Chapter 11 : Gift


Jungkook menoleh ke bangku di sebelah kirinya, di mana Jimin sedang enak-enaknya tidur dengan mulut yang sedikit menganga. Beberapa bungkus Doritos berserakan di wilayahnya dengan satu buku tulis yang masih tertutup di tepi kiri meja itu. Jungkook telah kehilangan fokus sejak beberapa menit yang lalu, apalagi kawan sebangkunya itu. Jimin sudah kehilangan kesadaran saking suntuknya menghadapi pelajaran Donghae-ssaem. Meskipun tampan, ternyata pesona seorang Donghae tidak berhasil membuat murid-muridnya memperhatikan pelajarannya. Tiga per empat murid yang duduk di belakang sudah mengalihkan pandangan mereka dari papan tulis di depan. Ada yang melihat ke luar jendela, ada yang diam-diam memasukkan snack ke dalam mulutnya, ada yang bermain tic tac toe, dan ada yang melipat pesawat kertas di pojokan.

Jungkook adalah salah satu dari sekian murid yang masih kuat berpura-pura menperhatikan Donghae-ssaem. Sesekali tangannya iseng mencoreti wajah Jimin dengan spidol hitam kecil yang selalu dibawanya ke sekolah. Ia tak bisa menahan kikikan kecil yang keluar dari mulutnya. Pemandangan di hadapannya ini benar-benar mengundang tawa. Mata Jimin dihiasi lingkaran hitam di sekitarnya sehingga menyerupai mata panda, pipinya dihiasi kumis kucing, dan tak lupa tompel besar di bawah hidungnya yang kecil itu. Yugyeom dan Bambam yang duduk di depan mereka sempat mencuri-curi pandang ke belakang dan ikut-ikutan terkikik geli.

Beberapa kali Donghae menoleh ke belakang, tapi mereka bertiga sudah kembali ke posisi siap belajar. Bukannya guru paruh baya itu tidak tahu apa yang terjadi di belakang sana. Ia hanya membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau. Selama nilai mereka tidak anjlok, he's okay with it.

Bertepatan dengan huruf terakhir yang Donghae tuliskan di papan, bel kemerdekaan bagi para murid berbunyi nyaring, memecah kesunyian di kelas itu. Semuanya bergegas membereskan barang-barang mereka tanpa mempedulikan Donghae yang masih sibuk menjelaskan beberapa hal penting di depan.

"...intinya sebentar lagi kalian ujian, jadi belajarlah dengan baik. Pulang langsung belajar, ya. Selamat siang." Donghae memungut buku-bukunya yang tergeletak di atas meja, lalu melangkahkan kakinya dari kelas itu.

Akhirnya guru tampan itu keluar juga. Sekarang Jungkook bisa pulang ke rumah.

"Hey, bangun tukang tidur!" Jungkook memukul-mukul bahu Jimin.

Jimin langsung membelalakkan kedua matanya begitu terkena pukulan maut dari Jungkook. Ekspresi kusutnya dilengkapi mata yang masih sedikit merah. Bayangkan saja rasanya ditonjok kanguru berotot di bahumu saat sedang tidur. Nah, itulah perasaan Jimin saat ini.

"Wajahmu lembut tapi tenagamu keras, ya." Sindir lelaki pendek itu. Kepalan tangan kecilnya bergerak mengucek-ngucek mata.

"Hei, hei, ayo kita main sepak bola! Tadi Jaehyun ada chat di grup kan? Katanya hari ini mereka main sampai malam." Bambam berkata dengan semangat.

"Terserah. Aku sih bebas hari ini. Sudah lama juga tidak main sepak bola." Yugyeom meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

Jungkook sedikit merengut. Mau se-jarang apapun Yugyeom bermain sepak bola, ia tetap tidak akan kehilangan skill dan betis berototnya itu.

"Aku skip. Pamanku datang berkunjung hari ini." Jimin berkata sambil menguap.

"Aku ikut! Kebetulan tidak ada kegiatan hari i-"

Belum selesai Jungkook berbicara, tiba-tiba ponsel di kantung celananya berbunyi.

'Irene is calling...'

Biasanya Taehyung menggunakan ponsel Irene untuk meneleponnya. Tapi tumben sekali ia menelepon di siang bolong begini?

"Ah, maaf ya. Sepertinya aku tidak jadi ikut. Sampai jumpa besok!" Lanjut Jungkook. Pemuda itu melambaikan tangannya ke arah teman-temannya yang masih terdiam.

Ia bergegas keluar untuk menerima panggilan itu.

"Hyung! Tumben menelepon jam segini."

"Selamat siang juga, bocah."

"Siang, hyung hehe."

"Cepat keluar. Mobilku sudah di depan."

Jungkook mengangkat alisnya heran.

"Hah? Memang hyung sudah pulang?"

"Barusan sampai. Sudah ya, teleponnya kumatikan."

Klik!

Sambungan itu dimatikkan secara sepihak. Tak mau membuang-buang waktu lagi, Jungkook cepat-cepat berjalan menuju gerbang sekolahnya. Di sana, ia mendapati mobil hitam yang jarang digunakan Taehyung terparkir dengan rapi. Pemiliknya berada di luar mobil, sedang merokok.

"Hyung! pulang lebih cepat? Kenapa tidak kabari dulu? Aku tidak menyiapkan apa-apa lho di rumah." Cerocos Jungkook, dengan senyum ceria yang terpatri di wajahnya.

Taehyung melepaskan rokoknya. Gumpalan asap keluar dari kedua belah bibirnya, sedikit mengenai wajah Jungkook. Rokok yang baru habis setengah itu dibuangnya begitu saja ke tanah, lalu diinjak-injak ujungnya.

Tangannya mengusak rambut Jungkook penuh afeksi. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.

"Cerewet sekali. Aku baru saja sampai dari bandara."

Seharusnya, sekarang Taehyung masih ada di Beijing, mengurusi bisnis kotornya. Ia bilang pada Jungkook bahwa ia akan berada di situ sekitar dua minggu. Dan ini baru terhitung satu minggu empat hari. Kebetulan sekali ia bisa pulang lebih cepat setelah seminggu lebih bertatap muka dengan rekan-rekan bisnisnya yang berwajah sangar. Saat ini, satu-satunya hal yang ia butuhkan adalah melihat wajah manis Jungkook.

Karena itu tadi pagi ia memaksa ayahnya agar mengizinkannya pulang lebih cepat. Merasa pekerjaan anaknya terselesaikan dengan sangat baik, ayah Taehyung mau tidak mau membiarkan Taehyung pergi. Maka dengan itu ia bisa berada di sini sekarang.

"Jadi kita mau ke mana?" Tanya Jungkook ketika mobil besar itu mulai meninggalkan area sekolahnya.

Taehyung melirik ke arah Jungkook lewat ekor matanya.

"Kau ingat cafe milik Sehun, kan? Kita pernah ke sana tahun lalu."

Ah, Jungkook ingat. Cafe mewah milik seorang pria jangkung bernama Oh Sehun yang dikunjunginya tahun lalu saat Valentine bersama Taehyung. Mereka bisa ke sana saat hari Valentine juga karena Jungkook yang memaksa Taehyung untuk merayakan hari itu dengan makan malam mewah di luar. Jadilah Taehyung memutuskan untuk membawa Jungkook ke tempat salah satu teman yang satu dunia dengannya.

Oh Sehun adalah seorang mafia brengsek yang menyamar sebagai pemilik cafe di siang hari. Ia dan Taehyung sama-sama memiliki semacam obsesi terhadap barang-barang antik. Mereka sering bertemu di pelelangan ilegal, lalu berakhir saling bertukar kontak dan akhirnya bisa berteman cukup baik hingga sekarang. Makanan di cafenya sangat sesuai dengan selera Jungkook. Memikirkannya saja sudah membuat bocah itu meneguk liurnya di dalam mulut.

"Italian food? Buono."

.

.

.


"Tae, lama tidak bertemu."

"Hey, bro."

Taehyung menjabat tangan Sehun akrab. Jungkook menyusul di belakang dengan Vivi di gendongannya. Begitu mereka memasukki restoran itu, tiba-tiba saja Vivi berlari ke arah Jungkook dan mulai mendusal serta menjilati sekujur tubuhnya dengan brutal. Tampaknya anjing pudel itu tahu Jungkook pecinta anjing.

"Hai, Sehun-hyung!" Jungkook melambaikan tangannya ceria. Vivi dilepasnya begitu saja di lantai.

"Halo, Jungkook. Kau tambah tinggi ya dari tahun lalu. Masih jauh lebih pendek dari Taehyung, sih."

Mereka berdua terkekeh bersama.

Keadaan tempat ini tidak begitu ramai sekarang, mengingat waktu yang masih menunjukkan pukul dua dan hari ini bukan akhir pekan. Sehun mengantar Taehyung dan Jungkook ke meja langganan mereka yang berada di lantai dua, tepat di sebelah jendela. Tidak ada siapapun di sini. Sepertinya Sehun sengaja mengosongkan lantai dua begitu Taehyung mengatakan bahwa ia akan datang bersama Jungkook siang ini.

"Duduklah, kalian berdua. Luhan akan datang mencatat pesanan kalian sebentar lagi. Aku tinggal dulu, ya." Ucap pria tinggi itu dengan senyuman tipis di wajahnya.

Sehun tidak terlalu banyak bicara jika tidak ada Luhan, kekasihnya. Ia merupakan pribadi yang sedikit dingin dan cuek, persis seperti Taehyung. Mungkin karena itulah mereka cepat akrab.

Tak lama kemudian, pria cantik bermata rusa yang disebut-sebut Sehun tadi datang. Ia mengenakan apron berwarna pastel yang masih tampak baru. Luhan tersenyum ramah kepada Taehyung dan Jungkook.

"Hai, kalian. Akhirnya datang juga ke sini setelah sekian lama."

"Luhan-hyung! Makin cantik saja!" Jungkook berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Luhan.

"Hahaha.. dan kau tambah gemuk, sayang."

Jungkook melepaskan pelukannya dari Luhan. Wajahnya merengut tidak setuju. Ia tidak gemuk kok. Taehyung saja yang kebanyakan memberinya makanan.

"Luhan." Taehyung menganggukkan kepalanya sekilas.

Luan menarik catatan kecilnya keluar dari kantung apron-nya.

"Jadi apa yang akan dipesan pasangan fenomenal kita hari ini, hmm?"

"Aku mau Arancini, Tortellini, dan tentu saja Tiramisu. Oh-oh dan Panna Cotta juga, hyung! Lalu banana milkshake juga."

Luhan tertawa kecil melihat pesanan Jungkook yang begitu banyak. Wajar saja ia bertambah gemuk dengan nafsu makannya yang begitu tinggi.

"Aku pesan Panzanella dan secangkir Americano saja, Lu." Ucap Taehyung menutup buku menu yang ada di hadapannya.

Luhan menganggukkan kepalanya.

"Oke... satu Arancini, Tortellini, Tiramisu, Panna Cotta, Banana Milkshake, Panzanella, dan secangkir Americano. Aku akan segera kembali dengan makanan kalian." Luhan mengedipkan sebelah matanya. Pria cantik itu bergegas menuruni tangga, kembali berkutat di dapur untuk menyiapkan pesanan Taehyung dan Jungkook.

Jungkook beranjak dari kursi yang didudukinya. Ia pindah ke pangkuan Taehyung tiba-tiba. Taehyung sendiri tidak terkejut mendapat perlakuan itu. Ia reflek melingkarkan tangannya di pinggang Jungkook.

"Hyung, tumben mengajakku ke sini. Ada sesuatu ya? Rasanya hari Valentine masih lama. Kita juga tidak punya Anniversary atau semacamnya. Jadi ada acara penting apa?"

"Tidak apa-apa. Ingin saja." jawab Taehyung cuek.

Jungkook cemberut. Kedua tangannya memegang bahu Taehyung, mengguncangnya kesal.

"Pasti ada sesuatu kan... hyung suka sekali sih membuat orang penasaran!"

Taehyung menyeringai. Ia mengecup leher Jungkook sekilas.

"Hanya ingin menyenangkanmu saja, bocah."

Tidak mungkin Taehyung mau mengajaknya pergi ke sini (atas inisiatif sendiri) tanpa meminta imbalan. Pasti sedang ada maunya, Jungkook yakin itu.

"...lagipula kau tidak lihat aku bawa oleh-oleh di jok belakang? Kau harus memakainya malam ini, bocah."

Shit. Sepertinya Jungkook tahu apa yang Taehyung bawa pulang.

Taehyung pergi ke Beijing. Itu artinya ada kemungkinan besar oleh-oleh yang dibawa Taehyung adalah sutera. Bisa jadi seprai sutera, piyama sutera, celana dalam sutera, atau bahkan lingerie sutera. Jungkook yakin sekali itu oleh-oleh yang Taehyung maksud. Apalagi dengan didukung oleh tatapannya yang menyiratkan rasa lapar itu. Pasti di otak mesumnya sudah tergambar jelas bayangan Jungkook yang mendesah pasrah sekaligus nikmat dalam balutan kain sutera.

Jungkook melotot.

Barusan, ia merasakan gundukkan Taehyung di belakang pantatnya. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Taehyung mulai menghisap lehernya perlahan.

'Shit, shit, shit, jangan di tempat umum, hyung! Bagaimana kalau ada yang naik ke atas tiba-tiba?'

"Hyung, kita pulang saja."

"Tidak. Sehun sudah menyiapkan kamar di atas."

"Apa?! Terus makanan kita bagaimana?"

"Aku sudah memberi tahu Luhan."

Dugaan Jungkook benar. Taehyung mengajaknya ke sini karena menginginkan sesuatu. Dan ia hanya bisa melingkarkan lengannya di leher Taehyung dengan pasrah ketika pria dewasa itu membalik tubuhnya dengan agresif, memaksa melingkarkan kakinya di sekitar pinggangnya. Jungkook bisa merasakan Taehyung terbuai oleh nafsu, terburu-buru menaiki tangga, sama sekali tidak kesulitan menggendong tubuhnya yang cukup berat itu.

Jungkook terkekeh geli. Hampir setengah bulan berpisah, jadi alasan Taehyung ingin cepat-cepat kembali hanya karena horny?

"Bersiaplah, chagiya."

Jantung Jungkook seakan-akan berhenti berdebar selama beberapa detik. Barusan Taehyung tidak memanggilnya 'bocah' atau 'sayang'.

Untuk pertama kalinya, Taehyung menyebut dirinya sebagai 'chagiya'.

Taehyung baru saja mengangkat ekspektasinya akan cinta jauh ke awan-awan di atas sana.

.

.

.

.

Iklan Hyundai woy, iklan Hyundai :')

Anyway, aku ada upload chapter Intermezzo untuk Cappuccino di wattpad.

Jangan lupa review, fav, dan follow yak *inserts love emoji*

See you in next chapter!