Disclaimer : I don't own Naruto
Attention : OOC, AU, Typo
Let Me Be With U
Chapter 11
***** o o o *****
Jangan lupakan aku, Naruto-kun..
Ingatlah aku, sebagai gadis kecil yang selalu mencintaimu..
Selamanya..
***** o o o *****
Hinata..
Siapa? Siapa itu? Siapa yang memanggil namanya?
Hinata..Bangun sayang..
Hinata yang merasa familiar dengan suara itu, akhirnya mencoba untuk membuka kedua matanya yang terasa berat.
Pik.
Gadis itu akhirnya berhasil membuka mata kanannya sedikit. Seketika mata Hinata seolah di kerubungi oleh cahaya. Terang, terang sekali, hingga Hinata akhirnya dapat membuka kedua matanya. Kedua mata abu milik gadis itu terbelalak. Di mana aku?
Sejauh mata Hinata memandang, hanya ada awan, dan cahaya. Cahaya yang tadi Hinata pikir dapat membutakan matanya 'saking silaunya' ternyata tidak menyilaukan sama sekali. Hinata merasa aneh, mengapa cahaya justru dapat menyejukkan matanya? Hinata bingung, dan lagi-lagi, suara itu kembali terdengar.
Hinata..
Hinata termangu. Sebenarnya ia ada di mana? Dan siapa pemilik suara merdu itu? Hinata yakin, Hinata mengenal suara itu!
Kamu sekarang ada di perbatasan antara Bumi dengan Surga nak.. Dan, apakah Hinata melupakan suara Ibu?
Suara itu semakin mendekat, dan tiba-tiba..
Puff!
Asap berwarna putih keemasan tampak di depan wajahnya, menyelimutinya. Tak lama, sesosok wanita dalam balutan jubah putih keluar dari dalam asap itu. Wanita itu sangat cantik, dengan sepasang sayap di belakang punggungnya, dan dengan cahaya yang mengelilingi tubuhnya, gadis itu menatapnya.
Wanita itu.. IBU?
"I.. Bu..?" Hinata berusaha meyakinkan.
Wanita itu hanya tersenyum, dan tanpa menjawab pun, Hinata tahu. Itu senyum milik Ibunya.
"I-Ibuu!" tangisnya sambil berlari memeluk Ibunya. "Hiks.. Hiks.. Ibu.."
Wanita itu tersenyum lembut, senyum lembut yang mirip sekali dengan senyum putrinya. Tentu saja, Hinata selalu berusaha menjadi wanita yang seperti Ibunya. Lembut, dan baik, seperti Ibu. Wanita itu mengelus punggung Hinata pelan, mencoba menenangkan perasaan putri kecilnya itu. Ah, sekarang Hinata sudah besar ya?
Apa kabar, sayang? Selamat ya.. Hinata sudah berhasil membuat Ibu bangga. Hinata sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik. Sangat baik malah..
Ibu tertawa kecil. Bahkan suara tawa Ibu pun terdengar merdu di telinga Hinata.
Hinata merasa matanya memanas. Ia hanya mampu menggigit bibirnya kuat-kuat. Gadis itu lalu menarik napasnya panjang.
"Tidak Bu, Hinata.. Bukan gadis baik seperti yang Ibu inginkan.."
Ia akhirnya menundukkan kepalanya. Baik? Tidak Bu. Seketika ia teringat tentang Naruto. Dan juga jurus mematikan itu. Ia sudah mengecewakan ayah, mengecewakan adiknya, dan mungkin juga Toru.
"A-Apa Hinata sudah meninggal, Bu?" Hinata memainkan ujung jarinya, tidak berani menatap kedua mata Ibunya.
Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, Ibu malah mengecup kening Hinata singkat.
Anak Ibu sekarang sudah mengenal cinta ya?..
Hinata merasa dirinya semakin rapuh mendengar kata 'cinta' yang ternyata berakhir sia-sia. Gadis itu cepat-cepat menggeleng. Sia-sia? Setidaknya rasa cinta 'sia-sia' ini dapat melindungi Naruto. Setidaknya rasa cinta 'tak terbalas ini' dapat membuat pria itu tetap hidup. Dan Hinata bersyukur karenanya.
Namanya Naruto ya? Apa Hinata benar-benar mencintainya sampai-sampai Hinata memakai jurus itu? Hinata sudah tahu bukan, apa saja konsekuensi yang harus Hinata terima jika memakainya?
Hinata hanya mampu mengangguk, yang membuat sebutir air mata yang sedari tadi di tahannya, meluncur di pipi kanannya. Cepat-cepat Hinata menghapusnya, namun, sebelum ia berhasil, tangan Ibu lebih cepat meraih wajahnya, dan menghapus sisa air matanya.
Mati atau kehilangan ingatan. Itu konsekuensinya, nak. Ibu sendiri tak menyangka, Hinata dapat menggunakan jurus itu. Pasti pria bernama Naruto itu sangat berarti untukmu ya?
Ibu tersenyum lagi, seolah bisa membaca pikiran Hinata.
"Sangat Bu.. Na-Naruto-kun sangat berarti untuk Hinata.. Awalnya, Hinata hanya kagum dengan ketabahannya, kagum dengan tawanya yang selalu hangat, dan kagum dengan keberaniannya mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Tapi, Bu, seiring berjalannya waktu, Hinata merasa bahwa, Hinata selalu ingin berada di sisinya. Menjaganya, melindunginya. Dan tanpa sadar, Hinata, sudah jatuh—"
Jatuh cinta? tanya Ibunya.
Hinata hanya mengangguk kecil.
Lagi-lagi Ibu tersenyum.
Hinata, Ibu kemari karena ingin menyampaikan pesan, bahwa kamu harus kembali ke dunia. Belum waktunya nak, belum saatnya kamu pergi meninggalkan Bumi.
Kedua mata milik Hinata menatap Ibunya ragu. Apakah.. Apakah dengan begitu ia dapat hidup lagi? Tapi.. Hinata akhirnya menggeleng.
"Tidak. Hinata mau di sini saja. Hinata mau bersama Ibu." ucapnya tegas.
Ibu tertawa kecil.
Ibu juga ingin bersama Hinata, tapi belum saatnya, Nak.. Karena sekarang, masih banyak orang yang membutuhkan Hinata.. Hinata, lihat ini sayang..
Tiba-tiba tangan Ibu terjulur ke depan, dan sesuatu seperti cermin terhampar di depannya. Cermin itu dikelilingi lapisan emas, den berwarna jernih. Hinata tidak tahu apa maksud Ibu menyuruhnya melihat cermin itu sampai tiba-tiba bayangan sesuatu mulai tampak di cermin itu.
Bayangan itu semakin jelas, dan kini ia dapat melihat seorang gadis dalam balutan selimut putih. Selang infus dan alat pernapasan terpasang di sekujur tubuh gadis itu yang terlihat seperti sedang tertidur.
Hinata menutup mulutnya. Itu.. Dirinya..
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan sosok pria yang selalu menjadi panutannya, beranjak memasuki tempat tidurnya. Itu, ayah..
Hinata hampir saja menangis saat melihat keadaan ayahnya saat itu. Cekungan hitam besar di matanya membuat Hinata berpikir, sudah berapa lama ayahnya menungguinya seperti itu?
Pintu terbuka lagi, kali ini di susul dengan kehadiran Toru dan Hanabi yang membuat Hinata semakin ingin menangis. Di sana, Hanabi menangis. Hanabi dan Toru tersayangnya menangis.
Hati Hinata merasa trenyuh.
"I-Ibu.. I-Ini.." Hinata tidak mampu menyelesaikan ucapannya, gantinya, ia hanya bisa sesungukkan karena rasa pedih yang tiba-tiba menyerangnya.
Kamu sudah tertidur selama 3 hari sayang. Detak jantungmu juga sangat lemah, tapi Ayah bersikeras untuk menunggumu 'kembali'. Ia yakin bahwa Hinatanya pasti akan 'kembali', nak..
Hinata tidak mampu berkata-kata lagi. Ia kini menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya, dan menangis di baliknya. Oh, Kami-sama, apa yang telah Hinata lakukan?
Kembalilah, nak. Mereka membutuhkanmu. Dan.. Naruto juga membutuhkanmu..
Kali ini Hinata mengangguk, menyetujui pikiran Ibu yang pertama. Ia harus kembali, ia tidak bisa membuat semua orang yang ia sayangi menangis.
"Bu, apakah kita akan bertemu lagi?" tanya Hinata untuk yang terakhir kali.
Ibu memeluknya erat, kemudian mengelus rambutnya lembut.
Pasti sayang, suatu saat nanti..Dan jangan lupa, kalau Hinata benar-benar mencintai Naruto, jangan menyerah.. Itu pesan Ibu.
Hinata mengangguk.
"Aku menyayangi Ibu.."
Ibu juga menyayangi Hinata..
Setelah melepaskan pelukan, tiba-tiba asap keemasan menyelimuti Ibunya. Seolah-olah menarik bayangan tubuh Ibunya yang kini semakin memudar, dan memudar.
Bersamaan dengan itu, cahaya yang sedari tadi menyelimutinya mulai menghilang, dan membawa pandangannya semakin meredup.
Gelap, gelap, dan..
Pip..
Pip..
Hanya suara itu yang terakhir kali Hinata dengar.
***** o o o *****
"Ayah.. Kakak baik-baik saja kan yah? Hiks.. K-K-Kakak belum mati kan yah?" Hanabi sesungukkan.
Toru yang tidak tega melihat pemandangan itu mengelus punggung Hanabi yang akhirnya memeluk dirinya, dan menangis di dadanya.
"Kenapa Toru? Kenapa kakak meninggalkan Hanabi? Hana-,Hana tahu Hana selama ini bandel, dan kadang suka menjahili kakak. Tapi, kenapa kakak pergi, Toru? Kakak bilang, Kakak sayang Hana. Tapi mana? Mana kak? Kakak tinggalin Hana!" Hanabi semakin Histeris. "Huhuhu.. Kakak bohong! Kak Hinata tukang bohong! Huhuhu.. Huaaaaa.."
Sebelum tangis Hanabi pecah, Toru akhirnya membisikkan sesuatu di telinga anak majikannya itu dan mengajaknya keluar dari kamar pasien.
Sementara itu, Hiashi hanya mampu terdiam, sambil sesekali menggunakan Byakugannya. Aliran cakra milik Hinata sangat lemah, dan tak teratur. Sangat teramat lemah malah, alias sekarat. Sudah 3 hari berlalu, para Tim Medis juga sudah angkat tangan, menyerah. Namun Hiashi tidak mau tahu. Ia hanya mau putri kesayangannya kembali. Titik.
Hiashi menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Ia sudah kehilangan wanita yang amat di cintainya, dan kali ini, ia harus kehilangan putri yang amat di cintainya? Ia bisa gila, sungguh.
Tanpa sadar Hiashi mulai menitikkan air matanya. "Sayang.. Bangun ya nak, jangan menyusul Ibu dulu. Ayah masih membutuhkan Hinata. Ayah akan jaga Hinata, ayah akan sayangi Hinata. Jangan pergi dulu ya sayang.."
Jemari Hiashi perlahan-lahan mulai mengusap pipi gadis terpenting dalam hidupnya. Pipi itu terasa begitu dingin dan rapuh. Hiashi semakin tidak tega melihatnya.
"Nanti Hinata mau minta apa, pasti Ayah turutin. Hinata mau apa sayang? Hinata mau apa? Bilang sayang. Jangan tertidur terus.."
Bibir Hinata tetap bungkam, dan Hiashi sudah tidak tahan lagi.
"Ayah keluar sebentar ya sayang, cepat sembuh nak, cepat bangun.." dan Hiashi mengecup kening putrinya penuh sayang.
Dengan berat hati, pria itu mulai menyeret kakinya untuk menjauh. Ia harus berpikir, dokter mana lagi yang bisa menyembuhkan putrinya.
"Oh, Kami-sama, adakah sedikit keadilan bagi gadis baik seperti Hinata?" doanya pilu.
Dan Hiashipun mulai berjalan keluar.
***** o o o *****
Sudah menjadi tugas seorang Naruto untuk menjaga kamar rawat Hinata selama 3 hari ini. Bukan karena permintaan Hiashi, tapi karena keinginan hatinya sendiri.
Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, jika Hinata dapat bertahan hidup, apapun yang Hinata katakan, apapun yang Hinata inginkan, akan ia lakukan. Apapun. Catat : APAPUN. Termasuk jika Hinata memintanya untuk membalas perasaannya.
Naruto mendesah. Mengapa ia harus jatuh cinta kepada Sakura? Dan bukan kepada Hinata? Kenapa ia tidak bisa jatuh cinta kepada wanita yang JELAS-JELAS sangat mencintainya seperti Hinata?
Bahkan tadi, saat Sakura datang menjenguk Hinata beberapa jam yang lalu, getaran-getaran itu masih terasa di sekujur tubuhnya. Mengapa? Mengapa? Dan mengapa?.. Berbagai pertanyaan 'mengapa' yang Naruto tak tahu apa jawabannya itu akhirnya berputar ria di kepalanya sampai ia melihat Hiashi, ayah Hinata, keluar dari kamar putrinya.
Ia sendiri sudah 3 hari ini mengawasi kamar Hinata. Kalau-kalau ada orang jahat yang ingin menyakiti Hinata. Oh, ia sudah berhutang budi teramat banyak kepada Hinata. Sangat banyak malah sampai ia sendiri tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Dan kalau sampai Hinata tidak selamat.. Naruto tidak yakin ia dapat memaafkan dirinya sendiri.
Naruto tersentak dari lamunannya saat tepukan pelan di punggungnya membuatnya mendongak. Di hadapannya, Hiashi, tersenyum lelah kepadanya. "Kau sudah makan anak muda?"
Mendengar perkataan tulus pria itu membuatnya hampir menangis, kalau saja ia tidak ingat bahwa gendernya itu 'laki-laki'. Padahal, pria ini tahu bahwa Hinata sekarat sekarang demi menolong dirinya. Tapi mengapa, mengapa, oh lagi-lagi mengapa, pria itu tetap baik kepadanya.
Naruto tercekat. Bingung harus menjawab apa karena ia sendiri sebenarnya belum makan, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin membuat pria yang sekarang terlihat rapuh itu mengkhawatirkannya. Cukuplah mengkhawatirkan putrinya, jangan lagi di tambah dengan mengkhawatirkan dirinya.
"S-Sudah paman." Jawabnya gugup.
Hiashi tersenyum lemah. Ia lalu meletakkan sebuah plastik yang Naruto yakin pasti berisi makanan.
"Hinata sering cerita bahwa kau menyukai ramen. Aku tidak tahu apakah ini enak atau tidak untukmu, anak muda. Tapi makanlah. Aku tak mau orang yang di sayang Hinata turut sakit. Hinata pasti akan sedih jika melihat mu sakit."
Pada dasarnya setiap hati memiliki nurani yang pasti dapat di sentuh. Namun oleh siapa ia dapat di sentuh, itu pertanyaannya. Kali ini Naruto merasa hatinya tersentuh. Ayah. Ia sudah menganggap pria di hadapannya ini seperti ayahnya sendiri.
HiHH"K-K-Kenapa paman sebaik ini kepadaku? Bukankah aku yang sudah menyebabkan Hinata seperti ini?" ucapnya getir sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup memandang wajah pria yang amat di hormatinya itu.
Hiashi hanya terdiam. Selama beberapa detik, Naruto di dera pertanyaan 'mengapa' yang lagi-lagi melintas di pikirannya.
"Anak muda, angkat wajahmu." ucap Hiashi dengan nada yang tak ingin di bantah.
Perlahan-lahan, Naruto mengangkat wajahnya dan terkejut saat melihat wajah Hiashi. Wajah itu kini telah bersimbah air mata, dan tatapannya terlihat amat terluka. Naruto terpaku, lidahnya terasa kelu, dan otaknya seperti membeku.
Hiashi menghela napas. "Istriku adalah gadis yang sangat cantik, dan sangat baik. Tapi, aku yang dulu hanyalah laki-laki brengsek. Aku selalu mencari wanita-wanita yang lain walaupun aku tahu di dekatku ada wanita yang sangat mencintaiku. Aku yang dulu adalah pemarah, aku yang dulu juga perokok berat. Tapi di antara wanita-wanita itu tidak ada yang peduli denganku. Mereka hanya menginginkan uangku."
Pria itu berhenti sejenak, menyeka matanya yang terasa memanas. Ia lalu menatap lampu rumah sakit, seolah mengingat kembali kenangan-kenangan yang selama ini di simpannya.
"Tetapi istriku berbeda. Ia selalu saja mengikutiku ke mana aku pergi. Membuang rokokku, sampai aku marah besar padanya, tapi ia hanya tersenyum. Dan selalu begitu. Setiap aku marah, ia hanya tersenyum. Aku pikir mungkin ia sudah gila, tapi ternyata, suatu hari, aku melihatnya menangis.."
Hiashi meneguk ludahnya. Merasa kerongkongannya tiba-tiba mengering saat ingin mengucapkan hal itu.
"Ya, ia menangis. Karena, saat itu memang kami sudah resmi berpacaran, namun, diam-diam aku juga mencari wanita yang lain. Dan aku benar-benar menyesal. Benar-benar menyesal.."
Kepala pria itu tertunduk, yang akhirnya membuat Naruto tidak tega untuk tidak menepuk-nepuknya, menenangkannya. Setelah lebih tenang, Hiashi akhirnya melanjutkan.
"Aku baru menyadari saat aku kehilangannya, bahwa aku mencintainya. Dan aku, tak bisa bila jauh dengannya."
Kali ini padangan mata Hiashi melembut, selembut nada suaranya saat mengucapkan kata tadi. Membuat Naruto mengerti bahwa pria itu memang sungguh-sungguh mencintai istrinya.
"Nak, tahukah kau saat akhirnya ia harus terenggut dari sisi ku? Meninggalkan ku dengan kedua anak yang bahkan selalu bertanya 'ayah, kemana ibu' setiap harinya? Aku hancur, nak. Tapi, perlahan-lahan aku mulai bangkit. Karena aku tahu, anak-anakku masih membutuhkan ku. Itulah sebabnya aku mencurahkan semua rasa sayangku kepada mereka.."
Naruto hanya terdiam dan terpaku.
"Hinata. Hinata sangat mirip sekali dengan istriku. Matanya, rambutnya, senyumnya, sikapnya, hatinya, bahkan tipikal pria yang dicintainya.."
Kali ini Naruto mengernyit bingung saat mendengar perkataan terakhir Hiashi.
"Dan melihatmu, aku merasa seperti melihat diriku sendiri di masa lalu.."
Naruto menunduk, berusaha mencerna perkataan Hiashi yang kali ini terasa sulit dimengertinya.
"Nak, boleh paman memohon 1 hal?"
Naruto mendongak. "Ya paman, apapun perkataan paman, akan aku turuti. Karena itulah janjiku."
Hiashi hanya tersenyum sebelum berkata.
"Aku hanya memohon, tolong jaga Hinata.."
***** o o o *****
Setelah kepergian Hiashi, Naruto akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar rawat Hinata.
Selama ini, Naruto terlalu merasa bersalah hingga ia tidak berani masuk ke dalam barang sehelai rambutpun. Ia hanya mampu mengawasi dari luar, berharap gadis baik hati itu akan baik-baik saja.
Namun malam ini berbeda. Ia ingin mengucapkan sesuatu kepada Hinata. Walaupun Hinata tidak dapat mendengarnya, Naruto tidak peduli.
Pria itu akhirnya menarik sebuah bangku berwarna merah di sisi kanan tempat tidur Hinata. Setelah duduk, kini matanya tertuju pada Hinata. Dan tiba-tiba hatinya terasa di remas-remas. Gadis itu, sahabat terbaiknya selama ini, yang selalu mendukungnya, yang selalu mendengar keluh kesahnya, kini terbaring lemah di atas tempat tidur karenanya.
Naruto menyetuh pipi Hinata perlahan. "Hei.." berharap dengan sentuhan itu Hinata dapat bangun dari tidurnya.
"Apa kabar?" tanya Naruto lagi dengan senyum lemah. Hinata terdiam, tidak beraksi apa-apa.
Perlahan Naruto menyusupkan tangannya ke dalam tangan hinata, dan menggenggamnya. Tangan itu dingin sekali, membuat hati Naruto semakin trenyuh.
"Aku.. Baru tahu kalau kamu mencintaiku.. Haha.. Aku pasti sudah banyak menyakiti hatimu ya?" tanyanya sambil tertawa pelan. Tawa pedih yang penuh dengan penyesalan.
Naruto tersenyum.
"Maafkan aku. Maafkan aku Hinata. Maaf karena aku terlambat menyadarinya, dan maaf karena aku belum bisa membalas perasaanmu. Tapi inilah janjiku, selamanya, seumur hidupku, aku akan menjagamu. Aku akan melindungimu. Tidak akan ku biarkan seorangpun menyakitimu, atau melukaimu. Aku berjanji, siapapun yang membuatmu menangis, tidak akan aku maafkan. Aku berjanji.."
Kali ini Naruto semakin mengetatkan genggaman tangannya, berharap Hinata juga dapat mendengar semua janjinya barusan.
"Janji.." ucapnya untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya meletakkan kepalanya di samping tangan milik Hinata.
Dan Narutopun tertidur..
***** o o o *****
Pip..
Pip..
Aku di mana?
Pip..
Pip..
Eh, suara apa itu?
Pip..
Pip..
Dinginnya udara saat itu membuat tubuhnya menggigil. Ia akhirnya meringkuk.
Tanpa sadar ia menarik selimut, namun, harapannya itu kandas saat ia merasakan tangan kanannya tidak bisa bergerak. Alias tertindih sesuatu.
Pip.. Pip.. Pip..
Lagi-lagi suara itu..
Karena berpikir bahwa itu suara beker, dengan tangan kirinya yang terasa bebas, ia mulai menggapai gapai.
Plok.. Plok.. Pok!
Loh? Kok lembut?
Gadis itu mulai menepuk-nepuk sesuatu yang menindih tangannya. Seperti.. Bulu? Kemoceng? Emmm.. Bantal?
Ia akhirnya memutuskan untuk membuka kedua matanya.
Sinar silau itu mengenai matanya tepat di pupil. Membuatnya harus menunggu beberapa menit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Selama itu, ia hanya dapat melihat bayangan bayangan berwarna putih.
Setelah semuanya terlihat jelas, ia mulai mengamati seluruh ruangan, dan tahulah ia bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
Eh? Rumah sakit? Memangnya aku sakit apa?..
Pip.. Pip.. Pip..
Suara yang berasa dari mesin di sebelah kirinya membuatnya menengok. Di sana mesin itu terus berjalan seraya menampilkan kurva-kurva aneh yang terus berubah ketinggiannya. Gadis itu mengerutkan alis.
Bukannya alat itu dipakai untuk sesuatu yang sudah gawat darurat?
Ia kemudian berpikir, apa yang menyebabkan dirinya bisa berada di sini? Ke mana Ayah? Ke mana juga Toru dan Hanabi?
Gadis itu benar-benar bingung. Apa saja yang sudah ia lewatkan?
Merasa bahwa tenggorokannya kering, gadis itu memutuskan untuk mengambil air. Namun, saat ia menengok ke kanan untuk menarik tangannya. Ia melihat sesuatu. Ia melihat pria itu.
Seseorang dengan rambut berwarna pirang keoranyean itu tengah menindih tangannya dengan kepalanya. Sepertinya orang itu terlihat kelelahan. Tapi, apa yang pria itu lakukan di kamarnya? Dan.. Apa mengapa pria itu terus menggenggam tangannya?
"Ehm.. Helo?" ucapnya untuk membangunkan si pria-tidak-tahu-diri yang sudah seenaknya menyelinap ke dalam kamarnya.
Tidak ada jawaban. Gadis itu menghela napas.
"Helo? Maaf tapi anda siapa ya?" tanya gadis itu dengan berhati-hati.
Tetap tidak ada jawaban.
Nyenyak amat sih ini orang tidurnya? Nggak tau aku haus apa ya?
Gadis itu meringis.
Kami-sama.. Siapapun tolong aku..!
Sepertinya doa gadis itu terjawab. Karena beberapa saat kemudian, pria itu mengulet, kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya dan menguap.
Great. Tidur gratis di kamar rawat orang..
"Helo?" ucap Hinata sarkatis sambil menatap pria itu dengan tatapan aneh.
Bukannya segera hengkang dari kamar Hinata, pria itu justru bengong saat menatap Hinata. Antara percaya dan tidak percaya, pria itu melihat Hinata seperti sedang melihat setan. Hahaha.. Lucu.
Hinata mengangkat sebelah alisnya saat melihat pria itu masih terpaku di tempatnya.
"Hei? Kau baik-baik saja?" entah mengapa tapi Hinata tiba-tiba merasa kasihan melihat tatapan aneh pria itu.
Oh, Kami-sama.. What's wrong with me?!
Belum juga Hinata selesai dari kebingungannya. Hinata bertambah panik saat melihat pria itu tiba-tiba menitikkan air matanya, sambil menatap Hinata masih dengan mimik anehnya.
"H-Hei,Hei! Kau baik-baik saja?! Kau kenapa? Mana yang sakit? Kau masih waras kan?"
Untuk pertanyaan terakhir, Hinata meragukan pertanyaannya saat melihat pria itu tiba-tiba tersenyum lebar sekali, kontras banget dengan sikapnya barusan. Membuat Hinata berpikir bahwa : nih cowo udah pasti pshyco.
"H-H-Hinata-chan.. K-Kamu, K-Kamu masih hidup?" tanyanya sambil masih menangis.
Oh, Kami-samaaaa.. Siapa-cowo-pshyco-ini dan kenapa-dia-tahu namanya? Kenapppppaaa?
"W-W-Wait, T-Tunggu, K-Kamu siapa?" Hinata panik. Sekarang matanya sudah melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari siapapun yang bisa menolongnya saat ini. Tapi sia-sia, karena sejauh mata memandang cuma ada tembok, tembok, tembok yang semuanya berwarna putih. Arrrrrggghhh!
Tanpa di duga, tiba-tiba pria itu merengkuh tubuh mungil Hinata dan memeluknya dengan sekuat tenaga. Huek. Tulangku.. pikirnya.
"Eh, Eh, Apa-Apa—"
Mata biru milik pria itu kini menatap Hinata lekat. Masih dengan sisa-sisa air mata di pipinya, ia berkata, "Welcome home, Hinata-chan.." ucapnya sambil tersenyum lembut. Begitu lembut sampai Hinata sendiri lupa bahwa cowo di hadapannya ini mungkin pshyco. Sedetik, entah mengapa, ia merasa nyaman dalam pelukan hangat pria itu. Ia juga merasa mengenali mata itu, suara itu, dan senyum itu. Tapi.. Hinata tidak ingat! Hinata benar-benar tidak ingat siapa makhluk berambut oranye di hadapannya itu! Dan itu membuat Hinata kesal setengah mati.
Hinata baru akan menanyakannya lagi saat tiba-tiba selimut yang sedari tadi menutupi tubuh Hinata melorot ketika pria itu melepaskan pelukannya.
Mata indigo gadis itu melotot. Pantas saja ia merasa kedinginan walau kamar ini hanya memiliki 1 AC. Karena : IA TIDAK MEMAKAI SEHELAI BENANGPUN DI BALIK SELIMUTNYA!
Dengan cepat Hinata menarik lagi selimut itu untuk menutupi tubuhnya. Dengan wajah yang semerah tomat, gadis itu menatap tajam pria asing di hadapannya.
Pria itu terlihat terkejut, tapi pipinya terlihat bersemu. Great. Bagos. Berarti dia lihat 'kecelakaan' barusan.
"HUAAAAAAAA! SIAPA KAMU?! DASAR PENGUNTITTT! KELUAARRRRRRRRRRRR!"
Raut wajah pria itu terlihat kaget saat mendengar ucapan Hinata barusan. "Hinata-chan? Kamu tidak ingat aku?" tanyanya dengan wajah yang terlihat memucat.
Hinata menggeleng kuat-kuat.
"Aku ga pernah kenal, dan gak akan mau kenal sama cowo pshyco tukang intip seperti kamu! Sekarang, Keluar atau aku akan teriak kenceng-kenceng kalo kamu itu mau berbuat jahat sama aku!"
Melihat keseriusan di kedua mata Hinata, hati Naruto entah mengapa terasa sakit. Benarkah Hinata betul-betul tidak mengingatnya? Pada akhirnya, Naruto hanya mengangguk dan menuruti perintah Hinata. Bagaimanapun, melihat Hinata sudah bisa sehat lagi jauh lebih berharga baginya.
Naruto pun berjalan menuju pintu, kemudian memutar gagangnya. Sesaat ia menutup mata, kemudian berbalik badan, menatap Hinata sebelum ia menghilang dari kamar sahabatnya itu.
"Aku Naruto, Uzumaki Naruto. Salam kenal, Hinata-chan!"
Naruto tersenyum lembut, kemudian tertawa. Tawa yang secerah matahari, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Hinata sendiri. Hinata yang masih terpaku dengan kejadian tersebut.
Tanpa sadar Hinata menggenggam tangan kanannya. Hangat. Mengapa.. Orang seperti itu bisa mempunyai tangan sehangat ini?
***** o o o *****
Hinata tiba-tiba memegang kepalanya yang terasa sakit.
Sesuatu berkelebat di dalam memorinya.
"Hinata, kamu duduk di samping —kun ya!"
"I-I-Iya, Kakashi-san.."
Hinata kecil yang saat itu tersipu-sipu, menatap kursi kosong di sampingnya.
"Aku —, calon Hokage di desa ini, Salam kenal ya, Hinata-chan!"
Hinata kecil tersenyum ke arah kursi kosong itu. Tatapannya menyiratkan bahwa : orang yang sedang ku pandangi itu adalah orang yang berarti untukku.
"Salam kenal, —kun!" ia pun tersenyum.
Hinata terdiam.
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Siapa orang yang menempati kursi kosong itu?
Dan siapa.. Namanya?
***** o o o *****
