Previous Story...
"Bisakah kau relakan Yunho untukku?"
"Mwo?!"
"Bisakah kau mengalah kali ini? Kau sudah mengambil perhatian semua orang. Bahkan Kibum eomma yang akan menjadi mertuaku lebih menyukaimu daripada aku. Bisakah untuk kali ini kau mengalah padaku? Bisakah kau menyisakan sesuatu untuk kumiliki dan kupertahankan?"
"Apa noona akan bersikap baik jika aku menyetujui permintaan noona?" tanyaku. Sebisa mungkin aku mencegah getaran dalam suaraku.
"Yaksok. Aku akan memperhatikanmu lagi."
"Aku serahkan Yunho padamu, Noona. Raih kebahagiaanmu. Aku mendoakanmu disini. Jadilah bintang yang bersinar." Aku bisa meiihat senyuman terukir di bibir noona.
"Gomawo, Joongie. Gomawo."
"Aku tidak bisa mempertahankan Yunho, Kibum eomma. Meskipun aku mencintainya, tapi noonaku jauh lebih membutuhkannya. Aku tidak menyangka aku bisa menjadi orang jahat dan egois selama ini." Bisik Jaejoong pelan.
Di tengah kekalutan pikirannya, Jaejoong mengingat pesan Haraboji yang ditemuinya di halte bus kemarin. "Sepertinya cintaku berakhir sampai disini, Haraboji. Mian, aku tidak bisa mempertahankannya."gumamnya lagi makin lirih. Matanya mulai berembun tapi dia menahannya.
"Setidaknya Ahra noona bisa menjaga Yunho untukku." Jaejoong menampilkan senyum pahit dibibirnya, "Meskipun berkata begitu, tapi disini sangat sakit. Eoteohkke? Eotteohkaji?" gumamnya makin lirih sebelum jatuh tertidur.
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Kibum dengan nampan ditangannya tersenyum. Diletakkannya nampan yang dibawanya di atas meja nakas.
"Kau tidak jahat dan egois, chagi.. Tidak sama sekali. Kau adalah malaikat paling baik yang pernah eomma temui. Malaikat yang sayangnya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk meraih kebahagiannya secara utuh." Kibum mengelus kepala Jaejoong lembut kemudian mencium keningnya. Ya, Kibum mendengar semua yang dikatakan Jaejoong. Dia tidak percaya ada orang setulus Jaejoong. Matanya berkaca-kaca terharu.
"Apa kau sangat mencintai Yunho? Apa begitu sakit saat kau melepaskannya sampai kau menangis dalam tidurmu, chagi?" Kibum menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Jaejoong yang terpejam.
"Eomma berdoa untuk kebahagiaanmu, chagi." Bisik Kibum sebelum membaringkan tubuhnya disamping Jaejoong. Memeluk malakat yang sudah dianggapnya anak itu kemudian ikut terpejam bersamanya.
"Eomma harap kau tidak menyesal menyia-nyiakan namja ini, Yunho ah." Gumam Kibum yang pasti tidak akan didengar oleh namja yang dituju sebelum benar-benar masuk kealam mimpi.
.
.
~('.'~) Start Story (~'.')~
.
.
Author PoV
Hari terus berganti. Hubungan Yunho dan Jaejoong terjalin lebih dekat layaknya sahabat pada umumnya bahkan lebih. Meskipun Jaejoong harus menahan sakit hatinya setiap dia berdekatan dengan Yunho yang selalu berbicara tentang Ahra. Hubungan Jaejoong dan Kibum juga semakin dekat. Kalau ditilik lebih dekat, Jaejoong lebih terlihat seperti menantu yang sesungguhnya dibanding Ahra yang hubungannya dengan sang calon mertua tidak mengalami perkembangan. Ahra dan Jaejoong juga mulai berinteraksi layaknya saudara sekarang meskipun Ahra yang lebih aktif mengajak Jaejoong bicara dengan topik Yunho, Yunho, dan hanya Yunho.
Seperti sekarang, Jaejoong dan Ahra sedang duduk berdua di tepi kolam renang. Jaejoong yang duduk di depan Ahra dengan setia mendengarkan apapun yang keluar dari bibir Ahra. Sesekali dia menimpali jika Ahra mengajukan pertanyaan yang memang butuh jawaban. Selebihnya Jaejoong hanya diam. Dia takut jika dia bicara, dia akan kelepasan berbicara bahwa hatinya sakit setiap Ahra bercerita seberapa dekatnya dia dengan Yunho dan seberapa romantisnya Yunho padanya.
"Kau tahu, Jae? Kemarin Yunho datang ke kelasku dan memberiku bungan lily putih. Aku kesal padanya karena aku tidak terlalu menyukai bunga lily putih. Aku sudah pernah mengatakan padanya kalau bunga yang kusukai adalah bunga Rafflesia arnoldi, (#eh? Mian salah skrip, maksudnya) mawar. Dan yang membuatku makin kesal adalah ketika aku bertanya kenapa dia memberiku bunga lily putih padahal aku menyukai bunga mawar, dia menjawab 'Seingatku dulu ada yang mengatakan padaku bahwa dia menyukai lily putih. Kupikir itu kau.' Bisa kau bayangkan betapa menyebalkannya dia! Padahal aku baru memberitahunya bunga kesukaannya dua hari sebelum dia memberiku bunga, dan dia lebih mengingat kesukaan orang lain yang mengatakannya jauh-jauh hari." Ahra mempoutkan bibirnya tidak imut.
"Mungkin dia benar-benar lupa, Noona." Timpal Jaejoong seadanya begitu melihat tatapan Ahra yang seolah meminta pendapat darinya.
"Aish.. kau selalu membelanya. Kalian benar-benar sahabat sejati." Cibir Ahra. Jaejoong hanya tersenyum.
"Dan apa kau tahu, Jae? Aku sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari satu bulan dan dia juga sudah melamarku. Tapi kami belum pernah melakukan sesuatu seperti yang biasa pasangan lain lakukan. Kau mengerti maksudku?" Jaejoong mengernyitkan dahinya kemudian menggeleng imut.
"Aish, kau ini! Maksudku, saat pasangan sedang berdua di tempat romantis seperti di dalam bianglala, apa yang mereka lakukan?"
"Melihat kembang api?" jawab Jaejoong polos membuat Ahra memutar bola matanya jengah.
"Adakah jawaban yang lebih kekanakan dari itu?"
"Makan permen kapas?"
"Berciuman, Jaejoongie. Ber-ci-u-man! Bukan melihat kembang api atau makan permen kapas!" dengus Ahra kesal. Jaejoong hanya mengangguk mengerti.
"Lalu?" tanya Jaejoong kemudian. Ahra yang sebenarnya kesal akhirnya menceritakan masalahnya juga berhubung Jaejoong adalah sahabat Yunho.
"Selama itu, dia tidak pernah menciumku." Entah kenapa Jaejoong tersenyum lebar mendengar curhatan Ahra kali ini.
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV
Aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga aku bisa berakhir disini mendengarkan semua, kutekankan sekali lagi SEMUA cerita Ahra noona tentang Yunho. Tidak tahukah dia bahwa hatiku masih berat untuk menerima semua ini. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana perasaanmu saat kau baru saja mengakui bahwa kau jatuh cinta tapi orang yang kau cintai direbut orang lain. Dan parahnya orang lain itu adalah saudaramu sendiri. Lebih parahnya lagi saudaramu itu bertingkah seolah dia tidak tahu kalau kau juga mencintai namja yang dia cintai padahal dia sudah tahu. Bahkan lebih dari tahu.
Aku mendengarkan semua curhatan Ahra noona dengan malas. Menanggapinya seperlunya saja. Mengangguk atau menggeleng. Membuka mulut menjawab pertanyaan yang memang menuntut jawaban panjang. Bukan hanya isyarat tubuh.
Kalau boleh jujur, aku ingin sekali menangis dan berlari menghajar namja Jung itu karena sudah mempermainkanku seperti ini. Bagaimana bisa dia membiarkan –membuang- ku begitu aku sudah sepenuhnya jatuh untuknya. Aku ingin melakukan itu. Dan aku berharap aku bisa melakukan itu. Jung Yunho benar-benar berhasil membuatku kacau. Membuatku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kau tahu, Jae? Kemarin Yunho datang ke kelasku dan memberiku bungan lily putih. Aku kesal padanya karena aku tidak terlalu menyukai bunga lily putih. Aku sudah pernah mengatakan padanya kalau bunga yang kusukai adalah bunga mawar. Dan yang membuatku makin kesal adalah ketika aku bertanya kenapa dia memberiku bunga lily putih padahal aku menyukai bunga mawar, dia menjawab 'Seingatku dulu ada yang mengatakan padaku bahwa dia menyukai lily putih. Kupikir itu kau.' Bisa kau bayangkan betapa menyebalkannya dia! Padahal aku baru memberitahunya bunga kesukaannya dua hari sebelum dia memberiku bunga, dan dia lebih mengingat kesukaan orang lain yang mengatakannya jauh-jauh hari."
Aku tersentak. Lily putih? Bukankan itu bunga kesukaanku? Dan aku juga pernah mengatakan itu pada Yunho jauh sebelum Ahra noona dan Yunho menjadi sepasang kekasih. Bolehkan aku berharap sekarang? Bolehkah aku tersenyum sekarang?
Ani! ani! kau jangan tertipu dulu, Kim! Teman Yunho yang menyukai bunga lily bukan hanya kau! Yang perlu kau lakukan sekarang hanya duduk diam dan dengarkan noonamu bercerita tentang calon suaminya sekaligus orang yang kau cintai.
"Mungkin dia benar-benar lupa, Noona."jawabku asal begitu mataku bertemu tatap dengan mata Ahra noona yang seolah menuntut jawaban dariku.
"Aish.. kau selalu membelanya. Kalian benar-benar sahabat sejati." Cibir Ahra noon. Aku hanya tersenyum padahal dalam hati aku berharap hubunganku dengan Yunho bisa lebih dari sahabat. Katakan saja aku tidak tahu malu.
"Dan apa kau tahu, Jae? Aku sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari satu bulan dan dia juga sudah melamarku. Tapi kami belum pernah melakukan sesuatu seperti yang biasa pasangan lain lakukan. Kau mengerti maksudku?" aku menghela nafas. Bisakah tidak usah mengungkit hal itu? tidak ingin terlalu larut dengan perasaanku, aku hanya menggeleng polos.
"Aish, kau ini! Maksudku, saat pasangan sedang berdua di tempat romantis seperti di dalam bianglala, apa yang mereka lakukan?"
"Melihat kembang api?" jawabku sok polos. Aku hanya tidak ingin yang dimaksud Ahra noona sama dengan apa yang aku pikirkan.
"Adakah jawaban yang lebih kekanakan dari itu?"
"Makan permen kapas?"
"Berciuman, Jaejoongie. Ber-ci-u-man! Bukan melihat kembang api atau makan permen kapas!" dengus Ahra noona kesal. Aku hanya bisa menahan sesak di dadaku dengan mengangguk sok mengerti.
"Lalu?" tanyaku kemudian. Berusaha untuk terlihat normal.
"Selama itu, dia tidak pernah menciumku."
Untuk yang kali ini, bisakah aku tersenyum? Mian, meskipun kau melarang, tapi bibirku tidak bisa ku kontorl. Sudut bibirku melengkung membentuk senyuman manis.
"Ha~h, apakah aku harus menciumnya dulu?"
"ANDWAE!" pekikku spontan membuat Ahra noona terlonjak. Bahkan dia hampir saja terjungkal dari kursinya kalau saja dia tidak berpegangan pada pinggiran meja.
"Ya! Kenapa kau berteriak?! Kau membuatku kaget!" bentak Ahra noona sedangkan aku yang dibentak hanya tersenyum tanpa dosa sambil menggaruk tengkukku.
"A-aku hanya tidak ingin noona mencium Yunho. M-maksudku, kalau noona mencium Yunho terlebih dulu, noona akan terlihat seperti yeoja yang selalu mengejar Yunho. Noona tidak ingin dianggap seperti yeoja pengganggu, kan?" aku berusaha berbicara senormal mungkin padahal jantungku berdetak kencang apalagi saat mataku bertemu dengan tatapan Ahra noona yang mengintimidasi.
"Haaa~hhh, kau benar." Aku bernafas lega. Setidaknya Ahra noona tidak menaruh curiga padaku.
"Hei, Jae." Aku menoleh dengan cepat begitu mendengar Ahra noona memanggilku.
"Menurutmu siapa orang yang Yunho ingat saat di toko bunga yang membuatnya salah membelikanku bunga? Seseorang yang menyukai bunga lily?" aku bingung apa yang bisa kujadikan jawaban, "Dan siapa yang mendapat ciuman pertama Yunho?"
Aku baru saja ingin menjawab, tetapi suara Junsu membuatku mengurungkan niatku,.
"Hyung, kenapa ada kiriman bunga lily putih di depan rumah? Mungkin itu untukmu, kau suka bunga lily putih, kan?" aku mendeathglare Junsu yang hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Junsu.
"Dan kau tahu? Fotomu dan Yunho saat di koridor dulu kembali tersebar. Foto saat Yunho ingin menciummu." Ujar Junsu ringan tidak peduli denganku yang panik di kursiku.
"N-noona, kurasa aku ada urusan dengan Junsu, annyeong!" aku menarik tangan Junsu perg dari situ sebelum Ahra noona bertanya macam-macam.
Kim Jaejoong PoV End
Kim Ahra PoV
"Hyung, kenapa ada kiriman bunga lily putih di depan rumah? Mungkin itu untukmu, kau suka bunga lily putih, kan?" aku menoleh begitu mendengar suara Junsu di belakang tubuhku. Aku menoleh kearah Jaejoong dan menemukan dia sedang mendeathglare Junsu. Kenapa?
Chankamman! Bunga lily putih? Jaejoong menyukai bunga lily putih? Kenapa aku baru tahu? Dan kenapa semua jadi kebetulan begini? Yunho membelikan bunga untukku yang ternyata adalah bunga kesukaan adikku sekaligus sahabatnya, Kim Jaejoong. Atau jangan-jangan memang Jaejoong yang diingatnya? Aku mengurungkan niatku untuk bertanya karena Junsu tiba-tiba kembali berbicara.
"Dan kau tahu? Fotomu dan Yunho saat di koridor dulu kembali tersebar. Foto saat Yunho ingin menciummu." Aku membelalakkan mataku mendengar ucapan Junsu. Aku menatap tajam kearah Jaejoong yang bergerak gelisah di kursinya.
"N-noona, kurasa aku ada urusan dengan Junsu, annyeong!" Jaejoong menarik tangan Junsu menjauh dari situ membuatku tidak bisa bertanya apa-apa lagi.
"Kurasa aku tidak perlu jawabanmu mengenai pertanyaanku tadi, Jae. Aku sudah tahu dengan sangat jelas. Tapi, aku minta maaf karena aku tidak akan membiarkan kau menang kali ini, Kim Jaejoong. Kau sudah menyetujui permintaanku dan aku akan mendapatkan apa yang kuminta. Maafkan aku, Jae. Aku bukan noona yang baik untukmu, tapi aku juga ingin bahagia." Gumam Ahra kemudian beranjak menuju kamarnya untuk sekedar menenangkan diri.
Kim Ahra PoV End
Skip Time
Author PoV
Hari ini keluarga Kim berada di kediaman keluarga Jung. Kedua keluarga ini tengah membicarakan perihal tanggal pertunangan antara Ahra dan Yunho. Selama pertemuan itu, Jaejoong hanya diam. Kibum yang melihatnya juga ikut diam dan memasang tampang dinginnya.
"Bagaimana kalau minggu depan?" celetuk Ahra membuat semua yang ada disana kaget.
"Mwo? Tidakkah itu terlalu cepat, Ahra-ya?" tanya Jung Siwon.
"Kurasa lebih cepat lebih baik, ahjusshi. Yunho sangat terkenal di kampus. Dia memiliki banyak sekali penggemar dan mereka semua sangat cantik. Aku tidak ingin Yunho berpaling nantinya." Jelas Ahra panjang lebar. Matanya melirik kearah Jaejoong yang hanya menunduk, "Benar, kan, Joongie?"
Jaejoong mengangkat kepalanya begitu mendengar pertanyaan Ahra yang ditujukan padanya, "N-ne." Jawabnya gugup. Matanya sedikit melirik Yunho dengan tatapan sendu.
"Baiklah, pertunangan kalian akan diadakan minggu depan. Bagaimana menurutmu, yeobo?"
Kibum menoleh kearah Siwon dengan wajahnya yang sedatar lantai, "Terserah kau. Aku tidak peduli." Jawaban Kibum itu berhasil membuat Yunho, Siwon, dan keluarga Kim tersentak. Sedangkan Ahra hanya bersikap biasa. Sejak awal dia sudah menyadari bahwa eomma Yunho itu tidak menyetujui hubungannya dengan Yunho.
"Eommeonim mau kemana?" tanya Ahra begitu melihat Kibum beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh.
"Ke dapur. Bukankah aku harus menyiapkan makan siang? Bukankah itu kewajiban seorang istri? Kajja, Joongie." Kbum berbalik dan menarik tangan Jaejoong.
"N-ne, eomma." Cicit Jaejoong dan berjalan mengikuti langkah Kibum.
"Dan kau! Kim Ahra ssi. Jangan panggil aku eommeonim. Aku belum sepenuhnya menerimamu sebagai menantuku. Maaf jika sikapku membuat kalian tidak nyaman, Tuan dan Nyonya Kim." Setelah mengucapkan itu Kibum kembali melanjutkan langkahnya dengan tak lupa menyeret Jaejoong yang berjalan seperti orang tak memiliki tenaga sama sekali.
"Menangislah! Aku tahu kau ingin menangis." Pinta Kibum pada Jaejoong yang tengah menundukkan kepalanya dalam.
"Aku namja, eomma. Aku tidak akan menangis."
"Tidak ada larangan untuk seorang namja menangis. Menangislah, setidaknya bagi bebanmu dengan orang lain. Eomma disini. Jangan pendam kesakitanmu sendirian." Jaejoong segera menerjang Kibum dan menangis sepauasnya di dada Kibum.
"Aku mencintainya, eomma. Aku mencintainya. Kenapa begini, hiks.. kenapa jadi begini?" gumam Jaejoong sambil sesekali terisak. Kibum hanya mendengarkan sambil mengelus rambut Jaejoong lembut.
Keduanya terjebak dengan suasana haru itu tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tidak percaya dan tangan membekap mulutnya erat.
Skip Time
Kabar mengenai hubungan Yunho dan Ahra yang bertunangan dengan cepat menyebar di Universitas. Mereka yang mengetahui hubungan antara Yunho dan Jaejoong memandangi Jaejoong dengan tatapan kasihan.
"Kasihan sekali. Dia hanya dijadikan batu loncatan oleh Yunho untuk mendapatkan Ahra." Bisikan seperti itu tak pernah luput masuk kedalam pendengaran Jaejoong. Dia berusaha sekuat tenaga menahan perasaan sesak dihatinya.
"Apa-apaan itu. Batu loncatan? Mereka gila! Dan lagi, apa yang ada dalam pikiran Jung babo itu?!" umpat Changmin kesal. Dia mengepalkan tangannya erat seolah ingin meremukkan Yunho saat itu juga.
"Dia bodoh dan tidak punya otak. Mana mungkin dia bisa berpikir!" umpat Kyuhyun pedas.
Jaejoong berada di kantin dengan keenam pasangan baru itu. mereka terus mengumpat Yunho sedari tadi tanpa sadar bahwa orang yang mereka umpat sedang berjalan masuk kantin sendirian. Jaejoong yang melihat kedatangan Yunho segera beranjak dari duduknya.
"Eittsss.. Kau mau kemana?" Yunho menahan lengan Jaejoong yang melewatinya.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Jaejoong malas.
"Wae? Kau marah?" tanya Yunho sambil menarik Jaejoong mendekat kearahnya.
"Ani. Sekarang menjauh dariku, Jung!" bentak Jaejoong berusaha menarik lepas tangannya dari cekalan Yunho.
"Kenapa aku harus melepasnya jika aku menyukainya?" balas Yunho menyebalkan.
"Tapi aku tidak menyukainya, Jung!" bentak Jaejoong dengan penekanan disetiap katanya.
"Akan kubuat kau menyukainya." Bisik Yunho yang makin menarik Jaejoong mendekat hingga punggung Jaejoong menabrak dadanya. Tidak cukup sampai disitu, Yunho mulai melingkarkan tangannya di pinggang Jaejoong dan menyerukkan kepalanya di ceruk leher Jaejoong. Mengendus bau Jaejoong yang memabukkan.
"Lepaskan aku, Jung! Kau tidak melihat para fansmu yang menatapku dengan tatapan membunuh?"
"Jangan pedulikan mereka. Mereka hanya iri denganmu."
"Aku tidak bisa untuk tidak peduli, Jung Yunho. Aku tidak ingin menjadi korban keganasan fansmu karena aku masih ingin hidup. Kau juga sudah memiliki calon istri. Kau mengerti?"
"Hm.." Yunho mengacuhkan ucapan panjang lebar Jaejoong. Dia malah menarik Jaejoong makin mendekat padanya dan makin memperdalam endusannya pada leher Jaejoong.
"Yun? Kau mendengarku, kan?"
"Hm.. Kau wangi sekali, Jae.."
"Ya! Kau tidak mendengarku, ya?" Jaejoong mulai memberontak dalam pelukan Yunho. Sedangkan Yunho makin mempererat pelukannya pada pinggang ramping Jaejoong.
"Diamlah, Jae! Kau menggangguku!"
Twitch..
Ucapan Yunho yang dikatakannya dengan nada kesal berhasil membuat perempatan muncul di dahi mulus Jaejoong.
"Mengganggu kau bilang? Kau pikir siapa yang lebih mengganggu, eoh? Kau atau aku? Dasar Jung bodoh! Lepaskan aku! Kubilang. LEPASKAN. AKUU!" teriak Jaejoong sambil berusaha melepaskan diri dari kurungan Yunho dengan sekuat tenaga. Sepertinya untuk kali ini tenaga Uri eomma tidak terbuang sia-sia, dia berhasil lepas dari kungkungan Yunho.
"Aishh, Jae. Sebenarnya ada apa denganmu? Biasanya kau tidak menolak bahkan hanya diam di tempat saat aku mulai menggodamu." Ucap Yunho santa tidak menyadari banyak pasang mata yag menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.
Jaejoong yang mendengar kalimat memalukan yang meluncur dengan seenak jidat Yoochun dari bibir Yunho hanya bisa menunduk salah tingkah dengan pipi memerah parah. Dihiraukannya bisik-bisik seluruh penghuni kantin yang menunjukkan ketidak percayaan mereka akan ucapan Yunho.
"Kau sadar apa yang kau ucapkan, Jung Yunho ssi?" desis Jaejoong berusaha terlihat menakutkan.
Yunho yang mendengar pertanyaan Jaejoong yang menurutnya tidak penting itu hanya mengedikkan bahu, "Tentu saja. Apa kau lihat aku sedang tidur sekarang, Kim?"
"Aku tidak bercanda, Jung." Balas Jaejoong dengan nada yang sama.
"Aku juga tidak bercanda." Balas Yunho dengan nada yang sama pula. Tidak peduli dan santai membuat Jaejoong makin kesal.
"Aish... kau membuatku malu, Jung Yunho! Bisakah kau menjaga mulutmu agar tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata? Bisakah kau gunakan otak yang ada di kepala kecilmu itu untuk menyaring kalimatmu agar tidak memalukan orang lain?"
"Hei.. ini mulutku, kenpa kau yang mengaturnya? Apapun yang akan keluar dari mulutku itu hakku."
"Memang itu hakmu. Tapi kau baru saja mempermalukanKU dengan ucapanmu, Jung Yunho!" bentak Jaejoong dengan penekanan pada kata-katanya.
"Kapan aku melakukan itu?"
"Baru saja, dan kau sudah melupakannya? Sebenarnya apa yang ada di dalam otak kecilmu itu, eoh?" sentak Jaejoong tidak percaya.
Yunho tersenyum menggoda mendengar pertanyaan Jaejoong, "Kau ingin tahu apa yang ada di otakku, BooJaeJoongie?"
Jaejoong menelan ludahnya gugup. Dia sadar dia berada dalam bahaya saat melihat senyuman menyebalkan milik Yunho, tapi dia tidak mungkin menarik kata-katanya. Gengsi, eoh? Sifat gengsinya itulah yang membuatnya mengangguk menanggapi pertanyaan Yunho. Oh.. kau dalam bahaya, Kim Jaejoong.
Yunho makin melebarkan senyumnya saat melihat anggukan kepala Jaejoong yang dilakukannya dengan wajah yang sulit diartikan, "Kau benar-benar ingin tahu?" tanyanya sambil melangkah mendekati Jaejoong yang membuat Jaejoong memundurkan langkahnya menjauh dari Yunho.
"Kenapa kau menjauh dan menunjukkan wajah seperti itu, eoh?" tanya Yunho.
"Berhenti melangkah dan cepat jawab pertanyaanku, bodoh!" bentak Jaejoong berusaha keras untuk membuat suaranya terdengar biasa saja.
"Wae? Kenapa aku harus melakukan itu? aku ingin selalu dekat denganmu, BooJaeJoongie.."
Wajah Jaejoong kembali blushing parah, "Aish.. terserah kau sajalah." Jawabnya pasrah. "Sekarang jawab pertanyaanku."
"Ani. Kalau kau ingin aku menjawab pertanyaanmu, kau harus mau kupeluk." Ujar Yunho yang kembali membuat seluruh penghuni nafas membelalakkan matanya tidak percaya. Bagaimana tidak? Seorang Jung Yunho yang terkenal dingin mengatakan hal –yang menurut mereka- romatis kepada seorang namja dengan kecantikan melebihi yeoja manapun bernama Kim Jaejoong? Belum lagi yang digodanya adalah adik dari tunangannya. Tidak dapat dipercaya.
"Kenapa harus begitu?" tanya Jaejoong tidak terima.
"Molla. Aku hanya ingin saja. Memelukmu membuatku merasa nyaman." Yunho tersenyum tulus saat mengatakan itu berbeda dengan senyuman menggodanya tadi.
Jaejoong kembali blushing, "Baiklah, terserah kau saja."
"Jadi, aku boleh memelukmu?"
"Tentu saja tidak! Kau pikir aku gulingmu?" Jaejoong mendorong dada Yunho yang mulai merentangkan kedua tangannya untuk memeluknya.
"Kalau begitu kau tidak bisa mendapat jawabanku."
"Aku sudah tidak peduli dengan jawabanmu. Lagipula aku sudah lupa apa yang aku tanyakan kepadamu."
"Kenapa begitu?" tanya Yunho kecewa. Sebenarnya dia bukan kecewa karena Jaejoong melupakan pertanyaannya, dia kecewa karena gagal memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Jaejoong.
"Dengarkan aku Jung Yunho! Kau sudah memiliki calon istri dan dia adalah kakakku. Jadi berhenti menggangguku dan menunjukkan kepada semua orang seolah kau juga menyukaiku! Kau tidak tahu betapa malunya aku! Aku dianggap sebagai batu loncatanmu untuk mendapatkan Ahra noona! Kau pikir bagaimana rasanya jika dianggap seperti itu?!" Yunho diam di tempat mendengar bentakan Jaejoong membiarkan namja cantik itu berlari menjauhinya.
"Kuharap kau tidak menyesal dengan keputusan bodoh yang kau buat." Yunho menoleh kesamping dan menemukan Seunghyun yang menatapnya dingin. Begitu juga kelima namja lainnya.
"Kau namja terbodoh yang pernah kukenal." Kali ini Yoochun.
"Jangan meminta bantuan kami untuk mengembalikan apa yang sudah kau hancurkan dengan egomu itu, Jung!" Changmin berujar kemudian menarik tangan Kyuhyun yang tidak terima karena dia belum sempat mengumpat namja bermata musang itu.
"Percuma kau bicara dengannya. Dia sudah menjual otaknya kepada yeoja bernama Ahra." Mendengar ucapan Changmin, Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Changmin karena dia juga merasa percuma berbicara dengan Yunho. Setidaknya untuk sekarang.
'Juga? Aku yakin tidak salah mendengar. Apa Jaejoong menyukaiku? Ani! tidak mungkin. Dia tidak mungkin semenjijikkan itu.' batin Yunho sebelum melangkah keluar kantin.
"Hyung..." Jiyoung mendekati Jaejoong yang sedang duduk dengan kepala yang tenggelam dalam lipatan tangannya sendiri di atas meja.
Jaejoong mengangkat wajahnya dan menunjukkan senyum yag kentara sekali dipaksakan olehnya, "Wae, Jiyoungie?"
"Gwaenchanna?" kali ini Kyuhyun yang bertanya. Dia duduk dihadapan Jaejoong bersama Junsu.
"Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja." Lagi-lagi Jaejoong menunjukkan senyum terpaksanya.
"Ceritakan pada kami apa yang hyung rasakan. Aku memang baru mengenal hyung, tapi aku sudah menganggap hyung sahabatku. Bahkan lebih." Kyuhyun mendeathglare Changmin karena ucapannya yang ambigu itu, "Maksudku sebagai eommaku." Ralat Changmin akhirnya.
"Ak..."
"Jae, kau dipanggil Ahn Ssaem." Jaejoong melihat Heechul yang berdiri di ambang pintu. Disampingnya ada Tan Hankyung, namjachingunya.
"Arasseo. Aku kesana sekarang. Maaf merepotkanmu, Heechul hyung." Jaejoong berjalan menjauh dari teman-temannya yang tengah melempar deathglare mereka kearah Heechul yang dianggap mengganggu sesi curhat Jaejoong.
"Wae? Kenapa menatapku seperti itu? Ingin kujadikan makanan Heebum?" sinis Heechul berhasil membuat keenam namja disana memalingkan wajah mereka. Seharusnya mereka sadar siapa yang mereka beri tatapan maut. Heechul, sang Raja –Ratu- Iblis. Bahkan Kyuhyun dan Changmin pasangan Evil tidak berkutik di depan Heechul.
Skip Time
Jaejoong sedang berbaring sambil mendengarkan musik di kamarnya. Kegiatannya terganggu begitu eommanya masuk.
"Eomma? Wae?"
"Jae. Eomma ingin menanyakan sesuatu padamu. Eomma harap kau mau menjawabnya dengan jujur." Jaejoong mengernyitkan dahinya mendengar permintaan eommanya itu. karena tidak ada pilihan lain, akhirnya dia hanya mengangguk mengiyakan.
Jaejoong dibuat makin bingung dengan tingkah eommanya yang kali ini hanya diam. Baru saja dia ingin menyadarkan eommanya, dia lebih dulu tersentak mendengar pertanyaan eommanya.
"Apa kau menyukai Yunho?"
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV
"Apa kau menyukai Yunho?"
Aku tersentak mendengar pertanyaan eomma. Bagaimana bisa eomma menanyakan itu? Apa eomma sudah tahu tentang perasaanku? Aku menelan ludahku gugup.
"A-ani. B-bagaimana b-bisa eomma bertanya seperti itu?" aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan suaraku agar tidak terdengar gugup. Tapi tidak berhasil.
"Jangan berbohong! Kau sudah berjanji akan menjawab jujur pertanyaan eomma."
Aku melirik ke segala penjuru kamar berusaha mencari jawaban yang tepat, "A-ani. Eomma..."
"Eomma mendengar percakapanmu dengan Kibum waktu itu."
Aku membelalakkan mataku lebar. Bagaimana bisa? Aku menatap eommaku takut-takut. Aku tidak bisa berpikir jernih. Apa yang harus kulakukan? Aku... aku..
"Eomma hanya ingin kau jujur, Jae."
Aku memejamkan mataku erat. Untuk apa aku berbohong lagi? Toh, eomma juga sudah tahu. Akhirnya aku memutuskan untuk menjatuhkan diri.
"Ne. Aku menyukainya. Bisakah eomma mendengar penjelasanku dulu?" Eomma menganggukkan kepalanya pelan, "Aku dan Yunho dulunya adalah rival. Aku dan dia tidak pernah akur. Bagi kami berdua, tidak ada hari tanpa bertengkar dan beradu mulut. Samapi akhirnya dia mengucapkan satu kata yang berhasil membuat perasaanku perlahan berubah padanya. Dia bilang dia menyukaiku. Dia memperlakukanku bagaikan seorang puteri, baru kusadari kalau waktu itu aku tidak marah ada yang mengataiku puteri. Meskipun aku membentaknya tapi aku tidak memungkiri kalau hatiku berdetak kencang mendengarnya. Dia bahkan menciumku di depan banyak orang. Eomma janji akan mendengarku sampai selesai." Aku memutus ceritaku begitu melihat eomma membuka mulut hendak bertanya, "Dia terus seperti itu. Sampai dia bertemu dengan Ahra noona. Ani, aku tidak menyalahkan Ahra noona. Aku yang patut disalahkan karena baru menyadari perasaan ini sekarang. Aku ingin berteriak aku tidak terima begitu dia melamar Ahra noona. Aku ingin berteriak mengatakan betapa sakitnya hatiku ketika melihat Ahra noona dan Yunho bertukar cincin. Eomma harus tahu betapa aku harus menahan diri untuk tidak merusak pesta itu." aku menghentikan ceritaku begitu merasakan tangan lembut milik eomma mengelus pipiku.
"Kau menangis, chagi. Apa kau benar-benar mencintainya?"
Aku tertunduk dan menghapus air mataku, "Aku mengenalnya lebih dulu dan aku mencintainya lebih dulu meski aku baru menyadarinya sekarang."
Eomma memeluk tubuhku erat, "Eomma senang kau bisa menyadari perasaanmu." Aku tersenyum. Bolehkah aku berharap?
"Tapi eomma minta maaf. Eomma tidak bisa memenuhi keinginanmu. Kau namja dan Yunho juga namja. Hubungan seperti itu tidak bisa diterima, Joongie. Eomma tidak ingin kau dicela orang nanti,"
"Geundae, eomma.."
"Maafkan eomma, Jae. Eomma akan memenuhi apapun yang kau inginkan tapi tidak dengan itu. Mian."
Praangggg...
Eomma keluar setelah berhasil menghancurkan harapanku. Aku menatap kepergian eomma dengan tatapan sendu. Aku mencintainya. Salahkah perasaan ini? Apa aku harus melupakanmu, Yunho?
Aku baru saja ingin merebahkan tubuhku ketika pintu kamar terbuka dan seseorang masuk. Keningku mengernyit menyadari bahwa Yunholah yang masuk kedalam kamarku ditambah dengan ekspresi marah yang tergambar di wajahnya. Sejak kapan dia ada di rumahku? Yunho menghampiriku setelah mengunci pintu kamar.
"Y-yunho?" cicitku begitu Yunho mencengkram bahuku lumayan keras.
"Katakan padaku bahwa kau tidak benar-benar menyukaiku, Kim Jaejoong! Katakan bahwa semua yang kau katakan pada eommamu itu hanya lelucon!" mataku terbelalak. Yunho mendengar semuanya? Apa lagi ini? Tadi eomma, sekarang Yunho, lalu siapa lagi?
"Kenapa kau diam, Kim Jaejoong! Jawab aku seperti yang biasa kau lakukan!" Yunho mengguncang badanku keras. Aku memejamkan mata.
"Itu bukan lelucon. Itu semua kenyataan. Aku mencintaimu, Jung Yunho! Kau puas?!" aku berteriak di depan wajahnya. Dia melepas cengkramannya di bahuku kemudian berjalan menjauh.
"Kau... Kau menjijikkan, Kim! Jangan pernah menunjukkan wajahmu dihadapanku lagi setelah ini. Temui aku ketika kau sudah memiliki calon istri yang tentunya adalah seorang wanita." Setelah mengatakan itu, Yunho pergi meninggalkanku menata hatiku yang hancur seorang diri.
Kim Jaejoong PoV End
Author PoV
Hari ini keluarga Jung berkunjung ke kediaman keluarga Kim untuk membicarakan perihal pernikahan Yunho dan Ahra. Selama itu, Yunho dan Jaejoong saling melemparkan tatapan berbeda. Yunho dengan tatapan dinginya sedangkan Jaejoong dengan tatapan sendu yang sejak beberapa hari lalu selalu terlukis di wajahnya yang selalu ceria.
"Bagaimana kalau empat atau lima tahun lagi? Menunggu Ahra meraih gelar S2-nya?" usul Tuan Kim.
"Tidakkah itu terlalu cepat? Saat itu Yunho masih belum merai gelar S2-nya." tanya Tuan Jung.
"Tidak apa, appa. Lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau pernikahannya diadakan tiga tahun lagi? Kuharap kalian menyetujui keputusanku karena aku sudah memikirkan semuanya."
Jaejoong tersentak mendengar keputusan Yunho sekilas dia bisa melihat tatapan Yunho padanya. Tatapan yang berarti 'lihatlah! Aku normal'.
'Kurasa aku sudah mengambil keputusan. Kuharap ini yang terbaik.' Batin Jaejoong.
"Itu bagus. Dengan begitu Ahra noona tidak perlu cemburu setiap hari karena tingkah playboymu itu." sinis Jaejoong.
"Baguslah kalau kau setuju." Balas Yunho tidak kalah sinis.
"Eomma, Appa. Bukan hanya Ahra noona yang memiliki kabar gembira dengan pernikahan mereka. Aku juga memiliki kabar gembira untuk kalian. Aku mendapat beasiswa di sebuah Fakultas Seni di London. Dua hari lagi aku akan berangkat kesana." Ucapan Jaejoong membuat mereka tersentak.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"
"Dulunya aku ingin menolak karena aku ingin bersama dengan sahabatku disini. Tapi ternyata setelah kupikirkan baik-baik, di London aku bisa lebih mendalami bakatku. Jadi kuputuskan untuk menerimanya." Semua diam. Tidak ada yang membantah keputusan Jaejoong, "Aku mengepak barang-barangku dulu."
"Eomma bantu."
"Ani, eomma. Aku ingin sendirian. Lagipula eomma herus menemani Siwon abeonim dan Kibum eommonim disini." Jaejoong menaiki tangga dengan kepala ditundukkan. Kalau kalian jeli, kalian bisa melihat bahwa bahu Jaejoong bergetar.
"Aku naik." Junsu mengikuti Jaejoong menaiki tangga menuju kamarnya.
"Junsu, tidak baik meninggalkan tamu seperti itu."
"Yunho adalah tamu eomma, appa, dan Ahra noona. Bukan tamuku. Lagipula aku tidak mengenalnya."
'Tepatnya tidak mau mengenal namja yang mempermainkan perasaan Jae hyung.' Lanjut Junsu dalam hati.
"Aku butuh udara segar. Aku keluar dulu." Kibum meninggalkan ruang tamu meninggalkan tiga namja dan dua yeoja yang mendadak hening setelah kepergian tiga namja itu.
Junsu membatalkan niatnya untuk memasuki kamar begitu mendengar suara isakan lirih dari kamar Jaejoong. Dia memutuskan untuk mengintip karena kebetulan kamar Jaejoong tidak tertutup sepenuhnya. Junsu membuka sedikit pintu Jaejoong dan menemukan pemandangan yang membuatnya menitikkan air mata.
Di dalam sana. Tepat di pinggir ranjang. Dia melihat hyungnya yang tidak pernah menangis. Hyungnya yang selalu terlihat tegar. Hyungnya yang selalu melindunginya bahkan meskipun harus mengorbankan nyawanya. Hyung yang amat sangat disayanginya menangis pilu. Menggigit bibir bawahnya hingga berdarah untuk menahan isakannya. Bahunya bergetar hebat. Bibirnya terus menggumamkan kata appo dan Yunho. Tangannya memukul dada kirinya keras seolah dengan itu dia bisa meredakan sakitnya. Jaejoong hyungnya benar-benar terlihat hancur sekarang.
Junsu berlari ke kamarnya dan menghubungi Yoochun. Tangannya yang memegang ponsel bergetar. Matanya mengeluarkan cairan bening. Melihat Jaejoong seperti itu benar-benar membuatnya tidak tega.
"Ch-chunnie, hiks.."
'Junsu, waeyo? Kenapa kau menangis, chagi?'
"Bisa jemput aku? Ajak Changmin dan Seunghyun hyung. Aku akan mengajak, hiks.. Jiyoung dan Kyuhyun, hiks.. juga."
'...'
"Aku akan menceritakannya nanti! Hiks... bisakah kau tidak banyak bertanya dan menjemputku sekarang juga, Park Yoochun?!" Junsu mematikan sambungan teleponnya dengan Yoochun dan mengirimkan pesan singkat untuk Kyuhyun dan Jiyoung untuk bertemu di apartement Yoochun.
Junsu turun karena Yoochun mengatakan sebentar lagi dia sampai. Dia melewati ruang tamu tanpa menatap tamu mereka.
"Kau mau kemana?" tanya Yunho. Entah apa yang ada di pikiran namja musang itu.
Junsu berbalik menatap nyalang kearah Yunho. Awalnya Junsu hanya ingin mengabaikan Yunho, tapi begitu mendengar suara itu, dia tidak bisa menahan emosinya. Keberuntungan berpihak kepadanya karena disana hanya ada Yunho, Ahra, dan eommanya.
"Jangan pernah menyapaku, Jung Yunho ssi. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku kalau kau tak ingin tanganku mendarat di wajahmu!"
"Apa maksudmu?"
"Aku muak denganmu! Aku benar-benar menyesal pernah kenal denganmu! Mulai sekarang anggaplah kita tidak pernah saling mengenal! Meskipun sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku, aku takkan pernah mengakuimu!"
"Junsu! Kau keterlaluan!" teriakan eommnya tidak menyurutkan emosi Junsu sama sekali. Yang ada dia makin emosi.
"Apa maksudmu?! Jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh!" Yunho menahan tangan Junsu yang langsung ditepis oleh namja manis itu.
Bugh...
Yunho mengusap pipinya yang baru saja dipukul Junsu, "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu! Kukatakan padamu, kau tidak akan mendapatkan apa-apa setelah ini, Jung. Kau akan hidup dalam penyesalan. Aku pastikan itu!" Junsu melangkah pergi karena Yoochun sudah membunyikan klakson.
'Lagi. Apa maksudnya?' tanya batin Yunho.
Di apartement Yoochun, kelima namja disana hanya menatap bingung Junsu yang sejak tadi menangis.
"Su-ie, kenapa kau menangis?" tanya Yoochun lembut. Tangannya tidak berhenti mengelus lembut punggung Junsu.
"Jae hyung mencintai Yunho brengs*k itu." Ucapan Junsu tidak berpengaruh banyak terhadap ketiga namja itu, "Dan tadi Yunho dan keluarganya datang membicarakan tentang pernikahan mereka. Begitu si brengs*k itu lulus kuliah, dia akan menikahi Ahra noona."
Informasi dari Junsu ini berhasil membuat kelima namja itu menggeram dan mengepalkan tangannya erat.
"Dan, hiks.. dan Jae hyung menangis tadi. Aku tidak pernah melihatnya menangis karena memang dia tidak pernah menangis. Tapi, hiks... tapi tadi dia menangis keras sekali. Bahkan dia menggigit bibirnya hingga, hiks.. berdarah untuk menahan isakannya. Aku.. aku hiks. Aku benci karena aku tidak, hiks.. bisa melakukan apapun. Aku.. aku.. hiks.." Yoochun memeluk Junsu begitu Junsu tidak bisa lagi mengendalikan isakannya. "Jae hyung namja yang baik. Dia, hiks.. dia tidak pernah menyakiti orang lain. Tapi, hiks.. kenapa si brengs*k itu tega, hiks.. menyakiti hyungku seperti itu? aku, hiks.. aku membencinya, Yoochun-ah. Aku membencinya. Karena dia Jae hyung akan, hiks.. pergi."
"Mwo?!" teriak kelima namja itu.
"Ne, Jae hyung akan pergi ke London."
Ucapan Junsu itu seolah menjadi akhir dari cerita itu. Junsu masih menangis di pelukan Yoochun. Bahkan Kyuhyun dan Jiyoung yang selalu bersikap dingin tidak bisa menahan air mata mereka.
Ketiga namja disana yang menenangkan tiga namja lainnya mengepalkan tangan mereka erat. Gigi mereka bergemeletuk saking geramnya.
'Kau akan menyesal, Jung. Sangat menyesal!' batin ketiganya.
Skip Time
Dua hari berjalan sangat cepat. Sekarang keluarga Kim dan Jung beserta sahabat-sahabat Jaejoong mengantarkan Jaejoong ke bandara.
"Jangan lupakan kami, hyung."Jaejoong tersenyum dan memeluk Junsu dan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Jae, bisa kita bicara sebentar?" Jaejoong mengangguk dan mengikuti langkah Ahra menjauh dari keluarganya.
"Adakah sesuatu yang kau inginkan?"
Jaejoong menatap Ahra, "Noona akan mengabulkannya untukku?"
"Ne." Jawab Ahra mantap.
'Bagaimana kalau yang kuinginkan adalah Yunho? Apa noona akan mengabulkannya?' batin Jaejoong.
"Cukup berbahagialah dan jaga Yunho untukku." Akhirnya itulah yang kelaur dari bibir plum Jaejoong sebelum dia melangkah pergi menuju kopernya karena persawatnya sebentar lagi take off.
'Kau bohong, Jae. Kau bohong.' Batin Ahra menatap sendu punggung Jaejoong.
Disaat Jaejoong dan Ahra sedang membicarakan sesuatu disana, Yoochun, Seunghyun, dan Changmin sibuk menghubungi ponsel Yunho. Meskipun mereka kesal padanya, tapi Yunho tetap sahabat mereka.
"Aish,, dia tidak mengangkatnya." Geram Seunhyun.
"Sebenarnya kemana beruang bodoh itu?!" umpat Yoochun. Percakapan mereka berhenti begitu Jaejoong kembali.
"Jaga dirimu baik-baik." Pesan Nyonya Kim sebelum Jaejoong berjalan menjauh menuju tempat pemberangkatan.
'Selamat tinggal, Yunho. Annyeonghi gyeseyo, nae sarang."
Tepat dengan Jaejoong yang memasuki gerbang keberangkatan, seorang namja bermata musang berlari berteriak memanggil namanya sekeras mungkin membuatnya menjadi pusat perhatian.
"JAEJOOOONGGG... KIM JAEJOOONGGG!" Yoochun dan Seunghyun menahan Yunho yang hendak menerobos, "JAEJOOONGGG, BOOJAEJOONGIIIEEE.. KAJIMA!" teriaknya.
"Percuma, dia sudah berangkat. Berteriak sekeras apapun kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya kalau kau akan menyesal kalau kau terus-terusan mengikuti egomu itu?" Yunho menatap kosong ke depan. Air matanya jatuh setetes kemudian tetes lainnya menyusul. Yoochun segera memapah Yunho menuju mobilnya. Beruntung Junsu, Jiyoung, dan Kyuhyun pergi lebih dulu begitu melihat wajah Yunho. Kalau seandainya mereka disana, mereka bertiga pasti akan mencaci maki Yunho.
"Dia pergi, Chun. Dia pergi." Gumam Yunho.
Kau lihat, Jung? Penyesalan selalu datang paling akhir. Sekarang nikmatilah hidupmu tanpa kehadiran namja cantikmu itu lagi..
.
.
.
.
.
END
.
.
.
Ini bener-bener end, ya.
Dengan segala pertimbangan, gue mutusin FF ini end sampe sini. Maaf kalo banyak yang kecewa. Tapi nanti bakalan ada sequel tentang menderitanya Yunho ko. Sengaja dibikin pisah gitu soalnya gue bakalan lama ngga aktif disini, takutnya reader pada bosen nungguin (kaya ada yan nungguin aja). Gue udah mulai kuliah jadi sibuknya banget. Tapi gue janji bakalan ada kelanjutan dari FF ini. Gue janji bakalan ada bagian dimana Yunho bakalan mendrita banget. So, terima dulu part 1-nya ini. Part 2-nya gue janji ngga bakalan lama-lama banget, soalnya gue udah ada chap 1 sama 2-nya Cuma tinggal publish doang.
Mianhae. Mianhata. Mianhaeyo, dan segala jenis perkataan maaf lainnya. Gue ngga bermaksud bikin kalian kecewa.
So, ketemu lagi di sequel Noona I Love Him, oke!
At least..
Mind to RnR?
Annyeong...
