Bab 11

Bab 11

Menjelang sore hari, di hutan terlarang,

Ginny tak tahu apa yang ada dalam kepalanya sekarang. Bahkan dia tak tahu kegilaan apa yang mampu menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah semakin jauh ke dalam hutan terlarang. Gadis itu berjalan menelusuri kerimbunan pohon menjulang dan semak belukar berduri tanpa ada rasa takut. Bagaimana bisa dia merasa takut? Saat ini dia malah tidak mampu merasakan apapun. Hawa lembab yang menyelimuti seluruh penjuru hutan segera menyapa kulit lembutnya. Kegelapan akibat dari cahaya matahari yang terhalang lebatnya pepohonan seharusnya mampu menciutkan langkahnya, namun tidak kali ini. Di dalam kepala Ginny hanya ada kekosongan. Dia tak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang.

Kaki Ginny menapaki sebuah tanah lapang dengan rerumputan yang hangus di beberapa bagian. Mendadak saja langkahnya terhenti saat dia tiba di tengah-tengah tanah lapang itu. Untuk sejenak Ginny terdiam. Namun beberapa saat kemudian dia tercenung dan kaget bukan main. Kesadarannya akan apa yang sedang terjadi datang bersama sebuah hantaman keras tak kasat mata di kepalanya.

"Di… di mana aku?" tanya Ginny pada dirinya sendiri. Suaranya segera bergaung mengisi kekosongan hutan. "Kenapa aku bisa berada di sini?"

Ginny berputar di tempatnya. Mendongak dan hanya mendapati suasana temaram di sekelilingnya. Langit di atas tempatnya berdiri terblokir rapat oleh pohon-pohon raksasa yang entah berujung atau tidak. Secara naluriah Ginny merasakan ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi di sini. Entah bagaimana bisa dia bisa berada di tempat seaneh ini. Bukankah tadi dia sedang berada di perpustakaan dan sibuk mencari bahan untuk tugas Transfigurasi? Hanya itu yang bisa diingatnya sebelum tiba-tiba saja dia sudah berdiri di tengah kepungan pepohonan lebat di dalam hutan terlarang. Jauh dari asramanya, dari puri dan dari semua orang. Dia seorang diri sekarang.

"Kebingungan, Weasley?"

Sontak Ginny berbalik ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat kelebatan muncul dari balik sebatang pohon Mahoni tua. Dia melihat seorang gadis berpostur tinggi ramping, berkulit putih mulus dengan rambut tergerai sepinggang bak tirai coklat emas sedang menatapnya dengan sorot kedengkian yang teramat sangat.

"Lestrange, kau?"

"Ya," Madeline mengangkat dagunya dan memberi senyuman culas pada gadis saingannya itu. "Aku yang mengundangmu kemari. Sebenarnya lebih tepat kalau kukatakan aku telah memantraimu dengan kutukan Imperius. Well, kau suka tempat ini, kan? Tempat yang sangat cocok untuk kita berdua."

Kutukan Imperius? Jadi itu yang dia lakukan padaku! batin Ginny paham. Untuk sekarang ini dia sedang merasakan tanda-tanda bahaya yang akan segera datang dari seorang Madeline. Sejak dulu dia memang tidak pernah percaya pada putri Bellatrix Lestrange itu. Seorang Slytherin bisa bersikap baik? Pastilah tak lebih dari sekedar akting, begitu pikir Ginny.

"Cocok untuk apa?" tukas Ginny waspada, menyelipkan salah satu tangannya ke dalam saku jubahnya dan menggenggam tongkat sihirnya erat-erat.

"Untuk berbicara empat mata," sahut Madeline, menuding ke arah Ginny dan dirinya sendiri. "Antar sesama wanita."

"Aku tak punya urusan denganmu…"

"Oh ya! Kau punya. Tentu saja kau punya, Weasley. Urusan yang sangat penting malah," balas Madeline sambil menyibak poni di dahinya. "Kita berdua punya urusan pribadi yang harus segera diselesaikan saat ini juga. Kalau tidak, maka kujamin salah seorang dari kita tidak akan bisa tidur dengan tenang di hari-hari berikutnya."

"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."

Kali ini mata Madeline terpancang tajam pada mata Ginny, mengirimkan tatapan menusuk yang benar-benar menyiratkan harapan bahwa dia ingin sekali bisa melihat Ginny mati menderita. Sorot liar dan keji, begitulah yang dirasakan Ginny sekarang. Dengan airmuka seperti ini, Madeline Lestrange seolah-olah telah menjelma menjadi sosok perwujudan boneka Barbie yang kerasukan iblis. Namun alih-alih merasa takut, Ginny justru semakin memantapkan hatinya untuk menghadapi apapun yang akan terjadi walau dia merasa jiwanya sedang terancam.

"Kau tahu betul apa yang sedang kita bicarakan, gadis tolol tak berguna!"

Genggaman Ginny pada tongkatnya semakin erat. Bentakan berisi kata-kata menyakitkan dari Madeline ini menunjukkan kalau gadis itu tidak main-main.

"Ini tentang Harry," sambung Madeline, beringsut dari batang pohon tempatnya bersandar dan berjalan menghampiri Ginny. "Jauhi dia! Dia sudah jadi milikku sekarang!"

"Apa maksudmu?" tanya Ginny kebingungan. "Kau tahu kalau aku tidak pernah berpacaran dengan Harry, kan?"

"Untuk saat ini memang itu yang sedang terjadi. Tapi bagaimana dengan beberapa bulan lagi? Tepatnya pada pertandingan terakhir Quidditch, aku sangat yakin hubungan kalian tidak akan sama seperti sekarang."

"Tunggu!" Ginny mengangkat salah satu tangannya, menghentikan langkah Madeline. "Aku sama sekali tidak mengerti, Lestange. Bagaimana bisa kau membuat dugaan konyol seperti itu?"

"Aku melihatnya sendiri. Ampas teh telah menunjukkannya dengan jelas sekali padaku."

Ginny melongo. Lestrange pasti sudah benar-benar gila, pikir Ginny. Bagaimana bisa dia menarik kesimpulan hanya dari ampas teh? Hal ini membuat Ginny semakin meyakini kalau kebanyakan orang yang mampu meramal punya susunan otak yang kacau balau akibat dijejali prediksi-prediksi masa depan yang tidak jelas. Professor Trelewney adalah salah satu buktinya.

"Jadi kau membenciku hanya gara-gara 'penerawangan' dari ampas teh?"

Dahi Madeline berkerut-kerut. Sesaat kemudian dia berkacak pinggang dan tampak semakin tidak senang.

"Kau tahu kalau aku tidak gila, Weasley," seloroh Madeline geram. "Aku punya alasan kuat mengapa aku harus membencimu. Bahkan aku sampai kesulitan menemukan hal yang bisa membuatku menyukaimu, dibandingkan dengan hal yang membuatku muak padamu."

Ekspresi Ginny mengeras. Dadanya mulai panas dan tangannya mulai gatal ingin mencakar wajah Madeline.

"Katakan apa alasanmu membenciku?" tanya Ginny dengan suara bergetar menahan amarah.

"Baik," kata Madeline sambil berjengit seolah-olah sedang menahan diri agar tidak muntah. "Katakan apa aku harus tidak membencimu kalau ternyata kaulah yang akan menjadi istri Harry, bukan aku!"

Mata Ginny terbeliak. Dia tak tahu harus berkata apa saat ini. Bahkan ada sebuah kekuatan aneh yang mendadak datang, mencengkram, dan menguasai dirinya. Sebuah kekuatan yang mampu membangkitkan perasaan bahagia sekaligus ragu bercampur aduk menjadi satu seakan dalam alam bawah sadarnya memang itulah yang dia inginkan. Ginny tahu kalau selama ini masih ada setitik rasa untuk Harry, namun dia ragu apakah rasa itu hanya sekedar rasa kagum belaka, bukan cinta. Lagipula dia sudah punya Dean dan belum berniat untuk memutuskan pemuda itu.

Untuk sekian detik, Ginny mencermati ekspresi liar Madeline dan beranggapan kalau gadis itu tidak sedang mengatakan sebuah omong kosong. Walau begitu perkataannya ini sulit dipercaya.

"Ini agak tak masuk akal…" gumam Ginny lirih.

"Well, kurasa kita sependapat," sambut Madeline, tersenyum sinis. "Apalagi mengingat dirimu yang hanya seorang gadis kotor lusuh dari keluarga kumuh, sudah pasti kalian bukanlah pasangan yang tepat."

"Jangan bawa-bawa keluargaku, Lestrange!" bentak Ginny semakin kehabisan kesabaran. "Seolah keluargamu jauh lebih baik dari keluargaku saja. Jangan lupakan penyebab mengapa ibumu disekap di Azkaban. Keluargamu sendiri tak lebih dari kumpulan para pembunuh berdarah dingin!"

Madeline mengibaskan tangan acuh. Ekspresinya dingin seolah Ginny hanya meneriakkan kata-kata tak berarti yang larut dalam hembusan angin sebelum sampai ke liang telinganya.

"Kau ingin aku menceritakan bagaimana aku bisa mengetahuinya, Weasley? Bahwa kau akan menjadi Mrs.Potter yang terhormat suatu hari? Dan kalian akan punya 3 orang anak nantinya?"

"Aku tak peduli apapun ceritamu, pembual!" sentak Ginny gusar.

"Aku melihatnya di garis tangan Harry semalam," sambung Madeline mengabaikan penolakan Ginny, sesaat kemudian matanya melebar. "Oh, kau tentu tak tahu apa yang kami lakukan semalaman. Malam yang luar biasa kalau boleh kubilang. Harry punya tubuh yang bagus dan kami menghabiskan waktu hanya berduaan saja di sebuah tempat yang sangat romantis. Sungguh menyenangkan, Weasley! Aku bahkan berharap kau ada di sana untuk menonton kami. Jujur, aku ingin tahu apa reaksimu."

Kali ini Madeline terkikik menyebalkan. Sementara Ginny menggigit bibirnya dan berusaha berpikir logis kalau Madeline hanya mencoba memprovokasi dirinya. Entah apa yang membuat dada Ginny terasa sakit sekali seakan ada berjuta-juta ngengat yang menyusup masuk dan menggerogotinya secara bersamaan. Tubuh Ginny gemetar menahan marah. Kemarahan tanpa alasan kuat karena sebenarnya dia tak berhak marah. Mau apa Harry dengan Madeline atau gadis lain bukanlah urusannya. Dia bukan pacar Harry, kan? Lalu kenapa dia merasa berhak untuk marah mendengar ini semua?

"Kau menjijikkan!" desis Ginny geram.

Madeline menggeleng, tetap saja tenang.

"Sebaiknya kau tutup mulut kotormu, Weasley! Karena aku sendiri meragukan kesucianmu. Bukan aku yang gemar berganti-ganti pacar, kan? Sejak dulu aku selalu setia dengan satu orang, dengan Harry. Sedangkan kau?"

Tangan pemegang tongkat sihir Ginny bergetar hebat di dalam saku jubahnya. Jika satu patah kata hinaan keluar lagi dari mulut Madeline, Ginny tidak bisa menjamin kalau tidak ada kutukan meluncur untuk gadis itu.

"Sudah bukan rahasia lagi kalau kau adalah gadis murahan yang gampang berpindah dari pelukan satu cowo ke cowo lainnya. Kasihan sekali Harry nanti kalau dia hanya mendapat sisa dari sebuah piala bergilir di Hogwarts," ejek Madeline dengan seringai aneh di wajahnya. "Dasar jalang!"

"Impedimenta!!"

Sontak tubuh Madeline terjengkang dan jatuh menyusur rerumputan berselimut salju sesaat setelah terhantam mantra yang diluncurkan Ginny. Di lain pihak, Ginny berusaha meredam kemarahannya dengan cara menarik nafas panjang berulang kali. Tapi dia tidak sanggup untuk lekas-lekas merasa baikan. Hinaan Madeline terlalu kejam baginya.

"Bagus, Weasley. Lampiaskan kemarahanmu! Serang aku! Serang aku supaya aku bisa menyakitimu dengan alasan membela diri," ujar Madeline sambil mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.

Ginny menggeleng. Bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak ingin mereka berdua saling menyakiti hanya karena masalah yang tidak jelas kebenarannya. Mantra yang diluncurkannya tadi hanya untuk membungkam mulut lancang Madeline.

"Aku tidak akan meladenimu!" balas Ginny ketus, berbalik dan mulai melangkah pergi.

"Godric Gryfindor adalah seorang pemberani tulen. Karena itu jangan biarkan dia malu besar gara-gara seorang penghuni asramanya kabur dari arena pertarungan hanya sesaat sebelum pertarungan dimulai," seloroh Madeline seraya bangkit dan menepis butiran salju yang mengotori jubahnya. "Ayo lawan aku, gadis pengecut!"

Serta merta Ginny berbalik kembali. Dadanya terasa panas terbakar. Kini pilihannya cuma satu, menghadapi ular berbisa ini.

"Aku pengecut? Jelas kau salah alamat, Lestrange!"

"Aodhfin!" teriak Madeline liar.

Seketika itu muncul lidah api putih dari ujung tongkat Madeline dan segera bergerak menyambar tubuh Ginny bagaikan seutas cemeti panas membara.

Untung saja Ginny masih sempat berkelit. Jilatan api putih itu hanya menyerempet sebatang pohon Ek yang berada tepat di belakangnya dan meninggalkan bekas hangus sehitam arang. Di sisa-sisa keterkejutannya Ginny terbelalak dan seketika mengerti apa yang mampu membuat beberapa bagian tanah lapang itu terbakar hangus di udara sedingin ini.

"Mantra ciptaan sendiri, Weasley," terang Madeline santai. "Hasilnya cukup bagus kurasa. Dan akan terlihat jauh lebih bagus lagi kalau kau tidak menghindarinya tadi."

"Kau benar-benar sudah gila!" sahut Ginny geram.

Di luar dugaan, Madeline justru tertawa geli menanggapi perkataan Ginny seakan dia baru saja mendengar sebuah banyolan menggelikan dalam situasi segenting ini.

"Gila? Yang benar saja! Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah berada di dalam genggamanku. Harry pasti akan menikahiku setelah dia tersadar dari pengaruh Amortentia. Dia tak punya pilihan lain setelah apa yang terjadi semalam. Aku tahu dia punya moralitas tinggi jauh di atas sepupuku ataupun semua cowo di Hogwarts. Dan satu-satunya yang bisa menggagalkanku adalah kau! Kau harus pergi, Weasley! Pergi ke alam baka, lebih tepatnya begitu," kata Madeline, menjentikkan tongkatnya. "Ramunas!"

Kilatan kuning terang nyaris menyerempet lutut Ginny kalau saja gadis itu tidak sempat mengelak, dan kemudian terdengar dentuman keras saat sinar itu menghantam seonggok batu besar. Detik berikutnya batu itu melumer dan segera hancur lumat seperti coklat yang meleleh di penggorengan. Bayangkan jika hal yang sama terjadi pada kaki Ginny. Sungguh mantra yang keji!

"Stupefy!"

"Eits, tidak semudah itu, Weasley!" sergah Madeline santai, melambaikan tongkatnya ringan dan berhasil memblokir mantra Ginny. "Incendio!"

Kali ini Ginny bereaksi lebih cepat dari sinar jingga yang sedang melesat ke arahnya. Dia berhasil menangkis kutukan ini. Bahkan berbalik meluncurkan kutukan andalannya, kutukan Kepak-Kelelawar.

Namun Madeline hanya butuh sepersekian detik untuk menolak kutukan itu. Alih-alih menggertak, dia justru mencibir.

"Dalam hal mengutuk seseorang, jelas aku jauh lebih berbakat darimu, Weasley. Koleksi mantra kutukanku ada jutaan dan semuanya sudah kupersiapkan khusus untuk merobohkanmu."

"Perlu lebih dari jutaan kutukan untuk bisa menjatuhkanku, Lestrange. Aku tidak selemah dugaanmu," balas Ginny, semakin menantang.

"Erebush!"

Seketika muncul kabut hitam pekat yang langsung menyelubungi tubuh Ginny, menjeratnya erat dan membuat gadis itu susah bernafas. Ginny memekik kesakitan, namun yang terdengar hanya erangan lirih memilukan. Sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, menyisakan rasa sakit seakan jutaan jarum sedang beramai-ramai menusuki dagingnya.

"Kau menyerah, Weasley?" tanya Madeline, melangkah setapak demi setapak mendekati Ginny yang sedang berlutut menahan rasa nyeri bukan main di setiap bagian tubuhnya. "Jika kau menurutiku dan bersedia menjauhi Harry untuk selamanya, kau tidak akan menderita begini. Tapi kau terlalu bodoh untuk memikirkan apa akibatnya kalau berani menolak kemauanku."

Ginny menggeram saat Madeline membungkuk tepat di atasnya, dan wajah mereka tepat saling berhadapan. Sementara sorot mata Madeline mulai menjelajahi setiap senti ekspresi kesakitan di wajah Ginny dan tersenyum puas ketika mata mereka bertemu, Ginny merasa begitu getir saking marahnya. Ditambah lagi saat menyadari sepasang mata hijau jamrud itu berkilau dan sorotnya terasa begitu menusuk hati. Bibir Madeline merekah, menyeringai sadis dan mencibir. Di sisi lain Ginny merasakan dirinya belum pulih benar. Tubuhnya lemas dan agak sulit digerakkan untuk saat ini.

"Untuk kali ini aku meminta dengan segala kerendahan hati…" desis Madeline, ada cemooh dalam nada bicaranya yang terkesan sopan. "…jauhi Harry! Atau aku terpaksa harus berbuat lebih jauh dari ini. Kebetulan di dalam hutan ini ada keluarga besar Acromantula. Tentu mereka akan sangat senang menikmati bangkaimu sebagai hadiah persahabatan dariku."

Bibir Ginny bergetar, antara menahan sakit dan ingin berontak.

"A…aku tidak akan menjauhi Harry atau siapapun."

"Dasar keras kepala!" sambar Madeline gusar. "Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada dunia fana ini, Weasley! Sampai jumpa di neraka!"

Belum pernah Ginny melihat ekspresi bengis dari Madeline seperti saat ini. Untuk pertama kalinya Madeline terlihat begitu mirip dengan ibunya, Bellatrix Lestrange. Dengan sorot mata nanar, gurat haus darah di wajahnya dan seringai keji di bibirnya, pasangan ibu-anak itu terlihat sangat mirip.

"Cru…"

Untuk sepersekian detik Ginny mencelos, menyadari Madeline bisa jadi sangat tega. Entah kekuatan dari mana yang telah mendorongnya, Ginny nekat membenturkan kepalanya keras-keras ke kepala Madeline. Pembelaan diri dalam keadaan terjepit ini berhasil menolong Ginny. Madeline memekik, terhuyung dan roboh.

"Kau sudah membuatku benar-benar marah, Lestrange! Dan aku tidak akan bersabar lagi untuk kali ini!" kata Ginny, bangkit dengan sisa-sisa tenaganya dan mempersiapkan tongkatnya untuk kemungkinan terburuk.

Madeline berusaha berdiri secepat dia bisa dan segera mengacungkan tongkatnya ke arah dada Ginny.

"Incarc…"

Ginny menangkisnya dan membalas, "Impedimenta!"

Sekali lagi tubuh Madeline terjengkang dan mencium tanah setelah mantra dari Ginny menghantamnya telak. Namun hal ini tidak serta merta menyurutkan amukannya.

"Orfeo!"

Sontak Ginny merasakan kedua kakinya kebas saat cahaya hijau itu menyambarnya, dan jatuh kehilangan keseimbangan. Tetapi dia masih sempat berguling menghindari terjangan sinar hijau yang sekali lagi terlontar dari ujung tongkat Madeline dan merasakan wajahnya pedih saat seleret sinar itu melesat tepat di atas kepalanya.

Serangan bertubi-tubi ini menyadarkan Ginny kalau nyawanya benar-benar sedang dalam bahaya dan dia terpaksa harus mengerahkan semua kemampuannya demi bertahan hidup. Maka dia tak perlu merasa bersalah telah membalas serangan Madeline. Untuk apa merasa bersalah? Bukankah dia yang diserang lebih dulu. Lagipula dia sudah menolak bertarung tadi, namun Madeline kukuh menyerangnya. Jadi tidak ada pilihan lagi untuk Ginny. Dia harus membela diri.

"Incarcerous!" teriak Ginny seraya mencoba berdiri.

Kutukan Ginny berhasil digagalkan Madeline tepat sebelum kutukan itu menyentuh kulitnya. Wajah Madeline yang sudah merah padam menahan marah berubah semakin ganas saat dia meluncurkan kutukan selanjutnya.

"Aodhfin!"

Dengan susah payah Ginny berhasil memblokirnya dan serta merta menghasilkan ledakan menyerupai kembang api di udara. Gelombang panas seketika menyapu seluruh arena pertarungan, meluruhkan lapisan salju dan membuat kubangan-kubangan di beberapa bagian. Sementara desau angin hangat bercampur debu dan abu dari dedaunan yang terbakar menerpa wajah Ginny tanpa ampun, membuatnya kelilipan. Akibatnya dia tak bisa melihat pergerakan musuh.

"Orfeo!"

Teriakan Ginny bergema ke segala sudut hutan ketika sinar hijau itu menghantam tepat di perutnya. Tak terkira bagaimana cara melukiskan rasa sakit yang dialami Ginny sekarang, seakan dia baru saja diterjang hembusan angin kencang yang disertai ribuan anak panah yang langsung menembus melalui daging dan tulangnya. Benar-benar sakit bukan main!

Seraya masih merintih kesakitan, Ginny merasakan kedua lututnya bergetar, tak kuat menyangga tubuhnya yang sudah babak belur. Sampai akhirnya dia jatuh terkulai lemas di atas tanah becek. Selama itu pula Ginny mendengar bunyi mendesing di dalam kepalanya. Dan saat dia membuka mata, yang dapat dilihatnya hanyalah bias-bias cahaya redup. Dia merasa tak berdaya, ditambah lagi tongkatnya terjatuh entah kemana dan ini membuat Ginny tak lagi punya pertahanan.

Jika cahaya itu mulai bersinar terang, apakah itu artinya waktuku sudah tiba? Apakah aku akan mati saat ini juga? Kenapa aku harus pergi secapat ini? Aku belum ingin mati, batin Ginny dengan hati tersayat-sayat perih.

"Aku tak ingin terburu-buru membunuhmu, Weasley," seloroh Madeline yang merasa sedang di atas angin. "Justru aku ingin kau merasakan penderitaan akibat mati perlahan-lahan. Satu lagi mantra pemungkas dan kau akan menikmati bagaimana rasanya digerogoti sekerumunan Acromantula hidup-hidup."

Jauh di dalam hatinya, Ginny sedang terbakar oleh api amarah. Belum pernah Ginny merasa begitu marah seperti apa yang dia rasakan sekarang. Ular betina di hadapannya ini belum juga puas menginjak-injak harga diri dan juga nama baik keluarga Weasley. Kini, dengan mulutnya yang berbisa, Madeline Lestrange telah jelas-jelas berkata ingin menghabisi nyawanya dengan sadis.

"Pergilah dengan tenang, Weasley. Ya, kau harus tenang karena tak ada seorangpun yang akan datang menolongmu. Di sini tidak ada kakak-kakak lelakimu yang pengecut, Dean Thomasmu yang tersayang, ataupun Harry," kata Madeline, menyeringai bengis. "Kujamin kau akan merasa tenang di atas sana karena kau sudah tahu kalau aku akan menjaga Harry dengan sebaik-baiknya nanti."

Jantung Ginny berdegup kencang dan aliran darahnya serasa mengalir berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Namun kata-kata mengerikan dari bibir Madeline ini justru tidak membuat Ginny ketakutan. Sebaliknya dia merasakan sebuah kekuatan aneh datang dan mengendap di dadanya. Kekuatan dari rasa kebencian mendalam yang membuatnya mulai mantap dan semakin berani. Rasa benci Ginny pada Madeline telah melewati ambang batas. Cukup sudah gadis Slytherin itu menyiksanya!

"Kuucapkan selamat jalan," kata Madeline lirih, menatap tubuh Ginny yang terbaring tanpa daya dengan sorot prihatin yang dibuat-buat. "Tolong sampaikan salamku untuk ayah darah lumpurku…"

Isi kepala Ginny telah kosong dan pandangannya menerawang lurus menatap langit-langit hutan terlarang yang terhalangi oleh rimbunnya dedaunan, namun diam-diam tangan kanannya bergerak meraba-raba permukaan tanah yang basah. Dia berusaha menemukan tongkatnya sebelum Madeline sempat membunuhnya lebih dulu.

"…rasakan kutukan terakhirku, Weasley. Immo…"

Jemari Ginny membentur sesuatu yang panjang menyerupai ranting. Itu pasti tongkat sihirnya! Dia yakin betul akan hal itu.

"…bilo…"

"Protego!" pekik Ginny, secepat kilat bangkit dari posisi tidurnya dan mengacungkan tongkatnya serta merta ke arah Madeline.

Apa yang terjadi kemudian seperti potongan film yang diputar dalam gerakan lambat. Kilasan cahaya biru terang yang sedang melaju ke arah Ginny seketika berbalik ke arah Madeline, menghajar gadis itu tanpa ampun dan mementalkan tubuhnya sejauh beberapa meter dari tempat semula.

Ginny memekik ngeri menyaksikan kedashyatan senjata makan tuan yang baru saja terjadi tepat di depan matanya ini. Dia merasakan takut bercampur perasaan bersalah yang semakin menjadi saat melihat tubuh Madeline jatuh berguling-guling di tanah sampai akhirnya diam tak bergerak.

Apa dia mati? Apakah aku membunuhnya? pikir Ginny cemas sekali.

"Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan?!" jerit Ginny sambil berlari menghampiri tubuh Madeline yang terkapar tanpa ada tanda-tanda kehidupan.

Pemandangan yang tersaji sangat memilukan sehingga membuat sekujur tubuh Ginny gemetar hebat dikuasai hawa dingin aneh akibat ketakutan yang begitu mencekam. Dia melihat Madeline terbujur kaku dengan kedua mata terpejam dan bibir membiru. Lebam-lebam keunguan menghiasi wajah serta beberapa bagian tubuhnya dan membuat gadis itu nyaris tak bisa dikenali. Namun anehnya, ekspresi Madeline tetap tenang, membuatnya tampak seperti sedang tertidur lelap. Hanya saja kali ini dia tertidur dengan suara nafas yang nyaris tak terdengar. Madeline belum mati. Dia koma. Didorong oleh rasa dengki yang bukan main dalam, ternyata Madeline telah mengerahkan tataran tertinggi dari kekuatan mantra pelumpuh dan ini menyebabkan dia mengalami mati otak setelah kutukan itu berbalik menerjangnya.

Ginny duduk berlutut tepat di samping tubuh Madeline dan mulai menangis.

"A… aku harus mencari bantuan…" kata Ginny tergagap, setengah terisak. "Tapi bagaimana aku harus menjelaskan apa yang telah terjadi padamu, Lestrange?"

Ginny tak hanya kebingungan harus berbuat apa saat ini. Dia juga kebingungan harus merasa senang karena berhasil mengalahkan Madeline atau malah harus merasa bersalah karena telah mencelakai orang yang begitu bernafsu ingin membunuhnya itu. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi mungkin kali ini dia tak perlu datang untuk Ginny, karena apabila Ginny tidak merapalkan mantra pelindungnya tadi, maka dialah yang akan bernasib serupa seperti Madeline.

"Lestrange, bangunlah! Kumohon!" pinta Ginny, mengusap kedua pipi Madeline yang dihiasi bilur-bilur dan nyaris sedingin es.

Untuk kali ini Ginny berpikir dirinya bisa memaafkan semua perbuatan buruk yang telah dilakukan Madeline padanya asal gadis itu bersedia membuka mata dan berkata kalau dia baik-baik saja. Jelas sebuah harapan yang mustahil. Dan Ginny merasa bodoh sekali sudah mengharapkan sesuatu yang tidak akan bisa terwujud. Tentu saja Madeline tidak akan bangun semudah itu.

Mendadak terdengar bunyi gemeresak yang datang dari arah semak belukar tak jauh di depan mereka berdua. Ada seseorang yang sedang bersembunyi di sana.

"Si… siapa di situ?" tanya Ginny panik, mengigit bibirnya.

Tanpa diduga, seseorang menyeruak muncul dari balik semak-semak dan langsung mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Ginny. Celakanya, Ginny tak sempat berkutik akibat serangan mendadak ini.

"Obliviate!"