Mii:"Gomen, gomen, Mii tlat apdet 2 hr .. Abs'a Mii ad banyak tugas sih. Otak Mii juga lagi mampet ni!"

Ruki:"Alesan'a gara2 tgas numpuk… Tapi knyataan'a mlah kgx ngerjain tgaz.. Tpi mlah enak2an bca fic… Dsr pnipu besaarr! Soal otak lo, lo telepon sedot WC aj biar kagak mampet lagi!"

Mii:"Sssstt!! Diem deh lo!"

Ruki:"Perhatian, perhatian, para reader dan author sejagad raya sekalian! Jangan pernah percaya ama nih author klo blang dy tlat apdet gra2 ngerjain tgas!! Kalian udah d tipu ma nih author! Klo kalian mau, silahkan taruh flame di.."

Mii:*Ngebekep Ruki*"Ah, langsung aja dah ke cerita'a!"

Ruki+Mii:"RnR yaaa!!"

Disclaimer:

Bleach © Tite Kubo

Eh, eh, Bleach itu punya Mii looh! *d gebuk om Tite*

My Icy Prince © Mii Saginomiya

Chapter 11

Don't Lie to Me!

"Aku akan bertunangan dengan Ichigo?!" Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Rukia. Ia merasa kaget, terkejut, bingung, pokoknya semua pikiran itu berkecamuk di kepala Rukia.

"Ah, lama-lama kepalaku sakit memikirkan hal itu terus. Aku ingin tidur!!!"Rukia pun menarik selimut suteranya tersebut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Sudah tidak terdengar lagi suara dari tempat Rukia, dan itu berarti Rukia sudah terbang ke alam mimpi.


"Aku…"

Rukia baru menyadari, dirinya berada di tepi laut bersama Momo. Tepatnya di ujung dermaga.

"Ada apa, Hinamori?"Tanya Rukia yang penasaran dengan lanjutan kalimat sahabatnya tersebut. Namun, sebelum Rukia akan membuka mulutnya lagi, ia melihat tubuh Momo condong ke arah lautan lepas. Rukia yang melihat kejadian itu membelalakkan matanya dan berusaha menarik lengan Momo agar tidak jatuh ke laut. Tetapi gagal. Momo telah terjun ke laut dan Rukia dapat melihat kepala Momo bocor akibat terbentur batu karang di dekat ujung dermaga itu. Darah pun mengalir dari kepala Momo, dan seketika air laut pun berubah warna menjadi merah darah.

"HINAMORI!!!"

Rukia terlonjak bangun dari tempat tidur empuknya tersebut. Keringat membanjiri tubuhnya. Nafasnya terengah-engah seperti sedang berlari dari Banten sampai Madura.

"Haaahhh, hahhh… Hina.. mori…"Ucap Rukia dengan wajah pucat.


Rukia berjalan menelusuri lorong kelasnya dengan langkah terburu-buru. Pasalnya, ia sudah hampir telat pagi ini. Apalagi pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran dari Kurotsuchi sensei. Namun, langkah Rukia terhenti ketika melihat seseorang di hadapannya. Orang itu pun juga berhenti berjalan dan menatap Rukia.

"Rukia…"

"Ichi… go."

Rukia memalingkan wajahnya dengan wajah yang samar-samar terlihat memerah.

'Baka! Kenapa aku jadi salting begini sih?!'Omel Rukia pada dirinya sendiri.

"Rukia.. Apakah kau sudah tahu soal pertunangan itu?"Tanya Ichigo hati-hati.

"Ah, soal itu… Ya, aku sudah tahu."

"Rukia.. Kalau kau tidak menginginkan pertunangan itu, kau bisa bilang padaku sekarang juga. Nanti akan aku sampaikan pada ayahku kalau pertunangan ini akan di batalkan,"kata Ichigo dengan tampang datar.

"Ichi… Tetapi pertunangan ini permintaan dari ibumu kan? Dan kata kakakku, ibumu juga sudah.. meninggal kan?"Kata Rukia yang mulai mengecilkan suaranya.

"Yah.. Begitulah. Lagi pula, itu juga kemauan dari kakakmu kan."

"Memang. Tapi, aku tidak ingin membuat ibumu bersedih.. Jadi…"Kata Rukia menggantungkan kata-katanya.

"Jadi?"Tanya Ichigo penasaran.

Rukia menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, aku tidak akan membatalkan pertunangan kita."

Sebuah senyuman terukir di wajah Ichigo. Secara spontan, ia segera menarik Rukia ke dalam dekapannya. Rukia menanggapi sikap Ichigo itu dengan tampang datar. Seolah sedang memikirkan sesuatu.

'Apa langkah yang ku ambil ini benar?'Tanya Rukia dalam hatinya.


"Kuchiki-san, apakah hari ini kau ingin menjenguk Hinamori-san dan Hitsugaya-kun?"Tanya Orihime ketika mereka baru saja keluar dari sekolah tercinta mereka itu.

"Yap. Kau mau ikut, Inoue?"Jawab Rukia.

"Ah, aku sebenarnya ingin sekali ikut. Tapi… Aku harus berbelanja bahan makanan untuk satu bulan ini. Jadi aku tidak bisa ikut. Tolong sampaikan salamku ke mereka berdua ya! Aku duluan ya, Kuchiki-san!" Orihime pun pergi mendahului Rukia setelah saling melambaikan tangan.


"Konnichiwa, Hinamori,"kata Rukia ketika membuka kamar rawat Momo.

"Konnichiwa, Kuchiki-san. Terima kasih karena telah menjengukku,"kata Momo sambil tersenyum manis.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah mulai membaik belum?"Tanya Rukia sambil menaruh bingkisan buah ke meja di sebelah tempat tidur Momo.

"Ya. Kata dokter, besok aku sudah boleh pulang. Oh iya, bagaimana dengan Shiro-chan?"

"Dia.. Masih belum sadar…"Ucap Rukia dengan wajah tertunduk.

"Begitu.. Aku yakin, pasti dia akan segera sadar! Kau juga percaya itu kan, Kuchiki-san?"Tanya Momo dengan berapi-api.

"Ya. Aku percaya, pasti dia dapat membuka kedua matanya lagi. Aku masih mempunyai banyak hutang padanya…"Ucap Rukia lirih.

"Memangnya Kuchiki-san menghutang berapa banyak ke Shiro-chan? 1 yen? 2 yen?"

Rukia sweatdrop mendengar pertanyaan Momo yang sepertinya salah tangkap maksud dari Rukia tersebut.

Sementara di kamar Toushirou…

"Huh! Kenapa remote TVnya jadi begini? Tombolnya jadi sulit ku tekan. Pasti gara-gara di pinjem suster yang kemarin. Hfftt…" Toushirou sedang terduduk di ranjangnya dengan perlengkapan Rumah Sakit yang masih lengkap tertempel pada tubuhnya. Tiba-tiba, ia mendengar langkah seseorang yang sepertinya akan membuka pintu kamarnya tersebut. Tanpa sempat mematikan TV, Toushirou langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut dengan masih menggenggan erat remote TV.

"Konnichiwa, Hitsugaya,"sapa Rukia yang mengambil bangku untuk duduk di sebelah Toushirou seperti biasa. "Aneh, kenapa TVnya bisa menyala seperti ini?"

Setelah sekian lama mencari remote TV, mata Rukia menangkap sesuatu benda yang berada di balik selimut Toushirou. Setelah Rukia perhatikan lebih detail…

"Ah, itu dia remote TVnya!" Secara perlahan, ia memasukkan tangannya ke dalam selimut tersebut dan berusaha mengambil remote TV tersebut. Namun, ia merasa kalau remote TV itu tidak dapat ia tarik. Dan ternyata ketika ia membuka selimut tersebut secara perlahan, ia melihat tangan Toushirou sedang menggenggam kuat remote itu.

"Hei.. Hitsugaya…"Rukia berbisik kepada Toushirou, tetapi hanya diam yang Rukia dengar. Rukia yang mulai naik darah pun tidak segan-segan meluapkan semua emosi yang berada di kepalanya saat ini.

"DASAR HITSUGAYA BODOOHH!!!"Teriakan Rukia berhasil memecahkan kaca-kaca Rumah Sakit, menerbangkan semua selimut, mengoyak-oyakkan bantal sampai bulu-bulunya berterbangan dan masih banyak lagi. Toushirou pun langsung menutup telinganya karena saat ini suara Rukia sudah tidak bisa di bendung lagi volume suaranya. Ketika menyadari sikapnya yang reflek menutup telinga, Toushirou melihat ke arah Rukia yang memberikan death glare padanya.

"Ru-Rukia, aku bisa menjelaskan semuanya…"Kata Toushirou masih dengan coolnya, tetapi, rasa takut pun juga tergambar di wajah tampannya tersebut.

"Hitsugaya… Kenapa kau membohongiku?"Rukia yang tadi memberikan death glare ke Toushirou menundukkan kepalanya. "Kau tahu kan, aku sangat mencemaskanmu… Gara-gara aku, kau jadi seperti ini. Apalagi, kau tidak sadarkan diri selama 2 minggu lebih. Tetapi, kenapa kau membohongiku?!" Rukia mulai mengangkat wajahnya. Memperlihatkan matanya yang mulai basah karena air matanya. Toushirou melihat Rukia dengan di penuhi rasa bersalah.

"Rukia… Aku.."Ucapan Toushirou terhenti ketika tiba-tiba, Rukia memeluk tubuh Toushirou yang sedang terduduk di atas ranjangnya tersebut.

"Hitsugaya baka… Kau membuatku takut tahu.. Aku takut kalau kau tidak akan pernah membuka matamu lagi. Aku takut kalau kau akan pergi meninggalkanku. Kau tahu, itu semua karena aku sangat menyayangimu!"Semua keluh kesahnya ia keluarkan. Ia tidak peduli lagi dengan wajahnya yang sudah memerah, atau pun dengan tampang Toushirou yang kaget, pokoknya dengan semuanya. Yang ada di benaknya sekarang, adalah dapat melihat Toushirou membuka kedua matanya lagi seperti dulu.

"Rukia… Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku melakukan itu karena.. Aku ingin mengetahui isi hatimu yang sebenarnya. Maafkan aku, Rukia,"kata Toushirou yang balik memeluk tubuh Rukia. Rukia tersenyum kecil ketika ia membenamkan kepalanya pada dada Toushirou.

'Eh, sejak kapan ia memanggilku dengan nama kecilku?'Tanya Rukia dalam hati yang sepertinya baru sadar akan hal ini.

"Dasar baka. Kalau kau ingin kumaafkan, cepatlah keluar dari sini, dan makan ama-natto di rumahku,"kata Rukia yang sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Toushirou. Toushirou pun juga membalasnya dengan senyuman.

"Ah, Rukia. Bagaimana dengan keadaan Hinamori?"Tanya Toushirou yang mulai memasang tampang serius dan khawatir.

"Dia sudah membaik. Besok juga sudah boleh pulang. Kau juga cepat sembuh, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,"balas Rukia.

'Apa kuceritakan juga padanya soal rencana pertunangan itu…'


"Tadaima."

"Okaerinasai, Rukia,"sambut Hisana yang sudah menunggu di ambang pintu.

"Ada apa, Hisana-nee? Tumben menungguku di sini,"tanya Rukia sambil melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu. Ini soal rencana pertunangan itu."

"Memangnya ada apa dengan pertunangan itu?"

Hisana tersenyum manis sebelum membuka lagi mulutnya.

"Pertunangan kalian akan di laksanakan 1 bulan lagi. Dan pestanya akan dilaksakan cukup meriah."

Rukia tersenyum kecut mendengar kabar itu. Dan berusaha tersenyum di hadapan Hisana.

"Ah, kalau begitu, aku ingin ke kamarku dulu."Rukia melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Hisana bersuara lagi.

"Rukia, apakah kamu bahagia dengan pertunangan ini?"

Rukia terdiam. Ia melirik ke arah Hisana yang membelakangi dirinya tersebut.

"Ya.. Aku bahagia."Rukia pergi meninggalkan Hisana yang masih berdiri mematung di sana. Ia segera menuju kamarnya dan tersenyum kecut di sana.

'Apakah aku bahagia?'


"Hinamori-san! Akhirnya kau kembali juga!"Teriak Orihime yang sangat bahagia sambil memeluk Momo.

"Hinamori, bagaimana keadaanmu? Kau sudah tidak pusing lagi kan?"Tanya Rukia yang berada di belakang Orihime.

"Ya, aku sudah sembuh kok, Kuchiki-san,"balas Momo sambil tersenyum lembut.

"Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi, Hinamori,"kata Tatsuki yang berada di sebelah Rukia.

"Haha, baik Arisawa-san. Kuchiki-san, Shiro-chan hari ini juga sudah diperbolehkan pulang. Tadi dia sepertinya dia juga sudah masuk."Terpancar senyum bahagia dari wajah Rukia setelah mendengar kabar itu dari Momo.

"Hinamori, Inoue, Arisawa, aku pergi dulu ya!"Rukia langsung berlari meninggalkan mereka bertiga. Tatsuki dan Orihime memasang wajah bingung ke arah Rukia, sedangkan Momo tersenyum simpul.

DRAP, DRAP, DRAP

Suara langkah lari Rukia terdegar dengan jelas. Tujuannya kali ini sudah jelas, yaitu atatp sekolah.

'Hitsugaya… pasti dia ada di sana!' Kata Rukia dalam hati.

BRAK

Pintu menuju atap sekolah telah ia buka. Nafasnya tersengah-engah karena berlari cukup jauh. Tetapi, senyum kebahagiaan terpampang di wajah mungilnya.

"Hitsugaya…"Kata Rukia ketika melihat sesosok pemuda berambut putih salju yang sedang membelakanginya. Toushirou membalikkan tubuhnya dan mata mereka berdua pun bertemu.

"Ohayou, Rukia,"sapa Toushirou dengan senyum tipis di wajahnya.

"Hitsugaya, kau kembali!"Teriak Rukia sambil berlari menuju Toushirou.

"Dengan begini, aku sudah bisa mendapatkan ama-nattouku kan?"Tanya Toushirou ketika dirinya sudah berhadapan dengan Rukia.

"Benar, kau akan segera mendaparkan ama-nattoumu, Hitsugaya-sama."Toushirou tersenyum kecil mendengar perkataan Rukia.

"Rukia, apakah ada yang ingin kau bicarakan padaku?"Tanya Toushirou yang membuat Rukia tertunduk.

"Uhm… Jadi begini.. Aku,"kata Rukia terbata-bata.

"Rukia, katakan saja. Walaupun hal itu adalah hal yang berat, aku siap mendengarnya."

"Aku.. Akan bertunangan dengan Ichigo."Rukia tertunduk ketika mengatakan hal itu. Toushirou juga terdiam mendengar pernyataan Rukia.

"Kapan pertunangan itu di laksanakan?"Tanya Toushirou yang menatap Rukia dengan tatapan datar.

"1 bulan lagi…"

Toushirou menghela nafasnya, lalu melangkah maju dan meninggalkan Rukia yang masih bediri mematung di sana.

"Kalau kau sudah menjadi calon tunangan orang lain, mengapa kau masih berdekatan denganku?"Tanya Toushirou yang masih membelakangi Rukia.

"Kau pasti sudah tahu jawabannya kan, Hitsugaya?"Kata Rukia dengan tersenyum kecut.

Toushirou memejamkan matanya sebentar, dan membuka lagi kedua matanya. "Tapi kau harus ingat statusmu sekarang. Kalau kau tidak mau menjaga jarak dariku, berarti aku yang harus menjaga jarak darimu."Toushirou pun pergi meninggalkan Rukia.

"Aku sudah menduga, pasti ini akan terjadi…"Kata Rukia yang menahan air matanya.

"Rukia? Kenapa kau ada di sini?"Tanya seseorang yang berada di ambang pintu.

"Ichigo.. aku.."Kata Rukia yang ingin menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Ichigo. Tetapi, sebelum di hapus, air matanya sudah menetes terlebih dahulu. Ichigo yang melihatnya dalam sekejap langsung memasang tampang terkejut.

"Rukia, ada apa? Kenapa kau menangis?"Tanya Ichigo yang di penuhi rasa khawatir.

"Aku.. Aku baik-baik saja…Aku hanya kelilipan kok,"kata Rukia yang berusaha berbohong. Tapi sayangnya, air mata semakin keluar deras dari matanya.

"Jangan berbohong, Rukia. Ada apa sebenarnya?"Tanya Ichigo sambil memandang mata violet Rukia.

"Ichi… go…"

Ichigo lengsung memeluk tubuh Rukia, dengan maksud menenangkannya.

"Sudah Rukia, kalau kau tidak ingin menceritakannya, tidak apa-apa. Sekarang hapuslah air matamu. Aku tidak ingin melihat orang yang kusayangi menangis seperti ini." Rukia membenamkan wajahnya, berusaha agar wajah menangisnya sekarang ini tidak dapat terlihat oleh Ichigo.

Sementara, pada tempat Toushirou sekarang…

'Tch, kenapa aku jadi kesal sendiri? Dasar bodoh!' Umpat Toushirou dalam hatinya. Ia merogoh kantung celananya, berusaha mencari handphone lipatnya itu.

"Sial, ke mana handphoneku?"Kata Toushirou kesal. Setelah mengingat-ingat di mana terakhir kali ia memegang handphonenya, ia segera berbalik arah dan menuju atap sekolah lagi.

'Setelah aku ambil handphoneku, aku akan langsung pergi meninggalkannya.'Kata Toushirou dalam hati. Sebenarnya, ia juga merasa berdosa pada Rukia, tetapi demi menjaga gengsi, terpaksa ia lakukan hal itu.

Ketika dirinya sudah sampai pada ambang pintu, matanya terbelalak lebar ketika melihat dua insan saling berpelukan di depan matanya. Telapak tangannya mengepal kuat dan berbalik meninggalkan mereka berdua yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.

'Kuso… Kenapa aku menjadi sakit seperti ini?'

TO BE CONTINUED

***

OMAKE!

Handphone Siapa Ini?

Saat Rukia dan Ichigo masih saling berpelukan, mereka mendengar sebuah suara yang terdengar tidak jauh dari mereka. Spontan, mereka melepas pelukan mereka dan menghampiri asal suara itu.

"Handphone siapa itu?"Tanya Ichigo yang berada di belakang Rukia.

"Entahlah,"balas Rukia yang mulai mengambil handphone itu. Ketika ia membuka handphone lipat itu, Rukia langsung memasang tampang cengo, di ikuti juga oleh Ichigo yang berada di belakangnya. Ternyata, wallpaper dari handphone itu adalah foto Toushirou yang di edit dalam berbagai pose. Dan ketika Rukia membuka pesan masuk pada handphone itu, Rukia tambah cengo lagi.

'Toushirou, kau sudah membawa bekalmu kan, nak? Baju ganti juga sudah kan? Cel*** da**mnya juga tidak lupa kan? Kalau lupa, bilang saja. Nanti otou-san akan mengantarkannya ke sekolahmu. Kau baik-baik saja kan di sana? Jangan nakal ya! –Otou-san – '

***

Mii:"Akhir'a selese ngetik jugaaaaa!!!'

Hitsu:"WTH?!~ Kenapa gue di omake'a di bikin pencorengan imej kayak gini?!"

Mii:"Hahaha… Calm, Hitsu, calm!!!"

Hitsu:"Souten ni Zase…"

Mii:"HUWAAAAA!!!!"*ngibrit sejauh mungkin*

Hitsu:"Author penakut. Langsung gue bacain reviewnya. Pertama dari Hiru Shii-chan."

Mii:"Hwhw, Hiru, Mii bru apdet skarang ni .. Gomen ya!!! Pdhl d fb Mii blang bsok ato 2 hri lgi bkal apdet.. Tpi nyatanya.. 3 hari.. Huee, gomen, gomen .!"

Hitsu:"Napa lo balik lagi?!"

Mii:" Wee, ini kan masih fic w! Lanjut! Dari Aya-na Byakkun nee-chanku tersayang~! Mii sriuz dah!!! Suer! Momo? See in the next chap sja y nee-chan XD. Lalu, dari Ninomiya Icha gag log aliaz Ninomiya Icha.

Hitsu:"NANI?! SIAPA YANG BERANI BILANG GUE KAYAK GITU?! BANKAI!"

Mii:"EHEHEH! TENANG DONG MAS! JANGAN BANKAI2 AJA! BISA KABUR TUH RIPIUER GUE!"

Hitsu:"…"

Mii:"Hoho, tenang aj kok. Ini kan masih HitsuRuki .."

Ruki:"Lalu dari Kireina_toshirou."

Mii:"Wah, wah, boleh juga usulmu! XD. Wah, jdi hiru-chan itu nee-chanmu? *.* Kandung ato angkat ato Cuma ngaku2 aja? *d lempar sepatu*Matiin? Hohoho, sebenarnya Mii juga…"

Momo:"Apa? Jadi nanti aku mati? Hiks." *kabur entah ke mana*

Mii:"Ya sudah, anggep aj dia iklan lewat. Wah, wah, nge ripiu pas pel? Mang'a bole bwa hp ntu? *.*"

Ichi:"Lalu dari hiru-chan. Nih author sempet apdet kilat, tapi dah nunggak apdet lagi nih."

Mii:"…"*pundung*

Ruki:"Iya, ma sama hiru-chan^^. Aku pasti sabar kok punya author kayak dia. Kamu juga sabar ya sama author satu ini."

Mii:"Diem lo! Eh, nih dah apdet ^^. Lalu dari Zheone Quin, hohoho, Mii punya kejutan tersendiri nih ^^. Moga2 aja Zhe-chan kgx bosen y bc ff in .."

Ruki:"Lalu dari Tsuichi Yukiko. Nah loh… Chap kemaren banyak typo tuh!"

Mii:"Mii mohon maap y! Wktu itu Mii ngetiknya di laptop punya sepupu, truz tengah mlem lgi .. Semoga yang chap ini dan chap k depan kagak banyak typo2an lagi!"

Ruki:"Amiinnn…"

Mii:"Lalu dari Kuchiki Rukia-taichou, Huohuohuo, tenang aja, Mii punya kejutan tersendiri. Ending'a tetep HitsuRuki kug, ini juga pair'a masih ntu kn? (kasi tau ke Mii kalo pair'a udah brubah)"

Ori:"Dari Kuchiki Rukia Uchiha."

Mii:"Huaa, Mii bales yang terakhir aja yaa ^^. Bused dah, masa langsung kawin o_O. Lanjut, dari AlicElise. Hohoho, sankyuu dah mo ngeripiu lgi yg in :9. Yang Ichi, penggambaran'a lebih gampang si .. Tp yg chap ini kyk'a OOC -.-."

Ruki:"Dari D31-ryuusei Hakuryuu."

Mii:"Hohoho, klo Hitsu mate, gak jadi HitsuRuki'a dong XD. Ma samaa!! Semoga d terima d SMA yang ryuu harapkan yaaaa :)"

Ichi:"The last, Kushi N Ai."

Mii:"Tak apa kug ^_^. Huwaa, Ai cepet sembuh yaa :). Kushi dah ngurusin kartinian y ni?? Hoho, dah apdet ni :), d ripiu juga yaa XD."

Makasih yaa buat semuanya yang udah sempet2nya ngeripiu fic Mii :). Semoga Tuhan memberkati kalian semuaaa!!!!XD. Klo paa mau, ripiu lagi fic Mii yang nggak sempurna ini yaa!! Klik tlisan biru2 d bawah ini yaaa!!!

P.S.:Mii mao nanya, 'uke', 'seme', ama 'imouto' ntu artina ap y? Hehe, maklum, gx trll mndalamihal kyk gtu .