CHAPTER 11
Hyunjin menghapus airmata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. Ia usap wajahnya berkali-kali dengan kasar dan menyembunyikan isakannya dari Paman Kim. Saat ini ia sedang berada di dalam Mobil menuju Rumahnya. Tidak ada yang ingin ia lakukan saat ini selain menangis di dalam Kamarnya.
Hubungannya dengan Changbin telah berakhir. Ia pun tidak tahu kenapa ia hanya berdiam diri membiarkan Changbin pergi, tanpa bisa mengeluarkan sedikitpun suaranya. Ia hanya bingung, dan ia tidak tahu apa tindakan yang tepat untuk mencegah kenyataan ini terjadi.
Hyunjin pun yakin bahwa Paman Kim mengetahui apa yang baru saja ia alami.
"Paman… kau tahu bahwa aku sangat mencintainya bukan?" tanya Hyunjin dengan suaranya yang lirih.
"Dan Paman yakin bahwa Tuan Changbin pun mencintai Tuan muda Hyunjin," jawab Paman Kim mencoba menenangkan.
"Tapi kenapa ia mengakhiri hubungan kami, Paman?"
"Mungkin Tuan Changbin tidak benar-benar ingin berkata seperti itu. Bisa saja ia seperti itu hanya karena ia sedang lelah."
Paman Kim sangat yakin bahwa Changbin masih mencintai Hyunjin dan tidak berniat menyakiti hati Hyunjin.
"Lalu… apa yang harus aku lakukan, Paman?" Hyunjin mengajak bicara Paman Kim melalui kaca tengah Mobil tersebut. Sementara Paman Kim masih terfokus menyetir.
"Tunggu hingga waktu menjadi tepat, Tuan muda."
Di lain tempat di waktu yang sama, Changbin menyalahi dirinya sendiri yang sangat bodoh melontarkan kata-kata menyakitkan itu pada Hyunjin. Sungguh bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya membutuhkan waktu.
Juga, bayangan akan Hyunjin yang sedang dicium oleh Lelaki lain, membuatnya terpaksa mengeluarkan kata-kata itu. Sampai sekarangpun, ia tidak tahu siapa Lelaki itu dan ia tidak ingin mengetahuinya karena ia tidak siap untuk kehilangan Hyunjin.
Sayangnya, semua sudah terjadi. Atas kebodohannya. Ia benar-benar bodoh. Lelaki yang sangat bodoh, karena membiarkan seseorang yang ia cintai merasa tersakiti.
Setelah merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan, tak terasa ia sudah tiba di Rumahnya. Ketika ia membuka pintu, di Ruang tengah terdapat Chan yang terduduk seperti tengah menunggunya.
"Hyung, kenapa kau belum tidur?" tanya Changbin. Ia meletakkan tas sekolahnya di atas sofa dan duduk di dekat Chan.
"Bagaimana aku bisa tidur jika kau pulang larut seperti ini?" bukannya menjawab, Chan justru melemparkan kalimat retoris pada Changbin. Kemudian Changbin melirikkan matanya pada jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Hyung, aku lelah. Aku sedang tidak ingin berdebat."
"Berhentilah dari pekerjaan itu. Dan fokus pada Ujian yang akan segera kau jalani," ucap Chan dengan dingin. Tetapi Changbin justru tertawa kecil.
"Apa kau fikir selama ini seluruh pengobatanmu kubayar dengan menggunakan daun? Kita membutuhkan uang untuk itu semua, Hyung!" Changbin tidak dapat menahan emosinya. Ia bahkan berbicara dengan nada tinggi pada sang Kakak.
"Minho sudah menanggung seluruh biaya pengobatanku hingga aku benar-benar pulih. Apa lagi yang kau khawatirkan, Seo Changbin?" tentang Chan.
"Sampai kapan kita akan bergantung pada kekayaan mereka huh? Ow, atau kau selama ini hanya memanfaatkan Jeongin dan menginginkan uangnya saja?" Changbin sarkastik.
"Jangan membawa-bawa Jeongin ke dalam masalah ini."
"Hanya karena seluruh anggota Red Glow adalah orang yang kaya raya?"
"Jaga bicaramu, Seo Changbin!"
Changbin berdecih. Sementara Chan mencoba untuk mengendalikan emosinya dengan cara mengatur nafasnya.
"Dengarkan aku, Seo Changbin."
Chan menatap Changbin dengan serius. Mau tak mau, Changbin harus membungkam bibirnya dan membiarkan sang Kakak berbicara.
"Nilaimu menurun, kau sering terlambat datang ke Sekolah, kau sering dihukum dan kau sering tertidur di Kelas. Apa kau pikir hal itu adalah hal yang wajar?"
Darimana Chan mengetahui hal itu?
"Apakah Hyunjin menemuimu?" tanya Changbin.
"Dia yang memintaku agar kau berhenti dari pekerjaanmu. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Kau tidak tahu itu?" jawab Chan. "Dia sangat ingin yang terbaik untukmu," sambungnya.
Changbin tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Chan seorang diri.
"Hubunganku dengannya sudah berakhir," ucapnya.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Nyonya Hwang sudah berjanji untuk selalu mengawasi Hyunjin, dan itulah yang ia lakukan saat ini. Ia memperhatikan sang Putera yang nampak lesu tidak bersemangat. Tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi sudah berkali-kali Hyunjin hanya sedikit berbicara dan tidak menunjukkan keceriaannya. Ia mendadak khawatir, dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap sang Putera.
Karena itu, Nyonya Hwang memutuskan untuk menanyakan tentang hal ini pada Paman Kim. Ia yakin Paman Kim mengetahui semua yang terjadi pada Hyunjin.
"Mengenai Seo Changbin… hubungan mereka baru saja berakhir," ucap Paman Kim. Ia tidak akan menyembunyikan apapun dari Nyonya Hwang karena sudah tugasnya untuk menjalankan amanah dengan jujur.
Dan ia rasa, Nyonya Hwang pun tidak akan bermasalah dengan hal itu.
"Bisakah Paman mempertemukanku dengan Changbin?"
Paman Kim awalnya terkejut dan bimbang antara mempertemukan mereka atau tidak. Tetapi Nyonya Hwang kembali bersuara dan membuat keraguan Paman Kim sirna begitu saja.
"Aku hanya ingin melihat secara langsung, Lelaki yang telah dicintai oleh Puteraku," sambung Nyonya Hwang. Paman Kim langsung membungkukkan tubuhnya sopan dan menerima permintaan Nyonya Hwang.
"Baiklah, Nyonya. Tempat dan waktu akan segera kuatur."
"Terima kasih, Paman."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Hyunjin tidak bersemangat memasuki Kelasnya. Seharusnya ia berantusias untuk melihat Kekasihnya, tetapi ia kembali teringat bahwa mulai saat ini, ia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Changbin. Meskipun Seungmin dan Woojin masih bersikap normal terhadapnya, tetapi berbeda dengan Changbin. Lelaki itu sama sekali tidak mau menatapnya.
Sama persis saat pertama kali mereka bertemu.
Hyunjin pun tidak berani menatap Changbin. Ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya dan tidak berbicara satu patah kata pun.
Jadi, beginikah sikap Changbin terhadapnya setelah mereka berakhir? Kenapa kondisi ini sangat menyiksanya?
Hingga jam Sekolah berakhir pun, ia masih saja berpikir apakah yang ia alami saat ini adalah kenyataan atau hanya mimpi sesaat. Wajahnya pucat pasi tidak berekspresi. Ia bahkan memaksakan senyumannya kala Seungmin dan Woojin menyapanya. Sepertinya, kedua Sahabat Changbin itu belum mengetahui apa yang terjadi.
"Paman, tidak perlu menjemputku. Aku ingin menaiki Bus saat ini. Kumohon kali ini saja," ucap Hyunjin melalui ponsel saat dirinya sedang berdiri di Halte menunggu Bus tiba.
Jika kalian berpikir bahwa ia akan bertemu Changbin di Halte ini, maka kalian salah. Karena Changbin akan langsung ke Café tempatnya bekerja, dan selalu berjalan kaki karena jarak yang tidak begitu jauh.
Hyunjin menghembuskan nafasnya lemah. Ia amat sangat lesu dan tidak bertenaga. Ia bahkan melewatkan makan siangnya tadi karena tidak bernafsu.
Ketika Bus baru saja berhenti tepat di depannya, ia tersadar dan segera menaiki Bus tersebut menuju ke Rumahnya.
Di tempat lain, terlihat seorang Lelaki tampan dengan pakaian santainya, tengah bersandar di sisi kiri Mobilnya, seperti tengah menunggu seseorang. Ia melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya dan melirik ke pintu besar yang ada di hadapannya berkali-kali.
Salahkan dirinya yang dengan bodohnya menunggu seseorang tanpa memberi kabar orang itu terlebih dahulu. Namun beruntung, tak lama kemudian ia melihat sosok yang ia tunggu-tunggu sedang berjalan ke arahnya. Raut wajahnya seketika sumringah dan ia melambaikan tangannya pada orang itu.
"Kau terlambat satu jam, Hwang Hyunjin."
Ya, Lelaki tampan itu adalah YoungK, yang nyatanya sedang menunggu kehadiran Hyunjin pulang dari Sekolahnya.
"Apakah kita memiliki janji?" tanya Hyunjin dengan ekspresi bingungnya.
"Tidak. Dan kau harus membayar atas keterlambatanmu pulang."
Tanpa menunggu persetujuan Hyunjin, YoungK menarik tangan itu untuk masuk ke dalam Mobilnya. Hyunjin masih mengenakan seragam Sekolahnya, tetapi YoungK tidak memperdulikan hal itu. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama teman kecilnya ini. Ia masih sangat merindukan Hyunjin sampai saat ini.
"Kita… mau kemana?" tanya Hyunjin.
"Aku tahu kau sedang sedih. Dan kau pasti tahu kemana aku akan membawamu," jawab YoungK dengan santai.
Seketika Hyunjin teringat. Dulu, saat mereka masih kecil, YoungK selalu mengajaknya untuk pergi di sebuah Festival malam yang diadakan rutin setiap minggunya. Dan Hyunjin pun masih ingat betul Festival itu diadakan setiap hari Selasa. Dan hari ini adalah hari Selasa. Jadi, apakah YoungK akan mengajaknya ke tempat itu?
"Kuharap kau tidak melupakan masa kecil kita," ucap YoungK memecah keheningan yang sempat melanda mereka.
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka kini sudah tiba di tempat tujuan. Dan benar, nyatanya YoungK mengajaknya ke Festival malam dimana terdapat banyak pedagang yang menjual makanan atau kerajinan tangan.
YoungK sempat tersenyum kecil melihat Hyunjin yang nampak terpukau, namun setelahnya ia kembali menarik tangan Hyunjin untuk berjalan ke dalam Festival malam itu.
"Sudah lama sekali aku tidak datang ke sini," gumam Hyunjin. YoungK pun sudah sangat lama tidak datang ke tempat ini. Jadi, apa salahnya jika mereka menghabiskan waktu mereka di sini?
"Aku akan mentraktirmu malam ini. Pilihlah makanan yang kau suka," ucap YoungK. Membuat Hyunjin menatap Lelaki yang berusia 3 tahun lebih tua darinya itu.
"Kau mau menyogokku ya?" tanya Hyunjin. Matanya memicing menyelidiki.
"Tidak. Sudah aku katakan tadi, aku ingin mentraktirmu," jawab YoungK dengan santai.
Hyunjin sedikit kesal, dan ia mengalihkan pandangannya pada makanan-makanan enak yang terjajar di depan matanya. Kesalnya seketika hilang, dan tergantikan oleh rasa kagum. Dengan antusias Hyunjin memilih makanan yang ingin ia makan, sementara YoungK tertawa memperhatikan Hyunjin yang masih saja terlihat seperti anak kecil.
Tak terasa, kini Hyunjin sudah mendapatkan beberapa jenis makanan yang ia suka. Lihatlah, kedua tangannya penuh dengan kotak makanan, yang bahkan ia sendiri pun tidak tahu bagaimana cara menghabiskannya.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana?" usul YoungK. Lelaki tampan itu menunjuk ke arah sebuah kursi panjang, tepat di belakang air mancur. Tempat yang sangat nyaman. Dan Hyunjin segera mengangguk, karena ia ingin cepat-cepat mengisi perutnya yang sangat lapar.
"Kau lapar sekali ya?" goda YoungK. Dan Hyunjin hanya mengangguk mengiyakan.
"Sepertinya enak, apa aku boleh mencobanya?" ucap YoungK lalu membuka mulutnya, bermaksud agar Hyunjin menyuapi potongan Tteokkbokki itu padanya.
Hyunjin sempat terdiam dengan kedua pipinya yang penuh dengan makanan, namun setelahnya ia menyuapi YoungK dengan kasar. Karena meskipun ia masih membenci Lelaki ini, tetapi YoungK lah yang membelikan seluruh makanan ini untuknya.
"Akhh aww!" ringis YoungK kesakitan.
"Kau kenapa?" tanya Hyunjin. ingat, Ia bahkan masih enggan memanggil YoungK dengan embel-embel Hyung.
"Ahh lidahku. I-ini pedas sekali, aww astagaa!" YoungK masih meringis memejamkan kedua matanya erat.
Hyunjin tertawa keras. Ia baru saja ingat kalau YoungK tidak suka makanan pedas. Sedikitpun rasa pedas yang terdapat di makanan itu, perut YoungK akan langsung melilit dan sakit.
"Benarkah hingga dewasa seperti ini, kau masih tidak suka makanan pedas?"
Namun Hyunjin seketika mengubah ekspresinya saat melihat YoungK yang justru berbalik menertawakannya.
"Aku hanya bercanda. Dan aku cukup senang ternyata kau masih ingat jika aku tidak menyukai makanan pedas," ucap YoungK sambil memegangi perutnya yang kram akibat tertawa.
"Itu sama sekali tidak lucu," Hyunjin membuang pandangannya ke sembarang arah.
Setidaknya, malam itu adalah malam yang sangat YoungK nantikan selama dirinya berpisah dengan Hyunjin. Dimana hanya ada mereka berdua untuk menghabiskan waktu yang mereka miliki. Jika boleh, YoungK ingin menjadikan Hyunjin sebagai Kekasihnya, sebagai miliknya. Tetapi, apakah ia terlihat seperti seorang yang pemaksa jika nyatanya Hyunjin tak memiliki perasaan yang sama dengannya?
YoungK tersenyum memperhatikan Hyunjin yang masih terlihat sibuk menghabiskan makanannya. Suasana di sekitar mereka yang semula ramai, kini mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berlalu lalang, juga beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangannya.
YoungK menatap ke arah langit gelap di atasnya. Terdapat beberapa bintang di sana. Namun baginya, ada yang lebih indah dari bintang itu, yaitu sosok Lelaki manis yang saat ini berada di sampingnya, yaitu Hwang Hyunjin.
Tanpa YoungK sadari, Hyunjin sudah menghabiskan makanannya dan menatapnya dengan ekspresi bingung. Apakah Lelaki itu sedang menatap pesawat terbang yang lewat? Tapi sedari tadi, ia tidak melihat adanya pesawat. Akhirnya Hyunjin memutuskan untuk menyadarkan YoungK dari lamunannya.
"Aku kesal kenapa waktu berjalan begitu cepat," ucap YoungK tiba-tiba. Namun Lelaki tampan itu tidak menatap Hyunjin dan justru menundukkan kepalanya.
"Aku kesal kenapa malam ini harus berakhir," lanjut YoungK.
Hyunjin masih tidak dapat menangkap maksud YoungK, maka ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya, bermaksud untuk mengajak YoungK pulang.
Namun Hyunjin merasakan satu lengannya ditahan kuat oleh YoungK dan ia tidak tahu sejak kapan bibir YoungK telah mendarat sempurna di atas bibirnya. Tubuh Hyunjin mendadak kaku untuk beberapa saat, namun setelah ia menyadari apa yang YoungK lakukan, ia segera menjauhkan diri dari YoungK.
"Kau melakukannya lagi!" protes Hyunjin.
"Jadilah Kekasihku, Hwang Hyunjin."
YoungK mengabaikan ucapan Hyunjin dan justru melontarkan kalimat cintanya pada Lelaki cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara Hyunjin, ia terdiam dan terlihat berpikir setelah mendengar permintaan YoungK. Ia tahu bahwa YoungK adalah Lelaki yang baik dan memiliki perasaan yang tulus terhadapnya, tetapi… itu bukan berarti ia dapat menggantikan posisi Changbin begitu saja.
"Maaf… aku tidak bisa."
Sebuah jawaban yang tak pernah ingin YoungK dengar, baru saja terlontar dari bibir Hyunjin. Jika Hyunjin menolak perasaannya, setidaknya ia harus mengetahui apa alasannya.
"Kau sudah memiliki Kekasih?" tanya YoungK. Dan Hyunjin mengangguk. Setelahnya, Hyunjin memutuskan kontak mata dengan Lelaki tampan itu.
Hyunjin melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Mau tidak mau, YoungK mengikutinya dan mengantarkan Hyunjin pulang ke Rumah. Namun Hyunjin kembali menghentikan langkahnya dan mengucapkan kalimat yang tak akan pernah YoungK lupakan dalam hidupnya.
"Aku sangat mencintainya. Aku ingin berakhir dengannya. Karena ia… sudah banyak berjuang untukku," ucap Hyunjin dengan lirih, namun YoungK dapat mendengarnya dengan jelas.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
"Dokter memberitahuku bahwa aku sudah semakin membaik Hyung," Felix menunjukkan senyuman termanisnya pada Woojin kala Kekasihnya itu mengunjunginya di Rumah Sakit.
Mata indahnya tak lepas dari sosok Woojin yang sedang berjalan ke arahnya dan tak lupa meletakkan seikat bunga di meja kecil yang berada di sampingnya. Lalu ia membiarkan Woojin mengusak rambutnya dengan lembut, lalu terduduk di sisi kanan tempat tidurnya.
"Benarkah?" tanya Woojin sumringah. Bagaimana tidak? Kekasih mana yang tidak senang melihat Lelaki yang sangat dicintainya sembuh dari penyakit mematikan itu?
Felix mengangguk. "Kau tidak perlu repot-repot menemaniku atau mengunjungiku di Rumah Sakit ini lagi Hyung."
Lelaki manis itu menyembunyikan kesakitannya dari orang lain. Ia menahan rasa sakit itu agar Kekasih yang ia cintai tidak mengetahuinya. Nyatanya, Felix baru saja mengatakan sebuah kebohongan besar. Namun apa salahnya jika ia hanya ingin melihat Woojin tersenyum dan tak terbebani dengan penyakitnya lagi?
"Kau bisa kembali bersekolah seperti biasa?" tanya Woojin. Ia ingin melihat Felix kembali beraktivitas dengan normal dan melakukan banyak hal bersama Felix seperti pasangan Kekasih lainnya lakukan.
"Untuk itu, aku harus meminta izin terlebih dahulu pada Ibu," jawab Felix. "Tapi aku berjanji, aku akan menemani Hyung kemanapun Hyung akan mengajakku," lanjutnya.
Grep
Woojin membawa tubuh kurus Felix ke dalam pelukannya secara perlahan. Dan Felix terdiam merasakan hembusan nafas Woojin yang tenang membelai indera pendengarannya.
"Aku merasa seperti sedang bermimpi saat ini," gumam Woojin. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Kekasih cantiknya itu.
"Hyung… kau sedang tidak bermimpi. Kau tahu bahwa aku pun mencintaimu, Hyung."
Felix berusaha untuk menyembunyikan airmatanya, dengan cara mengusap lelehan itu berkali-kali. Ia tidak berbohong. Ia telah berkata jujur. Tulus dari dalam hatinya, bahwa perasaannya menghangat setelah ia memiliki Woojin dalam hidupnya.
Woojin perlahan melepaskan pelukan itu dan memperhatikan wajah manis Felix dengan seksama. Hingga tatapan mata mereka bertemu, dan keheningan sempat melanda beberapa saat. Setelahnya, Felix memejamkan kedua matanya erat setelah merasakan sapuan lembut bibir Woojin pada bibirnya.
Woojin memberikannya sebuah ciuman yang manis dan juga mendebarkan. Tak hanya sebuah kecupan, tetapi Woojin sedikit menggerakan kepalanya ke arah berlawanan dan semakin memperdalam ciuman mereka. Tentu Felix membalasnya. Setelahnya, Woojin mengakhiri ciuman itu dan beralih mengecup dahi Felix cukup lama.
"Aku berjanji akan menjagamu dengan baik."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Changbin masih tidak berbicara pada Hyunjin selama mereka berada di Kelas. Bahkan hingga jam Sekolah usai pun, Changbin masih tetap mengabaikan Hyunjin. Sebenarnya keadaan ini sangat menyiksanya. Amat sangat. Terlebih ketika kedua Sahabatnya; Woojin dan Seungmin, mulai menyadari kerenggangan hubungannya dengan Hyunjin.
Changbin tidak mampu menjelaskan hal yang terjadi pada Sahabatnya itu.
Saat ini, sebenarnya Changbin berniat untuk mendatangi Café Savarin untuk mengundurkan diri, setelah memikirkan ucapan Chan Hyung secara matang. Jika saja tak ada sebuah panggilan yang baru saja ia terima dari Paman Kim, Changbin mungkin akan memenuhi niatnya itu.
"Ya, Paman Kim?" ucap Changbin. Saat ini ia masih berjalan menuju Halte Bus.
"Nyonya Hwang ingin bertemu denganmu saat ini. Apakah kau berkenan?"
Changbin terdiam sejenak mendengar permintaan Paman Kim. Pasalnya, ia cukup terkejut kenapa tiba-tiba Nyonya Hwang ingin bertemu dengannya. Apakah ini ada hubungannya dengan Hyunjin?
"Kapan dan dimana, Paman?" jawab Changbin.
"Paman akan mengirimimu pesan tentang waktu dan alamatnya. Dan Paman mohon kau datang. Nyonya Hwang sangat ingin bertemu dan menunggu kehadiranmu."
Mendengar permohonan Paman Kim, Changbin terpaksa menyetujui permintaan itu. "Baiklah, Paman."
Waktu cukup cepat berlalu. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dimana Changbin harus mendatangi sebuah Café yang terletak tak jauh dari Rumahnya untuk menemui Ibu dari Hyunjin tersebut di sana.
Setelah memperhatikan pakaian yang dikenakannya, Changbin melangkah masuk ke dalam Café tersebut dan mencari keberadaan Nyonya Hwang yang kata Paman Kim sudah tiba lebih awal darinya.
"Maaf telah membuat Anda menunggu," ucap Changbin dengan sangat sopan pada Nyonya Hwang yang sedang terduduk di kursinya.
"Kau Seo Changbin?"
Changbin kira, Nyonya Hwang adalah seorang wanita yang tegas dan tidak mungkin menunjukkan keramahannya pada orang asing. Namun ia salah, nyatanya Nyonya Hwang bersikap sangat baik terhadapnya dan bahkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya itu, melemparkan senyuman padanya.
"Duduklah, tidak perlu sungkan. Aku hanya ingin sedikit bercerita denganmu. Ini mengenai… Puteraku, Hwang Hyunjin."
Seorang Pelayan datang, dan meletakkan segelas minuman tepat di hadapan Changbin. Sepertinya Nyonya Hwang telah memesan minuman ini sebelumnya.
"Changbin, tidak perlu merasa sungkan padaku. Aku tahu kau adalah Kekasih Hyunjin. Jadi, aku akan senang jika kau memanggilku dengan sebutan Ibu."
Tubuh Changbin yang semula tegang, mulai rileks setelah melihat senyuman manis dari Nyonya Hwang. Dan ia baru sadar, bahwa senyuman manis yang dimiliki oleh Hyunjin tak lain adalah keturunan dari sang Ibu.
"B-baiklah Bu," jawab Changbin. Dan ia merasa pembicaraan ini akan menjadi pembicaraan yang serius.
"Changbin… apa kau tahu bahwa Hyunjin adalah Putera satu-satunya yang aku miliki?" tanya Nyonya Hwang. Changbin mengangguk.
"Ia bahkan masih menjadi Putera kecilku sampai saat ini. Meskipun aku sudah melakukan kesalahan yang fatal terhadapnya beberapa waktu lalu. Lebih tepatnya, setelah Ayahnya meninggal dunia."
"Hyunjin sempat menggumamkan Ayahnya saat ia sedang sakit," Changbin teringat saat dirinya menolong Hyunjin yang jatuh pingsan dan Hyunjin beberapa kali menyebut Ayahnya.
"Aku rasa kau sudah cukup banyak mengetahui tentang Puteraku," tebak Nyonya Hwang. "Dan aku sangat berterima kasih padamu karena telah menolong dan menjaga Puteraku sejauh ini."
"Aku… jatuh cinta padanya. Tetapi…"
"Hubungan kalian berakhir?" potong Nyonya Hwang. Dan Changbin hanya mengangguk.
"Itu tidak masalah. Kalian masih dapat memperbaiki hubungan kalian. Aku yakin saat ini adalah masa yang sulit bagi Hyunjin karena kau adalah cinta pertamanya."
"Cinta pertamanya?" ucap Changbin tidak percaya.
Nyonya Hwang mengangguk. "Sejak kecil, Hyunjin tidak memiliki teman dan aku tidak memperdulikannya hingga ia tumbuh dewasa. Hal yang paling aku sesali hingga saat ini. Dan aku berjanji aku akan mengawasinya dan tidak lagi menyakitinya. Tapi kumohon padamu, Changbin…"
Changbin sedikit tersentak kala kedua tangan Nyonya Hwang meraih kedua tangannya dan memberikannya tatapan yang memohon. Tidak bohong, Changbin merasakan kehadiran sosok Ibu yang telah lama tak ia rasakan.
"Temuilah Hyunjin. Ia tidak mendapatkan semangatnya akhir-akhir ini. Aku sebagai Ibunya sangat mengkhawatirkannya. Dan kurasa, hanya kaulah yang dapat mengembalikan keceriaan di hidupnya. Aku tidak pernah melihat Puteraku jatuh cinta sebelumnya. Dan melihatnya memiliki ketertarikkan padamu, membuatku sangat senang."
Mungkin sudah cukup Changbin mempertahankan keegoisannya untuk menjauhi Hyunjin. Sudah cukup ia melakukan hal yang sama-sama menyiksa dirinya dan juga Hyunjin. Ia akan menemui Hyunjin dan memperbaiki hubungan mereka. Jujur, ia masih sangat mencintai Hyunjin dan menyesali perkataannya beberapa hari lalu.
"Baiklah Bu. Aku akan menemuinya dan mengajaknya berbicara."
"Terima kasih, Changbin."
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahun Jeongin, dan tak lupa Seungmin memberikan hadiah pesanan Chan pada Lelaki berkulit pucat seperti Vampire itu ke Markas Fire Burst.
Mulanya, Seungmin tidak tahu jika Chan akan memberikan kejutan pada Jeongin malam ini di Markas mereka. Tetapi setelah melihat Anggota Fire Burst yang lain; Jisung dan Minho, juga berada di sana, menbuatnya mau tak mau ikut serta dalam Pesta kecil itu.
"Terima kasih banyak, ia sangat menyukai hadiahnya," bisik Chan pada Seungmin setelah acara Pesta ulang tahun itu hampir usai. Dan Seungmin hanya mengangguk menanggapinya.
"Hyung, bisakah aku bicara denganmu?" Jeongin menginterupsi Chan dan Seungmin. Anggota yang paling muda di antara mereka itu, tiba-tiba muncul dan membuat Seungmin mendengus karena merasa kesal. Ingat? Ia masih memiliki perasaan istimewa terhadap Chan, meskipun ia tahu bahwa Chan lebih mencintai Jeongin daripada dirinya.
"Baiklah, aku ingin mencari udara segar. Nikmati waktu kalian," ucap Seungmin dengan santai, mencoba menutupi rasa kesalnya. Sementara keempat orang yang ada di sana hanya mengangguk menanggapinya.
Namun belum sampai pintu yang dilewatinya itu tertutup, Seungmin sempat melihat Chan meraih tangan Jeongin dan menggenggamnya dengan erat. Ia pun melihat Jeongin tersenyum malu, mengikuti kemana langkah Chan akan membawanya. Hingga Seungmin benar-benar beranjak dari sana, karena tidak ingin melihat dimana Chan menarik tubuh Jeongin ke dalam pelukannya dengan erat.
Hati Seungmin hancur memikirkannya. Ia ingin sekali menangis, namun airmatanya tertahan dan itu menimbulkan perasaan yang sakit luar biasa di bagian dada kirinya.
Entah sudah berapa menit ia berjalan. Hingga ia memutuskan untuk terduduk seorang diri di sebuah kursi panjang di Halte Bus yang mulai sepi itu. Mengingat malam semakin larut.
Namun sepertinya, ia tak sendirian. Melainkan ada sesosok lain yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Memandanginya cukup dalam, tanpa ia sadari karena bayangan kejadian beberapa menit lalu masih berputar di kepalanya.
"Dapatkah aku merubah diriku menjadi Jeongin?" gerutu Seungmin. Mengerucutkan bibirnya dan menendang-nendang jalanan adalah kebiasaan baru Seungmin akhir-akhir ini.
"Aishh! Kenapa patah hati itu menyakitkan sekali!"
Seungmin ingin melanjutkan keluh kesahnya, jika saja ia tak lebih dulu mendengar suara tawa kecil yang berasal dari sosok Lelaki di sampingnya. Jadi, apakah ia tidak seorang diri di sini?
"Kau menertawaiku?" tanya Seungmin pada Lelaki itu.
"Sudah 3 kali kita bertemu, dan kau selalu menggerutu seperti itu," jawab Lelaki itu. Membuat Seungmin bertanya pada dirinya sendiri.
3 kali bertemu? Benarkah? Kenapa ia tidak menyadarinya?
"Pertama, kau menabrakku tanpa sengaja dan tidak memandangku saat meminta maaf. Kedua, aku melihatmu bersama Changbin mendatangi Café kami. Dan ini adalah pertemuan ketiga kita," jawab Lelaki itu.
Ya, Lelaki itu adalah Sungjin; rekan kerja Changbin di Café Savarin. Namun Seungmin masih tidak menyadarinya dan ia justru merutuki dirinya sendiri karena merasa malu pada Lelaki yang sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya itu.
"Maafkan aku," gumam Seungmin. Ia meminta maaf karena tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa pada Lelaki itu.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah. Dan…" Sungjin melirik ke arah jam tangannya, merasa heran karena Bocah Sekolah seperti Seungmin yang masih berkeliaran di jam seperti ini, "kenapa kau tidak pulang? Ini sudah sangat malam," lanjutnya.
Seungmin mengamati Lelaki yang masih tak ia ketahui namanya itu, dan ia rasa Lelaki ini bukanlah orang yang jahat.
Kriittt~
Bus tiba di depan mereka, dan pintu Bus itu terbuka. Belum sempat Seungmin bereaksi, Sungjin lebih dulu bangkit dari duduknya dan menarik tangannya untuk memasuki Bus tersebut.
"Busnya sudah tiba. Lebih baik kita segera naik," ucap Sungjin.
Seungmin merasa seperti orang bodoh saat ini. Lihatlah, jantungnya tiba-tiba berdebar dengan sangat aneh ketika ia melihat genggaman tangan Lelaki asing ini pada tangannya. Hingga mereka terduduk di kursi paling belakang Bus tersebut, Seungmin masih tidak mengeluarkan suaranya.
"Aku Sungjin. Siapa namamu?" tanya Sungjin.
"Seungmin. Kim Seungmin," ucap Seungmin lebih terdengar seperti gumaman.
Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Sungjin lebih tertarik pada pemandangan di luar jendela, dan Seungmin sibuk mengirimi pesan pada Chan, memberitahu bahwa ia kembali ke Rumahnya dan tidak dapat melanjutkan Pesta.
Sungjin terlarut dalam pikirannya sendiri. Bukan tanpa alasan kenapa ia bersikap seperti itu pada Seungmin. Ia hanya teringat oleh mantan Kekasihnya yang telah lama meninggal dunia setelah melihat wajah Seungmin. Entah kenapa, wajah Seungmin dan wajah mantan Kekasihnya itu sangatlah mirip.
Diam-diam Sungjin memperhatikan Seungmin yang sedang terkantuk-kantuk. Ia tertawa kecil menanggapinya. Nyatanya Seungmin seperti anak kecil, dan sangat mirip dengan tingkah mantan Kekasihnya tersebut.
Mungkin Sungjin harus bersyukur karena telah dipertemukan oleh Seungmin setelah kehidupannya yang berat atas kehilangan Kekasih yang ia cintai untuk selama-lamanya.
Sungjin membiarkan Seungmin terlelap bersandar pada bahunya, sehingga ia dapat menikmati pemandangan indah wajah Bocah ini.
"Hahh~ Kim Wonpil… aku sangat merindukanmu. Kenapa wajah Bocah ini mirip sekali denganmu?" gumam Sungjin pada dirinya sendiri.
.
.
.
-oOo- RED IS FIRE -oOo-
.
.
.
Hyunjin tidak mengerti kenapa Changbin tiba-tiba menarik tangannya di saat ia baru saja tiba di Kelas mereka. Jujur, ia senang karena akhirnya Changbin mau berinteraksi dengannya lagi. Namun ia tidak tahu apa yang akan Changbin lakukan setelah berhasil membawanya ke dalam Perpustakaan Sekolah yang sepi ini.
Changbin melepaskan genggaman tangannya dan Lelaki itu duduk di salah satu kursi Perpustakaan itu. Sementara Hyunjin masih betah berdiri di samping Changbin dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Changbin.
Dan sepertinya Changbin memiliki tempat yang tepat untuk berbicara, karena tidak ada seorangpun di Perputakaan ini mengingat jam pelajaran baru saja di mulai.
"Beberapa hari ini aku tersiksa. Aku menyadari kesalahanku di malam itu. Dan aku… tidak bermaksud untuk membuatmu menangis. Maafkan aku," ucap Changbin tanpa menatap Hyunjin. Ia malu pada dirinya sendiri karena telah menyakiti Kekasihnya sendiri.
"Aku… hanya sedang cemburu melihatmu bersama Lelaki itu," lanjut Changbin.
Lelaki itu?
Apakah yang dimaksud Changbin adalah YoungK?
Lantas, darimana Changbin mengetahui sosok YoungK?
"Aku tahu kau menolaknya saat ia berhasil menciummu malam itu. Tapi, aku kesal melihat ada seorang Lelaki yang sedang berusaha untuk merebut apa yang telah menjadi milikku."
Kini Changbin menatap jauh ke dalam mata Hyunjin. Tatapan mereka bertemu, namun Hyunjin masih tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Ia pun masih terkejut setelah mengetahui Changbin melihat kejadian itu.
Changbin tertawa kecil. "Ia terlihat sangat menginginkanmu, Hwang Hyunjin."
Hyunjin meremas kedua tangannya sendiri dan mencoba untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi pada Changbin.
"Dia adalah YoungK. Teman kecilku. Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya."
Changbin merenungi jawaban Hyunjin. Seharusnya ia tidak bersikap seperti itu pada Hyunjin, karena apa yang telah ia lakukan sebelumnya bersama Felix; mantan Kekasihnya, akan jauh lebih menyakitkan bagi Hyunjin.
Changbin bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Hyunjin. Ia menghapus jarak di antara mereka dan setelahnya, ia menyelipkan kedua tangannya pada pinggang Hyunjin dan memeluk Lelaki cantik itu dengan sangat erat.
"Hwang Hyunjin…"
"Apa kau mau menjadi Kekasihku lagi?" gumam Changbin.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
.
.
.
Abis break up, Changjin make up~ yeayyy! Dan YoungK tertolak :'v
Dan di Chapter ini, woolix muncul cuma buat cipokan doang :'v
Seungmin pun sepertinya sudah menemukan jodohnya karena Sungjin mulai tumbuh benih-benih cinta :'v
NEXT CHAPTER, CHANGJIN NC?
YES OR YES?
REVIEW JUSEYO~ TERIMA KASIH :***
