Selamat membaca.

Here We Go.

Disclaimer : Naruto milik Kishimoto sensei

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Hurt comfort, Romance, Family

Warning : OOC, gender switch, typo (s), alur cerita cepat, tema pasaran

Note : dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

My Love

Chapter 11 : Wedding Day

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto menatap cincin yang satu minggu lalu dipasangkan oleh Sasuke di jari manisnya. Dan sudah satu minggu juga Sasuke tidak masuk kantor, dia menyerahkan semua pekerjaannya kepada Naruto. Hal ini membuat Naruto jengkel, ditambah lagi dengan meningkatnya hormon karena saat ini dia sedang hamil, membuat emosinya turun naik tak terkendali.

Sambil mondar-mandir di dalam ruang kerjanya, mata Naruto tidak pernah lepas dari jam yang tergantung di dinding. "Sudah hampir jam tiga sore, kenapa dia belum datang juga?" gumamnya resah. Anko mengatakan pada Naruto jika hari ini Sasuke akan ke kantor sekitar pukul dua siang untuk menemui Naruto. "Dasar Teme brengsek!" umpatnya cukup keras.

"Tidak baik mengumpat pada calon suamimu, Naruto!" tegur Sasuke, yang masuk ke ruangan Naruto tepat saat Naruto mengumpat.

Mendengar suara Sasuke kontan membuat Naruto yang sedari tadi mondar-mandir diam berdiri di tempat. Matanya berkilat-kilat marah menatap Sasuke dan berkata dingin. "Darimana saja kamu, sudah satu minggu tidak menampakkan diri. Bahkan Fugaku-san tidak tahu kamu pergi kemana!"

Sasuke menutup pintu ruangan kantor Naruto dengan pelan, dia tahu saat ini Naruto benar-benar marah karena dia pergi selama satu minggu tanpa mengatakan apapun kepada Naruto. "Duduklah, jangan terus berdiri seperti itu, tidak baik untuk anak kita." Tukas Sasuke lembut.

Dengan kesal Naruto duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya, sementara matanya masih menatap galak pada Sasuke. Naruto bersyukur karena ruangannya kedap suara, jadi pertengkaran sehebat apapun nanti tidak akan terdengar sampai keluar.

"Jangan menatapku seperti itu, atau aku akan memakanmu saat ini juga. Pandanganmu itu sama sekali tidak membuatku takut, malah membuatku bergairah." Sasuke menyeringai kecil, menyandarkan tubuh ke pintu dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

Naruto memandangnya dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana mungkin kamu bisa berbicara seperti itu disaat seperti ini, Teme?" Semburnya marah.

"Wow, ternyata benar wanita hamil emosinya lebih tinggi, tapi benar-benar seksi." Jawab Sasuke tenang, dia berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan Naruto.

Naruto mendongakan kepala ke belakang dan menghembuskan napas keras mencoba untuk menstabilkan emosinya kembali. Dia tahu percuma saja dia marah, karena itu dia mengambil napas panjang beberapa kali dan mulai bertanya dengan tenang. "Jadi, kemana kamu selama satu minggu ini?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke malah mengambil kedua tangan Naruto dan menciumi buku-buku jari Naruto, lalu berkata lirih. "Aku merindukanmu, Dobe. Satu minggu waktu yang sangat panjang bagiku untuk tidak melihatmu." Gumamnya lembut.

Naruto mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke, namun gagal. "Kamu tidak menjawab pertanyaanku. Kamu tahu Aiko sangat merindukanmu. Dia mencarimu, dia baru bisa tenang saat aku berjanji untuk menginap dan menemaninya tidur sepanjang malam."

"Lalu bagaimana denganmu, apa kamu merindukanku juga?" Sasuke balik bertanya, ia menatap lurus mata sapphire milik Naruto.

Naruto mendesah dan menjawab. "Sebaiknya kita hentikan semua ini, Sasuke. Ini tidak akan berhasil." Tukasnya lirih.

"Apa yang tidak akan berhasil?" Sasuke bertanya dingin.

"Tentang pernikahan dan semua ini konyol. Aku bisa membesarkan anakku sendiri." Kata Naruto, yang berhasil melukai hati Sasuke saat ini.

"Anak kita," potong Sasuke yang seketika wajahnya menjadi kaku karena marah. "Jangan pernah berpikir jika kamu akan membesarkan anak kita seorang diri, Naruto!" kata Sasuke dingin.

"Apa yang akan kamu katakan padanya jika dia bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak bersama?" lanjutnya lagi.

Ya, apa? Naruto terlalu sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan keluarganya jika mereka tahu dia hamil diluar nikah. Terutama kakaknya Kyuubi, dia pasti akan langsung datang ke Jepang untuk mencari lelaki yang bertanggungjawab karena telah membuat adiknya hamil dan mungkin akan memukuli Sasuke hingga terkapar tak bernyawa. Memikirkan Sasuke yang tak bernyawa di tangan Kyuubi membuat bulu kuduk Naruto berdiri karena ngeri.

"Aku tidak berpikir sampai kesana." Jawab Naruto lemah.

"Tidak!" bentak Sasuke. "Tentu saja kamu tidak berpikir sampai kesana. Kamu tidak perlu mengatakan sesuatu, karena anak kita akan lahir dalam sebuah keluarga yang utuh."

"Tidak akan berhasil, aku tidak mau-"

"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu inginkan, Naruto. Aku berbicara tentang apa yang terbaik untuk anak kita."

"Dengar," kata Naruto cepat. "Aku tahu kamu menginginkan yang terbaik untuk anak kita, tapi ini bukan jalan keluarnya."

"Ini bukan tentang kau, aku, atau keluarga kita. Ini tentang anak kita, Naruto." Nada suara Sasuke tajam. Dia meletakkan tangannya di perut Naruto. Naruto tercengang, menahan napas, membayangkan Sasuke menggendong anak mereka.

"Tidak mungkin," kata Sasuke. "Tidak mungkin, aku membiarkanmu membesarkannya sendiri. Lagipula aku sudah menemui keluargamu untuk meminangmu." Lanjut Sasuke tenang.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto bingung.

"Selama satu minggu ini, aku habiskan untuk meyakinkan keluargamu agar mengijinkanku untuk menikahimu. Awalnya sulit, terutama dengan kakakmu yang sister complex itu, tapi akhirnya semua berjalan dengan lancar dan mereka menerimaku." Jelas Sasuke.

Naruto menjauh dari sentuhan Sasuke, berjuang mengendalikan diri. "Apa yang kamu katakan pada keluargaku?" tanyanya ngeri.

"Aku mengatakan jika aku sangat mencintaimu dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memperistri dirimu."

"Bagaimana mungkin, kamu memberikan alasan seperti itu. Mereka tidak akan percaya." Tukas Naruto.

"Jadi apa yang harus aku katakan? Mengatakan jika saat ini kamu hamil, begitu?" mata oniksnya berkilat-kilat tajam.

Naruto menggelengkan kepala lemah. "Tentu saja tidak." Gumamnya lemah, dan mulai terisak.

"Ya Tuhan, kumohon jangan menangis, Naruto. Maaf jika kata-kataku terlalu keras dan kasar." Tukas Sasuke sambil memeluk tubuh Naruto yang berguncang karena menangis.

Sasuke mencium kening Naruto lembut dan berkata. "Satu minggu lagi kita akan menikah, dan kita akan membuatnya berhasil."

Naruto melepaskan diri dari pelukan Sasuke dan menatapnya tak percaya. "Itu terlalu singkat, persiapannya tidak akan cukup." Tukasnya.

"Tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan venue, dekorasi, undangan, makanan, hingga tiap detail kecilnya. Untuk gaun pengantin, ibumu yang akan mempersiapkannya, dia bilang dia yang harus menyiapkan gaun untukmu, bukan orang lain."

"Bagaimana dengan pengiring?" tanya Naruto lagi.

"Ah, untuk itu aku sudah meminta mereka menyiapkan gaun semenjak dari tiga minggu yang lalu." Jawab Sasuke datar.

"Apa maksudmu tiga minggu yang lalu?" teriak Naruto.

Sasuke hanya mengangkat bahu cuek dan menjawab dengan enteng. "Aku tahu cepat atau lambat kita akan menikah, jadi aku minta Ino, Sakura, Hinata juga Tenten untuk menyiapkan keperluan mereka sebagai pengiring."

"Bahkan mereka berkomplot denganmu? Bagaimana mungkin mereka tidak mengatakan apapun padaku?" sembur Naruto.

"Karena aku yang meminta mereka untuk tutup mulut dan mengatakan agar semua ini menjadi kejutan untukmu."

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padamu saat ini, Sasuke!" Naruto bergumam, tapi cukup jelas untuk dapat ditangkap oleh Sasuke.

Sasuke menyeringai jail, menangkup wajah Naruto dan menutup bibir Naruto dengan bibirnya. Naruto mengeluarkan suara terkejut dan mencoba mundur, namun Sasuke menggigit bibir bawah Naruto, mengulum bibir Naruto menciumnya dengan segala kerinduan yang dia tahan sejak tiga minggu yang lalu, sedangkan Naruto bersandar, mengerang dan membuka mulut untuknya.

'Milikku,' pikir Sasuke liar. 'Semua ini milikku.'

Setelah beberapa lama, Sasuke akhirnya mengangkat kepala. Ketika ia melakukannya, Naruto gemetar dalam pelukannya, napasnya terengah, sementara matanya menatap nanar Sasuke. "Malam ini aku akan berbicara pada keluargaku dan semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya." Tukas Sasuke, lalu mengecup lembut kening Naruto terakhir kali, sebelum akhirnya berdiri meninggalkan Naruto yang masih duduk membeku di tempat duduknya saat ini.

.

.

Malam harinya, Sasuke mengutarakan keinginanya untuk menikah dengan Naruto pada kedua orang tuanya juga pada Aiko. Diluar dugaan, ternyata keluarganya menyambut hal ini dengan gembira, bahkan Aiko melompat-lompat kegirangan mendengarnya. "Aiko akan punya kaa-san, dan kaa-san Aiko adalah Naru-nee. Arigatou tou-san!" seru Aiko, seraya memeluk Sasuke erat.

Sasuke tersenyum dan mengelus rambut puterinya tersebut dengan lembut. "Tou-san yang harus berterima kasih karena Aiko mau menerima wanita yang tou-san cintai." Sahut Sasuke lembut.

Dua hari kemudian, keluarga Naruto datang dari London. Awalnya mereka akan menginap di hotel selama persiapan pernikahan Naruto dan Sasuke, tapi hal itu ditolak dengan tegas oleh Fugaku dan Mikoto. Menurut mereka untuk apa tinggal di hotel, jika di kediaman Uchiha banyak sekali kamar tamu. Akhirnya baik Minato maupun Kushina setuju untuk tinggal bersama di kediaman Uchiha.

Yang mengejutkan adalah sikap Aiko pada Kyuubi. Sepertinya anak itu tidak mau jauh-jauh dari Kyuubi, Aiko terus menempel pada Kyuubi. Menurut Aiko, Kyuubi mirip dengan boneka rubah miliknya. Dan karenanya Aiko mendaulat Kyuubi sebagai paman kesayangannya, walaupun masih belum sah karena Naruto belum resmi menjadi istri Sasuke.

Sementara keluarganya sibuk mempersiapkan pernikahan Naruto dan Sasuke yang tinggal menghitung hari, Kyuubi malah asyik menikmati senja di beranda belakang kediaman Uchiha bersama Aiko.

"Aiko, menurutmu Sasuke benar-benar mencintai adikku?" tanya Kyuubi pada Aiko, layaknya bertanya pada orang dewasa.

Aiko mengangguk cepat dan berkata. "Tentu saja, tou-san sangat mencintai Naru-nee." Tukasnya yakin.

"Tapi ayahmu itu playboy!" seru Kyuubi tajam.

Aiko berdecak dan menatap Kyuubi dingin. "Dia berubah semenjak bertemu dengan Naru-nee, Aiko tahu itu!" jawab Aiko tegas.

"Bagaimana jika Sasuke menyakiti adikku nanti?" tanya Kyuubi lagi.

"Aiko akan pukul kepala tou-san dengan boneka rubah milik Aiko dan memarahinya." Jawab Aiko mantap.

"Dipukul dengan boneka itu tidak sakit!" seru Kyuubi. "Bagaimana jika Aiko menghubungi paman, jika hal itu terjadi." Bujuk Kyuubi.

"Baik, Aiko akan menghubungi paman jika hal itu terjadi, dan kita akan memberi pelajaran pada tou-san bersama-sama." Aiko menyeringai kecil, seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Kyuubi.

'Anak ini benar-benar menakutkan,' pikir Kyuubi. 'Tapi setidaknya di sini aku sudah memiliki sekutu yang menguntungkan.' Batinnya bangga. "Baiklah, kalau begitu paman setuju. Paman akan langsung datang begitu mendapat laporan dari Aiko." Aiko hanya tersenyum melihat Kyuubi, tanpa berkata apapun.

Setelah beberapa saat hening, Aiko kembali berbicara. "Paman Kyuu, apa paman akan sering berkunjung ke Konoha nantinya?" tanya Aiko tiba-tiba.

"Entahlah," jawab Kyuubi cepat. "Memangnya kenapa?"

"Aiko akan sering merindukan paman." Serunya sambil memeluk Kyuubi dan membenamkan wajahnya di dada Kyuubi.

Kyuubi tersontak kaget, dia tidak pernah sedekat ini dengan anak kecil. Tapi dia tidak tahu kenapa dia memiliki rasa sayang pada Aiko. 'Mungkin karena Aiko sangat menggemaskan, dan mirip Naruto.' Batinnya. Kyuubi mengelus rambut Aiko dan berkata lirih. "Liburan nanti, Aiko ke London saja. Paman akan membawa Aiko mengelilingi London sampai Aiko puas."

"Benarkah?" tanya Aiko tak percaya, sementara matanya berkilat-kilat antusias.

Kyuubi mengangguk dan menjawab. "Tentu, tapi Aiko harus meminta ijin pada kakek, nenek, ayah dan ibu baru Aiko sebelumnya." Kyuubi tersenyum lembut.

"Ha'i, wakatta." Ujar Aiko semangat dan berlari ke dalam rumah untuk menceritakan hal ini pada kakek dan neneknya juga pada Minato dan Kushina yang saat ini ada di ruang keluarga membahas setiap detail terakhir.

"Aku tidak tahu jika Kyu-nii bisa bersikap sangat lembut pada anak kecil."

Kyuubi menoleh mencari asal suara dan mendapati Naruto berjalan ke arahnya. "Aku juga tidak mengerti." Jawab Kyuubi jujur. "Tiba-tiba saja rasa sayang itu muncul, mungkin karena Aiko akan menjadi puterimu, Naruto." Jelasnya lagi.

Naruto tersenyum dan duduk tepat disamping Kyuubi, sementara matanya menatap langit senja. "Atau, mungkin sudah saatnya kamu menikah dan memiliki keluarga, Kyu-nii." Ujar Naruto lembut.

Kyuubi mengacak-acak rambutnya mendengar perkataan adik kesayangannya dan mendesah pelan. "Belum ada seseorang yang benar-benar memikat hatiku." Jawabnya ringan.

"Bagaimana dengan Mei-nee, bukankah Kyu-nii dekat dengannya?" tanya Naruto.

Kyuubi tergelak dan menjawab. "Jangan gila, aku tidak mungkin menikahi Mei. Kamu tahu, dia itu gila!" tukas Kyuubi mutlak. "Dia tipe wanita yang mampu memakan hidup-hidup laki-laki tanpa menyisakan sehelai rambut pun. Membayangkannya saja aku ngeri." jelasnya lagi.

Naruto menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah Kyuubi. "Hati-hati dengan perkataanmu Kyu-nii, bisa saja kamu berbalik mencintainya." Naruto mengingatkan, yang dijawab dengan seringaian Kyuubi.

"Jangan membahas tentang diriku, sekarang aku tanya padamu Naruto, kamu yakin mau menikah dengan pantat ayam itu?" tanya Kyuubi.

Naruto tersenyum, mencoba menyembunyikan perasaannya saat ini dan mengangguk lemah.

Kyuubi mendesah kecil sebelum akhirnya kembali bicara. "Kamu tahu, aku benar-benar kaget saat dia datang ke rumah kita dan dengan kurang ajarnya meminta ijin kepada tou-san dan kaa-san untuk menikahimu."

Naruto tidak bergerak, tidak berhenti menatap Kyuubi sementara jantungnya berdetak cepat saat ini.

"Tentu saja kami bingung menjawabnya, karena latar belakangmu dengan Sasori tentu saja." Perkataan Kyuubi yang menyinggung soal Sasori membuat dada Naruto sesak dan dengan sekuat tenaga dia menahan air mata yang berusaha turun dari kedua sudut matanya. Keheningan tercipta setelahnya, hingga Kyuubi meneruskan bicara. "Dia bilang, jika dia sama sekali tidak memberitahumu saat dirinya datang kepada kami, dan kami cukup terkejut saat dia bilang jika kamu sudah menerima lamarannya."

Kyuubi tersenyum kecil, sesaat menatap Naruto. "Pada awalnya kami tidak percaya, lalu dia menceritakan hubungannya denganmu semenjak kalian berdua SMA. Kamu tidak pernah bilang, jika memiliki seorang sahabat laki-laki padaku, Naruto. Sebenarnya aku cukup kecewa."

Naruto menatap Kyuubi dan berkata lirih. "Maaf." Katanya singkat.

"Tidak apa-apa," jawab Kyuubi sambil mengelus punggung Naruto lembut. Sementara Naruto menyenderkan kepalanya pada Kyuubi. "Tou-san dan kaa-san menolaknya, dengan halus tentu saja. Karena mereka tidak yakin akan kesungguhannya, aku bahkan sempat memukulnya." Naruto menatap tajam pada Kyuubi saat mengetahui hal ini.

"Hei, bagaimana pun dia itu playboy, jangan tanya aku tahu darimana, aku sering melihat wajahnya pada majalah gosip yang kamu beli. Jadi tidak salah jika aku memukulnya, karena aku kira dia hanya main-main padamu." Jelas Kyuubi.

"Tapi Kyuu-ni..."

"Jangan potong dulu, aku belum selesai bicara." Potong Kyuubi. "Lalu esok harinya dia datang lagi, lagi dan lagi. Bahkan di hari keempat dia mengatakan akan terus menunggu di luar, hingga kami memberinya ijin untuk menikahimu. Dia benar-benar gila, aku bisa yakinkan itu." Tukas Kyuubi. "Malam itu, hujan turun sangat deras tapi dia tetap bergeming dari tempatnya berdiri. Kaa-san sangat cemas melihatnya. Hingga akhirnya menjelang dini hari tou-san memintanya masuk dan menghangatkan diri. Tou-san bertanya mengapa dia melakukan ini semua, dan kamu tahu apa yang dikatakan pantat ayam itu, Naruto?"

Naruto hanya menggeleng lemah, dan Kyuubi tersenyum melihatnya. "Dia berkata jika dia sangat mencintaimu, terlalu mencintaimu. Hingga dia nekat melakukan itu semua." Jawab Kyuubi, Naruto menutup mulut, menahan isakan yang keluar dari tenggorokannya, sementara air matanya mengalir dengan deras.

"Kami melihat kesungguhan dan keteguhan pada tatapan matanya, hingga akhirnya kami luluh dan memberikan ijin padanya untuk menikahimu. Walau kami terkejut karena dia ingin menikahimu sepuluh hari kemudian." Jelas Kyuubi.

Naruto menangis di dada Kyuubi, dia tahu alasan sebenarnya Sasuke melakukan itu hanya sebagai rasa tanggung jawab akan bayi yang ada di dalam kandungannya saat ini. Bukan karena cinta, atau hal lainnya, tapi hanya sebatas tanggungjawab. Dan Naruto benar-benar sedih karena Sasuke memperdaya keluarga Naruto hingga sejauh itu.

"Sssttt, jangan menangis." Bujuk Kyuubi. "Aku tahu, aku meninggalkanmu di tangan yang tepat. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya, Naruto. Dan aku akan menghajarnya, jika dia menyakitimu." Janji Kyuubi.

Sementara itu Naruto terus terisak di dada Kyuubi, tangisnya tidak mereda malah makin menjadi. Sasuke yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Kyuubi dan Naruto dari balik pintu, menutup mata. Dalam hati dia berjanji, bagaimanapun caranya, dia akan membuat Naruto bahagia dan mencintainya, seperti halnya Sasuke mencintai Naruto.

Hari-hari pun berlalu dengan cepat, hingga hari pernikahan itupun tiba. Bagian bawah gaun pengantin Naruto yang terbuat dari satin, bertumpuk dan menggelembung yang dikenakan olehnya bergemerisik saat suami yang baru mengucapkan sumpah bersama dengannya lima belas menit yang lalu menuntunnya menuju limusin yang sedang menunggu.

Naruto menatap wajah kaa-sannya yang tidak henti-hentinya menitikkan air mata. Sementara teman-teman Naruto dan Sasuke tertawa, berduyun-duyun ke halaman untuk bersorak-sorai dengan riuhnya. Pernikahan Naruto dan Sasuke begitu sederhana, hanya ada kerabat dan teman dekat mereka yang hadir dan kesemuanya tidak mencapai 100 orang undangan.

Para bridesmaids dan groom maids berjejer dengan rapih menyambut mereka berdua dengan menghamburkan kelopak-kelopak bunga mawar putih. Para bridesmaids mengenakan gaun tali selutut berwarna lime yellow, warna yang menjadi favorite Naruto. Sementara groom maids, yang terdiri dari Neji, Shikamaru, Kiba, Lee, Shino juga Chouji mengenakan setelan tux hitam yang sangat elegan. Mereka terus mengolok-olok pengantin baru itu, yang saat ini berjalan beriringan menerjunkan diri ke dalam keramaian.

Setelah pesta perayaan yang sederhana di belakang rumah Sasuke, mereka berdua pun pergi untuk berbulan madu. Naruto melambaikan tangan kepada orang tua dan kakak laki-lakinya, yang berdiri di depan teras keluarga Uchiha.

Kushina dan Mikoto terisak bahagia dibalik saputangan mereka dan menatap anak dan menantunya dengan haru. Sementara Fugaku dan Minato menatap Naruto dan Sasuke dengan bangga. Para groom maids mulai mengolok-olok Sasuke, mengatakan hal tak senonoh tentang malam pertama, yang berhasil membuat wajah Naruto merah karenanya.

Sebelum masuk ke dalam limusin, Naruto melemparkan handbouquet miliknya ke arah kerumunan tamu, yang ditangkap dengan mantap oleh Hinata. Semua pandangan yang ada disana beralih menatapa Hinata dan Kiba, yang saat ini memerah semerah kepiting rebus.

Limusin yang lain telah menunggu di bandara saat pesawat pribadi milik keluarga Uchiha mendarat sore itu. Cahaya matahari terbenam saat Naruto sampai di salah satu resort milik keluarga Uchiha di Hokaido. Hotel yang dilengkapi spa dan pemandangan laut yang sangat indah menyambut Naruto saat dirinya tiba.

Dalam kompleks resort tersebut ada lapangan golf, lapangan tennis, spa, club dan juga restoran mewah. Benar-benar suguhan kelas atas.

Satu jam kemudian, Naruto sudah berdiri di balkon menatap laut yang saat ini diselimuti kegelapan malam. Dirinya sudah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna silver. Sementara Sasuke mengatakan dia akan pergi sebentar untuk berbicara pada pengelola resort miliknya tersebut.

Naruto menghirup udara malam dalam-dalam dan mengusap perutnya lembut. "Kaa-san harap hal ini memang yang terbaik untuk kita semua." Ucapnya lirih pada jabang bayi yang ada di dalam rahimnya.

Lamunan Naruto terganggu dengan dering telepone yang terletak di meja nakas di sebelah tempat tidurnya.

"Halo?"

"Nyonya Sasuke Uchiha?" Suara di seberang sana terdengar datar, seperti menggunakan penyadap suara.

"Saya Naruto Uchiha, ada yang bisa saya bantu?" tanya Naruto, yang masih belum terbiasa dengan marga keluarga barunya.

"Apa anda bahagia dengan pernikahan ini,

nyonya?" tanya suara orang asing tersebut.

"Maksud anda apa?"

"Apa anda berpikir dengan menikahi Sasuke Uchiha, anda berhasil mengikatnya erat pada diri anda?"

"Aku tidak mengerti," jawab Naruto.

"Sasuke Uchiha itu seorang playboy, dia pasti meninggalkan anda setelah merasa bosan." Ucapnya datar dan langsung menutup sambungan telpon.

Untuk sesaat Naruto membeku, dengan gagang telepon masih berada di telinganya. Dirinya mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. 'Suara penelepon itu jelas suara wanita, tapi siapa?' tanya Naruto dalam hati. Jemarinya gemetar saat dirinya meletakkan kembali gagang telepone ke tempatnya semula.

Sasuke masuk ke dalam kamar mereka saat mendapati istrinya duduk melamun dipinggir tempat tidur mereka. Sasuke berjalan perlahan dan menghampir Naruto, duduk tepat disebelahnya dan berkata dengan lembut. "Ada apa?"

"Mengapa kamu menikahiku?" tanya Naruto tajam.

"Ya Tuhan, jangan mulai lagi! Kamu tahu kenapa aku menikahimu." Tukas Sasuke frustasi.

"Tapi ini salah," teriak Naruto. "Benar-benar salah."

"Sebenarnya ada apa?"

"Seseorang menghubungiku barusan, seorang wanita. Mungkin saja selingkuhanmu, aku tidak tahu." Jawab Naruto marah sambil membuang muka.

"Demi Tuhan, aku tidak memiliki wanita lain. Aku menikahimu karena kamu yang aku inginkan untuk menjadi istriku, bukan wanita lain." Tukas Sasuke.

"Saat ini kamu memang tidak memiliki wanita lain, tapi siapa yang menjamin setelahnya? Apa kamu benar-benar mencintaiku? Tidak, kamu tidak mencintaiku Sasuke, kamu melakukan ini hanya karena rasa tanggungjawab." Sembur Naruto.

"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mempercayaiku?" tanya Sasuke lemah. "Kita akan membuat pernikahan ini berhasil, kamu bisa pegang janjiku, Naruto."

Naruto hanya diam bergeming, lalu dengan mantap dia bicara. "Aku lelah, aku mau tidur." Tukas Naruto dan mulai berbaring, menarik selimut dan memunggungi Sasuke.

"Ini malam pengantin kita, bagaimana mungkin kamu mau tidur?" tukas Sasuke tak percaya.

"Aku tak peduli," jawab Naruto dingin dan mulai memejamkan mata.

Sasuke mengumpat kesal dan pergi keluar dari kamar mereka. Dia membutuhkan minuman keras untuk melawan hasratnya pada Naruto malam ini. Terkutuklah orang yang sudah menelepon Naruto dan membuat semuanya menjadi berantakan.

Naruto kembali membuka mata dan menangis dengan isakan kecil. Dalam hati dia bertanya, kenapa dirinya bisa semarah itu saat berpikir jika Sasuke memiliki kekasih gelap di belakangnya? Naruto menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang muncul dari tenggorokannya. Sampai akhirnya dia tertidur karena lelah, sementara Sasuke kembali masuk ke dalam kamar mereka menjelang dini hari. Dia mandi dengan air dingin, untuk meredakan rasa panas karena hasrat yang masih belum hilang pada dirinya, setelah itu dia pun berbaring di samping Naruto untuk tidur.

Dilain tempat, Karin tertawa senang setelah berhasil menghubungi Naruto. "Aku akan membuat pernikahan kalian hancur." Desisnya. "Jika aku tidak bisa memiliki Sasuke, maka kamu pun tidak, Naruto!" geramnya marah.

.

.

.

TBC