Disclaimer : I do own nothing, but sure i want to own Bleach
THE HATRED OF BETRAYAL
An IchiRuki's Fanfiction
Author: Brainless Creation
.
.
Chapter 11: Entanglement & A Disbelieving Heart
.
.
Aku terbengong, tidak mampu memperkerjakan otakku dengan baik, mungkin faktor fatal error karena dihantam materi pelajaran bisnis kelas atas dari Sung Sun. Terlebih lagi tangan Orihime malah langsung merangkul lenganku, seolah aku baru saja memintanya untuk memanaskan suasana yang sudah runyam begini.
Pak Gin berdehem cukup keras hingga semua perhatian kembali padanya, hingga dia bisa berkata, "Perkenalkan semuanya. Ini Grimmjow Jeagerjaquez, keponakanku. Kebetulan dia ikut membantuku mengurus GI Hotel." Dia menepuk bahu pria tinggi besar di seberang pandanganku, wajahnya menunjukkan kebanggaan yang amat sangat ketika orang satu persatu menyambut tangannya. Mau tidak mau aku melakukannya juga kan? Ini bagian dari formalitas yang tidak aku suka! Biasanya kalau aku tidak mau jabat tangan dengan orang yang dikenalkan teman-temanku, aku hanya mengangkat tangan asal, dan cukup! Tapi kali ini lain, beda sama sekali! Aku harus menjabat tangan Grimmjow (yang harus kuakui lebih halus dari tanganku, apalagi kalau dibandingkan dengan tangan Rukia!) dan ditambah lagi senyum pura-pura yang menunjukkan betapa aku senang berkenalan dengannya.
Woi! Ini dunia yang tidak seharusnya aku datangi! Sejak kapan seorang Ichigo bisa berpura-pura tersenyum begini? Ini tidak waras!
"Ichigo," ucapku datar, dan sengaja menujukkan ketidaktertarikan. Aku tidak akan memulai sinyal untuk berteman baik dengan orang serba biru ini.
"Silahkan duduk, agar kita bisa mulai makan," Pak Gin mengingatkan kami untuk segera mengambil tempat.
"Silahkan!" Grimmjow menarik kursi yang baru saja akan aku tujukan untuk Rukia. Aku kalah satu langkah, terpaksa dan mau tidak mau aku mundur saat Grimmjow berdiri dengan tangan meraih punggung Rukia. Sikap yang ia berikan (harus akui) memang sangat pria terhormat kelas atas, begitu lembut dan sopan. Aku langsung merasa seperti dipukul telak sampai dinyatakan KO oleh wasit di ring tinju. Jelas saja aku tidak terima! Sontak aku melakukan hal yang sama pada Orihime, mempersilahkannya duduk berselang satu kursi dari Rukia. Aku cukup peka dengan hal ini. Kalau sampai aku memosisikan Rukia dan Orihime bersebelahan, yang ada kami bukannya makan siang, malah melihat adu cakar antara Rukia dan model kelas atas seperti Orihime. Aku sih senang-senang saja dijadikan alasan utama mereka berkelahi, karena semakin banyak perempuan yang berkelahi karena aku, itu artinya aku semakin populer. Akh, rasanya aku bisa tertawa sangat puas kalau mereka berdua sama-sama berteriak, 'Ichigo milikku!'
Tatapan penuh dendam dari Orihime mungkin memang tidak kentara bagi penghuni lain di restoran, tapi aku cukup merasakan aura panas yang menguar dari kulit mulus Orihime. Tapi sayangnya Rukia malah tidak melihat tanda-tanda itu, perhatiannya justru terpusat pada sosok brengsek serba biru di sebelahnya. Kenapa udara jadi panas begini sih? Memangnya tidak ada yang protes kalau AC yang mereka pasang tidak cukup? Bahkan AC di mobil butut Pak Urahara saja masih lebih dingin!
"Kau kenapa bengong?" Orihime meraih tanganku, meremasnya penuh godaan birahi. Sialan! Juniorku bisa tegang kalau dia tetap seperti ini dalam sepuluh menit kedepan.
"Aku tidak apa-apa," jawabku sekenanya, tapi Rukia sempat melirik padaku. Sorot matanya yang dingin seperti menusuk tepat di mataku, sampai-sampai rasanya ada angin kutub yang menerpa wajahku. Sialan, Rukia terlihat terlalu santai untuk ukuran perempuan yang tidak suka melihat seorang tampan sepertiku saling berpegangan tangan dengan Orihime. Bagus Rukia... cemburulah, dan kau akan sadar betapa sayang kau melewatkan pria tampan sepertiku di dunia ini.
Detik kemudian sepasang pelayan datang menghampiri meja kami. Pak Gin memesan makanan yang aku sendiri sulit mengucapkan namanya, pokoknya ada kata dari negara asing yang tidak pernah aku pelajari sebelumnya. Tapi saat Pak Gin bertanya pada yang lain apakah akan memesan menu tambahan, bisa-bisanya si monster kecil Kuchiki berkata dengan santainya, "Aku lebih suka yang middle cook."
Dan yang lebih mengesalkannya lagi, Grimmjow ikut-ikutan menimpali dengan berkata, "Juga tidak terlalu banyak olive oil, Rukia agak alergi."
Aku mencengkram ujung meja untuk mengurangi kesal yang menggumpal di kepalaku.
Bisa-bisanya mereka menujukkan drama percintaan yang penuh cinta kasih dan saling pengertian antar dua pemeran utamanya (lalu aku hanya figuran? Benar begitu?!). Aku tidak iri sama sekali! Aku tahu mereka dulunya teman kuliah yang cukup dekat, yah setidaknya sampai si biru nan brengsek itu menelatarkan Rukia dan menjauhinya tanpa alasan. Tapi lebih bodohnya lagi Rukia yang masih bisa bersikap tenang dan santai dengan wajah datar menerima semua perlakuan yang seharusnya (setidaknya dalam penalaranku) dia merasa jijik mendapatkan perhatian yang lebih setelah orang yang sangat ia benci itu membuangnya. Jadi sebenarnya dunia siapa yang sudah terbalik? Atau jangan-jangan otak mereka semua yang sudah terbalik.
"Ternyata kau sangat mengerti Rukia, Grimm," komentar Pak Gin tanpa melewatkan tradisinya untuk memberikan seringai lebar.
Aku makin muak ketika melihat wajah Grimmjow yang sok malu-malu, tertawa pelan sambil menunduk dan sebelah tangan terangkat menutupi mulutnya. Arghhh, dia sangat tahu bagaimana harus bersikap di depan orang. Sepertinya Sung Sun belum menurunkan semua ilmu tatakrama dan ilmu kanuragan sikap terhormat nan sakti miliknya padaku, sampai aku yang sudah kerja keras sampai badan sakit-sakit gara-gara tangan ringannya itu saja masih jauh dari harapan! Kalau kata pepatah, 'jauh panggang dari api'! Mau kapan matangnya tuh?
"Aku tidak percaya kau masih mengingat hal seperti itu. Kukira sudah sejak sangat lama kau melupakan semuanya," sambung Rukia yang melirik Grimmjow dengan ekor matanya. Sinis dan sindiran tingkat dewanya seperti menusuk Grimmjow begitu dalam. Ha ha ha, akhirnya sang pendendam beraksi. Hampir saja aku menganggap Rukia sebagai perempuan berhati mulia dan pemaaf. Jujur saja predikat itu tidak cocok untuknya yang mudah mengumbar amukan.
Air muka si biru berubah pucat. Senyum senangnya tersapu dalam sekejap begitu mendengar kata-kata Rukia, dan matanya jelas-jelas berpusat pada bekas luka di pelipis Rukia. Aku ingat betul dari mana ia dapatkan luka itu. Luka saat pertama kali kami bertemu, dia menjadikan loker di bengkel sebagai benda tak bersalah yang dijadikan sasaran adu kepala ala pegulat WWF. Grimmjow sempat melirikku, pandangan kami bertemu sesaat, tapi saat aku memberikan senyum perkenalan penuh persahabatan, dia malah menatapku tajam. Wah, sepertinya aku sudah berhasil menambah satu orang musuh lagi.
"Kau mau pesan apa?" Orihime kembali bergelayut manja padaku. Kalau Orihime bersikap begini, aku jadi ingat anak orang utan di karantina kebun binatang, terus saja bergelayut pada sang perawat tanpa mau melepaskannya. Tapi kalau membayangkan wajah Orihime yang menempel pada sosok anak orang utan dengan raut memelas... sepertinya...
"Pfft!" aku menutup mulutku seketika, tidak rela semua penampilan terhormatku hari ini hancur cuma gara-gara bayangan liarku tentang Orihime.
"Aku bukan tipe pemilih, jadi aku ikut apa yang dipesan Pak Gin," jawabku santai dan tenang.
"Pilihan yang tepat," puji Pak Gin dengan wajah senang karena mendapat dukungan. Padahal aku melakukannya karena aku tidak ingin terlihat bodoh karena tidak tahu makanan jenis apa yang akan aku santap. Namanya aneh semua dalam nalarku, jadi lebih baik tidak memilih dan ikut saja, dengan begini aku akan terlihat sebagai pria yang bisa menghormati pilihan orang lain, sekaligus terlihat lebih demokratis terhadap makanan. Jurusku ampuh, kan? Aku memang pintar kok!
Sang pelayan menuntaskan catatannya, mengulang kembali apa yang ia tulis, dan kami semua mengangguk bersamaan. Padahal sih aku tidak mengerti apa yang baru saja disebutkan si pelayan, semuanya seperti bahasa planet Mars, ada Beef Smooked bla bla bal. Maaf saja bahasa Inggrisku hanya bisa beberapa baris kalimat sederhana dan beberapa istilah otomotif, jadi jangan salahkan aku kalau aku dengar kata Beef dan Smooked, aku langsung berpikiran kata itu artinya sapi yang merokok. Beef itu sapi, iya kan? Lalu smooked itu merokok, iya kan? Jadi hari ini kami makan sapi yang sudah merokok? Benar tidak sih? Sorry saja, aku bukan perokok, jadi sebisa mungkin aku akan menghindari makan daging hari ini, atau aku bisa kena kanker paru-paru!
"Oh ya, Ichigo. Apa kau menyukai suasana hotel ini?" tanya Pak Gin yang tiba-tiba merubah arah wajahnya padaku, persis nahkoda yang baru saja merubah arah layarnya. Aku sempat mengerutkan alis tidak mengerti. Apa maksudnya bertanya begitu? Memangnya ada hubungannya aku suka atau tidak dengan suasana hotel mewah miliknya ini? Seperti aku tinggal di sini saja!
Oh... aku tahu, dia tengah mengetes intelejensiku, jadi dia sengaja memulai percakapan untuk membuktikan didikan Sung Sun berhasil atau tidak. Cih! Jangan remehkan aku, konglomerat licik! Aku sudah belajar banyak bagaimana cara kalangan kalian bicara!
Awalnya aku berakting sedang melihat sekeliling, menilai. Padahal aku hanya melihat beberapa titik dengan asal, seperti aku sangat serius melihat isi hotelnya yang membuatku muak ini. Beberapa orang bertemu pandang denganku, aku hanya mengendikkan bahu santai dan berkata dengan bangganya, "Dekorasinya menarik, tapi akan lebih indah jika Anda tidak meletakkan guci antik itu di antara panggung dan pintu keluar. Terlihat rancu dengan dekorasi yang bernada simply," ucapku lancar dan tenang.
Ini dia yang aku suka! Aku melihat reaksi terkejut dan kagum dari Sung Sun, Dokter Ukitake, Orihime, bahkan Grimmjow. Kalau Pak Gin sih tetap menyeringai seperti biasa, tidak berkurang apalagi bertambah, mungkin kalau bertambah lebar seringainya, maka bibirnya akan benar-benar sobek. Kan tidak lucu kalau tiba-tiba kami memanggil ambulan karena pria konglomerat sekelas Pak Gin mengalami bibir sobek.
"Pengetahuan arsitek Anda cukup bagus. Anda lulusan universitas mana?" tanya Grimmjow serius, membuatkuku semakin mendengus senang, sontak Rukia berdesis mencemooh. Sangat pelan sih, tapi aku cukup peka untuk mendengar semua reaksi yang bersumber darinya. Tapi kembali pada pertanyaan Grimmjow, bagaimana aku harus menjawab? Aku hanya asal bicara, aku pakai istilah-istilah yang pernah aku baca dari majalah bekas di meja Pak Urahara, eh... ternyata tidak sengaja ampuh!
"Emm... aku-"
"Dia tidak pernah kuliah!" celetuk sebuah suara dari sebelahku, reflek aku menoleh, dan mendapati Rukia mengangkat hidungnya tinggi-tinggi seolah menantangku lewat sorot matanya yang menyiratkan, 'Apa? Memangnya aku salah bicara?'
"Ichigo sedang mempelajari bisnis denganku," ucap Sung Sun tiba-tiba, seolah menutupi pertanyaan lain yang mungkin timbul. Aku sih santai saja, kenapa jadi mereka yang terlihat panik?
Orihime yang paling jelas menunjukkan kebingungannya. Yah... kalau sudah bingung begini dia mau berpegang sama siapa? Sama meja? Mungkin Orihime berpikir dia yang paling mengenalku di antara orang-orang di meja ini. Yah... kami memang cukup dekat sampai dia pergi ke Amerika untuk mengejar kariernya.
"Memangnya Ichigo..." si biru berbadan kekar itu (hah... aku malas sih mengakuinya, tapi badannya memang sterek) menghentikan kalimatnya, tidak melanjutkan ketika Pak Gin mengangkat tangan ke udara dan beranjak dari kursinya.
"Dokter Ukitake, bisa ikut aku ke podium?" seloroh Pak Gin cepat. Dokter Ukitake agak kaget, tapi dia menyusul Pak Gin yang berjalan menuju podium, berdiri di depan barisan pemusik yang mengalunkan suara melingking dan mendayu, kayaknya sih lagu klasik, entah judulnya apa, yang pasti cocok untuk menentramkan suasana panas siang hari.
Pak Gin dan dokter Ukitake berdiri berdampingan. Pria berambut panjang dengan wajah lembut itu terlihat bingung, tapi berhubung dia psikolog yang bisa mengendalikan emosi orang lain, jadi jangan sebut dia psikolog kalau dia tidak bisa mengendalikan emosi dan raut wajahnya sendiri. Dengan cepat ia merubah warna wajahnya, menjadi senyum seribu dolar, lembut dan ramah pada para penghuni restoran yang tiba-tiba saja memberikan tepuk tangan yang tidak diminta. Yah... mau tidak mau aku ikut tepuk tangan, entah apa yang tengah mereka rayakan.
"Terima kasih pada seluruh kolega, rekan wartawan dan khususnya nona Orihime yang telah bersedia memenuhi undangan dari sekretaris corporate kami. Selamat siang," tutur Pak Gin riang, namun aku justru merasakan kebalikannya, seluruh dunia seperti jadi malam. Aku sontak menoleh pada Rukia, kami bertukar pandang tanpa banyak aba-aba, seluruh syaraf dalam tubuh kami otomatis saja saling tarik menarik seperti magnet begitu mendengar kata 'wartawan' terlontar dari mulut konglomerat berambut cepak itu.
Aku menautkan alis begitu dalam, dan Rukia sama tidak mengertinya denganku, terlihat dari wajahnya yang datar dan sorot mata yang menyiratkan otaknya yang tengah kosong. Permainan apa lagi ini? Pak Gin, kau sudah membuat skenario apa lagi sih? Jangan bilang kau sengaja menggondol kami ke acara ini dan mengundang wartawan, juga...
"Orihime!" aku mencondongkan badan pada Orihime, dan perempuan itu malah bergelayut manja, bahkan dadanya yang kenyal itu menekan pergelangan tanganku, membuatku hilang akal sesaat karena terlintas pikiran untuk meremasnya sekarang juga.
"Ada apa, Ichigo?" bisik Orhime yang semakin menggesekkan dadanya di tanganku. Berengsek! Aku bisa merasakan dengan jelas dorongan untuk menidurinya sekarang juga. Orihime selalu pintar untuk menyetir mood orang.
"Kau bukannya kebetulan makan siang di sini?" tanyaku penuh curiga. Otakku sekarang jauh lebih kritis, berhubung orang yang aku lawan dan sekaligus partner dalam kejahatan adalah orang selevel Pak Gin, aku harus lebih hati-hati, atau aku akan benar-benar jatuh dalam perangkapnya dan jadi bonekanya.
Orihime hanya mengangguk santai.
Tapi kebetulan ini terlalu tidak normal, se-abnormal Rukia kalau lagi kalap dan mencakarku tanpa ampun! Seabnormal Ulquiorra yang tiba-tiba memberikan ikat rambut pada Rukia. Seabnormal... tunggu dulu! Kenapa aku jadi menjabarkan semua kejadian abnormal yang akhir-akhir ini terjadi padaku?
"Oh iya... Aku ingat!"
"Apa?" sontak aku menajamkan telingaku, sepertinya Orihime akan mengucapkan sesuatu yang penting.
"Kau dikelilingi wartawan!" celetuk sebuah suara dingin, dan aku tidak perlu menoleh siapa yang bicara. Suara tajam begitu cuma Rukia yang punya, dan aku langsung melepaskan diri dari lilitan tangan Orihime, plus merelakan dorongan birahi untuk meremas payudaranya. Aku lebih memilih melepas dorongan ereksi dari pada terlibat skandal model setaraf Orihime. Aku belum siap jadi selebritis, tawaran Ishida saja selalu aku tolak, masa' sekarang aku rela jadi selebritis setelah si kaca mata mati-matian mengirim fotoku ke seantero prosedur, eh.. produser yang dia kenal. Bisa-bisa dia mengutukku menjadi kucing, yah hitung-hitung menambah koleksi kucing di rumahnya.
"Kau mau bilang apa tadi?" desakku pada Orihime, sementara dua orang di podium masih sibuk menyebutkan beberapa kolega Pak Gin (yang bicara sih cuma Pak Gin, dokter Ukitake seperti biasa hanya menjadi pendengar yang baik).
"Manajerku menyarankan aku untuk makan siang di sini. Kebetulan aku baru saja menerima tawaran menjadi model iklan GI Hotel, jadi sebagai rasa hormat, aku ingin bertemu Pak Gin siang ini," jelas Orihime yang ikut memberikan wajah bingung dengan pertanyaanku.
"Kapan kau tanda tangan kontrak?" kejarku lagi.
"Sebulan lalu," jawab Orihime setelah berpikir selama dua detik.
Ini dia! Jadi pria licik itu sudah merencanakan semuanya, dia bahkan sudah mengundang wartawan untuk semua pertunjukkan ini. Berengsek! Kurang Ajar! Awas saja kalau dia berani menyebut nama keluargaku di depan para wartawan. Aku bersumpah akan mengulitinya. Aku sudah mampu bertahan hingga saat ini, membuang semua sisa-sisa masa laluku, memutus semua ikatan yang menghubungkanku dengan hari-hari kelam itu.
"Yang pertama adalah dokter Ukitake, yang bersedia menjadi dokter pribadi keluargaku," suara mencicit Pak Gin menyadarkan lamunanku. Pak Gin memperkenalkan tiap orang? Dimana perginya kesadaranku ketika pria ular itu sudah memulai aksinya? Sadar Ichigo! Kau harus siap mengibarkan bendera perang!
"Nona Orihime, model kelas internasional yang sudah bersedia ikut dalam project kami selanjutnya..." lanjut Pak Gin seraya menunjuk ke arah meja kami, dan jepretan kamera memenuhi sosok Orihime, membuat mataku silau dan tidak mampu melihat dengan jelas, mengingat kami berada di meja tengah, seperti sesajian di acara ritual adat, dan siap untuk dibakar hidup-hidup. Anjrit...
Aku terkejut ketika sebuah tangan kasar menyentuh punggung tanganku, dan wajah ketakutan Rukia memenuhi pandanganku, sontak aku tidak mampu berpikir dan langsung membawa Rukia masuk dalam rangkulan tangan, tapi masih jauh kalau disebut sebuah pelukan, teknisnya sih aku cuma menarik Rukia agar mendekat padaku. Tapi tindakan ini cukup untuk Grimmjow tercengang, dia bahkan sudah menjulurkan tangan hendak menarik Rukia menjauh dariku. Yang benar saja! Jangan harap Rukia membutuhkan uluran tangan orang berengsek sepertimu! Tapi untungnya dia menggagalkan aksinya, plus dia pasang tampang wajah kalah, membuatku tambah senang saja. Ha ha ha! Rasakan itu pecundang, orang sepertikulah yang dicari-cari wanita seantero dunia!
"Aku tidak akan berusaha mengurangi ketakutanmu, karena kau yang memulai semuanya, jadi kau harus siap dengan segala konsekuensinya," bisikku sebelum mendorongnya menjauh dariku, memberi tatapan dingin, aku hanya ingin bersikap kejam sekali ini padanya. Menegaskan padanya bahwa uluran tangan tidak akan semudah itu dia dapatkan. Kalau dia pengemis atau tuna wisma di pinggir jalan sih, mungkin akan sangat mudah mengiba belas kasih orang, dan bayangkan aku sebagai pria kaya yang akan memberikan uang lembaran bernilai besar padanya (aku ingin, tapi sekali lagi itu cuma bayangan!). Karena kenyataannya dia adalah Kuchiki Rukia, perempuan yang mengibarkan bendera perang pada keluarganya sendiri, keluarga yang punya pengaruh besar pada negara sekalipun. Jadi uluran tangan dariku (sekalipun aku kaya mendadak nantinya, yah... siapa tahu aku ini keturunan Steve Jobs yang hilang dan diberikan harta warisan yang melimpah untuk bisa menjalankan Apple dan Pixar, terus... ah.. cukup mengkhayalnya!), pokoknya Rukia tidak akan butuh uluran tangan dariku. Jelas?! Ok, kita lanjutkan pada ekspresi si monster kecil yang menyeringai sinis padaku.
"Cih! Kau pikir aku minta belas kasihan darimu?" jawab Rukia sinis, dan desisan dalam suara besinya membuatku yakin bahwa ia sudah membulatkan tekad lagi. Perempuan memang makhluk yang sulit dimengerti, dan mereka bisa punya banyak topeng untuk mengelabui pria-pria jujur dan polos sepertiku. Iya kan? Aku ini polos... Sumpah deh! Aku ini sangat polos... ya... kalau sedang senggama aku pasti polos, nggak pakai apa-apa maksudnya, he he he
Tapi sebuah tatapan tajam menusukku dari balik bahu Rukia. "Kalian cukup akrab," komentar Grimmjow seraya memicingkan mata.
"Sangat," jawabku dengan mata memicing yang sama.
Seperti ada sengatan listrik yang menghubungkan kami, aku seperti sedang menjadi tokoh utama dalam anime School Rumble, sekalipun mengenakan kacamata hitam, aku tetap bisa memberikan sorot mata tajam membunuh. Aku bukan penyuka anime, sayang saja Renji sering mencekokiku anime rada-rada mesum dengan cewek-cewek seksi. Tapi aku ini benaran polos lho...
"Kau tidak keberatan menunjukkan kemesraan di de-"
"Selanjutnya, Kuchiki Rukia..." Orihime mengerem lidahnya sendiri ketika nama pamungkas nan penuh ilmu kanuragan itu disebut. Aku sudah menduga akan begini jadinya ketika nama sakral itu disebut. Tapi aku tidak bisa mendapatkan tontonan seru, karena Rukia beranjak dengan kalemnya dari kursi, dan menghadap jepretan kamera yang tidak ada hentinya mengabadikan wajahnya yang penuh bekas luka. Wajah jelek begitu saja laku dijual ya? Kalau wajahku mungkin belum sampai turun cetak, majalah dan korannya mungkin sudah habis. Bukan habis terjual, tapi habis terbakar!
"Mulai minggu ini nona dari keluarga Kuchiki ini akan membantu opersional GI Hotel bersama keponakanku, Grimmjow Jeagerjaquez."
Serangan jantung lain menerobos dadaku, aku tidak bisa lagi menutup-nutupi kekagetanku, persis tahanan yang tiba-tiba dapat kabar eksekusi. Aku hanya tidak mengerti arah permainan ini, semua skenarionya tidak terbaca. Aku sepertinya harus memanggil Ishida untuk bisa melihatnya. Ishida sudah bertahun-tahun jadi penulis cerita, jadi seharusnya dia bisa melihat calon konflik dan intrik yang diplot oleh Pak Gin. Argh, Sompret! Kenapa aku jadi stress begini sih?
Pertama kukira kami akan melewati makan siang yang tentram setelah seharian melewati hari berat di bawah bimbingan Sung Sun, membaca barisan angka dan garis-garis abstrak yang tidak aku mengerti, benar-benar menguras tenaga, lebih parah dari pada bongkar mobil klasik kelas tahun 70-an. Tapi kenyataan selalu lebih pahit, persis Romeo dan Juliet. Kenyataan tidak seperti yang dilihat dengan mata, karena sekarang aku kelaparan dan mendadak jadi bego gara-gara Pak Gin memperkenalkan Rukia sebagai orang yang akan membantu opersional kantornya bersama sang keponakan yang serba biru seperti pemutih pakaian jaman purbakala. Kenapa dia nggak ngomong dulu sebelumnya? Kasih pendahuluan kek, pembukaan kek! Buku saja pakai kata pengantar, eh Pak Gin malah tanpa tedeng aling-aling mengumumkan ini semua!
Stress tingkat dewa ini sih namanya!
"Nona Kuchiki, Anda dikabarkan hilang. Dimana Anda selama ini?" kata sebuah suara, dan aku berani taruhan kalau yang bertanya itu adalah wartawan majalah gosip.
Aku melihat Rukia penuh-penuh, berkata lewat sorot mataku sambil menggelengkan kepala lambat, 'Jangan bilang kau tinggal di tempatku. Awas kalau kau bilang, akan kuhabisi kau!', berharap dia akan mengerti mata yang aku buka lebar-lebar. Sumpah, mataku sampai perih berair!
"Aku tinggal di tempat temanku,..." jawab Rukia dengan senyum manis meyakinkan, dan aku menggeleng makin cepat, memohon lagi dengan segenap hati. Sialan kau Rukia! Awas kalau sampai kau menyebutkan namaku! Kau akan membuat semua wartawan curiga dan mencari tahu jati diriku, aku tidak ingin mengundang bencana. Hidupku sudah cukup berantakan dengan kehadiranmu yang tiba-tiba menerobos masuk dan membuatku terlibat dalam semua permainan bangsawan juga konglomerat ini. Awas kalau...
"Siapa nama teman Anda?"
Jangan sebut! Aku makin sering menggelengkan kepala. Sampai rasanya mau lepas engsel di kepalaku.
"Ichigo, jadi pacarmu adalah Kuchiki Rukia?" tandas Orihime dalam suara bersisik, eh bukan, berbisik marah! Wajahnya mirip banget sama orang yang baru saja melihat setan dalam film horor. Aku tidak menjawabnya, karena aku sedang bertarung dengan Rukia lewat isyarat, awas saja kalau Rukia berani-
"Kau kenapa, Ichigo?" Orihime menepuk bahuku, membuatku agak salah tingkah. Kurang ajar, Rukia membuatku tampak bodoh, dan dia menyeringai lebar, sinis serta penuh kemenangan mendapatiku berpura-pura menggerakkan kepalaku ke kanan dan kiri.
"Aku agak pegal, he he he..." jawabku miris dan berpura-pura mengerakkan kepalaku ke kanan dan kiri, dan Rukia makin mempertontonkan senyum kemenangannya. Dia menikmati ketakutanku, perempuan ini benar-benar jelmaan ratu setan... Kampret!
"Temanku bernama... "
Aku sudah mengangkat bokongku dari kursi, sudah tidak mempertimbangkan lagi konsekuensinya jika aku membekap mulut besar Rukia, dan menyeretnya pergi dari keramaian ini. Mau dibilang tidak tahu aturan kek, mau dibilang penculik kek, atau penjahat sekalipun, masa bodo! Yang penting dia tidak menyebut namaku di depan umum, dan membuat kekacau-
"Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya! Aku tidak ingin lebih merepotkan dia. Tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan Pak Gin, jadi aku putuskan untuk membantunya," jelas si monster kecil dengan lirikan mematikan ke arahku. Sontak aku kembali membanting pantatku di kursi, menikmati kelegaan sudah lolos dari mulut harimau, tapi aku merasa umurku berkurang lima tahun gara-gara Rukia sudah membuatku ketar-ketir tak karuan. Perempuan Sial!
"Kapan anda akan kembali pada keluarga Anda?" tanya suara lain, dan Rukia memberikan senyum Miss Universe-nya. Sayang saja dia tidak melambai, kalau sambil melambai mungkin lebih mirip. Mirip Miss Universe dalam versi cebol!
"Mungkin tidak dalam waktu dekat, aku sudah memutuskan untuk hidup mandiri," ucap Rukia santai.
Mandiri? Jidatmu!
Dia hidup mandiri? Kalau mati mandiri mungkin iya! Dia sepertinya lupa, bagaimana dia sudah membuatku terpuruk begini, bagaimana dia membuatku agak mengemis pada Pak Urahara untuk menerimanya kerja di bengkel, dan bagaimana dia membuatku ngomel-ngomel seperti ibu-ibu arisan yang kurang uang bulanan? Ya... aku ngomel-ngomel juga buat dia, gara-gara dia menolak makan! Kurang baik apa coba? Aku ini memang baik, pengasih... Iya kan? Sudah jangan menyangkal! Ehem...
"Bagaimana kabar yang mengatakan bahwa anda mengalami gangguan kejiwaan?"
Cih! Bahasa wartawan masa kini benar-benar halus! Seharusnya blak-blakan saja mereka bilang kalau Rukia itu gila! Kenapa harus pakai istilah gangguan kejiwaan? Dunia ini panggung sandiwara memang, tapi siapa yang jadi penontonnya ya? Pikirkan itu dalam lima menit kedepan, kalau tidak tahu jawabannya, tanya Galileo, yah... itu juga kalau dia bisa jawab dari alam baka sana! Jadi kalau mau tahu jawabannya, harus mati dulu! Mau? Aku sih enggak mau, mending nggak usah tahu jawabannya!
Satu hal yang membuatku agak bingung, Rukia mengepalkan tangannya cukup kuat, membuatku berpikir mungkin pertanyaan wartawan tadi sempat membuatnya teringat pada hal yang membuatnya sangat ingin mati.
"Apakah anda tidak bisa melihat bagaimana aku sekarang? Apakah seseorang yang mengidap gangguan jiwa bisa seperti ini?" gumam Rukia, mengembalikan pertanyaan sang wartawan, membuat bisik-bisik para penghuni restoran semakin riuh. Tidak heran Rukia menjadi salah satu anggota bangsawan kelas kakap, caranya menjawab sangat halus dan tidak menghakimi, jadi dia tidak perlu menegaskan apa yan g telah terjadi padanya. Cerdas sih... tapi kadang-kadang dia juga terlewat bodoh!
"Tapi bekas luka di-"
"Ehem! Maaf rekan-rekan wartawan, aku mengundang kalian bukan untuk jumpa pers mengenai Kuchiki Rukia, tapi untuk mengumumkan restrukturisasi di GI Hotel. Jadi, bisakah kita kembali fokus?"
Para wartawan seperti tertusuk panah tepat di dahi mereka, karena mereka langsung bungkam, dan tangan-tangan yang terangkat untuk mengajukan pertanyaan pada Rukia langsung turun ke posisi semula. Haduh... Pak Gin, Pak Gin, kau ini memang licin seperti belut, atau knalpot berlumuran oli? Penilaianku padamu semakin rusak saja. Aku tahu dari awal kau sudah merencanakan ini semua, dan sekarang kau bertindak seperti seorang pahlawan yang menyelamatkan Rukia dari pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Kau ini benar-benar Megatron dengan tampilan Optimus Prime!
Pak Gin berdehem keras sekali, bergema dari microphone di tangannya. Dokter Ukitake sih tetap kalem dengan wajah tenangnya, membuatku makin bertanya-tanya apa yang tengah dipikirkan dokter berambut panjang itu. Dia mungkin tidak curiga sama sekali dengan aksi yang dilakukan oleh Pak Gin, atau malahan dia sudah tahu semua? Mereka sudah merancang semua skenario ini, sehingga kami semua masuk dalam lubang jebakannya yang berkedok makan siang.
Wah...! Ini sih namanya memanfaatkan kesulitan orang lain. Aku sudah lapar sampai ubun-ubun, tapi mereka malah menggunakan kepolosanku, kebutuhanku untuk mengisi perut, untuk melakukan semua acara jumpa pers dadakan ini? Dengan kehadidran wartawan yang ikut memborbardir Rukia pakai pertanyaan-pertanyaan itu, kerjaan siapa lagi kalau bukan mereka yang mengundang?
Sialan! Kampret! Argh...Kepalaku seperti mau meledak. Tidak tahukah kalian? Semenjak Rukia datang, aku jadi lebih sering menggunakan otakku untuk berpikir panjang dan jauh. Aku tahu ini sudah diluar kapasitas otakku. Otak yang biasanya cuma dipakai untuk memikirkan cara bongkar pasang komponen mesin motor atau mobil, sekarang malah dipakai untuk memikirkan bagaimana taktik, politis, strategis, minimalis, teoritis, bla... bla... bla..., pokoknya semua intrik yang dipakai para manusia dari dunia lain di sekelilingku ini.
"Terima kasih atas pengertiannya," Pak Gin lagi-lagi bersuara manis, bak madu dari sarangnya langsung. Awas masih ada lebahnya, jadi hati-hati dengan kesan manis yang disebarkan! Manis beracun!
Rukia kembali duduk, dia melirikku dengan ekor matanya, dan aku langsung melotot padanya, menggertaknya dengan sorot mata 'Awas kalau sudah sampai rumah, habis kau!'
Tapi yang namanya monster, tetap saja monster, makanya dia tetap pasang wajah penuh bangganya sekalipun aku melotot sampai mataku melompat dari sarangnya. Orihime memperhatikan gelagatku sampai alisnya hampir bertaut, takut dia berpikir yang macam-macam, aku langsung mengalihkan perhatianku ke tempat lain, dan apesnya lagi, aku malah bertabrakan pandang dengan keponakan Pak Gin, dia juga pasang tampang yang sama dengan Orihime, bedanya dia terlihat meneliti dengan samar, sambil berpura-pura meneguk minumannya dan mengangkat alis sedikit, sangat sedikit, seperti kilat pas hujan. Apa maksud gerakan alisnya itu? Dia meremehkanku? Woah... ini orang minta dihajar beneran!
Aku mengikuti aksi Grimmjow, berlagak meraih gelasku dan menenggaknya perlahan, persis seperti yang ia lakukan, namun saat aku meletakkan kembali gelasku, aku melihat sebuah tangan kurus tak berdaging, berada di sebelah gelasku, tangan kurus itu gemetar seperti kena struk, terus bergerak seperti mau memegang gelas, tapi tidak bisa-bisa. Jangan-jangan ini tangan tengkorak, roh penunggu restoran, dan sekarang roh itu sedang menghan-
Bukan! Ternyata bukan tangan sadako, atau hantu seperti dalam bayanganku. Karena begitu aku menelusuri pangkal tangan yang isinya cuma tulang itu, berujung pada Rukia. Perempuan itu tengah tersenyum menatap Pak Gin dan dokter Ukitake di podium, tapi tangannya gemetaran.
Ah... Perempuan ini seharusnya menjadi penerima penghargaan aktris terbaik sedunia!
Tanpa pikir panjang lagi aku meraih tangannya, dan membawanya ke bawah meja.
Adik bangsawan itu menoleh padaku, setengah kaget dan setengah tidak percaya, tapi juga setengah bingung, lalu seperempat tidak terima, terus sekilo marah! Tuh, lengkap sudah ekspresi di wajah dan pancaran matanya, tinggal dihitung saja semuanya jadi berapa?!
Dia tidak mengerti karisma seorang Ichigo ya? Sampai-sampai tidak tahu kalau sekarang aku sedang bersikap baik dan berusaha menenangkannya, karena begitu tangan kami sampai di bawah meja, Rukia malah mati-matian menarik tangannya, tapi seperti yang kalian tahu, tenagaku ratusan kali lebih kuat dari Rukia, jadi usahanya sia-sia.
Aku hanya menatap matanya penuh-penuh, dan saat alisnya kembali mengerut seperti nenek-nenek umur 90 tahun, aku memberikannya sebuah anggukan kepala dengan mata mengerjap sesaat.
Cie... Jjiah... Ichigo! Tidak ada salahnya kau sesekali menonton drama Korea! Ternyata kau bisa mengambil pelajaran berharga dari drama kegemaran ibunya Szayel! Bagaimana tokoh utama pria selalu bertindak keren di depan perempuan yang sedang menangis dan terluka. Aku memang pengamat yang hebat! Pantas saja Ishida ngotot mempromosikanku pada produser yang ia kenal. Aku memang punya bakat sejak lahir!
Sepertinya usahaku berhasil! Rukia langsung menunduk, dan perlahan tapi pasti gemetar di tangannya berkurang.
Aku tahu dia takut, pertanyaan yang tadi dilontarkan para pengejar berita itu mungkin terdengar biasa, tapi untuknya yang setelah sekian lama membuang dirinya dari pandangan umum, tiba-tiba ditanya begitu, pasti dia takutlah. Aku saja merasa begitu, saat Rukia hampir menyebutkan namaku tadi. Karena untukku, neraka itu akan kembali datang ketika namaku dikenal para wartawan itu. Layaknya memberi daging pada harimau, maka mereka akan mencabik-cabik daging itu sampai habis, dimakan hingga tidak tidak tersisa. Aku mungkin akan hancur... lagi...
"Jangan sok keren!"
"A-Apa?"
Kepalaku langsung tersentak menoleh pada Rukia, barusan dia berbisik sinis, mengataiku pula!
Perempuan Sial! Tidak tahu terima kasih! Tidak tahu apa kalau aku sedang bersikap baik padanya? Menyesal aku sudah meniru adegan drama Korea! Sontak aku menghentakkan tangannya, membuangnya jauh-jauh dari jangkauanku, tapi Rukia langsung mendongak dan menatapku sinis.
Jadi, salah semuanya ya sikapku kepadanya? Dikasih perhatian dibilang sok keren, giliran aku kasarin seperti tadi, dia juga mengejekku! Kenapa jadi tidak ada yang benar sih, di matanya?!
Brengsek!
Rukia memang tidak boleh dikasih hati! Kalau dikasih hati, ibaratnya nih, aku sudah mati mengorbankan hatiku untuknya, dia malah melempar hatiku di depan mayatku! Begitu kira-kira! Kalian bisa bayangkan, kan? Lihat saja kelakuannya! Aku sangat bermurah hati masih mau menunjukkan simpatiku tepat setelah ia membuat umurku berkurang 5 tahun! Pria mana yang masih mau bersikap baik pada monster kecil sepertinya?! Cuma aku! Ck ck ck, kau memang meminta orang membencimu, Rukia!
"... karena itu, Ichigo akan membantu dalam bidang strategi pemasaran."
Sontak aku kembali membanting arah kepalaku, kembali ke podium, sepertinya aku tahu bagian tubuh mana yang akan mengalami oestioporosis lebih dulu ketika aku tua nanti.
Perhatianku kembali terpusat pada konglomerat berambut silver dengan seringai rubah di depan para petugas orkestra. Dia baru saja menyebutkan namaku, kan? Apa dia menyebut nama lengkapku? Dia menyebutkan nama keluargaku? Apa yang barusan dia bilang, aku tidak menyimaknya sama sekali.
Aku masih bingung, tapi tahu-tahu Sung Sun melotot padaku, mengisyaratkan agar aku beranjak dari kursiku. Aku tidak akan bangun kalau Pak Gin benar-benar menyebutkan nama keluargaku di depan umum. Tidak akan ada hormat-hormatan, apalagi rasa terimakasih dariku, aku akan mencabik-cabiknya di depan umum, sekarang juga, detik ini juga!
Dari sekian banyak orang di restoran ini, sepertinya hanya aku dan Rukia yang datang dari bumi, karena detik kemudian, Rukia meraih tanganku dan berkata dalam bahasa bibir, 'Dia hanya menyebutkan namamu, kau hanya perlu berdiri.'
Ragu sempat memenuhi kepala dan akal sehatku, tapi setelah aku meyakinkannya lagi, aku melirik sorot mata jujur Rukia, aku yakin, dan aku beranikan diri untuk berdiri, menghadap khalayak umum, dan membiarkan mereka memotretku tanpa henti. Entah apa yang dibilang Pak Gin barusan, aku tidak peduli, selama ia masih menjaga nama keluargaku dalam mulutnya, aku tidak akan mengintai nyawanya.
Tidak ada pertanyaan untukku, bahkan jepretan kamera hanya berlangsung tidak lebih dari sepuluh detik. Aku tundukkan kepalaku dengan amat sangat dan terlalu tidak ikhlas. Jujur saja acara begini cuma bikin kepalaku sakit! Formalitas pantatmu! Hidup dalam formalitas penuh kebohongan seperti ini, hanya akan membuat hati kecilku berteriak atas kecurangan dan kebejatan moral mereka. Semua mungkin hanya akan berakhir pada jebakan seperti yang dibuat Pak Gin hari ini.
"Mari kita bersulang untuk kesuksesan GI!" seru Pak Gin dengan wajah agak merendah, dan detik kemudian ada seorang pelayan dengan gaun panjang membentuk lekuk tubuh yang menggiurkan (perlu aku jelaskan bahwa belahan roknya hampir di bawah pinggul! Membuat liurku mau menganaksungai!) datang menghampiri Pak Gin dan dokter Ukitake dengan dua gelas minuman berwarna merah gelap, tanpa perlu aku tanya lagi, aku tahu apa isi gelas itu, karena meja kami juga tiba-tiba kedatangan pelayan yang membawakan gelas berisi minuman yang sama, wangi anggur mahal menyengat hidungku.
"Bersulang?" Pak Gin mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, dan para penghuni alam lain- Bukan, bukan! Maksudku para penghuni restoran (bagiku sih seperti para penghuni alam lain! Serba lain, ya... lain antara sikap dengan hati, lain antara perkataan dengan apa yang dipikirkan, dan juga lain antara apa yang diperbuat dengan apa yang diyakini hati, pokoknya serba lain!) mengangkat gelas dan mengulang perkataan Pak Gin. Aku ikut-ikutan saja mengangkat gelasku, tidak mengerti apa maknanya, yang penting hari ini aku bisa meminum anggur mahal. Sekalipun sebelum makan, aku tidak keberatan! Jarang-jarang bisa minum anggur begini, palingan juga minum arak botolan dari kedai ramen!
Grimmjow, Sung Sun dan Orihime, meneguk anggurnya dengan sangat perlahan, dan sedikit, berbeda denganku yang hanya dalam satu tegukan cepat, bisa menghilangkan setengah dari isi gelas! Aku memang punya keahlian lain, yaitu menghilangkan barang dalam waktu singkat!
Rukia malah tidak menyentuhkan gelas ke bibirnya sama sekali, saat semua orang sibuk meneguk, dia hanya terbengong dengan mata menerawang melihat podium, lalu saat orang-orang meletakkan gelas anggur mereka, dia baru ikutan. Apa dia tidak bisa minum alkohol? Mungkin ada hubungannya dengan rehabilitasi yang sedang ia jalani sekarang dengan dokter Ukitake.
"Terima kasih, dan selamat menikmati!" kata Pak Gin menutup pidato paaaaanjaaaaang dan laaaamanya. Pidato yang cukup untuk membuatku dan Rukia ketar ketir, pidato yang seperti tengah menguliti diriku sendiri. Bahkan kalau bisa tidur, mendingan aku tidur tadi daripada dengar pidatonya yang tidak berguna.
Akhirnya aku bisa makan, setelah meja-meja lain sudah memulai serbuan mereka, dan kami belum mulai sampai Pak Gin bergabung bersama kami. Ribet banget mau makan doang! Ampun!
Setelah makan, rasanya ingin bersorak kegirangan karena sudah makan sampai kenyang, dan bisa langsung pulang, berhubung hari sudah beranjak sore, dan besok aku harus ke bengkel, ada pekerjaan yang sudah aku janjikan akan selesai besok.
"Setelah makan, kita keliling dulu. Aku akan perkenalkan beberapa orang yang nantinya akan banyak berinteraksi dalam kegiatan harian di perusahaan," desis Pak Gin ketika kami selesai menyantap makanan penutup yang mereka sebut dengan... apa tadi sebutannya? Agak sulit mengucapkannya. Dress... Long dress? Bukan! Bukan! Dazer...? Bukan! Dezz... Desze... De-
"Dessert yang enak. Apakah restorannya melayani pesan antar, Pak Gin?" celetuk Orihime tiba-tiba, membuatku seperti mendapat pencerahan. Jadi namanya Dessert, satu lagi bahasa dari dunia Mars yang harus aku ketahui. Kalau hal seperti ini aku tidak tahu, pasti mereka akan menertawakanku sebagai orang baru yang masuk dalam lingkungan mereka.
"Jika nona Orihime ingin menikmati dessert ini, silahkan hubungi saya, kami akan mengirimkannya khusus kepada nona Orihime..." jawab Pak Gin dengan senyum merendah.
"Benarkah? Aku jadi merepotkan Pak Gin!" sahut Orihime dengan senyum tersipu malu.
Orihime tersipu? Yang benar saja! Setahuku, dia benar-benar tersipu hanya sekali, saat kami pertama kali bertemu dan langsung memintaku untuk menjadi pacarnya. Tapi itu sudah lama sekali, jadi aku yakin sikapnya sekarang bagian dari sandiwaranya.
Tunggu dulu! Kesampingkan dulu masalah Orihime. Sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting! Tadi Pak Gin bilang apa?
"Kita mulai darimana Pak Direktur?" sekarang si pemutih pakaian jaman jadul bicara, suara beratnya itu sangat menunjukkan sisi karismanya, membuatku makin geram karena sudah mengakui kelebihannya.
"Mungkin lebih baik kalau dari bagian strategi pemasaran? Pastinya Ichigo membutuhkan lebih banyak bimbingan dari para seniornya dalam waktu dekat." Sung Sun ikut-ikutan bicara, tapi bedanya dia tidak melewatkan kesempatan untuk menjatuhkanku di depan orang-orang. Dia ini wanita jahat nomor dua setelah Rukia, sama banget liciknya. Persis ibu tiri dalam cerita-cerita dongeng! Terus aku Cinderella, gitu? Jangan pernah sekali-sekali berpikir begitu! Buang jauh-jauh bayangan itu dari kepala kalian!
Itu dia hal yang aku lewatkan!
Aku tidak bisa langsung pulang, masih harus berkeliling bertemu para antek konglomerat berseringai rubah ini. Lalu kapan aku bisa pulang? Aku sudah cukup gerah memakai jas begini, membuat sirkulasi udara di badanku tidak baik!
"Ide bagus. Kalau begitu, silahkan!" Pak Gin mengangkat tangannya sejajar dengan dadanya, mempersilahkan kami semua berjalan mengikutinya. Ah... bisa-bisa hilang semua energi dari makanan yang barus aja aku santap. Kalau begini, aku harus membeli makan lagi begitu sampai rumah. Sial!
"Emm... maaf, Pak Gin! Tapi aku masih ada janji bertemu dengan pasienku, bisakah aku undur diri dulu?" dokter Ukitake tiba-tiba, membuat langkah kami semua tertahan. Rukia sudah akan melontarkan kalimat protes, tapi kemudian dokter Ukitake meraih tempat di sisi Rukia, kebetulan Rukia berdiri tepat di belakangnya, jadi lebih mudah untuknya menjangkau Rukia. Senyum kebapakannya seperti sihir untuk Rukia yang sudah hampir panik. Kalau dilihat-lihat, Rukia jadi mirip anak kecil yang takut ditinggal sendirian di kamar.
"Tidak perlu khawatir, dokter Ukitake. Kami bisa mengantar Rukia dengan mobil perusahaan," ucap Pak Gin, menjawab sorot mata Rukia.
"Terima kasih sebelumnya. Kalau begitu aku permisi." Dokter Ukitake pergi, membubarkan diri dari barisan selir Pak Gin. Yah... mau tidak mau aku harus mengakui kalau kami ini mirip para selir dan pelayan yang menemani sang raja, yang tidak lain adalah Pak Gin, untuk meninjau daerah kekuasaannya. Tapi jangan bayangkan aku memakai baju kerajaan zaman dulu! Belum cukup membayangkanku mengenakan kostum Cinderella? Sekarang mau membayangkan seorang Ichigo memakai baju para selir?! Wah... kalian mau ikut-ikutan Sung Sun & Rukia? Menyiksaku secara mental?
"Sebelah sini. Silahkan!"
Oh tidak... ini akan menjadi perjalanan panjang menuju Roma, Cina, atau malah Atlantis?
Sial... hilang sudah makanan yang baru saja aku jejalkan ke perut!
.
.
.
.
Tepat seperti dugaanku! Kami baru selesai berkeliling tepat jam 7 malam. Parahnya lagi, orang kantornya masih saja penuh. Aku tidak percaya mereka memiliki jam kerja nonstop 24/7. Itu kerja beneran atau romusha? Atau malah kerja rodi?
Untungnya Pak Gin cukup sadar dengan memberikan kami makan malam sebelum pulang. Jadi aku tidak terlalu sakit hati dengan aksinya kali ini. Sementara aktivitas hotel masih tidak menunjukkan ujung akhir, yah... aku sih tidak heran, semua tempat beraktivitas 24 jam. Tidak peduli lobby, restoran, apalagi tempat orang-orang biasa menghabiskan waktunya dengan minum dan menari semalaman. Aku berani taruhan, Pak Gin menyediakan penari striptease. Ah... andai aku diajak ke tempat itu dulu sebelum pulang. Betapa indah dan sempurnanya hari ini, aku pasti akan melupakan apa yang sudah aku alami dari pagi tadi. Aku akan lupa kalau Sung Sun sudah menyiksaku, lupa juga kalau Rukia hampir membuatku membekap dan menculiknya, lupa pada kebencianku pada Grimmjow. Sayangnya aku belum diberi kesempatan untuk berbuat baik dan jadi pemaaf seperti itu sih. Jadi aku akan ingat baik-baik hari ini, mau itu kelakuannya si Emak Emak Cerewet bernama Sung Sun, maupun Rukia, si Monster Kecil dari Kuchiki. Dua orang perempuan itu sudah sempurna 100% memberikan neraka pada duniaku.
"Aku dan Sung Sun masih ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Grimmjow, bisa kau panggil mobil dinas kantor untuk mengantar Rukia?" Pak Gin bicara pada Grimmjow, dan aku tidak dapat menghindari alisku berkerut dalam.
Cuma Rukia?
Memangnya cuma Rukia yang mau pulang? Atau dia cuma bisa melihat Rukia? Terus aku makhluk halus gitu? Sialan nih orang, benar-benar minta dihajar. Pak Gin, bagaimana kalau aku membatalkan kesepakatanku denganmu detik ini juga Pak? Akan aku bongkar semua rencana licikmu di depan umum, karena aku sih tidak peduli de-
"Aku akan mengantar Rukia, kebetulan aku harus bertemu klien, biar sekalian jalan. Bagaimana?"
Waduh! Apa-apaan lagi orang satu ini? Ternyata paman sama keponakannya sama saja ya! Mereka benar-benar membuang orang setampan aku dari hitungan mereka. Sepertinya mereka lupa, aku yang punya rumah tempat Rukia tinggal (sekalipun bobrok dan sewaan, tetap saja rumah kan?), dan akupun pulang ke tempat yang sama.
"Emm... sepertinya-"
"Bagaimana Rukia?"
Woi! Aku mau ngomong! Kenapa selalu saja diselak sih? Ingin aku botakin kepala orang berbadan pegulat di sebelahku ini. Melihat semuanya dari dia cuma bikin mau muntah, mau itu rambut birunya, badannya, bahkan cara dia ngomong yang dibuat-buat biar terkesan berkarisma dan keren itu, membuatku seperti debu di matanya. Anjrit!
Yang ditanya, yang tidak lain monster kecil yang sedang aku serapah dalam kepala, sekarang melirikku, entah apa yang tengah dia pikirkan, tapi kemudian dia melengos, membuang wajahnya dariku. Belum sempat aku memberikan tatapan bingung pada caranya melihatku, dia langsung mendekat pada Grimmjow dengan satu anggukan kepala.
Kenapa bisa? Apa-apaan anggukan kepalanya itu?! Dia menyetujui usulan untuk pulang bareng Grimmjow? Lalu aku?
Senyum lebar tiba-tiba saja muncul di wajah si pemutih baju itu, sepertinya dia bisa merobek wajahnya jadi dua gara-gara senyum yang terlalu lebar. Rukia juga sableng! Bisa-bisanya dia terima tawaran pria itu, lalu nasibku bagaimana? Aku pulang naik bis, begitu? Ck ck ck, ini nggak bisa dibiarin nih! Dia harusnya ikut memikirkan nasibku, aku saja sudah susah payah ikut memikirkan nasibnya, masa' dia nggak sedikitpun memikirkan balas budi.
"Rukia, kau-"
"Kalau begitu kau ikut aku saja, Ichigo! Sekalian aku mau mampir ke kedai ramen. Bagaimana?"
Kenapa semua orang di dunia ini seperti mengabaikan kehadiranku? Apa memang aku nggak boleh dapat dialog dalam pembicaraan ini? Kenapa nggak sekalian saja aku dibuang dari adegan ini? Sialan! Sampai Orihime juga ikut-ikutan memotong ucapanku, bikin aku makin geram!
Tapi dia bilang apa tadi?
"Bagaimana? Kita berangkat sekarang?" Orihime kembali mendesakku, dan kali ini dengan gerakan manja khasnya, menggesekkan lenganku di gundukan dadanya, sontak aksi ini menyentrum batangan di selangkanganku. Jangan membuatku terangsang sekarang, atau aku akan membawamu kepojokan gelap dan melumatmu habis di sana, Orihime!
"Kelihatannya Orihime dan Ichigo cukup dekat, ya? Dari tadi tangan Orihime tidak lepas dari Ichigo." Alis Pak Gin terangkat tinggi, seringainya mengejekku, sekaligus membuatku bingung.
Memangnya dari tadi Orihime mengalungkan tangannya padaku? Kok aku tidak sadar ya?
"Kami memang dekat sampai... aku harus berangkat ke Amerika," jawab Orihime cepat, dan kali ini senyum bangganya menyinari wajahnya. Senyum mematikan khas model, namun jelas-jelas aku melihat dia mengarahkan senyumnya pada Rukia yang masih memperhatikan kami. Senyumnya penuh kemenangan, juga kebanggaan. Sepertinya dia berpikiran dengan begini dia bisa menunjukkan pada Rukia kalau dia menang satu langkah dari Rukia. Dia nggak tahu saja kalau Rukia bukan pacarku, jadi seharusnya dia tidak merasa menang begitu, percuma!
Tapi siapa yang mengizinkannya untuk berkata begitu? Punya hak apa dia mendeklarasikan kedekatan kami, padahal dia yang membuangku, terus sekarang dia mau mengakui apa yang sudah dia buang? Gila! Perempuan memang makhluk menyeramkan, mereka seperti tidak pernah berpikir bagaimana perasaan seorang laki-laki yang terluka harga dirinya. Atau jangan-jangan buat dia aku tidak punya harga diri?!
"Dekat seperti apa?" sambung Sung Sun, membuatku makin terpojok.
"Sa...ngat dekat! Iya, kan, Ichi?"
Aku ingin menyangkalnya, tapi ini malah akan menjadi bahan mereka untuk mengorek-ngorek cerita lama, jadi lebih baik kalau aku tutup mulut dulu.
"Wah, wah, benar-benar kebetulan ya. Berarti bisa terjalin kerjasama yang baik jika memang sebelumnya saling kenal," tambah Pak Gin, dan nada di balik suaranya tidak dapat aku pungkiri sebagai kesenangan karena dia mendapati kenyataan ini. Dia bisa semakin mulus menjalankan rencananya, pasti itu! Memangnya apalagi yang bisa dipikirkan pria konglomerat selicik dirinya?
"Kita berangkat sekarang?" suara dingin Rukia membuyarkan pikiranku, dia meraih tangan Grimmjow, dan tentu saja disambut (tapi dengan senang hati akan aku sambit pakai sepatu) dengan gembira oleh keponakan Pak Gin itu.
"Kami permisi dulu," ucap Grimmjow, dan dia menggiring Rukia menuju sebuah mobil berwarna silver yang terparkir tidak jauh dari kami. Mobilnya BMW, dan aku tidak kaget jika sekelas mereka menggunakan mobil import begitu. Pasti nyaman sekali berada di mobil itu.
Aku yakin Rukia baru saja kerasukan, atau kehilangan separuh dari fungsi otaknya. Memangnya masuk akal kalau dia tiba-tiba menyerahkan diri untuk pergi diantar pria yang paling dia benci? Dia bahkan menangis, meratapi kesedihannya karena bertemu pria itu! Masih jelas bagiku bagaimana dia menangis di sampingku semalaman, tapi sekarang apa yang ia lakukan? Dia malah bersedia pergi dengan orang itu, bahkan menggandeng tangannya di depanku. Dia pikir aku ini cuma pelipur lara sementara? Setan! Awas kalau kau menangis di depanku gara-gara dia lagi! Bukan malah aku kasihani, atau simpati, aku akan menari kegirangan, biar kau tahu rasa Rukia! Silahkan kau jilat dan telan ludahmu sendiri!
Aku menunduk dan menarik napas panjang untuk meredakan gemuruh yang tiba-tiba menyerang otakku.
"Kau tampak pucat, tidak enak badan?"
Aku menoleh pada mobil silver yang pintunya terbuka satu, di sana berdiri Rukia yang memegang pintu, menahan diri untuk masuk. Kami bertemu pandang, dan aku melihat jelas kekosongan dalam matanya, namun pandanganku langsung terhalang ketika badan lebar si brengsek ada di depan Rukia.
Ta-tangannya- Brengsek! Dia menyentuh dahi Rukia, sekalipun aku tidak lihat, aku bisa menerka dari sikunya yang naik dan tangannya yang satu lagi memegang bahu Rukia. Aku tidak bisa melihat, apa Rukia gemetar dipegang pria itu? Sampai tadi saja dia masih gemetaran saat Pak Gin memeluknya, jadi aku tidak yakin dia bisa tenang. Bagaimana kalau dia mengamuk tiba-tiba dan-
"Kau mau kemana, Ichigo?" Tangan Orihime menahanku, aku sendiri tidak sadar kalau tubuhku bergerak tanpa aku perintah. Aku ingin menghampiri Rukia, tapi tidak bisa, dan tiba-tiba saja kemarahan itu membakar dadaku, terlebih lagi saat Rukia duduk di kursi penumpang, dan tangan si kurang ajar itu menyentuh pipinya, rasanya ingin aku patahkan tangannya itu! Tapi Rukia tetap tenang, dia menekuri jalan kosong di depannya, tidak melihatku, apalagi yang lain.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, nanti kedainya keburu tutup!" tandasku pada Orihime, dan kami berdua pamit hanya dengan sebuah tundukan kepala asal. Aku sih asal, tapi kayaknya Orihime benar-benar menundukkan kepalanya penuh-penuh, hormatnya pada keluarga konglomerat seperti Pak Gin, sepertinya memang modal utama untuknya mendapatkan hati mereka.
Aku baru melangkah dua kali, dan mobil silver Grimmjow melintas melewatiku, dia bahkan tidak sedikitpun menoleh pada kami, hanya menggas mobil tanpa ampun dan hilang di belokan hotel.
Kami menghampiri sebuah mobil putih mini van, dan di dalamnya ada seorang pria berpakaian modis, tersenyum pada kami. Siapa orang ini?
"Kau bisa pulang naik taksi? Aku mau pergi ke suatu tempat dengan temanku," kata Orihime seraya tersenyum manis pada pria di depannya.
"Tapi besok kau ada jadwal pemotretan pagi!" protes orang itu seraya melihatku dari atas hingga ujung kaki. Sepertinya aku kenal orang ini... kalau dari potongannya sih, mirip sama manager Orihime, apa iya ini managernya? Kalau aku ingat sih orangnya cupu, pokoknya kampungan, tapi kenapa sekarang dia terlihat sedikit lebih keren? Perlu aku tekankan, ya! Sedikit! Sedikit lebih keren! Karena bagaimana juga aku yang lebih keren!
"Aku tahu! Aku akan datang tepat waktu, jangan khawatir. Ok?" Orihime langsung menarik pria tadi menjauh dari kursi pengemudi, dan dia langsung mempersilahkanku menempati kursi itu. Aku sempat mengangkat alis ketika orang itu menatapku penuh permusuhan. Oh... jadi orang ini beneran managernya Orihime... Pantas saja kalau dia tidak suka padaku, karena dulunya Orihime sering bolos di pekerjaannya gara-gara mendatangiku di bengkel.
Mobil keluar dari kawasan hotel GI, langsung ke jalan utama dan masuk jalur bebas hambatan. Kecepatan standar menjadi batasanku kali ini, aku tidak mau harus kena tilang gara-gara melampaui kecepatan yang seharusnya. Berhubung SIM di dompetku sudah lewat dari tanggal kadaluarsa, jadi aku harus hati-hati. Jangan tanya kenapa tadi aku tidak menolak tawaran Orihime untuk menyetir, soalnya aku tidak mau jatuh harga diri dengan berkata, 'Aku tidak bisa menyetir, SIMku sudah mati.'. Mau taruh dimana nih muka? Aku sih nggak rela disuruh pindahin muka ganteng begini ke tempat lain.
Minum banyak sampai mabuk! Sepertinya itu rencana yang bagus untuk menghabiskan malam ini, secara kepalaku seperti sedang direbus di air mendidih, sampai-sampai aliran dalam darahku ikut mendidih dan bergolak. Di kepalaku terus terlintas senyum si kurang ajar Grimmjow dan Rukia saat mereka lewat dengan mobil BMW si keparat biru itu! Kenapa orang-orang berambut biru yang aku kenal tidak ada yang menyenangkan? Ishida nyebelin sampai ubun-ubun, terlebih lagi Grimmjow!
"Ternyata Rukia itu adik bangsawan Kuchiki?"
Sepertinya aku harus meminta Ishida mengganti warna rambutnya, jadi merah saja lebih bagus seperti Renji, jadi mereka cocok, atau hitam saja seperti rambutnya Hanatarou, jadi dia bisa sedikit kalem, dan tidak terus-terusan menghantuiku. Atau mungkin bagus diganti hijau saja, jadi begitu kami bertiga berdiri berdampingan, seperti lampu lalu lintas. Merah dari Renji, kuning dariku, dan hijau dari Ishida, wah... cocok sekali itu, aku harus memaksa si pecinta kucing itu cepat-cepat ganti war-
"Ichigo?"
"Hah? Kau bilang apa tadi?" Buyar sudah lamunan dalam kepalaku.
Orihime mendengus tertawa pelan. "Aku bertanya tentang pacarmu, Kuchiki Rukia."
"Kenapa dia?" tanyaku balik, seraya menarik tuas untuk mengganti gigi. Dia bilang apa? Pacar? Siapa? Rukia? Siapa yang mau pacaran sama papan gilasan yang galaknya melebihi Godzilla sepertinya? Suruh The Rock dari WWF buat pacaran sama dia, baru bisa imbang!
"Sudahlah, aku rasa tidak perlu dibahas lagi. Sepertinya aku mengerti sekarang, kenapa kau memilih dia, dan apa yang harus aku lakukan agar kau kembali padaku," tutur Orihime dengan seringai lebar penuh taktik. Apa yang tengah dia pikirkan? Jangan bilang dia merencanakan sebuah rencana mesum?! Dia bilang tadi mau membuat aku kembali padanya? Yang benar saja! Aku tidak akan jatuh di lubang yang sama dua kali, karena aku sudah cukup sadar melihat seberapa berharganya diriku untuknya.
Orihime melihat keluar jendela mobil, wajahnya tidak lagi terlihat menggemaskan seperti terakhir kali aku melihatnya sebelum pergi ke Amerika. Wajahnya jauh lebih dewasa, bahkan aku bisa melihat jejak licik di wajah mulusnya. Tidak heran, dalam semua jenis dunia pasti dibutuhkan taktik untuk menarik perhatian orang, kan? Apalagi dunia model, yang isi cewek seksi juga nggak sedikit. Aku dengar dari Ishida sih, bahkan ada artis baru yang rela tidur sama sutradara atau produser biar dapat jatah peran.
"Aku terus berpikir selama acara tadi. Ternyata kau mau menangkap ikan besar, makanya kau mengikatnya di sisimu, kan? Kau ingin membuatnya jatuh dalam pelukanmu, sehingga kau bisa kaya mendadak."
"Terserah mulutmu mau bicara. Aku tidak peduli, apapun yang berhubungan dengannya bukan masalahku!" serobotku sebelum Orihime meracau macam-macam. Jujur saja, sebenarnya yang korban di sini adalah aku. AKU! ICHIGO! Aku korbannya! Kenapa orang-orang malah melihat aku yang jadi penjahatnya sih?! Mentang-mentang aku miskin, gembel dan nggak punya apa-apa jadi aku yang dicurigai? Jadi kalau orang miskin dekat orang kaya, adalah sebuah kejahatan? Terus kalau orang kaya suka sama orang miskin, disebut murah hati? Hal yang hebat?
Dunia ini memang brengsek! Sejak dahulu tidak ada yang cukup adil untukku! Semakin dipikir, semakin sakit kepalaku.
Kedai ramen tidak terlalu ramai, tapi bukan sesuatu yang bisa aku syukuri. Kenapa? Bukan karena aku pembenci keramaian! Tapi di antara pengunjung yang sedikit itu ada Szayel dan Renji. Szayel bahkan menggandeng Isane bersamanya. Terus siapa itu yang duduk di sebelah Renji? Perempuan itu agak asing di mata dan ingatanku. Perempuan berbadan lurus, hampir tidak ada lekuknya seperti Rukia. Tapi yang ini sih masih lebih mendingan, ada dada yang berbentuk, dan itu satu-satunya penanda kalau dia perempuan. Jujur saja, rambut cepaknya hampir membuatku mengira dia itu laki-laki, dan hampir saja aku berpikir kalau Renji sudah berubah menjadi bi-seksual!
Masuk ke kedai bersama Orihime adalah bencana, karena begitu kami membuka pintu kedai, semua orang seperti diberi peringatan kalau model kelas internasional bernama Orihime datang. Tanpa kode apa-apa, orang-orang langsung berhambur mendekati Orihime, sontak aku menghindar dari kerumunan, aku tidak mau jadi korban terinjak-injak seperti konser boyband-boyband Korea!
"Hey Kepala Nanas!" sapaku ke Renji, dan tanpa ragu aku menepuk bahunya, membuat perempuan di sebelahnya agak menjaga jarak.
"Kau ke sini juga? Bukannya kau lagi pergi sama Rukia? Aku sempat ke apartemenmu tadi pagi, tapi kata Omaeda kau pergi sama Rukia! Mana dia?" Renji mengedarkan pandangannya ke seisi kedai, tapi matanya malah terpusat pada Orihime yang jelas-jelas sangat mencolok sekalipun berada di antara belasan orang yang mengelilinginya. Tidak heran, karena badannya lumayan tinggi di atas rata-rata. Kalau dibanding sama Rukia sih... sudah seperti tauge sama tiang listrik!
"Kau balikan sama Orihime?" celetuk Renji tiba-tiba.
"Jangan sembarang-"
"Szayel! Ichigo balikan sama Orihime!" pekik Renji, membuatku langsung melayangkan tangan ke kepalanya, memukulnya tanpa sedikitpun mengurangi tenaga kuli bengkelku.
"SAKIT!" erang Renji seraya mengelus-elus kepalanya, tampaknya harga dirinya terluka sekali karena aku sudah dipukul di depan ceweknya. Aku tidak peduli, suasana hatiku sedang kacau dia malah bikin tambah runyam. Ibarat udah ada tsunami di kepalaku, dia masih lagi menyulut gunung berapi agar meletus!
"Tatsuki, ini temanku. Ichigo! Tidak usah kaget, dia terkenal dengan enteng tangan!" seru Renji seraya memiting kepalaku, aku hampir tercekik, tapi Renji langsung melepaskanku begitu Szayel dan Isane bergabung di meja kami.
"Hallo!" sapaku pada cewek bernama Tatsuki itu, dan aku mencondongkan badan ke Renji. "Pacarmu?" bisikku cepat.
"Baru kenalan. Tapi yang ini mangsaku, awas kau!" ancam Renji sambil melotot seram, sepertinya dia tahu aku sedang butuh pelepasan dalam waktu dekat, he he he
"Isane!" panggilku pada cewek berambut ungu di sebelah Szayel. Szayel langsung pasang tampang siaga satu begitu aku memanggil ceweknya. Yah, Szayel bisa mendapatkan Isane... sebenarnya adalah mukijzat. Bayangkan saja, Isane sudah mengenal Szayel selama bertahun-tahun, dan tahu kalau Szayel itu berkaki bau, karena itu juga ratusan kali ia menolak Szayel, tapi tiba-tiba aku dengar kalau Isane menerima cinta Szayel, mereka bahkan sudah tidur, emm... maksudku tidur yang itu... ngerti kan maksudku? Harus!
Jadi melihat kenyataan ini, aku mulai berpikir. Ini dunia yang sudah terbalik, atau memang aku yang sudah kehilangan berita terkini? Mungkin selera perempuan sekarang sudah banyak berubah. Bukan lagi mencari pria keren dan bisa diandalkan seperti aku, tapi malah cowok berkaki bau seperti Szayel. Aku memang sudah jarang nonton tv akhir-akhir ini.
"Hmm?" Isane menjawab dengan satu dehem suara merdu, terlebih lagi dia menjawabnya sambil meneguk minuman dari botol. Gila! Keren banget gaya cewek satu ini, terlebih lagi begitu aku melihat jejak minuman yang lolos dari bibirnya dan mengalir ke dagu. Anjrot... sepertinya nikmat banget kalau dijilat, lalu dilanjut dengan ciuman panas dan...
"Bersihkan kepalamu! Cukup Szayel yang mikir jorok!" celetuk Renji yang seketika melayangkan tangannya mengeplak kepalaku, membuatku kembali ke alam penuh sadar, dan mendapati Szayel tengah ternganga lebar. Sepertinya dalam waktu satu menit, populasi nyamuk akan berkurang!
"Memangnya kenapa kalau ada dua orang?" sahutku cuek, dan merebut botol tak bersalah di meja, dan meneguk habis isinya, berhubung isinya juga tinggal setengah.
"Kau tanya kenapa?" tegas Renji sambil berdecak penuh kasihan melihatku.
"Apa?" balasku tidak terima.
"Kalau ada dua, itu cuma menunjukkan betapa miskinnya pesona kalian buat perempuan!" seloroh Renji tajam dan tanpa ampun. Sontak aku tidak terima, dan hampir saja aku memuntahkan lagi minuman yang baru masuk ke lambung.
"Sialan kau! Jangan sombong mentang-mentang kau baru dapat satu!" gumamku asal, dan mengembalikan perhatian ke tengah kedai. Orihime belum terbebas dari orang-orang yang meminta tanda tangan dan foto bareng. Bagus deh! Lebih lama kalian membuat dia sibuk, lebih baik buatku, jadi aku bisa terbebas dari model yang nempel terus persis permen karet itu. Jujur saja aku menerima tawarannya kali ini, cuma mau membuktikan, dan membuat Rukia melihat kalau aku juga bisa melakukan seperti yang ia lakukan.
"Apa-apaan jasmu itu? Kau habis melamar cewek mana? Atau kau baru saja jadi gigolo?!" celetuk Szayel yang ternyata sudah tersadar dari lamunan joroknya, dia merangkul pinggang Isane, membuat perempuan yang lebih tinggi darinya itu condong padanya, dan bersandar.
"Berengsek! Bukan melamar, tapi dijebloskan ke lubang neraka! Jadi gigolo bukan ide jelek sih, tapi aku malas. Sialan! Aku gerah bukan main gara-gara baju begini," jawabku seraya membuka jas dan membuka beberapa kancing atas kemejaku, membuat Tatsuki dan Isane melirikku dengan mata lapar untuk sepersekian detik. Ah... pesonaku masih begitu kuat ternyata. Cuma lepas jas dan membuka kancing saja sudah bikin mereka melihatku dengan mata bulat begitu, bagaimana kalau aku lepas kemeja dan menarik mereka dalam pelukanku... Beh! Klepek-klepek, dan langsung jadi ah... ah... nikmat...
"Lagi-lagi..." gerutu Szayel pelan, tapi kentara sekali dia kesal.
Ha! Kau kalah satu langkah dariku Szayel! Kau mungkin pintar dalam pembukuan bengkel, tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku yang sudah jauh berpengalaman darimu dalam menggaet hati perempuan.
"Jadi kalau nggak balikan, kenapa kau sama dia? Terakhir kali kau menghindar mati-matian, tapi sekarang malah datang bareng! Seleramu sudah kembali ke semula?" ledek Renji yang menyodorkan botol minuman baru padaku, dan aku menerimanya, dan meneguk isinya cepat.
"Kembali ke mana? Kembali ke habitat?" celetukku kembali meneguk isi botol yang langsung membakar tenggorokan dan perutku.
Renji langsung geleng-geleng kepala melihat tingkahku. "Nggak kuat minum, tapi main lahap! Kalau kau mabuk, jangan harap aku akan mengantarmu pulang!" Renji memperingatkanku dengan dengus merendahkan yang sering dia buat.
"Kau memang bukan temanku, Nanas!" hardikku seraya membanting botol ke meja.
"Teman mana yang memukul temannya sendiri yang lagi mabuk?!" Renji mencibir padaku.
"Siapa?" tanyaku tidak terima.
"Ishida! Dia mengeluhkan kepalanya benjol-benjol setelah minum denganmu. Terus kata Ulqui kau memukuli kepalanya selama dalam taksi!"
"Masa' sih?" kataku sanksi, pura-pura bego, dan pura-pura tidak bersalah. Memang aku pelakunya, tapi lagi-lagi si Stoic itu membuka mulut tajamnya, mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan. Kurang kerjaan banget sih dia pakai cerita-cerita kalau aku yang sudah memukuli kepala Ishida. Habis kau nanti, Ulqui! Mulutmu itu benar-benar harus aku jahit!
"Masih nggak ngaku?" cecar Szayel lagi, kali ini dengan wajah mengintimidasi, wah... junior satu ini suka juga memojokkanku rupanya.
"Memangnya kau tahu juga?" tanyaku lagi.
"Dia ikut dengar waktu Ulqui cerita!" tandas Renji dengan nada malas, membuatku langsung kehilangan harga diri di depan para perempuan cantik di depanku ini. Ah... sudah turun harga 10% nih, kalau mereka terus-terusan menjelek-jelekanku bisa-bisa dijual obral nih!
Perempuan bernama Tatsuki tidak terganggu sama sekali dengan tingkahku, dia terlihat tenang duduk di sebelah Renji. Sepertinya Renji dapat cewek yang terlalu bagus, tapi itu jauh lebih baik sih, daripada dia terus melanglangbuana di dunia maksiat bersamaku, terlebih lagi dia juga anak dokter, kan? Jauh lebih baik kalau dia memang dapat perempuan yang sepadan dengan statusnya.
Tapi kalau dilihat-lihat lagi, kenapa aku duduk di sini? Posisi duduknya benar-benar tidak enak. Aku duduk di tengah-tengah dua pasangan, kok rasanya jadi seperti dinding pembatas ya? Siapa yang mengatur posisi ini? Siapa? Siapa?
"Ichigo!"
Iya juga sih, memang aku sendiri yang memilih untuk duduk di sini.
"Ichigo!"
Memang aku, sudah! Tidak perlu diperpanjang lagi! Aku sudah mengaku, kan?
"Di belakangmu, Kepala Jeruk!" seru Renji seraya menendang kakiku, reflek aku menoleh ke belakang, dan petaka lain menungguku. Orihime berdiri di belakangku dengan anggunnya, seolah menungguku untuk menjemputnya.
"Sepertinya aku harus pindah meja," celetukku berat hati, dan aku langsung beranjak, mengikuti kemana Orihime berjalan. Dia memilih tempat di depan counter, duduk bersama barisan orang lain yang menghadap langsung ke meja bartender.
Tidak perlu aku bayangkan lagi, ini akan menjadi malam yang supeeeeeeerrrr panjang!
Berawal dari berbotol-botol minuman berkadar alkohol ringan, berlanjut ke satu porsi ramen super pedas, dan sekarang kami harus menutupnya dengan brandy. Aku agak kaget kalau ternyata kedai bertaraf biasa-biasa saja bisa punya minuman berkadar alkohol berat dan bermerk pula. Mungkin karena harganya mahal, jadi tidak ada satupun yang pernah aku cicipi. Ulqui saja tidak sanggup beli. Harganya tidak cocok untuk kantong Ulquiorra, sekalipun dia termasuk karyawan kelas atas yang bergaji besar. Kalau memang gajinya cukup, tidak mungkin kan dia tinggal di apartemen Pak Kyoraku bersamaku? Betul, kan? Betul dong!
Nah, Ulquiorra saja tidak sanggup, bagaimana aku atau Renji?!
Sudah cukup berpikirnya, waktunya minum...
Aku tidak peduli lagi ketika kesadaranku sepenuhnya dikuasai alkohol. Separuh dari duniaku bergerak tidak stabil, kepalaku berputar-putar, dan sesekali aku mendengar suara merdu Orihime di telingaku, tapi dalam benakku malah bermain-main sosok galak Rukia, bagaimana dia berteriak padaku, dan bagaimana ia menyakiti dirinya ketika pertama kali kami bertemu. Kenapa harus ingat hal seperti itu di saat menyenangkan seperti ini? Aku hanya perlu menikmati saat-saat indah ini, tanpa perlu memikirkan perempuan sial yang sudah membuat hidupku jungkir balik.
Ditambah lagi ada Grimmjow, mengingatnya saja sudah membuatku marah, sangat marah...
Minum! Aku perlu minum lagi! Minum lagi, minum lagi, dan tenggelam mabuk. Biar saja aku terdampar di kedai, tak perlu pertolongan Renji atau Szayel, biar mereka asik dengan cewek mereka, tinggal aku balas mereka begitu aku sampai di bengkel. Min... min... minum...
"Ichigo... kau sudah terlalu mabuk. Kita pulang ya?"
Aku membuka sedikit mataku, dan melihat si empunya suara. Ada dua orang sosok perempuan cantik nan seksi di depanku, dan sekarang mereka mendekat dengan aroma parfum yang membangkitkan gairah laki-lakiku. Sialan, aku ingin menidurinya...
"Aku tid-Hicc!-ak mabuk, sama sekali- Hicc! -tidak mabuk," ucapku dengan kepala berputar cepat.
"Kita pulang sekarang, ayo!"
Tubuhku seperti beranjak dari kursi, tapi rohku sepertinya masih menggenggam botol minuman. Berputar-putar, putar, terbang tinggi... ringan sekali rasanya, kepalaku kosong, tidak ada lagi Rukia, tidak ada lagi Pak Gin, Orihime, bahkan Ulqui yang menyebalkan sudah aku sapu bersih dari kepalaku. Hanya ada duniaku sendiri yang kosong dan perasaan senang... terbang... dan...
.
.
.
.
"Ichigo, mana kunci apartemenmu?"
Eng...
"Ichigo!"
"Eng...?"
"Kunci apartemen!"
Di kantong celanan kanan? Kanan atau kiri? Kepalaku sedang tidak bisa diajak berkolusi, setengah dari rohku masih tertinggal di kedai ramen, masih ingin mencekik botol brandy dan menghabiskan sisa tetes terakhirnya.
"Kau berat, berdiri yang tegak!" protes sebuah suara lagi.
Aku berusaha membuka mata, dan pandanganku langsung bertubrukan dengan pintu apartemen yang baru saja ditempel pengumuman lain. Aduh... ini pengusaha sedot WC tidak tahu diri! Pintuku baru direnovasi, catnya masih bagus, eh... berani-beraninya menempel promosi sedot wc, kalau sedot cewek sih aku mau!
"Masuk. Awas kepalamu..."
Aku melangkah dengan mata setengah terbuka, berat sekali rasanya. Namun aroma parfum itu masih saja mengusik hidungku, membuat pikiranku semakin tidak jelas. Sepertinya aku bisa meniduri empunya sampai pagi, sampai puluhan ronde juga aku bisa! Berhubung aku sudah sangat lama tidak tidur, sudah terlalu lama tidak membuka selangkangan perempuan.
Melihat kaki kurus Rukia tiap hari malah membuatku mau menjadikannya sop iga! Aku tidak punya cadangan nafsu untuk Rukia, dia lebih mirip tokoh jahat dalam alam mimpi... Siapa namanya... Freddy Kru... Ah, malas mikir!
"Minum!"
Aku membuka mulutku, meneguk entah cairan apa itu, berselang dua detik kemudian aku baru menyadari wangi kopi di hidungku, sedikit menyamarkan parfum tadi.
Kesadaranku sedikit kembali ketika aku membuka mata, rupanya kopi cukup ampuh untuk mengembalikan seluruh syaraf yang sudah lari berseliweran di dunia lain. Tapi... kesadaran sih memang sudah balik, tapi nafsuku malah yang mendominasi, habisnya melihat Orihime yang sekarang berdiri begitu dekat denganku, bahkan bagian pinggulnya menyundul organ depanku yang sedari tadi sudah cukup menahan diri.
"Bagaimana?" ucap Orihime dengan napas mendesah, membuatku makin mabuk oleh aroma yang ia sebarkan di seluruh indra penciumanku. Sialan, aku ingin ia membunuhku dalam laut kenikmatan bernama seks! Anjrit...
"Orihime..." gumamku setengah mendesah dan setengah masih dipengaruhi mabuk parfum.
"Kita mulai dari sini?"
"Auw... hati-hati tanganmu, Cantik..." bisikku, ikut menyentuh tangannya yang tengah meremas batangan di selangkanganku dengan lembut.
"Aku tahu kau ingin aku mengulumnya, kan?" desisi Orihime yang kembali meremas junior yang tengah mengiba itu. Aku hanya bisa mengerang perlahan, merasakan panas mulai menjalari sekujur tubuhku. "Bagaimana jika aku mulai dengan menjilat ujungnya?"
Aku mengerang membayangkan bagaimana lidah basahnya akan membuatku merasakan sensasi itu.
Ketika pikiranku sibuk berkeliaran, berseliweran di antara bayangan-bayangan nikmat penuh gairah, aku merasakan sesuatu terlepas dari pinggangku, dan saat aku menunduk, aku mendapati celanaku sudah melorot sampai batas lutut, sementara Orihime tengah berlutut dengan wajah tepat di depan junior kesayanganku.
"Kau cukup santai dan nikmati, Ichigo..."
Oh tidak... akhirnya saat seperti ini datang juga! Terima kasih! Terima kasih! Setelah sekian lama aku tidak mendapatkan pelepasan karena jeratan si monster kecil, akhirnya aku bisa merasakan pelepasan yang sebenarnya.
Orihime menjilat batanganku, dari bawah hingga atas, membuat sekujur tubuhku gemetar nikmat. Sekalipun ia menyentuhnya dengan celana dalam masih membatasi kontak langsung lidahnya dengan batanganku, aku bisa merasakan sang junior membesar. Aku hanya bisa mendesah nikmat ketika Orihime melakukannya lagi.
Oh yea... begitu Orihime, jilat dengan perlahan, biarkan aku merasakan bagaimana lenturnya lidahmu menyentuhku.
Orihime menjilat penisku perlahan, seperti ia tengah menikmati eskrim kesukaannya.
Dia meraih pinggiran celana dalamku, dan menurunkannya sedikit, membuat setengah dari penisku memunculkan dirinya, mengintip sedikit dengan ujung sedikit basah. Sepertinya aku sedikit tidak bisa menahan diri karena sudah terlalu lama tidak merasakan desakan gairah seperti ini.
"Kau suka?" bisik Orihime sambil mengecup puncak juniorku, aku sontak merenggut rambutnya, memintanya untuk tidak lagi menyiksaku dengan sentuhan-sentuhan kecil seperti ini. Aku tidak sabar lagi ingin masuk dalam mulutnya, merasakan lumatan lidahnya di seluruh batangan penis yang sudah mendamba pelepasan ini.
Akhirnya Orihime mengerti apa yang aku inginkan, karena dia mendongak dan tersenyum puas padaku, seolah sedang merayakan kemenangan dia tersenyum padaku yang sudah menyerah 100%. Siapa juga yang bisa menolak tawaran menggiurkan begini ketika aku sudah diambang jurang? Aku ingin merasakan puncak kenikmatan itu. Blowjob bukan sesuatu yang mudah aku dapatkan akhir-akhir ini, jadi biarkan aku merasakannya.
Orihime menarik turun celana dalamku hingga batas paha.
"Ah... ya... di sana Orihime, kau menghisapnya dengan baik, ah... yeah... lebih dalam... biarkan aku menyentuh pangkal tenggorokanmu. Ah... ah..."
Aku terbuai kenikmatan tiada tara ketika Orihime mengulum habis penisku, membuat ujung penisku menabrak dinding mulutnya, seketika itu juga aku merasakan monster itu membesar. Semakin besar ketika Orihime menggerakkan maju mundur kepalanya, membuat panas dari mulutnya membuatku merasa sedang memompa. Saat seperti ini aku akan berkata... Oh God... ini benar-benar nikmat, ini yang aku butuhkan sejak berbulan-bulan lalu. Terus... terus pompa aku, hisap habis apa yang kalau mereka bilang...pre cum?
"Kau tegang sekali, Ichigo..." bisik Orihime ketika ia melepaskan penisku, menunjukkan batangan yang tengah menjulang tinggi dengan ujung sedikit basah, penis ukuran besar yang tengah berdenyut hebat menunggu ledakan...
Aku makin tidak percaya ketika Orihime menggenggam batanganku dan merenggutnya begitu erat, lalu ia menjilati ujungnya tanpa henti.
"Ah... ah... eng... eng..."
Aku menutup mata rapat-rapat, menikmati setiap sentuhan dari tangan dan lidah Orihime.
"Sedikit lagi, Orihime... ya... terus, seperti itu, ya.. aaahhh," aku mendesis ketika ledakan puncak kenikmatan itu menderaku. Spermaku terlontar keluar dari penampungan dan membasahi wajah Orihime. Cantik sekali... terlihat sangat erotis dengan wajah basah oleh sperma, sementara lidahnya menjilat jejak spermaku di jemarinya.
Sontak aku menjatuhkan Orihime di lantai, dan tanpa pikir panjang lagi aku merobek gaunnya, membuatku meremas buah dadanya dengan membabi buta, membuatnya mendesah lapar memintaku untuk menyentuhnya lebih.
"Biar aku yang melakukannya, Sayang..." bisiknya ketika aku tengah menyesap puncak payudaranya.
Aku begitu dikuasai nafsu, hingga aku membiarkan Orihime berguling dan merubah posisi. Aku terbaring di lantai, sementara dia melucuti seluruh pakaiannya. Aku begitu terpesona dengan dadanya yang bergelayut menggoda di depan mataku, hingga aku tidak sadar ketika ia kembali menjilati penisku, membuatku kembali tegang dan panas. Aku kembali terbangkit, terlebih lagi ketika ia menyerangku dengan ciuman mendalam penuh pertarungan dominasi lidah. Aku menginvasi mulutnya dengan lidahku, sementara tanganku yang satu sibuk meremas dadanya dan yang lain meraih-raih clitorisnya, membuat desahannya tertelan di mulutku.
Seluruh ruangan seperti terbakar, atau memang hanya kami berdua yang merasakan panas begini?
Kami terus berciuman, hingga Orihime menyingkirkan tanganku dan menjauhkan diri dariku. Dia tersenyum menggoda, dan aku membalasnya dengan senyum yang tidak kalah, di detik itulah dia membuat penisku menembus lubang di tubuhnya yang sedari tadi sudah aku usik dengan jari-jariku.
Oh ya... perlahan tapi pasti aku merasakan penisku menembus lubang hangat dan basah itu.
"Pelan-pelan saja, Orihime..." gumamku seseksi mungkin.
"Kau san-"
Ucapan Orihime terhenti tepat ketika pintu apartemenku terbuka, sontak aku menoleh pada pintu yang perlahan membuat cahaya dari luar masuk, dan detik kemudian aku melihat wajah kaku Rukia, sama kakunya dengan tubuhnya yang berdiri tegak di depan pintu yang menjeblak terbuka.
Dia membiarkan pintu apartemenku terbuka!
Dia ingin membuatku menjadi tontonan gratis orang-orang? Tidak bisakah dia lihat kalau sekarang aku sedang menikmati detik-detik menyenangkan sebagai seorang laki-laki utuh? Tutup pintunya, Rukia!
"Heh... lihat siapa yang akan menjadi penonton kita?" bisik Orihime yang malah semakin menurunkan pinggulnya, membuatku mendesah karena batanganku semakin dalam menembus vaginanya.
Tidak ada yang dikatakan Rukia, dia hanya berdiam di sisi pintu, dia melihatku dan Orihime dengan sorot mata datar. Dia tidak marah, tersenyum mencemooh, atau memasang wajah jijik yang selalu ia lakukan jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pola pikirnya. Dia hanya diam, diam seperti patung!
"Ru-"
Aku baru saja akan menyadarkan si monster dari bengongnya, tapi Orihime malah menabrakkan bibirnya di bibirku, membuatku bungkam lewat ciuman panasnya sekali lagi. Yang aku dengar kemudian adalah suara pintu yang tertutup dan saat aku menoleh pada pintu, aku tidak melihat ada Rukia lagi. Dia pergi, pergi begitu saja.
Memangnya aku tidak mengunci pintu? Ceroboh sekali sih!
"Ayo kita lanjutkan, Ichigo..." gumam Orihime lagi, dan sekali lagi aku terbuai wangi parfum yang menguar darinya. Seluruh kesadaranku hilang, tergantikan desakan untuk menikmati malam dalam senggama tanpa akhir.
Akhirnya... pelepasan ini aku dapatkan juga... Lupakan saja Rukia untuk malam ini
Berengsek! Tubuh Orihime benar-benar membuatku mabuk...
.
.
.
To Be Continued
.
.
This chapter takes longer than i think
Xx - - Brainless - - xX
September 9, 2013
