Helaan nafas terdengar dari Naruto yang saat itu tengah terbaring memandang langit-langit kamarnya. Lampu dari ponsel yang berada disisi kanannya baru saja mati setelah menampilkan pesan dari seseorang. Sebuah pesan yang selalu masuk setiap hari dan selalu dinanti oleh sang pemilik.
Dengan tangan yang dijadikan bantalan, Naruto memandang kejauhan. Membayangkan sosok yang entah sejak kapan bisa membuatnya serindu ini.
"Sebaiknya aku keluar." Ucapan itu langsung ia ikuti dengan gerakan tubuhnya yang turun dari ranjang. Berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar itu. Mungkin duduk di teras samping rumah sambil menikmati angin malam bukanlah ide yang buruk, lagipula belum terlalu malam, baru jam sepuluh saja.
Tap
Langkahnya terhenti saat melihat lampu dapur menyala, dengan sedikit keingintahuan, Naruto merubah arah langkahnya.
"Hg?" Kakashi menoleh dan berkedip terkejut akan kehadiran Naruto yang terasa tiba-tiba. Keduanya hanya saling diam dengan mata yang saling mengamati. "Kau mau… susu coklat?" tawar Kakashi sembari mengangkat segelas susu yang ada di tangannya.
Alis Naruto naik sebelah saat tak hanya segelas susu coklat itu yang masuk pandangannya. "Ayah sering makan di jam segini?"
Kakashi mengalihkan pandangannya dan mengambil sepasang sumpit dari tempatnya, "Hanya terkadang jika aku ingin. Mau ditambah ramen?" tawarnya lagi yang kali itu mengangkat cup ramen panas di tangan kanan dan segelas cucu coklat di tangan kiri.
Naruto bahkan tidak tau apa rasa dari gabungan ramen dan susu?
.
.
Lean On You
Naruto © Kishimoto Masasi
Naruto x Hinata
.
.
The Last Chap : Memilikimu
.
.
Sluuurrppp
Kakashi dan Naruto menghirup bersamaan kuah ramen terakhir di cup mereka. Langit malam terabaikan karena kehangatan ramen itu, bahkan angin yang berhembus seolah tak memiliki efek. Di teras samping rumah, keduanya duduk dengan menikmati ramen dan susu coklat tanpa banyak pembicaraan. Walau begitu, keduanya merasa lebih sedikit lega dan cukup akan waktu bersama itu.
Sudah dua hari Naruto tinggal disana, tapi tak banyak hal yang bisa dia bicarakan. Niatnya untuk memperbaiki hubungan terasa lebih sulit dilakukan dari khayalannya. Tak banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama, jadi untuk sekarang, mereka merasa senang bisa menikmati waktu malam bersama meski tak ada yang mau mengakuinya.
"Besok aku akan pulang."
Kakashi menunduk menatap cup mie yang kosong di tangannya. "Kau tidak ingin tinggal lebih lama?"
"Masih ada banyak hal yang harus kuurus di Konoha."
Jawaban singkat dan cepat dari Naruto membuat Kakashi hanya bisa diam. Dia menaruh cup mie itu di sampingnya dan mendongak menatap langit yang terlihat lebih cerah dari malam kemarin.
Keduanya diam, entah canggung atau ingin menikmati kesunyian malam itu.
"Dulu kau sangat suka makan ramen dengan minumnya susu coklat," jauh pandangan pria paruh baya itu menerawang. "Kau akan langsung berlari kearahku saat aku pulang agar segera memasak ramen dan makan bersama. Saking sering dan sukanya, aku terkadang marah karena itu tidak sehat untukmu. Jika aku marah, kau akan merajuk dengan ekspresimu yang lucu. Tentu saja aku tidak akan tahan melihat ekspresi itu, dan saat aku setuju untuk memenuhi keinginanmu, kau akan melebarkan senyumanmu sambil melompat ke gendonganku." Senyum tipis hadir di wajahnya menemani sebaris ingatan yang sejak lama ia simpan.
Bukannya Naruto tidak tahu atau lupa akan hal itu, hanya saja sulit baginya mengingat hal-hal yang indah dengan orang yang bahkan tak mampu ia ajak bicara. Pandangan Naruto tertuju pada cup kosong di sampingnya, sekarang mungkin dia mengerti kenapa Ayahnya menggabungkan ramen dan susu. Itu adalah makanan kesukaannya dulu yang mungkin bisa menjadi pengobat rindu Kakashi padanya.
"Maaf,"
Satu kata itu adalah hal yang dihindari oleh Naruto sebenarnya. Dia tahu persis arah pembicaraan sang Ayah jika kata itu sudah keluar. Tapi rasanya Naruto juga tidak ingin lagi mundur dan menghindar.
"Maaf atas yang terjadi dulu." Suara Kakashi penuh kelirihan. "Kau dulu adalah anak yang aktif, semangat, hangat, dan ceria. Tapi karena kesalahanku… semua itu menghilang darimu. Kesalahanku telah merebut keceriaanmu, kesalahanku telah mengurung kebebasanmu, dan kesalahanku juga yang telah menghapus rasa social darimu."
Kakashi menarik nafasnya sejenak, tangannya terkepal mengingat kesalahan yang telah membebaninya selama 20 tahun ini. Selalu dan selalu Kakashi ingin mengucap kata itu berulang kali, tapi Naruto selalu memandangnya dingin dan berakhir meninggalkannya. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat baginya untuk meminta maaf. Kakashi siap, jika memang Naruto mengeluarkan semua rasa benci dan amarahnya.
"Aku sudah berjanji pada kedua orang tuamu untuk selalu menjagamu, tapi yang kulakukan adalah merenggut semua masa emasmu. Tentu aku harus bertanggung jawab atas semua penderitaanmu, tapi aku tidak mengerti harus apa? Aku memang bodoh, Naruto. Maafkan aku."
Sedetik pun, Kakashi tak mampu memandang sang Putra yang hanya diam mendengar pengakuannya. Sejujurnya, Kakashi akan lebih senang jika Naruto menyalahkannya dan memarahinya.
"Ayah," bahkan setelah pengakuannya, Naruto masih mau memanggilnya dengan sebutan itu. Bolehkah kali ini Kakashi benar-benar berharap? "Sebenarnya… aku sudah menemukan seseorang yang ingin kujadikan milikku."
Deg
Mata Kakashi melebar. Dengan pelan dia menoleh dan menatap tak percaya wajah Putranya yang memandang langit dengan ekspresi yang begitu tenang. Terlihat senyum tipis di wajah Naruto yang sudah lama tak dilihat oleh Kakashi. "S-seseorang… maksudmu?"
"Seorang wanita… yang ingin kujadikan milikku."
Apa Kakashi sedang bermimpi? Jelas Kakashi masih ingat disaat dulu Naruto mengamuk setiap kali ada perawat perempuan yang ingin memeriksanya. Atau setiap kali Naruto memandang jijik setiap perempuan yang ada di hadapannya. Bahkan Naruto memilih SMA khusus laki-laki dan pergi dari rumah karena tidak ingin bertemu dengan banyak perempuan. Dengan kondisi Naruto yang seperti itu… dia bilang sudah memiliki seorang… kekasih? Sebut saja begitu.
Naruto melebarkan senyumnya dan merubah arah pandangnya. Keadaan gelap taman di depannya menjadi tujuannya, meski tak terlalu gelap karena lampu taman yang samar menerangi. "Di kondisiku yang buruk, di saat aku tidak bisa mendekati perempuan manapun, di saat aku berpikir untuk hidup tanpa perempuan… dia datang, masuk dalam kehidupanku, lalu mendekatiku, menjadi satu-satunya wanita yang mampu meraihku tanpa menimbulkan keraguan di hatiku."
Helaan nafas terdengar darinya kala pertemuan pertamanya dengan Hinata kembali terlintas. Mungkin saat itu Naruto masih merasakan takut, jijik, dan tidak suka, tapi Naruto akui tak ada sedikit pun keraguan di hati Naruto untuk menolong wanita itu. Meminjamkannya sebuah jaket dan mengantarnya pulang dengan motornya. Saat itu, Naruto hanya berpikir agar wanita itu tidak menangis dan bisa secepatnya dalam kondisi yang baik.
"Naruto…"
"Kesalahan yang Ayah buat mungkin memang merenggut banyak hal dariku. Tapi satu hal yang aku sadari, Ayah." Naruto mempertemukan tatapan mereka. "Aku ini adalah seorang laki-laki yang bodoh dan tidak peka. Jika saja hal itu tidak pernah terjadi padaku, mungkin saja aku bisa mendekati banyak perempuan dengan mudah. Dan diantara banyaknya perempuan itu, mungkin akulah yang membuat kesalahan karena tidak bisa menyadari kehadirannya.
"Anggaplah karena aku berada di tengah kegelapan, aku bisa melihat permata yang bersinar dengan mudah. Jika saja aku berada di tengah lautan permata, aku mungkin tidak akan pernah bisa menyadari mana permata yang terbaik. Aku pernah dengar jika selalu ada hal positif dari sesuatu yang negative, dari itu, aku anggap pertemuanku dengannya adalah hal positif dari hal negative itu.
"Aku selalu merasa jijik memandang setiap perempuan, tapi saat itu aku tidak merasa jijik melihatnya yang menangis di semak-semak rerumputan. Aku selalu merasa takut melihat setiap perempuan, tapi saat itu aku tidak takut memboncengnya di belakangku." Kembali Naruto menatap dalam Ayahnya, "Jika saja saat itu aku tidak dalam kondisi yang buruk, apa Ayah yakin aku bisa menyadari betapa berartinya kehadiran wanita itu bagiku?"
Mulut Kakashi terbuka tapi tidak bisa terjawab. Pria itu mengerti apa yang di katakan sang Putra, hanya saja rasanya dia masih tidak percaya. Kakashi tidak pernah bermimpi jika akan ada seorang wanita yang bisa bersama Putranya, dan pemikiran itulah yang membuatnya tenggelam dalam rasa bersalah. Mendengar cerita Naruto, entah kenapa beban yang dia rasakan selama ini seolah berkurang dan membuatnya lebih lega.
Melihat Kakashi yang tak mampu bicara dengan sorot mata kelegaan, Naruto ikut merasa lega. Awalnya Naruto belum ingin menceritakan tentang Hinata, hanya saja, jika memang hal itu bisa membuat Kakashi lebih lega, maka Naruto tidak salah mengambil keputusan. "Aku sudah baik-baik saja sekarang, Ayah. Jadi jangan menyalahkan dirimu lagi. Tidak perlu meminta maaf, karena kalau Ayah mengucapkan itu, berarti aku juga perlu meminta maaf karena telah membuat Ayah merasa bersalah bertahun-tahun. Aku menghindar dan membuat hubungan kita menjauh. Jika Ayah salah, maka aku juga salah. Jadi bukankah lebih baik melupakan semua itu? Keputusanku untuk pulang kesini dan merajut kembali hubungan kita adalah untuk melupakan masa lalu, jadi tidak perlu memikirkannya lagi, oke?"
Kakashi mengalihkan pandangannya dan menarik nafas dalam. Dalam hati dia bertanya, sejak kapan dia menjadi pria yang cengeng seperti ini? Tapi sungguh, Kakashi tidak bisa menyangkal perasaan hangat dan lega di hatinya mengetahui jika Putranya sudah dewasa dan dalam keadaan baik-baik saja. Hal itu adalah hal yang merupakan impian semua orang tua… kan?
Anggukan singkat Kakashi berikan, "Baiklah," dia memandang Putranya dengan senyuman. "Kita lupakan hal pahit di masa lalu."
Kalimat itu membuat senyum Naruto semakin melebar.
"Lalu… kenapa kau tidak membawa wanita itu kesini?"
Pertanyaan sederhana yang memudarkan senyum lebar yang baru saja tercipta. "Dia pergi." alis Kakashi naik sebelah, membuat Naruto meluruskan tatapannya ke depan. "Dia pergi di hari yang sama aku pulang kesini."
"Kenapa kau tidak mencarinya?" yang benar saja, baru beberapa menit lalu Naruto bercerita jika sudah memiliki seseorang, sekarang orang itu pergi dan Naruto terlihat santai saja?
"Aku hanya memberinya waktu karena aku juga perlu waktu. Kepergiannya membuatku kehilangan dan itulah yang membuatku menyadari betapa aku menginginkan keluarga. Aku memberinya waktu sembari aku pulang kesini untuk menemuimu." Naruto menatap Kakashi dengan senyum yang menenangkan. "Ayah tenang saja, aku tidak akan melepaskannya. Dan jika aku sudah mendapatkannya, aku berharap Ayah bisa datang di pernikahan kami."
Dan Kakashi hanya bisa melongo mendengar permintaan yang entah senang atau sangat mendadak itu…
Tapi setidaknya… satu hal sudah menjadi lebih baik.
.
.
.
Bruuummm…
Suara kendaraan yang saling melintas di jalan raya pusat Konoha terdengar begitu berisik, tapi siapa yang mau menyalahkan siapa? Toh itulah aktifitas sehari-hari jalan raya di sana, kecuali mungkin jika sedang demo.
Di antara puluhan kendaraan di jalanan itu, ada satu mobil berwarna hijau yang melaju tak kalah cepat dari yang lain. Sesuatu membuatnya ingin segera sampai tujuan dan melaksanakan niat membunuhnya yang sudah tersimpan sejak beberapa hari yang lalu.
Sebut saja jika pria Nara yang dimaksud itu, akan membantai atasan dan sahabatnya sendiri karena telah berani meninggalkannya dengan setumpuk pekerjaan dan tanpa satu pun kabar.
Saat informasi jika sahabatnya itu telah kembali tadi malam dan masih belum masuk kantor, Nara Shikamaru sang bawahan baik hati berniat setulus jiwa raga untuk menjemput atasannya itu. Mungkin jika dia bisa menggeplak beberapa kali kepala bersurai kuning itu, dia akan puas. Hm, kapan lagi menggeplak kepala atasan?
Mobil Shikamaru mulai melambat saat memasuki belokan kompleks dan berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang Shikamaru yakini jika sekarang sudah berisi seseorang, tidak seperti empat hari terakhir saat dia datang dan hanya mendapat rumah kosong yang untungnya tidak angker.
Dengan cepat Shikamaru berjalan menuju rumah itu, melewati pagar dan langsung melangkah menuju depan pintu.
Ting tong
Satu kali ia menekan bel tanpa perlu repot mencari kunci cadangan yang ia miliki dan lewat jalan belakang.
Ting tong ting tong
Dua kali dia menekan bel tanpa perlu takut pada aksi sang tuan rumah yang akan meneriakinya karena dia ingin melakukan hal itu lebih dulu.
Ting tong ting tong ting tong ting –t…
Cklek
..tong
". . ."
". . ."
Sesungguhnya ingin sekali Shikamaru berteriak pada wajah di depannya yang menatapnya dengan ekspresi polos yang datar.
"Oh hai, Uzumaki Naruto, sepertinya kau baru kembali dari liburan ya?"
Naruto berkedip singkat sebelum berucap, "Maaf, tidak terima tamu."
Blam…
Niatnya ingin menutup pintu itu tapi dengan cepat Shikamaru menahannya dengan seringai lebar di wajahnya, membuat Naruto menghela nafas dan membiarkan pria nanas itu masuk. Naruto lebih dulu berjalan masuk dan kembali ke posisinya semula duduk di sofa depan tv.
"Ck," Shikamaru berdecak melihat Naruto yang seolah cuek saja atas kemarahannya. Memilih mengubur dalam emosinya, Shikamaru menghempaskan tubuhnya ke sofa lain yang ada di ruangan itu. "Jadi… bisa kau jelaskan kemana kau pergi empat hari ini dan meninggalkan setumpuk pekerjaan tanpa kabar?"
Naruto masih berusaha memfokuskan pandangannya pada tv. Bukannya Naruto tidak tahu jika sahabatnya itu akan marah, Naruto sadar dan jelas ingat pekerjaan yang ia tinggalkan saat tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang ke Iwa. Hanya saja, disaat hati sedang galau, siapa yang mau perduli dengan Shikamaru yang dilanda andilau?
Seperti yang Naruto katakan pada Kakashi, dia pulang ke Konoha di hari ke tiga pada sore hari, dan dia tiba di Konoha jam sembilan tadi malam. Inginnya sih Naruto masuk kantor, tapi entah kenapa dia ingin mendapatkan perhatian lebih dari sahabatnya itu, makanya dia sengaja untuk kembali berlibur.
"Hah," Shikamaru menghela nafas saat tidak mendapat jawaban dari Naruto. "Aku serius Naruto. Kau kemana?" tanyanya kali ini bukan lagi dengan nada marah bercanda, tapi serius.
"Aku pulang ke Iwa menemui Ayahku."
". . ."
". . ."
"Hah?" Shikamaru cengok. "Kau menemui Ayahmu? Maksudmu Kakashi-san? Tapi bukankah selama ini kau tidak ingin bertemu dengannya, lalu kenapa?"
Naruto menarik nafas dan mengalihkan pandangannya, "Aku hanya sadar jika aku menginginkan sebuah keluarga. Bukan kesalahan jika aku memperbaiki hubungan dengan keluarga terakhir yang ku miliki, bukan?"
Shikamaru tertegun. Dia tidak pernah menyangka jika akhirnya Naruto berniat memperbaiki hubungan yang sudah hancur selama 20 tahun itu. Dan pengakuan itu melenyapkan amarahnya tanpa sisa. "Tapi… kenapa tiba-tiba?" Shikamaru kembali bertanya sembari meraih segelas kopi milik Naruto.
Pria Nara itu meneguk singkat kopi itu dan mengangkat alis saat Naruto tidak menjawab. Apa alasannya terlalu privacy? "Kemana Hyuuga? Apa dia ikut pergi bersamamu? Dia tidak masuk kerja sejak kau juga menghilang." Berpikir jika bahasan mereka sebelumnya terlalu privacy, Shikamaru merubah topic.
"Dia pergi… di hari aku pulang ke Iwa."
Tatapan bingung tanpa kata dari Shikamaru jelas menuntut sebuah kejelasan.
Naruto menarik nafas dan menyandarkan tubuhnya, kepalanya mendongak dengan mata terpejam. "Hinata pergi beberapa jam setelah kami melakukannya."
Shikamaru semakin tidak mengerti. "'Hinata'? Bukan 'Hyuuga'?" ulangnya lagi mencoba membuat Naruto sadar akan penggilannya yang berbeda.
"Ya, Hinata." Jawab Naruto dengan lebih jelas.
Dengan masih kurang fokus, Shikamaru kembali bertanya, "Apa yang kau maksud 'melakukannya'? Melakukan apa?"
Mata Naruto terbuka dan dia menoleh, menatap tak percaya kelambatan daya tangkap Shikamaru kali ini. Bukankah sahabatnya itu cerdas yang mendekati jenius? Apa tadi pagi Ino memukul kepala surai nanas itu dengan keras?
"Kau benar-benar tidak mengerti?" Shikamaru menggeleng akan pertanyaan itu sambil meminum kembali kopi di tangannya. "Kami melakukannya.. mela.. melakukan.." Naruto ragu sesaat ketika pandangan penasaran Shika tertuju jelas padanya. "Kami sudah melakukan hubungan di ranjang."
Brrruuuusssshhh… klontang.. prang….
Naruto hanya menghela nafas mendapati satu gelasnya pecah dan lantainya kotor penuh kopi.
"Hah?" dan apa-apaan respon itu? Naruto yakin kepala Shikamaru benar-benar terbentur. "Tung –maks –kau…" Shikamaru masih setengah linglung dengan fakta itu. "Maksudmu… kau dan dia…"
"Iya, kami sudah melakukannya." Potong Naruto yang tak tahan menunggu penyelesaikan pertanyaan itu.
"Kalian mela… KALIAN MELAKUKANNYA?"
.
.
.
"Haaaccciiimmm…"
"Hinata, kau baik-baik saja?"
Hinata menoleh dan tersenyum lalu mengangguk akan pertanyaan Matsuri. "Tidak apa, aku hanya bersin saja." Jawabnya singkat dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedang membereskan salah satu meja di café tempat ia bekerja sekarang.
Melihat Matsuri yang sudah pergi ke dapur, Hinata menghela nafas singkat. "Kenapa rasanya ada yang sedang membicarakan aku ya?" gumamnya sambil memandang ke luar jendela. Dia mengerutkan keningnya saat memandang seseorang yang berada di toko buku sebrang jalan. Seseorang yang entah sejak kapan cukup sering Hinata lihat dan cukup mencurigakan.
"Perasaanku saja atau dia memang sedang mengawasiku?" Hinata segera menepis pemikirannya. Kenapa juga ada yang harus mengawasinya? Dia jelas bukan artis atau penjahat yang perlu di awasi.
"Hinata, bisakah kau bantu aku disini?"
"Ya."
.
.
.
"Jadi," Naruto memandang malas pada Shikamaru yang masih terlihat shock setelah dia menceritakan semuanya. Apa memang semengejutkan itu? Jika kemarin dia menceritakan hal yang sama dengan Kakashi, apa mungkin Ayahnya itu akan jantungan? "Aku tidak pernah berpikir hubungan kalian sudah sejauh itu."
Sapphire biru itu memutar bosan, merasa kesal dengan sikap Shikamaru yang dia rasa kali ini cukup berlebihan. Ya, walau Naruto sendiri merasa terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"Naruto," pria itu melirik, "Kau… mencintainya?"
Satu pertanyaan yang bahkan belum pernah Naruto utarakan secara langsung. Meski mungkin dia sudah menyadari perasaannya, tapi hal-hal seperti itu masih baru baginya meski sudah berusia 25 tahun.
Shikamaru berdecak karena lagi-lagi Naruto menolak untuk menjawab pertanyaannya. "Setidaknya jawab kemana Hyuuga pergi? Dan kenapa kau tidak mencarinya?"
Naruto menarik nafas sejenak sembari mengingat pagi yang baginya menyakitkan itu. Entah kenapa semua hal buruk terjadi padanya di setiap pagi. Dulu dia tersakiti di pagi hari, dan sekarang dia di tinggalkan di pagi hari. "Saat aku melihatnya pergi, aku tidak bisa bergerak untuk mencegahnya. Mungkin dia menyesal melakukan itu denganku dan memilih pergi."
"Jadi kau melepaskannya begitu saja? Jangan bercanda, Naruto!"
"Aku hanya memberinya waktu, Shikamaru." Naruto menyela cepat dengan sedikit menaikkan suaranya, "Aku sendiri tidak tahu harus bersikap apa dan bicara apa waktu itu. Kurasa aku juga perlu waktu untuk meminta maaf dan membicarakan hal itu baik-baik. Apa itu salah?"
Shikamaru menelan ludahnya terdiam, merasa jika mungkin Naruto lebih tahu mana yang terbaik. "Lalu apa rencanamu? Bagaimana jika dia pergi jauh?"
"Dia di tempat temannya di jalan Sarutobi dan bekerja di café dekat situ."
Shikamaru melirik dan mengernyit. "Darimana kau tahu dia disana?" tanpa menjawab, Naruto kembali memfokuskan pandangannya ke tv. "Huh, jangan bilang kau mengirim orang untuk mengawasinya disaat kau bilang ingin memberinya waktu?!"
"Memang kenapa? Aku tidak ingin kehilangan lagi." jawab Naruto dengan nada layaknya anak kecil yang ketahuan makan coklat meski sudah di larang.
Shikamaru mendengus tak percaya sembari sebaris senyum muncul di bibirnya. Meski wajah pria Uzumaki itu selalu datar, tapi Shikamaru selalu bisa menebak apa perasaan sahabatnya itu. Seperti saat ini, walau wajah Naruto datar, tapi Shikamaru jelas melihat harapan dan semangat baru disana. 'Syukurlah kau sudah sembuh sekarang. Aku harap kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu lagi.' doanya dalam hati.
"Hg?" Shikamaru tersentak akan satu hal. "Naruto, kau ingat perempuan yang kau tolong lima tahun yang lalu itu?"
Naruto mengerutkan keningnya sambil melirik tanpa suara.
"Perempuan yang kau tolong waktu itu berhasil membuatmu nyaman, dan Hyuuga juga berhasil membuatmu nyaman. Apa mungkin Hyuuga adalah perempuan yang waktu itu kau tolong?" ia ingin memberitahu Naruto secara tidak langsung meski Shikamaru sudah mengetahui jelas kebenarannya.
Dengan malas Naruto kembali menatap layar tv. Tapi Shikamaru tahu maksud tatapan itu. "Kau sudah tahu kalau Hyuuga adalah perempuan itu?"
"Mana mungkin aku bisa melupakan perempuan pertama yang bisa dekat denganku?"
"Lalu kenapa kau pura-pura tidak mengenalnya?" suaranya naik, Shikamaru benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran sahabatnya satu itu. Untuk apa dia mencari segala informasi itu jika Naruto sendiri sebenarnya ingat?
"Shikamaru, apa kau menerimanya menjadi sekretarisku karena sudah mengetahui hal itu?"
Shikamaru menggeleng. "Aku menerimanya karena sikap dan penampilannya yang menurutku paling aman untukmu."
"Jadi kau mencarikanku sekretaris tanpa melihat kemampuannya?" mata Naruto menyipit kesal. Yang benar saja, kondisinya memang penting tapi apa kondisi perusahaan tidak Shikamaru pikirkan?
Ah, Naruto, andai kau tahu jika Shikamaru rela kehilangan proyek jutaan dolar jika itu tentangmu.
Shikamaru pura-pura innocent. "Ehem, saat aku melihatmu keluar dari butik bersamanya dan sikapmu yang terlihat lebih tenang bersamanya, disaat itulah aku curiga dengan perempuan yang kau ceritakan padaku. Jadi aku mencaritahu tentang, dan ya, aku mendapatkan kalau perempuan yang kau tolong lima tahun lalu adalah Hyuuga Hinata. Hanya kesimpulan saja sebenarnya, tapi sekarang aku yakin jika itu benar."
"Wajahnya pucat dan dia tegang saat kau memperkenalkan kami. Lagipula setelah aku mengantarnya pulang waktu itu, dia langsung pindah kampus. Kupikir itu karena dia tidak ingin mengingat masa lalu. Setiap orang pasti mempunyai masa lalu yang ingin dia sembunyikan dan dia hapus, benarkan?"
Itu adalah sesuatu yang juga Naruto tujukan untuk dirinya sendiri, dan Shikamaru bisa mengerti. Sebenarnya itulah yang membuat Shikamaru masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Naruto yang dia kenal sebelumnya adalah seorang pria yang ingin menghapus masa lalu, tapi Naruto yang ada di hadapannya sekarang adalah seorang pria yang dengan santai menceritakan masa lalunya.
Lagi-lagi Shikamaru hanya bisa tersenyum senang dengan perkembangan pesat Naruto, selalu dan selalu Shika berharap hal yang terbaik untuk sahabat pirangnya itu. Seperti yang pernah dia katakan, penderitaan yang terlalu lama tidak cocok untuk orang baik seperti Naruto.
.
.
.
Kamar itu terlihat sepi tapi bukan berarti tidak ada kegiatan disana. Seorang pria berambut pirang baru saja selesai memakai kaosnya lalu meraih jaket kulit berwarna coklat dari atas ranjang. Dia berjalan menuju cermin sambil memakai jaket itu dalam diam. Selanjutnya dia mematri penampilannya yang terlihat rapi meski tidak mencolok.
Dia mengangguk saat merasa pas dengan hal itu, "Tunggulah." Gumamnya singkat lalu berjalan berbalik arah menuju pintu. Kunci mobil yang berada di atas nakas dekat pintu dia sambar dengan cepat sekali lewat tanpa melirik sedikit pun. Dia siap… menjemput wanitanya.
.
.
"Hah.." Hinata mendudukkan dirinya di kursi di ruangan pegawai itu sambil memijit pelipisnya. Mungkin karena terlalu lelah, membuat kepalanya sedikit pusing. Jika diingat, dia memang menyibukkan dirinya seminggu ini untuk melupakan sesuatu yang bahkan selalu terbayang di kepalanya. Dan jelas usahanya tampak sangat sia-sia.
Mata peraknya beralih menatap pemandangan luar dari jendela. Hari sudah gelap, sudah jam delapan malam, satu jam lagi café tempatnya bekerja akan tutup. Pulang dan mandi air hangat mungkin akan merilekskan pikiran dan juga tubuh. Hinata tersenyum membayangkannya.
"Hinata?" Matsuri memanggil saat melihat rekan dan sahabatnya itu duduk melamun. "Apa kau lelah? kulihat tadi kau memegang kepalamu terus."
Menggeleng pelan, Hinata kembali berdiri. "Hanya pusing sedikit, tidak masalah kok, sebentar lagi juga hilang."
"Kau yakin? Kau sebaiknya istirahat saja disini."
"Tidak apa, Matsuri. Sebentar lagi kita tutup kan? Aku akan bekerja sedikit lagi lalu setelah itu baru mulai membereskan dapur."
"Hah, kau ini."
Hinata hanya tersenyum melihat raut menyerah Matsuri dalam membujuknya. Sudah hampir setahun mereka kenal tapi Matsuri belum juga bisa mengalahkan Hinata kecuali tentang lamaran pekerjaan waktu itu. Matsurilah yang memaksanya melamar di Miku's Corp tanpa harus mengkhawatirkan banyak hal. Matsuri juga yang meminjamkannya pakaian untuk sesi wawancara. Setelah semua itu, mereka berpisah saat apartemen itu di jual.
.
Hinata melangkah menuju tempat pemesanan dan melihat kertas-kertas kecil yang menjadi pesanan pelanggan. "Hinata," dia menoleh saat seseorang memanggilnya. "Bisakah kau antarkan minuman ini ke meja nomor 8?"
Dengan senyuman Hinata mengangguk dan meraih nampan yang disodorkan padanya. "Sip." Jawabannya singkat lalu mulai melangkah ke luar.
Dengan langkah pasti dia menuju satu arah dimana meja nomor 8 terletak, jelas dia sudah hafal tata letak café itu meski baru seminggu bekerja.
Seseorang yang duduk disana dengan wajah yang tertutup majalah bisnis membuat Hinata semakin mendekat. "Maaf Tuan, ini pesanan Anda." Dengan hati-hati Hinata menaruh gelas minuman itu keatas meja. "Silahkan dinik –"
Deg
Hinata terdiam seketika saat majalah bisnis yang tadi dibaca orang itu turun dan menunjukkan wajah dari sang pelanggan. Seorang pria yang dia coba lupakan seminggu ini. Pria yang masuk dalam daftar orang penting di hatinya dan seseorang yang telah… mengambil cintanya.
Dia hanya bisa terdiam di tempat, menelan ludah pun terasa menyakitkan di tenggorokkannya yang kering. Hinata tidak mengerti harus apa dan bagaimana? Apalagi saat pandangan sapphire biru disana begitu lurus menatap matanya, membuat Hinata mengingat bagaimana biru dan menghanyutkannya bola mata itu ketika dia memandangnya dalam jarak dekat penuh desah nafas menghangatkan.
Semenit kemudian, Hinata mulai melangkah mundur dengan pelan. Pria yang hanya menatapnya dalam diam itu tidak melakukan apapun selain menatap dengan aura menguasai bagi Hinata. Kaki mungilnya yang bergetar kembali melangkah mundur dua langkah… selanjutnya dia langsung berbalik dan setengah berlari melangkah menuju ruangan pagawai yang ada di belakang.
Meninggalkan seorang pria yang masih menatap kepergiannya tanpa ekspresi.
.
Brak.. tap tap..
Hinata segera mendudukkan dirinya kembali di kursi yang tadi ia duduki, matanya terpejam mencoba tenang.
"Ada apa, Hinata? Kau benar-benar sakit? Wajahmu pucat."
Perkataan Matsuri menyentakkannya dan membuatnya mendongak, menatap wajah khawatir Matsuri. Dengan lihat Hinata menarik nafasnya dan memasang senyum di wajah. "Itu… tadi kepalaku sedikit pusing lalu hampir jatuh di kamar mandi. Makanya aku kembali lagi kesini."
"Astaga! Sudah kubilang kau istirahat saja." Matsuri langsung menghampirinya dan memegang keningnya. "Tidak terlalu panas sih. Tapi pokoknya kau istirahat saja. Sudah malam begini biasanya tidak terlalu ramai lagi. Apa kau perlu obat?" Hinata menggeleng singkat. "Baiklah, istirahat saja disini, oke?"
Hinata mengangguk nurut. Melihat itu, Matsuri kembali berdiri dan keluar dari ruangan.
Kedua telapak tangan itu langsung menutup wajahnya begitu Matsuri keluar. "Kenapa dia ada disini?" gumamnya lirih.
.
.
.
Suasana café masih terlihat cukup ramai meski tak banyak pengunjung lagi. Setengah jam lagi café sudah akan di tutup tapi masih terlihat beberapa pangunjung masih menikmati waktu mereka. Di balik dinding belakang, Hinata seolah mengendap agar tak terlihat ataupun melihat sosok yang dia hindari. Pelan tapi pasti dia melangkah kearah Matsuri yang baru saja kembali dari membersihkan satu meja.
"Anoo.."
Matsuri menoleh dan terkejut melihat Hinata yang memanggilnya lirih. "Hin –"
"Sttt.." dengan cepat selaan itu terdengar. Membuat Matsuri hanya mengangkat alisnya bingung. "Itu.. aku rasa aku ingin pulang lebih dulu, tidak apa kan?"
Sebenarnya Matsuri masih tidak mengerti kenapa Hinata berbicara dengan suara berbisik. "Apa kau benar-benar sakit? Tunggu sebentar, kita pulang bersama."
Tangan Hinata bergerak cepat untuk menolak, "Tidak usah. Aku masih bisa pulang sendiri kok. Oke? Aku duluan." Hinata segera berbalik dan sudah akan melangkah saat Matsuri kembali menarik tangannya. "Hm?"
"Pintu keluar lewat sana," Matsuri menunjuk pintu masuk café, "Kau mau kemana?"
Hinata tersenyum kikuk, "Masih ada palanggan, tidak enak kalau aku lewat sana. Aku akan lewat pintu belakang saja. Jaa."
Matsuri hanya bisa menghela nafas saat Hinata sudah melangkah pergi dengan sikapnya yang terasa aneh.
.
Hinata melangkahkan kakinya keluar dengan melihat situasi di dalam ruangan, memastikan jika tidak ada yang mengikutinya curiga. Dengan pelan dia menutup kembali pintu belakang lalu menghela nafas setelah dia rasa cukup. "Aku harus secepatnya pergi." gumamnya kemudian.
Dia berbalik dan… terdiam.
Jalan keluar dari pintu belakang itu adalah lorong satu setengah meter menuju jalan di samping café.
Dan disanalah Hinata berdiri, terdiam di depan pintu dengan mata yang menatap horror pada sosok yang berdiri bersandar pada dinding depannya dengan begitu santai. Meski hari sudah malam dan lampu yang ada di sana lebih redup, tapi Hinata masih bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu. Seseorang yang dia hindari dari setengah jam yang lalu, kini berdiri di hadapannya.
Tap… set.. bruk..
Inginnya Hinata langsung berlari dari sana, tapi siapa sangka jika orang itu kini bergerak dengan cepat dan menghimpitnya ke dinding?
"Kau menghindariku."
Mata Hinata terpejam saat suara berbisik dengan nafas hangat itu menerpa wajahnya, sedikit menghindar, Hinata memundurkan kepalanya hingga terantuk dinding. "Uzumaki-san… kenapa kau disini?"
Mengabaikan pertanyaan Hinata, Naruto justru semakin mendekatkan wajahnya, berniat meraih bibir peach disana yang seolah menarik perhatiannya.
". . ."
Gerakkan Naruto terhenti saat Hinata semakin menoleh ke samping untuk menghindari ciumannya. Hanya helaan nafas yang dia perdengarkan.
"Uzumaki-san, to-tolong menjauh." Hinata mendorong dada bidang itu. Kuat tapi tak bertenaga, seolah tak benar-benar menginginkan kehangatan itu menjauh.
Hal yang membuat Naruto sedikit pun tidak menjauh. "Aku merindukanmu." Dua kata yang membuat Hinata menggingit bibirnya, melarang kalimat yang sama keluar dari mulutnya. "Hinata…" Naruto kembali mendekatkan wajahnya, kali ini menuju samping kepala Hinata dan membisikkan sesuatu. "Ayo pulang!"
Set… dorongan kuat dari Hinata berhasil membuat Naruto menjauh meski tak ada raut keterkejutan di ekspresinya. "A-apa maksudmu, Uzumaki-san. Aku harus pulang, ketempatku sendiri."
Naruto menghela nafas saat Hinata sudah berjalan pergi. Tidak berniat melepaskan, Naruto mengikuti langkah itu dari belakang. Langkah kaki yang bergetar dari Hinata tak mampu membuatnya melangkah cepat ataupun berlari hingga dapat dengan mudah diikuti oleh Naruto.
"Kurasa kita harus bicara, Hinata." Kalimat itu membuat Hinata menyangkal dalam hati, tak ingin mengakui jika dia begitu senang karena namanya di panggil berulang kali. "Tidakkah seminggu cukup untuk kita berpikir? Hinata, dengarkan aku."
Hinata berusaha mempercepat langkahnya saat dia sudah dekat dengan jalan raya. Dia harus menyebrang dan menyetop taxi dari sana, biarlah ongkosnya lebih mahal dari naik bus, yang penting dia cepat lari dari pria di belakangnya.
Tiin tiiin…
Jantung Hinata semakin berdegup kencang saat beberapa kendaraan membunyikan klaksonnya setiap kali dia ingin menyebrang. Samar dilihatnya Naruto yang semakin mendekat dan tanpa perduli lagi, dia segera melangkah melewati beberapa mobil yang sedang melaju. Suara klakson yang terdengar berisik tak dia hiraukan, cepat cepat dan cepat, dia harus cepat pergi dari sana atau usahanya menghindar seminggu ini akan sia-sia.
"Hinata.."
Tiiiiinnnnn… bruaaakkk…
Deg
Langkah itu terhenti, matanya melebar dengan detak jantung yang seakan meloncat keluar. Suara ribut disana membuatnya semakin sulit bernafas. Itu… bukan dia… kan?
Dengan pelan dia menoleh ke belakang dan terkaku begitu melihat seorang pria yang tadi mengejarnya kini sudah terbaring di pinggir jalan dengan dikerubungi beberapa orang.
"U-u-u…" suaranya terputus, tak mampu untuk terus, langkahnya lurus walau tak secepat yang dia harus.
Tap…
Tap…
Tap tap tap… "Uzumaki-saaann.." entah kekuatan darimana, Hinata berlari cepat dan menghampiri sosok itu. Dengan segera dia mendorong orang-orang yang menghalangi dan segera mengangkat kepala bersurai kuning itu ke pangkuannya. "Uzumaki-san, Uzumaki-san kenapa… hiks.."
Naruto membuka matanya sayu dan tersenyum melihat Hinata yang kini ada di hadapannya. "Aku tidak apa, jangan menangis."
"Kau berdarah." Teriak Hinata tertahan. Tapi sepertinya Naruto tak perduli, justru senyumnya semakin lebar mengetahui jika Hinata masih begitu khawatir dengan keadaannya.
.
.
.
'Matsuri, aku mungkin tidak akan pulang. Aku ada urusan dengan teman kerjaku sebelumnya. Maaf ya, tidak perlu khawatir.'
Hinata menekan tombol send di ponselnya setelah memastikan isi pesan itu benar. Helaan nafas terdengar di saat dia keluar dari kamar mandi ruangan itu, ruangan yang berada di rumah sakit pusat Konoha, tempat Naruto sekarang terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup.
Pelan Hinata menghampiri kursi yang ada dan duduk disana. Pandangannya tak lepas dan tertuju lurus pada wajah tan disana. "Uzumaki-san, kumohon jangan sakit. Jangan menderita karena aku." Gumamnya lirih di ruangan sepi itu.
Tadi Naruto langsung dibawa ke rumah sakit dan segera diobati. Dia tertabrak mobil hingga terdorong dan menghantam trotoar, lukanya tidak terlalu parah namun tetap membuat kepala bersurai kuning itu kini mendapat balutan perban putih. Hinata tidak tahu dia harus apa jika sampai terjadi apa-apa pada Naruto karena kesalahannya.
Padahal dia sudah memilih pergi demi kebaikan Naruto, dia memilih menahan perasaannya walau sakit dan sulit, dia memilih bertahan sendiri dengan desakan hatinya yang berontak menolak keputusannya. Tapi kenapa? Kenapa pria itu datang mencarinya, membisikkan kata yang membuatnya ingin ikut terbuai dan menangis, lalu membuat dirinya dalam bahaya yang kini membuatnya diliputi rasa bersalah?
Hinata meraih tangan kiri Naruto lalu menumpukan kepalanya disana, mencoba menahan air matanya yang ingin keluar. Sesungguhnya Hinata ingin pergi, tapi dia tak sanggup meninggalkan Naruto sendirian. Lupakan untuk menghubungi Shikamaru, dia bahkan tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa dan bagaimana? Yang ada dia akan ditahan oleh pria Nara itu dan diintrogasi lantaran menghilang tanpa jejak selama seminggu ini.
"Uzumaki-san, komohan sadarlah."
"Hm."
Eh? Suara siapa itu? Hinata mendongak dan menatap terkejut kearah Naruto yang kini menatapnya sambil tersenyum. Dapat Hinata rasakan genggaman Naruto yang membalas genggaman tangannya. "Uzumaki-san?"
Naruto mengangguk, "Iya, ini aku. Aku baik-baik saja jadi tenanglah."
Sekarang Hinata benar-benar tidak mengerti. Kondisi Naruto terlihat baik-baik saja meski perban dikepalanya menunjukkan bekas kecelakaan beberapa saat yang lalu. Maksudnya apa? Naruto mengerjainya? Tidak mungkin, Naruto bukan tipe pria yang suka bercanda dengan sesuatu yang berbahaya. Naruto adalah tipe pria dingin yang serius.
Hinata langsung berdiri dari kursinya dan lagi-lagi berjalan mundur. Membuat Naruto hanya menghela nafas melihat sikap menghindar itu. "Tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk bicara, Hinata? Meski tidak parah, setidaknya lukaku cukup sakit, akan sulit untuk mengejarmu."
Mengabaikan itu, Hinata segera berbalik menuju pintu.
Cklek cklek…
Hinata hanya terdiam saat pintu itu tidak bisa terbuka. Dengan patah-patah dia menoleh kebelakang dan menatap tak percaya Naruto yang kini sudah berdiri dari ranjangnya. Gerak tubuh Naruto yang sedikit mengernyit jelas menunjukkan jika luka di kepala pria itu adalah luka asli. Membuat Hinata antara ingin khawatir dan ingin pergi.
"Saat kau di kamar mandi, aku menyuruh orang lain untuk mengunci pintunya dan berjaga dari luar."
"Kau… kenapa kau melakukan hal seperti ini, Uzumaki-san?"
"Sudah kubilang, jika tidak seperti ini, kau akan pergi lagi, dan kondisiku saat ini sedikit sulit untuk mengejarmu." Hinata menggigit bibirnya saat Naruto berjalan sedikit pincang kearahnya, kecelakaan tadi ternyata juga menciptakan luka dikaki berbalut jins hitam itu.
Hinata menarik nafasnya dalam saat lagi-lagi Naruto menghimpit tubuhnya, tak mampu melihat, Hinata memejamkan permata peraknya. Wanita itu tidak tahu sejak kapan Naruto terbiasa dekat dengan wanita seperti itu. Dari tadi pria itu selalu dan selalu mendekatinya. Apa mungkin Naruto sudah sembuh sepenuhnya? Lalu untuk apa pria itu mencarinya sekarang?
"Aku merindukanmu." Dua kata yang seolah menjawab pertanyaan tak terucap itu. "Aku membiarkanmu pergi pagi itu… hanya untuk memberimu waktu, bukan untuk melepaskanmu. Jadi jangan berpikir untuk pergi lagi dari sisiku, Hinata."
"Tolong hentikan, Uzumaki-san. Apa yang kau bicarakan dan apa yang kau inginkan? Aku benar-benar tidak mengerti. Jadi tolong buka pintunya dan biarkan aku pergi."
Rahang Naruto mengeras meski tatapannya sendu. Dia yang tidak pernah berurusan dengan wanita selama 25 tahun, mana mungkin bisa mengerti dengan pikiran perempuan ini? "Maaf." Satu kata itulah yang akhirnya terlontar. "Aku seharusnya sadar jika kau membenciku sekarang."
Eh? Mata Hinata terbuka. Apa yang dikatakan pria itu sekarang? Hinata membencinya? Kesimpulan macam apa itu?
Dengan pelan Hinata melirik, melihat kepala Naruto yang tertunduk di hadapannya. "Membuatmu terlibat dengan kondisiku. Menjadikanmu seseorang yang bisa untuk membantuku…" Naruto menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan, "Aku bahkan melakukan hal yang tidak seharusnya padamu. Wajar jika kau membenciku dan ingin pergi dariku. Karena itu aku minta maaf, Hinata. Maafkan aku."
Lutut Hinata terasa lemas. Bukan itu alasannya pergi, tapi pria itu justru salah paham.
"Tapi aku tidak menyesalinya," Naruto mengangkat wajahnya dan mempertemukan tatapan mereka, hampir membuat Hinata berhenti bernafas. "Aku tidak menyesalinya, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu. Biar saja kau bilang aku egois, aku… hanya ingin kau selalu ada di sisiku."
"Hah," Hinata mendorong tubuh itu menjauh dan menundukkan kepalanya. "Uzumaki-san, apa kau pikir sekarang kau sudah sembuh?" tatapan mereka kembali bertemu, kali ini dengan sorot tegas dari manik perak Hinata. "Apa kau sudah bisa dekat dengan wanita? Wanita manapun? Jika kau belum sembuh, itu berarti kau harus melupakan aku dan berusahalah sembuh agar bisa dekat dengan setiap wanita. Jika kau sudah sembuh, untuk apa lagi kau mencariku?"
Naruto berkedip bingung, "Aku tidak mengerti."
Hinata menghembus nafasnya kasar, "Aku hanya membuatmu terbiasa denganku. Jika begitu, kau tidak akan pernah sembuh."
"Jadi karena itu kau pergi dan menghindariku?" Naruto menyela cepat dengan kesimpulannya. "Kenapa kau berpikir hal-hal yang terlalu rumit, Hinata? Aku bahkan tidak perduli aku sembuh atau tidak asalkan kau bisa bers –"
"Tapi aku ingin kau sembuh!" suara Hinata naik dan memotong.
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Mencoba menenangkan diri dari emosi, keegoisan, perasaan, dan pikiran masing-masing. Meski jarak satu meter terbentang diantara mereka, tapi keduanya merasa sesak seolah dihimpit ribuan kayu dan dinding. Ruangan yang luas dan ber-AC itu tak mampu menyejukkan perasaan mereka yang saling bertabrakan.
"Kau ingin… aku dekat dengan wanita lain?"
Deg
Bagai tertusuk duri yang begitu menyakitkan, Hinata tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia ingin menangis sekarang. Dia sadar akan perasaannya, tapi perkataan Naruto begitu menusuk dalam hatinya. Naruto dengan wanita lain? Meski itu yang selalu dia pikirkan tentang kesembuhan Naruto tapi tak sekalipun dia bisa membayangkan hal itu. Dia hanya berpikir akan baik bagi Naruto jika bisa hidup normal seperti pria lainnya dan menemukan wanita yang dia cintai. Tapi jika sudah disuruh membayangkan Naruto bersama wanita lain…
"Kenapa kau diam?"
Hinata hanya menelan ludah, membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.
Saat Naruto kembali melangkah maju dan membuat tubuhnya lagi-lagi berada dalam rengkuhan pria itu, Hinata hanya bisa memejamkan matanya tanpa sedikit pun niat untuk menjauh. Rasanya kehangatan itu sangat ia inginkan saat ini. Ya, kehangatan tubuh pria itu dan juga hangat desah nafasnya yang begitu nyaman.
"Lihat!" suara itu berbisik, "Aku bahkan bisa sedekat ini denganmu. Aku yakin kau masih ingat apa yang bahkan sudah pernah kita lakukan malam itu." rasa senang menelusup di hati Naruto saat wajah Hinata merona dengan ekspresi malu saat dia membahas itu. "Setelah lebih dari 20 tahun, akhirnya aku bisa kembali berdekatan dengan seorang manusia berjenis perempuan. Menurutmu, apa aku akan perduli dengan perempuan lain dan membiarkanmu pergi dariku?
"Tidak, Hinata!" dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan cepat, tak berniat menunggu jawaban dari sang wanita di pelukannya. "Aku tidak perduli dengan penyakitku dan juga wanita lain, asal kau ada disisiku dan tidak pergi lagi, itu sudah lebih dari cukup."
"Ta-tapi…"
Naruto menyentuhkan kening mereka, memutuskan kalimat dengan suara lirih itu. "Percayalah, aku bahkan tidak tahu apa aku masih bisa jauh darimu atau tidak. Tapi aku yakin aku bisa gila jika kau pergi lagi." Naruto semakin mendekap tubuh mungil Hinata dan menenggelamkan wajahnya di leher sang wanita, sukses membuat Hinata merasa aliran darahnya mengalir cepat.
"Kau yang hadir dihidupku dan berhasil meraihku, bukan wanita lain. Kau yang membuatku nyaman ditengah ketakutanku, bukan wanita lain. Kau yang membuatku merasakan satu perasaan ini, bukan wanita lain. Dan kau yang membawa cahaya ditengah gelapnya hidupku, bukan wanita lain. Lalu kenapa harus perduli dengan wanita lainnya? Cukup kau saja, Hinata. Cukup kau saja."
"Hk,, hk… hiks… Uzumaki-san.." Hinata tak mampu lagi menahan tangannya untuk tidak membalas pelukan itu. Sedari tadi dia terdiam mendengar semua kalimat itu, membuat hatinya semakin terbujuk rayuan dan terhanyut dalam perasaannya. Melupakan semua alasan yang pernah dia ciptakan hingga membuat jarak diantara mereka.
Bukankah dia sudah berjanji untuk membantu Naruto agar pria itu bisa menghapus jarak dengan wanita? Kenapa sekarang dia ingin menciptakan kembali jarak diantara mereka?
Mungkin Naruto benar, dia hanya perlu memikirkan kebahagiaan sang Uzumaki yang sejalan lurus dengan keinginannya tanpa harus memikirkan wanita lain yang tidak terkait dengan hidup mereka.
Naruto membelai sayang rambut indigo lembut terurai itu. Membuat dirinya menjadi sandaran ternyaman untuk sang wanita. Siapa bilang jika hanya dia yang membutuhkan Hinata? Naruto yakin jika mereka saling membutuhkan. Dan keyakinan itulah yang membuat Naruto menarik kembali wanita itu dalam dekapannya. Mungkin sebelumnya dia merasa bersalah karena telah menyakiti wanita itu, tapi kini Naruto yakin jika Hinata pun merasakan perasaan yang sama dengannya. Yang harus Naruto lakukan adalah, membuat Hinata juga yakin jika perasaannya terbalas.
Dan untuk itu, Naruto rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk meyakinkan Hinata akan perasaannya.
.
.
.
Waktu kembali berputar, matahari kembali terbit pada waktunya. Sinar mentari yang cukup terik pagi itu seolah membuat beberapa orang merasa bisa buta. Kota yang cukup maju dengan perekonomian yang tak kalah dengan Negara lainnya disisi sebelah timur bumi itu terlihat menunjukkan semangatnya melalui orang-orang yang berlalu-lalang melakukan kegiatannya.
Gedung menjulang, jalan membentang, tumbuhan yang berkembang. Jelas terlihat betapa hidupnya Negara itu. Negara yang memiliki satu kota bernama Konoha, kota yang memiliki banyak perusahaan terkenal dan besar yang bahkan bersaing dengan perusahaan manca-Negara, dan salah satu perusahaan di kota itu… merupakan perusahaan yang dijalankan oleh seorang pria muda yang menjalani hidup dalam kegelapan.
Selain pria itu yang menjadi direktur utama, jelas banyak orang-orang lain yang mendukung. Sebutlah salah satunya seorang pria keturunan Nara yang kini sedang duduk nyaman dikursi sang atasan sambil membaca satu berkas ditangannya. Segelas kopi dan camilan pagi tersaji diatas meja dan terlihat sudah dinikmati setengah. Benar-benar hidup seorang bawahan yang tak takut pada atasan, penurunan gaji, pemindahan tempat dinas, atau bahkan sistem pemecatan.
Cklek
Pintu yang tiba-tiba saja terbuka membuat dahinya mengernyit, merasa jika orang yang membuka itu cukup tidak sopan karena membuka pintu tanpa izin. Menutup berkas pekerjaannya, dia mulai mengoceh. "Berani sekali kau membuka pintu tanpa iz –ow,, hai… bos.." dia tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada seorang pria berambut pirang yang tadi membuka pintu. Pandangan sapphire biru sang pria diambang pintu itu membuat Nara Shikamaru berdiri dari tempat duduknya dan melangkah memutari meja itu hingga berada di posisi yang cukup pas untuk seorang bawahan.
"Kau terlihat sangat senang dengan hidupmu, Shikamaru."
Shikamaru menggaruk kepalanya dan menatap keatas pura-pura innocent. "Apa boleh buat, kan? Atasan utama diperusahaan ini tidak masuk kerja selama lebih dari seminggu karena urusan pribadi tanpa kabar dan melimpahkan semua pekerjaan padaku sebagai bawahannya yang paling bisa diandalkan."
"Ehem." Naruto berdehem singkat saat kalimat dan lirikan mata Shikamaru terasa membuat bulu kuduknya berdiri. Gila! Atasan yang takut dengan bawahan baru sekali ini terjadi… mungkin.
Tanpa bicara lagi, Naruto berjalan menuju kursi yang sudah seminggu tak ia duduki. Dia sudah bisa menebak sebanyak apa pekerjaan yang menunggu, tapi tak apa, selama masalahnya dengan Hinata sudah selesai. "Shikamaru, apa rapat hari selasa kemarin sudah ada keputusan?"
"Hm, mereka sudah melihat property yang ada dan setuju untuk berinvestasi. Rencananya sekitar tiga ming –"
Tok tok
"Masuk."
Shikamaru menoleh kepada seseorang yang menghentikan penjelasannya. Inginnya sih protes juga dengan Naruto karena tidak mendengar penjelasannya selesai dulu baru meladeni orang luar, tapi saat dilihatnya siapa yang masuk, Shikamaru hanya bersiul jahil. "Oh hai, Hyuuga. Kelihatannya kau senang karena tidak masuk kerja seminggu tanpa kabar."
Hinata terdiam dan tersenyum kikuk menanggapi sindiran itu, "O-ohayou, Nara-san."
"Ohayou. Itu respon yang tidak nyambung." Jawab Shikamaru lagi-lagi menyindir telak, sementara Naruto hanya ikut diam dan mengabaikan. "Ya sudahlah, aku juga tidak mungkin memotong gajimu." Lanjutnya sambil menggaruk kepalanya bosan.
Wanita Hyuuga itu berjalan mendekat ke meja Naruto dan memberikan sebuah berkas. "Laporan ini ada di meja Saya dan baru saja Saya periksa. Beberapa data sudah Saya perbaiki dan back up. Ini berkas yang perlu tanda tangan Anda."
Ditempatnya, Shikamaru menatap malas pemandangan di depannya. Begitukah interaksi dua orang yang bahkan sudah melakukan hal itu? Terlalu formal atau… canggung. "Oi oi, kalian sudah bicara dan berbaikan, bukan?" tanyanya tanpa disaring, tak perduli dengan bagaimana ekspresi malu yang ditimbulkan kedua orang di depannya itu.
"Ehem," Naruto kembali berdeham setelah membubuhkan tanda tangan. "Shikamaru, jika kau tidak ada kerjaan, sebaiknya kau membantuku saja."
"Kau bilang aku tidak ada kerjaan? Aku sibuk seminggu ini." kilah pria Nara itu kesal. "Ck, terserahlah. Bantuan apa yang kau mau?"
"Tolong kau carikan WO untuk acara pernikahan bulan depan."
". . ."
". . ."
"Hah?" respon yang sama keluar dari Shikamaru dan Hinata. "Siapa yang akan menikah?"
Naruto menoleh kearah Hinata dan menatapnya polos, "Kita. Tentu saja."
"Apa? Ta-tapi belum ada pembicaraan apa-apa…" Hinata terdiam sendiri karena tidak tahu harus bicara apa?
Jujur saja, setelah mereka saling menerima semalam, Hinata meminta diantar ke rumah Matsuri. Rencananya, hari ini dia akan kembali tinggal di rumah Naruto, jadi ingin menjelaskan hal itu pada Matsuri agar perempuan itu tidak khawatir. Walau enggan, Naruto tetap memenuhi permintaan itu. Mereka kembali bertemu pagi ini saat Naruto menjemputnya, tidak ada pembicaraan apapun, dan sekarang pria itu mengatakan tentang acara pernikahan? Yang benar saja.
Melihat ekspresi terkejut Hinata, Naruto menghela nafas dan kembali menyerahkan berkas yang tadi kepada wanita itu. "Hinata, kita bicara nanti, oke?" dan dengan kebingungan, Hinata hanya bisa mengangguk lalu melangkah keluar.
Jelas saja hal itu membuat alis Shikamaru terangkat, apa-apaan adegan yang barusan itu? Pengusiran? "Jadi," dia berjalan dan duduk di kursi sebrang meja Naruto. "Kau menyuruhnya keluar agar bicara denganku, bukan? Ada apa?"
"Kenapa kau bertanya lagi? Tadi sudah kubilang agar mencari WO untuk acara pernikahanku bulan depan." Jelas Naruto kembali dengan acuh tak acuh.
"Kau serius? Tidakkah ini terlalu cepat? Kalian baru berbaikan tadi malam, dan kau bahkan belum melamarnya. Apa kau tidak lihat raut keterkejutan darinya tadi?"
Naruto mengerti akan adat istiadat tentang lamaran, tapi… "Atau kau tidak tahu caranya melamar?" ..terkadang Naruto merutuki cara berpikir Shikamaru yang selalu tepat sasaran.
Menarik nafas sejenak, dia mencoba bersikap tenang. "Aku hanya ingin mengikatnya secepat mungkin. Tidak ingin dia pergi lagi seperti kemarin, apa itu salah?"
Ya, Shikamaru tidak bisa protes sih kalau memang itu niatnya. "Hah, kau benar-benar jatuh cinta, Naruto." Alis sahabat pirangnya itu hanya naik sebelah mendengar kalimat Shikamaru, "Kau ingat saat dulu kita SMA? Aku penasaran bagaimana kau yang sedang jatuh cinta, ingin sekali rasanya menggodamu jika hal itu terjadi. Tapi… yah," Shikamaru mengangkat bahunya. "Fakta yang kuterima membuatku berpikir jika kau tidak akan merasakan hal itu. Tapi lihatlah sekarang.. kau bahkan tidak sabaran untuk menikahi seorang wanita."
Naruto hanya menunduk melihat kilat jahil dimata hitam Shikamaru. Kalau mengingat masa lalu sih, Naruto sendiri juga tidak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi. Hidup sendiri tanpa keluarga adalah pilihan utamanya, tapi sekarang? Jujur saja Naruto ingin secepatnya memiliki keluarga sendiri. Benar-benar keluarganya sendiri. Biar kecil tapi hidup bahagia.
Kedengaran seperti dongeng, huh? Terserah!
"Tapi Naruto, kau tetap perlu lamaran." Shikamaru mendekat tanpa perduli dengan sorot malas dari mata Naruto. "Karena ini pertama kalinya kau berurusan dengan wanita, jadi aku yang sudah menikah dan berpengalaman ini akan mengajarimu. Dengar! Wanita itu lebih rumit dari kelihatannya, jadi kau harus memb –" bletak…
Dan buku bisnis setebal 400 halaman menghantam kepala nanasnya.
.
.
.
Sore itu, Hinata kembali ke rumah Naruto. Setelah berpamitan dengan Matsuri dan menjelaskan semuanya, Naruto menjemputnya dan mereka kembali bersama. Langkah pertama Hinata kembali ke rumah itu setelah pergi lebih dari seminggu sedikit menimbulkan suasana canggung diantara mereka. Bagaimana pun, kegiatan terakhir yang mereka lakukan di rumah itu masih terbayang jelas di benak keduanya.
Naruto menjelaskan jika barang-barang Hinata masih berada di tempatnya semula, yaitu kamar tamu di sebelah kamar Naruto. Hanya anggukan yang di berikan Hinata tanpa suara, tapi saat dia memasuki kamar itu, selang sepuluh menit, dia sudah berniat menyusun barang-barangnya di lemari yang ada. Dulu, Hinata bahkan tidak menyusun pakaiannya dalam lemari karena berencana untuk pindah secepatnya, tapi kali ini dia tidak mampu menahan diri untuk segera menyusun sedikit barang-barang yang dia punya.
Sejak bekerja menjadi sekretaris Naruto selama hampir tiga bulan kemarin, Hinata sudah bisa menambah satu atau dua pakaiannya. Dia tidak harus membayar uang sewa dan gajinya besar, tentu saja dia memanfaatkan hal itu untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itulah, sekarang barang-barang yang dia miliki bertambah.
Tapi bagaimana pun, Hinata tidak ingat jika punya pakaian sebanyak itu. Pertama kali dia membuka lemari di kamarnya, tujuh sampai delapan stel pakaian sudah tergantung dalam lemarinya, bagian bawah terisi tiga pasang sepatu dan di bagian sampingnya terpajang empat tas mewah yang semuanya pasti mahal.
Hinata pernah membuka lemari itu sekali dulu, tapi barang-barang itu tidak ada. Lalu punya siapa semua itu?
"Semuanya milikmu." Satu suara yang dia kenal membuatnya menoleh, menatap bingung Naruto yang berdiri diambang pintu kamarnya. Pria itu berjalan mendekat dan ikut memandang isi lemari yang terbuka itu. "Semua baju itu satu ukuran dengan gaun yang kau pakai waktu itu, sepatunya juga satu ukuran dengan yang selalu kau pakai. Kalau tasnya aku pilih yang sesuai denganmu saja, sederhana tapi tetap elegan."
Pria itu… bicara apa? Hinata masih tidak mengerti. "Maksudmu… semua.."
"Aku membeli semua ini untukmu." Naruto mempertemukan pandangan mereka dan tersenyum tipis. "Tiga hari kemarin disaat aku mengawasimu dari jauh, aku entah kenapa tiba-tiba ingin membelikanmu semua barang yang ku lihat. Jadi membelinya dan mengisi lemarimu yang kosong. Aku tidak mengerti kenapa kau membiarkan lemari ini kosong."
Mata perak indah itu hanya bisa berkedip tak percaya. "Kau tidak perlu melakukan ini, Uzumaki-san."
"Bisakah kau memanggilku 'Naruto' mulai sekarang?" lagi-lagi mata Hinata hanya bisa melebar yang sejujurnya membuat Naruto gemas. "Panggil namaku, Hinata. Seperti aku memanggil namamu."
Pandangan sapphire itu membuat Hinata benar-benar merasa malu. Dapat ia rasakan wajahnya yang memanas dan jantungnya berdetak cepat. Tapi sorot mata yang penuh harapan itu sepertinya tak mungkin dia tolak. "N.." dia kembali menutup mulutnya, tapi Naruto masih sabar menunggu. "Na… Naruto… kun?"
Ppfftt..
Naruto mendengus geli saat pertanyaan yang justru keluar, senyumnya semakin melebar saat dirasanya Hinata benar-benar terlihat lucu kali ini. Perbuatan yang semakin menambah kadar merahnya pipi Hinata. "Kau lucu sekali, Hinata. Kenapa namaku malah jadi pertanyaan?"
Cukup! Hinata tidak sanggup lagi. Suara Naruto yang terdengar sangat lembut dan seolah penuh rasa sayang itu membuat Hinata semakin deg-degan. "Ehm,, itu… a-aku akan memasak makam malam." Pamitnya dan langsung melangkah pergi, tak perduli lagi dengan apa yang dia tinggalkan.
Dan hal itu sukses membuat Naruto terkekeh kecil. Yang sebenarnya adalah tawa pertama yang pria itu tunjukkan setelah bertahun-tahun. "Ternyata dia sangat manis." Ucapnya seolah baru sadar. Ya, selama ini Naruto hanya melihat Hinata sebagai wanita yang berhasil membuatnya nyaman. Mana tahu dia tentang menggoda wanita dengan kata-kata 'manis', 'lucu', 'cantik', dan sebagainya.
"Hah, dia bahkan tidak jadi menyusun pakaiannya." Naruto mengambil pakaian yang tadi Hinata tinggalkan dan menyusunnya dalam lemari. Tersenyum saat akhirnya Hinata benar-benar menjadi bagian dari penghuni di rumahnya. Bagian yang menjadi penghuni hidupnya pula.
.
.
.
Naruto kembali merasakan kehangatan keluarga dari makan malam yang dia lakukan. Meski hanya berdua, tapi itu cukup baginya. Mungkin nanti dia bisa makan malam bersama Hinata dan Kakashi, atau beberapa tahun kemudian, dia juga bisa makan malam bersama para buah hatinya.
"Naruto-kun, kenapa kau tersenyum sendiri?"
"Hg?" dia tidak sadar jika pemikiran itu sudah membuatnya tersenyum sendirian. Dia menggeleng dan kembali tersenyum, "Hanya membayangkan keluarga kita beberapa tahun ke depan, mungkin bukan hanya kita berdua saja diwaktu makan malam."
Hinata tidak pernah tahu jika darahnya mudah sekali naik dan berkumpul di wajah. Tapi perkataan Naruto tadi, juga memancing suatu bayangan di kepalanya. Dulu, makan malam yang dia jalani akan sangat ramai dengan rombongan anak panti. Bercanda, tertawa, berebut makanan dan saling membantu baik dalam memasak atau mencuci piring. Tapi kehangatan dan kebersamaan itu hilang dalam dua tahun terakhir. Kini, berkat Naruto, dia tidak lagi sendirian saat makan malam.
Bukan hanya Naruto saja yang begitu bersyukur akan hal ini, dia pun merasakan hal yang sama.
"Kau sangat cantik jika sedang malu."
"Hah?"
Naruto kembali terkekeh saat melihat respon lucu Hinata. Sebenarnya dia hanya mempraktekkan apa yang Shikamaru katakan padanya hari ini, awalnya dia ragu dan merasa geli sendiri jika memang harus mengucapkannya, tapi jika hasilnya semenyenangkan ini, mungkin Naruto akan sering melakukannya.
Bibir Hinata sedikit mengerucut, "Ja-jangan menggodaku… N-Naruto-kun." Naruto hanya menurut saja dan kembali menikmati makanannya. Sementara Hinata melirik dari ujung matanya, menatap wajah pria itu dengan pandangan sedikit sendu. Sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan.
"Hinata, ada apa? Kau tidak makan dari tadi."
"Uhm… Naruto-kun,"
"Ya?" Naruto menatapnya setelah meneguk air sejenak. "Kenapa? Ada yang ingin kau katakan?"
Haruskah aku mengatakannya? Batin Hinata bingung. "Itu… tentang pernikahan yang kau katakan tadi siang." Dia melirik sejenak lalu kembali menunduk. "A-apa tidak… terlalu cepat –maksudku.." Hinata menghela nafas saat tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Yang sebenarnya ingin Hinata katakan adalah tentang alasan Naruto menikahinya, pria itu bahkan tidak pernah mengucapkan kata cinta. Dan Naruto juga belum melamarnya. Itu yang ingin Hinata utarakan walau dia tidak bisa menyusun kata.
Naruto menghilangkah senyumnya dan berdiri, melangkah pergi tanpa kata, sukses membuat Hinata memandang punggungnya sendu. Wanita itu kembali menunduk menatap makanan di piringnya yang sudah tak ingin lagi dia makan. Kenapa pria itu masih begitu dingin? Hinata ingin sekali protes.
Tap
Suara langkah yang kembali dan seseorang yang duduk disampingnya membuat Hinata mendongak, menatap bingung kehadiran Naruto yang kembali. Apa pria itu lupa menghabiskan makanannya hingga kembali?
Tanpa diduga, Naruto meraih tangan kanan Hinata yang masih memegang sendok hingga sendok itupun terlepas menciptakan suara denting pelan. Wajah sendu Hinata yang sebelumnya langsung menjadi wajah merona malu akan hal itu. Padahal mereka pernah melakukan hal yang lebih tapi Hinata tidak mengerti kenapa responnya selalu begitu jika Naruto bersikap lebih dekat padanya.
Set… eh? Hinata menatap ke tangannya, tepatnya ke jari manisnya yang kini sudah tersemat sebuah cincin putih yang cantik dengan permata berkilau disana. Dia berkedip tak percaya sambil menatap Naruto dengan sorot mata minta penjelasan.
"Untuk pertama kalinya… ada seseorang datang dalam hidupku yang membuatku sangat takut kehilangan. Jadi untuk mengikat orang itu sesegera mungkin, aku tidak pernah merasa terlalu cepat." Hinata mengerti arah pembicaraan itu. "Kau tahu aku tidak punya pengalaman apapun dengan seorang wanita, aku tidak mengerti bagaimana mereka dan tidak tahu harus bagaimana saat menyatakan perasaan, lamaran, atau hal sejenisnya."
Naruto mengangkat bahu, "Aku tidak pintar berbicara, Hinata. Dan penjelasan Shikamaru tentang proses lamaran sepertinya lebih rumit daripada meyakinkan investor untuk bergabung dalam bisnis. Aku tidak percaya Shikamaru sendiri melakukan apa yang dia jelaskan tadi saat melamar Ino. Tapi tadi dia bilang tentang makan malam, cincin, lilin, dan ucapan romantis."
Senyum tipis Naruto tercipta saat memandang sajian di meja makannya. "Sekarang kita sedang makan malam, sudah ada cincin meski tidak ada lilin." Pria itu kembali menatap permata perak sang wanita. "Tapi aku tidak bisa mengucapkan apa-apa yang berbentuk romantis, Hinata. Aku…"
Mata Hinata berkedip polos saat Naruto menghentikan kalimatnya untuk menarik nafas.
"Menikahlah denganku. Kau satu-satunya wanita yang membuatku nyaman, kau satu-satunya wanita yang kubutuhkan, jadi hiduplah bersamaku. Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, tapi perasaan yang saat ini aku rasakan… mungkin itulah yang disebut cinta. Apapun itu, aku ingin kau percaya kalau aku sepenuhnya menginginkanmu dalam hidupku."
Bagai bendungan yang penuh, bolehkah jika kiranya perasaan meluap ini ia curahkan dengan tetesan air mata. Sebuah hal yang tidak pernah bisa dia duga akan seindah ini nyatanya berhasil membuat perasaannya membumbung ke angkasa.
Mungkin terlalu tinggi, tapi sungguh Hinata mengerti, perasaan dihati sangat ingin ia bagi. Orang berkata, senyum adalah satu kebahagiaan yang dibagi. Jadi kini hanya itulah yang mampu Hinata beri. Senyumnya melebar dengan matanya yang berkaca-kaca, sempat membuat Naruto tersentak terkejur tak mengerti. Tapi saat anggukan kepala Hinata terlihat, Naruto pun tak mampu berbicara.
"Aku mau.. aku mau menikah denganmu, Naruto-kun."
Dan benar saja… senyum adalah kebahagiaan yang di bagi. Jika kebahagiaan itu berhasil menular, maka senyuman juga bisa menular.
Dalam keheningan keduanya tersenyum. Cukup dengan pandangan mereka yang terkunci dalam raut wajah penuh kebahagiaan, meski tanpa suara, mereka sudah mampu memeluk perasaan masing-masing.
Perasaan yang akan selalu mereka jaga dengan sebaik-baiknya.
.
.
.
Shikamaru's Pov
My name is Nara Shikamaru, and I'm not a teroris.
Jelas, mana ada teroris yang mau mengurusi pernikahan orang? Jikapun iya, mungkin teroris itu sedang mengurus pernikahan kepala teroris yang merupakan bosnya. Dan posisiku sekarang, meski bukan teroris, tetap saja sebagai anak buah yang mengurusi pernikahan bosnya. Walau statusku mungkin juga berada di list sahabat, tapi di kantor, aku bawahan dan dia dengan gampangnya memerintahkan hal itu di kantor, wilayah dimana aku menjadi bawahan.
Mungkin jika nanti aku punya bawahan, aku juga akan melakukan hal yang sama.
Ah, mendokusai. Aku baru saja selesai memasak sarapan atas permintaan istriku, 'ngidam' katanya, alasan yang membuatu tidak bisa menolak. Setelah itu, aku harus mengantarnya periksa rutin ke klinik nanti siang setelah waktu makan karena dokter yang menanganinya sedang ada kerjaan lain di pagi seperti ini. Dan untuk menunggu waktu itulah, dia ikut denganku yang ingin menentukan dan memesan tema pernikahan untuk sahabatku itu.
Masalahnya, sahabatku yang sedang dimabuk asmara setelah sekian lama itu entah terlalu percaya atau terlalu banyak menyuruh padaku, sampai semuanya aku yang menentukan dan memilih. Yang benar saja! Memangnya dia dan calon istrinya itu tidak punya bayangan tentang bagaimana pernikahan yang mereka inginkan. Dan karena itulah sekarang aku hanya bisa menghela nafas karena Ino yang menguasai percakapan dan sepenuhnya memilih sesuai seleranya.
Terserahlah, toh bukan salahku jika acara mereka nanti tak sesuai harapan mereka. Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik.
.
Ya, melakukan yang terbaik. Selama sebulan ini aku melakukan yang terbaik untuk pernikahan mereka disamping pekerjaanku sebagai manager di salah satu bagian perusahaan.
Ck, Naruto kau harus menaikkan gajiku nanti.
Hah, tapi tak sia-sia apa yang sudah kulakukan. Semua terbayar hari ini. Hari dimana sekarang aku duduk disalah satu kursi tamu ditengah acara yang sacral ini.
Bagi setiap pengantin, jelas mereka bahagia. Tapi saat ini, mungkin aku juga sama bahagianya dengan mereka. Melihatnya yang kini berdiri gagah menunggu pengantinnya datang sungguh sesuatu yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Dulu aku selalu membayangkan bagaimana dia yang bisa setidaknya duduk santai dan mengobrol dekat dengan perempuan. Itu saja rasanya sudah cukup melegakan bagiku. Mungkin dia tersiksa dengan kondisinya, tapi aku tidak percaya jika aku ikut prihatin dan perduli dengan kondisinya melebihi siapapun.
Dia, Uzumaki Naruto, adalah seseorang yang sejujurnya paling enak untuk kudekati. Sikapnya yang tidak perduli terkadang membuatku lebih santai dalam bersikap. Bahkan dihari pertama kami bertemu di asrama, hal yang pertama yang kuucapkan adalah 'Jangan mengangguku jika sedang tidur.' Umunya, orang lain akan memandang aneh atau bahkan mengoceh jika orangnya cerewet. Tapi dia hanya memandang datar sambil bergumam pelan sebelum kembali pada pekerjaannya. Dengannya aku merasa lebih bebas dan lebih ingin maju walau ditengah kemalasanku.
Mungkin itulah yang membuatku bisa akrab dengannya dan sangat perduli dengan kondisinya.
Selalu dan selalu aku mencoba segala cara untuk menyembuhkannya, tapi selalu berakhir pula dengan kegagalan. Saat pertama aku menyadari kedekatannya dengan Hyuuga, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak melakukan hal yang mendorong mereka lebih dekat. Beberapa cara nyatanya membuat sesuatu semakin memburuk, tapi aku tak menduga kalau semua akan berakhir melebihi apa yang aku bayangkan.
Dan sekarang, lihatlah. Sahabatku yang dingin dan bodoh itu sedang berdiri didepan pendeta, berdampingan dengan wanita yang ia cintai, dan sedang mengucapkan janji suci. Senyumnya melebar, tak mampu menahan rasa senang yang tercipta. Di bagian lain, kulihat Ayah angkatnya juga tersenyum dan menatap bahagia kearahnya.
Aku menoleh ke samping, menatap istriku yang juga tersenyum melihat acara ikat janji suci di depan. Tangannya menggenggam erat tanganku entah sadar atau tidak.
Aku menatap sekeliling, menatap wajah para tamu yang walau tak banyak tapi semuanya menunjukkan raut kebahagiaan.
Saat itulah aku sadar jika memang bukan hanya aku yang bahagia. Dan kebahagiaanku lebih besar lagi saat mengetahui banyak orang yang juga ikut bahagia.
Naruto… kau adalah orang baik yang berhak mendapatkan kebahagiaan. Kuharap penderitaanmu selama ini akan terganti dengan kebahagiaanmu yang berlimpah. Jagalah wanita itu baik-baik, karena dia berharga untukmu. Sama berharganya dengan senyummu yang sangat jarang terbentuk.
Ck, walau kalimat ini terasa merepotkan, tapi kurasa tetap penting di ucapkan.
Happy Wedding, kawan!
.
.
.
===== Owari =====
.
.
.
6 tahun kemudian…
"Baju ini pasti akan sangat cocok untuk Putri Anda, Tuan. Silahkan dilihat dulu."
Naruto memasang wajah sedatar dan secuek mungkin pada pegawai toko yang sedang bicara padanya itu. Apa pegawai itu tidak bisa membaca ekspresi seseorang? Kenapa tidak menyerah dan pergi saja sih?
"Maaf, kami akan melihatnya nanti." Suara lembut Hinata membuat pegawai tadi menoleh dan menampilkan wajah yang sedikit kecewa karena mengerti arti penolakan halus Hinata.
"Ck," Naruto berdecak setelah pegawai tadi pergi dan meninggalkannya bersama keluarganya. "Dasar! Kenapa dia tidak mengerti kalau pelanggannya tidak mau?" Hinata hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Lagian apa-apaan yang dia tawari tadi? Baju yang cocok untuk Himawari? Yang benar saja! Kenapa anak-anak sudah diajari memakai baju terbuka seperti itu? Jika mereka sudah dibiasakan dari kecil memakai baju terbuka, bagaimana jika mereka sudah besar?"
Naruto sedikit menunduk dan membawa Himawari dalam gendongannya dan menatap Putrinya itu dengan tegas. "Dengar Himawari! Kau tidak boleh memakai baju yang terbuka, mengerti?"
Mata biru Himawari mengerjap dua kali sebelum dia memiringkan kepalanya, tanda jika bocah 2 tahun itu tidak mengerti apa yang Ayahnya katakan.
"Boruto, berhentilah memandangi patung itu!" kini Naruto mendelik pada Putranya yang menatap lekat patung tinggi di hadapannya.
Boruto menoleh dan menekuk alisnya, "Kenapa? Aku hanya melihatnya saja, patung Oneechan ini cantik."
"Bukan patungnya, tapi pakaiannya." Naruto mengoreksi lalu segera meraih tangan mungil bocah pirang berusia 5 tahun itu. "Ya ampun, sebaiknya kita pergi dan cari toko yang lebih aman." Gerutunya lalu mulai melangkah pergi.
Meninggalkan Hinata yang hanya bisa menghela nafas di tempatnya. Selalu begitu, Naruto terlalu over protective pada Boruto dan Himawari walau semua itu demi kebaikan kedua anaknnya.
Sesaat kemudian, dia hanya tersenyum kikuk pada beberapa pelanggan yang dari tadi menatap mereka. Sedikit menunduk hormat, Hinata melangkah pergi menyusul suami dan kedua buah hatinya.
.
.
.
Naruto melangkah pelan menuju sang istri yang tampak tak menyadari keberadaannya, dengan lihai dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Hinata, membuat wanita itu sedikit terkejut namun langsung tersenyum kemudian. "Mereka sudah tidur?" suara itu bertanya berbisik, tak ingin mengganggu tidur kedua buah hati mereka yang kini telah terlelap.
Hinata mengangguk pelan dan menyandarkan punggungnya di dada bidang sang suami yang terasa hangat. "Mereka benar-benar mengagumkan." Puji Hinata tak tahan melihat betapa menakjubkannya Putra-Putri mereka. Di satu kamar yang berbeda ranjang. Boruto tidur dengan bantal supermannya, sementara Himawari tidur di ranjang yang ada pembatas di setiap pinggirnya sambil memeluk boneka panda kesayangannya.
"Kalian bertiga adalah hal termengagumkan yang kumiliki." Naruto mengeratkan pelukannya dengan pandangan serius mengarah pada Boruto dan Himawari. "Akan kulakukan segalanya untuk melindungi kalian, takkan ku biarkan mereka merasakan apa yang pernah kurasakan."
Senyum Hinata sedikit memudar mendengar hal itu, pelukan Naruto yang mengerat di pinggangnya jelas bagi Hinata jika yang Naruto maksud sekarang adalah masa lalu kelamnya yang walau sudah bisa ia lalui, tapi tetap membekas tak terbersih.
Menarik nafas, Hinata berbalik dan menghadap kearah suaminya. Menangkup rahang tegas Naruto dan meminta perhatian Naruto agar tertuju padanya. Saat pandangan keduanya bertemu, Hinata tersenyum teduh lalu mengangguk. "Iya, kita akan menjaga mereka bersama. Apa yang kita alami, tidak akan terjadi pada anak-anak kita, hm?"
Naruto berkedip menyurutkan ingatannya tentang masa lalu itu, lalu dia langsung memeluk erat tubuh mungil Hinata dan menenggelamkan wajahnya di leher sang istri. Menghirup aroma menenangkan yang selalu berhasil meredakan setiap kepanikan, kemarahan, ketakutan, dan segala perasaan negatifnya. "Kau, Boruto dan Himawari adalah harta berhargaku. Aku menyayangi kalian, sangat… menyayangi kalian. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku."
Hinata mengelus punggung kokoh sang suami sembari tersenyum. "Terima kasih juga telah hadir di kehidupanku. Aku juga sangat menyayangi kalian."
Naruto semakin mengeratkan pelukannya dan berhasil membuat Hinata terpekik kecil saat dia dengan mudahnya mengangkat tubuh mungil sang istri. Dengan langkah pelan dia berjalan keluar dari kamar buah hati mereka dan menutup pintu disana.
"Naruto-kun.." lirih suara itu terdengar kala Naruto memberi jarak pada pelukan mereka meski tidak membiarkan kaki jenjang Hinata turun menginjak lantai. Wajah Naruto yang mendongak menatapnya, membuat pipi Hinata merona tipis dengan manisnya. Dan saat Naruto semakin dekat lalu meraih bibirnya, Hinata tak kuasa untuk tetap mempertahankan netra peraknya agar tidak terpejam.
Hinata menumpukan tangannya di pundak Naruto dan memeluk leher sang suami saat lumatan pelan dari Naruto selalu berhasil menghanyutkan. Membawa perasaannya pada sesuatu yang menakjubkan yang tak pernah bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Saat Naruto melepaskan bibirnya, saat itulah Hinata sadar jika mereka sudah berada di kamar mereka dan kakinya telah menginjak lantai.
Desah nafas Naruto terasa di wajahnya saat pria itu mempertemukan kening mereka. "Aku jarang mengatakannya, bukan?"
"Hg?" Hinata menatap tak mengerti akan pertanyaan itu.
Sapphire biru Naruto terbuka dan langsung menatap lurus amethyst disana, kembali membuat tingkat kemerahan dipipi gembil istrinya semakin menjadi. "Aku mencintaimu."
Dua kata yang terucap dalam… sukses membuat Hinata menjadikan dada bidang Naruto untuk menjadi tempat dimana wajahnya tenggelam.
Mengiringi larutnya malam… dengan menyatukan mereka dari kisah yang telah tersulam.
.
.
.
=== The End ===
=====.=====.=====.=====.=====
.
.
.
A/n : Ini adalah apa yang bisa aku sajikan dalam waktu yang singkat ini. Bagian terakhir sengaja aku buat Shikamaru's pov untuk menggambarkan kebahagiaan dari sisi sahabatnya yang sudah perduli padanya sejak lama. Bagaimana pun, keluarga, kekasih dan sahabat adalah tiga hal terpenting, bukan?
Apa chap ini terkesan alurnya terlalu cepat dan memaksa? Maaf, aku tidak bisa lebih menjabarkan lagi jika memang begitu. Aku sudah berusaha untuk membuatnya berjalan tanpa terlalu cepat atau lambat. Mungkin juga ada yang penasaran tentang bagaimana Kakashi dan Hinata bertemu, bagian itu aku skip. Alasan pertama, jika aku menceritakan itu kurasa akn menghilangkan beberapa feel (yang aku juga nggak tau), karena aku juga nggak merasakan feelnya disana, malah jadinya berlebihan makanya scene itu yang sempat terpikirkan tidak kutulis.
Dan maaf kalau masih banyak hal lainnya yang kurang membuat kalian nggak puas. Prediksi awalku sebenarnya hanya 6k, tapi ternyata sampai 10 k. Padahal kemarin masih 5k, nggak tau kenapa hari ini udah 10k aja, mungkin efek tanggal merah. Semoga mata kalian nggak berkunang-kunang.
Nggak aku baca ulang, maaf kalau banyak typo.
Semoga nggak mengecewakan ya, minna. Aku akui aku masih punya banyak kekurangan, jadi kritik, saran dan pendapat akan selalu aku tunggu.
Terima kasih untuk semuanya yang sudah tetap setia menunggu dan mendukung fic ini. Yang selalu mendoakan yang terbaik, memberi semangat, mem-faf, follow, dan review tentang pendapat kalian. Terima kasih. Sampai jumpa di fic ku yang lain (entah kapan), jika memang masih ada yang berkenan untuk berkunjung.
- Zeno Ouryuu -
