AFFAIR

Masashi Kishimoto

Pair : NaruHina

Genre : Romantic/Drama

Rated : T

SELAMAT MEMBACA

Chapter 11

Seminggu setelah pernikahan Naruto, baru hari ini dia masuk ke kantor, dan tidak disangka semua karyawannya mengucapkan selamat, "pak, saya ucakan selamat atas pernikahan anda, tepat sekali waktunya dengan ulang tahun perusahaan kita pak."

Ulang tahun?

Ooh ya ampun, ternyata Naruto lupa. Minggu depan adalah hari ulang tahun perusahaan ayahnya. Sungguh dia melupakan hari itu, "kau memang benar Ayame, aku benar-benar lupa!"

"Tentu saja anda lupa pak, anda baru saja menjadi pengantin baru. Saya sangat bersyukur anda menikah dengan nona Hinata." Kata Ayame dengan berbisik.

"Apa?"

"Jangan kaget seperti itu, saya awalnya mengira bahwa anda akan menikah dengan orang itu."

"Siapa maksud mu Ayame?"

"I-itu, si nona galak itu."

"Shion maksud mu?"

Ayame mengangguk, Naruto tertawa renyah, "kau tenang saja, dia tidak akan lagi menggangguku!"

"tentu saja tidak pak, karena anda sudah memiliki nona Hinata yang baik hati dan cantik, anda beruntung mendapatkan nona Hinata."

"Yah Ayame, aku benar-benar beruntung." Kata Naruto sambil tersenyum, dan berlalu pergi meninggalkan sekertarisnya.

Disisi lain. Hinata sedang berada di rumahnya, dia sedang bersih-bersih, dia sudah memutuskan untuk tidak mempekerjakan pelayan di rumah barunya. Kini pekerjaannya akan segera selesai setelah ia membersihkan kamarnya, kamar dirinya dan Naruto. memang dia dan Naruto sekamar, tapi mereka tidak tidur satu ranjang. Saat malam Naruto akan tidur di sofa, dan Hinata yang tidur di ranjang, mereka berdua benar-benar menjaga jarak.

Hinata menatap dirinya di cermin, dia mengingat masa lalunya saat dirinya dan Naruto pertama kali bertemu, mereka berdua saling membenci, tapi juga saling memiliki perasaan. "siapa yang bodoh, aku atau dia? Dulu itu dia benar-benar aku benci, tapi entah mengapa selalu saja benci itu hilang disaat aku bersamanya. Dan benci itu menjadi sesuatu seperti. . ."

Suara bel memtong perkataannya, dia bergegas membuka pintu dan itu adalah Sakura, "kau datang lebih cepat, aku belum selesai membereskan kamar ku!"

"Sudahlah, itu bisa dikerjakan nanti. Sekarang ini aku benar-benar sedang bahagia karena dirimu dan Naruto yang membuat terkejut diriku. Tak kusangka ternyata kalian berdua dijodohkan, dan dua-duanya sama-sama tidak tahu dengan siapa dia dijodohkan. Aku seharusnya marah pada kalian berdua!"

Hinata terkiki geli, "kau saja tidak menduganya bukan, apalagi aku Sakura. Ini juga membuatku terkejut."

"Kau bahagia kan?"

"Entahlah Sakura. Pertanyaan mu membuatku bingung."

Selagi mereka asyik berbicara, mereka berdua tidak menyadari seseorang datang dan masuk diam-diam ke dalam rumah.

"Kenapa bingung. Kau dan dia kan. . . saat SMA, kalian berdua pacaran diam-diam bukan. Ayo, jujur saja!"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, jangan bercanda Sakura. Aku membencinya saat itu, dan sampai sekarang aku juga masih membencinya."

"Benarkah, lalu saat pesta sebelum kelulusan, aku melihat kau mabuk dan dia membawa mu, kemana dia membawa mu saat itu. Kalian berdua pergi ke suatu tempat bukan, dan. . . aku tebak kau dan dia. . . kalian melakukan sesuatu malam itu!"

"Kau? Apa yang kau bicarakan Sakura, memang apa yang kau tahu mengenai aku dan dia, kami saling benci, mana mungkin kami melakukannya."

"Ayolah Hinata, kau bisa terbuka padaku!"

"Tidak, aku. . .ibu?"

Sakura menoleh kebelakang, seorang wanita paruh baya tengah berdiri tegak dan tersenyum pahit ke arah mereka, "kapan kau datang ibu, aku tidak mendengar mu masuk."

"Baru saja ibu datang, ibu melihat pintu terbuka, aku kira itu Naruto yang masuk ke rumah."

"Bukan ibu, itu Sakura, aku sudah memperkenalkan ibu dengannya saat pernikahan ku dan Naruto."

"Yah, aku ingat." Kata Kushina.

Hari itu mereka bertiga mengobrol, tapi entah mengapa Kushina terlihat tidak menyukai situasi itu. Hinata tidak tahu apakah Kushina mendengar semua apa yang sedang dirinya bicarakan dengan Sakura, dia tidak tahu, tapi yang jelas sikapnya bertolak belakang dengan sifatnya yang notabene selalu tersenyum dengan siapapun, apalagi Sakura yang adalah temannya sendiri. Apa yang harus Hinata katakan pada Kushina jika dia mendengar pembicaraan itu.

Dua hari kemudian, di rumah Hinata, Kushina datang lagi dengan membawakan kue untuk Naruto dan Hinata. Dia tidak melihat Hinata dimana-mana, saat masuk ke kamar Hinata dia melihat Hinata terbaring, "sayang, apa yang terjadi, kenapa kau berbaring?"

"Aku tidak apa-apa ibu, sepertinya hanya kelelahan." Itu yang dikatakan Hinata, tapi beberapa detik kemudian dia berlalu ke kamar mandi dan muntah-muntah, "apanya yang kelelahan, kau harus ke dokter, ayo kita pergi!"

Lalu mereka pun pergi ke dokter. Di rumah sakit ternyata Hinata hanya masuk angin dan memang benar dia kelelahan, "aku sangat khawatir dengan keadaan menantuku dok, apa benar dia tidak apa-apa?"

"Dia tidak apa-apa ibu. Dan. . . kenapa anda menyuruh saya untuk mengecek tes keperawanan, bukankah dia menantu anda?"

"Tidak apa-apa dok, saya hanya ingin tahu."

"Tentu saja dia sudah tidak perawan nyonya, anda ini ada-ada saja."

"Saya penasaran dok, ma'lum, mereka pengantin baru."

"Ooh begitu yah."

Kushina mengangguk kaku. Dia terlihat tidak senang dengan tes itu, dia harus bertanya pada Hinata, apakah dia dan Naruto sudah melakukan hubungan suami istri. Tentu saja sudah, tapi itu sebelum mereka menikah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah Kushina bertanya, "sayang, sudah satu minggu kalian tinggal serumah, apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?"

"Apa? Ibu, kenapa kau berbicara seperti itu, aku jadi malu."

"Tidak apa-apa sayang, katakan saja. Katakan dengan jujur!"

"Aku. . . belum melakukannya ibu."

Jawaban itu membuat Kushina marah dan bertanya-tanya, lalu kenapa Hinata sudah tidak perawan, apa sebelumnya dia melakukannya dengan orang lain. pemikiran itu membuat Kushina kecewa dan juga terlalu berharap pada Hinata. Setelah mengatakan hal itu Kushina hanya terdiam, dan itu membuat Hinata takut. Setelah sampai di rumah Kushina mulai mengeluarkan amarahnya. Dia menyuruh Hinata duduk di sofa dan meminta penjelasan.

"Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau sama saja dengan gadis-gadis lain, kau tidak suci saat menikah dengan putra ku, kau membohongiku Hinata, kau menjebakku."

"Tidak ibu, dengarkan aku dulu!"

"Aku tidak membutuhkan penjelasan mu, semuanya sudah jelas, saat Naruto tahu dengan semua ini aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu. Kau yang akan menderita dengan semua kebohongan mu itu Hinata, apa kau tidak malu hah, aku sangat marah padamu!"

"Ada apa ini?"

Naruto pulang dari kantor dan dia disambut dengan keadaan tegang ini, "aku tanya ada apa. Kenapa kalian tidak menjawab?"

"Istri mu yang akan menjawabnya." Kata Kushina dengan sinis.

Hinata hanya terdiam, dia terlihat santai dan tidak terlalu terkejut ataupun takut seperti sebelumnya. Naruto menatap Hinata yang hanya mengangkat bahu, "ibu?"

"Ooh ya Tuhan, dengarkan baik-baik hal ini Naruto, aku tidak tahu apa kau akan terkejut mendengarnya atau tidak tapi. . . istrimu membohongi kita semua dengan mengaku bahwa. . . bahwa dirinya masih suci, dan dia adalah gadis baik-baik, tapi nyatanya dia berbohong, dia melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan, itu sebuah kesalahan yang sangat fatal."

Naruto terllihat diam dan menatap ke arah Hinata, "wow, aku terkejut sekali."

"Lihat, kau pun terkejut mendengarnya apalagi ibu, Naruto, sekarang terserah dirimu, apa yang akan kau lakukan pada Hinata."

"Y-yah, aku. . . aku tidak akan melakukan apapun, memangnya apa yang harus aku lakukan?"

"Apa? Dia mengkhianatimu dan membohongi kita semua, dia melakukan kesalahan besar dan. . ."

"Dan aku yang bertanggung jawab atas kesalahan Hinata, ibu, aku juga salah."

"A-apa maksud mu. Ibu tidak mengerti."

"Ibu, Hinata melakukan sesuatu yang menurut ibu adalah kesalahan itu, aku dan Hinata melakukannya, sebelum kami menikah, dan semua itu kita lakukan saat masih sekolah dulu."

"Apa?" teriakan itu mampu membuat Naruto dan Hinata tersentak. "i-ini. . . ini tidak mungkin, kalian. . . ya Tuhan, apa yang kalian lakukan, aku benar-benar ingin pingsan rasanya, ya Tuhan, maafkan kesalahan anak-anak ku, ya Tuhan, ya Tuhan."

Selagi Kushina masih mengoceh, Hinata berlalu dari mereka berdua karena dia sangat malu. "Hinata sayang," panggil Kushina. "apa dia marah pada ibu?"

"Sepertinya tidak, mungkin dia malu."

"Semoga saja seperti itu." Kata Kushina lalu menysul Hinata.

Naruto ingin sekali tertawa karena kejadian barusan membuatnya senang, akhirnya dia terkekeh sendiri dan dia melihat ekspresi Hinata tadi. Tidak ada lagi kemarahan atau benci, tidak ada, bahkan setelah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Walaupun ada sedikit marah, tapi marah itu bukan karena masa lalu, dia yakin Hinata sebenarnya tidak membencinya.

"Memalukan. Pada akhirnya semua ini terbongkar dengan sendirinya, ini benar-benar menyebalkan."

Hinata duduk di tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut, "Hinata." Kushina memanggilnya, dia membenamkan tubuhnya dibawah selimut. "Hinata sayang, maafkan ibu, ibu benar-benar marah saat tahu bahwa kau melakukan hal itu sebelum menikahi Naruto, ibu kira kau melakukannya dengan orang lain dan ibu sangat marah karenanya. Maafkan ibu, apa kau marah pada ibu?"

Hinata membuka selimut dan melihat Kushina didepannya, "ibu aku tidak marah, aku hanya malu pada ibu, ini benar-benar memalukan."

"Sayang, seharusnya dulu kau terbuka pada ibu, dan seharusnya ibu juga banyak bertanya pada mu mengenai hubungan mu dengan Naruto. Tapi sayang, ibu tidak tahu bahwa dulu kau dan Naruto satu sekolah, ibu menyesal karena tidak pernah bertanya. Tapi coba ceritakan kejadiannya seperti apa"

"Apa? Tidak ibu, itu sangat memalukan, aku tidak mau bercerita!"

"Ayo, ceritakan saja, jangan malu-malu pada ibu, ayo ceritakan!"

Hinata sedikit ragu, tapi akhirnya dia mau bercerita, "saat itu ada pesta, pesta sebelum ujian. . ."

"Ooh ya ampun, kalian melakukannya sebelum ujian dimulai."

"Ibu!" kata Hinata .

"Baiklah, baiklah, ibu diam. Lanjutkan!"

"Pesta itu diadakan di rumah temanku. Saat itu aku tidak bermaksud datang, tapi karena dia. . ."

"Naruto?" tanya Kushina. Hinata mengangguk.

"Dia membuat ku kesal saat itu, lalu karena terbawa suasana pesta dan kekesalan ku itu, akhirnya aku mabuk. Lalu, Naruto melihatku, dia menghampiriku dan menyuruh ku berhenti minum, tapi aku tetap saja minum hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri. Mungkin saat itulah Naruto membawa ku pergi dari pesta dan sepertinya Sakura melihat Naruto membawaku."

"Yah, karena Sakura mengatakan 'dia' dan ibu tidak tahu siapa dia itu, akhirnya Pembicaraan kalian dua hari yang lalu membuat ibu melakukan hal ini, tapi sudah lah. Lanjut!"

"Sudahlah ibu, aku benar-benar malu."

"Lanjutkan saja, ibu ingin dengar!"

"Saat itu aku mabuk. Naruto mengatakan kalau dia takut ayah akan memarahiku kalau aku mabuk, jadi dia berinisiatif membawaku pulang ke apartementnya. Dan menyuruh Sakura memberitahu ayah bahwa aku menginap di rumahnya, tapi sebenarnya tidak."

"Kalian telah banyak berbohong."

"Itu bukan salahku, Naruto yang berbohong."

"Tetap saja kalian membuat kesalahan. Dengan kau mabuk apa saja bisa terjadi."

"Tapi. . ."

"Lanjut!" kata Kushina.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu, yang aku tahu aku hanya mabuk dan Naruto mengatakan kalau aku merayunya saat aku mabuk, apa itu benar?"

"Tentu saja. Dengan kau yang mabuk dan dalam keadaan lemah. Seorang pria bisa saja melakukan apapun."

"Tapi Naruto mengatakan, dia tidak mau melakukannya, tapi sayangnya aku yang dalam keadaan mabuk, merayunya dan me-..."

"Me, apa?"

"Dia bilang, aku memintanya menciumku."

Kushina tertawa dengan sangat keras. Hingga Naruto yang berada diluar mendengarnya. Dia penasaran apa yang sedang dibicarakan ibu dengan istrinya. Tapi dia akan tahu nanti.

"Ibu jangan tertawa keras-keras!" Hinata mencoba menghentikan Kushina. "baiklah, baiklah ibu akan berhenti. Lanjutkan saja cerita mu!"

"Aku tidak mau. Kalau ibu tertawa lagi aku tidak mau melanjutkannya!"

"Baiklah ibu tidak akan tertawa, ibu janji!"

Hinata menghembuskan napas panjang dan mulai lai bercerita, "setelah malam itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi ibu."

"Mana mungkin seperti itu, kau tidak merasakan apapun saat. . ."

"Ibu, mana mungkin aku bercerita mengenai hal itu. Aku tidak tahu apapun."

"Jangan bohong pada ibu, apa yang kau rasakan?"

"Tidak ada. Setelah malam itu aku benar-benar lupa, tiba-tiba saja Naruto sudah berada disampingku, dan tanpa pakaian. Itu malam terburukku!"

"Aku yakin hatimu menyangkalnya. Tapi ya sudah, ibu terlalu berprasangka buruk pada mu, sekali lagi ibu minta maaf."

"Tidak apa-apa ibu."

Hari itu Hinata melewati moment memalukan dalam hidupnya, dia sudah mengira sebelumnya bahwa hal ini akan terjadi. Tapi karena moment tadi sudah terlewati kini hatinya lega. Hinata mulai bergegas mandi sebelum Naruto masuk ke kamar. Tapi saat dia selesai Naruto sudah berada di kamar, Naruto sedang membaca buku di sofa. Hinata memperhatikannya, "ada apa?" tanya Naruto.

"Aku mau berpakaian. Keluarlah!"

"Kalau kau mau berpakaian, pakai saja, jangan pedulikan aku. Aku sudah tidak mau lagi mendengar ocehan mu mengenai hal ini!"

"Apa?" Hinata terkejut mendengarnya, "kau akan berkesempatan melihat ku berpakaian nantinya."

"Sejauh apapun kau menghindar atau menutup-nutupi, percuma saja, aku juga sudah pernah melihat mu tanpa pakaian bukan?"

Naruto benar-benar sengaja mengingatkan kembali malam itu. Hinata tersipu malu, lalu dia mengalah dan mengambil baju tidurnya dan memakainya di kamar mandi. Saat di kamar mandi dia memperhatikan tubuhnya sendiri, dan hal itu membuatnya ingat kembali. Sekeras apapun dia tidak mengingatnya tetap saja ingatan itu menghantuinya. Saat Hinata keluar dari kamar mandi dia melihat Naruto sudah tidur di sofa, lalu dia pun beranjak ke tempat tidur.

"Apa yang kau bicarakan dengan ibu tadi siang, sepertinya ibu senang sekali?"

"Apapun yang kami bicarakan aku tidak akan memberitahu mu!"

"Tapi aku ingin tahu."

"Kau yakin ingin tahu?"

^^Bersambung . . .^^