BOLERO *Love in the Past*

Sherry Kim

WARNING

18+

Happy Reading...

Kiri, kanan, berputar dan lompatan lompatan kecil membawa tubuh Jaejoong dalam tarian indah yang membuat senyum Yunho tidak pernah lepas dari bibir pria itu.

Beberapa pasang mata melirik terang terangan untuk melihat mereka berdua. Mereka tidak perduli bahwa saat ini berada di jalan, dan begitu banyak pasang mata yang memperhatikan, yang ada dalam mata Yunho adalah Jaejoong yang terlihat sangat bahagia di hadapanya.

Pria itu mengulurkan sebelah tangan yang di terima Jaejoong dengan senang hati lalu berputar membentuk sebuah putaran indah dengan sebelah kaki ia tekuk sampai lutut.

"Kau memerlukan separu baru, besok kau bisa memilih apapun dari Bolero untuk kau gunakan ketika menari, dan juga..."Yunho menghentikan tarian Jaejoong dengan menarik wanita itu mendekat."Bolero selalu terbuka untukmu, tempat dimana kau bisa berlatih menari kembali."

Kedua tangan Jaejoong berada di antara mereka, menekan dada Yunho untuk mencegah pria itu lebih medekat."Aku tidak bisa." lirihnya, namun Jaejoong tidak bisa menghentikan senyuman bahagia di bibirnya, Ia menyandarkan kening di dada Yunho. Malam ini sungguh malam yang menyenangkan untuk di lewatkan, ia menari bermain dan juga berlatih dengan anak anak di tempat latihan tadi.

"Kenapa?" Yunho tidak berniat menjauhkan tubuhnya dari Jaejoong, ia tidak berniat membuat senyum wanita itu menghilang. Malam ini Jaejoong begitu menakjubkan, wanita itu menari dengan indah dan jangan lupakan tawa wanita itu ketika melatih anak anak menari benar benar membuat Yunho merasa bahagia, ia sadar bahagia itu sungguh simpel dengan hanya melihat orang yang kau cintai tersenyum karenamu. Yunho tidak akan melupakan malam ini, atau jika perlu ia akan membawa Jaejoong ke Bolero setiap hari agar bisa melihat senyuman Jaejoong tidak pernah hilang dari wajahnya.

"Hanya tidak ingin merepotkanmu." Jaejoong menjawab.

"Aku mendirikan Bolero karena dirimu." Melepaskan diri dari Yunho, Jaejoong mendongak untuk manatap pria itu. Yunho melanjutkan, "Bolero adalah dirimu, sanggar balerina yang aku dirikan karena aku mencoba mengenangmu, alasan untuk melihatmu di antara mereka juga dimana tempat seharusnya kau berada..." Pria itu terdiam sesaat." Tetapi tidak pernah ada kau disana." Yunho menunduk untuk menyatukan kening mereka.

"Aku selalu berharap dapat melihatmu di antara mereka, dan malam ini aku melihatmu disana, menari tertawa dan bahagia, ini adalah impianku untuk membuatmu bahagia ketika kau disisiku." Dan untuk pertama kalinya di malam ini Yunho berhasil melihat senyum tulus wanita itu untuknya. Sebuah awal yang bagus untuk kehidupan mereka kedepan. "Kuharap kau mau datang ketika kau ingin menari atau kau bisa mengajar disana, apapun yang ingin kau lakukan Bolero selalu terbuka untukmu."

"Kenapa?" Kenapa? Pertanyaan yang Jaejoong sudah tahu jawabanya apa, hanya saja ia ingin mendengar Yunho mengatakan langsung di depan wajahnya. "Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku di masa lalu, mengenang dirimu bahwa kau masih ada di sekitarku, mengenang tentangmu dan hanya ini yang aku tahu tentangmu." Dan Yunho memang tidak tahu apapun tentang Jaejoong. Kebiasaan apa yang Jaejoong lakukan setiap pagi, atau benda apa yang wanita itu sukai, dan banyak lagi dari diri Jaejoong yang belum Yunho ketahui.

"Kau tidak salah dalam hal ini, akulah yang salah."Mundur selangkah Jaejoong kembali berjalan. "Aku memaksamu Yunho, menjebakmu kedalam pernikahan yang sama sekali tidak kau inginkan."

Mengikuti langkah pelan Jaejoong, Yunho mencoba meraih tangan Jaejoong dan menggenggamnya. Hening menyelimuti mereka saat keduanya berjalan kearah dimana mobil Yunho terparkir. "Aku selalu membayangkan kita seperti ini, kita bergandengan tangan disaat aku berjalan seorang diri melewati jalan yang sepi, membayangkan dirimu hadir disekelilingku tidak peduli dimana dan apa yang aku lakukan kau selalu hadir dalam wujud bayangan." Tatapan Yunho menatap kelangit yang gelap tak berbintang, memendung menggantung disana dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. "Membayangkan kau dan aku saling bergandengan tangan setiap hari sampai ada sosok kecil yang hadir di antara kita."

Langkah jaejoong terhenti. Itu juga yang pernah ia impikan di masa lalu, dirinya selalu berharap berjalan bergandengan tangan setiap

hari untuk mengantar putra atau putri mereka ke sekolah sebelum Yunho berangkat kerja, mereka juga akan melakukan kegiatan pagi yang menyenangkan dan Jaejoong akan menunggu pria itu juga putra putri mereka setiap sore dengan berbagai hidangan masakan untuk menikmati makan malam bersama yang menyenangkan.

"Aku selalu berharap sekali saja,,,"Langkah Yunho terhenti di sisi Jaejoong dan meraih bahu Jaejoong untuk berputar kearahnya. ",,,dapat melihatmu tersenyum untukku dan aku rela mati jika kau mau memaafkanku."

"Aku rela mati agar kau mau menganggapku ada dulu," kedua mata wanita itu sudah basah oleh air mata."Tetapi kau tidak pernah menganggapmu." Ironis memang.

"Aku mencintaimu." Yunho berbisik. Gerimis mulai turun namun tidak mampu membuat dua pasang mata yang saling menatap dengan tatapan terluka itu teralihkan. Tanpa berkata dan hanya pandangan mereka sudah mampu membuat keduanya saling memahami. Mengapa? Perjalanan hidup tentang cinta mereka harus seperti ini.

Liquit bening itu mengalir membasahi pipi saat Jaejoong menutup mata karena Yunho menciumnya. Berharap segala kepedihan yang selama ini mereka rasakan lebur dengan satu ciuman hangat yang tidak menuntut.

Tetesan hujan semakin deras saat keduanya membuka mata dan saling melempar senyum. "Aku harus pulang." Jemari Yunho menahan Jaejoong saat wanita itu akan berlari berteduh. Mengabaikan hujan yang semakin deras mengguyur bumi, Yunho mencengkeram jemari Jaejoong erat. "Berjanjilah bahwa kita tidak akan mengingat masa lalu, kita hidup untuk masa depan dan mulai saat ini dan juga hujan ini aku berharap dapat menghapus kenangan buruk kita dimasa lalu bersama sama."

Tetesan hujan semakin terasa deras menerpa wajah Jaejoong."Yunho, kita butuh berteduh."

"Berjanjilah untuk melupakan masa lalu dan mulailah lembaran baru." Sedikitpun pria itu tidak berniat bergerak sampai Jaejoong berjanji di hadapanya.

Menggeram marah karena tubuhnya sudah basah kuyup, Jaejoong berjanji dengan suara lantang karena deras hujan menyamarkan suaranya. "Ya, aku berjanji." Yunho menariknya tapi bukan untuk berteduh. Pria itu menariknya kedalam mobil Yunho dan membuka pintu untuk Jaejoong.

"Kita basah kuyup." Jaejoong mencoba tidak naik kedalam mobil pria itu.

"Apa kau berniat kita masuk kesana." Dalam derasnya hujan yang menghalangi pandangan, Jaejoong melihat serigai menyebalkan Yunho muncul ketika pria itu menunjuk Hotel di seberang jalan.

"Aku tidak akan membantu membersihkan mobilmu besok pagi." Wanita itu menghentakkan kaki sebal kemudian masuk ke mobil.

.

.

.

Tidak tahu mengapa Jaejoong mengekor pria itu masuk kedalam rumah yang pernah menjadi bagian masa lalu mereka dan ia tempati bersama selama satu tahun masa pernikahan mereka dulu.

Yunho tidak mengatakan apa apa atau menjawab pertanyaan yang ia tunjukan kepada pria itu. Pria itu diam seribu bahasa ketika menuntun Jaejoong masuk kedalam apartemen sederhana yang masih tetap sama seperti sepuluh tahun lalu sebelum ia pergi. Jaejoong bertanya tanya mengapa Yunho tidak pindah dari apartemen yang mulai terlihat termakan usia ini.

"Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian untukmu." Yunho membuka satu satunya kamar mandi di apartemen kecil miliknya dan mendorong Jaejoong masuk. Wanita itu menahan diri. "Aku tidak mempunyai pakaian ganti." Dan bagaimana Yunho tidak memikirkan itu sebelumnya.

Astaga. Ia menatap jam yang sudah menunjukan waktu tengah malam. "Tidak ada toko buka di sekitar sini pada jam tengah malam. Aku akan mencarikan kemeja atau kaos milikku untukmu."

Sungguh, Jaejoong akan mengatakan seribu alasan untuk menolak kalau saja ia tidak membenci rasa tak nyaman di tubuhnya. Ia benci kedinginan dan paling benci kalau sampai demam, tidak ada jalan lain selain menuruti Yunho.

Beberapa saat berikutnya Yunho kembali untuk memberikan kaos dan celana untuk Jaejoong. "Kau ingin aku menaruhnya disini atau..."Pintu terbuka Jaejoong masih memakai pakaian basah yang melekat di tubuhnya. "Terima kasih." Pintu terturup begitu keras di depan wajah Yunho.

Usai membersihkan diri Jaejoong keluar dari kamar mandi dengan pakai kebesaran Yunho yang membuat pria itu tertawa terbahak bahak saat mengamatinya dari atas kebawah. "Maafkan aku karena tidak memiliki pakaian yang cocok untukmu."

Jaejoong mengabaikan pria itu yang menertawakan celana yang ia tekuk di bagian bawah juga kaos Yunho yang menggantung kebesaran di bahunya. Tawa Tunho terhenti ketika kornea matanya menatap bahu Jaejoong yang berbuka. Kaos miliknya benar benar terlihat besar di atas tubuh Jaejoong dan bahu yang biasanya tertutup rapat itu dengan lancang menghoda lidah Yunho supaya mendaratkan jilatan jilatan kecil disana.

Yunho berdeham untuk membuat pikiranya kembali jernih. Ya Tuhan, ini berbahaya. Berdua dengan wanita itu di rumahnya bukanlah hal yang bagus, dan bagaimana bisa dirinya membawa Jaejoong kesini tanpa berpikir untuk mengembalikan wanita itu kerumahnya. Tidak! Ia tidak akan menyerahkan Jaejoong kepada Suaminya jika Hankyung masih tinggal disana.

"Hangatkan tubuhmu dengan ini." Pria itu berjalan begitu cepat menjauh dan membanting pintu kamar mandi setelah menaruh segelas susu panas di atas meja.

Kening Jaejoong mengeryit dengan sikap Yunho yang berubah ubah dari baik ke jutek. Pria yang aneh.

Kehangatan dari secangkir coklat panas dengan cepat menghangatkan tubuh Jaejoong. Dapur apartemen Yunho masih sama kecuali warna dinding yang sudah diganti. Jaejoong berjalan lebih keluar dan memperhatikan ruang tamu yang tidak jauh berbeda. Apakah Yunho memang tidak pernah mengganti perabotan rumahnya.

Pandanganya berhenti pada pintu kamar Yunho yang tertutup. Pintu itu selalu tertutup dan Jaejoong selalu menghindari kamar itu sejauh mungkin. Bunyi gemericik air dari kamar mandi menandakan Yunho masih betah disana. Seluruh tubuh Jaejoong meronta ingin istirahat namun tidak mungkin ia tidur di sofa bukan? Dengan pakaian seperti ini.

.

.

.

Panik melanda Yunho, pria itu membanting pintu kamarnya dan berlari keluar menerjang pintu utama seperti orang kesetanan. Langkah kakinya terhenti ketika melihat sepatu Jaejoong yang masih tertata rapi di sisi sepatu miliknya yang basah.

Usai mandi dan berganti pakaian ia tidak mendapatkan wanita itu dimana mana. Yunho menghembuskan nafas lega, ia lupa belum mencari Jaejoong di kamar wanita itu dan itulah yang ia lakukan detik berikutnya.

Jaejoong berbaring disana saat Yunho membuka pintu. Wanita itu berbaring nyaman di ranjang kecil yang yang cukup untuk satu orang dengan tubuh hampir tenggelam dengan pakaian Yunho yang kebesaran. Berjalan mendekati Jaejoong, kenangan itu kembali hadir dimana ia membuka pintu kamar ini dan mendapati kamar itu kosong. Sekarang Jaejoong disini, di hadapanya.

Yunho menyelipkan tanganya di belakang leher Jaejoong dengan tangan lain di bagian lutut kakinya. Membopong wanita yang melengguh pulas itu keluar kamar sempit untuk menuju kamar Yunho dengan ranjang lebih besar. Yunho tidak akan membiarkan Jaejoong tidur disana meski hanya untuk semalam.

Jaejoong melengguh mencari kenyamanan di atas bantal saat Yunho membaringkan wanita itu disana. Betapa cantiknya wajah damai Jaejoong jika diperhatikan seperti ini. Menarik selimut sampai bawah dagu Jaejoong, Yunho merunduk untuk mencium kening wanita yang sudah membuatnya gila. Hatinya berdesir nyaman ketika kulit lembut Jaejoong terasa di bawah kulitnya ia berlama lama mencecap bibir jaejoong sebelum meninggalkan wanita itu dan pergi ke kamar lama Jaejoong. Yunho lebih suka tidur di kamar itu ketimbang tidur di kamarnya yang besar, karena di kamar kecil itulah bagian dari Jaejoong tertinggal.

.

.

.

Aroma kopi menggelitik hidung dengan campuran aroma lain yang tidak asing meski terasa samar memenuhi apertemen Yunho. Pria itu membuka mata untuk mengerjap dan memperhatikan sekeliling, ia tidur di bekas kamar Jaejoong, lagi. Suara penggorengan menyadarkan Yunho sepenuhnya, ia melompat dari atas ranjang ke dapur dan menemukan Jaejoong disana.

Cubitan itu terasa nyaman dan memenyakitkan karena impianya terwujud, wanita itu disana, memasak sarapan untuknya seperti bayangan yang selalu Yunho harapkan selama sepuluh Tahun lamanya.

Jaejoong sibuk membalik telur dadar di atas wajah. Pikiranya berkecamuk dengan kejadian tadi malam, seingatnya ia tidur di kamar lama miliknya dan mendapati dirinya terbangun di kamar Yunho.

Demi Tuhan, kamar Yunho! Apakah pria itu mengangkatnya kesana? Dan kenapa ia tidak terbangun jika Yunho telah menyentuhnya, tidak biadanya ia tidur senyenyak seperti tadi malam.

Bulu roma di seluruh tubuh Jaejoong meremang bukan karena ngeri, sedikit kebahagiaan menyusup masuk kehatinya kala membayangkan Yunho memeluk tubuhnya dan ia tidak bisa membayangkan apa yang Yunho lakukan kepadanya ketika ia tertidur. Jaejoong merasa wajahnya memanas.

Sepasang lengan memeluknya dari belakang, Jaejoong membuka mata lebih lebar kala hembusan nafas hangat menyapa tengkuknya.

"Telur itu tidak bisa di makan kalau kau tidak segera mematikan kompornya, sayang." Panggilan manis itu sungguh indah untuk di dengar

Kemudian ia tersadar. Sial, Gosong!

Jaejoong memekik saat merasakan lengan Yunho telah memeluknya semakin erat, dan entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya dengan dada bidang Yunho menekan punggunya. "Yun, aku sedang memasak sarapan."

"Kau melamun." Mematikan kompor, Yunho mengangkat Jaejoong sampai tubuh wanita itu bersandar sepenuhnya kearah tubuhnya yang keras. Jaejoong merasakan sesuatu yang keras menusuk bokongnya yang hanya dilapisi kaos Yunho. Sesuatu yang terasa besar dan ,,, jangan katakan itu...

"Kau menggodaku." Pria itu menciumi sisi leher Jaejoong dari belakang setelah menyampirkan rambut panjang wanita itu ke sebelah bahunya.

Jantung Jaejoong berdegup tak karuan. Indranya bersorak gembira bercampur geli kala lidah Yunho menggoda telinga kananya sampai dirinya tidak dapat menghindari pekikan yang lolos dari bibirnya.

"Aku tidak menggodamu, aku hanya..."Kata kata itu harus terpotong kala bibir Yunho menyambar bibirnya dengan ciuman yang menuntut. Tubuhnya berutar, dan Ya Tuhan, Jaejoong merasakan dada keras Yunho menekan payudara miliknya yang tanpa bra. Pria itu memeluknya sedemikian rupa dan tak henti henti menciuminya dengan lapar seakan meneguk kenikmatan sebanyak yang ia hindari selama ini.

Yunho menggeram. Astaga ini gila, ia dapat merasakan payudara Jaejoong juga puting keras wanitanya yang mungil di dadanya yang kokoh. Dirinya hanya mencoba memeluk Jaejoong dan tidak tahu jika wanita itu tidak memakai apapun di dalam selembar kaos yang di kenakanya saat ini. Dan kemana celana wanita itu, Jaejoong hanya mengenakan kaos yang menutupi sebagian paha mulusnya dan Yunho tidak mampu untuk menahan diri lagi ketika pelukan itu menimbulkan kejantananya berdiri dengan hanya sentuhan bokong Jaejoong dan gesekan kecil ketika wanita itu melonjak kaget.

Kedua mata Yunho terbuka untuk menatap Jaejoong dan wajah wanita itu telah diselimuti oleh api gairah. "Aku menginginkanmu." bisiknya parau.

Dengan sekali sentak Yunho mengangkat tubuh wanita itu, melingkarkan kedua kakinya di pinggang. Karena terkejut lengan Jaejoong memeluk erat leher Yunho sekaligus demi mendapatkan ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya, Jaejoong tidak mengatakan apa apa ataupun menolak dan itu merupakan lampu hijau untuk Yunho membawanya masuk kedalam kamarnya.

Pintu terbanting tertutup dengan kedua sejoli itu masuk kedalam tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Yunho duduk di tepi ranjang bersama Jaejoong yang masih berada di pelukan, ciumanya beralih kesisi leher Jaejoong dengan senang hati wanita itu mendongak untuk memberikan akses mudah bagi Yunho, dan mendapatkan kenikmatan yang di janjikan pria itu.

Tangan Yunho menyelinap kebalik kaos Jaejoong untuk menyentuh kulit punggung telanjang wanita itu kemudian menjalar ke tulang rusuk, menimbulkan gemercik api semakin hebat di antara mereka. Dengan terburu buru ia menanggalkan satu satunya benda yang melekat pada tubuh Jaejoong dan mendapatkan tubuh wanita begitu indah.

Dingin yang dirasakan Jaejoong hanya sementara sampai jemari Yunho kembali mengirim kehangatan keseluruh kulit tubuhnya. Pria itu mundur hanya untuk menanggalkan kaos miliknya dan kini keduanya tidak memiliki apapun sebagai penghalang kecuali celana kain Yunho yang masih melekat. Yunho membenamkan wajahnya di antara payudara Jaejoong dan wanita itu memekik keras saat mulut dan lidah dingin Yunho menangkup salah satu putingnya memberinya gigitan kecil disana.

Astaga. Yunho menginginkan Jaejoong melingkupi dirinya saat ini, detik ini juga namun ia harus membuat wanita itu menikmati apa yang akan ia berikan. Lidahnya menggoda menuntut sampai suara pekikan wanita itu semakin menggema di kamarnya yang luas.

Mengangkat tubuh mereka berdua, Yunho menjatuhkan tubuh Jaejoong di ranjang, wanita itu terenggah dengan bibir bengkak akibat ciuman mereka tadi, Jaejoong terlentang tak berdaya dengan rambut panjangnya yang menyebar disekeliling tubuhnya yang telajang. Wanita itu bagai dewi cinta yang menjajikan kebahagiaan selamanya untuk Yunho dah tidak akan pernah yunjo sia siakan kebahagiaan yanh berada di depan matanya.

Jaejoong menatap Yunho yang menjulang tinggi di hadapanya, pria itu membungkuk untuk menciumnya dan kembali berkutat degan celana miliknya sebelum benda itu di terlempar asal dan matanya mendelik lebar menemukan kesejatian Yunho yang sudah sangat tegang. "Yunho,,,"

"Jangan," Menurunkan tubuhnya di atas tubuh Jaejoong, ia mencium bibir yang sudah bengkak itu semakin dalam. "kita tidak bisa mundur lagi, aku menginginkanmu dan kau juga menginginkanku." Dan itu benar. Jaejoong menginginkanya dan demi Tuhan, ia sudah berumur dua puluh sembilan tahun dan belum pernah melakukan seperti apa yang akan dilakukan Yunho kepadanya saat ini.

Ia menginginkan ini, tidak peduli dengan konsekuensi yang akan mereka hadapi nanti. Tangan Jaejoong terulur untuk menarik Yunho kembali kepadanya. Tubuh pria itu terasa berat di atas tubuhnya namun ia menyukai itu, tubuh mereka benar benar menempel dan Jaejoong mencengkeram kedua bahu Yunho ketika pria itu menunduk untuk kembali menikmati payudaranya yang berdenyut nyeri.

Astaga, ini gila. Sesuatu berdenyut di antara paha Jaejoong saat pria itu kembali menjajarkan tubuhnya. "Apakah rasanya akan sama ketika kita melakukanya dan ketika Hankyung menyentuhmu, ataukah kau membayangkan dia adalah aku?"

Pikiran Jaejoong kembali jernih karena pertanyaan yang di lontarkan Yunho barusan. Oh, apa yang sudah ia lakukan. Jaejoong bertumpu pada lenganya mencoba untuk bangkit dan mendorong rubuh Yunho menjauh. "Ini salah."

Yunho kembali menerjang Jaejoong sampai wanita itu berbaring kembali diranjang. "Tidak ada yang salah, kita saling menginginkan dan kau tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kita lakukan barusan."

Jaejoong sudah akan menjawab ketika terdengar bell berbunyi. Entah ia harus bersyukur atau merutuk tamu yang datang karena Yunho hadir di saat yang tidak tepat, tetapi Yunho benar benar mengumpat kasar dan mengutuk siapapun yang datang di pagi seperti ini.

Siapa lagi kalau bukan kedua teman menyebalkan itu. Yunho berjanji akan mengusir mereka dan melanjutkan ini. "Jangan bergerak dan jangan mencoba memakai pakaianmu, aku akan segera kembali." Pria itu bangkit dan menyambar celana kolornya dengan marah. Meninggalkan Jaejoong dengan pikiran berkecamuk tidak jelas dengan apa yang barusan mereka lakukan. Astaga, betapa bodoh dirinya karena membiarkan nafsu mengalahkan akal sehatnya.

Ya Tuhan, apa yang barusan mereka lakukan. Dan ia gila karena dirinya menginginkan Yunho sama besarnya seperti sepuluh tahun lalu.

Yunho sudah siap akan membentak siapapun orang di balik pintu Apartemen, tetapi ia menelan kembali kata katanya ketika menemukan wanita yang sedang hamil tua berdiri di hadapanya dengan kedua matanya yang sembab karena tangis.

.

.

.

~TBC~

Ok... Maaf aku potong sampai sini. Jangan kutuk author kkkk *ketawa nista*

Ada yang bilang NC di setiap ff Author gx Hot. Sini aku tambahin cabe biar makin tambah Hot.

Ini bukan NC hanya akan NC ~di cakar jiji~

Semoga suka. Thanks buat yang udah vote dan RCL maaf gak bisa balas satu satu. Tapi Sherry baca kok. Dan sherry sangat senang ada yang suka ff gaje yang makin gak jelan ini.

Menerima masukan lagi lagi dan lagi. Kritik dan saran di buka Umum No Bash.

PENGUMUMAN kami para Author kece(?) membawa Yunjae kedalam negeri dongeng. Dan di rangkum dalam sebuah buku oleh sepuluh Author kece lainya.

Judul : Yunjae Fairy Tales (Hard Cover)

Author : Nara Yuuki, Jaeho Love, Gothic Lolita, Misscelyunjae, Sherry Kim, My Beauty Jeje, Snow Queen BabyBoo, Yoori Michiyo, KimRyan 2124, dan Puan Hujan.

Harga : 109.000

Bonus : Tas lucu, Pin/ Ganci

Halaman : -/+ 450

Sinopsis : Menyusul

Paket souvenir : 135000 -edisi terbatas-

Harga belum termasuk ongkir.

minat hubungi Author.

Fb : Sherry kim

Line :Ziyakim

BBM :

Batas PO 10 November

Membeli buku sudah termasuk donasi berbagi sebesar 5000 untuk mereka yang kurang mampu dan sekolah sekolah yang membutuhkan.