Desclaimer : Aoyama Gosho

Warning : OOC

Terima Kasih buat KiraScarlet1412, ai-chan, uchiha azaka, shiho kudoyang sudah mereview di chapter sebelumnya.

Ok, langsung aja. Happy reading.!

Stay on My Side

.

Dorrr

.

"Hgghhh."

.

"Haibaraaa.."

.

Dengan cepat Shinichi menyangga tubuh Shiho yang mulai ambruk,

"Haibara.. kau.."

"Tidak perlu khawatir gitu Kudo, tak apa. Hanya mengenai pahaku, tidak akan membuatku mati." Ucap Shiho menenangkan, dengan raut wajah menahan sakit yang tidak bisa disembunyikannya,

Kenapa kau memilih terluka dan melindungiku, Haibara?

Orang itu mulai menembak lagi, membabi buta. Sadar akan situasi yang rawan, Shinichi langsung menggendong Shiho dipunggungnya dan segera berlari keluar. Dengan berjalan mundur dan terus menghadap kebelakang agar Shiho tidak terkena tembakannya lagi.

Aksi tembak tembakkanpun terus terjadi, entah sudah berapa peluru yang mereka habiskan. Dan kali ini, tembakkan Shinichi tidak meleset, pelurunya dengan sukses mendarat di bagian perut orang itu.

"Kau baik-baik saja ?" Tanya Shinichi cemas, pada Shiho yang masih berada di punggungnya.

"Ya,.. Aku berat Kudo? aku rasa aku masih bisa berjalan."

"Hah, kau bercanda? Aku sama sekali tidak merasa sedang menggendong seseorang."

"Bagus kalau begitu, kau bisa menggendongku sampai ke rumah kan," Ucap Shiho sambil nyengir.

'Dasar.' Ucap Shinichi sambil tersenyum.

xxx

"Ku – Kudo jembatannya.." Ucap Shiho sambil menatap horror jembatan didepannya.

"Hhh, sial.." umpat Shinichi.

"Hanya itu jalan satu-satunya, ini pasti rencana cadangan mereka,." Gumam Shiho. " Ehh, a-apa yang kau lakukan Kudo.." Ucap Shiho panik, karena Shinichi yang tiba-tiba mengeratkan tangannya di belakang punggungnya untuk menyangga tubuh Shiho dan seketika itu juga berlari ke arah kobaran api yang melahap jembatan kayu itu.

"Kau bilang jembatan itu satu-satunya jalan untuk keluar dari tempat ini kann,"

"Jangan bilang, kau.."

"Yeah, benar sekali."

.

.

"Cepat, pegang tanganku.."

"Pergilah, aku akan menyusulmu."

"Jangan bodoh Kudo. Bahkan disaat seperti ini, kau masih saja bersikap arogan."

Sesaat setelah Shinichi hampir menginjak pijakan ujung jembatan itu, pijakan itu runtuh begitu saja. Dan disinilah mereka, dengan Shiho yang masih bisa bertahan di atas jembatan yang mulai habis di lahap api, Shinichi masih bergelayutan, bertahan sebelum ia benar-benar terjun ke jurang curam dibawahnya itu.

Dengan sifat keras kepala mereka, dengan keinginan yang kuat dari masing-masing untuk saling melindungi, mereka sama sekali tidak mengindahkan kobaran api yang semakin lama semakin menghabisi jembatan itu, dan bahkan mereka tidak mengindahkan jurang curam yang siap menanti mereka.

"Aku yang bodoh atau kau yang nekat, Miyano. Dengan keadaan kakimu yang seperti itu, kau tidak akan kuat menyanggaku. Cepatlah, pergi! Selamatkan dirimu." Teriak Shinichi.

"Ku-do, aku serius. Cepat pegang tanganku atau kita berdua akan benar-benar terpanggang disini." Ucap Shiho terbata sambil menatap tegang kearah kanannya,

Shinichi yang tadi berteriak pada Shiho, melihat raut wajah Shiho yang tegang pun melihat kearah pandangan Shiho.

Api yang yang sudah melalap bagian sisi sebrang jembatan itu bahkan sudah benar-benar meruntuhkan sebagian sisi jembatan.

Shiho dengan cepat, memegang tangan Shinichi yang masih bertumpu pada bagian jembatan itu dengan kedua tangannya. Berusahan menariknya dan menarik tubuhnya sendiri untuk sampai ke permukaan tanah di sampingnya.

Ia hanya berharap pegangannya pada tangan Shinichi tidak lepas karena tangannya yang berkeringat terkena panas. Begitupun dengan Shinichi ia berusaha mengeratkan pegangannya pada Shiho dan mendorong tubuhnya ke atas.

.

.

.

Entah apa yang terjadi, sesaat setelah jembatan itu masuk ke dasar jurang, Shiho berhasil menginjakkan kakinya di tanah dan berhasil menarik Shinichi sampai ke atas. Namun merekapun tidak mengerti, tiba-tiba keduanya merasa canggung dengan posisi mereka yang seperti ini. Tubuh Shiho yang terlentang dengan tubuh Shinichi diatasnya.

Awalnya mereka sama sekali tidak sadar, yang mereka tahu, bahwa saat ini mereka telah selamat dari orang-orang itu dan kobaran api dengan jurang dibawahnya. Apalagi dengan keadaan masing-masing yang masih terkejut atas apa yang baru saja mereka alami.

Shinichi yang pertama menyadari 'posisi' mereka ini hanya bisa bengong dan memandang Shiho yang berada dibawahnya, membuatnya merasakan sensasi yang aneh yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat, ditambah lagi nafas Shiho yang masih berat tak beraturan membuat sensasi aneh itu makin menjadi-jadi.

Shiho yang sudah berhasil mengatur nafas, baru menyadari bahwa Shinichi ada diatasnya dan sedang menatapnya dengan tatapan yang aneh. Dia ingin sekali mendorong tubuh pria itu dan mengatainya detektif mesum, tapi dirinya seolah terpaku oleh tatapan pria itu, tatapan lembut dan tatapan penuh cinta dan kasih sayang membuatnya membeku dan tidak bisa bergerak.

Walau canggung namun keduanya merasa nyaman dan tidak ingin segera beranjak.

Setelah beberapa saat mereka bertatapan. Shiho sadar, bahwa ini salah, seharusnya ia tak boleh seperti ini, tidak boleh merasakan perasaan yang seperti ini.

Jangan mimpi, dia sudah ada yang punya Shiho

"Baa-Kaa, kau pikir apa yang sedang kau lakukan, Metantei-san?" Ucap Shiho, kembali dengan poker face nya.

"Eeh-hhh," Gumam Shinichi terkejut karena ucapan Shiho, sambil membulatkan matanya. Shinichi yang sudah berniat menjauh dari tubuh Shiho, mengurungkan niatnya ketika melihat Shiho yang menatap kesal kearahnya dan berniat menggoda gadis keras kepala tersebut, dan malah menyeringai kearahnya.

Melihat Shinichi yang menyeringai kearahnya dan melihat posisi nya saat ini, membuatnya teringat akan kejadian yang tidak menyenangkan ketika ia di sekap yang hampir disetubuhi oleh orang organisasi itu. Mimik wajahnya berubah seketika, perasaan takut itu mulai datang kembali, ia sama sekali tidak berani menatap Shinichi dan menundukan pandangannya, bahkan bibir yang ujungnya memerah itupun sedikit bergetar.

Shinichi yang melihat ekspresi Shiho menyadari bahwa mungkin tadi dia hampir di perlakukan tidak senonoh oleh orang-orang organisasi itu dan menyadari kebodohannya yang bukannya ingin melindungi tapi malah ingin mengusilinya.

Yah mungkin kalau keadaannya tidak seperti ini, akan sangat menyenangkan mengusili gadis itu,

.

"Hei, Lihatlah aku, disini.." ucap Shinichi seraya mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya. "Aku.. Shinichi Kudo, seseorang yang pernah berjanji untuk selalu melindungimu. Maaf kan aku ya, aku sama sekali tidak bermaksud menakutimu." Ucapnya lembut sambil menatap lekat mata gadis itu.

Shiho hanya menatap nanar kearah Shinichi. "Bodoh,," gumam Shiho.

"Hei, apa-apaan itu.."

"Kudo, apa kau mengetahui orang-orang tadi?"

"Mereka itu anggota mereka juga, yang tadi mengejar kita itu Benjiro Ogawa dan rekannya yang mati di dalam adalah Akihiro Sasaki, namun sepertinya mereka dari golongan yang paling rendah." Jelas shinichi.

" Ya, ini aneh, aku sama sekali tidak bisa merasakan hawa kedatangan mereka. Aku rasa kemampuanku semakin hari semakin tumpul. " Ucap Shiho dengan nada menyesal.

Ya, itu karena kau orang baik. Kau bukan bagian dari mereka lagi , semakin lama kau semakin putih dan meninggalkan kegelapan.

Melihat shinichi yang diam saja sambil menatap kearahnya membuat nya menaruh kedua tangannya di kedua sisi wajah Shinichi sambil menatapnya lekat-lekat dan berkata, "Hei detektif bodoh, tak bisakah kau pergi dari atasku sekarang.? Kau sungguh berat.!" Ucapnya sambil mendorong wajah Shinichi menjauh.

.

.

.

"Apa lagi yang kau lakukan?" Ucap Shiho ketika melihat Shinichi menjongkokkan diri di hadapannya.

"Cepat naiklah ke punggungku, kau sendirikan yang meminta di gendong sampai Apartemenmu."

"…"

"…"

.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan Kudo.?" Tanya Shiho memecah kesunyian.

"Hh, apa maksudmu?"

"Yahh ku pikir kau menginginkan sesuatu dariku, makanya kau mau menggendongku seperti ini."

'Hhh, baroo. Sudah jelaskan karena aku kau jadi seperti ini.' Ucap Shinichi dalam hati.

"M Miyano, ada yang ingin ku tanyakan padamu."

"…"

"Kenapa kau memilih tertembak untuk melindungiku dan bersikeras menolongku di jembatan tadi?"

Mendengar nada keseriusan dari Shinichi, ia sempat diam sejenak sebelum ia menghembuskan nafas dan membuka mulutnya. " Seorang bocah bernama Conan Edogawa pernah mengatakan bahwa ia akan menjaga dan melindungi Ai Haibara, makanya Ai Haibara juga ingin menjaga dan melindungi Conan Edogawa walaupun ia tak pernah mengungkapkannya." Ucap Shiho seraya tersenyum dengan pandangan merawang kedepan.

"Jadi, saling melindungi begitu? Hhm?" Gumam Shinichi sambil melirik ke wajah Shiho disampingnya, tepat berada di atas pundak kanannya.

"Yah walaupun pada saat itu yang mengucap adalah Conan Edogawa. Hhh, bodohnya, seharusnya janji itu sudah tidak berlaku ya, mengingat Conan Edogawa dan Ai Haibara sudah tidak ada."

"Kau salah, Conan dan Ai akan selalu ada di hati anak-anak itu, di hatimu dan hatiku dan tentu saja di hati setiap orang yang pernah berhubungan dengan mereka."

'Dan satu lagi, Aku berjanji, sebagai seorang Shinichi Kudo aku akan menjaga dan melindungimu, Shiho Miyano. Jadi, janji itu masih berlaku kan?'

"Ohh jadi detektif arogan kita ini sudah menjelma menjadi detektif yang sok puitis ya.." ucap Shiho dengan senyum mengejeknya.

"Tch, terserah kau saja, aku sedang tak ingin berdebat denganmu Miyano."

.

"Aku baru sadar, kau dari tadi memanggilku Miyano, Kudo-kun?"

"Yah, memang kau ingin ku panggil apa? Haibara ?"

"Tidak, jangan."

"Lalu.. Ohh, bagaimana kalau ku panggil Shiho? Hmm.."

"Tidak, kau tidak ku ijinkan." Ucap Shiho ketus

"Oh ayolah, akan sangat menyenangkan jika kita bisa memanggil dengan nama depan kita. Bukankah kita sudah berteman lama? Hmm, bagaimana Shiho.." Ucap Shinichi dengan nada jahilnya dengan niat menggoda Shiho.

"Sudahlah, lebih baik kau percepat langkahmu, aku sudah benar-benar lelah." Ucap Shiho dengan suara yang hampir habis seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Shinichi.

"Hahh, oii oii."

-TBC-