ke arah utara sejauh 10 km sampai ke titik C, berapa jarak AC?]

[7. Sepeda Sasori mempunyai roda belakang dengan jari-jari 35 cm, gigi roda belakang..]

[8. Benda bermassa 10 kg diikat Sasori dengan tali di tiang, berapa tegangan tali jika bergerak..]

[12. Berapakah panjang fokus sebuah kacamata yang dipakai Sasori kalau dia mempunyai titik dekat..]

[21. Seekor Sasori berjalan sepanjang garis lurus dengan persamaan..]

'ASTAGA, ini kenapa jadi Sasori semua…aah ada apa dengan kepalaku.'

Sakura menjambak rambutnya kesal. Waktu terus berjalan, dia tidak boleh seperti ini. Bisa-bisa sebelum sempat dikerjakan bel sudah berbunyi lagi. Hirup, buang. Fuh. Lebih fokus.

Di kertas buram Sakura mulai mengumpulkan apa-apa yang diketahui, menelaah pertanyaan dan rumus yang sesuai untuk soal nomor 1. Untung yang sakit cuma tangan kirinya, kalau sampai dua-dua habislah sudah .

'Ah, Salah salah salah, bukan pakai yang ini..' ada kesalahan prosedur pengerjaan, Sakura cepat-cepat mengeluarkan penghapus dari kotak pensil.

Entah kenapa sulit sekali mengambil dengan sebelah tangan. Dan ketika sudah berhasil keluar penghapus itu malah loncat indah, menjuarai pekan olahraga nasional. Penghapus itu menggelinding jauh sampai ke kaki Yamato Sensei.

'Mampus, gimana ngambilnya itu, aku susah membungkuk.'

Sakura melihat ke sekelilingnya. Semua orang tampak mengerjakan ujian dengan tenang. Chouji menghitung sambil makan roti crackers, Shikamaru tertidur pulas diatas lembar kertas soal dan jawabannya, sudah selesai duluan.

'Gila udah siap aja. Itu otak apa microsoft excel.' Sakura yang frustasi berhenti menggaruki pipi karena sudah memerah. Sesuatu kemudian disodorkan kepadanya.

Sebuah karet penghapus putih. Dari orang di sebelahnya, yang mengerjakan soal sambil menopang dagu. Seperti tahu dirinya sedang kesulitan.

"Hih, nggak butuh." Sakura berbisik marah dan melempar penghapus putih itu ke depan. Dia..sebal, mata coklat Sasori yang sayu seakan mengintimidasinya, menandainya sebagai yang lemah.

"Aw!," Penghapus maut itu ternyata terbang dan mendarat di ubun-ubun Yamato. "siapa yang berani-beraninya melempar penghapus ini?!" Yamato terkejut, karena dibalik tingkahnya yang seolah membaca buku, sebenarnya dia sedang memainkan game 'dress up your little ponny' di ponsel.

"Saya Sensei, maaf tidak sengaja."

Laki-laki yang sudah melepaskan hoodienya itu langsung berdiri dan berjalan ke meja guru, memungut karet penghapus lalu membungkukkan badan, simbol permintaan maaf kedua.

Walau mulutnya terkunci, penghapus Sakura yang jatuh pertama ikut diambil. Penghapus persegi yang juga berwarna putih itu dia kembalikan, dia letakkan di atas meja pemiliknya.

Tanpa memandang sekilas, tanpa pasang ekspresi. Lalu kembali lanjut mengerjakan ujian. Tenang, seperti itu bukan masalah.

Tapi tidak untuk Sakura. Matanya menyipit. Sebelum benar-benar digunakan, menghapus karet itu dia gosok-gosokan ke rok terlebih dahulu. Mensterilkan kuman-kuman.

SREEK.

"—AAH, SUMIMASEN! Aku hah..telatth..hah..hah hh."

Uzumaki Naruto membuka pintu kelas tanpa tata krama, bagai manusia di zaman batu, dengan pipi merah, napas tersengal dan baju basah seperti baru menyebrangi sungai berarus deras. Seluruh atensi penghuni X-B teralih padanya.

"Kebo, lama banget datanya. "

"Udah mau pulang ini. Sana sana."

"HOOO..Nar, Nar.."

Semua hujatan itu hanya Naruto balas dengan cengiran lebar. Kalau dizoom, ada banyak serpihan cabai di sela-sela giginya.

.

.

.

.

.

.

"Aku rasa dia menyembunyikan sesuatu dalam tasnya."

Aburame Shino menyenggol bahu Kiba. Naruto datang terlambat dan gelagatnya aneh. Lebih waspada, celingak celinguk kanan kiri, seakan khawatir kalau-kalau ada yang memperhatikannya dengan curiga. Dan yang pasti tas oranye hitamnya dipeluk sepanjang waktu, sudah seperti menyusui anak sendiri. Mereka yakin bukan begitu cara kerja kelenjar payudara laki-laki.

"Menurutmu bagaimana?" Kiba bertanya ke Sakura. Gadis itu duduk di dekatnya, ikut menyadari ada yang beda dari si pirang berkumis.

"Ngg, srrp..."

Sakura mengangkat bahu, menyeruput jus kotak rasa mangga yang hampir habis. Dia ingin pergi keluar kelas untuk membuang sampah dan mencari udara segar. Kelasnya membosankan.

'Ah?'

Sakura terdiam di ambang seperti dirinya...bisa bosan juga?.

Dia mulai sadar, tapi tidak mau setuju. Mungkin saat ini dia sudah berubah. Menjadi orang lain, entah siapa.

Bukan Sakura yang dulu lagi.

.

.

.

Halaman belakang tampak sepi. Semenjak rumor hantu penjual jambu biji yang tewas tersengat satu gerombolan lebah sekolah merxeka beredar, tidak ada yang bernyali tinggi untuk lewat-lewat tanpa tujuan jelas di sana.

Sakura tidak seberani itu, tapi tempat lain sudah penuh dengan orang-orang. Dalam hati dia mengulang-ulang kalimat 'aku anak sehat tubuhku kuat' supaya pikirannya tidak kosong. Kalau kesurupan nanti bisa malu kan.

"Pada tanggal 30 April 1975 Vietnam Utara berhasil menduduki Saigon dan mengakibatkan berakhirnya perang yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun lamanya."

Langkah Sakura terhenti. Seperti ada guru literatur tengah berbicara panjang lebar. Atau narator di film-film lawas?. Astaga, apa dulunya penjual jambu biji itu tentara?.

'Siapa sih...' Ragu-ragu tapi tetap dilakukan, dari balik tembok Sakura mengintip dengan sebelah mata.

Halaman belakang sekolah memang sepi, pohon semak-semak dan bunga tertanam rapi, tiga kandang hewan peliharaan tersusun seperti biasa, kebun tanaman obat juga kosong, tidak ada yang praktek di sana. Biasa saja—Oh.

Oh...ditambah Akasuna Sasori, yang duduk di samping pohon besar bersama tumpukan buku-buku.

'Dia membacakan sejarah perang Vietnam ke...pohon?' Sambil mengerutkan dahi otot pipi kanan ditarik Sakura.

Dia semakin heran di setiap detik yang terlewat, terlebih waktu Sasori mulai mengelus kulit pohon dan memeluknya. Memancarkan afeksi, penuh kasih sayang.

'Udah sarap kali ya..'

Dua ekor kelinci muncul tidak tahu darimana, melompat-lompat mendekati Sasori. Mungkin kandangnya dibuka. Laki-laki itu lalu mengeluarkan wortel mentah dari kantong celana, sebelum disuapkan kemulut kelinci, ujung wortel tersebut terlebih dulu digigitnya.

'Beneran kesambet dia..' Bunyi krauk keras wortel yang di gigit kedengaran hingga 10 meter jarak mereka.

Ketika Sasori mengganti buku ke dongeng ikal emas dan tiga beruang Sakura tak mau peduli lagi. Bagaikan Snow White live action, putri yang cinta lingkungan dan disayang binatang—eh putra maksudnya. Menggelikan.

"TANGKAP DIA! JANGAN BIARKAN LOLOS!"

BRUK!

Gravitasi menarik Sakura karena ada dorongan berkekuatan hulk dari belakang. Gadis itu tersungkur keras ke rerumputan.

Kiba, Shino dan Lee masih penasaran dengan isi tas Naruto, karena secara verbal tak mempan mereka coba menyelesaikannya dengan fisik, dengan otot. Jalan kekerasan. Hasilnya? Naruto kabur lah. Kejar-kejaran ala james bond tidak terelakkan, settingnya terus berganti. Lantai tiga, dua dan kini halaman belakang.

Dan aksi mengintai Sakura terbongkar dalam kedipan mata.

Laki-laki itu tidak kaget, malah sejenis...terganggu. Mereka bertukar tatapan dalam hitungan detik saja, selanjutnya Sasori kembali membolak-balik halaman buku-buku disekitarnya.

Rumput gajah mini yang berada di bawah permukaan kulit diremas Sakura. 'Sudah tanganku seperti ini karena ulahnya. Aku jatuh pun tidak peduli.' Bohong kalau Sakura tidak ingin diperhatikan. Namanya juga perempuan, gengsinya setinggi atlit basket. Sakit, semoga engselnya tidak bergeser lagi.

"Ah terserah lah—"

"Para idiot memang tak kenal waktu.."

Bangkit bukan perkara mudah, tetapi Sakura tidak menyangka ada yang menarik tubuhnya keatas, sekedar menolongnya kembali ke posisi semula.

Kulit putih bersih, iris hitam pekat, rambut biru tua. Uchiha Sasuke adalah orang terakhir dalam list orang berbudi pekerti miliknya, ya tentu dalam kasus menolong orang lain.

Hal magis apa...pelet dari nenek keriput mana yang tidak sengaja menempel di badan laki-laki itu?. Demi DVD senam jantung sehat bajakan, cara Sasuke membantu Sakura berdiri begitu sabar dan lembut, seperti perawat para lansia di panti jompo.

"Sakit?"

"Iya..."

"Apa suster di UKS tahu cara memeriksanya?" Sasuke membersihkan sisa rumput yang menempel di seragam gadis itu.

"Entah...tapi," Untuk yang mungkin terakhir kali, Sakura menoleh ke Sasori. Tidak lagi ada balas tatapan. Terlihat bodoh kalau hanya dia yang lakukan, sementara laki-laki itu tak sudi menengok kearahnya."ayo kita coba saja."

'Makananku sehari-hari tidak perlu ditanya, soal mengacuhkan orang aku bisa lebih dari itu.'

'Ini yang kau minta? Baiklah'

.

.

.

"Hmmf! Hmnhmn hmmm!"

Tas Naruto akhirnya digeledah, sementara sang empu disekap di sudut gudang dengan mulut tersumpal dasi.

Isi tas Naruto sama dengan mereka, bawaan lebih sedikit karena sedang ujian. Shino tidak menyerah tapi, dia membuka resleting kecil yang berada di sela-sela tas oranye itu. Ada di sana, sebuah kotak kecil berwarna hijau biru. Isinya krim dalam tube putih panjang.

Shino membaca indikasi dan cara pakainya.

"Ya ampun, salep anti jamur dan kurap? Ini yang kau sembunyikan dari tadi?"

"JADI NARUTO KURAPAN? AIIHH"

"Apa itu menular?"

"Iya kurasa. Gawat, harus cepat-cepat cuci tangan, kita udah megang-megang dia kan!"

Tiga remaja laki-laki dengan warna rambut yang hampir sama langsung berlari terbirit menuju kamar mandi. Korban mereka ditinggalkan begitu saja.

"Kampret, kenapa obat kurap itu cuma dijual di apotek dekat sekolah sih.."

Ya salah sendiri kenapa belinya pagi-pagi, kerajinan. Mungkin Naruto tidak tahu, tapi (sepertinya) mulai besok dia punya julukan baru, si anak kurap. Mari doakan semoga ketabahan selalu menyertainya pemirsa. Amin.

.

.

.

.

.

.

.

.

01.30 PM

"Iya, tidak perlu dijemput,."

Sakura tidak ingin merepotkan ibunya yang hari ini akan pergi ke seminar kesehatan. Satu tempat duduk yang telah dibayar memang harus diduduki bukan? Dia yakin bisa pulang sendiri, rumah mereka bukan di Afrika Selatan, naik bus juga sampai.

"Wakatta, jaa—"

Begitu tombol merah hendak di tekan, mata Sakura memergoki sosok 'Man from the star' lagi, Sasori. Berjalan santai ke halte bus yang sama dengannya.

"Nggak nggak nggak."

Langsung saja Sakura bersembunyi dibalik tiang listrik. Jalan menuju halte atau kereta bawah tanah hanya satu. Untuk menghindar masa harus jalan memutar? Itu jauh sekali.

"Jangan-jangan dia punya banyak kloningan."

Sepertinya memang harus jalan memutar, Sakura benar-benar tidak ingin berumpa dengan Sasori, dia lelah. Bukan fisik tapi mentalnya.

Sakura merubah arah dan belok ke gang terdekat. Daripada bengong di tiang listrik lama-lama, bisa-bisa dikira lagi nempel kertas iklan 'Toilet anda mampet?'. Apa kata kakeknya di angkasa sana nanti.

"BAAA!"

Seorang wanita berwajah cemong muncul tiba-tiba dari kotak-kotak kayu di ujung jalan. Rambutnya awut-awutan seperti puluhan tahun tidak disisir.

'Buset, apaan nih.' Sakura sudah berjalan cukup jauh, tahu-tahu ada olahraga jantung.

"Kamu kan yang kemarin nyulik anakku? KAMU KAN? NGAKU GAK!" dengan mata melotot wanita itu menunjuk-nunjuk siswi SMA berambut merah muda, menghadangnya untuk lewat.

"Ha? an-anak yang mana.."

"Huuh huhu~ iniii!" Dari tumpukan kotak kayu wanita berbaju dekil mengeluarkan poster Bruce Lee bertelanjang dada yang seksi.

'Wah, orang gila deh ini kayanya,'

"Hiks hiks, anakku dimana…susah-susah dierami malah kabur.." wanita itu mencakar-cakar pipinya histeris.

'Ngawur, itu anak manusia apa burung? aku harus cepat pergi—'

"—HEEH!, disembunyikan dimana dia? DIMANA?!"

Tas selempang berwarna violet milik Sakura ditarik dengan tenaga kuda oleh ibu-ibu yang ternyata tidak waras.

"Eh eh eeh, jangan!" Perlawanan Sakura berkurang 50% karena tangannya sakit. Tapi dia tidak mau menyerah, pasti ayahnya tidak akan percaya tas sekolah bisa dibawa lari orang gila.

'Tuhan, dari kemarin aku sial terus..' batin Sakura merasa jadi orang pinggiran.

Sang ibu berbadan gemuk masih gigih menarik barang yang tampak kemilau di matanya. Tetapi besar tenaga tidak sebanding dengan keseimbangan, wanita itu mendapat tolakan dari samping dan jatuh ke kotak daur ulang berisi sampah-sampah.

Tas Sakura kembali ke pundak. Pelan-pelan sekali, ada remasan yang mengikat semua jemarinya. Ada seseorang yang membawanya menjauh dari si ibu-ibu stres. Pori-pori orang itu mengeluarkan banyak keringat sehingga tangannya ikut basah.

"Jangan pegang-pegang!"

Karena licin mudah bagi Sakura untuk membebaskan telapak tangannya. Dia tahu siapa. Sudah, tidak perlu disebutkan.

"Kenapa kau terus yang muncul. Katanya muak lihat mukaku!"

"…"

"Aku tidak suka, jangan pura-pura peduli!"

"…"

Sakura mendorong bahu Laki-laki yang lebih tinggi sedikit darinya karena tak mau menjawab. Tidak seberapa, tidak sekuat binaragawan itu, tapi mantan teman sebangkunya sampai mundur beberapa langkah ke belakang, kepalanya terantuk papan nama jalan.

Di kesempatan ini Sakura melihat ada warna biru bercampur ungu di sekitar mata Laki-laki itu, seperti lebam habis berkelahi.

Tapi bukannya kasihan, bukan iba. Sakura malah tersenyum remeh.

"Ingatlah, aku akan membiasakan diri untuk membencimu."

Dia sudah berikrar untuk lebih dari sekedar tidak peduli. Dan sekarang, adalah waktu pembuktian.

.

.

.

TBC

.

.

.

Wekekekekekekke

Guest10 : YA AMPUN. Itu kalo kamu gak bilang aku gk tau, bisa aja jumpain yg begitu ya. Jgn bingung itu dia copas fic ini terus di edit2. Aku gk marah tapi sedih aja, soalnya dia gak bilang2 T.T, sedih baget. tapi yaudah biarin aja, masa aku harus paksa2 dia berhenti, siapa tau itu malah bisa ngembangin potensi nulis dia. Makasih ya udh kasih tau :') aku ambil sisi baiknya aja berarti sebagai author fic humor aku berhasil, sampe dia pengen bikin versi dia sendiri hohoho.

aidilla. azzahra : Iiii beneran dimarahin? Berarti kamu ada bakat nyanyi, suaranya powerfull gitu sampe ketawa aja ked8engeran emak ahahahaha.

Gynna Yuhi : IIIIH jangan baca sendiriaan. Aku takut kamu pingsan nanti, kejang2, siapa yang nolongin? Hayo. Baca di tempat yang banyak orang ya, kaya di mall, di indomaret gt.

zeedezly. clalucindtha : Dia akan selalu imut kok :3 sabar ya, ada masa2 transisi bentar lg.

imspecially3 : Ih ih ih, aku tu setiap baca fic orang lain (terutama yg rapih, bahasanya bagus, sesuai EYD) aku semakin ngerasa gak bisa nulis, kayanya tulisanku terasing dan bodoh gitu -_- kaya; 'ini sebenernya aku lg nulis apa sih'. Iyaa Sasori itu cool sombong gimana gitu kan aslinya ckck . Aku pengen discon krna aku ngerasa bingung mw gimana ngembangin ceritanya. Plus joke humornya harus baru terus huhu.

Persephone-Athena: Reginaaa O.O, ternyata jati dirimu yang asli adalah seorang dewi yunani? *sembah. Temen kamu itu dimana? Nanti aku cari lewat google map HAHA. ekhm di-dia cowo kan..mm ganteng gak? xD

Mayu Tachibana : Nanti kalo kamu sakit kakak dateng, bawa banyak oleh2, terus kakak bekep deh kamu pake bantal biar cepet sembuh. Muehehehe *jahat amat. XD

Niel : HA!, keputusan yang baik, harga bbm kan naik, harga bibit rumput jg naik, mama gak punya uang buat terus2san beliin kamu rumput niel. Ssst, di antv lah, mama suka nonton jodha akbar hahaha#mengumbar aib. Nah kalo kamu rasa nama ramen dingin aneh, pake aja ramen basi, atau ramen kembang XD.

Ikanatcha96 : Iyaaa Gaasaku ada flsbck nanti tp gak tau kapan, cari waktu yg pas dulu hmp! :D

Saus Sambal : chap 50 wadeh :v, udah keburu kawin kali akunya ngetik segitu banyak. T.T humornya harus dikurangi dikit, nanti balik lagi huehehehe. Kamu jangan lupa cuci tangan, terus upilnya jangan ditempelin ke tembok ya, kebiasaan #apa ini.

00 : makasiih :') hehehe

crispy n yummy: Masih lama, sabaar. Hahahaa.

emak-kun : T.T masa sih mak, chap 10 kemaren kayanya yg paling ngecewain gimana gitu. Hahaha, itu maksudnya di waktu yg sama dimana sakura berburu ikan, sasuke dirumahnya mergokin itachi. Emang iyasih kaya jd numpang lewat wkwk. Iye mak, selamat tahun baru ye *minta duit buat beli terompet

Mrs Sasori : Normalnya sebentar doang xD haha. Iyaa makasih sarannya :D, aku bakalan ngempulin ide terus deh, semoga kamu gak nyerah ya, sampee nanti chap terakhir :'). Navya ada di antv, jam 8 malam klo gk salah. Tp ceritanya mbosenin, beneran deh.

ryuva : Iya mampir doang hahaha. Iya juga sih, maksudnya bentuk mata sayu, Navya itu kaya orang lg ketakutan bakal di gebukin gitu kan ya.

Eysha CherryBlossom : Sabar kak, aku pengen ngasih tau tapi…ntar aja hahahahaha.

Topeng Lolli Kura : *peluk juga. Kamu pergi dong ke tempat yang jauh, nah baru makan rumputnya disana. Diem2 aja, kalo sakit perut langsung minum entrostop. HAHA.

mue mya : Tapi masih lamaaa darknya. Aku denger kamu bekep mulut mau teriak, karena sebenarnya yang dikamar sebelah itu adalah…aku. jeng jeng jengg#apasih xD

GwendyMary : Aku juga mau jumpa orang aneh kaya dia, coba aja ada D: sabar ya, nanti bakalan tau kok :).

Guest (A-chan) : Makasiih ya :D, selagi masih aman gapapa melakukan yang aneh kok :) dan sebenernya aneh itu relatif. Jadi gak usah takut dikatai orang hohoho.

Humornya udah balik belom? -_-.

Ih gila, aku liatin visitor, masih ada aja yang mau baca fic ini. Makasih T.T Makasih buat yang bertahan dr awal bgt, dr chap 1 (kalo ada), gak nyangka kan ceritanya jadi begini? Huahuahua. grafik keanehan terus meningkat.

Buat aku baca review dari kamu itu kaya minum obat kuat, jamu, atau asupan cairan dari infus.

Semoga selalu senyum dan happy.

Byebye :*