**Disclaimer**
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka & Harukawa Sango
Warn : shonen-ai, AU, kemungkinan ooc, munculnya typo secara tiba tiba, pelanggaran kaedah bahasa yang baik dan benar, dan tentu dengan kegajean merajalela.
Dengan berbagai situasi karangan author, dan tolong jangan terlalu dipikirkan, diharapkan, apalagi dicoba di dunia nyata.
Silahkan menikmati ^^
-CHAPTER 11-
IIII-IIII
"Hey, jangan di sana. Sakit!"
"Chuuya, jangan berisik..."
"Aaakh Dazai. Pelan kubilang. Pelan bodoh!"
"Aku sudah sangat hati hati.. Makanya Chuuya jangan bergerak dulu."
"Hati hati apanya? Kalau hati hati tidak akan ah— sakit. Aduhh ketarik! Pelan bodoh! Rambutku terjambak!"
"Aku sudah pelan! Tapi gimana lagi? Rambutmu susah lepas dari kancing kemejaku."
"Aduhh duh... Kau menarik rambutku bodoh!"
"Chuuya.. Jangan bergerak dulu. Semakin sulit jadinya.."
"Kalian sedang apa sih?"
"Fyodor?" pemuda beriris biru menyebut nama sosok jangkung bermantel dengan kerah bulu yang muncul dari balik sebuah pohon. "Kau sudah sehat?"
Fyodor tersenyum kecil.
"Kebetulan kau muncul. Bantu aku melepas rambut Chuuya dari kancing ini." Dazai menunjuk kancing lengan kemejanya. "Sulit melakukannya dengan tangan satu."
Fyodor menatap malas, seakan menimbang nimbang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi kala ia melakukannya. Namun akhirnya memenuhi permintaan si maniak perban itu. Hingga beberapa saat kemudian, kancing Dazai lolos dari belitan helai helai oranye Chuuya.
"Aku tertolong. Terimakasih." ucap Chuuya merapikan rambut dan topinya.
"Yaa.. terimakasih teman.." sambung Dazai. "Dan sedih melihatmu sehat kembali, Fyodor."
"Yaa tentu. Terimakasih membuatku hampir bertemu Tuhan Yang Maha Esa."
"Ahh.. kau jangan seperti itu!" Dazai merangkul si surai gelap. "Anggap itu sebagai tanda terimakasih dariku. Jangan marahh.. Kau kan baik. Ya kan Chuuya?." ia mengedipkan sebelah matanya manja.
"Sebodo.." Chuuya memutar manik birunya.
"Dan Fyodor temanku.. Aku masih membutuhkan mu, jadi jangan tinggalkan aku. Kau mengerti?" Dazai menyelipkan kepalanya di bawah telinga Fyodor yang tertutup helaian biru gelap. Membuat Chuuya yang melihat refleks menaikkan sebelah alisnya jijik.
"Dasar manja." Fyodor mendengus.
"Ahaha.. Seperti kau tidak kenal aku saja."
"Kalau begitu aku pergi dulu." Naiad itu memotong tawa Marquesse Ealvlan, lalu berbalik dan berjalan menjauh.
Menyisakan dua lelaki yang terlihat lebih dari akrab, satu dengan senyum kemenangan, satunya lagi hanya dengan senyuman kecil menawan.
"Biar ku katakan. Kau membuatnya marah." kata yang tersenyum menawan, tak lain adalah sang pangeran.
"Hihi.. Aku tidak pernah melihat Chuuya seperti itu sejak ia tau aku punya tunangan. Cemburunya itu unik."
"Pede sekali kau bilang itu cemburu, kalau cuma jijik bagaimana?"
"Tentu saja dia cemburu. Karena aku bilang begitu, dan dia milikku."
"Dazai?"
"Hm?"
"Mungkin kapan kapan, Aku akan mencium Chuuya untuk membuatmu cemburu."
Dan sekejap kemudian, sebuah pisau kecil berada di kulit leher Fyodor.
"Lalu kau akan merasakan Grand Chariot menembus jantungmu, tanpa Chuuya yang akan mengobati." Tanpa sinar dimata, Dazai menekan tepi pisau itu ke leher Fyodor seraya tersenyum menantang.
"Wahh.. Berharga sekali rupanya." Fyodor melepas ancaman Dazai. Membebaskan diri dari rangkulan yang sewaktu kecil sering ia rasakan itu. "Tenanglah, aku masih menghargaimu sebagai temanku. Aku tidak akan seperti itu karena aku tau dia sangat istimewa dibanding aku atau keluargamu."
Dazai membuang pandangannya.
"Nahh.. Kalau begitu, kenapa tidak kau susul dia dan nikmati pesta yang diberikan alkonost alkonost ini?" si pemburu harta menyambung kembali.
"Ahh.. Yaa.. Tentu." Sedikit jeda hingga Dazai meninju dada Fyodor dengan tinjuan kecil tanda bersahabat diikuti bisikan "Terimakasih.." lalu pergi dengan seruan "Chuuuyaaaaa!~~~" manja biasanya. Dan tentu hanya disambut decihan kesal oleh yang bersangkutan.
Tidak seburuk kelihatannya, Alkonost yang licik ternyata juga punya sisi baik. Seperti pada malam yang cerah ini, mereka menyajikan berbagai buah, anggur, dan manisan aneh untuk tamu tamu tampan mereka.
Mengepak, menari, bernyanyi, sangat menghibur dan sangat menyihir. Jika tidak ada seorang ahli sihir seperti Chuuya di sana, mungkin para ikemen kita sudah menjadi koleksi burung burung fantastis ini.
Ya Chuuya. Sembuh dari sekarat nya dengan cepat, yang diharapkan dari seorang nymph blasteran. Menyelimuti teman seperjuangannya dengan sihir unik agar tidak tenggelam dalam menggodanya suara Alkonost.
Today again a little snow falls
On sorrow already spoiled
Today again even the wind blows
Through sorrow already spoiled
Nyanyian Alkonost tersambung sambung menjadi sebuah harmoni yang indah. Akapela yang luar biasa dipadu petikan harpa dan gesekan cello oleh Fyodor Dostoyevsky. Permainan yang luar biasa.
"Aku tidak tau Fyodor bisa main cello." Dazai menghampiri Chuuya dan Christie yang duduk di sebuah batang kelapa dengan segelas wine di tangan masing masing.
"Mungkin dia belajar setelah keluar istana?" jawab Chuuya yang sudah mendengar kisah itu dari Atsushi beberapa waktu lalu. "Aku malah bingung bagaimana bisa makhluk bersayap memetik harpa."
"Ah Chuuya! Kita sepemikiran!" Dazai tersenyum laknat.
"Hmhm.." Christie tertawa manis. "Sudahlah sudahlah.. Dazai-sama, aku berterima kasih telah membawa Pangeran ke sini. Senang melihatnya lagi. Aku akan mencoba tidak marah karena menembaknya.."
"Tentu Christie-san." Dazai kembali tersenyum lebar. Senang karena prediksi yang ia buat untuk kesekian kalinya benar.
"Chuuya kau tau dimana Akutagawa dan Atsushi?" sambungnya.
"Sedang berlatih. Kolaborasi baru mereka."
"Aaaa... Semangat anak muda. Benar benar.. Mereka bisa jadi pasangan yang cocok." Dazai mengangguk ngangguk dengan senyum seorang ayah yang —menurut Chuuya— menjijikkan.
Sorrow already spoiled
Is for example a fox's hide
"Aku bingung, lagu ini punya arti yang sedih kan? Kenapa dinyanyikan untuk kami?" Dazai bertanya setelah bait terakhir disenandungkan.
"Tentang lagenda." Chuuya memahat senyum yang tidak manis, namun menawan. "Semua makhluk yang pandai bernyanyi tau lagu ini... ...Tapi manusia sekarang sepertinya tidak."
"Kalau begitu Chuuya tau dong? Kenapa tidak ikut nyanyi? Aku ingin—"
"Cih! Tidak!" Chuuya memotong kalimat Dazai dengan decihan khasnya.
"Ayolah... Akan baik baik saja selama kau melindungi kami dengan sihir."
Chuuya menatap Dazai curiga. Menurunkan lekuk bibirnya dan menaikkan sebelah alisnya.
On sorrow already spoiled
A little snow falls and it shrinks
Christie bernyanyi, melirik ke Chuuya dengan tatapan menantang. Chuuya menghela nafasnya panjang. Menutup sebelah mata seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu mengikut,,
Sorrow already spoiled
Never hopes nor wishes anything
Suara yang indah dengan melodi yang memukau. Terasa seluruh perasaan di nada nada yang ia ucap dengan terpaksa itu. Dazai hanya bisa membatu melihat Chuuya nya begitu mempesona.
Sorrow already spoiled
In languor dreams of death
Pitifully i fear
Sorrow already spoiled
Gelombang ombak terdengar menderu, melengkapi instrumen yang bermain beradu. Cahaya bintang yang redup, walau tertelan nyala unggun yang membakar kayu, tetap memperindah lagu ini. Setidaknya itu yang Dazai rasakan saat mendengar Chuuya bernyanyi lagu sedih ini.
Dusk and there's nothing I can do
Against sorrow already spoiled.
Chuuya membuka matanya yang tertutup sejak bait pertama yang ia nyanyikan tadi. Azurenya tampak sendu dengan kulit putih yang berkilau akibat terpaan cahaya api. Sementara Dazai, masih terpaku melihatnya walau Chuuya tidak lagi bersuara.
"Kenapa melihat seperti itu? Risihhh!"
Apel yang Chuuya lempar sukses mengecup kening Dazai Osamu.
IIII-IIII
"Mereka berpesta dan kau mengajakkku ke tempat sepi seperti ini?"
"Diam kau Jinko. Kau yang memberi usul pergi ke pantai kan?"
"Yaaa... Tapi bukan yang di sini. Akan lebih baik kalau di tempat kita pertama tiba."
"Jauh.. Sudah jangan banyak protes. Mendekat kemari."
"Yang kemarin itu tidak sengaja, kalau yang ini sakit aku tidak mau."
"Sudah kemari saja kau harimau sialan!"
"Ya yaaa Akutagawa bawel!"
Atsushi berjalan mendekati Akutagawa. Sedikit cemas tentang apa yang akan terjadi dalam acara 'percobaan kekuatan baru' yang mereka miliki.
Memang Atsushi yang mengajak untuk mencoba berubah menjadi harimau itu, tapi sebenarnya dia juga tidak yakin. Apakah akan baik seperti saat mereka melawan pasukan yeti, atau akan seperti pertama kali dimana dia mengamuk dan hampir membunuh Akutagawa.
"Kau cemas?"
Kebenaran yang diutarakan dengan pertanyaan oleh Akutagawa membuat Atsushi menteskan setitik keringat di pelipisnya.
"Tenanglah. Aku sedang dalam kondisi yang baik sekarang. Kalau pun kau mengamuk, aku bisa mengalahkanmu. Jangan menahan diri, itu akan mengubahmu menjadi monster. Kau paham?"
"Hmm..."
Melihat Akutagawa begitu dekat tidak pernah menjadi apa apa. Tapi sekarang, tidak tau mengapa, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena ingin melakukan hal berbahaya? Entahlah.
Akutagawa dengan tangan kurus pucatnya menepikan rambut perak yang menutup mata ametis itu. Membuat Atsushi secara tidak sadar menambah kecepatan detak jantungnya.
"Percaya padaku."
Lalu Akutagawa mengeluarkan sihir nya perlahan. Atsushi menutup matanya, merasakan begitu banyak kekuatan mengalir di tubuhnya. Lingkar lingkar cahaya tampak membelitnya diiringi perubahan pada kaki, tangan, dan kepala.
Akutagawa mundur beberapa langkah agar bisa melihat lebih jelas. Perlahan mata Atsushi terbuka. Menampilkan sepasang kemilau kuning penuh keganasan. Dengan cepat menerkam Akutagawa yang terjatuh ke belakang. Memberi cakaran pada bahu si surai gelap.
Dengan sigap Akutagawa menarik sihirnya. Mengubah Atsushi kembali menjadi lelaki tulen seperti biasa. Atsushi terkulai dan terjatuh ke arah Akutagawa yang terduduk di halusnya pasir pantai.
"Kau tak apa?" Akutagawa bertanya.
Atsushi perlahan membuka matanya, "Kau terluka? Aku menyerangmu?!" tanyanya histeris melihat darah merembes dari bahu Sang Rashomon.
"Kau berisik sekali."
"Tapi benar kan? Sudah kuduga yang lalu hanya kebetulan! Kita hentikan saja!"
"Hah?! Kau ngomong apa? Kau yang ngajak latihan lalu kau bilang berhenti? Seenaknya saja! Kau pikir kau siapa?!"
"Tapi aku tidak ingin melukaimu, Akutagawa!"
Akutagawa tersentak. Lalu segaris senyum yang tidak disadari Atsushi terukir tipis di sana, 'naif' pikirnya.
"Aku bisa menyembuhkan luka ini sendiri. Kau lakukan saja tugasmu. Makanya percaya padaku, dan pada dirimu sendiri?"
"Ayolah Reis! Kita punya misi berbahaya, dan kau harus punya sesuatu yang menjelaskan kau layak dalam misi ini. Carilah cara agar kau berguna untuk orang orang di sana itu! Tunjukkan padaku kekuatan mu yang hebat itu, Atsushi!"
Nakajima Atsushi menaikkan alisnya. Memperbaiki posisi duduknya, lalu mengatakan dengan yakin, "Aku siap!"
Akutagawa tersenyum, "Bagus."
Lalu mereka mulai lagi, sihir, lingkaran cahaya, dan perubahan.
Atsushi berteriak, kadang mengaum, sementara Akutagawa hanya menggertakkan giginya. Mulai dari sini adalah tugas Atsushi yang harus berjuang mempertahankan kesadarannya agar tidak kalah dari harimau itu.
"Akutagawa?"
Kata yang pertama ia ucap menjelaskan kalau ia memenangkan pertaruhan itu.
"Ya. Kerja bagus!"
Sebuah tepukan lembut di pucuk surai perak, membuat empunya tersenyum manis bercampur bangga.
IIII-IIII
Fajar tiba, deburan ombak masih khas terdengar dekat. Suara suara merdu Alkonost mengisi tak beda kicau burung di pagi hari. Dan masih di pulau eksotis itu, di sebuah kamar kecil, Chuuya melaksanakan tugas mulianya sebagai pelayan.
Merapikan kerah baju tuannya, Dazai Osamu de la Ealvlan yang kurang ajar.
"Chuuya, walau kecil, kau membantu sekali yah."
Merasa fokusnya terganggu, dengan khasnya Chuuya menekan dasi itu hampir mencekik Dazai. "Kau jangan berisik, sialan."
"Humpph..." Dazai menggembungkan pipinya manja. Lalu meletakkan kedua tangannya di pundak Chuuya, "—pendek."
Setelahnya Chuuya menendang kaki Osamu mantap.
Selesai dengan persiapan diri, kelima pemuda yang dipandu seorang Alkonost itu menyusuri jalan setapak kecil yang mengarah langsung ke pantai tempat kapal mereka berada.
"Terimakasih Christie." Fyodor membuka suara begitu mereka tiba di tepi pantai itu.
"Aku senang Pangeran memaafkan dan mempercayaiku lagi. Aku harap aku bisa membantu kalian—"
"Tidak usah. Senang memang ada tenaga tambahan, tapi kau harus menjaga teman teman mu,, yahh— siapa tau kami gagal dan Francis memulai perang. Mengingat daerah ini wilayah netral, besar kemungkinan dia akan mengambilnya. Jadi kau harus bisa melindungi mereka, mengerti?"
"Baik, Pangeran."
"Tidak perlu mengantar kami, kau bisa pergi."
Christie membungkuk hormat, "Aku doakan keberhasilan kalian." lalu Alkonost itu terbang kembali ke sarangnya.
Fyodor menyaksikan Christie hingga burung biru itu hilang dari pandangan, "Lalu, akan butuh sehari sampai ke Rockdix dengan kapal."
"Waktu yang cukup bagi Francis untuk mengambil Pandora itu." sambung Dazai.
"Oh.. Ini kesalahan ku hingga kita terlambat seperti ini, biarkan aku membayarnya."
"Chuuya?"
Oh, aquaintances
Chuuya bernyanyi. Di hadapan laut yang mencerminkan birunya langit.
Grantors of dark disgrace
Do not wake me again
Lagu berirama lembut dengan suara indah bergema yang membuat Fyodor dan Atsushi terkesima. Ya, hanya terkesima karena sihir Akutagawa berhasil melindungi mereka dari suara yang menurut Chuuya adalah kutukan itu.
Sementara Dazai? Coba lihat dia, ada cahaya lain di matanya. Lebih dari terpukau. Walau itu bukanlah lagu yang membahagiakan, dan raut sendu Chuuya juga bukan air muka ceria, entahlah apa, ada suatu gejolak yang ia rasakan saat ini.
"Apa yang Chuuya-san coba lakukan Fyodor-san?" Atsushi bertanya.
"Entahlah. Sesuatu menakjubkan yang lain. Kita lihat saja."
You allow sorrow to corrupt
Do not wake me again
Berhenti di situ. Akutagawa menarik sihirnya, dan Chuuya menampakkan dengan jelas sepasang sapphire indah itu pada lautan di hadapannya.
Lalu ia tersenyum.
"Lihat itu. Ada sesuatu melompat lom—"
"Lumba lumba?"
Akutagawa menggeram kesal saat kalimatnya disalib oleh Atsushi. Dan objek itu perlahan mendekat. Tiga ekor— kuda?
"Hippocampus!" Fyodor kembali terpukau. "Bagaimana bisa?"
"Aku nymph."
"Hah?!" semuanya, kecuali Dazai ternganga lebar.
"Nymph, maksudmu Nymph yang itu?" Akutagawa mengintrupsi tak percaya.
Chuuya mengangguk. Kembali melihat Hippocampus di depannya. Membelai sisik hijau berkilau itu lembut.
"Nymph air. Dan aku memanggil mereka untuk kita. Jadi kita bisa sampai dalam lima atau enam jam ke Rockdix."
"Hippocampus, di pengetahuanku,, dia adalah makhluk lautan terindah." ruby Fyodor berbinar. Dengan refleks nya ia menggapai seekor yang bersisik biru kemerahan, mengelus dahi makhluk itu layaknya mengelus kuda. Aura terhura terpancar jelas dari sana.
"Chuuya? Kau nymph air tawar kan? Menurut buku yang kubaca, Nymph lautan punya spesies tersendiri, bukan?"
"Yaaa.. Tapi aku blasteran, kau ingat?"
"Ohh Chuuyaaaa!" Dengan gemas dan tiba tiba Dazai memeluk Chuuya. Membuat si surai sinoper tertegun dan dengan sedikit rona merah manis di wajah, ia menghela nafas.
"Dazai,, bukan waktunya untuk itu. Kita sedang kejar target di sini."
"Ah,, yaa.. Kalau begitu ayo cepat cepat.. Atsushi, kau dengan Akutagawa. Dan Fyodor, tolong bawa perlengkapan kita,, aku harap kau masih ingat cara menunggangi kuda. Ayo Chuuya."
"Hehh, aku bersamamu? Aku berharap bisa naik sendiri padahal." Chuuya menaikkan sebelah alisnya.
"Lalu aku dengan Fyodor? Tidak akan muat sayang." Dazai tersenyum manis.
"Kau bisa dengan—"
"Sudahlah ayo, kita kejar target!"
"Perban sialan!" perempatan muncul di dahi Chuuya saat Dazai —yang sudah duduk di atas salah satu Hippocampus— memotong komentarnya.
Mereka memulai perjalanan laut ini. Hippocampus yang gagah melaju kencang diselingi lompatan lompatan tinggi yang menyenangkan. Dan meringkik, seperti kuda pacuan.
Ini pengalaman yang terjadi pada empat dari seluruh manusia muka bumi, dan tidak bisa ditahan lagi senyum adrenalin terkembang apik di wajah rupawan masing masing.
Tidak ada tali tunggangan, mereka hanya bisa bergantung pada kontrol keseimbangan. Untung saja Hippocampus itu lebih besar dari kuda daratan.
"Ini menyenangkan!" ucap Dazai pada Chuuya di depannya.
"Yaa!" Chuuya tertawa lepas. "Aku juga baru coba."
Dazai tersenyum lembut seraya mengeratkan lingkar tangannya di pinggul sang Naiad.
Rona merah sedikit mewarnai kulit putihnya, tanpa sadar Chuuya menyunggingkan senyum lembut dan sebelah tangan kurusnya meraih tangan Dazai yang merangkulnya.
"Tuan muda yang manja..." ucapnya pelan tanpa megubah senyumannya.
Seperti nya aura diantara mereka sedikit membaik dibanding pertama kali bertemu, yah hanya 'sedikit' karena setelah itu mereka kembali melanjutkan tradisi mereka yang sangat mereka jaga dan pelihara.
"Lepaskan bodoh! Risih!"
"Tidaakk mauuu! Nanti aku jatuh bagaimana?" Dazai mengerucutkan bibirnya manja, tapi terlihat imut.
"Lebih baik kau jatuh dan tenggelam terseret arus saja sana! Dan jangan pernah kembali!" sengit Chuuya dingin.
"Chuuuyyaaa... kau tidak bisa membiarkanku mati begitu saja! Kita terikat kontrak ingat...?" Dazai memasang mata memelas dengan masih tetap merangkul Chuuya kesayangannya.
"Masa bodoh!" Chuuya melayangkan sikutan kecil pada Dazai yang berhasil dihindarinya dengan mulus tanpa kehilangan keseimbangan pada tumpangan mereka.
"Ayolah Chuuyaaa..." Dazai semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh yang lebih kecil di depannya dan menenggelamkan wajahnya pada punggung itu.
Kegiatan itu terus berlanjut seperti biasa dan mungkin tidak akan berhenti sampai ada sesuatu atau seseorang yang bisa menghentikan mereka. Sementara itu, keadaan tak jauh beda di hippocampus satunya.
"Hoi jinko! Tikunganmu tadi hampir membuatku jatuh!"
"Heeh... maaf kalau begitu, sepertinya kau kurang dalam keseimbangan ya Akutagawa?" ledek Atsushi tanpa mengalihkan pandanganya pada hamparan biru di hadapannya.
"Apa katamu?! Kuhajar kau nanti!" Akutagawa mengepalkan tangannya seperti hendak memukul.
"Ya ya terserah kau saja tapi sekarang kau fokus saja untuk tidak oleng lagi sampai Rockdix, pegangan padaku!"
"Gehh..." Akutagawa dengan gerakan ragu meraih pundak Atsushi dan mendekatkan badannya pada sosok di depannya yang sibuk mengendalikan hippocampus mereka.
Tiba-tiba saja si ametis itu merasa jantungnya terpacu lebih kencang dari biasanya, seperti habis melakukan marathon, membuatnya memegangi dadanya.
'Ini karena aku menaiki hippocampus ini kan? Ya, pasti begitu!' batinnya.
Entahlah dengan si raven, mungkin ia juga merasakan hal yang sama. Untuk alasan lain? Kita tidak tau.
"Eheem!" Atsushi berdehem, niat mengurangi laju detak jantungnya. "Yah, tidak bisa disalahkan juga. Rakyat jelata sepertimu kan tidak pernah mendapat pelajaran menunggang kuda."
"Asal kau tau saja. Bukannya aku tidak bisa naik kuda, hanya aku tidak mau ambil resiko terjebur ke air—!"
"Siapa yang tahu, kenyataannya dalam keadaan ini aku lebih berguna dari mu."
"Kau sialan..."
Fyodor yang hanya berduaan dengan barang bawaan mereka, memperhatikan dua hippocampus di depan sambil menghembuskan nafasnya nelangsa. Dia kemudian mengalihkan pandangan pada lautan kosong di samping mereka.
"Haah... sepi sekali ya.." ucapnya ditemani backsong suara angin berhembus.
Belum sempat ia menikmati kemirisannya, tiba-tiba air laut di depan Fyodor naik dan membentuk gelombang yang sangat tinggi, sesaat kemudian muncul leher dinasaurus sepanjang kurang lebih lima belas meter dengan taring-taring tajam di seluruh rongga mulutnya.
Terimakasih pada keterampilan berpacu Fyodor yang hebat, dan kelincahan para hippocampus mereka yang menawan.
"A-A-A-APAA ITUUU?!" teriak Atsushi dengan histeris nya membuat Akutagawa melalukan gerakan perlindungan pada gendang telinganya.
"Kalau tidak salah itu Mauisaurus, iya kan?"
"Benar Dazai, aku tidak mengira kita bisa menemukan makhluk purba disini." jawab Chuuya sedikit ngeri melihat makhluk di hadapan mereka itu.
Makhluk itu melihat Fyodor di dekatnya dan dengan gerakan cepat hendak menerjangnya.
"FYODOOR!/FYODOR-SAAN!" teriak mereka bebarengan.
Fyodor dengan refleks yang memang bagus segera menghindar dan selamat.
"Kalian pergi duluan ke tempat yang aman! Akan kutangani yang ini!"
"Bodoh! Kau baru saja pulih! Jangan lakukan hal gila!"
"Chuuya, percayalah pada Fyodor! Kita pergi, kalian berdua juga!" titah Dazai dan mau tak mau dituruti oleh tiga lainnya walau dengan kekhawatiran masing-masing.
Sekilas Dazai menoleh ke belakang, ke arah Fyodor dengan tatapan tajam seolah berkata 'Sebaiknya kau selamat, sialan!'
Monster itu sepertinya sangat kelaparan hingga menerkam secara brutal pada Fyodor dengan rahang besar yang dimilikinya. Untung saja Fyodor cukup lihai menghindarinya, terima kasih lagi pada pengalaman memburu harta karun yang pastinya mengharuskan dirinya berhadapan dengan bahaya-bahaya semacam ini.
Fyodor yang berhasil menghindari serangan tersebut melompat dari hippocampus dan menarik sebilah pedang yang dimilikinya, kemudian ia tebaskan pada leher panjang mauisaurus. Hujan darah mewarnai birunya lautan di sana, mauisaurus yang lehernya terkoyak lebar tumbang seketika. Fyodor kembali turun dan berdiri di atas hippocampusnya untuk menjaga keseimbangan sebentar seperti orang berselancar, sebelum akhirnya duduk kembali dan segera menyusul empat yang lain.
"Itu tadi hebat sekali, Fyodor-san!" seru Atsushi ketika Fyodor kembali dengan masih utuh dan sehat wal-afiat.
"Kau bodoh! Bagaimana kalau tadi kau kenapa napa haah?!" bentak Chuuya dengan tiga persimpangan imajiner di kepalanya.
"Yaah... itu tadi agar kita sampai tujuan dengan selamat, ahaha... jangan marahi aku, Chuuya. Seraaam..." Fyodor menjawab ragu, sesekali membersihkan darah di jubahnya dengan air laut yang setia biru. Mungkin ini jadi kali pertama Fyodor kena amukan Chuuya yang mungkin bisa lebih menakutkan lagi nantinya.
"Huhh!"
"Ahaha, kau kena amuk! Makanya jangan sok keren..."
"Diam kau Dazai! Ayo lanjutkan perjalanan, aku tidak yakin makhluk itu sudah mati." Fyodor mendahului di depan dengan dua pasangan yang mengikut di belakangnya, kembali melanjutkan ke tujuan mereka, lembah Rockdix.
"Dazai, kau tadi khawatir padanya kan?" Chuuya membuka suara di tengah fokusnya mengendara.
"Hmm, Fyodor? Tidak tidak..." Dazai melambaikan sebelah tangannya tanda penolakan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Tanganmu tadi gemetaran, aku merasakannya."
"Oh Chuuya, kau tau hanya kau yang ku pedulikan... Atau jangan-jangan, kau cemburu ya...? Hmm?"
Perempat imajiner kembali menghiasi surai sinoper.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Dazai sialan!"
"Mungkin... aku masih menghargai saat-saat bersama dia dulu. Mungkin tapi..."
"Heeh, begitu ya..."
"Lagi pula, dengan adanya dia bisa meningkatkan keberhasilan misi ini. Akan gawat kalau dia mati disini kan? Ah! Lihat itu, Chuuya, ada daratan. Apa itu Rockdix?"
"Kelihatannya yah, kita hampir dekat kalau begitu."
IIII-IIII
Jika ditotal dengan segala kebosanan dan keseruan, enam jam setelah meninggalkan pulau Cyonale, semua turun dari tunggangan masing-masing dan mengucapkan perpisahan pada hippocampus mereka. Kuda kuda itu pergi, melompat dan meringkik. Berkilau sebelum menghilang di ujung lautan yang masih memancar kilau langit.
"Sekarang bagaimana kita akan menemuka kotak pandora ini?" Dazai berkata sambil memperhatikan sekelilingnya. Melihat kayu kayu terbengkalai yang hampir membusuk basah dimakan ombak laut.
"Mungkin puisi itu bisa menjadi petunjuk kita, coba kau teliti lagi, Dazai."
"Hmm, baiklah."
Dazai mengeluarkan secarik kertas yang merupakan bait puisi waktu itu dan berkosentrasi penuh untuk memecahkannya kembali.
semenit.
dua menit.
empat menit.
Dazai lalu menghela nafasnya.
"Bagaimana, Dazai-san?" tanya Atsushi penuh harap.
"Aha, Atsushi-kun aku bukan Ranpo yang bisa mengetahuinya hanya dalam sekali lihat. Kalau memang begitu, aku bisa memecahkan puisi ini saat pertama mendapatkannya."
"Ah, benar juga yaa... maaf Dazai-san."
"Apa dia memang sehebat itu, adikmu itu?" tanya Akutagawa.
"Ya, akan sangat membantu jika dia bisa ke sini. Tapi terlalu bahaya baginya jika dia ikut dalam perjalanan kita haah..."
"Apa tidak bisa mengirimkan surat pada Ranpo-san dengan merpati atau semacamnya?"
"Tidak bisa, terlalu makan waktu, kita harus cepat sebelum Francis. Lagipula, aku tidak mau Leopoldville mendapatkan puisi ini. Jadi, tidak ada cara lain selain memecahkannya sendiri. Apa tidak ada yang bisa membantuku disini?"
"Aku kurang baik soal sastra, Dazai-san maaf..." sahut Atsushi.
"Aku benci mengatakannya, tapi aku juga sama hal nya dengan jinko."
"Hmm, begitu ya... Kalau Chuuya sepertinya juga kurang baik menggunakan akalnya jadi tidak terlalu membantu..."
"Dazai kau sialan, itu tadi hinaan kan!" Chuuya menendang penuh perasaan. Walau gagal.
"Ahaha, tapi itu kenyataannya... baiklah Fyodor sepertinya cuma kau yang tersisa. Bantu aku!"
"Heeh, setelah menembakku seperti itu sekarang malah minta bantuan. Luar biasa sekali ya Dazai Osamu-sama..." ucapnya dengan sedikit penekanan pada "-sama".
"Kau ini dendaman ya orangnya, maaf maaf... ayo kita harus bergerak cepat!"
"Hemm.."
Mereka menyandarkan diri, beristirahat, dan mengisi energi untuk berjaga jaga pertarungan yang mungkin akan terjadi. Di bawah pohon rindang dengan akar akar besar yang tidak jauh dari pantai. Lalu Dazai beserta Fyodor mulai mengkosentrasikan diri pada puisi kuno di hadapan mereka.
Demeter menuang padinya
Cygnus menangis
Tiang tumbang terpecah
Merah merekah mewarna mawar
Dibalik perisai Ares yang gagah
Disembah bentangan sayap
Gadis menangis
Menyerah melawan Merlin
"Kalau benar Demeter menuang padi itu bermakna musim panen, berarti saat ini kan? Tapi apa hubungan dengan ini?" Dazai menerawang.
"Lalu kata Chuuya cygnus menangis itu mungkin tempat yang penuh angsa begitu kan Dazai? Tapi dimana tempat yang penuh angsa di sini? Dan apa maksudnya 'menangis' itu?"
"Menurutku, mungkin artinya kesedihan atau tragedi, mungkin —kalau itu sebuah tempat— seperti reruntuhan bangunan akibat suatu peperangan atau semacamnya yang terjadi berabad-abad lalu."
"Ooh kalau memang begitu, cygnus atau angsa ini kemungkinan adalah lambang/simbol suatu kaum yang dihancurkan saat tragedi begitu... Yah kan tidak mungkin kehancuran satu koloni angsa itu kan?"
"Kaum yah? Yaahh bisa jadi... dan dilihat dari bait berikutnya 'tiang tumbang terpecah' dan 'merah merekah mewarna mawar' yang menurutku berarti reruntuhan dan pertumpahan darah adalah hal yang sangat mungkin."
"Jadi, apa kita harus mencari reruntuhan yang ada simbol atau mungkin gambar angsa ini?"
"Aku belum tahu... bait berikutnya Fyodor!"
"Dibalik perisai Ares yang gagah ya... Dibalik perisai... Perisai? Perlindungan.. Dilindungi... Penjagaan?! Aku kira kotak Pandora itu dijaga 'Perisai Ares' ini atau semacamnya. Dewa Ares... Dewa perang, mungkin dialah yang mejaga kotak pandora selama ini"
"Hmm, mungkin benar begitu... Tapi bagaimana kalau Perisai Ares adalah yang menghancurkan Cygnus itu? Tapi nanti dulu, lalu selanjutnya! Agak membingungkan..."
"Merlin ini maksudnya penyihir kan Dazai?"
"Hmm, ya... Kalau tidak salah begitu..."
"Disembah bentangan sayap... Apa maksudnya? Apa ada yang melakukan sesembahan pada Ares? Ada tempat seperti itu?"
"Mungkin gereja atau semacamnya, 'bentangan sayap' ini mengingatkanku pada malaikat dan yang berhubungan dengan malaikat dalam pikiranku adalah gereja dan para biarawati." jawab Dazai.
"Lalu 'gadis menangis', gadis... gadis... gadis... Pandora! Perempuan pertama yang diberi kotak Pandora dalam mitos, iya kan Fyodor?" sambungnya.
"Kau benar! Kenapa dia menangis?... 'Menyerah melawan Merlin' apa maksudnya dia menyerah melawan penyihir? Dalam hal apa... Pandora? Tapi kan kotaknya belum diambil ya kan?"
"Sedikit," Chuuya menengahi keseruan deduksi dua pemuda cerdas itu. "Puisi kuno biasa berisi masa lalu dan ramalan."
"Ramalan?"
"Ya, kau benar. Kalau petunjuk kuno bisa mengandung ramalan tentang masa depan. Aku pernah sekali menemukannya saat memburu harta karun."
"Heeh... jadi sudah diramalkan kalau kotak pandora itu akan diambil oleh kita ya. Soalnya kan kita punya ahli sihir di sini."
"Tapi pasukan Francis juga memiliki penyihir bersama mereka, jadi tidak tahu siapa yang dimaksud ramalan ini."
"Kalau begitu, kita tinggal jadi orang yang diramalkan saja. Kita dapatkan pandora sebelum Francis!"
"Tidak semudah itu bodoh! Kita belum tau pasti lokasinya dan kalau memang kita berhasil menemukannya, kita kemungkinan masih harus berhadapan dengan penjaga yang mungkin Dewa Ares ini!"
"Kita pasti bisa tidak... kita harus bisa apapun yang terjadi Fyodor! Kau juga tidak mau Francis itu mendapatkan pandora kan ?"
"... ya, kau benar juga... Pokoknya pertama kita harus memeriksa reruntuhan yang ada di sini!"
"Yaaa... !"
IIII-IIII
TO BE CONTINUED
Jadi,, kita punya sedikit glosarium di sini.
Hippocampus : kuda laut. Bukan kuda laut yang kecil mini mini kayak Chuuya itu yah.. Mirip kuda yang di darat, cuma ada siripnya. Kalau kalian pernah nonton Percy Jackson yang Ke2, ya.. Pasti tau dong yah...
Mauisaurus : Dinosaurus pasti. Mirip Brontosaurus yang lehernya panjang itu, tapi kakinya di ganti sirip karena di laut, dan karnivora kayaknya.
Lalu untuk puisi, yahh sudah dijelaskan oleh Fyodor dan Dazai. Dan lagu nya,, em.. yah,, hanya puisi puisi karya Nakahara Chuuya... Nadanya? coba kalian pikirkan sendiri.
Kemudian,,... MAAFKAN AKU YANG NGADAT HAMPIR DUA MINGGU!
belakangan ini sibuk, malah disuruh ikut ini itu sama guru. Makanya ff yang still absurd ini jadi terbengkalai. Jadi, maafkan juga kalo apdetnya bakalan lama.. hiksss..
Terimakasih saya haturkan yang sebesar besarnya pada pembaca yang entah kena apa masih mau baca ff ini. Aku mencintai kaliann... *kiss kiss kiss* /hoi!
Karenanya, tolong komentarin biar ff ini bisa lebih waras pfft. Kami masih terima request/saran lohh. :'3
So,,
See You~~ ^^
