Back in Time

KAISOO, EXO member, OC

T - M, GS

Author by rerudo95

.

.

.

.

N.B : cerita ini terinspirasi dari drakor " Time Sleep dr. Jin ", tapi hanya pada part awal. Alur cerita murni pemikiran sendiri. Rated berubah M seiring berjalannya waktu, dan gak jamin juga kalo bakal bagus. Karena aku masih baru, kalau ada typo, ceritanya kurang bagus atau susah dimengerti mohon dimaklumi. Oh ya, jika cerita ini memiliki unsur kesamaan dengan cerita lain juga mohon dimaklumi, saya tahu cerita seperti ini cukup pasaran :D. Sekian cuapcuapnya, don't forget to review. Thanks a lot.

Yang gak suka GS harap segera tutup cerita ini.

.

.

.

Chapter 10

Day 8

Jumat, 20 Mei 2016

Jongin terbangun tanpa Kyungsoo disisinya. Tubuhnya terasa berat namun perasaannya sangat ringan. Jongin terpaksa berdiam diri dulu untuk mengumpulkan kekuatannya. Matanya beralih memandang sekeliling kamar. Semua terlihat rapi, tapi ia tak menemukan pakaiannya.

Jongin beralih menatap dirinya sendiri, ia sudah berpakaian dan tentunya miliknya sendiri yang tertinggal beberapa waktu lalu. Ia mengernyit, mengapa ia tak terbangun saat Kyungsoo memakaikan pakaiannya?

" Kau sudah bangun? ", Kyungsoo masuk sambil membawa nampan di tangannya. Jongin mengernyit saat aroma bubur menyerang indera penciumannya.

" Ada apa dengan bubur itu? ", Jongin mencoba duduk tapi tubuhnya terlalu lemah. Ia menggeram saat kepalanya tiba-tiba terasa seperti dipukul.

" Jangan memaksakan diri. ", ucap Kyungsoo. Wanita itu mengambil beberapa bantal dan menyelipkannya di belakang punggungnya. Sebagai penopang tubuhnya.

" Sebenarnya ada apa? "

" Kau sakit. Tadi malam suhu tubuhmu sangat tinggi. Kau juga mengigau. ", jelas Kyungsoo. Wanita itu memasang termometer pada mulutnya. Sebagai ganti stethoscope, Kyungsoo mencoba menghitung denyut nadi lewat pergelangan tangannya.

" Syukurlah sudah turun. ", Kyungsoo tersenyum. Kini ia menyodorkan satu mangkuk bubur dan baunya sungguh membuat Jongin mual. Ia tidak pernah suka bubur.

" Makanlah. "

" Aku tidak suka bubur. "

" Kau harus makan. Beberapa suap saja setelah itu minum obatmu. ", Jongin mengerutkan keningnya tak suka. Meskipun ia seorang dokter, minum obat adalah hal yang dibencinya juga.

" Aku baik-baik saja. "

" Kau jatuh sakit lagi dan masih bilang tidak apa-apa? ", Kyungsoo memincingkan matanya. Pertanda bahwa ia sedang tidak ingin dibantah atau dilawan. Namun Jongin bukan seseorang yang mudah mengalah. Dengan segenap kekuatannya ia mencoba duduk dengan tegap. Melihat kepayahannya Kyungsoo duduk lebih dekat dan membantu menarik tangan Jongin. Kesempatan itu ia gunakan untuk merengkuh Kyungsoo. Menyandarkan kepalanya yang masih pening dan menghirup aroma Kyungsoo dari ceruk leher wanita itu.

" Apa yang kau lakukan? "

" Recharge. "

" Jongin kau perlu makan dan minum obat. "

" Tidak perlu. Hanya tetap seperti ini untuk beberapa saat maka aku akan sembuh. "

Keduanya kembali terdiam. Jika saja Jongin bisa memohon ia ingin waktu berhenti disini saja. Hanya ada dirinya dan Kyungsoo. Saling mengisi dan saling membutuhkan.

" Apa aku menyulitkanmu? ", tanya Jongin.

" Tidak. Sudah tugas seorang dokter merawat orang sakit. Apa kau mau tidur lagi? "

" Tidak. Aku harus berangkat kerja. "

" Kau yakin? "

" Ya. Ada rapat dengan dewan direksi hari ini. ", Jongin menarik dirinya enggan. Pelukan Kyungsoo sangat hangat, sangat sayang untuk dilepaskan. Tapi ia masih punya tanggung jawab.

" Kau akan tetap pergi meski aku melarangmu kan? ", Kyungsoo terlihat menyerah membujuk Jongin. Pria itu tersenyum tampan. Ia mengecup kening Kyungsoo sebelum beranjak menuju kamar mandi. Benar apa yang Jongin katakan tadi. Setelah memeluk Kyungsoo ia mendapatkan kekuatannya kembali. Meskipun begitu Kyungsoo masih mengikutinya hingga ke depan pintu kamar mandi.

" Kau mau ikut denganku? ", goda Jongin. Kyungsoo memutar bola matanya malas dan mendorong Jongin kekamar mandi.

" Jika dalam lima belas menit kau tidak selesai aku akan mendobrak pintu ini dan menyuruhmu dirumah seharian. "

" Untuk apa? Make love all day? "

" Yak. Kim Jongin! "

...

Kyungsoo sudah selesai menyiapkan sarapan baru untuk Jongin. Roti panggang dan susu. Ia harus memastika sesuatu masuk kedalam perut Jongin sebelum pria itu berangkat kerja. Baru saja ia akan berteriak pada Jongin untuk segera keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan kesulitan memasang dasi.

Kyungsoo mendecakkan lidahnya dan menarik Jongin duduk di kursi ruang makan. Ia mengambil handuk kering dan mengusak pelan rambut Jongin.

" Kenapa mencuci rambut? Kau masih sakit. "

" Rambutku lengket karena terlalu banyak berkeringat. ", ucapan Jongin terdengar biasa namun membuat wajah Kyungsoo memerah hingga ke telinga. Kyungsoo melirik Jongin yang tersenyum dibalik handuk yang menutupi setengah wajahnya.

" Ada apa? ", tanya Kyungsoo ketus. Pengalih dari rasa gugupnya. Ia meletakkan handuk basah itu di meja dan beralih mengikatkan simpul dasi Jongin. Posisinya yang lebih tinggi dari Jongin cukup menyulitkan. Jadi Jongin berdiri untuk memudahkannya.

" Kau cantik. Bahkan saat merona seperti ini. ", Jongin menghentikan kegiatan tangan Kyungsoo. Kemudian menarik tubuh wanita itu untuk dipeluk. Ia hanya ingin bermanja sebentar. Karena rasanya sudah sangat lama ia tak menemukan hari senyaman hari ini.

Kyungsoo menyadarkan kepalanya pada dada kepala Jongin. Mendengarkan detak jantung Jongin yang tenang. Menikmati kehangatan pelukan Jongin sambil berpikir bagaimana caranya ia mengatakan tentang kepergiannya dan juga bagaimana ia harus mengakhiri semuanya.

Ia mengabaikan jeritan hatinya yang terus menginginkan Jongin.

Desiran aneh Kyungsoo rasakan saat Jongin mengecup rambutnya. Jongin tidak melakukan lebih, namun itu berhasil mengacaukan sistem pertahanan yang sudah Kyungsoo bangun pagi tadi. Terlebih saat Jongin membawanya pada satu ciuman yang manis.

Bibir Jongin menyesapnya dengan lembut. Sangat hati-hati seolah Kyungsoo adalah ktistal yang mudah pecah. Kyungsoo memejamkan matanya. Mencoba memahami perasaan yang coba Jongin sampaikan padanya.

Jantungnya berdegup penuh harapan saat ia tak menemukan arti apapun selain cinta. Tapi bagaimana ia bisa membedakannya jika ia tak punya perbandingan.

Kyungsoo bisa merasakan Jongin menarik diri darinya. Perlahan mata Kyungsoo terbuka. Ia ingin membaca mata Jongin.

" I Love You. ", Jongin mengucapkannya. Setulus tatapan matanya.

Jadi kini apa yang harus ia lakukan?

...

Kyungsoo menemui Baekhyun atas permintaan sahabatnya itu. Lebih tepatnya paksaan. Baekhyun tampak gelisah di tempatnya. Seperti tak sabar menunggu Kyungsoo duduk dihadapannya.

" Bagaimana? ", tanya Baekhyun bahkan sebelum Kyungsoo duduk di kursinya. Kyungsoo mengernyit bingung.

" Apanya? "

" Kau sudah mengakhirinya? ", Baekhyun harus ekstra bersabar saat pelayan datang menanyakan pesanan Kyungsoo. Ia mengetuk-ketukan jarinya yang berkuku panjang di atas meja. Matanya terus menatap pelayan tadi bertanya dalam hati kapan pemuda itu selesai.

" Jadi? ", kejar Baekhyun. Kyungsoo menggeleng.

" Aku tak sanggup mengatakannya. ", Baekhyun merasa beban di bahunya sedikit mengendur. Ia terlihat seperti wanita plin plan. Tapi untuk kali ini Baekhyun percaya pada Jongin. Hanya saja firasatnya terus mengatakan hal buruk. Disisi lain ia tak ingin Kyungsoo dan Jongin berpisah.

" Lalu apa kau mencoba saranku kemarin? ", Kyungsoo terdiam. Matanya menerawang mengingat semua kejadian yang ia alami tadi malam. Jongin yang lembut, manis dan penyayang. Pancaran matanya begitu tulus. Namun Kyungsoo tak ingin sakit lagi.

" Apa yang kau dapat? "

" Baek. Apapun yang sedang kau coba lakukan sekarang aku akan tetap mengakhirinya. Aku akan tetap pergi. ", Kyungsoo kembali menekankan niatnya. Sekaligus mengingatkan dirinya sendiri.

" Kyungsoo aku tahu kau takut. Tapi cobalah bertahan dengan Jongin. "

" Apa yang membuatmu jadi sepercaya ini pada Jongin? Ku kira kau orang yang akan mendukung keputusan ku ini. ", Kyungsoo menatap Baekhyun curiga. Ini jelas aneh. Baekhyun tidak menyukai Jongin, bahkan ia yang paling sering membujuknya untuk berpisah dengan Jongin.

" Apa yang kau sembunyikan dariku? ", desaknya.

" Aku tak menyembunyikan apapun darimu. Aku juga merasa ini gila, tapi kau tahu firasatku tidak pernah salah. ", Kyungsoo menghela nafas. Baekhyun benar, sorotan mata Jongin dan perlakuannya adalah bukti yang tak bisa Kyungsoo tampik.

Namun ia masih ragu. Jongin tak pernah mencoba menjelaskan apapun padanya. Ia tak pernah memberi kepastian kemana hatinya akan berlabuh. Jongin terus bermain tarik ulur dan itu diluar kesanggupannya.

" Kyungsoo. Cobalah. Jika kau tak yakin bicarakan langsung dengan Jongin. Tanyakan apa yang ingin kau ketahui, dengar apa yang perlu kau dengar. ", nasihat Baekhyun. Kyungsoo mengangguk. Ia akan mencobanya.

Baekhyun menatap kepergian Kyungsoo. Pikirannya menerawang ke kejadian beberapa waktu lalu. Saat Jongin mengetahui segalanya.

' Apa kau akan memilih Kyungsoo setelah ini? ', tanyanya waktu itu. Jongin tidak menjawab. Tapi dari sorot matanya Baekhyun tahu Jongin sudah menetapkan keputusan. Dan Kyungsoo adalah seseorang yang akan terus digenggamnya.

Baekhyun tidak menampik jika ia masih tidak menyukai Jongin. Namun Jongin adalah seorang pria. Dan pasti akan memegang teguh janjinya.

...

Jongin merasa bosan. Sudah dua jam ia duduk bersama para dewan direksi dan membahas perihal cabang rumah sakit yang baru. Jongin tak begitu memperhatikan karena sesungguhnya ini bukan urusannya. Lagi-lagi merasa dejavu karena semuanya terasa sama dengan yang ia alami sebelumnya.

Sudah berulang kali ia menatap arloji ditangannya. Mengapa waktu begitu lambat?

Karena bosan, Jongin membuka lembar berita acara yang sebelumnya sudah dibagikan. Ia mengangguk-angguk bosan melihat desain cabang rumah sakit itu. Hingga ia sampai pada halaman sebelum akhir.

Ia tak tahu jika rumah sakit ini akan mengirim beberapa relawan menuju Afrika. Ia membaca satu persatu nama dengan malas. Banyak diantara nama itu yang tak Jongin kenali. Matanya membulat saat melihat nama Do Kyungsoo ikut tercantum didalamnya.

" Kapan relawan ini dikirim? ", bisiknya pada salah satu dokter yang duduk disebelahnya.

" Beberapa dikirim hari ini. Seharusnya mereka sudah naik pesawat sekarang. ", mendengar itu kepanikan Jongin naik beberapa level lebih tinggi. Tanpa berpikir ia mengangkat tangannya, menginterupsi seseorang yang tengah berbicara didepan. Semua mata tertuju padanya dan ia tak boleh kelihatan gugup.

" Maaf. Saya ada urusan mendadak. ", mendapat persetujuan Jongin segera meninggalkan ruangan itu. Ia ingin berlari namun demi tata krama ia hanya melangkahkan kakinya lebih lebar dari biasanya.

Jongin berulang kali mencoba menelpon Kyungsoo namun selalu berada di luar jangkauan. Konsentrasinya terpecah antara mobil dan ponsel. Ia harus cepat meskipun mungkin ia sudah terlambat.

Dalam hati ia terus bertanya-tanya mengapa Kyungsoo tak memberi tahunya. Apakah sebenarnya tadi malam Kyungsoo ingin memberi tahu nya? Jadi itukah maksud Kyungsoo yang mengatakan jika ia adalah orang yang akan merusak malam itu?

Tepat setengah jam mengebut, Jongin sampai di bandara internasional Incheon. Ia berlari menerobos kerumunan orang yang sibuk bergerak. Sesekali umpatan ia dengar namun itu bukan hal yang utama. Langkahnya berhenti saat melihat papan pengumuman. Pesawat tujuan Afrika sudah berangkat lima belas menit yang lalu.

Dengan gontai Jongin duduk disalah satu deretan kursi tunggu. Kepalanya menunduk dalam mencoba menyembunyikan airmata yang mengalir bak sungai.

Kyungsoo pergi meninggalkannya. Ia tak bisa menemukan alasan mengapa Kyungsoo pergi.

Selain karena dirinya sendiri.

...

Udara didaerah pegunungan memang yang terbaik. Itulah sebabnya tuan Do memilih tinggal disini setelah pensiun. Hal ini yang membuat Kyungsoo sering mengomel. Jaraknya terlalu jauh dan ia bukan seorang yang bebas pergi kemanapun atau kapanpun ia mau. Tugasnya sebagai dokter membuatnya harus siap kapanpun ia dipanggil.

Kyungsoo selesai menyalakan dupa untuk mendiang ibunya. Ia tersenyum lembut menatap wajah ayu wanita yang sudah melahirkannya itu. Kenangan bersama ibunya tidak banyak. Karena sejak ia berumur sepuluh tahun ibunya harus dirawat di luar negeri karena penyakitnya. Sedangkan Kyungsoo dititipkan pada bibinya yang tinggal di Seoul.

Tuan Do menatap Kyungsoo dengan sendu. Tentu saja ia sangat mengenal putrinya, termasuk perasaan rindunya pada sosok seorang ibu.

" Eommamu pasti sangat bangga padamu. ", ujar tuan Do saat melihat Kyungsoo datang menghampirinya.

" Benarkah? "

" Tentu saja. Dulu, saat ia masih hidup ia selalu menceritakan tentangmu pada teman-temannya. "

" Apa yang eomma ceritakan? ", tuan Do tertawa melihat mata bersinar Kyungsoo. Mata yang ia dapatkan dari ibunya.

" Banyak. Setiap kali kau mengirim surat, eommamu pasti akan membacakannya di depan teman-temannya. ", Kyungsoo tersenyum cerah lalu kembali menyandarkan kepalanya pada pangkuan sang ayah.

" Eommamu sudah pergi. Dan kau juga ingin meninggalkan appa? "

" Appa tahu sendiri aku memang suka melakukan kegiatan seperti ini. "

" Jujur pada appa. Apa yang sedang terjadi? ", Kyungsoo menghembuskan nafas. Menyerah berpura-pura di depan ayahnya.

" Appa, aku ingin pertunanganku dengan Jongin dibatalkan. "

" Kenapa? ", suara tuan Do sangat tenang. Sikap yang umumnya harus dimiliki disaat situasi yang seperti ini. Pria itu mengelus rambut Kyungsoo sayang. Mencoba menenangkan putrinya yang terlihat sangat kalut.

" Kami tidak saling mencintai appa. Hubungan seperti ini tidak bisa terus di lanjutkan. "

" Apa kau yakin? "

" Mengapa semua orang meragukanku. ", tuan Do tersenyum. Ia menepuk tempat kosong disofa yang ia duduki. Kyungsoo duduk disana dengan wajah kesal.

" Anakku. Kau sudah bersabar selama ini dan ketika pintu terbuka kau malah mundur? "

" Appa tahu? ", Kyungsoo terkejut.

" Anakku, appamu ini memang sudah tua. Tapi appa tidak buta dan tuli. ", Kyungsoo termenung memikirkannya. Waktunya semakin sedikit, banyak yang ia harus pertimbangkan sekarang.

" Aku takut appa. Jika aku sudah menaruh harapan besar padanya dan itu tak sesuai harapanku, seberapa besar rasa sakit yang aku dapat? Sanggupkah aku bertahan menanggungnya? "

" Takut bukan menjadi alasan seseorang berhenti mencoba. Dan tentang rasa sakit, semua orang membutuhkannya. Sama seperti tubuh, sakit membuat imun meningkat. Sakit dalam hatimu juga bisa membuatmu menjadi kuat dan dewasa. ", tuan Do mengelus rambut Kyungsoo dengan sayang. Ia tahu putrinya mampu melakukan apapun dengan baik. Termasuk dalam hal ini.

" Pulanglah, temui Jongin dan cari kepastian. ", Kyungsoo mengangguk. Membatalkan rencananya untuk menginap di rumah ayahnya.

" Ye appa. Aku sayang padamu. "

...

Kyungsoo tiba di Seoul tepat pukul sepuluh malam. Untunglah ia tidak tertinggal bus terakhir. Awan mendung terlihat sangat pekat diatas kepalanya. Mungkin tak lama lagi hujan deras akan mengguyur kota Seoul.

Kyungsoo memelankan langkahnya saat melihat seseorang duduk didepan pintu apartemennya. Kyungsoo tak melihat wajahnya karena pria itu menunduk. Ia hampri berbalik ke ruang keamanan jika saja ia tak mengenali pakaian yang pria itu gunakan. Sama persis dengan pakaian yang ia siapkan untuk Jongin tadi pagi.

" Jongin? ", pria itu mengangkat kepalanya dan Kyungsoo bisa bernafas lega. Itu benar Jongin, tapi terlihat sangat berantakan. Kyungsoo mendekati pria yang masih menatapnya tanpa berkedip. Semakin dekat Kyungsoo bisa melihat jejak air mata di pipi Jongin. Wajahnya terlihat pucat dan kedinginan.

" Ada apa? Apa kau sakit lagi? ", Kyungsoo mencoba memeriksa suhu tubuh Jongin. Pria itu hanya diam dengan tatapan tak percaya. Kyungsoo tahu ada yang salah dengan Jongin. Namun ia perlu membawa pria itu masuk, suhu tubuhnya meningkat meski tidak separah tadi malam.

" Ayo masuk. "

" Kau tidak pergi? ", Kyungsoo berhenti mencoba menarik Jongin. Ia menatap terkejut mata yang kembali berair itu.

" Kau tidak pergi? ", ulang Jongin.

" Ayo masuk. Kita bicara didalam. "

...

Kyungsoo memapah Jongin duduk disofanya. Setelah memastikan Jongin duduk dengan benar, Kyungsoo bergegas ke arah kamar mandi. Menyiapkan air hangat dan handuk. Jongin perlu di kompres dan di bersihkan.

Jongin sama sekali tak bergerak ketika ia membersihkan tubuhnya. Bahkan ia tak protes ketika Kyungsoo membuka kemejanya. Kyungsoo sedikit bingung, kemeja Jongin masih setengah basah. Padahal hujan belum turun.

" Kau darimana? ", tanya Kyungsoo.

" Incheon. ", suara Jongin sangat lemah. " Mengapa kau tak memberitahu ku? ", lanjutnya.

Kyungsoo masih diam. Ia pergi ke kamarnya dan mengambil sweater yang sekiranya muat pada tubuh Jongin juga selimut. Ia enggan menatap mata Jongin selagi memakaikan sweaternya.

" Kita perlu bicara Soo. ", Jongin menolak saat Kyungsoo mencoba menyelimutinya. Kyungsoo menghela nafas. Ia memang perlu bicara dengan Jongin. Namun baginya kesehatan Jongin lebih penting.

" Tidurlah dulu. Kita bicara besok. "

" Mengapa kau pergi kesana? "

" Kau sudah dengar ya. "

" Jawab Kyungsoo. ", Jongin menatap Kyungsoo tajam.

" Tentu saja karena aku seorang dokter. Sudah menjadi tugasku mengobati orang sakit. "

" Ebola, AIDS, demam Tifoid, Hepatitis, African Trypnosymanians, Krimea-Kongo dengue, Marburg. Dan masih banyak penyakit mematikan lainnya. Dan kau tetap pergi? "

" Ya. Penyakit yang kau sebutkan tadi. Mereka juga mengalaminya bukan? Mereka membutuhkan pertolongan. "

" Masuk akal. Tapi tidak begitu untukku. Jika kau ingin mengobati pasien maka disinipun kau bisa? "

" Disana kekurangan tenaga medis Jongin. ", keduanya kembali terdiam. Kyungsoo berdoa dalam hati sekiranya jawabannya tadi bisa membuat Jongin berhenti bertanya. Ia ingin Jongin istirahat.

" Kau harus tidur. "

" Apa ada alasan lain yang membuatmu ingin pergi? ", desak Jongin. Kyungsoo mencoba menyelami mata Jongin. Mencari tahu apa yang ingin pria itu coba ketahui darinya. Namun semakin ia mengerti ia merasa kehilangan nafasnya.

" Apa karena aku? ", detik demi detik membuat luka pada mata Jongin semakin terlihat.

" Jangan mengada-ada Jongin. ", Kyungsoo menghindari tatapan Jongin. Ia tak sanggup menatap Jongin sekarang. Namun rupanya Jongin bisa membaca Kyungsoo seperti buku yang terbuka.

Kyungsoo tergagap saat Jongin mencoba berdiri. Ia ingin menolongnya namun Jongin menampik tangannya. Jongin terus berjalan kearah pintu sehingga Kyungsoo harus mengejarnya. Berdiri dihadapan pria itu untuk menghadang jalan.

Mata Jongin melukiskan perasaan terdalam yang pria itu rasakan. Ia ketakutan, marah dan kecewa. Namun lebih dari semua itu, tatapan terluka Jongin adalah hal yang paling membunuh Kyungsoo.

" Kau mau kemana? ", tanya Kyungsoo. Suaranya tertelan rasa pahit yang mendorong keatas dari kerongkongannya.

" Pergi. Bukankah ini yang kau inginkan? Kau tidak ingin bersamaku lagi. ", Kyungsoo panik. Ia memegang kedua sisi tubuh Jongin. Menggeleng sekuat yang ia bisa. Namun lidahnya kelu mendengar kalimat pilu yang Jongin ucapkan selanjutnya.

" Kenapa kau datang jika pada akhirnya kau akan pergi lagi? Apa aku melakukan kesalahan sehingga kau memilih pergi? ", Jongin terlihat sangat kalut dan Kyungsoo merasa sangat bersalah.

" Jongin! ", Jongin tiba-tiba berlutut dihadapannya. Air mata Kyungsoo mengalir begitu saja saat melihat Jongin yang tidak berdaya. Bagaimana bisa ia setega ini? Bagaimana bisa ia pergi ketika Jongin terlihat begitu lemah? Ia tak ingin Jongin kembali seperti dulu, terlebih itu semua karena dirinya.

" Jongin bangunlah. "

" Wae Kyungsoo? Wae? Apa aku tak layak dicintai sehingga semua orang meninggalkanku? Apa kau lelah padaku? ", suara Jongin parau. Bukti bahwa ia begitu terluka.

Kyungsoo memeluk tubuh Jongin yang bisa ambruk kapan saja. Jongin terus meracau, membuat dada Kyungsoo semakin terasa sesak.

" Aku tak akan pergi. Aku tak akan pergi kemanapun. ", Jongin membalas pelukannya. Menarik Kyungsoo semakin mendekat padanya.

" Kumohon jangan pergi. ", lirih pria itu lagi.

" Aku tidak pergi. "

...

Kyungsoo memainkan rambut Jongin yang kini bersandar pada dadanya. Kondisi Jongin amat sangat buruk. Selain karena fisiknya, emosi Jongin sedang tidak stabil. Yang Kyungsoo tahu, Jongin sangat takut ditinggalkan.

Kyungsoo tak yakin apakah pria itu benar-benar tertidur. Karena sedari tadi ia terus terbangun hanya untuk memastikan dirinya masih ada disana.

" Kyungsoo. "

" Aku disini Jongin. Tidurlah. "

Ini sudah yang ke sepuluh kalinya dan ini tidak wajar. Kyungsoo mencoba meraih ponselnya dan menghubungi ibu Jongin. Ia tak berharap banyak karena hari telah larut. Namun tak terduga, bahkan ia tak perlu menunggu nada sambung kedua, ibu Jongin sudah menjawab panggilannya.

" Maaf eommoni menelpon selarut ini. ", Kyungsoo mencoba melepaskan diri dari pelukan Jongin. Berbisik jika ia akan segera kembali pada Jongin yang entah mendengarnya atau tidak. Kyungsoo bergegas menuju dapur. Tempat yang paling dekat dengan pintu kamarnya.

" Tidak apa. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Jongin? ", tanya ibu Jongin. Kyungsoo bisa merasakan kecemasan wanita itu.

" Dia demam. "

" Dia tidak pernah sakit jika ia tak sedang menanggung beban berat. Apa kalian bertengkar? ", Kyungsoo terkejut. Ia baru tahu hal ini.

" Ya. Sedikit. "

" Karena apa? "

" Maaf eommoni, minggu depan saya akan pergi ke Afrika. Jongin jadi emosional karena itu. ", Kyungsoo mendengar helaan nafas berat ibu Jongin. Ia jadi bertanya-tanya pernahkah sesuatu yang buruk pernah terjadi pada Jongin.

" Kyungsoo, aku tahu ini berat untukmu. Tapi bisakah kau tetap tinggal. Jongin. Jonginku yang malang, ia mempunyai trauma berat karena ditinggalkan. Dulu ketika ia kecil, kami, aku dan suamiku, pernah hampir bercerai. Kami pisah rumah selama setahun dan itu sangat memengaruhi Jongin. Butuh waktu yang lama untuk memulihkannya dan dia kembali dikhianati oleh Luhan. Jika kau juga pergi maka ia akan mengalami masa yang sama karena ketakutannya tidak pernah sembuh. "

Kyungsoo tak bisa membalas apapun selain berjanji pada ibu Jongin untuk menjaga pria itu baik-baik. Sedalam apakah trauma itu untuk Jongin? Kyungsoo ingin tahu dan menyelamatkannya.

Kyungsoo berjalan pelan kembali kekamarnya. Ia duduk di samping dan mengamati wajah Jongin yang tertidur. Kerutan didahinya mungkin karena mimpi buruk. Kyungsoo menggenggam tangannya dan kerutan itu berangsur-angsur menghilang.

" Jongin, aku tak pernah ingin meninggalkanmu. Tapi kita butuh ruang. Kau tahu, untuk merenung dan mendalami perasaan kita masing-masing. ", Kyungsoo mengubah posisinya. Mendekap Jongin dari samping. Menyandarkan kepalanya pada bahu tegap pria itu.

" Aku ingin kau menyelami hatimu sendiri. Siapa yang ada disana? Aku atau Luhan? Bisakah kita melakukannya? ", tanya Kyungsoo yang tertelan dalam kegelapan malam. Kyungsoo menutup matanya mencoba untuk tidur.

Tak lama kedua mata Jongin terbuka. Ia mencerna semua yang Kyungsoo katakan padanya. Jongin berbalik dan merengkuh tubuh Kyungsoo. Wanita itu menyamankan posisinya. Meringkuk seperti bayi dalam pelukan Jongin.

" Bagaimana aku membuktikan jika kini hatiku untukmu? ", bisiknya. Tangannya terangkat menyentuh pipi Kyungsoo yang menirus.

" Maaf karena tidak bisa memahamimu Kyungsoo. Aku hanya takut ditinggalkan. ", Jongin menghela nafas. Memantapkan hatinya untuk keputusannya.

" Tapi aku akan mencoba. Demi kita, aku akan mencobanya. "

.

.

.

TBC

Hai... I'm back...

Masih pada nunggukah? .

Ini aku bawa lanjutannya... Ini pendek, aku tahu, mungkin pada protes lagi karena aku bikin nyesek.. semoga gak pada nangis lagi...hehehe...

Sengaja ak buat TBC di tempat yang nanggung...biar pada penasaran gitu..

Fyi, bentar lagi ending... mau happy ending apa sad ending? Aku sih udah buat sampe ending, tapi mungkin bisa berubah sesuai permintaan readers...

Oh ya, makasih buat koreksinya, chap kemarin seharusnya hari kamis ya?

Maafken saya masih banyak typo...

And wow, review mendekati seratus... aku gak nyangka pada seantusias ini...

Jujur aja, pertama kali aku posting di ffn aku pesimis bgt... tp ku pikir gak masalah deh di posting, ada yang baca ya syukur klo gak ya gpp... wkwkwk

Mungkin ada yang mau bertemen sama aku? Kalo mau aku bisa bagi kontakku...

And least... jgn lupa review...

Always thanks to

itachi2409, unniechan1, pororo023, henna chan, irenasoo,pumpum, , diah, Soocy-Nim, kadi couple, rianita, kimkaaaaai, dinadokyungsoo1, mimi, kyungie love, avs1105, matcha, lovesoo, Insooie baby, DKSlovePCY, sarad15, rainaLee, bakkichot, nisakaisa, umma kyungsoo, kaisoomin, kimdegita88, chanli27, do 12januari, dwimeisy, drabble wookie, jongin bear, NN, ici, nct127, yixingcom, huang minseok, asmaul, khairunnisacho, xoxo0293, alxshav, audia605, mrswuhunhan, t.a, son of aphrodite, rahma736, kaisoo, zzz, ziyah kim, yixingcom, lee min ah, kim gongju,

And for siders too... gomawo...