Gekkan Shoujo Nozaki-kun

©Izumi Tsubaki sensei

.

A/N: Hampir berakhir, kisah yang terlalu larut dalam perasaan ini. Hampir berakhir.

.

Hanya Kamu (?)—

Chapter 11

By shirenihime

.

.

.

"Apa yang terjadi dengan rambutmu, Sakura Chiyo?"

Chiyo terdiam untuk sesaat. Sepasang sepatu ia ambil dengan mengapitkan jari telunjuk dan tengahnya. Meletakkan benda mati itu di rak tepat disisi Chiyo. Gadis itu berputar hingga bisa menatap mata suaminya. Blouse dan rambut oranye nya menari mengikuti gerak tubuh. Chiyo tersenyum. Ia mengambil rambut yang kini panjangnya hanya sebahu, rambut yang tidak di tarik dengan pita di belakangnya. "Hanya ingin bernostalgia dengan masa SMA ku", jawabnya.

"Sayang sekali, padahal rambutmu cukup indah", Nozaki berjalan melewati bahu sempit itu. Tangannya menutup mulut yang terbuka dengan udara yang memaksa keluar didampingi cairan dari ujung kelopak matanya. Untuk seketika desiran ombak menghanyutkan jantungnya, namun sejalan dengan itu angin membawanya pergi begitu saja tatkala ia mengingat sosok wanita berambut panjang lainnya—miyako.

"Untuk beberapa alasan", Chiyo berjalan di belakang Nozaki. Menatap nanar bahu bidang yang keras. "Aku tidak suka rambut panjang", tambahnya. Ia berjalan mendahului Nozaki. Berjalan menuju dapur, mengambil segelas air dan meminumnya.

"Begitu, kah?", Nozaki mengacak rambutnya. Menatap pekerjaan yang tidak kunjung selesai. Tubuh besarnya terduduk, merapikan beberapa lembar kertas yang tidak beraturan. Mata ungu mengekor dari kelopaknya. Pemiliknya menggenggam gelas yang tengah di genggamnya.

"Selalu saja!", Chiyo meletakkan gelas cukup keras. Suaranya bahkan memancing telinga di sisi lain dalam ruang yang sama. "Apa ada masalah?", tanyanya. Mata itu bahkan tidak melihat ke asal suara. Ia masih terfokus dengan beberapa draft yang masih saja dibolak-balik oleh jemari panjangnya.

Chiyo tidak menjawab. Matanya teralihkan pada westafel yang kering dan tak berisi. Tak ada setetes air pun disana, tidak juga piring-piring kotor. Mata itu beralih pada sudut dapur, tempat itu pun masih sama seperti saat dia pergi. Kosong, tak berjiwa. Bola ungu itu melesat dengan cepat kembali pada Nozaki, matanya bergerak mencari sesuatu. Menatap tumpukan kertas di meja tengah. Pria itu masih sibuk dengan pensil dan penghapusnya. "Apa kau belum makan sesuatu, Nozaki-kun?"

Mata hitam itu bertemu dengan bola ungu yang telah menemukan tujuan arahnya. Pria itu diam beberapa detik. "sudah", menjawab tatapan Chiyo yang memancarkan sedikit amarah namun lebih banyak kesedihan. "sepertinya", ia melanjutkan kembali gerakan tangan yang konstan. Mengukir garis demi garis dalam selembar kertas.

"Apa kau begitu mencintai mangamu hingga kau lupa dengan isi perutmu?", Chiyo membuka kulkas dan mengambil beberapa sayuran. "Apa gunanya semua itu jika hanya membuatmu sakit?", tangan mungil itu mengambil pisau. "Orang bodohpun akan merasakan lapar", pisau itu menari melewati sela-sela wortel. "Sayangnya suamiku lebih dari orang bodoh itu", kini sawi menjadi korban kesadisan mata pisau. Untuk sesaat ia terhenti, bibirnya tak bergeming mengeluarkan mantra. Sementara orang yang dianggapnya bodoh hanya memperhatikan dalam diam.

"Hei—"

"Apa tidak ada yang bisa menghentikanmu? Apa tidak ada yang bisa membuatmu berhenti?", Chiyo memanaskan minyak di wajan. Memasukkan bumbu dan telur kedalamnya.

"Sa—"

"Waktumu, tenagamu, pikiranmu, emosimu, perasaanmu. Selalu saja tentang manga-manga itu!", kini panas api membakar nasi dan sayuran di dalam wajan. Mereka terombang-ambing menjadi sesuatu yang tak mereka ketahui. Berbaur dengan kecap, garam, penyedap rasa. Mereka sudah tidak berdaya, menunggu untuk di santap.

"Sakura—", gadis itu menoleh kemudian bergerak mengabaikan pria yang memanggilnya. Tubuhnya berjalan mengambil piring.

"Jika bisa aku akan membakar semua itu dari kepalamu. Bahkan jika aku harus menggunduli kepalamu itu, aku akan melakukannya", ia memindahkan nasi goreng itu ke piring putih dengan ukiran bunga di tepinya. Ia memegang tepi nampan dengan keras. Menatap nasi dan teh hangat yang tertidur manis diatasnya. Matanya nanar seketika. "Bahkan aku memotong mahkotaku, agar kau melupakannya", kali ini mantra itu dilafalkan begitu pelan. Bahkan terkesan sunyi.

"Apa kau baik-baik saja?", tentu ia tahu gadis mungil dihadapannya itu sedang tidak baik-baik saja. Chiyo meletakkan nampan diatas beberapa draft Nozaki. Ia tidak perduli jika suaminya harus mengulang pekerjaannya, ia tidak perduli dengan amarah yang akan menghujam hatinya. Ia sudah cukup merasakan sakit hingga tak ada yang bisa menyakitinya lagi. "Makanlah. Aku tidak ingin menjadi istri yang tidak bisa mengurus suaminya". Matanya tak bergeming dari nampan itu.

"Kau mulai bertingkah kekanakan, Sakura", Nozaki memakan nasi goreng itu. Matanya bahkan tak menatap gadis yang masih setia berdiri di sisinya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Apapun itu, cukup menyusahkanku", ia meneguk teh hangat yang rasanya sedikit asin. Chiyo mencengkram ujung blousenya. Ia melewati batas emosinya, kesedihan mempengaruhi amarahnya yang tidak lebih besar dari kesedihan itu.

"Aku mencintaimu", mantra itu melejit bagaikan roket yang menghantam pergelangan tangan Nozaki. Pria itu meletakkan kembali sendok yang hampir saja menyentuh bibirnya. "Aku mencintaimu, Nozaki Umetarou", sepasang mata hitam terdiam melihat garis senyum di wajah istrinya. Jantungnya seolah berhenti begitu cairan bening mengalir dari sudut mata gadis itu.

"Aku tahu", katanya. Ia melanjutkan santap malamnya tanpa berusaha menghapus air mata dari pipi Chiyo. Gadis itu terjatuh dalam lututnya. Posisinya setengah duduk, bertumpu pada lututnya, menatap wajah suaminya yang begitu tegas. Bahkan guratan lelah dapat ia lihat.

"Waktumu", suara itu bergetar menahan tangis yang lebih hebat. "Pikiranmu, perasaanmu", Nozaki masih menikmati makan malam yang tidak bisa ia nikmati sama sekali. "Tidak bisa kah kau berhenti menggambar manga?", tangis itu hampir pecah namun ia menahannya.

"Tidak bisa kah kau berhenti menjadi mangaka?", Nozaki membanting sendoknya hingga air suara itu pecah. Tangis itu sudah tidak tertahankan lagi.

"Apa yang kau inginkan, Sakura?", nada suara Nozaki begitu tegas. Bahkan tidak pernah setegas itu di telinga Chiyo.

Chiyo menjatuhkan duduknya. Mengapit tumit kecilnya. "Tidak bisa kah kau mencintaiku?", suara Chiyo beradu dengan isak nya. Namun telinga Nozaki masih mampu mendengarnya. Pria itu melenguh, membuat tubuh Chiyo merinding. Ia tahu suaminya akan berkata apa, kata yang selalu di ucapkan untuk mengingatkan dirinya tidak punya hak atas hati Nozaki. "Aku tidak ingin mendengarkanmu", Chiyo membuang wajahnya pada jendela yang gelap dengan bintik cahaya.

"Aku tidak bisa, Sakura"

Chiyo mengutuki dirinya sendiri. Mencengkram blouse nya lebih kencang, memastikan tidak ada jiwa lagi yang tersisa. Bahkan jika bisa ia ingin menghujamkan pedang ke jantungnya. Ia ingin menangis dengan kencang. Namun ia mampu menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. "Aku mengerti", tubuh kecil itu terbangun. Kakinya seolah lemas tak berdaya membawa tubuh itu berjalan. Ia menghapus air mata di pipi dengan punggung tangan.

"Sakura", langkah Chiyo terhenti. Tangannya sudah memegang kenop pintu begitu namannya di panggil. "Hori senpai—"

"Dia masuk rumah sakit. Aku sudah tahu", potong Chiyo tanpa memalingkan tubunya. Ia tidak ingin air mata yang masih mengalir deras itu terlihat oleh Nozaki.

"Kau sudah menjenguknya?"

"Hm...", kini kedua tangan Chiyo memegang kenop pintu. Entah benda apa lagi yang akan menjadi korban kesedihannya.

"Bagaimana keadaanya?"

Chiyo menarik napasnya agar isak itu tidak terlalu terdengar. "Tidak lebih baik dari sebelum aku datang"

"Apa ada masalah dengan operasinya?"

"Bisakah kau tanyakan saja pada Kashima!", gadis itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi. ia membuka pintu itu dan membantingnya keras. Tangan mungil itu kini beralih pada bibir yang hampir menumpahkan tangisnya. Tangis itupun pecah, meski tanpa suara.

.

.

.

"Maaf. Aku tidak langsung memberi tahumu, Umetarou", suara di sebrang sana terdengar menyesal. "Apa dia sudah pulang?", tanya nya.

"Ya. Dengan rambut pendeknya", Nozaki menjatuhkan keningnya pada telapak tangan. Berusaha memijatnya, namun masih terasa sakit.

"Apa maksudmu?"

"Sakura memotong rambutnya, Kashima. Kau tahu aku menyukai—"

"Dasar bodoh! Apa kau berpikir dengan menikah dengannya kau seperti mendapatkan Yukari? Dia datang dengan wajah penuh kesedihan! Kau tahu betapa menderitanya gadis itu menikah denganmu? Mengapa kau begitu bodoh, Umetarou?", amarah wanita itu pecah. Bahkan getarannya seolah sampai melalui ponsel.

Nozaki hanya diam. Tak sepatah kata pun ia memotong kalimat Kashima.

"Gadis itu. Kau tahu ia mencintaimu. Sangat mencintaimu, Umetarou. Kumohon, tidak bisakah kau mencintainya?"

"Mengapa kau menanyakan hal yang sama, Kashima?"

"Chiyo datang dengan kesedihan di matanya. Ia membawa foto Yukari", Kashima terdiam. "...akhirnya ia tahu mengapa kau menikah dengannya. Bukan hanya karena ibumu atau semua kebebasan yang kau inginkan..."

Nozaki membisu. Tangannya tak lagi memijat kening bidang itu, kini jemarinya menelusuri sela-sela rambut hitamnya dan terdiam memangku kepala itu.

Wanita jangkung itu menarik napasnya, menghembuskannya pelan. "...karena ia sangat mirip dengan Yukari saat SMA. Saat dimana kau memuja wanita itu hingga saat ini, hingga wanita itu pergi meninggalkan hatimu, hingga ia jatuh hati pada pria lain, hingga Yukari menikah dengan pria itu, bahkan hingga saat ini. Hidupmu selalu berputar di lingkaran yang sama, Umetarou"

Suara Kashima jauh lebih tenang dari sebelumnya. Nozaki tahu kesalahannya sejak awal, pernikahan ini memang salah. "tidak ada yang salah dengan pernikahanmu, Umetarou. Bahkan ku pikir malaikat itu akan merenggut hatimu, kabar baik untukku sebagai sahabatmu. Namun, hatimu membuatnya menjadi salah"

Nozaki kembali mengurut keningnya. "Apa yang harus aku lakukan, Kashima?", pria jangkung itu sudah kehabisan akal dan juga rasa angkuhnya. Suaranya terdengar menyerah di telinga Kashima.

"Kau lebih tahu dariku, Umetarou. Kau tahu, kau harus berhenti mencintai Yukari. Cintailah wanita yang menjadi istrimu saat ini", Kashima memutus panggilannya. Meninggalkan Nozaki dengan jiwa yang mengambang.

Nozaki menatap draft manganya. Ia tahu waktunya selama ini habis oleh Miyako. Bahkan setiap detail guratan napas pensilnya, selalu saja Miyako. Kini ia merasa iba dengan dirinya sendiri, merasa dirinya benar-benar bodoh.

"Kau belum tidur?", sebuah suara lembut menyapanya bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai menembus kaca jendela. Pria berambut hitam itu menatap pemilik suara, dengan rambut oranye sebahu dan piyama merah muda solid gadis itu mengucek matanya yang sedikit lebam. Sisa tangis semalam.

Nozaki hanya mengangguk dan memijat keningnya. Pikirannya mulai kalut. "Apa belum selesai juga?", tanya Chiyo yang berjongkok di depan meja Nozaki.

"Sudah". Nozaki melihat pola Chiyo seolah tidak ada yang terjadi semalam. Gadis ini hanya berusaha menenggelamkan dirinya dalam dunia 'tidak ada yang terjadi'. Dunia dimana ia tidak ingin mengingat hal buruk dalam hidupnya. Gadis ini bahkan menjatuhkan kepalanya diatas tumpukkan kertas draft Nozaki.

Mata Chiyo membelalak seolah rasa kantuk hilang dari matanya begitu tangan besar Nozaki menyentuh rambutnya. "Apa kau tahu, Sakura...", tanyanya menggantung. Sementara itu Chiyo bisa mendengar pacuan jantungnya yang semakin kencang. "Kau memang lebih cocok dengan rambut pendek"

Chiyo mengangkat kepalanya, membuat Nozaki melepaskan rambut Chiyo. Mata itu penuh tanya dalam tatapannya. "Apa maksudm—", kalimat itu terpotong dengan suara bel, bahkan matahari masih malu menampakkan seluruh dirinya.

"Sepertinya itu Pak Ken. Gantilah piyamamu atau diam saja dikamar, Sakura"

Tentu ia lebih memilih megganti piyamanya. Untuk sesaat, jantungnya seolah tertinggal di meja itu. Ia masih mempertanyakan pujian yang dilontarkan Nozaki untuknya. Menanyakan pada dirinya sendiri, apakah dia mabuk atau tidak.

Chiyo keluar dengan t-shirt longgar berwarna putih dipadu celana jeans selutut. Ia dapat melihat dua orang pria yang tengah serius dengan pekerjaanya. Yang jangkung menunggu yang bertubuh tambun bicara, sementara yang bertubuh tambun itu dengan teliti mengecek kalimat demi kalimat dalam draft Nozaki.

"Kalimat ini", pria berkacamata itu menunjuk kertas yang di ikuti bola mata Nozaki. "Bukankah ini terlalu janggal, Yumeno sensei?", ia terdiam sesaat.

"Seharusnya, 'aku akan selalu melindungimu', kan? Mengapa kau malah menulisnya 'aku akan membunuhmu'? kau pikir ini manga horor?"

"Maaf Pak Ken. Akan ku perbaiki"

"Aku tahu kau sedang banyak pikiran, kau bahkan tidak tidur lagi malam ini. Sesekali jagalah kesehatanmu, Yumeno sensei"

Chiyo berjalan dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hijau hangat. Bahkan ia tidak melupakan madu untuk suaminya. Meletakkan nampan itu diatas meja hingga kedua pria ini akhirnya menyadari bahwa masih ada oranglain di ruangan yang sama.

"Ah terimakasih, nak", ujar Pak Ken. "Sejak kapan kau punya adik perempuan, Yumeno sensei?", Pak Ken menyeruput tehnya. Menatap dengan senyuman kepada Nozaki. Sementara Chiyo mematung dengan madu yang akan ia tuang ke gelas Nozaki.

"Dia istriku", Nozaki angkat bicara. "Jangan salah mengira, usianya dua puluh tahun", Nozaki mengurut dahinya.

"Ah! Maafkan aku Nona Nozaki"

"Tolong. Chiyo saja cukup"

"Baiklah. Kupikir kau gadis SMP, Chiyo-chan"

"Banyak yang bilang begitu, cukup menyusahkan juga"

"Sekarang aku mengerti penderitaanmu, Yumeno sensei", Chiyo dan Nozaki terdiam mencoba menangkap perkataan Pak Ken. "Pasti sulit tinggal bersama istri yang terlihat seperti gadis SMP, seperti melakukan dosa besar. Kupikir pria dewasa seperti mu lebih menyukai wanita seperti Miyako, tapi ternyata kau lebih suka anak-anak, Yumeno sensei"

Kalimat itu begitu menghujam hati Chiyo. Ia hanya bisa tersenyum tanpa makna di hadapan editor kebanggaan suaminya itu.

"Oh ya mengenai manga barumu, kapan kau akan memberikan aku draft nya?"

"Aku masih mengerjakannya."

"Cepatlah selesaikan yang ini, jika kau memang ingin mengeluarkan yang baru"

"Asisten yang mengerjakan latar sedang sakit, jadi aku tidak bisa memberikan chapter ini secepat mungkin, Pak Ken"

"Benarkah? Tidak apa, akan ku tunggu sampai minggu depan. Pastikan kau mengubah kalimat menyeramkan itu, Yumeno sensei"

"Aku mengerti"

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Penerbanganku satu jam lagi, aku tidak ingin tertinggal pesawat"

Pria berkacamata dengan sedikit janggut itu pergi untuk kepulangannya ke kampung halaman. Entah urusan apa, Nozaki tidak tahu dan untuk saat ini, dia tidak ingin mengetahuinya. Sesekali mata kecilnya mengekor pada sosok Chiyo yang tengah menyiapkan sarapan. Ia sedikit merindukan sosok gadis mungil berambut panjang, namun matanya juga di segarkan dengan malaikat yang memiliki potongan rambut pendek. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia yakin betul, bahwa hatinya masih tertaut pada sosok Miyako. Namun, terkadang hatinya serasa melompat dengan kehadiran Chiyo.

"Aku akan melewatkan sarapannya", Nozaki memegang seluruh peralatan kerjanya. Mengangkat tubuhnya hingga berdiri tegak, kemudian masuk ke dalam ruang kerja.

Chiyo tidak pernah berpikir akan menyerah secepat ini. Pernikahan ini tidak lebih dari dua bulan. Bahkan ia dapat menghitung berapa kali mereka makan bersama, berapa kali mereka berbincang, hanya satu hal yang tidak dapat ia hitung—berapa banyak air mata yang mengalir.

Ia masih ingat dengan jelas ketika pria jangkung itu mengecup keningnya lembut dan hangat. Ketika sebuah cincin kertas melingkar di jari manisnya, ketika sebuah tanda membuat hidupnya menjadi serba salah. Jari manisnya bermain naik turun diatas sup yang mendidih.

.

.

Beberapa hal membuatnya ragu, termasuk benteng pertahanannya yang mulai goyah dan mungkin akan runtuh. Nona Nozaki itu terduduk di ranjang, menghela napas begitu dalam, memperhatikan setiap inci bahkan setiap mili sudut-sudut kamar tidurnya. Bagaimana gorden putih itu menari dengan alunan angin, bagaimana matahari masuk tanpa permisi melalu jendelanya, termasuk bagaimana seorang pria jangkung pernah terduduk dihadapannya dengan bahu yang bergerak statis. Ia tidak percaya akan semudah itu dirinya menyerah pada keadaan.

"Kurasa aku sudah cukup bahagia. Sekarang giliranmu, Nozaki-kun"

Jemari kirinya tanpa rasa malu melepaskan satu-satunya ikatan yang mendekatkan dirinya—Chiyo, dengan Nozaki. Memutar benda bundar itu perlahan,menariknya dengan lembut, hingga tak ada lagi pertahanan, keangkukan, kekuatan, pengorbanan, dalam jari manis Chiyo. Kosong, tak ber-asa.

.

.

.

Pria jangkung itu mungkin tidak tahu apa yang hilang saat ini pada dirinya. mata tajam itu hanya dapat melihat plafon dengan warna monoton—cenderung putih. Tubuhnya terbaring dengan tangan yang beristirahat di keningnya. Lenguhan dalam keluar bersamaan dengan udara yang menerobos rongga hidungnya. "Sejak awal, pernikahan ini sudah menyusahkanku". Kini ia menarik tangan kirinya yang bebas menggenggam secarcik kertas.

Ia membaca setiap kalimat dengan teliti, tidak melewati satu katapun. Bahkan huruf sekalipun. Membolak- balikkan kertas itu di udara tidak mengubah setiap mantra yang terukir disana. Dengan kekuatan sedang ia menarik tubuhnya untuk terduduk. Kini, pandangan mata itu tertarik pada benda bundar dengan lubang ditengahnya. Bentuknya kecil dengan sebuah permata—tertidur diatas meja rias. Sebuah kertas melingkar di sisi dalam cincin itu. Mengingatkannya pada malam dimana ia meyakinkan seorang gadis polos untuk menikah dengannya. Ia segera membuang gambaran itu dari pikirannya.

Langkah kaki jenjangnya membawanya menggapai benda itu. Dengan apik, ia membiarkan benda itu tertidur untuk selamanya bersama surat cerai dari Chiyo di dalam sebuah kotak.

.

.

.

"Chiyo...", panggil suara yang lembut dari balik pintu kamarnya. Wanita itu tersenyum seperti malaikat menatap anak gadisnya merapikan surai oranyenya.

Chiyo tidak menoleh, ia cukup melihat Ibunya yang berjalan kian mendekat di belakangnya dari cermin. "Hm?", ujarnya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"sesuatu? Apa itu, Ibu?"

"Bukankah terlalu lama untukmu tinggal disini?"

Chiyo mengalihkan pandangannya dari cermin. Ditatapnya guratan-guratan halus yang menghiasi kedua kelopak mata nyonya Sakura. "Apakah seorang anak tidak boleh tinggal bersama orangtuanya? Aku rindu suasana rumah, bu..."

"Tapi ini hampir dua minggu, Chiyo"

"Lalu?"

"Apa kau bertengkar dengan suamimu?"

"Hm?", Chiyo memutar kembali tubuhnya ke cermin. Ia kembali menyisir rambutnya yang sudah mulai panjang, walau sedikit. "...tidak", lanjutnya.

"Lalu kenapa kau begitu lama tinggal disini? Suamimu juga tidak menjemputmu. Bagaimana dengan pekerjaan rumahmu? Bagaimana dengan sarapan, makan siang, makan malam suamimu? Apakah dia akan baik-baik saja?", tanyanya tanpa henti hanya membuat hati Chiyo merasa bersalah. "Chiyo...", Ibu menegaskan.

Hidung Chiyo menghirup udara lebih banyak dari sebelumnya, menghempaskannya melalui mulut dengan lembut. Ia kembali menatap mata yang menua namun tetap secerah saat muda dulu. Chiyo menggenggam lengan ibunya, mengusapnya lembut. "Kami sudah bercerai"

Tiga kata itu begitu menusuk setiap aliran darah yang mengalir ke jantung nyonya Sakura. matanya membelalak hebat, bahkan keriput-keriput disisinya seolah sirna. "Jangan bercanda!"

"Aku tidak—"

"Bagaimana hal bodoh ini bisa terjadi? Berhentilah bersikap kekanakan pada suamimu, Chiyo!"

"Ibu. Dengarkan—"

Dalam diam Ibu Chiyo memendam amarahnya. Tidak, ia tidak marah pada anak gadisnya. Ia hanya sedikit terkejut dengan berita ini. Chiyo menggenggam kembali tangan ibunya. Menatap matanya begitu dalam, berharap sang Ibu mengerti akan kesedihan dalam pernikahannya.

"Ibu. Taukah kau jika anakmu sangat mencintai suaminya?"

Ibu menganggukkan kepalanya. Chiyo tersenyum. "lalu, apa Ibu tahu jika suaminya tidak mencintai anakmu?"

"Kalian di jodohkan. Kalian butuh waktu Chiyo"

Chiyo menggelengkan kepalanya, tersirat senyum yang menyakitkan dari wajahnya. Dan ibu tahu itu. Chiyo tidak pernah benar-benar bahagia dalam pernikahannya.

"Dengarkan aku ibu. Pria yang kau jodohkan denganku bukanlah pria yang sama seperti pria yang aku cintai tujuh tahun lalu, meskipun aku masih mencintainya hingga saat ini.", Chiyo tersenyum mencoba menenangkan sedikitt ketegangan dalam hati ibunya. "Kami terpisah cukup lama, bukan? Selama tujuh tahun semuanya berubah, begitu juga dengan orang itu, Nozaki Umetarou. Dia tidak pernah benar-benar sama, setidaknya itu yang aku rasakan"

Chiyo menguatkan genggamannya tanpa menyakiti.

"Ibu. Percayalah, kebahagiaanku ada padanya. Dia mencintai oranglain, dan dia tidak cukup bahagia menikah denganku. Aku hanya ingin membiarkannya bahagia, dengan begitu kebahagiaanku juga kudapatkan"

Ibu Chiyo hanya membisu namun, air matanya cukup menceritakan kepedihannya.

"Akan kubicarakan dengan ibu dan ayahnya"

Chiyo hanya tersenyum, matanya mulai nanar begitu punggung dan bahu mungil dihadapannya menghilang. Tangannya mengepal kuat menahan isak yang akan pecah. Sama seperti ibunya, air mata menjawab semuanya.

.

.

.

Nozaki Umetarou menatap sebuah ruang hampa di sudut apartemennya. Setiap ia memasuki ruangan itu bayang-bayang Chiyo selalu muncul dalam memorinya. Pria ini hanya memiliki keegoisan dalam hatinya, dan ia butuh sebuah batu untuk menghantam hati dan pikirannya. Menyadarkannya, bahwa sedikit celah dihatinya menginginkan istrinya kembali, ke apartemennya.

Apartemennya tidak pernah lebih baik dari saat Chiyo tinggal didalamnya. Meski ia sudah mulai menjaga kerapiannya, tetap saja tidak akan seindah sentuhan Chiyo. Semua dalam apartemennya, di setiap sudut ruang, di sela-sela lemari, dan di rongga udara, hanya raga tanpa jiwa yang menemaninya selama dua minggu terakhir ini.

"Umetarou?"

Pria ini bahkan enggan mengunci lagi pintu apartemennya—hanya karena malas untuk membukanya.

Seorang wanita dengan rambut panjang dan dress kuning berdiri dihadapannya sekarang. Penuh nostalgia.

"Pintumu tidak terkunci. Chiyo pasti akan memarahimu"

"Ada perlu apa, Miyako?", pria jangkung itu merapikan beberapa kertas yang berserakan di meja. Ia masih berkutat dengan deadline manganya.

"Dimana Chiyo? Aku membawakan cindramata dari Oirase untuknya.", Miyako menunjukkan tas jinjing kepada Nozaki. Ia meletakkannya di atas meja.

"Berhentilah berpura-pura. Aku yakin Kashima telah memberi tahumu apa—"

"Kau terlalu naif, Umetarou", celah Miyako. Pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana bisa kau sebodoh itu? Aku tahu, aku sudah tidak ada di dalam hatimu cukup lama. Tidak kah kau rasakan itu?"

"Apa maksudmu?"

"Jika aku bisa menghentikanmu sebagai mangaka!", geram Miyako. Suaranya cukup tinggi. Hingga memancing tekanan darah Nozaki.

"Miyako!"

"Lihat! Sejak awal kau tidak pernah benar-benar menyukaiku Umetarou, bahkan tidak mencintaiku", Istri Maeno itu menurunkan nada suaranya. Ia menarik napas yang cukup dalam. Tangannya mengelus lembut perutnya sendiri yang masih rata. "...Umetarou, aku sedang hamil"

Pria itu membuang napasnya, melepaskan emosinya, menstabilkan tekanan darahnya. "Selamat."

"Berhentilah, kau tidak pernah mencintaiku, Umetarou"

"Aku pernah—"

"Kau tidak pernah", sanggah Miyako. "Aku hanyalah sebuah objek yang kau puja dalam mangamu. Aku tidak pernah lebih dari itu"

"Kita sepasang kekasih, dulu"

"Karena aku yang menginginkannya. Karena aku yang memintamu untuk menjadi kekasihku. Karena sejak awal kau tidak pernah menganggap kehadiranku selain untuk mangamu. Apa kita pernah tidur bersama saat di usia kita waktu itu hal itu begitu sangat menggoda? Apa pernah, kita berciuman? Walau hanya dikening. Atau apakah pernah kau memanggil nama depanku? Tidak. Tidak ada satupun yang telah kita lakukan"

Nozaki terdiam mendengar setiap kata dan kalimat yang begitu memekikkan telinganya. Dia tidak pernah menganggap semua itu haruslah terjadi. "Semua itu tidak harus terjadi dalam sebuah—"

"harus terjadi. Setidaknya kau memanggil nama depanku. Kau hanya terpaku dan memujaku sebagai objek mangamu. Kau tidak pernah benar-benar merasa sedih ketika aku memutuskanmu, Umetarou. Kenapa?", nada suaranya begitu konstan tanpa emosi.

"..."

"Karena aku tetap menjadi temanmu, aku akan selalu ada sebagai objek mangamu. Yang kau lakukan bukanlah sebuah cinta, Umetarou"

"Maaf", hanya kata itu yang terucap dari bibir tipis Nozaki. Suaranya pun pelan seolah tak bernyawa.

"Bukan aku yang pantas mendapatkannya, Umetarou. Bagiku hal itu sudah berlalu", Miyako kembali berkomunikasi dengan calon anaknya dengan tangan di perut. "...Chiyo berhak menerimanya.", tambahnya. Senyuman tipis tergaris dalam wajahnya. Tanpa suara seperti kedatangannya, ia pergi begitu saja. Meninggalkan tuan Nozaki dengan pertengkaran batinnya.

Tak lama berselah, sebuah suara berat menghantam telinganya lebih keras dari Miyako. "Umetarou!", pria itu berjalan penuh dengan amarah.

"Ayah..."

"Apa yang kau lakukan! Apa yang telah kau lakukan pada putriku! Jawab aku!", tangan renta yang masih memiliki otot mencengkram kerah baju Nozaki tanpa iba. Pria jangkun itu hanya memalingkan wajahnya, enggan menatap mata pria yang telah membawanya kedunia ini. "Tatap mataku!"

Nozaki Umetarou tahu benar kesalahannya. Tidak sedikitpun ia mengelak.

"Ayah. Dengarkan—"

"Tidak ada yang perlu di dengarkan. Aku sudah tahu semuanya! Kenapa kau bisa sebodoh itu, Umetarou? Dia, Chiyo..."

Nozaki diam. Bahkan ia tidak sanggup menatap mata yang basah dihadapannya. Pria yang tak pernah menangis dihadapannya. Pria yang selalu tegar bahkan ketika sahabatnya tiada.

"Chiyo sudah seperti putriku, bagaimana bisa kau menyakitinya sekejam itu! Tidak bisa kah kau mencintainya! Membalas setiap kasih yang ia berikan untukmu?"

"Ayah...", Nozaki melepaskan tangan ayahnya dari kerah tak berdosa itu. Ia tidak memegang tangannya seperti Chiyo memegang tangan ibunya. Pria jangkung itu hanya melemparkan tatapan kepada ayahnya. "Aku tidak pernah berharap akan menyakitinya seperti ini. Dia sudah sering menangis selama menikah denganku, aku tidak ingin menyakitinya lebih dari ini. Aku tahu aku yang salah"

"Lalu, kenapa kau tidak menandatangani surat cerai itu dasar bodoh", ayah Nozaki terduduk. Ia menutup wajahnya dengan seluruh kedua telapak tangan. Menariknya kebelakang lalu membantingnya ke udara. "Kau membuat gadis itu tergantung, akan kebahagiannya sendiri"

.

.

.

To be Continued

.