Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family, Drama

Pair : Orihime Inoue x Ichigo Kurosaki x Ulquiorra Cifer

.

~ Love Me ~

WARNING : TYPO'S, AU, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG LAMBAT DAN CEPAT, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X00X0X0X0X0X0X

Seminggu belakangan ini majalah ataupun koran bisnis ramai memberitakan mengenai skandal dari Ichigo Kurosaki, salah satu pengusaha muda, kaya sekaligus sukses di bidangnya, seakan tak ada berita lain yang bisa dimuat atau beritakan kepada masyarakat, hampir semuanya membahas mengenai Ichigo, bahkan gambar wajah Ichigo selalu menjadi sampul atau halam depan.

Bukan terlalu melebih-lebihkan memberitakan mengenai Ichigo, mengingat sosok Ichigo sendiri begitu menarik perhatian banyak pihak tak hanya memiliki kekayaan, wajahnya pun bisa dikatakan tampan, tak sedikit dari kalangan artis papan atas, nona-nona kaya berebut berusaha mendekati namun tak ada satupun yang bisa menarik atensi dari Ichigo untuk sekedar melirik pun tidak. Dan, disaat ada berita seperti ini muncul ke permukaan membuat publik juga semua orang merasa penasaran, tertarik, dan terus ingin menggali sampai dalam tentang kehidupan pribadi Ichigo yang selama ini sangat tertutup sekaligus mencari keuntungan sendiri dalam masalah yang terjadi.

Disalah satu sudut kota Tokyo, lebih tepatnya komplek apartemen mewah berlantai delapan belas yang biasanya di tempati kalangan artis ataupun jetset mengingat setiap satu unit apartement disini harganya sembilan digit yang tentu saja sangat menguras kantong.

Seorang pria bersurai hitam dalam balutan kaos putih polos panjang terlihat duduk santai di depan balkon salah satu kamar apartemen mewah di tengah kota Tokyo, kedua mata hijaunya menatap lurus ke depan dimana sejauh mata memandang terlihat jelas gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi menghias kota di tengah pagi hari. Belum banyak aktifitas terjadi, jalanan pun masih lengang belum banyak kendaraan yang melintas seperti hari-hari biasanya ataupun orang-orang yang terlihat berlalu-lalang.

Asap putih mengepul dari dalam cangkir keramik abu-abu polos, minuman berkafein tersebut di buatnya beberapa menit lalu tanpa ada makanan pendamping seperti kue atau semacamnya untuk menemani, hanya segelas Latte menu sarapannya pagi ini. Mungkin jika lapar nanti ia akan mampir ke mini market membeli roti atau onigiri kemasan untuk mengganjal perut hingga jam makan siang.

Menyesap perlahan Latte buatannya sendiri, kedua matanya terpejam menikmati setiap tetes cairan berwarna cokelat muda tersebut mengalir ke dalam tenggorokkan meninggalkan sensasi manis di mulut. Meletakkan perlahan cangkir keramik bewarna abu-abu tersebut ke atas meja bersebelahan dengan majalah bisnis yang biasa di bacanya setiap pagi.

Pada halaman depan atau cover majalah bisnis terebut menampilkan sosok Ichigo yang tengah menggendong mesra seorang wanita dari belakang, pria tampan ini tak perlu dihinggapi rasa penasaran mendalam hingga membuatnya sampai membuka situs gosip di internet demi mencari tahu siapa sosok wanita dalam gendongan Ichigo karena dirinya tahu, dan mengenal betul siapa wanita pemilik surai orange kecokelatan tersebut.

Sosok wanita yang belakangan ini selalu mengusik hati, serta pikiran setiap hari bahkan terkadang rasa rindu menerpa hati tak kala tidak bisa melihat wajah manisnya. Harus ia akui kalau memang dirinya jatuh hati pada wanita pemilik surai orange kecokelatan itu, bukan karena paras cantik yang dimiliki melainkan kebaikan, kelembutan hati serta senyumannya yang sangat indah seperti mentari selalu bisa menghangatkan hati.

"Haah~" menghela pelan nafas seakan melepaskan beban berat di hati.

Matanya memandang lurus ke depan, memikirkan tentang wanita bersurai orange kecokelatan tersebut sekaligus salah satu murid disekolahnya, Orihime Inoue atau lebih tepatnya Orihime Kurosaki karena sudah menikah dengan putra sulung keluarga kaya raya tersebut. Andaikan saja dirinya bisa bertemua lebih cepat dengan Orihime, sebelum menikah dengan pria bernama Ichigo itu mungkin saja saat ini mereka bisa bersama atau menjalin kisah kasih sebagai sepasang kekasih walau status mereka di sekolah sebagai Sensei, dan murid tapi apalah sebuah status jika mereka saling mencintai. Namun semua itu hanyalah sebuah angan belaka, tak mungkin bisa terjadi.

Senyuman miris menghias wajah tampannya saat mengingat hal itu, ia merasa kalau dirinya terlalu bodoh karena masih terus menyimpan rasa yang begitu mendalam untuk Orihime, walau tahu kenyataan kalau perasaannya tak mungkin terbalaskan.

"Orihime." Panggilnya dengan nada cemas bercampur rasa rindu mendalam.

Bagaimana keadaan Orihime saat ini, apakah dia baik-baik saja, makan dengan teratur, tidur dengan nyenyak. Dirinya begitu khawatir, cemas dengan Orihime, dan pria bernama Ichigo itu bisa menjaga Orihime dengan baik, melindunginya, tak membiarkan Orihime menangis sedih sendirian karena ia percaya kalau saat ini Orihime pastinya terpukul mendengar berita yang sedang ramai di bicarakan orang banyak, bukan tak terkecuali para murid di sekolah juga ikut membicarakan.

Setelah berita atau skandal terebut merebak di masyarakat luas, Orihime tidak terlihat masuk sekolah bahkan pihak keluarga Ichigo sengaja mengirimkan salah satu pengacaranya ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah demi memberitahukan keadaan Orihime saat ini, dan sangat berharap kalau pihak sekolah mau mengerti. Tentu saja pihak sekolah memberikan keringan bahkan terkesan sangat membebaskan Orihime karena tanpa sepengetahuan banyak orang diam-diam Masaki menjadi orang penyumbang terbesar untuk sekolah.

Ddddrrt

Ponselnya bergetar, saat dilihat sebuah pesan masuk. Dahinya menyeringit bingung saat mendapati pesan dari orang yang tak pernah di duganya sama sekali. Setelah membaca pesan ia langsung berganti pakaian lalu bergegas pergi.

.

.

.

.

Entah sudah berapa kali Masaki merayu sang menantu untuk makan tetapi tetap saja usahanya sia-sia. Sejak semalam Orihime menolak makan, tak mau menyentuh setiap makanan yang dibawakan pelayan.

"Kau harus makan, Orihime-chan!" Masaki duduk disamping ranjang dengan semangkuk bubur buatannya sendiri yang beberapa belas menit lalu masih panas bahkan asap putih terlihat mengepul dari dalam mangkuk namun kini sudah mendingin.

Menyodorkan satu suapan penuh berisikan bubur tepat ke arah mulut Orihime, "Buka mulutmu." Pintanya dengan penuh harap kalau Orihime mau memakannya.

Diam.

Tak ada reaksi apapun dari gadis bersurai orange kecokelatan tersebut.

Kedua mata abunya menatap kosong ke depan, bibirnya tekatup rapat seakan di beri perekat.

Wajah Orihime yang biasanya nampak cantik berseri dihiasi senyuman lebar nan hangat seperti mentari kini hilang tergantinkan dengan raut muka muram.

Kedua mata abunya yang biasanya berbinar kini terlihat sembab akibat sering menangis, lingkaran hitam di kantung mata seperti mata panda dikarenakan jarang tidur, bibirnya pucat sekaligus kering. Dimata orang-orang sosok Orihime terlihat menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan, terlebih Ichigo yang merasa sangat bersalah karena menjadi penyebab utama keadaan wanita cantik tersebut.

Bukan saja menolak makan, Orihime pun tak mau berbicara bahkan kepada Masaki sekalipun, Orihime selalu diam layaknya sebuah boneka hidup, berbaring di ranjang tak bergerak sama sekali.

Hal itu terjadi setelah Orihime siuman dari pingsannya karena syok mendengar pemberitaan di telivisi mengenai dirinya.

Mungkin pemberitaan orang-orang di luar sana benar-benar sudah membuat hati wanita bermahkota oranye kecokelatan ini sangat terpukul, jatuh bahkan syok berat hingga seperti ini. Dokter yang menangani pun mengatakan kalau Orihime sangat rentan mengalami keguguran mengingat usia kandungannya baru beberapa minggu dimana keguguran bisa saja terjadi terlebih jika sampai mengalami stress berat. Bukannya Ichigo serta pihak keluarga diam saja melihat keadaan Orihime, segala cara sudah dilakukan membujuknya agar mau makan walau hanya satu suap tapi sia-sia, semua makanan yang di sodorkan selalu di tolak bahkan di buang begitu saja.

Ichigo bernar-benar stress, dan bingung dibuat, dirinya benar-benar merasa sedih, cemas, juga takut jika terjadi apa-apa dengan istri beserta anaknya yang masih ada didalam kandungan. Ingin rasanya ia memeluk erat tubuh ringkih istrinya, menenangkannya sekaligus meminta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Jangankan untuk mendekat Orihime selalu berteriak disertai air mata jika melihat sosoknya walau dari kejauhan, seakan-akan kalau sosoknya seperti monster mengerikan atau penjahat yang akan menyakiti, melukainya. Hati Ichigo terpukul sekaligus sakit dalam seketika melihat penolak keras dari Orihime, namun ia menyadari jelas semua kesalahannya pada istrinya itu, dan merasa pantas mendapatkannya.

Dan, sepanjang hari ini Masaki terus duduk menemani di kamar memastikan kalau keadaan menantunya itu baik-baik saja walau kini bisa dibilang kondisi tubuh Orihime lemah karena menolak makan sejak kemarin malam.

"Haah~" Masaki mendesah sedih, tak mau menyerah begitu saja. Disodorkan kembali bubur ke mulut Orihime, "Ibu mohon, satu suap saja." Katanya memohon dengan wajah memelas.

Sudah susah payah Masaki memasakan bubur untuk Orihime dengan membuka internet mencari resep bahkan sampai berkonsulatasi pada salah satu pakar gizi disalah satu rumah sakit kenalannya demi menanyakan makanan apa yang cocok untuk ibu hamil penderita Anemia defisiensi besi, semuanya dilakukan karena dorongan rasa peduli disertai perasaan bersalah mendalam pada sang menantu.

Mangkuk putih keramik yang sejak tadi terus di pangku, ditaruh di atas nakas. Tangannya terulur membelai pipi tirus Orihime, kedua matanya berbinar sedih.

Tes

Setetes air mata menetes membasahi pipi.

Kondisi Orihime semakin hari sangat mengkhawatirkan membuat semua orang di rumah dirundung perasaan cemas, panik, sekaligus bingung harus berbuat dan melakukan apa. Kedua mata Orihime masih menatap kosong ke depan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, seakan bisu sekaligus tuli Orihime selalu diam tak menyahuti ataupun mendengar setiap kata penuh rayu dari sang ibu mertua membujuknya agar mau makan.

Bukannya Orihime tak mau menghargai setiap usaha sang ibu mertua, tapi sebenarnya Orihime ingin menyerah untuk hidup, dalam benaknya terus berpikir kalau kematian mungkin lebih baik untuknya juga sang anak di dalam kandungan karena dengan begitu dirinya tak perlu lagi merasakan perasaan sakit serta mendengarkan kata-kata menyakitkan orang-orang diluar sana. Mengapa harus dirinya serta sang anak merasakan penderitaan seperti ini bukan orang lain. Apakah Tuhan tak sayang padanya sehingga memberikan penderitaan serta rasa sakit bertubi-tubi padanya, jika pun ini adalah ujian atau cobaan hidup, sungguh Orihime benar-benar tak sanggup lagi menjalaninya. Tubuh, hati, serta jiwanya tak mampu lagi, dirinya sudah berada dalam batasnya.

Melihat keadaan Orihime yang begitu mengkhawatirkan tadi pagi pihak keluarga memutuskan memanggil kembali Dokter Ukitake untuk memeriksa keadaannya, dan Dokter tampan itu pun mengatakan kalau Orihime benar-benar mengalami depresi, hal itu terlihat jelas dari keadaannya saat ini dimana terus melamun tak menanggapi perkataan dari siapapun terlarut dalam dunianya sendiri.

Demi menjaga kesehatan janin di dalam rahim Orihime selang infus terpaksa dipasang, keadaannya benar-benar sangat mengkhawatirkan terlebih kesehatannya akan sangat mempengaruhi janin didalam kandungannya, dan Ukitake sendiri sudah memberi peringatan keras pada Ichigo agar bisa membujuk istrinya untuk makan kalau tak mau hal buruk terjadi disamping Orihime memiliki penyakit Anemia defisensi besi, dimana penyakit itu cukup berbahaya jika terjadi pada ibu hamil.

Kedua pipi Masaki sudah basah oleh air mata melihat keadaan sang menantu yang begitu menyedihkan dimana sosoknya dulu terlihat begitu ceria walau sebatang kara, wajahnya selalu tersenym hangat namun kini seperti mayat hidup. Masaki sangat memahami betul keadaan Orihime karena siapapun jika diposisi Orihime pasti akan merasa tertekan secara batin dengan pemberitan diluar sana dimana sangat memojokkan Orihime bahkan terkesan mengada-mengada namun bukan hal itu saja yang menjadikan Orihime depresi sebenarnya, faktor utamanya adalah sikap dari Ichigo sendiri dimana pada awal pernikahan sangat dingin, acuh bahkan seakan tak peduli karena masih terkenang mendiang Sena, hubungan pernikahan keduanya pun bisa dibilang terus berlangsung sampai detik ini karena campur tangan dari Masaki serta Isshin termasuk dengan kehamilan Orihime. Jika tahu menikahkan Orihime dengan Ichigo akan membuat gadis manis itu menderita seperti ini pastinya Masaki tak akan meminta juga memaksanya untuk menikah dengan putra sulungnya tersebut karena ia benar-benar tak tega melihat kondisi Orihime, dan perasaan bersalah sekaligus menyesal terselip dihati.

Pintu kamar terbuka menampilkan seorang pelayan yang berjalan masuk dengan sedikit tergesa-gesa, membungkuk sebentar membari hormat pada sang Nyonya, gadis manis bersurai hitam bercepol satu ini membuka suara.

"Nyonya," panggilnya takut.

"Ya," sahut Masaki seraya menoleh.

"Maaf Nyonya, jika mengganggu tapi di depan gerbang rumah ada Tuan Ulquiorra, dan sedang menunggu. Apakah Nyonya mengijinkannya masuk atau ingin menyuruh penjaga mengusirnya?"

Masaki terdiam sejenak, "Biarkan dia masuk, dan suruh ia menunggu di ruang tamu," kata Masaki memberi perintah sekaligus izin.

"Baik Nyonya."

Masaki membelai lembut puncak kepala Orihime seraya tersenyum miris, sebenarnya suami serta anaknya, Ichigo melarang siapapun untuk datang berkunjung sekalipun untuk menjenguk keadaan Orihime karena tak mau nantinya orang luar tahu keadaan Orihime yang sedang down seperti ini takut jika dijadikan bahan berita lagi, dan pastinya itu akan semakin membuat Orihime tertekan termasuk Ichigo yang menjadi orang paling bersalah dalam masalah ini.

"Ayame," katanya memanggil salah satu pelayan yang berdiri di dekat ranjang yang bertugas menunggu, menjaga sekaligus melayani Orihime.

"Iya, Nyonya,"

"Tolong kau jaga Orihime untukku, ada tamu yang harus aku temui, dan pastikan tak ada siapapun yang masuk ke kamar kecuali atas izinku,"

"Bai, Nyonya."

Saat Masaki datang ke ruang tamu, ia tak hanya saja melihat Ulquiorra namun seorang gadis bersurai hitam sebahu yang merupakan teman baik menantunya di sekolah, Rukia Kuchiki, adik dari seorang seniman Kabuki terkenal Kuchiki Byakuya.

Ulquiorra, dan Rukia langsung bangun saat melihat Masaki datang, keduanya membungkuk memberi hormat sekaligus salam kepada Nyona pemilik kediaman mewah nan megah ini.

"Richard," panggil Masaki pada seorang pria bersurai kuning pendek bermata hijau yang merupakan kepala pelayan disini.

"Yes, Madam," sahutnya seraya membungkuk.

"Tolong kau buatkan teh, dan hidangkan kue untuk mereka,"

"Baik, Madam."

Pria tampan ini pun pergi ke arah dapur setelah mendapatkan perintah.

Wajah Masaki nampak lesu, tak bersemangat sama sekali, itu terlihat jelas sekali dari raut wajahnya yang biasanya selalu tersenyum ceria.

"Maaf..." kata Rukia membuka pembicaraan.

Gadis cantik ini sedikit gugup, takut saat berbicara dengan Masaki, "Ba-bagaimana keadaan Orihime, Nyonya Kurosaki?" tanya Rukia cemas karena sudah hampir dua minggu ini tidak bertemu apalagi setelah berita itu merebak belakangan ini.

Wajah Masaki tertunduk sendu, "Akan aku jelaskan semuanya pada kalian berdua, tapi bisakah kalian berjanji merahasiakannya dari siapapun,"

"Ya. Kami berjanji." Sahut Ulquiorra dengan wajah serius, dan penuh keyakinan.

"Terima kasih." Masaki tersenyum sekilas.

Wanita paruh baya ini menoleh ke arah jendela melihat sekilas pamandangan dari balik jendela besar di ruang tamu, hatinya sedang berkecambuk saat ini antara ingin mengatakan atau tidak tapi dirinya tak bisa terus menyembunyikan kebenaran kepada orang-orang terdekat Orihime, mengingat hanya mereka berdua saja yang selama ini terlihat begitu dekat, juga peduli dengan keadaan gadis bersurai orange kecokelatan tersebut. Jadi keputusannya kali ini tidaklah salah walau nantinya Ichigo akan marah besar tapi akan ia terima, semuanya demi kesembuhan Orihime apapun dilakukannya, termasuk melanggar janjinya pada sang putra.

"Entah, apa yang aku katakan kali ini bisa dipercay atau tidak tapi memang inilah kenyataannya," Masaki mulai berbicara, wajahnya menatap lurus ke arah Rukia serta Ulquiorra, "Saat ini Orihime-chan tengah hamil."

Raut wajah keduanya terlihat kaget sekaligus tak mempercayai kata-kata Masaki barusan terlebih dengan Ulquiorra yang tak mau percaya bahkan menerima kalau kini Orihime tengah hamil, dan itu anak dari pria bernama Ichigo. Seketika hatinya marah sekaligus kecewa dalam satu waktu.

Namun sebisa mungkin Ulquiorra berusaha menutupi perasaan hatinya yang sedang berkecambuk, dan tetap tenang mendengarkan cerita dari wanita paruh baya tersebut walau hatinya sendiri terasa tercabik-cabik.

Setelah bercerita panjang lebar, Masaki pun mengajak Rukia serta Ulquiorra ke kamar Orihime, "Mari aku antar kalian ke kamar Orihime."

Tanpa membuang waktu Rukia, dan Ulquiorra segera bergegas bangun karena tak sabar melihat Orihime, ingin mengetahui keadaannya.

Pintu berwarna cokelat tua dengan gagang emas sebagai pegangannya di buka perlahan oleh Masaki lulu berjalan masuk.

Kedua mata Rukia melebar bahkan mulai berkaca-kaca, tubuhnya gemetar melihat keadaan Orihime yang bisa dikatakan seperti mayat hidup. Hati Rukia merasa terenyuh melihat keadaan sahabatnya itu, baru juga tiga minggu mereka tidak bertemu tapi penampilan Orihime terlihat sangat menyedihkan. Menghapus cepat setetes air mata di ujung matanya, Rukia berusaha menampilkan senyuman lebar tak mau menunjukkan kesedihannya di depan Orihime.

Jika Rukia merasa kaget melihat kondisi Orihime lain hal dengan Ulquiorra yang luar biasa syok mendapati keadaan Orihime bisa sampai seperti itu, dimana tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali darinya. Kemana sosok Orihime yang dikenalnya, dimana wajahnya selalu tersenyum hangat, matanya selalu berbinar senang saat mendengarkan pelajaran darinya. Kemana sosok Orihime-nya, mengapa Ichigo membiarkannya sampai seperti itu. Tangan Ulquiorra terkepal erat disamping tubuh menahan amarah yang bercampur kesedihan. Dirinya merasa sedih sekaligus marah pada dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Orihime.

Rukia berjalan perlahan ke arah ranjang dengan mata berkaca-kaca, dirinya berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, dan menunjukkan kesedihannya.

Langkah Rukia berhenti tepat di samping ranjang, "Orihime," panggil Rukia pelan.

Biasanya Orihime tak pernah bereaksi kepada siapapun saat dipanggil namanya tapi tidak kali ini saat sahabat baiknya memanggil namanya.

Kedua mata Orihime melebar sesaat, kepalanya perlahan-lahan menengok kesamping, netra abu-abunya mendapati sosok seorang gadis bersurai hitam dalam balutan seragam sailor hitam tengah tersenyum hangat ke arahnya. Sosok yang sangat dirindukannya, seseorang yang sangat ingin ada disampingnya disaat dirinya dalam keadaan jatuh, dan terpuruk.

TES

Liquid bening mengalir deras membasahi pipi, kedua tangannya terulur kedepan merengkuh erat tubuh mungil sahabatnya yang begitu dirindukan, "Hiiikshhhh...Rukia-chan," isak Orihime.

Betapa dirinya rindu, dan ingin bertemu dengan satu-satunya orang yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu. Melihat adegan mengharukan di depan mata, membuat Masaki ikut menitikan air mata sekaligus merasa senang karena akhirnya Orihime bisa merespon, dan ia harus berterima kasih kepada Rukia nantinya.

Sementara itu tbuh Ulquiorra berdiri kaku, tak jauh dari ranjang kedua kakinya seakan dipaku kuat ditahan tak dapat digerakkan walau sebenarnya otaknya sudah memerintahkan kakinya bergerak.

"Hiiiiksh..." Orihime memeluk sangat erat tubuh Rukia, menumpahkan segalanya kepada gadis cantik ini.

Rukia membalas dekapan Orihime, salah satu tangannya mengelus punggung Orihime mencoba memberikan ketenangan sekaligus kehangatan, "Tenanglah Orihime,"

"Hiiiksh...a-aku rindu padamu," ujarnya dengan penuh rasa rindu mendalam, dan tak perasaannya saat ini tak bisa dibendung sama sekali.

Rukia berusaha tersenyum walau disertai air mata padahal sedari tadi ditahannya tapi akhirnya pertahannya jebol juga, "A-aku pun sama, rasanya sekolah begitu membosankan karena tak ada dirimu yang cerewet," balas Rukia disertai senyuman kecil menghias wajah.

Keduanya masih berpelukan meluapkan perasaan rindu satu sama lain terlebih untuk Orihime yang benar-benar ingin melihat Rukia, "Hiiiksh..."

Rukia melepaskan pelukkan Orihime, ditatapnya gadis bersurai orange kecokelatan itu yang wajahnya terlihat pucat pasi persis seperti orang sakit terkena tifus, "Kemana temanku yang ceria dan periang itu,"

Orihime hanya mengangkat kedua sudut ujung bibirnya sedikit.

Pria bersurai hitam dengan mata Emerald tersebut membuka suara, memanggil nama Orihime penuh perasaan rindu bercampur rasa cemas, "Orihime,"

Orihime langsung menoleh mencari orang yang memanggilnya, dan dirinya mendapati pria bersurai hitam tersebut berdiri tak jauh dari pintu kamar menatap ke arahnya dengan tatapan sulit diartikan, "Sensei..." katanya kaget.

Ada perasaan senang menyelip dihati Orihime melihat pria bersurai hitam tersebut ternyata ikut datang bersama Rukia untuk menjenguknya, bagaimanapun ia merasa banyak berhutang budi pada Senseinya itu karena selama ini sudah banyak membantunya bahkan terkadang menjadi tempat dirinya bersandar disaat tengah terpuruk.

Kedua kaki Ulquiorra akhirnya bisa di gerakkan setelah tadi hanya berdiri diam melihat, Ulquiorra mendudukan diri disamping ranjang, wajahnya tersenyum hangat seraya mengelus puncak kepala Orihime.

"Apa kabarmu, Orihime?" tanya Ulquiorra lembut.

Orihime hanya menunduk menangis tak bisa menjawab pertanyaan mudah dari Ulquiorra. Dan, tanpa meminta izin sama sekali bahkan tak mempedulikan sosok Masaki ataupun orang-orang yang ada di dalam kamar, Ulquiorra membawa tubuh ringkih Orihime kedalam pelukkannya, dan Orihime sendiri tidak protes sama sekali bahkan mencengkeram erat kemeja depan miliknya.

"Menangislah sepuasmu jika itu bisa membuatmu tenang, Sensei ada disini."

"Hiiiksh...Sensei..." isak Orihime.

Dan, diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun Masaki memotret moment keduanya sebagai bukti sekaligus ingin membuat Ichigo cemburu. Setelah mengetik beberapa kata, Masaki mengirim gambar yang di ambilnya pada Ichigo, dan dengan perasaan senang sekaligus penasaran mau melihat bagaimana reaksi, serta sikapnya setelah melihat foto itu.

.

.

.

.

Semua pekerjaan di kantor tak bisa Ichigo selesaikan dengan benar bukan hanya itu saja Ichigo selalu melamun tak bisa fokus bahkan ketika di ajak berbicara oleh Renji membahas pekerjaan atau hasil rapat Ichigo lebih banyak diam bahkan tak jarang mengatakan tidak tahu, sebuah hal yang sangat jarang terjadi mengingat Ichigo sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaannya lebih dari siapapun di perusahaan.

Seluruh pikirannya tercurahkan kepada Orihime, memikirkan kondisi istrinya yang semakin hari mengkhawatirkan terlebih kini selang infus terpaksa dipasang demi kesehatan sekaligus keselamatan calon anaknya. Ichigo benar-benar sangat stress memikirkan kondisi istrinya, sekaligus situasi ini membuat dirinya terasa begitu tertekan, bahkan tak bisa berbuat apapun untuk wanita yang dicintainya. Hanya bisa diam melihat semuanya, dan itu membuat dirinya menjadi orang tak berguna sama sekali.

Terus sibuk memikirkan kondisi sang istri membuat Ichigo melupakan segalanya bukan hanya pekerjaan di kantor melainkan kesehatannya sendiri ikut di lupakan, pola makan Ichigo tidak teratur sama sekali.

Selama mengenal Ichigo baru kali ini Renji melihat teman sekaligus bosnya di tempat ia bekerja sekacau ini setelah kejadian kematian Sena yang tentu saja membuat hati Ichigo sangat terpukul sekaligus kehilangan, tapi kali ini efek dari keadaan Orihime lebih dasyat karena mampu membuat Ichigo kacau.

Renji sangat memaklumi juga mengerti keadaan Ichigo akhir-akhirnya ini yang sering banyak melamun, tak bisa fokus, konsetrasinya pun terganggu, jika saja dirinya berada di posisi Ichigo pastinya akan bersikap sama tapi jika terus dibiarkan seperti itu semua pekerjaan di kantor akan terbengkalai, dan semua itu akan berdampak besar pada perusahaan juga seluruh karyawan yang bekerja. Tak banyak hal yang bisa Renji lakukan untuk bos sekaligus sahabat baiknya itu hanya berupa dukurang moral.

Namun bukan tak ada orang yang merasa senang bahkan bergembira ria melihat keadaan Ichigo yang sedang down seperti ini karena dengan begini bisa memiliki kesempatan merebut posisi penting di perusahaan menggantikan Ichigo. Pria tampan dengan surai merah ini hanya perlu menunggu waktu sebentar lagi hingga semua rencananya berjalan mulus, dan keinginannya tercapai.

Sejak beberapa saat lalu Ichigo asik mengutak atik ponselnya entah sedang berbalas pesan e-mail entah dengan siapa. Melihat raut wajah sang bos yang terlihat begitu serius bahkan terlalu fokus membuat Renji tak berani bertanya apalagi menyela.

Renji kembali menyibukkan diri dengan setumpuk dokumen yang seharusnya di periksa oleh Ichigo tapi mana mungkin memberikan pekerjaan kepada Ichigo disaat pikirannya sedang tak fokus yang ada salah semua, keadaan di ruangan kerja Ichigo terdengar hening hanya terdengaer suara jari jemari tangan Renji di atas keyboard komputer sampai terdengar suara teriakkan keras dari Ichigo membuat jantung Renji hampir lepas dari rongganya karena saking kerasnya seakan tengah melihat hantu saja.

"A-ada apa, bos?" tanya Renji melirik takut ke arah meja sang bos.

Ichigo menatap tajam pada Renji, "Batalkan semua jadwalku hari ini," katanya dengan nada tinggi.

"Ekh?!" seru Renji kaget sekaligus bingung.

Buru-buru Renji bangun dari kursinya dengan membawa sebuah buku berukuran sedang catatan jadwal rapat atau pertemuan sang bos dengan klien hari ini tapi belum juga sampai pria bersurai orange tersebut sudah keburu berjalan menuju pintu keluar.

"Aku akan pulang cepat, dan tolong kau urus semua pekerajaanku," katanya seraya berjalan cepat.

"T-tapi..." ucapan Renji tak didengar bagaikan angin lalu karena pria bersurai orange tersebut sudah pergi begitu saja meninggalkan ruangan dengan wajah marah entah apa yang terjadi padahal tadi seingatnya tidak ada hal yang aneh.

"Haah~" Renji mendesah berat.

Lagi-lagi sang bos pergi begitu saja meninggalkan tugas, dan pekerjaan di kantor yang bisa dikatakan menumpuk. Sebenarnya yang menjadi bos diperuhsaan ini adalah Ichigo atau dirinya karena semua tugas pemimpin perusahaan selau ditanganinya.

Renji tak tahu kalau saat ini Ichigo sedang marah sekaligus cemburu gara-gara foto yang dikirim sang ibu beberapa menit lalu, dimana dengan beraninya pria bernama Ulquiorra itu memeluk mesra tubuh istrinya. Apakah Ulquiorra mau kedua tangannya dipatahkan karena tindakan lancangnya.

TBC