Fake Boyfriend, Real Love
Karena telat posting, aku update 2 part nih! Selamat membaca!
Kibum, Kyuhyun
Cerita romantisnya anak sekolahan, tapi punya rating di atas normal.
Cerita ini nggak nyata. Semua yang ada di dalamnya sengaja dibuat untuk kesenangan semata. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat, dll, mohon dimaklumi, karena kalau tidak ada kesamaan di dalamnya, namanya bukan fanfiction.
Part 11
Kencan yang hebat. Kyuhyun tersenyum sepanjang malam hanya karena Kibum tengah menggandeng tangannya. Tidak pernah lepas selain ketika mereka makan malam di rumah makan sederhana yang mereka temui di jalan. Termasuk ketika Kibum menawarinya menginap di rumahnya untuk pertama kalinya, karena biasanya Kyuhyun yang memaksa menginap.
Kibum memeluknya untuk yang pertama kali juga, meski kejadian sebenarnya Kyuhyun hampir terserempet mobil karena berdiri terlalu dekat dengan jalan, dan Kibum menyelamatkannya. Kyuhyun yang sebenarnya menempel terlalu erat pada kekasihnya itu. Tapi ya... akhirnya Kibum membalas pelukan darinya.
Maunya kencan hari ini tidak berakhir, tapi waktu cepat sekali berjalan. Yang tadinya sore, cepat jadi malam, lalu jadi hampir tengah malam, dan Kibum tidak mau pulang lebih dari tengah malam.
"Kalian dari mana?" Ibunya Kibum setengah mengantuk. Baru saja dari dapur, mengambil air putih untuk di bawanya ke kamar.
Kyuhyun tersenyum terlalu cerah sebelum menjawab, "Kencan, Oemma." Dia tersenyum lagi. "Nonton, makan, jalan-jalan..." lalu pamer senyum lagi.
"Tumben kalian pergi kencan, biasanya tidak pernah seperti itu."
Kyuhyun mengangguk-angguk. Tampangnya lucu dan bahagia.
Kibum sudah insaf dengan tingkah kakunya, mungkin. Dan sekarang mulai menerima Kyuhyun apa adanya. Memperlakukannya seperti kekasih pada umumnya. Disayang dan dilindungi. Walau prakteknya belum sampai tahap itu.
"Sedang punya uang lebih," sahut Kibum sambil berlalu ke kamarnya tanpa ekspresi berlebihan. Kyuhyun yang mendengarnya jadi sedih, tepatnya pura-pura sedih di depan ibunya.
"Kibum memang begitu. Omongannya kasar, tapi hatinya baik. Kan kau sudah lama berpacaran dengannya, harusnya sudah kebal."
Kyuhyun mengangguk lagi. Meski begitu masih cemberut.
"Nanti Oemma marahi dia kalau bersikap begitu terus padamu!"
"Iya, Oemma."
"Kau masuk kamar sana. Mandi dan ganti baju, kemudian istirahat!"
Kyuhyun meninggalkan ibunya Kibum. Dia naik ke lantai atas, masuk kamar Kibum. Ketika sudah di dalam, Kibum sedang mandi. Sementara menunggu Kibum selesai mandi, Kyuhyun mengambil piyama dari dalam lemari, meletakkannya di ranjang, lalu dia merebah di samping piyama itu. Menunggu Kibum mandi, sekalian melepas lelah.
Kibum selesai mandi, tapi Kyuhyun tertidur. Dia dibangunkan, disuruh mandi meski Kyuhyun awalnya menolak.
"Aku mengantuk," eluhnya.
Kibum menariknya dari ranjang meski mata Kyuhyun masih setengah tertutup. Kyuhyun mengeluh, malah membuat dirinya didorong ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi, kantuknya menghilang. Dia langsung menempati ranjang, di sebelah Kibum yang kosong. Mengganggu Kibum yang masuk dalam tidur ayamnya dengan menggoyang-goyangkan lengan Kibum, minta atensi.
"Kau tidak belajar dulu?"
"Tidur dulu, besok pagi baru belajar," jawab Kibum sambil membalik badan membelakangi Kyuhyun. Memulai tidurnya.
"Tadi asyik, ya? Minggu depan kau akan mengajakku kencan lagi, kan?" Kibum tidak menjawab. Kyuhyun harus membalikkan tubuh Kibum supaya pertanyaannya direspon. "Jangan tidur dulu!"
"Kau mau apa?" Kibum bersikap sedikit lunak bukan berarti Kyuhyun boleh memancing kemarahannya. "Aku mengantuk. Besok harus bangun pagi untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahku. Sebaiknya kau tidak menggangguku!"
"Aku cuma bertanya apakah minggu depan kau akan mengajakku kencan lagi?" Kyuhyun merana, baru disayang, sekarang dimarahi lagi. "Tidak bermaksud mengganggu."
"Tidak," jawab Kibum cepat.
"Kenapa?"
"Aku belum tentu punya uang minggu depan. Lagipula kencan menguras waktu dan tenaga." Bahkan dia belum mengerjakan tugas untuk besok. Dia kelelahan jalan ke sana kemari dengan Kyuhyun. Makanya dia tidak ingin mengulang kencan mereka, meski nantinya Kibum punya banyak uang sekalipun. Kibum kapok. "Jangan pura-pura sedih!" katanya ketika melihat muka mendung Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng.
Kibum tidak akan mengajaknya kencan lagi? Tidak mungkin. Dengan cara apa pun, Kyuhyun bisa membuat mereka kencan lagi. Kencan yang lebih romantis, kalau perlu membuat kencan yang erotis sekalian.
"Lain kali kencannya harus akhir pekan, biar kau tidak khawatir dengan tugas sekolah." Kyuhyun mendekatkan kepalanya dengan Kibum. "Kalau kau tidak punya banyak uang, tidak usah nonton dan makan di luar. Kita bawa bekal dari rumah, lalu pergi ke tempat yang gratis."
Kibum meliriknya. Tampak tidak setuju dengan ide Kyuhyun.
"Tidak perlu pergi kencan terlalu lama, yang penting kita sudah pergi keluar rumah," tambahnya, sekalian berharap untuk dapat kencan lain waktu. "Yang penting perginya berdua, kemana pun itu, aku akan suka."
Termasuk kalau ke neraka? Kibum mencibir dalam hati.
"Kau berharap terlalu banyak!"
Memang. Kyuhyun suka berharap banyak dan harapannya harus kesampaian. Baguslah Kibum mengetahui kalau harapannya terlalu banyak. Ketika kekasihnya itu melihat harapannya yang banyak, tidak kesampaian, dia akan kasihan, kemudian mengabulkan satu dua harapan Kyuhyun. Contohnya kali ini, yang tadinya Kibum sudah terlihat marah, sudah menurunkan tingkat kemarahannya. Kibum menyuruhnya untuk tidak memikirkan minggu depan. Kalau ada rezeki, pasti mereka akan berkencan lagi.
Kibum menyuruhnya tidur. Ketika Kyuhyun tidur terlalu dekat dengannya, Kibum tidak marah, Ketika Kyuhyun mengulurkan tangannya, memeluk Kibum dalam tidur, Kibum diam saja. Ketika Kyuhyun mengganggunya lagi setelah beberapa menit memejamkan mata, Kibum hanya menghela nafas panjang, kemudian pasrah meladeninya.
"Kau tidak menciumku saat kencan tadi," katanya tiba-tiba. "Ciuman harian dan ciuman saat kencan harusnya dihitung berbeda. Cium aku sekali lagi!" pintanya menunjuk bibir sambil dimonyongkan ke arah Kibum.
Kibum kembali menghela nafas panjang, kemudian memejamkan mata tak mau menanggapi.
.
.
.
"Yang baru kencan, muka cerah sekali," ledek Donghae yang kebetulan sore kemarin bertemu Kibum dan Kyuhyun di Mall, saat mereka hendak nonton. "Dapat apa semalam?"
"Dapat capek dan uang jajan berkurang," jawab Kibum sesuai kenyataan.
"Kau peritungan sekali." Donghae menyibak rambutnya yang sudah panjang sampai menutupi dahi. Sengaja tidak memotongnya supaya mirip artis yang sering muncul di TV. Ngomong-ngomong para gadis suka dengan model rambut seperti itu. Makanya dia memelihara rambutnya agar penggemarnya bertambah. "Eh, bukankah Kyuhyun anak orang kaya? Kenapa tidak dia saja yang membiayai kencan kalian?"
Lalu muka Kibum mau ditaruh di mana? Sekata-kata Donghae kalau bicara. Kibum melengos, menyatakan kalau itu tidak akan terjadi.
"Zaman sekarang, kedua belah pihak bisa jadi yang membiayai kencan. Lagipula cuma kencan, tidak tiap hari pula, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan? Paling-paling cuma tiket nonton dan biaya makan."
Benar juga, hanya tiket nonton dan biaya makan, tapi Kibum tidak sekaya Donghae. Ibunya bekerja sendirian, sementara kebutuhan sekolahnya semakin banyak. Kibum harus berhemat. Bukan berarti dia pelit, hanya jaga-jaga, kalau ada kebutuhan yang sifatnya mendesak, dia bisa menggunakan uang simpanannya.
"Kau juga bisa menerapkan kencan murah dengan pergi ke tempat-tempat yang gratisan. Asal bisa berduaan, kekasih kita pasti akan senang."
Persis seperti kata Kyuhyun semalam.
Donghae bisa tahu karena dia pecinta. Kibum tidak akan memungkiri kepiawaian teman sekelasnya itu dibidang cinta-cintaan. Tapi maaf-maaf saja, dia tidak akan mengakui kehebatan Donghae.
"Ngomong-ngomong semalam kau pulang jam berapa?"
"Sebelas."
Donghae curiga sedikit, curiga apakah Kibum sudah mengerjakan tugas hari ini. "Aku akan pinjam pekerjaan si cupu," Si cupu yang sekarang sudah berubah penampilan, tapi panggilannya tetap si cupu. "Kalau kau butuh, segera datang ke kelas!"
"Aku sudah mengerjakannya tadi pagi."
"Yang benar?" Donghae takjub. Pulang malam, tapi masih sempat mengerjakan tugas di pagi hari. "Aku pinjam punyamu kalau begitu. Kau tahulah aku juga pulang terlalu malam." Meski tidak pulang malam, dia tetap meminjam tugas temannya untuk di sontek. Tidak ada gunanya dia berdalih sedemikian rupa. "Nanti aku rekomendasikan tempat kencan yang indah, suasana romantis, jauh dari keraimaian, dan gratis. Lain kali kau bisa bawa kekasihmu itu ke sana."
Donghae berpindah ke belakang Kibum. Mendorong punggung Kibum dengan kedua tanggannya.
"Cepat ke kelas, jam pertama akan mulai 15 menit lagi!"
Kihyun
Kyuhyun basah kuyup.
Selama dia menjadi remaja, belum pernah kehujanan, apalagi basah kuyup tanpa ada hujan seperti sekarang ini.
Kyuhyun menunggu Changmin terlalu lama. Sambil makan keripik, dia berjongkok di bawah tanaman hias yang rimbun di pinggir jalan, tak tahunya saat itu ada mobil penyiram tanaman tepi jalan. Semua anak sudah menyingkir, tapi Kyuhyun tidak tahu alasan mereka menyingkir sampai air yang sangat banyak mengguyur badannya. Dia basah seperti tanaman di sampingnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya petugas pembawa air itu. "Lain kali jangan jongkok di semak-semak, aku tidak bisa melihatmu, tidak bisa memperingatkanmu untuk menyingkir juga. Cepat pulang dan ganti baju, basah begitu kau seperti anjing kehujanan!"
Bukannya minta maaf, petugas itu malah mengejeknya. Kyuhyun marah pun petugas itu sudah pasti tidak mengubrisnya. Terus jalan sambil menyiramkan tanaman di tepi-tepi jalan lainnya.
Kyuhyun memutuskan pulang setelah mengirim pesan pada Changmin dan Kibum. Dia akan menemui Changmin sore ini, dan mengatakan tidak akan menginap di rumah Kibum malam ini. Setelah berganti baju dan istirahat sebentar, dia pergi ke tempat janjian mereka. Di mini market dekat rumah Kibum. Changmin sudah ada di sana, dengan psp di tangan, mie cup yang sudah diisi air panas, tinggal tunggu matangnya, dan satu pak susu berisi 6 kotak, di meja. Kyuhyun datang, menyapa Changmin sebentar, lalu masuk ke mini market untuk membeli makanan yang sama seperti yang Changmin beli. Kemudian bergabung dengan Changmin di meja depan mini market.
"Tumben kau minta bertemu denganku," katanya setelah menghabiskan satu kotak susu miliknya sendiri. Menuju ke kotak kedua... "Kau mau minta tolong apa padaku?" lalu menyedot susunya.
Changmin meletakkan psp-nya, akan meminum susunya juga. Dia membongkar pak susu, dan mengambil satu kotak untuk dia minum. "Aku ingin punya kekasih juga," jawabnya santai, seakan punya kekasih adalah kegiatan yang bisa dilakukan di waktu luang.
Hidupnya benar-benar monoton ternyata. Setelah melihat Kyuhyun yang dulu hidupnya monoton sekarang bisa lebih berwarna gara-gara ada Kibum, dia mulai iri. Ingin mencobanya juga. Kemudian merencanakan pencariaannya. Dengan cara sama seperti yang dilakukan Kyuhyun ketika mendapatkan Kibum. Memilih secara random, supaya usahanya lebih menantang untuk menahklukkan orang itu.
"Pelanggan pertama yang datang ke sini, aku akan jadikan dia kekasih."
Kyuhyun tidak terkejut. Tentu saja, mereka sama anehnya. Cari kekasih tidak dari hati. "Apa tugasku di sini?"
"Jadi saksi."
Kyuhyun meng-Ok-kan permintaan Changmin.
Changmin hanya tidak seberuntung Kyuhyun. Lima menit pertama yang datang ke mini market itu adalah seorang wanita awal 30-an yang tengah berbicara dengan teleponnya. Dia mengomeli orang di seberang telepon. Mulai dari masuk ke mini market sampai keluar dari mini market lima belas menit kemudian, wanita itu masih berbicara dengan nada tinggi dengan orang yang sama di teleponnya.
Kyuhyun tertawa kecil, kemudian menyarankan Changmin untuk menunggu orang kedua.
Orang kedua adalah Pak tua berjenggot tebal. Pak tua itu tersenyum ramah pada Kyuhyun dan Changmin yang memandanginya. Lalu masuk ke mini market tanpa peduli Kyuhyun dan Changmin masih memandanginya.
"Aku jijik dengan jenggot tebal itu. Kalau kau juga sama jijiknya denganku, kau pilih orang ketiga saja!"
Changmin setuju. Penantian berikutnya dimulai.
Pelanggan ketiga yang datang adalah segerombolan anak sekolah yang tingkatnya lebih rendah daripada mereka. Anak-anak SMP. Gerombolan anak perempuan terus bergosip tentang anggota klub baseball. Gerombolan anak laki-laki juga berbicara satu sama lain, hanya sedikit lebih manusiawi. Mereka membicarakan tentang video game yang launching baru-baru ini.
Changmin tidak akan memilih satu diantara anak-anak itu. Terlalu merepotkan. Jadi, dia memutuskan akan menunggu orang berikutnya.
Baru sejam saja yang datang ke mini market itu banyak sekali. Tidak seperti biasanya ketika mereka duduk berlama-lama di situ. Tapi semua yang datang tidak sesuai dengan apa yang dimau Changmin. Dia menunggu orang berikutnya, orang berikutnya terus, yang datang masih mengecewakan. Kalau tidak Changmin yang menolak, Kyuhyun yang tidak setuju. Kemudian mereka memutuskan kalau orang terakhir sebelum mereka pulanglah yang akan dipacari Changmin.
Jam setengah sebelas malam, Kyuhyun mengulat di tempatnya. Dia menguap berkali-kali meski sudah minum kopi. Yang di hadapannya sekarang adalah susu coklat panas yang tinggal separuh gelas. Minum sebegitu banyak bukannya membuatnya tidak mengantuk, tapi malah membuatnya kembung. Dia sudah bolak balik ke toilet, mengeluh dingin dan mengantuk, ingin pulang, tapi Changmin masih menahannya. Sejam lagi katanya, tapi sudah lebih dari sejam, Changmin belum mengizinkannya pulang.
Orang terakhir adalah supir truk tua berkepala botak dan perut buncit. Tidak mungkin Changmin akan memacarinya, maka dari itu dia masih menunggu orang lain.
"Bagaimaana kalau besok saja di sekolah? Di sini tidak ada orang yang pas untuk kau kencani." Itu salahnya Changmin. Seleranya jelas tinggi, minimal anak sekolahan seusia dirinya, tapi karena menunggunya di depan mini market, jelas dia tidak menemukannya. "Aku mengantuk, Chang. Besok kita harus sekolah.".
"Baiklah!"
"Kita pulang sekarang!"
Mereka mengemasi barang serta sampah mereka. Hendak meninggalkan tempat, sebuah motor berbelok ke halaman mini market. Changmin mulai senang, tapi Kyuhyun tidak. Motor itu dia kenal betul, tiap saat dia tumpangi ke mana-mana. Pengendaranya parkir tepat di depan mereka. Lampu motor menyorot wajah keduanya sampai Changmin dan Kyuhyun harus memicing menghindari silaunya. Setelah mematikan mesin, lampu pun mati, dan Kibum ada di jarak pandang mereka. Ini seperti sebelum-sebelumnya tiap kali Kyuhyun ke mini market ini, Kibum selalu menemukannya entah sengaja atau tidak sengaja mencarinya.
"Sedang apa kau di sini?"
Tidak menjawab, Kyuhyun melirik ke arah Changmin. "Jangan dia. Dia kekasihku!" Changmin hendak mengatakan sesuatu, tapi dia segera meninggalkannya, buru-buru menghampiri Kibum yang baru turun dari motor. "Kibum, aku menginap di rumahmu, ya?"
"Kau pulang saja. Aku sedang sibuk saat ini."
Kibum meninggalkannya di tempat, masuk ke mini market. Meski Kibum tidak tampak menghindarinya, Kyuhyun merasa diabaikan. Baru juga kemarin mereka kencan. Sekarang sudah tak diangap lagi. Kyuhyun manyun sambil memandangi Kibum yang telah hilang ditelan pintu mini market.
"Dia masih belum menyukaimu. Mungkin kalau denganku, dia akan suka!" Changmin terdengar sungguh-sungguh mengatakannya, membuat Kyuhyun waspada. Dia siap melontarkan protes, seketika Changmin meralat omongannya. "Aku bercanda!"
"Tadi tidak terdengar seperti candaan," Kyuhyun mengeluh. "Aku tidak suka ada orang bercanda soal hubunganku dan Kibum. Aku mau Kibum hanya denganku, tidak dengan orang lain, tidak juga denganmu."
"Ya, ya, terserah kau!" Changmin menyambar kantong penuh sampah di meja. "Lagipula Kibum bukan seleraku. Dia terlalu pendek."
Meski Kyuhyun yakin Changmin tidak serius mengatakan kalau pendek dan tinggi masuk dalam kriterianya, dia turut senang. Setidaknya Kibum tidak dihitung dalam pencarian kekasih untuk Changmin di hari ini. Dia pun juga tahu kalau apa yang dikatakan temannya tadi hanya untuk membuatnya lega. Kyuhyun sendiri tidak masalah meski Kibum lebih pendek beberapa senti darinya. Yang terpenting Kibum lebih macho darinya, itu saja cukup.
Kibum keluar dari mini market membawa sekantong penuh makanan ringan dan satu kerat minuman kaleng. Kantong plastik itu transparan, Kyuhyun bisa melihat merek bir interlokal di dalamnya. Setahu Kyuhyun Kibum tidak minum bir meski umurnya sudah cukup. Lalu untuk siapa bir itu? Atau sebenarnya Kibum memang minum bir?
Padangan Kyuhyun berpindah dari Kibum ke kantong belanjaannya. Tahu Kyuhyun memperhatikan apa yang dipegangnya, dia segera mengalihkannya.
"Sudah hampir tengah malam, kenapa masih ada di sini?" Kibum memperhatikan tidak hanya Kyuhyun, tapi Changmin juga. Dua orang itu, teman yang tak teridentifikasikan statusnya. "Cepat pulang sana!"
"Aku mau menginap di rumahmu!" Kyuhyun meminta, masih dengan memandangi kantong berisi bir yang dipegang Kibum. "Aku tidak pernah melihatmu minum bir?"
"Oemma ada shif malam. Aku menginap di rumah Siwon. Kau ... kalian berdua pulang saja!" Hanya memerintah, tapi tidak memperhatikan Kyuhyun secara sungguh-sungguh. Dia langsung kembali ke motornya, mengaitkan ujung tas plastik ke motor, kemudian naik dan menyalakan motornya. Melihat Kyuhyun mengikutinya, hendak naik ke boncengan, dia mencegahnya. "Pulang sekarang!"
"Aku mau ikut kau."
"Tidak bisa. Siwon tidak akan suka ada orang lain di rumahnya!"
"Siwon sudah mengenalku, masak aku masih dianggap orang lain?" Kyuhyun memaksa akan naik, tapi Kibum mendorongnya. Changmin melihatnya pun diam saja, dia tidak berencana membantu. "Kibum..."
"Jangan ikut!"
"Aku yakin Siwon tidak akan keberatan kau membawaku!"
Kibum mengabaikannya. Memilih memundurkan motornya.
"Kibum, aku ikut!"
Kyuhyun pun memaksakan diri akan naik ke boncengan motor. Kibum menghentikannya. "Ini pertemuan antar sahabat, dan kau tidak termasuk di dalamnya." Dia mengkode Kyuhyun mundur sendiri atau dia akan mendorongnya lagi. "Lagipula aku tidak mau kau ada di sana!"
Dia tahu kalau Kibum butuh waktu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Kibum hanya tidak tahu cara terbaik untuk meyakinkannya agar tidak ikut. Malah berkata dan bertindak kasar. Jangan harap dengan perlakuan seperti itu, kemudian Kyuhyun akan menyerah. Kyuhyun lebih memilih merana dulu, lalu dapat perhatian Kibum daripada menyerah, lalu ditinggalkan.
Kibum memundurkan motornya lagi, Kyuhyun masih mengikutinya. Dia tidak akan membiarkan anak nakal itu ikut dengannya. Sebelum Kyuhyun memaksa naik, dia mendorong Kyuhyun. Kali ini benar-benar kasar sampai-sampai Kyuhyun terdorong cukup jauh. Tidak bermaksud mengasari Kyuhyun, tapi cuma itu cara yang terpikir olehnya untuk membuat Kyuhyun menyerah ikut dengannya.
Kyuhyun terkejut. Diam di tempatnya.
"Jangan memaksaku berbuat kasar!" Kibum meninggikan suaranya. "Kau pulang sekarang dan besok kau boleh menginap di rumahku. Atau mau tetap di sini, terserah kau. Tapi aku tidak bisa membawamu ke rumah Siwon!"
Pandangan Kyuhyun melayu.
"Tidak usah pura-pura sedih!"
Tidak mau terganggu dengan ekspresi sedih itu, Kibum mengegas motornya meninggalkan pelataran mini market. Kyuhyun tidak beranjak sebelum motor Kibum hilang dari padangan. Changmin sampai harus datang padanya, melihat ke arah perginya Kibum tadi tanpa repot-repot menyemangati temannya.
"Wah, dia kasar." Kyuhyun menganggukinya. "Aktingmu kurang bagus kelihatannya. Buktinya Kibum tidak percaya denganmu!"
"Aku benar-benar sedih," katanya sambil nyengir kecil. "Kibum suka seperti itu kalau sifat kakunya kumat. Bukan berarti dia benar-benar kasar. Sesungguhnya dia sangat romantis, hanya ... belum terlalu ditunjukkan di depan umum." Kyuhyun tertawa kecil.
"... dasar masokis!"
Kyuhyun kembali tertawa.
Kihyun
Mereka berencana tidak pulang. Karena Kyuhyun memutuskan untuk jadi masokis sepenuhnya, dia butuh sakit sedikit untuk mendapatkan perhatian kekasihnya. Begadang sampai dia terkena demam contohnya. Maka dari itu, perburuan kekasih untuk Changmin akan dilanjutkan.
Sebelum kembali ke kursi mereka, sebuah mobil membelok dan berhenti tepat di sebelah mereka. Si pengemudi keluar dengan cepat. Lelaki tampan, berbadan besar dan tinggi menampakkan diri di depan mereka.
"Kau lagi!" celetuk lelaki itu.
"Jangan khawatir, hari ini aku bawa ponselku. Juga bawa dompetku. Aku akan mengganti tagihan telepon yang kau bayar kemarin!"
Lelaki berumur. Duda dengan satu anak. Kalau bukan karena Kyuhyun sudah jadi kekasih Kibum, Kyuhyun akan menyukai lelaki itu. Tapi Kibum lebih disukainya. Lelaki ini adalah orang yang dipinjam ponselnya ketika Kyuhyun tidak diperbolehkan menginap di rumah Kibum. Waktu itu lelaki itu membawa anaknya, dan Kyuhyun berhasil berbincang kecil dengan anak itu. Makanya, Kyuhyun tahu kalau lelaki ini duda.
"Tidak perlu!"
Hendak berjalan ke mini market, Kyuhyun menghentikannya.
"Jangan begitu. Aku memakai ponselmu untuk menelepon temanku!" katanya sambil menunjuk Changmin. Yang ditunjuk diam di tempat. Melongo memandangi lelaki itu. Tidak peka reaksi temannya, Kyuhyun bicara lagi. "Aku harus mengganti apa yang sudah kupakai."
Dia mengeluarkan dompet dan mengambil uang dari dalamnya. Mengulurkannya pada lelaki itu, tapi tidak segera diambil.
"Aku tidak menerima uang dari anak kecil. Simpan kembali uangmu. Gunakan untuk sesuatu yang lebih penting!"
"Kau yakin?"
"Lagipula uang itu dari orang tuamu, kan?" Tentu saja. Mereka masih sekolah, semua uang adalah milik orang tua mereka. Kyuhyun pun membenarkan hal itu. "Kau juga telah berhasil bicara dengan anakku waktu itu. Anggap kita impas!"
Kyuhyun menarik kembali tangannya. Memasukkan uang dalam dompet, lalu mengantongi dompetnya.
"Ngomong-ngomong kau tak mengajak anakmu hari ini?"
"Dia di rumah neneknya dan harus kujemput setelah ini."
Duda satu ini suka pulang malam. Pekerjaan yang membuatnya begitu. Anak harus dititipkan pada neneknya karena di rumah tidak ada orang. Pembantu datang dan pergi setiap hari, jadi tidak ada orang yang menginap di rumahnya. Mantan istrinya tinggal jauh, membuatnya terpaksa merepotkan orang tuanya.
"Aku buru-buru!" katanya kemudian.
Si duda melangkah ke dalam mini market.
Ketika Kyuhyun berbalik dan mendapati Changmin terus memandangi lelaki itu, Kyuhyun baru sadar kalau temannya itu terpesona.
"Dia duda beranak satu. Kalau kau tertarik menjadikannya kekasih, aku setuju." Changmin mengangguk-angguk. Fokus matanya masih ke dalam mini market, memperhatikan bayangan lelaki itu yang jalan mondar-mandir mencari barang yang akan dibeli di dalam mini market. "Kau sudah punya nomornya. Kecuali kau menghapus ringkasan nomor panggilan masuk di ponselmu."
Changmin menggeleng.
"Kita ikut pulang dengannya saja kali ini..."
"Tidak! Kau ikut denganku!" suara keras dari belakang mereka menginterupsi. Itu Kibum yang entah sejak kapan ada di sana. Kibum mendekatkan motornya di dekat Kyuhyun. Mengkode dengan matanya agar Kyuhyun ikut dengannya. Ketika Kyuhyun tidak menurut, dia meneriakinya. "Naik!"
Kyuhyun bengong. Ini kesempatan bagus, Kyuhyun pasti akan ikut Kibum, tapi butuh sedikit improvisasi.
"Tapi tadi..."
Kibum turun dari motornya, menghampiri Kyuhyun dan menariknya. Si duda sudah keluar dari mini market. Melihat Kyuhyun ditarik oleh Kibum, dia hanya memperhatikannya. Kibum membawanya, menyuruhnya naik ke boncengan dengan paksa. Dia menyuruh Changmin untuk pulang juga. Tapi Changmin masih bengong di tempatnya.
Meski Kyuhyun sudah dibawa Kibum menjauh, Changmin masih melihatnya. Suara si duda pun menginterupsi, mau tidak mau Changmin berpaling ke arahnya.
"Remaja zaman sekarang!" gumamnya, geleng-geleng tak habis pikir. "Kau pulang dengan siapa?"
"Denganmu, kalau kau tidak keberatan!" Changmin pun dengan tidak sungkan mengungkapkan keinginannya pulang dengan lelaki itu. "Dan kalau kau tidak keberatan juga, bawa aku ke mana pun kau pergi. Soalnya bukan hanya rumahku jauh, tapi ini benar-benar sudah malam. Oemmaku tidak akan mengizinkanku masuk. Karena tadi aku mengatakan akan menginap di rumah Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun pergi dengan kekasihnya sekarang."
"Aku tidak mau berurusan dengan anak kecil sepertimu!"
Changmin tidak kecil. Dia besar dan tinggi. Usianya pun sudah legal untuk urusan yang dewasa-dewasa. Dan keputusannya untuk punya kekasih pun juga sudah bulat.
"Aku tidak mengenalmu dan..."
"Kau mau membawaku kalau kau mengenalku?" potong Changmin. Si duda sampai harus mengerutkan dahi. Waspada remaja di depannya berbuat nekad. "Aku Changmin. Kelas 2 SMA. Dan supaya kita lebih cepat akrab, aku mau kalau harus jadi kekasihmu!"
Si duda mengeluarkan tawa mengejek. "Kau bercanda, ya?" katanya sambil menggeleng mantap. "Aku yang tidak mau jadi kekasihmu!"
"Tidak usah sungkan!"
Si duda mengabaikannya. Terus geleng-geleng kepala sambil masuk ke mobilnya.
Changmin segera mendekat ke mobil lelaki itu. Membuka pintu mobil lalu mesuk ke dalamnya. Si duda terkejut. Hendak mengusirnya, tapi Changmin sudah menyamankan diri.
"Kuberi garansi. Kau akan menjadi yang pertama dalam semua hal bagiku. Aku belum pernah punya kekasih, perempuan maupun lelaki. Aku belum pernah dipeluk dan dicuim oleh siapapun selain keluargaku. Aku tidak pernah tidur dengan siapapun dalam hal hubungan badan. Aku setia, pintar, tidak manja, tidak boros, tidak..." Changmin berhenti sejenak untuk melihat tanggapan lelaki itu. Agaknya dia cukup terkejut. Nampak akan berhasil. "Memacariku, kau tidak perlu memberiku uang, tidak perlu membelikanku barang-barang, tidak perlu menghidupiku seperti Om-Om yang menghidupi kekasih mudanya. Aku masih tanggungan orang tuaku."
"Aku tidak tertarik dengan laki-laki."
Changmin menggeleng. "Kau harus mencobanya dulu sebelum mengatakannya. Kalau memang tak menyukai lelaki, untuk sementara anggap saja aku wanita. Lama kelamaan kau akan bisa menerimaku sebagai lelaki."
"Kau..." Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Anak zaman sekarang memang suka seenaknya kalau bicara. Kalau ada maunya, ingin kesampaian saja tanpa melihat baik buruknya.
"Tidak usah dipikirkan sekarang. Kau sedang buru-buru kali ini. Nyalakan saja mobilmu, bawa aku ke rumahmu. Nanti kita bahas ini lagi setelah sampai di rumahmu!"
.
.
.
Mungkin Siwon tak menerima kehadirannya, tapi Ada menerimanya dengan baik.
Rumah Siwon besar dan sedang lengang. Orang tua Siwon pasti ke luar kota lagi. Makanya, Siwon mengundang teman-temannya untuk datang. Siwon dengan dua gadis yang sepertinya malam ini jadi pasangannya. Namun, Kyuhyun yakin kalau salah satu gadis itu dipersiapkan untuk Kibum. Ada dan teman sekamarnya dengan kekasih mereka masing-masing. Nampaknya mereka sudah melakukan pesta kecil-kecilan ini sedari tadi.
Kyuhyun masih digandeng Kibum meski mereka sudah duduk di sofa. Ada menawarinya minuman, tapi Kibum menyerobotnya. Mengatakan kalau Kyuhyun tidak minum bir. Maka dari itu, Kibum yang meminumnya sendiri.
"Bagus kau ajak Kyuhyun ke sini, kau tidak harus merasa terpaksa duduk berlama-lama dengan orang selain kekasihmu." Ada melirik Siwon dan dua gadisnya. Remaja itu mendengus. Dia sudah susah-susah mengajak dua gadis itu. Tak tahunya Kibum membawa Kyuhyun. "Ngomong-ngomong kenapa kau datang malam sekali? Bukankah Oemma-mu ada shif malam?"
"Ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum kemari."
"Kau rajin sekali!" celetuk salah seorang dari mereka. "Besok kau masih berencana masuk sekolah?"
"Aku tidak pernah bolos,"jawab Kibum enteng.
Itu membuat Ada dan Siwon bangga. Meski mereka terkadang malas bersekolah, ada satu sahabatnya yang rajin.
Kibum meraih makanan ringan di atas meja. Membuka bungkusan itu, kemudian menyerahkannya pada Kyuhyun. Selain itu, Ada kembali menawari Kyuhyun minuman.
"Dia tidak minum!"
"Kali ini saja!"
Ada memohon dan Kyuhyun menerimanya dengan bangga. Sebagai kekasih, Kibum berusaha menunjukkan superioritasnya di depan teman-temannya. Agar dianggap layak jadi yang dominan, dia mengambil kaleng bir dari tangan Kyuhyun, kemudian membukanya sebelum kembali diserahkan pada Kyuhyun.
Sekolah Ada memang berbeda dengan sekolah pada umumnya. Sekolah khusus perempuan punya peraturan dan jadwal-jadwal yang kadang tidak sama dengan sekolah biasa. Dua hari ke depan sekolah mereka libur. Hari di mana guru diharuskan rapat dengan guru-guru lainnya seyayasan dalam satu kota. Murid boleh berada di asrama atau boleh juga pulang ke rumah masing-masing. Ada dan teman sekamarnya tidak pulang, tidak juga tinggal di asrama, mereka memilih menginap di tempat Siwon. Lagipula rumah Siwon sering sepi. Pembantu pun kadang tidak datang ke rumah kalau majikannya sedang tugas di luar.
Dan kalau sudah seperti ini, Siwon, Kibum, sering begadang menemani Ada. Ngobrol semalaman sambil minum-minum. Kalau Ada esok harinya libur, kalau Siwon esok harinya akan bolos sekolah. Sedangkan Kibum tetap berangkat sekolah meski di kelas dia sering terkantuk-kantuk.
Kali ini agak ramai. Siwon membawa gadis-gadis, Ada mengajak teman dan kekasih masing-masing, dan Kibum yang tadinya sudah ingin berangkat sendiri, kemudian harus mengajak Kyuhyun. Sejujurnya bukan hanya untuk menghindari ajakan mesum dari gadis yang ditawarkan Siwon, tapi kasihan pada Kyuhyun yang sudah ditolaknya mentah-mentah, kemudian melakukan kekerasan fisik juga. Meski berbentuk dorongan kecil yang tidak berakibat fatal, Kibum merasa telah mencoreng martabatnya dengan perbuatan kasarnya pada kekasihnya sendiri. Lagipula, meski sudah mengatakan kalau dia tak merasa mempan menghadapi muka memelas Kyuhyun, toh akhirnya dia merasa tidak tega juga.
"Aku sering mendengar seseorang punya hubungan sesama jenis, tapi baru kali ini lihat yang aslinya." Kekasih teman Ada menyampaikan kalimat. "Bukan bermaksud menghakimi, tapi apa enaknya berpacaran dengan sesama jenis?"
Itu benar-benar hanya pertanyaan, bukan kalimat sindiran atau apa pun.
Kibum dan Kyuhyun pun tidak merasa tersinggung.
"Karena kau sudah punya kekasih," sambil melihat ke kakasih lelaki itu. "...aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku takut kau berpaling dari kekasihmu karena ingin mencoba kekasih baru yang sesama jenis!"
Beberapa orang tertawa.
"Aku tipe setia," celetuknya.
Si pacar memelototinya tajam. Seakan mengatakan 'Benarkah? Waktu itu aku menangkap basah kau jalan dengan seorang gadis dari sekolahmu!' yang kemudian membuat lelaki itu merlat omongannya.
"Maksudku aku tidak tertarik dengan lelaki."
Kibum setuju. "Kalau boleh kusarankan, pertahankan pendirian itu, karena punya kekasih sesama jenis itu agak merepotkan!"
Kali ini gantian Kyuhyun yang memandangi Kibum. "Aku merepotkan?"
"Kau tidak sadar itu?" tanya Kibum balik.
Kyuhyun manyun, membuat Ada dan temannya tertawa lagi.
"Soal pembagian peran dalam sebuah hubungan percintaan, ada suami ada istri, ada laki-laki ada perempuan," keduanya dalam tanda kutip. Dalam hubungan sejenis. "Aku penasaran, siapa suami dan siapa istri dalam kasus kalian ini?"
"Bukankah sudah jelas?" celetuk seseorang lainnya.
"Kibum suami, Kyuhyun istri," Ada menimpali.
Kyuhyun dengan tanpa malu mengangguk membenarkan. Sedangkan Kibum, staycool. Dia tidak mau dibilang apa pun dalam hubungan ini.
"Posisi siapa yang paling enak saat kalian sedang bercinta?"
Kibum mengerutkan kening. Dia tidak sudi menjawab pertanyaan itu. Sudah cukup bermain-main dengan pertanyaan konyol selama ini. Dia mau tutup mulut saja. Kyuhyun juga enggan menanggapinya. Bukan karena dia tidak mau menjawab, tapi karena dia dan Kbium belum pernah praktek langsung.
"Kibum?" kekasih Ada yang kali ini minta pertanyaan itu dijawab.
Kibum mengendikkan bahu.
"Kyu?"
Kemudian Kyuhyun nyengir lebar. "Sepertinya sama dengan yang kalian rasakan," jawabnya agak tidak yakin. Dia meminum birnya berberapa teguk. "Ini pait dan aku tidak suka!"
Dia ditertawakan semua orang, kecuali Siwon dan Kibum tentunya.
Tbc
Ketemu di part berikutnya!
