Sasuke tidak ingat jika di tim rivalnya dulu ada seseorang yang bernama Shimura Sai. Sasuke tidak tahu akan hal itu. Untuk saat ini, pria itu memilih untuk mengabaikan hal itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah ... Shimura Sai adalah mantan kekasih yang dulu—uh ... mencampakkan Sakura.
.
.
.
.
.
Being His Fake Wife (c) Mitsuo Miharu
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Warn (s) : AU, OOC, dll.
Uchiha Sasuke x Uchiha (Haruno) Sakura
.
.
.
Chapter 10 : Shimura Sai.
.
.
.
.
.
Sakura mengakui bahwa jika kali ini dia sangat bodoh. Perlu penekanan sekali lagi, bahwa kali ini seorang Haruno Sakura sangat bodoh.
Entah kenapa dia tidak menyadari bahwa seorang Shimura Sai juga turut ikut andil dalam pertandingan ini. Dan lagi ... kenapa dari awal Sasuke tidak bilang bahwa Shimura Sai adalah salah satu anggota di tim rival pria itu dulu. Menyebalkan sekali.
Sakura hanya dapat terdiam ketika dia sudah membalikkan badan nya—menghadap kearah seseorang yang tadi memanggil namanya. Shimura Sai.
Sakura lebih memilih untuk menatap tanah yang sedang dipijakinya daripada menatap mata hitam milik Shimura Sai. Jari-jarinya terkepal dengan erat disamping kedua paha nya.
"Sakura." Lagi-lagi pria itu memanggil namanya. Sekali lagi, Sakura memilih untuk mengabaikannya. Kenapa dia tidak menjawab? Kenapa dia tidak dapat bergerak? Kenapa?
Sai mulai melangkah perlahan mendekat kearah Sakura. Tapi, tiba-tiba langkah pria berambut klimis itu terhenti. Ada seorang pria yang menghalangi jalannya untuk mendekat kearah Sakura.
"Jangan ganggu dia lagi." Uchiha Sasuke berkata dengan nada sinis dan dingin. Oniks nya menantang oniks milik Sai. Sai pun hanya menatap datar kearah Sasuke.
Setelah itu, Sasuke langsung menarik tangan Sakura yang masih terdiam kaku menuju kearah mobil milik Minato.
.
.
.
Sementara orang lain bersenang-senang, Sasuke hanya dapat terdiam ditengah hiruk-piruk yang dibuat oleh teman-temannya di bar Nine Tails. Minato sudah pergi lagi beberapa menit yang lalu. Sementara Jiraiya memilih untuk beristirahat dikediamannya, yaitu lantai dua dari gedung Nine Tails ini.
Sasuke cukup kuat untuk minum. Sekarang saja, walau sudah habis dua gelas bir, pria itu tak menampakkan tanda-tanda bahwa dia tengah mabuk. Sasuke bukan seorang pecinta minuman keras. Dia tidak benci. Pria itu hanya suka.
Walau Sasuke bukan seorang pecandu minuman, entah kenapa malam ini pria itu terus meminta tambahan pada gelasnya.
"Tumben kau minum banyak, Sasuke," kata Sasori yang sedang menuangkan bir kedalam gelas Sasuke.
Sasuke meneguk birnya. Kemudian menjawab singkat dengan nada acuh "Hn."
Sakura yang duduk agak jauh dari tempat Sasuke duduk sekarang tiba-tiba harus mengalihkan perhatiannya dari obrolannya bersama Hinata dan Temari. Manik hijau gadis berambut pink itu melihat keadaan Sasuke yang sedang murung tersebut.
Sakura menaikkan alisnya sebelah. Harusnya Sasuke senang karena kemenangan timnya tadi, kenapa laki-laki itu malah murung? Seharusnya yang murung disini adalah Sakura. Karena Sakura harus bertemu Shimura Sai tadi.
Sebenarnya hati Sakura sedang kacau sekarang ini. Namun, gadis itu tak menampakkannya secara terang-terangan. Dan malah bersikap biasa saja. Kenapa Sasuke yang justru harusnya sekarang malah senang malah jadi murung?
Baru saja Sakura hendak memanggil nama Sasuke, tiba-tiba suara Naruto sudah menyela. "Teme, kemenangan ini karena dirimu. Kenapa kau malah murung?" Sakura tau bahwa ada nada khawatir tersirat dalam ucapan Naruto barusan.
"Ya, Sasuke. Naruto benar. Seharusnya kau bersenang-senang sekarang ini," sahut Neji. Neji juga tampaknya mengkhawatirkan Sasuke. Tetapi sepertinya pria itu tak mau menampakkannya.
Sasuke yang tadi agak menundukkan kepalanya, mulai menegakkan kepalanya. Laki-laki itu mendengus sombong. "Huh, kalau bukan karena aku. Pasti kalian semua tidak akan bersenang-senang seperti sekarang ini," ucapnya sambil menyeringai sombong.
Naruto tersenyum mendengar perkataan Sasuke barusan. Sepertinya perasaan Sasuke mulai membaik. Walau pemuda bermanik shappire itu tak tahu apa penyebab sahabatnya murung beberapa waktu lalu, tapi dia cukup lega melihat Sasuke yang berbicara dengan nada sombong seperti tadi.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Dasar ..." gumamnya pelan. Walau sudah melihat Sasuke yang berkata sombong seperti tadi, masih ada sesuatu yang menganjal didalam hati Sakura. Karena Sakura tau, Sasuke masih belum kembali sepenuhnya.
Dia berusaha mengabaikan hal itu untuk sejenak dengan ikut bergabung dalam obrolan Temari dan Hinata lagi. Kemudian Shikamaru berseru "Ayo kita bersulang sekali lagi untuk Sasuke."
"Kanpai!"
.
.
.
Bruk
Sakura langsung menolehkan kepalanya dengan cepat ketika mendengar bunyi dentuman yang agak keras itu. Dia buru-buru menaruh sepatunya di rak ketika melihat Sasuke sedang tersungkur dilantai.
"Astaga, Sasuke- kun! Apa yang terjadi?!" teriak Sakura panik dan khawatir. Dia langsung menghampiri Sasuke dan membantu pria itu berdiri.
Sakura merasakan panas saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Sasuke. Kemudian dia menempelkan dahinya pada dahi Sasuke. Gadis itu harus menjinjit sedikit karena Sasuke memang lebih tinggi daripada dirinya.
Sakura menjerit kaget sekali lagi ketika dia selesai menempelkan dahinya pada dahi Sasuke. "Astaga, panas sekali!"
Kemudian maniknya melirik kearah lutut Sasuke. Ada bercak-bercak merah disana. Sakura berlutut didepan Sasuke, kemudian menyingkapkan sedikit celana selutut yang sedang Sasuke pakai. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau terluka, Sasuke- kun?!" pekiknya lebih kaget lagi ketika melihat ternyata ada luka dilutut Sasuke. Pasti luka itu tercipta saat Sasuke terjatuh pada pertandingan tadi.
Sasuke tak bereaksi. Dia tak mau terlihat lemah dihadapan Sakura. Dia mengabaikan pertanyaan khawatir yang Sakura lontarkan bertubi-tubi padanya. Dia merasakan rasa pening yang hebat dikepalanya. Pandangannya mulai mengabur.
Sepertinya Sasuke harus beristirahat secepat mungkin. Tapi, sebelum itu Sasuke harus mengganti bajunya dulu. Langkah kakinya tak segagah biasanya, langkah kakinya yang agak lemas ini mulai melangkah kearah kamarnya yang sekarang sering ditempati oleh Sakura.
Sakura tetap mengekori Sasuke dengan lontaran kalimat khawatir. Saat Sasuke membuka pintu kamar, lagi-lagi laki-laki itu kembali jatuh. Tidak—bukan hanya jatuh, tapi kali ini pria Uchiha itu pingsan.
"Sasuke- kun!!"
.
.
.
Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasa peningnya yang tadi datang menyerangnya sudah mulai agak membaik. Tunggu ... Sasuke tidak ingat bahwa ia tertidur dikamarnya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba sudah berada disini?
Onyxnya berkeliling melihat kamarnya. Hah ... rasanya sudah lama sekali dia tidak tidur disini. Mungkin sudah hampir satu bulan? Berarti sudah satu bulan lamanya dia bersama Sakura karena kesepakatan itu. Sasuke saja hampir lupa dengan kesepakatan yang ia buat dengan Sakura satu bulan yang lalu.
Sasuke melirik kearah pintu kamarnya ketika pintu kayu mahoni itu berderit menandakan bahwa sedang dibuka oleh seseorang.
Ternyata Sakura. Dilihat oleh Sasuke bahwa gadis itu sedang membawa sebuah nampan. Diatas nampan itu terletak sebuah mangkuk yang dipenuhi asap mengepul dan secangkir teh manis yang sepertinya hangat.
"Ah, Sasuke- kun. Kau sudah bangun rupanya," kata Sakura dengan nada lega. Gadis itu buru-buru menghampiri Sasuke.
"Kenapa ... kenapa aku bisa ada disini ...?"
Sakura meletakkan nampan diatas nakas. Dia duduk ditepi ranjang, disamping Sasuke. Terlihat guratan kelelahan diwajah menawan milik Sakura. "Kau tadi pingsan, Sasuke- kun."
Jawaban Sakura membuat hati Sasuke menjadi kesal. Kenapa dia pingsan dihadapan Sakura?! Uh, memalukan ... Sasuke merasakan harga dirinya terinjak-injak sekarang ini.
Sakura tertawa melihat Sasuke yang diam-diam mengerucutkan bibirnya kesal. Sakura tau bahwa Sasuke sekarang merasa kehilangan harga dirinya sekarang. "Jangan begitu, Sasuke- kun. Wajar saja kau pingsan, sepertinya kau sangat kelelahan. Lalu, kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau terluka? Bisa-bisa lukamu itu infeksi, Sasuke- kun," kata Sakura dengan panjang lebar tanpa menghilangkan rasa khawatirnya terhadap Sasuke sedikit pun.
Sasuke tak menjawab. Dia menyingkapkan selimutnya sampai lutut. Lututnya sudah dibersihkan dan diperban. Tentu saja oleh Sakura. Pandangan matanya beralih pada pakaian yang ia kenakan sekarang. Berbeda. Bajunya berbeda dengan baju yang ia kenakan sebelum tak sadarkan diri tadi.
Otak Sasuke berputar untuk sejenak. "Sakura ...," panggilnya pelan.
Gadis yang dipanggil oleh Sasuke tadi menyahut. "Ada apa? Kau butuh sesuatu, Sasuke- kun?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Sasuke menggeleng. Dia membuang wajahnya sedikit dari Sakura—membuat gadis itu heran dan mengangkat sebelah alisnya. "Kau yang mengganti pakaian ... ku?" tanya Sasuke dengan nada hati-hati. Dia tetap belum menghadap kearah Sakura.
Sakura terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan nada datar. "Iya." Ternyata otak gadis itu lambat sekali.
Mendengar jawaban Sakura tetap tak membuat Sasuke melihat kearah Sakura. Gadis dengan helai merah muda itu masih menatap heran dan mengangkat sebelah alisnya sampai ia baru menyadari sesuatu. "Astaga!" pekiknya dengan muka yang mulai merona. "M-maaf, Sasuke- kun. A-aku tidak bermaksud ..." ucapannya tiba-tiba terputus karena Sasuke meletakkan jari telunjuknya tepat dibibir Sakura.
"Tidak Sakura, tidak apa-apa," kata Sasuke datar. Kalau dilihat secara sekilas, air wajah Sasuke memang datar. Tapi, jika diperhatikan dengan baik, ada guratan merah yang samar terletak dipipi pria itu.
Sakura langsung salah tingkah. Ketika Sasuke menarik kembali jarinya, Sakura mulai berbicara. "E-eh ... aku hanya mengganti kaos atas mu, kok. Tidak lebih, aku bersumpah!" ucap Sakura gugup dan dengan wajah yang memanas. Dia memejamkan matanya dengan erat.
"H-habisnya aku tidak tega kan, kalau Sasuke- kun harus tidur dengan pakaian yang kotor," kata gadis itu lagi sambil mengerucutkan bibirnya. Kepalanya tertunduk sedikit—tak berani menatap mata Sasuke secara langsung.
Sasuke menepuk pelan pucuk kepala Sakura yang ditumbuhi dengan helaian berwarna pink tersebut. "T-tidak apa, Sakura. Jangan merasa –uhuk ... bersalah," ujar pria dengan helai raven itu sambil terbatuk dalam kalimatnya. Oh, tidak. Sasuke mulai merasakan panas menjalari tubuhnya. Apa dia demam?
Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Sasuke dengan manik hijau jernihnya tersebut. Dia bisa melihat pantulan dirinya sendiri dimata kelam milik Sasuke. Sakura terpesona akan manik jelaga Uchiha Sasuke. Sangat kelam—dan misterius, sekaligus mempesona. Sakura langsung tersadar dari lamunan singkatnya ketika tangannya tak sengaja menyentuh kulit tangan Sasuke.
"Panas sekali," gumam Sakura cemas. "Sasuke- kun, sebaiknya kau harus cepat-cepat istirahat." Tangan gadis itu meraih kompres yang sudah terletak diatas nakas.
Untuk kali ini, Sasuke akan menuruti perkataan Haruno Sakura. Selain karena dia tak tega karena sedari tadi gadis itu terus menerus mencemaskan keadaanya, Sasuke memang mulai merasakan pusing yang sangat hebat. Dia juga dapat merasakan suhu tubuhnya mulai meningkat. Dan pria itu pun mulai membaringkan tubuhnya diatas kasur kembali.
Sakura meletakkan handuk lembab itu diatas kening Sasuke. "Umm ... sebelum tidur, kau makan dulu ya, Sasuke- kun?" Kini perempuan itu mengambil bubur yang tadi sempat diletakkannya diatas nakas.
Sasuke menggeleng. Dia benar-benar tidak bernafsu untuk makan sekarang. "Apa kau sudah makan, Sakura?" tanya Sasuke dengan suara yang mulai serak.
Sakura menatap Sasuke dengan pandangan yang tak dapat di artikan. Astaga ... pria ini. Sasuke sekarang sakit dan masih memikirkan dirinya. Sungguh ... uh, entahlah. Sakura tak dapat mengatakannya. "Uh, Sasuke- kun. Dari pada mengkhawatirkan diriku, lebih baik kau makan sekarang."
Sasuke mendecih pelan. Bahkan saat sakit pun pria itu masih bisa mendecih. Sakura menggerutu pelan. "Ayolah Sasuke- kun. Ini hanya bubur, aku tau kau belum makan malam. Apalagi sebelum itu kau minum minuman keras," rengek Sakura membujuk pria yang sedang terkulai diatas tempat tidur tersebut untuk makan.
Sasuke merutuk dalam hati. Diam-diam didalam hatinya dia menyetujui apa yang barusan Sakura katakan barusan. Maafkan Sasuke, hanya untuk malam ini saja dia tampak memalukan didepan Sakura.
Helaan napas panjang keluar dari Sasuke. Dia bergumam dengan suara yang serak "Baiklah ... baiklah. Tapi ... suapi aku." Muka Sasuke masih tampak merah, mungkin saja karena memang gara-gara suhu tubuh pemuda itu. Atau ... apa ada alasan lain?
Apa ... ? Apa yang barusan Sasuke katakan? Ada yang bisa mengulanginya? Mulut Sakura menganga dengan lebar sekarang. Oh ... astaga. Kenapa Sasuke yang tengah tak berdaya sekarang nampak sangat lucu sekali dimata Sakura, apalagi tadi Sasuke mengatakan sesuatu yang terdengar sangat manja ditelinganya. Sakura tak tahan lagi. "Lucunya ...," gumaman itu lolos seketika.
Sasuke langsung menggerutu ketika mendengar gumaman Sakura barusan. Tanpa perlu dipinta sekali lagi oleh Sasuke, langsung saja Sakura menyuapkan sesendok bubur kearah mulut Sasuke. "Aaa, Sasuke- kun," kata gadis bermarga Haruno itu dengan nada gemas.
"Aku bukan anak kecil!" seru Sasuke kesal.
"Tapi kau sendiri yang minta aku untuk menyuapimu, Sasuke- kun," goda gadis berhelai merah jambu itu tersenyum jahil.
Sasuke tambah mengerutkan dahi dan bibirnya, lalu berkata dengan kasar "Sudah. Cepat, suapi saja aku!" perintahnya. Dasar, laki-laki ini. Padahal sedang sakit, tapi tetap saja suka memerintah.
Sakura hanya tersenyum kecil. Jarang-jarang dia melihat Sasuke yang seperti ini. Kemudian gadis itu kembali menyuapi Sasuke, seperti yang laki-laki itu minta padanya.
.
.
.
.
.
Setelah Sakura selesai mandi, gadis itu langsung 'mengunjungi' Sasuke lagi. Dilihatnya pria itu yang (sepertinya) sedang tertidur dengan lelap. Kaki jengjangnya membawanya mendekat ke arah Sasuke yang sedang tertidur tersebut.
Dia menghempaskan pantatnya dengan pelan disisi ranjang yang sekarang sedang ditiduri oleh Sasuke. Manik emeraldnya menatap dalam seluk-beluk wajah tampan milik Uchiha Sasuke.
"Sepertinya aku harus tidur disofa malam ini," ujarnya datar. Sakura tidak keberatan, sungguh. Memang seharusnya Sasuke lah yang tidur di ranjang ini. Dia tau kalau dirinya hanya menumpang di apartemen pria yang kedua matanya sedang terkatup tersebut.
Kalau dipikir-pikir ... dulu Sakura tidak menyangka akan tinggal satu atap bersama Uchiha Sasuke selama tiga bulan. Saat awal pertemuan mereka berdua pun tidaklah menyenangkan. Karena waktu itu sikap Sasuke memang sangat menyebalkan. Dan juga ... waktu itu Sakura pernah berpikiran tidak akan pernah menikahi pria seperti Sasuke. Lucu juga.
Ngomong-ngomong soal perasaan, Sakura juga bingung bagaimana perasaannya terhadap Sasuke sekarang. Dia juga tidak tau bagaimana perasaan Sasuke terhadapnya.
Sasuke selalu berhasil membuat wajah Sakura memerah maupun jantung Sakura berdegup dengan kencang. Itu yang membuat gadis dengan mata berwarna hijau itu bingung. Apa ini yang dinamakan perasaan suka? Entahlah.
Sasuke juga sudah beberapa kali mencium bibirnya. Apa Sasuke menyukai dirinya? Uh, sungguh ini membingungkan.
Sakura langsung mengacak-acak rambutnya. Kenapa dengan hanya mentap wajah Sasuke dia tiba-tiba memikirkan hal yang seperti ini, sih?
Tapi ... tidak mungkin seorang yang hampir sempurna seperti Sasuke menyukai dirinya. Ya, pasti Sasuke menganggap hubungannya dengan Sakura hanya lah hubungan simbiosis mutualisme. Pasti seperti itu.
Oke, oke. Sakura akui. Kalau sebenarnya dia sedikit tertarik ... dengan Sasuke. Ingat. Hanya sedikit. Siapa yang tidak tahan jika tinggal satu atap dengan seorang seperti Uchiha Sasuke?
Sakura meringis, menghilangkan bayang-bayang tentang Sasuke. Kemudian dia beranjak dari duduknya. Dia bisa gila hanya karena melihat Sasuke yang tengah terlelap. Sebelum benar-benar berbalik untuk keluar dari ruangan Sakura berkata "Semoga kau cepat sembuh, Sasuke- kun."
Grep
Sakura terdiam sejenak. Kenapa langkahnya terhenti? Karena ada yang menahan pergelangan tangannya. "S-Sasuke ... – kun?" katanya lirih. Keringat sudah mengucur melewati pelipisnya. Apa Sasuke tau jika sedari tadi Sakura memandanginya dengan intens? Ia berbalik lagi untuk melihat keadaan Sasuke.
Mata oniks pria itu terlihat sayu karena hanya terbuka setengah. Genggaman di pergelangan tangan Sakura pun terasa sangat lemah. Artinya Sasuke sekarang sungguh sangat tak berdaya.
Sakura menjadi iba. Dia duduk kembali di tepi ranjang. "Ada apa Sasuke- kun? Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidurlah bersamaku malam ini ..."
Tolong, apa ada yang bisa mengulangi ucapan Uchiha Sasuke barusan? Telinga Sakura sedang tidak bermasalah kan sekarang? Sakura tidak yakin jika itu tadi adalah suara seorang Uchiha Sasuke. Uh, sepertinya sakit membuat Sasuke menjadi aneh ya? Hufft ...
"Ap—apa?!"
"Tidurlah disampingku," ujar Sasuke sambil menepuk pelan sisi ranjang yang kosong yang terletak tepat disebelahnya.
"T-tapi S-Sasuke- kun ... a-aku ..." Rasanya Sakura tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya barusan. Sialan. Kenapa tiba-tiba wajahnya terasa sangat panas sementara kedua tangannya terasa sangat dingin? Apa ia gugup? Uh, oh.
"Cepatlah. Aku sedang tidak ingin mendengar penolakan." Lagi-lagi Sasuke memerintahkannya. Sakura hanya menghela napasnya. Dengan gerakan kaku dia mulai menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya disamping Sasuke.
Sungguh. Walau sudah hampir satu bulan lebih tinggal bersama Sasuke, Sakura tidak pernah sekali pun tidur disamping Sasuke. Sekali pun. Mereka selalu berada dikasur atau pun ranjang yang berbeda.
Sakura berbalik membelakangi Sasuke. Tangannya saling meremas-remas karena gugup. "Apa yang harus kulakukan?!" batin gadis itu dalam hati. Jantungnya kini mulai berdetak-detak tak karuan lagi.
Tiba-tiba Sakura tersentak kaget ketika dengan gerakan cepat tubuhnya ditarik paksa oleh Sasuke untuk menghadap kearah pria itu. Maniknya langsung bertubrukan dengan mata kelam milik Sasuke. Dia pun langsung mengalihkan pandangannya, bola matanya berkeliling berusaha menghindari onyx milik Sasuke.
Tapi, pandangan Sakura langsung terhalangi sesuatu. Yaitu dada Sasuke. Sekarang Sasuke sedang mendekap Sakura dalam pelukannya. Rasanya gadis berhelai pink itu dapat merasakan suhu tubuh Sasuke sekarang.
"Sstt ... aku mau tidur," desis Sasuke pelan. Kedua kelopak matanya kembali tertutup mengabaikan Sakura yang mulai bergerak gelisah dalam kungkungannya.
Sakura menggeliat karena gugup. Kakinya bergerak tak karuan. Dia sangat gelisah sekali dalam keadaan seperti ini. Saat masih bersama Sai saja, kadang dia masih merasa gugup. Apalagi Sasuke yang bukan siapa-siapanya sekarang. Uh, sepertinya dengan agak (sedikit) terpaksa Sakura harus tidur bersama Uchiha Sasuke untuk sepanjangan malam ini.
.
.
.
.
Akhirnya setelah dua hari absen tidak bekerja Sakura mulai menginjakkan kaki kembali dilantai Nine Tails. Seharusnya perempuan itu mulai bekerja kembali adalah kemarin. Namun, karena dia ikut-ikutan tertular demam Sasuke, jadinya dia dengan sangat terpaksa meminta izin pada paman Minato-nya satu hari lagi.
Uh, dan juga ... sepertinya ... tidur bersama Sasuke adalah kebiasaannya mulai sekarang. Entah kenapa pria itu tiap malam dengan tiba-tiba sudah berada disamping Sakura.
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, menghapus bayangan tentang Sasuke yang selalu mendekap dirinya saat akan tidur. Dia menaruh tas jinjingnya dimeja bar, dan kemudian perempuan itu menghela napsnya.
Satu hal yang dia tau, dia tidak boleh terlalu terbawa perasaan. Hubungan Sakura dan Sasuke hanya sekedar hubungan simbiosis mutualisme. Dimana tidak ada pihak yang dirugikan, dan hanya ada kedua pihak yang saling teruntungkan.
Tapi, rasa tertarik, suka, maupun cinta memang bisa muncul di siapapun dan kapanpun. Jadi, Sakura tidak sepenunya bersalah jika Sakura memang tertarik dengan sosok Uchiha Sasuke.
Haruno Sakura sekali lagi menghembuskan napas dengan pelan. Dia melihat Jiraiya sudah mondar-mandir kesana kemari. Sepertinya pria tua itu sedang menyiapkan untuk membuka toko.
"Selamat pagi, Jiraiya- san," sapa Sakura lemah. Dia mulai bergerak untuk menghampiri Jiraiya.
Pria yang umurnya bisa dibilang sudah cukup tua itu menoleh kearah Sakura, sepertinya sedari tadi Jiraiya tidak menyadari bahwa Sakura sudah datang. "Oh, Sakura- chan! Kau sudah sembuh?" ujarnya bertanya tentang keadaan gadis yang kemarin izin kembali karena sakit tersebut.
Sakura mengangguk dan kemudian tersenyum kecil. "Salahkan Sasuke yang menularkan penyakitnya kepadaku," gerutu gadis itu sambil mengurucutkan bibirnya.
Jiraiya tertawa mendegar gerutuan Sakura. Kemudian gadis berhelai pink itu berbicara kembali "Sepertinya kau sedang sibuk. Apa kau perlu bantuanku?" tawarnya.
Manajer dari Nine Tails itu menggeleng. "Tidak, tidak. Persiapannya sudah hampir selesai, Sakura- chan. Sebaiknya kau balik papan tanda buka bar kita didepan pintu." Gadis Haruno itu tersenyum kembali mendengarnya, Jiraiya memang selalu baik.
Sakura pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama, kemudian membalik papan yang tergantung didepan pintu dari 'closed' menjadi 'open'. Setelah selesai, dia berjalan menuju kasir dan duduk disana. Menunggu adanya pelanggan yang datang sambil menonton televisi berlayar lebar yang ada dibar tersebut.
Baru ada sekitar lima belas menit Sakura terduduk dikursi, bel yang menandakan bahwa ada orang yang masuk kedalam bar sudah berbunyi.
Awalnya Sakura mengira itu adalah Naruto atau Sasori. Memang karena kedua orang itu selalu datang ke Nine Tails pagi-pagi begini. Tapi, saat Sakura mengalihkan perhatiannya dari televisi menuju orang yang baru datang itu, perempuan itu sangat terkejut. Karena yang datang bukanlah Sasori maupun Naruto. Tetapi orang yang baru datang itu adalah ..
"... Sai?" Sakura bergeming setelah mengucapkan nama orang tersebut. Kenapa pada hari ini dia harus bertemu dengan pria itu lagi?
"Sakura," balas Sai cepat. Laki-laki itu kini sudah berada didepan Sakura. Ingin sekali rasanya dia memeluk Sakura ... seperti dulu.
Mereka berdua terdiam. Sai pun sepertinya enggan bergerak. Sakura menggerakkan bola matanya kesana kemari demi menghindari tatapan Sai. Tapi, sudah dibilang kan' ... bahwa Sakura tidak menyukai keadaan canggung? Jadilah perempuan dengan manik emerald itu kembali menciptakan percakapan diantara mereka demi menghapuskan keadaan canggung yang mereka berdua telah buat sendiri.
"Ada apa?" katanya singkat.
"Ada yang harus aku jelaskan disini," ucap Sai dengan nada serius. Tangannya berusaha untuk menyentuh Sakura tapi perempuan itu langsung menghindar. Sai langsung menunjukkan gurat-gurat kecewa dimuka nya. Sepertinya Haruno Sakura sudah benar-benar membencinya sekarang.
"Apa? Ingin menjelaskan bahwa kau sebentar lagi akan menikah dengan perempuan pilihanmu? Begitu?" Sesak. Tentu saja. Ingin menangis? Mungkin jawabannya iya jika Sakura masih mencintai Sai seperti dulu. Tapi cinta itu telah berubah menjadi kebenciaan karena Sakura telah dicampakkan dengan tidak baiknya oleh Sai waktu itu.
Sai menghela napasnya. "Dengar, Sakura. Sebenarnya, aku masih mencintaimu. Sungguh." Pria dengan kulit pucat itu mengatakannya dengan lancar. Tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.
Bola mata Sakura langsung membulat pada waktu itu juga. Dia menggigit pelan bibir bawahnya. "Bohong ... jika iya kau masih mencintaiku ... kenapa pada waktu itu kau mencampakkanku?" Sakura telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh menangis karena Sai. Maka dari itu sedari tadi Sakura terus menerus menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis.
Sai langsung menjawab dengan cepat. "Waktu itu aku dipaksa untuk dijodohkan dengan pilihan orang tuaku, Sakura! Aku dipaksa untuk mengakhiri hubungan kita berdua." Sai mengakhiri kalimatnya dengan terengah-engah.
Cukup. Sakura tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Dia hanya terdiam tak menjawab dan kemudian menundukkan kepalanya.
"Kau tau ... aku selalu memikirkanmu setelah aku mengirim pesan itu padamu, Sakura. Dan itu sangat menyakitkan," lirih laki-laki yang warna matanya sama seperti Sasuke tersebut.
Sakura terlalu kecewa. Tetapi, mendengar kesungguhan yang terlontar dari mulut Sai membuat Sakura menjadi ragu. Mungkinkah mereka bisa kembali bersama kembali seperti dulu? Seperti saat mereka menonton film bersama diapartemen Sai, dan pada saat itu hujan dan mati lampu. Kemudian Sai menenangkan Sakura yang ketakutan dan kedinginan dengan rengkuhan hangatnya.
Bisakah?
Tapi bagaimana dengan Sasuke? ... Tunggu ... memangnya kenapa dengan Sasuke? Sasuke dan Sakura tidak ada hubungan apapun.
Tolonglah, kenapa dia harus terjebak pada situasi seperti ini?
Kemudian Sai membuat pertanyaan yang membuat hati Sakura semakin goyah. "Jadi ... maukah kau menjadi milikku lagi, Haruno Sakura?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
.
.
Author's Note :
Arrghhh maafkan saya kakak kakak sekaliaannn, ga bisa update cepat T.T
Minggu kemaren UTS jadi ga pulang kerumah, paket modem abis juga wkakakak, maaf ya buat ya nagihin fic ini terus-terusan, maaf bangeettttt huaaaa ni udh ku update kok T.T)v
Eh, btw ini beneran ga ada yang ingat Sai berperan apa dicerita ini? o.O ciusss lu? Sai itu mantan pacar Sakura, coba baca chapter 1 lagi deh hehe
Untuk sekedar info, sekarang aku update fic mungkin ya mungkin paling cepat itu satu bulan sekali, maaf bangeettt, untuk lebih lanjut bisa liat bio(mungkin) o.O
Buat semua yang udah dukung dan semangatin aku makasih banyak *pelukciumsatusatusemuanya* maaf banget untuk kali ini aku ga bisa bales review satu-satu, tapi review kalian udh kubaca semua kok, makasih banyak yaa! ^^
Special thanks buat reader, silent reader, reviewer, favoriter, viewer, dan follower cerita ini(dan untuk yang nunggu kelanjtan juga hehe) ^^ iloveusomuchhgaesss
Sign,
Mitsuo Miharu
20 09 15
