Dilarang copy paste ff ini

Dilarang bash cast di ff ini

Semua cast bukan punya saya, tapi cerita ff ini adalah milik saya

Saya pinjam nama cast dari Super Junior, SNSD, Sistar, 2AM, Shinee, 2PM, f(x)etc

Warning : GS, gaje, typhosss (saking banyaknya), aneh, membosankan, kurang romantis, bahasa dan tanda baca tidak sesuai EYD, dll

BECAUSE OF SONG

-J-O-Y-


"Kau sibuk Hyukkie?" seorang namja tampan nampak tengah mengendorkan dasi yang ketat menjerat lehernya. Sebuah senyum tak lupa terpampang di bibir tipisnya, membuat aura ketampanannya semakin menguar sempurna.

"Ne oppa, aku harus menghandle perusahaan selama Sungmin eonnie cuti untuk berbulan madu." jawab suara yeoja di line seberang.

"Mereka yang menikah, tapi kita yang jadi susah ne..." gerutu namja tampan itu sambil memutar kursi kerjanya, menghadap jendela besar di belakangnya yang menggambarkan landscape kota itu yang terlihat begitu modern.

Hanya terdengar kekehan kecil saat lawan bicara namja itu tertawa menanggapi ucapannya.

"Hae oppa, kalau kau ada waktu, aku masih bisa kok kalau hanya sekedar makan siang bersama." suara yeoja itu kembali terdengar setelah beberapa saat hening.

"Benarkah? Syukurlah, aku masih ada waktu untuk menemuimu walau hanya beberapa saat. Kau tahu, kalau sampai seharian aku tidak bertemu denganmu, aku bisa mengalami hipohyukia."

Kembali kekehan kecil terdengar sebagai respon atas humor garing yang coba dilancarkan namja itu untuk mengakrabkan dirinya dengan sang yeoja pujaan hati.

"Oppa ini ada-ada saja. Aku baru dengar istilah hipohyukia, memangnya apa artinya?"

"Artinya, aku akan mengalami gejala-gejala penurunan kesehatan akibat seharian tidak bertemu denganmu, seperti tidak enak makan, selalu kepikiran dirimu, selalu ingin bertemu denganmu, dan lain-lain..." rinci namja itu dengan suara yang dibuat sememelas mungkin.

"Hehehe, kalau begitu nanti aku akan makan siang di cafe oppa saja ne. Aku tidak mau oppa terkena penyakit aneh itu." putus sang yeoja sambil masih mengulum senyum.

"Jinjja? Ah, gomawo Hyukkie ah, oppa tunggu ne. Jangan lupa ya." Donghae, namja itu tersenyum sumringah, kemudian setengah melonjak dari kursi kerjanya.

"Tentu oppa. Yasudah, aku kerja dulu ne. Sampai jumpa nanti." tutup yeoja itu.

"Sampai jumpa nanti." balas sang namja. Mematikan ponsel lalu segera meninggalkan kantor, kemana lagi kalau tidak menemui chef terbaiknya dan minta dimasakkan makanan yang istimewa untuk makan siang istimewanya bersama sang yeoja pujaan hati.

-JOY-

"Pengantin baru, kalian mau kemana? Kemarilah sebentar, lihatlah, kami sudah mengumpulkan beberapa brosur paket tour ke luar negeri untuk kalian." panggil yeoja setengah baya itu kepada pasangan pengantin baru, Kyuhyun dan Sungmin yang nampaknya akan pergi ke luar untuk jalan-jalan atau entah sekedar menghirup udara segar.

Sesaat Kyuhyun dan Sungmin berpandangan, kemudian mereka menghampiri sang eomma, Wookie yang tengah sibuk memilah-milah brosur paket wisata dengan semangat.

"Ini, ke Switzerland, ini ke Makau, ini ke Hokaido, ini ke Bali, yang ini ke Bangkok, kemudian ini ke Venezia, eummm... yang ini ke ..."

"Pulau Nami. Adakah brosur tentang tempat itu?" tanya Kyuhyun sekonyong-konyong, membuat kedua yeoja, ibu dan anak itu sedikit terkaget dibuatnya.

"Pulau Nami? Kau tidak ingin ke luar negeri?" tanya sang eomma dengan mimik muka sedikit kecewa.

"Saya rasa tidak perlu menghamburkan uang banyak-banyak hanya untuk berbulan madu. Mungkin uang yang harusnya untuk kami berbulan madu ke luar negeri bisa disumbangkan ke panti asuhan atau kepada orang lain yang membutuhkan." senyum Kyuhyun. Membuat gurat kecewa di wajah sang mertua berubah menjadi lengkungan senyum. Begitu juga sang istri, kini Sungmin tengah memandang suaminya dengan sorot mata kagum. Seumur hidup dia menjadi seorang jetset, dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Bukan berarti keluarganya tidak peduli kepada orang lain yang membutuhkan. Toh hampir setiap bulan perusahaan mereka masing-masing mengalokasikan keuntungan perusahaan untuk dana sosial, tapi ia tidak pernah berpikir hingga sejauh itu. Ia tidak pernah merasa bersalah saat berfoya-foya tamasya ke luar negeri, berpesta dengan-teman-temannya atau memborong barang branded mewah, mengeluarkan jutaan won dalam sekali transaksi tanpa pikir panjang, bukankah itu hasil kerja keras dirinya sendiri? Tapi nyatanya suaminya kini telah memberikan sedikit pencerahan kepadanya. Memberikan pemikiran baru yang belum pernah terbayang di benaknya bahwa semua kemewahan miliknya itu sebegitu berarti untuk menyambung hidup orang lain. Satu poin plus bagi seorang Cho Kyu Hyun di mata seorang Cho Sung Min.

"Tidak salah kami memilih menantu. Baiklah, akan kuurus akomodasi dan tempat menginap selama kalian di Pulau Nami nanti." putus wanita cantik setengah baya itu sambil tersenyum lebar.

"Oiya, kalian mau ke mana sekarang?" tanya sang mertua sambil membereskan brosur yang berserakan di sekitarnya.

"Makan siang, eomma. Oiya, mungkin kami pulang agak malam karena akan sedikit membereskan apartemenku. Rencananya setelah bulan madu, kami akan langsung pindah ke apartemen."terang Sungmin sambil mengamit lengan suaminya.

"Mengapa terburu-buru pindah? Kami ingin kalian tinggal di sini sampai aegya kalian lahir ..."goda Key yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba sudah duduk manis di samping sang eomma.

"Kau ini Key, selalu saja." Sungmin memelototkan matanya kepada yeodongsaengnya yang hanya nyengir dengan ekspresi jahilnya.

"Baiklah eomma, Key, kami pergi dulu. " pamit Kyuhyun.

"Dah eomma, Key ..." sambung Sungmin sambil melambaikan tangannya.

-JOY-

"Kau bisa menyetir kan?" tanya Sungmin memecah keheningan yang tercipta di dalam mobil sport mewah miliknya yang hanya terisi oleh dirinya dan sang suami. Entah mengapa, suasana canggung yang tadinya sudah mulai meluntur itu kini seperti terbangun kembali.

"Bisa, tapi ini kan mobilmu." jawab Kyuhyun sambil menatap pemandangan di luar yang memperlihatkan jalanan dengan kendaraan berlalu lalang karena kebetulan lalu lintas menjelang jam makan siang memang cukup padat.

"Ck, alasan macam apa itu." sang istri berdecak mengungkapkan sedikit kekesalannya pada alasan sang suami yang ia rasa sangat tidak masuk akal, mengingat mereka yang sudah resmi menyandang status sebagai suami istri.

Mendengar decak sebal sang istri, Kyuhyun hanya terdiam dengan pandangan yang tetap tidak lepas menyusuri pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lalui. Ia masih terdiam larut dalam lamunannya, bahkan tak sadar bahwa mobil yang ia tumpangi kini telah menepi.

"Tukar posisi." ucap Sungmin sambil membuka pintu mobilnya. Kyuhyun yang memang tengah tidak dalam keadaan konsentrasi penuh hanya memandang istrinya dengan wajah bingung. Ia masih juga tidak paham dengan maksud istrinya, hingga Sungmin membuka pintu di samping tempat duduknya, sedikit menariknya keluar, kemudian menempati kursi penumpang yang tadinya Kyuhyun duduki.

Sedetik kemudian barulah Kyuhyun sadar akan maksud sang istri, dan ia hanya bisa pasrah duduk di depan kemudi, menggantikan posisi istrinya melajukan mobil mewah itu.

"Aku akan membelikan mobil baru untukmu. Kita nanti pergi ke dealer langgananku." ucap Sungmin datar.

"Tidak perlu, aku biasa naik bis, Ming." ucap Kyuhyun yang merasa tidak enak kepada sang istri.

"Kau mau mempermalukan aku. Apa yang akan dipikirkan seluruh bawahanku saat melihat suami direktris mereka hanya naik bis saat bepergian." Sungmin memandang suaminya sengit. Sementara Kyuhyun hanya memasang ekspresi datar dan tetap berusaha berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.

"Tidak, tapi aku justru lebih malu kalau harus menggunakan barang-barang mewah pemberianmu. Kesannya aku seperti pria tanpa harga diri yang hanya menggantungkan hidupku kepada istrinya." jawab Kyuhyun tanpa melihat wajah sang istri.

Suasana di dalam mobil itu kembali hening saat Sungmin tengah mencoba mencerna ucapan suaminya. Ya, sebuah dilema kini tengah menggelayuti hatinya. Antara gengsinya sebagai direktris yang tidak ingin harga dirinya turun hanya karena keadaan suaminya yang yah ... terlalu sederhana di matanya, atau menjadi istri yang patuh dan menghormati keputusan suaminya.

Sungmin menarik napas panjang dan dalam. Ia nampaknya benar-benar merasa tidak nyaman dengan pemikiran-pemikirannya itu.

"Bagaimana kalau mobil setengah pakai yang sederhana?" ucap Sungmin tiba-tiba setelah ide yang ia rasa terlalu bagus itu muncul begitu saja di otaknya.

"Tapi Ming..."

"Tidak ada penolakan. Kau tidak mau mobil mewah, kita beli mobil yang sederhana. Aku tidak mau suamiku harus kesusahan ke mana-mana naik bis." ucap Sungmin final. Kyuhyun hanya bisa menghela nafas panjang mengiyakan secara tidak ikhlas keinginan istrinya yang terkesan sedikit memaksanya.

"Berhenti. Kita makan di sini saja. Kebetulan aku sudah lama tidak makan pasta." senyum Sungmin lebar saat melihat sebuah restoran masakan Itali langganannya.

Kyuhyun menuruti ucapan istrinya. Menjalankan mobil mewah itu dan perlahan memarkirkannya di tempat yang sudah disediakan. Setelah sampai, mereka kemudian berjalan beriringan menuju ke dalam restoran yang dipenuhi oleh orang-orang yang tengah bersantap di siang hari itu.

Sungmin mengamit lengan suaminya mengikuti seorang pelayan yang mengantarkan mereka berdua ke sebuah meja yang kosong.

"Kau mau pesan apa Kyunie?" tanya Sungmin sambil menyerahkan buku menu kepada suaminya.

"Terserah kau saja." Kyuhyun mengembalikan buku menu itu kepada istrinya. Sungmin menerima buku menu itu sambil memandang wajah suaminya yang nampak kurang bersemangat.

"Kau tidak suka makanan Itali?" tanya Sungmin mencoba membaca ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Kyuhyun saat ini. Sementara Kyuhyun hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.

"Mianhe Kyunie, mungkin aku terkadang menjadi orang yang sangat egois ne?" Sungmin menundukkan wajahnya, menyembunyikan raut sedih yang tiba-tiba saja memaksa menghiasi wajah cantiknya.

"Ming..."

"..."

"Ming..."

"..."

Kyuhyun menangkup pipi istrinya dan mendongakkan wajah cantik itu, memaksa kedua pasang mata itu beradu. Beberapa saat saling pandang, akhirnya Kyuhyun menyunggingkan sebuah senyuman.

"Aku lapar, tolong pesankan sesuatu."

Sungmin mengejapkan mata beberapa kali, masih sedikit bingung dengan perubahan ekspresi suaminya yang begitu cepat berubah itu.

"Dan tolong, suapi aku ... karena aku tidak bisa makan pasta dengan cara yang benar."

"..."

-JOY-

"Apakah ada kemajuan dokter?" ucap sang namja muda, memecahkan keheningan yang tercipta di ruang rawat inap di siang hari itu. Seorang dokter setengah baya yang tengah merapikan alat periksanya nampak menggeleng pelan.

"Kurasa Hyorin agashi memang belum ingin sadar." dokter itu memandang ketiga orang yang tengah memandanginya dengan wajah begitu khawatir secara bergantian. Sebuah ekspresi turut prihatin, nampak menghiasi wajahnya yang sudah mulai dipenuhi dengan kerutan halus, meskipun tidak mengurangi raut cerdas dan kewibawaan khas seorang dokter yang dimilikinya.

"Apakah mungkin,Hyorin harus dipindahkan ke ruang ICU? Tolong lakukan apapun yang kalian bisa, aku mohon, buat Hyorin sembuh seperti sedia kala. Tolong dokter Park..." namja muda itu, Jinwoon tak kuasa menahan air matanya yang menerobos keluar. Kakinya melemas tak mampu lagi menahan berat tubuhnya. Ia jatuh tersimpuh di depan dokter dan kedua orang tua Hyorin yang juga dalam kondisi menangis, sama dengannya.

"Jinwoon ah ..." pekik satu-satunya yeoja setengah baya yang ada di sana. Ia setengah berlari menghampiri Jinwoon yang tengah berlutut di depan dokter itu.

"Dokter Park, aku mohon, sadarkan dia. Aku mohon buat matanya terbuka kembali. Aku mohon..." ucap Jinwoon semakin melemah dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

"Jinwoon ah ... Jinwoon ah..." pekik appa dan eomma Hyorin histeris. Sementara dokter Park hanya mampu menghela nafasnya panjang dan dalam.

-JOY-

"Bagaimana?" namja itu memandangi yeoja yang tengah makan siang dengan tenang di hadapannya. Masih memasang ekspresi menunggu jawaban yeoja itu mengenai masakan yang tengah mereka berdua santap kali ini.

"Apanya yang bagaimana oppa? Ini enak sekali." yeoja itu tersenyum begitu manis hingga membuat namja yang tengah duduk di depannya menjadi salah tingkah.

"Gomawo Hyukie ah." namja muda itu turut tersenyum. Suasana makan di meja itu kembali hening karena keduanya kembali terlarut dalam alam pikiran masing-masing. Entah terlalu menikmati momen berdua mereka, atau memang memilih diam untuk menyembunyikan kegugupan masing-masing.

"Eummm...Hyukkie...kapan kau punya waktu luang di malam hari?" akhirnya kembali sang namja yang membuka percakapan mereka kembali. Sedikit terkaget, yeoja manis bernama Hyukkie yang terkenal dengan senyuman bergummynya itu nampak tergagap saat berusaha menjawab pertanyaan dari namja di depannya.

"I...itu, aku belum tahu oppa. Beberapa hari ini aku akan pulang sedikit malam. Mungkin sekitar jam sembilan setiap harinya."

"Hei, itu terlalu malam untuk yeoja secantik dirimu. Aish, aku jadi khawatir. Bagaimana kalau setiap malam aku menjemputmu?"

"Tidak perlu, aku dan Sungmin eonnie sudah sering pulang pada jam-jam itu. Jadi jangan khawatir ne. Oiya, memangnya ada apa oppa menanyakan hal itu?" tanya yeoja manis itu dengan wajah menyelidik.

"Ah, itu ... aku ... aku ... hanya ingin mengajakmu nonton. Tapi kalau kau sibuk ya mau bagaimana lagi?" Donghae menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Mianhe oppa, tapi aku berjanji, minggu depan aku akan mencari waktu, tolong bersabar ne."

Namja tampan itu mengangguk sambil tersenyum lebar, membuat yeoja di depannya sedikit lebih tenang.

"Hyukkie..."

"Ne?"

"Maukah kau menjadi yeojachinguku?"

"...?"

-JOY-

"Kau ini manja sekali Kyu, kau tidak lihat semua orang tengah memandang kita dengan sorot mata aneh?" tanya Sungmin setelah menyuapi suaminya untuk kesekian kalinya. Wajah cantiknya kini telah dihiasi rona kemerahan. Mungkin ia sedikit malu dengan keadaan mereka.

Namja tampan itu masih sibuk mengunyah makanan lembut dalam mulutnya. Mengikuti arah padangan sang istri. Dan memang benar, orang-orang di sekitar mereka tengah memandangi mereka, tersenyum dan berbisik-bisik.

"Biarkan saja Ming. Aish, kalau aku makan pasta pakai sumpit pasti akan lebih ditertawakan lagi kan? Tapi aku yakin, sebenarnya mereka hanya iri kepada kita. Lagi ..." jawab Kyuhyun kemudian membuka lagi mulutnya di hadapan sang istri, seperti anak kecil yang menunggu suapan makanan dari eommanya.

"Kau ini percaya diri sekali. Dan kalau alasanmu minta disuapi hanya karena tidak bisa makan pasta dengan benar, kita nanti kursus di rumah. Aku akan mengajarimu sampai bisa." ucap Sungmin, kemudian kembali menyuapkan pasta itu ke dalam mulut suaminya.

"Kau hidak huka henyuahi huahimu?"

(Kau tidak suka menyuapi suamimu?)

"Telan dulu makananmu. Aish, kau ini." Sungmin melemparkan sebuah deathglare untuk memperingatkan sang suami.

"Kau tahu, aku sangat bahagia sekarang. Lebih dari bahagia Kyu." senyum lebar nan cantik kembali menghiasi wajah yeoja imut itu, membuat Kyuhyun tanpa sadar turut menyunggingkan senyuman di wajahnya.

"Kajja, sebaiknya cepat kita selesaikan makan siangnya agar kita tidak kehabisan waktu untuk beberes apartemenku." potong Sungmin sambil mengelap sisa makanan di bibirnya.

"Lagi ..."

"Kyu ... kau dengar tidak sih ?"

"..."

-JOY-

"Eunghh ..." Jinwoon mengejapkan matanya, menyesuaikan pupilnya dengan cahaya matahari siang yang menimpa wajahnya. Ia tidak ingat berapa lama ia tertidur, atau lebih tepatnya pingsan hari itu. Yang ia rasakan hanya berat di kepalanya yang terasa begitu menyiksa.

Namja muda itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Merutuki segala kelemahannya yang membuatnya justru membebani keluarga Hyorin yang sebenarnya sangat membutuhkan supportnya saat ini.

Perlahan Jinwoon mencoba mendudukkan tubuhnya, menyentuhkan kakinya ke lantai, merasakan sedikit nyeri saat lengannya ia gunakan sebagai tumpuan.

'Mungkin aku mendapat suntikan vitamin.' bathinnya, melihat ke lipatan belakang siku kanannya yang tertempel plester dan kapas berbau alkohol.

Namja bermata sipit itu berjalan menuju pintu ruangannya yang sepi. Membukanya perlahan, berjalan tanpa suara di lorong rumah sakit yang kebetulan tak terdapat seorangpun kecuali dirinya. Jinwoon terus melangkahkan kakinya. Ke mana lagi tujuannya selain kamar tempat yeoja tercintanya tengah bertarung melawan maut.

Sekitar sepuluh langkah lagi, ia akan sampai ke kamar Hyorin, tapi tiba-tiba ia mendengar percakapan dua suara yang sangat tidak asing baginya. Suara appa dan eomma Hyorin yang tengah berbincang di lorong depan kamar putri mereka. Penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh pasangan setengah baya itu, akhirnya Jinwoon memutuskan untuk bersembunyi di salah satu pintu menuju kamar pasien. Sangat kebetulan, semua pintu kamar di rumah sakit itu dibuat sedikit menjorok ke dalam, sehingga memudahkan nya untuk menyembunyikan dirinya di sana.

"Sudahlah Krystal ah, jangan menyalahkan dia. Semua ini sudah takdir. Seharusnya kita terima dengan lapang dada." terdengar sang Appa tengah berbicara lembut, menenangkan sang istri yang nampaknya sedang dalam kondisi begitu kalut dan emosi. Berkali-kali terlihat bahu yeoja setengah baya yang masih terlihat begitu cantik itu bergoncang hebat di dalam pelukan suaminya.

"Aku ...hiks...aku tidak terima namja itu memperlakukan putri kita seperti itu. Memangnya apa salah Hyorin sampai dia tega mengkhianatinya dan memilih menikahi yeoja yang jauh lebih tua darinya. Apa mentang-mentang yeoja itu kaya raya...hiks ... aku benar-benar ingin memukuli wajahnya dengan tanganku sendiri." sang istri masih tetap berbicara di sela isakannya yang sedikit demi sdikit mulai melemah.

"Keluarga Liu bukanlah keluarga yang menyukai kekerasan. Segalanya bisa kita selesaikan dengan damai. Kau tahu, mungkin ada hal tertentu yang menjadi alasan namja itu memutuskan hubungan dengan putri kita."

"Tidak ada. Aku yakin tidak ada yang lain selain harta."

Dan demi apapun, saat mendengar ucapan wanita setengah baya itu, tubuh Jinwoon menegang. Tangannya terkepal hebat, mengabaikan ngilu yang sebenarnya masih mendera lengannya. Giginya gemerutuk menandakan emosi yang sudah siap meluap. Namja tampan itu perlahan membalikkan badan, berjalan menjauhi tempat yang tadinya ingin sekali ia datangi. Pikirannya begitu kosong, namun dipenuhi emosi yang meledak-ledak.

TBC


Yoooo ... readerdeul sekalian, jumpa lagi dengan author. Wow, ini dah chap 11 ternyata. Chap ini kayaknya ceritanya sepotong-sepotong ne, semoga readerdeul ga bingung ya. Masih agak jauh dari konflik yang sebenarnya. Tapi sudah mulai mengarah ke sana ...

Dan adakah yang penasaran dengan cast orang tua Hyorin, yang menjawab Kryber couple, saya jempolin 4 kali ... hehe. Salah satu couple favorit saya juga, Amber Josephine Liu and Krystal Jung from girlband f(x), cute banget lho ni couple #malahpromosi ... wkwkwk

Oiya, saya akhirnya mencantumkan Pulau Nami sebagai lokasi tujuan bulan madu Kyumin. Adakah yang sudah pernah ke sana? (author pengen banget bisa maen ke sana T,T). Mungkin kalau reader penggemar drama korea Winter Sonata, udah ga asing lagi sama tempat ini, karena ni pulau yang cantik adalah tempat yang dipakai buat lokasi syuting tu drama romantis yang bikin nangis bombay sepanjang episode. Apalagi di sana ampe ada patungnya om Bae Young Jun sama tante Choi Ji Woo, kurang romantis gimana coba ... hehehe

Tak lupa saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah memfavoritkan dan memfollow fanfic ini. Juga reader (and silent rider yang masih juga bertebaran. Please deh, hari gini masih jadi silent rider -_-) dan pastinya reviewer yang menjadi penyemangat bagi saya ... gomawo ne ...

Saya coba menjawab pertanyaan dan pernyataan dari reviewer sekalian :

1. Cho Hyun Ah Sparkins 137 : okeee

2. lkjhgf : ecieeee *smirk*. Aamiin … makasih ya doanya …

3. dewi. k. tubagus : makasih chingu … marathon 10 chap langsung reviewnya …

4. Chominhyun : hehehe … betul-betul … Ne saeng … eon lanjut …

5. Lilin Sarang Kyumin : kayaknya engga deh chingu … okeeee deh, dilanjut …

6. PaboGirl : emang sih, baru taraf mencoba juga tapi. Kyu nya kan di sini bertanggung jawab banget, hanya ingin membuat sang istri bahagia, ga pengen ada yeoja lain di hatinya, mungkin dia ingin punya keluarga sakinah, mawadah, warahmah (ini mah author yang pengen … wkwkwkwk) …

7. sandrimayy88 : iya chingu … pengennya Ming cepet hamil, tapi entahlah, liat sikon nya juga (loh?). wah gimana ya chingu, saya juga masih kepikiran tu, hehehe ...

8. Nuralrasyid : udah mulai dikit lho chingu … oke deh, sudaha di next …

9. Kezia : makasih juga saeng, sudah setia membaca fanfic eon yang satu ini … hehehe … konflik nya mungkin bentar lagi muncul, sabar ne .. yup, dah eon update. Gomawo semangatnya.

10. PumpkinEvil : silakan … silakan … #bukalapak … wkwkwkwk. Iya chingu, saya ga tega kok kasih masalah yang berat-berat, tapi tetep musti ada kan, biar ceritanya jalan … hehehe. Saya usahain ne …makasih semangatnya. Aamiin … makasih juga doanya ya chingu …

11. Heldamagnae : ah, gomawo chingu … hehehe

12. abilhikmah : key pengen tau banget sama si ayam ganteng alias onew … wkwkwkwk

13. mika. marvelysa : sama-sama saeng, mian, ga bisa kilat terus … iya nih, apalagi kalo dapet undangan nikahan temen trus datengnya sendirian, aish…jadi bulan-bulanan deh …. Hehehe. Oke, eon usahain ne …

14. fariny : oke chingu … ni lanjutannya …

15. dzdubunny : iya … semoga aja ya …hehehe. Jangankan Key, saya aja penasaran (lho?). Oke, gomawo …

16. melee : yup chingu, makanya judulnya because of song ^_^. Iya, curhat dikit boleh kan … hehehe

17. TiffyTiffanyLee : ya gapapa lah chingu … welcome ya … selamat mengikuti fanfic gaje saya ini … hehehe … ni next chapnya n gomawo semangatnya …

18. Guest : tapi masih lama lho chingu …

19. FarahYue : wah, mirip saya kemarin, tapi kalo saya gara-gara lupa email … hehehe. Belum pasti gitu juga kok chingu, pokoknya diikuti aja ne … hehehe… Wah maaf, dari awal saya udah bilang ga aka nada NC, jadi ya NC an nya akan disensor n dicut … wkwkwk, silakan berimajinasi sendiri untuk bagian ini…

ThanKYU


Review lagi ne ... gomawo ...