Marriage Not Dating Part 11

.

Cast :

Jung Yunho, Kim Jaejoong

.

Genre :

Romance, Comedy

.

Warning :

yaoi , BL, disarankan bacanya pelan-pelan, soalnya terjadi perpindahan scene secara mendadak.. kkkkkk... OK Dont Like Dont Read^^

.

Happy Reading

.

.

.

Setibanya di rumah sakit, Halmonie Jung langsung mendapatkan perawatan dari dokter. Ibu dan Bibi Yunho yang baru saja datang terlihat sangat khawatir.

"Apa yang terjadi?" tanya Ms. Jung khawatir.

"Halmonie minum terlalu banyak". Jawab Yunho seadanya.

"Apa? Minum?" Ms. Jung nampak terkejut mendengar jawaban Yunho.

"Dengan siapa?" lanjutnya.

"Denganku". Jawab Yunho berbohong.

Setelahnya Yunho langsung masuk ke dalam emergency room untuk melihat kondisi sang nenek, disusul sang Ibu dan Bibinya.

.

Jaejoong pergi ke Rumah Sakit karena khawatir kepada Halmonie Jung. Namun Jaejoong berdiri di luar tidak berani masuk ke dalam karena merasa bersalah.

.

Dokter memeriksa Halmonie Jung yang masih juga belum sadarkan diri.

"Jangan khawatir. Nadi, nafas, dan suhu tubuhnya baik-baik saja". Jelas sang Dokter.

"Terima kasih Dok". Ucap Ms. Jung.

"Tapi kenapa dia belum sadar? Ibu buka matamu, sadarlah!" teriak Jihye panik. "Apa dia koma? Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan!"

Halmonie Jung tetap masih tidak sadar, melainkan malah mendengkur.

"Apa dia jarang tidur akhir-akhir ini?" tanya sang Dokter.

"Ibu mengalami insomnia". Jawab Ms. Jung.

"Untuk saat ini biarkan saja dia tertidur". Kata sang Dokter kemudian pergi meninggalkan keluarga Jung.

"Astaga, jantungku hampir saja copot". Ucap Jihye lega.

"Yunho-ya, ayo kita bicara di luar". Ajak sang Ibu dan diangukin paham oleh Yunho.

.

.

Saat keluar dari emergenci room, mereka bertemu dengan Jaejoong. Jaejoong berjalan mendekati Yunho untuk menanyakan bagaimana kondisi Halmonie Jung.

Saat sudah di depan mereka, bibi Yunho mencium aroma minuman dari tubuh Jaejoong.

"Kau bau alkohol. Apa kau minum dengan Ibuku?" tanya Jihye ketus.

"Maafkan aku". Sesal Jaejoong.

"Anak dari seorang pemilik rumah minuman alkohol memang memiliki tingkat yang berbeda. Seperti seorang alkoholic". Imbuh Jihye.

"Aku benar-benar minta maaf".

"Tolong jelaskan!" sahut Ms. Jung dingin.

"Beritahu kami apa yang sedang kau pikirkan tadi?" marah Jihye kepada Jaejoong.

Sebelum menjawab rentetan pertanyaan Ibu dan Bibi Yunho, Jaejoong sudah terlebih dahulu ditarik menjauh oleh Yunho meninggalkan Ibu dan Bibinya.

.

.

Yunho menggennggam pergelangan tangan Jaejoong dengan kuat sehingga Jaejoong meringis saat merasakan sakit pada tangannya.

"Kenapa kau mengikuti kami?" bentak Yunho sesaat setelah melepaskan genggaman tangannya.

"Aku khawatir".

"Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk mengetahui batas-batasmu. Menyebrangi batas sekali dua kali memang terlihat lucu, tetapi berikutnya akan buruk. Kau masih menjadi penguntit Yoochun. Kau belum berubah". Ucap Yunho panjang lebar.

"Kata-katamu terlalu kasar".

"Kau pikir kenapa aku menjadikanmu kekasih bohonganku? Itu semua karena aku ingin damai dengan hidup sendiri. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah membuat semuanya menjadi semakin rumit".

"Aku tidak bermaksud seperti itu". Sesal Jaejoong.

"Apa tujuanmu? Kau benar-benar ingin menikah denganku? Karena itulah kenapa kau masuk ke tempatku? Dan membuat nenekku minum seperti ikan? Dan memaksa Ibumu untuk datang ke rumah sakitku?"

"Aku tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya.. aku minta maaf tapi..."

"Sadarlah. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk menikahimu. Dan aku benci seseorang sepertimu". Ucap Yunho sinis.

Kata-kata Yunho benar-benar membuat Jaejoong sakit hati. Matanya terlihat memerah karena menahan air matanya.

"Baiklah, maaf karena semua keburukanku. Aku akan menghilang dari pandanganmu".

Jaejoong pun akhirnya pergi meningalkan Yunho. Jaejoong menangis selama perjalanannya pulang.

.

.

Yunho juga kembali ke apartemennya dan kemudian melihat apartemennya benar-benar berantakan. Kemudian ia mulai membersihkan sisa-sisa makanan dan minuman yang tadi ditinggalkan oleh Jaejoong dan Halmonie Jung.

Selesai membereskan semua kekacauan itu, Yunho merilekskan dirinya dengan berendam di dalam bathup kesayangannya.

Yunho memejamkan matanya dan menikmati moment sendirinya selama hampir satu jam.

Yunho segera bergegas keluar dari kamar mandinya. Namun, pintu kamar mandinya tidak bisa dibuka. Yunho sudah mencoba menarik-narik gagang pintunya namun tetap saja tidak bisa dibuka. Yunho kemudian mengingat kejadian saat Jaejoong merusak engsel pintunya. Wajah Yunho seketika berubah panik.

.

.

Jaejoong terlihat sedang berbaring di atas kasurnya. Dia masih mengingat-ingat perkataan Yunho dengan sebal.

"Semoga kau hidup bahagia dengan kesendirianmu". Ucapnya kesal.

.

Yunho masih saja sekuat tenaga mencoba membuka pintu kamar mandinya. Namun usahanya selalu gagal.

"Hei, ada yang bisa mendengarku? Ini aku pemilik apartement 3003. Aku sedang terkunci di dalam kamar mandi! Ada seseorang di luar? Tolong bantu aku!" teriak Yunho frustasi.

Karena tidak ada respon dari luar, Yunho menendang pintu kamar mandinya dengan keras dan itu langsung membuatnya meringis kesakitan.

"Siapapun tolong aku". Lirih Yunho.

.

.

~~ 15 JAM SETELAH INSIDEN YUNHO TERKUNCI DI DALAM KAMAR MANDI ~~

.

.

Jaejoong terlihat gelisah dan bimbang.

"Aniya, aku tidak akan pergi kesana lagi". Ucapnya pelan.

Namun, hati dan pikiran Jaejoong benar-benar tidak sejalan.

"Aku hanya mengkhawatirkan bagaimana kondisi Halmonie Jung saat ini". Lanjutnya.

Kemudian Jaejoong mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Yunho untuk menanyakan kondisi sang nenek.

.

.

~~ 24 JAM SETELAH INSIDEN ~~

.

.

Jaejoong saat ini sedang berada di dalam bus tengah menatap ponselnya dengan kesal. Pasalnya, pesan singkat yang dikirimnya sedari tadi tidak mendapatkan respon dari Yunho.

"Ish, benar-benar menyebalkan". Seru Jaejoong kesal.

Namun, sesaat kemudian Jaejoong kembali mengingat dimana saat Yunho berbohong kepada sang Ibu dan Bibinya dengan mengakui dirinya yang minum bersama dengan sang nenek.

"Apa dia ingin melindungiku?" Jaejoong kemudian mencoba menelpon Yunho untuk sekedar menanyakan rasa penasarannya. Namun tidak ada jawaban dari Yunho.

.

.

.

Di lain sisi, Yunho yang sedang terkurung di dalam kamar mandinya sendiri mencoba untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak merasa bosan dan berharap waktu segera berlalu.

Yunho mulai melakukan gerakan tinju bak seorang profesional, push up beberapa kali, kemudian mulai meminum wine sisa kemarin saat berendam.

.

.

Jaejoong akhirnya memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit milik Yunho, berharap bisa menemui Yunho. Namun, seorang perawat mengatakan kalau Yunho tidak datang bekerja hari ini. Hal ini membuat Jaejoong semakin khawatir karena tidak mendapatkan kabar apapun dari Yunho.

.

.

Saat bekerja Jaejoong masih tetap mencoba menghubungi Yunho dan lagi-lagi panggilan Jaejoong diabaikan oleh Yunho.

Ahra sedang belanja dan tidak menyadari kalau dirinya berbelanja ditempat Jaejoong bekerja.

"Ahra-ssi". Sapa Jaejoong.

"Oh, Kau.. kau bekerja disini?" tanya Ahra sopan.

"Iya. Apa kau bisa menghubungi Yunho?" tanya Jaejoong tanpa basa-basi.

"Mwo?" tanya Ahra tidak mengerti.

"Aku menghubunginya berkali-kali tetapi dia tidak mengangkat teleponnya. Sekarang teleponnya malah tidak aktif, dia juga tidak ada di tempat kerjanya. Apakah terjadi sesuatu padanya?"

"Jaejoong-ssi, Kau kan sudah berpengalaman saat dengan Yoochun. Kenapa mereka menghilang? Itu semua karena mereka ingin sendirian. Jadi tinggalkan saja dia sendirian". Jawab Ahra menjelaskan.

"Iya". Jawab Jaejoong mengerti.

.

.

~~ 36 JAM SETELAH INSIDEN ~~

.

.

Yunho sudah terkurung hampir seharian penuh, dan ini membuatnya putus asa dan mulai berpikir siapa orang yang akan menyelamatkannya.

"Eomma". Kata Yunho.

"Aish, tidak mungkin".

Kemudian Yunho kembali berpikir siapa lagi kandidat yang akan menolongnya.

"Ahra?" Yunho kemudian menggeleng kepalanya tidak yakin.

"Yoochun? Malah tidak mungkin sama sekali".

"Ah, Jaejoong. Dengan kepribadianya seperti itu dia pasti yang akan menolongku". Serunya senang. Namun sedetik kemudian buyar seketika karena ia mengingat bagaimana perlakuannya kepada Jaejoong saat di Rumah Sakit saat itu, dia membentaknya.

"Dia tidak akan datang setelah apa yang semuanya terjadi". Gumamnya pelan.

Yunho yang terlalu lama terkurung dan tidak makan maupun minum saat ini merasa sangat lemas. Kemudian ia memutuskan untuk berbaring saja, tidak lama kemudian akhirnya dia pingsan.

.

.

Ahra yang sedang menyetirpun kembali mengingat perkataan Jaejoong. "Apa mungkin memang terjadi sesuatu dengan Yunho?".

.

.

~~ 48 JAM SETELAH INSIDEN ~~

.

.

Bukan Jaejoong namanya kalau mau mendengarkan nasihat orang lain. Saat ini Jaejoong berada di depan apartement Yunho.

"Yunho-ya! Jung Yunho!" panggil Jaejoong keras namun tidak ada jawaban dari dalam.

"Yunho-ya, kau ada di dalam?"

Karena tidak ada jawaban, Jaejoong kemudian masuk ke dalam apartement Yunho. Saat akan menuju ke ruang tamu, ia kembali teringat perkataan Yunho untuk mengingat dimana batasan-batasannya. Dan Jaejoong akhirnya tidak jadi melangkah ke ruang tamu.

"Apa kau ada di dalam Yunho". Teriaknya sekali lagi.

.

Merasa tidak ada jawaban lagi, Jaejoong memutuskan untuk melangkahkan kakinya meskipun hanya selangkah.

"Maafkan aku karena menganggumu, tapi aku benar-benar khawatir padamu. Sebenarnya, ketika aku masih berusia 5 tahun, aku hampir saja mati saat sendirian di rumah. Itulah sebabnya aku tidak bisa sendirian dan aku tidak ingin sendirian. Jung Yunho, apa kau baik-baik saja?"

Yunho yang sudah tersadar berusaha dengan sekuat tenaga untuk berbicara. Namun, tenggorokannya benar-benar terasa sakit dan badannya benar-benar lemas.

"Orang tuaku sekarang terlihat sangat dekat karena memikirkanku yang akan menikah dengan seorang dokter bedah plastik. Aku tidak pernah melihat mereka sangat bahagia seperti itu. Aku tidak bisa berbicara tentang hubungan bohongan kita kepada mereka saat melihat mereka benar-benar bahagia. Aku benar-benar minta maaf". Lanjut Jaejoong panjang lebar.

"Aku benar-benar minta maaf Yunho-ya". Teriak Jaejoong kesal karena tidak mendapatkan respon dari Yunho.

"Kita harus berbicara sebentar. Setelah itu aku janji akan meningalkanmu sendirian".

"Disini". Ucap Yunho pelan.

"Disini.. disini.." ucap Yunho lirih namun masih bisa didengar Jaejoong.

Jaejoong yang mendengarnya kemudian melihat ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari ruang tamu.

.

.

Ahra akhirnya sampai di depan gedung apartement Yunho. Dia langsung turun dari mobilnya dan menuju ke apartement Yunho yang ada di lantai atas.

.

.

Jaejoong menggedor pintu kamar mandi dan mencoba membukanya dengan paksa sambil memangil-mangil nama Yunho. Tidak hilang akal, Jaejoong berlari ke dapur dan mengambil sebuah pisau untuk membantunya membuka pintu kamar mandi.

Tidak lama kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Jaejoong menjatuhkan pisaunya saat melihat Yunho sudah terbaring lemas di lantai kamar mandi.

Jaejoong mendekati Yunho dan mencoba menyadarkan Yunho. Jaejoong mencoba mengangkat tubuh Yunho, namun gagal.

Jaejoong semakin panik. "Bagaimana ini?".

Jaejoong kembali mencoba untuk mengangkat Yunho, namun tiba-tiba Yunho memeluknya dengan erat.

Saat Jaejoong mencoba melapaskan pelukan Yunho, semakin erat pula Yunho memeluknya.

.

.~~ TBC ~~