Between Love and Mission

Author: Nacchan Sakura

Disclaimer: I DO- ..not own vocaloid.

.

.

.

Before I notice, I will become an adult, and my mouth will be able to produce beautiful lies.
I recall learning about various amounts of pain, but it still hurts.

(Glow – Hatsune Miku)

.

.

.

Rin's POV

.

.

.

"Ohayou.."

"-RIN-CHAAAAAAAAAAAAN!"

"HYAAA!"

Baiklah, pagi hari ini diawali dengan sambutan 'selamat pagi' dariku.

...dan juga sebuah pelukan maut dari Gumi.

"Gu-gumi!" Aku berusaha bangun dari lantai—karena Gumi yang baru saja memelukku secara tiba-tiba sukses membuatku jatuh ke lantai dengan indahnya. Untung saja susu kaleng yang sedari tadi aku pegang tidak bocor.

"Hehe, maaf! Aku sedang senang hari ini~!"

Hmm, aku memang memperhatikan wajah Gumi hari ini sedikit lebih cerah, dan ceria. Ia juga terus-terusan tersenyum.

Oh, dan ada rona merah di wajahnya.

"Ah, biar kutebak.. pasti soal cowok."

"EEEH? K-kenapa bisa tahu?"

Sudah kuduga..

"Jadii~ siapa cowok beruntung itu, eeh~?" Aku berjalan mendekati Gumi dan menyiapkan sengiran mautku, seraya membuka susu kaleng yang sedari tadi kupegang dan menyeruputnya perlahan. Gumi semakin merona.

"J-jangan bilang siapapun, oke? Kami masih pacaran diam-diam!"

"Hmm.. baiklah. Jadi, siapa?"

"..Mikuo-kun."

"BUUUFT!"

Aku menyemburkan susu yang sedang kuminum dengan reflek. Dan tentu saja, Gumi yang malang tanpa sengaja terkena cipratan susu putih itu.

"Rin-chan..."

"MAAF! MAAF! A-aku Cuma kaget, tidak kusangka.."

"Hehe~! Sebenarnya aku menyukainya sejak lama, namun Mikuo terlihat seperti tidak ada perasaan padaku. Dan kemarin, tiba-tiba saja ia menyatakan perasaan padaku~!"

"..Tiba-tiba menyatakan perasaan?"

"Un! Padahal, kami jarang berbicara, tapi kemarin tiba-tiba ia mengajakku pergi ke taman belakang dan menembakku!"

Tunggu.. ini sedikit ganjal.

"Umm.. Gumi, sebelum Mikuo mengajakmu pergi, apa yang kau lakukan?"

"Hmm? Aku berbicara dengan Lily dan Akaito soal Dark Diva, itu saja... ah iya, aku dan ayahku berencana akan menjebaknya agar lebih mudah untuk menangkapnya! Lily bilang, ia akan membantu!"

Mikuo menyatakan perasaan secara tiba-tiba sesudah Gumi membicarakan soal Dark Diva?

Baiklah, semuanya sudah jelas.. untuk saat ini.

"Begitu, ya~ aah, aku tidak yakin sih Gumi bisa menangkap Dark Diva" Ucapku sambil tertawa kecil

"EEH! Jahat!" Gumi memasang wajah manyun dan memukulku pelan. Namun setelahnya, ia ikut tertawa bersamaku.

Jahat sekali, ia memanfaatkan Gumi yang polos dan baik seperti ini..

.

.

.

"Tidak usah dipikirkan. Apa bedanya kau dengan lelaki bernama Mikuo itu?"
"E-eh?" Aku setengah terkejut mendengar kata-kata Kaito. "Apa maksudmu?"

"Benar, 'kan? Kau berteman dengan Gumi hanya untuk mendapatkan informasi, kau juga sebenarnya pembunuh bayaran yang menyembunyikan identitasmu. Sementara, Gumi adalah seorang polisi, musuh terbesarmu."

Aku terdiam. Aku mencerna kata-kata Kaito sekali lagi, dan berpikir keras. Benar juga, aku tidak ada bedanya dengan Mikuo.

Akupun hanya seorang penjahat yang berpura-pura baik di hadapan Gumi.

"..Aku pulang dulu."

"Hmm. Oh iya, Rin.. aku lupa memberitahu, besok Miku akan pindah ke sekolahmu juga."

Aku –tanpa sengaja—membenturkan kepalaku ke pintu yang sedang kubuka. Apa lagi ini? Sekarang, Miku-sama ikut pindah ke sekolahku?

"UNTUK APA?"

"Yaah~ tentu saja untuk membantu penyelidikan soal Len Kagamine. Aku juga akan pindah menjadi guru disana."

"APA?"

"Jadi, mohon bantuannya ya, Rin~"

..Tuhan, aku tahu aku ini penuh dosa, tapi.. apa perlu menghukumku sampai seperti ini?

.

.

.

Aku melambaikan tanganku ke arah Kaiko dan berjalan keluar dari Shion Bakery. Matahari yang panas seketika menyambutku dan menusukkan rasa panasnya ke dalam kulitku.

Ah, sudah mau masuk musim panas, ya?

"Aku mampir ke supermarket saja, deh.. disana sejuk, dan siapa tahu jeruknya sedang diskon~"

Aku berjalan menuju supermarket sambil bernyanyi pelan. Entah kenapa, untuk sesaat, setidaknya aku bisa melupakan soal misiku, dan juga masalahku yang lainnya.

Terutama, soal.. Len.

"Aaah, kuso! kalau dipikir, tadi seharian aku tidak berbicara dengannya karena situasi terasa canggung.. aku juga menghindarinya terus saat ia mau berbicara.."

Aku mengacak-acak rambutku. Kenapa aku bertingkah seperti gadis yang lagi jatuh cinta dan galau, sih?

"Ah, Rin-san?"

Aku menoleh saat mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. Dan saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat sosok kekasih baru dari temanku sedang berdiri dan memasang wajah polosnya.

"..Oh. Halo, Mikuo-kun."

"Sedang apa disini?"

"Aku.. sedang mau ke supermarket."

"Ah, aku juga! Mau pergi bersama?"

"U-un.."

Cih, sebenarnya aku malas harus berjalan dengan manusia berwajah dua ini. Tapi.. aku ingin membicarakan sesuatu dengannya juga sih.

...

Kami berdua berjalan di tengah keheningan. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Yah, sebenarnya aku ingin berbicara dengannya sih, hanya saja aku bingung harus berbicara dari mana..

Ya sudahlah, yang penting, bicara saja dahulu.

"..Nee, Mikuo-kun."

"A-aah, iya?"

"Apa kau benar suka pada Gumi?"

-Hening.

"E-Ehh? D-darimana Rin-san tahu?"

"Tidak usah menyembunyikannya, Gumi sudah memberitahu semua kepadaku."

"O-oh.." Mikuo mengalihkan pandangannya. "..Iya, aku menyukai Gumi-san.."

"Hee~ begitu, ya?" sebuah jeda. "Kupikir, kau menyatakan perasaanmu hanya untuk melindungi dirimu sendiri.. agar tidak tertangkap oleh Gumi."

Mata Mikuo terlihat sedikit membesar. "M-maksudmu?"

"Aah~ kalau aku tidak memanggilmu.. 'Dark Diva', kau pasti tidak akan mengerti, ya?"

"-! K-kau, kenapa bisa kau tahu kalau aku dark diva?"

Mikuo sudah mulai melepaskan topengnya. Bahasanya yang sopan pun kini berubah seratus delapan puluh derajat.

"Bukankah sudah sangat jelas? Saat kita bertemu di malam hari, tepat saat dark diva muncul.. juga bekas luka tembak di pundakmu.. semua bukti itu bahkan sudah bisa membuat anak sekolah dasar menebak bahwa kau adalah Dark Diva."

Mikuo mengatupkan mulutnya, dan menatapku dengan tajam. Sementara aku hanya memasang datar dan menatapnya dengan tenang.

"Sudah kuduga, kau pasti mengetahuinya.." Mikuo berjalan pelan ke arahku. "Kalau begitu, aku harus membuatmu tutup mulut."

"Apa—"

Mikuo menarik tanganku dan membantingku ke sebuah tembok di jalanan yang sepi. Sialan, ini sudah yang kedua kalinya aku ditahan ke sebuah tembok oleh seorang laki-laki.

"Kau teman Gumi, bukan?" Mikuo menyentuh daguku dengan jari-jari tangannya, seraya menyeringai licik ke arahku. "Mudah saja, tutup mulutmu, atau aku akan menyakiti Gumi."

"-! Aku.."

"Benar, 'kan? Kau berteman dengan Gumi hanya untuk mendapatkan informasi, kau juga sebenarnya pembunuh bayaran yang menyembunyikan identitasmu. Sementara, Gumi adalah seorang polisi, musuh terbesarmu."

Sial, di waktu seperti ini, kenapa kata-kata Bakaito itu yang harus muncul!

"Apapun itu rahasiamu, kau tetap temanku!"

Ah..

Lily bilang, ia akan tetap jadi temanku, apapun itu rahasia yang aku sembunyikan.

Ia tetap mempercayaiku, apapun yang terjadi.

Ia menyebutku sebagai 'teman'.

Gumi..

Apa ia akan berpikir sama kalau mengetahui yang sebenarnya tentang aku?

"Mungkin.. Aku bisa mempercayai 'teman' untuk saat ini."

Tidak..

Aku sudah memutuskan.. untuk lebih mempercayai temanku sendiri!

"..Jangan sentuh Gumi." aku menatap Mikuo tajam, dan menepis tangannya yang sedari tadi menyentuh daguku. "Sakiti Gumi, atau sentuh dia sedikit saja, maka aku akan membunuhmu dan mengirim dirimu ke neraka."

Mikuo menatapku sejenak, sebelum akhirnya ia tertawa dengan nada yang mengejek.

"Hahaha! Kau pikir, kau bisa membunuhku?"

"Kalau aku bilang aku bisa, bagaimana?"

Aku dengan cepat mengambil sebuah pistol yang selalu aku bawa dari kantung bajuku, dan mengarahkannya tepat di pelipis Mikuo. Tidak lupa, aku pun menyiapkan jariku untuk menarik pelatuknya.

"Kau pasti tidak menyangka bahwa aku membawa benda seperti ini, bukan?" kini, giliranku yang tertawa ke arahnya. "Jangan anggap remeh aku. Kau tidak tahu siapa aku sesungguhnya."

Mikuo terdiam, tubuhnya tak bergerak sama sekali. Ia hanya berdiri mematung, dan menatapku dengan tatapan paling tajam yang ia miliki.

"Kau—"

"...Rin-chan? Mikuo-kun?"

Aku dan Mikuo dengan cepat menoleh, dan melihat siapa yang memanggil nama kami. Aku dan Mikuo pun tak bisa menghindari perasaan terkejut yang muncul saat melihat siapa yang sudah mendengarkan pembicaraan kami sejak tadi.

"Gumi?"

To be Continued